VIBRANCE [Part 2]

Vibrance BY BAPKYR

Part ke dua euy~~

***

Bel berdentang dua kali, kelas Professor Sirla sudah selesai. Aku bisa bernapas lega. Setidaknya aku bisa absen untuk melihat Myungsoo atau Eunhyuk melakukan flirting tidak pentingnya pada guru cantik tersebut.

Aku menoleh dan melihat Luhan terduduk sambil menggenggam sebuah pulpen. Ia sibuk menuliskan sesuatu di bukunya. Aku melirik catatannya singkat dan menemukan ia menggambar lambang-lambang aneh di sana. aku tidak mengerti.

Ketika aku akan berdiri dan menemukan makananku di kantin, aku teringat sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku duduk kembali dan mencolek sikut Luhan sedikit.

“ada apa, Yuri?”, ia menatapku lurus. Tidak terlihat senang, tidak terlihat terganggu dan tidak terlihat seperti pria yang hidup.

“apakah kau berbicara padaku di saat pelajaran dimulai tadi?”, aku tidak suka berbelit-belit, tapi Luhan terlihat mengerutkan dahinya. Aku cepat-cepat membetulkan kalimat tanya ku “..maksudku saat tadi kita berkenalan, apa kau membisikkan sesuatu atau mengatakan sesuatu dengan nada rendah padaku?”

“aku? Tidak? Apa yang kau dengar?”, responnya.

“berteman baik atau something. Mungkin aku salah dengar. Maaf mengganggumu”, aku meninggalkannya dengan sopan. Di ambang pintu aku bisa melihat Hyoyeon melambaikan tangannya padaku. Aku segera menyambutnya dan berjalan ke kantin sekolah dengannya.

“siapa dia?”, Hyoyeon mulai menginterogasi ku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“siapa? Apa yang siapa?”

ey~ aku melihatmu. Siapa pria dengan rambut perak itu?”

“Luhan maksudmu? Ah~ dia murid baru”

“jadi namanya Luhan? Apakah dia anggota noble ke-7? Dia terlihat tampan”

“bukan. dia mengatakan dia bukan keturunan bangsawan. Sama seperti kau dan aku”

really? For real? Jenis sihir apa yang dia miliki sampai dia bisa ditempatkan di kelas superior sepertimu? Dia pintar?”

“aku baru saja berkenalan dengannya, Hyoyeon. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada di dalam otaknya. Tapi satu yang jelas, jenis sihirnya setipe dengan sihirku”

“sihirmu?, apa kau mengatakan bahwa ia bisa merapalkan sihir tanpa mantra?”

“ya, kira-kira seperti itu. tapi di level yang lebih mengerikan”

“apa kau yakin kau tidak mengenalnya, yuri?”

“maksudmu?”, aku berhenti dan berbalik memandang Hyoyeon.

“entahlah, kalian adalah penyihir langka. Mungkin kalian berasal dari keluarga yang sama atau something. I guess

“kau terlalu banyak membaca buku fiksi”

Hyoyeon tertawa. Ia menuntunku menuju satu meja kosong. Sebuah menu melayang di depan kami segera setelah kami duduk. Aku melirik ke semua tulisan yang tertera di atasnya. Dan aku mengatakan apa yang ingin kumakan hari ini pada menu melayang tersebut.

Buku itu akan kembali kepada si pemilik kantin ketika aku selesai memesan. Dan dalam beberapa detik, makanan akan datang dengan sendirinya di depan meja kami. Muncul secara ajaib.

Aku sedang mengunyah kentang goreng dengan rendaman kuah sapiku ketika segerombolan pria tampan datang ke kantin. Mereka berasal dari noble 1. Dan di antara mereka ada wajah-wajah yang kukenal. Kai dan Kris. Mereka typical. Akan berjalan dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, diiringi dengan tatapan iri para pria lain dan tatapan dramatis dari para wanita cantik.

“Kau beruntung bisa sekelas dengan pria macam Kris dan Kai di sana, yuri… ah~~andai aku sepintar dirimu”, Hyoyeon mulai mengagumi mereka yang duduk di seberang meja kami. Aku berusaha tidak peduli. Lebih jujurnya, aku merasa terganggu.

Apa yang Hyoyeon katakan tentang ‘beruntung sekelas dengan mereka’ itu salah besar. Sudah 5 tahun aku merasakan satu kelas dengan mereka, dan tidak satu kali pun mereka menyebut namaku. Bahkan aku ragu mereka menyadari eksistensi ku di kelas.

Noble memang dikaruniai arogansi tinggi.

Aku sedang mengunyah eskrim vanilla ku ketika Hyoyeon dengan sangat agresif menyenggol sikutku. Ia menunjukkan pemandangan di pojok kantin yang menurutnya menarik.

“apakah Krystal dan sepupunya itu sudah resmi menjadi sepasang kekasih? Apakah itu mungkin?”, aku menggeleng. Aku tidak punya minat membahas urusan pribadi orang.

“Lihat, yuri, Lihat… Jessica di sana, bersama Jonghyun, ew~ Jonghyun memiliki kemampuan fast move. Ice princess itu sudah meleleh rupanya”

“yuri, yuri, kau lihat itu… apa aku tidak bermimpi? Tiffany bicara dengan Taecyeon? Apa ada konfrontasi baru dari noble 4 dan 6?”

Hyoyeon terus saja mengajakku berbicara dan menggosip. Aku hanya meresponnya dengan gesture tubuhku. Tanpa ada niatan untuk mengomentarinya. Sekilas di arah yang bersebrangan dengan apa yang ditunjukkan Hyoyeon padaku, aku melihat Luhan berjalan sendirian. Ia duduk dengan santai di sebuah meja kecil dan memesan beberapa makanan.

Aku tidak bisa berpura pura tidak mengenalinya ketika mata kami bertemu. Aku tersenyum padanya. Dia meresponnya dengan menyunggingkan bibirnya sekilas. Kemudian dalam beberapa detik, aku hanya menatap udara kosong. Ia telah memalingkan wajahnya ke permukaan meja kayu.

Aku menggerakkan bahuku singkat dan menjentikkan jariku. Seketika saus dari meja sebelahku melayang dan mendarat mulus di depanku. Aku menuangkan saus itu di atas kentang goreng ku dan memakannya pelan-pelan.

low follum”, Hyoyeon merapalkan mantra, aku bisa mendengarnya sekilas. Sepertinya ia mulai melakukan hal jahil lagi kali ini. aku melihat siapa yang menjadi targetnya. Key dan Onew dari noble 4. Hyoyeon memang dikenal sebagai ratu trolling. Tidak heran dia melakukan ini. Onew dan Key berteriak dan suara debaman keras terdengar di belakang ku. Tali sepatu mereka terikat menjadi satu dan mereka jatuh ketika mencoba berjalan ke dua arah yang berbeda. Hyoyeon tertawa atas apa yang merupakan pekerjaan isengnya.

“KIM HYO YEON”, aku bisa mendengar Onew berteriak memanggil namanya.

“Yuri, kau bayar hari ini. besok giliranku, aku buru buru”, itulah kalimat terakhir yang aku dengar dari bibir Hyoyeon sebelum ia lari tunggang langgang bersama Onew dan Key yang mengejarnya. Aku hanya tertawa kecil.

Namun karena kejadian barusan, semua mata tertuju padaku –yang sebenarnya tidak terlibat secara langsung dalam masalah hyoyeon. Mata Jessica, Krystal, Kris, Kai, Tiffany, Nickhun bahkan Luhan kini terpaku kepadaku. Aku tersenyum singkat, berdiri dan membayar semua yang kumakan. Dengan secepat kilat, aku pergi dari kantin. Berusaha menghindar dari tatapan mata para bangsawan itu.

Setelah dari kantin, aku tidak langsung masuk ke dalam kelas. Sebagaimana para wanita lain, aku masuk ke dalam toilet untuk sekedar melihat penampilanku. Saat aku melihat ke cermin besar, bayanganku muncul di sana dan ia berbicara.

“kau terlihat lebih kusut saat ini”, ucapnya. Aku tidak mengindahkannya. Ia adalah roh cermin. Ia tidak mempunyai wujud pasti. Setiap seseorang bercermin di sana, wujudnya akan menyerupai mereka yang bercermin. Dia tidak menganggu, pun tidak berbahaya. Namun kadang kalimat yang diucapkannya cukup dalam hingga melukai hati para wanita.

“kulitmu kusam, gelap dan kau terlihat jelek. Berhentilah bercermin. Cermin akan pecah”

just shut up”, aku memercikan beberapa bulir air ke cermin itu dan membuat bayangan ku di dalam cermin menghilang. Ya, roh cermin tidak menyukai air. Ia akan menghilang jika seseorang memberikan air walaupun sedikit padanya.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kupandangi figura dari cermin dengan ornamen aneh di pinggirannya. Aku tidak tahu sudah setua apa cermin itu berada di sini. Hanya dengan melihatnya saja, roman yang aneh terbang dan menyerap ke dalam tulang rusukku.

Aku bergegas keluar dari sana sebelum roh cermin muncul dan mengolok-olokku lagi. lorong yang sunyi harus aku lalui dengan cepat jika aku tidak ingin terlambat masuk ke kelas. Langkahku pasti dengan derap yang nyaring. Sepatu karet ku beradu dengan lantai marmer yang berkilauan di terpa sinar matahari yang timbul tenggelam di antara gumpalan salju putih.

Aku melewati satu kelas yang seharusnya sudah terisi penuh saat ini, di sana adalah kelas Hyoyeon; dan aku bisa menebak ia tidak ada di sana. mungkin ia masih terlibat kejar kejaran dengan pria dari noble 4 tersebut. Di depanku masih ada beberapa meter lorong sunyi lainnya yang harus aku lewati. Di kanan dan kirinya tidak terdapat apapun selain tanaman yang tumbuh sebagai benalu dari peralatan besi di sana.

Tanaman merambat itu bernapas, berkedip dan bergerak. Jika kau tidak hati-hati –atau secara tidak sengaja berkata buruk atau menyenggol mereka, mereka akan berubah menjadi kanibal; 180 derajat berubah dari makhluk yang terbiasa berfotosintesis.

Aku mempercepat langkahku ketika bel berbunyi. Andai saja aku membawa sapu terbang atau tongkat sihir di balik bajuku, aku sudah pasti akan menggunakan sihir agar udara bisa membawaku kembali ke kelas lebih cepat.

Sayangnya, tidak semua murid di dala Raville, bisa menggunakan tongkat sihir nya secara bebas; bahkan di kelas superior sepertiku. Bisa kukatakan, bahwa aku adalah satu-satunya murid yang tidak diperbolehkan menggunakan tongkat sihir karena takdirku yang bukan sebagai noble.

Benar, tongkat sihir adalah peninggalan sejarah yang sangat berharga. Tidak dijual di pasaran, di produksi terbatas sesuai dengan elemen penggunanya. Mereka yang tidak mempunyai darah sebagai bangsawan, tidak akan diperkenankan menggunakan tongkat sihir. Ada beberapa siswa dan siswi yang bernasib sama sepertiku di sekolah ini –tapi mungkin hanya aku yang terlihat mencolok karena aku berada di kelas superior.

Tapi aku masih beruntung, aku memiliki pengetahuan dasar atas tongkat sihir –meskipun secara teori. Aku pernah dekat dengan Tiffany –sebelum ia akhirnya menjadi satu pemain swing terkenal, ia pernah menjelaskan sedikit tentang bagaimana tongkat sihir bekerja. dan lagi aku juga diberikan pelajaran di kelas –meskipun secara teoritis, tentang kinerja tongkat sihir tersebut.

Kali ini aku hampir berada di ujung lorong, aku hanya perlu berbelok ke arah kiri dan semuanya akan menjadi mudah. Namun yang kulakukan selanjutnya adalah terjaga dan waspada. Aku mendengar suara keresek aneh di belakangku. Ketika bola matapku mencoba melakukan scanning, aku hanya menemukan udara kosong. Tanaman di sana masih tertidur dan bergerak dengan pelan –menandakan tiada apapun yang melewatinya baru saja.

Krek..krek..

Suara itu lagi muncul untuk kedua kalinya. Aku membalikkan badanku sepenuhnya. Bola mata ku melebar agar dapat menangkap kemungkinan sesuatu yang aneh. Dasiku terbang tertiup angin desember. Aku lupa mengikatnya setelah aku keluar dari toilet. Aku bisa melihatnya namun aku tidak bisa bergerak, dasi itu terbang terlalu jauh. Aku hanya mengutuk kebodohanku.

Krek…krek…

Suara itu kembali terngiang. Aku memasang kuda kudaku. Tanaman mulai bergerak dan mereka menunjukkan taring nya yang tajam. Aku berada pada jarak yang aman, namun aku tidak bisa menjamin tanaman itu akan tenang. Air liur dari tanaman yang seperti eceng gondok itu menetes ke lantai marmer. Kuncupnya menggeleng dan menantang angin, mereka mengeluarkan suara jeritan yang aneh. Cukup berisik.

Aku lengah, dan aku bisa  melihat sesuatu terbang ke arahku.

escapos”, aku menjentikkan jariku sambil merapalkan mantra. Sesuatu yang terbang itu membal, terbang jauh berlawanan dari tubuhku. Aku cukup kagum; sudah lama aku tidak merapalkan mantra –karena aku bisa melakukannya tanpa merapalkannya, tapi kemampuanku cukup bagus untuk sesuatu yang tidak di latih.

Aku menyipitkan mataku dan bisa melihat seekor musang yang berbulu putih mengaum singkat kesakitan di depanku.

what the hell”, aku mengerutkan dahiku. Musang salju. Aku tidak tahu bagaimana binatang kecil itu bisa masuk ke dalam Raville. Jika melihat habitatnya, ia seharusnya berada di puncak gunung tertinggi bersama mammoth atau yeti.

Aku baru saja akan meninggalkannya ketika mata biru cemerlang pada musang itu menatapku. Aku benci mengatakan ini, tapi aku terlalu baik untuk meninggalkan binatang malang itu di sana.

Aku mendekat, dan membawanya di tanganku. Bulunya sangat halus, seperti aku sedang berada di atas bantal saat aku membelainya. Musang itu sedikit lebih kecil dari musang salju yang biasanya aku lihat. Tubuhnya kurus dan kecil, mungkin dia tipe yang tersesat dan kelaparan.

“mungkin kita harus ke kantin”, aku berkata pada makhluk itu. sekilas saja, aku mengabaikan kelas ku yang mungkin sudah dimulai beberapa detik lalu.

Dalam beberapa menit saja, aku sudah bebas dari musang itu. aku meninggalkannya dengan beberapa makanan dalam lindungan penjaga kantin. Aku menitipkan musang itu hingga jam pelajaran selesai hari ini. aku tidak bisa membawanya ke kelas.

Aku sampai di ambang pintu kelas. Semua orang menatapku –tidak terkecuali proffesor dengan jubah hitam panjang dan mata yang tajam. Aku merasa terkutuk hanya dengan melihat matanya.

“nona yuri, aku yakin memberitahumu bahwa kelasku telah dimulai pada jam 10 tepat”, ia melantunkan kalimatnya dalam nada sopan namun mencekik dadaku.

“maafkan aku proffesor Dims, aku memiliki sedikit urusan”

“urusan sepenting apa yang dimiliki oleh wanita tanpa darah noble di sekolah ini sampai ia mengabaikan kelasku?”, aku bisa mendapatkan nada melecehkan yang keluar dari bibir pria itu. beberapa orang terlihat menahan ketawanya, aku bisa melihat; Kris, Taecyeon, Victoria dan Jiyeon hampir meledak dalam dunia tawanya sendiri.

Krystal dan Tiffany menatapku iba, dan yang lainnya hanya menatap tidak peduli.

“cukup penting namun masih jauh dari kepentingan politik pada noble, proffesor”

Sesuai dugaanku, pria dengan jubah hitam itu memasang wajah kaget. Tenggorokannya mungkin tersedak sesuatu yang keras sehingga ia tidak melakukan apapun saat aku melangkah menuju mejaku. Beberapa orang yang tertawa sebelumnya, terlihat meremas kertas di mejanya dan menatapku dengan kebencian mereka.

Aku duduk dengan santai di mejaku, dan Proffesor Dims itu terlihat melupakan apa yang baru saja kukatakan. Dia memutar tubuhnya dan membuat satu rumusan di papan tulis dengan sihirnya.

“kau ceroboh, nobles tidak menyukai kalimatmu barusan, yuri”

Aku hampir kaget. Aku melupakan pria rambut silver yang baru hari ini duduk di sebelahku. Luhan di sana dan mungkin melihat apa yang baru aku lakukan. aku membuka satu bukuku dengan pelan, membuat gerakan seperti aku mengerti apa yang Luhan katakan.

“koreksi, nobles tidak menyukai apapun, tuan Luhan”, aku tersenyum singkat pada Luhan, memperlihatkan sisi keras kepalaku. Dan ia tidak terlihat seperti akan menyangkal. Ia memutar muta pulpen yang ada di sela sela jarinya. Kepalanya mendongak dan kami tenggelam dalam diam.

.Vibrance

“dia sudah hilang saat aku pergi ke dapur sebentar”, aku mendengarkan pelayan kantin dengan serius. Musang salju itu mungkin sudah bergabung dengan kawanannya entah dimana. Dan aku tidak perlu repot-repot mencarinya.

“apa yang kau cari, Yuri?”, aku bisa merasakan tangan Hyoyeon bersandar di bahuku.

“kau sudah selesai dengan kelasmu? Kukira kau mengatakan kau akan pulang lebih malam hari ini?”

“aku kabur. Prof. Phil sepertinya tidak menyadarinya. Materi partikel itu melelahkan. Dan bagaimana denganmu? apa yang kau cari?”

“aku tidak perlu mengatakannya padamu bukan?”

“yuri, kau tahu aku akan gemuk karena memakan rasa penasaranku sendiri. Jadi apa yang kau sembunyikan dariku?”

“haha…” aku tertawa singkat sambil melangkahkan kaki keluar dari kantin “…seekor musang salju yang aku temukan di lorong dekat toilet utama, aku menitipkannya pada pelayan kantin, namun sepertinya primata itu sudah hilang”

ah~ musang salju. Onew mengatakan dia menemukan satu juga kemarin. Apa sesuatu terjadi di atas gunung sana hingga musang salju berkeliaran di sekolah kita?”, aku menggeleng.

“itu bukan urusan kita, Hyoyeon. Pihak sekolah pasti akan menemukan apa yang terjadi segera”

Hyoyeon menyetujui kalimatku dengan anggukan pasti. Perlahan, kami tiba di gerbang sekolah. Aku baru saja akan melangkah ketika Proffesor Dims memanggil namaku.

“aku menunggumu di kantor, nona Yuri”, suara rendah yang serak itu masuk ke dalam gendang telingaku perlahan. Dia terlihat serius. Hyoyeon berbisik padaku ketika kami melihat udara kosong tanpa sisa di depan kami. Proffesor menyeramkan itu sudah menggunakan Teleportation.

“kau melakukan sesuatu yang salah, yuri?”, aku menggeleng, “aku yakin aku tidak”

Hyoyeon mengangguk dan aku menyuruhya untuk pulang tanpa aku kali ini. aku sendiri berjalan gontai ke apa yang mereka sebut sebagai kantor dari Proffesor Dims. Di tengah perjalanan aku bisa melihat Taecyeon dengan matanya yang membawa melihatku. Jika aku tidak segera mengalihkan pandanganku darinya, aku sudah akan menjadi manusia panggang.

Pintu mahoni tua dengan ornamen aneh dan bau klasik terpampang besar di depanku. Aku mengetuk pintu itu beberapa kali dan pintu itu terbuka dengan sendirinya –tanpa ada tanda-tanda manusia.

excuse me, Proffesor Dims…”, aku mencoba memanggilnya. Dan di saat itu pula pintu besar itu menutup dengan gerakan kilat. Debamannya hampir tidak terdengar. Pria menyeramkan itu pasti menggunakan sihir peredam.

“kau sudah datang, nona yuri?”, aku mendongak, suara itu berasal dari lantai dua. Aku mencoba menyusul suara itu namun proffesor menyeramkan itu sudah ada di belakangku entah sejak kapan.

“aku disini”, sahutnya singkat. deru napasnya mengguratkan satu aroma amis yang aku tidak kenali. Namun lambungku cukup berkontraksi kuat.

“apa yang anda butuhkan dariku, Proffesor?”

Pria itu tertawa. Aku tidak mengerti.

“Kau sangat percaya diri dan sangat… tidak tahu tempatmu, nona”

“kurasa aku tidak mengerti arah pembicaraan ini, proffesor”

“ayolah, kau cukup pintar untuk mengerti apa yang baru saja kau lakukan hari ini di depan umum”, aku terbatuk. Sudah kuduga.

“aku tidak bermaksud merendahkan para nobles—“, kata kataku di potong olehnya.

“tapi kau melakukannya, nona. Dan mereka mungkin tidak akan menganggap enteng masalah ini. terutama noble 4. Apa kau tidak melihat pangeran mereka; Ok Taecyeon menatapmu dengan kebencian?”

Aku mengumpulkan kembali serpihan memoriku tentang pria yang ia sebut. Jika aku tidak salah ingat, beberapa menit yang lalu aku menemukannya menatapku dengan marah.

“kau tahu kenapa aku memanggilmu, sekarang?”, aku memutar bola mataku dan menghela napas pendek.

“maafkan aku, proff—“

“bukan itu yang kumaksudkan. Yuri, aku adalah salah satu yang memperjuangkanmu untuk tetap berada di kelas superior selama 5 tahun terakhir. Aku tidak akan membuatmu keluar dari sana hanya karena attitude mu yang tidak pada tempatnya..” pria itu belum selesai bicara, dan aku bisa melihat ia mencengkram pundakku pelan. Memberi satu gerakan seolah ia adalah ayahku.

“…kau sudah cukup banyak menarik perhatian semua orang dengan eksistensimu. Aku tidak ingin lebih banyak dari mereka yang membencimu. Taecyeon, pria dari noble 4 itu— sesaat sebelum kau pergi, aku bisa merasakan hawa membunuh darinya. Kau tahu apa artinya ini, aku yakin seharusnya kau tahu”

Aku menggigit lidahku, aku ceroboh.

“dengar Yuri, kau hanya memiliki satu tahun lagi di dalam kelas superior. Kau akan dikeluarkan dari sana jika kau tidak menunjukkan perbaikan dan perkembangan kemampuanmu. Aku tidak bisa lagi melindungimu dengan jabatanku di sini, meskipun aku tahu kau adalah murid yang pantang menyerah. Ketahuilah, yuri… meskipun aku bukan ayah kandungmu, tapi aku sudah menganggapnya seperti itu”

Dims, bukan orang yang jahat –setidaknya ketika ia berhadapan denganku. Dia akan berubah menjadi seseorang yang eksentrik dan membenciku setengah mati ketika kami berada di tempat umum. Ia adalah tipe guru yang menjagaku, dan perlakuan sarkastik nya padaku ketika di tempat umum adalah salah satu bentuk penjagaannya.

Ia tidak ingin terlihat melindungiku. Ia tidak ingin terlihat seperti ia berada di pihakku. Dengan jabatannya yang cukup tinggi di Raville, ia ingin menggunakannya sebagai tameng untuk perkembanganku. Dia mengharapkan agar ilmu sihir ku yang rare ini bisa menjadi mahakarya dahsyat. Dan dia memperjuangkannya.

“baiklah, maafkan aku. Aku sangat ceroboh”, ucapku pelan.

“kuharap ini terakhir kalinya kau masuk ke dalam ruanganku untuk membicarakan hal yang sama”, aku mengangguk dan berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.

“Yuri, kau tidak bisa pergi sekarang. Seseorang akan membunuhmu jika aku tidak meninggalkan goresan pada tanganmu”, aku tahu apa yang sedang dia katakan, karena aku bisa mencium aroma tubuh Ok Taecyeon dari jarak cukup dekat. Dia tidak berada di balik pintu –aku cukup lega ia tidak menguping.

Aku menjulurkan kedua tanganku pada Dims, dan ia mengayunkan tongkat sihirnya padaku.

“maafkan aku”, ucapnya singkat. aku menahan pekikanku. Perih langsung menjalari pori pori tanganku. Semuanya memerah, jari-jariku membengkak seperti kaki gajah. Tapi tubuhku mungkin sudah terbiasa dengan ini setiap kali ia melakukannya.

“kau bisa pergi sekarang, dan jangan coba menutupi luka di tanganmu dari orang lain. Biarkan mereka tahu. Kau adalah orang yang dihukum karena melecehkan noble. Mereka harus menelannya bulat-bulat”, aku mengangguk mengerti. Walaupun sedikit eksentrik, tapi perhatian Dims cukup masuk akal buatku. Aku berjalan dengan kesakitan keluar ruangannya. Dan aku bisa melihat Taecyeon dalam jarak beberapa meter dariku. Ia tersenyum puas ketika melihat luka lebam dan darah kering di tanganku. Kemudian tanpa diperintah, ia membalikkan badan dan pergi dengan kawanannya.

“Hyoyeon pasti akan mencecarku dengan pertanyaan karena ini”, aku bergumam pada diriku sendiri. Aku memutuskan tidak akan pulang ke rumah lebih cepat hari ini. aku harus –dengan sihir atau cara lain, membuat luka di tanganku ini sembuh sebelum aku pulang.

Aku berbelok ke kiri setelah keluar dari gerbang. Menjauhi jalan pulang menuju rumah. Aku jentikkan jariku dan mantel tebal langsung membungkus tubuhku. Salju mulai turun sore ini, dan aku tidak mempunyai tujuan.

“Yuri?”, aku bisa mendengar suara wanita di belakangku. Jessica berdiri di atas kereta kudanya.

“apa yang kau lakukan di sini, kau tidak pulang? Malam akan—– GOD”, wanita itu memekik ketika ia melihat tanganku yang membengkak.

“Proffesor Dims?”, tanyanya. Aku mengangguk.

“apa yang pria itu lakukan lagi padamu? Kau melakukan kesalahan apa lagi kali ini, Yuri?”, aku menggeleng lemah “hanya sedikit kesalahpahaman”

“lukamu ini tidak menunjukkan apa yang kau sebut sedikit kesalahpahaman, dear”, ia mencoba memberi perhatiannya padaku. Aku hanya tertawa segaris.

“aku akan antar kau pulang, Hyoyeon harus tahu tentang ini”

“jangan beritahu dia, Jessica. Dia akan berbicara hingga mulutnya berbusa semalaman. Aku butuh istirahat”, aku terkekeh pelan. Jessica mengerutkan dahinya

“kau yakin?”

really sure

“baiklah, kau bisa ke kastilku, aku akan meminta pelayanku untuk menyembuhkan lukamu dengan sihir”

no need, aku mempunyai sedikit urusan hari ini. tapi terima kasih atas tawarannya”

“kau yakin?”

“kau tidak percaya hanya dengan melihat wajahku, Nona Jessica?”

Jessica terlihat ragu sesaat, namun ia akhirnya mampu meninggalkanku sendirian di jalanan setapak. Kereta kudanya melaju dengan kencang sementara ia sesekali melihatku khawatir. aku merapatkan mantelku ketika buliran es jatuh semakin deras.

Lampu-lampu jalanan dengan ukiran khas kerajaan terhampar luas di kiri dan kanan jalanan kecil itu. aku menikmatinya dan sadar bahwa matahari sudah tidak ada di tempatnya. Udara semakin dingin dan cahaya alami semakin remang.

Aku belok di belokan pertama. Seingatku, di sana ada sebuah toko buku bekas kecil yang sepi. Di sana dijual beberapa macam buku kuno dan buku usang –namun masih layak baca. Aku sering mengunjunginya selama sekitar 2 atau 3 kali dalam sebulan. Namun sebulan terakhir, karena kesibukanku, aku belum sempat datang.

Aku menyunggingkan senyumku ketika melihat pagar yang melintang di gang kecil itu. pagar itu adalah pagar satu satunya di sana. milik pria paruh baya yang mempunyai toko buku itu.

Anehnya, aku tidak melihat penerangan di sana. padahal seharusnya Vloppius –nama pria pemilik toko, sudah menyalakan lampu tamannya.

Aku berjalan pelan dengan kecurigaan akut. Benar saja, toko itu tutup dan lampunya padam secara keseluruhan. Aku mencium bau busuk yang tidak biasa namun aku terlalu takut untuk mengeceknya. Sesuatu terlihat bergerak di dalam gumpalan salju, dan sedetik kemudian musang salju muncul dengan tiba tiba. Ia berlari dari hadapanku seolah aku adalah monster.

Bulunya tidak lagi putih, aku bisa melihat warna kemerahan yang gelap di tubuhnya. di atas salju yang ia jejaki, noda merah itu tercecer.

Aku bergidik. Itu darah.

Musang salju itu semakin menjauh dan bau amis semakin menyengat. Aku tidak bisa menjentikkan jariku untuk melakukan sihir karena tanganku masih bengkak. Yang bisa kulakukan adalah merapalkan mantra sambil menggunakan tanganku yang besar.

low folum”, aku menggunakan mantra membuka dan menutup untuk benda; hyoyeon menggunakannya tadi pagi untuk mengikat tali sepatu onew dan key.

Pintu itu berderit terbuka. Aku tidak bisa melihat apapun selain kegelapan pekat di dalamnya. dengan segenap keberanian dan dominasi dari rasa penasaran, aku melangkahkan kakiku melewati taman dan ambang pintu.

Bau busuk semakin menyengat. Aku bergidik.

“Tuan Vloppius?”, aku memanggil nama pria tua itu dengan suara rendah –hampir berbisik. Aku takut sesuatu terbangun jika aku menggetarkan pita suaraku terlalu keras.

Kakiku menginjak sesuatu yang lengket. Aku mencoba melepaskannya. Karena gelap, aku tidak bisa mengetahui apa itu.

Laito”, aku mengucapkan mantra pemanggil cahaya, sebuah sinar berpendar di tanganku yang bengkak. Aku mengarahkan sinar itu ke bawah kakiku. Dan aku memekik pelan. Di sana tercecer darah yang mulai mengeras. Tidak heran menjadi sangat lengket.

Aku mengarahkan sinar ke berbagai arah, aku tidak menemukan sosok Vloppius tapi aku bisa melihat keadaan porak poranda di tokonya. Buku, rak vas bunga, kandang marmut, dan semuanya berantakan.

“apakah sesuatu terjadi padamu, Vloppius?”, aku bergumam pada diriku sendiri. Satu sisi di dalam diriku mengatakan aku harus segera pergi dari situ dan melaporkannya pada dewan sihir atau mereka yang berwenang, namun sisi kemanusiaanku mendorongku untuk lebih jauh masuk ke dalam rumah itu.

Sisi kemanusiaanku menang. Dan aku tidak pernah berada sejauh ini masuk ke dalam rumah Vloppius.

Aku berjalan di satu ruang yang terlihat seperti ruang tamunya. Ada beberapa lukisan di sana dengan mata yang berderet memandang pergerakanku. Lukisan itu bergerak, tapi tidak bicara. Kebanyakan ia memajang lukisan kuno dan abstrak sehingga sekalipun ia berbicara, aku tidak akan mengerti bahasanya.

“Tuan Vloppius,  kau baik-baik saja?”, aku mengubah nada suaraku menjadi lebih berani dan lebih tinggi. Suara keresek terdengar di depanku. Aku tidak tahu itu apa.

Aku mempercepat langkahku untuk menuntaskan rasa penasaranku.

“kau akan menyesal jika pergi ke sana, nona”, satu lukisan penjahit wanita yang sedang bersembunyi di bawah mesin pintal berbisik padaku. Aku tidak mengindahkannya –aku tipe keras kepala. Aku berjalan dengan pasti ke sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong. Aku buka pintunya pelan. Tidak ada deritan namun bau amis yang menyengat semakin merusak indra penciumanku.

Aku memantrai sinar yang mulai meredup di tanganku.

Ketika sinar memenuhi ruangan kecil itu, mataku terpaku pada sosok yang jarang. Aku memang melihatnya –Tuan Vloppius. Tapi aku sama sekali tidak mengharapkan sosok seperti ini yang kudapatkan.

Pria itu terbaring lemah di atas lantai. darah berceceran dari tubuhnya. bekas cakaran memenuhi wajahnya. Kepalanya hampir terlepas dari tubuhnya, matanya membelalak lebar, menunjukkan kengerian yang luar biasa. mulutnya menganga. Ulat dan belatung keluar dari sana.

Aku menjatuhkan tas ku. Bibirku gemetaran, dengkulku lemas. Tikus berlarian di sekitar kakiku. Jantungku terpompa dengan cepat. Bulu romaku berdiri. Mataku hampir berlinangan air mata.

Vloppius, pria itu…. tewas mengenaskan.

.TBC

Alurnya lambat ya, aku gak bikin cerita dengan alur drastis di FF ini. jadi ini masih tahap pengenalan tokoh dan konflik.

kalau ada yang nanya “kenapa pendek-pendek”, gak pendek juga sih. setiap chapternya akan di post dengan jumlah words tidak kurang dari 3.500 words. jadi cukup panjang kok.

selama membaca FF ini saran dari aku, coba berusaha mengingat tokoh mana masuk noble mana. karena aku gak akan menjelaskan dua kali di chapter selanjutnya. untuk Luhan dan Kai memang belum kentara di chapter ini. aku masih fokus sama konflik Yuri nya.

sekian, mohon saran dan komentar.

174 thoughts on “VIBRANCE [Part 2]

  1. Intan berkata:

    Apa yg terjadi dgn pemilik toko itu??
    Apakah dia diserang sama Wolf ato monster lainnya?
    Aku ijin lanjut baca ya kak nyun..😀

  2. Lulu Kwon Eun G berkata:

    duh bener dah klo jd Yuleon jg aq gkan mau masuk Raville, mencoba sadar diri aja..he

    Gila tegang bgt pas masuk toko, berasa aq yg masuk situh… feelnya dapet. sumpah kayur,,

    Luhan tuh siapa sh??,, Kai nya belom kliatan,, penasaran jg sama tuan Vloppius

    aq next ya kayur^^

  3. Susiani berkata:

    Kalau bukan Luhan, lalu siapa yang membisikan kata2 itu sama Yuri? Oiya aku kira Proffesor Dims itu jahat, rupanya proffesor Dims dingin ke Yuri itu untuk melindungi Yuri toe.. Dan siapa yang telah membunuh tuan Vloppius? Apa jangan-jangan musang yang lari dari Yuri tadi ya?:/

  4. yuri superexoshidae berkata:

    Ngeri bacanya kak…
    Hehehehe…
    Aq suka sama karakter yuri yang #keraskepala…
    Selalu enak d baca ff mu ini kak

    Keep writing

  5. lalayuri berkata:

    Hai kak nyun aku muncul lagi di part 2 ini. Aku mau nanya deh, noble itu sama dengan kasta ya kak ?. Di part 2 ini aku paling ngeri banget pas bagian akhir itu. Aku jadi ngebayangin gitu kak. Sebenarnya Yuri itu punya kekuatan spesial lain gak sih kak selain sihir tanpa mantra, lalu di part ini kok yuri menggunakan mantra si kak ? Baiklah sekian dari reviewku pada chapter ini. Aku langsung ke part 3 ya kak, ijin baca

  6. The Blackpearl berkata:

    kok serem yahh.. kok si Vloppius mati sih .. dia mati kenapa? apa jangan-jangan musang itu yang ngebunuh ?
    tapi emang bisa? kan musang nya kecil.
    apa jangan2 itu musang jadi2an ?? wkwk
    okee aku baca next part duluu deh~~

  7. Yayarahmatika berkata:

    Duh, penasaran sama kelanjutannya, bacanya sambil ngeri ngeri gitu. Keren kak nyun, kak nyun tu bisa buat cerita nya jadi terbelit belit tapi tetap nyambung, ala ala film barat gitu. Duh suka banget lah pokoke, lanjut baca part selanjutnya ya kak nyun, semangat!!

  8. BintangVirgo berkata:

    Back to me again….
    kak nyun memang lah bisa aja bikin orang begini
    udah kali ke 2 masih aja degdegan bacanya
    sampe nyaris berkringat
    once more KEREN!!

  9. kimchikai berkata:

    Aku cuma inget noblenya kai, jessica, taecyon sm krystal doang wkwk yg lain gk hehe.. Coba di inget lagi deh..

    Aku kira yg berbisik sama yuri di part 1 itu luhan, makanya aku kira luhan tau sesuatu, terus kalau bukan luhan siapa ya? Itu kenapa vloppius?? apakah di serang wolf atau phoenix? Penasaran akut.. Lanjut chap selanjutnya..

  10. BabyXOXO berkata:

    yuri dijadiin saksi? kekuatannya di blok? luhan itu siapa kak?? kenapa dia bisa menghentikan waktu??
    woaaa keren
    gak sabar pengen baca kelanjutannya

  11. winda berkata:

    Hyaaa.. kenapa yuri malah masuk ke situ.. aigo!! Tapi ceritanya tambah seru aja .. gak sabar baca kelanjutannya.

  12. Ersih marlina berkata:

    Nobles atau apalah itu, mereka bisa benci bahkan sangat
    cuman gara2 salah bicara,
    lagian yuri berani juga yah kkk keren sih

    knapa itu penjga tokonya ,? Mati misterius, ngerii
    lnjt bca ya ka nyun

  13. Hara_Kwon berkata:

    Hyoyeon eonni benar2 jail ya? Masa temennya sepatunya diikat gitu😂
    Dia benar2 ratu jail.
    Yuleon berani banget ya masuk ke rumah tuan penjaga tokonya? Kalo aku yg jadi Yuleon aku nggak bakal masuk2 sampek jauh -aku takut- :3 dan pas baca -padahal udah baca ke 2 kalinya- tetep aja tegang banget😂

  14. Yelin berkata:

    kayaknya aq harus siapin mental dulu buat baca part selanjutnya.. krn ending part ini cukup bikin ngeri.> <

  15. Humaira berkata:

    Duh ngeri banget taecyoen, masak mau bunuh yuleon cuman gara-gara kalimat itu, kajam banget. Aku kok ngerasa luhan itu bagian dari phionix yK?? .. Ya ampun tuan pemilik toko buku itu kok bisa gitu, apa mungkin musang itu yak pembunuhnya?
    Ceritanya seru eonni

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s