THE ACADEMY [One-Shot]

The academy 2

.Annyeong. aku hadir dengan satu lagi FF baru. ini adalah proyek ‘iseng’, jadi ceritanya aku lagi googling. terus nemu cerita tentang tragedi di Sandy Hooks, sebuah sekolah gitu. dan aku berpikir untuk mengangkat cerita ini menjadi sebuah FF.

.tidak ada yang terluka atau dilukai selama pembuatan FF ini.

.dan unsur cerita serta kata-kata dan adegan mengerikan di dalam FF ini MURNI HANYA REKAAN AUTHOR aja. walaupun BASED ON A TRUE STORY, tapi aku sudah BERIMPROVISASI di sana-sini. mohon jangan men-judge isi dari FF ku. dan aku peringatkan, DILARANG MENIRU SEBAGIAN ATAU SELURUH ADEGAN KEKERASAN DI DALAM FF INI. damai itu indah.

.Genre FF ini adalah ACTION & THRILLER with a lil bit Romance. Main Cast nya adalah Kwon Yuri dan Choi Min Ho. Length nya just One Shot. Rating : NC under 17, yang di bawah 17 tahun tidak disarankan untuk membaca FF ini.

DISCLAIMER : PLOT DAN IDE FF INI ADALAH MILIK AUTHOR (Bapkyr). Poster di buat dan di publish oleh author sendiri, namun gambar, PSD, PNG, dan segenap perintilan nya dimiliki oleh google dan ownernya. DILARANG KERAS MENJIPLAK MENGGANDAKAN, MENGKOMERSILKAN KARYA INI TANPA IJIN DARI PENULIS (bapkyr). Plagiarisme adalah kriminalitas.

peringatan : Tidak dianjurkan baca FF ini di malam hari. apalagi pas sepi dan sunyi senyap. :p

****

“apa kau Kris Wu?”

Seorang wanita terlihat memperhatikan dandanan pria bertubuh jangkung dengan rambut hitam yang ditata rapih. Pria itu masih sangat muda, mungkin ada di kisaran umur 22 Tahun. Namun name tag yang ada di saku kirinya, membuat wanita yang memelototinya menjadi segan. Wanita setengah baya itu menunduk dengan hormat, kemudian melayangkan tangannya, membuat kode untuk mempersilakan si pria ke tempat lain.

Pria itu mengangguk sebagai tanda penghormatan dan rasa terima kasih. Ia melangkah dengan langkah lebar yang dibuat tergesa-gesa. Beberapa kali ia lirik jam tangan buatan swiss di tangannya. Dilihatnya jendela berembun di sepanjang koridor yang di lewatinya. Jendela yang langsung mengarah keluar itu mempertunjukkan butiran salju bulat yang turun perlahan demi perlahan.

Pria itu menghembuskan napasnya, dan buih embun keluar dari mulutnya. Ia merapatkan mantel, sarung tangan dan syal serba hitam yang ia pakai. Tangannya ia masukkan ke dalam kantong mantelnya yang tebal. Dikeluarkannya satu cerutu utuh yang ia simpan di sana, lengkap dengan pemantik nya. ia berhenti dan mencoba menyalakan cerutunya. Dihisapnya cerutunya kuat kuat untuk mendapatkan sedikit kehangatan di dalam tubuhnya. Pria itu terus berjalan dan sesekali terbatuk karena cerutu tembakau nya. setiap orang yang berpapasan dengannya, memandangnya aneh seperti dirinya adalah sherlock holmes.

Ya, dia Kris Wu. Pria keturunan China-Amerika. Kris wu menguasai beberapa bahasa, dan salah satu yang paling ia kuasai adalah bahasa korea. Ia pernah memiliki riwayat tinggal sebagai pendatang dan pencari nafkah di negeri ginseng itu selama beberapa tahun. Berprofesi sebagai seorang jurnalis membuatnya harus ekstra sabar untuk bertahan di sana. hingga akhirnya satu profesi baru mengundangnya kembali ke Amerika. Kini ia difungsikan sebagai translator di dalam kepolisian lokal Callifornia.

Dan kali ini, sebuah badan intelijen amerika, CIA, menggunakan jasanya.

Beberapa hari sebelumnya, Kris Wu menerima telepon dan panggilan darurat dari salah seorang yang mengaku staff dalam CIA. Ia tidak mengerti siapa dan untuk apa, tapi misi ini merupakan misi kelas I, dan artinya satu pijakan penting bagi karir Kris Wu.

Dan disinilah ia, memandangi satu pintu kayu berpelitur putih yang sangat besar. Di depannya terdapat satu tulisan “Chief of Investigation” dengan ukiran kayu mahoni berwarna coklat tua. Kris mematikan cerutu tembakau nya, kemudian membuangnya di sebuah tong sampah berwarna perak yang ada di dekatnya. Pria ini berusaha menghilangkan ketegangannya dengan beberapa kali berdehem, sebelum ia akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu.

“masuk”, karakter suara berat di dengar Kris dari luar. Kris memutar knop pintu dan dengan sopan , masuk ke ruangan di balik pintu tersebut. Dilihatnya, seorang pria klimis, berperawakan tinggi dengan perut rata dan dada yang bidang, hadir di depannya. Kris memperhatikan pria itu lama-lama dan ia langsung membayangkan seorang charlie chaplin ada di hadapannya saat ini. kumis pria klimis itu membuat Kris hampir saja tertawa.

“kau Kris Wu?”, pria itu menaikkan satu alisnya, dari nada bicaranya, pria itu terkesan meremehkan Kris untuk sesaat. Kris tersenyum, ia menunjukkan name tag yang ia pakai.

“benar, dan kau apakah Mr. Ralph?”, Kris Wu, dengan budaya timur nya, bertanya dengan sopan pada pria yang terlihat lebih berumur darinya itu.

“benar, aku yang meneleponmu. Apa kau kecewa karena penampilan ku tidak sesuai dengan ekspektasi mu?”, pria klimis itu terkekeh, berusaha melemparkan satu candaan ringan ada Kris. Kris tidak tertarik. Namun ia tetap melebarkan bibirnya, menunjukkan deretan gigi putih yang ia punya.

“aku tidak akan banyak bercerita, karena aku ingin segera kau melakukan tugasmu hari ini. apa kau sudah mengetahui apa yang akan kau lakukan di sini?”, pria bernama Ralph itu mengajak Kris duduk di sofa empuk yang terkesan lux. Di depannya berderet makanan kecil dan beberapa air mineral yang tertata dengan rapih.

Kris menyeringai.

“aku tidak akan bekerja secara sukarela, bukan? aku belum mendengar tentang imbalan”

Ralph tertawa terbahak-bahak. “Kau ini pria yang sangat teliti”, sahutnya.

“bagaimanapun bussiness is bussiness, sir”, Kris menekankan kalimatnya. Dan membuat tawa Ralph terhenti dengan cepat. Ralph terlihat berdiri dan mengambil beberapa dokumen di mejanya, ia berikan dokumen itu pada Kris.

Kris membuka sebuah file map berwarna hitam di tangannya, membolak-balik beberapa kertas di sana. kemudian senyumnya mengembang.

“apa kau setuju dengan angka di sana?”, Ralph seakan tahu senyuman Kris ditujukan untuk apa. Kris menutup map nya segera dan mengangguk.

“kurasa ini setimpal”

“kurasa itu berlebihan hanya untuk seorang translator” Ralph tertawa lagi, kali ini dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya. Kris merasakan telinganya berdenging. Namun angka nol yang berderet di otaknya setelah melihat kertas itu, membuatnya lebih tenang.

“jadi apa yang harus kulakukan? Kau ingin aku menerjemahkan apa?”

Ralph mengambil rokok nya, menyalakannya dan menghisapnya, dengan gaya retro.

“bukan apa. tapi siapa. Dia seorang saksi ahli yang menderita gangguan jiwa, seorang wanita bernama Kwon Yuri. kami tidak tahu informasi apapun selain namanya. Wanita itu terus berteriak dengan menggunakan bahasa korea. Dan kami tidak tahu apa yang dia katakan,”

Kris berdehem, ia mulai tertarik. Beberapa kali ia menerjemahkan tawanan, saksi dan narapidana di Callifornia yang berasal dari korea. Dan ia yakin, ia sangat terlatih untuk ini.

“kau tahu peristiwa kemarin? Tentang FS Academy?”

Kris mengernyitkan dahinya, secara refleks ia memutar memori di otaknya. “maksudmu kasus pembunuhan massal di sekolah itu?”, Ralph mengangguk, Kris terlihat tidak mengerti.

“Kwon Yuri adalah satu-satu nya yang selamat dari kejadian itu. menurut arsip imigrasi dan kependudukan sipil, adik angkat nya yang bernama Aleyna Kwon, terbunuh dalam peristiwa itu. dan mungkin ini yang menyebabkan dia terganggu mentalnya”

Kris mengangguk. Ia benar-benar tertarik. “apa kau ingin aku mengorek informasi darinya di kondisi nya yang seperti itu?”

“benar. Kwon Yuri adalah saksi ahli. Mengingat sampai saat ini pelaku belum tertangkap, maka kesaksian Kwon Yuri akan mempermudah kami melakukan investigasi, dan kami ingin mengungkap ini secepat mungkin sebelum jatuh korban lain.”

Kris menerawang, menyerap setiap suku kata yang ia dengar.

“Sebelumnya aku ingin tahu, apa selama ia tinggal di Callifornia, dia tidak pernah sekalipun menggunakan bahasa inggris?”

“kurasa dia fasih, namun mentalnya saat ini terganggu. hanya bahasa korea yang kami dengar. Dia selalu berteriak histeris ketika kami menyebutkan nama adiknya, kemudian berceloteh panjang lebar. Tapi kami tidak tahu apa yang ia katakan”

“bagaimana dengan saudara, kerabat dan teman-temannya?”

“Kami menemukan data bahwa baik Yuri Kwon dan Aleyna Kwon hidup sebatang kara sebagai Imigran dari Korea. Mereka yatim piatu. Kami telah melakukan kontak dengan Pihak Kedutaan kami di Korea Selatan dan mendapatkan informasi seperti itu”

“teman-temannya di Callifornia?”

“mereka semuanya berkebangsaan Amerika. Tidak satupun berasal dari Timur, dan kami telah menginvestigasi mereka malam tadi. tidak ada informasi yang membantu. Yuri dan adiknya adalah pribadi yang pandai bergaul dan ramah. Dan keadaan wanita ini membuat kerabat dekatnya shock

Kris mengangguk di akhir kalimat Ralph. Pria klimis itu telah menghabiskan satu hisapan lagi rokoknya, ia membumbungkan asap putih pekat dari mulut ke udara. Membuatnya bebas berbaur dengan oksigen di ruangan itu.

“baiklah, cukup. Apa aku bisa mulai bekerja sekarang?”, Kris menatap lurus pada Ralph. Ralph mendengus sambil terkekeh. Bisa dibayangkan bagaimana kerutan menjadi sangat jelas di wajah pria klimis itu.

“dengan senang hati kukatakan, kau bisa mulai hari ini. sekertarisku di depan akan mengantarmu ke ruangan isolasi Yuri Kwon”

“terima kasih”, jawab Kris singkat.

Ia berbalik dan keluar ruangan itu dengan semangat aneh yang mengalir di darahnya. Menerjemahkan seorang saksi ahli yang sangat penting adalah hal baru baginya. Namun Kris masih memiliki sedikit kecemasan dalam dirinya. Ia tidak pernah menerjemahkan kalimat seorang yang sakit jiwa sebelumnya. Ia bertanya-tanya apakah dirinya bisa menggunakan kemampuannya di situasi seperti itu.

Kris melihat seorang wanita sintal di hadapannya, membawa beberapa kartu dengan barcode tersemat di dalamnya. ia memberikan kartu itu kepada Kris dan mengajaknya berjalan melewati beberapa lorong.

“apa kau detektif?”, sahut wanita sintal itu segera setelah mereka berhenti di depan sebuah pintu besi. Wanita itu terlihat mengetikkan beberapa sandi khusus pada keyboard transparan di permukaan pintu. Kris diminta memasukkan kartu yang tergantung di lehernya pada sebuah lubang pipih yang ada di antara knop pintu dan keyboard transparan itu.

“tidak, aku seorang penerjemah” sahut Kris singkat. Wanita itu mengangguk. Kemudian pintu besi perlahan terbuka di depan mereka. memperlihatkan satu ruangan dengan 3 pria berjas di dalamnya.

“kau yakin dapat menangani wanita di sana?”, wanita itu mendongakkan kepala, berusaha menunjukkan sesuatu dengan arah wajahnya bermuara. Kris melihat seorang wanita di balik dinding tebal transparan. Wanita itu dikurung dalam sebuah ruangan dengan dinding dan lantai putih. Dilihatnya wanita itu tertawa dan menangis sendiri dengan tiba-tiba tanpa sebab. Rambutnya berantakan dan bibirnya terkadang menyeringai.

“apa dia Kwon Yuri?”, tanya Kris penasaran.

“Ya,” sahut wanita sintal itu pendek “dan dia menunggumu segera.”

“Hey, Jessica ! sudah kukatakan jangan bawa pria-pria yang kau sukai keluar dan masuk ruangan ini”, Pria berkacamata hitam dengan gaya yang luar biasa arogan datang di antara mereka. Pria itu memperhatikan Kris dari ujung kepala hingga ujung kaki, bibirnya menyeringai.

“apa seleramu sudah berubah, Jessica?”, wanita sintal yang bernama Jessica itu terlihat menunjukkan wajah terganggunya. Ia mendorong tubuh Pria berkacamata dengan kedua tangannya dan menjauhkannya dari Kris.

“dia Kris Wu, si penerjemah itu. berhenti mengejekku terus, Kai,”

Jessica melipat tangannya, “tidak seharusnya kau bersikap seperti ini hanya karena kita baru saja berpisah beberapa minggu yang lalu”

Pria berkacamata bernama Kai tadi terlihat membagi tatapan canggungnya. Kris berdehem beberapa kali untuk menyadarkan Jessica dan Kai mengenai eksistensinya di sana. Kris tidak suka membuang-buang waktu berharganya hanya untuk mendengarkan cerita kandasnya hubungan sepasang kekasih di depannya.

“jadi kau Kris Wu?”, Kai berjalan mendekati Kris.

“kau bisa melihat name tag ini” sahut Kris. Kedua pria lain yang berseragam seperti seorang dokter, dengan pelan tapi pasti datang pada Kris. Kedua pria itu memiliki wajah yang sama. Dan mereka secara bersamaan menyodorkan tangannya pada Kris.

“aku George dan dia Fred”, sahut seorang dengan rambut pirang.

“tidak, aku yang George, dia yang Fred”, sahut pria berwajah sama di sebelahnya. Kris bingung.

“jadi yang mana George dan yang mana Fred?”

“aku yang George”, keduanya menjawab secara serempak. Mereka saling menatap kesal satu sama lain.

“sudah kukatakan, hari ini aku George. Kau yang Fred, bodoh”

“kau mengatakan itu kemarin. Dan itu hanya berlaku kemarin. Sekarang aku yang memakai nama George”

“aku mengatakan itu tadi pagi, Bodoh. Seharusnya kau ingat”

“aku ingat. Dan aku tidak bodoh, kau mengatakan itu kemarin siang pada jam 11.20.05 di kantin utama, saat aku sedang melahap satu potongan gurita dadu saus kejuku.  lihat. Aku bahkan menghapal semuanya”

“sejak kapan kau makan gurita keju? Hanya George yang memakan Gurita keju. Dan itu aku, bodoh”

Kris hanya memandangi kedua orang di depannya dengan hambar. Ia menoleh pada Jessica dan Kai yang terlihat santai memandangi dirinya.

“jadi siapa yang George?”, bisik Kris pada Jessica

“itu mudah. George adalah dia yang selalu mengatakan ‘bodoh’ di akhir kalimatnya”

Kris mengangguk dan menemukan alasan mengapa Jessica maupun Kai tidak terpengaruh oleh debatan pria aneh ini.

Kris menjulurkan tangannya dan berusaha memisahkan dua pria itu ketika satu teriakan kencang di dengarnya dari kaca transparan. Semua orang di ruangan itu menoleh pada sumber suara.

Kris melihat Yuri Kwon sedang teriak secara nyata. Suaranya nyaring dan ia bisa mengerti apa yang Yuri teriakan.

“bisakah aku masuk?” sahut Kris pada Kai yang sedang duduk di balik satu panel hitam dengan puluhan tombol di atasnya. Kai mengangguk, ia membukakan pintu masuk ke dalam ruang isolasi Yuri Kwon untuk Kris.

Kris tanpa ragu, menerobos masuk. Pandangan matanya ada pada wanita dengan baju biru dan rambut hitam tergerai yang berantakkan di depannya. Yuri Kwon saat itu terlihat menangis, memegangi sebuah bantal putih. Kakinya di rantai, tangannya bebas namun ada bekas ikatan tali temali kencang di pergelangan tangannya. Kris menduga CIA pernah membuatnya diikat kuat selama beberapa jam.

Kris membungkukkan tubuhnya, berusaha duduk di depan Yuri.

“kau Kwon Yuri?”, tanya Kris dalam bahasa ingris. Yuri tidak menyahut, bahkan menoleh pun tidak.

annyeong haseyo” Kris berusaha mendapatkan perhatian Yuri dengan mencoba satu kalimat sapaan dalam bahasa korea secara singkat. Yuri menolehkan kepalanya, wanita itu menatap Kris dengan pupil yang membesar.

“kau mengerti rupanya” ucap Kris dalam bahasa korea. Yuri menghentikkan tangisannya. Ia melihat seperti harta karun ada di hadapannya. Mata Yuri membesar, berkedip-kedip menatap Kris. Kris tersenyum pada Yuri.

Ini akan mudah, gumamnya dalam hati.

Belum selesai Kris membangga-banggakan dirinya sendiri, Yuri tiba tiba menjerit, tangannya mencengkram lehernya sendiri dengan hebat hingga Kris bisa melihat mata Yuri yang membesar dan lidah Yuri yang terjulur.

Kris mendengar pintu terbuka, George dan Fred masuk tergesa-gesa, Kris bisa melihat jarum suntik yang digenggam oleh salah satu dari mereka. –Kris tidak dapat membedakan keduanya jika mereka tidak bicara-. Ditancapkannya jarum suntik itu pada paha Yuri yang terbuka. Setiap tetes demi tetes cairan di dalam jarum suntik itu mencari jalan masuk ke dalam darah Yuri, setiap itu juga emosi Yuri menjadi stabil.

“kau memberikan obat penenang?”, tanya Kris penasaran

“ya, pencegahan untuk aksi bunuh diri wanita korea ini”

Yuri melemah, sayup-sayup Kris bisa mendengar suara Yuri. Nadanya terlalu rendah baginya sehingga ia hanya bisa mendengar kata ‘saranghae’ yang diucapkan Yuri sebelum ia benar-benar menutup matanya, tertidur.

“kau menghambat pekerjaanku. Sampai kapan wanita itu akan tertidur?” ujar Kris. Dia perlahan bangkit dan berdiri, membersihkan celananya dari debu lantai.

Satu pria, -terlepas dari nama mereka George atau Fred- melirik jam nya dan hening sesaat, kemudian ia berdehem, “dosis yang kami berikan tidak banyak, kembali ke sini satu jam lagi. mungkin ia akan terbangun”

Kris terlihat berpikir. Ditatapnya wajah wanita yang tersungkur di atas lantai itu. Kris duduk kembali pada tempatnya semula di sana. memandangi wanita itu.

“kau tidak akan makan siang? Ini sudah waktunya break”, ucap Fred. –atau George?-

“aku sudah makan, aku akan menunggu sampai wanita ini terbangun”

George dan Fred membagi tatapan mereka satu sama lain, kemudian pergi meninggalkan Kris.

Kris meraba lantai keramik yang menjadi alas tidur wanita di depannya. Sangat dingin walaupun ada di dalam ruangan tertutup. Kris tidak habis pikir bagaimana perusahaan intelijen ini menangani seorang yang harusnya menjadi aset berharga bagi mereka.

Kris mencoba mengangkat Tubuh Yuri dan membawanya ke Kasur empuk di dekatnya. Sebuah kasur tanpa kerangka. Hanya mattress dan satu bantal. Kris menidurkan Yuri di sana. sementara dirinya duduk bersandar pada tembok. Diliriknya jam mahal di tangannya, ia memutar-mutar sebuah tombol di samping jam itu.

“alarm akan berbunyi tepat satu jam dari sekarang”, Kris menyeringai puas. Kinerja dan fungsi jam nya sangat membantunya. Dia bisa duduk dan bersantai sambil memejamkan mata tanpa perlu khawatir ia melewatkan satu jam berharganya. Ia harus menyelesaikan tugas ini sesegera mungkin.

*****

Satu jam berlalu, dan Kris saat ini mencoba memulai kembali dialognya dengan yuri. namun yuri terlihat tidak tertarik pada setiap suku kata yang dikukir oleh bibir kris di udara. Gaya resonansi tidak bekerja pada telinganya. Yuri hanya diam sambil memutar mutar jarinya di atas lantai.

Kris menghela napas panjang ketika ia menemukan yuri naik ke atas kasurnya. Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai menggerakkan jarinya pada tembok di dekatnya. Pandangan matanya hidup, namun pikirannya kosong.

Kris bersandar kembali di sebuah dinding. Duduk dengan style.

Sesekali dilirknya yuri yang terlihat asik dengan kegiatannya. Seolah-olah ia dan yuri ada di dalam dua dunia berbeda walaupun berada dalam satu ruang yang sama. Kris melihat ke arah jendela transparan, dan memperhatikan Jessica serta Kai beradu mulut. Dari dalam ruangannya, Kris tidak bisa mendengar apapun dari luar. seperti saat ini, ia hanya bisa melihat bibir Kai dan Jessica bergerak-gerak, namun tanpa suara apapun yang terngiang di telinganya. Ruangan itu kedap suara.

“mereka memperlakukanmu seperti tahanan” ucap kris singkat dalam bahasa korea. Kris menghembusan napasnya, ia merasakan tenggorokannya kering, namun ia memilih tetap bertahan di sana hingga Yuri bicara padanya.

(note : mulai saat ini percakapan dianggap menggunakan bahasa Korea)

“aku haus. Tapi aku tidak bisa keluar jika kau tidak bicara”, Kris melihat yuri. yuri memejamkan matanya, namun tangannya masih bermain di dinding.

“aku akan menunggu di sini, sampai kau mau berbicara padaku”, Kris melipat tangannya, ia rapatkan kakinya, mencoba menahan dinginnya lantai keramik yang ia pijak. Yuri tetap tidak bergeming. Dan Kris terlihat seperti orang bodoh, bicara sendiri.

5 menit telah berlalu, rasa haus masih bisa ditahan kris. Namun rasa dingin di telapak kakinya sudah mulai merasuk ke dalam tulangnya.

30 menit, Kris merasakan telapak kakinya kram. Namun ia tetap bertahan, sambil sesekali mencuri pandang pada yuri, barangkali wanita itu memperhatikannya.

1 jam, Kris sudah menyerah dengan telapak kaki nya. di gunakannya pinggiran kasur milik yuri sebagai sandaran bagi telapak kakinya. Yuri tidak keberatan, karena yuri tidak mengatakan apapun.

1,5 jam, rasa haus kian mendera. Hawa dingin membuat kerongkongannya membeku seperti es. Kris sangat haus. Tapi ia sudah terlanjur berjanji bahwa ia tidak akan beranjak dari sana untuk mengambil segelas air  minum.

2 jam, haus membuat nya tersiksa, ia berdiri kemudian terduduk beberapa kali. Kris gelisah. Dilihatnya yuri masih asik dengan kegiatannya. Kris hampir akan menyerah. Tapi ia memutuskan untuk duduk kembali. Menahan rasa hausnya.

2,5 jam, Yuri menggeliat, dan melihat kris yang berusaha terpejam, dengusan napasnya berubah menjadi sangat berat, beberapa kali dilihatnya jakun kris naik dan turun, menelan air liurnya sendiri.

“kau bisa minum”

Kris terbelalak, dan ia menoleh ke sumber suara, dilihatnya yuri terduduk sambil menatapnya. Ekspresinya masih datar, namun setidaknya wanita ini sudah berbicara padanya dengan normal.

Kris melihat bagaimana ekspresi kekagetan ditampilkan jessica, dan semua orang yang ada di balik jendela transparan di dekatnya. Bahkan Kai segera bergegas mengambilkan sebuah gelas dan beberapa air mineral dalam botol, kemudian mengantarkannya ke dalam ruang isolasi.

Kai menatap Yuri sekilas kemudian segera beranjak dari sana.

Kris menenggak air mineral dalam botol itu segera, rasa hausnya sudah sangat tidak tertahankan. Ia bahkan sudah siap pada botol keduanya. Namun ia urungkan. Dilihatnya Yuri yang asik memperhatikan dirinya.

“aku Kris Wu”

“aku Kwon Yuri, dan aku tahu apa yang kau inginkan. Matikan semua alat sadap di ruangan ini. Maka aku berjanji aku akan bicara”, kris terpana dengan bagaimana tiba tiba wanita di depannya mengatakan satu kalimat panjang dengan normal.

“kau— kau tahu ruangan ini di sadap?”, yuri terdiam kemudian berdehem ringan.

“sudah kubilang, aku tidak akan mengatakan apapun sebelum alat penyadap dilepas”, Kris mengangguk. Ia berdiri dan keluar dari ruangan. Memerintahkan semua alat sadap di ruangan kedap suara itu dilepas. Jessica menolak, namun ia diberi solusi oleh kris, bahwa kris akan diam-diam merekamnya ketika pembicaraan ia dan yuri telah selesai. Jessica mengangguk, Kai mematikan semua alat sadap mereka. kemudian kris membiarkan mereka duduk tenang di luar ruangan isolasi.

Kris kembali pada yuri dengan hasil yang yuri harapkan. Yuri mengangguk kecil.

“kenapa kau ingin semua alat sadap dimatikan?”

“karena aku tidak ingin mereka tahu bahwa aku berpura-pura gila”, di akhir kalimatnya, kris terlihat menekan tombol ‘record’ secara diam diam pada ponsel di saku celananya.

“kau berpura-pura? Kenapa?”

“aku tidak percaya CIA. Dan ini ada kaitannya dengan semua yang akan aku ceritakan. Kuharap kau bisa percaya padaku. Apapun yang terjadi”

Kris mengangguk, dilihatnya mata yuri yang mulai menerawang.

“aku akan bercerita semuanya, dimulai dari seminggu yang lalu……”

******

YURI POV

(note : dialog di anggap dalam bahasa inggris dan korea, depend on the situation, determine it yourself :p)

Flashback

Monday, Dec 11th 2012.

Namaku Park Yuri, aku yatim piatu. Aku dibesarkan dan di asuh oleh seorang keluarga kaya yang sangat baik hati bermarga Kwon. Dan namaku berubah menjadi Kwon Yuri. Mereka memiliki satu anak bernama Aleyna. Dan aku sangat menyayanginya.

Aku dan Aleyna tinggal sebatang kara dan hijrah ke Callifornia setelah mendapatkan berita Kedua orang tua kami tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Mereka menyebutnya ‘kecelakaan’ tapi aku mengartikan kejadian itu sebagai ‘sabotase’. Bagaimana mungkin sebuah pesawat pribadi milik kedutaan besar Korea tiba-tiba terbakar di udara tanpa ada peringatan atau kesalahan teknis sebelumnya. Kotak hitam yang ditemukan oleh kepolisian nasional, tidak pernah dipublikasikan. Dan itu hanya menambah kecurigaanku.

Aku sudah tidak bisa hidup di Korea bersama dengan semua kenangan pahit itu. untuk itu disinilah aku, Callifornia. Berharap menemukan satu ketenangan baru bersama Aleyna.

Aku membeli sebuah Apartemen di kawasan elite. Tinggal di lantai 13 membuat kami jarang melakukan kegiatan keluar apartemen kecuali jika untuk mengantar Aleyna ke sekolahnya. Kami cukup pandai bergaul, namun kami menjauhkan diri dari kehidupan malam. Bagaimanapun Aleyna masih kecil, walaupun aku ingin pergi keluar dan bersenang-senang, aku tidak bisa meninggalkan Aleyna sendirian di rumah. Apalagi di negeri asing baginya.

3 bulan. Baru 3 bulan kami berada di Callifornia. Dan hari ini adalah hari peringatan kematian kedua orang tua kami. Aku dan aleyna berdoa di sebuah gereja sebelum mengantar aleyna ke sekolah. Gereja itu berada tidak jauh dari apartemen kami, sehingga aku tidak perlu merasa khawatir aku akan terlambat mengantar Aleyna.

Aleyna bersekolah di sebuah sekolah elite. FS Academy. Siapapun tidak akan menyangka bahwa aku yang notabene tidak bekerja dapat menyekolahkan Aleyna di sekolah termahal di Callifornia itu. ini bukan sebuah magic buatku. Kekayaan yang ditinggalkan oleh ayah dan ibu cukup untuk membesarkan Aleya. Dan lagi aku dipercaya untuk menjadi pengganti Aleyna sebagai ahli waris sampai Aleya mencapai usia 17 tahun. Aku harus memegang komitmen ini, komitmen yang ditugaskan padaku melalui sebuah surat wasiat.

Aku sedang menyetir dan sesekali menoleh ke Aleyna yang terlihat sedang tersenyum-senyum sepanjang waktu.

“kau kenapa? Sesuatu menyenangkan terjadi?”

anieyo.” Aleyna kembali tersenyum. Rambutnya yang tipis dan berwarna hitam berkilau terbang di udara seiring dengan kaca mobil yang ia turunkan.

“tutup jendelanya, salju akan membuatmu sakit” sahutku ringan.

“baiklah”, kulihat aleyna menutup jendelan nya dan kembali tersenyum memandangi dashboard mobilku. Dan aku yakin dashboard sedang tidak bicara padanya.

“kau kenapa? Kau seperti orang gila pagi ini. kau tidak akan bercerita pada kakakmu sendiri?”, aku memegangi setir sambil mencoba mengorek informasi darinya. Bibir tipis mungil serta pipi yang chubby ditunjukkan aleyna padaku. Ia tersenyum, kemudian melebarkan bibirnya, dan aku bisa melihat deretan gigi putih terpajang di sana. berderet indah.

“aku sedang bahagia, eonni”, aku tertawa kecil “aku tahu kau sedang bahagia, tapi yang aku ingin tahu untuk alasan apa kau bertingkah seperti ini?”

Kulihat aleyna menutup bibirnya, tangannya terlipat di depan dada. “aku menemukan satu keluarga Korea yang tinggal di depan apartemen kita. Kau lupa?”, aku mencoba memutar satu engsel terkunci di otakku. Kemudian aku menghela napas panjang, “maksudmu seorang pria dan wanita yang tinggal bersama?”

Aleyna terlihat kecewa dengan jawabanku, “eonni, yang kau bicarakan itu orang Jepang yang tinggal di sebelah apartemen kita”

ups…” aku mencoba mengingat kembali apa yang aleyna coba jelaskan padaku. Dan aku tiba tiba mengingat seorang pria tinggi yang menabrak mobilku dengan motor besarnya beberapa hari yang lalu.

“aku tahu. Pria tinggi arogan itu. aku benar?” sahutku kencang. Aleyna melepaskan ikatan tangannya di depan dada dan mengangguk-angguk. “wae? Kau senang karena pria itu? kau menyukainya? Aigoo… kau ini masih kecil Aleyna”

eonni… lagi lagi kau melupakan sesuatu. Ingat seorang anak kecil yang ada bersama pria itu kemarin sore saat ia datang meminta maaf ke apartemen kita?”

“maksudmu Leo?”

“kau mengingatnya. Aku tahu kau mengingatnya”

“jadi kau selama ini tersenyum karena Leo?”

Aleyna mengangguk malu padaku. Dan aku bisa melihat jelas pipinya yang memerah. Aleyna sepertinya menyukai Leo.

Tidak terasa, kami sudah sampai di depan sekolah Aleyna. Aleyna keluar mobil, dan saat aku hendak mengantarnya ke dalam sekolah, ia menolak dengan halus. Jadi aku hanya bisa mencium dahinya dan melambaikan tangan padanya.

Aku masuk kembali ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilku, di kejauhan aku bisa melihat seorang anak kecil turun dari sebuah motor besar berwarna merah. Dan kulihat Leo di sana. aku tidak bisa mengabaikan pemandangan ini, lagipula aku masih tidak puas dengan permintaan maaf mereka karena membuat mobilku lecet. Aku menghampiri mereka dengan mobilku, dan aku melihat pria berkacamata hitam di sana.

“Leo bersekolah di sini?”, aku mencoba mendapatkan perhatian keduanya, anak kecil yang bernama Leo menoleh ke padaku.

Ah. Nuna” sahutnya

Belum sempat aku menjawab, Leo buru-buru pamit setelah mendengar bel sekolah bergema. Dan kepergian leo itu membuat aku dan Minho hanya berdua di sana.

“apa ada yang ingin kau katakan?”, tanya minho dingin. Sedingin es.

“tidak”, aku membatalkan niatku untuk mengajaknya bicara, aku tidak bisa mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria yang seharusnya merasa bersalah padaku. Aku memundurkan mobilku dan segera pergi dari hadapan pria itu.

“dia sangat arogan”, pekikku di dalam mobil. Kunyalakan sebuah lagu hip-hop dengan volume maksimal. Kunikmati setiap melodi dari lagu itu dengan diam diam menganggukkan kepalaku. Aku tidak memiliki ide kemana aku akan pergi hari ini. jadi aku hanya menjalankan mobilku menyusuri setiap jalanan. Seperti hari hari yang lain.

Aku melihat sebuah restauran korea di pojok sebuah jalan. Dan tiba –tiba perutku lapar. Aku tidak memiliki sarapan hari ini, karena Aleyna meminta sebuah bekal. Pagi tadi aku disibukkan dengan membuatkan Aleyna bekal dan berkunjung ke gereja. Sehingga aku melupakan rasa laparku.

Aku memarkir mobilku dan segera beranjak masuk ke dalam bangunan klasik itu. beberapa pelayan menunduk padaku ramah, dan aku berasa seperti aku ada di Seoul. Teh dihidangkan sebagai suguhan pembuka, bersama beberapa kudapan dari beras. Aku memegang buku menu yang di sodorkan pelayan wanita padaku. Aku menunjuk beberapa menu ringan dan minuman hangat. Setelahnya, aku kembali menikmati teh hangat ku.

Pintu cafe berdering dan aku bisa melihat seorang pria masuk ke dalam restoran, dengan gagahnya. Beberapa pelayan wanita terlihat kegirangan dan berebut menjajakan menunya pada pria itu. pri berkacamata hitam itu menatap ke arahku. Aku kaget, aku tidak ingin di sangka sebagai seorang wanita yang gemar memperhatikan pria diam-diam. Tapi kekagetanku ini tidak berlangsung lama, karena pria itu segera membuka kacamatanya dan menunjukkan identitasnya padaku.

“kau mengikutiku?” sahutku pada pria itu.

“aku lapar. Apa restoran ini sudah dibeli olehmu? Jika ya,  aku akan mencari restoran lain”

Aku berdecak. Tidak menyukai bagaimana pria korea ini bersikap padaku. Seharusnya ia lebih sopan dan gentle sebagaimana pria-pria korea lain.

“yah kau—,” aku menghentikan kalimatku, aku bermaksud meneriaki namanya agar ia tidak duduk satu meja denganku, tapi aku melupakan namanya.

“Choi Min Ho, panggil aku minho. Sudah kuduga kau melupakan namaku, Kwon Yuri-ssi”, aku menjentikkan jariku seakan menemukan sesuatu.

“benar ! kau choi min ho. Pergilah dari mejaku”, Minho menyeringai, menundukkan kepalanya.

“maksudmu kau menyuruhku duduk berdesakkan bersama para pelanggan di sana?” Minho menunjukan seisi ruangan yang penuh dengan orang korea di dekatku. Tidak ada tempat kosong lagi selain di mejaku. Dan untuk alasan itu aku bisa mengerti kenapa Minho duduk di hadapanku saat ini. aku menelan ludah. Tidak ada gunanya berdebat untuk sesuatu yang tidak mungkin memiliki solusi. Aku memilih diam. Hingga makanan datang dan semuanya kulahap pun, aku memilih diam.

“apa hubungan mu dengan gadis kecil di apartemen mu? kalian terlihat tidak mirip satu sama lain”

“aku kakak angkatnya” sahutku singkat. Aku kembali sibuk dengan ponselku

“kalian hanya hidup berdua?”

“kupikir kau dan leo juga”

“tidak, aku dan leo hanya sementara berada di apartemen itu. rumah kami sedang di renovasi, ayah dan ibu sedang bisnis di luar negeri”

“oh” sahutku singkat. Tidak tertarik.

“bagaimana ayah dan ibumu?”

“aku tidak memiliki mereka. baik kandung maupun angkat”

oh, i am sorry”, sahut minho kecil. hanya sebuah kata maaf dari Minho, membuat hatiku sedikit bergetar. Entah karena apa.

“kau akan menjemput Aleyna, don’t you?”

“iya, 2 jam lagi”

“dan apakah kau ingin menghabiskan waktu 2 jam mu itu di restoran ini?”, aku menggeleng. Aku bisa diusir mentah-mentah jika melakukan itu.

“ada sebuah acara street music yang sangat bagus di dekat sebuah mall. Apa kau mau menontonnya? Aku bisa mengajakmu kesana”

Aku sempat ragu beberapa saat. Tapi tidak ada salahnya mencoba, ini merupakan awal yang baik bagi kehidupan bertetangga aku dan minho. Aku menganggu. Kulihat Minho tersenyum dan mengangkat tangannya. Seorang pelayan menghampiri kami dan memberikan dua buah bill. Milikku dan milik Minho. Tapi Minho membayar semuanya. Dan aku hanya bisa mengatakan terima kasih padanya.

hari ini ditutup dengan awal hubungan baik antara aku dan Minho. Mereka mengunjungi apartemen kami di malam hari. Dan aku mengobrol dengan Minho dalam berbagai topik. Setidaknya, aku dan Aleyna tidak pernah merasa kesepian dan asing lagi.

*******

Wednesday, Dec 13th 2012

Aku dan Minho terdaftar dalam satu pusat kebugaran yang sama. Kami mengisi waktu kami setiap pagi untuk merenggangakan tubuh kami ringan di dalam gym. Aku tidak menyangka bahwa minho sebenarnya memiliki badan yang sangat atletis di balik wajahnya yang manis.

Minho tidak bekerja sama sepertiku. Dan ia sedang dalam cuti kuliahnya selama beberapa bulan karena harus menjaga Leo. Secara umur, aku lebih tua setahun darinya. Tapi aku melarangnya memanggilku nuna. Aku tidak menyukai panggilan itu. tidak di Callifornia.

Setelah selesai dengan kegiatan rutinitas kami –mengantarjemput aleyna dan leo-, aku dan minho biasanya berjalan jalan santai ke satu tempat yang cocok untuk anak kecil. seperti hari ini. Minho mengajak kami ke sebuah taman bermain besar. Bukan disneyland. Tapi dreamland. Aku melepas Aleyna memilih wahana mana yang ingin dia naiki.

Tapi aku selalu ingin tertawa pada Aleyna. Ia selalu berakting malu dan tidak seperti Aleyna yang biasanya aku lihat ketika bersama Leo. Sepertinya, ia benar benar menyukai Leo.

“aku ingin roller coaster di sana”

Kulihat Leo mengacungkan jarinya dan menunjuk sebuah wahana besar dengan antrian super panjang. Aku menatap Minho, “kau yang mengantri” sahutku. Minho terlihat menghela napasnya.

“lupakan wahana itu, cari yang lain, Leo” Leo terlihat kecewa dan aleyna hanya memandanginya dengan malu. Kemudian Leo menunjuk satu wahana lain yang tidak jauh dari kami. Sebuah pesawat terbang yang berputar, entah apa namanya. Aleyna terlihat ragu, dan ia memegang tanganku.

“kurasa aleyna tidak bisa naik permainan itu” sahutku lemas pada minho. Minho berbisik padaku, “waeyo?”.

Aku terbungkam, bagaimana aku bisa mengatakan bahwa aleyna takut pada pesawat. Setiap ia melihat pesawat yang sedang terbang, ia kembali mengingat bagaimana ayah dan ibu kami tewas. Aleyna terlalu trauma. Walaupun aku berhasil membawanya ke callifornia dengan pesawat, tidak berarti aleyna melupakan traumanya.

“ia penakut” jawabku singkat, minho hanya mengangguk tanpa banyak bicara.

Wahana yang pertama kami naiki adalah sebuah dayung sampan dengan ombak yang sangat deras, membuat baju kami basah. Tapi setidaknya, aleyna tertawa riang. Ia menemukan sebuah senyumnya kembali. Dan aku bersyukur pada Tuhan. Aku dipertemukan dengan Minho dan Leo. Yah walaupun setelahnya, aku memaki mereka berdua. Baju basah di musim dingin membuat aku bersin beberapa kali.

Kami duduk dan beristirahat di sebuah bangku kayu yang panjang, mengeringkan baju dengan udara dingin. Aku pasti akan masuk angin setelah ini tapi ini cukup menyenangkan. Aleyna dan leo pamit padaku untuk memberi beberapa gula-gula kapas di seorang ahjussi tidak jauh dari kami. Aku hanya duduk berdua bersama minho. Hari sudah mulai gelap dan kami memandang bintang yang bertaburan di langit.

“aku tidak tahu bintang di Callifornia akan seterang ini”, sahut minho padaku, aku menatapnya dan tersenyum.

“tapi aku lebih suka di Seoul”, sahutku. Minho tertawa, setuju dengan pendapatku, kemudian matakami saling memandang, menemukan pupil satu sama lain. Ia mendekatiku perlahan. Dan mendapati jarak kami yang hanya beberapa senti saja. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini, jadi aku menutup mataku. aku meremas bajuku kuat kuat. Aku injakkan sepatuku di tanah, ketika hembusan napas minho semakin jelas dan nyata di kulit wajahku. Dan saat itu tiba, aku merasakan bibir tipis yang perlahan menyentuh bibirku.

“Aleyna mendapatkan dua, dan aku hanya satu, hyung” dari jauh kudengar suara Leo berteriak, minho melepaskan bibirnya dariku, tidak ingin dilihat oleh kedua bocah itu. aku mengutuk aleyna dan leo di dalam hati.

eoh, apa kau ingin satu lagi?” sahut Minho sambil merogoh sakunya. Aku terdiam, hening. Masih belum bisa mencerna apapun.

shirreo. Aku ingin eskrim sebagai gantinya”

“eskrim?—tapi ini sudah terlalu malam untuk eskrim”

“tidak ada terlalu malam untuk eskrim, hyung, ayolah”

Leo merengek pada minho, dan menunjukkan beberapa aegyo nya. aku hanya bisa tersenyum. Aku melihat aleyna sekilas. Dan ia tersenyum melihat Leo.

********

Thursday, 14th Dec 2012

Tidak ada yang aneh kali ini, melainkan foto Aleyna dan aku yang tiba tiba terjatuh dari dinding. Saat ini Aleyna tidak bersekolah. Ia sepertinya flu akibat berbasah-basahan kemarin malam. Tapi keadaan nya sudah membaik ketika Leo menjenguknya.

Aku membiarkan mereka mengobrol di dalam kamar aleyna, sementara aku mempersiapkan sesuatu di dapur sebagai suguhan. Minho mendekatiku, berjalan ke arahku. Ia duduk di sebuah kursi dan terus menatapku tanpa bicara. Membuat aku merasa aneh.

“apa yang kau lihat?”

“dirimu, ah—bukan, panci”, minho terlihat bertindak sangat aneh.

“kau memperhatikan panci?”, Minho mengangguk, kemudian berdiri dan berjalan ke arahku lebih dekat.

“kau ingin menyentuh panci ini?”, sahutku dalam gelak tawa, aku geli bagaimana bisa minho mencoba memperhatikan panci. Namun yang kudapat selanjutnya adalah tangan minho yang melingkari pinggangku dari belakang. Dagunya ia sandarkan pada bahuku. Aku kaget dibuatnya, namun aku memilih diam.

Sepertinya minho pun hanya menikmatinya, terbukti ia tidak mengatakan apapun padaku.

hyung! Kau memeluknya” kudengar suara Leo dibalik sebuah meja makan. Ia melihat minho dan aku, minho menertawai leo

“kenapa? Kau iri? Tidak bisa memeluk aleyna?”

Minho melepaskan tangannya dan menertawai leo yang mulai cemberut. Beberapa kali leo membuat gerakan agar minho mengecilkan suaranya. Aku bisa menebak, leo menyukai adikku. Ah~ aku ingin mengatakan bahwa aleyna juga merasakan hal yang sama. Tapi akan lebih baik jika aleyna mengatakannya sendiri. Ini lucu.

******

Friday, 15th Dec 2012

Minho tidak bisa mengantar leo ke sekolahnya dan ia menitipkan leo padaku. Minho harus ke kampusnya mengurus beberapa surat-surat.

Aku menurunkan leo dan aleyna di tempat yang sama seperti sebelumnya. Ini hampir jam 8, dan aku harus segera pergi dari parkiran, sekolah ini sangat ketat. Ketika jam menunjukkan angka 8, maka pintu gerbang utama akan tertutup otomatis. Dan aku tidak ingin terkunci di sekolah ini.

Aku segera keluar dan memacu mobilku menjauh, aleyna mengirimkan sebuah pesan singkat ke dalam ponselku, dan itu membuatku tersenyum.

jemput aku di jam 12 nanti, eonni. Aku mencintaimu’

Ada perasaan tidak enak yang menyergap tubuhku seketika, tapi rasa lapar lebih kuat dari segalanya aku memacu mobilku menuju sebuah restoran korea seperti biasa. aku duduk di sana dan memesan beberapa makanan.

Sudah hampir 30 menit aku di sana, namun aku merasa kosong. Biasanya ada minho yang diam-diam datang dan mengajakku bicara. Atau sekedar menemaniku. Entah kenapa aku merindukannya. Merindukan Minho.

Aku memegangi ponselku dan segera memencet kontak dengan nama Minho. Aku mencoba mengiriminya pesan, aku ketik beberapa kata, kemudian menghapusnya lagi. aku ketik ulang dan kuhapus lagi. begitu seterusnya sehingga aku lelah dan segera memasukkan ponselku ke dalam tas.

Aku menenggak secangkir teh langsung. Entah kenapa aku merasa sangat gugup. Tanganku tiba tiba berkeringat.

OMO, anakku ada di sana”, seorang ibu ibu berteriak di depan umum. Matanya terpaku pada layar televisi besar yang disediakan di restauran itu. aku penasaran dengan kerumunan yang tiba tiba berkumpul di sekitar TV itu. aku membawa tas ku, membayar bill dan berjalan mendekat, penasaran dengan berita apa yang disajikan di sana.

Aku berhasil menerobos di antara beberapa tubuh besar dan kekar serta wewangian parfum yang beragam.

Kulihat tayangan di sana. beberapa polisi mengitari satu buah bangunan dengan senjata api yang terarah ke setiap inci bangunan itu. beberapa orang terlihat lalu lalang di depan mereka. ini adalah siaran live sehingga aku bisa melihat seorang ibu-ibu pingsan seketika di depan gerbang.

Aku mencoba melihat teliti bangunan itu. sepertinya itu adalah bangunan yang aku kenal. Gerbangnya, cat nya, lapangannya, jalan di sekitarnya… seketika aku memekik. Aku sangat mengenalinya. Itu FS Academy. Sekolah aleyna.

Aku merebut remote dari seorang pelayan dan memperbesar volume speaker TV itu. aku mendengar reporter wanita berbicara di depan kamera dengan bahasa inggris.

telah terjadi aksi pembunuhan di dalam sekolah elite ini. diketahui beberapa letusan kerap terdengar di dalam sekolah ini, dan lagi beberapa petugas keamanan sekolah ditemukan tergeletak tanpa nyawa di depan gerbang. Pelaku belum diketahui, tapi dipastikan nyawa sektar 600 siswa dan 40 guru sedang terancam saat ini. petugas sedang melakukan negosiasi, namun pelaku mengancam akan membunuh semua orang disana ketika petugas menerobos masuk. Kejadian ini—-

ANDWAE” aku berteriak, aku lari dari kerumunan dan menerobos mereka. aku masuk ke dalam mobil dan segera memacu mobilku secara brutal ke sekolah aleyna. Di dalam mobil, aku mencoba beberapa kali menghubungi Minho, namun ponselnya bernada sibuk terus menerus. Aku menangis. Tangis histeris. Mereka mengatakan itu pembunuhan massal. Dan bagaimana dengan aleyna dan leo yang berada di sana.

Aku melaju cepat di jalanan, menerobos beberapa kali lampu merah. Mobil polisi dan sirinenya berdenging di belakang mobilku. Tapi aku sudah tidak peduli. Aleyna lebih penting, aku harus sampai di sana dengan segera, mencari tahu apa yang terjadi pada aleyna. Aku tidak ingin mendengar kemungkinan terburuk yang terjadi pada aleyna. Aku harus mengetahui situasinya secara langsung.

Aku sampai di depan gerbang FS academy, namun beberapa polisi menghalangiku. Aku tidak diperbolehkan terlalu dekat dengan bangunan itu. aku diusir. Barikade sangat ketat. Polisi Callifornia sangat strict. Tidak peduli apapun alasannya, kami –keluarga dari anak anak di dalam gedung- tidak diperkenankan mendekat.

Kudengar suara senjata api diletuskan ke udara. Polisi memberi peringatan. Beberapa kompi datang mengepung bangunan itu dari tiap sudut. Aku lemas. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi di depanku adalah nyata. Aku menangis, namun aku lebih tenang. Setidaknya, tidak seperti ibu-ibu yang ada di belakangku. Menangis hingga pingsan.

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang aleyna pernah katakan padaku tentang sekolahnya. Aku harus menemukan sebuah cara untuk masuk ke dalam bangunan itu dan menyelamatkan aleyna serta yang lain.

Tidak ada clue. Aleyna tidak banyak bercerita tentang sekolahnya. Kudengar kembali satu letusan senjata api. Bukan dari polisi itu, tapi dari dalam gedung. Kudengar beberapa anak berteriak dan letusan menjadi sangat banyak. Bertubi-tubi. Bulu roma ku berdiri. Manusia macam apa yang ada di dalam sana. membunuh semua anak kecil di sana? apa tujuannya?.

Aku tidak bisa membiarkan itu lebih lama. Polisi terlihat sibuk mengatur strageti serangan dan beberapa kali melemparkan kalimat negosiasi melalu pengeras suara pada pelaku di dalam gedung.

Setiap kalimat yang dilontarkan polisi, setiap masa itu pula korban kembali berjatuhan. Aku sudah tidak bisa menghitung banyaknya letusan senjata dan teriakan yang masuk melalui gendang telingaku.

“YURI !” aku melihat Minho di belakangku, berlari tergopoh-gopoh. Suaranya parau dan dia sepertinya baru saja berhenti menangis. Raut wajahnya sangat kusut. Aku bisa melihat kepanikan di sana. ia mengganggam tanganku.

“Aleyna?”, tanyanya. aku menggeleng. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada aleyna. Apa dia masih bertahan, atau ia sudah menjadi korban.

“kita harus mencari tahu sendiri, kita haru masuk kesana, Minho”, aku berbisik padanya. Minho terlihat setuju dengan usulanku, dan kami harus memutar otak bagaimana caranya agar kami bisa menerobos masuk kedalam tanpa diketahui baik pelaku maupun polisi.

“yuri, kau tahu pintu belakang?”, aku mengangguk pasti.

“di sana ada polisi” sahutku singkat

“aku tahu, tapi tidak sebanyak di sini. Kita akan kesana, lakukan apa yang kukatakan padamu”, aku mengangguk. Aku dan minho berlari masuk ke dalam mobil, minho yang menyetir, ia memacu mobilku dengan sangat cepat, kami memutar arah.

Sekolah itu sangat besar, dan bahkan pintu belakang FS Academy bisa dicapai ketika kami memutar jalan berikutnya. Sekolah ini membentang seperti istana.

Aku dan minho turun dengan tergesa gesa dari mobil. Aku tidak ingat lagi apakah minho menguncinya atau tidak. Aku hanya sempat mengambil ponselku dan membawanya di saku celanaku.

Aku bisa melihat beberapa polisi yang berjaga di sana.

“ada 10 dari mereka. semuanya bersenjata”, sahutku pada minho. Minho membisikkan sesuatu padaku, dan aku terkejut.

“lakukan saja” tegasnya. Aku mengigit bibirku, kemudian aku berteriak histeris, aku gigit lidahku dengan kuat kuat sehingga darah keluar kental dari bibirku, aku berakting seperti orang gila kemudian berpura pura pingsan di depan umum. Beberapa medic dan polisi menghampiriku, belum lagi beberapa penonton di sana yang mengerumuniku. Mereka menganggap aku adalah tontonan yang lebih menarik dari kasus pembunuhan di bangunan ini.

Aku merasakan perih dan kesakitan di lidahku. Tapi aku masih bisa bertahan, setidaknya kesakitan ini tidak setimpal dengan apa yang sedang dihadapi aleyna di dalam sana.

Aku tidak bisa membuka mataku, tapi aku bisa melihat beberapa suara letusan senjata api dan kesakitan orang. Aku merasa tubuhku ditarik dan beberapa ahjumma berteriak. Aku membuka mataku, minho menarikku, membawaku ke depan satu dinding tembok besar.

“naik ke pundakku”, aku mengerti apa yang minho maksudkan. Aku naik ke pundak minho. Dari ketinggian itu, aku bisa melihat beberapa polisi yang sudah tergeletak tidak berdaya di atas tanah. Warga sipil terlihat panik dan meneriaki kami. Minho mengatakan agar mereka semua diam, dan tutup mulut. Tapi tetap saja warga sipil itu terlalu liar.

Aku langsung loncat dari bahu minho. Melewati sebuah tembok besar dan terjatuh di gundukan sampah. Aku tidak membuang buang waktuku. Aku melihat panel di dekat gerbang kecil, dan memencet tombol merah di sana. gerbang terbuka, dan minho bisa masuk melalui gerbang itu, saat beberapa warga sipil mencoba ikut masuk dan berlaga menjadi pahlawan, aku menutupnya kembali, dan memencet tombol itu sembarangan. Bukan hanya itu, aku menendang panel itu kuat kuat, sehingga panel itu rusak dan gerbang terkunci tidak dapat terbuka sama sekali.

i am sorry. Too dangerous” sahutku pada mereka yang menatapku, minho segera menarikku pergi karena ia rupanya melihat beberapa polisi tambahan berdatangan. Aku bahkan bisa mendengar mereka panik dan mengatakan.

“dua warga sipil berhasil masuk ke dalam. Diulangi. Dua warga sipil berhasil masuk ke dalam”

Polisi itu berkomunikasi melalui walkie talkie nya. minho berlari di depanku. Aku sempat tidak sadar ia menggenggam dua buah senapan laras pendek. Dan menyerahkan salah satunya padaku.

“apa ini?” sahutku

“kau bisa menembak bukan, itu untuk melindungi diri”, aku bingung.

“kau ini sebenarnya siapa?. Kenapa kau begitu terlatih dalam melakukan ini?”

“aku CIA”

Aku terbelalak mendengar nama CIA disebut olehnya. Untuk apa CIA ada bersamaku?

“apa yang dilakukan CIA di sini? Maksudku, kenapa aku bisa bertemu dengan agen CIA?”, minho berdehem beberapa kali, namun langkah kakinya lebih cepat, dan ia menarikku bersembunyi karena suara letusan senjata api terdengar di telinga kami.

“aku ditugaskan melakukan penyelidikan atas tewasnya orang tua aleyna. Dan melindungi kau dan aleyna selama di Callifornia”, aku tidak sanggup berkata kata, minho kembali menarikku. Kami masuk ke pintu belakang dari bangunan itu, dan berada di dapur sekolah. Dapur itu sangat sepi. Bagaimana tidak?

Aku melihat beberapa mayat bergelimpangan di sana. semuanya memiliki sebuah kesamaan. Di tubuhnya, tersemat lebih dari dua peluru. Dan rata-rata mereka tewas karena kehabisan darah.

Aku bergidik, ini sama saja aku sedang melewati sebuah pekuburan massal. Namun Minho terlihat tenang dan menarikku dengan hati-hati, meminimalisir suara semaksimal mungkin.

“apa yang kau selidiki? Kau percaya bahwa tewasnya kedua orang tuaku itu termasuk sabotase?”, Minho menyuruhku mengecilkan suaraku. Ia mengangguk pertanda membenarkan pertanyaanku.

“bagaimana dengan Leo?”, Minho terlihat membuka pintu dapur saat aku bertanya. Kami dihadapkan pada sebuah lorong besar yang menghubungkan dapur dengan ruang makan super mewah. Minho melihat ke kanan dan ke kiri. Beberapa orang dewasa dan anak kecil berjatuhan di sana. darah sudah melebar di lantai, mengering. Aku tidak bisa membayangkan ibu dan ayah dari para anak anak ini yang bisa histeris ketika melihat anak mereka dalam kondisi seperti ini.

“Leo adalah adik kandungku. Semua yang kukatakan adalah kebohongan kecuali satu hal itu”, aku menerawang. Tangan minho masih melingkari pergelangan tanganku. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menarikku bersembunyi di satu ruang kecil di bawah tangga. Kudengar suara derap langkah berat terseret yang sangat menyeramkan. Dengusan napas yang sangat menyesakkan dan suara senjata yang beradu dengan tiang tiang di tangga itu, membuat bulu roma ku semakin berdiri.

Tanpa perlu aku bertanya pada minho, aku sudah tahu bahwa yang ada di atas kami adalah pelaku dari semua pembunuhan ini. kudengar suara anak kecil menjerit. Aku menutup mulutku, aku ikut memekik, suara anak kecil itu terdengar menyakitkan. Seperti mengiris iris gendang telingaku. Tidak lama setelahnya terdengar tembakan sebanyak dua kali, dan teriakan itu lenyap. Aku bergidik ngeri.

Minho menatapku. Mencoba menenangkan aku dengan tatapan nya. tapi aku tahu, dia sepertinya cemas. Bagaimanapun adiknya, Leo ada di dalam tempat ini. entah masih dalam keadaan baik-baik saja, atau… aku tidak bisa mengatakan hal terburuk.

hide… hide… hide… don’t let your hair shown~” kudengarkan suara pria berdendang. Suaranya tidak begitu jelek di telingaku. Namun nafasnya yang berat dan nadanya yang terlalu rendah membuat aku bergidik. Nyanyian yang dia lantunkan terasa seperti kutukan buatku, seakan-akan itu adalah lagu terakhir yang harus kudengar sebelum aku tewas. Mengerikan

hide… hide… hide… don’t let your scream shouted~”, lantunan bait kedua dari lagu yang tidak kukenal itu merasuk kembali ke bagian dalam di dadaku. Membuat aku secara refleks melekatkan lenganku pada minho. Aku tidak mau mengakui ini, tapi aku terlalu takut.

hide… hide… hide… let me shoot you when you found” di akhir kalimatnya, pria itu terkekeh. Aku tidak bisa membaca nada gembira dari tawanya. Kudengar langkah pria itu berhenti di ujung tangga, aku bisa melihat kakinya dari tempat aku bersembunyi saat ini. aku menutup mataku. kudengar beberapa kali pria itu melakukan isi ulang pelurunya. Bunyinya sangat khas. Aku merinding. Aku ingin berteriak dan menangis.

Pria itu kembali berjalan, menjauh.

Ia kembali melantukan lagu aneh dengan 3 kalimat itu berulang ulang. Tawa nya beberapa kali tersemat setiap akhir dari bait yang ia nyanyikan. Tiap detik, aku merasa bahwa suara itu semakin menjauh. Minho mencoba melirik dan mengintip kecil, pria itu berjalan menyusuri lorong di lantai satu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi minho mengajakku naik ke lantai dua, mengambil kesempatan mencari aleyna dan leo di sana.

Kudengar lagi suara teriakan kencang, beberapa anak kecil. kemudian tembakan demi tembakan meluncur.

Aku tidak mau membayangkan apa yang telah terjadi di sana.

“yuri cepatlah” Minho memperingati gerakanku yang melambat. Aku tidak melambat, kalau saja dengkulku tidak tiba tiba lemas. Ini seperti mimpi buruk sepanjang sejarah hidupku.

Aku tiba di satu lorong panjang di lantai dua, ada beberapa kelas saja di sana, karena sisanya adalah sebuah aula besar. Aku periksa tiap ruangan kelas di sana, dan aku tidak menemukan bahkan hanya satu saja anak kecil yang hidup di sana. semuanya… entah bagaimana aku mengatakan ini, semua orang terlelap dengan darah yang menjadi alasnya. Guru, dan siswa-siswinya. Lenyap. Tenggelam di dalam keheningan.

Aku dan minho berpencar, aku menyusuri setiap kelas di lorong kanan, dan minho di sebelah kiri. Aku membuka pintu dan menutupnya dengan perlahan, agar siapapun tidak mendengar decitan yang dibuat olehku. Di kelas terakhir, aku menemukan seorang anak kecil laki-laki yang masih menggeliat. Aku membawanya di pelukanku. Menggendongnya, sepertinya anak kecil itu masih bisa bertahan hidup dengan peluru yang tidak sampai mengenai organ vitalnya.

Aku membawanya keluar kelas, dan bertemu dengan minho.

“siapa dia?”

“aku tidak tahu, tapi dia satu-satunya yang masih hidup dari semua anak kecil di lantai ini”, Minho terlihat  berpikir.

“tinggalkan dia, letakkan di tempatnya semula”, aku terbelalak kaget. Bagaimana bisa minho mengatakan hal yang menurutku sangat kejam itu. anak ini hampir mati, dan aku tidak bisa membiarkan anak ini ditelantarkan bersama ‘si-tewas’ di sana.

“jangan menjadi pahlawan, yuri. aleyna dan leo belum ditemukan. Tidak ada gunanya membawa anak kecil di gendonganmu itu. tempat yang aman adalah di sana, tempatnya semula. Pria tadi tidak akan mengecek tempat yang sama dua kali. dia akan selamat jika berada di tempatnya semula”

Aku menangkap bahwa tidak sepenuhnya yang dikatakan minho adalah salah. Tapi tetap saja hati kecilku menolak mengembalikan anak kecil ini kembali ke kelas di sana. tapi aku kembali masuk dan meletakkan anak kecil itu di tempatnya semula. Aku tidak ingin dia malah bernasib buruk jika bersama denganku. Minho menungguku di luar kelas.

Tiba tiba suara derap langkah berat dan lantunan khas kembali kudengar.

“yuri, pria itu datang lagi, segera pergi dari sana” aku mengangguk cepat, Minho berhambur, masuk ke dalam satu kelas. Kulihat sekilas, ia bersembunyi di bawah meja guru. Di tempatku, hampir tidak ada persembunyian. Di bawah meja sudah penuh dengan orang-orang bergelimpangan. Aku tidak bisa bersembunyi.

Suara derap langkah dan lantunan lagu parau terdengar semakin dekat dan nyata. Bahkan aku sempat beberapa kali mendengar pintu berdecit dan senjata ditembakkan.

Ini buruk, dia kembali menembaki setiap korban yang jelas-jelas sudah ditembaknya. Dan aku terjebak di sini, jika aku tidak bersembunyi, maka aku akan bergabung dengan mereka yang bergelimpangan di sini.

Dengan sedikit kesadaran dan beribu kepanikan yang aku punya, aku segera meletakkan anak kecil itu dan berhambur ke belakang pintu. Berharap pria itu tidak sadar aku ada di sana.

Decitan pintu terdengar lagi, dan itu tidak jauh dariku. Kelas di sebelahku dimasuki pria itu. ia menembakkan beberapa kali peluru dari senjatanya. Kemudian tertawa terbahak-bahak.

“tidak ada yang tersisa di sini”, suaranya parau dan berat. Aku bisa melihat ia bergerak. Ia berjalan ke kelas di seberang ku. Sial, itu kelas yang menjadi tempat persembunyian Minho.

“apakah masih ada yang tersisa di sini?”, pria itu berdesis seperti ular. Dan ditembakannya beberapa peluru. Aku bisa melihatnya melalui celah yang dibuat antara engsel pintu. Aku menggigit lidahku yang sudah terlalu sakit. Darah menetes dari sana. aku ngeri melihat bagaimana Minho ada di antara beberap tembakan itu. pertanyaan-pertanyaan seperti apakah minho tertembak? Atau apakah yang terjadi pada minho? Berputar putar di otakku, membuat dadaku sesak.

Pria itu tertawa puas, ia menutup pintu kelas dengan berdebam. Kali ini saat yang paling aku khawatirkan tiba. Aku bisa melihat ia menuju ke arahku. Masuk ke dalam kelas dan mengisi pelurunya. Seorang anak kecil yang sempat aku selamatkan tadi terlihat menggeliat. Bergidik hanya dengan menderap langkah pria itu. anak kecil itu menatap ke arahku, dan aku menyuruh nya agar tidak bergerak. Aku mengisyaratkan dengan bahasa tubuhku. Dan anak itu cukup pintar untuk mengerti perkataanku. Pria itu mendesis, dan masuk ke dalam kelasku. Ia menembakkan seluruh pelurunya ke sembarang arah. Ia berdiri di ambang pintu, sehingga aku bisa dengan jelas mencium keringatnya.

Beberapa peluru mengenai anak kecil itu, dan ia dengan refleks bergerak. Membuat si pria sadar bahwa terdapat satu anak lagi yang masih hidup di sana. ia menyeringai dan mendekat, di tembaknya anak kecil itu dari jarak dekat. Aku tidak sanggup menjelaskannya lagi. itu terjadi benar-benar di depanku. Pria itu berbalik, dan aku berusaha menyembunyikan tubuhku di balik pintu. Pria itu memandangi seisi kelas dengan teliti, kemudian berdecak.

“sudah tidak ada yang tersisa”, sahutnya. Ia keluar dari kelas. Aku masih bisa merasakan sesak di dadaku. Aku tiba tiba menyesal, seharusnya aku membawa anak kecil itu bersembunyi bersamaku. Aku menyesal. Air mata berlinangan melalui pelupuk mataku, ini sangat tidak berperikemanusiaan. Jika saja, aku dapat melakukan sesuatu… jika saja… jika saja…

Langkah pria itu semakin menjauh. Bahkan sudah tidak terdengar lagi. sepertinya ia naik ke lantai 3.

Aku bisa lihat pintu kelas di depanku terbuka. Dan Minho muncul dari balik pintu. Kakinya terseret, dan aku bisa melihat darah mengucur di sana. membasahi celananya. Aku keluar dari persembunyianku dan menghampiri Minho. Sepertinya peluru nyasar, mengenai paha kirinya. Dia merintih.

Aku membawanya duduk. Ia memerintahkan agar aku melepaskan timah panas yang masih bersarang di pahanya. Aku belum pernah melakukan ini, dan jujur saja, aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya.

“gunakan penjepit rambutmu”, Minho menunjuk satu penjepit besi yang aku pakai di bagian poniku. Aku melepaskannya, dan dengan capitan dari jepit itu, aku mencoba mengorek lubang di paha minho, tempat peluru itu bersarang. Tanpa bahkan bertanya pada Minho, aku dapat merasakan rasa linu yang luar biasa pasti sedang dirasakannya. Peluru itu agak dalam, sehingga aku harus berusaha ekstra mengambilnya. Setiap aku merogoh daging makin dalam ke tulang rusuk Minho, di saat itu pula ia menggigit bibirnya dan memejamkan mata.

“maafkan aku”, ucapku lirih.

Beberapa detik setelahnya, aku berhasil  mengeluarkan peluru itu. tapi darah minho masih mengalir tidak mau berhenti. Aku merobek bajuku yang juga sudah bersimbah darah, dan mengikatnya kuat kuat di paha Minho. Membuat darah itu berhenti mengalir.

Pandangan mata Minho terpaku di sebuah objek. Seorang anak kecil yang terbujur kaku. Kemudian pandangan matanya dialihkan padaku.

“dia sudah—-“, Minho memotong kalimatku “maafkan aku, seharusnya aku membiarkanmu membawanya”

“bukan salahmu”, jawabku. Tapi suaraku semakin melemah. Aku tidak tahu bagaimana hatiku menjadi sangat cemas.

“lauren dan leo pasti akan baik-baik saja. Mereka adalah anak yang pintar”

Minho berusaha menenangkanku. Ia sepertinya tahu kegalauan yang melanda diriku dengan tiba-tiba ini.

Ia membuatku berdiri, menghapus air mata yang baru saja mengalir dari pelupuk mataku. ia mengajakku kembali berjalan dengan hati-hati. Aku memiliki senjata di kantong celana ku, dan minho membawa senjatanya di tangan kanannya. Aku melindungi punggung Minho dari belakang, sedangkan Minho melindungiku dari depan. Kami bekerjasama dan perlahan naik ke lantai tiga melalui tangga.

Ruangan demi ruangan kami periksa, namun sudah tidak ada jejak tanda-tanda kehidupan. Beberapa orang ada disana, namun mereka semua terlelap. Aku melihat seorang ahjummay yang merintih kesakitan. Namun ketika aku perlahan mendekatinya, napasnya habis. Matanya terbuka, dan keheningan melanda segera.

Aku bertanya, manusia macam apa yang membuat kerusakan seperti ini. apa yang salah dari semua anak ini. apa yang salah dari sekolah ini. apa yang membuat ia dengan brutal menyerang dan menghabisi mereka. manusia itu benar-benar tidak mempunyai hati, bahkan aku ragu menyebutnya dengan kata ‘manusia’. Sayang aku tidak sempat melihat wajahnya. Aku terlalu takut. Aku bergidik hanya dengan mendengar namanya, bagaimana bisa aku menatap wajahnya.

Minho menuntunku naik ke lantai 4, namun kami langsung bersembunyi di sebuah toilet di sana. pria bermantel dengan senjata laras panjang yang diseret ada di sekitar kami. Berkeliling. Semua sudah sepi. Dan aku bisa menebak, semua bertumbangan.

Tiba-tiba aku mendengar sebuah jeritan dari lantai di bawah kami. Jeritan itu cukup keras sehingga membuat pria itu berbalik arah. Pria itu dengan tergesa-gesa, melewati tempat kami bersembunyi, dan berjalan pasti menuruni tangga.

Aku keluar dari persembunyian itu. aku juga penasaran terhadap suara jeritan dari wanita di sana, tapi aku harus mencari Aleyna.

Kususuri kelas demi kelas di lantai 4 dengan teliti, dan aku lagi-lagi tidak menemukan apa-apa.

Aku masuk ke kelas terakhir di lantai itu, cat nya berwarna biru terang. Aku membuka lemari lemari di sana, dan hanya menemukan tubuh tubuh tidak bernyawa. pria itu bahkan menyerang sampai ke dalam lemari, pikirku.

“Yuri, apa kau menemukan sesuatu?” Minho dengan dengusan napas yang cepat, tiba tiba muncul di ambang pintu. Aku menggeleng. “kita harus cepat, sebelum pria itu datang”, aku mengangguk setuju. Namun aku bisa mendengar deheman kecil di belakangku.

“kau dengar itu, Minho?”, Minho mengangguk. Aku mencari ke sumber suara. Aku mencari dengan teliti, di balik sebuah lukisan-lukisan dengan kanvas besar yang tersandar di dinding. Aku menemukan satu anak di sana, memeluk lututnya ketakutan. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas bahkan sekilas.

“Leo?”, anak kecil itu mendongak, dan menemukan wajahku. Matanya memerah. Tubuhnya gemetar. Minho langsung menghampiriku dan menarik anak itu ke pelukannya. Dia benar-benar Leo. Dan aku bersyukur kami menemukannya. Leo masih selamat, hanya saja beberapa luka kecil menghiasi tubuhnya. Masih aku tangkap perasaan tertekan dann trauma. Namun, menemukan dia dalam keadaan selamat, lebih baik dari apapun.

Tidak lama, kami mendengar letusan senjata api. Sepertinya pria itu sudah menyelesaikan masalaha di lantai 3. Kami bergegas, mencari jalan kembali ke lantai tiga melalui tangga lain. Bergegas ke lantai 5 hanya akan menambah masalah. Kami tidak ingin ditemukan oleh pria itu.

Kami menemukan satu tangga darurat. Minho membuka pintunya, namun pintu itu berdecit keras. Seperti menunjukkan bahwa pintu ini sudah lama tidak terpakai. Aku khawatir, Minho menyuruhku bergerak cepat. Aku menggendong Leo saat ini, gerakanku sedikit melambat. Apalagi kaki Minho yang terluka di sana, membuatnya tidak bisa segesit beberapa menit yang lalu. Lalu soal pintu berdecit tadi, aku tidak yakin itu adalah decitan yang pelan. Aku khawatir pria itu menemukan keberadaan kami hanya karena kesalahan kecil itu.

Lidahku terasa perih. Darah sudah mengering dan membasah kembali karena air liur ku. Tapi perihnya belum benar-benar hilang.

Aku turun ke lantai tiga bersama Minho, dan melihat tubuh tidak bernyawa seorang ibu dengan rambut pirang. Sebelumnya aku tidak melihat ibu itu di sana. tapi ia ada. Dan sepertinya aku pernah melihatnya.

“dia ibu-ibu yang pingsan di depan gerbang tadi”, ucapku. Tapi aku tidak mendapatkan ide, darimana ibu ini bisa masuk ke dalam gedung.

Aku terus turun ke lantai bawah, menggapai ruangan yang pertama kali kami masuki. Di dapur. Mungkin itu adalah satu satunya tempat teraman yang terpikirkan oleh kami. Karena di sana, selain sudah di sisir oleh pelaku, tempat itu adalah tempat terdekat dengan gerbang keluar.

Kami duduk di sana, di antara tubuh tubuh tidak bernyawa. Aku masih gelisah, walaupun Leo sudah ada di antara kami, tapi aku belum menemukan Aleyna.

“kau tidak apa apa leo?” Minho bertanya lembut pada leo setelah leo lebih tenang. Leo menggeleng dan bersandar di dada minho.

“aleyna masih di sana, ia berlari”, sahut leo pendek, aku tertarik mendengar pengakuannya.

“kemana dia?”

“ia berlari bersama seorang guru dan beberapa anak lain, naik ke lantai paling atas. Mereka bersembunyi di atap”, aku mendesis. Betapa bodohnya mereka bersembunyi di atas, begitu mereka ditemukan oleh pelaku, maka tidak ada jalan di sana. game over.

“apa kau mengenal pria yang menembaki teman temanmu, leo?” aku menyelidik. Leo menggeleng.

“aku belum pernah melihatnya sebelumnya, ia tiba tiba datang dan menerobos pagar, menembaki satpam dan semuanya. Kepala sekolah memperingati kami lewat speaker sekolah. Dan kami bersembunyi sebisa kami. Tapi pria itu melepaskan pelurunya secara membabi buta. Dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi”

Aku menelan ludah, ini pasti adalah kejadian yang sangat besar.

Dari tempatku duduk, beberapa detik kemudian aku mendengar suara tembakan bertubi tubi. Teriakan itu datang kembali. Teriakan kesakitan, ketakutan, kepasrahan…

Dan setelahnya semuanya menjadi hening. Aku bisa mendengar suara keras dari speaker di sekolah itu. dan lantunan lagu aneh menyergap masuk ke dalam telingaku.

hide… hide… hide ~—“ pria itu melantunkan lagunya. Kali ini menggunakan speaker sehingga seluruh gema nya memantul di dinding tempat ini. membuat suasana menjadi lebih mencekam. Kulirik jam besar di dapur. Ini sudah satu jam sejak kami masuk ke dalam sekolah ini. satu jam terakhir yang membuat semua orang bergidik ngeri. Ini adalah satu jam terburuk di dalam hidupku.

“—sudah kukatakan, aku tidak memerlukan penyusup di sini. Aku menemukan seorang ibu-ibu yang histeris di dalam sini, dan aku telah membawanya ke dalam kedamaian. Aku tidak suka penyusup. Aku menemukan beberapa bercak darah di sepanjang tangga dari lantai 3 ke lantai 4. Aku belum menemukannya. Entah ada berapa penyusup di dalam bangunan ini, tapi kupastikan bahwa kalian akan bertemu denganku, cepat atau lambat. Hide~ hide~ hide~”

Sial. Pria itu menyadari keberadaan kami. Dan ini membuat perasaan kami tidak aman. Aku memandangi Minho. Leo memeluk minho dengan kuat.

“Leo, kau di sini. Yuri, kau jaga Leo. Aku akan mencari Aleyna di atap. Kita harus keluar dari sini secepatnya”

“tidak, aku akan ikut denganmu” sahutku tegas “aleyna adalah adikku, aku bertanggung jawab atas keselamatannya”.

“lalu leo?” tanya Minho. Aku bingung.

“Leo, kau bersembunyi di sini sementara aku dan yuri mencari aleyna. Jangan membuat gerakan apapun. Bahkan kau harus mengatur napasmu. Kau mengerti?” Minho menjelaskan, dan leo mengangguk. Ia masuk kedalam sebuah laci tempat menaruh barang-barang dapur. Tubuh leo kecil, dan dia dapat memasukkan tubuhnya di sana, Minho menutup pintu laci itu, dan menyisakan sedikit rongga untuk keluar masuknya udara bagi Leo.

hyung, berjanjilah kau tidak akan lama”

Minho menganguk pasti. Diciumnya kening leo lembut, kemudian kami bergegas naik ke atas. Menuju atap.

*******

“apa kau yakin kakimu tidak apa apa?” ucapku setelah kami menginjak lantai 5. Di sana sudah bersih. Tidak ada tanda tanda kehidupan. Tinggal satu lantai lagi dan kami akan menuju ke atap. Si pria rupanya ada di lantai 6, terdengar dari teriakan teriakan yang dibuat para anak kecil. aku tidak bisa membantu apapun selain berdoa pria itu terkena senjata makan tuan.

Beberapa detik kemudian suasana menjadi sangat senyap. Pria itu berderap, melangkahkan kakinya menuju satu lantai Final. Rooftop.

Aku berada di belakang pria itu. menjaga jarak. Tapi aku bisa melihat punggung pria itu. ia memakai mantel hitam dengan rambut pirang yang berkilau. Ketika ia menoleh ke samping, aku bisa melihat setengah dari wajahnya. Ternyata dia masih sangat belia. Aku bisa memperkirakan ia berada pada kisaran umur 20 tahun-an. Namun pria ini terlihat freak, menakutkan dan misterius.

“aku akan selesai”, pria itu bergumam pada dirinya sendiri. Aku bergidik. Ia membuka pintu yang menghubungkan tangga dan atap. Aku bisa melihat cahaya matahari masuk dari sana. membuat mataku silau. Cahaya itu kembali meredup ketika pria itu menutup pintunya. Ia menghilang di ambang pintu.

Aku dan minho bergegas menyusulnya. Ini adalah pertarungan dan upaya terakhir kami. Aleyna ada di sana, dan aku harus menyelamatkannya.

Aku tahu aku dan minho akan berhadapan face to face dengan pria itu. aku takut, aku sangat takut. Tapi bukan keselamatan diriku yang aku takutkan. Aku takut terjadi sesuatu pada minho atau aleyna karena ini. ini akan menjadi penyesalan seumur hidup buatku. Aku bisa gila jika terjadi sesuatu pada mereka.

Minho membuka pintu, dan ia melihat sepasang mata merah menatapnya. Minho mengacungkan senapannya dan mengarahkannya lurus. Aku tidak menemukan apa yang ditargetkan oleh Minho di sana. tubuhnya menghalangi pandanganku.

“berhenti sampai di sini, Albert” Minho berteriak. Aku penasaran, aku berdiri di samping tubuh minho, ikut menatap apa yang dilihat Minho dengan kedua matanya. Aku terbelalak seketika. Tidak butuh waktu sampai satu detik untuk membuat mulutku ternganga dan melebar. Ini seperti aku berada di dunia mimpi. Dua orang berwajah sama ada di hadapanku. Dan aku shock.

eonni.” Kulihat aleyna bersama beberapa orang temannya dan seorang guru terlihat berkerumun jauh dari kami. Pria yang menyeringai bernama Albert itu mengarahkan moncong senjata di tangan kirinya pada kerumunan itu. jika aku tidak salah memperkirakan, satu tembakan meluncur tepat di dahi seorang guru di belakang Aleyna. Para anak kecil memekik. Aku merasa jantungku copot.

Pria-Pria di depanku ini. dua orang dengan wajah yang sama, tapi karakter yang sangat berbeda. Aku tidak habis pikir.

“berhenti, Albert. Kau sudah keterlaluan” ucap Minho. Pria yang bernama Albert itu mendesis khas

“kau yang memulainya, brother”. Aku terbelalak  tidak percaya. Kurasa aku salah menangkap kalimat mereka. tapi setelah kucerna lagi. pria bernama Albert itu memang benar benar memanggil Minho dengan sebutan ‘brother’

“kau yang membunuh Ibu?”, ucap Minho, seakan tidak terganggu oleh kehadiranku di antara mereka. aku diam diam bergeser. Membuat pelebaran jarak, agar aku bisa menggapai Aleyna. Namun Albert menyadari langkahku. Dia mengancamku dengan senjatanya yang di arahkan padaku.

“diam di sana, nona”, aku tidak bergerak. Mematung. “bagus”, albert memandangiku puas.

“lepaskan semua orang di sini, mereka tidak bersalah”, ucap Minho

“kurasa bukan semua orang. Aku bisa memastikan hanya tinggal… mereka yang ada di sini, kau ingin aku melepaskannya? Ini sangat membosankan. Aku tidak bisa menyelesaikan permainan dengan meninggalkan sisa—ini bukan game over yang aku inginkan”

Satu letupan di lepaskan. Aku melihat siapa yang melepaskan peluru pertama kali, dan itu Minho. Peluru itu tepat bersarang di dada Albert. Membuat darah keluar deras dari sana.

“ini yang aku inginkan, brother. Sebuah perlawanan. Permainan ini akan sangat mengasyikkan” Albert berlari. Ia berusaha menembaki beberapa anak yang tersisa di sana. termasuk Aleyna di dalamnya. anak kecil itu berhamburan seperti ayam. Aku ikut berlari, dan mengejar kemana Aleyna pergi. Satu letupan senjata dilepaskan, dan aku merasakan betisku sangat panas. Aku merasa nyeri di sekitar betisku. Aku menoleh, dan mendapatkan sebuah peluru di sana. menancap. Kulihat si penembak, dan dia adalah Albert. Pria itu menyeringai ke arahku, dan berusaha sekali lagi menembakkan senjatanya padaku. Tapi dari belakang kulihat Minho memukulnya dengan pangkal senjatanya. Membuat perhatian Albert teralih. Aku berusaha berlari, tidak mempedulikan rasa sakit yang menguasai tubuhku perlahan demi perlahan.

Aleyna ada di depanku, dan aku akhirnya bertemu dengannya. Kami berpelukkan. Tidak terbendung rasanya bertemu dengan orang yang sangat aku harapkan saat ini.

Letupan senjata terdengar lagi, dan aku mendengar Albert tertawa renyah. Kulihat Minho bersimbah darah dengan dada kiri sebagai pusatnya. Darah memancar seperti air dari sana.

“bangun, brother. Aku tahu kau masih bisa. Leo kan kecewa jika melihatmu mati di sini, setidaknya berilah pernghargaan padanya sebelum ia mati”.

Aku tertegun mendengar kalimatnya. Leo akan mati?. Mustahil. Bahkan leo tidak ada di sana bersama mereka. siapa yang akan membunuhya? Hantu?

“apa yang kau rencanakan pada Leo?”, Minho mengamuk, ia bangun dengan susah payah dan sekali lagi menembakkan senjatanya pada Albert di kakinya, melumpuhkan gerakan kaki nya. Albert menyeringai, gigi kecoklatan semakin menambah seram wajahnya. Albert melirik jam tangannya.

“kau akan tahu dalam 5… 4… 3… 2….1…”

Tepat setelah Albert menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan terdengar sangat kencang. Aku bisa merasakan gedung ini bergoyang dengan kencang. Albert tertawa terbahak-bahak. Beberapa anak kecil berlarian kesana dan kemari. Albert menekan pelatuknya dan menembaki beberapa anak di sana. sehingga hanya Aleyna, aku dan Minho yang tersisa.

“LEO ADA DI BAWAH KAU TAHU !” Minho berteriak pada Albert. Namun Albert memasukkan moncong senjata ke mulut Minho. Membuat minho tersedak.

“aku tahu Leo di sana, aku memang berencana membuatnya sebagai korban terakhir. Aku tidak menyukai anak itu. ibu selalu menaruh perhatian lebih padanya sejak kematian ayah. Padahal.. kau tahu siapa yang membuat Ayah meninggal? Itu adalah anak itu. dia memaksa Ayah membelikan sebuah terompet di malam natal, dan menyebabkan sebuah truk menabraknya… tapi tidak apa-apa, mungkin dia sudah menyusul Ayah saat ini”

“kau keterlaluan. Kau terlalu kejam, Albert”

“kau pikir kau tidak terlalu kejam padaku?. Kau terlalu serakah Minho. Kau terlalu sempurna, membuat semua mata menjadi fokus padamu. Dan aku adalah sampah yang tidak bisa dibandingkan denganmu. aku di cap sebagai orang gila selama ini. ibu bahkan mengurungku di dalam sebuah kamar. Sedangkan kau, dibiarkan bebas… apa yang salah Minho? Bukankah kita kembar? Kenapa kau dan aku berbeda? Kenapa?”

Minho tidak bisa membalasnya, karena ia merasakan senjata itu terus menekan mulutnya.

“tapi tidak apa Minho, sekarang semua penderitaanku akan selesai. Kau akan mati, dan aku akan menggantikan posisimu. Selamat tinggal, brother. Terima kasih untuk ekstra hadiahmu hari ini. aku menyukai wanita di sana”

Dor. Dor. Dor.

Aku merasakan suara letupan senjata sebanyak tiga kali. tawa hebat langsung menutup bau mesiu di sana. aku melihat Minho tergeletak. Tapi aku tidak berani melihat wajahnya. Seketika air mataku mengalir deras, aku memeluk aleyna erat-erat. Kurasakan gemetar yang serupa ketika aku menemukan leo di dalam tubuh aleyna. Tapi aku tidak sanggup menenangkannya.

Aku yang butuh ditenangkan. Biasanya… biasanya Minho akan datang dan menenangkanku. Tapi Minho terbaring di sana, terbujur kaku. Ia diselimuti darah kental yang terus mengalir. Membanjiri tempatnya tertidur. Aku tahu apa yang aku lihat, tapi aku tidak percaya. Aku mengambil hadiah terakhir yang Minho berikan padaku. Sebuah senjata.

Dengan gemetar, aku mengarahkan moncong senjata itu pada punggung Albert. Aku menarik pelatuknya dan menembakkannya beberapa kali. aku menutup mataku sambil melakukannya. Aku tidak tahu pasti berapa tembakan yang tepat sasaran atau yang meleset. Tapi Albert merintih kesakitan dan berteriak, itu sudah cukup membuktikan beberapa tembakanku mengenai punggungnya.

Albert berbalik, arah, entah terbuat dari apa tubuh manusia ini. ia menyeringai dan menatapku. Walau darah masih mengalir dari tubuhnya. Albert masih sanggup berdiri. Ia menarik pelatuknya dan menyodorkannya ke dahiku.

“aku tidak akan menyakitimu… tadinya. Kau tidak memberiku pilihan”, aku melihat pria itu bersiap menarik satu lagi pelatuknya. Ia sudah bersiap menembakkan pelurunya padaku. Aku menyerah, aku pasrah, aku menangis seperti orang yang patut dikasihani. Aleyna bergetar di tubuhku, aku mendorongnya menjauh, aku tidak ingin aleyna menjadi sasaran salah tembak.

“selamat tinggal” pria itu menyeringai. Mungkin itu adalah senyumannya yang terakhir yang ia tunjukkan padaku. Aku memejamkan mata, dan mendengar suara letupan senjata.

*****

Letupan senjata sudah kudengar, namun aku tidak merasakan sakit apapun di dahiku. Tiba tiba pahaku menjadi sangat berat. Dan aku membuka mataku.

Aleyna terbaring di sana, tersenyum dengan peluru yang bersarang di dadanya. Aku tidak bisa membendung semua emosi di dalam hatiku. Aleyna mencoba melindungiku. Wajahnya tersenyum, matanya terpejam. Satu lagi letusan kudengar. Dan itu tepat mengenai lenganku.

“kau beruntung, aku meleset. Tapi anak kecil itu. sangat disayangkan”

Albert sekali lagi mengarahkan senjatanya padaku. Aku tidak bergeming. Aku masih terpaku pada tubuh kaku aleyna yang terbujur di hadapanku. Darah mengalir deras. Membuat pahaku hangat.

“ALEYNA !” aku berteriak histeris. Ini tidak mungkin. INI TIDAK MUNGKIN. Aku harusnya menyelamatkan aleyna. Bukan Aleyna yang menyelamatkanku. INI SALAH.

Albert melirik jamnya ketika ia mengarahkan moncong senjatanya padaku. “aku sudah sangat terlambat, baiklah. selamat tinggal”.

Albert dengan tergesa gesa pergi dari hadapanku. Tapi aku tidak peduli kenapa dan untuk apa. aku mencoba berdiri membawa tubuh aleyna di dekapanku. Aku mencoba berjalan, namun kakiku sangat lemas. Tiba tiba suara ledakan bertubi tubi terdengar tidak jauh dari telingaku. Aku melihat tubuh aleyna yang terbujur kaku, di dekatku ada Minho yang keadaannya mengerikan. Aku menyerah, aku akan terbaring bersama mereka di sini. Apapun yang kulakukan. Aku tidak akan selamat.

Aku menidurkan aleyna di samping Minho. Dan aku berada di samping aleyna. Aku berharap Leo ada di sini bersama kami. Aku menggenggam tangan aleyna. Menutup mata. menunggu akhir dari hidupku. Ledakan sekali lagi berbunyi, dan gedung tergoncang, aku bisa merasakan lantai di atap itu bergoyang, beberapa diantaranya runtuh. Aku mencoba tenang. Tidak ada pilihan, hidup atau mati, aku akan tetap sendiri. Aku memilih mati, bersama orang-orang yang kucintai.

End of flashback.

End of YURI POV

*****

“…aku selamat, aku tidak ingat bagaimana aku bisa selamat. Aku hanya menderita beberapa luka ringan. Aku mendapat perawatan di Rumah Sakit, namun CIA langsung membawaku kemari”, yuri menutup ceritanya. Kris menekan tombol stop di dalam rekamannya. Kris menghela napas yang teramat panjang.

“…jadi apa yang membuatmu berpura pura gila seperti ini, dan apa kaitannya dengan CIA?”

“sudah kukatakan. Minho adalah anggota CIA. Dan albert, si pelaku, memiliki kesamaan wajah dengan Minho. Entah CIA mengetahui ini atau tidak, albert mengatakan ia akan menggantikan posisi Minho. Dan kurasa ia ada di sini, menyamar sebagai Minho”

“dan kau berpura pura gila agar mereka menjauhkanmu dari kontak dengan Minho?”

Yuri mengangguk lemah. Ia menggigit bibirnya. Lidahnya masih terasa kelu walaupun sudah mendapat perawatan dari rumah sakit.

“kenapa kau tidak mengatakan ini pada mereka?”

Yuri tertawa kecil, “kau pikir mereka akan percaya? Kau pikir mereka akan mendengarkan kesaksian wanita seperti aku, yang mereka anggap wanita dengan sejuta trauma?. Mereka pasti akan menganggapku membual. Menganggapku terlalu banyak berkhayal”

Kris menerawang, “tapi apakah kau tidak berpikir bahwa mungkin saja aku juga tidak percaya padamu?”

“aku pernah berpikir seperti itu. sampai kau akhirnya menungguku ku selama beberapa jam demi menungguku bicara. Aku tahu kau orang yang jujur, dan bijaksana”

“lalu dengan memujiku seperti ini, apa yang kau sebenarnya inginkan dariku?”

“aku menginginkan bantuanmu. Temukan Albert dan pancing dia kemari”, kris tertawa meremehkan.

“aku tidak mengetahui bagaimana wajah albert.”

“kau tidak perlu mencarinya, dia akan datang padamu dengan sendirinya. Cukup sampaikan laporan ada CIA bahwa aku telah sadar, dan dia akan menemuimu. Ini sangat beresiko, tapi kumohon kau dapat membantuku”

Kris terlihat berpikir keras, ia menaruh satu tangannya menyangga dahunya. Yuri menatap pria itu dengan seksama. Berharap agar pria itu menyetujui idenya.

“baiklah” sahut kris singkat, ia berdiri dan berpamitan pada yuri dengan sopan. Khas timur.

“dan Kris-ssi, kuharap kau tidak menunjukkan rekamanmu pada mereka yang ada di ruang ini. tidak sampai kita menemukan Albert”

Kris tertegun. Ia terbelalak dengan kenyataan bagaimana yuri bisa mengetahui rekaman di dalam ponsel miliknya. Ia mengangguk dan segera keluar dari sana.

Kris langsung dikerubungi bagaikan makanan bagi para lalat. Jessica, Kai, George dan Fres bertanya lengkap pada Kris. Namun sesuai janjinya, kris tidak mengatakan apa apa pada mereka. dan segera pamit menyampaikan laporannya pada pria klimis bernama Ralph.

Kris menceritakan kisah kesadaran yuri dengan sedikit bumbu. Ia tidak mengatakan bahwa yuri mengatakan pelakunya. Kris hanya berkata yuri telah sadar, namun dia agak sedikit terguncang, sehingga kris tidak dapat mengorek lebih dalam. Ia meminta waktu beberapa hari untuk mencoba menerjemahkan kembali ucapan yuri. itu yang ia katakan pada Ralph.

Setelahnya, kris mengambil langkah menjauh daru sana. ia pergi, kembali menuju rutinitasnya yang lain. Ia harus menunggu. Sesuai saran yuri. ia menunggu albert akan datang padanya.

Kris memasukkan tangannya di dalam mantel, ia menerobos butiran salju yang jatuh di setiap kepalanya. Dia tidak merasa dingin. Ia merasa gugup. Dengan menyetujui saran yuri, berarti hidupnya ada di dalam bahaya. Ia akan dihadapkan pada satu penjahat dan kriminal yang sedang buron segera.

Kris menelan ludahnya, ia berjalan melewati jalan setapak yang kecil. melihat beberapa orang yang menatapnya.

Kris masuk ke dalam sebuah gedung. Ia menyapa ramah resepsionis di sana. ia berjalan menuju lift dan berhenti di lantai 10. Kris berjalan di lorong lantai 10. Ia berhenti di sebuah kamar bertuliskan 102 pada pintunya. Itu adalah apartemennya. Kris masuk, menyalakan lampu di sana, dan menyandarkan kepalanya di atas sofa.

Hari yang melelahkan hanya untuk kegiatan menerjemahkan.

******

Keesokan harinya, Kris datang ke ruang isolasi milik yuri. kali ini alat sadap dihidupkan, dan yuri hanya bercreita bohong ketika kris menanyakan sesuatu tentang kejadian FS Academy.

Jessica dan Kai memperhatikan mereka dengan teliti ketika salah seorang teman mereka datang.

“Minho”, ucap jessica senang. Ia memeluk pria itu.

“kudengar kau ada di dalam sebuah misi rahasia… kau sudah menyeleseikannya?”, Kai menyerbu pria di depannya dengan pertanyaan. Bukan jawaban yang ia dapat, Kai merasakan timah panas menembus perutnya. Ia terjatuh, sementara Jessica memekik.

Kris dan Yuri dikagetkan dengan suara letusan senjata api di sana, kris berdiri bersama yuri, dan mereka bisa melihat seorang pria sedang menerik pelatuk senjatanya. Kris melihat Jessica terjatuh dengan bersimbah darah. Ia juga bisa melihat Fred dan George menyusul.

Wajah pria itu menyeringai seram, ia menatap yuri dan kris melalui kaca transparan di sana.

“kau membawa senjata yang aku minta, Kris?”, yuri berbisik. Kris menganguk. Mereka memakai masker yang telah disiapkan kris sebelumnya. Pria bernama Albert masuk ke ruangan itu, ia menodongkan senjata pada kris dan yuri.

“jadi, lady.. kita bertemu lagi. kukira kau sudah mati, atau gila”

Kris dengan gesit, bergerak melumpuhkan Albert dengan tendangan tepat di kakinya. Albert jatuh berdebam. Namun ia menembakkan senjatanya pada yuri, yuri berhasil menghindar.

“tembakan yang sama tidak akan berpengaruh padaku untuk kedua kalinya. Kau harus membayar apa yang telah kau lakukan”, kris merebut senjata dari tangan Albert. Sementara tubuh Albert dihimpit oleh kekuatan Kris. Yuri mengarahkan Moncong senjata itu pada kaki Albert, membuat Kris sedikit menyingkir dari sana.

Diletuskannya peluru pada kaki Albert. “ini untuk Leo”

Albert tertawa. Ia tidak seperti merasakan kesakitan. Yuri tidak berhenti, ia menarik lagi pelatuknya dan menembakkannya ke arah dada kiri Albert. “ini untuk Aleyna”. Pria itu masih sempat sempatnya tertawa, walau darah bercucuran dari tubuhnya. Kali ini Yuri menyeringai. Ia menarik pelatuknya dengan tegas. Dan menembakkan beberapa tembakkan yang tidak terhitung pada tubuh di sana.

“ini untuk mereka di lantai 1 sampai atap yang kau tembaki”, tubuh Albert tergoncang beberapa kali. dan darah berlelehan dari mana mana. Seperti air terjun. Albert masih bisa tersenyum. Dan itu membuat yuri muak. Ia mendekat ke sana, dan membuat kris menyingkir. Yuri jongkok, dan menjambak rambut Albert dengan keras, yuri mencoba membuka mulut Albert lebar lebar, dan memasukkan senjata ke dalamnya.

Yuri menarik pelatuknya, dan….. suara letusan berbunyi nyaring. Membuat kris tidak sanggup menatapnya.

Albert kejang. Ia sudah tidak sanggup berkata apa apa lagi. badannya penuh dengan darah. Lantai putih berubah menjadi merah karenanya. Yuri membelakangi Albert, yuri melelehkan airmata. Ia terisak.

“tembakan terakhir. Untuk Minho”

Suara sirine berbunyi, tanda keamanan pada CIA terganggu. Kris mengajak yuri keluar dari sana. mereka berlari sekuat tenaga mencoba tetap tenang dan berakting seolah tidak terjadi apa apa di ruangan yang baru saja mereka tinggali.

Wajah yuri ditutupi masker, dan syal milik kris. Sehingga tidak ada yang tahu bahwa itu adalah yuri.

Di kursi resepsionis, syal yuri tiba tiba terbuka, dan salah seorang meneriaki mereka. Kris sontak berlari kencang dengan membawa yuri dan menarik lengannya. Ia masuk ke dalam mobil yang telah kris siapkan pagi tadi. ia membawa yuri duduk di sebelahnya. Kris menyalakan mesin mobil dan segera melaju kencang layaknya orang gila.

Ia meninggalkan beberapa orang yang tidak sanggup mengejarnya di belakang mereka. kris tersemyum puas setelah melihat spion.

“kau tidak peru lari bersamaku, kau akan kehilangan pekerjaanmu di sini, kau akan menjadi buronan”, sahut yuri

“aku sudah menyelesaikan pekerjaan terakhirku. Aku sudah menerima pembayarannya. Lagipula menjadi buronan kudengar sangat mengasyikkan”

Kris tertawa, mobilnya masuk ke area bandara. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan menghela napas lega.

“kau yakin akan pergi ke Korea bersamaku setelah semua ini?”, tanya yuri ragu. Ia mendapati pandangan kris di matanya.

“sudah kuputuskan. Aku akan menjadi buronan. Dan korea adalah tempat pertama persembunyianku, tentunya bersamamu”

Yuri tertawa geli. Ia menemukan satu lagi pria aneh di hidupnya. namun di hatinya terukir nama Minho.

Yuri menerawang, namun lidahnya terasa sangat sakit. Tapi kemudian yuri tertawa. Kris hanya memandangnya aneh. “kenapa tertawa?” tanyanya. Yuri hanya menggeleng dan kembali merasakan perih di lidahnya. Ia tersenyum.

“tidak ada apa apa”

Salju turun, menghujani rambutnya. yuri merasakan kedinginan, namun ia juga merasakan satu kehangatan yang memenuhi pori porinya. Setiap ia merasakan perih di lidahnya, bibirnya akan tersenyum, perutnya akan kegelian. Dan matanya akan berkaca-kaca.

Luka ini, adalah hadiah terakhir darimu yang tidak akan pernah kau sembuhkan, Minho. Tapi terima kasih telah datang di dalam hidupku. Seminggu sangat singkat. Bahkan tidak cukup bagiku, aku bahkan tidak sempat mengatakan betapa aku merindukanmu. Mungkin aku mencintaimu. Tapi kau tidak dapat mendengarnya sekarang. Bagaimana di sana? kau di surga? Apa kau bertemu dengan adikku? Bagaimana dia? Baik-baik saja? Katakan padanya bahwa aku telah menyelesaikan urusanku dengan pria kejam yang telah membunuhnya. Dan katakan juga pada aleyna, leo menyukainya. Kuharap kalian dapat tenang di sana. aku akan memulai satu lagi hidupku. Kisahku. Walau tanpa kalian, aku yakin aku pasti bisa. Seseorang bernama Kris dengan tulus membantuku. Dan aku akan kembali bersamanya ke Korea, bukan sebagai Kwon yuri si anak pejabat, tapi sebagai Kwon yuri si buronan.

*****

THE END

.Yap. selesai, sekian saja FF kali ini. gimana? agak sadis dikit ya? tapi gak sampe gimana-gimana kok.

.kalau baca kronologi kejadian aslinya malah lebih seram. aku sampe merinding. kok bisa gitu ada orang tega-teganya ngabisin nyawa anak kecil. ga habis pikir.

.buat yang ingin tahu kejadian selengkapnya, bisa CEK DISINI. walaupun gak detail, tapi di sana diberitakan kronoogi ceritanya. author cuma berharap, kejadian itu sekali-kalinya di dunia. semoga tidak ada lagi kejadian serupa.

.last but not least, ditunggu RCL nya. you are my oxygen.

120 thoughts on “THE ACADEMY [One-Shot]

  1. yuri yoona berkata:

    Ff ny bener2 kren ada yg adegan lucu ada juga yg bkin mrinding..
    Tpi sdih jga karena minhonya mati…

  2. Rerenaaulia berkata:

    Ff nya benar” Daebak,aku suka banget,Ceritanya benar benar buat akumeneteskan air mata pas bagian Aleyna di tembak.
    ya ampun pokoknya Ni ff benar” jjang ^-^

  3. Just26th berkata:

    gatau mau komen apa. pokoknya berasa lagi baca novel terjemahan. terlepas dari banyaknya typo disini tapi penulisannya rapi kayak ff kamu yg pernah aku baca sebelumnya. enak dibaca.
    ini true story ya? duh psikopat emang nyeremin! kalo aku jadi yuri pasti udah gila liat orang” mati mandi darah gitu. juga liat 2orang yang dicinta mati duhh;;–;; huft untung yuri cuma gila boongan. Eh? minho kembar? xD aku ketawa pas baca deskripsi kembarannya minho yang bergigi coklat itu wk. pasti orangnya ga terurus terbuang dari keluarga. kasian sih tapi dia jahat bgt bunuh orang satu sekolah cuma buat bales dendam ke keluarganya.
    Pas bagian George & Fred tiba” jadi inget karakter si kembar Weasley di harry potter. sama” sarap haha…
    semoga yuri bahagia sama kris di korea dan ga ketangkep polisi. amin. xD
    pokoknya keren lah! kayaknya bakal nungguin novel pertama kamu bertengger di rak toko buku deh. tulisan kamu harusnya udah ga di blog doang. atau kmu udah punya novel??.–.
    panjang banget komennya. keep writing~

  4. ica siangel berkata:

    Huaaaaa,, kak Yun, aq mewek sumpah. Ndak tega bangett bayangin gimana sakitnya Minho dibunuh dg kejam begituu.
    Benar apa kata Yuri, Albert tidak pantas disebut sbg ‘manusia’. Kejamnya kebangetan.
    Nyata bangett baca ff ini.
    Tata bahasanya rapih n mudah dipahami. Cuma ada typo dikit2, kak.
    Ada salah penyebutan nama juga tuh. Hehehe
    TOP lah !!!
    Pantes jadi penulis novel😀

  5. asweety16 berkata:

    Ceritanya kebawa.. Walaupun masih ada typo tapi ini kisah paling sadis.. Ya ampun.. Gak nyangka ternyata Minho punya kembaran..keren kronologisnya. Aksi parah dan ini pengadaptasian yang keren.. Oke keep writing lagi ya^^

  6. liliknisa berkata:

    wow keren
    menegangkan
    mencekam, aku suka banget ceritanya buat kita fokus sama ceriatanya🙂

  7. FaulRiza Prameswari berkata:

    Merinding deg2 gan ;;-;;
    Trus pen nangis minho sama aleyna sama leo nya mati ;'(( hikss
    Tapi kereenn deh author nyaaaaaaa salut salutt (y)

  8. Luluu berkata:

    Kaknyun.. keren ff ini.. tp td ada satu bagian aleyna jadi lauren hehe.. gpp sih kaknyun :p lbh teliti aja lain kali hehehehe.. overall ini keren bgttttt😄 tp sedih Yuri nya :” Minho nya meninggal.. *sedih* tp at least ada Kris yg menemani Yuri hehehe.. good story kaknyun (y)
    keep writing!!😀

  9. seria berkata:

    huaaah.. Keren.. Merinding.. Sedih.. Jd 1.. Hebat bgt nyun improv nya lah.. Arrrggh.. Tetaplah berkarya nak~ ff km oxygen aku~ *puk2 nyun *alay *di tabok

  10. andrivalerian berkata:

    Haloo Kak Nyun!! Saya iseng-iseng baca cerita oneshot kakak sekalian cari inspirasi buat movie week di IFK nanti dan maaf saya belum sempat baca lagi ff kak Nyun yang waktu itu saya minta password-nya.

    Saya selalu suka gaya penceritaan Kak Nyun yang ringan tanpa diksi-diksi yang sulit. Terlebih dengan cerita crime semacam ini yang memang ceritanya ‘berat’ tapi Kak Nyun menceritakannya dengan ringan dan ngalir gitu ajaa😀

    Ini based on true story ya? Saya baru tahu tuh setelah baca link yang kakak sertakan di akhir cerita. Maklum, saya kalau baca berita cuma baca berita bola doang. Ending-nya agak mengagetkan dengan Yuri dan Kris yang akhirnya jadi buronan, terlebih dengan karakter Kris yang saya kira cuma jadi penerjemah doang.

    Intinya, karya kakak memang selalu keren dan keren!

    Sekian dari saya. Sukses terus untuk Kak Nyun!
    Andri Valerian

  11. love kyupil polepel^^ berkata:

    Wow gak tau lagi mau komen apaan.. Ceritanya bener2 keren + bagus bener thor!! Berasa baca novel tingkat tinggi^^

  12. minyul generation berkata:

    Cerita a keren,, bisa langsung tebayang gitu pas tembak2 an a,, sadis, tapi keren
    Sip lah

  13. Vriant berkata:

    Kaknyun keren ff nya. dapet banget feelnya🙂
    tapi bener ya kata eon, jangan baca FF ini di
    malam hari. apalagi pas sepi dan sunyi
    senyap. Sumpah aku bacanya sekitar jam 2, dan sensasinya gak bisa dibayangin. ada sedih, takut, deg degan, kesal. tapi keren kok kaknyun😀

  14. Chan_Hirano berkata:

    Bingung mw komen apa… Ff.ny Daebaaak!!!
    bkin merinding, gregetan, sedih… Pkok Keren ! Ditunggu sequel.ny /?

  15. sinta dewi berkata:

    Beberapa hari yg lalu aku sempet baca ff ini…karena berhubung bacany malem2 n lg sendrian jd merinding sendirialhasil aku memutuskan ga nerusin baca.. nah sekarang walaupun ada yg nemenin tetep aja berasa ngeri…ga kebayang klo jd kenyataan…

  16. aquino calabasta berkata:

    Ih…..minhonya kejammmmm.masa amqk itu.di biarin sendirian dan akhirnya dia.mati.lalu hanya minta maaf.comkan nggak cukup.coba kalau ia byangkan itu adiknya pasti ia nggak kan tega.walaupun memang leo tadi juga dibiarin sendirian tpi di tmpat yang aman kan

  17. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Wow wow wow gk di sangka ending nya kayur..
    Tega sangat yuleon dengan dendamnya,,
    keren ceritanya walopun aga aneh krna tiba-tiba kris malah jd partner yuleon jd buronan.. haha
    Daebak!!

  18. Desi berkata:

    sadis bnerr bkin tngan yg pgang hp bergidik, sumpah smpe gemetar kak Nyun pas si albert yg berjalan dengan dentuman sepatunya dari setiap lntai dtmbh jika aku yg diposisikan yuri tau deh berkeringat taku #amit” naudzubillah..
    Pmbunuhan massal ny kyak film yg prnh ku tonton cmn lpa judulnya, tp dsana gk pke tmpat skolah dan anak anak.. Sumpah ibaratnya kyak aku nonton film asli kak nyun, Good Job!

    Oh iya kak nyun aku bleh mnta pw ff blood?

  19. Anonym berkata:

    Ini apaapaan kak nyun KEREN BANGET😀 jadi ceritanya si albert itu iri ke minho yang sempurna dan dia mah diasingkan gitu dikeluarga ya? Kayaknya dia juga sayang banget sama ayahnya sampe mau balas dendam dan bunuh leo gitu kan kasian leo juga adik kamu mas u,u si albert psycho beneran dah ahh bunuh banyak orang gitu, yuri pas bagian yang bunuh albert keren banget :3 kris juga keren😀 hahaha mereka akan hidup jadi buronan ya? Semoga ngga ketangkep ya main kucing-kucingan sama police nya😀 berasa baca novel tau ngga kak😀

  20. mallati_yurisistable berkata:

    kakak ff mu keren banget, sumpah….tegang bacanya….gk bsa komen apa2, sekedar ninggalin jejak because siders is not my style….hehehehe alay

  21. mallati_yurisistable berkata:

    kakak ff mu keren banget, sumpah….tegang bacanya….gk bsa komen apa2, sekedar ninggalin jejak, because siders is not my style….hehehehe alay

  22. hyenayurisistable berkata:

    Sumpah demi apa kak ini ff keren banget
    kayak novel2 terjemahan gt
    feelnya, penulisannya, tegang2 nya, semua yg ada di cerita ini daebakk banget
    walaupun momen minyul nya cuma sedikit mengingat mereka juga baru ketemunya
    tapi romance nya juga ngena bgt
    Aku sampe nangis loh kak pas minhonya mati
    bisa ikut ngerasain gimana jadi yuri
    Ini ff terkece yang pernah aku baca
    Dan aku harap banyak ff minyul2 lainnya yg akan kakak buat
    hihihi
    semangat kak

  23. Ersih marlina berkata:

    Oh ya ampun, untung smalem aku gk jdi bca ff ini, dan jdi bca ff nya siang hari
    dan prungatan d atas bnar2 hrus d patuhi keke, aigoo mrinding banget bcanya
    sadis , kejam , engga tau hrus blang apa, udah selesai bca aja deg2gan nya msih krasa , huuft
    critanya kreeen sangat unnie, emm aku lnjut bca yg lainn wussh😉
    smngat untukmmu unni😀

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s