KLISE [Part 1]

klise 4

A new Update…. A long post…

a good news, i have many spare times now. so wish me for Sirine Part 8 and NSG epilogue. i try to continue that two FFs.

Leave comment for this FF also. thankyouuuuuu

******

Last Chapter : Yuri menemukan myungsoo duduk di sebelahnya. what happen exactly with those two?

Ada satu kejadian yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku yang membuatku sengsara selama beberapa hari terakhir. Dan itu adalah seminggu yang lalu ketika aku pergi ke satu pertandingan baseball di seoul sport center. Semua cerita in sebenarnya berawal dari sana.

Flashback

Aku sedang duduk di sebuah tribun atas sambil memegangi sebotol air putih dan beberapa snack ringan. Pertandingan belum dimulai dan aku masih sibuk dengan semua yang aku bawa. Seseorang berbaju hitam lengkap dengan mantel, kacamata dan topi duduk di sebelahku. Aku melihatnya namun aku tidak begitu tertarik dengan keadannya. Menurutku sosok tinggi yang terlihat seperti pria ini adalah seorang freak, apa dia tidak tahu cuaca sangat panas sehingga siapapun bisa mendidih?. Mengapa dia menggunakan mantel tebal. Aneh sekali.

Aku tidak berprasangka apapun terhadap pria ini, aku hanya makan dan makan. Pertandingan akan dimulai, beberapa pemain sudah ada dalam posisi siap. Aku bersorak bersama dengan semua penonton yang lain, tapi tidak pria itu. aku meninggalkan botol minum ku di sebelah pria itu sementara aku berdiri dan loncat loncat seperti orang gila. Aku memperhatikan sebuah homerun yang terjadi secara live di depan mataku, dan itu bukan berasal dari tim favorit ku, aku kecewa dan kembali duduk, aku memajukan bibirku dengan sangat kecewa, kemudian melepas topiku. Aku mengulurkan tanganku meraih botol minum, aku menemukannya. Aku membuka tutup nya dan meminum air di dalam botol itu, baru saja aku mendapat 3 tegukan kecil, air di dalam botolku langsung habis.

Aku tidak mengingat aku minum sebanyak itu sebelum pertandingan di mulai, kutatap pria di sebelahku yang sedang menatap kelapangan di depannya. Oke, mungkin aku bermimpi. Aku mengeluarkan satu lagi botol minum yang lain, dan menaruhnya di tempat dimana aku menaruh botol minum sebelumnya. Kemudian aku kembali berdiri memperhatikan pertandingan yang semakin seru.

Tidak lama, aku kehausan, jadi aku membalikkan kepalaku dan menemukan botol minumku ada di tangan pria dengan mantel tadi. isinya bahkan kurang dari setengah. Aku emosi, aku benar benar haus dan lelah karena berteriak, namun botol minum terakhir ku ada di tangan pria asing.

“apa yang kau lakukan dengan itu? ini botol ku”

Pria itu memberikan botolnya padaku, ia tidak mengucapkan permintaan maaf atau apapun, oh iya… bahkan ia tidak bicara apapun padaku, benar benar pria yang tidak tahu sopan santun. Penonton bersorak ramai, aku kemudian mendapat sebuah ide untuk membalaskan dendamku karena botol air minum. Oke ini childish, tapi pria itu yang pertama memulainya. Dan aku , seorang kwon yuri adalah wanita yang tidak pernah kalah.

Pria itu berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan memunggungiku, pergi menjauh. Benar benar tidak sopan. Aku mengumpulkan energi ku, kemudian berteriak.

“PRIA DENGAN MANTEL HITAM ITU MENGAMBIL DOMPETKU”

Semua orang yang ada di sekitarku berkerumun dan mengejar pria dengan mantel itu, aku kabur dari sana membawa tas ku, tidak ingin terlibat pertarungan mereka. diam diam aku merasa kasihan juga pada pria itu, tapi aku tidak peduli, siapa yang menyuruhnya berlaku tidak sopan padaku.

Aku keluar dari stadion walaupun pertandingan itu belum selesai. Aku menyetop sebuah taksi dan bergegas pulang ke rumah dan melupakan apa yang terjadi.

Esoknya adalah hari buruk bagiku.

Seperti biasa, para wanita sebayaku mengerumuni klise adalah hal pertama yang aku lihat di pagi hari, aku tidak begitu tertarik pada dua pria berwajah cantik itu, tapi aku memang menyukai Lu Han, senyumnya terutama. Dan pagi itu, aku tidak melihat pria dingin yang bernama Myung Soo di antara mereka. biarkan sajalah, lagipula aku tidak menyukai pria dingin itu. tingkah lakunya dan sikapnya membuat aku muak.

Entah angin apa yang berpihak padaku, Lu Han mendekati mejaku, wajahku memerah, aku seperti seorang bodoh yang duduk diam mematung di pojok kelas, oke aku memang bodoh, tapi setidaknya aku tidak sebodoh saat itu.

“kau yuri?”, aku mengangguk dengan cepat seperti orang idiot. Beberapa mata wanita secara tajam menatapku dengan sangat ganas, aku mengerti aku mengerti… memang tidak mudah melihat idol berinteraksi dengan seorang wanita bodoh seperti aku bukan? yah.. aku juga tidak percaya, tapi luhan ada di depanku. Mengajakku berbicara.

“ada seseorang yang menunggumu di ruangan Klise, ayo ikut aku”, mimpi apa aku ini. Seorang Luhan mengulurkan tangan padaku dan mengajakku ke ruang Klise, sebuah ruangan pribadi untuk anggota Klise yang khusus dibuat oeh pihak sekolah karena kepopuleran Klise.

Tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan ke sana kecuali atas undangan pemilik ruangan itu, jika tidak undangan dari Kim Myung Soo , maka itu adalah Luhan. Aku gembira. Beberapa wanita termasuk sooyoung cemberut menatapku, ada tatapan iri yang terpancar dari wajah mereka. tapi aku tidak peduli, yang penting adalah, saat ini tangan luhan menggenggamku, menuntunku sejak keluar kelas hingga ia melepaskan tanganku ketika sampai di pintu depan ruangan klise.

“kita sampai” ujarnya hangat, lagi lagi senyumannya melelehkan hatiku, kulihat ia menaruh jempolnya di satu alat pemindai dan karenanya, pintu itu terbuka dengan sendirinya.

“silahkan masuk” aku lagi lagi hanya menunduk dengan sopan ke arahnya, walaupun aku tahu luhan setahun lebih muda dariku. Tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkannya. Aku masuk ke ruangan itu. oke ini memang terlalu berlebihan tapi kuakui ruangan ini terlalu mewah untuk ukuranku. Aku bisa melihat peralatan gadget dan elektronik tersebar di seluruh ruangan. Bisa dibilang, ruangan ini cukup mewah dan…… berantakkan.

Seorang pria yang aku yakini sebagai Kim Myung Soo  sedang duduk di sana, membuka laptop nya, ia memasang headphone di telinganya sehingga wajar bahwa ia tidak menyadari bahwa aku dan luhan ada di ruangan ini.

“Myungsoo-ah..” luhan menendang kaki myungso dan membuatnya melepaskan headphone dari telinganya.

“ini yuri-shi.” aku mendengar luhan menyebut namaku, aku secara refleks menunduk dan tersenyum pada pria yang sebenarnya sangat kubenci, dan kurasa dia juga memang membenciku, terbukti dari sikapnya yang dingin tanpa ekspresi ketika melihatku.

Aku adalah wanita yang memegang prinsip i give what i get, jadi ketika tanggapan myungso padaku tidak terlalu memuaskan, aku hanya akan bertindak sama padanya, again. Aku adalah yuri, dan yuri tidak terkalahkan.

“jadi luhan-shi, siapa yang mencariku?” aku bertanya lurus dan datar pada luhan, dan luhan melemparkan pertanyaan itu dengan sebuah lirikan kecil yang mengarah ke myungso.

Aku mengerti, jadi myungso adalah orang yang mencariku. Aku sedikit terkesan ia mencariku, tapi aku sedikit curiga apa tujuan dia mencariku. Dan aku tidak mau membuang buang waktu ku dengan berdiri diam disana.

“jadi myungso-shi, apa yang membuatmu mencariku?”

Myungsoo tidak menjawab pertanyaanku. Dia melepaskan semua headset yang menggantung dilehernya dan membuka bajunya.

Apa? membuka baju? Iya.. memang dia membuka selembar kaus hitam yang melekat di tubuhnya. Di depanku. Sekali lagi, di depanku. Dan aku dengan jelas melihat beberapa tumpukkan daging kotak kotak yang biasa di sebut dengan abs di perut myungsoo. Ada beberapa bekas luka di sana, dan ada beberapa jahitan yang terlihat belum terlalu kering. Aku sedikit ngeri. Dan pria ini, seperti tidak merasa kesakitan sama sekali.

“kenapa dengan itu? kau ingin pamer bentuk tubuhmu yang penuh luka luka padaku?”

“kau melupakan sesuatu…. kemana kau kemarin?”

Sekarang aku yang kebingungan, untuk apa dia menanyakan kemana aku pergi kemarin, apa dia seorang stalker?

“kenapa kau ingin mengetahuinya?”

“jawab saja yuri-shi, jika tidak ini akan semakin panjang”. Luhan berbisik padaku, aku mengangguk.

“aku menonton satu pertandingan baseball di pusat kota, wae?

“apa yang dapatkan dari sana?”

“kenapa kau tidak berbicara langsung pada inti, aku pusing mendengar ocehanmu, seperti telingaku akan pecah kau tahu..”

Myungsoo tersenyum sinis padaku.

“pria yang kau teriaki sebagai pencuri, adalah aku”,

oke pernyataan ini membuatku sedikit kaget. Memang dari postur tubuhnya sangat cocok dengan postur tubuh myungsoo. Tapi aku sama sekali tidak ada ide bahwa  kemarin aku duduk bersebelahan dengan pria ini. Tapi akhirnya aku mengerti mengapa pria di sebelahku kemarin memakai mantel, topi dan kacamata di tengah terik matahari. Rupanya dia adalah myungsoo, salah satu idol yang sedang naik daun.

Tapi aku juga kembali ingat bagaimana pria bermantel yang adalah myungsoo itu meminum air minumku dan tanpa ucapan maaf pergi meninggalkanku. Itulah sebabnya aku meneriaki myungsoo sebagai pencuri untuk balasan atas tindakannya tidak sopannya itu.

“itu… itu salahmu sendiri.. kau meminum air mineral ku tanpa ijin, dan kau tidak meminta maaf setelahnya. Sikap macam apa itu”

“aku tidak bisa bicara karena aku sedang menyamar , bodoh. Kalau aku bicara kau pasti akan tahu siapa aku dan dalam sekejap semua media akan menyoroti aku”

“lalu apa urusanku? Aku tidak seperti akan berteriak ketika melihatmu. Asal kau tahu, aku membencimu dan klise bodohmu ini, aku tidak sama dengan para wanita bodoh di luar sana yang selalu meneriaki namamu”

“tidak apa kau benci padaku atau klise, tapi pertama, kau harus melakukan sesuatu padaku sebagai permintaan maafmu..”

“permintaan maaf apa? aku tidak melakukan hal yang membuatku harus meminta maaf padamu”

“kau tidak lihat luka di tubuhku tadi? itu adalah hasil tindakan bodohmu kemarin, aku dipukul beberapa orang, dan menjadi seperti saat ini. Dan asal kau tahu, aku tidak bisa beraktivitas bersama Luhan karena luka sialan ini. Kau harus bertanggungjawab untuk ini”

Aku menggigit bibirku, bukan untuk meninggalkan kesan cute di mata myungsoo menyebalkan ini, tapi aku menyesali tindakanku kemarin. Andai saja pria itu bukan myungsoo, pasti aku tidak akan berakhir seperti ini.

“lalu apa yang kau mau, berapa uang yang harus kubayar?”

“100 juta won”

“APA? kau gila? Kau bisa membeli sebuah rumah dengan uang itu. kuperingatkan, kau jangan pernah memerasku”

“aku tidak bercanda, dengan lukaku ini aku mungkin tidak akan melakukan banyak aktivitas selama sebulan ke depan. Itu artinya aku harus membatalkan beberapa kontrak bernilai jutaan. Dan totalnya adalah 100 juta”

Aku terdiam, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. jika hal ini diketahui eomma, aku pasti akan mati. Oh god…..

“kenapa kau diam? Kau tidak sanggup?” suara myungsoo kembali terdengar di telingaku, oke aku harus sedikit lembut padanya agar ia bisa memberiku keringanan.

“Myungso-ah…. kurasa ada sedikit kesalahpahaman….” aku berkata dengan nada cute yang terdengar dibuat buat. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, jadi aku agak sedikit terpaksa melakukannya. Lagipula aku tidak termasuk dalam golongan wanita dengan bakat cute.

“jangan pikir kau bisa merayuku dengan aegyo gagal mu itu”, myungsoo membuatku duduk lemas terkulai di atas lantai, aku bisa mendengar luhan menertawaiku di belakangku. Dua pria ini… benar benar kejam… aku bahkan tidak sanggup mengangkat kepalaku, aku benar benar lemas membayangkan 100 juta won yang harus segera kubayarkan.

“aku tahu kau terlalu miskin dan bodoh untuk uang 100 juta itu, maka aku menawarkan alternatif penyelesaian kedua… kau harus menjadi pembantuku sampai semua lukaku sembuh, bagaimana? Aku cukup baik bukan?”

“pembantu?????”, mataku melotot. Bagaimana bisa aku diperlakukan serendah itu, meskipun aku miskin, aku tidak pernah membayangkan kehidupanku sebagai pembantu. Aku benar benar sudah gila.

“kenapa? Kau tidak mau? Kau menolak? Baiklah kita akan kembali ke topik 100 juta won”, ketika myungsoo menyebutkan kata 100 juta won, aku menjadi semakin lemas. Oke, menjadi pembantu myungsoo terdengar lebih baik daripada aku harus mencari uang sebanyak 100 juta won.

“tidak tidak, lupakan 100  juta won, aku bersedia menjadi pembantumu” tenggorokkan ku tercekat, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku sebagai mahasisiwi biasa menjadi sangat aneh seperti ini. Pembantu myungsoo? Sama sekali tidak ada dalam imajinasi ku. Aku berharap ini semua hanya mimpi. Tapi….. bagaimanapun sebuah ledakan tawa dari luhan tidak terdengar seperti aku sedang bermimpi.

“baiklah, silahkan beri tanda tangan pada kertas yang sudah aku sediakan di atas meja, ini adalah kontrak. Agar kau tidak lari dariku, dari tanggung jawabmu”

Aku meraih sebuah kertas di hadapanku, aku membacanya dengan teliti. Ada total 10 poin yang dibahas di sana, dan aku hanya termanggut manggut membacanya satu persatu.

  1. Slave harus menuruti semua peintah masternya. Apapun itu.
  2. Slave hanya menuruti semua perintah Master nya, bukan perintah orang lain.
  3. Slave tidak mencampuri urusan pribadi masternya.
  4. Slave harus merahasiakan semua pekerjaannya bersama master nya dari dunia luar.
  5. Slave tidak boleh tinggal di kediaman master.
  6. Slave tidak boleh jatuh cinta pada masternya.
  7. Slave tidak di gaji.
  8. Slave harus mendampingi master nya sampai master nya dapat beraktivitas kembali.
  9. Slave dilarang kabur dari masternya.
  10. Ketika slave melanggar salah satu atau lebih dari point 1 – 9, maka ia diwajibkan membayar denda sebesar 100 juta won pada master nya.

Aku harus membayar denda sebesar 100 juta jika aku melanggar salah satu peraturan di atas? Oh tidak….. dari semua peraturan yang ada, mungkin aku hanya dapat memastikan aku tidak akan melanggar peraturan ke 6, tapi sisanya…. entahlah… oh iya dan aku tidak digaji, ishhhhhh… pria ini memang benar benar brengsek. Aku tidak ingin memperpanjang masalah lagi, aku hanya duduk, mengambil pena dan menandatanganinya, sebagai slave. Ugh..aku tidak menyukai nama itu.

Sementara setelah aku selesai, myungsoo menandatangani kertas itu di kolom master. Aku tidak tahan lagi melihatnya. Belum selesai sampai disitu, luhan mengambil kertas itu dan membawanya menjauh dari aku dan myungso.

“aku akan menyimpannya untuk kalian berdua, kalian akan menerima copy nya segera”, dan luhan pergi dari hadapanku. Aku menghela napas panjang sementara myungso kembali memasang headphone di telinganya. Aku beranjak, melangkahkan kaki ku ke depan pintu keluar.

“kau ingin pergi kemana?”

“aku akan kembali ke kelas, bodoh”

“panggil aku master”

shireo, itu tidak ada dalam peraturan”

“aku yang memerintahkan mu memanggilku master, dan kau harus melakukannya. Kembali pada poin 1 perjanjian itu..”

“aku lupa isi perjanjiannya”

“seorang Slave harus menuruti semua peintah masternya. Apapun itu, kira kira seperti itu bunyinya, dan aku memerintahkanmu agar kau memanggilku master”

Aku memutar bola mataku, dan segera memanggilnya master, setelahnya, aku kembali melangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Tapi lagi lagi si pria bodoh itu memanggilku.

“belikan aku makanan, kemudian kau baru boleh kembali ke kelas”

“aku tidak bawa uang”

“uang ada di meja makan, ambil dan kembalilah dengan makanan, aku tunggu dalam 15 menit. Jika tidak, maka bersiap dengan 100 jutamu…”

Aku tidak mempunyai pilihan, aku berjalan menuju meja makan yang ada tidak jauh dari myungsoo yang duduk di sana. Mengambil beberapa lembar uang dan segera pergi dari hadapan pria bodoh itu. aku tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi padaku. Aku benar benar ada di dalam satu mimpi terburuk. Dan aku tidak bisa bangun dari mimpiku itu.

Klise, aku benar benar akan membalas ini semua ketika semuanya selesai. Tapi pertama tama, aku harus kabur dari sini.

End of flashback

dan setelahnya, aku kabur dengan membawa uang itu, aku tidak membelikan pria bodoh itu makanan, aku hanya kabur dan bolos kuliah selama dua hari. Dan hari ini, adalah pertama kalinya aku bertemu dengan mereka secara tatap muka sejak saat itu. pria bodoh ini duduk di sebelahku, dan  luhan berada di sebelahnya tersenyum dengan hangat padaku.

Aku menarik topiku lebih dalam sehingga bagian depan topi ku menutupi separuh wajahku, teriakan teriakan dari wanita wanita histeris terdengar dekat sekali denganku, pria bodoh itu memang tidak mengatakan apa apa lagi, namun aku dengan jelas bisa merasakan satu aura setan yang akan membunuhku pelan-pelan. God….

========================================

Jam tanda selesai perkuliahan akhirnya berbunyi, aku bisa bernapas lega. Sepertinya aku benar benar sedang sial hari ini. dari dua mata kuliah, dua dua nya mengadakan satu kuis secara mendadak, dan aku benar benar tidak siap untuk itu. ya… aku memang bodoh. Belum lagi aku harus mengerjakan semua test kuis itu di sebelah seorang jenius myungso. Arghhh.. aku tidak menyukai nama panggilan itu, tapi begitulah semua orang di se antero kampus ini memanggilnya. Dengan bakatnya sebagai penyanyi dan dancer, kemampuan otaknya serta postur tubuh, wajah dan penampilannya, kurasa wajah semua wanita jatuh cinta padanya. Except me of course.

Kalau aku tidak salah ingat, dia hanya mengerjakan masing masing test kurang lebih dalam waktu 15 menit. Fantastis. Aku yang di sebelahnya bahkan belum sempat membaca soal soal di sana, astaga… dia manusia atau alien, tuhan?

Luhan, luhan di sana di sebelah myungsoo. Setiap aku mengalami kesulitan dalam menjawab soal, aku menatapnya. Jinjja.. aku benar benar mendapatkan sebuah ilham ketika aku melihat senyumannya. Aku sangat menyukai luhan. Dan aku sangat bersyukur bahwa dia di sampingku selama test tadi.

Bel di kampus ini bagaikan angin surga bagiku, tapi aku tidak bisa pergi segera dari tempat dudukku, myungsoo menatapku tajam, dan aku tahu bahwa semua rencana di otakku untuk pulang dan beristirahat akan hancur seketika.

“kau harus mengikuti aku dalam jarak 2 meter”, myungsoo berbisik padaku dan aku merasa seperti aku telah mendengar suara evil. Hari hariku akan menjadi buruk. Aku mengepalkan tanganku dan berdoa agar Tuhan menjauhkan aku dari evil dalam tubuh manusia ini.

Myungsoo berjalan bersama luhan keluar dari kelas, wanita wanita yang merupakan teman temanku mengikuti mereka seperti seorang stalker. Dan aku terpaksa menjadi salah satunya, aku membuntuti kemana myungsoo dan luhan berjalan seperti wanita wanita bodoh ini. aku tidak menyukai apa yang kulakukan saat ini, tapi ketika aku membayangkan uang 100 juta won di kepalaku, dengkulku jadi lemas. Aku tidak mempunyai pilihan.

Wanita wanita yang ada di depanku kemudian berhenti berjalan dan berteriak teriak dengan tidak beraturan, argh… telingaku sakit mendengar bagaimana wanita wanita itu berteriak di dekat telingaku.

“kau bisa diam atau tidak? Kecilkan suaramu” aku menginjak kaki wanita yang ada di sebelahku, dia hanya mencibir kemudian mendorongku hingga aku terpental jatuh ke samping, dan ajaibnya, tidak ada satupun dari mereka yang peduli. Mata mereka sudah penuh dengan dua orang pria yang mereka puja.

“sampai kapan kalian akan berlaku seperti itu. kalian akan berubah pikiran ketika kalian tahu bagaimana sikap asli mereka, cih” aku membersihkan bajuku dari debu di atas tanah tempatku terjatuh, dan aku melihat bagaimana myungsoo dan luhan berdiri di depan sebuah mobil hitam mewah. Di sekeliling mereka ada beberapa orang berkacamata hitam, mereka adalah bodyguard dua pria itu, dan aku tersedak bagaimana salah satu dari bodyguard itu menarik tanganku dan membawaku ke sebuah mobil yang lebih kecil yang ada di belakang mobil hitam itu.

Tidak ada yang menyadari kepergianku dengan mobil kecil itu, karena semua mata sedang tertuju dengan bagaimana myungsoo dan luhan tersenyum ke arah mereka. aish… jeongmal…  bagaimana jika aku sedang diculik saat ini? apa mungkin mereka, teman temanku, diam saja dan lebih memilih memandangi dua pria bodoh yang berdiri di sana?. Ini benar benar tidak bisa dipercaya.

Aku duduk di jok belakang, memang aku tidak diikat, di bungkam atau semacamnya. Namun aku cukup tidak nyaman dengan dua orang bodyguard yang mengapitku di jok belakang. Aku terkadang bingung dengan jalan hidupku, aku ini tawanan atau apa?

Satu pria berkumis menyalakan mesin mobil yang kutumpangi, dan dalam hitungan detik, mobil ini melaju mengikuti ritme bagaimana mobil hitam di depanku melaju. Aku rasa aku akan menuju ke suatu tempat dimana myungsoo dan luhan bermuara. Aku hanya pasrah.

Aku merogoh saku celanaku, berusaha mengambil handphone ku. Dan aku berakhir dengan tangan kosong. Aku yakin aku memasukkan handphone ku ke dalam saku celanaku, tapi apa ini… aku tidak menemukannya. Kemudian aku mengingat ingat bagaimana wanita bodoh mendorong ku jatuh, dan yang aku duga, aku meninggalkan handphone milikku di sana. Poor me.

Lengkap sudah semua penderitaan konyolku hari ini. Tuhan tidak mendengarkan doaku.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti. Aku tidak bisa mengatakan dimana aku saat ini, karena ini memang benar benar seperti aku ada di dunia mimpi. Kau tahu seperti…. dunia permen atau gula gula kapas.

Aku melihat taman yang begitu indah terhamparkan luas di balik kaca mobil yang aku tumpangi, bunga bunga bermekaran, aku tidak tahu jenis bunga apa yang tumbuh di sana, tapi aku bisa melihat mawar putih. Bunga bunga itu tumbuh dengan indah membentuk satu pemandangan seperti gula gula kapas. Dan perutku tiba tiba lapar dengan hanya membayangkannya saja.

Aku ditarik keluar dari mobil. Oke, mereka tidak seharusnya menarikku, karena aku pasti akan keluar dari mobil itu secepatnya. Sungguh, bau keringat bodyguard itu membuat mataku perih dan hidungku sakit, perutku juga menjadi sangat mual. Tapi aku hanya menahannya, karena mereka terlihat seperti ahjussi  bagiku. Aku tidak tega memberitahunya.

Ketika aku melangkahkan satu kakiku di tanah asing yang aku pijakkan, aku bisa melihat myungsoo berdiri di sebelah mobil hitam yang ia tumpangi. Di dalam mobil hitam itu sepertinya masih ada luhan. Namun luhan pergi setelah melambaikan tangan padaku dan tersenyum hangat. Aku membalasnya, baik lambaian tangannya maupun senyumnya. Dan aku tingallah disini berdiri bersama myungsoo

APA? bersama myungsoo?

Aku tidak bermimpi, aku benar benar bersama myungso, sementara luhan sudah dibawa mobil hitam itu entah kemana. Satu hal yang membuat aku panik, aku tidak tahu aku ada dimana, dan aku tidak tahu kemana handphone kuberada. Dan pria ini…. sepertinya tidak berniat baik padaku sejak awal.

Aku menelan ludahku.

“ini rumahku, dan aku tidak akan melakukan apapun padamu di rumahku. Berhentilah bermimpi”, God… dia memang benar benar seorang evil, bahkan dia bisa membaca pikiranku. Astaga, Tuhan.. sebenarnya makhluk apa yang kau berikan padaku ini. tolong ambil kembali aku tidak membutuhkannya.

=========================================

Ini sudah sejam, dan aku merasa seperti di surga. Aku diberi makanan enak dan aku diajak mengobrol hangat oleh beberapa orang yang memakai baju sebagai pelayan di rumah –yang seperti istana- milik myungsoo.

Aku tidak bertemu dengan orangtuanya, tapi aku bisa melihat mereka di lukisan lukisan dan foto besar yang terpajang di dinding ruangan utama. Aku bisa menyimpulkan, myungsoo memiliki wajah seperti ibunya, dan dari penampilannya, mungkin ia seperti ayahnya. Dingin.

Ibu myungsoo sepertinya adalah seorang wanita yang hangat, aku bisa merasakan bagaimana ibu myungsoo sangat kecewa memiliki anak berhati es seperti myungsoo. Aku jadi ingat ibuku.

“yuri, kemari” myungsoo memanggilku, aku sempat tidak mengenalinya. Dia tidak memakai make up sebagaimana ia biasa pakai ketika ia datang ke kampus. Namun aku mengakuinya bahwa ia memang tampan secara alami.

“bisakah kau sedikit cepat?”, aku tersentak dari lamunanku. Dan segera mengikuti langkah kaki myungsoo yang cepat. Kami menaiki tangga, aku tidak mengatakan apapun pada myungsoo, padahal sebenarnya aku sangat penasaran kemana myungsoo akan membawaku.

Ia membuka satu pintu coklat, dan menyuruhku masuk kesana. Aku waspada.

“biar kutebak, kau tidak akan melakukan hal hal aneh padaku bukan?”, sahutku

“bangunlah dari mimpimu, gadis bodoh”

“jangan panggil aku bodoh, aku tidak bodoh, err… kuakui aku memang bodoh, tapi jangan memanggilku bodoh, kau bodoh”, aku segera menutup mulutku, sebenarnya aku merasa sangat bodoh mengatakan sesuatu seperti itu di depan pria ini. myungsoo menatapku dingin, kemudian mendorongku masuk ke ruangan itu. seolah aku tidak pernah berbicara padanya.

Aku melihat ruangan itu, well… tidak terlalu mengejutkan. Hanya sebuah kamar yang berantakan, aku benar benar tidak tertarik.

wae? Kenapa kau tidak kaget?”

“kenapa aku harus kaget?”

“kau lihat, kamar ini berantakkan, seharusnya kau menunjukkan ekspresi yang lebih lively

“lalu aku harus bagaimana, harus lompat sambil berteriak aigooooo kamar apa ini, kenapa semuanya berantakan seperti ini, begitu?”

“… tapi kurasa kau akan sedikit kaget melihat kamarku..”

jinjja…  bahkan kamarku lebih berantakan dari ini, kau ingin aku membereskannya? Baiklah… baiklah.. kau tidak usah berputar putar…”, aku langsung berjalan masuk ke ruangan itu, meraih selimut yang sudah jatuh di bawah. Bantal bantal berserakan di sekitar tempat tidur, belum lagi beberapa elektronik dan kabel-kabel kusut. Benar benar seperti kamarku.

END OF YURI POV

Myungsoo hanya memperhatikan yuri sambil mengambil beberapa snack di dalam sebuah toples. Ia duduk di atas kasur sambil mengganti ganti channel TV yang sedang ditontonnya dari sana. Sementara yuri, kadang berdiri kadang terduduk untuk membereskan semua barang barang di sana. Sebenarnya yuri sangat kesal, ia sudah hampir satu jam berada di ruangan itu, setiap ia selesai dengan sebuah vakum cleaner, myungso akan membuat kamarnya berdebu kembali dengan remahan dari snack  nya dan yuri harus membereskannya kembali. Melelahkan.

Myungsoo membanting remote di tangannya dan mulai fokus pada salah satu acara baseball yang sedang ditayangkan. Mendengar suara dari arah TV myungso, yuri berhenti. Tim baseball favoritnya di sana, sedang bermain. Tapi sayangnya, itu bukan siaran live, itu hanya re-run dari pertandingan beberapa hari yang lalu yang sempat ia datangi di seoul sport center.

“jika aku tidak datang kesana, mungkin aku tidak akan berbaring seperti ini di kamar, bersama seorang wanita bodoh yang sejak sejam lalu tidak juga selesai membereskan kamarku”

“aku telah menyelesaikannya 30 menit yang lalu jika kau berhenti mengunyah snack di tangamu itu”, myungsoo hanya tertawa meremehkan. Ia kembali mengganti channel Tv nya, dan setelah dia menemukan tidak ada yang menarik di sana, ia mematikannya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Bersamaan dengan itu, yuri baru saja mematikan vacum cleaner yang ada di tangannya, ia mengelap peluh keringat yang bercucuran di dahinya, yuri melihat jam dinding, dan ia melihat jarum pendeknya ada di angka 6, ini sudah hampir malam. Yuri baru menyadari bahwa dirinya belum mandi sejak tadi sore.

“kurasa aku telah selesai, aku harus pulang sekarang”

“aku tidak mengingat aku pernah mengatakan bahwa pekerjaan mu telah selesai”

Oh come on…. not any weird stuff anymore, yuri bergumam dalam hatinya.

“aku memiliki beberapa puppy, ikan, kucing, hamster dan tikus yang sepertinya belum di beri makan. Kau tahu kau harus melakukan apa, bukan?”

Oh God…. myungsoo is trully an evil, ….. and with many pets….

arrasseo…arrasseo..” yuri berjalan malas keluar kamar, dan melemparkan satu lap di bahunya sembarangan. Membuat myungsoo berteriak padanya.

“ya…ya…ya… bawa lap itu bersamamu”, yuri membalikkan badannya, menunjukkan helaan napasnya yang panjang dari hidung pada myungsoo, ia berjalan kembali ke arah dimana ia melemparkan lap kecil tadi, yuri membungkukkan badannya sambil menatap jijik ke arah myungso, mengulurkan tangan mengambil lap itu dan segera pergi dari hadapan myungsoo.

Yuri keluar dari kamar myungsoo, ia sengaja menutup pintu kamar pria itu dengan keras sehingga membuat myungsoo kembali berteriak padanya, namun yuri tidak peduli. Setidaknya teriakan myungsoo terhalang oleh sebuah pintu kayu, dan dia hanya bisa mendengarnya sayup sayup.

“Pria macam apa menyuruh seorang wanita memberi makan binatang peliharaannya….” yuri menggelengkan kepalanya, kedua tangannya ia taruh di kedua samping pinggulnya. Yuri bertahan pada posisi itu sambil ia berjalan menuruni tangga. Ia membayangkan hal pertama yang harus dilakukannya adalah bertanya.

Iya, bertanya. Bagaimana mungkin seorang asing seperti yuri bisa dengan gampangnya menemukan kandang hewan peliharaan yang telah myungsoo sebutkan di rumahnya yang seperti istana itu. yuri menegakkan tubuhnya dan berlari kecil ketika ia melihat seorang pelayan berwajah imut lewat di depannya.

“permisi….”, ujar yuri pelan, tapi napasnya masih terengah engah.

“ada yang bisa kubantu, nona?”, yuri memiringkan kepalanya.

Nona? Apakah pelayan ini bodoh? Padahal aku juga memiliki status yang sama dengannya di sini aishhhh……

“permisi, apa yang kau lamunkan? Jika tidak ada yang dapat kubantu, aku harus melakukan pekerjaan ku yang lain.. maaf..”

“ah… tidak tidak tidak… maafkan aku… mmm… aku ingin bertanya, apakah pria brengsek itu memelihara beberapa binatang peliharaan?”, pelayan itu terlihat tidak mengerti. Lebih tepatnya kebingungan.

“pria mana yang nona maksud?”

“siapa lagi? pria arogan dengan wajah tampan seperti topeng itu”

omo…. maksudmu mungkin myungso-nim.. astaga nona, kau tidak boleh memanggilnya seperti itu…”

“yah. Terserahlah, tapi pria brengsek itu memerintahkanku untuk memberi makan semua binatang peliharaannya, dan yang aku ingin tahu, apakah kau tahu dimana letak binatang peliharaannya itu?”

“binatang peliharaan? Oh… mungkin maksud nona, snoopy, scoofy, skaipe, sniffy dan slorkie…

Yuri terbengong mendengar nama nama aneh yang diucapkan pelayan di rumah myungsoo.

“snopi, skiping, snorkling…. apa?”

snoopy, scoofy, skaipe, sniffy dan slorkie, nona”

snoopy, scupi, skipping, snorkling arrrrghhhhh…. nama nama apa itu sebenarnya, aku bisa gila hanya dengan mendengarnya”

“tuan muda myungso yang menamakannya”

“tuan mudamu memang sudah gila. Kurasa kalian harus memberikannya tegangan listrik 500 volt untuk meluruskan otaknya” yuri memainkan lidahnya di dinding bibirnya sambil menyangkutkan tangannya di pinggulnya. Dan pelayan itu hanya tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan yuri.

“nona ingin memberi mereka makan?”

“ah… benar, aku hampir lupa… nah, bisa kau katakan dimana kandang binatang skipping kalian tadi?”

“mari kuantar, ada di ujung ruangan ini, nona”

Yuri hanya mengangguk, ia melirikkan matanya ke lantai dua dimana kamar myungsoo berada, kemudian yuri menggeleng gelengkan kepala sambil menghembuskan napasnya yang berat dari hidung.

Myungsoo-ah, sebenarnya apa yang kau makan hingga kau menjadi sakit jiwa seperti ini?

Yuri kembali menggelengkan kepalanya, namun kali ini ia bergerak maju bersama dengan seorang pelayan sebagai penuntun jalannya. Yuri melihat jam di tangannya. 15 menit dia habiskan dengan percuma. Dan hari itu semakin larut, yuri hanya bisa pasrah dengan nasib buruknya.

======================================

YURI POV

Done, done and done, aku telah menyelesaikan semuanya. Aku telah memberi para binatang peliharaan myungsoo itu makan malamnya. Mereka lucu, dan kecil. ah, tapi tidak untuk kucingnya. Dia mencakarku, mungkin karena aku seperti orang asing baginya. Bekas cakarannya masih terlihat jelas di punggung tanganku. Tapi ini tidak terlalu sakit, aku hanya perlu mencucinya dan memberinya antiseptik agar aku tidak terkena kuman.

Rumah ini sangat sepi, entah karena memang terlalu besar atau orang di dalamnya yang terlalu sedikit. Aku sempat melihat beberapa orang berbaju pelayan lalu lalang di dekat ku namun mereka hanya lewat dan terlihat sibuk dengan kegiatannya. Tanpa senyum, layaknya robot yang berjalan. Aku berdiri melepaskan celemek putih yang kupakai. Aku akan memberikannya pada pelayan wanita yang mengantarku, tapi mereka semua terlihat sama dan rumah ini terlalu luas, aku tidak dapat mengenali lagi mana pelayan yang kumaksud. Jadi aku hanya meletakkan celemek itu sembarangan di atas kursi di dekatku.

Aku menutup pintu yang menghubungkan bagian dalam rumah dengan ruangan dimana hewan hewan tersebut berada. aku melihat sebuah jam yang sangat besar di pojok ruangan dan jam itu berdentang sembilan kali. aku tidak percaya aku bertahan di rumah ini selama lebih dari 5 jam. Dan aku tahu bahwa ini adalah saat dimana aku harus pulang. Orang rumah pasti mencariku.

My mistake. Tidak seharusnya aku menghilangkan telepon genggamku. Dan sialnya, aku tidak hapal nomor siapapun. Termasuk nomor telepon rumahku.

“sial”, dengan dengkul yang benar benar lemas, aku kembali ke lantai dua dimana kamar myungsoo berada. aku ingin mengambil tas ku yang sebelumnya diambilnya sebagai jaminan agar aku tidak kabur. Saat aku berjalan meniti tangga, aku melihat beberapa pelayan berbisik di belakangku, entah mereka sedang membicarakan apa, tapi mereka sesekali melihatku dan berbisik bisik kembali.

“kalian sedang apa?” aku sangat terganggu dan aku menegur mereka. aku tidak bermaksud memarahi atau berbicara sinis pada mereka. tapi mereka sepertinya menangkap aku sedang marah, sehingga mereka menempatkan kedua tangannya sopan di depan apron yang mereka pakai dan menunduk padaku , layaknya aku adalah seorang putri raja.

johsumnida” sahut mereka padaku. Aku menikmati ini, jadi aku hanya mengibas ibaskan tanganku dan menyuruh mereka pergi dari pandanganku, seperti seorang putri raja bertitah pada pelayannya.

Aku terus berjalan, meniti tangga dan melihat pintu kamar myungsoo yang masih terbuka dengan lebar. Ku rasa dia tahu aku akan kembali ke sana dan membuka pintunya sehingga aku tidak perlu repot repot mengetuk ngetuk pintu kamarnya.

Aku melangkah masuk. Kamar nya masih terang benderang, tapi myungsoo sudah terlelap di atas kasurnya. Ini bukan pertama kalinya aku melihat seorang namja tidur di depanku, karena aku sering melihat bagaimana kakaku, jiyong oppa memamerkan cara tidur nya yang ekstrem di hadapanku. Tapi berbeda dalam kasus myungsoo, dia tidur dengan sangat…. err… bagaimana aku mengatakannya.. sangat indah?

Benar, dia terlihat tampan walau ia sedang tidur. Tidak heran banyak wanita jatuh cinta padanya. –kecuali aku-. Aku tidak peduli pada myungsoo yang tertidur. Aku harus pulang. Aku memutar pandanganku ke sekeliling ruangan mencari dimana kemungkinan myungsoo menyembunyikan tas ku. Dan aku menemukannya dengan mudah. Tas biru muda milikku diletakannya di atas kasur. Dan sialnya, ia menggenggam erat tas itu dalam tidurnya. Seperti ia tahu aku akan mencarinya.

Dia mengerjaiku sekali lagi.

Aku tidak akan melakukan ini, tapi aku harus. Aku melangkah maju dan membungkukkan badanku meraih tas ku. Ini awalnya kuanggap mudah karena myungso hanya memegang lemas tas ku di tangannya, dan aku mengambil tas itu dari sisi berlawanan dengan posisi dimana myungsoo tidur. Jadi singkatnya, myungsoo seharusnya tidak merasakan apapun ketika aku mengambil kembali tas ku.

Tapi aku salah, dan aku selalu salah di depan pria ini.

Aku hampir meraih tas ku ke dalam genggamanku, ketika tiba tiba tangan myungsoo meraih tanganku dan menarikku maju ke atas kasur. Aku kaget, dan berteriak kecil. myungsoo mengerjaiku, ia tidak tidur. And i fell for it.

Dan sekarang, aku jatuh ke atas kasur dengan posisi telungkup dengan kepalaku di atas kepalanya, dan aku bisa dengan jelas melihat matanya terbuka. Aku lagi lagi melihat senyum evil nya padaku.

“kau akan kabur, yuri-shi?”, sahutnya padaku.

Aku segera bangun dan beranjak dari dimana aku terjatuh. Posisi tadi membuat ku terganggu, aku bisa dengan jelas mendengar hembusan napas myungsoo dan getaran dari teronggokannya ketika ia berbicara dan itu sangat menggangguku. Aku tidak bisa meremehkannya. Ia sangat jahat.

“aku sudah selesai”, sahutku sambil berdehem sebelumnya.

“apa yang sudah kau selesaikan?”

“memberi makan hewan hewan mu itu bodoh”

“oh, i see. Apakah kucing itu tidak mencakarmu? Kenapa aku tidak melihat bekas cakaran pada wajahmu? Padahal akan lucu jika ia melakukannya.” Myungsoo tertawa, tapi aku tidak mengatakan apa apa meski yang ia ucapkan ada benarnya. Kucing sialan itu memang mencakarku, bukan di wajah, tapi di punggung tanganku.

“ini tidak lucu. Aku harus pulang, berikan tas ku”, aku meraih tas ku yang ada di tangannya, ia menahannya sehingga aku dan myungsoo hampir seperti atlit tarik tambang.

“myungsoo, ini tidak lucu, sudah malam dan aku harus pulang”, aku menekankan kembali kalimatku dengan tegas sambil menarik tas ku yang ada pada myungsoo. Ia tersenyum lagi. tersenyum dengan sangat evily.

“baiklah” dan dia melepaskan tas ku dengan tiba tiba tanpa kode, sehingga aku hampir saja terlempar ke belakang karena aksi nya itu. aku menyeimbangkan tubuhku dan berdecak sebal padanya. Pria itu membuka selimutnya dan berdiri di sisi kasur yang berlawanan denganku. Aku memakai tas punggung biru ku dan berjalan melewatinya menuju pintu depan tanpa pamit.

Pria itu mengikutiku.

Tapi aku tidak mengindahkannya karena mungkin saja ia hanya ingin turun tangga dan mengambil sesuatu di lantai satu. Aku menuruni tangga dengan sangat cepat. Karena ini hampir larut malam.

Aku tidak sempat lagi membalas beberapa pelayan yang membungkuk di hadapanku, aku hanya fokus mencari pintu keluar dari rumah ini. dan memutuskan apa yang akan kunaiki untuk pulang nanti.

“pintu depan ke kiri, bodoh” myungsoo memarahiku ketika ia melihatku kebingungan dan belok ke arah kanan. Dan aku baru menyadari, myungsoo masih mengikutiku.

“kau membuntutiku?”

“ini rumahku, dan buat apa aku membuntutimu?”

“aku ingin pulang, jadi jangan mengikutiku”

“…”

“kau mendengarku atau tidak, bodoh?”

“aku akan mengantarmu, jadi jangan berisik”, aku kaget. Aku di antar oleh myungsoo? Ke rumah? Tidak!. Ini tidak bisa. Apa yang akan dikatakan jiyong oppa dan ibuku nanti. Aku tidak mau terlibat apapun dengan pria ini dan aku tidak mau satu orang pun tahu tentang bagaimana hubunganku dan myungsoo.

“tidak perlu, aku bisa pulang sendiri”

“aku akan mengantarmu, dan kau tidak boleh melawanku”

“aku tidak akan pulang bersamamu, meskipun itu artinya kau akan mengerjaiku lagi. titik”, aku bersikeras. Di depanku sudah terlihat sebuah pintu besar yang beberapa jam lalu aku lewati. Ini adalah pintu utamanya. Jalan keluar dari sarang macan yang sangat menyeramkan ini.

Aku membuka pintu itu dan sebuah taman luas yang seperti gula kapas terhampar di depanku. Gerbang besar masih ada di depanku, dan aku harus melewati itu untuk segera pulang. Tapi aku jadi ingat sesuatu.

Ini dimana? Apa yang dapat aku lakukan ketika aku keluar dari gerbang besar di sana? apakah ini masih di korea atau ini ada di negeri antah berantah. Dan tiba tiba aku merinding membayangkan kegelapan pekat di luar gerbang itu. bagaimana jika ini adalah di tengah hutan dan aku tidak tahu kemana harus berjalan.

Aku membalikkan tubuhku dan menemukan myungsoo tertawa geli padaku.

“jadi apa yang kau putuskan? Apakah kau ingin pulang sendiri?” ia menggodaku untuk kesekian kalinya. He is teasing me again. Tapi ini serius, aku tidak mungkin berjalan ke luar di daerah yang mungkin saja asing bagiku. Aku menggigit bibirku, aku tidak punya pilihan. Aku harus pulang.

“kau akan mengantarku, tapi kupastikan ini yang pertama dan terakhir”

Myungsoo melepaskan lipatan tangan di depan dadanya dan bergegas menelepon entah siapa dan tiba tiba mobil hitam ada di depan kami. Myungsoo menyuruhku masuk dan duduk di sebelah kursi supir, sementara dia sendiri duduk di belakang setir.

Ia menyalakan mobilnya dan aku bisa mendengar suara halus dari mesin mobil mewah ini. berbeda dari bus bus umum yang biasanya aku naiki. Myungsoo memasukkan persneling dan membawa mobil hitam ini melaju. Mobil ini melaju lurus ke arah gerbang besar yang sebelumnya aku lihat. Aku menutup mataku sebab aku tidak ingin melihat bagaimana myungsoo akan menabrak gerbang ini dengan kecepatan seperti ini. dan tiba tiba ketika kami hampir sampai dengan gerbang itu, gerbang itu terbuka dengan sendirinya dan aku bisa melihat myungsoo tertawa lepas melihatku.

Aku tidak mengindahkannya, karena mataku terpaku dengan apa yang ada di depanku, bukan hutan. Dan aku tahu aku masih di seoul. Ini adalah daerah di dekat kampus. Aku melihat ke belakang dan melihat gerbang rumah myungsoo tertutup otomatis. Ternyata, rumah myungsoo hanya beberapa meter dari kampus. Dan aku …. aku seharusnya bisa pulang sendiri.

Myungsoo mengerjaiku lagi.

=====================================

aku baru saja akan membuka pintu mobilnya ketika kami berhenti di depan gang sempit rumahku. Aku sengaja menyuruhnya berhenti di sana, karena aku tidak ingin keluargaku tahu tentang apa yang aku lakukan dengan myungsoo. This will be bad. Mungkin aku tidak akan di beri uang selama beberapa tahun. To be honest, ibuku sangat melarangku berhubungan dengan para pria kaya, hanya karena ia takut aku akan dipermainkan oleh mereka seperti dirinya dulu. Aku berpikiran sama dengan ibu, bukan karena aku takut dipermainkan, tapi aku lebih takut untuk jatuh lebih dalam dengan para orang kaya itu. hidup mereka mengerikan. Contohnya myungsoo. Pria ini arogan, mau menang sendiri, egois dan tidak berperikemanusiaan, dan aku tidak akan pernah mau memiliki hubungan apapun dengan pria seperti ini jika tidak terpaksa.

“kenapa bibirmu bergerak gerak?”, aku segera sadar aku membuka dan menutup bibirku seiring dengan otakku mengomel tentang apa yang terjadi hari ini. dan sialnya, myungsoo menyadari itu. ia mematikan musik yang dari tadi di dendangkan oleh music player di mobilnya. Ia menatapku tajam. Aku salah tingkah, tentu saja aku salah tingkah. Aku ada di bawah bayang bayang sebuah kontrak yang konyol dan sekali saja ia menemukan kesalahanku, mungkin ia akan menambah penderitaanku ke depan.

Aku tidak mau berlama lama dan mati di dalam mobil hitam itu, aku ingin segera keluar, dan hal yang pertama aku lakukan adalah membuka pintu mobil pria arogan ini.

“yuri-shi..” myungsoo memanggilku, dan kuharap dia tidak akan menyusahkanku lagi. aku memutar kepalaku ke arahnya sementara tanganku masih ada di pintu, berusaha membukanya.

wae?”, jawabku ketus

“berikan aku nomor telepon mu”, aku mengerutkan dahiku, selain karena bingung dan tidak percaya aku juga merasa heran. Buat apa myungsoo meminta nomor handphone ku.

“aku tidak akan memberikannya padamu”

you should. You are my slave, remember”

“yah, mr. Arrogant, i dont have any. So stop force me”

“you are a liar”

“i told you. I lost my phone today because of your crazy fans. I dont have any”

Kali ini myungsoo terdiam, dan ia terlihat berpikir. Kemudian ia mengangguk.

arrasseo”, sahutnya pendek. Aku tidak peduli, aku menghela napasku, kemudian mengayunkan kaki kanan ku keluar dari mobil pria menyeramkan itu. aku menutup pintunya dengan kencang setelah aku keluar dan aku melakukannya dengan sengaja, agar dia tahu betapa kesalnya aku karena tingkahnya hari ini. ini baru hari pertamaku menjadi slave nya dan dia sudah memperlakukanku seperti buruh.

“sampai ketemu besok, slave” myungsoo menyunggingkan senyumnya yang paling menyebalkan di dunia ini pada wajahku, dan sejurus kemudian kurasakan asap knalpot mobilnya menghujani celanaku.

Damn. Aku berteriak di dalam hati.

Aku menggigit bibirku, aku tidak langsung berjalan dan masuk ke dalam rumahku, aku masih berpikir 1000 alasan mana yang akan kupakai kali ini kepada eomma dan jiyong oppa. Mereka pasti akan berpikir macam macam jika alasanku tidak tepat dan aku tidak mau semua rahasia ku terbongkar.

Aku tidak bisa berpikir lama lama disana, karena ini sudah terlalu larut dan udara semakin dingin. Aku mengubah rencanaku, pertama tama aku harus masuk ke dalam rumah. Dan setelahnya, terserah apapun yang terjadi padaku. Yang penting aku harus masuk ke dalam rumah.

Aku membulatkan tekadku, aku memegang erat tali tas punggungku dan berjalan hingga aku sampai di depan sebuah rumah dengan toko laundry di depannya. Sudah sepi, dan memang wajar jika sepi, ini hampir jam 10 dan aku masih di luar. aku membunyikan bel dan mengetuk pintu beberapa kali, sehingga aku bisa mendengar suara pria keluar dan membukakan pintu untukku.

Kulihat jiyong oppa di sana dengan wajah kusut dan eomma di belakangnya dengan ekspresi yang bisa kutebak. Marah.

Sementara nara ada di belakangnya dengan mata sembab, sepertinya dia habis menangis.

“maafkan aku eomma, oppa…. nara-yah….

“masuk”, belum selesai aku berbicara, oppa dengan nada dingin menyuruhku masuk. Aku tanpa banyak berpikir masuk ke dalam rumah dan meletakkan tas ku sembarangan.

“apa yang kau lakukan hingga larut seperti ini, yuri-yah?”, eomma melipat tangannya, aigoo..  sepertinya ia sangat marah padaku. Aku hanya bisa mengigit bibirku sambil memutar otakku mencari alasan yang tepat. Aku tidak mau oppa dan eomma mengetahui kontrak senilai 100 juta won ku. Mereka akan mati di tempat.

“aku ada tugas. Dan…. aku mengerjakannya hingga malam di rumah temanku”, ah maafkan aku Tuhan, aku berbohong pada mereka.

“teman? Tugas? Yuri-yah, sejak kapan kau peduli pada tugas? Dan siapa teman yang kau maksud. Setahuku kau hanya berteman dengan sooyoung dan aku telah menghubunginya”

Shit. Aku lupa. Jiyong oppa sangat tahu bahwa aku tidak mempunyai banyak teman dekat. Dan aku juga bukan tipe seseorang yang peduli pada tugas.

“dan apa yang kau lakukan dengan ponsel mu? Kenapa kau tidak mengaktifkannya?”, aku menemukan satu celah tepat di sini. Dan aku segera dapat menghapus kebohonganku dengan ini.

“itu masalahnya oppa. Aku kehilangan ponsel ku di bus umum, dan aku mencarinya sebelum aku sampai ke rumah temanku itu. ini bukan sooyoung, temanku yang lain lagi, err… seohyun… seohyun. Kau tahu?”, jiyong oppa terlihat ragu namun ia mungkin akan percaya bagian aku kehilangan ponsel ku.

“kau kehilangan ponselmu?”, eomma menegaskan

eo, eomma. Mianhamnida” aku menundukkan kepalaku sopan dan menunjukkan aegyo ku dengan sedikit memajukan bibirku agar hati mereka luluh. Dan ini berhasil, kulihat eomma berjalan ke arahku dengan tangannya yang terbuka. Mungkin ia akan memelukku atau mengelus elus kepalaku, aku senang aku berhasil, tapi aku sembunyikan ekspresi kemenanganku ini.

Kucium aroma tubuh eomma dalam jarak beberapa senti saja, ah aku pasti akan dimanja.

Tok…tok..

EOMMAAAA APPO” Eomma memukul kepalaku dengan tangannya. Dua kali dan sangat keras sehingga aku meringis dan kulihat nara menertawai aku. Jiyong oppa melihat ku dengan senyum kepuasan.

“kau tidak boleh berbohong pada keluargamu yuri-yah, katakan, apa yang kau lakukan dengan pria di dalam mobil hitam tadi? siapa dia? Apa yang telah dia lakukan padamu. Jangan berpikir eomma tidak melihatnya”

Damn,  ternyata eomma tahu. Tapi bagaimana? Apa eomma  melihatku tadi? ah… aku menyesal aku kurang hati hati. Ini semua karena pria bodoh itu bersikeras mengantarku, jika sebelumnya aku pulang sendiri, ini tidak akan terjadi.

“siapa? Kau mungkin salah orang eomma” aku coba berbohong lagi tapi eomma memukulku di bahu dengan sangat kencang. Padahal aku bukan anak kecil tapi eomma selalu melakukan ini ketika aku salah. Dan ini menjadi bahan jiyong oppa untuk terus menertawakanku seperti apa yang dilakukan nara.

eommaaaaaa… baiklah baiklah… namanya myungsoo…”, eomma menghentikan semua pukulannya pada tubuhku dan serentak nara dan jiyong oppa menatapku.

myungsoo? KLISE?” Nara terdengar sangat antusias, karena ia memang penggemar klise sejak mereka debut. Dan aku sangat terganggu dengan kelakuannya setiap kali ia menjerit ketika melihat klise di TV.

“kim myung soo? Yuri-yah… bagaimana kau…” jiyong oppa terlihat lebih kaget lagi daripada nara, karena ia sangat mengenal myungsoo karena pria bodoh itu pernah beberapa kali menjadi model untuk kegiatan fotografinya atas lisensi dari dara unnie. Selain itu, jiyong oppa juga benar benar tahu tentang aku  yang sama sekali tidak tertarik pada Klise, kecuali untuk senyum milik luhan.

“yuri-yah….” eomma terbata bata memanggilku. Dan aku terpaksa jujur karenanya. Aku menceritakan semuanya, tentang bagaimana aku dan myungsoo bertemu di pertandingan baseball hingga kontrak 100 juta won yang aku miliki dengan myungsoo. Aku bercerita dengan lengkap. dan ekspresi mereka hanya terbengong dari awal sampai akhir.

“…maafkan aku eomma, oppa, nara-yah”  ujarku ketika aku selesai bercerita dan menemukan mereka menelan ludahnya masing masing.

aigooo.. yuri-yah… sudah kubilang kau tidak ke pertandingan itu… aigooo” eomma  mengelus dadanya sambil beberapa kali mencubit pahaku. Sementara jiyong oppa terlihat berpikir dengan serius. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi sesekali ia menggeleng dan semenit kemudian mengangguk seperti orang gila.

eomma,  biar aku yang mengurus masalah yuri. aku lebih paham”, dan jiyong oppa menarikku ke kamarnya, ia menutup pintu kamarnya dan mengunci nya. aku tegang, jika oppa sudah bertindak seperti ini, artinya dia serius. Dan oppa jarang sekali bertindak serius.

“kau kemanakan surat perjanjiannya?”, aku bingung

“perjanjian apa?”

“kau bodoh, perjanjian 100 juta won itu”, dan tiba tiba otakku yang sempat berhenti bekerja, mendapatkan sesuatu.

“ah… kontrak itu… seingatku luhan menyimpannya”

“luhan juga tahu? Siapa saja yang mengetahui ini?”

“mm.. tidak banyak. Selain aku , myungsoo dan luhan, kau, eomma dan nara, tidak ada lagi, waeyo?”

“syukurlah… yuri-yah, jangan sampai ada orang lain yang tahu. Ini akan menjadi skandal”

“skandal?”

“Klise adalah pria terkenal, dan kau siapa? Jika seseorang atau media tahu kau dan myungsoo terlibat hal konyol seperti ini, menurutmu apa yang akan para fans nya lakukan padamu? Pada keluarga kita?”, aku menggigit bibirku, aku tidak tahu ini akan menjadi sejauh itu. dan aku tidak pernah berpikir sampai kesitu.

“kau harus menjaga jarak dengannya di depan umum. Aku akan melindungimu. Tapi kau juga harus tahu keadaan luka di tubuh myungsoo, jadi ketika ia sembuh, maka kontrakmu juga akan habis dan kau tidak perlu lagi menjadi pesuruhnya, arra jji?”

Aku sempat membuka mulutku lebar mendengarkan setiap detail penjelasan oppa padaku, aku tidak menyangka ia bisa berpikir sejauh ini dan aku tidak menyesal mempunyai oppa daebak seperti jiyong. Ia benar benar luar biasa. mungkin karena ia bertanggung jawab terhadap keluarga kami sejak appa meninggal. Dan dia selalu melindungi keluarga ini seperti semua beban ada di pundaknya.

Aku tidak pernah merasa sebangga ini pada oppa ku sebelumnya, tapi kali ini, ia membuatku merinding.

“kau mendengarkanku yuri?”

ne~”

“bagus, sekarang kau bersihkan tubuhmu dan pergi ke ruang makan, eomma sangat khawatir padamu hingga ia menghangatkan nasi berkali kali untukmu, kau harus memakan makan malammu”

neeee” aku berteriak pada jiyong dan bergegas berlari kecil membuka pintu kamarnya. Yang harus kulakukan adalah mandi. aku merasa badanku sangat lengket dan bau. Ewwww… aku tidak menyangka pekerjaan kecil begitu bisa membuat badanku sebau ini.

“yuri yuri yuri, you smell like a trash” aku berujar pada diriku sendiri, aku mengambil handuk ku dan segera masuk ke dalam kamar mandi.

======================================

71 thoughts on “KLISE [Part 1]

  1. Ersih marlina berkata:

    Tuh kan, aku bilang jga apa
    pasti seru bcanyaaa
    mereka kaya kucing sma tikus yah, bertengkar mulu.kkk tapi d stu lucunya

    hati2 loh, kalian nanti ke jebak sama peratran dlrng jtuh cintanya
    lnjt bcaa, smngat ka nyun

  2. acimu berkata:

    Suka kalau baca ff yg meranin yuri eonni apalagi di pasangi sama Myungsoo.
    Kayaknya myungsoo udah ada rasa sama yuleon dech. Sepertinya sebelum kejadian di pertandingan bashball itu.

  3. Ara19 berkata:

    Myungsoo kejem banget yak-_- tapi entah kenapa malah suka gitu,MyungYul momentnya malah makin banyaaak~
    Ga tau kenapa,aku ketawa terbahak-bahak sendiri pas baca yang bagian “snoopy,scooffy,skaipe,dll” namanya bsa lucu2 gitu wkwk,mengingat myungsoo adl sosok yang expressionless.
    Kasian banget yak si Yul,kehilangan ponsel,dia udah capek2 bersihin kamar myungsoo,ngasih makan hewan2 skipping-nya myungsoo,dikerjain sama myungsoo,dan penderitaannya semakin lengkap pas sampe rumah dimarahin eommannya-_-aigoo,so poor yuri>_<
    Izin baca next chappie-nya ya KakNyun^^

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s