JUST ME AND THE BOYS [Part 4]

Just me and the boys (Yulhun)

Hello Fellas~ long time no update, isn’t it? i am sorry. i am on my duty now. UAS kill me, as always.

here is the 4th chapter. hope you like it.

hope the length fulfilled your wish. :p

***

“ini yang terakhir”, Minho menarik tubuh seorang pria jangkung, membawanya masuk ke dalam sebuah lemari. Menguncinya di sana. pria jangkung itu adalah salah satu dari ‘satpam’ yang sebelumnya berjaga di luar ruangan. Untuk menghindari kecurigaan, kami membawanya masuk.

Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika Minho menyeret tubuh itu. aku tidak tahan dengan baju super mini itu. mengubah image seksi menjadi image casual, aku memakai celana jeans yang di padu-padankan dengan tank top hitam dibalut kaus crop tee kerah V.

Sehun memperhatikanku dengan teliti, dan melemparkan pandangan serius ke langit-langit. Mungkin ia kembali berbicara dengan cicak, entahlah.

Aku duduk di sebuah kursi kayu, mengambil sebuah apel dan mengunyahnya brutal. Kris dan Myungsoo duduk di sekitar Takada Choi yang saat ini sudah diikat dalam sebuah kursi kayu, layaknya tawanan.

Aku mendengar decitan pintu, dan Chanyeol muncul di sana. ia membawa laptop miliknya. Langkahnya sumringah.

“seharusnya kau tidak melakukan ini padanya, yuri­-ssi”, aku mengalihkan pandanganku pada Kris. Ia mengambil sebuah kursi, dan duduk di hadapanku. Tatapan nya seolah menghakimiku.

“aku harus melindungi harga diriku”, aku memberi pembelaan. Kris mendesah panjang, matanya mendelik ke atas.

“tapi tindakanmu keterlaluan”

“apa yang lebih keterlaluan dari tindakan ‘pervert’ pria ini?”

“aku menyuruhmu menunggu sampai kami datang, bukan?”

“memang. Tapi bagaimana jika kau datang dan busana ku telah lenyap? Kau bertanggung jawab tentang ini, huh?”

“sudah, sudah. Kalian berdua diamlah”, Minho menyela pembicaraan aku dan Kris. Keadaan menjadi sedikit tidak nyaman di sana. aku berdiri, menghempaskan kursi ku, dan membalikkan badan. Ku makan apel di tanganku dengan lebih cepat. Melampiaskan kekesalanku pada Kris.

“K-kalian sebenarnya siapa?”, suara Takada yang terbata-bata memecahkan keheningan. Dalam beberapa detik saja,  Myungsoo tertawa, lengkap dengan batuk kecilnya.

“FBI agent, rekan salah seorang yang kau kenal sebagai Thunder”, dan kudengar Sehun berbohong. Aku berpura-pura tidak peduli dan menghabiskan apel milikku.

Takada terlihat dongkol, setelah Sehun menyebut nama Thunder, pria ini beberapa kali mendengus kesal.

“pria itu kabur membawa uangku”, ucapnya singkat. Aku tertarik dengan topik ini, aku membuang apelku di tong sampah dalam jarak 5 meter dariku. Apel itu masuk dengan sempurna.

“bukankah dia seharusnya menjadi bodyguard-mu?”, Myungsoo menyelidik.

sure, he is. Tapi ada satu hari dimana ia pergi seharian, dan kembali pada sore hari. Ia meminta maaf dan mengambil uang dalam koper yang seharusnya aku berikan pada salah satu seller. Kemudian aku tidak pernah melihatnya lagi di Jepang”

Chanyeol mengetikkan sesuatu di layar laptop miliknya, kemudian menunjukkan beberapa potongan gambar pada Takada.

“apakah koper ini yang kau maksud?”, tanyanya. Takada mengangguk yakin beberapa kali, ia juga bahkan menambahkan seragam yang Thunder pakai saat itu adalah jas yang pernah ia berikan padanya.

“Tuan Takada, perlu diketahui, bahwa pria ini menghilang dari jejak FBI. Dia tidak ditemukan setelah seminggu pencarian. Dan untuk itu kami di sini, mencari sebanyak mungkin informasi dari anda. Kami tidak akan menyakiti anda selama anda berkooperasi baik dengan kami” Sehun menerangkan. Ia duduk di satu kursi dengan meja kecil di depannya, tangannya sibuk mencatat sesuatu di kertas kecil. Takada mengangguk. Tapi ia tidak terlihat kaget bahwa Thunder menghilang.

“Pria itu sangat baik dan dapat dipercaya, FBI mengirimkan pria itu padaku terkait dengan permintaan perlindungan yang aku ajukan. Aku diincar oleh beberapa Yakuza besar karena sepak terjangku di dunia drugs, usaha sampinganku…”

“tunggu..” aku menyela. Aku merasa ada yang aneh dalam setiap pernyataan dari bibir pria tua ini. aku berjalan, melipat tangan di depan dada sembari tersenyum sinis.

drugs? Kau pengedar?”

Takada mengangguk tegas atas pertanyaanku. Aku bisa melihat sorot mata takut dan tegang terpancar di pupil pria itu. mungkin dia segan padaku, atau mungkin ia takut kutendang.

“apakah FBI mengetahui hal ini, maksudku, FBI sebelum kami ber-enam?”, aku mengoreksi kata kata ku sedikit. Akan menjadi masalah jika pria ini tahu kami bukanlah FBI sesungguhnya.

“mereka tahu, tapi kurasa tidak semua orang di FBI tahu. Aku meminta bantuan ini secara khusus. Aku menjanjikan barter dengan beberapa pejabat di sana”, aku menaikkan satu alisku. Chanyeol terlihat sibuk mengetikkan sesuatu di depan layar laptop, sedangkan sekilas kulihat Minho membawa handphone nya mendekati Takada. Ia merekam semuanya.

barter? Barter apa yang kau maksudkan?”, aku mulai penasaran. Jika saja ada satu apel lagi di tanganku, aku akan melahapnya dalam satu gigitan. Aku terlalu gemas dengan kasus ini.

barter sindikat drugs. Aku akan memberikan list persembunyian para pengedar. Mereka adalah pengedar kelas kakap, lebih sigap sepak terjangnya daripada aku. Aku mengetahui semua tentang mereka. dan aku menggunakan informasi ini sebagai bahan negosiasi atas perlindungan FBI padaku. Aku tidak tahu bagaimana informasi mengenai negosiasi ini bisa menyebar di dalam tubuh FBI, karena seharusnya hanya segelintir orang saja yang tahu. Mereka mengatakan bahwa tugas ini adalah tugas yang berdampak pada reputasi, dan mereka melarang aku memberitahu siapapun. Tapi dengan adanya kalian-6-orang-asing, tampaknya sesuatu terjadi di dalam tubuh FBI”, pria ini menatap curiga pada kami. Aku tidak tahan dengan tatapan itu, bagiku, tatapan apapun yang ditunjukkan pria itu, adalah tatapan nista yang membuat gatal kaki ku. Kuharap mereka dapat mengijinkanku menendangnya satu kali lagi.

Kris berdehem beberapa kali. aku bisa merasakan tangannya menyentuh tanganku.

“tahan emosimu”, bisiknya. Aku tengok kaki dan tanganku. Gemetar, tanpa di sadari, aku emosi hanya dengan menatap mata nista pria tua ini. kris menggenggam tanganku erat, diiringi tatapan aneh dari sehun.

“jadi, kau ingin mengatakan bahwa kerjasama mu dengan FBI adalah semi-ilegal?”, Myungsoo mencatat sesuatu di kertas kosong. Ia mengambil satu meja dan menariknya ke sebelahku. Myungsoo terlihat begitu serius, aku bahkan hampir tidak mengenali pria ini.

“bisa dikatakan seperti itu. dan kalian… harusnya sudah tahu, mengingat kalian ada di depanku saat ini”, nada suara Takada makin rendah. Aku bisa merasakan kecurigaan yang semakin tinggi dari ekspresinya. Chanyeol mengambil alih. Ia menaruh laptop miliknya di depan Takada, dan menunjukkan satu rekaman video padanya.

“kau kenal dia?”, Chanyeol menunggu jawaban Takada. Pria ini terllihat ragu, beberapa kali ia menaikkan alisnya, kemudian mencoba melihat ke langit-langit. Ia berpikir. Ah, aku bahkan tidak tahu bahwa pria ini bisa berpikir.

“kurasa namanya Bbang or something like that. Aku hanya pernah melihatnya sekali, tepat di saat Thunder hilang seharian. Ia datang atas perintah FBI dan membantuku mencari Thunder”

Ini semakin aneh. Aku tidak tahu lagi apakah pria ini berbohong atau FBI memang menyembunyikan sesuatu. Semuanya terasa tidak masuk akal bagiku. Pertama, FBI datang dan mengatakan mereka membutuhkan bantuan. Sedangkan, kasus ini bukanlah kasus eksternal yang harus kami tangani. Jika berpegang pada pernyataan takada, seharusnya permasalahan ini bisa selesai di dalam tubuh FBI sendiri. Mereka bisa mengadakan interogasi atau semacamnya secara internal. Tidak harus membuang biaya besar dengan menyewa Slotte seperti ini.

“apakah kami dapat memegang kata-katamu?”, Sehun berbisik rendah. Nada suaranya datar namun terdengar menyeramkan. Aku bisa merasakan pria tua itu bergidik ngeri.

“seharusnya kalian bisa. Aku tidak berbohong. Apalagi setelah wanita itu merusak segalanya”, sial. Pria ini masih mengingatnya. Kurasa dia akan dendam padaku seumur hidup karena tendangan itu. aku berdehem beberapa kali, melepaskan tanganku dari genggaman kris dan bersiul rendah, menatap ke tembok yang kosong.

Kris kembali menggenggam tanganku. Aku refleks menoleh, melemparkan pandangan apa-yang-sedang-kau-lakukan pada pria tinggi ini. kris tidak bergeming, ia buta. Aku menghempaskan tanganku dari genggamannya, namun cengkraman tangan kekar itu lebih kuat bahkan dari batu karang. Pria ini rupanya terlalu banyak makan bayam. Aku tidak menyangka ia memiliki kekuatan seperti popeye.

“berhentilah melakukan itu di depanku, hyung, kau merusak konsentrasiku”, kudengar suara Myungso dari samping tubuhku. Ia masih sibuk dengan kertas-kertasnya, matanya sama sekali tidak menoleh ke arahku. Namun dari ekspresinya, ia cukup terganggu.

“kau dengar? Sekarang lepaskan aku”, aku menginjak kaki Kris. I am sorry for that, tapi aku tidak mempunyai pilihan.

“Tuan Takada, bisa aku simpulkan seperti ini…”, Myungsoo menarik kertas-kertas di meja ke tangannya. Ia duduk di sebelah Takada, menyingkirkan Chanyeol dan laptop nya. “…anda bekerja sebagai pengusaha emas, namun anda memiliki bisnis di bidang obat-obatan. Anda diserang oleh yakuza, dan minta perlindungan FBI. Anda tahu FBI sedang giat menangkap komplotan pengedar seperti anda, dan menawarkan informasi sebagai imbalannya. anda dan FBI, melakukan perjanjian di bawah tangan. Thunder adalah seseorang yang dikirimkan untuk anda oleh FBI, namun dia menghilang membawa uang anda. Saat Thunder menghilang, Bbang datang pada anda dan mengaku atas utusan dari FBI. Kemudian membantu anda mencari Thunder. Namun, data yang kami terima mengatakan, Bbang hilang beberapa hari setelahnya… apa ini sudah cukup mewakili informasi dari anda?”

Takada mengangguk-anggukkan kepala. Ia tidak terlihat memungkiri pernyataan myungsoo, namun pria ini terlihat sedikit ragu.

“sampai saat ini aku masih tidak mengerti untuk apa pria itu membawa lari uangku yang tidak seberapa itu…”

“dia tidak lari membawa uangmu, koper ini, mungkin adalah koper sama, tapi belum tentu dengan isinya. Kau tidak akan tahu hanya dengan melihat dari video rekaman CCTV ini, ahjussi” ucap Minho singkat.

Telingaku panas, aku terlalu bodoh untuk hal-hal seperti ini. analisis dan sebagainya bukan bidangku. Mungkin aku harus keluar dari sini, sebelum otakku mencair dan keluar dari telinga.

“aku akan mencari udara segar”, sahutku singkat, pandangan mata pria-pria di depanku –tidak terkecuali Takada, menjadi sinis. Seperti tidak rela aku keluar dari sarang macan di sana. but who cares? Daripada aku berada di tempat ini kemudian mati mendadak, lebih baik aku pergi ke luar memandangi hamparan lautan.

Lagipula seingatku, sejak naik di dalam kapal pesiar ini, aku belum pernah sekalipun melihat-lihat bagaimana megahnya kapal ini. selain kamar dan ballroom pesta, aku belum melihat apa-apa lagi.

Aku melenggang keluar, diiringi dengan pandangan mata sinis di belakangku. Kubuka pintu pelan, dan naik ke dalam lift. Kuputuskan untuk mengunjungi fitness centre. Di sana ada kolam renang, mungkin aku bisa berendam di sana, atau mencoba sauna nya.

Untuk mencapai fitness centre, aku harus turun di lantai 5. Namun aku terlalu hiperaktif di dalam lift sehingga tanpa aku sadari, aku berada di lantai 3 saat ini. saat aku hendak kembali ke dalam lift, lift itu sudah naik kembali. Ke lantai atas, dan aku harus menunggu lift selanjutnya.

Aku bersandar pada dinding-dinding marmer yang dingin. Lantai 3 ini hanya berisi beberapa kamar, dan aku tidak tertarik. Lorongnya terlalu sepi, bahkan aku tidak melihat satu pun semut di sana. aku merinding. Ini seperti aku ada di dalam film horor. Aku menekan tombol bertuliskan angka 5 berkali-kali. berharap di antara 2 lift di depanku, salah satunya membuka pintu untukku.

Kudengar suara derap langkah mendekat. Suara itu terdengar samar karena kaki-kaki itu hanya menginjak karpet empuk, bukan lantai marmer secara langsung. Aku bisa panik sekarang. Aku tidak membawa senjata api. Lagipula belum tentu yang sedang berjalan ini adalah manusia. Bagaimana jika hantu?, aku yakin aku harusnya membawa bawang putih dan garam bersamaku.

Langkah itu semakin dekat, dan pintu lift terbuka lebar. Aku bergegas masuk dan segera menekan tombol lift asal. Konsentrasi ku terpusat pada bagaimana cara agar aku bisa pergi dari sana saat ini juga.

Pintu lift menutup, dan membawaku ke atas. Aku bernapas lega. Kulihat tombol yang menyala di sana, lantai 10. “Sial”, gerutuku. Aku menekan angka 19.

Kutiup poniku. Aku melihat sekelilingku. Bangunan pesiar yang begitu mewah, pilar pilar terlihat berdiri kokoh dengan hiasan manik-manik emas yang bertaburan. Karena lift ini transparan, mereka yang di luar bisa dengan mudah melihatku. Aku menangkap sosok ibu-ibu yang mendelik sinis padaku karena suaminya terus memandangiku. Tidak aneh.

Waiter di bar dengan nampan dan anggur merahnya terlihat berjalan dengan sigap, menjajakan gelas pada setiap pengunjung yang ada di bar. Benar, tepat di bawah lift yang aku tumpangi adalah bar. Tempat diadakannya pesta aneh malam ini. aku ada di antara mereka beberapa saat yang lalu. Dan mereka mungkin tidak akan ingat.

Aku menarik napas panjang. Kudengar suara debaman keras. Aku terlonjak kaget. Suara itu datang begitu saja di dekat telingaku. Aku merasakan tubuhku tergoncang. Lampu Lift tiba-tiba mati. Ah, bukan hanya lampu lift ku, bisa kukatakan, hampir semua ruangan di bawahku dihiasi dengan kegelapan. Aku bisa mendengar orang-orang yang panik berlalu lalang. Aku tidak bisa melihat jelas dari jarak pandangku saat ini. ini terlalu gelap, aku bahkan tidak bisa melihat tanganku sendiri.

“sial”, aku mengerutu di dalam hati. Ini bukan hal aneh, dan sama sekali tidak membuatku panik. Aku sudah beberapa kali terjebak di dalam lift dengan kondisi tidak jauh dari ini. aku sudah terlatih untuk ini. tapi yang aku ragukan adalah, kemana aku akan pergi setelah keluar dari lift ini? kembali ke lantai 19? Atau kembali ke kamarku mengambil beberapa perlengkapan senjata.

Dor.. dor..dor

Aku terkesiap. Suara itu tidak asing. Teriakan ini tidak asing. Ada pertumpahan darah yang sedang terjadi di luar sana. di dalam kegelapan, aku bisa mendengar beberapa suara nyonya besar dan tuan besar berkerumun menjadi satu. Teriakan ketakutan dan putus asa.

Dor… dor… dor…

Suara itu kembali terdengar. Alih alih takut, aku penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sana. aku tidak tahan berlama-lama di dalam lift, aku bisa kehabisan oksigen.

Aku bergegas loncat beberapa kali, meraih satu pintu di atas lift yang bisa terbuka. Kuhantamkan tanganku ada besi di sana. sakit memang, tapi hanya ini satu-satunya cara. Potongan besi berbentuk persegi panjang itu pun terbuka. Mempertontonkan satu wilayah gelap di atas ku. Aku bisa mendengar suara decitan katrol dari tali di atas kepalaku. Aku loncat dan perlahan mengaitkan tanganku di pinggiran lubang itu. aku menggunakannya sebagai pijakan tanganku agar bisa memanjat terus ke atas.

Usaha ini membutuhkan waktu sekitar 10 detik hingga tubuhku berada sempurna di atas lift. Aku membersihkan bajuku sedikit. Kuraba tali temali di sana, aku mengeceknya sekali lagi dengan menarik tali itu kuat-kuat.

“ini aman”, aku menautkan tanganku di tali itu dan mulai memanjat. Kakiku bergerak seirama dengan tubuh dan tanganku. Aku mulai berkalkulasi. Saat ini aku terjebak di lantai 9, sedangkan tujuanku ada di lantai 19. Ini artinya aku harus memanjat tali sepanjang 10 lantai. Jika satu lantai memiliki tinggi hingga 5 meter, ini artinya, aku harus memanjat tali sepanjang 50 meter. Unbelievable. Mungkin aku akan kembali ke rumah sakit karena cidera tangan ringan.

Aku tidak bisa memperkirakan aku ada di lantai mana saat ini. tapi suara suara tembakan itu semakin jelas terdengar di telingaku. Bisa kukatakan, semakin membabi buta.

Aku baru saja kembali menarik tubuhku ke atas, ketika suara aneh mengerayangi telingaku.

“YURI !”, seseorang berteriak di telingaku. Aku melepaskan satu tanganku dari tali karena kaget.

OH, SHIT. Jangan berteriak di telingaku kau, Bodoh !”, aku hampir melupakan bahwa aku masih memakai perlengkapan mata-mata ku itu. second-lips dan micro-voice melekat di lidahku dan telingaku. Aku berusaha mengembalikkan tanganku pada tali yang menggantung, sedangkan di seberang sana kudengar chanyeol berdehem beberapa kali ia berbicara dengan nada yang lebih rendah, namun dalam tempo yang lebih cepat.

noona, dimana kau? Kami panik mencarimu. Apa kau baik-baik saja? Kami mendengar tembakan beberapa kali? kau yang melakukannya?”

Aku membawa tubuhku kembali pada tali temali. Aku terengah engah. Sepertinya berat badanku bertambah.

“b-bisakah kau b-bicara nanti saja? Aku dalam posisi yang sulit saat ini”, aku mengatur napasku. Suara berisik kembali terdengar di telingaku. Kali ini Sehun yang berbicara.

“kau ada dimana, noona?”, aku mendengar nada panik di sana. nada panik itu terasa seperti nada iba, sehingga ada satu perasaan aneh menjalari tubuhku, memaksaku untuk tidak memberitahu mereka dimana aku sekarang.

“aku bisa mengatasi ini”, ucapku. Aku memanjat kembali, berusaha menyeimbangkan berat tubuhku dengan tanganku. Peluhku menetes.

noona, kau adalah pemimpin tim ini, dan kami berhak tahu kau ada dimana sekarang, karena kami adalah anggota tim mu”, Myungsoo menyela. Sial, pria ini selalu lebih pintar menggunakan lidahnya. Tapi aku kwon yuri, kwon yuri the blackpearl. Aku tidak memerlukan bantuan mereka.

“kalian diamlah. Jika kalian memiliki waktu, segera amankan Takada, ada sesuatu terjadi di lantai 1,2 dan 3. Penembakkan beberapa kali terjadi di sana. dan itu bukan aku”

“kami sudah mengetahuinya, satu satunya yang belum kami ketahui adalah keberadaanmu. Jadi katakan saja dimana kau saat ini, yuri-ssi?” dan…. kali ini suara itu, suara Kris melenggang masuk ke dalam gendang telingaku. This is annoying. Aku tidak suka diperlakukan seolah-olah aku lemah dan memerlukan bantuan. Apa mereka tidak tahu dengan siapa mereka berbicara saat ini?

Aku KWON YURI. apa yang harus aku takuti?

Aku merasa tanganku basah karena menahan emosi. Pegangan ku menjadi sedikit melemah, aku merosot beberapa senti. Kurasakan perih di telapak tanganku. Lengket, amis, dan berkeringat. Kurasa itu darah.

Cit…

Aku mendengar suara decitan lift. decitan itu semakin lama semakin intens terjadi. Sepertinya ada yang mulai bergerak di bawahku. Bisa aku bilang, jarak ku dengan lift saat ini adalah sekitar 10 meter. Dan lift ini berdecit sekitar 7 kali. di setiap decitannya, lift naik sekitar 30-50 senti.

Cit….

Lift itu berdecit kembali.

“Yuri, This is bad”  ucapku dalam nada rendah. Aku sempat tidak sadar bahwa aku masih terhubung dengan pria-pria itu.

“yuri-ssi, apa yang terjadi?”

“a-ah, m-minho… tidak…” aku berusaha berbohong. Decitan itu membuatku sedikit panik. Aku berniat mempercepat keahlian memanjatku dengan berusaha menggoyangkan tubuhku agar mendapat gaya yang lebih cepat untuk naik. Namun itu hanya memperlambat gerakanku. Decitan itu sudah berubah menjadi satu getaran kecil, dan setiap getaran itu terdengar, lift itu sudah naik perlahan.

Dan aku, tidak mempunyai pilihan.

“Siapapun, datang kemari, bawakan aku tali. Aku terjebak di antara lantai 9 hingga 19. Aku tidak tahu dimana tepatnya ini, tapi satu yang pasti, jika kalian tidak kemari dalam 5 menit, mungkin aku akan terjepit di antara lift di sini”, aku menelan ludahku. Tidak ada suara satupun yang terdengar dari telingaku selain suara berisik yang tidak kukenali.

Aku tidak tahu siapa yang akan datang me….-aku benci mengatakan ini, tapi ‘menyelamatkanku’ adalah kata yang paling tepat saat ini-, mungkin salah satu dari mereka akan melakukannya, tapi aku tidak berekspektasi terlalu tinggi. Mengingat pria bodoh itu ada di dalam satu taruhan. Bisa saja ‘menyelamatkanku’ termasuk di dalam agenda taruhan mereka. who knows.

Oke, taruhan itu sudah tidak penting lagi. saat ini musuhku adalah waktu. Aku harus bisa menambah gap ku dengan lift itu lebih banyak lagi. aku terus memanjat. Suara suara berisik seperti angin berhembus terdengar di telingaku. Aku bisa menghitung ada seseorang dengan napas terengah-engah di seberang sana. i can’t tell who is he.

Aku mencoba merangkak naik. Tanganku kram. Ada rasa lengket tertinggal di tali. Itu darahku, mungkin. Tali itu terlalu kuat. Tanganku bahkan bisa hancur jika lama lama menggenggamnya. Aku terus naik, menunggu bala bantuan datang.

noona, berteriaklah”

“Sehun?”

“aku tidak menyuruhmu memanggil namaku, berteriaklah. Aku tidak tahu kau di lantai berapa sekarang. Pelacak pada alat pendengarmu tidak bekerja”

“apa yang harus kuteriakkan?”

“kenapa kau tanya aku?”

“kau yang menyuruhku !”

“kau membuang-buang waktu, noona. teriaklah. Segera”, di akhir kalimat sehun, aku bisa melihat lift itu semakin dekat dengan kakiku. Ini buruk. Aku tidak dapat memikirkan apapun selain berteriak asal sekencang mungkin hingga telingaku sakit. Beberapa orang yang berada pada sambungan interkom dengan secondlips, mungkin saat ini merasakan ketulian sementara.

“kau di lantai 12. Tetaplah di sana. jangan bergerak…  aku akan membuka pintu lift nya”, kini aku kembali mendengar suara hembusan napas yang sangat kencang. Tapi kali ini aku tahu, itu milik sehun. Di antara 5 pria itu, aku tidak berharap ia yang akan menyelamat… maksudku, membantuku. Kupikir orang itu Kris atau Minho, mengingat hanya mereka yang ada di otakku saat ini.

Kulihat satu cahaya kecil perlahan merasuk ke bola mataku, membuat pupil ku mengecil. Cahaya putih yang perlahan semakin membesar, seiring dengan satu desahan napas panjang yang muncul entah darimana. Aku mendongak berusaha melihat dengan jelas sumber cahaya itu.

Sehun berdiri di ambang pintu Lift. Ia membukanya perlahan, aku bisa melihat otot lengan nya yang kekar. Pria kurus ini memiliki kekuatan setara denganku. Cukup mengejutkan. Aku bisa melihat cahaya kecil itu berasal dari sebuah senter pada jam tangannya. Aku cukup menyesal menolak pemberian jam tangan dari JYP beberapa waktu lalu. Jika seperti ini kejadiannya, seharusnya aku menerimanya dulu.

“apa kau masih bisa memanjat sedikit lagi, noona?”

Grek..grek..

Kabar buruk. Aku mendengar suara-suara tanda kehidupan dari Lift di bawah kakiku, belum lagi ada satu lift yang perlahan jatuh dari atas kepalaku. Total, ada dua lift mengapit tubuhku saat ini. dan dua-dua nya bergerak dalam tempo progresif setiap detiknya.

“aku bisa, kau membawa tali nya?”, aku berteriak. Aku masih memiliki sekitar 3-4 meter lagi untuk mencapai tangan Sehun. Pria ini menggeleng. Dan otakku pusing seketika.

“kubilang bawalah tali, kau bodoh !”

“tidak ada tali. Tali ada di kamar Kris, dan aku tidak mempunyai waktu untuk mampir ke Lantai 7, cepatlah naik, aku akan mencari cara begitu kau sampai di sini”

Aku tidak suka cara pria ini memerintahku. Tanpa perlu dia beri tahu aku sudah pasti akan memanjat. Aku tidak mau mati terjepit di sini. Aku mulai menahan kembali rasa sakitku, kuraba tali dalam genggaman kuatku perlahan demi perlahan, hingga di setiap detiknya aku dapat mengangkat tubuhku hingga 2-3 senti. Lift-lift itu terus bergerak. Aku mencoba tidak panik. Mengatur napas ku dan mengumpulkan konsentrasi dan energiku pada tangan.

Tinggal satu meter lagi. ini tidak sulit. Namun tanganku perih, lagipula lift-lift sialan itu mulai berjalan dengan mulus. Bisa kukatakan bahwa lift yang ada di bawahku saat ini hanya berjarak 2 meter dari ujung sepatuku. Tidak bagus? Memang.

Lift di atas kepalaku masih memiliki gap cukup besar denganku, dan setidaknya aku harus bersyukur untuk ini.

Aku terus memanjat, seolah tali ini tidak pernah usai. Karena tanganku mulai licin, aku tergelincir beberapa senti dari pijakanku semula. Aku sedikit kaget, namun Sehun mempertunjukkan ekspresi kekagetan yang luar biasa. ia berteriak padaku sambil mengulurkan tangannya memanggil namaku. Seperti aku sudah jatuh ke dalam lubang hitam yang sangat besar dan tidak akan kembali lagi. oke, aku terlalu mendramatisir.

“BISAKAH KAU LEBIH CEPAT?”, pria ini memarahiku. Entahlah, aku tidak bisa menangkap nada suara pria kurus ini, ia seperti memerintahkan tapi dengan nada khawatir yang berlebihan. Seperti aku adalah properti miliknya yang tidak boleh rusak.

“Berhenti berteriak. Aku yang seharusnya panik. Bukan kau”

Lift semakin dekat dengan kaki ku. Dan lagi, aku bisa mendengar suara tembakan yang semakin dekat. Suara-suara berisik berkumandang di telingaku, mungkin sehun juga mendengarnya –Suara Myungsoo.

“kalian jangan kembali ke lantai 19. Kami di serang segerombolan tidak dikenal dengan baju hitam. Pergilah ke lantai 7. Aku dan yang lain akan ke sana. mereka mengincar Takada Choi”, aku melirik langsung pada Sehun setelah interkom di telingaku mati. Sehun mengangguk. Aku tidak sedang main-main kali ini, aku menambah kekuatanku di tangan dan mulai memanjat dengan cepat. Kulihat pupil mata sehun melebar seiring dengan jarak kami yang semakin pendek. Mungkin dia kagum akan kemampuan memanjatku.

Aku ada tepat di pintu lift, berhadapan dengan sehun. Hanya saja, jika sehun berdiri di sebuah lantai, maka aku bergelantungan di atas tali.

“sekarang bagaimana?”, tanyaku.

“loncatlah”

“kau gila. Bagaimana jika aku terjatuh?”

“aku akan menangkapmu”

“tapi jarak kita terlalu jauh”

“sudah kubilang aku akan menangkapmu, noona. just do it

Aku menelan ludah. Aku ragu, biarpun ia berjanji akan menangkapku, tapi aku tidak bisa loncat dalam kondisi seperti ini. tenagakku habis untuk memanjat, bagaimana bisa aku melakukan satu lompatan ekstra?

Lift semakin dekat, aku percaya jika dalam 10 detik aku tidak loncat, lift itu akan membawaku ke atas dan menghimpitku dengan atap. Aku mengangguk yakin. Sehun membuka tangannya lebar, bersiap menerima tubuhku. Aku mencoba mengayunkan tali dengan menggerakkan seluruh tubuhku. Tapi tali ini diam tidak bergeming. Kawat-kawat dan besi di sekitar tali ini membuat pergerakannya terhenti. Stagnan.

Aku tidak menyerah, jika tali ini tidak dapat memberiku gaya potensial, maka aku harus melakukan loncatan dengan gaya milikku sendiri. Aku mengaitkan kedua kakiku pada tali-tali. Membuat tubuhku berpijak di sana. ini seperti sirkus, aku melepaskan tanganku. Seketika aku merosot.

NOONA”, Sehun berteriak seperti orang gila. Aku kembali menautkan tanganku di tali, memanjat kembali. Lift itu sudah semakin dekat. Aku menarik napas. Mungkin ini terdengar gila, tapi aku hanya bisa menggunakan lift ini sebagai kartu as terakhirku.

NOONA, CEPATLAH” Pria berisik ini panik. Dia hanya mengganggu konsentrasiku. Lift ini sudah semakin dekat, dalam 3 detik tepat akan mengangkatku ke atas. Memupuskan semua kerja kerasku untuk memanjat. Tapi aku memiliki sebuah rencana.

“tangkap aku jika aku mengatakan ‘tiga’ “

huh?”

Aku tidak mempedulikan lagi ketidak mengertian Sehun. Aku hanya menarik napas dan bersiap untuk rencanaku. Aku merasa kakiku menginjak sesuatu dan membawa tubuhku naik. Jantungku berdegup kencang, ini rencana gila. Aku menggunakan lift ini untuk membawa tubuhku kembali sejajar dengan Sehun, dan ketika sudah tepat, aku harus loncat.

Kemungkinan berhasil 50%, tapi aku tidak mengindahkan kegagalan yang 50% sisanya. Tidak ada gagal di dalam kamus hidupku. Aku kwon yuri.

Aku mulai naik, dan sehun terlihat mengerti apa yang kuinginkan.

one… two….” aku mulai menghitung, memberi aba-aba pada Sehun. Ia membuka tangannya lebar dan menjulurkannya dekat ke arahku sebelum aku terbawa jauh oleh lift sialan ini. “…three!”, aku berteriak. Tepat di akhir kallimatku aku loncat tinggi, menjatuhkan tubuhku ke dalam pelukan sehun.

Aku berhasil. Aku berhasil melewati satu jurang gelap setinggi 100 meter di bawahku. Ini ajaib. Dan kali ini ada Sehun yang menangkap tubuhku. Kami jatuh di atas lantai dingin. Kaki kami masih menjuntai ke dalam lift.

Aku rasakan himpitan yang semakin kencang di kedua sisiku. Rupanya pintu lift mulai bergerak. Aku segera bangkit dan menarik tubuh sehun untuk berdiri.

“terima ka—“, aku baru saja akan menyampaikan rasa terima kasih ku pada pria ini ketika suara senapan ada di dekatku. Seseorang berada di sini dengan senjata. Sehun meraba kantung celana belakangnya, dan mengambil sebuah senapan laras pendek berwarna hitam dari sana. sialnya, ia hanya membawa satu. Membuat aku harus berlindung di belakang tubuhnya.

Sehun mengendap, melirik ke kanan dan ke kiri. Aku melindungi bagian punggungnya, walau dengan tangan kosong.

Satu pria bertopeng kain rajutan datang di depanku dengan tiba tiba. Kemudian seorang lagi dengan perawakan yang lebih pendek ada di depan sehun, mereka bersenjata. Keadaan menjadi sangat tidak seimbang. Pria di depanku menarik pelatuknya.

“kutangani yang ini”, aku merobek satu kain di kausku dan melilitkannya pada tanganku yang mulai berdarah. Aku berlari dan mendaratkan satu tendangan bebas pada wajah misterius pria di depanku. Saat ini aku harus melucuti senjatanya, membuat permainan ini –setidaknya- seimbang.

Pria ini menyeimbangkan posisinya, mengacungkan moncong senjatanya padaku. Sebelum ia menarik pelatuknya lagi, aku menghantamnya dengan satu pukulan di perutnya. Membuat genggamannya mencelos. Senjata laras panjang itu jatuh berdebam, beradu dengan lantai. pria ini mencoba mengangkat tubuhku dan hendak membantingku ke tanah. Namun aku lebih dari siap untuk ini. saat ia membalikkan tubuhku, aku melayang di udara, menyeimbangkan gaya gravitasi yang mempengaruhi tubuhku. Aku mendarat sempurna dengan posisi berdiri di atas lantai.

Aku tersenyum sinis padanya. Dari matanya, ia terlihat sangat kesal padaku. Aku melirik kecil ke arah senjata yang tergeletak bebas. Dan rupanya pria ini mendapatkan pandangan yang sama denganku.

wanna try?, aku mengomporinya. Ia berlari pada senjata itu, namun aku di sana, menghadangnya dengan tendanganku. Pria ini tidak mau kalah, ia mundur beberapa langkah kemudian menghantam bahuku dengan keras. Aku merasa sakit, tapi tidak ada suara retakan di sana. masih bisa kutolerir.

Aku loncat, berputar secara vertikal di udara, dan melancarkan serangan tinjuku pada titik vital pria itu. aku menyerang dada kiri nya dan lambungnya. Ia terbatuk, dan air segar keluar dari mulutnya.

Aku menggunakan kesempatan ini untuk mengambil senjata di atas lantai, dan mengklaimnya sebagai senjataku saat ini. aku mengarahkan moncong senjata itu pada pria di depanku. Aku menoleh sebentar ke arah Sehun, dan ia telah selesai dengan satu pria yang babak belur dan berdarah-darah di depannya.

Pria di depanku bangkit tanpa aku sadari. Ia menyerangku dengan tiba-tiba. Aku tidak sempat menarik pelatuk di senjataku, tapi Sehun datang dan memukul pria itu di wajah dengan tinjunya yang sempurna. Seolah-olah ia sudah mengetahui titik lemah pria ini.

Pria besar misterius itu tumbang di tanah, dengan mulut dan hidung yang berdarah. Aku menatap sehun.

“pukulanmu terlalu keras, aku bermaksud membawanya. Dia pingsan sekarang”

Sehun hanya mengangkat bahunya.  ia mengambil senjata laras panjang pada pria yang terbujur kaku di depannya. Aku memandangi punggungnya yang lebar. Ia cukup gentle jika aku tidak memperhitungkan wajahnya. Aku malas memujinya, tapi dia memiliki wajah yang sangat cute dan pinchable.

Kudengar kembali suara berisik di telingaku, kali ini Kris. Ia terdengar lebih tenang daripada Myungsoo dan Chanyeol yang sebelumnya berbicara padaku.

“kalian dimana?”

“aku dan Sehun—“, kalimatku terhenti ketika suara sehun yang lebih besar dengan nada tenor-bass menggema terdengar.

“kami akan segera ke lantai 7. Ada beberapa cicak di sini. Kau sudah di sana, hyung?”

“aku aman. Takada bersama kami. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini, tapi Takada diberi obat bius oleh Myungsoo. Dia tertidur saat ini”, aku terbelalak. Mengambil sebanyak mungkin oksigen di udara untuk segera berkumpul di ruang dalam tenggorokanku seketika. Aku menganga.

“kau membius pria itu. apa kau sudah gila? Kau tahu apa yang kau lakukan?”

“tidak ada cara lain, yuri-ssi. Pria ini panik. Dan kami tidak dapat bekerja dengan baik dengan teriakan pria ini setiap detik”

Aku mengangguk tanda mengerti, tapi bukan berarti aku setuju dengan tindakan mereka. apa yang akan kami lakukan jika tiba-tiba Takada terbangun dan menyadari dirinya dibius?. Kecurigaannya pada kami akan bertambah dan akan menjadi masalah ke depan.

Apakah Kris, –the king of stragtegy itu tahu dengan resiko ini? kenapa dia membiarkan Myungsoo melakukan itu?

Aku belum selesai dengan apa yang berkutat di dalam otakku. Tapi suara desingan yang memekakkan telinga hadir di antara kami. Ini bukan tentang interkom. Aku bisa mendengar suara pria berdehem beberapa kali melalui pengeras suara yang ada di sudut lorong ini. sepertinya seseorang mencoba berbicara melalui pusat pengendalian informasi utama di dalam kapal ini.

test.. test… kalian mendengarku?” suara itu terdengar sangat bodoh. Aku merasa seperti mendengar lawakan. Namun begitu, ada perasaan was-was menyergap langsung masuk ke dalam tengkuk ku.

“baiklah. kita sudahi saja permainan ini segera. Apakah sudah banyak yang tertembak hari ini? apakah kalian mencium bau darah?. Aroma ini adalah hasil jerih payahku—“ aku mengernyitkan dahi, menatap sehun bingung.

“aku tidak akan menyakiti kalian jika kalian bekerja sama dengan baik denganku. Tidak banyak yang kubutuhkan. Hanya satu, satu orang pria jepang yang kaya raya. Takada Choi. Aku kemari untuknya—“

Keadaan semakin tidak aku mengerti. Takada Choi? Seseorang mencarinya?. Aku berjalan pelan pada sehun, mengajaknya berjalan agar dengan pelan kami dapat turun ke lantai tujuh dengan tangga. Walaupun penerangan sudah kembali, tapi tidak ada jaminan bahwa lift tidak akan mati mendadak jika kami kembali ke sana.

“Aku menyisir lantai satu hingga lantai duapuluh di dalam kapal pesiar ini. namun aku tidak menemukan Takada. Dan hebatnya, satu-satunya yang kutemukan adalah tubuh-tubuh anak buahku yang sudah tidak berdaya. Ini hebat. Siapapun yang melakukannya, aku sangat salut”

Pria dalam speaker itu menepuk-nepuk tangannya. Memberikan pernghargaannya dengan bertepuk tangan.

“4 orang pria, kudengar ada 4 orang pria yang berlari dari lantai 19 entah kemana. Membawa Takada berhargaku. Kalian, 4 orang itu harus mengetahui ini, aku mengetahui apa yang kalian inginkan. Jadi datanglah padaku dengan Takada, dan aku akan melepaskan kalian secara baik-baik. Kalian harus dengar ini—“, kudengar suara berisik dari speaker itu. membawaku melambatkan gerakanku.

i am sorry, dia mengancamku”, suara yang tidak asing kudengar dengan jelas. Aku terlonjak kaget, kutatap mata sehun yang dingin. Ia berdehem beberapa kali sebelum akhirnya membuka mulutnya.

“itu Lay, the unicorn

“pria tadi, sudah kutangkap. Jadi menyerahlah dan bawa Takada padaku. Aku menunggunya dengan damai di ballroom. Aku memberi waktu hingga 3 jam ke depan. Semua penumpang telah aku sandra di sini. Setiap 30 menit, akan ada satu orang yang akan tumbang. Bisa kupersingkat, bawalah secepatnya Takada padaku, katakan padanya… Bang Yong Guk menunggu”

Dan suara itu lenyap seketika.

Aku mematung beberapa detik, bertatapan dengan sehun yang masih dengan ekspresi dinginnya. Aku tidak tahu harus berbicara apa padanya kali ini. tapi rasa aneh menjalari seluruh tubuhku. Bukan karena ‘kapal dibajak’ yang menjadi musuhku saat ini. tapi kebingungan yang tiba-tiba melanda otakku menjadi seperti boomerang yang perlahan-lahan terlempar kembali padaku. Aku tidak ingin percaya, tapi ini benar-benar terjadi. Aku memegang senjata lucutanku erat-erat. Tanganku yang perih tidak kurasa lagi. aku berdehem, menelan ludah dan memiringkan kepala. Kutatap sehun erat-erat. Aku membuka mulutku, mencoba meyakinkan diriku atas sesuatu yang mengganggu kepalaku.

“apa baru saja aku mendengar Bang Yong Guk berbicara?”

***

“apa aku salah dengar, katakan Sehun-ah”, sehun mengangkat bahunya kembali. Ia mengajakku berlari, menarik tanganku dan mencoba menyeretku. Aku tidak menolak, karena otakku sudah tidak berlari bersamaku. Pikiranku entah kemana. Takada Choi dan Bang Yong Guk.. apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? dan lagi, apa hubungan mereka dengan hilangnya beberapa agen FBI di berbagai penjuru dunia. Apakah ini menjadi satu kesatuan? Atau ini adalah kejadian yang terpisah? Apakah ini hanya drama? Atau ini kenyataan? Apakah kami dijebak? Atau kami sudah dalam ambang kemenangan?

Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. tapi aku bisa menyimpulkan bahwa pria yang mengaku bernama Bang Yong Guk tadi, tidak tahu bahwa sebenarnya ada 5 pria dan 1 wanita di sini, bukan hanya 4 seperti yang dia katakan. Lay­-ssi masih melindungi kami. Kurasa dia tidak berbicara apapun yang menyinggung Slotte dan FBI dalam hal ini.

Aku terus menuruni tangga dengan suara seminim mungkin. Aku berada di lantai 8. Satu lantai lagi ke lantai 7, to the meeting point.

Aku mencoba memegangi telingaku, mendengar suara-suara keributan kecil di seberang sana. entah apa yang sedang terjadi. Aku sangat penasaran.

noona, lewat sini” Sehun menuntunku menuju satu pintu besar bertuliskan angka 7 di permukaannya. Sehun dengan hati-hati membuka pintu itu. ada beberapa CCTV di sana, namun kami tidak perlu khawatir. CCTV sudah dirusak. Terlihat dari layar nya yang pecah dan kabelnya yang putus.

“Kris and Minho-hyung did it”, sehun menjelaskan, seperti ia bisa membaca jalan pikiranku.

Aku terus berlari dengan hati hati hingga mencapai satu kamar yang semula menjadi kamar pribadi Aku dan Sehun. Aku membuka pintunya dan disambut dengan takada yang panik di atas kursi. Tubuhnya terikat dan mulutnya tersumpal oleh kain berbahan wol.

Aku berjalan lurus, menatap Chanyeol, Myungsoo, Minho dan Kris bergantian. Sepertinya mereka hendak mengatakan sesuatu padaku. Namun aku menolak mendengarkannya dengan gesture ku. Kudengar mereka berbisik pada Sehun. Aku bisa mendengarnya karena aku masi ada di jaringan interkom dengan mereka.

“katakan, apa hipotesamu?”, aku tidak suka berbelit-belit. Kurasa mereka menemukan sesuatu dan berusaha memberitahuku dengan hati-hati.

“mengenai Yongguk, Takada mengaku ia tidak pernah mengenalinya. Dan jika pria ini memiliki suatu masalah dengan Takada, ia sama sekali tidak tahu masalah apa. dan ancamannya ini menjadi sangat aneh”, Minho memutari tubuhku sambil memegangi dagunya ala detektif. Aku berkacak pinggang. Menunggu kalimatnya selesai.

“lalu?”

“masalah menjadi rumit jika kita mengaitkan dua masalah sekaligus. Dalam hal ini, mari kita pisahkan ini menjadi dua masalah berbeda. Pertama permasalahan yongguk dan takada, dan kedua, permasalahan hilangnya agen FBI. Tapi yang perlu diperhatikan di sini adalah, Yongguk adalah salah satu korban yang dilaporkan hilang paling akhir di Tokyo, Jepang. Ia seharusnya tewas dalam kecelakaan tunggal, namun jasadnya tidak pernah ditemukan…”

Aku menaikkan satu alisku.

“ada tiga indikasi pada kasus hilangnya bang yong guk. Pertama, ia tidak tewas dalam kecelakaan. Ia somehow dapat bertahan hidup dari kasus penculikkan itu, atau kedua, ia tidak pernah benar-benar diculik, dan ini hanya rekayasa pria itu untuk satu tujuan yang tidak diketahui. Tiga, Bang yong guk yang berbicara di speaker tadi, bukan Yongguk asli, tapi hanya orang yang mengaku sebagai yongguk. Di antara semua indikasi itu, kurasa indikasi ketiga lebih bagus untuk dipedomani saat ini. mari berpikir positif dan menganggap pria ini bukan bang yong guk…”

Aku bisa mencerna katakata minho dengan baik. Tapi perutku tiba tiba mulas. Terlalu banyak berpikir membuatku konstipasi.

“tapi aku tidak mengenal pria itu. kenapa ia menginginkan aku? Aku tidak mengerti. Dan siapa kalian? Kalian bukann FBI. Kalian penipu !”, dan Takada berteriak. Membuat telingaku sakit. Ia sepertinya sudah menyadari identitas palsu kami sebagai FBI. Bisa kulihat, ia sangat panik.

“kami tidak akan melakukan apapun padamu, Mr. Takada. Tenanglah. Kami akan membantumu”, Myungsoo berusaha menenangkan Takada dengan cara halus. Pria ini semakin melemas. Kulihat ekspresi lelah yang tidak dibuat buat terpancar dari rona wajahnya. Suaranya bergetar, seperti menahan isakan tangis.

“a-aku memiliki anak dan istri yang menungguku di Tokyo. Kumohon, selamatkanlah aku”

Untuk pertama kalinya, kudengar pria ini terisak dan memohon di depanku. Image horor atas kesuksesan dan hartanya lenyap seketika dari mataku. pria ini menangis sebagai ayah dan suami, bukan sebagai Takada Choi sang Milyuner.

“akan kami lakukan. keselamatan anda adalah prioritas kami. Anda adalah saksi kunci kami” dengan tegas Kris menohok kalimatnya pada wajahku. Ia lagi-lagi menatapku dengan kilatan di pupilnya. Ia berjalan mendekatiku, lewat di samping telingaku dan membisikkan sesuatu.

“jangan melakukan hal bodoh. Keselamatanmu adalah prioritas kami juga”

Aku bingung dibuatnya. Aku tidak seperti minta perlindungan, atau menjadi saksi ahli seperti Takada dalam kasus ini. tapi kalimat kris tertanam begitu saja di otakku. Kutengok kembali ke belakang, punggung kris yang lapang terlihat di sana. aku memicingkan mataku.

Aku tahu, sejak pertama bertemu dengan pria ini, aku merasakan perasaan yang lain. Perasaan seperti aku adalah wanita lemah yang harus dilindungi. Dan perasaan ini berkembang ketika mereka mencoba melindungiku. Berkembang menjadi perasaan benci dan tidak suka. jika aku runtut dari awal, aku menyesal dipertemukan dengan mereka karena perasaan-perasaan aneh seperti ini. aku tidak ingin dilihat sebagai wanita lemah oleh siapapun. Aku kwon yuri. aku kwon yuri. aku kwon yuri.

Sehun mendapati mataku, aku berkedip beberapa kali. pandangan dingin pria ini bisa mengubahku layaknya es.

“k-k-kalian… tidak akan percaya ini—“ suara terbata-bata ini datangnya dari chanyeol. Ia duduk dan memperhatikan layar laptop nya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Aku dan beberapa pria di belakangku menghampiri chanyeol, penasaran dengan apa yang sudah dilihatnya.

Aku melihat satu tab dengan tulisan media player terbuka. Ada video yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Setting nya di sekitar parkiran mobil di bagian bawah kapal pesiar. Aku yakin dari beberapa mobil yang diparkir di sana, milik beberapa pejabat penting.

Seseorang terlihat mengobrol dengan pria lainnya ketika mobil ferrari berwarna merah menyalakan lampunya. Satu sosok pria berkacamata keluar melenggang dengan bebas di sana. menghampiri dua pria di depan mereka. satu pria dengan jas dan mantel coklat mengacungkan senjata, peluru menembus dahi seseorang yang sebelumnya adalah temannya.

Pria dari ferrrari tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. Ia merangkul pria dengan senjata dengan hangat. Pria ferrari membuka kacamatanya. Sementara pria dengan senjata perlahan berbalik ke arah kamera pengintai. Mereka berdua tersenyum. Memperlihatkan wajahnya secara gamblang dan jelas pada kami. Seolah-olah mereka ada di dalam video ini untuk menunjukkan sesuatu pada kami.

Aku tidak percaya ini. tapi kurasa lima pria di depanku lebih tidak percaya lagi.

Kedua pria itu aku kenal dari daftar pencarian orang hilang yang JYP berikan padaku. Mereka adalah Bang Yong Guk dan Thunder. Dua orang yang sedang kami cari. Mereka di sana, baru saja membunuh satu orang pria tidak dikenal. Mereka tersenyum, menunjukkan kemenangan. Aku menganga, membuka mulutku lebar-lebar. Kedua pria ini, nyatanya tidak hilang. Mereka masih hidup. indikasi latar belakang penyerangan mengerucut. Kasus ini menunjukkan benang merah yang menyembul sedikit. Setidaknya, antara Thunder, Yongguk dan Takada— ada sesuatu yang mendasar terjadi di antara mereka. sedangkan kasus hilang orang lainnya, mungkin akan segera terpecahkan ketika ini selesai.

Kudengar suara kecil di sana, mulut pria ferrari itu bercuap-cuap, aku bisa menangkapnya. Dia berbicara dalam bahasa inggris. Sangat jelas, bahkan hanya dari gerakan bibirnya.

Slotte knows too much, you must pay for it”

Kedua pria ini mengetahui kami ada di sini, mengetahui identitas kami. Satu pertanyaan baru timbul di kepalaku.

Siapa sebenarnya mereka?

***

107 thoughts on “JUST ME AND THE BOYS [Part 4]

  1. Lulu Kwon Eun G berkata:

    hadeuhh ngilu bgt baca.a pas Yuleon manjat tali d lift.. ah untung ada Sehun ^^
    tp sumpah keren bgt
    Next->>

  2. raditaputri berkata:

    pas baca scene yang Yuri manjat tali di lift itu, ngilu semua seluruh badanku, termasuk Gigi :v xD
    Apakah ada suatu kebenaran yang ditutupi disini?
    Bagus eon, wehhh, tegang badanku pas baca yang terakhir😀

  3. liliknisa berkata:

    Tegang baget ceritanya berasa memang nonton film action. Benernya ada rahasia apa yang belum tetungkap
    Lanjut kak ^^

  4. Anonym berkata:

    Yang lain ko pada tegang aku malah bingung -_- jadi si thunder sama yong guk itu siapa? Apa hubungannya sama takada -_- lanjut baca aja deh daripada bingung aku😀

  5. nurulnijma90 berkata:

    Oh..man! Ugh, ini action bgt pokoknya.apalagi scene takada choi, bisa lemah jg kalo lg panik begitu. Btw, 2 agen FBI yg di video itu kenapa nembak pria ga dikenal? pastinya dia ngelakuin sesuatu yg bikin dia ditembak,trs soal takada choi jd inceran, sbnrnya krn apa? masih misteri..

  6. jaimee raara berkata:

    kak omg berasa telat banget sih komentnya tapi seenggaknya ninggalin jejak dulu hehe
    kenapa aku tiba-tiba nge-ship sama HunYul yah? padahal prtama2 nya ngerasa mereka gak cocok banget, gak ada chemistri gitu *aelah, tapi setelah adegan2 yuri diselametin sehun itu kek wow gitu, dan pas tau yuri keadaannya diapit sama 2 lift hadu merinding disko lah:v ah kalimat terakhirnya bikin penasaran berasa kek nyalahin slotte, bahwa slotte itu udah tau terlalu banyak gitu tentang hilangnya mereka, goodjob kak:)

  7. RiKu.Cho04 berkata:

    Oh God, kemungkinan besar, beberapa orang hilang sbnarnya tdak hilang, bhkn mereka mungkin adl pnjhatnya, dan slotte team harus berhati2 krena ini permainan yg luar biasa bahaya… Ayo team Yul!! Kalian bisa…. Fighting..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s