JUST ME AND THE BOYS [Part 3]

Just me and the boys (Krisyul)

.Annyeong.

udah lama ya aku gak update di page ini? kkk~

maaf ya, dikarenakan kesibukan ini itu akhir-akhir ini, FF ini jadi ke delay. :p

oh iya, kaget sama posternya?

aku buat 5 poster dengan cast pairing berbeda. chapter ini lagi pake poster Krisyul, nanti di chappie selanjutnya ganti.

poster tidak menggambarkan cast pairingan buat yuri di akhir cerita yaa~~

ini cuma kepengenan (?) ku aja kok. kkk~

ENJOY.

****

Aku sedang dalam ferry dan bersandar pada sebuah pilar, ketika chanyeol tiba-tiba datang dan mendorong tubuhku. Aku hampir saja jatuh ke dalam air jika saja aku tidak segera menyeimbangkan tubuhku. Kulirik chanyeol dengan tatapan tajam. Dan ia hanya berdecak beberapa kali, sembari berlalu.

aku mengambil sebuah buku dari tas ku. Kulirik jam tanganku, kira-kira masih ada satu jam perjalanan tersisa di ferry ini, setidaknya aku bisa menikmati satu jam itu dengan bersandar membaca buku seri detektifku.

Chanyeol kembali lagi padaku, kali ini dengan langkah yang lebih sopan dari sebelumnya, ia menundukkan kepalanya disaat aku meliriknya sekilas. Langkahnya yang panjang, membuatnya bisa segera musnah dari jarak pandangku. Entah dia kemana saat ini.

Aku duduk di geladak. Bukan karena aku tidak memiliki ruangan di dalam Ferry, tapi ini karena di dalam sana terdapat 5 pria buas yang bisa menerkamku kapan saja. Lagipula, aku mencintai udara dingin alami daripada udara buatan mesin pendingin udara di ruang tertutup itu.

Ferry ini telah kami sewa. Aku cukup berterima kasih karena memiliki pria kaya seperti Kris dalam tim ku. Semuanya akan lebih mudah. Setidaknya dalam urusan akomodasi. Dan soal Fero Cruise, memang benar kapal ini milik keluarga Kris. namun pada awal kapal itu dibangun, keluarga Kris menjualnya pada Pria bernama Takada Choi, dan pada akhirnya, Takada lah yang memiliki hak penuh atas kapal pesiar mewah itu.

Perlu diketahui, bahwa Fero Cruise akan menjadi kapal pesiar pertama di pantai selatan korea yang pernah aku tumpangi. Aku sudah melanglang buana ke seluruh dunia, menggunakan ratusan kendaraan transportasi aneh. Dari mulai kapal rakitan, tunggangan dengan kuda sampai kapal pesiar mewah. Tapi percayalah, semuanya kulakukan di luar samudra pasifik. Aku tidak pernah berlayar menggunakan kapal pesiar di perairan asia. Aku lebih menyukai melakukan perjalanan dan misi yang sangat jauh di atlantik.

Aku membuka catatan kecilku di tengah buku. Di situ terdapat satu potongan kertas dengan tulisan-tulisan cacing yang aku buat sebelumnya. Di sana terdapat informasi rencana yang akan aku lakukan bersama tim ku. Hal yang pertama tertulis adalah, kami harus segera mencari pria bernama Takada Choi malam ini. dan membuatnya menelurkan informasi untuk kami pelajari tentang kasus Thunder-ssi.

noona, kita akan tiba dalam 15 menit. Bersiaplah”

Aku mendongakkan kepalaku, dan melihat myungsoo hampir duduk di sebelahku. Aku menendangkan kakiku sembarangan, bertindak seolah olah aku tidak menginginkan ia duduk di sebelahku. Myungsoo menggaruk garuk kepalanya. Aku tidak bisa mengatakan dia gatal atau dia hanya awkward dengan sikapku.

“baiklah”, sahutnya singkat sebelum ia hilang dari mataku. aku menghela napas, kumasukkan buku ku ke dalam tas dan menutup ristleting nya.  aku membawa tas itu di punggungku dan bergegas masuk ke dalam kabin dimana semua orang berkumpul.

Bisa kutebak, Kris, Minho, Sehun berdiri di sana. memutari sebuah meja dengan kertas manila besar. Aku tidak melihat chanyeol dan myungsoo. Tapi kurasa mereka akan datang beberapa detik lagi, mengingat bau-bau an parfum aneh yang saat ini semakin mendekat.

“ah, Yuri-ssi…”, dan aku mendengarnya. Suara pria tinggi dengan nada rendah yang menggetarkan isi kepalaku. Kris memanggilku. Dengan langkah gontai aku berjalan padanya, seakan kalimatnya adalah sihir.

“ada perubahan rencana…”, suaranya menjadi satu nada lebih rendah dari sebelumnya, menandakan ada kabar tidak menyenangkan yang akan menembus gendang telingaku sebentar lagi. aku berdehem, berusaha terlihat tidak kaget. Aku mengatur air wajah ku.

“perubahan rencana?”, aku menaikkan satu alisku, penasaran namun dengan sedikit gaya.

“sebelumnya, kita berencana mendatangi langsung Takada Choi dengan baik-baik, bukan?”, aku mengangguk. Kutatap wajah kris, penuh wibawa.

“Takada Choi bukanlah orang yang dapat ditemui dengan mudah. Ditambah lagi kapal itu adalah kapal miliknya. Tidak ada istilah ‘mendekati baik-baik’ untuk pria itu”

Aku memperhatikan kalimat minho dengan hati-hati.

“lalu? Apa perubahan rencana yang kau ajukan, Kris-ssi, Minho-ssi?”, aku menangkupkan tanganku satu sama lain. Mengikatnya kuat dengan genggaman ku.

“Takada Choi adalah penggila wanita. Mungkin kau akan segera bisa menebak apa yang aku rencanakan…”

Dan… Blam… aku mendengar seperti ada jedutan pintu di dalam kepalaku. Suara aneh seperti ini buruk, yuri, ini buruk.. terus terngiang di telingaku. Yah… tapi aku terlalu profesional untuk ini. berurusan dengan pria macam ini dalam misi ku adalah sesuatu yang wajar. Lagipula aku bisa melindungi diriku. Aku tidak harus takut. Hanya saja… di depan lima pria ini… aku merasa canggung.

“jadi apa yang kau rencanakan padaku?”, akhirnya aku menujukkan kesiapan mentalku pada mereka. dan di saat itu juga kulihat chanyeol dan myungsoo berjalan di depanku. Melirik sekilas kemudian menghela napas panjang.

“menurut salah satu informanku di dalam sana, ada satu pesta besar di ballroom utama setiap malam. Mungkin Takada Choi ada di sana. dan kau perlu untuk melakukan tugasmu. Datang padanya sebagai wanita yang dibutuhkan pria itu. kemudian… yah… kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan”

Aku mengangguk. Ini artinya aku –lagi lagi- harus menggoda seorang pria dengan sex appeal yang kumiliki. Aku tidak bisa menghindar dari ini. ini demi kesuksesan misi.

“…tapi melindungi dirimu sendiri adalah kewajiban utamamu, meskipun ini misi”, tambah Minho. Aku mengangguk, tanpa perlu ia beritahu, aku tahu aku harus melindungi diriku sendiri. Baik dari senjata maupun dari tangan jahil yang menyentuh tubuh berhargaku.

“ah~ tidak kusangka, noona ini akan melakukannya”, kulihat chanyeol merebahkan tubuhnya di atas sofa, kepalanya mendarat lepas di sandaran sofa. Memandang langit-langit.

“jangan sampai pria itu menyentuhmu, noona”, ucap sehun dingin. Aku tidak menyangka ia akan berkata seperti ini. kupikir ia adalah salah satu pervert mengingat kelakuan anehnya.

“jangan meremehkanku”, ucapku datar, memberi keyakinan pada mereka. jauh di lubuk hatiku aku merasa sedikit malu. Biasanya aku melakukan ini sendiri –menggoda pria-pria demi kelancaran misiku– Tapi sekarang, mungkin ada 5 pria yang mengawasi tiap gerak gerik ku. Ini mempersempit ruang lingkup fleksibilitas kemampuanku.

“ini saatnya turun”, aku merasakan kapal ferry ini berhenti. Bergerak sedikit untuk menambatkan tali di bolder sebuah dermaga. Aku mendelik ke luar dan melihat puluhan kapal besar dan kecil berjejer di dermaga Fukuoka. Aku mengambil koperku, membawanya ke depan pintu keluar. Namun sebuah tangan menyambut koperku, dan bisa kulihat minho di sana. ia tidak tersenyum padaku, hanya mengambil koper dan berbisik singkat.

“jalan lebih cepat, aku akan membawa ini”

Aku mengangguk ringan. Setidaknya beban bawaanku berkurang dengan koper yang telah berpindah tangan. Kris memakai kacamatanya, aku bisa melihat beberapa wanita dengan rambut blonde melirik ke arah pria itu. mungkin ia sedang demam ‘prince disease’ dan membuatnya ingin terlihat selalu tampan di depan umum.

Myungsoo dan sehun berjalan berdampingan, sama sama memasukkan satu tangan mereka ke dalam saku. Kemudian dengan sedikit style, mereka tersenyum menyeringai kepada wanita-wanita tua yang mereka temui.

are they crazy?”, aku tertawa. Beberapa wanita tua itu membicarakan mereka. myungsoo dan sehun berdehem canggung beberapa kali sebelum akhirnya memisahkan diri satu sama lain.

Chanyeol paling belakang, terlalu sibuk dengan dua koper besarnya. Setelah pertimbangan matang beberapa jam yang lalu, akhirnya ia memutuskan membawa 2 koper dari Seoul. Aku tidak bisa melarangnya lagi. ia katakan jika semua barang yang ia bawa adalah sama pentingnya dengan semua underwear milikku. Oke, aku bisa merasakan bagaimana pentingnya underwear, dan aku tidak bisa membiarkan chanyeol meninggalkan lebih banyak barang berharga nya di Seoul.

Dan ketika aku sadar apa yang dibawa di dalam kopernya, aku hanya mengelus dada. Ia hanya membawa pakaian dengan berbagai warna dan gaya. Tidak ada sama sekali kaitan pentingnya dengan misi. Aigoo.. tidak apalah, itu lebih baik daipada pria itu berjalan telanjang.

Aku bertubrukan dengan seorang pria asing, ia memiliki tinggi menjulang. Lebih tinggi dari kris tentunya. Saat aku menabrak dadanya, aku merasakan bantalan dada yang kenyal dan kuat terpampang di sana. sepertinya pria ini menyukai fitness atau semacamnya. Otot bisep nya terlihat hanya dengan membawa koper di tangannya. Kaos lengan pendek dengan kerah V memperlihatkan sedikit bulu dadanya.

i am sorry” sahutku. Pria itu hanya mengangguk, tidak melepaskan kacamatanya sedikitpun. Kemudian ia pergi dengan terburu buru, masuk ke dalam kapal pesiar besar yang akan kami naiki dalam beberapa detik. Seketika aku merasakan harum parfum yang membuat hidungku bersin. Bukan karena aromanya tidak enak, ini hanya parfum ini memiliki wewangian yang sangat menyengat. Seperti ada lebah berkerumun di dalam lubang hidungku.

noona, berdirilah di sini” myungsoo memanggil namaku, ia menunjukkan satu space antrian kosong di depannya. Aku bergegas menarik koperku dan berdiri di sana. di depanku ada Minho dan Kris yang memegang tiket kami ber enam. Aku tidak tahu hari apa ini, tapi sepertinya aku tidak pergi di waktu liburan. Jadi aku tidak mengerti mengapa antrian begitu panjang di sini.

“ini akan menjadi delay yang sangat parah di dalam misi, Minho-ssi”, aku berjinjit, berbisik di telinga minho. Minho mengangguk tanpa melihat padaku.

Dari setiap detik yang berlalu, aku bisa merasakan rasa pegal dan kesemutan yang menguasaiku. Untungnya ini tidak berlangsung lebih lama dari satu jam. Kris telah ada di depan dua orang petugas. Kami diperiksa, mereka menemukan senjata di dalam setiap tas kami. Tapi ia tersenyum dan mempersilakan kami masuk segera.

“Lantai 7, 3 kamar di ujung lorong” ucap pegawai itu rendah, aku bahkan bisa mendengar nada hampir berbisik yang bergema di telingaku. Pegawai pria itu menunduk sopan dan segera memeriksa beberapa orang di belakang kami. Aku masuk segera, berlari kecil menuju tubuh kris yang semakin menjauh.

Aku mengulurkan lenganku, dan menepuk pundak kris pelan. Pria itu melepas kacamatanya dan menoleh padaku.

“siapa dia?”, tanyaku. Aku penasaran dengan siapa pegawai yang memeriksa kami tadi. sepertinya ia dan kris sudah pernah kontak sebelumnya.

“sahabatku, Lay-ssi. Mantan agen Slotte. dia bekerja di sini”

“mantan agen Slotte? Lay? Aku belum pernah mendengar namanya”

“kau tahu seseorang bernama Unicorn di Slotte yang keluar tanpa sebab setahun yang lalu?”, aku memiringkan kepalaku, dan mengangguk.

“dialah orangnya. Lay the unicorn

“jadi… kenapa dia keluar dari Slotte? kudengar Unicorn adalah agen yang hebat”

“kekasihnya terbunuh ketika ia pergi dalam misi. Ia tidak ingin membahayakan keselamatan orang-orang terdekatnya, dan memutuskan berhenti bekerja sebagai agen”

Aku mengangguk. Kemudian masuk ke dalam lift besar transparan di depanku. 4 pria di belakangku menyusul cepat sebelum pintu lift benar benar tertutup dan membawa kami naik.

“aku juga sempat berpikir mengundurkan diri dari Slotte ketika kudengar eomma mendapat beberapa ancaman.  Tapi ini tidak perlu dikhawatirkan. Slotte memberikan perlindungan lebih kepada keluarga dari agen agen dalam naungan mereka. aku bisa bernapas lega”, Kris bercerita, tangannya menyentuh tombol ‘7’ di dinding Lift.

Aku mengangguk pelan. Memperhatikan beberapa orang yang melihatku dari bawah.

“bagaimana denganmu? keluargamu?”, kalimat kris mengagetkanku. Dia tidak seperti berbicara keras atau semacamnya, namun makna di dalam kalimatnya membuatku cukup sulit menjawab. Dadaku sesak, dan aku harus pintar-pintar mengatur jalannya udara ke dalam jantungku.

“aku tidak mempunyai keluarga”, jawabku seingkat. Aku bisa merasakan mata mereka semua ada di tubuhku. Dan menindaiku seperti aku adalah sebuah patung. Tidak ada yang bisa merespon kata kata ku dengan sempurna. Mereka hanya diam, dan kembali diam dalam setiap detik yang berjalan.

“mereka semua tewas dalam kecelakaan. Aku dibesarkan di jalanan, menjadi kriminal, hingga akhirnya aku ditemukan oleh JYP ahjussi”, jawabku singkat, menjelaskan pada mereka.

“maaf…” kudengar kris meminta maaf, dan aku hanya menghela napas, berusaha tersenyum sebisaku.

Suasana menjadi sangat tidak nyaman di dalam lift setelah itu. kami hanya bergumul dengan apa yang ada dipikiran kami masing-masing. Bisa kulihat sehun bersandar dengan melipat tangannya pada myungsoo. Mereka terlihat seperti couple di mataku.

Ting…

Pintu lift terbuka lebar. Aku keluar dari Lift dengan langkah cepat. Minho masih menarik koper milikku. Kami berjalan sampai di ujung lorong dan melihat 3 kamar di sana. 101, 102 dan 103. Aku melihat nomor di setiap pintu. Hanya ada 3 kamar, dengan kami ber-enam.

kurasa ada yang salah di sini…” aku menggigit bibirku, berusaha meyakinkan mereka dengan apa yang ada di hadapanku.

“setiap kamar memiliki 2 tempat tidur, kau tidak perlu khawatir. Meskipun kau akan berada dalam satu kamar dengan salah satu dari kami, setidaknya kau tidak dalam satu tempat tidur yang sama”, aku mendengus kesal ke arah myungsoo. Di antara 5 pria ini, hanya dia yang selalu menggodaku. Dan aku selalu jatuh di dalam perangkapnya. Aku selalu kesal.

“tapi aku wanita, aku akan mengambil kamar di pojok, sendiri”

“tidak bisa, satu kamar akan di isi dua orang. Suka atau tidak”, ucap kris tegas.

Aku tidak bisa menolaknya. Ia cukup yakin dengan kata-katanya.

“baiklah, aku yang akan memilih siapa yang akan sekamar denganku”, ucapku. Memberi mereka satu pilihan saja.

“jangan aku”, sahut Minho dingin. Dia ini terlalu penuh percaya diri. Lagipula siapa yang akan mengajaknya tidur dalam satu atap yang sama?. Aku tidak akan melakukannya.

Noona, biar aku yang akan sekamar denganmu”, kulihat chanyeol tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang sempurna. Aku bergidik. Sebenarnya itu bukan tawaran yang buruk. Tapi bagaimana jika aku tidur kemudian chanyeol mengajakku mengobrol semalaman?. Tidak… tidak… aku tidak bisa sekamar dengan pria aktif ini.

Aku melihat 3 pria di depanku, antara Kris, Myungsoo dan Sehun. Aku harus memilih salah satunya. Jika aku memilih Kris, maka ini akan menjadi satu malam yang amat panjang untukku. Dia adalah tipe pria serius. Dan dia tidak akan mengajakku berbicara jika itu bukan topik mengenai misi. Aku tidak bisa memilihnya.

Myungsoo? Dia menyenangkan. Hanya saja aku tidak tahan dengan sikap playboy dan pervert nya terhadap wanita. Bagaimana jika ia tiba-tiba melakukan sesuatu padaku di saat aku terlelap. Aku tidak bisa memilihnya.

Hanya Sehun, pria muda itu yang ada di mataku saat ini. kurasa dia cocok untuk posisi ini. dia tidak terlalu banyak bicara, tidak terlalu pervert, dan ia –setidaknya- bisa bicara pada tembok di saat aku tidak sedang ingin bicara sempurna.

“Sehun, Sehun akan sekamar denganku” sahutku mantap. Alih-alih kaget, sehun menunjukan ekspresi datar seperti biasa. membuat aku merasakan aku tidak salah pilih rekan sekamar.

Kulihat nada kecewa dilontarkan dari bibir Chanyeol.

“baiklah sudah diputuskan, chanyeol.. kau sekamar denganku. Dan minho sekamar dengan myungsoo”, kris memutuskan. Minho menyerahkan koperku kembali ke tanganku. Aku menerimanya segera, namun langkah minho seperti lemas.

noona, tidak kusangka kau memilih maknae… “ Chanyeol berbisik padaku. Aku hanya tersenyum. Kris menyerahkan satu kunci berupa kartu magnetik padaku. Dan aku menyerahkannya pada Sehun.

“ah~~ aku tidak bisa membiarkan sehun memenangkan taruhan ini”, kudengar myungsoo mengeluh pada minho. Kemudian dua pria itu masuk ke dalam kamarnya yang ada di sebelahku.

“pastikan kau sudah siap untuk pesta malam ini, jam 8 tepat”, kris mengingatkanku. Aku melirik jam, hanya ada satu jam untuk bersiap-siap. Aku bergegas menarik koperku. Membawanya masuk ke dalam kamar yang sudah dibuka oleh Sehun.

Warna cream-torqoisse menyapaku. Lantai dingin dan karpet tebal kuinjak dengan lembut. Sehun merebahkan dirinya di salah satu ranjang sebelah kanan. Aku melemparkan tas punggungku di atas kasur di sebelahnya. Dan segera mengambil beberapa peralatan mandiku dari sana. aku harus segera bersiap-siap. Misi ini akan dimulai dengan gerakanku.

***

“Yuri-ssi, kau di sana?”, sebuah suara menembus gendang telingaku. Aku hampir saja berteriak jika aku tidak segera terbiasa dengan sebuah earphone mini di telingaku saat ini. earphone ini berukuran super-mikro, sehingga tidak mudah terlihat oleh kasat mata, kecuali jika memang ada yang benar-benar ingin melihat ke dalam gendang telingaku.

Aku berjalan mondar mandir dan mendarat di kursi sebuah bar hebat di tengah ballroom. Beberapa bartender menawariku minuman. Namun aku hanya memesan segelas kecil martini dengan campuran leci sebagai pemanis, favoritku.

Ketika gelas martini datang, aku meraihnya. Meminumnya sambil memperhatikan sekelilingku. Mencari seseorang yang kukenali sebagai Takada Choi –sebelumnya aku mengenali pria ini dari foto saja-. Kulihat Sehun dan Myungsoo mondar-mandir, mereka tampil mengenakan tuxedo hitam bersiluet abu-abu. Mewah.

Chanyeol ada di dalam ruangannya, mengawasi setiap gerak-gerik kami dari kamera CCTV kapal yang ia sadap beberapa saat yang lalu. Jadi bisa kubayangkan, saat ini chanyeol sedang duduk, sambil memperhatikan 5 jenis laptop berbeda. Dan salah satunya, memiliki informasi tentang gerak-gerik ku.

“jangan terlalu banyak minum, kau akan mabuk”, dan… benar saja. Walaupun bukan suara milik Chanyeol, tapi suara ini cukup mengganggu telingaku.

“Sehunnie~ maafkan aku kau tidak bisa menikmati martini leci ini, berhentilah iri”, aku memegangi gendang telinga kiri ku. Berusaha bicara pada Sehun yang menasihatiku. Di bawah lapisan lidahku, terpasang satu sensor penangkap suara. Bentuknya kecil dan pipih. Tidak ada yang bakal menyangka aku memiliki alat seperti itu di bawah lapisan lidahku. Tapi benda ini kuakui agak sedikit mengganggu. Benda ini –yang dikenal sebagai second-lips– merekat kuat pada lapisan bawah lidah. Warnanya akan menyesuaikan warna lidah dengan sendirinya seperti bunglon, dan benda ini akan mengganggu kegiatan makanku. Jadi aku hanya bisa minum sambil menggoyang-goyangkan lidahku pelan.

“yuri, di belakangmu, arah jam 9”, aku menoleh dengan pelan mendengar peringatan Kris. Pria bertopi dengan kacamata hitam dan syal tebal datang diiringi dengan beberapa wanita cantik dan seksi di belakangnya. kemudian iringan itu ditutup dengan pria bermantel dan berbadan tegap yang terlihat seperti bodyguard. Pria di depan duduk di sebuah tempat duduk mewah –berbeda dari tempat duduk kebanyakan-, ia memesan minuman pada pelayan, dan duduk dengan memeluk wanita-wanitanya. Menjijikan.

“jadi aku harus ke sana?”, aku bertanya dengan nada jijik.

“apa kau butuh jawaban?”, kudengar suara Myungsoo dalam nada mencemooh. Aku melirik ke samping bar dan melihat myungsoo menyunggingkan senyum sinis nya padaku. Pria itu… benar-benar…

“Yuri, tidak ada banyak waktu”, Minho memperingatkanku. aku mengangguk cepat. Aku meninggalkan martini ku dan beberapa uang di meja bar. Aku berdiri. Berusaha terlihat mempesona dengan gaun hitam super mini yang kupakai. Bisa kurasakan sentuhan dingin dari udara malam desember merasuk ke dalam tulang-tulangku. Baju ini terlalu terbuka di sana sini.

“berjalan beberapa langkah ke arah pria itu”, perintah Chanyeol. Aku menurut, berjalan dengan anggun tepat 5 langkah dari tempatku berdiri. Aku bisa melihat, posisiku saat ini adalah posisi ter-strategis dari pandangan mata pria tua menyebalkan itu.

“dia melihatmu, noona” Sehun bicara dengan nada pelan. Aku tidak membalasnya. Aku tidak bisa bicara saat ini jika memang pria itu melihatku. Dia akan curiga dan mengira aku psycho atau semacamnya, berbicara sendiri.

Kulihat Sehun lewat di depanku. Ia berpura-pura menarik dasinya, tapi sebenarnya ia berbisik sekilas di depan wajahku.

“berputarlah ketika ia bertukar pandang denganmu”, Sehun pergi dengan cepat, dan aku bisa melihat ia bergabung dengan Kris saat ini. bisa kukatakan, ada 4 pria yang mengelilingi dari berbagai arah saat ini. mereka mengawasi gerak-gerik ku dengan sempurna. Belum lagi satu pria dengan beberapa CCTV di lain tempat. Ini membuatku gila.

Aku baru saja menghembuskan napasku, ketika Takada Choi memandangku. Ia menyoroti tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku tersenyum padanya, dan memutar tubuhku seperti yang dikatakan oleh Sehun –dengan sedikit improvisasi gaya tentunya-.

Kudengar di telingaku suara berisik dari Chanyeol dan Myungsoo. Sepertinya mereka menertawaiku. Aku harus menjaga emosiku.

Pria tua itu, beranjak dari tempat duduknya, membisikkan sesuatu pada bodyguard muda di sebelahnya kemudian tersenyum kembali padaku.

noona, menghilanglah di keramaian. Tunggu ia mencarimu”, Sehun memerintahkanku. Aku heran, sepertinya dia sangat mengerti dengan tugas seperti ini. apakah dia pernah ada di posisiku?

Aku berjalan. Menjauh, berusaha hilang di tengah lautan manusia yang sedang berpesta-pora. Aku tidak bisa menahan tanganku untuk tidak mengambil segelas wine di atas nampan para pelayan di sana. aku membawa gelas itu, dengan gaya classic girl dari Inggris pada abad pertengahan.

excuse me”

Seorang pria berkacamata hitam dan tegap menahan gerakanku. Ia berdiri di hadapanku, menundukkan kepalanya dan menuntunku ke suatu tempat. Aku tidak langsung setuju, kutanya padanya apa keperluannya –hanya sebagai basa basi-, aku sudah tahu, Takada-ahjussi itu pasti sudah mulai tertarik padaku.

our boss want to meet you”

Dan aku mengangguk. Aku di tuntun ke tempat pria tua dan para wanitanya duduk. Aku melemparkan senyum termanis ku padanya.

eww~~ tidak usah berakting tersenyum seperti itu. kau menggelikan, noona”, chanyeol menggodaku. Kemudian disusul tawa kecil dari Myungsoo dan Sehun. Mereka seperti mengadakan obrolan konferensi di telingaku. Dan ini mengganggu konsentrasiku.

please sit down, mam” suara pria itu membawaku ke dunia nyata. Aku duduk di sana, di sebelah pria tua itu. menggeser posisi wanita seksi dengan rambut pirang dan cat kuku hitam. Wanita itu hanya berdecak dan terlihat kesal padaku. Whatever.

what is your name?”, ia melemparkan senyum nakal padaku. Bertanya, namun matanya menyusuri setiap lekuk tubuhku. Membuatku sangat tidak nyaman.

“Choi Anna”, aku berbohong.

korean?

half”

“kau terlalu dingin, yuri-ssi. Cobalah dialog lebih lembut pada pria itu”, Minho memperingatkanku. aku menghela napas pelan.

“aku bisa bahasa korea, aku juga keturunan korea. Mari berbicara dalam bahasa korea”, ia tersenyum, mengambilkan ku segelas martini, setelah sebelumnya menarik paksa wine di tanganku.

well, itu akan membuatku lebih nyaman” aku tersenyum dengan dibuat-buat. Kemudian mendengar suara ramai di gendang telingaku. Mungkin ke lima pria itu menertawakanku sekarang.

“kudengar kau pemilik kapal ini, benar bukan, Tuan Takada?”, Takada tertawa terbahak-bahak. Ia terlihat senang. Ia memegangi perutnya yang gendut, menyalakan cerutunya dan menghisapnya kuat-kuat. Ketika ia berbicara kembali denganku, asap dari mulutnya ia hembuskan ke wajahku.

“Aku cukup terkenal, bukan? apa yang Korea beritakan tentangku sampai kau tahu hal-hal seperti ini?”

“bukan hanya Korea, tapi kurasa seluruh dunia mengetahui anda, tuan”, aku berbicara lembut. berusaha mendapatkan perhatian darinya, sebelum aku bertanya langsung ke inti masalah.

“kau sangat tahu. Hahaha. Tapi mereka tidak mengetahui sebanyak apa wanita yang kusimpan, hahaha”, pria itu tertawa terbahak-bahak. Membuat kepalaku pusing. Ia menatapku dalam-dalam. Tawanya berubah menjadi seringai. Tangannya menyentuh pahaku singkat. Mengusapnya. Aku tiba-tiba mual.

“Ya, yuri-ssi, jangan biarkan dia menyentuhmu, aishhh

pabo. Kau menyukai sentuhan itu, noona? segera singkirkan tangan itu, kau menunggu apa?”

“yuri-ssi… fokus pada misi”

Ya… Ya… Ya…. apa yang dia lakukan, jinjja.. hyung.. selamatkan yuri noona. siapapun…”

noona, selamatkan pahamu”

berturut-turut kalimat yang keluar dari bibir Minho, Sehun, Kris, Chanyeol dan Myungsoo perlahan mendarat di telingaku. Ini hanya menambah mualku. Aku hampir saja berteriak pada mereka. kenapa mereka tidak membungkan mulutnya masing-masing?… jinjja….

Aku menggeser letak pahaku dan menjatuhkan tangan pria itu di sofa. Ia terkekeh.

“tapi aku bukan salah satu dari wanita yang kau simpan”, aku tersenyum manis padanya. Membuatnya harus tahu diri.

“hahaha. Inilah yang aku sukai dari wanita Korea. They like to play hard-to-get. I love challenge. Mungkin kau bukan wanitaku saat ini, but.. soon

Aku hanya menyeringai lemah pada pria itu. aku meminum martini ku seteguk demi seteguk. Telingaku belum reda dari perbincangan tidak penting oleh ke lima pria itu. di depanku saat ini, aku bisa melihat kris yang sedang berdiri memegangi telinga kirinya. Tangan kanannya ia masukkan di dalam saku. Matanya terpaku padaku.

Aku merasakan tangan kasar kembali mendarat di pahaku, kali ini dengan gerakan lebih liar. Aku menatap kesal pada pria tua itu. aku bisa saja memukulnya, jika ‘memukul takada choi’ ada di dalam rencana kami.

Kris menatapku, aku bisa merasakannya. Riuh rendah suara terdengar kembali di telingaku. Chanyeol bahkan setengah berteriak ketika tangan pria ini semakin naik ke pangkal pahaku.

“bawa dia”, suara kris menggema. Dengan nada lebih tinggi dari biasanya. Ia mampu membungkam suara rendah dan riuh yang lain. Aku tidak mendengar lagi suara chanyeol yang berisik. Namun aku kebingungan dengan perintah kris. Bawa dia? Bawa siapa? Takada Choi? Tapi kemana?

Seakan kris tahu betul kebingunganku, ia kembali menegaskan perintahnya. Kali ini cukup jelas dan membuat aku segera mengerti.

take him, to a room. You know what it means”

Aku menggenggam tangan kasar pria tua itu, meremasnya dan menyentuh cincin besar yang ia pakai. Aku tersenyum nakal padanya, membuat seluruh perhatiannya ada di wajahku.

not here, sir. Come with me”, aku, dengan nada seduktif mengajaknya. Dan seperti adegan-adegan di dalam film, aku mencoba menarik dasinya. Membuat para bodyguard nya mematung, mengerti apa yang akan boss nya dan aku lakukan segera.

noona, you are so into act, too much” bisa kudengar suara Sehun memprotes apa yang aku lakukan. saat ini ia tepat ada beberapa meter di sebelahku, tatapannya sinis. Entah karena apa.

tiba tiba kurasakan satu tangan melingkari tubuhku. Pria itu memelukku dari samping.

to my room, babe” kudengar bisikan seduktif dari pria ini. alih-alih tertawa, aku sebenarnya kegelian. Ingin muntah saat ini juga.

Namun aku mengikutinya, menyamakan irama hentakan kakinya, berjalan ke dalam lift menuju ruangan yang ia sebut-sebut sebagai ‘my room’. Sekilas, aku melihat Kris dan Myungsoo berlari mengikutiku dari jarak aman. Berusaha tidak terlihat, tapi tetap menjaga jejak dan jarak pandang dariku. Aku masuk dalam sebuah lift. Dan pria-pria itu menunggu waktu yang aman, untuk naik lift dan membuat Takada tidak curiga pada mereka.

Aku sangat bersyukur, karena Takada tidak dikawal dengan para penjaganya saat ini. sepertinya sebuah waktu bersama wanita, harus dilakukan dengan pribadi, dan tanpa pengawalan. Wajar saja, ini bersenang-senang.

Aku sampai di sebuah lantai teratas dari kapal pesiar ini. lantai 19. Bisa kulihat, sepanjang mata memandang, hanya ada satu ruangan mewah dengan pintu besar di sana. di depan pintu itu ada dua orang berseragam hitam dan berkacamata yang memegang senjata. Kurasa mereka seperti satpam.

“ini kamarku. Kau akan kaget begitu melihat isinya”, ia menyeringai di depan wajahku. Meremas punggungku. Sungguh, aku ingin muntah.

Para satpam itu –aku membicarakan dua orang berseragam hitam tadi- menunduk dengan sangat sopan ke arahku. Aku tahu itu bukan untuk menghormatiku, tapi menghormati boss mereka yang super menjijikan ini.

Pria tua ini, mengajakku masuk ke dalam ruangannya. Dan…  selain pujian, aku tidak bisa berkata apa apa lagi. ruangan ini disulap menjadi sebuah ruangan klasik seperti di dalam kerajaan inggris. Lukisan besar terpampang di dinding. Bahkan ada tangga dengan ukiran jaman renaissance yang melekat di gagang mahoninya. Tangga itu sepertinya menuju ke bagian atas kapal.

Aku juga bisa melihat guci-guci mewah dan beberapa kain mahal tertata rapi di etalase lemari krystal nya. pertanyaan-pertanyaan seperti ‘pengusaha di bidang apa sebenarnya pria ini?’ berputar di dalam otakku. Ini terlalu mewah untuk seseorang yang mengaku dirinya adalah pengusaha ‘penambangan emas’. Kapal pesiar, ruangan mewah, wanita canti, bodyguard.. menunjukkan bahwa kekayaan pria ini lebih dari apa yang dibayangkan media.

“Yuri-ssi, kau baik-baik saja? Kau di mana?”, aku bisa mendengar suara Minho di telingaku. Aku membalikkan badan, berusaha tidak terlihat dari Takada. Aku membisikkan tempat dimana aku berada saat ini pada mereka.

“jangan menyetujui melakukan apapun, tunggu kami dalam 5 detik”, suara Kris mengema. Entah kenapa aku mendengar amarah di sana.

“ada dua orang bodyguard di depan pintu. Kau bisa mengatasinya?” sahutku pelan.

“khawatirkan dirimu sendiri”, jawab kris datar. Aku mendesis. Pria ini meremehkanku.

“jadi di mana kita akan memulainya? Apa kau menyukai bed? Atau kau memilih sofa? Ah… aku juga mempunyai kamar mandi. jadi mana yang kau pilih?”, pria ini menyeringai padaku. Memelukku sekali lagi. ia mendekap tubuhkku erat ke dalam pelukannya. Ia hampir saja menyentuh ‘properti’ ku jika saja aku tidak mendorongnya menjauh dengan pelan.

“aku mungkin akan mandi dulu”, aku jawab asal. Namun pria ini benar-benar sudah dikuasai nafsu. Ia menarik lenganku kuat. Membuat aku tidak bisa kemana-mana. Aku menggertakan gigiku pelan. Aku sudah mulai sedikit emosi.

“Yuri-ssi… kau harus jaga emosimu” kudengar peringatan dari Minho. Mungkin mereka mendengar gertakan gigiku.

“aku akan mandi denganmu”, pria itu menarikku ke pelukannya. Ia menciumi tanganku, kumisnya menyentuh kulit punggung tanganku, menjijikan.

“ah~ tapi aku ingin mandi sendiri”, aku mencoba tersenyum, tapi aku tahu ini senyuman yang sangat terpaksa. Takada mungkin akan menyadari perubahan air muka ku, jika saja ia melihatnya dan berhenti dari kegiatan menciumi tanganku.

Aku menarik tanganku dari genggamannya, namun ia lebih menggila. Kali ini ia berusaha memperpendek jarak antara bibirnya dengan bibirku. Aku tidak bisa mentolerir ini.

you are too much, sir”, aku menarik tangan pria itu, dan membantingnya dalam satu gerakan. Ia melayang di udara, di atas kepalaku, dan dengan sukses mendarat di sofa empuk. Aku berjalan dengan langkah lebar padanya. Pria itu terlihat shock atas perlakuanku. Aku menyeringai, membuka ikatan rambutku dan tersenyum simpul.

“bagaimana kalau kita lakukan di sofa, sir?”. Aku mencekik lehernya, membuatnya hampir kehabisan napas. Dan ya… aku menendang ‘properti’ nya, agar ia bisa berhenti mengganggu wanita. Kuharap ‘properti’  itu bisa rusak selamanya dengan tendangan mautku.

Pria itu menjerit, dan 2 orang di depan pintu menerobos masuk mengacungkan senjata laras panjang pada tubuhku. Lasernya yang berwarna merah, ada di mataku. sedangkan laser yang lain, berada tepat di jantungku. Aku mengangkat tanganku, sementara pria tua brengsek itu masih merintih perih di atas sofa.

“siapa kau?” pria di sebelah kanan berteriak padaku. Ia menarik pelatuknya perlahan. Aku tersenyum simpul.

“berputarlah”, jawabku singkat. Mereka secara serentak menoleh ke belakang, dan satu hantaman keras mendarat pada wajah mereka. tubuhnya tumbang, dalam hantaman kedua, ketiga serta beberapa hantaman bertubi-tubi dari dua orang pria yang baru saja datang, Minho dan Myungsoo.

i am sorry for that”, ucapku sambil menurunkan kedua tanganku dari kepala. Kris menatapku, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“kau baik-baik saja?”

mwo ya? kau meremehkanku?”

ani, kau tidak disentuh olehnya atau something?”

“ia menyentuhku. Dan aku menendang selangkangannya untuk itu. wae? Kau ingin mencobanya? Tendangan dariku?”

Kris menggeleng. Minho tiba-tiba datang, menyela pembicaraan aku dan kris, ia menarik tanganku, membawaku ke depan Takada. Takada merintih kesakitan sambil memegangi selangkangannya. Sementara minho terus-terusan menatapnya dengan rasa iba. Ia memegangi tanganku erat, menatapku dalam-dalam. Aku sempat berekspetasi bahwa ia akan memujiku untuk apa yang telah aku lakukan. namun kalimat yang meluncur dari bibirnya, membuatku geli. Hampir tertawa.

“minta maaflah padanya, yuri-ssi, mungkin tendanganmu telah merusak masa depan pria tua ini”

***

Kependekan? kepanjangan? kurang seru?

tulis ya komentar dan saran nya di kolom komentar🙂

96 thoughts on “JUST ME AND THE BOYS [Part 3]

  1. Anonym berkata:

    Keren banget lagi :3 hihihi kris diem-diem juga ternyata marah pas yuri digituin😀 min kenapa polos banget gitu sih -_- hahaha yuri pasti keganggu banget pas mereka ngomong mulu ditelinganya😀 hahaha kira-kira yg menang taruhan siapa ya :3

  2. nurulnijma90 berkata:

    yuri jd umpan si takada yg genit,tp…yg namanya misi pasti ada perubahan ngedadak.kkk…pastinya yuri risih digrepe2,adegan glow muncul tuh owh…so cool.action scene started!tendangannya yuri mak nyuss tuh langsung tepat sasaran..😀😀
    Dasar minho,tega nih sm takada,pake nyuruh yuri minta maaf segala..kkk 😁😁
    tp mending sih yuri ngelakuin itu,klo ga yuri bs diapa2in.minho blm rasanya ditendang pas bgn ‘aset’.kyknya yuri pengen tuh ngelakuin itu pas minho ngomong gt..yuri ngerasa disindir sm minho

  3. Yulhun berkata:

    Woaaa … Lucu anedt , paling suka waktu Glow cemburu karna yuri dipegang ama takada , aduhh sakit weh perut nyaa ..

  4. RiKu.Cho04 berkata:

    Setelah mndapat beberapa kali gangguan baca part ini, akhirnya sampe juga d kolom komen, eh eh…
    Yuri~ah, harusnya jangan cuman nendang, tonjok aja sekalian… Itu takada udah tua, masih aja gede napsyong nya… Cieee yang lima cwo pada teriak2 jgn sampe d sntuh2… Ya kalau mreka gk mau Yuri d sntuh2, sehun aja yg jadi cwenya, atau myung soo? Kan wjahnya beautiful juga sebgai cwo…kkk

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s