Safe and Sound – From EXOYUL Series

EXOYUL - Lay

Series Pertama.

Yuri – Lay Version.

Genre : Action, Thriller, Romance.

Based on Taylor Swift’s Song ‘Safe and Sound’

Disclaimer : lagu dari Safe and Sound milik Taylor Swift dan agensinya. Cast dan tokoh utama milik orang tua dan agensi mereka. saya pure hanya memiliki ide cerita dan plot yang berkembang di sana dan sini berdasarkan lagu Safe and Sound. Mohon agar tidak COPAS atau mempublikasikan cerita ini de tempat lain tanpa seijin dari saya. thanks.

***

Sudah terlalu lama suara ledakan ini terdengar seperti dengungan lebah di telingaku. Beberapa orang dengan seragam tentara lengkap, dengan gaya berjalan yang aneh dan berderet sembarang, menghadangku dan beberapa orang ketakutan yang bersembunyi di balik mobil mobil tua.

Sekumpulan pria berseragam itu hanya berjalan satu sampai dua langkah dalam 5 detik sekali. Aku bertaruh mereka akan menghabiskan 20 menit untuk datang pada kami.

Tapi ini bukan tentang waktu. Ini tentang kuantitas.

Para pria itu tidak bersenjata -setidaknya setelah taring mereka mencuat di kedua sudut bibir. Aroma amis darah selalu tercium menyengat ketika mereka semakin mendekat. Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini sejak 2 hari yang lalu. Malapetaka dimulai ketika mereka -pasukan anti teroris mulai mencurigai kota kami sebagai sindikat pengembangan dan penyaluran tenaga teroris profesional ke seluruh negara adidaya.

Tanpa ultimatum, mereka menjatuhkan beberapa bom asap yang belakangan kami sebut sebagai virus zombie. Bom asap itu adalah senjata biologis yang mematikan. Satu peralatan peperangan di era perang dunia pertama. Kami hanya menganggapnya sebagai gertakan, sampai ketika para petugas lokal yang berubah menjadi mengerikan dengan segera. Dimulai dari fase kejang hingga berakhir dengan taring, kuku panjang dan kebiasaan memakan daging mentah.

Daging mentah artinya kami.

Hampir 60 persen penduduk kota ini dikutuk oleh virus tersebut. Aku sudah tidak tahu sudah berapa banyak kerabat yang mencoba mencicipi dagingku beberapa kali. Dan sejak saat itu aku tidak percaya pada siapapun. Like always i do.

Profesiku secara normal adalah seorang mahasiswi kedokteran dengan passing rate yang standar saja. Ketika bom asap itu menyerang, aku sedang mencoba menenggelamkan diri Sebagai seorang nerd di perpustakaan sekolah. Ketika semua menjadi kacau dalam beberapa jam, aku terjebak di dalam sana. Tidak bisa keluar dan tidak bisa tetap bertahan dengan mereka yang bertaring di dalam sana.

Aku kehilangan semua yang mana tidak pernah kumiliki sepenuhnya. Mereka yang terbiasa aku sebut dengan teman, berubah menjadi satu bentukan menyeramkan yang tidak bisa kukenali. Mereka sangat bodoh -tidak mengetahui apapun selain mengejarku sebagai santapan.

Aku masih diberkati Tuhan. Hidup dan baik baik saja hingga saat ini.

Aku bisa terbebas dari kepungan makhluk liar di dalam kampus

Tapi aku terus berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya secara acak. Tidak jarang aku kembali ke tempat yang pernah aku singgahi jika aku sudah kehabisan ide untuk tempat lain.

Orang dewasa di sini akan berubah menjadi zombie yang haus darah dan daging ketika mereka tergigit. hanya saja ini tidak terjadi pada anak anak kecil yang aku perkirakan ada dalam rentang umur 6 -7 tahun. Ketika mereka digigit, mereka akan segera tewas. Tidak bangun lagi atau menjadi bentukan aneh seperti si predator.

Aku mencoba menelaah ini dengan sedikit dari keahlian kedokteranku dan menemukan hormon yang belum kompleks di dalam tubuh anak kecil itu. Hormon sederhana itu tidak dapat bereaksi dengan infeksi virus sehingga si pembawa hormon akan merasakan kesakitan yang berujung pada kematian. Lain halnya dengan orang dewasa. Hormon mereka yang kompleks akan bereaksi dan merespon positif terhadap infeksi virus. Selain itu, sistem imun mereka yang semakin melemah karena usia juga berpengaruh terhadap waktu penyerangan dan pengalihfungsian virus.

Hormon yang telah bereaksi akan mengubah gen original mereka menjadi bentuk yang sama mengerikannya seperti serigala pada malam natal.

“apakah aku bisa ikut denganmu?”, aku dikagetkan dengan seorang anak kecil yang entah darimana ada di hadapanku. Rambutnya hitam tergerai berantakkan. Ia tidak terlihat takut namun matanya memancarkan kewaspadaan tinggi.

“dimana orang tuamu”, aku bertanya ketus. Bukan karena aku membencinya hanya saja di saat seperti ini adalah sangat tidak tepat mempercayai orang. Anak kecil sekalipun.

“mereka akan datang segera”

“tunggulah disini sampai mereka datang. Aku tidak bisa membawamu”

“tapi… Mereka akan datang untuk mencabik dagingku seperti yang mereka lakukan pada Richard-adikku”

Aku menatapnya tanpa ekspresi. Sekali lagi… Ia tidak gentar hanya saja sekedar waspada dan khawatir akan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

“baiklah, Ikut aku” aku memberi perintah padanya tanpa perasaan iba atas kalimatnya. Wajar. Bukan hanya gadis kecil ini yang sebatang kara menyelamatkan hidupnya dari zombie yang merupakan keluarganya sendiri. Sebelum ini aku melihat seorang ibu-ibu yang jasadnya tersungkur meminta bantuanku sebelum ia akhirnya dicabik cabik oleh anaknya sendiri

Aku tidak bisa membantu. Aku tidak mempercayai siapapun sebelumnya.

Dengan begini, aku membuka diriku pada lingkungan sosial kembali, membawa gadis itu di belakangku bukan merupakan pilihan yang baik. Tapi setidaknya ia tidak menggangguku dengan rengekan khas anak kecilnya.

Aku melangkah dengan gamang. Sedikit merunduk namun dengan kepala mendongak, mataku awas melihat kanan dan kiri sisi jalan. Mobil mobil mewah kini sudah terbengkalai tidak ubahnya dengan para pemiliknya yang sudah tergeletak di jalanan.

Para manusia di sini –jika kata ‘manusia’ masih benar-benar cocok dengan tubuh mereka secara fisik, telah mengalami fase kematian, dimakan dan memakan, berlari dan dikejar. Mereka tidak mati, tidak pula hidup.

AAAAAA”, satu lagi teriakan memilukan hadir dan masuk secara perlahan melalui selaput gendang telingaku. Tidak menoleh adalah satu satunya cara agar dapat cepat melupakan kejadian ini. aku tidak mau jika seumur hidupku dihantui perasaan bersalah karena melihat seorang ibu ibu dimakan oleh beberapa orang yang seharusnya menjadi tetangga bergosip terbaiknya.

Aku tidak jahat, hanya saja jika aku di sana dan menolongnya, itu sudah terlambat. Pun dia akan kembali hidup setelah digigit. Tidak ada alasan untukku menolongnya. Itu tindakan bunuh diri terbodoh yang pernah aku tahu.

Anak kecil di belakangku, mungkin telah menoleh dalam sepersekian detik. Kini ia memegangi kemeja bau amis darah milikku dengan erat. Matanya memancarkan sorot ketakutan dalam tingkat normal. Aku bisa mengerti, bagaimanapun dia hanya anak kecil.

“kau bisa berjalan di depan jika kau terlalu takut untuk ini”, aku mencoba melapangkan hatinya, dia menggeleng. Dia terlalu percaya diri bahwa dirinya akan tetap berada di belakangku untuk beberapa waktu.

Hari sudah mulai semakin gelap, dan aku tidak akan bisa selamat jika aku masih berkeliaran di area terbuka seperti ini. di malam hari, perkembangan virus semakin cepat. Mereka akan menjadi lebih ganas dan agresif tanpa sinar matahari. Gerakannya akan menjadi 5 kali lebih cepat. Ini artinya jika sebelumnya mereka hanya berjalan satu langkah dalam 5 detik, maka kali ini mereka akan mampu melangkah dalam satu detik.

Tapi zombie adalah zombie, mereka tidak mempunyai sedikitpun intelejensi. Meskipun kutahu salah satu dari zombies itu adalah seorang dekan dari universitasku.

“matahari akan tenggelam”, aku memperingati gadis kecil di belakangku, agar dia paham kenapa langkahku semakin cepat setiap detiknya. Gadis yang tidak kuketahui namanya itu hanya mendesis. Kupikir dia masih dikuasai syndrom ketakutan seperti saat aku pertama kali melihat adegan seperti ini beberapa hari lalu.

Aku sadar aku salah, ketika dalam langkah selanjutnya, ia menarik bajuku dengan brutal. Aku refleks menoleh. Gadis itu berubah menjadi salah satu di antara mereka, tepat ketika mentari tenggelam.

something wrong”, aku bergumam. Tanpa peringatan atau teriakan di kesempatan pertama, aku pergi dan menjauh dengan langkah lebar dari kakiku. Aku berlari dengan sangat kencang. Si gadis mengikutiku seolah aku adalah mangsa yang sudah di remark hanya untuk dirinya seorang.

Aku meluncur di antara kap mobil yang berbau gosong, aku loncat ketika ada ban ban yang terbakar lewat di depanku seperti gasing. Celanaku yang telah robek, menjadi semakin berlubang di sana sini. Aku rasakan luka ku yang belum sempat mengering terbuka lebar kembali. Gadis itu mengejarku seperti orang gila. Beruntung bagiku, ia tidak memanggil teman-temannya untuk bersama sama mengejarku.

BRUK.

Aku sukses terjatuh dengan tubuh horisontal sempurna di aspal panas. Satu ban truk besar menimpaku dengan segera setelah bergoyang beberapa kali. papan papan kayu yang ada di sekitarku ikut terkena resonansi dari ban dan jatuh menimpaku dalam ritme yang hampir bersamaan.

I am stuck. Aku terjepit di antara material besar itu. sementara si gadis dengan seringai dan taring serta cakar yang runcing sudah berdiri di depanku. Mungkin aku terlihat seperti bacon panggang sehingga air liurnya menetes dari sudut bibirnya.

Ia menundukkan kepalanya, kemudian berjalan dengan beringas ke arahku. Untuk pembuka, ia jilat telapak kakiku kemudian bergidik seperti merasakan kenikmatan. Di sorot matanya, aku tidak melihat sorot gadis yang mengatakan bahwa ia merasa kehilangan atas Richard –adiknya yang dimakan orang tuanya sendiri. Dia sama menakutkannya dengan semua monster yang ada di sini.

Seharusnya aku tetap pada pendirianku, tidak mempercayai siapapun.

don’t move”, aku mendengar suara pria di dekat kepalaku. Aku mencoba mendongak. Gelap, aku tidak bisa melihat wajahnya dari posisi terjepitku saat ini.

Dor .. Dor ..

Aku mendengar dua kali letusan senjata. Dua peluru itu menembus jantung si gadis kecil. matanya memerah sebelum akhirnya ia terkapar di atas aspal.

“kau baik baik saja?”, pria itu membantuku mengangkat material yang menjepitku. Rambutnya sangat blonde, kulitnya putih, dan ia memiliki lesung pipi yang simetris di kedua pipinya. Untuk pertemuan singkat, impresi dia padaku cukup bagus.

“ya”, aku membalas singkat, “terima kasih”, aku berharap ‘terima kasih’ ku cukup untuk segera menjauhkan diriku darinya. Aku harus tetap sendiri, hidup atau mati. Aku tidak bisa mempercayai siapapun.

“kau terluka, darahmu akan memancing monster lebih banyak lagi kemari”, aku menunduk, melihat hampir seluruh dari betis kananku berlumurkan darah segar. Anehnya aku tidak merasa sakit untuk beberapa detik, sampai ketika pria blonde itu menyadarkanku.

“aku bisa mengatasinya”, aku merobek bajuku di bagian perut, sehingga permukaan rata itu terekspos. Tapi ini bukan saatnya aku memamerkan satu abs hasil fitness ku selama beberapa tahun. Keadaan menjadi sangat ekstrem sehingga aku tidak peduli lagi pada tubuhku. Selama 15 detik selanjutnya, aku hanya melakukan ikatan dan simpul di sekitar betisku agar darah berhenti keluar. Pria itu hanya memperhatikanku dengan seksama.

“Kau Kwon Yuri?”, aku mengangkat kepalaku sekitar 3-4 derajat saja, agak kaget ketika dia mengenaliku. Dia tidak mungkin zombie, bukan? apakah zombie sudah sepintar ini untuk menebak nama wanita yang ditemuinya?

“aku Yi Xing, mereka menyebutku Lay”, dia mengenalkan dirinya padaku tepat ketika aku berdiri setelah mengikatkan kain di betisku.

“apa aku mengenalmu?”, aku menaikkan satu alisku dan memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.

“mungkin kau tidak mengenalku, kita tidak berada di fakultas yang sama di kampus. Tapi aku adalah tetanggamu sejak 10 tahun yang lalu. Mungkin kau pernah melihatku atau something”, aku mencoba memancing ingatanku kepada waktu di 10 tahun yang lalu. Dan hasilnya Nihil. Aku bukannya tidak ingat apapun. namun aku hanya tidak peduli pada lingkungan sekitarku. Jika apa yang dikatakan pria ini benar, maka aku sudah hidup dengan tidak mengenali tetanggaku sendiri dalam 10 tahun terakhir. Guinnes Book harus mencatat ini ketika aku selamat.

“Ya, kau dan aku tidak pernah bertegur sapa, tapi aku tahu kau sejak lama. Bahkan kita berada di kampus yang sama, kau ingat sekarang?”

“maaf”, aku berkata dingin, memupuskan harapan pria itu yang setinggi langit.

never mind. Tapi aku tidak berniat jahat padamu, aku masih normal. Aku bukan zombie”, pria itu merentangkan tangannya, membuat tubuhnya yang sempurna dapat dilihat olehku. Aku melakukan inspeksi kilat dari penindaian mataku, dan tidak melihat ada kejanggalan pada diri pria ini. ah~ kecuali bagian dimana dia selalu tersenyum padaku.

“baiklah, Lay-ssi, mari berpisah di sini. Aku akan bersembunyi sendiri”, aku mencoba sekali lagi memutuskan dialog dengannya. Aku tidak mau direpotkan dengan neighborhood relationship seperti ini. akan mengganggu keseimbangan dan keefektivitasan gerakanku.

“tapi aku membutuhkan bantuanmu, yuri-ssi”, ia menyebutkan namaku dengan nada yang aneh, seolah percakapan awkward di antara kami sebelumnya tidak pernah terjadi. Ia berkata sesuatu seperti dunia akan kiamat dengan segera. Aku penasaran dan menolehkan kepalaku padanya dari jarak aman.

“aku butuh bantunmu. Sangat butuh”, ia memohon padaku sekali lagi. membawaku pada satu rasa penasaran dan kebingungan yang memuncak.

Safe and Sound

 

Aku menggelengkan kepalaku setelah aku menyentuh nadi beberapa anak kecil yang terbaring di dalam ruangan kosong. Mereka semua tewas, dan beruntungnya… tidak ada satupun yang berubah menjadi zombie.

Aku melakukan penelaahan singkat dan menemukan alasannya dengan segera. Semua karena ruangan kedap udara di sini. Ini yang membuat jasad mereka tidak berubah menjadi zombie, hormon mereka mati seiring dengan tewasnya fisik dan mental. Sedikit berbeda kasus dari gadis kecil yang mencoba membunuhku, rupanya gadis itu hidup berkeliaran bersama virus yang masih aktif di area terbuka, dan untuk hasilnya, ia terinfeksi. Aku tidak yakin sepenuhnya dengan hipotesaku ini karena aku tidak melakukan penelitian secara resmi dan lebih detail.

Hasil akhirnya, aku hanya mengira-ngira.

“apakah kau yakin, apa tidak ada satupun dari mereka yang—“

“mereka semua telah tewas”, aku berkata datar. Namun pria ini sepertinya sangat menyesal. Ia memeluk salah  satu gadis kecil yang berambut blonde di antara puluhan anak kecil lainnya. Pria itu terisak dengan sangat parah. Aku membelakanginya, aku tidak terbiasa melihat perasaan seperti ini. hubungan human to human ini adalah salah satu kelemahanku. Aku tidak bisa menangis. Tepatnya, tidak boleh.

“dia adikku”, ucapnya 20 menit kemudian padaku. Air matanya telah mengering. Mata dan hidung nya menjadi merah.

“terlihat dari rambut kalian yang sama”, aku meresponnya. Ia perlu dilapangkan hatinya. Pria itu menunjukkan lesung pipinya padaku seiring dengan sudut bibirnya yang melebar. Ia tersenyum.

“apa kau juga tidak pernah melihatnya selama kita bertetanggaan?”, ia bertanya dengan nada yang mengandung satu millenium keanehan.

“apakah kau berekspektasi bahwa aku mengenalnya?”

“tidak, hanya saja… pada saat kematian ayahmu… ia—-“, kalimat pria itu terhenti ketika aku menatapnya

what?”, ujarku sambil mengangkat bahuku.

“apakah dia gadis kecil itu?”, kali ini giliranku yang menyelesaikan kalimat pria itu. “apakah dia yang membuat ayah ku tewas di dalam kebakaran saat ia bertugas?… demi menyelamatkan seorang gadis yang pada akhirnya akan tewas dalam kekacauan ini?”, aku berkata dengan nada sarkastik. Dari sekian penyebab yang membuat diriku menjadi tidak peduli pada lingkungan, kasus satu ini adalah yang paling kuat.

Lay –pria blonde itu termenung.

“Ayahmu menjadi pahlawan keluarga kami—“

“Tapi dia adalah orang yang membuat aku seperti sekarang ini”, aku mencegat kalimat Lay untuk mengatakan lebih banyak kebaikan dari Ayahku. Aku tidak bisa.. tidak bisa mengingatnya. Ia terlalu baik untuk dikenang oleh anak yang menyedihkan seperti aku.

Lay menepuk pundakku tanpa aku sadari sebelumnya.

“kau adalah gadis yang baik, pintar dan cantik. Jika saja kau bisa lebih membuka dirimu, kau akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia”

Lay berkata seperti ia telah mengenalku sejak lama. Dan aku merasa awkward untuk ini. aku tersenyum tipis dan membalas pernyataannya.

“itu yang dikatakan Ayahku sehari sebelum ia tewas”

Pria blonde itu tertawa renyah. Ia memegangi perutnya, seakan telah lupa ada tangisannya 20 menit yang lalu.

“apa kau mengatakan aku akan tewas, seperti Ayahmu?”

Aku mengangkat bahuku, ikut tersenyum. “entahlah, jika memang seperti itu, tewaslah dengan terhormat”

“bagaimana tewas dengan terhormat? Aku bukan siapa-siapa untuk kota ini”, tanyanya

“maka jadilah ‘siapa-siapa’ itu”

“kalau begitu, berlaku juga untukmu. Jadilah ‘siapa-siapa’ itu”

no need. Aku lebih suka menjadi diriku sendiri, jika aku mati, aku akan tewas sebagai Kwon Yuri. dan saat itu terjadi, aku tidak ingin namaku diingat oleh siapapun”, pria itu terdiam. Tapi aku bisa menebak, saat ini di otaknya berderet berjuta kalimat yang akan ia rangkai padaku.

“pernahkah kau berpikir, ‘jika aku hidup’ daripada kau terus memikirkan apa yang terjadi ‘jika aku mati’ ?”, pria itu menatapku, dengan sangat normal. Tapi aku merasa beribu panah menancap di dadaku saat ini. otakku berpikir tentang ini, dan menemukan sisi positif dari apa yang dikatakannya.

“tidak perlu, karena aku lebih memilih mati, daripada aku terus hidup setelah semua kekacauan ini”, aku menjawab datar. Sedikit berbohong dan bertentangan dengan apa yang ada di otakku saat ini.

“kau memilih mati?—“ pria ini tersenyum dengan sarkastik, seakan menemukan celah untuk menyerangku dengan kalimatnya “—lalu untuk apa kau berlarian dari para monster diluar sana selama 2 hari ini? bukankah itu artinya kau lari dari kematian? Kau sebenarnya takut mati, Kwon Yuri­ssi

Aku menatapnya. Tertegun dengan kalimatnya yang sama sekali tidak salah. Ego ku menekanku agar tetap bertahan pada pendirianku sementara otakku mulai memihak pada pria itu.

“dan bagaimana dengan kau? Kau terlihat sangat yakin bahwa kau akan bertahan hidup di sini. Kau merasa menjadi pahlawan?”, aku mengigit lidahku setelah selesai bertanya. Aku tidak ingin mengatakan ini. hanya saja kalimat ini sudah berada di ujung lidahku, terdorong oleh egoku.

“Aku yakin, aku, kau dan semua orang yang tersisa di sini akan selamat. We will be safe and sound, bagaimanapun caranya. Aku akan membuktikan harapan ini”, aku melihat kobarang api di sorot matanya. Apa yang dikatakannya singkat, tapi mampu sekali lagi menusuk dadaku hingga ke rulang rusuk. Pria ini berkata yakin, seolah olah ia mampu memberi harapan padaku, pada semua survivor di Kota ini. ia berkata bukan seperti seorang pahlawan seperti yang aku olok-olok, tapi ia berkata seperti ia adalah orang yang pantas untuk dijadikan tumpuan, untuk dijadikan pilar harapan yang sempat hilang.

Aku tidak mau mengatakan ini, tapi dia mampu membuat orang menaruh kepercayaan padanya. Kata katanya yang singkat dan bermakna, sorot matanya yang memancarkan harapan dan keteguhan serta perilakunya yang merupakan wujud nyata dari keinginannya, mampu memberikan harapan baru untukku.

Aku tidak bisa mudah percaya pada orang, apalagi jika aku secara pribadi tidak mengenalnya.

Tapi kalimat ini seperti doktrin buatku, aku dengan mudah dapat mempercayainya. Sungguh. Hanya saja untuk mengatakan padanya tentang ini, aku mungkin agak sedikit malu.

Aku baru saja akan bangkit dari lantai marmer dingin ketika suara memekakkan telinga berdenging. Suara itu berasal dari speaker besar di sebuah helikopter. Aku mendengar baling-balingnya. Aku berlari ke jendela dan mengintip dari celah yang ada di sana. Sorot sinar dari lampu besar menyala dan berputar mengitari semua kota.

Dengan total sekitar 20-30 helikopter di atas kepala kami, gemerlapan cahaya membuat para zombie mengamuk. Aku bisa melihat suara tembakan dari beberapa orang di atas helikopter. Mereka menembaki zombies itu dengan brutal.

Aku sebenarnya ingin muncul di tengah arena sekedar mengatakan bahwa ada harapan kecil pada manusia yang masih hidup di sini. Tapi pengumuman besar itu membuatku terpaku. Aku bergidik.

kepada semua yang masih hidup, diberitahukan kepada mereka yang masih hidup, datang ke gerbang barat perbatasan kota dalam setengah jam, kota ini akan dibumi hanguskan untuk mencegah meluasnya infeksi virus. Sekali lagi, kepada mereka yang masih dapat bertahan hidup, dimohon agar segera datang ke pintu barat perbatasan kota dalam 30 menit. Kota ini akan dibumi hanguskan. Kami hitung mundur setelah semua lampu mati—“

Aku memandang Lay dengan ngeri. Ia seperti mengerti apa yang kurasa. Aku merasakan pipiku basah. Air mata entah sejak kapan menguasai pipiku. Darahku seakan terhenti. Aku merasa secercah harapan untuk percaya pada kehidupan, perlahan musnah. Apa yang dikatakan Lay, pada akhirnya hanya wacana. Aku akan mati.

Safe and Sound

Aku sekarang berlari. Di belakangku adalah sekelompok monster ganas yang agresif. Tapi aku tidak sendiri sebagai survivor, setidaknya dengan Lay yang menggenggam tanganku dan menarikku saat ini. dia ikut berlari bersamaku. Ah tidak… dia membawaku untuk berlari bersamanya.

Kami berlari menuju gerbang barat meski kami tahu akan sulit mencapai barat dari kota ini dalam 30 menit. Bukan karena jarak, tapi karena para zombie yang memenuhi area jalan. Satu satunya akses ke perbatasan barat adalah melalui jalan tol yang dibuat single-pass. Itu artinya, kami harus berlari melewati area terbuka. Not to mention, para zombies yang ada di sana.

Tidak ada tempat sembunyi begitu kami memasuki area jalan itu. yang ada hanyalah jalanan panjang yang luas and the only way we do is run faster.

Kami di sini sekarang, berlari di jalanan itu dengan menghindari kontak dengan para zombies. Mengerikan jika sekali saja kami digigit oleh taring tajam atau diserang dengan kuku super runcing, maka kami akan berubah menjadi salah satu di antara mereka.

Aku sempat menyerah dan tidak yakin untuk ini. tadinya, aku hanya akan berada di ruangan hampa udara bersama jasad para anak kecil di sana. tapi Lay mengatakan sesuatu yang tidak akan aku lupakan di dalam hidupku.

percayalah padaku, kau akan tetap hidup. jika tidak di dunia ini, maka di dalam hatiku”

Pria ini –beberapa saat yang lalu, baru saja menunjukkan pada dunia, bahwa aku tidak sendiri lagi.

“di belakangmu, Yuri-ssi”, aku terhenyak dari lamunanku dan segera menembaki zombie di belakangku dengan senapan yang Lay berikan. Dan sebenarnya ini bukan milik Lay, aku bisa menebak bahwa Lay mungkin memungut senjata ini dari jalanan. Karena aku pernah memiliki nya di hari pertama kota ini di serang.

Sayangnya, ini bukan video games dimana ketika kau kehabisan peluru, kau hanya perlu me-reload nya kembali dengan satu klik pada gadget saja.

Aku dan Lay kehabisan peluru di saat kami masih setengah jalan. Zombies yang mengejar kami memang sudah tidak sebanyak sebelumnya. Tapi gerakan mereka agresif seiring dengan mendungnya malam tanpa bulan. Mereka akan berkembang cepat dalam kegelapan.

“kau bisa berlari lebih kencang dari ini?”, Lay bertanya. Ia menatap iba pada luka di betisku yang semakin terbuka. Dengan perlahan dan pasti, aku menggeleng, ini sudah batas maksimumku. Tepat saat itu, ku dengar suara besar dari helikopter –lagi.

survivor, waktu kalian tinggal 2 menit lagi”, aku panik mendengar ini. aku melihat ke belakang dan memperhitungkan sisa jarak dengan tujuan kami di depan. Di sana ada kerangkeng yang sangat besar, aku tidak bisa mengatakan kerangkeng itu dialiri listrik atau tidak mengingat kerangkeng itu, adalah perbatasan kota. Dengan samar dari kejauhan, aku melihat tim medis, polisi dan beberapa orang dengan seragam dan senjata lengkap berbaris di sana. menodongkan senjatanya pada kami.

Aku sempat kaget dengan ini, tapi ketika aku melihat dengan lebih jelas, senjata itu ditodongkan pada zombies di belakang kami. Mereka membantu mengurangi monster yang mengejar kami sampai ke perbatasan.

“1 Menit”, suara itu terdengar kembali. Dan kami sudah bisa bernapas lega. Aku dan Lay tiba di kerangkeng tersebut. Masih dengan berpegangan tangan.

Aku tersenyum padanya, dan ia tertawa melihatku. Aku merasa aku adalah wanita yang sangat beruntung saat ini. semuanya sempurna. Dan mungkin ada harapan baru dalam kehidupanku setelah ini.

Aku sangat bahagia sampai akhirnya tim medis dengan masker dan peralatan tubuh yang lengkap –sehingga membuat dirinya tertutup sempurna tanpa udara, datang pada kami. Ia menggunakan satu alat aneh yang menindai tubuh kami. Ia mengambil darah kami dan membaginya dalam beberapa botol. Mereka membawanya sementara aku meringis kesakitan.

Satu orang perwakilan dari tim medis datang kembali dalam beberapa detik.

Kali ini bukan untuk menyuntikkan benda itu lagi, tapi mereka melakukan hal yang lebih buruk daripada itu.

Mereka mendorong Lay keluar dari kerangkeng.

Safe and Sound

“Pria ini terinfeksi”

Hanya sebaris kalimat itu yang kudengar ketika mereka dengan brutal memaksanya keluar dari kerangkeng. Lay terlihat kebingungan, tidak jauh berbeda dariku. Aku berusaha menahan para pria  kekar dengan seragam hitam yang menariknya keluar, namun aku kalah dalam tenaga.

Aku berteriak. Mengatakan bahwa mungkin mereka salah visum.

“saat ini mungkin dia terlihat baik-baik saja, kau lihat luka kecil di tangannya? Lukanya akan melebar dan menjadi infeksi parah dalam beberapa detik saja. Kau bisa melihatnya secara langsung dari sini”, seorang wanita yang berpakaian seperti dokter dengan masker dan kelengkapannya tampil sebagai juru bicara.

Aku memicingkan mataku pada luka kecil yang wanita itu coba untuk katakan. Dan ia tidak salah.

Aku tidak tahu sejak kapan Lay memiliki luka itu di tangannya. Air mataku –untuk sekian kalinya tidak terbendung lagi. aku mendengar suara crack bersamaan di belakangku. Dan melihat para pria dengan senjata mengarahkan moncong senjatanya pada tubuh Lay yang sedang berdiri kebingungan.

Aku melihatnya –Lay yang menarik napas panjang, sementara di belakangnya terdapat beberapa zombie yang terus mendekat.

Lay berjalan pelan, berusaha terlihat tenang. Aku meletakkan tanganku pada permukaan kerangkeng sambil terus menangis menatapnya. Ia menggenggam tanganku di sana, hanya sebentar. Karena dalam sepersekian detik kemudian, tim medis melarang kontak fisik.

“Yuri-ssi, jangan menangis”, aku terdiam.

“bukankah sudah kukatakan, kau akan baik baik saja?”, ia tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

“Mari kita selesaikan ini Yuri-ssi. Biarkan aku mati dengan terhormat seperti apa yang pernah kau katakan. Aku terinfeksi, dan mereka harus membunuhku demi keamanan mu”

“NO!”, emosiku tidak terkendali. Aku berteriak. “kau tidak boleh mati, SIAPA YANG MENGATAKAN KAU AKAN MATI?!”, aku memutar tubuhku ke arah para penembak. Aku mendongkan jariku pada mereka. “TURUNKAN SENJATA KALIAN. JANGAN LEPASKAN SATU PELURU PUN PADA PRIA INI. LEPASKAN… LEPASSKAAA—“ aku terduduk lemas di atas tanah, dengan penjagaan ketat dari tim medis. Lay membuat gerakan tiba tiba karena ia refleks ingin meraih tanganku. Namun satu orang dari penembak, melepaskan pelurunya tepat di bahu kanannya. Darah mengucur deras dari sana, dan itu membuat zombies di belakang lay semakin agresif mendekat.

Aku menatapnya dan lagi lagi menangis. Aku ingin mengobati luka di bahunya, namun aku tidak bisa. Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya dengan helai rambutku. Aku berada sangat dekat dengannya, dan dari semuanya, yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Aku merasa tidak berguna. Aku tidak bisa melakukan apapun padanya. Aku hanya bisa menangis.

“hey~ sudah kubilang k-kau tidak boleh menangis”, aku melihat Lay, ia menahan kesakitan di bahunya, sementara pori pori tubuhnya sudah dipenuhi oleh bulu lebat. Taring kecil mulai muncul dari sudut bibirnya. Namun ia berusaha menjaga intelejensinya, menjaga emosinya sambil berbicara denganku.

Dor.

Satu lagi tembakan kudengar ketika taring Lay semakin mencuat di depan bibirnya.

“Hentikan !”, aku berteriak, tapi teriakanku sangat lemah. Lay sudah berbaring di depanku, berguling menahan kesakitan. Tapi ia masih berbicara padaku.

“s-su-sudah k-kubilang, kau akan selamat, Yuri. aku telah mengenalmu selama 10 Tahun dan aku tidak menyesal untuk itu. kau ingat pada lagu ini, Yuri-ssi? Kuharap jika kau tidak ingat, kau akan berusaha mengingatnya mulai hari ini… “, Lay berguling. Namun kali ini ia berusaha menahan gerakan tubuhnya agar tidak agresif. Dua tembakan melayang di dada dan pahanya sekaligus. Ia mengerang, namun sayup sayup, aku mendengar ia mulai melantunkan sebuah lagu.

Lagu yang sangat familiar di telingaku.

I remember tears streaming down your face
When I said, “I’ll never let you go”
When all those shadows almost killed your light
I remember you said, “Don’t leave me here alone”
But all that’s dead and gone and passed tonight

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound.

Don’t you dare look out your window, darling,
Everything’s on fire
The war outside our door keeps raging on
Hold on to this lullaby
Even when music’s gone
Gone

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound.

Aku melihatnya, Lay berubah menjadi sosok yang tidak kukenali. Ia mengamuk, menggigit besi di kerangkeng dengan brutal, membuat aku mundur dari sana. aku tidak gentar. Dia masih seperti Lay yang aku kenal dalam waktu singkat beberapa saat yang lalu.

Tembakan bertubi tubi kudengar. Tubuh Lay yang sudah terluka kini terjerembab di tanah. Ia mengejang.

Namun sebelum ia benar benar terjatuh, aku melihatnya… mata yang sama seperti mata yang berusaha meyakinkanku bahwa aku harus  percaya pada harapan. Mata itu di sana, tergenang air mata.

Tubuh Lay sekali lagi mengejang, ia sempat terduduk dan menatapku dalam setiap tembakan yang diterimanya.

Mulutnya membentuk satu kalimat yang hanya bisa dibaca olehku, dan setelahnya… aku melihat keheningan. Satu tembakan terakhir melumpuhkan Lay tepat di mataku.

Pria itu terjatuh ke tanah, terbaring kaku dengan mata terpejam. Satu butir air mata terakhir aku lihat menetes di pipinya. Aku berusaha menahan tangisanku yang semakin pecah setiap detiknya.

Beberapa Tim Medis membawa tubuhku menjauh, dan memasukanku dengan paksa ke dalam helikopter walaupun aku tidak mau. Mataku masih terpaku pada sosok di bawah sana yang ada di dalam lindungan udara malam yang dingin. Para monster aneh ada di sekeliling Lay, memeriksa tubuh itu dengan teliti.

Dan setelahnya, aku hanya melihat cahaya merah menyala seiring dengan helikopterku yang semakin meninggi dan menjauh.

Kota itu telah dibumi hanguskan, seluruhnya bersama jasad para pecinta, keluarga, kerabat yang mungkin masih utuh di dalam sana.

Aku duduk lemas di dalam helikopter sambil terus memandangi asap mengepul dari sana.

Di sana… terbaring satu pria yang telah mengenalku sejak 10 Tahun yang lalu. Salahku, aku tidak pernah mengenalnya sampai beberapa waktu yang lalu.

Pria itu, dalam detik-detik terakhirnya, di tengah tembakan yang ia terima, mampu sekali lagi mengubah cara pandangku pada dunia dalam beberapa detik. Ia mengubah Kwon Yuri yang tidak peduli pada kehidupannya, menjadi Kwon Yuri yang lemah terhadap kehidupan. Ia mengajarkanku apa rasa kehilangan dalam satu kalimat singkat di akhir hidupnya.

“aku mencintaimu”

Safe and Sound

 

namaku Yi Xing, kau bisa memanggilku Lay”, seorang pria kecil datang dan mengulurkan tangannya padaku. Aku mengangkat alisku.

“apa aku terlihat seperti ingin berteman akrab denganmu, pria blonde?”

“kau tidak ingin? Bahkan jika aku mengatakan kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui?”, aku mendelik ke arahnya. Aku putar lollipop di mulutku dengan cepat. Merasa kesal dengan pria itu. tapi sebelum aku sempat membalas kalimatnya, tanah yang ku pijak bergoyang. Anak anak seumurku berlarian ke sembarang arah. Aku kebingungan, kujatuhkan lollipopku ke atas tanah. Aku gemetar ketakutan.

Pria blonde itu datang padaku, menarik tanganku dan kami berlindung di sebuah tanah lapang tanpa ada apapun di sekitar kami. Dan pria itu dengan aneh, mulai bernyanyi.

“Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound… “ , pria itu terdiam beberapa detik.

“ah~ gempanya sudah berhenti. Ayo kita kembali ke sekolah”, pria itu menarik tanganku –lagi. aku menghempaskannya.

“siapa kau? Kenapa kau bernyanyi lagu aneh seperti itu?”

“aku Yi Xing, dan ini bukan lagu aneh, ini adalah lagu yang suatu saat akan dikenang olehmu”, ia tersenyum.aku tidak tertarik.

“kau freak” aku meninggalkannya.

Lay, jika kau bisa mendengarku… bisakah sekali lagi kuminta agar kau kembali dan menyanyikan lagu itu untukku?. Atau bisakah kau tetap di sana namun buat aku agar melupakanmu?.

Lay, katakan mana yang salah? Aku atau Kau?, hampir 2 tahun ini aku hidup sebagai Kwon Yuri yang baru, tapi kenapa aku tidak menemukan harapan yang kau ceritakan?. Apakah harapan itu tidak pernah ada, atau itu sudah terkubur bersamamu?

Lay, jika bisa kembali, kembalilah. Aku tidak peduli dengan hidupku. Yang kubutuhkan hanyalah kau. Bisakah kau katakan itu sekali lagi jika kau kembali? Katakan lagi bahwa kau mencintaiku. Katakan lagi bahwa aku akan baik-baik saja. Katakan semuanya. Aku berjanji akan diam selamanya hanya untuk mendengar suaramu satu kali lagi.

Lay, Jika kau mendengarku, maka aku tidak akan pernah menyesal mengatakan ini padamu.

Aku Mencintaimu.

 

THE END

SERIES PERTAMA EXOYUL PUBLISH. gimana? untuk cerita pembuka, apakah cukup memuaskan?

 

114 thoughts on “Safe and Sound – From EXOYUL Series

  1. liliknisa berkata:

    keren ceritanya
    menegangkan feelnya dapet banget
    berasa kita ada disana
    tapi sayangnya ga happy ending
    tapi gpp keren cerita ^^

  2. Seria Asteria berkata:

    arrgghhhh… udah pernah baca ini di flammingpearls.. tp cast cowoknya si minho~ dan suka suka suka sukaaaa banget~ kereeennn.. apalagi endingnya.. menyayat2 bangeett..

  3. AsyifaKN berkata:

    Sedih banget, nangis beneran bacanya~
    Apalagi,, pemaennya pas.. jadi serasa beneran banget.. intinya daebak lah ^^

  4. Airin berkata:

    Ahh,,sedih banget sampe nangis beneran tambah idung meler terus lagi😂 tpi keren ff kerasa banget feelnya kak nyun😍,bnr yg dibilang komentar diatas kta kya ada didlm situ.

  5. aloneyworld berkata:

    Huwaaaa ngefeel banget kaknyun😥 aku kira mereka berdua bakal selamat ternyata cuma yuri yang selamat😦 ehh ternyata lay juga pernah nyelametin yuri waktu kecil ya😀 yaampun yuri ko bisa ya hidup 10tahun tanpa peduli apapun gitu, kasian lay dicuekin mulu, haaah penyesalan emang datangnya terakhir ya, pas lay udah mati yuri baru sadar cinta ke lay -_- keren😀 pembukanya sangat memuaskan😀

  6. Ersih marlina berkata:

    Ah, tegang banget bacanya.
    Kai nya mati gr2 infeksi virus zombie.
    Gk bsa ngmong apa2 kalo tntang ff ini, keren banget ka
    berasa ada d situasi kejadiann d ff ini.
    Aku lnjut baca, msih banyak ff yang ngantri minta di baca d blog kaka😀 fighting

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s