Everything Has Changed – From EXOYUL Series

2. Everything Has Changed

Series kedua. Exo Chen – Kwon Yuri.

Genre : Sad-Happy Twisted, Comfort.

Disclaimer : Cerita ini di dedikasi untuk seluruh ExoYul Shipper, judul dan lirik lagu di dalam cerita ini dimiliki oleh Taylor Swift dan agensinya. author hanya menggunakan materi dari liriknya sebagai bahan dasar pengembangan plot cerita. Cast milik diri mereka sendiri dan agensinya. untuk semua kegiatan Copy dan Paste serta publikasi tanpa ijin, termasuk tindakan kriminal karya cipta.

***

Aku membawa bukuku dengan erat ketika satu bingkai foto yang terpajang di dinding terjatuh. Kaca bening yang melapisinya berserakan menjadi serpihan yang lebih kecil di atas lantai marmer coklat. Aku meletakkan bukuku sembarangan dan segera memungut serpihan kaca dengan hati-hati. Satu foto yang terpampang di sana ikut kupungut dan kuletakkan dengan penuh perhatian di atas meja. Setelah selesai dengan serpihan kaca, aku berjalan dengan gamang dan memandangi foto di atas meja. Aku tiup debu yang ada di permukaannya dengan lembut.

Merasa seperti terpanggil, angin membuat jendela yang terbuka di sudut kamarku tertutup. Suaranya sedikit mengagetkanku.

Aku berjalan pelan, menutup jendela dan menatap pohon hijau rindang di sana. tidak ada yang bisa kukatakan selain, aku merasa sendirian.

“aku merindukanmu, Jongdae-ssi

.Everything Has Changed

Aku baru saja kembali dari perjalanan dinasku ketika setumpuk koran dan botol susu berderet di depan pintu apartemenku. Aku buang koran-koran itu, sementara kakiku sibuk menggeser botol-botol susu kecil yang menghalangi jalanku.

Aku mencari kunci kamarku di dalam saku dengan sangat tergesa-gesa, sehingga buku yang kubawa sempat terjatuh beberapa kali. Dalam 1 menit, aku baru benar-benar bisa masuk ke dalam apartemen yang sederhana. Kulemparkan tas ku asal dan kurebahkan tubuhku di sebuah kasur yang sudah tidak terlalu empuk lagi.

Ini memang bukan apartemen yang sesuai dengan gaji milikku, namun aku cukup nyaman berada di tempat ini. bisa kukatakan, ini seperti rumah susun di London satu-satunya yang membuat aku betah selama 2 tahun terakhir.

Sejak aku bekerja dan ditugaskan di London, aku tidak pernah sekalipun kembali ke Korea. Alasannya klasik, hanya karena aku ingin hidup mandiri sebagai seorang gadis biasa. bukan sebagai putri raja dari istana saham di negara itu.

Aku tidak memilik intensi untuk menggunakan kekuasaan dan kepopuleran keluarga kami untuk hidupku. Minatku berbeda dari mereka, meskipun kuakui kini aku bukan sebagai siapa-siapa dalam perusahaan dimana aku bekerja, namun aku cukup bangga akan ini. setidaknya aku mencicipi hasil keringatku sendiri.

Aku tidak pandai bersosialisasi, tapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman. Aku memiliki beberapa rekan kerja yang sangat baik dari jam 8 hingga jam 4 sore. Selebihnya, aku hanya sudi berbicara pada tembok dan ponselku.

Kuakui, aku tidak pernah mengenali semua tetanggaku di sini. Semuanya karena dua alasan. Pertama, aku tidak begitu mempunyai banyak waktu ketika aku pulang dari kantor. Dan kedua, semua orang di sini berganti dalam tiap bulan, sehingga aku tidak tahu lagi siapa penghuni baru dan penghuni lama.

Seperti kemarin, seorang ibu dan anaknya baru saja pindah ke apartemen tepat di sebelahku, padahal aku tahu… sebulan sebelum ini, ada seorang pria tua yang sakit-sakitan yang tinggal di sana. kudengar ia dipindahkan ke panti jompo atau something.

Aku berjalan gontai ke kamar mandi. badanku terasa remuk, kira-kira aku baru saja pulang dari perjalan dinas selama 3 hari dan aku harus kembali ke kantor siang ini. aku tidak tahu bagaimana boss ku dapat hidup seperti itu selama ia memimpin perusahaan ini. tapi ini kejam untuk menerapkan sistem yang sama pada bawahannya seperti aku.

Aku menyalakan shower dan mulai mengairi bathtub dengan air panas. Aku tidak langsung mencelupkan badanku di sana, aku menunggu air itu memenuhi bathtub sehingga aku bisa mencucinya terlebih dahulu. Bathtub yang sudah tidak tersentuh selama dua hari terakhir mungkin agak sedikit tidak nyaman untuk kulitku.

Untuk mandi saja, aku dapat menghabiskan waktu sekitar satu jam. Sehingga menyebabkan waktu istirahatku berkurang. Jam tanganku menunjukkan angka 9 tepat. Aku masih memiliki 3 jam untuk beristirahat dan kembali ke kantor. Ini tidak cukup, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Aku memanggang roti dan membaringkan tubuhku di atas ranjang.

what’s so funny?”, aku mencibir salah satu acara humor di sebuah stasiun televisi swasta. Aku bersumpah, aku tidak pernah menonton acara dengan selera humor payah seperti ini. tapi mereka bilang acara ini adalah acara terlucu dalam abad ini. aku tidak mengerti.

Aku memakan rotiku dalam 5 kali gigitan. Aku percaya bahwa aku telah berubah menjadi monster pagi ini. aku terlalu lapar dan aku malas untuk membuat makanan yang lebih rumit dan mengenyangkan dari ini.

Tepat ketika angka 11 muncul di jam tanganku, aku –yang telah bersiap dengan semua kemeja kerja dan tas tangan, segera membuka pintu dengan terburu-buru. Aku harus ke subway dalam 10 menit jika aku tidak ingin ketinggalan kereta dan terlambat ke kantor.

Aku baru saja menutup pintu dan menguncinya, ketika seorang pria terdengar terlibat dalam percakapan telepon. Aku mendengar suara pria itu makin meninggi di setiap detiknya. Guratan urat di dahi dan pipinya cukup memberitahuku bahwa ia sedang marah. Aku tahu siapa pria itu. tapi aku tidak pernah berkenalan dengannya. Kami hidup bertetangga dalam 2 tahun terakhir, tapi kami tidak mempunyai cukup waktu untuk sekedar berkenalan. Dan jika kau berharap agar aku dapat melemparkan satu obrolan basa basi dengannya, maka ‘no’ adalah jawaban yang paling tepat.

Pria ini terlihat sibuk memaki-maki kemudian dengan sangat brutal, ia lempar ponselnya sendiri terbang bebas ke lantai dasar. Awesome. Aku bahkan bisa memperkiran bahwa yang baru saja ia lemparkan itu adalah sebuah ponsel mahal keluaran terbaru. Dan ia baru saja tanpa menyesal melemparkannya ke bawah melalui 12 lantai yang ada.

Aku bertaruh, ia pasti sangat kaya. Dan pria kaya, biasanya arogan.

Aku sempat menemukan pandangan mataku pada pria itu. dan ia menatapku, ia tidak tersenyum. Ia masih dikuasai amarah. Pria itu memandangku sekilas kemudian masuk kembali ke dalam apartemennya dengan terburu-buru.

Aku menggelengkan kepalaku melihat kelakuan anehnya. Aku segera menaiki lift dan pergi bekerja.

.Everything Has Changed.

Aku harus terbiasa dengan malam pekat dan momen ketinggalan bus, sejak beberapa pegawai kami pindah, semua tugas yang tersisa dilimpahkan padaku hanya karena alasan konyol yang tidak masuk akal. Mereka mengatakan bahwa hanya aku yang masih berstatus sebagai lajang di umurku yang memasuki seperempat abad. Dan di kantor, aku adalah maknae mereka. mereka dengan seenaknya menggunakan alasan ini agar aku dapat bekerja lembur tanpa repot dengan urusan rumah tangga.

Entahlah. Selama lemburku masih dibayar, aku tidak keberatan. Hanya saja ini berat untuk kondisi fisikku.

Aku memencet tombol lift di angka 13 ketika seorang satpam menegurku.

have you seen it?”, dia menepuk pundakku. Aku terlalu lemas untuk menengok, jadi aku hanya menyandarkan kepalaku malas pada tembok lift dan berkata dengan lemah.

“what?”

“just look at the lift, now”

Pria itu mendelikkan bola matanya pada satu kertas yang tertempel di pintu lift. Dan aku menyerah untuk satu lagi kesialan ku pada hari ini. dengan resmi, lift dinyatakan rusak.

Apartemen ini bukan apartemen mahal yang memiliki 2 sampai 5 lift untuk penggunanya, di sini hanya terdapat satu lift besar, yang mana jika ia rusak, maka aku harus bersiap menggunakan kakiku ke lantai 13.

Pain in the ass.

Aku memutuskan tidak banyak mengomel dan segera menuju tangga yang tersedia. Tangga itu berada di tengah ruangan di antara kamar-kamar dari lantai 1 hingga 15. Bentuk tangganya klasik dengan ukiran kayu dan berbentuk spiral yang elegan ala romawi kuno. Berjalan meniti tangga di sini, seperti aku merasakan bahwa aku adalah putri raja yang ada di dalam cerita kuno –hanya saja tidak dengan kaki yang lecet.

Benar, terlalu lama di dalam balutan high heel,  membuat tumitku sakit. Aku melepas sepatuku dan berjalan dengan telanjang kaki. Aku tidak peduli dengan mereka yang menatapku aneh. Aku sakit jika tetap memakai high heel, that’s it all.

“Baiklah, Terserah!”, aku mendengar suara pria berteriak ketika akhirnya aku sampai di depan pintu kamarku. Pria itu membanting pintu kamarnya dan keluar dengan wajah yang lebih marah dari tadi pagi. Ia menyandarkan kepalanya di tembok, sementara tangannya ia silangkan di depan dada bidangnya.

Aku memandanginya dalam beberapa detik. Aku tidak pernah melihat wajah pria itu sejelas hari ini. dan juga semarah hari ini.

Walaupun aku tidak pernah berkenalan dengannya –dan mungkin ia juga tidak mengenalku, tapi hanya dari wajahnya, aku bisa merasakan bahwa ia adalah pria yang lembut dan bersahaja. Jadi amarahnya hari ini yang ia luapkan kupikir karena sesuatu yang sangat membuatnya kesal. Sehingga emosinya menjadi tidak stabil.

Dalam 5 detik, aku tidak sadar bahwa aku masih menatapnya. Yang membuatku segera terhenyak dari dunia khayalan adalah tatapan mata pria itu yang tiba tiba menatap mataku. aku kaget dan tersenyum dalam satu garis semu singkat. aku segera menundukkan kepalaku sebagai tanda hormat dan masuk ke dalam kamarku.

Namun sebelumnya, aku bisa melihat bahwa pria itu tersenyum manis padaku.

.Everything Has Changed

Sudah 3 hari sejak aku melakukan kontak mata –dengan tidak sengaja, pada pria itu. aku sebenarnya tidak nyaman dengan ini. aku tidak tahu siapa namanya, namun aku terus berpikir dan penasaran setiap sesuatu terjadi di kamar depanku –tempat tinggal pria itu.

Dalam 3 hari terakhir, ia terlihat sangat kusut dari biasanya. Kadang aku bisa melihat ia sendirian berdiri dan bersandar di pintu depan kamarnya. Matanya menerawang dan rumit. Aku tidak bisa menguraikan ekspresi pria itu dalam kata-kata, hanya saja ia tidak terlihat seperti akan tenang dalam beberapa minggu ke depan.

Tadi pagi, aku melihat ia membuang semua barang-barang nya ke dalam bak penampungan sampah di belakang apartemen.  Ia membakar semuanya, kemudian ia membuang semua botol susu yang dijajakan oleh pengurus apartemen di depan setiap pintu. Koran-koran harian, ia buang sembarangan di tong sampahnya sehingga kini bisa dilihat, tong sampah miliknya sudah overload.

Aku tidak mengerti, dan lagi sebenarnya ini bukan urusanku, tapi aku hanya penasaran. Apa yang membuat tetangga depan yang hidup dengan damai selama 2 tahun menjadi seperti orang gila seperti ini. meskipun aku tidak mengenalnya, tapi kelakuannya sedikit membuatku khawatir. bagaimana jika nanti ia telah bosan membakar barang-barangnya, dan ia memutuskan untuk membakar apartemen ini?

Aku memutuskan untuk membuka pintuku, berpura pura menuju satu telepon koin yang ada di dinding. Telepon koin kebetulan ada di dekat kamar pria itu. sehingga aku bisa berpura pura menelepon sambil mencuri dengar pria yang sedang memasang headset di telinganya dan berbincang.

“tidak, aku tidak akan kembali ke Korea. Bawa pulang Ji-Eun dari rumahku di sana, aku tidak ingin melihatnya lagi. sampaikan salamku atas pernikahannya”

Tidak lama kemudian pria itu melepas headset nya dan menarik napas panjang. Ia bersandar lemas di tembok dan menatap langit langit yang luas. Aku salah tingkah. Kurasa aku sudah menemukan apa yang menyebabkan pria itu menjadi sedikit gila dalam 3 hari belakangan. Namun aku tidak tahu bagaimana berakting seperti aku sedang menelepon di sini.

Aku mati gaya.

Pria itu menatapku yang gemetar saat ini. aku berkeringat. Aku terlalu malu jika aku menunjukkan wajahku pada pria ini.

“teleponnya rusak, nona”, ia berbicara dalam bahasa korea. ah~ aku hampir lupa bahwa ia berasal dari negara yang sama denganku.

“ah~ terima kasih. Pantas saja—aku—aku tidak bisa menggunakannya”, aku bicara dengan terbata-bata sambil menggigit lidahku beberapa kali.

“setahuku memang telepon itu sudah tidak bisa dipakai dari setahun yang lalu. Mungkin kau tahu”

Shit.  Aku menggumam. Wajahku memerah.

“—y-ya, aku tahu tentu saja—hanya saja kupikir ia sudah diperbaiki hari ini—“, aku berbohong. Aku bersyukur di beri kemampuan untuk hal satu ini.

Di luar ekspektasiku, pria ini tersenyum.

“apa kau yakin menggunakan telepon ini untuk alasan yang jelas atau kau hanya mencari alasan untuk mendengar percakapanku di telepon, nona?”

Dan aku mendengar langit runtuh, topan datang, tsunami naik ke daratan dan planet mars bertubrukan dengan bumi. Entahlah. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Pria ini tersenyum dengan menggodaku, seolah apa yang dikatakannya adalah kebenaran –tapi memang seperti itu adanya.

Dia menungguku berbicara. Matanya terus menatapku. Aku meletakkan gagang telepon pada tempatnya semula. Dengan gerakan slow motion yang diperlambat maksimal, aku bisa merasakan keringatku tertahan di dahi, menuruni pipi dengan sangat hati-hati.

“m-maaf”, aku menundukkan kepala pada pria itu. tidak ada pilihan selain jujur.

“sebenarnya tidak perlu. Aku yang harus minta maaf atas keributan selama beberapa hari terakhir ini”, pria itu tersenyum. Dia berbalik, dan baru saja akan masuk ke dalam kamar. Namun entah setan apa yang membuat aku seperti robot, dengan refleks aku memegangi tangannya dan menahan tubuhnya di ambang pintu.

Pria itu terlihat kaget, tapi ia tidak bersikap kasar untuk sekedar melepaskan genggaman tanganku.

“s-setidaknya, sebelum kau masuk, beritahu aku siapa namamu”, aku bicara terbata, aku tidak berani menatap matanya, aku hanya menatap kerah bajunya sambil tetap memegangi lengannya yang halus.

“Jong Dae, Kim Jong Dae”, dia berkata dengan tonasi rendah yang sangat halus. Aku mulai berani menatapnya, dan ia tersenyum padaku. Aku melepaskan genggaman tanganku dan membiarkan pria itu masuk kemudian menutup pintu kamarnya. Aku berbalik. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan ini, seperti akan meledak, namun menyenangkan.

Pria itu… dia tidak melakukan apapun. Ia hanya memberikan namanya padaku. Tapi kenapa?… kenapa dengan hanya mendengar namanya, jantungku berdegup kencang?

Kwon Yuri… apa yang terjadi denganmu?

.Everything Has Changed

“kau ingin pizza, Yuri-ah?”

“aku sedang diet, bisakah aku memesan salad?”

aigoo. Aku bosan melihat salad di atas mejaku setiap kali aku pergi makan denganmu”

Aku menggembungkan bibirku pada pria di depanku.

arrasseo, arrasseo, jangan membuat selera makanku hilang dengan aegyo gagal itu lagi, ne”, pria itu menepuk nepuk kepalaku. Aku tersenyum dan mulai mengaduk-aduk eskrim yang mulai mencair di depanku.

Pria ini adalah Kim Jong Dae, dan aku telah menjalin satu pertemanan dengannya sejak satu bulan lalu. Ia adalah teman yang baik, kami memiliki latar belakang yang sama di Korea. jika aku adalah anak dari seorang pengusaha dengan saham terbesar se-Korea, sementara Jongdae adalah anak dari seniman terpandang di Seoul. Alasan dia datang ke London adalah menuntut ilmu di fakultas kesenian kota. Pria ini memiliki suara yang indah dan tutur kata yang halus. Mungkin ia terlihat sedikit pendiam, namun ketika kau mengenalnya lebih jauh, dia adalah tipe pria yang tidak bisa diam bicara dalam satu menit.

Dia pembicara yang baik, teman yang peduli dan sahabat yang perhatian.

Dan aku adalah pendengar yang baik dan pecinta yang payah.

Mungkin Jong dae belum menyadari ini, tapi sejak saat ia mengatakan namanya padaku… pria itu telah mengambil hatiku sepenuhnya. Aku berada dalam bayang-bayang mencintai seseorang dengan diam-diam sebulan terakhir ini.

Aku tidak mempunyai satupun kekuatan dan keinginan untuk mengatakan perasaanku padanya. Menjadi teman dan selalu menjadi orang pertama yang ia butuhkan sudah lebih dari cukup buatku. Aku tidak ingin direpotkan dengan urusan percintaan di dalam persahabatanku.

Lagipula, pria ini baru saja berpisah dengan tunangannya. Seharusnya hari ini ia ada di Korea –merayakan pernikahannya dengan gadis bernama Ji-Eun. Dan takdir, membawanya padaku hari ini. duduk berdua di sebuah restauran fast food, sambil mengobrol ringan tentang apa saja yang terlintas di otak kami.

Tidak ada yang lebih baik dari ini.

“Yuri-ah, kenapa kau tidak segera menikah?”, aku hampir tersedak sendok eskrim ketika Jongdae dengan tiba tiba bertanya padaku.

wae? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“aku hanya bertanya. Kalau kau tidak mau menjawabnya, ya sudah”

“aku belum menemukan seseorang yang pantas untuk aku nikahi. Itu saja”, Jongdae tersenyum. Dari sorot matanya, aku yakin dia akan mengerjaiku lagi kali ini.

“kau tidak tertarik dengan blind date?”

“haruskah aku tertarik? Di sana hanya ada pria-pria putus asa yang mencari pasangan. Itu melukai harga diriku”

cih, kau terlalu ambisius, Yuri-ah… tapi aku yakin kau akan mendapatkan pasangan hidupmu dengan segera”, Jongdae menggenggam tanganku dan berusaha meyakinkanku dengan kata-katanya. Alih-alih yakin, aku merasa geli.

“kenapa kau tertawa?”, Jongdae melepaskan genggamannya ketika aku mulai tertawa lebih keras.

anieyo, kau lucu. Kenapa kau tidak meyakinkan dirimu sendiri, daripada meyakinkan aku? Kau juga belum memiliki pasangan Jongdae­-ah.”

ah~”, Jongdae terlihat kecewa, tapi aku bertaruh itu pasti hanya aktingnya saja seperti hari-hari yang lalu. Dan dalam beberapa detik kemudian, ia tersenyum padaku.

“aku sudah menemukannya”

Deg.

Entah kenapa jantungku berdegup sangat kencang. Ketika ia bilang ia telah menemukan pasangannya, yang aku pikirkan menjadi sangat bervariasi.

“siapa dia?”, aku mencoba mengorek informasi.

“seorang wanita yang ku kenal”, entah ada setan apa, aku merasa aku sedang dibicarakan oleh pria ini. dan itu membuat pipiku memerah seketika.

“si..apa?”, aku mengantisipasi jawaban Jongdae dengan hati-hati. Tapi jika dituangkan dalam data statistik, maka kemungkinan wanita itu adalah 50:50 untuk aku.

“seorang wanita, dekat denganku dan mencintaiku sejak lama”

Aku ingin sekali memegang palu saat ini dan memukulkannya ke lantai agar beban di dadaku lepas. Aku begitu berdegup, aku menjadi salah tingkah, wajahku makin memerah. Aku hentikan eskrim yang aku sendoki dengan perlahan ke mulut. Aku letakkan tanganku di bawah meja, bertautan satu sama lain menahan perasaan aneh di dadaku.

“bagaimana menurutmu jika aku mengatakan pada wanita itu bahwa aku mencintainya?”

“itu bagus. Kau harus segera mengatakannya”

“baiklah~”, Jongdae terlihat sangat manis ketika ia bersemangat. Tapi aku tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan penasaran yang ada di otakku. Aku cukupkan semua dialog sampai di situ. Aku berharap sesuatu yang lebih pada pria ini. ketika dia tersenyum, kuharap dia mengerti, ada satu wanita yang memilih mencintainya diam-diam.

.Everything Has Changed

Hari itu hujan, aku berdiri di antara gerimis yang sudah berubah menjadi lebat dalam beberapa detik. Seperti air danau tumpah di atas kepalaku. Aku memeluk tubuhku erat di antara lebatnya air langit. Petir yang menggelegar tidak menggoyahkan langkahku yang gamang. Aku berjalan, dengan tatapan kosong dan tanpa arah tujuan.

Aku merasa kehidupanku habis seketika. Harapan itu sudah musnah.

“Namanya Min-Hi, Lee Min Hi. Dia sahabatku sejak SMA di Seoul. Kemarin dia baru saja menyatakan perasaannya padaku melalui telepon dan mungkin aku akan kembali ke Korea untuk bertunangan dengannya—–“

Entah. Jongdae masih berbicara. Namun telingaku berdenging, aku merasa tuli. Keringat dingin yang mengalir di tanganku menjadi kering. Wajahku yang memerah perlahan kembali normal. Jantungku yang berdegup perlahan melambat. Aku merasa sensasi lain yang menjalari tubuhku dengan segera. Pria ini… jatuh cinta pada orang lain –lagi.

Dia sama sekali tidak menyadari keberadaanku di sini. Seolah aku adalah patung yang mencintainya secara diam-diam.

“Kau bodoh, Kwon Yuri”

Pohon rindang kehijauan yang basah aku lewati dengan limbung. Sejalan dengan semakin derasnya rinai hujan. Dengkulku lemas, aku terjatuh di antara ilalang yang basah. Aku sudah tidak bisa membedakan air yang menetes di pahaku, apakah itu hanya hujan, atau itu air mataku.

Jongdae… yang ia lakukan hanyalah mengatakan namanya. Dan yang ia tinggalkan setelahnya adalah wanita yang mencintai diam-diam dan terluka.

.Everything Has Changed

aku mengusap foto berdebu itu dengan sedikit rasa perih di dadaku.

“sudah 2 bulan berlalu, kau tidak kembali, Jongdae-ssi”, aku berkata pada foto kusam itu. pria di sana tersenyum riang seolah tidak pernah tahu aku di sini berdiri dan menangis karenanya.

Aku tidak pernah mengantarnya ke bandara, aku tidak pernah menyusulnya ke Korea, aku tidak pernah menghubunginya. Aku seolah melupakannya –setidaknya itu yang ia pikirkan. Jauh di dalam hatiku, tersiksa adalah satu kata yang tepat.

Aku memutar musik yang terbiasa aku dengarkan selama 2 bulan terakhir ini.

Cause all I know is we said “Hello”
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You’ll be mine and I’ll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

Aku hembuskan nafasku yang berat pada kaca jendela yang berembun. Air hujan mulai menetes membasahi pohon yang tinggi di luar jendela. Dahan pohon itu bisa meraih jendela ku dengan ranting-rantingnya sehingga tetes air hujan bisa kusentuh dengan jariku.

Merasa sendiri, aku lagi-lagi merasa sangat sendiri.

Jatuh cinta sudah cukup, sakit ini tidak berguna.

Aku sudah menghabiskan air mataku untuk seseuatu yang sia-sia selama 3 bulan ini. aku kembali menjadi diriku yang lama. Yang terbiasa dengan kutukan kesendirian. Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.

All I know is we said “Hello”
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain and everything has changed
All I know is the new found grace
All my days I know your face
All I know since yesterday is everything has changed

Lagu itu bergema di seluruh sudut kamarku. Aku duduk di ambang jendela, merasakan rinai air hujan sambil menikmati matahari sore yang tertutup awan tebal. Hatiku berusaha menemukan kedamaian, namun lukanya masih belum mengering.

Everything has changed. Duniaku telah jungkir balik dalam 3 bulan terakhir. Meskipun melupakan adalah satu satu nya jalan keluar, tapi semuanya tidak akan sama lagi seperti titik nol.

Air mataku menetes. Bercampur dengan rinai air hujan dan turun terus ke atas tanah.

“Yuri-ah?”

Aku mendengar suara Jongdae bergema di kepalaku. Mungkin aku sudah gila, bahkan suaranya pria itu masih terngiang jelas di telingaku. Cinta menghancurkan semuanya menjadi butiran kecil yang sama sekali tidak berfungsi.

“Yuri-ah, kau di dalam?”

Aku mendengarnya lagi, suara dengan tonasi yang lebih jelas dan tinggi. Aku tidak bisa mengatakan itu hanya halusinasiku karena dalam beberapa menit kemudian, aku mendengar suara bel pintu dan ketukan beberapa kali.

Aku berjalan perlahan. Berharap aku salah dengar. Namun suara bel semakin intens terngiang setiap detiknya. Ada seseorang di balik pintu. Dan aku tidak ingin terlalu berharap.

“Yuri-ah”

Aku membuka pintu kayu dengan pelitur coklat. Satu sosok berdiri di sana dengan basah kuyup dan memanggil namaku dengan gemetar. Mata coklat milik pria itu tergenang air mata. aku tidak tahu apa ia kemasukan air hujan di matanya atau memang ia menahan tangisannya ketika melihatku.

Dan selanjutnya yang kutahu adalah, pria ini memelukku dengan tiba-tiba. Ia menumpahkan tangisannya di bahuku.

“Jongdae-ah”

.Everything Has Changed

“aku berusaha melupakanmu. Ketika aku tahu bahwa aku mencintaimu. Semua yang kukatakan adalah kebohongan. Ketika kau bilang kau adalah anak dari seorang konglomerat, maka aku berbohong dan mengatakan aku ada di level yang sama denganmu. aku mengarang semuanya. Aku berbohong tentang Lee Min Hi, aku tidak kembali ke Korea. yang kulakukan hanyalah menjauhkan diriku darimu. aku hanya takut… takut aku gagal dalam kedua kalinya dalam cintaku”

Pria itu memandangku lekat. Aku terdiam.

“aku mencoba melupakanmu dan sadar bahwa aku berada di dalam level yang sangat berbeda denganmu. tapi dari semuanya, yang kulakukan hanyalah menyakiti diriku sendiri pada akhirnya. Dan ketika aku melihatmu kembali menjadi dirimu yang dulu, aku sadar… bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku mencintaimu Kwon Yuri-ah dan aku tersiksa karena menyimpan ini terlalu lama”

Ia menggenggam tanganku.

Dari semuanya yang kulakukan hanya terdiam. Menunggu detik demi detik berlalu tanpa suara. Pria yang kucintai dengan sangat tiba-tiba datang dari semua yang telah ia lakukan. luka yang belum mengering ini perlahan memudar seiring dengan berlinangnya satu lagi deretan air mata yang membarikade pipiku.

Sesak yang kurasakan ketika hujan turun tidak sebanding dengan perasaan lega yang ia berikan. Pria itu datang seolah ia membawa aspirin untuk hidupku. Satu kalimatnya membuat aku sadar bahwa dunia masih berada di pihakku. Harapan itu masih ada.

“aku mencintaimu, Jongdae-ah. Aku benci mengatakan ini, tapi aku merindukanmu. Sekarang dan selamanya”

Pria itu dengan sangat lembut, menghapus air mataku. ia tersenyum, membawaku ke pelukannya. Hujan masih berderai di luar jendela. Harum tanah basah masuk melalui hidung kami. dendang lagu yang kunyalakan di sebuah music player, masih bergema di seluruh sudut ruangan.

All I know is we said “Hello”
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain and everything has changed
All I know is the new found grace
All my days I know your face
All I know since yesterday is everything has changed

Aku mengenalmu melalui sebuah nama, dan sejak saat itu, semuanya berubah.

Everything Has Changed

=THE END=

Series kedua sudah keluar~~ gak setegang versi Lay-Yuri. di sini di buat ringan aja. ada yang suka pairingan ini?

biar ga ada juga di baca aja ya😄.

ditunggu RCL nya🙂

92 thoughts on “Everything Has Changed – From EXOYUL Series

  1. dotha12 berkata:

    Gak tau knpa walaupun bukan pairing favorit, klo kaknyun yg buat jdinyaa….
    Apikkk…
    Gregett…

    Wktu thun 2014 aku cm baca yg enchanted (krna pair nya sm biass akohh hahhahaa)….

    Udh ahh aku mau lanjut baca exoyul series lainnya hohohoo

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s