STAY STAY STAY – From EXOYUL Series

5. Stay stay stay

Series ke- 5 dari Exoyul-Taylor Swift’s song special

Yuri – Suho Version

Genre : Happy-Sad Twisted

Poster by me.

Disclaimer : cuplikan lirik lagu milik TAYLOR SWIFT dan agensinya. Main Cast dan beberapa casts lainnya hanya meminjam. untuk cerita ini hanya ide dan plot nya yang saya miliki sepenuhnya. jika ditemukan kesamaan dengan karya orang lain, yakin hanya kebetulan semata. dilarang Copas dan menjiplak. thanks.

***

Yah, Jeon Myeon-ah, aku duluan”, aku bisa mendengar suara pria dengan rambut ikal tipis melambai ke arahku. Tubuhnya 5 senti lebih tinggi dariku, garis wajahnya terlihat tegas dan berkharisma; vantopel yang dikenakannya mengkilat disiram sinar matahari Juni. Dari atas hingga bawah ia terlihat mirip denganku –cukup skip bagian tinggi badannya saja.

Dia kakak ku, Jeon Ki. Mungkin dia agar terburu-buru pagi ini.

Aku membawa ransel di pundakku dengan langkah gontai. eomma sudah pergi ke luar negeri dan aku adalah satu-satunya yang akan terlambat ke sekolah pagi ini. sebenarnya bukan masalah besar, hanya saja terlambat di hari ulang tahunku sendiri, adalah pertanda buruk.

Apa aku mengatakan ulang tahun?

Ya, aku menginjak 17 tahun ini. tidak ada yang spesial selain bingkisan bertumpuk di dalam kamar sejak tengah malam tadi. kadang aku ragu apakah sinterklas muncul di bulan Juni?. Tapi ketika aku bicara dengan Jeon Ki hyung barusan, ia mengatakan semua hadiah itu dari appa dan eomma yang sedang sibuk bekerja di luar negeri. Typical mereka.

Ucapan selamat ulang tahun adalah satu sepersekian dari sejuta bagi mereka. aku dimanjakan dengan materi dan materi –sesuatu yang aku sudah bosan.

Rumah ini begitu sempurna, wajah ini juga sempurna dan semua hidupku mampu membuat dunia iri. Keramik mahal, aksesoris mewah, gadget, perhiasan, cat yang eksotis, tanaman yang luas, air mancur, garasi untuk 10 mobil, semuanya sempurna. Rumah ini memiliki segalanya –tanpa tempat untuk cinta.

Semua orang di dalam rumah ini tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Kami hanya keluarga kecil dengan 4 anggota keluarga, tapi aku merasa bahwa pembantu dengan seragam hitam-putih lebih cocok disebut sebagai keluarga. Keluargaku yang sebenarnya, jauh dari jangkauan tanganku.

dan hari ini, aku terabaikan. Ulang tahun ke-17… betapa taboo nya kalimat itu buatku.

Yah, Jeon Myeon-ah~”, seorang gadis dengan rambut hitam sempurna menyapaku dari luar pagar rumahnya, ia terlihat memegangi pintu mobilnya yang terbuka. “kau tidak menggunakan mobilmu, lagi?”, sapa gadis itu aneh melihatku berjalan.

“aku hanya ingin berjalan kaki sedikit hari ini”

Gadis itu mengangguk. Kemudian ia melihat handphone nya dan terbelalak. Ia menghampiriku seperti aku akan pergi ke surga. Ia memegangi bahuku kencang.

YA ! Kenapa kau tidak memberitahuku kau berulang tahun hari ini?”, aku menjauhkan wajahku agar selamat dari cipratan ludah dari bibirnya.

“kenapa aku harus memberitahumu?”

Gadis itu berkacak pinggang. Ia mengetukkan kakinya dengan ritme menyerupai perkusi.

“aku noona mu..” sahutnya ala preman. Aku hanya tertawa ketika ia meminta maaf atas memorinya yang sedikit kabur dan memberi tumpangan padaku ke sekolah. Aku menolak pada awalnya, namun tidak ada salahnya pergi dengan noona ini satu hari saja.

ah, aku tidak menyangkan dongsaeng ku sudah berumur 17 hari ini. aigoo..”, aku mengembangkan senyum tipis padanya. Ia menyetir dengan gaya seorang pengusaha wanita muda yang atletis. Wanita rambut hitam ini bernama Kwon Boa. Ya, dia tetanggaku dan seorang noona yang sempurna.

Jika saja ia lebih muda dariku beberapa tahun, mungkin orang akan mengira kami adalah sepasang kekasih hari ini.

“17 tahun… itu umurku 5 tahun yang lalu”, dia tertawa renyah ketika satu lampu merah pertama kami lewati.

“kau harus mentraktirku hari ini, noona”, responku bercanda. Dia tertawa lalu menggigit bibir bawahnya.

“andai aku bisa… aku ada perjalanan dinas hari ini ke daerah Busan. Mungkin ketika aku kembali, aku akan mentraktirmu. Kau tidak marah bukan?”, aku memegang pergelangan tanganku. satu lagi… satu lagi yang tidak ada di hari ulang tahunku.

ah.. gwaenchana. Aku tidak begitu masalah, kau ingat ulang tahunku, aku sudah sangat bersyukur”, Boa noona terlihat kegirangan dan menyalakn tape mobilnya. Sebuah lagu jazz terputar di sana.

ah~~lagu ini sedang populer sekarang”, sahut Boa noona ketika mendengar 2 bait dari liriknya. Aku menikmati lagu itu sambil menutup mata.

“aku ingat sesuatu, Joon Myeon-ah… ini ulang tahunmu yang ke 17 bukan?”, aku mengangguk –agak sedikit kaget dengan gerakan tiba-tiba noona itu.

“aku punya satu cerita dari orangtuaku di saat ulang tahunku ke 17. Sebelumnya, kau tahu kuil di bukti belakang sekolahmu, Jeon Myeon-ah?”, aku berpikir sesaat sebelum aku membuka mulutku.

“mungkin maksudmu bukit kecil dengan pepohonan rimbun?”

“benar. Kau pernah kesana?”, aku menggeleng.

“kau tahu aku selalu di awasi, aku tidak punya waktu pergi sejauh itu ke sana”

“ah~ sayang sekali. Rumor nya, jika kau berjalan menaiki bukit tanpa menoleh ke belakang sedetik pun dan berdoa di kuil pada saat ulang tahunmu yang ke-17, kau akan mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan”

Aku tertawa. Bagaimana wanita dengan intelejensi berlebih seperti Boa noona menceritakanku hal seperti ini. aku bahkan hampir tidak bisa bernapas hanya dengan melihat ekspresi nya.

wae wae wae? Apa aku terlihat gila?”

ani. Ini bukan seperti dirimu –mempercayai hal seperti ini”

“tapi ini benar. Aku pernah ke sana dan meminta satu doa di sana”

“dan doa itu menjadi terkabulkan?”

Boa noona terlihat ragu, “tidak~…” jawabnya, “tapi aku berani menjamin bahwa kehidupanku berjalan dengan baik setelah ke sana”, lanjutnya.

Aku tertawa sekali lagi, tepat di saat itu noona menghentikan mobilnya di depan sebuah sekolah dengan gerbang besar. Aku keluar dengan sopan –masih dalam tawa mengembang, aku membungkuk ke arahnya dan melepas kepergian noona itu.

Aku berjalan dengan gaya seorang remaja di usia 17 nya, beberapa wanita menatap ku dengan wajah yang memerah, kemudian saling berbisik dengan wanita lainnya. Pria-pria menatapku sebal. Di tengah jalan setapak ke dalam sekolah, aku merasa ada tangan melingkar di bahuku. Tangan kasar seorang pria dengan kulit sedikit hitam.

“berhenti memegangi leherku seperti itu, Jongin-ah

“seharusnya kau tidak segalak ini di hari ulang tahunmu, hyung

Aku hanya menggeleng beberapa kali mendengar kalimatnya. Jongin adalah adik kelas satu tingkat di bawahku, namun begitu, orang tua kami adalah teman sejak kecil dan Jongin adalah yang paling mengerti keadaan keluargaku setelah Boa noona.

Di ujung belokan di depan tadi, aku berpisah dengan pria hitam itu. kami berada di kelas yang berbeda. Aku masuk ke satu ruangan besar di ujung ruangan. Dan semua mata –seperti biasa, terpaku padaku.

Sepertinya satu hari berat harus aku lewati dengan berbagai senyum palsu –lagi.

.Stay Stay Stay

Bel berdentang dan aku sudah berada di ambang gerbang. Aku menunggu Jongin ketika satu pesan singkat masuk ke dalam ponselku.

hyung, aku ada sedikit urusan dengan beberapa temanku, kau bisa duluan’

Aku berdecak dan memasukkan ponsel ke dalam saku celanaku. Aku memutuskan berjalan ke rumah atau menaiki sarana transportasi umum yang ada. Kumasukkan tangan ke saku celana kiri dan berjalan dengan memakai sebuah headset di telingaku. Satu lantunan lagu lembut berkumandang di telinga.

Beberapa wanita yang masih bertebaran di jalanan itu menatapku dengan mata penuh keinginan padaku. Daripada mengatakan mereka cute atau cantik, aku lebih suka mengatakan mereka freak. Make up tebal dan rok super mini –mereka pikir mereka cukup modern dengan semua itu, tapi di mataku adalah tidak lebih dari mannequin badut yang berjalan pelan.

Aku melirik ke sebuah tanah gundukkan tinggi menjulang di belakang sekolah, pepohonan besar terlihat tumbuh dengan liar di antara sorot matahari. Aku meragu sebentar. Ku hentikkan langkahku. Kata-kata Boa noona terngiang di otakku –membentuk satu frase yang mengundangku naik ke bukit.

‘…jika kau naik ke bukit itu tanpa menoleh ke belakang dan berdoa di kuil di puncaknya, maka doa mu akan terkabul’

Aku tertawa atas potongan memori itu, tapi kakiku bergerak sebaliknya. Ia menuntunku menembus kaki dari bukit itu.

Aku berhenti sejenak dan menarik napas. Aku tidak bisa menengok ke belakang setelah ini. jadi aku harus menyiapkan sedikit mental preparation. Senja mulai terlihat di ufuk, aku mempercepat langkahku. Bukit ini tidak tinggi, dan tidak terlihat menyeramkan, hanya saja aku berjalan lebih cepat agar aku juga bisa pulang lebih cepat. Akan sangat merepotkan jika orang rumah menemukanku pulang lebih telat dari biasanya. Aku tidak mungkin bercerita apa yang sedang aku lakukan, bukan? mereka akan menertawaiku.

Aku menyipitkan mataku sebelum matahari tidak ada dipihakku, aku memang melihat sebuah kuil tua terabaikan di atas sana. tidak perlu banyak bersusah payah, dalam 10 menit aku sudah tiba di pelataran dari kuil itu. sebuah kotak kayu dengan gemerincing bel tergeletak tidak terurus di sana. aku tidak pernah berdoa di dalam kuil sebelumnya –jika bukan karena orang tuaku yang memaksaku, mungkin aku tidak akan pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Aku berlutut, dan membuat tepukan tiga kali dengan telapak tanganku. aku membunyikan gemerincing bel nya di udara, dan membuat mataku menutup setelahnya. Aku berdoa.

Setelah kurasa cukup, aku membuka mataku dan tidak ada satupun yang terjadi selain senja yang sudah berganti dengan kegelapan. Angin musim panas sedikit menurunkan suhunya, sehingga aku merasa tengkuk ku kedinginan.

Aku membunyikan lonceng kecil itu lagi, dan tidak ada satupun yang terjadi selain suara jangkrik. Aku terkekeh.

“aku sudah gila”

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali dan bergegas membalikkan badanku. Aku bergerak turun bukit, menjauhkan diriku dari sebuah kuil tua di sana. senja semakin menghilang dan aku sedikit berlari turun. Aku mendengar suara gesekan daun yang kuinjak dengan cepat, kemudian suara ranting yang berjatuhan. Tanpa menoleh sedikitpun ke belakang –tempat kuil yang baru saja kutinggalkan, aku berhasil sampai di kaki bukit.

Lampu lampu sudah di nyalakan di sekitar jalanan sekolah, ponselku berdering. Beberapa ahjumma di rumah meneriaku namaku di balik sana, memerintahkanku agar pulang segera. Aku hanya terkekeh dan meminta maaf. Sepertinya –pada akhirnya, apa yang dikatakan Boa noona memang hanya sebuah cerita saja.

.Stay Stay Stay

“Jeon Myeon-ah… Jeon Myeon-ah…”, aku membuka mataku sedikit. Tidak begitu memperhatikan siapa yang sedang memanggilku sampai ia memanggilku kembali. Aku mengusap kepalaku pelan, dan mengintip di balik celah mata yang terbuka kecil.

Satu sosok wanita dengan baju putih sebatas dengkul, rambut hitam tergerai, bibir tipis, hidung mancung dan kulit yang sedikit gelap memandangku. Sesuatu berputar di otakku, aku percaya bahwa Boa noona tidak pernah sepagi ini untuk membangunkanku. Dan lagi Boa noona terlalu payah untuk dipakaikan gaun cantik seperti itu.

Sekali lagi, otakku berputar. Jika dia bukan Boa noona… lalu siapa?

Aku terhenyak, membuka mataku lebar lebar. Pupilku berhenti pada pemandangan luar biasa di depanku. Gadis itu berdiri dengan cantik, tapi aku sama sekali tidak melihat dia menapakkan kakinya di atas lantai marmer kamarku. Aku menjamin tidak ada angin selain dari AC ku di sini, tapi rambut wanita itu selalu bergerak, seolah angin meniupnya dengan lembut.

Dia tersenyum ke arahku dan aku tidak tahu apa yang terjadi.

“k-kau siapa?”, tanyaku, aku menaikkan selimut hingga batas leher, mengingat aku hanya memakai dalaman saja saat ini. dia bergerak, ah ralat, terbang rendah mendekatiku. Aku yakin, dari hawa dingin yang ia hasilkan –dia bukan manusia.

“aku Yuri, penghuni kuil. Aku ada di sini untuk mengabulkan permintaanmu”, bibir kecilnya membuka dan menutup dengan cepat. Rambutnya tergerai kembali pada angin yang tidak dapat kurasa. Aku merinding.

“k-kau hantu?”

“mungkin”, jawabnya sekilas sambil menunjukkan senyuman tipis di bibirnya padaku.

“sekarang, apa bisa aku tahu apa doamu? Aku akan mengabulkannya segera”, aku berpikir sesaat ketika wanita cantik bernama yuri itu bicara. Aku mengetukkan tanganku ke kepala, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. aku memang ingat bahwa aku pergi ke kuil dan berdoa. Tapi… aku lupa apa doaku malam itu. sungguh. Aku sangat lupa.

“apa kau lupa?”, tanya gadis itu lembut. aku mengangguk, sambil sesekali menelan saliva ku.

“hal yang wajar bagi seseorang yang telah berdoa di kuil itu. baiklah, jadi aku akan menunggu sampai kau ingat, JeonMyeon-ah

“sebentar… bagaimana kau tahu namaku?”

name tag di seragam sekolah mu tadi malam… aku melihatnya”

Aku mengangguk, kemudian segera menyibakkan selimutku dan bergegas ke kamar mandi ketika jam sudah menunjukkan waktu yang semakin siang. Aku akan terlambat ke sekolah. Gadis itu mengikutiku ke kamar mandi tanpa wajah berdosa.

“kenapa kau mengikutikku?”

“mungkin kau akan ingat permohonanmu di kamar mandi, dan aku akan mengabulkannya segera”

aish… kau tidak perlu melakkukan itu. aku akan memberitahukannya padamu ketika aku mengingatnya, nona”, aku jawab asal. Wanita itu terlihat terganggu.

“panggil aku yuri”

Aku menatapnya dari ujung kaki –yang mengambang di udara, hingga ujung rambutnya.

“baiklah, yuri”, dan aku menghilang di balik pintu kamar mandi.

.Stay Stay Stay

Sebenarnya ini bisa saja menjadi satu hari sekolah yang standar, jika saja aku tidak diikuti oleh seorang hantu wanita di belakang tubuhku. Jongin dengan santai menyapaku dan bicara ini itu, seolah tidak menyadari ada satu lagi orang di antara kami. Gadis hantu itu mengikutiku kemanapun aku pergi –kecuali toilet.

Dia tidak lupa bertanya tentang apa permohonanku malam itu. aku bukannya ingin mengulur waktuku, hanya saja aku benar-benar lupa apa permohonanku malam itu.

Aku menawarkannya satu permohonan berbeda, namun dia tidak bisa. Katanya jika aku pergi ke kuil sekali lagi dan mengucapkan permohonan yang berbeda, maka baik permohonan pertama maupun kedua, tidak akan pernah terkabul seumur hidupku. Ya, dan itu mengerikan. Bagaimana jika di permohonan pertama aku benar-benar memohon sesuatu yang krusial. Akan sangat merepotkan jika itu tidak terjadi.

“kau tidak makan?”

“aku bahkan tidak bisa menyentuh benda apapun selain tubuhmu, Jeon Myeon-ah”, ucapnya ketika ia hanya berdiri di belakangku, memelototiku dengan hamburger kecil di tanganku. aku mengangguk. Jam sekolah sudah selesai, dan aku hanya duduk-duduk di sebuah bangku panjang sambil menunggu sekolah sedikit sepi.

Beberapa orang mungkin berbisik di belakangku ketika aku terlihat bicara dengan udara kosong karena yang lain tidak bisa melihat yuri.

Gadis ini terbang rendah kemudian duduk di bangku di depanku. Ia hanya memperhatikanku makan sambil sesekali menelan ludahnya dengan ekspresi lucu.

“apa yang kau makan jika kau tidak bisa memegang benda kasat mata?”, tanyaku.

“aku tidak makan, seperti kalian yang hidup”, ucapnya pendek. Aku mengangguk mengerti. Tapi tatapan mata gadis itu lekat pada hamburgerku.

“tapi kau terlihat lapar”

ani—“, matanya berputar tidak yakin “… tapi mungkin”, tambahnya. Aku hampir tersedak melihat bagaimana ia secara tidak sengaja menunjukkan aegyo nya padaku. Pipinya menggelembung sementara kedua tangannya memangku dagunya di atas meja. Rambutnya tergerai indah. Aku baru pertama kali ini bertemu seorang hantu, dan aku tidak tahu bahwa hantu bisa secantik gadis ini.

Ah, apa yang aku pikirkan?

“katakan, kau berulang tahun bukan kemarin, Jeon Myeon-ah?”, gadis itu mengagetkanku dengan pertanyaannya. Aku menunggu sepasang gadis hilang dari pandanganku agar aku bisa manjawab pertanyaan yuri. akan sangat merepotkan jika mereka melihatku bicara dengan udara kosong. Aku bisa diseret ke rumah sakit jiwa sekarang juga.

“ya, ke 17” jawabku singkat ketika kantin sudah mulai sepi.

“kau tidak merayakannya?”

“aku tidak pernah merayakan ulang tahunku. Aku tidak menyukainya”

“tapi kau begitu kaya… apa tidak ada pesta walaupun kecil?”

“aku tidak memiliki banyak orang untuk diundang datang”

Gadis itu mengangguk, matanya menerawang.

“jika aku jadi kau, aku akan meminta orangtuaku mengadakan pesta besar”, aku menghela napas, menatap udara kosong di ujung ruangan. Mataku menerawang.

“orang tuaku terlalu sibuk untuk pesta di rumah” gadis itu menegakkan punggungnya “tapi kulihat bingkisan hadiah berserakan di kamarmu, semuanya tertulis dari ayah dan ibumu…”

“hanya itu yang mereka berikan setiap ulang tahunku. Bingkisan. Kau tahu apa yang lebih kuharapkan dari bingkisan? Kasih sayang mereka… perhatian mereka… tidak pernah aku dapatkan kembali sejak mereka sibuk dengan dunianya…”

Kami terdiam dalam keheningan panjang. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang aku katakan, tapi gadis itu terlihat menelan bulat-bulat semua kalimat yang aku lontarkan. Matanya menjadi sendu, dan bibirnya tersenyum tipis. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja dan menyandarkan pipinya di sana. tanpa melihatku, aku mendengarnya berbicara.

“tapi kau lebih beruntung. Setidaknya kau masih bisa hidup dengan normal di hari ulang tahunmu sendiri”

“tapi tanpa kasih sayang or—“

“setidaknya kau hidup. berbeda dari hantu sepertiku…”

Lagi-lagi kami dilanda keheningan panjang. Wajah gadis itu tertutup oleh rambut hitamnya. Ia masih bersandar di atas meja. Aku ingin menelan ludahku sebanyak yang aku bisa. Tapi gadis itu langsung terbangun dan mengajakku pergi dari sana sebelum malam tiba. Aku memutuskan berjalan, mengambil jalur memotong melewati taman air mancur di antara jalan pulang dari sekolah ke rumah. Akan menghemat waktu hingga 15 menit jika aku melalui taman itu.

Gadis itu terperangah ketika melihat air yang tiba-tiba tersembul ke atas dari bawah lantai yang kami pijak. Aku lupa mengatakan bahwa, setiap jam 5 sore, di lantai itu, akan tersembur air setiap selang waktu 5 detik. Dan aku lupa bahwa ini jam 5 sore.

Gadis itu tidak kebasahan seperti halnya aku. Dia hantu bagaimanapun.

Tapi yuri, kegirangan, senyum mengembang yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya menghiasi wajahnya. Aku terkikik melihat bagaimana ia menari aneh di bawah semburan air itu. ia benar-benar terlihat sangat cantik.

“sebaiknya kita pergi dari sini, kau akan sakit”, ucapnya ketika ia melihat aku sudah basah kuyup. Aku menolak ajakannya.

“sudah terlanjur basah. Kita bisa menikmati air ini beberapa detik lagi”, jawabku asal. Yuri keberatan, ia terbang rendah keluar dari kurungan air. Dan aku mau tidak mau mengikutinya. Kami melewati jalanan sepi yang jarang dilalui. Yuri memegang lenganku ketika anjing besar di salah satu rumah menggonggong pada kami. Ia terlihat ketakutan dan bersembunyi di balik tubuhku.

Aku memegangi tangannya yang dingin. Benar seperti apa yang dikatakan gadis itu, ia hanya bisa menyentuhku tanpa bisa menyentuh benda kasar yang lain, dan sebaliknya, hanya aku yang dapat melihat, berbicara, mendengar dan menyentuh gadis hantu ini.

ah~ semua anjing di sekitar sini menakutkan”, jawabnya lega ketika kami semakin menjauh dari rumah itu. aku tersenyum pelan dan melihat ke arahnya. Aku teringat percakapan ringan kami di kantin baru saja.

“yuri… apa yang… apa yang kau lakukan ketika kau hidup?”

Gadis itu mematung di sebelahku, wajahnya menunduk. Sinar lampu membiaskan bayanganku sendiri, tanpa ada tanda bayangan dari yuri.

“aku…. tidak mengingatnya”, aku terdiam –merasa bersalah atas pertanyaan asal ku. “tapi aku akan segera mengingatnya ketika tugasku selesai”, tambahnya dengan mata yang terbuka lebar.

“a-apa maksudmu dengan tugas? Jangan bilang sesuatu yang berhubungan dengan permohonanku?”

“benar, memang itu, ketika aku berhasil mengabulkan permohonanmu, maka aku akan mengingat semuanya. Roh kuil mengatakan hal seperti itu padaku. Maka dari itu, kumohon agar kau segera mengingat permohonanmu”

Gadis itu tersenyum padaku. Sorot matanya meyakinkan aku agar aku segera melakukan apa yang harus kulakukan. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“tapi aku benar benar lupa apa permohonanku…”

“kau harus mengingatnya. Aku yakin kau pasti bisa, hwaiting

Ia menyemangatiku seperti aku akan pergi bertanding piala dunia. Aku hanya tertawa melihatnya. Dia terbang di depanku, menyenandungkan sebuah lagu yang tidak kukenali. Aku melihat punggungnya yang terbalut gaun putih.

Yuri, apakah menjadi orang mati menyenangkan? Apakah sepenting itu ingatan saat kau hidup bagimu?

.Stay Stay Stay

“Jeon Myeon-ah… YAH Jeon Myeon-ah”, aku mendengar suara wanita membangunkanku. Apa dia tidak tahu ini hari libur, eoh?. Aku melemparkan bantalku asal dan menggeliat.

“diamlah, yuri. ini hari libur.”jawabku asal

mwoya? Baru seminggu kutinggal kau sudah gila. YAH, Kim Jeon Myeon, ini aku noona mu, noona mu”, aku tersentak dan segera bangun. Yang pertama kali kulihat adalah yuri yang terduduk di atas lemari sambil menggelengkan kepalanya padaku.

YAH, KIM JEON MYEON.  Kau lihat kemana?”, noona itu berteriak di depanku, dengan baju musim panas yang tipis, aku bisa melihat dia berkacak pinggang di pinggir kasurku. Aku menatap Boa noona malas.

mwoya.. Aku sedang tidur… kenapa kau mengangguku di saat jam segini, noona

aigoo… beginikah caramu terhadap noona yang repot-repot membawakanmu hadiah ulang tahun dari Busan, eoh?”

Aku mengucek mataku “hadiah apa yang kau bawa? Kau bisa memberikannya siang atau sore nanti noona. tidak sepagi ini”, aku bisa rasakan cubitan parah di betisku. Aku berteriak dan yuri tertawa memegangi perutnya di atas lemari. Jinjja. Noona ini menurunkan derajatku di depan wanita cantik.

“aku akan pergi nanti siang, makanya aku kesini pagi pagi”, aku mengangguk mendengar penjelasannya. Ia mengajakku turun ke lantai satu dan aku bisa melihat sepeda gunung terbaru bersandar gagah di parkiran halamanku. Yuri terlihat melesat dan mengagumi benda di sana, walau ia tidak dapat menyentuhnya.

Setelah aku membersihkan diri, Boa noona mengajakku sarapan. Yuri masih di luar mengagumi sepeda gunung-lipat ku.

“kudengar kau ke kuil di bukit itu?”, aku hampir tersedak.

“bagaimana kau tahu?”

ey~~ kau jangan meremehkanku. Aku mempunyai banyak mata-mata. Kim Jong In melihatmu kesana dan dia memberitahukannya padaku”

Aku menggertak rendah, Jongin-ah… kau benar-benar….

“apa yang kau dapat? Apa doamu?”, noona itu mendesakku dengan pertanyaannya. Aku bertindak seolah bodoh dan melanjutkan sarapan pagiku.

ya, kau harus menjawab pertanyaan orang yang lebih tua darimu. Apa yang kau dapat dari sana? apa sesuatu terjadi?”, aku hanya menggeleng, tidak mungkin aku menceritakan tentang yuri pada wanita ini.

ah~ sayang sekali. Kau dan aku bernasib sama kalau begitu. Aku tidak mengerti. Aku sebenarnya mendapatkan cerita yang berbeda dari beberapa teman dekatku.. mereka mengatakan sesuatu seperti roh kuil yang mengabulkan permintaan mereka seperti aladin dan sejenisnya”, aku lihat Boa noona menyendokkan sop ayam hangatnya ke mulutnya yang lebar. Aku sedikit terperangah pada kalimatnya namun aku berusaha tidak menunjukkannya.

“roh kuil apa maksudmu, noona?”, tanyaku hati hati. Boa noona mengunyah sesuatu dan menelannya sebelum ia berbicara.

“temanku, Kangta oppa mengatakan bahwa ia diikuti oleh hantu seorang wanita yang mengabulkan permintaan apapun. tapi hantu itu menghilang setelah 17 hari. Dan tidak muncul lagi. kangta oppa benar benar beruntung, ia memiliki segalanya hari ini karena semua permintannya pada hantu itu. aku tidak ingin percaya, tapi dia memiliki buktinya”

Boa noona bercerita panjang lebar. Aku terpaku pada satu saja kalimatnya. Jika aku tidak salah dengar, ia mengatakan sesuatu tentang ‘tapi hantu itu menghilang setelah 17 hari’.

Yah, Kim Jeon Myeon, kau mau kemana, kau belum menghabiskan sarapanmu?”, aku bisa mendengar wanita cerewet itu berteriak ke arahku, saat aku dengan tiba tiba meninggalkan meja makan.

Aku mencari sosok wanita dengan gaun putih selutut di antara mobil dan motor yang terparkir bebas di garasi. Sepeda gunung ku juga masih di sana, tapi aku tidak bisa melihat wanita yang kucari. Aku berlari tanpa alas kaki ke sebuah taman di dekat garasi, dan tetap saja aku tidak bisa melihat wanita itu.

Aku mendongak ke atas dan melihat seorang wanita dengan gaun putih mencoba mengejar burung gereja yang beterbangan di sekitar atap rumahku.

“Yuri-ah”, aku berteriak –hati hati, agar Boa tidak menganggap aku gila. Yuri, gadis itu menoleh padaku dan turun perlahan. Dia menatap bola mataku, dan mungkin melihatku yang sedang terengah-engah.

“kenapa denganmu? kau sedang latihan marathon?”, dia bertanya dengan nada polosnya.

“kenapa kau tidak mengatakannya….”, jawab aku terbata-bata, entah kenapa aku sangat marah. Yuri terlihat kebingungan.

“apa maksud—“

“kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau hanya memiliki 17 hari, eoh?”, yuri tertegun padaku. Bukan saja hanya pertanyaanku, mungkin ia sedikit kaget melihat aku sedikit emosi.

Aku sudah bersama dengannya selama 10 hari belakangan, dan ia tidak menyebutkan apapun tentang siapa dirinya, apa yang dia lakukan dan bagaimana dia akan mengabulkan permohonanku. Dia hanya mengatakan bahwa ia adalah roh yang sanggup mengabulkan permohonanku, tanpa penjelasan lebih lanjut. Dan bodohnya, aku melupakan apa permohonanku.

Aku tidak tahu- benar benar tidak tahu bahwa ia hanya memiliki 17 hari bersamaku. Aku pikir dia akan bersama ku seumur hidup hingga aku benar benar ingat apa permohonanku di malam itu. dan hal ini, membuatku marah. Seakan aku tidak bisa terima ketika ia hanya memiliki 17 hari itu. seakan aku tidak bisa menerima kehadirannya yang begitu singkat, seakan aku ingin hidup lebih lama lagi dengannya.

“kurasa… itu bukanlah hal yang penting untuk diberitahukan padamu…”

“Itu penting, Yuri-ah, sangat penting”, aku memotong kalimatnya dengan penekanan emosi di dalam kalimatku. “bagaimana jika kau masih tidak bisa mengingat apapun karena 17 harimu denganku terbuang percuma? Kau mengatakan bahwa jika kau berhasil mengabulkan permohonanku, maka ingatanmu akan kembali, bukan? dan bagaimana kau bisa melakukan ini tanpa memberitahuku kau hanya memiliki sedikit waktu saja?”

Emosiku meluap luap, aku tidak tahu kenapa. Yuri menunduk dan melinting gaunnya, rambutnya menutupi sebagian besar wajahnya. Aku benar benar dikuasai oleh emosi. Sampai akhirnya Boa noona datang dan pamit padaku. Ketika aku lihat lagi ke arah yuri berdiri, ia sudah tidak di sana. ia menghilang.

.Stay Stay Stay

Hari ke 14, 3 hari tersisa bagi yuri dan aku. Aku sudah lama tidak berbicara dengannya. Dan dia sudah lama tidak tidur di atas lemari kamarku; ia lebih memilih ruang tamu atau sofa.

Hari ini aku libur dari sekolah, liburan musim panas telah dimulai. Aku bersandar dengan santai di sofa sambil memindah mindahkan channel TV ketika yuri melintas di sampingku.

This morning I said we should talk about it.
‘Cause I read you should never leave a fight unresolved.
That’s when you came in wearing a football helmet and said “okay, let’s talk.”

And I said,
Stay, stay, stay.
I’ve been lovin’ you for quite some time, time, time.
You think that it’s funny when I’m mad, mad, mad.
But I think that it’s best if we both stay.

Audio di TV itu memutar sebuah lagu lucu yang sebenarnya terdengar aneh di telingaku. Tapi yuri yang melintas tertawa. Aku menatap ke arahnya dan dia terdiam seketika.

“kenapa kau tertawa?”, aku bertanya.

“apa aku tidak boleh tertawa karena aku hantu?”, aku tergagap. Aku tidak bermaksud seperti itu. jadi aku hanya diam, tidak ingin memperpanjang masalah. Yuri terbang pelan, gaunnya berkibar karena kibasan angin yang dibuatnya sendiri. Ia duduk di sofa sebelahku.

“lirik lagu itu mirip dengan atmosfir di antara kita”, aku menoleh pada yuri, dan mencoba mengingat ulang lirik dalam bahasa inggris yang baru saja kudengar.

“tapi aku tidak mencintai hantu”, kujawab pelan. Mungkin bait I’ve been lovin’ you for quite some time, time, time, itu agak sedikit berlebihan buatku. Dan lagi, darimana seorang hantu bisa mengerti bahasa asing?

“aku tahu…”jawabnya melemah. “…aku juga tidak mungkin mencintai pria yang hidup..”, sambungnya.

Di detik selanjutnya, aku hanya menemukan TV yang berisik di antara kami. Aku terdiam, begitupun yuri. tapi sampai kapan?

“yuri…mianhae”, aku mengucapkan kata maaf padanya, dengan tulus, dan menginginkan perubahan pada kondisi kami.

gwaenchana”, jawabnya singkat. dan kami kembali dilanda keheningan panjang. Aku memutar mutar remote di tanganku ketika sebuah berita tentang perusahaan kedua orangtuaku muncul di layar kaca. Aku bisa melihat appa di wawancara oleh seorang pria tinggi bermata besar.

“dia ayahku”, dengan bangga aku tunjukkan itu pada yuri.

“dia mirip sepertimu”, aku mendelik padanya.

“tidak, kami berbeda. Dia adalah seorang yang luar biasa, dan aku adalah pria pecundang yang pathetic

Yuri tertawa atas kalimatku. Aku tidak menemukan ada sesuatu yang lucu.

“kukira kau membenci kedua orangtuamu, tapi sebenarnya kau menyayangi mereka, bukan? aku bisa membacanya dari bagaimana kau membanggakan ayahmu…”

Aku merasa seperti ada petir yang masuk ke dalam telingaku. Yuri tidak salah, dan aku tidak tahu apa yang baru saja aku katakan.

“apa mungkin permohonanmu di kuil ada kaitannya dengan mereka, JeonMyeon-ah? Kau tahu… aku hanya memiliki 3 hari tersisa”

Aku menelan ludahku. Perasaan aneh dan marah memenuhi dadaku ketika yuri sekali lagi mengatakan hal mengenai batas waktu dan permohonan. Tapi kali ini aku menahannya.

“mungkin. Akan kucoba untuk mengingatnya”

.Stay Stay Stay

“Yuri— aku ingin bertanya sesuatu padamu”, jawabku. Hujan membasahi kepalaku ketika aku berada di sebuah pemakaman umum bersamanya. Yuri berputar-putar mencari sesuatu di kompleks pemakaman itu. namun ia sendiri tidak tahu ia mencari apa ketika aku bertanya. Hujan sudah semakin deras dan aku berlindung di bawah sebuah pohon besar.

“apa yang ingin kau tanyakan, Jeon Myeon-ah?”, ia menjawab, tapi tubuhnya masih melayang berkeliling di antara gundukan makam. Aku melihat gadis itu dengan wajahnya yang sendu. Hari ini adalah hari ke-17, dan dia telah mengabulkan permintaanku.

Aku ingin agar eomma, appa, Jeon ki hyung dan aku, bisa hidup dengan normal sebagaimana keluarga lainnya.

Doaku ternyata sangat sederhana, dan yuri telah mengabulkannya. Kemarin Jeonki hyung, eomma dan appa menyiapkan sebuah pesta keluarga atas ulang tahunku yang sudah lewat beberapa hari. Dan lagi, kudengar eomma telah melakukan resign dari pekerjaannya. Ia menyerahkan pekerjaan pentingnya pada appa dan beberapa orang kepercayaannya. Ini artinya, eomma akan kembali menjadi seorang wanita yang sepenuhnya berada untuk kedua anaknya di rumah. Aku bersyukur.

Namun begitu, yuri tidak menghilang. Yuri masih ada bersamaku, dan ini yang menyebabkan aku berputar dari makam ke makam selama beberapa jam belakangan. Aku berpikir mungkin yuri akan ingat sesuatu ketika ia melihat namanya sendiri terukir pada sebuah makam.

“apa kau— sudah mengingat sesuatu?”, tanyaku ketika yuri terbang rendah dengan kecewa padaku, ia menggeleng.

“seharusnya kau sudah bisa mengingatnya karena kau sudah mengabulkan permohonanku”, sahutku rendah. Yuri memegangi lututnya dan duduk di dahan pohon di atasku.

“pada akhirnya semuanya akan sia sia, aku akan kembali berada di kuil dan menunggu orang lain datang berdoa. Aku bosan, Jeon Myeon-ah… aku sudah melakukan ini selama bertahun-tahun. Tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dan siapa aku. Ini membuatku depresi”

“tunggu… apa maksudmu, kau akan kembali ke kuil dan melakukan hal yang sama pada mereka yang berdoa di sana?”, yuri mengangguk.

“aku tidak menghilang seperti yang kau bayangkan. Setelah 17 hari, mungkin kau tidak akan pernah bisa melihatku. Tapi aku sebenarnya hanya pergi ke kuil di bukit sana. menunggu kesempatan agar seseorang bisa membuatku kembali mengingat…”

“bagaimana jika… kau sudah kembali mengingat semuanya, apa kau akan tetap berada di kuil?”

“aku…tidak tahu… tapi roh kuil mengatakan aku akan menghilang dari ingatan siapapun setelah aku kembali mengingat siapa aku”

“sebentar, apa ini artinya.., aku dan mereka yang pernah berdoa di kuil, tidak akan pernah mengingatmu dalam hidup kami?”, yuri mengangguk pasti.

Aku menatap hujan dengan perasaan kacau. Aku tidak bisa menerima kalimat yuri barusan, bagaimana bisa aku melupakan wanita yang mengembalikan keutuhan keluargaku dengan begitu saja. Aku merasakan dadaku panas. Yuri turun dari dahan pohon dan berdiri sejajar denganku. Dengan refleks, aku menggenggam tangannya dan membawa tubuhnya ke dalam pelukanku. Petir menggelegar, malam sudah datang.

Pendar cahaya aneh mulai bermunculan di tanganku. kunang-kunang seperti berputar di kepala yuri, dan itu membuatkku menutup mata.

“kalau begitu, jangan mengingat apapun. tetaplah di kuil. Aku akan mengunjungimu setiap hari walau aku tidak bisa melihat atau mendengarmu. Aku tidak ingin kau lenyap dari ingatanku walau sedikit”

Petir sekali lagi menyala hebat. Aku berbisik padanya. Yuri terdiam tapi aku merasakan pendar cahaya itu semakin mengilat di tanganku. yuri mulai menghilang, berawal dari kakinya yang semakin transparan. Aku sekarang hanya seperti memeluk udara kosong.

“aku—harus mengingat. Aku harus tahu siapa diriku, dan kau harus tahu bahwa aku dan dirimu berada di dunia berbeda, Jeon Myeon-ah…”

Yuri menjauhkan jarak dari tubuhku, aku tidak bisa melihat telapak kakinya, kakinya menghilang. Ia tersenyum padaku, dia tidak menangis, dan dia tidak basah kuyup di bawah hujan.

“Yuri-ah…” ucapku ketika ia berbalik badan, memunggungiku.

“aku tahu apa yang akan kau katakan. Kumohon berhentilah…”

“Yuri-ah, dengarkan aku..”, ia berjalan gontai, menutup telinganya dengan tangan.

“YURI-AH, AKU MENCINTAIMU”

Petir menggelegar sekali lagi. dan yuri mematung di sana. dia tidak mengatakan apapun, hanya diam. Aku memperhatikannya dari jauh. Rambutnya tiba tiba menjadi sangat basah. Kakinya kembali, dia…. entah kenapa dia… seperti seorang manusia.

“yu-yuri-ah…” aku mencoba menyadarkannya. Dia berbalik padaku, menunjukkan air matanya yang menyatu dengan air hujan. Tangannya yang kaku mencoba mengusap air mata itu dari pipinya, tapi air mata itu tetap berjatuhan.

Petir kembali menyala dan hujan semakin deras, yuri jatuh terduduk lemas di atas tanah dan aku segera menghampirinya. Aku memegangi tangannya ketika ia membisikkan sesuatu padaku.

“j-jeon myeon-ah…aku…aku… mengingat semuanya”

.Stay Stay Stay

“…aku telah mati, tapi aku tidak dikubur di sekitar sini. Kurasa sebuah pemakaman di dekat bukit sekolah, pemakaman kecil. Aku berasal dari sana. aku menjadi hantu dan lupa asal-usul ku. Roh kuil di atas bukit itu mencoba membantuku, dan aku terjebak di sana. aku akan mengikuti setiap orang yang berdoa di sana pada ulang tahunnya yang ke 17. Aku mengabulkan permohonan mereka, tapi mereka menyalahgunakanku. Mereka selalu mengajukan permohonan yang berbeda beda padaku seolah aku adalah genie. Aku selalu mengabulkan permintaan mereka –karena aku adalah pengabul permintaannya bagaimanapun. Tapi ingatanku tidak pernah kembali karena semua itu…

Belakangan, aku tidak tahu apa yang membuat ingatanku tidak kembali setelah semua yang sudah aku lakukan. aku muncul dan menghilang dalam kehidupan seseorang selama 17 hari saja. Dan aku mengerti sekarang. Ingatanku tidak kembali karena para manusia itu hanya memanfaatkanku untuk kepentingan mereka semata. Mereka sama sekali tidak peduli siapa dan apa yang aku lakukan. mereka tidak menganggapku sebagai seseorang yang pernah mempunyai memori sebagai manusia sama seperti mereka, mereka hanya menganggapku hantu pengabul keinginan, hanya itu. sampai akhirnya kau melakukan semua ini padaku…”

Yuri menceritakan semuanya dengan berbisik. Ia menggenggam tanganku dan kami duduk di bawah pohon tadi. masih diguyur hujan deras, dan diantara malam yang pekat. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Jeon Myeon-ah…Gomawo”, ucapnya padaku. Aku menggenggam tangannya erat, ku peluk tubuhnya agar terhindar dari kedinginan. Suara jangkrik terdengar di mana mana. Ia memeluk ku dengan tangan basahnya.

Aku tersenyum. “gwaenchana”, ucapku sambil mengecup kepalanya. “ayo kita pulang”, ucapku perlahan. Tapi yuri menggeleng.

“aku ingin berada di sini sampai besok pagi. Sampai aku bisa melakukan apa yang seharusnya kulakukan”, aku mengerutkan dahi tidak mengerti. Tapi aku mengangguk. Ia memejamkan matanya di atas pundakku, dan aku tertidur di atas kepalanya.

Hujan ini, membawa kami pada satu lagi kedamaian rahasia.

.Stay Stay Stay

“tuan? Tuan?”, aku melihat seorang pria membangunkanku. Aku terperangah, aku tertidur di area pemakaman, di bawah pohon.

“apa yang kau lakukan disini, tuan? Kau tersesat?”, ia bertanya kembali. Di belakang tubuh pria ini bersinat matahari pagi yang cerah. Aku menunduk dan meminta maaf sebelumnya. Aku buka tanganku untuk meraih yuri yang ada di sebelahku, namun aku terperanjat. Yuri tidak ada di sana.

“apa wanita di sebelahku sudah pergi? Apa kau melihatnya, ahjussi?” aku bertanya. Pria itu kebingungan

“aku melihatmu bicara sendiri tadi malam dan kau tertidur di sini sampai pagi. Aku pikir kau sudah gila…”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku baru saja akan bergegas berlari, ketika pria itu menyerahkan sebuah surat kecil padaku.

“kau menulis ini semalaman”, ucapnya. Aku mengerutkan dahi ketika pria itu meninggalkanku sendirian. Aku tidak merasa pernah menulisnya, yang kutahu semalaman aku tertidur di bawah pohon bersama yuri. tapi aku membuka surat itu. membacanya dengan teliti.

Aku meninggalkan sepatuku di bawah pohon ketika aku sudah sampai di akhir kalimat dari surat itu. aku berlari seperti orang gila. Tujuanku –bukit di belakang sekolah.

‘Jeon Myeon-ah, kau sudah bangun? Mungkin kau tidak menemukanku dimanapun saat ini. aku sudah beristirahat dengan tenang. Seperti yang kukatakan, aku hanya memiliki 17 hari bersamamu. aku akan kembali ke kuil dan mungkin menghilang dari sana dengan segera. Aku sudah menceritakan semuanya padamu. Kita berada di dunia yang berbeda. Jika aku dan kau berada di dunia yang sama pun, aku tidak akan pernah bisa berada di sampingmu. Menjadi hantu sudah cukup benar bagiku.

Aku berlari hingga kakiku melepuh, aku mulai menaiki bukit bukit yang berserakan dengan batu terjal dan ranting tajam, aku menginjak semuanya seolah tidak merasakan sakit.

Jeon Myeon-ah, kabar baiknya… aku bukan orang mati. Jasadku masih utuh, aku berada di rumah sakit selama lebih dari 2 tahun karena kecelakaan hebat. Ini sebabnya, aku melewatkan ulang tahunku yang ke 16 dan 17 dengan percuma. Aku terjebak, tidak dapat mati, dan tidak dapat hidup. kau mengatakan bahwa kau mencintaiku? Aku harap kau berpikir ulang. Meskipun aku hidup, aku akan melupakan semua tentangmu, dan lagi aku juga tidak tahu apakah aku akan hidup… menjadi hantu dan tidak terlibat lagi dengan manusia adalah satu satu nya pilihanku.

Aku sampai di depan kuil dengan kaki berdarah, aku raih sebuah lonceng di sana dan aku bunyikan beberapa kali dengan berisik.

Jeon Myeon-ah, aku tidak pernah mencintaimu. Lupakan aku.

“YURI-AH !!!” aku berteriak depresi. Kubuang lonceng itu sembarangan. Aku terduduk lemas di depan altar kuil. Aku merasakan aroma familiar di hidungku. Sebutir air mata jatuh di pipiku. Tapi itu bukan air mataku. aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku tidak bisa melihat ada satu manusia pun di sana. aku tidak melihat apapun selain angin dan aroma familiar  itu.

.Stay Stay Stay

Stay, stay, stay.
I’ve been lovin’ you for quite some time, time, time.
You think that it’s funny when I’m mad, mad, mad.
But I think that it’s best if we both stay, stay, stay, stay, stay, stay.

Lagu itu berdendang di mobilku. Di sebelahku duduk Boa noona yang bersedia menyetirkan mobil ku ke sebuah tempat. Rumah Sakit di ujung kota Seoul. Beberapa  hari yang lalu aku meminta bantuannya untuk mencari tahu informasi tentang kecelakaan parah yang korbannya seorang gadis di usia 16-17, dan Boa noona dengan cepat mendapatkan 3 Rumah Sakit yang memiliki pasien koma tersebut.

2 Rumah Sakit sudah kukunjungi, tapi aku tidak menemukan apa yang kucari.

“kurasa lagu ini terlalu fancy untuk suasana hatimu”, Boa noona mencoba mematikan tape tapi aku mencegahnya.

andwae, yuri mengatakan lagu ini cocok untuk kami”, aku berkata. Aku sebelumnya, menceritakan apa yang kuingat dengan kejadian 17 hariku. Dan Boa noona terlihat sedikit percaya padaku. Dia membantuku dan menjaga rahasiaku ini sejak beberapa hari yang lalu.

Kami tiba di rumah sakit kecil itu, aku melihat sebuah sepeda gunung yang tergeletak di balik sebuah pohon di ujung rumah sakit. Aku masuk ke dalam rumah sakit dan bergegas mencari seseorang bernama yuri.

“namanya Kwon Yuri, usianya 16 atau 17 tahun…” ucap noona menjelaskan pada bagian informasi. Suster di sana mengantarkan kami pada satu ruangan yang terisolasi di pojok sana.

“—dia sudah koma selama 2 tahun terakhir. Kami sudah berusaha memindahkannya ke beberapa rumah sakit, tapi dia tidak menunjukkan kondisi yang berkembang—“, kudengar penjelasan suster itu sambil berjalan. Kami tiba di sebuah pintu besar, dan aku bisa melihat wanita terbaring di atas kasur putih dengan gaun putih yang dipakainya.

Di sebelah wanita itu, ada seorang ibu ibu tua dan pria yang berjanggut putih duduk dan menyanyikan sesuatu di sana. sayup sayup aku bisa mendengarnya, lagu aneh yang sama seperti yang dilantunkan oleh yuri dahulu.

Aku membuka pintu dengan pelan dan noona menjelaskan semuanya pada mereka. ibu ibu itu terlihat menangis parah dan noona mengajak keluarga yuri keluar dari sana. tinggal aku, yuri dan sebuah tabung oksigen dan peralatan medis di sana.

Tangan yuri pucat, lebih dingin dari apa yang pernah kutahu. Wajahnya ditutup oleh sebuah masker oksigen. Tidak ada senyum tipis atau tawa lucu darinya. Hanya sosok yang terbaring lemah.

“yuri-ah… kau dengar aku?”, aku hanya merasakan keheningan. Wajahnya masih sama dengan wajah gadis yang pernah ada di hidupku selama 17 hari. Dia tidak mati, pun tidak hidup.

“Yuri-ah.. aku tahu kau berbohong. Kau mengatakan kau tidak mencintaiku… aku tahu kau juga mencintaiku. Kau hanya tidak ingin aku terluka, benar bukan yuri-ah?”, aku bicara pada sosok kaku di sana. ini lebih sulit daripada aku bicara dengan hantu.

“ingin dengar sesuatu? Aku menghabiskan beberapa hari ini untuk mencarimu. Kau tahu betapa lemahnya aku, bukan? saat aku terbangun dari tidur ku setiap hari, aku akan mengecek ke atas lemari, berharap kau masih di sana memandangiku dari jauh. Saat aku melihat sepeda gunungku, aku berharap kau disana, mengagumi setiap goresan warna dari sepeda gunung itu. saat aku berjalan ke kamar mandi, aku berharap kau di sana, mengikutiku dan berdebat denganku. Kau tidak mengerti betapa rindunya aku padamu… aku menganggap kau hidup. apa itu salah, yuri?”

Suara infus yang berjatuhan menetes berbunyi, mengisi kekosongan. Dadaku bergetar.

“jadi kumohon, buat aku kembali normal. Berikan aku senyumanmu kembali. Kau harus hidup, bagaimanapun kau harus hidup”, dadaku bergetar tidak normal, napasku menjadi sangat tidak stabil, mataku memerah dan tanpa sempat kusadari, air mataku menetes jatuh ke punggung tangannya. Saat aku mencoba berdiri dan mengusap rambut gadis itu, air mataku jatuh di dahinya. Mata gadis itu terpejam pucat. Aku bisa merasakan nadinya yang lemah, tapi aku tidak bisa merasakan napasnya di permukaan wajahku. Suara kencang dari sebuah alat perekam detak jantung mengagetkanku. Alat itu menunjukkan grafik yang semakin menurun, aku mengerti apa artinya ini.

Aku bergegas ke luar ruangan, berteriak memanggil suster dan dokter seperti orang gila. Keluarga yuri bergegas masuk ke dalam ruangan, dan aku terduduk lemas di luar kamar. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. mengusapnya kasar. Noona menatapku dengan sedih. Ia tidak ingin larut dalam permasalahanku, ia memilih mengikuti keluarga yuri ke dalam kamar. Meninggalkanku sendirian.

kau senang?”, aku bisa mendengar suara yuri entah darimana. Suaranya nyaring di telingaku. Aku mencoba mengintip dari balik pintu barangkali yuri sudah siuman. Namun yang kulihat adalah dokter mencoba menggunakan kejut jantung untuk dada yuri. sesuatu terjadi padanya. Kulihat ibunya sudah pingsan di atas lantai.

kau senang menemukanku, Jeon Myeon-ah?”

yuri? dimana kau yuri?”, aku panik. Aku mendengar dengan jelas suara itu

“kau tidak dapat melihatku, aku ada di dekatmu. Sekarang lihat apa yang kau lakukan? kau membunuhku?”

“Yuri, bukan seperti itu yuri…”

sudah kukatakan padamu, kita berada di dalam dunia yang berbeda, jeon myeon-ah. Jika kau tidak mengerti juga, maka sekarang akan kukatakan padamu. Jeon myeon-ah… terima kasih telah menemukanku dan mencintaiku, dari semua yang telah kau berikan, aku hanya bisa berkata…. maaf….”

Aku merasa angin semakin menjauh dari tubuhku, suara yang kudengar semakin kecil.

“dan selamat tinggal…aku….mungkin mencintaimu”

“YURI !!!”, aku berteriak, kurasa aku sudah cukup kencang, namun teriakan memilukan terjadi lebih cepat di balik pintu kamar. Aku merasa keheningan yang panjang. Aku tidak berani membuka pintu dan melihat apa yang terjadi di sana. aku terkulai lemas di lantai seperti orang gila.

“Jeon Myeon-ah….”, aku bisa mendengar noona membuka pintu dan mencoba mengatakan sesuatu dengan hati hati padaku, ia membantuku berdiri namun aku menyetop kalimatnya dengan langkah besar menjauhku.

“Jeon Myeon-ah, Yuri….”

“lupakan, aku sudah tahu”, aku berjalan gontai pergi menjauh.

“dengarkan aku…” noona menyusulku dan mencengkram bahuku erat “..yuri siuman”.

.Stay Stay Stay

“….mungkin jikalau aku hidup, aku tetap tidak akan bisa mengingat semua yang sudah kulakukan selama di kuil… mungkin aku akan melupakanmu…. aku mencintaimu… selamat tinggal…”

Potongan memori terekam di otakku. Yuri sudah siuman selama beberapa hari, dan aku mengunjunginya dengan diam-diam. Dia tidak mengingatku, seperti apa yang pernah ia katakan. Keluarga yuri beberapa kali berterima kasih pada aku dan noona Boa. Mereka merahasiakan semua yang pernah terjadi pada yuri di dalam komanya.

“bisa aku meletakannya di sini?”, tawarku ketika aku membawakannya sebuah bunga di dalam vas. Yuri mengangguk padaku. Selama beberapa hari ini, ia hanya diberitahu bahwa aku adalah donatur selama dia di rumah sakit. Kami merahasiakan semuanya.

“jangan di sana, letakkan saja di sini, Jeon Myeon-ah..” ucapnya singkat, ia memakan sebuah hamburger yang kubawa secara diam-diam. Aku bergegas membawa vas bunga itu di pojok ruangan, dekat jendela, dan dari jendela itu, aku dan yuri bisa melihat sebuah sepeda gunung usang di sana.

Kami tidak banyak bicara. Dan aku juga tidak bisa berlama-lama, setiap melihat wajahnya, dadaku sesak.

“kalau begitu, aku permisi”, jawabku setelah aku meletakkan vas itu di dekat kasurnya. Aku melangkahkan kakiku pergi dengan dada yang sakit. Perih.

“aku tidak tahu hamburger se-enak ini, mungkin ini sebabnya aku selalu menatapmu ketika kau memakannya…”

Aku terhenti. Ya, langkahkku terhenti. Apa yang yuri baru saja katakan…. seperti sebuah mantra. Jantungku mencelos.

“—jangan pergi”, ucapnya padaku. Aku merasa angin terik Juni masuk ke dalam bajuku dan membuatku berkeringat. Aku tidak berani menoleh.

“ya, aku mengingat semuanya. Jeon Myeon-ah… sebaiknya kau berbalik dan memandang mataku saat ini, aku bersungguh-sungguh”, aku berbalik ragu, aku takut ini hanya ilusi ku saja. Tapi dengan bergetar dan jantung yang semakin tidak stabil, aku menoleh.

Yuri…. gadis itu tersenyum, angin menerbangkan rambut hitamnya indah, dan ia terduduk dengan manis di atas kasur, dengan gaun putih selutut miliknya.

“yuri mu telah kembali, dan dia mengingat semuanya. Kuharap kau mendengarkan gadis ini… ia mengatakan bahwa ia… mencintaimu, dan berharap kau ada bersamanya apapun yang terjadi”

Aku bisa melihat daun daun kering berterbangan terkena sapuan angin Juni di luar jendela. Dan gadis itu tersenyum di depannnya, seolah alam ikut menari, merayakan apa yang baru saja dia katakan. Aku berlari segera, memeluknya dengan penuh rasa kerinduan. Aku tidak bisa menangis, air mataku sudah habis.

Yuri menepuk punggungku lemah, dia menunjukkan tawa kecil renyahnya padaku.

“aku merindukanmu, yuri-ah,  benar benar merindukanmu”, aku mempererat tanganku di tubuhnya dan ia membisikkan sesuatu kecil. “kau tidak tahu bagaimana aku merindukanmu di antara hidup dan matiku. Aku mencintaimu, tuan pathetic

Aku tersenyum, mencubit lenganku, aku gantian memukul dahinya. Ia tertawa.

“aku juga mencintaimu, nona hantu”

Stay, stay, stay.
I’ve been lovin’ you for quite some time, time, time.
You think that it’s funny when I’m mad, mad, mad.
But I think that it’s best if we both stay, stay, stay, stay, stay, stay.

Benar yuri, i think the best if we both stay for each other.

=THE END=

yap. agak panjang. semoga suka.

ps : aku lagi suka SUHO makanya dibuat panjangan dikit. hahaha😄

104 thoughts on “STAY STAY STAY – From EXOYUL Series

  1. Hn_avy berkata:

    Ahhhhhhhhhhh.Kak,kau membuatku gak karuan…
    Campuraduk..suka bangett.y meskipun Suho bukan biasku ..♏αΰ lagi dong ff yang kyak gtu gtu hehe

  2. aloneyworld berkata:

    Woaaaahhhh aku selalu suka ff yang genrenya begini, hantu-hantuan😄 hahaha yuri tidur diatas lemari? Keren😄 untungnya yuri bisa hidup lagi ya terus bisa inget juga cihuuyy!! Keren😀 aku kira si yuri bakal mati😦 ternyata ngaaa yeay!!😀

  3. Seora berkata:

    aku kira bakalan sad ending tapi ternyata gak hehe
    boa ceritain semuanya ke ortu yuri ituuuu… aku kira mereka gak bakal percaya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s