THE STEWARDESS [Part 1]

The stewardess 3

Here it is the first chapter~~

***

Yoochun sedang tersenyum tipis pada smartphone nya. dia terpaku pada satu tab timeline di twitter miliknya. Setelah bosan, pria ini melemparkan asal benda itu. ia panjangkan kakinya, dan duduk like a boss di sebuah kursi yang sangat mewah. Pramugari bertubuh tinggi dengan rambut hitam yang lembut datang dengan senyum. Ia menyodori pria itu dengan satu buku menu. Gesture dari pramugari itu terlampau sopan, sehingga yoochun merasa tidak nyaman dengannya. Pria ini memesan makan secara acak hanya untuk mempersilakan wanita tinggi itu segera pergi dari hadapannya.

Yoochun memakai kacamata hitamnya, ia melandaikan tempat duduknya, kemudian tidur dengan nyaman di sana. tangannya ia lipat di atas dada.

Tidak sampai satu menit, pria ini terbangun dengan tiba-tiba. Ia mengambil sebuah buku di tangannya kemudian memanggil pramugari tinggi yang baru saja pergi.

yes, sir?” tanya pramugari itu dengan sangat sopan. Yoochun mendongak, melihat name tag yang tersemat di baju pramugari itu, ‘Choi Soo Young’, a korean.

“Soo Young-ssi, can you help me?”, sooyoung menaikkan salah satu alisnya. Ia menyunggingkan senyum di wajahnya, sambil menunduk kecil, “of course. What is it, sir?”

Yoochun tersenyum, tanpa ia sadari, senyumannya itu sudah berhasil melelehkan bagian terdalam dari hati sooyoung.

is there any stewardess named kwon yuri?”, yoochun awalnya terlihat ragu atas ekspresi bingung yang ditujukan sooyoung. Namun wanita ini mengangguk dalam detik ke sekian setelah jeda panjang dalam kebingungannya.

can you take her to me now?”

sure i can, but before that… apakah dia melakukan sesuatu yang salah di mata anda sehingga anda ingin menemuinya, tuan?”, yoochun tertawa kecil.

She did. A big one, batinnya.

anieyo, she is… “ yoochun berpikir. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia menyimpan diary wanita itu, dan bermaksud mempermainkannya dengan benda itu. “…she was my old classmate”

“ah~ wait a minute. I will bring yuri here”, sooyoung mengangguk tanda mengerti kemudian segera pergi dengan panik dari hadapan yoochun.

Yoochun terkekeh geli selepas sooyoung pergi. Ia mengambil topi ala koboi nya dan menaruh topi itu di wajahnya. Perutnya masih geli.

waeyo~, aku tidak mengenalnya sooyong-ah, kenapa kau melakukan ini padaku”

“ssstt~ kecilkan suaramu. Hadapi saja”

Yoochun terkekeh geli di balik topi nya. ia bisa mendengar derap langkah sepatu dua orang wanita perlahan mendekat. Tanpa perlu ia lihat, ia sudah tahu siapa pemilik langkah itu. bisikan protes beberapa kali dilemparkan oleh salah satu wanita di sana, sedangkan wanita lainnya hanya bertindak seperti robot dan menyuruhnya beberapa kali diam.

excuse me…”, Yoochun mengangkat topi dari wajahnya, ia masih dalam posisi berbaring. Matanya langsung menangkap sosok wanita rambut coklat dengan kulit agak gelap yang mengguratkan ekspresi kesal.

Yuri-ssi? Urimanya~”, yoochun mulai berakting seolah-olah ia telah mengenal yuri sejak lama, menepis mata curiga dari sooyoung yang menatapnya. Yuri tidak berakting saat ini, ia memang benar benar clueless dengan apa yang ada di hadapannya. Perlakuan yoochun saat ini dengan beberapa menit lalu membuat dunianya jungkir balik.

“sooyoung-ssi,  bisakah anda meninggalkan aku dan yuri-ssi sebentar? Kami perlu berbicara secara pribadi”, sooyoung menganggukkan kepalanya, ia menaruh satu jari telunjuknya di belakang lehernya, sooyoung menggaruk sesuatu yang tidak gatal di sana. yuri sempat menahan kepergian sooyoung dengan tangannya, namun yoochun membawa tubuh wanita ini terduduk di sebelahnya.

“apa maumu?”, tanya yuri galak.

“ew~ apakah kau selalu begini? Marah-marah pada passenger?”, yuri melipat tangannya, ia berdiri perlahan. Namun tangan yoochun mendorongnya dari samping sehingga ia terduduk kembali, tepat di sebelah jendela. Yuri mulai memajukan bibirnya, memandang arah berlawanan dengan wajah yoochun.

“lihat ini”, yoochun mencolek bahu yuri, meminta perhatian yuri pada sebuah buku yang dipegangnya. Namun yuri tidak merespon, ia bahkan menepis tangan yoochun dari bahunya dengan kasar. Jika saja ia tidak sedang dalam ruang publik, mungkin yoochun sudah menendang wanita arogan ini entah kemana.

“kau tidak ingin buku ini?”, yuri menajamkan pendengarannya saat ia menemukan kata ‘buku’ dari mulut yoochun.

“sebuah… diary?”, yoochun melempar-lemparkan buku itu di udara, suara yang ditimbulkan dari gerakan itu mampu membuat yuri menoleh sepenuhnya, memusatkan seluruh perhatian dari matanya pada yoochun. Pria ini dengan arogan, menghentikan aktivitasnya, ia menjulurkan buku itu tepat di depan hidung yuri. ketika yuri ingin meraihnya, dengan cekatan yoochun menariknya kembali.

“tidak semudah itu”

that is mine”

“i know”

“so what is your problem? Give it to me”

“my problem? Masalahku katamu? Apa menggunakan toilet passanger bukan masalah buatmu? bagaimana jika aku komplain? Bagaimana jika gajimu dipotong? Itu bukan masalah?”

Yuri memandang yoochun dengan jijik, “aku sudah meminta maaf untuk itu”

“apa menurutmu maaf saja cukup?”, yoochun menaikkan salah satu sudut bibirnya, membentuk wajah yang berkharisma namun tetap terkesan menyebalkan.

“lalu apa maumu?”, ucap yuri. di akhir kalimatnya ia menghembuskan napas panjang, tangannya kembali dilipat di depan dada. Ia duduk dengan tegak, lebih tegak dari sebelumnya. Pandangan matanya lekat pada pria arogan di depannya.

“jadi pramugari pribadiku sampai penerbangan ini selesai”

“kau sudah memiliki Sooyoung-ssi

Yoochun tersenyum lebar pada yuri, ia meraih smartphone miliknya kemudian mengetikkan beberapa huruf di sana. tidak lama kemudian, pria ini terlihat sedang berbicara melalui headset  nirkabel pada telinganya. Pembicaraan nya menggunakan bahasa inggris, dan yuri bisa mengerti dalam satu kesempatan.

“selesai”, sahut yoochun ketika ia melepaskan headset nya. yuri memandang pria ini dengan amarah. Bagaimana bisa yoochun berani-beraninya menelepon atasannya hanya untuk pekerjaan pramugari eksklusif yang mendampinginya. Ini tidak masuk akal. Dan lagi, yuri bisa memastikan bahwa di waktu yang sama, lain tempat, sooyoung pasti sedang memaki-maki dirinya karena tiba-tiba berganti posisi dengannya.

“kau puas?”, yuri berdiri. Ia terlihat sangat kesal

“apa kau ingin mengambilkan minuman untukku dengan berdiri seperti itu?”, yuri menggigit bibirnya karena menahan amarahnya, ia memutar bola matanya.

“aku pergi”

“kau akan kehilangan pekerjaanmu, yuri-ssi”, langkah yuri sempat terhenti. Namun ia memutuskan bahwa kehilangan pekerjaan sebagai pramugari bukan sesuatu yang mempengaruhi hidupnya, jadi ia terus melangkah.

“…dan diary mu juga”, kalimat terakhir yoochun bagaikan peluru yang menembus otaknya dengan kilat. Untuk sepersekian detik, yuri dilanda kebimbangan. Ia hampir saja lupa bahwa buku berharga miliknya masih ada dalam genggaman pria menyebalkan itu. kehilangan pekerjaan bukan sebuah ancaman baginya, namun kehilangan sebuah buku diary, akan besar sekali efeknya untuk yuri.

nice girl”, puji yoochun ketika yuri dengan perlahan berjalan mundur ke tempatnya semula. Yoochun merasa sangat bahagia karena bisa mengerjai seorang wanita dalam waktu senggangnya. Sudah lama ia tidak melakukan ini.

“jadi, bisa ambilkan aku minum, yuri-ssi?” ucap yoochun nakal sembari melemparkan buku diary yuri ke udara. Yuri tidak mempunyai pilihan selain segera beranjak dan mengambilkan segelas minuman untuk yoochun. Wanita ini dengan kesal menyodorkan gelas penuh air itu di depan wajah yoochun, membuat beberapa percikan air melayang bebas ke permukaan hidung pria tampan itu.

Yoochun hanya menatap yuri dengan senyum mengembang di salah satu sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangannya, mengambil satu buah gelas di tangan yuri. tangannya sempat bersentuhan dengan tangan yuri, sehingga yuri dengan cepat melepaskan genggamannya di gelas tersebut. Untungnya, gelas tersebut sudah berada sepenuhya di genggaman yoochun, sehingga gaya gravitasi tidak menariknya jatuh.

“sampai kapan kau akan berdiri di sana?”, ucap yoochun segera setelah ia meneguk air di gelasnya beberapa kali. mulut yuri mengatup, matanya berputar ke atas, kemudian kembali normal dalam beberapa detik. Ia bersikeras berdiri di samping yoochun dengan tangan terkait di depan dadanya, enggan kembali duduk di sebelah pria itu.

“baiklah, silakan berdiri hingga kau pingsan”

Yoochun melandaikan kursinya, ia berbaring dengan mata tertutup. Ia  letakkan topi di atas wajahnya. Seolah tidak peduli ada seorang wanita yang bersikukuh berdiri di sebelahnya.

Yuri mencuri pandang ke buku miliknya yang tergeletak bebas di kursi yang semula ditinggalkannya. Entah sengaja atau tidak, tapi buku itu bebas dari tangan yoochun. Yuri memperhatikan gesture pria itu dengan seksama, menunggu yoochun benar-benar terlelap.

Setelah ia rasa aman, yuri mulai merendahkan tubuhnya, ia dengan sangat hati hati mengulurkan tangannya pada kursi kosong di sebelah yoochun. Ini tidak mudah, setidaknya yuri harus waspada karena kaki yoochun yang menghalangi tangannya.

Tubuh yuri semakin merendah setiap detiknya, tangannya tidak cukup panjang untuk meraih diary itu. jadi dia harus menundukkan tubuhnya dan mencondongkannya ke depan.

Tanpa disadari yuri, pria di depannya yang sedang berbaring perlalah tersenyum di balik topi nya. sejalan dengan badan yuri yang semakin condong, pria ini terkekeh, mengembangkan senyumannya lebar.

Tepat di detik ketika yuri hampir mendapatkan bukunya, yoochun bergerak, menggeliat sedikit dan membelakangi yuri.

Yuri refleks mundur beberapa langkah dan usahanya sejak beberapa menit lalu otomatis gagal.

Ia mencaci yoochun di dalam hatinya. Di lain pihak, yoochun berusaha dengan sangat kuat untuk menahan rasa geli di perutnya. Yuri- gadis pramugari itu telah banyak menyita perhatiannya saat ini. setidaknya ia tidak harus berdiam mematung di perjalanannya kali ini. ia tidak perlu memikirkan bagaimana pekerjaan membuatnya menjadi tertekan. Ini adalah hiburan kecil untuk yoochun. Tapi hiburan kecil ini, adalah malapetaka untuk yuri.

­-the stewardess

YURI POV

dear passenger, we are arrrived in Rome. Pelase check your luggage and mind your step..” suara pengumuman kencang dari speaker yang ada di dinding besi mengagetkanku. Ini bukan kali pertama aku mendengar suara seperti ini, tapi keadaan di sekitarku yang sedikit membuat perbedaan kali ini.

Aku berada di satu seat, di sebelah seorang pria dengan rambut hitam yang sangat menyebalkan. Park Yoo Chun, mereka bilang ia adalah seorang aktor. Tapi menurutku ia tidak lebih dari seorang pria egois yang arogan. Dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang aktor- tidak di saat ia tidur.

Aku bersumpah aku bisa melihat wajahnya yang menggelembung seperti sapi glonggong. Aku berlebihan?, tapi ini caraku mengekspresikan betapa menyebalkannya pria ini.

Aku melihat topi yang jatuh dari wajahnya, pria ini tidur dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Apa dia tidak apa-apa jika kumasukkan sebotol racun pada mulutnya? Aku ingin sekali melakukannya. Tapi tidak saat ini.

Aku sudah selesai dengan tugasku. Kami telah sampai di Roma dan pria ini seharusnya sudah turun di sini. Begitu juga aku, aku harus menunggu tugas ku 3 hari lagi dari sekarang, saat penerbangan Roma-Seoul mendatang. Dan rencanaku dalam 3 hari itu adalah, aku akan berjalan-jalan sebentar di Roma.

Aku tidak pernah bosan dengan negara ini. negara ini sangat kecil namun keajaiban setiap peradaban ada di dalamnya. selain gereja besar, negara ini dipenuhi dengan bangunan ala romawi yang sangat memanjakan mata. belum lagi masalah transportasi, bisa dibilang negara ini dihiasi dengan jalan setapak dan tangga-tangga. Jalanannya berlika-liku, aku tidak memerlukan transportasi untuk ini. aku lebih suka menjadi pejalan kaki jika aku kebetulan singgah di Roma dalam setiap tugasku.

Aku akan berada di sebuah hotel yang lumayan nyaman di daerah tengah Roma. Namanya Chicago Hotel. Aku tidak tahu mengapa aku menyukai hotel ini, ah~ mungkin karena resepsionis nya yang merupakan imigran dari Afrika yang selalu membuat hal lucu padaku. He is so kind. Namun di dalam umurnya yang masuk ke kepala tiga tahun ini, ia masih belum mempunyai pasangan hidup. dan itu yang membuat kami dekat.

Aku –meskipun tidak berada dalam umur yang sama dengan pria itu, tapi aku juga belum mempunyai pasangan hidup hingga saat ini. bukan aku tidak mencari atau aku tidak menarik, tapi aku terlalu introvert. Aku berada di dalam duniaku sendiri. Sampai saat ini, tidak ada satupun pria yang benar-benar bisa mengertiku, sehingga sendiri adalah keputusan yang tepat untuku saat ini.

Aku segera merapikan bajuku, berjalan menjauh meninggalkan yoochun dengan wajahnya yang semakin menggembung setiap detiknya. Mungkin dia akan meledak, entahlah.

Saat aku berjalan ke locker di bagian ruang pramugari, semua temanku memandangku dengan aneh. Aku bisa membaca nya melalui satu kali saja kilatan yang terlihat di sudut mata mereka. mungkin mereka marah padaku, kesal karena sesuatu.

Seseorang yang kukenali sebagai Jiyeon, mendorongku hingga kepalaku terbentur ke dinding. Ia dengan jijik menindaiku dari atas kepala hingga ujung kaki. Kemudian senyuman sinis nya mengembang menyebalkan. Aku tidak pernah akur dengan wanita satu ini, meskipun ia ada di dalam beberapa tahun pekerjaanku.

Dan sepertinya, ia juga tidak ingin menunjukkan niat baiknya untuk berteman denganku, dibuktikan dengan tindakannya saat ini.

“kau senang?”, ucapnya sinis. Jarak kami terlalu dekat, sehingga aku bisa merasakan hujan air liur yang mendarat bebas di permukaan wajahku. Alih-alih jijik, aku merasa kasihan pada wanita ini.

“kenapa aku harus senang?”, aku tidak ingin memadamkan api, aku mengobarkannya. Wanita ini, bagaimanapun harus diberi pelajaran.

cih. Hanya karena Yoochun adalah sahabat mu, tidak berarti kau bisa menukar posisi mu dengan Sooyoung di sana. kau harusnya bisa membedakan mana pekerjaan dan mana urusan pribadi”

Gotcha ! tepat seperti apa yang aku duga. Jiyeon membahas permasalahan Yoochun dan aku. Aku mencoba mencari sedikit pandangan dari mereka yang berbaris di belakang Jiyeon. Tapi jujur saja, mungkin Jiyeon hanya mencari alasan tidak masuk akal ini untuk memulai perdebatan denganku, karena aku tidak melihat sosok Sooyoung –yang harusnya lebih marah dari Jiyeon di hadapanku.

“kau iri?”

“kau gila? Iri padamu?”

just accept it

Ya! kalian dengar Kwon Yuri ini berkata apa? apa kita iri padanya?”, Jiyeon melemparkan pertanyaan pada mereka yang berdiri berderet di belakangnya. aku bisa mendengar kata ‘no’ secara bersamaan dengan berbagai bahasa. Ada yang mengucapkan dalam bahasa korea, dan ada yang mengucapkan dalam bahasa inggris. Namun ada juga yang lebih suka menggunakan bahasa tubuhnya -diam.

Mereka yang diam, aku yakin mereka hanya diperalat oleh jiyeon. Aku tidak mau ambil pusing. Aku dorong tangan wanita ini menjauh dari setiap jengkal rambutku, dan aku bergegas menghampiri locker, mengambil barang barang ku dengan cepat sebelum ia sempat berbicara lagi.

“kau takut padaku?”, tanya wanita itu. aku tidak begitu menginginkan pertengkaran saat ini. jadi aku hanya membiarkannya dan lewat di depan wanita itu dengan menghela napas yang sangat panjang.

“aku sudah muak denganmu, Kwon Yuri”, aku sempat tersedak ketika Jiyeon memanggil namaku dengan vulgar. Ia bahkan tidak menyelipkan kata panggilan yang sopan seperti yang biasanya ia gunakan. Dia lebih muda beberapa tahun dariku, setidaknya dia harus memanggilku eonni atau menyisipkan –ssi dalam memanggil namaku.

Perbuatannya cukup menunjukkan seberapa bencinya ia padaku. Kata kata nya yang ‘aku sudah muak denganmu’ mungkin memang benar-benar berasal dari hatinya yang terdalam.

“baiklah, aku mengerti kau muak padaku…” sahutku singkat, aku memegangi tali tas ku erat, dan membelakangi wanita itu. aku buka ikatan rambutku perlahan, sehingga mereka bisa melihat rambut coklatku yang tergerai kusut di punggungku.

“…tapi aku tidak pernah membencimu”

Di akhir kalimatku, aku segera menghilang dari sana. suasana menjadi sangat tidak nyaman untukku. Dan jika boleh aku berspekulasi, ini semua berasal dari pria menyebalkan dengan pipi bergelembung yang entah ada dimana saat ini.

aishh… jinjja”

Aku mengeluh, mengacak-acak rambutku sambil berjalan cepat dengan langkah yang lebar. Beberapa penumpang menatapku dengan aneh. Seperti mereka baru pertama kali melihat pramugari dengan rambut tergerai, dan langkah lebar seperti gorilla.

Aku mengambil koperku tanpa perlu mengantri lagi, karena aku adalah bagian dari mereka, -petugas bandara. Aku segera berlari ke toilet, mengganti pakaian ku dengan beberapa potong busana yang aku bawa di dalam koper. Aku mengenakan setelan hot pants yang dipadukan dengan tanktop hitam dan blazer berwarna biru. Tidak lupa aku ikat rambutku spiral di belakang kepalaku. Sebagai sentuhan terakhir, aku memakai kalung panjang dan sebuah kacamata hitam

I am a fashion terrorist. Tapi aku tidak peduli.

Aku berjalan menyeret koperku keluar dari bandara. Aku lihat taxi di sana, dan tanpa ragu aku memberhentikannya.

Entah ada gempa darimana, aku merasakan tubuhku terdorong ke samping. Aku sempat tidak sadar apa yang terjadi dalam beberapa detik. Namun ketika melihat sosok pria di depanku, aku tahu apa yang terjadi.

Yoochun ada di sana, mendorongku untuk masuk taksi terlebih dahulu.

what are you doing? Let me go first”, aku menarik tas punggung pria itu, sehingga separuh tubuhnya keluar dari taksi.

“aku sedang terburu-buru”

“apa di wajahku tertulis kata peduli?”

jebal, aku akan terlambat”, ucapnya sambil berusaha masuk ke dalam taksi. Aku menariknya lagi sehingga adegan tarik menarik terjadi. Beberapa orang asing memandangiku dengan heran. Bahkan aku bisa melihat supir taksi kebingungan. Ia tidak mengerti bahasa korea rupanya.

Beberapa petugas bandara terlihat mulai berjalan ke arah kami. Aku mengenal dua orang di antara mereka. namun aku tidak tahu bagaimana kesan mereka padaku karena kejadian ini. Yoochun, pria itu masih bersikeras ‘mencuri’ taksi dariku. Ia bahkan mengeluarkan tenaga yang lebih besar agar tubuhnya berada di dalam taksi.

Okay, i am giving up.

Pria ini berkepala batu. Dan aku tidak mau berurusan dengan seseorang yang mempunyai batu di kepalanya. Aku melepaskan tarikanku padanya, sehingga pria ini terpental masuk dengan keras ke dalam taksi. Ia tersungkur dengan wajah yang membentur satu pintu taksi di depannya.

Belum selesai sampai disitu, aku menendang pantatnya. Membuat pria itu sekali lagi tersungkur lebih hebat. Aku berbalik dan melihat dua orang petugas bandara perlahan menjauh dari hadapanku. Mereka seperti nya mengerti bahwa aku menyerah dengan adegan tarik menarik tidak penting di sini.

Saat aku berjalan, aku masih melihat koper yoochun yang masih berada di luar taksi, terabaikan. Jika pria ini baik padaku, maka aku akan dengan senang hati memberitahunya bahwa kopernya hampir saja tertinggal. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu.

Aku segera berjalan menjauh, memberhentikan satu taksi yang berbeda.

Chicago Hotel, please” ucapku sambil menepuk pundak supir taksi. Ia mengangguk dan menyalakan argonya. Mobil pun segera meluncur bebas dari bandara, meninggalkan setiap inci kejadian tidak menyenangkan saat ini.

Aku baru saja akan bernapas lega ketika aku teringat sesuatu. Sesuatu yang pertama kali aku lupakan di sepanjang sejarah hidupku. Aku menggigit lidahku, membelalakkan mata dan berusaha bernapas dengan normal. Pria itu…… pria itu masih membawa buku diary ku.

 

­-The stewardess

 

Aku termenung, duduk di pinggiran kasurku. Tidak besar, tapi cukup empuk untuk dijadikan teman semalaman. Sprei berwarna cream nya aku ganti dengan sprei baru. Aku sedikit memiliki pengalaman buruk dengan sprei hotel. Jadi setiap aku singgah di sebuah hotel, aku selalu meminta ganti sprei nya, dan me-laundry sprei original nya.

Baru saja sprei baru berwarna putih polos nya datang, romm-boy mengantarkannya padaku. Kebetulan pria ini adalah pria korea yang bekerja di Roma. Jadi aku bisa dengan santai melakukan chit-chat dengannya.

Ia membawakan aku cappucino ala Italy. Hanya secangkir kecil. tapi rasanya? Aku tidak akan melupakannya. Ini merupakan kopi yang terenak yang pernah kucoba.

Saat ini aku masih duduk di pinggiran kasurku sambil sesekali menyeruput kopi panas di tanganku. Rambutku masih basah dan aku masih mengenakan piyama mandi. aku menyalakan TV setelah aku letakkan cangkir kopiku di permukaan meja rias. Aku memesan room yang tidak terlampau mewah, namun cukup untuk kebutuhanku selama 3 hari ke depan. Sehingga wajar jika saluran TV yang tersedia saat ini tidak selengkap jika aku berada di VVIP room.

Gambarnya jernih. Namun tidak semua berbahasa inggris. Kuakui aku cukup bingung dengan bahasa latin yang berseliweran di telingaku setiap aku mengganti channel. Satu-satunya channel yang berbahasa inggris dan tidak terlalu membosankan adalah saluran fashion.

Aku membiarkan TV menyala sementara aku sibuk dengan ponselku. Sambil me-recharge, aku iseng mengirimkan beberapa pesan dan selca ku pada Tiffany. Dia pasti sangat iri sekarang . dia ingin sekali pergi ke Roma. Namun tugasnya ada di penerbangan kawasan Asia. Kesempatan itu belum datang padanya.

Setelah puas mengerjai Tiffany, aku membuka handuk yang melilit kepalaku. Aku mencari hair dryer dan mengeringkannya dengan segera. Sesuatu mengganjal di kepalaku. Mengenai buku diary ku yang terbawa si aktor picisan itu.

Aku memiliki kemungkinan bertemu dengannya di Roma, karena negara ini sangat kecil. tapi jika kesempatan itu tidak datang juga, mungkin aku akan bertemu dengannya di bandara. Atau aku hanya perlu meminta petugas bandara Roma agar menggeledah isi koper pria bernama Park Yoo Chun.

Aku tersenyum, hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat aku senang.

Setidaknya hatiku menjadi lebih ringan.

Aku mematikan hair dryer ku. Rambutku tidak benar-benar kering, namun ini cukup untuk memakaikan vitamin di rambutku. Sejak diwarnai menjadi coklat, rambutku jadi sering kering dan bercabang. Aku harus ekstra hati-hati dalam merawatnya. Bagaimanapun rambutku adalah mahkota. Posisinya sama seperti diary ku.

Ah~ diary itu. aku berharap pria brengsek itu tidak mencoba membacanya.

Aku duduk di depan cermin, menatap wajahku lengkap dengan lengkungan hitam di bawah mataku. aku menutupnya dengan make up di sana sini, membuat wajahku kembali fresh. Aku tidak perlu melakukan ini jika aku akan tidur, namun saat ini aku ingin sekali berjalan-jalan keluar. Menghirup udara Roma yang sekali lagi aku rasakan.

Lagipula ini pertama kalinya aku ke Roma di saat musim semi. Aku ingin tahu seperti apa gelato yang dimakan di musim semi. Dan juga pizza mini yang dijual dan dijajakan di sepanjang jalan kecil di dekat Pantheon. Lagipula kopi di sana sangat enak. Tidak cukup satu cangkir untuk rasa yang benar benar menyenangkan.

Hanya dengan membayangkannya saja, air liurku hampir saja menetes. Aku harus cepat keluar, mencari dinner di sekitar hotel. Walaupun hotel menyediakan makanan ala Italy, tapi berwisata kuliner, lebih menyenangkan. Aku menyisir rambutku asal. Membiarkannya tergerai. Kupakai kaus dan sebuah rok mini. Kemudian aku balutkan tubuhku dalam blazer yang panjangnya hingga ke siku kaki ku. Aku pakai sebuah topi rajut tipis di kepalaku, hanya sebagai fashion.

Setelah aku rasa sempurna, aku keluar dari kamar. Menuju satu tempat kemana kakiku melangkah.

going out, mam?” seorang pelayan hotel menyapaku ramah, aku hanya mengangguk dan tersenyum. Beberapa petugas vallet sedang sibuk di depanku. Aku melewatinya dengan sedikit tersenyum. Namun ahjussi di sana tidak mengindahkanku.

Whatever.

Mood ku sedang bagus saat aku melihat beberapa penjaja souvenir khas Roma tidak jauh dari hotel. Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 6, dan mereka masih berjualan dengan giat. Betul-betul etos kerja yang sangat tinggi. Tidak heran kualitas hidup mereka sangat bagus di sini.

Aku berencana tidak pergi jauh, setelah membeli salah satu gantungan eiffel –yang mana bangunannya tidak terdapat di Roma, aku bergegas mencari kedai-kedai kecil tempat para pedagang lokal menjual panini dengan harga miring.

Memang tidak se-enak yang biasa kumakan di Hotel. Tapi dengan satu gigitan saja, aku bisa merasakan sensasi Italia merangsang masuk ke tenggorokanku. Ini ddabong.

wanna drink something?”, pelayan kedai dengan setelan sederhana dan rambut berantakan menghampiriku. Aku bersyukur ia bisa mengunakan bahasa inggris. Aku tidak perlu repot-repot membuka kamus bahasa Italia ku di depan umum. Wanita yang menawariku itu termangut mangut dan segera pergi ketika aku minta secangkir coffee frappe padanya.

Tidak perlu menunggu lama, ia datang dalam 10 menit dengan membawa cangkir unik berwarna coklat. Kopinya masih panas sehingga aku perlu mendiamkannya beberapa menit.

spoon?” ucapnya menawarkan satu buah sendok mungil padaku. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Aku tidak mmengkonsumsi gula dalam program dietku. Aku hanya perlu menyeruput kopi ini pelan pelan, agar aku tetap bisa menikmati citarasa nya namun dengan lidah yang tidak terbakar.

excuse me… can you tell me where is  the Chicago Hotel ?”, seorang pria di belakangku terdengar sedang menanyakan sesuatu pada pemilik kedai. Jika aku tidak salah dengar, ia menyebutkan nama Chicago Hotel dalam kalimatnya.

you almost there. Just go straight on a few meters, Chicago Hotel is on the left” wanita paruh baya itu terdengar dengan sabar menunjukkan arah pada stranger di belakangku.

thank you. Thank you very much. I got lost for a few hours because of the fake taxi driver”, aku ingin tertawa. Stranger itu tersesat karena pengemudi taksi? Dia bodoh atau apa? tapi aku bersyukur, aku tidak pernah disesatkan oleh supir taksi selama berada di Roma.

Ku dengar suara pria itu perlahan menjauh. Sepertinya dia sudah pergi.

poor him”, pemilik kedai menangkupkan tangannya di depan dada sambil memperhatikan punggung pria berjaket hitam yang barusaja pergi. Ia masuk ke dalam kedai, dan kembali larut dalam pekerjaannya.

what happen with him, mam?” sahutku, aku cukup penasaran.

his luggage was stolen, and he lost”

“stolen?!” aku kaget.

“yah. he said that one of his luggage still on the taxi when he get off, and the taxi driver run”

“poor him…” aku bisa merasakan perasaan turis itu saat ini. kehilangan salah satu barang bawaannya di sebuah taksi dan dibawa kabur oleh supir taksinya adalah pengalaman yang sangat tidak menyenangkan. Aku pernah sekali mengalaminya, namun aku lebih beruntung, karena aku berada di Seoul saat itu.

he said that he was a korean, he has same eyes with you, lady

really?”

Ibu pemilik kedai itu hanya mengangguk. Seorang pria korea datang ke Roma dan kehilangan barang bawaannya di taksi?, aku harus membantunya. Aku cukup kenal dengan kedutaan Korea di sini. Dan lagi, aku berasal dari rumpun negara yang sama dengannya, rasa sosialis-kemanusiaan aku bekerja. aku tidak bisa membiarkan pria malang itu homeless. Apa jadinya jika ia jadi gelandangan di Roma, dan tidak bisa kembali ke Korea.

Aku segera menyeruput kopiku –dengan bodohnya. Aku tahu itu masih panas.  Tapi aku tidak bisa menyia-nyiakan kertas euro yang sudah kutukar dengan kopi ini walaupun aku sedang terburu-buru sekarang.

mam, thank you. I’ll go now” aku tersenyum pada si ibu pemilik kedai. Ia mengangguk dan membalas senyumanku dengan ramah. Segera setelah aku benar benar keluar dari kedai, aku berlari dengan kencang, menunjukkan keahlian dari marathon ku yang terpendam.

Aku bisa melihat pria dengan jaket hitam di kejauhan. Dia menyerat sebuah koper dan membawa tas punggung di tangan kirinya. Sepertinya ia merusak tali tas punggungnya itu.

SIR, EXCUSE ME, SIR !” Aku berteriak. Pria itu menoleh padaku, namun aku tidak bisa melihat dengan jelas karena keremangan jalan yang pekat.

Aku terus berlari, menghampiri pria asing itu. aku terengah-engah setelah berada di hadapannya. Aku menundukkan tubuhku untuk bernapas.

i—-i am sorry for disturb you… but you——–“, aku baru saja akan berbicara dan menawarkan bantuan padanya. Namun aku cukup kaget melihat wajah yang sangat familiar di depanku, sangat familiar hingga tanganku gatal ingin menonjok jidatnya yang lebar.

Ketika ingatanku kembali memutar percakapan antara aku dan pemilik kedai, lautan tawa tertahan di tenggorokanku. Jika itu benar, maka pria ini –Yoochun, adalah pria yang kehilangan barangnya saat ia menaiki taksi yang sebelumnya menjadi rebutan antara aku dan dia.

Aku bersyukur bukan aku yang menjadi korban.

“kenapa kau ada di sini, yuri-ssi?”, Yoochun ternyata tidak kalah kagetnya dengan aku. Tapi aku berani bertaruh ia tidak sekaget ekspresi ku saat ini.

wae? Apakah aku tidak boleh berjalan-jalan di Roma? Apakah Roma sudah kau beli?”, aku berkacak pinggang. Pria ini selalu membuatku marah apapun yang dia katakan.

ani,  bukankah kau adalah pramugari? Kenapa kau di sini? Kau seharusnya bekerja”

“menurutmu?”, aku mendongakkan daguku agar sejajar dengan wajahnya yang menyebalkan. Ia berdecak padaku, menggelengkan kepalanya dan meninggalkanku berkacak pinggang dalam keremangan malam.

Ya ! ya! ya!”, aku menyusulnya dengan cepat.

“apa lagi? aku sudah selesai denganmu”, ucap Yoochun malas. Ia terlihat… sedikit kusut dan kelelahan. Tapi ini bukan menjadi alasan aku tidak jadi bertanya padanya. Aku harus menanyakan sesuatu yang sangat penting pada pria ini.

“berikan aku buku milikku sekarang”, aku menarik bajunya, membuatnya berhenti dan berbalik ke arahku.

“bukumu sudah tidak ada padaku”, jawabnya singkat. Pria ini berjalan kembali dengan gamang, bagai seonggok zombie. Aku yakin jika di sini ada Alice dari Resident Evil, mungkin pria ini itelah ditembak mati karena disangka terjangkit virus zombie.

“apa maksudmu dengan bukuku telah tidak ada padamu? Kau menghilangkannya?”

“bukan aku, tapi taksi bodoh itu. ia membawanya beserta semua koper kecilku”

“jadi maksudmu…”

your book is officially missing, girl”, aku menarik napas panjang, mengatur emosiku, aku mengepalkan tanganku kuat kuat. Berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di dalam otakku.

..and you are responsible for it”, responku. Aku memiliki sebuah ide di kepalaku dan aku jamin, ide ini akan menjadi pengalaman hidup yang tidak terlupakan untuk pria arogan ini.

End Of Yuri POV

–The stewardess

Yoochun sedang duduk dengan tenang sambil menyeruput susu hangat nya ketika yuri datang dengan senyum bahagianya. Pria ini meletakkan cangkir susu nya dan mengambil sebuah roti yang sebelumnya telah ia lapisi dengan selai strawberry.

Yuri duduk dengan membawa nampan penuh roti dan minuman hangat. Selera makannya bertambah di pagi hari ini, seiring dengan kebahagiannya yang merasuk tiba-tiba.

Yoochun melihatnya dengan jijik. Ia awalnya berharap gadis ini tidak duduk satu meja dengannya, namun langkah kaki gadis itu sudah terlanjur terpaku pada meja yang ditempatinya saat ini.

morning~” sapa yuri ramah pada yoochun. Yoochun memalingkan wajahnya, dan memilih memandangi beberapa pria dan wanita bule dengan tinggi menjulang.

i say morning”, ucap yuri menegaskan, kali ini dengan lebih tegas, dibubuhi senyuman di wajahnya. Jarinya ia ketuk ketuk beberapa kali di atas meja kayu, tubuhnya merendah ke belakang, bersandar pada kursi. Kakinya ia tumpang tindihkan dengan kakinya yang lain. Secara ajaib, kali ini ia menjadi sangat arogan dari biasanya.

Yoochun berdehem. “morning”, ia berucap singkat. Facial expression nya tidak menunjukkan satu kata yang ia ucapkan. Wajahnya tidak menunjukkan cerahnya matahari pagi, namun mendung dan gerimis yang bisa ia lukiskan di sana.

“kenapa denganmu? kau terlihat… gloomy?”, saat menyebutkan ‘gloomy’ dalam kalimatnya, yuri hampir saja tertawa. Seolah ia telah melakukan knock down dalam pertandingan arogansi antara dirinya dan pria di depannya.

“apa kau membutuhkan jawaban?”, sahut yoochun. Ia mulai menatap lawan bicaranya.

“menurutmu?”, yuri menaikkan satu alisnya. Dan tertawa lebar. Ia menyeruput susu hangat dan menggigit ujung rotinya. Tidak mengindahkan yoochun yang sudah menunjukkan urat di lehernya.

Yoochun mengeluh, ia tidak bisa menghindari dari ini. malam tadi, semuanya menjadi berubah 180 derajat, dan itu disebabkan oleh wanita di depannya.

Flashback

..and you are responsible for it”, sahut yuri.

“responsible? The one that responsible is that damn driver, you know”

“i don’t care about the driver. Menurutku kau yang bersalah”

“wae?”

“kalau saja kau mengembalikkan buku ku segera, atau setidaknya membiarkan aku yang naik taksi itu, semuanya tidak akan menjadi seperti ini. kau bersalah”

“aku tidak bersalah”

“YES, you are. Kau bersalah”

“…..”

“kau kehabisan kalimat? Bisakah aku membantumu? Aku sarankan kau mengucapkan ‘maaf’ segera”

“baiklah. maaf. Tapi kau tahu aku tidak bersalah”

“aku bukan tipe wanita yang dengan gampangnya mengubah pendirianku, kau tetap bersalah, meskipun kau tetap meminta maaf hingga mulutmu berbusa”

“lalu untuk apa kau memintaku meminta maaf tadi?”

“aku mengerjaimu, tentu saja”

“… sekarang apa maumu? Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silakan pergi dari hadapanku”

“eit, tidak bisa semudah itu. aku mengatakan kau bersalah dan kau bertanggungjawab atas kesalahanmu”

“apa yang dapat aku lakukan lagi? kau ini membingungkan”

“tidak sulit, tapi aku ingin bertanya… apakah kau kehilangan dompet dan semua uangmu?”

“hanya koperku yang hilang, di dalamnya hanya bukumu dan beberapa peralatan pribadiku. Oh iya pasporku juga berada di sana. Dompet dan isinya masih utuh bersamaku”

“bagus. Kalau begitu ini sempurna”

“apa yang sempurna?”

“sebagai syarat menebus kesalahanmu padaku karena menghilangkan benda berhargaku, aku meminta agar kau mentraktir aku selama di Roma. Bagaimana?”

“me—-apa??? mentraktirmu?”

“pilihannya hanya dua, iya atau setuju. Kau pilih yang mana?”

“kau gila”

“menurutmu? Ingat kau tidak punya pilihan. Kau hanya perlu menghabiskan uangmu untuk dua orang. Kau dan aku, dan aku mungkin akan membantumu mencari paspor dan kopermu yang hilang. Aku mengenal Roma. Aku mengenal kedutaan Korea, dan Kau akan membutuhkan bantuanku”

“…”

“so, gimme your answer, yes or deal?”

“…”

“your silent means yes, then”, yuri tersenyum. “OK. See you tomorrow at 6 a.m, we will start our trip”

End Of flashback

Yoochun tersedak dengan ludahnya sendiri. Ia yakin dirinya tidak setuju dengan usulan gadis gila di depannya. Namun janji gadis ini mengenai membantunya mencari kopernya dan pengetahuannya tentang Roma cukup menggiurkan. Ia akan lebih menghemat biaya sewa tour guider.

“kau melamun?”, Yuri mengagetkan yoochun. Saat ini piring di atas meja sudah bersih, yuri –yang sebelumnya berpikir bahwa ia sedang dalam diet ketat, telah menghabiskan semuanya dalam satu kesempatan. Ia bahkan masih mampu mengunyah salad segar yang tersaji Cuma-Cuma di atas meja.

“kau ada rencana kemana hari ini?”, sahut Yoochun. Ia berusaha tidak berekspresi agar gadis ini tidak semena-mena padanya.

“tentu, kita akan bertemu dengan Kim Jae Joong hari ini”

“Kim Jae Joong? Siapa dia?”, yuri menggeliat, menepuk nepukkan pipinya lembut kemudian berdiri, ia bawa tas kecil  yang ia kaitkan di bahu, kemudian tangannya terjulur, menarik tangan yoochun dari atas meja.

“kau akan tahu”, ucap yuri singkat. Matanya sedikit mengerling, kemudian mereka berjalan dengan terburu-buru.

Seorang wanita dan pria yang bertemu dengan cara yang aneh, sifat yang berbeda dan nasib yang sama sekali tidak relevan satu sama lain itu, keluar dari hotel dengan dua perasaan berbeda. Sunny dan gloomy.

–The Stewardess

.Leave your RCL as always dear nice readers.

86 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 1]

  1. Ersih marlina berkata:

    Haha, lbih mlih khlangan pkerjaan dari pda buku diary nya, ckckcc aneh kk

    poor yoochun, kopernya d gondol supir taksi, bukannya maling hehe

    pertemuan mereka. D tunggu sling cintanya deh
    lnjt bca, hwaiting ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s