THE STEWARDESS [Part 2]

The stewardess 5 by bapkyr

part ke 2 kelaaarrrr. silakan meluncur..

***

Yuri mempercepat langkahnya dengan sebal ketika Yoochun beberapa kali mengeluh di sebelahnya. Yuri yakin telinganya sudah cukup panas seharian ini. mood yuri cukup hancur karena sebelumnya rencana bertemu dengan Kim Jae Joong gagal total karena mereka menaiki dua train yang salah. Semuanya tidak akan terjadi jika saja Yuri –gadis yang katanya mengenal Roma, tidak beradu pendapat dengan Yoochun di dalam kereta lokal. Dan ya, mereka turun di stasiun yang salah karenanya.

“sekarang bagaimana?”, Yoochun menendang kerikil yang dilewatinya dengan malas. Tangannya ia masukan ke saku celana. Di telinganya terpasang dua buah headset kecil dengan dentuman lagu western. Yoochun menatap yuri yang berjalan semakin cepat di depannya, dia tidak berusaha menyusul gadis itu. toh, gadis itu masih membutuhkan perjanjian mereka. ia tidak akan pergi jauh.

“kenapa aku selalu sial jika berada dekat denganmu?”, Yuri berkacak pinggang, ia berdiri kesal beberapa meter di depan Yoochun. Sepatu sneakers nya ia jejakkan di tanah berkali-kali. rambutnya yang diikat ke atas bergoyang karena kepalanya yang menggeleng tidak mau diam.

“apa kau pikir hidupku jauh lebih baik setelah bertemu denganmu. eoh?”, Yoochun bertanya jengkel. Ia tidak ingin disudutkan dalam kesialan mereka hari ini. Yuri menghela napas, mengacak rambut nya sambil mendengus kesal. Ia menjejakkan kaki di tanah bergantian seperti anak kecil.

“daripada kau begitu kesal padaku, kenapa kau tidak hubungi saja pria Jae Joong itu”, Yoochun menasihati sambil berjalan mendekat pada yuri, Yuri mengaliri listrik pada tatapannya untuk pria itu, membuat yoochun berhenti di tempat.

“aku akan melakukannya jika ponselku tidak out of battery

mwo ya? kalau begitu pakai ponsel ku”. Yoochun merogoh sebuah ponsel dari saku celananya.

“aku tidak menghapal nomor ponsel pria itu”

aish… jinjja,  benar benar merepotkan”, Yoochun mencibir yuri dan berjalan mendahului gadis itu. yuri berjalan di belakang pria itu sambil mendekapkan kedua tangannya di depan dada. Mulutnya ia majukan sedikit, kakinya dijejakkan kasar di atas aspal di setiap langkahnya. Yoochun melepas headset nya dan menoleh ke belakang.

“bisakah kau berjalan dengan lebih tenang?”, sahut pria itu dingin. Yuri mencium ada roman perdebatan ronde selanjutnya lagi pada mereka, ia berkacak pinggang dan mengangkat dagunya di depan pria itu.

wae? Jalanan ini punyamu, eoh?”

Yoochun menggeleng sedikit sambil menyunggingkan senyum kekesalannya sekilas. Ia bisa saja meladeni wanita ini sekali lagi, tapi matahari masih cukup panas untuk berdebat di luar. Yoochun hanya membalikkan badannya dan sekali lagi memasang headset di telinganya kembali.

Yuri yang semula bersiap untuk berdebat, hanya bisa mencelos ketika Yoochun memutuskan kembali berjalan di depannya. Ia mengepalkan tangannya kesal dan menyusul pria itu. yuri menjaga jarak aman nya dari yoochun, ia berjalan tidak kurang dari 4-5 meter di belakang yoochun, tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.

Bicara perjalanan, mereka tidak mengetahui kemana mereka akan melangkah. Yuri hanya terus mengatakan arah sana dan sini tanpa tahu tujuan kemana. Ketika mereka tiba di salah satu belokan jalanan sempit, di depan Yoochun ada segerombolan pria dengan jaket hitam dan kacamata hitam yang aneh, rambut mereka berantakan dan sepatu mereka terbuat dari boots yang mengilap.

Yoochun lewat dengan sedikit sopan sambil menundukkan kepala, sedangkan yuri yang berada 5 meter di belakangnya –dengan bergetar, meniru apa yang dilakukan Yoochun. Baru saja Yuri bisa bernapas lega karena ia berhasil melewati sekitar 3-4 pria jaket hitam itu, ia merasa tangannya di genggam dengan kuat.

where are you going, pretty lady?”, bau alkohol tercium dari salah satu pria yang memegangi tangannya. Yuri membuat gerakan melepaskan diri, namun ia stuck. Yoochun tidak sengaja mendengar suara aneh di belakangnya dan menoleh, ia membuka matanya lebar-lebar ketika melihat yuri disandarkan ke tembok dengan kasar oleh pria tua itu.

what are you guys doing there?”, dengan suara berat khas pria, Yoochun berjalan. Melepaskan headset  nya dengan santai. Ia menghitung pria di sana. ada 4 dari mereka. 2 dipengaruhi alkohol dan 2 sisanya hanya terlihat ikut-ikutan saja. Satu pria dengan jenggot jarang dan badan besar berdiri menghadang Yoochun. Dia terkekeh.

have fun of course.”, di akhir kalimatnya, Yoochun sedikit melakukan loncatan spiral dan menendang pria itu dengan sepatu kulit yang kuat di kakinya. Tendangan itu tepat mengenai wajah kurang menyenangkan dari pria itu. seperti dugaannya, pria itu kaget dan terpelanting jatuh tanpa defense. Pria yang lain menyerang Yoochun dengan benda tajam yang mereka cabut dari pinggangnya. Sebilah pisau khas koboy jaman perang. Yoochun hanya tersenyum melihat mereka.

a tiny knife won’t leave a single scar on me, dude”, ia menyeringai. Kali ini, Yoochun menggunakan tembok merah sebagai pijakannya. Ia berlari dan menggunakan gaya pantul dari tembok itu untuk menyerang dua pria di depannya dengan kakinya.

Satu pria tumbang, namun satu pria lagi masih sanggup berdiri. Dengan sekuat tenaga, pria berdiri itu melambungkan pisau kecil di tangannya dengan fokus target dada Yoochun.

watch out !”, yuri berteriak pada Yoochun karena menyadari posisi Yoochun sedang tidak dalam posisi yang pas. Namun begitu, thanks to Yuri,  karena Yoochun bisa menyadari pisau yang melayang ke arahnya, Yoochun menjatuhkan tubuhnya di tanah menghindari ujung mata tajam dari pisau tersebut. Dan ia segera bangun menyerang pria yang masih berdiri di depannya.

Belum selesai, masih ada satu pria lagi yang masih memegangi Yuri di tembok, namun pria itu terlihat ketakukan dan lari meninggalkan mereka yang terkapar di sana. yuri meremas tangannya, genggaman para pria tadi cukup keras sehingga pergelangan tangannya berbekas kemerahan yang terang.

“kau tidak apa-apa?”, sahut Yoochun, ia menangkap gerakan tangan sekilas yang ditunjukkan oleh yuri, Yuri menutup pergelangan tangannya dengan telapak tangannya yang satu lagi.

i am fine”, ucap yuri berbohong. Padahal ia masih merasakan kesakitan dari cengkraman pria besar tadi. “thanks by the way”,  sahutnya lagi sambil mencoba berlalu –menghindari kontak mata dengan Yoochun.

Yoochun memegang tangan yuri dalam sekejap, ia mengeluarkan sedikit energi nya secara tidak sengaja, sehingga tubuh yuri tertarik ke arahnya dan kulit mereka bersentuhan secara tidak sengaja.

Yuri tidak bisa menebak apa yang terjadi baru saja. Ia seperti di tarik oleh angin kencang. Yuri mendongak dan menemukan wajah Yoochun di sana. dari jaraknya berdiri saat ini, Yuri baru menyadari bahwa Yoochun sedikit lebih tinggi darinya hingga ia perlu mendongak. Yoochun menangkap mata yuri sekilas, dada yuri menjadi berdetak lebih cepat. Wajah yuri bisa saja memerah jika yoochun tidak segera memalingkan pandangannya dari gadis itu.

Yoochun menjauhkan tubuhnya dari yuri dan mengangkat tangan gadis itu. “tanganmu, memerah”, sahut Yoochun, “… dan kau berkata kau tidak apa-apa”, Yoochun mengucap pergelangan tangan yuri dan membuat tangan nya sedikit fleksibel.

“kau harus menggerakannya seperti ini, agar aliran darahmu lancar kembali”, Yoochun mempraktekan gerakan ringan pada tangan Yuri. alih-alih memperhatikan Yoochun, yuri terpaku pada wajah pria tampan di depannya. Sesuatu membuat dadanya sesak. Ketika Yoochun selesai mempraktekan ilmunya, ia melepaskan tangan yuri pelan. Ia terbatuk beberapa kali –pria itu.

“apa yang kau lihat?”, ucap Yoochun dingin. Yuri yang tertangkap basah, mencoba mengalihkan pandangannya dan berjalan lebih cepat di depan Yoochun. Pria ini hanya tersenyum tipis kemudian berjalan menyusul gadis di depannya. Kali ini mereka tidak berjalan berjauhan, atas usul dari Yoochun, yuri berjalan sejajar dengan pria itu; menghindari hal hal seperti yang baru saja terjadi.

“kurasa itu ada fountain di sana”, ucap Yoochun kecil ketika melihat sebuah alun-alun besar dengan air mancur sebagai pusatnya. Di sekeliling air mancur itu ada beberapa tempat duduk kayu yang di isi oleh pasangan muda-mudi yang menikmati sore cerah.

Benar, Yoochun dan Yuri sudah berjalan hampir seharian. Mereka beberapa kali berhenti di tempat makan atau tempat snack untuk melepas kepenatan atau sekedar mengisi perut.

“kau ingin istirahat?”, sahut Yoochun pada yuri yang terlihat lelah. Yuri mengangguk kecil, dan ia mengekori yoochun kemana pria itu pergi. Sesaat setelah mereka menemukan sebuah kursi kosong, Yoochun duduk pertama kali, diikuti dengan yuri selanjutnya. Tempat duduk itu menghadap langsung ke air mancur yang penuh dengan tumpukan manusia. Dari jauh saja, yuri bisa melihat beberapa orang muda-mudi melemparkan koin ke sana bersama sambil menutup mata dan berdoa.

“apa itu lucky fountain? Air mancur permohonan?”, sahut Yoochun penasaran. Yuri hanya mengangguk kecil untuk mengiyakan.

“kau pernah melempar koin ke sana?”, tanya pria itu lagi. tangannya ia rentangkan ke samping –membuat yuri tidak nyaman dengan posisinya saat ini.

“aku tidak pernah, aku tidak percaya pada hal seperti itu”, ucap yuri singkat. Yoochun mengangguk hampir tidak terlihat.

“aku ke sana sebentar”, ucap yuri, ia berdiri dan menunjukkan telapak tangannya yang terbuka pada yoochun. Mata Yoochun melebar. Lebih ke arah tidak mengerti dan bingung.

what?”, sahutnya.

aku ingin ke sana kau dengar? Aku ingin membeli gelato”, yuri menadahkan tangannya di depan Yoochun. Yoochun menggaruk kepalanya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. Ia menyerahkan beberapa lembar uang euro pada yuri dan wanita itu pergi dengan terburu-buru.

Yuri dengan langkah kecilnya bergegas mengambil antrian pada kedai gelato kecil di dekat air mancur itu. ada dua pasang kekasih di depannya, mereka memesan gelato khusus untuk couple. Kelihatannya enak, dan harganya pun tidak terlampau jauh dari yang gelato biasa. hanya saja, terlalu banyak jika yuri memesan untuk dimakan dirinya sendiri, ia mencuri sedikit pandangan pada pria yang duduk dengan santai sambil memejamkan mata di sebuah bangku taman panjang.

“aku tidak mungkin membagi gelato dengan pria itu…”, yuri menggelengkan kepala atas apa yang baru saja ia pikirkan. Tanpa di sadari, ia ada di depan penjual gelato. Beberapa orang di depannya sudah pergi dengan gelato manis di tangan mereka masing-masing.

Yuri memesan sebuah single dan membayar atasnya. Tepat ketika ia ingin pergi dari kasir, seseorang menabraknya dan menjatuhkan gelato miliknya.

oh shit”, yuri memekik pelan. Ia hampir mengutuk pria tinggi kurus dengan setelan kasual di depannya.

i am sorry”, sahut pria tinggi itu. yuri masih fokus pada gelatonya yang sudah tergeletak di atas tanah. Nada tenor dari pria itu membuat yuri sedikit terperangah. Ia segera menengadahkan kepalanya ke atas –mensejajarkan wajahnya dengan hidung pria itu.

omo…”, pekik pelan pria itu, senyumnya melebar, ia membuka sebuah kacamata lensa bening yang dipakainya. Yuri tidak kalah kaget, ia menutup mulutnya karena kaget dan melebarkan matanya.

YAH, Yuri-yah”, pria itu memeluk yuri seketika ketika pandangan mereka bertemu sekali lagi. yuri tertawa renyah. “sejak kapan kau ada di Roma, eoh?” sahut pria dengan rambut kecoklatan itu.

“aku datang kemarin, aishh… jinjja… aku benar benar beruntung bertemu denganmu, oppa. Aku baru saja akan ke rumahmu jika aku tidak salah metro tadi pagi”

mwo ya? kau salah metro? Sudah berapa kali kau ke Roma dan kau masih tersesat?”

yah, aku bukan kau, jaejoong oppa-yah… ingatanku tidak sebagus kau. Lagipula apa yang kau lakukan di sini?”

“membeli gelato tentu saja.”

ah benar. Gelato ku….”, yuri meringis melihat gelato nya yang sudah mencair. Jaejoong menepuk pundaknya dan memberikan satu buah gelato nya.

“kau membeli 2 gelato?”, sahut Yuri ketika ia menerima sebuah gelato yang lebih besar dari tangan Jaejoong. Pria di depannya mengangguk dan segera menjulurkan lidahnya pada gelato lebih kecil di tangannya yang sudah mencair.

ew~ apakah kau menjadi shikshin sekarang, oppa-yah?” Jaejoong hanya tertawa. Ia mengulurkan tangannya mengajak yuri berkeliling, namun yuri mendadak ingat sesuatu.

ah benar. Aku tidak sendiri kali ini oppa

oh?  Kau bersama kekasihmu?”, Yuri memukul pundak pria di sebelahnya dengan kencang.

“jangan mengejekku”, sahut Yuri, tatapannya memancarkan kilatan listrik langsung mengarah ke mata Jaejoong. Jaejoong mengerti. Beberapa kali yuri ke Roma, dan tidak sekalipun Yuri bercerita tentang bagaimana dirinya bertemu dengan pasangan hidup. singkatnya, yuri tidak pernah memiliki seorang pun kekasih.

“aku tidak mengejekmu, aku bertanya, ey~~`”, yuri menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Jaejoong, ia menuntun pria itu ke satu bangku panjang dengan seorang pria terpejam di atasnya. Jaejoong mengernyitkan dahinya sebentar dan berbisik.

“aku pernah melihatnya, bukankah dia aktor itu?”

“bahkan kau mengetahuinya dari Roma, oppa?”, yuri menatap tidak percaya.

wae? kau tidak tahu?”, yuri menggeleng atas pertanyaan Jaejoong, “..dia cukup terkenal, kurasa” sambut Jaejoong lagi. yuri menggeleng lemah. Ia menyenggol kaki pria yang sedang duduk terjuntai di atas bangku taman. Yuri menendang pelan.

yah”, sapa yuri singkat, membangunkan pria itu. Yoochun hanya menggeliat sedikit dan kembali memejamkan matanya lebih lekat. Jaejoong berdiri dan menghabiskan gelato nya di belakang yuri, tidak peduli metode yang yuri lakukan pada pria dengan rambut hitam di depannya.

yah, park yoo chun-ssi” yuri menendang kaki panjang Yoochun dengan lebih melepaskan tenaganya, kaki lemah itu terdorong ke kanan, membuat Yoochun terlonjak dan membuka matanya. Ia mendapati Yuri berdiri dengan berkacak pinggang sambil mengetuk-ngetukkan kakinya, Yoochun juga bisa melihat sosok seorang pria di belakang gadis itu.

wae? bisakah kau tidak menggangguku?”, Yoochun dengan nada bicara sedikit terganggu, membenarkan posisi duduknya. Tepat di detik itu, Jaejoong berbalik dan melihat ke arahnya.

“dia Kim Jae Joong, dia akan membantu kita berkeliling”, sahut Yuri lugas. Yoochun mengangguk tidak tertarik, dia hanya menyunggingkan senyum sekilas pada Jaejoong kemudian memejamkan matanya kembali. Sedangkan di saat yang sama, Jaejoong menatap yuri sambil menggerakkan bibirnya lebih cepat –protes. Yuri menginjak kaki mereka. baik Yoochun maupun Jaejoong sehingga keduanya terlonjak bersamaan.

WAEEEE” Keduanya berteriak, tepat di telinga gadis itu. untung saja, yuri sudah bisa mengantisipasi apa yang akan dia dengar. Dia menutup telinganya erat dan menunggu mereka semua kembali ke mode normal dan mengatur napasnya dengan stabil.

Seelah semuanya dirasa cukup aman, Yuri berbicara rendah pada Jaejoong. Ia –dengan sedikit memaksa, meminta Jaejoong menjadi tour guide dan menjadi perantara ke Kedutaan Besar Korea atas hilangnya paspor Yoochun dan luggage pria itu.

Awalnya Jaejoong menolak, namun dengan sedikit empati pada apa yang dikatakan Yuri, ia menyetujuinya. Yuri menyebutkan bahwa ia harus jadi pembantu dari Yoochun selama beberapa hari karena kejadian itu –yang mana semua yang dikatakan Yuri hanyalah bohong semata.

Tujuan utama Yuri, tidak lain dari buku diary nya.

“jadi apakah aku bisa pulang ke rumahku sekarang?”, Ujar Jaejoong setelah mereka mengobrol banyak. Yoochun jelas sekali terlihat lelah dan Yuri entah dari mana masih penuh dengan energy.

“Pulang? Tidak bisakah kau bersama kami di hotel? Akan lebih menghemat waktu…”, ucap Yuri sambil berdiri dan menatap Jaejoong dengan memohon. Yoochun tertawa meremehkan.

“kau ingin tidur dengannya, nona yuri? mwoya igo…

Yuri menatap Yoochun dengan sebal, ia menendang kaki pria itu sembarangan, membuat tertawa remehnya terhenti seketika. Dengan jelas yuri mengucapkan sesuatu yang membuat Yoochun semakin lelah hanya dengan membayangkannya. Di sisi lain, Jaejoong hanya diam –ia tahu ia tidak memiliki kesempatan menang berdebat dengan gadis itu.

“bukan aku, kau yang akan sekamar dengannya” ucap yuri tegas.

Jinjja…. aku ingin berada di Roma dengan tenang, bukan seperti ini. Yoochun menggumam kesal.

–The Stewardess

“kau bisa gunakan kamar mandiku jika pria menyebalkan itu melarangmu menggunakan miliknya”, yuri menatap kesal pada Yoochun di balik meja makan panjang. Mereka sedang dalam waktu breakfast nya sekarang. Belakangan, Jaejoong datang sedikit terlambat untuk sarapan karena ia harus berebutan kamar mandi dengan Yoochun. Mereka sekamar –atas perintah dari Yuri.

“aku merasa seperti orang bodoh sekarang”, Yoochun mendesis, Jaejoong hanya tertawa ketika yuri mengarahkan mata garpunya pada Yoochun dan membuat pria itu sedikit terlonjak. Yuri beranjak dan mengambil makanan di atas piring Jaejoong yang kosong tanpa diminta.

jammkanmanyo, oppa” ucapnya sebelum pergi. Yoochun menatap gadis itu jijik.

mworaguyo? Oppa?”, ia mendesis kesal kemudian menatap Jaejoong dengan perlahan “bukankah kau berada di umur yang sama denganku?”, tanya Yoochun.

“aku rasa begitu, ada yang salah?”, Jaejoong mengaduk secangkir kopi susu milik Yuri dan meminumnya sedikit demi sedikit.

ani,  dia tidak memanggilku oppa. Tapi padamu…. gadis itu benar-benar…”, Yoochun mengaruk kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. ia memperhatikan bagaimana kopi susu milik Yuri diminum oleh Jaejoong tanpa ragu. Bahkan pria itu menghabiskannya.

“i-itu milik gadis gila itu, Jaejoong-ssi”, ucap Yoochun pelan, dia agak sedikit kaget ketika Jaejoong hanya menatapnya sekilas dan mengangkat alisnya.

“apa tadi? maaf aku tidak begitu mendengarmu?”, tanya Jaejoong ketika ia memusatkan perhatiannya pada Yoochun. Yoochun menggeleng lemah dan mengatakan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan apa yang baru saja ia katakan. Obrolan ringan mengalir di antara mereka sementara Yuri sedang sibuk dengan makanan di kejauhan.

Ada satu hal kecil saja yang mengganggu Yoochun saat ini, gelas di depan Jaejoong adalah gelas milik Yuri, yang artinya, mereka sudah berciuman secara tidak langsung. Dan ini membuat Yoochun bergidik. Ia berprasangka buruk atas hubungan Jaejoong dan Yuri yang mungkin sudah melebihi ambang batas kewajaran. Jika di Korea, bahkan mengambil gelas milik ibunya saja, Yoochun sudah akan dimarahi habis-habisan.

oppa, maaf tapi aku tidak menemukan saus acar kesukaanmu di sini”, Yuri datang dengan membawa sepiring penuh makanan. Yoochun hanya memperhatikan gerak gerik mereka dengan teliti. Jika bisa ia ucapkan, Jaejoong dan Yuri sudah seperti saudara kandung. Berinteraksi dengan familiar dan seolah tidak ada batasan umur dan jenis kelamin di antara mereka. Yoochun bergidik.

Wanita macam apa yuri kwon ini, gumamnya.

“apa yang kau lihat?”, Yuri membentak marah ketika menemukan Yoochun tenggelam merinding di dalam kursinya. Yoochun menggeleng dan memegangi kedua tangannya.

weirdo”, yuri mengumpat.

Setelah setengah jam berkutat dengan sarapan dan obrolan tidak menentu, mereka keluar sekarang. Dengan Jaejoong sebagai pemandu, mereka yakin tidak akan tersesat kali ini. tujuan utama hari itu adalah Vatikan dan museum di sana. untuk berjalan kesana dari hotel tempat mereka bernaung saat ini, adalah tidak mungkin.

Setidaknya mereka memerlukan bantuan metro dan kendaraan bermesin untuk menghemat waktu. Kali ini, mereka sampai di Termini,  dengan uang kartu yang sudah diisi ulang oleh Jaejoong sebelumnya, mereka menaiki train dengan tujuan vatikan. Tidak sulit ternyata berpetualang, karena mereka di temani oleh seorang proffesional seperti Jaejoong. Setidaknya Yoochun bisa dengan tenang duduk di dalam kereta.

Kebetulan saat itu adalah hari minggu, cukup ramai untuk daerah tujuan wisata, kereta pun penuh. Hanya Yoochun yang dengan santainya duduk di sebuah kursi di kereta, sedangkan Jaejoong dan Yuri kalah dalam perebutan bangku beberapa saat yang lalu. Mereka harus berdiri berdesakkan bersama warga lokal dan turis lainnya.

Yuri sempat menggeleng beberapa kali melihat ekspresi Yoochun yang dengan santainya duduk sambil mendengarkan sebuah headset di tellinganya. Yuri berpikir seharusnya pria itu memiliki sedikit empati lebih pada wanita yang berdiri di kereta seperti dirinya.

Untung saja ia ditemani Jaejoong. Jadi ketika ia hampir terjatuh karena kecepatan kereta atau ada orang yang tidak sengaja menubruknya dengan keras, Jaejoong selalu ada di sana.

“kau tidak apa apa?”, sahut Jaejoong ketika sekali lagi yuri di senggol keras oleh seorang ibu ibu yang membawa tas rotan. Yuri menggeleng. Kemudian melihat dua tempat duduk kosong di area bersebrangan dengan dimana Yoochun duduk.

“kita bisa duduk di sana, oppa” Yuri membawa tangan Jaejoong di depan mata Yoochun dan berjalan pelan ke arah bangku besi kosong di pojok kereta. Yuri bernapas lega ketika ia akhirnya bisa duduk. Dan tanpa sadar, ia masih menggenggam tangan Jaejoong saat itu. hati yuri tidak tenang.

“wajahmu memerah, kau demam?”, Jaejoong mengangkat telapak tangannya dan menyentuh dahi Yuri perlahan, pria itu khawatir karena tiba-tiba wajah yuri memerah dengan segera seperti udang rebus. Yuri menutup kedua pipinya dengan tangannya.

“mungkin aku terlalu lelah berdiri tadi”, ucapnya berbohong. Sebenarnya sesuatu berkecamuk di hatinya ketika tangan Jaejoong menyentuhnya. Ia tidak bisa mengingkari yang satu ini. setiap ia bertemu dengan oppa satu itu, Yuri akan selalu merasakan hal yang menyesakkan seperti ini. ia pernah berpikir untuk berhenti singah di Roma dalam setiap pekerjaannya. Namun bayangannya mengenai Jaejoong selalu mengganggu tidurnya. Ya, dan mungkin… Yuri menyukai Jaejoong sejak lama.

Hanya saja ia belum menyadarinya.

cih.  Apa mereka tidak bisa mencari tempat lain untuk bermesraan seperti itu”, yoochun mencibir ketika matanya sedikit mengintip pada dua orang di ujung kabin kereta. Jaejoong dan Yuri terlibat skinship dan beberapa obrolan. Mereka tertawa kemudian terdiam dan mengobrol kembali. Yoochun melihat semuanya dengan geli. Perutnya tergelitik. Ia mencoba memejamkan matanya sekali lagi, namun ia tidak bisa. Duduknya menjadi sangat tidak nyaman. Kepalanya menjadi gerah.

Untung saja ia bisa diselamatkan karena Yuri dan Jaejoong mengajaknya segera turun dari kereta di satu stasiun.

“cepatlah sedikit kau pemalas”, yuri menendang sekilas kaki pria yang menghalangi jalannya. Yoochun mendengus kesal kemudian berdiri dan menyusul yuri yang sudah keluar dari kereta. Seperti yang dia duga sebelumnya, Yoochun tertinggal berjalan di belakang dari Yuri dan Jaejoong. Yoochun tidak ingin berada di antara mereka. menurutnya menjijikan berada di antara sepasang kekasih seperti itu.

“apa tidak sebaiknya mencari koperku dulu dan laporan ke kedutaan daripada jalan jalan seperti ini?”, Yoochun membuka mulut ketika mereka meniti tangga naik dari stasiun bawah tanah. Yuri menatap pria itu dan berhenti, menunggu ia mensejajarkan diri di satu anak tangga.

“bukankah sudah kubilang, kemarin sudah di urus semuanya oleh Jaejoong oppa? Kau tuli atau apa?”

Yoochun mengepalkan tangannya. Jika saja dia bukan wanita, mungkin Yoochun sudah memukulnya.

“kalau begitu kita bisa tunggu di hotel dan melakukan sesuatu…”

“kau lupa perjanjian kita, eoh? Apa perlu aku pukul kepalamu agar otakmu bekerja?”

“apa kau bisa sedikit lebih sopan, yah !”, yoochun mulai meledak, terpancing oleh yuri.

Jaejoong segera datang di antara mereka, melerai dan membawa yuri menjauh.

oppa,  lepaskan aku, aku ingin sekali menghajar wajah pria menyebalkan di sana”, yuri protes ketika Jaejoong menggenggam tangannya. Ia gusar dan sesekali melihat pada pria di belakangnya dengan sebal. Yoochun yang merasa diperhatikan, sesekali memperlihatkan kepalan tangannya pada Yuri seperti anak kecil –kode ajakan berkelahi. Dan setiap melihat itu, Yuri langsung meraung seperti anak kecil ingin lepas dari genggaman jaejoong.

“kau terlalu childish, yuri. hentikan. Orang orang akan melihat aneh ke arah kita”, jaejoong berbisik. Yuri melemah, ia mengatur napas nya dengan normal. Berusaha tidak melihat wajah pria yang membuatnya kesal seketika. Ia bisa mendengar jaejoong dan langkah kakinya menjauh, ia sepertinya berbisik sesuatu pada Yoochun sebelum akhirnya kembali di sisi Yuri.

“apa yang kau katakan padanya?”

man to man bussiness”

ck”, Yuri mendesis pada jaejoong. Ia melepaskan genggaman tangan jaejoong dan berjalan sendiri menjauh. Di depannya sudah terlihat satu musium yang terkenal di vatican. Vatican museum.

Di depan nya ada gerbang yang sangat besar dengan ornamen jaman renaissance yang indah. Yuri seakan lupa akan kekesalannya ketika melewati gerbang itu. selama dia berada di Roma, dia tidak mempunyai cukup waktu dan biaya untuk berkeliling sampai ke vatican. Jadi kali ini adalah kesempatan emas baginya.

Tapi belum selesai sampai di sana, berhubung hari libur. Ada antrian yang sangat panjang menghiasi loket masuk gedung museum besar itu. antrian nya sekitar 3 meter. Yuri mengeluh dan mengelap peluh di dahinya karena matahari yang menyorot sedikit terik hari itu.

oppa,  tidak adakah tiket ekspress atau semacamnya?”, ujar Yuri ketika Jaejoong menepuk pundaknya. Jaejoong menggeleng dan tersenyum.

“jika kau tidak mau mengantri, biar aku saja”, jaejoong menawarkan diri dan segera bergegas membuat gerakan tubuh singkat mengambil posisi antrian di paling belakang, namun dengan cekatan, yuri menarik tangan jaejoong. Mereka bertukar pandang.

wae? kau tidak ingin masuk? Apa kau ingin mengantri?”, jaejoong bertanya.

“jangan kau yang mengantri, oppa. Aku tahu siapa yang cocok untuk pekerjaan membosankan ini”, mata yuri melirik ke satu tempat berdirinya pria dengan kemeja putih yang simple. Ia menutup matanya dengan kacamata hitam dan sepasang headset tertaut di telinganya.

“Park Yoo Chun? Kau yakin, Yuri-ah?”, jaejoong terlihat ragu sesaat ketika yuri melangkahkan kaki dan bicara empat mata di kejauhan dengan yoo chun. setelah beberapa detik mengalami perdebatan yang lumayan alot, akhirnya yuri datang dengan seorang yoochun yang terlihat malas. Ia berdiri di antrian dengan wajah masam. Jaejoong berbisik pada yuri.

“apa yang kau katakan padanya?”

“se-su-a-tu”. Ucap yuri jahil dan penuh teka teki.

Sekitar satu jam, barulah Yoochun mendapatkan tiket masuk untuk 3 orang. Tanpa babibu lagi, yuri dan jaejoong bergabung dengan yoochun untuk segera masuk ke dalam musium. Begitu masuk, yuri merasakan semua kegiatan menunggu yang membosankan selama satu jam terakhir terbayarkan sudah. Di sana memang layaknya sebuah musium –hanya benda bersejarah dan prasasti, ukiran kuno yang dipajang, namun kesan antik dan budaya romawi kuno –yang selama ini yuri kagumi, terasa begitu kental.

Ia sendiri merasa seperti seorang putri romawi ala cleopatra ketika berputar mengangumi seisi musium. Bahkan tangga nya saja berornamen antik di gagangnya. Keindahannya tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.

Sementara Yuri sedang asyik memutari ruangan yang baru saja mereka lewati, Jaejoong sedang asik memandangi satu lukisan yang terpajang di dinding. Sementara Yoochun sibuk dengan kamera pocket nya.

Yoochun sibuk memotret objek mati yang ia lihat. Namun setiap ia melihat hasilnya di display kameranya. Giginya akan menggertak seketika. Kali ini yoochun mencoba lebih legowo dan kembali memotret objek lainnya. Namun ketika dia melihat hasilnya, lagi lagi ia dibuat gondok. Selalu ada yuri dalam setiap foto yang dia ambil. Sepertinya yuri sengaja mengerjai Yoochun. Yoochun berjalan ke arah yuri dan menarik bajunya dari belakang.

“apa yang kau lakukan, eoh?”, sahut yoochun. Yuri menoleh dengan gaya innocent,

“apa? aku? Aku berjalan-jalan. Apa masalahmu? Apa musium ini milik nenek moyangmu?”, Yoochun terlihat dengan susah payah menelan ludahnya sendiri, matanya sekilas ia pejam sebagai pelampiasan menahan amarahnya.

“baiklah, nona yuri. sepertinya kau sedang berpura pura bodoh kali ini. tapi kamera ini bisa menjelaskan semuanya?”

“apa yang salah dengan kamera dan aku?”

“kau mempermainkan aku, eoh?”

“kau ini bicara apa, aku tidak mengerti”, Yuri mengerutkan dahinya. Yoochun terlihat mulai naik pitam. Ia membuka kameranya dan memilih beberapa foto yang di dalamnya terpampang jelas yuri yang sedang berpose.

“kau lihat ini? kau mengganggu acara fotografi ku”

“oh itu.. kukira kau memang mengambil gambarku..”, kilah yuri.

aish..  aku bisa gila bicara denganmu”, yoochun mengacak acak rambutnya dan segera menjauh dari sana. yuri hanya terkekeh pelan seakan semua rencananya berjalan dengan mulus. Baru saja ia berjalan beberapa langkah lebih jauh masuk ke dalam museum, ponselnya berdering.

hallo?”, ucap yuri sopan dalam bahasa inggris.

miss yuri kwon?”, suara pria dengan logat Italia yang kental dan aneh, terdengar.

yes, it is me. who is this?”

di sini Rowen dari kedutaan besar Korea di Italiatiba tiba penelepon itu mengubah bahasanya menjadi bahasa korea yang kental. Yuri tersenyum lebar.

“Ya, tuan Rowen. Ada yang bisa saya bantu?”

“apakah anda yang melaporkan kehilangan sebuah paspor atas nama Park Yoo Chun?”

“benar. Apa ada perkembangan?”

“perlu kami beritahukan bahwa paspor dan koper milik tuan Park Yoo Chun sudah di temukan”, yuri hampir memekik kegirangan ketika mengetahui ini, tapi ia bisa mengontrolnya.

“tapi nona…. hanya saja… koper tersebut dan isinya sudah lenyap. Hanya sebuah buku, paspor dan beberapa potong pakaian yang tersisa dari dalam sana”, yuri mengigit bibirnya. Tapi dia sedikit senang, setidaknya buku diary nya masih ada di sana.

“baiklah, terima kasih atas informasinya, tuan Rowen”

“sama-sama nona, oh iya, untuk pengambilan paspor dan barang bisa langsung ke kedutaan besar, langsung secara pribadi dengan saya.”

“baiklah, saya mengerti. Sekali lagi terima kasih”

Yuri menutup ponselnya dan memandang pada yoochun. Ia dengan ragu mendekat dan membisikan sesuatu pada pria itu. pria di sana tidak terlihat kaget, dia cukup bersyukur karena setidaknya paspor nya masih ditemukan.

“kapan kita akan kesana?”, tanyanya.

“bagaimana sore ini?”

agree”

Dan dengan ini, yuri masuk semakin dalam ke dalam museum kuno itu. Jaejoong mengikutinya dengan pelan. Sementara Yoochun masih memotret beberapa objek dengan kameranya.

 

–The Stewardess

Yoochun terlihat membungkuk sekali lagi pada pria tua dengan seragam kedutaan di depannya. Berkali kali ia mengucapkan terima kasih padanya. Seorang anak kecil –yang merupakan anak dari Rowen, terlihat sibuk mengambil foto dari Park Yoo Chun. wajar, bagaimanapun pria yang menurut yuri menyebalkan itu adalah seorang yang cukup terkenal di Korea.

“kehormatan bagi kami mendapatkan tamu seperti anda”, terakhir Yuri mendengar bagaimana Rowen –pria paruh baya itu sekali lagi mengucapkan pujiannya pada Yoochun. Yuri hanya bisa mendesis geli.

Yuri saat ini ada di jarak aman, agak jauh dari gerbang di mana keluarga Rowen melepas mereka setelah makan malam singkat dan kunjungan Yoochun kesana. Jaejong dan yuri menunduk dari kejauhan ketika Rowen untuk ke sekian kalinya mencondongkan badannya ke depan ke arah mereka.

Dalam 5 menit selanjutnya, mereka baru benar benar bisa terlepas dari kediaman Rowen. Dan Yoochun lah yang terlihat paling lelah. Ia memutar lehernya ke kanan dan ke kiri. Yuri bisa mendengar suara yang ditimbulkan dari gerakan leher pria itu.

“jadi setelah ini, bagaimana?” sahut Jaejoong. Yuri menoleh tidak mengerti.

“kau menemukan diary mu. Yoochun-ssi telah menemukan paspor nya. bukankah perjanjian di antara kalian sudah selesai?”, Yuri mengangguk ragu. Ia seharusnya sudah bisa lepas dari perjanjian yang dibuatnya sendiri mengingat semua barang yang diperjanjikan sudah dipegang di tangan masing-masing.

Tapi ini bahkan baru dua hari, yuri menggumam di hatinya.

“benar itu, perjanjian itu sudah selesai dengan begini”, ucap Yoochun girang, senyumnya mengembang di kedua sudut bibirnya. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, dan tangan yang lain menyeret sebuah koper kosong.

“kalau begitu setelah selesai mengantar kalian ke hotel, aku akan segera pulang”

“pulang?”, yuri mengulang kalimat Jaejoong.

“benar, kau tidak akan butuh tour guide untuk perjalanan berdua lagi, bukan?”

“ah benar”, sahut Yuri lemah. “tapi aku masih membutuhkanmu, oppa, aku akan mengelilingi Roma satu hari lagi. sebelum aku terbang kembali ke Seoul”, ucap yuri dengan nada memohon. Jaejoong tertawa dan mencubit pipi yuri dengan gerakan cepat.

“kau bisa menemuiku di rumah, Yuri-yah..”

jinjja?

Jaejoong mengangguk cepat. Yoochun hanya memperhatikan kedua orang itu dengan rasa acuh tak acuh. Ia menyibukkan diri dengan sebuah ponsel yang ada di tangannya.

Ketika mereka tiba di satu belokan terakhir, Jaejoong menahan tangan Yuri. membuat Yuri dan Yoochun yang berjalan sejajar berhenti bersamaan.

“sepertinya kita harus berpisah di sini, kau tahu arah jalan ke hotel bukan, Yuri-ah?”, Yuri mengangguk cepat, namun tangannya bergelayut manja di tangan Jaejoong, membuat Yoochun yang melihat semuanya menatap jijik.

oppa aku akan menemuimu besok jam 7 pagi, eotte?”

“baiklah. sampai ketemu besok. Dan Yoochun-ssi, sampai jumpa lagi”

Jaejoong melambaikan tangan dan menundukkan kepalanya pada yuri dan Yoochun. Ia pamit lebih dahulu dan menghilang di balik belokan yang berbeda dengan jalanan yang di ambil Yoochun dan Yuri. setelah di tinggal Jaejoong tadi, Yuri berjingkrak jingkrak sambil berjalan. Ia kadang meloncat dan berputar ketika senja sudah mulai terlihat. Namun ketika yuri melihat sebuah jalanan kecil, ia berlindung di balik tubuh Yoochun.

“aku masih belum terbiasa dengan jalanan ini”, hanya itu jawaban yang Yoochun dapat ketika ia berusaha menanyakan alasan di balik kelakuan penakutnya. Yoochun masih mengingat jelas bagaimana di jalanan itu beberapa hari yang lalu, ia diserang dengan sekelompok pria mabuk.

Mungkin Yuri masih trauma dengan semua kejadian kemarin.

“apa kau selalu seperti itu pada Jaejoong?”, ucap Yoochun ketika mereka berada di dalam kereta beberapa menit kemudian.

“seperti itu? bagaimana maksudmu?”

“meninggikan nada suaramu agar terdengar cute dan bertindak seperti gadis bodoh yang tergila-gila pada pria. Kau melakukan semua itu ketika kau bersama pria itu”

am i?”, yuri terlihat kaget. Yoochun mendesis.

“kau tidak sadar?”, Yuri menggeleng.

“pantas saja” Yoochun meremehkan. Tiba-tiba ponsel berbunyi. Keduanya sama sama merogoh saku celana mereka. namun sebenarnya yoochun lah yang menerima panggilan tersebut. Yuri tidak ingin mencuri dengar. Tapi posisi duduk yoochun ada tepat di sebelahnya sehingga semuanya bisa jelas terdengar.

Segera setelah Yoochun menutup teleponnya, pria itu menatap yuri dengan cemas. Dahinya berkeringat dan bibirnya gemetar. Yuri menangkap pandangan luar biasa khawatir di mata pria itu.

Bibir pucat yoochun bergerak. Peluh dari dahinya menetes. Ia berkata sesuatu pada yuri dengan terbata-bata. tangannya gemetar.

“a-a- apakah besok  ada penerbangan kembali ke Seoul paling awal?… Yuri-ssi….Ibuku…. ibuku….”

–TBC

Yap. setelah beberaa dekade tidak mengupdate FF ini akhirnya malam ini bisa selesai dalam satu jam

dikirain gak ada yang nunggu FF ini, eh ternyata banyak yang nagih. hahaha😄

maaf ya buat keterlambatannya. tapi ini FF selanjutnya akan di update cepet deh, Insya Allah. kkk~

95 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 2]

  1. linda ardani berkata:

    ibunya yoochun kenapa tuh unn?
    ditunggu next part y unn, sma yg vibrancenya ditunggu kelanjutannya unn,🙂
    keep writing unn, fighting🙂

  2. tarhy94 berkata:

    lamaa bngett nungguu…tpii tk ap lahh.coz lnjutnya krenn bngett..^^
    anw..Vibrance kpann nii d postt.
    udhh pnsarann stngahh matii ma klnjutnya…
    pleasee postnya jgan lma2 yahh thorrr^^

    #Fighting^^

  3. salsabila azditama berkata:

    Wahh hanya dlm 1 jam?bisa buat kyk gni msuk on the spot aja deh eon wkwkwkwk
    Ff lainnya ditunggu*O*

  4. yuniq eka cahya berkata:

    update….. ehmm~~ apa yaa??? Chukkae buat Yoochun akhir ny koper ktmu jga#ngekk.. Ga tau knpa ya eonni karakter ny Yoochun dsni yg cuek dan,,,,,,,,,you know that!! Itu bkin prut sya geli, jdi nyengen ktwa. Apalgi klo Yoochun udh kna tindas ama Yuri, ato yg pas scene ny Yuri ama Jaejong sya dibkin cengar-cengir kya orgil kekekk~~ Ngebaca ni ff jdi kebita pngen ke Roma. Ok Ok Ok keep writing kayur eonni ^^

  5. Han Neul Ah berkata:

    Whua akhirnya dipost jg part 2 nya
    Makin seru eon (y) penasaran ama perasaan jaejoong oppa ke yulnie
    Itu endingnya ibunya yoochun kenapa? .-. Ampe pucat gitu yoochun *katanya
    Next part kutunggu eon, kkkk😀

  6. YhyeMin_SO_NE berkata:

    eonnie,,aku Suka bgtt karakter chun ppa n yul eon yg childish kbangetan apalagi yul eon yg slalu ngebentak n ngerjain chun ppa#aish..gk tau apa dia itu artis terkenal dikorea,,,
    Tpi seru eon aku dari tadi ktawa gaje pas bca ff ini jujur baru kali ini bca ff dgn karakter yul eon kyk g2,feelnya dpt bgttt
    eonnie daebak ngerjain ff ni cuma 1 jam#kykny eonnie pnya bkat mnulis yg bsar deh
    Di tunggu ff on going lainya#trutama vibrance^^

  7. Hani"thahyun"_Kim berkata:

    ibunya yoochun kenapa ??
    pertengkaran yuri sama yoochun kapan selesainya,,
    selalu berdebat dan berdebat..

    lanjuuuuuutt,,
    vibrance juga lanjut.

  8. Liza Nining berkata:

    masa yuri sukanya sama jaejoong? sama yoochun aja unni😀 nawar mulu nih aku ^^v
    jgn jgn ibunya yoochun masuk rumah sakit?😮
    oh ya, jaejoong itu apanya yuri unn? penasaran kok hubungannya bisa sedekat itu O.O

  9. Shin Min Mi berkata:

    hohoho ternyata yuri ada rasa ya ama jae oppa… semoga endingnya mereka bisa bareng ya bukan yuri ama yochun ha8 #ngarepbangetttt
    la thus klo balik ke seoul jaejoongnya ilang dong thor..? T.T

  10. YoonYuladdicts berkata:

    wah, akhirnya diupdate juga, lama nunggu update nya eon..
    ibunya yoochun kenapa tuh ? *penasaran
    keren loh ff ini, bahasanya gak berat, jd dapet banged feelnya eon..
    ditunggu lanjutannya ya kayur eon,, trus jgn lupa vignette sm vibrance nya,..
    hwaiting

  11. Jaz berkata:

    Hai,,,aq baru gabung nie,
    salam kenal,,enakx pangil admin apa ya?he
    ceritax bagus……tp aq blm baca yg part 1,,he:-D

  12. Black virus chanyul berkata:

    Wah, ibunya yoochun kenapa tuh? Penasaran eonn, tetap semangat nulis ya..di tunggu part 3 nya fighting..😀

  13. yuri kyuhyun, gikwang jihyun hyunseung and bomi myungsoo couple 4ever berkata:

    Jgn2 ibunya yoochun meninggal lagi
    di tunggu ff vibrance nya kak ^^

  14. Rizkia aulia tifanny berkata:

    Akhirnya…akhirnya…akhirnya….
    Update juga ni..
    Hm lama bnget yg ini eon ,
    hm eon msih bnyk hutang FF loh eon ????

  15. Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

    Lupa komen -_-
    Ok! Eonni, pengetahuannya luas banget dah *.*
    Merinding waktu Jaejoong dan Yuri melakukan skinship yg tidak disengaja huahahah xD lanjut terus eonni!

  16. Ayana berkata:

    Anyeong Eonnie.. aku reader baru. Yana imida line 93 jadi boleh panggil eonnie kan?
    Baru pertama langsung baca part 2. agak bingung sih, tapi tetep ketawa bayangin kelakuan yulnie yang childish banget. minta ijin lanjut ke part 1 ya.. Kamshamida

  17. janemaris berkata:

    ampunnnn penasaran sama hubungannya yulnie ama jaejung oppa. itu si yucun gentle bener eon>.<, tumben yulnie eoonie bikin lemah di ff ini. eomma nya yucun oppa kenapa eon?

  18. Sjelfeu berkata:

    yaaah yoochun suka sma yuri pas diawal ketemu aja, pas kesini ny dia geli mungkin wkwk
    ada apa dgn ibu yoochun ? Next part *melesat

  19. Tansa berkata:

    Hmm itu Yoochun kenapa panik gitu?
    Haah kasian dong Yuri bakalan sendirian di Roma kalau Yoochun pergi
    Next ~

  20. Hn_avy berkata:

    Aduh itu Yuri bersikap manis ama Jaejoong oppa,beda bgt klau lagi ama Yoochun oppa ..
    Ngiri😦 dikelilingi pria-pria tampan

    Next y kak ^.^

  21. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Nice..kayur
    hha kocak Yoori nya, tp kok kaya.a Yoochun oppa aga ilfeel ya sm yuleon eh ato malah dia cemburu.. wah wah wah
    next aja deh penasaran lagi sm ibunya Yoochun

  22. liliknisa berkata:

    Aduh mereka kaya tom and jerry aja berantem mula.
    Kenapa nih sama ibu yoochun???
    Cusss part selanjutnya kak ^^

  23. Anonym berkata:

    Bener-bener hobi banget bikin orang penasaran nih ya kaknyun u,u aku mau baca next chap ya😀

  24. febrynovi berkata:

    apa yang terjadi sama ibunya Yoochun ya…

    Jaejoong mungkin kerabat dari dubes kali ya bisa punya koneksi gitu hahaha xD

    next chap kaknyun~~

  25. ersih marlina berkata:

    Kucing, tikus. Itulah julukan buat yoochun sama yuri, tiap mnit bahkan detik deh kayanya, perang mulut muluu kkkk tapi d sana lucunya
    yuri yang kekanakan

    umm, knapa ibunya yoochun ?
    Ka nyun, aku lnjut bca. Smngat yaa

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s