Comeback, Be Here – From EXOYUL Series

4. Comeback be here

Series Keempat.

Yuri – Sehun Version.

Genre : Angst, Romance.

Based on Taylor Swift’s Song ‘Comeback Be Here’

Disclaimer : lagu milik Taylor Swift dan agensinya. Cast dan tokoh utama milik orang tua dan agensi mereka. saya pure hanya memiliki ide cerita dan plot yang berkembang di sana dan sini berdasarkan lagunya. Mohon agar tidak COPAS atau mempublikasikan cerita ini de tempat lain tanpa seijin dari saya. thanks.

***

Seorang gadis berambut hitam duduk di pinggiran sebuah jendela. Gaun putih panjang yang ia pakai, terjuntai panjang ke bawah. Ia duduk sambil memeluk lutut nya yang kecoklatan. Angin yang berputar di ubun-ubun nya perlahan menyapa wajahnya yang temaram. Desingan pelan dari engsel jendela yang sudah berumur tidak membuatnya beranjak dari sana.

Di bawah jendela, terdapat beberapa pepohonan tua yang tingginya bisa mencapai dua kali tinggi manusia. Gadis ini tidak takut jatuh walaupun ia berada lebih tinggi dari pepohonan itu. gadis itu tenggelam dalam pikirannya. Ia kalut, tapi dia tidak bisa menangis lagi.

Samar-samar suara televisi rusak terdengar dari ujung kamar. Gadis itu menoleh. Hanya siaran yang sama yang berulang-ulang ia dengar selama seminggu terakhir. Dadanya sesak. Ia berusaha menarik napasnya panjang dengan hati-hati, tapi dadanya semakin terhimpit. Sebutir linangan air mata menetes dari pelupuk matanya.

Angin tidak mampu membawa luka gadis itu pergi. Waktu tidak dapat membuat hati gadis itu baik-baik saja. Matanya sendu dan berlinangan air mata, bibirnya terkatup sempurna dan bergetar, dadanya sesak, lebih sesak dalam setiap detiknya. Gadis itu mematung, memeluk lututnya di temani suara kecil dari Televisi.

sebuah pesawat terbang Boeing-1259AX tujuan Seoul-new York yang berangkat siang tadi, ditemukan jatuh dan tenggelam di perairan utara New York. Belum dilaporkan penyebab dari kejadian ini, karena kondisi kotak hitam yang belum ditemukan. Sampai berita ini diturunkan, belum ada satupun penumpang yang ditemukan selamat dalam insiden ini…”

Gadis itu meneteskan kembali air matanya. Kerongkongannya tercekat ketika ia bergumam sesuatu.

“kumohon… kembalilah, Sehun-ah… kembalilah…”

.Comeback, Be Here

Flashback.

Aku sedang duduk dengan manis di sebuah ruang tunggu terbuka sebuah stasiun. Kurasa aku sudah ketinggalan kereta untuk kedua kalinya hari ini. tadi pagi saat berangkat, dan kali ini ketika aku pulang. Pekerjaan dan jarak menuntutku untuk membuat lebih banyak spare waktu dalam menggunakan transportasi.

Kulirik jam ku, sudah pukul 9 malam. Dan jika aku tidak mendapatkan kereta terakhir, aku yakin aku akan berakhir menunggu semalaman di ruang tunggu yang terlihat menyeramkan ini.

Di detik selanjutnya, desing berisik dari suara kereta listrik datang dari sebelah baratku. Aku menoleh dan melihat kereta yang kutunggu sejak sejam yang lalu tiba. Lampunya menyorot pada jalanan kereta yang berkerikil. Pintu-pintu terbuka secara otomatis ketika kereta itu berhenti. Aku segera mengayunkan kaki kananku masuk ke dalam badan kereta. Kereta itu cukup ramai sehingga aku harus rela berdiri dan menggantungkan satu tanganku di besi berbentuk melingkar yang tergantung di atas kepalaku.

Beberapa pria tua dengan koran dan kacamata melihatku dari atas sampai bawah. Aku menutup mantelku lebih rapat.

Suhu dingin dari pendingin ruangan membuat tengkukku merasa tidak nyaman, aku berputar mencari posisi agar angin dari pendingin itu tidak langsung mengenai tubuhku. Di depanku, ada seorang pria yang cukup tinggi dengan rambut dipangkas pendek. Ia berdiri dan memegangi sebuah tas dengan tali panjang di bahunya. Pria itu cukup kurus sehingga aku bisa melihat guratan nadi di lehernya dan bungkusan tulang di balik tangannya.

Di antara semua pria yang berdiri di depanku, kuakui hanya pria tinggi itu yang terlihat paling menarik. Ia mengunakan jam tangan swiss army dengan model yang sangat up-to-da-te. Tas yang dipegangnya kurasa berlabelkan Louis Vuitton. Dan sepatunya… aku tidak bisa melihat sepatunya karena dengan tiba-tiba ia melangkah menjauh.

Aku menghela napasku. Kereta berhenti di stasiun pemberhentian ke-4 dari tempatku berangkat, dan aku melihat pria itu keluar dengan terburu-buru.

Di saat ketika keretaku berangkat kembali, pria itu menoleh ke belakang. Dan aku bisa dengan jelas melihat sorot mata hitamnya yang jernih.

.Comeback, Be Here

“terlalu malam, apakah kau bisa pulang lebih awal?”, seorang wanita yang biasa  kupanggil dengan ahjumma memarahiku. Aku melemparkan tas ku asal di atas kasur dan merebahkan tubuhku di atasnya.

“Kwon Yuri-yah.. kau terlalu banyak menghabiskan waktumu untuk bekerja. tidakkah kau lelah?”, wanita paruh baya itu mendekatiku dan menyibakkan rambut yang ada di wajahku. Aku berterima kasih atas perhatiannya. Hanya saja kalimat yang diucapkannya itu sama dengan beribu kalimat yang biasa aku dengar setiap hari dari mulutnya.

ani, aku akan kesepian jika aku tidak menghabiskan banyak waktuku di kantor”, jawabku sambil tersenyum. Aku terduduk, bertatapan dengan mata dari ahjumma di depanku.

“habiskanlah waktumu mencari seorang pria yang pantas untuk kau cintai”, ahjumma itu memukulku. Aku tertawa, namun setelahnya kami dilanda satu keheningan panjang. Aku menggigit bibirku dan memeluk ahjumma itu.

“sudah, ahjumma… aku sudah mencarinya. Namun mereka yang aku cintai, tidak pernah mencintaiku..”, tangan kasar milik ahjumma itu meraih pipiku. Ia mengusap pipiku dengan lembut. aku bisa merasakan kasih sayangnya yang merasuk melalui pori-pori kulit.

Bukan Min-Ahjumma namanya jika dia tidak menyayangiku seperti ini. setelah aku harus kehilangan kedua orang tuaku di saat aku seharusnya tumbuh, dia datang. Merawatku seperti anaknya sendiri. Aku kerja keras banting tulang untuk keluarga ini. dia tidak dikaruniai satu orang anakpun dalam hidupnya. suaminya pergi meninggalkannya karena hal itu. dan aku bersedia menjadi seorang anak baginya. Tapi aku tidak pernah memanggilnya eomma.

Eomma untukku hanya ada satu, dan jasadnya sudah terkubur bersama kenanganku.

“kau akan menemukannya, Yuri-ah.. kau adalah wanita yang baik dan cantik”, Min-ahjumma berusaha melapangkan dadaku. Aku mengangguk setuju. Namun aku tidak yakin apa yang dikatakan Min ahjumma tentang ini adalah kebenaran.

“apakah aku bisa mandi sekarang? Aku rasa badanku terlalu lengket”, ahjumma tersenyum padaku dan membuat tangannya menutup hidung. Ia menggodaku sementara aku pergi menjauh dengan tertawa darinya.

Aku segera masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Di bathtub sudah tersedia air hangat yang telah dipanaskan oleh Min-ahjumma seperti biasa. aku hanya tinggal menyesuaikan suhu nya dengan menambahkan beberapa liter air dingin lagi agar suhu nya pas di tubuhku.

Sambil menunggu asap mengepul yang sedikit menghilang, aku menatap wajah kusut di depan cermin. Aku menepuk-nepuk pipiku pelan dan memajukan bibirku perlahan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian menepuk-nepuk pipiku lagi.

“benar, aku tidak jelek”, ucapku rendah. Aku menghembuskan karbondioksida perlahan untuk kemudian melangkahkan kakikku masuk ke dalam bathtub. Sensasi hangat yang menyeruak pori-pori terasa sudah. Otot-otot ku yang tegang bisa rileks dalam beberapa detik. Aku mencoba berbaring dan menutup mataku dengan santai.

Gemericik air sabun yang tercipta akibat tubuhku yang sedikit bergerak mencari posisi nyaman, menjadi berbuih. Busanya semakin banyak dan aku dibuat semakin rileks dengan aromanya. Aku tersenyum dan merangkum semua kejadian hari ini dalam otakku.

Dari mulai bagaimana aku diberi teguran oleh atasan di kantor hingga malam ketika aku ketinggalan sebuah kereta.

Satu bayangan sekelebat muncul dalam serpihan memoriku. Sosok seorang pria tinggi yang melekat kuat dalam ingatanku. Entah apa yang membuatku mampu mengingatnya sejauh ini, aku tidak mengenalnya, pun dia orang asing. Tidak ada alasan bagiku untuk penasaran dengan jati diri orang asing. Sangat tidak beralasan pula ingatan itu tetap ada di otakku.

Tapi, ia ada. Di sini. Di dalam otakku.

Andai aku tahu apa maksud otakku merekam semua ini. mungkin aku akan lebih rileks saat ini.

.Comeback, Be Here

Aku sudah menghabiskan makan malam yang disediakan ahjumma. Aku merasa kasihan padanya. Ia harus menunggu lama kepulanganku hanya untuk sebuah makan malam bersama. Makanannya pun mungkin sudah beberapa kali ia panaskan, mengingat ada rasa aneh dalam sup yang ia buat.

Aku tidak banyak protes, apapun makanan buatannya, aku akan selalu memakannya. Aku telah berjanji.

Kini aku berbaring di atas kasur empuk. Sendiri.

Aku menatap langit-langit kamarku yang berwarna biru terang. Aku ambil sebuah ponsel dan menatap gambar yang menjadi wallpaper di layar 10 inci itu. sosok pria muda yang sedang tersenyum. Pria itu menunjukkan deretan gigi putihnya yang berwarna seragam. Matanya menyipit terkena silaunya mentari musim panas. Di belakang pria itu, ada satu sosok gadis dengan senyum paling bahagianya di seluruh dunia. Gadis itu memeluk pria dari belakang dan mereka tertawa bersama.

“tentu saja kau tidak akan kembali, Himchan-ah. Harusnya aku tahu”

Air mataku menetes. Namun aku segera menghapusnya, mencegah lebih banyak lagi air yang berderai di atas bantal.

Pria di foto itu adalah Kim Him Chan. Dia pernah sekali menjadi kekasihku sebelum ia meninggalkanku atas perintah orang tuanya.

Bukan hanya Kim Himchan, sebelumnya… semua pria yang pernah datang di dalam kehidupanku, selalu pergi tanpa jejak. Satu-satunya yang mereka tinggalkan adalah rasa perih. Berbagai alasan sudah aku terima dan kutelan bulat-bulat. Mereka mengatakan aku bodoh karena aku selalu menerima kenyataan pahit ini. tapi aku tidak dapat memaksakan cinta. Ketika ia datang, maka aku yakin ia sudah diciptakan untukku. Tapi ketika ia pergi, aku hanya akan berkata selamat tinggal. setidaknya ia adalah orang yang salah yang pernah membimbingku menemukan seseorang yang benar.

“Yuri­-ah, matikan lampu kamarmu”, aku dengar teriakan dari luar kamar. Rupanya ahjumma mengetahui aku belum tidur. Aku terkekeh dan segera mematikan lampu utama kamarku. Aku berbaring dan menyalakan lampu tidur berwarna oranye. Lampu itu akan berputar, merefleksikan gambar-gambar kuda laut dengan aneka ragam pose di dinding yang gelap. Setiap ia berputar, maka sebuah lagu lullaby yang telah ku-setting sebelumnya akan berbunyi.

And this is when the feeling sinks in,
I don’t wanna miss you like this,
Come back… be here, come back… be here.

Aku berusaha menutup mataku dengan segera. Dengan memeluk sebuah bantal mickey mouse , ku gerakkan kepalaku beberapa kali sebelum akhirnya aku benar-benar tertidur.

.Comeback, Be Here

Aku tidak ketinggalan sebuah kereta hari ini, hanya saja aku datang terlalu cepat. Seperti biasa, aku harus menunggu di sebuah ruang tunggu yang terbuka. Hanya sedikit bangku kosong tersedia di sana. aku memilih satu yang paling terdekat dengan posisiku berdiri saat ini.

Aku duduk dengan sembarang –masih dengan kebiasaan seperti saat di rumah. Aku hempaskan tubuhku di kursi yang sebenarnya keras. Di detik selanjutnya, aku merasakan seluruh bagian belakang tubuhku linu. Aku menggigit lidahku, begitu bodoh.

“permisi”, suara rendah dari seorang pria terdengar di telingaku. Aku refleks menoleh ke sumber suara. Di sana duduk satu orang pria dengan rambut pirang dan beanie hitam menutupi kepalanya. Ia tersenyum padaku dan aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

“kaki anda”, ia menunjukkan sepatu coklatnya yang terlihat klimis padaku. Aku kira dia akan memamerkan merek mahal yang ia pakai sampai akhirnya aku baru menyadari bahwa aku menginjak kakinya dengan high heel yang kupakai.

Johsumnida”, aku menunduk beberapa kali pada pria itu. dan beberapa kali pula ia mengatakan ‘gwaenchana’ padaku. Padahal aku tahu, pasti sakit sekali.

Keadaan menjadi hening kembali ketika adegan meminta maaf sudah terlaksana. Aku mencoba mengumpulkan potongan dari ingatanku yang tiba-tiba tumpul. Aku familiar dengan wajah orang asing di sebelahku ini. hanya saja aku lupa melihatnya di mana.

Sebuah kereta yang berdesing datang dan berhenti tepat di depanku. Pintunya membuka lebar, mempersilakan para penumpangnya masuk. Aku bisa saja langsung berlari dan masuk ke dalam kereta jika saja tas ku tidak tersangkut dengan tas milik pria itu.

“ah, maaf”, ia tersenyum singkat sambil mencoba melepaskan tasnya dari tasku. Aku mengangguk dan mencoba membantunya. Karena tidak ada hasil dalam beberapa detik, aku memutuskan untuk masuk terlebih dahulu ke dalam kereta bersama pria itu. kami duduk bersebelahan –karena hanya tempat duduk kecil itu yang tersedia ketika kami masuk.

Sambil masih berusaha melepaskan satu pengait kecil dari tas ku, pria ini mendesis kesal beberapa kali. ia mengibaskan rambut hitamnya hingga beani nya terlepas. Aku bisa melihat wajah sempurna dengan kulit milky skin khas idol.

Sebentar, apakah dia idol?

Jika dia idol,  maka wajar bagiku merasa familiar. Aku penasaran, kutundukkan kepalaku melihat wajahnya lebih jelas. pria ini tidak menyadariku sampai akhirnya wajah kami terlalu dekat dan dia menjauhiku dengan refleks.

“apa yang kau lakukan, noona?”, ia bertanya padaku. Aku ikut kaget dan bergeser mundur dari tubuhnya. Beberapa orang melihatku dengan tatapan tajam. Mungkin image ku tidak benar di sini.

Johsumnida. Aku hanya merasa aku pernah melihatmu. Dan aku penasaran”. Aku tidak suka berbelit-belit. Aku langsung bertanya pada pokok permasalahku kali ini. pria itu terlihat bingung. Alis kanannya terangkat sempurna.

“aku yakin kita baru pertama kali bertemu hari ini”

ah~ maafkan aku. Mungkin aku salah orang”, aku mengangguk mengerti. Di saat yang sama, kaitan tas kami terlepas dan aku bisa membawa tas itu kembali di bahuku. Pria ini duduk dengan memangku tasnya di atas paha dan ia menatap ke segala arah. Seolah tidak ada aku di sebelahnya.

Tapi, tunggu. Kenapa aku harus memikirkan ini?

“kau bekerja, noona?”, pria itu dengan tiba-tiba bertanya padaku ketika mata kami bertemu.

ne. aku baru saja selesai bekerja”, aku tersenyum ramah padanya

“dimana kau turun?”

“stasiun ke 5 dari sini, tidak jauh”, ucapku singkat. dengan masih mempertahankan senyuman, aku berbalik bertanya padanya.

“dan kau? Kau pulang bekerja?”

ne, sama sepertimu. Kurasa mereka yang ada di kereta ini sama”, pria itu terkekeh. Aku mengangguk setuju. Pembicaraanpun mengalir secara natural di antara kami. Sampai ketika semua harus terhenti ketika kereta mencapai stasiun ketiga.

“baiklah, aku harus turun di sini. Hati-hati dalam perjalananmu, noona

Ia melambaikan tangannya padaku dan menunjukkan senyuman termanisnya. Aku mengangguk dan membalas senyumannya seperti tidak ada yang dapat kulakukan lagi selain tersenyum. Ia, dengan langkah kaki panjangnya, segera keluar dari badan kereta. Di balik kaca yang bening, aku bisa melihat bagaimana ia melambaikan tangannya dengan tinggi padaku.

Aku membalasnya dan terkekeh.

Namun mataku membulat seketika ketika aku mengingat sesuatu. Ketika kereta tepat akan berangkat. Aku bisa mengingat semuanya. Hari dimana aku melihat pria itu pertama kali di dalam hidupku. Dan seharusnya memori itu tetap lekat di otakku. Pria hari ini adalah pria yang sama dengan pria yang kupikirkan beberapa waktu lalu.

Dan sayangnya, aku lupa memberitahunya namaku dan dia lupa memberitahuku namanya.

.Comeback, Be Here

Aku terburu-buru membawa map-map yang belum sempat kubereskan hanya untuk datang lebih awal ke stasiun. Kali ini aku berharap aku bertemu dengan pria itu.

Tuhan menjawab doaku, kulihat ia sedang berjalan santai di depan sebuah cafetaria. Aku menghampirinya.

annyeonghaseyo”, sapaku sopan. Ia terlihat kaget kemudian sambil tertawa mengulurkan tangannya padaku.

“kita bertemu lagi ooo-ooh..”, ia terlihat bingung ketika ingin menyebut namaku. Kurasa dia baru menyadari bahwa kami belum memperkenalkan diri satu sama lain setelah mengobrol panjang malam itu.

“Kwon Yuri, panggil aku Yuri saja. Dan kau?”

“Oh Sehun. Mereka menyebutku Sehun. Apa kau seorang noona, maaf sebelumnya tapi aku hanya tidak nyaman memanggilmu noona jika kita sebenarnya sebaya—“

anieyo,  tidak apa. aku akan genap 23 di akhir tahun ini. bagaimana denganmu?”

“aku setahun lebih muda darimu”

“kalau begitu panggil aku noona

arrasseo, noona-yah

Aku terkekeh ketika ia menyematkan –yah pada kata dimana ia memanggilku. Ini seperti ia menunjukkan bahwa kami dekat dan telah mengenal lama. Padahal aku baru mengenalnya dalam 3 kali pertemuan termasuk sekarang –dan mungkin hanya 2 kali baginya.

Sehun adalah seorang yang terlihat cool secara fisik, namun siapapun akan menolak untuk tidak tertawa ketika ia berbicara. Gaya bicara nya yang aneh dan mimik wajahnya yang berubah sesuai mood nya menjadi sebuah gaya tersendiri. Ia mempunyai gaya oh sehun yang sangat pas di mataku, membuatku tidak bosan memandangnya dan mendengarkan semua ceritanya.

Ia menceritakan semuanya. Tentang bagaimana pengalaman bekerjanya dan keluarga yang ia tinggalkan jauh di New York sana.

Cerita ini bukannya tanpa ujung, meskipun sangat panjang dan menghabiskan hampir waktu menunggu kereta untuk kami, tapi aku terus bertemu dengannya setiap hari. Di sini, di stasiun ini.

Aku bahkan rela untuk menunggu lebih lama di stasiun hanya agar aku dan Sehun bisa memiliki lebih banyak waktu mengobrol ringan. Aku sudah terlalu hapal jadwalnya mengejar kereta. Ia akan menunggu di cafetaria stasiun pada pukul 7 –setelah jam kerjanya berakhir. Dan ia akan menaiki kereta pada pukul 7.30, kereta yang sama sepertiku. Sedangkan aku, jam kerjaku berakhir pada pukul 6.30 dan artinya aku harus menunggu kedatangan Sehun selama kurang setengah jam ditambah setengah jam lagi untuk waktu kami menunggu kereta.

Setengah jam bersama Sehun sudah seperti 3 hari untukku.

“apa kau memiliki waktu akhir pekan ini?”, ia bertanya padaku ketika kami masuk ke dalam kereta. Aku melihat jam dan memiringkan kepalaku.

“maksudmu besok?”

“iya, besok. Kau memiliki waktu?”

“ya, ada. Wae?”

“bisakah kau menemaniku, noona? aku ingin pergi ke taman hiburan di pusat kota”

“maksudmu sejenis Disneyworld itu?”, pria itu mengangguk dan aku tertawa terbahak-bahak, “aigoo. Di sana hanya ada anak kecil dan orang tua mereka. apa yang akan kau lakukan di sana?”

“aku belum pernah kesana, for real

jinjja?”, mataku terbelalak lebar. Sehun mengangguk.

“orangtuaku terlalu sibuk untuk hal kecil seperti ini. sudah kukatakan padamu, bukan?”

Kali ini giliran aku yang termangut-mangut. Sehun sudah pernah bercerita tentang bagaimana keluarganya yang terlahir kaya memperlakukannya sebagai raja. Dan ia nekat untuk kabur ke Seoul mencari kehidupan secara mandiri. Ia berakhir sebagai pekerja kantoran dalam 5 bulan terakhir. Aku sedikit merasa iba padanya ketika ia mengatakan ia rindu orang tuanya. Namun ia mengatakan bahwa ia terlalu malu untuk kembali, ia tidak ingin di cap sebagai anak pembangkang yang tidak dapat membanggakan orang tua.

Aku masih ingat kalimat sehun dengan jelas di kepalaku ketika ia bercerita tentang kehidupan pribadinya.

“..aku mungkin seorang pangeran untuk keluargaku, kerabat, dan mereka yang melihatku secara fisik. Tapi aku adalah pengemis untuk diriku sendiri. Aku bahkan tidak mempunyai satu helai pun baju dari hasil keringatku sendiri. Mungkin mereka akan mengatakan aku adalah pria yang beruntung. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa pria beruntung ini tidak memiliki senyum dengan sejuta kepalsuan?. Aku mengerti kenapa mereka sampai saat ini tidak berusaha mencariku kemari. Mungkin mereka sudah lelah, dan melupakan pangeran menyedihkan ini”

“kau tidak merindukan mereka?”

“aku merindukannya.  Mungkin aku akan kembali pada mereka jika saja mereka berusaha mencariku. Tapi sampai saat ini, aku hanya ingin hidup sendiri”

Aku terbatuk ketika dengan tiba-tiba Sehun membuyarkan lamunanku yang singkat.

“kau melamun lagi, noonaaigoo”, ia menggelengkan kepalanya dengan jahil. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil tertawa kecil.

“jadi bagaimana? Kau akan datang besok?”

“tentang apa? taman hiburan itu?”

eoh, aku akan menunggumu jam 8 pagi di stasiun ini. kau harus datang. Aku akan mencekikmu jika kau tidak datang, arrasseo noona-yah?”

Pria itu mengancamku, namun dalam tonasi yang cute. Bagaimana bisa aku menolaknya jika sudah seperti ini.

Kereta berhenti pada stasiun ketiga. Dan ia menepuk kepalaku beberapa kali sebelum akhirnya turun dari kereta. Di luar jendela, seperti biasa, ia melambaikan tangannya padaku. Dan aku hanya tertawa kecil –menunjukkan betapa aku mempunyai deretan gigi sempurna sama sepertinya.

Aku menghela napas panjang ketika kereta mulai bergerak. Aku pegang pilar yang menjadi tempat favorit berdiriku bersama Sehun. Aku menikmati beberapa hari ini. pertemuanku dengan Sehun membuat satu babak baru dalam kehidupanku yang suram.

Kuharap Sehun mengetahui ini, betapa bahagianya seorang Kwon Yuri bertemu dengannya.

.Comeback, Be Here

noona, kumohon jangan lagi”, Sehun berjongkok di depanku dengan muka pucat. Aku baru saja mengerjainya, kami menaiki satu wahana roller-coaster yang kencang hingga Sehun muntah setelahnya. Aku tidak tahu jika ia phobia ketinggian. Aku tertawa padanya, walaupun terselip perasaan iba, tapi perasaan geli di perutku lebih besar.

Aku seperti sedang mengasuh seorang anak kecil di taman hiburan yang besar. Dan anak kecil itu mengajakku duduk di sebuah bangku taman dengan susah payah. Aku memberinya minum dan beberapa makanan kecil. sambil memijit-mijit tengkuknya, aku mengajaknya bicara.

“kau sudah baikkan?”

“apa wajahku seperti terlihat baik-baik saja?”, aku tertawa terhadap respon darinya. Aku memijit tengkuknya kembali. Ia hanya merintih kecil sambil mencoba menghirup udara siang lebih banyak ke dalam hidungnya. Ia membuat ekspresi yang aneh dan lagi-lagi sukses membuatku tertawa renyah.

Setelah beberapa menit, ia akhirnya kembali normal. Setidaknya ia tidak berjalan dengan limbung. Ia mengajakku mengisi perut di kedai-kedai yang tersedia di sana.

“aku tidak makan, aku hanya memesan salad”, ucapku ketika ia menawarkan satu porsi sirloin steak padaku.

“kau diet?” tanyanya ketika ia menyuapkan satu sendok dari daging empuk itu ke mulutnya.

Aku menggeleng, “ani, aku vegetarian”, jawabku singkat.

jinjja?”

“eoh”

kau tidak pernah memakan daging seumur hidupmu?”

“tidak seperti itu, aku hanya tidak menyukai daging. Bukan berarti aku tidak pernah mencicipinya”

ah~~

Sehun mengangguk tanda mengerti. Aku tertawa ketika seorang pelayan membawakan saladku ke atas meja. Aku berterima kasih padanya dan mulai menuangkan mayoinase ke atas saladku dan mengaduknya rata.

Sehun hanya memperhatikanku dengan pandangan jijiknya pada apa yang aku makan. Aku menawarkan satu suapan salad padanya namun ia menggeleng.

“aku tidak suka sayuran mentah seperti itu”

“lalu bagaimana dengan Kimchi?”

Ah~ kecuali itu”

Aku tertawa. Dalam beberapa menit, kami menggunakan waktu makan siang kami dengan baik. Di sela-sela waktu senggang menunggu makanan di dalam perut menuruni lambung dengan aman, aku mengobrol singkat dengannya. Bukan obrolan yang penting, hanya yang ringan atau sekedar membahas tampilan setiap orang yang kami lihat.

Sampai akhirnya Sehun pamit ke kamar kecil dan meninggalkan ponselnya di atas meja. Aku gatal untuk mencoba memegangnya. Saat aku menyentuh ponselnya, ia bergetar dan aku sempat panik. Kukira ponsel Sehun mendapatkan satu panggilan masuk, namun ternyata hanyalah sebuah pesan singkat di sana.

Pesan itu muncul di layar utama dan aku dengan tidak sengaja menyentuh tombol ‘read’. Karena pesan itu sudah terbuka seluruhnya, ekor mataku menolak untuk tidak melirik satu katapun yang tertera di sana. sehingga aku berakhir dengan membaca seluruh tubuh pesan tersebut.

Aku hampir tersedak ketika mataku berada di tengah dari isi pesan tersebut. Belum sampai hati aku membacanya hingga akhir, Sehun sudah terlihat muncul di kejauhan. Aku segera menutup pesan itu dengan segera dan mengembalikan tampilan ponselnya ke tampilan siaga.

Aku kira semua akan baik baik saja dalam sepersekian detik, namun satu perasaan sesak menghujam dadaku ketika tepat di layar utama ponsel pria itu, aku melihat wallpaper dirinya yang tersenyum lebar di terpa beberapa butiran salju di belakangnya.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan hanya foto Sehun di sana, hanya saja di sebelahnya ada seorang wanita yang mengecup pipinya singkat. wajah mereka sama sekali berbeda, sehingga aku memupuskan harapan bahwa mereka adalah saudara.

Ketika Sehun hampir tiba, ponsel itu sudah tergeletak dengan sempurna di tempatnya semula. Sehun masih sama, dengan semua senyuman dan candaan hangatnya. Namun aku tidak. Perasaanku menjadi sangat tidak tenang. Tidak ada yang salah pada Sehun, yang salah ada pada diriku. Satu mesin di otakku tidak berjalan dengan baik, arteriku semakin menyempit –menyumbat darah yang naik dan turun ke seluruh tubuhku. Nafasku kuatur dengan senormal mungkin walaupun diafragmaku naik turun dengan abnormal.

Jika sebelumnya adalah senyuman terhangat yang pernah aku berikan pada Sehun, maka kali ini adalah senyum terpalsu yang pernah kutunjukkan di dalam hidupku.

Tapi tetap saja, aku tidak tahu apa alasannya.

.Comeback, Be Here

Sehun menggenggam tanganku erat di bawah rinai hujan. Aku tidak punya kuasa apapun untuk menolak genggaman tangannya. Hanya saja semakin ia menggenggam ku semakin sakit ku dibuatnya.

Beberapa saat yang lalu ia mengajakku bertemu di stasiun biasa. dan aku tidak menolak. Kami berbincang dengan normal sampai ia akhirnya membawaku ke sebuah taman kota dengan satu kolam air mancur di tengahnya. Ia membelikanku eskrim dan kami mulai menikmati senja di sana.

Dan kami di sini sekarang, berdiri dan menunduk –tidak berani menatap satu sama lain. Gerimis hanya turun dan meluapkan semua isi hati kami pada langit.

“aku mencintaimu—“, ujarnya sekali lagi. namun aku tidak berbalik. Aku merasa senang walaupun di kali pertama ia mengucapkannya, pipiku memerah. Jantungku sempat dibuat tidak beraturan detakannya. Vena ku sempat mengecil untuk beberapa detik ketika ia membisikkan kata itu di kesempatan pertama.

Dia tidak melakukan apapun, ia hanya menggenggamku. Dan aku dibuatnya tidak berdaya.

“a-aku juga m-men—“

that’s right !” ia berteriak dan aku dibuat kaget. Gerimis semakin besar di antara kami dan aku bisa mellihat samar samar tubuh Sehun di balik kausnya yang tipis. Gemericik air yang jatuh di tanah membuat kata-kataku tertahan di ujung lidah.

“ku tahu kau akan mengatakannya. Wanita akan mengatakannya jika aku membuatnya romantis seperti ini, bukan?”

Aku belum bisa menangkap apa yang ia katakan. Sebuah balok tanda tanya besar mencuat ke atas kepalaku. Aku tidak bisa berpikir. Selain karena jantungku masih berdegup dengan kencang, pun Sehun menarik tangannya dari genggamanku dengan tiba-tiba.

“a-apa ini, Sehun-ah” dengan tergagap sempurna, aku berhasil bicara. Sehun terlihat menundukkan kepalanya berkali-kali padaku dan aku tidak mengerti –tetap saja.

mianhae noona-yah. mianhae. Aku hanya ingin tahu reaksi wanita jika aku mengatakan itu pada mereka. maaf mengagetkanmu”

Tidak ada petir di sana. tapi aku bisa merasakan satu petir besar di kepalaku. Hujan turun semakin deras dan aku dibuat salah paham olehnya. Jantungku sudah tidak ada pada tempatnya. Sehun menunduk namun dengan secercah senyuman tulus di wajahnya. Dan aku tidak bisa membantunya dengan tersenyum kembali. Wajahku sudah memerah dengan sempurna. Satu rasa aneh membakar dadaku dengan segera.  Aku kembali teringat sebuah pesan yang aku baca tempo hari di kedai saat aku pergi ke taman hiburan. Dan semuanya menjadi masuk akal untukku.

‘Sehun-ah.. ini aku, Daeun. Terima kasih telah mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku cukup kaget kau masih mengingatnya. Aku benar-benar berterimakasih. Apa kau masih di Korea? jika ya, maka kembalilah ke New York. Jika kau masih tidak ingin kembali karena orang tuamu, kau seharusnya menyesalinya… orang tuamu seperti orang sakit menjagamu dari jauh. Tapi jika kau tidak kembali karena aku, maka aku beri sebuah jawaban yang kau tunggu ketika kau kembali. Ani… aku akan memberikan jawaban atas pertanyaanmu setahun yang lalu hari ini. aku mencintaimu…’

noona-yah, kau baik-baik saja? Kau menangis? M-maafkan aku… aku tidak bermaksud untuk–..”

Sehun meraih tanganku, dan aku menghempaskannya dengan kasar. Aku merasa getaran kuat yang membuatku kesal. Diafragma ku memaksa kantung air mataku menggelembung karena desakan air yang bergumul di sana. dalam detik selanjutnya, satu bulir air mata menetes tanpa sehun ketahui. Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Dadaku sesak. Gerimis membasahi tubuhku dengan sempurna. Menyapu setiap linangan air mata yang berkerumun menuruni pipiku.

noona-yah….” aku dengar kembali suara lembut Sehun. Namun langkah kakiku terlalu ringan. Aku mengayunkannya beberapa kali dan pergi meninggalkannya. Gemuruh petir di kala senja mengagetkanku dalam beberapa detik. Membuat aku tertahan dan tercekat dalam posisiku. Aku mendengar derap langkah berlarian di belakang punggungku.

Aku tetap berjalan ketika petir itu mereda. butir hujan bertambah diameternya dalam beberapa detik, menjadi satu air bah yang tumpah ruah. Aku tidak peduli lagi pada bajuku yang basah. Yang aku tahu, aku hanya perlu berjalan cepat –menyembunyikan wajah menyedihkanku dari pria itu.

Sehun menarikku tepat ketika aku akan berlari lebih cepat. Tubuhku berputar dan tanpa di sadari aku mendarat di pelukannya. Dadanya yang bidang menjadi dasar dari tumpuan pipiku saat ini. dari jarak seperti ini, aku bisa mendengar detak jantungnya yang semakin cepat.

“kau …. jangan pergi, noona

Sehun mendekapku lebih erat ketika tubuhku meronta pergi dari tubuhnya. aku memukul dadanya. Namun setiap pukulan dariku mengenai dadanya, dia akan menarikku kembali, seolah aku adalah lem yang tidak bisa ia lepas.

“lepaskan aku”

andwae. Kenapa kau menangis, jelaskan. Apa aku berbuat sesuatu yang salah padamu?”

…”

“noona-yah… apa kau berpikir seperti itu? kau menelan semua kalimatku bulat-bulat sebelumnya?”

Aku terdiam setelah aku sekali lagi melepaskan pelukanku dari Sehun. Namun pria itu tetap menahanku di depannya dalam jarak beberapa senti saja.

“apa maksudmu?”, ucapku –belum berani menatap matanya.

“bagaimana jika apa yang kukatakan itu adalah apa yang aku maksudkan dari awal?”

Aku mengerti arah pembicaraan ini akan kemana. Aku mendorong sehun menjauh dan mundur teratur. Gerimis menghujani wajahku, membuat semua make up ku luntur. Aku sudah tidak peduli jika sehun melihat air mataku. cukup. Aku merasa sudah cukup dengannya dan apa yang dia katakan.

“bagaimana jika semuanya benar, noona?”

Ia kembali bertanya padaku. Dan aku menggelengkan kepalaku lemah.

“bagaimana jika aku mencin—“

“CUKUP”, aku berteriak “Cukup Sehun-ah…”, aku memandangnya lekat. Tepat di bola matanya yang hitam pekat. “Cukup…”, suaraku menjadi sangat lemah. Aku berbalik berusaha tidak menatapnya dan berjalan lurus menjauhi tubuh itu.

Selangkah, dua langkah. Hanya kesunyian. Dalam langkah selanjutnya aku hanya mendengar gemericik hujan. Dadaku sakit, tapi aku tidak bisa. Apa yang dia ingin katakan padaku, tidak bisa lagi ia katakan. Dia memiliki seseorang yang mencintainya terlebih dahulu. Dan ia bukan aku.

Sehun tidak boleh mengatakannya padaku. Sehun tidak bisa.

“Aku mencintaimu, Noona

Ia berteriak. Menembus setiap materi cair yang jatuh dari langit. Suara itu cukup serak sehingga masuk ke telingaku dengan berdenging. Aku menutup telingaku. Hujan membantu menyapu linangan air mata dari pipiku. Aku tercekat di kerongkongan. Suaraku tidak bisa keluar. Yang kulakukan, hanyalah meninggalkannya sendirian di bawah hujan.

.Comeback, Be Here

3 hari sudah berlalu. Dan aku kembali menjadi diriku yang semula. Memang aku masih Kwon Yuri yang semula. Kwon Yuri yang disakiti kembali oleh cintanya. Hanya saja kali ini kasusnya agak sedikit berbeda. Aku yang menyerah pada cinta itu. bukan cinta yang meninggalkanku.

Aku sudah tidak bepergian menggunakan kereta. Aku memaksa ahjumma memberiku ijin membeli sebuah mobil hitam yang kini kumiliki secara pribadi. Aku memakaina sebagai sarana transportasi dari dan menuju kantor.

Aku hanya ingin melupakan Sehun. Stasiun. Dan semua yang berhubungan dengannya. Aku mengganti nomor ponselku. Aku menghapus nomor Sehun dari ponselku. Aku menyerah padanya. Dia lebih berhak untuk hidup bersama seseorang yang mencintainya sejak lama dibanding wanita yang mencintainya dalam seminggu.

Aku memarkir mobilku di sebuah kedai fish cake yang sepi di pinggir jalan. Aku nikmati beberapa dari kue itu saat masih panas. Lidahku merasa terbakar.

Aku lihat terik matahari yang menyinari jalanan, membuat satu fatamorgana nun jauh di sana. di depanku ada sebuah toko dengan gaun pengantin indah yang dipajang di jendelanya. Gaun itu menjuntai sangat elegan, berkilauan di terpa sinar matahari. Tidak lama pintu toko itu terbuka. Keluar dari sana adalah sepasang kekasih yang terlihat bergandengan tangan. aku tersenyum melihatnya, dan kembali memakan fish cake ku dengan pelan.

Satu kali lagi pintu terbuka. Ahjumma yang terlihat seperti pemilik toko mempersilakan satu pasangan lagi keluar dengan sopan. Wanita yang disambut ahjumma itu masih sangat muda dengan rambut hitam yang tergerai indah. Ia tersenyum lebar sambil membawa beberapa belanjaan di tangannya.

Yang digandeng oleh wanita itu adalah satu pria tinggi, kurus dengan bola mata hitam yang jernih. Aku tidak perlu melihatnya lagi. semuanya sudah jelas di mataku.

Oh Sehun, telah benar-benar pergi dariku.

.Comeback, Be Here

Aku berjalan gamang di pusat perbelanjaan MyeongDeong. Sendiri. Aku hanya masuk dan keluar beberapa toko tanpa hasil apapun. kali ini aku berhasil masuk ke satu toko perhiasan perak dan melihat-lihat koleksi di sana.

Aku mematung pada koleksi kalung indah yang mereka pajang di balik satu etalase bening. Pegawainya tersenyum kepadaku dan menawarkan beberapa koleksi mereka yang sesuai dengan bentuk leherku.

Aku mencoba beberapa dan melihatnya di cermin.

“sepertinya yang ini tidak cocok dengan kulitku..” aku bicara pada pegawainya. Ia mengangguk dan mencarikan satu warna yang tidak terlalu mencolok ketika dipakai pada leherku. Aku memandang cermin dengan memutar-mutar tubuhku ketika seseorang memakaikan satu kalung dengan bandul kepala rusa kecil di leherku.

“aku tidak ingin dengan bandul seperti in—-“, aku baru saja akan protes dan menoleh ke belakang ketika aku menemukan siapa yang baru saja memakaikan kalung itu padaku.

Sehun di sana. mengunci kalung itu pada leherku.

“kau cocok memakai ini, noona-yah

Aku menatapnya kosong. Aku tidak menyangka ia sedekat ini denganku di saat aku telah merelakannya pergi. Senyumannya itu membuat puing-puing yang berserakan di dalam hatiku merekat kembali.

Dengan tanganku, aku meraih kembali kalung di leher dan mencoba membukanya. Namun tangan Sehun menahanku.

“pakai saja. Hanya hari ini, setelahnya kau bisa membuangnya”

Sehun berjalan dan membayar kalung yang ada di leherku saat ini. ia mengambil beberapa bungkusan sebagai pelengkap dari kalung itu dan menyerahkannya padaku.

Saat kami keluar dari toko perhiasan, aku menundukkan kepala padanya, mengucapkan terima kasih dan mencoba mengembalikan kalung itu.

“simpan saja noona. aku hanya akan melihatnya hari ini. melihat kau hari ini, terakhir kali” aku sempat bingung apa yang ia maksudkan dalam satu hari. Namun aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Mungkin saja karena pernikahannya yang semakin dekat –jika memang ia akan menikah dengan gadis yang kulihat beberapa hari lalu.

“aku tidak bisa menerima pemberian mahal dari orang”, ujarku singkat. namun Sehun menahan tanganku yang gatal ingin melepas kalung itu.

jebal, noona-yah. hanya hari ini, setelahnya kau bisa mengembalikannya padaku”

Mata sehun terlihat sangat serius dan aku tidak ingin larut dalam suasana melankolis yang dibuatnya.

“baiklah, terima kasih. Aku akan mengembalikannya besok. Katakan dimana tempat tinggalmu?”, Sehun tersenyum. Ia memberikan alamat nya yang tertera dalam kartu nama padaku. Aku mengangguk dan tanpa basa-basi langsung pergi darinya.

“bisakah kau meluangkan sedikit waktumu hari ini, noona?”, ucap sehun mengejarku.

“aku masih memiliki beberapa barang yang harus kubeli dan pulang ke rumah dengan segera”

“bisakah aku menemanimu?”

“tidak perlu”

“meskipun ini yang terakhir?”

Aku menghentikkan langkahku. Merasa bosan dengan ucapannya.

“kenapa kau selalau mengatakan yang terakhir – yang terakhir padaku? Apakah kau akan mati, eoh?”, aku menggigit lidahku, merasa ada yang salah dengan ucapanku. Sehun tidak tersenyum, pun tidak bersedih. Ia hanya berdiri di sana sambil melihat kedua bola mataku.

“m-maafkan aku” aku segera berlalu darinya. Tapi dia tidak mengejarku seperti beberapa detik lalu. Mungkin kalimatku membuat sesuatu terjadi di dalam otaknya. Hanya saja, aku merasa sangat kasar ketika berbicara seperti itu. kuharap sehun tidak salah paham untuk ini.

.Comeback, Be Here

Aku sedang dalam perjalananku ke sebuah tempat di ujung Kota Seoul. Aku tidak tahu jika Sehun memiliki rumah sejauh ini. aku membawa sekotak kalung dengan semua perlengkapannya di tas kecil. aku berniat mengembalikannya sesuai janjiku.

Rumah sehun sangat besar. Namun aku tidak habis pikir, bagaimana ia bisa sampai ke rumah ini dengan menggunakan kereta yang ia pakai denganku di masa lalu?

Aku sudah memutari jalan ini dan tidak menemukan stasiun terdekat dengan rumahnya. Jadi apa yang ia lakukan dengan semua pertemuan kami di stasiun? Apakah ia mempunyai tempat tinggal lain?

“siapa di sana?”, seorang wanita paruh baya terlihat melalui interkom. Aku tersenyum dan memperkenalkan diri sebagai Kwon Yuri, teman dari Oh Sehun. Pintu terbuka secara tiba-tiba dan wanita paruh baya itu muncul di balik pintu besar.

“nona kwon yuri?”, wanita itu menyapaku seolah ia sering mendengar namaku, aku mengangguk lemah.

“siapa yang kau cari, yuri-ssi?”, wanita itu bertanya padaku ketika aku hanya terdiam saja dengan semua lamunanku.

a-ah,  maaf. Aku mencari Sehun-ssi. Apakah dia ada di rumah, ahjumma?”

“kau mencari tuan Sehun? Ada keperluan apa?”

“aku hanya ingin mengembalikan ini..”, aku menyodorkan tas kecil yang kubawa.

“apakah isinya sebuah kalung?”

“bagaimana kau tahu?”

“tuan Sehun mengatakannya. Ia bilang aku tidak bisa menerimanya”

“tidak apa, ahjumma. Aku hanya akan mengembalikannya pada Sehun”

“tapi dia sudah pergi”

“aku akan menunggu sampai dia kembali”

“dia tidak akan kembali. Pesawatnya mungkin akan berangkat dalam beberapa menit lagi”

“pesawat?”

“benar nona. Sebentar…”, wanita itu masuk kembali ke dalam rumahnya dan keluar dengan membawa satu kotak berbentuk hati dengan warna pink yang cerah.

“ia menitipkan ini sebelum ia pergi. Tuan sehun bilang kotak ini harus diberikan pada nona kwon yuri.”, aku menerimanya dengan bingung.

“kemana dia akan pergi?”, tanyaku. Jantungku mulai tidak beraturan.

“New York. Dalam beberapa menit”

ah~ arrasseo. Apa dia akan menikah di sana?”, tanyaku sembarang. Aku hanya penasaran apa yang ia lakukan di sana.

“menikah? Siapa?”, ahjumma itu terlihat bingung.

“bukahkan sehun akan menikah di sana bersama seseorang bernama Daeun?”

“Menikah? Daeun? Nona Daeun sudah meninggal sejak lama. Jika yang kau maksudkan adalah gadis teman dekat tuan Sehun yang akan menikah, maka nona Eun-Ah adalah orangnya. Kudengar Tuan Sehunlah yang memilihkan baju untuk nona Eun-Ah dan pasangann—“

Belum selesai ahjumma itu berbicara. Aku melesat bagaikan orang gila ke dalam mobilku. Dadaku semakin sesak, berkali-kali aku melihat jam yang ada di dahsboard mobilku. Aku melaju seperti orang gila. Hanya untuk sebuah bandara dan Oh Se Hun.

Kotak yang diberikan Oh Sehun terbuka karena goncangan mobil. Aku bisa melihat sekilas –bahkan di saat aku menyetir. Foto-foto yang aku dan Sehun ambil ketika kami duduk berdua di taman hiburan, ketika kami mengobrol santai di stasiun atau ketika kami membeli eskrim di pinggir jalan.

Moment itu sangat singkat sehingga aku bahkan tidak sempat mengingatnya.

Aku meraih kotak itu dengan satu tanganku yang bebas dari stir.

Di dalamnya ada foto-foto ku. Aku tidak tahu bagaimana dan kapan Sehun mengambil semua foto itu secara diam-diam. Aku tertawa, aku cemberut, aku kesal, aku menangis bahkan aku ketika menguap. Semuanya lengkap dalam kotak itu.

Aku merogoh ke bagian dasarnya dan menemukan sebuah ponsel milik Sehun di sana. aku menyalakannya dengan segera. Dan melihat wallpaper ponsel itu sudah berubah menjadi foto aku dan Sehun.

Aku membuka kotak pesan di ponsel Sehun, hanya ada satu message dimana ditujukan pada nomor ponselku yang lama. Sepertinya Sehun beberapa kali mencoba mengirimkan beberapa pesan dan selalu gagal. Aku membaca nya kali ini.

noona… kau mengganti nomer ponselmu?’

‘noona… kau tidak pergi ke stasiun?’

‘noona.. apa kau membaca pesan ini?’

‘noona… kau membaca pesan dari Daeun? Maaf aku baru menyadarinya. Jika bisa kujelaskan padamu… dia adalah seorang kekasih yang sudah lama pergi dari hidupku. Ia sudah tidak ada di dunia ini, dan aku menggunakan namanya sebagai penyemangat hidupku. Pesan itu akan terkirim secara otomatis dari sebuah ponsel milik Daeun setiap ulang tahunnya. Aku yang membuatnya seperti itu. aku gila bukan noona? dan ya… aku bahkan memiliki ponsel Daeun padaku. Semua kalimat yang kau baca… adalah kalimat yang aku buat. Ya… noona.. benar… aku sudah gila’

‘noona… sepertinya aku baru saja melihatmu dengan sebuah mobil hitam. Apa aku mengigau? Kau sudah tidak menggunakan kereta? Kenapa noona-yah? jika bisa aku jujur satu kali lagi… aku tidak pernah bekerja hingga jam 7 malam. Jam kerjaku berakhir jam 3 sore. Dan kau tahu apa artinya, noona? aku menunggu dari jam 3 hingga jam 7 malam sampai kau datang, hanya untuk melihatmu berlalu. Hanya untuk sekedar menyapamu. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku ketika kau tiba-tiba mengajakku bicara. Hari ini, aku pulang larut. Aku sudah menunggu sampai kereta terakhir.. dan kau tidak juga datang. Kau masih marah padaku?’

‘akhirnya aku bertemu denganmu. dan aku bisa memberimu satu kenangan terakhir. Mati? Iya mungkin aku akan mati… jauh darimu saja aku sudah seperti kehilangan nyawa. Noona-yah… aku akan ke New York. Aku tidak mempunyai alasan  lagi tinggal di Korea. semua teman dekatku sudah mempunyai kehidupannya masing-masing. Kemarin aku baru saja mengantar salah satu temanku untuk memesan gaun pengantinnya. Entahlah noona… mungkin aku akan kembali menjadi pangeran menyedihkan di sana.. tapi  setidaknya, aku tidak tersiksa dengan hanya melihatmu dari jauh seperti ini’

Aku melihat jam dan menelepon ke bandara internasional Incheon. Aku menahan isak tangisku yang hampir pecah. Aku bertanya jam keberangkatan ke New York dan mereka menyebutkan ‘dalam 5 menit’ padaku.

Aku menjadi sangat gila. Airmata berlinangan seperti tidak akan pernah berhenti. Aku tambah kecepatan mobilku.

5 menit sudah berlalu. Aku mencoba menelepon ke bandara kembali hanya untuk memastikan dugaanku salah. Namun terlambat sudah. Mereka mengatakan sesuatu tentang lepas landas dan sejenisnya.

Dengkulku lemas. Air mata semakin deras berlinangan. Aku bahkan tidak sanggup untuk sekedar mengelapnya. Semakin aku menyekanya, semakin banyak butiran itu akan keluar.

Aku menjalankan mobilku dengan kencang, tidak tahu arah tujuan.

Kira-kira 4 jam aku hanya berputar putar di dalam kota Seoul dengan mata yang lebam. Kakiku sakit dan tanganku merasa pegal. Mobilku aku parkir di lahan parkir sebuah cafe sementara aku duduk sambil menyeruput kopiku yang sudah tidak hangat.

Aku menatap ruam-ruam dari kopi itu dengan gamang. Aku ketuk jariku berkali kali di atas meja seolah aku membuat nada dari piano. Perutku masih sakit karena aku tidak makan apa apa dari siang ini. malam pekat di luar membuat suasana menjadi sangat aneh buatku.

Aku menatap layar TV ketika orang-orang berkerumun di depannya.

sebuah pesawat terbang Boeing-1259AX tujuan Seoul-new York yang berangkat siang tadi, ditemukan jatuh dan tenggelam di perairan utara New York. Belum dilaporkan penyebab dari kejadian ini, karena kondisi kotak hitam yang belum ditemukan. Sampai berita ini diturunkan, belum ada satupun penumpang yang ditemukan selamat dalam insiden ini…”

Aku menatap reporter di TV dengan limbung. Aku berjalan seperti zombie. Pandangan mataku menjadi tidak fokus. Aku tidak tahu apa yang kupegang, namun aku bisa mendengar suara pecahan kaca menusuk gendang telingaku. Satu serpihan kecilnya masuk ke dalam daging di tanganku, darah segar kurasa mengalir dari sana.

“Se—Sehun”, aku berkata terbata-bata. Aku lihat kembali headline news di dalam layar TV itu. dan berita yang sama terpampang dari sana.

Aku bergegas berlari keluar dari cafe, tidak peduli dengan teriakan beberapa orang yang mereka ajukan padaku. Aku lepas high heel  yang kupakai dan memacu mobilku dengan sangat cepat. Tujuan yang harus kucapai adalah bandara. Aku harus mengetahui informasi ini dengan segera.

Air mataku berlinangan, namun pandangan mataku seperti orang gila. Aku tidak bisa mengenali siapa diriku lagi sebenarnya. Kakiku gemetar, badanku menjadi sangat ringkih. Aku memacu mobilku dengan lebih cepat. Tidak mau satu detikpun terbuang percuma.

Aku menoleh ke ponselku yang berdering dengan tiba-tiba. Namun aku cukup tidak waspada. Satu sinar besar yang kuat menghantam mataku, membuat jarak pandangku menjadi blur. Satu teriakan dan klakson memekikkan telinga terjadi di depan mataku. aku terpelanting dan napasku menjadi sangat berat. Kakiku menjadi sakit luar biasa. belum selesai, aku bisa melihat tubuhku terseret di aspal dan pandangan mataku menjadi gelap, perih kurasa dengan segera. Jantungku berdegup aneh kemudian tiap detiknya menjadi sangat pelan. Mataku menjadi lebih gelap, lebih gelap dan aku melihat darah… kemudian gelap… gelap….

End of flashback

.Comeback, Be Here

 ‘noona… kau akan datang bukan? kutahu kau akan datang ke rumahku. Kau akan membaca ini semua. Dan ketika kau membacanya hingga akhir, jangan pernah menangis. Karena pria yang kau tangisi tidak pantas untuk melihat air matamu. Kau percaya takdir? Mungkin aku akan kembali padamu suatu hari. Atau kau yang akan kembali padaku. Entahlah. Hanya saja ketika aku kembali nanti, mohon sambutlah aku dengan senyum terindah yang kau miliki. aku akan bahagia, noona-yah.. meskipun aku jauh, Aku mencintaimu’

Gadis itu mengingat kembali memorinya yang sempat mengeras. Ia duduk di jendela dengan gamang. Berita di TV rusak itu masih terulang-ulang di sana. dan ia menangis.

Kau tidak jauh, Sehun-ah… aku yang jauh…

Gadis itu turun dari jendela. Berjalan perlahan menuruni tangga-tangga tua di bangunan itu. ketika sampai di pintu utama, ia berjalan lemah tanpa alas kaki. Masih dengan gaun putih dan rambut tergerainya. Ia menatap sebuah pusara baru dari jauh.

Pusara itu masih basah, ia bahkan bisa mencium harumnya. Gadis berjalan telanjang kaki, menginjak kerikil dan pasir. Ia sampai di depan pusara itu. memandangi nisan dengan wajah sendu. Ia tidak berkata apapun selain menangis.

Satu tangisan pilu ia dengar dari seorang pria di sana. pria itu berjongkok dan mengusap nisan dengan sangat lembut.

Gerimis berjatuhan tanpa di minta. Pria itu menempatkan satu tangkai bunga mawar putih di atas pusara itu. meskipun hujan, tidak ada tanda-tanda pria akan pergi.

Si gadis tertegun sesaat. Ia mengulurkan tangannya pada mawar putih itu. namun tangannya transparan. Ia tidak dapat menyentuh apapun di sana.

Si gadis menatap pusara dengan nisan bertuliskan nama ‘Kwon Yuri’ di atasnya. Dadanya sangat sakit. Percikan hujan membasahi pusaranya. Tapi tidak dengan gadis itu. hujan hanya mengalir sempurna melewati tubuhnya. sementara pria sudah kebasahan, gadis itu masih kering. Seperti tidak pernah menerima percikan air hujan diatas kepalanya.

“Kau… kenapa meninggalkanku, noona-yah?”, gadis itu menoleh, merasa namanya di sebut. Ia memandangi seorang pria yang terisak di depan pusaranya. Pria dengan bola mata hitam yang indah dan kini berubah menjadi satu mata lebam yang menyeramkan.

Dia tidak terlihat seperti Sehun. Tapi dia Oh Sehun.

“kau tidak membacanya? Aku sudah bilang… kita akan bersama suatu hari. Tapi bagaimana jika semuanya menjadi seperti ini? siapa yang harus kusalahkan, noona-yah?”

Gadis dengan gaun putih itu menatap lurus pada wajah pria yang mungkin tidak akan pernah menyadari keberadaannya.

“bagaimana aku akan hidup setelah ini, eoh?”, pria ini semakin terisak. Suaranya menjadi berat dan serak, nadanya meninggi seiring dengan gemuruh petir yang ada di atas kepalanya.

“Sehun-ah, kau akan sakit jika seperti ini..”, gadis itu berusaha berbicara pada Sehun. Namun usahanya sia-sia. Sampai kapanpun, ia tidak akan di dengar.

Gemuruh semakin besar, dan Sehun masih duduk di sebelah pusara. Gadis dengan gaun putih –yang adalah Kwon Yuri, berusaha menautkan tangannya pada jemari Sehun. Tapi semakin ia mencoba, semakin ia putus asa. Ia hidup di dunia yang berbeda dengan Sehun. Dia sudah mati.

“kembalilah hidup, noona-yah.. dan aku akan berjanji untuk bertemu denganmu lebih awal di stasiun, aku berjanji akan menjadi vegetarian, aku berjanji akan melakukan apapun yang kau suka. hanya satu permintaanku dan kau akan mendapatkan semuanya, hanya kembalilah.. noona-yah…. jika kau tidak kembali, maka aku harap aku juga mati dalam kecelakaan pesawat itu… aku tidak sanggup hidup tanpa dirimu… tidak akan sanggup.. noona-yah…. tidak akan pernah sanggup…”

Gemuruh kembali menerpa. Sehun masih diam. Menangis dalam setiap tetes hujan yang menyapu wajahnya. Sama seperti ketika ia dan yuri bersama, ketika ia menyatakan perasaannya pada yuri.

Yuri, gadis itu tidak bisa menangis lagi. ia bangkit dan berjalan menjauh dari pusaranya sendiri. Gerimis yang ada di atas kepalanya tidak menyingkir juga. Ia berjalan menjauh dengan bertelanjang kaki dan tatapan sendu pada langit.

Tuhan, jika aku tidak diberi satu lagi kesempatan untuk hidup… maka biarkanlah hanya pria itu saja yang merasakannya. jangan biarkan ia menderita. jika kau tidak bisa membuatku hidup kembali, maka hapus aku dari ingatannya.

Tuhan, jika aku memang sudah mati, maka biarkanlah namaku dikenang dalam pusara ini. biarkan mereka yang kutinggalkan, bahagia. Tanpa aku, atau kenanganku.

Tuhan, buat mereka yang pernah mengisi kehidupanku… sampaikan salam hangat perpisahanku pada mereka. lewat angin, bisikkan pada mereka betapa aku sangat mencintai mereka dan menghargai semua waktuku dengan mereka.

Tuhan, pada pria dengan air mata di sana, Buat aku tidak pernah ada di dalam hidupnya, katakan padanya bahwa mencintaiku adalah sia-sia. dan jika aku memang tidak pernah akan hidup kembali, buat gerimis ini menyampaikan pesan terakhir yang tidak sempat kuucapkan pada pria di sana.

Tuhan, cukup sampaikan saja, aku mencintainya.

Gadis itu perlahan menjauh. Meninggalkan sosok pria yang masih setia di sebelah pusaranya.

Ia tersenyum. Berjalan lemah dan menghilang di satu pintu besar.

Dari jauh sayup-sayup suara Televisi rusak terdengar. Kali ini bukan lagi suara berita seperti yang terjadi berulang-ulang. Suara decitan jendela berbunyi seirama dalam satu nada yang di dendangkan secara accoustic dari Televisi itu. suara wanita, sendu, pilu dan menyayat. Ia bernyanyi.

This is when the feeling sinks in,
I don’t wanna miss you like this,
Come back… be here, come back… be here.

I guess you’re in New York today,
And I don’t wanna need you this way,
Come back… be here, come back… be here.

 

=THE END=

Eotte? sengaja dibuat panjang biar euforia Just Me and The Boys masih kerasa. hahaha😄

maaf kalau pada nangis. tapi genre nya emang begini untuk FF yang satu ini :p

133 thoughts on “Comeback, Be Here – From EXOYUL Series

  1. sella mvp berkata:

    huhuhuhu… sedih bgd cerita.a.. aq kira bakalan sehun yg pergi… ternyata yuri.. aq mw nangis tp malu.. ada ade aq d kamar sh.. keren bgd deh cerita.a.. ^_^

  2. yuuripico26 berkata:

    nyuncai.. :’) ngenes! doh! bener kata ekha eon pas recommen’n ff ini.. katanya bakal ga nyangka ama endingnya.. 100% bener!! Ahh nyun.. sedih gaban😦 kirain yg pergi sehun, terus Yulnie nunggu’n kabar Sehun kembali dengan selamat.. tp rupanya.. Argg!! Kece nyun.. tp nyesek😦
    suka deh sma angka pesawatnya.. Boeing-1259AX :”)

  3. mellinw berkata:

    Aku baru bacaaa T.T dan sediiihhh kaaaak😥😥 . Knapa sih iiihhhh .. T.T (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩) (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩). Hikhiksss😥 kirain sehun yang gak bs kmbaliii ..

  4. liliknisa berkata:

    ya ampun ampun sedih banget ceritanya
    membuat aku mewek😦
    aku pikir sehun yang mati
    tapi ternyata yuri :0
    aku ga menyangka😦
    feelnya dapet banget deh😦

  5. hyun mi berkata:

    hiks….hiks…
    sad ending….. emang unnie pinter banget bikin orang salah pemikiran kirain sehun yang mati eh malah yuri..
    tapi tetep daebak

  6. seria berkata:

    huaaa.. Gila!! Speechless bca endingnya.. Nyesek bgt.. Pake bgt.. Udh mulai nyesek yg sehun nya ngatakan cinta ke yuri pas hujan.. mkin ke bawah mkin nyesek gila..
    Trus suka bgt sm kt2 di ff ini..
    Arrrgghh.. Nyun.. Bner2 jtuh cinta sm ff km..
    Oia, nyun gk ada rencana buat sequel? Diambil dr POV nya sehun~ soalnya ada bbrp yg aku bingung.. Dri gmana sehun bs slamat, dr kpn sehun suka sm yuri? Hihihi.. Fighting nyun~

  7. Ayang_TMFT berkata:

    Kak Nyun,, kau buat mataku berkaca-kaca,, ini ff dpt bgt feel’y, ahh ff kamu emg pda daebak dah..

  8. zelo berkata:

    Ya Tuhan mau nangis tapi gak bisa, kak ini ff bagus banget :’) ini kayak novel deh, you’re the best author ever ;;;;; I love you kak/? Muahmuahmuah:**

  9. lollimato berkata:

    aduh cukup aku nyentrap-nyentrup(?) ingus berkali2 gara2 nahan tangis baca FF kakNyun ;~;
    aku gemes+geregetan banget sama awalnya, apalagi pas Sehun mulai ngajak ‘nge-date’
    tapi abis itu aku kayak dihempaskan diatas puing-puing kaca tajam pas Sehun bilang dia cuma bercanda bilang ‘i love you’
    -_________-
    setelahnya sesek banget deh rasanya ;~; apalagi pas Sehun makein kalung ke Yuri, terus Yuri ke rumah Sehun dan baca SMS-SMSnya
    eeeeeh Yuri yg mati hueeeeeeee T_T T_T

  10. np1012 berkata:

    FF pertama yang bikin aku nangis beneran 😢
    Udah mulai netes dari bagian sms2 Sehun yang gak pernah nyampe ke Yuri. Dari gimana dia nungguin tiap hari yg jauh lbh lama dr Yuri nungguin dia di stasiun dll (soalnya dr preview awalnya sblm flashback udh tau naga2nya Sehun beneran ga bakal pernah bisa balik lagi) eh makin menjadi2 (dan ini kaget bgt) pas ternyata Yurinya yang udah nggak ada.
    Ini bagus banget….. please jangan pernah stop berkarya (even though skrg Yuri udh pacaran pun) karena kamu talented bgt.
    I’m a fan 👍👍

  11. Lulu Kwon Eun G berkata:

    wah ini ff dari kapan aq baru baca tadi.. nemu d google ternyata ff punya kak Nyun izin baca kak.. kok aq gk nemu klo di blog ini yak..? jgn jgn msi banyak ff yang aq gk tau

    ya Alloh ini sedih bgt.. kirain sehun yg meninggal eh nyata nya malah Yuleon uh mantep.. gk bisa d tebak jalan critanya keren bkin mewek jd skrg mlah yuri yg ninggalin cinta nya cuma krna salah faham intinya semua salah Sehun… huh aq gk trima :'(:'(:'(

    kak Nyun,, ah penulis kaporit q bgt,, btw klo dsini kak nyun ramah deh hehe

  12. Ckh.Kyr berkata:

    Kena zonk :’3
    Aku kira yg mati Sehun bukan Yuri. Tapi baru sadar pas si pria ga mau pergi walau hujan mulai turun :’3
    Sedih banget masa, udah sesak aja nih dada bacanya :’3
    FF kakak emang selalu bagus (y)

  13. aloneyworld berkata:

    Ini sih sukses bikin mewek kak beneran deh😦 udah dibuat manis pas mereka deket ehh ujungnya malah begini -_- aku kira yang bakal mati si thehun ternyata yurinya ya😥 aku suka banget pas bagian yang “aku mungkin pangeran bagi keluarga, kerabat dan mereka yang mengenalku secara fisik. Tapi aku adalah pengemis bagi diriku sendiri.” Yaampun aku jadi sadar kalo selama ini aku emang miskin banget, buat beli baju pake uang sendiri aja belum bisa😥 bagian terakhir pas yuri mau perginya ituloh nyesek banget kak ampuuun😦 keren deh pokoknya😀

  14. mallati_yurisistable berkata:

    duh napa harus sad ending…huaaaaa elap ingus😦
    jadi sehun pertama kali bertemu udah cinta ama yul eonni?? ampe rela nungguin berjam2 d kereta
    ceritanya soswet tpi endingnya ahhh syudahlah…
    ff nya daebak…suka couple Yulhan atau Yulhun

  15. dotha12 berkata:

    Kaknyunnn…… Arghhh selaluu sukses mengobrak abrik emosi readers #termsukakoh hahahhaa

    Unpredictable ending… Sumpeee berasaa bikinn njleeebh pdhall wlwpun sehun berondong unyuu udh berasaa cocok ajaa pairing yulhun huhuhuhuuuu….
    Daebak mmg kaknyunn…

    Ahhhh mksihh kaknyunn utk semua karya2 daebakmu yg nyegerin mata daan mood hahahhaa

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s