VIBRANCE [Part 3]

Vibrance 2

Chapter ke 3.

***

.Vibrance

Proffesor Dims menatapku dengan tatapan tergalak yang ia punya. Aku hanya meremas bajuku pelan, tidak berani menatap dunia. Aku duduk bagaikan seorang pesakitan di ruang interogasi dewan sihir. Aku tahu mereka tidak akan melimpahkan kesalahan padaku atas kejadian malam kemarin, namun aku terlalu takut di tempat asing.

Kemarin malam, aku menemukan jasad Vloppius di dalam rumahnya. Mereka mengatakan bahwa ada kemungkinan Vloppius dibunuh oleh binatang liar di gunung es seperti yeti atau serigala salju.; mengingat dalam beberapa hari ini mereka sering turun gunung –lari dari habitat mereka.

Mereka mengatakan sesuatu tentang adanya kemungkinan kemunculan wolf atau phoenix.

Jika bukan karena kemungkinan terakhir, aku tidak akan berada di sini hari ini.

Tadi pagi –ketika aku digiring dari rumah menuju satu kastil pusat pemerintahan, Hyoyeon berbisik padaku. Ia mengatakan bahwa aku tidak diperkenankan untuk berlaku sebagaimana aku hidup selama 17 tahun terakhir. Aku harus terlihat berkelas dan apa adanya. Desas desus yang aku dengar, Dewan Sihir dapat mengubah seorang saksi menjadi pesakitan hanya karena kalimat keliru yang dilontarkan.

Dan aku tidak mau menjadi seperti itu. aku masih harus menggunakan satu tahun terakhirku di dalam Raville.

“apa kau sudah siap, yuri?”, Dims menepuk pundakku; memberikan satu kelapangan aneh di dadaku.

“jawablah seperti apa yang kau lihat. Jangan menutup nutupi satu hal kecil pun. Mereka menggunakan mantra ridus. Mereka membaca apa yang ada di otakmu”

Aku mengangguk mengerti. Dalam sekali kerlingan, Dims sudah menghilang dari pandanganku. Berganti dengan satu sosok pria yang tinggi besar –menyerupai dua kali tinggi tubuh yeti. Pria itu memakai wewangian dari tumbuhan obat. Tapi hidungku bisa mengenali bau-bau pupuk ternak aneh yang tercium dari mantel tebal yang dipakainya.

Pria besar itu duduk di depanku. Rambutnya yang hampir tidak tumbuh dan matanya yang hanya segaris, menatapku dengan lekat.

“jadi kau yuri?”, aku mengangguk pelan. Berusaha agar sopan dan tetap dalam kepolosanku sebagai seorang pelajar.

“jadi apa yang kau lakukan malam itu, nona?”, pria itu mengeluarkan satu lembar pelepah pisangnya yang sudah kecoklatan. Sebuah pena dengan bulu merak terlihat bergerak di atas nya. dari kiri ke kanan.

“aku sedang dalam perjalananku pulang—”

“kau yakin kau ada di arah yang benar untuk jalan pulang?”

“tadinya; aku belum selesai bicara…” pria itu menatapku dengan lebih lekat, aku membetulkan kalimatku “—tuan”, pria botak itu mengangkat alisnya dan mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu.

“aku tidak senang dengan sebutan itu, panggil aku Crocus. Lalu kau bisa bercerita kembali”, ia menunggu responku.

“baiklah, Crocus. Jawabku”

“awal yang baik. Sampai dimana kita tadi?”

“jalan pulang—“

“ah iya benar, bagaimana dengan jalan pulang?”

Aku bercerita dengan rileks padanya, setidaknya nada bicaranya melunak setelah aku mengucapkan namanya. Aku bercerita dengan lengkap dan detail, dan ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“perkamen ini sudah penuh, nona. Aku rasa kau juga sudah kehabisan cerita”, sahutnya.

“aku rasa begitu, Crocus

“lidahmu sudah terbiasa dengan namaku”, pria itu tersenyum hangat. Aku tidak menangkap ada keganjilan di sana jadi aku membalas senyumannya. Pria itu menyilangkan 3 jarinya di depan dada dan pamit. aku keluar dari ruang interogasi dengan hati lapang. Mereka –dewan sihir, mengatakan bahwa aku akan dihubungi kembali terkait dengan kasus ini di masa yang akan datang jika mereka menemukan clue. Aku hanya mengangguk dan menandatangani satu perjanjian di atas perkamen besar tentang statusku sebagai saksi ahli. Dan setelahnya, Dims beserta sebagian dari Green Seat menggiringku kembali ke sekolah –tanpa ada istirahat dari mental breakdown barusaja.

Jarak dari dewan sihir ke sekolah ku tidak begitu jauh. Mungkin yang membuat perjalanan ini terasa lama adalah, bagaimana Dims menatapku sebal. Mungkin ia kecewa karena sesuatu dan aku tidak berani mengajaknya bicara.

“mereka mengawasimu, Yuri”, aku bisa mendengarnya berbicara. “yang baru saja kau tanda tangani adalah kontrak sihir, sebagai saksi ahli kau akan di awasi hingga kasus ini terpecahkan. Menghindari kejadian yang tidak diinginkan”

Mulutku membuka lebar. “mengawasikku? Maksudmu sejenis memata-mataiku?”

“untungnya karena negosiasi yang alot dengan green seat, mereka tidak sampai sejauh itu memasang pengawasan padamu”

“lalu?”

“batas gerakmu. Kau tidak akan pergi dari negeri ini sampai kasus itu selesai”

not a big deal. Aku tidak seperti akan kabur ke negeri orang”

“dan juga… mereka mengunci beberapa mantra kutukan yang ada”

“apa maksudnya itu?”

“artinya, kau tidak akan menjadi penyihir jika kasus itu tidak selesai. Sihir kutukan adalah pelajaran menyerang dan bertahan paling dasar. Jika kau tidak bisa melakukannya, kau tidak akan bisa menjadi penyihir yuri. 5 tahun yang kau habiskan akan sia-sia”

Jantungku mencelos.

“apakah separah itu, proffesor?, tapi crocus mengatakan bahwa—“

“jangan percaya pada Dewan Sihir dan janji-janji mereka. dewan sihir adalah laskar politik. Mereka bertopeng di balik peraturan yang mereka buat”

Aku menelan satu barikade ludah di tenggorokanku dengan susah payah. Wajahku pasti memucat, dan keringat dingin keluar. Ini sama seperti aku menghadapi mimpi buruk lainnya, aku akan kehilangan semua effort yang telah kulakukan selama 5 tahun. Gagal menjadi penyihir bukanlah hal yang terhormat. Apalagi aku gagal di dalam Raville sebagai salah satu dari murid di kelas superior dengan kemampuan sihir yang unik.

“aku bisa melakukannya tanpa mantra, aku bisa menguasai ilmu dasar itu”, aku tersenyum hambar. Memberikan pencerahan semu bagi diriku sendiri. Dims tidak mempertunjukkan ketertarikannya pada topik yang baru saja ku angkat. Dahinya berkerut.

“yuri, kau seharusnya tahu, tidak semua ilmu sihir dapat kau lakukan tanpa merapalkan mantra. There is must be a limit. Dan sihir kutukan tidak dapat dilakukan jika kau tidak merapalkan mantra, kurasa aku pernah membahas ini di grade pertamamu di Raville.”

Aku tidak mengangguk mengiyakan, pun menggeleng. Mataku menerawang ke luar kereta sekolah yang membawaku. Di sana hamparan luas dari perkebunan hijau bisa terlihat dengan luar biasa indah. Tapi aku tidak tertarik. Hatiku benar benar gelisah.

“jadi apa yang harus kulakukan, Proffesor? Ujian akhir akan dilaksanakan dalam beberapa bulan lagi. bagaimana jika aku masih berada dalam kontrak dengan dewan sihir ini?”

“satu yang pasti, kau tidak akan pernah lulus dari Raville—“, aku menghela napasku. Pandanganku mengawang, tubuhku bergoyang merasakan satu sensasi dari kereta sekolah yang sudah tua; Dims menatapku serius.

“kecuali jika kasus Vloppius telah terpecahkan sebelum ujian akhir berlangsung”

“dan yang kutanyakan adalah, How is it possible?. Aku sendiri hanya terjebak dan kurang beruntung ada di sana malam itu, mana aku tahu tentang Vloppius dan kejadian tewasnya pria itu”

i know. I know. Aku hanya mencoba mengutarakan ide ku. Kau hanya berada di waktu dan tempat yang salah, that’s it. Kita tidak bisa melakukan apapun tentang ini, Yuri. kau hanya bisa menunggu.”

God…”

Aku menyandarkan kepalaku dengan kasar. Suara ketukan keras dari kayu bisa kurasakan langsung di belakang telingaku. Kepalaku sakit, tapi aku tidak merintih. Dengkulku menjadi aneh, seperti ada listrik yang mengalir dan menggetarkan semua vena dan ortopedi di sana. kepalan tanganku menjadi lebih kuat. Mungkin aku harus menemukan sesuatu yang dapat kutinju dengan segera setelah aku turun dari kereta ini.

.Vibrance

“Oh, selamat datang nona yuri, bagaimana kunjungan singkatmu ke dewan sihir?” wanita dengan aksesoris bunga plastik yang menjulang di kepalanya terlihat tertawa melecehkanku ketika aku berdiri di ambang pintu kelas. Ajaibnya, semua murid di sana menertawaiku dalam diam. Bibir merah darah dari wanita itu menyeringai sebal padaku. Dia memang sudah lama melecehkanku seperti ini.

Wanita itu adalah Proffesor Bettie. Dia adalah salah satu dari keturunan noble dengan darah murni yang kental. Dibesarkan dari noble yang paling arogan, 4. Dia selalu mengintimidasi murid-murid yang bernasib sama sepertiku.

Bisa kukatakan ia akan melakukan pembedaan parah jika menemukan; murid tanpa noble, murid tanpa bakat dan murid tanpa harta. Sayangnya, aku memiliki ketiganya. Masuk akal jika aku dan dia tidak pernah harmonis selama aku bersekolah di sini.

“maaf aku terlambat” jawabku singkat; tidak peduli pada cekikikan menyakitkan di depanku.

Wanita paruh baya itu tidak membuat ini menjadi mudah. Di depan kelas, di depan semua orang, aku sekali lagi dipermalukan dengan kata katanya yang tajam.

“jika kau tidak masuk ke kelasku, tidak akan menjadi masalah. Lagipula kau tidak akan lulus dengan semua masalahmu itu”, sudut bibirnya membentuk huruf U yang landai. Giginya yang menguning bisa mencuat dari sana. dia tidak menyeramkan –bagiku dia seperti badut.

excuse me”, aku berjalan pelan ke tempat duduk ku. Sekilas aku bisa melihat Jiyeon, Junho, Taecyeon dan Victoria menertawaiku. Krsytal mengerling ke arahku, ketika aku melewatinya. Ia membuka mulutnya dan membentuk satu kalimat pendek ‘felling alright?”. Aku hanya menunduk atas kalimatnya dan membentuk mulutku menjadi fine singkat tanpa suara.

Aku melewati Kai yang duduk bersebalahan dengan Myungsoo. Kemudian aku duduk di kursi kosong sebelah Luhan. Jadi secara teknis, aku duduk di belakang Myungsoo.

Kepala Myungsoo merendah ke belakang. Ia tidak menoleh kepadaku tapi aku bisa mendengar dengan jelas dia berbicara.

have a bad day?”

“as you seen”, jawabku sambil membuka buku tebal dari tas.

“wanna go out for a while, after school end?”

“i am not in my mood”

“need a friend for talk?”

“no, thanks”

“how about a date?”

Aku menjentikkan jariku dan penggaris besi melayang di kepala myungsoo. Aku menjatuhkannya tepat di saat penggaris itu ada di ubun-ubunnya. Myungsoo cukup pintar untuk tidak memekik kaget. Kejadian ini berhasil luput dari pandangan Proffesor Bettie.

Tapi mungkin, kejadian kecil tadi sedikit mengganggu Kai. Aku menangkap gerakan mata sarkastik yang ia arahkan padaku sekilas. Ah~ aku lupa bahwa selain aku dan myungsoo, di sana ada Kai dan Luhan yang mendengarkan percakapan kecil kami.

girl shouldn’t be rude. How could you be a girl, yuri”, ucap myungsoo sambil mengembalikan penggarisku. Ia mengusap-usap kepalanya sementara aku mencoba melupakan tatapan Kai yang menyebalkan.

“sepertinya Myungsoo selalu menggodamu”, aku sedikit terlonjak ketika pria rambut perak di sebelahku bicara. Ya, aku hampir melupakan eksistensi pria satu ini. aku kira dia bukan mankind karena wajahnya yang sempurna dan expressionless.

“dia memang selalu begitu”, ucapku datar.

“dan kau.. apa kau selalu begitu?”

Aku mengangkat satu alisku, “begini? Bagaimana?”

“bicara singkat, tidak mempunyai ekspresi yang pasti dan penyendiri?”

Aku tidak mau menyulut api pada pendatang baru semacam Luhan. Tapi kuakui, ia cukup mengganggu kali ini. ia baru mengenalku selama 1 hari –dua dengan hari ini. tapi ia mengatakan sebuah kalimat seolah-olah ia telah mengenalku sejak aku dilahirkan. What kind of joke.

“apakah aku mengganggumu, Tuan Luhan?”

“tidak sama sekali. Kau tersinggung?”

“apakah tidak tertulis di wajahku?”

“baiklah. sorry

Aku berdehem kecil dan melarutkan diriku di dalam sebuah buku tebal. Waktu berdetak lebih lama dari biasanya. Hanya aku atau memang detiknya melambat?, kutatap jendela yang mengarah ke kebun belakang. Satu rumah pohon di ujung kebun itu mengingatkanku tentang bagaimana aku dan Hyoyeon berjuang di tahun tahun pertama sekolah ini. rumah pohon itu mungkin sudah tidak terpakai sekarang, karena aku dan hyoyeon sudah tidak pernah ke sana.

Satu ide melintas di otakku. Ada baiknya aku melakukan kunjungan singkat ke rumah pohon itu dan menyusun apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan ujian akhirku.

.Vibrance

oh shit !” aku mendengus kesal. Kontrak itu sudah bekerja. dan berbeda dari apa yang dikemukakan Dims, aku bukan hanya kehilangan kemampuanku untuk merapalkan mantra kutukan. Bahkan mantra ringan; menggunakan angin untuk naik ke atas pohon, tidak bisa kulakukan.

Hari sudah semakin sore, dan aku hanya berdiri memandangi rumah pohon usang dari bawah. Aku menendang kerikil sembarangan ketika aku mulai bosan. Hyoyeon sudah terlanjur meninggalkanku. Ia ada sedikit urusan dengan salah seorang teman noble nya.

Burung-burung dengan buntut kuda yang kecil beterbangan diiringi hembusan angin desember. Hari semakin dingin dan aku tidak mempunyai tempat untuk tinggal sementara. rumah terlalu jauh dan aku terlalu lapar. Seharusnya aku tidak di sini dan menyiksa diriku sendiri.

Krek.. krek… krek…

Aku mendengar suara yang familiar. Mungkin akan ada beberapa musang salju di sekitar sini atau entahlah. Berbeda dengan sebelumnya, rasa khawatirku mungkin ada pada tingkatan yang menyedihkan. Dengan tidak berfungsinya mantra, sama saja dengan tidak bergunanya seorang prajurit tanpa pedang.

Apa dewan sihir itu bahkan tidak berpikir bahwa mungkin saja aku diserang? Atau mungkin saja serangan mendadak datang padaku tanpa aku mempunyai defense sama sekali?

Apa mereka sebodoh itu?

Krek… krek… krek….

Bunyi itu lagi. alih-alih menakutkan, aku mendengarnya tersiksa. Aku seperti bertarung tanpa wajah. Terlucuti bahkan sebelum musuh menampakan batang hidungnya.

Bunyi itu semakin nyaring setiap detiknya, dan ketika aku tersadar satu sosok musang salju dengan ukuran yang besar loncat ke tubuhku. Ia cukup berat dari apa yang kubayangkan sehingga aku terjengkang ke tanah dingin.

Aku bergumul dengan salju, sementara musang itu terlihat sangat lapar. Ia mencoba mencakar wajahku dengan tangan kecilnya yang berkuku runcing. Bulunya mengembang dan menusuk permukaan kulitku seperti landak.

Aku mencoba melepaskan makhluk kecil itu sekuat tenaga dan ia terlempar. Kabar buruknya, ia terlempar tidak terlampau jauh dan lagi bala tentaranya yang berjumlah 3-4 menatap marah kepadaku. Hari sudah semakin gelap, tanpa aku sadari aku kehilangan senja berhargaku.

Jika lari bukan pilihan, maka habis tercakar adalah satu-satunya takdir.

escapos”, aku mencoba merapalkan mantra. Namun tidak berefek apapun padaku, musang-musang kelaparan itu berlari dengan beringas ke arahku. Aku terduduk di atas salju belum sempat bereaksi apapun atas serangan mereka.

Satu musang mendapatkan kakiku, dan aku harus menahan perih ketika taring kecilnya merobek kaus kaki yang kupakai.

Musang yang lebih besar, sudah bersiap loncat dari jarak 5 meter di depanku. Aku berani bertaruh, jika ia mendarat tepat di wajahku, aku akan habis.

“Ok, yuri.. dalam 5…4….3…2…”, aku menghitung mundur, aku berpikir bahwa ada satu kesempatan jika musang besar itu mendarat di wajahku, aku bisa mencekik lehernya kuat-kuat dan membuangnya dari tubuhku. Not bad idea at all.

“sa—“, aku belum selesai bicara. Musang-musang itu terjengkang jauh dari tubuhku. Mereka seperti bola-bola di atas trampolin. Naik dan turun di atas udara. Sebuah kandang dari daun dan ranting muncul entah darimana. Aku menoleh ke belakang, merasakan sosok jiwa yang datang mendekat..

“terlalu malam untuk berada sendirian di sini, nona yuri”

Aku mendengar suara yang familiar. Setelah sukses berdiri, aku menyipitkan mataku sambil menepuk-nepuk salju di celanaku. Pria dengan rambut hitam kecoklatan berdiri di bawah sinar bulan yang remang. Wajahnya sedikit gelap dan matanya menunjukkan kepastian.

Ia tidak tertawa, pun cemas. Dia hanya berdiri, mencoba menggoyangkan tangannya untuk menggunakan sihir pada musang-musang di depannya, dan ia menatapku setelahnya.

“Kai? Apa yang kau lakukan di sini?”, aku sedikit kaget melihat pria itu di sana. seharusnya aku tidak, karena bagaimanapun ini sekolahnya juga.

it is too obvious. Mengerjakan beberapa perkamen Proffesor Bettie tentu saja. Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan di sini? Sendirian dan terlihat…………” kai menelan ludahnya sambil menahan sedikit tawanya “…lemah?”

Dia terlalu merendahkanku. Aku menggerakkan bahuku ke atas dan mengambil tas ku yang sempat terjatuh.

“bukan urusanmu”, aku berpaling dari hadapannya dan pergi. Jauh di dalam hatiku, mungkin terselip rasa terima kasih yang tidak terucapkan. Apapun yang dia katakan, dia tetap adalah orang yang menyelamatkanku dari insiden musang barusan. Dan mengingat kebangsawanannya, seharusnya aku berterima kasih dengan lebih formal.

Tapi dia tidak terlihat protes, dan aku tidak begitu peduli. Malam ini cukup pahit, hari ini cukup berat. Kuharap besok ada oksigen dan ruang yang lebih luas untuk aku bernapas dan menenangkan otakku. Sendiri.

.Vibrance

Derap langkah cepat dari pria besar dengan kepala yang botak mampu menyingkirkan salju-salju yang bergumul di atas kakinya. Satu pagar besi besar ia lewati dengan gagah, pria yang membukakan pagar itu terlihat memberikan pandangan penghormatan yang teramat sangat.

Pria besar itu berjalan lurus, memandangi satu buah kastil megah yang bertaburkan dengan lampu-lampu kecil khas natal. Sekilas ia menoleh pada udara kosong di sebelah kirinya; berdecak beberapa kali dan memasukkan kembali tongkat sihir yang baru saja dicabutnya dari pinggang.

“terlalu malam untukmu, Crocus”, pria di antara udara kosong yang berperawakan lebih kecil dengan leher yang hampir tidak terlihat berjalan bersebelahan dengan pria besar tadi. Crocus tertawa singkat, menunjukkan deretan gigi menguningnya yang besar.

“tidak ada terlalu malam untuk dewan sihir, Capel. Dan biar kutebak… kau membawa informasi?”

“satu, yang sangat penting. Tapi aku tidak akan membahasnya bersamamu di sini”, Capel menyeringai. Mereka berjalan berdampingan dan menghilang di balik satu pintu besar.

Di tempat tujuan mereka; satu ruangan besar dengan mahakarya lampu yang menyilaukan mata serta bola-bola api kecil yang terpampang rapi di dinding marmer cokelat, pria dengan jubah hitam dan tuxedo yang glamour duduk sambil memegangi minuman aneh di tangan mereka.

Satu yang terlihat paling tua dan bijaksana, duduk di area pusat dari meja makan. Sementara sisanya berputar mengelilingi meja itu. ketika Crocus dan Copel masuk ke dalam ruangan tersebut, tawa renyah datang dari pria tua-bijaksana itu.

“apa kalian memiliki meeting di luar ini?”, ucap pria tua itu ketika melihat Crocus dan Copel datang bersamaan.

“tidak, yang mulia. Kami hanya bertemu di gerbang depan”, sahut Crocus menghormati rajanya. Duduk di sana adalah Pemimpin tertinggi dari Dewan Sihir; Oxylian. Mereka biasa memanggilnya hanya dengan Yang Mulia atau Yang Agung.

Oxylian terkekeh singkat. dia bisa melihat wajah dua orang abdinya dengan jelas. “jadi kabar apa yang kalian bawa?”

Oxylian menatap Crocus dan Copel satu per satu. Dan pandangan matanya berhenti di tubuh Crocus.

“kau duluan”

Crocus mendongak, menatap wajah Oxylian dengan penuh hormat. Di depan semua tamu dan jajaran dewan sihir yang mengelilinginya, ia membuka suara.

Vloppius… pria tua itu tewas”, Oxylian tertawa.

“aku sudah mendengar ini, bagaimana kelanjutannya? Dia bunuh diri atau dibunuh?”

“aku rasa dibunuh adalah kata yang paling tepat, tidak ada indikasi terjadinya peperangan sihir padanya. Jadi aku sedang menyelidiki kasus ini lebih lanjut”

“bagaimana dengan gadis yang bersaksi itu?”

“sementara ia tidak dapat menggunakan sihirnya sampai kasus ini selesai, Yang Mulia”

poor her. Kau tahu kau seharusnya tidak melakukannya, Crocus. Dia akan kehilangan kemampuan bertahannya. Bagaimana jika ia diserang sihir hitam?”

“dia akan baik-baik saja, Yang Mulia. Aku menempatkan penjaga yang tepat untuk gadis itu sampai kasus ini selesai”

“apakah penjaga itu bisa dipercaya? Apakah ia salah satu pekerja di dewan sihir?”

“sangat bisa dipercaya, Yang Mulia. aku menugaskan anakku sendiri yang bersekolah di sana”

“itu terlalu beresiko”, Crocus bisa mendengar pria-pria tua mengomentarinya. Oxylian tidak terlihat terganggu, namun ia juga tidak merasa tenang.

“tidak kah lebih baik menggunakan salah satu dari anggota dewan sihir, Crocus?”

“maaf jika aku melangkahimu, Yang Mulia. menempatkan anggota dewan sihir di sebuah sekolah akan mengganggu stabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut. Green Seat dengan tegas menolaknya. Dan aku merekomendasikan anakku sebagai jalan keluar. Kau tidak perlu khawatir, anakku cukup berbakat untuk ini”

Oxylian terlihat ragu dan mengangkat satu alisnya. Namun ia mengangguk tanda setuju.

“baiklah, aku bisa mempercayakan gadis saksi itu pada noble 1 murni seperti kau dan anakmu.”, Oxylian menepuk tangannya, membuat bunyi nyaring. Ekor matanya terpaku pada Copel yang masih berdiri gagah di sebelah Crocus.

“dan kau Copel, berita apa yang kau bawa?”, Copel terlihat memberikan salam hormatnya pada Oxylian kemudian menatap wajahnya dengan kekaguman.

“mengenai tugas yang kau berikan padaku, Yang Mulia… penyelidikan kasus kematian Vloppius”, semua orang di majelis itu menegakkan tubuhnya sempurna.

“jadi, kau menemukan sesuatu?”

“ya, ada dua informasi penting. Pertama, bagi yang belum mengetahui ini, Vloppius adalah salah satu dari jajaran dewan sihir pada masa pemerintahan Zero –raja sihir yang terkuat sepanjang sejarah. Dia kabur dari dewan sihir setelah Yang Mulia Zero tewas. Dia menolak keberadaan nobles sepanjang hidupnya dan menggunakan mantra berubah wujud untuk bersembunyi selama ini. aku memeriksa memorinya dan aku yakin aku tidak salah…”, Copel melihat ekspresi mengerti dan kebingungan dari sebagian pria di depannya. Oxylian menyuruhnya kembali membeberkan informasinya.

“dan kedua, sesuatu yang menyerangnya adalah bukan penyihir. Bekas cakaran, noda darah, bulu di atas karpet rumahnya, menandakan ia diserang oleh binatang liar. Aku baru saja melakukan riset singkat di rumahnya, dan tanpa ragu… aku bisa menyimpulkan hal ini…”, Copel menarik napasnya sebentar, “… wolf dan phoenix…  salah satu dari mereka, sudah kembali, Yang Mulia. dan Vloppius adalah makanan pembukanya”

Majelis dilanda keheningan. Namun di detik selanjutnya, setiap orang yang ada di sana menggunakan bibir mereka semaksimal mungkin. Membuka dan mengatup satu sama lain. Oxylian terlihat mengerutkan dahinya sedangkan Crocus asik menatap Copel dengan kaget.

Copel menggerakkan bahunya ke atas, dan menatap Crocus dalam diam.

.Vibrance

Hari ini Hyoyeon tidak meninggalkanku untuk membereskan semua piring makan pagi kami. Ia membantuku bicara dan mencoba meringankan beban di pundakku. Seperti Hyoyeon yang biasa kukenal, dia bercerita dan menggosip apapun yang terlintas di kepalanya. Aku tidak bisa tidak tertawa dibuatnya.

“apa kau yakin, Yuri? kukira kau menyukai Myungsoo”. Ucapnya ketika kami berada di setengah perjalanan menuju sekolah. Dia membahas tentang bagaimana Myungsoo selalu membicarakanku di depan teman-temannya.

“dia memang selalu seperti itu, Hyoyeon”, aku menyunggingkan sekilas senyumanku. Berharap Hyoyeon bisa mengallihkan topiknya. Dia memegang tali tas nya erat dan memandang jalan setapak yang kami lewati dengan damai. Aku merapatkan mantelku ketika salju menumpuk di atas dahan pohon berjatuhan ke atas bahuku.

“Yuri… apakah kau benar-benar tidak dapat melakukan sihir saat ini?”, aku hampir tersedak. Kupikir Hyoyeon tidak akan menyadari berita ini.

“Entahlah. Sebelum kasus itu selesai, ya”, jawabku singkat, aku menempatkan kedua tanganku bertumpuk di depan dada. Burung gereja lewat dengan suaranya yang lembut.

“kau tidak akan bisa mengikuti ujian?”

“mungkin begitu, tapi tidak jika kasus itu sudah selesai”

“siapa yang bertanggungjawab terhadap kasus itu?”

“dewan sihir”

“seharusnya mereka tidak melakukan ini padamu. Bagaimanapun kau hanya seorang pelajar”

“sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Aku yakin Dewan Sihir pasti akan menyelesaikan ini sesegera mungkin”

Aku menepuk pundak Hyoyeon dan berjalan lurus ke gerbang sekolah. Di sana para murid menatapku dengan jijik –lebih jijik dari biasanya. Dan setelah aku berpisah jalan dengan Hyoyeon karena kami akan menuju kelas yang berbeda, aku bisa melihat Tiffany menjaga jarak dariku; lebih jauh dari sebelumnya.

Semua orang di sekolah ini sepertinya sudah mengetahui apa yang terjadi padaku dan pada sihirku dan mereka terlihat tidak ingin terlibat jauh dalam kehidupanku. Mungkin mereka tahu aku diawasi dan mereka tidak ingin terlibat.

Saat aku masuk ke kelas, aku disambut oleh seringai tajam dari Taecyeon. Pria itu lagi. aku belum sempat duduk dan menaruh tas ku dengan aman di sana, pria itu sudah menarik lenganku dengan kasar. Dengus napasnya yang membara meniup wajahku. Aku merasa uap panas di sana.

Di depan kelas, ia menarikku. Aku menghempaskan tangannya.

“apa yang kau inginkan?”, ucapku, menahan kekesalan pada pria itu. Junho, teman –yang lebih seperti pembantu Taecyeon, datang dan menahan tanganku di belakang. Seolah aku adalah tawanan yang lepas. Aku menjentikkan jariku perlahan –lupa bahwa aku tidak mempunyai kekuatan sihir sat ini.

“kau tidak pantas berada di kelas ini, Yuri. kau tidak lagi istimewa”, pria itu mengangkat beberapa helai rambutku dan berbisik. Para murid yang baru saja datang hanya bisa menatapku. Noble 4 adalah tipe yang tidak suka diganggu. Urusan mereka adalah urusan mereka, no one can interfere.

Krystal dan Myungsoo tidak bisa melakukan apapun selain melesat keluar dan menghilang di balik pintu. Mungkin mereka kabur atau mungkin mereka mencari bantuan. Aku tidak tahu yang mana. Tapi yang kedua lebih masuk akal.

Eunhyuk yang baru saja datang, terlihat kebingungan dan berbisik mencari tahu apa yang terjadi di  depan matanya ke murid lain.

“lepaskan aku”, aku mendesis ke arahnya. Dia tertawa keras.

“kau pikir aku adalah tipe yang akan melakukan itu? kau… merusak keagungan kelas superior karena darah non-noble mu. Dan kemarin, kau sukses menjatuhkan nama kami karena kebodohanmu atas kasus pembunuhan. Kau tidak pantas berada di sini, Yuri. sangat tidak pantas”, dia menarik rambut ku dengan kencang sehinga kepalaku tertarik. Aku tidak menyukai ini.

Aku mengayunkan kaki ku ke belakang dan Junho terjengkang, merasakan sensasi tendangan selangkangan yang baru saja kuberikan. Sebelum Taecyeon merapalkan mantranya, aku menghantam perutnya yang bidang dan membuat ia mundur beberapa senti. Aku berputar dan menendang kembali wajah yang ia banggakan sehingga giginya terlepas satu dengan tendanganku.

Aku bisa merasakan bisikan bahwa Junho merapalkan mantra. Aku bergegas berlari ke arah dimana ia masih terjengkang dan meninjunya dengan sikut tanganku di bagian perutnya. Cairan bening keluar dari mulutnya.

Taecyeon terlihat marah, ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan aku mendengar sebuah mantra terkutuk yang tidak ingin aku dengar.

Ia menggunakan mantra menyerang, dan artinya kerusakan yang akan ditimbulkannya padaku, sangat parah.

Pocrus”, bisiknya. Satu sinar kemerahan khas api yang menyala keluar dari tongkat sihirnya. Ya mungkin aku akan pingsan setelah ini, tapi tidak puas rasanya jika aku tidak menendangnya sekali lagi. aku menatap serangan dia dengan berani –layaknya prajurit, bahkan aku masih sempat berlari menuju tubuhnya.

Aku tergelincir di lantai dan menggunakan kesempatan itu untuk menendang kakinya yang panjang. Serangan cahaya merah itu berbelok ke bawah, ke arah wajahku tepat.

Sinarnya sangat terang sehingga aku memejamkan mataku.

escapos”, aku bisa mendengar suara pria merapalkan mantra. Dan dia berdiri di depanku dengan satu perisai bening tidak terlihat.

Eunhyuk mundur ke belakang tempat duduknya, sisanya sama-sama bergidik dan mengambil tempat lebih jauh dari area bertarung aku dan Taecyeon. Junho yang terkapar, ditarik oleh Jiyeon dan mereka bergegas keluar dari kelas. Taecyeon berdiri dengan hati-hati, wajahnya membengkak dan merah.

“jadi kau sekarang ada di pihak gadis ini, Kai?”

Benar. Pria yang berdiri di depanku adalah Kai, ia menghunuskan tongkat sihirnya pada Taecyeon. Aku akhirnya mengerti alasan kenapa Eunhyuk dan yang lain memutuskan untuk melihat pertarunganku dari jauh. Taecyeon dan Kai adalah dua jenius tanpa belas kasihan. Aku tidak pernah melihat mereka bertarung seperti ini, tapi akan sangat merepotkan jika ini benar terjadi. Mungkin sekolah akan hancur karena pertarungan mereka berdua.

“ini sekolah, bukan arena bertarung, Tuan noble 4”, ucap Kai singkat tanpa ada unsur mengobarkan api amarah Taecyeon. Namun Taecyeon menangkap hal lain.

“dan ini bukan sekolahmu, noble 1 tidak ada urusan dengan aku ataupun gadis ini. menyingkir dari gadis itu”

“kau tidak mengerti apa artinya nasihat, Taecyeon. Jika kata kata tidak bekerja padamu, maka akan aku coba berbicara dengan tongkat sihir”, Kai mengonfrontasi. Suasana menjadi semakin memanas. Aku bisa melihat Eunhyuk dan Junhong membangun mantra pelindung di antara kursi di kelas, mereka walaupun hanya penonton, tapi perlu untuk melindungi diri.

“Pocrus”

“Hugo Veda”

Aku mendengar mereka sama-sama merapalkan mantra menyerang, dan sialnya tubuhku terbuka tanpa defense. Ya, aku masih berada dekat di tengah arena pertarungan dua monster itu. aku tidak sempat lagi bergeser, cahaya merah dan hijau yang menyilaukau terlihat memenuhi pupil mataku. aku hanya bisa berharap, Kai menjadi pemenangnya. Karena jika Kai kalah, artinya aku akan terluka dan bahkan… tewas di sini.

Satu satunya yang kulakukan selain membayangkan hal terburuk adalah… memejamkan mata. berharap ada keajaiban datang dan menghentikan kedua orang di depanku.

Klek.

Aku mendengar suara seperti saklar. Aku membuka mataku, Kai dan Taecyeon masih bertarung. Tapi mereka berhenti. Seolah-olah semua telah mengalami penghentian waktu. Aku bisa melihat Eunhyuk, Victoria dan yang lain diam mematung. Aku mendongak dan melihat jam, tidak bergerak sama sekali. Semuanya membeku seperti es.

Klek.

Suara itu lagi, aku berdiri dan mencari darimana suara itu berasal. Aku bisa melihat sosok pria dengan rambut keperakan berjalan ke arah Taecyeon dan Kai. Ia menjentikkan jarinya dan suara saklar itu terdengar lagi.

Aku membuka mataku lebar-lebar, mencoba melihat apa yang dia lakukan. Luhan hanya berdiri dan tersenyum aneh, ia menatap Kai kemudian Taecyeon bergantian. Sekali lagi ia jentikan jarinya dan pergi dari sana.

Tubuhku tiba-tiba limbung dan aku merasa kepalaku sangat pusing. Saat aku tersadar, Kai dan Taecyeon telah terjerembab di atas lantai. Proffesor Dims datang tidak lama setelahnya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi dalam selang waktu beberapa detik yang lalu. Aku yakin melihat mereka semua bergerak kemudian membeku. Dan sekarang pertarungan itu berakhir dengan seri, tanpa kerusakan dan hingar bingar keributan. Para murid yang menonton di bangku belakang pun terlihat kecewa dan melepaskan mantra perlindungannya. Aku merasa seperti paralyzed. Aku yakin mereka mematung sepersekian detik tadi. namun yang kulihat saat ini adalah mereka yang bergerak bebas seolah tidak pernah ada waktu berhenti yang mereka rasakan.

Dims membantuku berdiri dan menunjukkan perhatiannya sebagai seorang guru. Namun perhatianku sepenuhnya berada pada pria di ujung kursi yang duduk dengan santai. Ia membuka bukunya dan terlihat fokus menuliskan sesuatu di sana.

Kejadian barusan menyita banyak perhatian kelas lain, sehingga jam pelajaran pertama mengalami kekosongan. Aku bisa melihatnya, Luhan berjalan keluar. Aku tidak ingin bertindak sebagai stalker… tapi ia terlalu mencurigakan.

Aku mengikutinya dari belakang. Kami melewati lorong dan lorong yang tidak ada habisnya di Raville sampai akhirnya ia berhenti di sebuah gudang tua yang sudah tidak terpakai. Aku menjaga tubuhku agar tidak terlihat oleh Luhan. Dia masuk ke dalam gudang itu dengan langkah ringan. Aku mengintip di balik sebuah jendela kayu reyot yang sudah tidak terpakai.

Luhan menjentikkan jarinya, sinar aneh mengelilingi tubuhnya. aku merasakan atmosfir yang lain. Aku tatap jam tanganku yang klasik, berhenti berdetak. Seperti beberapa saat yang lalu, udara tidak dapat kurasakan bertiup di sekitarku. Semuanya berhenti.  Aku menatap Luhan penasaran, ia menjentikkan lagi jarinya dan waktu berjalan kembali dengan normal.

Ia tersenyum pada dirinya sendiri, “masih bekerja”, gumamnya. Dia berbalik, hendak keluar dari gudang itu. aku memegangi dadaku, jantungku berdetak dengan aneh karena atmosfir yang dibuatnya. Harusnya aku menyembunyikan tubuhku di balik dinding agar tidak terlihat, tapi sesuatu membawa langkah kakiku ringan berjalan.

Sebelum Luhan benar benar keluar dari gudang itu, aku menjatuhkan sesuatu dan membuat langkahnya tertahan, ia menoleh dan aku bisa dengan pasti melihat matanya ada di pupilku. Luhan membalikkan badannya seluruhnya padaku, aku tertangkap basah.

“yuri? apa yang kau lakukan di sini?”, ucapnya ramah. Tenggorokanku bergetar. Benar, dia bukan penyihir biasa. aku bisa merasakanya. Atmosfir yang diciptakannya sesaat tadi masih terasa di bawah lapisan permukaan kulitku. Di balik senyumnya itu, aku yakin dia menyembunyikan sesuatu.

“kita akan terlambat ke kelas, aku duluan”, ucapnya. Luhan berbalik dan melangkah pergi dariku.

you—“, aku bergetar. Aura yang baru saja ditunjukkannya membuat tubuhku limbung. Luhan menghentikan langkahnya. Suara ku pelan bagai tertiup angin. Aku mengepalkan tanganku yang berkeringat. Masih bergetar ketika ia menunjukkan punggungnya padaku. Aku tahu ia mendengarkanku, pria dengan rambut perak itu terdiam.

you… who are you? What exactly are you?”

.TBC

neo… mwoya? nuguya?

aseeek. itu sengaja di sempilin di akhir cerita. biar kerasa kaya yoon sohee yuri nya.😄.

NOTE : PART SELANJUTNYA TELAH DI PASSWORD. YANG TIBA-TIBA NONGOL DI CHAPTER INI DOANG DAN UJUG-UJUG MINTA PASSWORD, MAAF SEKALI, AKU GAK BISA KASIH PASSWORD BUAT READER SEPERTI ITU.

SAYA HANYA MENGHARGAI READERS AKTIF YANG SELALU MEMBERIKAN SARAN, KRITIK DAN KOMENTAR DI SETIAP CHAPTER. THANKS.

429 thoughts on “VIBRANCE [Part 3]

  1. lalayuri berkata:

    Hai kak nyun aku muncul lagi di chapter 3. Aku mau tanya deh kak, jadi sebenarnya Luhan itu penyihir yang hebat atau apa ? Cie kai jagain yuri. Aku mau nanya deh kak nyun, sebenarnya Yuri itu punya kemampuan spesial lainnya gak kak, kok kayanya gak seru ya kalau kemampuannya yuri cuma kaya gitu. Tpi aku ikutan kak nyun aja deh. Aku boleh minta password buat chapter selanjutnya gak kak ke email : stevanihelena33@gmail.com aku udah komentar dari chapter 1 kok kak, klo ff yg lain aku blm komen karena aku belum baca. Ok sekian dari aku di chapter ini, semoga aku bisa baca chapter selanjutnya

  2. The Blackpearl berkata:

    “gerakan mata sarkastik” maksudnya gimana si kaknyun?
    jadi sebenernya luhan itu siapa?
    btw “you… who are you? What exactly are you?” kata2 yg di MV wolf yaa..
    penasaran dakuuu… oiya berhubung part selanjutnya di password. boleh nda aku minta password part 4 sama 5..
    kalao boleh tolong kirim ke email babyexotic03@gmail.com ya kak..
    makasiii..

  3. Phannia berkata:

    Wah, jadi kekuatan luhan iru menghentikan waktu ya… keren ♥ kayanya Yuri juga punya kemampuan spesial tapi masih belum kliatan deh… bikin penasaran..
    next aja deh..

  4. Yayarahmatika berkata:

    Ahhhh kak nyuuunn jadi tambah penasaran ni, jadi luhan itu siapa? Kenapa aneh gitu dia? Ini mah namanya penyiksaan karna penasaran ni kak nyun cus baca part selanjutnya ya kak nyunn

  5. Yayarahmatika berkata:

    Yaaaahhhh kak nyuuunnn aku mah selalu komentar di sini, liat deh dari teaser nya sampe part yang ini, aku selalu komentarin. Padahal tadi aku semangat banget mau baca kelanjutannya, eh, waktu di liat rupanya part 4 sampek seterusnya di pw, boleh minta pw nya ya kak nyun, kirim ke sini yayarahmatikaa@gmail.com harus nunggu lama baru bisa ngelanjuti baca yang part 4 nya, itu pun kalo kak nyun ngerespon. Pliisssss kirimi pw ini ya kak. Trus aku tu kalo baca ff pasti nunggu sampe ceritanya selesai baru baca judul yang lain lagi, karna takut bingung dengan cerita yang satu sama yang lain, jadi plis banget kak nyun kirim pw nya yaaaaa, semengat buat kak nyun, yang kreatif dan selalu menghasilkan cerita cerita yang beda dari cerita lainnya, andai aja ceritanya jadi film, aku penonton setia nya kak hihihihihi,

  6. Seora berkata:

    akhirnyaaaaa…. kai nongol juga. kenapa taecyeon disini dingin bgt ya, aku gak pernah liat peran dia kaya gitu, tapi pantes malah. anaknya yg disuruh jagain yuri itu siapa? kai ya? kai kan? harus kai *maksa. ampun kaknyun

  7. rissa berkata:

    Annyeong, aku readers baru slam kenal yaa ^^ sebenernya aku udh baca ff vibrance dari part 1 tapi mian bru koment di part ini. Authornim aku boleh minta pw part selanjutnya gk, aku janji bkalan ninggalin jejak. Jebal ne karna ff nya keren bnget..

    Gomawo

  8. kimchikai berkata:

    Anaknya dewan sihir itu kai ya… Taecyeon rengse bngd sih sikapnya, uh kasian yuri.. Semoga dengan adanya kejadian ini dewan sihir bersedia ngembaliin kekuatan sihir yuri.. pas dibagian akhir itu berasa di mv wolf, wkwk..

  9. febrynovi berkata:

    kaknyuuun woaaaa xD sebetulnya yuri itu kekuatannya sihirnya apa ya? mungkinkah dia itu sebenarnya salah satu noble juga? terus luhan… dia punya sihir menghentikan waktu? kkk.

    nice chapter kaknyun xD

  10. winda berkata:

    Jadi .. kalau mau mintak pasword kemana ya ?? Ehh.. aku kn reader baru jadi gak begitu tau deh. Lagipula aku juga udah penasaran tingkat akut .. tapi sekali lagi gomawo udah bikin fanfic asli bagus .. yak kak Nyun.

  11. Ersih marlina berkata:

    Aku masih bingung sama ceritanya, mungkin otak aku nya aja yg loadingnya lama huhu

    yuri nanti bakalan sama siapa ? Luhan atau kai ? Sama siapa aja boleh ko, asal bahagia kkk
    ga bsa ngbdain antra kawa sama lawan iniih

    ka, aku minta pw part 4 sma 5 nya, krimnya ke email aku
    ersihmarlina@gmail.com
    gomawo sbelumnya, berharap d kasih scepetnya, hehe😀

  12. Hara_Kwon berkata:

    Kasihan sekali Yuleon harus kehilangan kekutannya untuk sementara waktu.
    Untung aja bapaknya Kai nugasin Kai buat jaga Yuleon, dan hibungan mereka semakin dekat.
    Aku bener2 nggak bisa ngelupain percakapan singkatnya Myungsoo sama Yuleon😂 Myungsoo seneng banget deh nghoda Yuleon. Suka momennya mereka berdua😍
    Dan pertarungan antara Kai dan Taecyeon tadi juga bener2 nggak bisa dilupain, berkesan banget. Soalnya menegangkan sekali. Untung aja Luhan dateng dan menghentikan(?) Semuanya
    Kekuatan Luhan bener2 keren👍

  13. Yelin berkata:

    awal mula kisah yuri dan kai udah muncul.. bkl ada romance di antara mereka kn ya??
    pas luhan menghentikan waktu aku mlh inget film mandarin kungfu dunk..di sana jg ada scene menghentikan waktu pas lg tanding basket..^^

  14. dotha12 berkata:

    yuhuuu, kak nyun… Vibrance, TSD sama TOZ tuhhh gak bosen loh aku bacanya seriusss… tapii chap. depan udahh dipassword #ohhtidaakkk…

    aku message kk lah yahh buat negosiasii hohoho :*

  15. Humaira berkata:

    Wah.. Deabak. Aku jadi tegang banget pas baca nya apalagi pas bagian ujung tadi, aku yakin banget kalo luhan itu phionix. Yuri eonni kasin banget, masaan teacyoen tega banget -_-

    Eonni fighting

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s