Enchanted – From EXOYUL Series

6. Enchanted

Series ke 6 dari EXOYUL Vignette special.

rate : general

Main pairing : Kyungsoo-Yuri

Genre : Romance

Disclaimer : cast bukan punya saya. cast milik agensinya nun jauh di Korea sana. aku hanya memiliki plot dan karakter fiksi nya. thanks

***

Daun-daun kering berguguran, menyisakan semerbak  kehijauan yang sudah lampau. Kadang angin datang dan menyapu lembar demi lembar gugur tersebut, lembut, pelan dan damai. Sinar mentari yang tidak terlampau menyilaukan dengan malu masih bersembunyi di balik gumpalan kapas di atas langit. Seakan tidak ingin dianggap sebagai patung, dahan dan ranting bergoyang, bersinergi membentuk atmosfir musim gugur yang kental.

Di seberang pepohonan itu ada sebuah cafe bergaya modern dengan kursi-kursi indah berjajar di depannya. Beberapa orang lalu lalang masuk dan keluar dari sebuah pintu dengan lonceng kecil khas natal. Cafe itu cukup ramai namun masih dalam kategori sepi untuk jam-jam siang seperti ini.

Jauh di dalamnya, terisi sebuah sofa dengan seorang gadis di sana. gadis itu memakai rok tergerai selutut dan baju simple dengan kesan girly. Rambutnya hitam pekat, kontras dengan kulitnya yang putih merona. Ia duduk, memutar-mutar sebuah pulpen di tangannya sambil menatap hening ke luar jendela cafe yang ada di sebelahnya. Secangkir americano dengan gula rendah dan creamer yang kental beberapa kali ia seruput dengan pelan.

Dalam setiap napasnya, gadis itu menggumam rendah, otaknya berputar dan memunculkan potongan grafis bergerak di sana. ia tertawa, terdiam dan bahkan hampir terisak ketika potongan demi potongan itu muncul dengan lebih jelas hanya di dalam pikirannya.

Dia menghentikkan tawa renyahnya ketika seorang pria berperawakan lebih kecil darinya masuk ke dalam cafe setelah sebelumnya membuat lonceng pintu berdentang. Mata si gadis mengekori setiap inci dari gerakan pria itu, mulai ketika dia memesan kopi hingga ia duduk dengan secangkir kopi di tangannya. Tempat duduk pria itu berada tidak jauh dari tempat duduk si gadis. Secara teknis, mereka bisa bertatapan untuk beberapa jam ke depan.

Pria itu mengenakan pakaian simple dengan sebuah jas terbalut longgar pada tubuhnya. beberapa kali si pria melirik pada jam tangan mahalnya, menunggu sesuatu. Mata si gadis seperti seorang mata-mata, tidak lepas dari bagaimana pria itu bergerak. Si pria dengan rambut hitam, tidak menyadari apapun tentang kehadiran si gadis. Mereka hanya duduk di dua buah kursi yang berbeda, sedikit berjauhan dengan posisi saling berhadapan.

Pria menunggu sesuatu, dan si gadis sibuk dengan potongan grafis di dalam otaknya.

Pria itu menyeruput kopi yang dipesannya dengan pelan, kemudian menyapukan sedikit lap mulut pada kedua sudut bibirnya. Satu pelayan membawa sebuah muffin dan strawberry cake pada pria itu. mereka terlibat anggukan sopan beberapa kali, untuk kemudian kembali pada kegiatannya masing-masing.

Si gadis masih di sana, termenung dan menilik hati-hati pada pria itu. tapi kali ini, dia benar benar tersenyum.

Kau masih menyukai makanan yang manis, Kyungsoo-ah?

Si gadis mulai menulis sesuatu di atas kertas, sambil tersenyum dan beberapa kali menyeka rambut yang mulai menutupi wajahnya, ia meniti satu demi satu huruf di sana. pikirannya melayang.

-Enchanted

“kau harus menikah, Yuri”

Kata kata itu terngiang di otakku, berdentang layaknya panci-panci yang berayun di dapur istana. Udara kecil yang dihasilkan dari beberapa dayang yang berdiri bersebelahan di kanan dan kiriku tidak mampu sedikitpun memendam amarah yang memuncak di dalam dadaku.

Kadang kupandang kelambu biru muda di sekirtar ranjangku, kemudian aku kembali duduk memeluk lutut dan menenggelamkan wajah di antara kaki-kaki ku. Seorang abdi kerajaan datang dan memerintahkanku untuk segera bersiap. Aku hanya mengangguk lemah, membiarkan dua dayang yang sebelumnya mengipasiku, membawa tanganku dan menuntunku ke satu tempat yang lagi-lagi tidak aku inginkan.

Ruang hias istana.

Begitu aku membuka pintu, berderet beberapa orang dengan alat make up di tangannya. Ada juga yang memegangi gaun warna-warni dengan corak dan desain yang indah. Aku berdecak ketika mereka menyuruhku duduk di depan cermin besar. Aku memperhatikan wajahku baik-baik dan mengeluh ketika mereka mulai mengoleskan cream dan bedak tabur aneh di wajahku. Belum lagi wewangian yang mereka oleskan di rambutku, mereka menarik narik kemudian membentuk gulungan aneh di rambutku –seperti yang biasa mereka lakukan.

Satu orang melucuti pakaian ku dan menggantinya dengan satu gaun indah berwarna putih gading. Rambutku tergerai indah setelah sebelumnya terikat menjadi satu ikatan di ubun-ubun kepalaku. Sebuah mahkota indah tersemat di kepalaku, warnanya keperakan dengan beberapa taburan berlian di atasnya. Aku tidak sanggup melihatnya di depan cermin karena mahkota ini terlalu berkilauan.

Seorang yang lebih pendek membawakan aku sepatu indah yang sangat cocok dengan warna gaun yang aku pakai. Sepatu itu berkilau di terpa lampu lampu istana. Ketika lampu meredup, maka sepatu itu akan bersinar redup namun tetap indah untuk dilihat. Namun begitu, sepatu itu tertutup sempurna oleh gaun yang menjuntai hingga ke atas lantai marmer.

Seorang penata gaya memberiku sentuhan terakhir dengan menambahkan beberapa aksesoris di leher, pergelangan tangan dan di daun telingaku. Dengan tampilan khas putri raja, aku berjalan lemah ke sebuah ruangan yang lebih besar dengan satu singgasana mewah sebagai pusatnya.

“tegakkan wajahmu, Yuri. kau adalah pusat perhatian malam ini”, seorang dengan jubah merah yang mewah; sepatu kayu dengan ukiran indah; mahkota yang lebih besar dan perawakan yang berwibawa berbicara dengan lugas padaku.

“tapi ayah—“

“kau harus menikah. Pilihlah satu di antara para tamu kerajaan hari ini”

Aku bisa membantah perintahnya jika saja ia bukan raja kami. Aku cukup tidak beruntung lahir di dalam keluarga ini. menjadi putri semata wayang dari seorang ayah yang merupakan pemimpin seluruh negeri, adalah sangat berat. Apalagi aku harus tampil sendiri, tanpa ibu yang telah lama tidak ada di dunia ini.

Membantah ayah sama saja membantah perintah raja, dan aku bisa dihukum meskipun aku adalah anaknya sendiri. Hukum kerajaan lebih dominan mempengaruhi kehidupanku daripada hukum dari sebuah keluarga kecil sederhana.

Gaun dengan hiasan artistik dan make up tebal, lampu pesta, perkamen kerajaan, mahkota, sepatu, musik slow. Aku sudah terbiasa dengan mereka semua.

Satu satunya yang belum aku coba untuk beradaptasi adalah, keinginan ayahku sendiri. Dengan alasan mempertahakankan entitas kerajaan dan korelasi yang baik dengan kerajaan lain, ayah menggunakan aku.

Kali ini adalah kali kedua dalam malam rangkaian pesta kerajaan yang ayah buat untukku. Hari terakhir dan aku harus bisa memilih salah satu dari para tamu yang hadir untuk menjadi seseorang yang akan aku nikahi.

Aku pernah mencoba kabur dari pesta aneh ini, namun yang kulakukan selanjutnya hanyalah membuat Ayah semakin intens untuk menjodohkanku dengan seseorang putra kerajaan dari antah berantah yang usianya jauh lebih tua di atasku.

Untung saja itu tidak pernah terjadi karena pria itu mendadak meninggal karena serangan jantung.

“kau tidak usah bersedih. Mereka yang datang, adalah yang terbaik dari seluruh kerajaan”, seorang abdi yang menemaniku sejak kecil setelah ibu tiada, bicara dan mencoba memberikan energi positif nya padaku. Aku menggenggam tangannya yang ada di bahuku.

“bibi Layla, katakan… apakah aku tidak berhak memiliki jalan hidupku sendiri di istana ini?”

“apa maksudmu?”

“sepertinya tidak ada satu hal kecilpun yang berjalan karena kemauanku sendiri. Semuanya, aku merasa…. hidupku telah dijual pada keinginan kerajaan”

Bibi Layla menepuk pundakku, aku bisa melihat bahwa ia tidak memiliki jawaban apapun. aku bisa mengerti.

“apakah aku terlihat menyedihkan?”, bibi Layla tersenyum lebar, menunjukkan giginya yang telah berumur dan menguning. Aroma tubuhnya masuk ke dalam hidungku ketika ia menggerakkan tubuhnya berbalik.

“sebaliknya, kau beruntung, nona. Hanya saja kau belum tahu di sisi mana keberuntunganmu”, hanya sebaris kalimat yang aku dengar sebelum dua orang pengawal kerajaan membawaku jauh ke dalam satu ruangan lain yang berisi dengan gemerlapan khas pesta. Aku berada di pangkal tangga kayu dengan sinar putih terang sebagai pusatnya. Sinar itu menyorotiku dengan lebih jelas dan mempertontonkan wajahku ke seluruh tamu yang ada.

Ayah, dengan wibawanya, duduk di sisi lain sambil merentangkan tangannya ke arahku, sepertinya ia baru saja bilang sesuatu untuk menyambutku masuk ke dalam pesta menyebalkan ini.  dari kedua bola mataku yang menyipit karena sinar terang, aku bisa melihat beberapa pria dengan berbagai gaya rambut dan pakaian yang indah membungkuk hormat ke arahku yang masih ada di atas tangga. Aku menunduk hormat, menggenggam beberapa senti kain ku dan layaknya putri raja, aku membawa wibawa ayahku di pundakku.

Aku tersenyum, namun mereka tidak tahu bahwa aku hanya membuat satu senyum palsu hasil latihanku di depan cermin selama beberapa hari ini. Ya, dan bahkan kerajaan ini telah membeli senyumanku. Aku tidak tahu lagi apa yang kulakukan ketika seorang abdi lain yang berpakaian indah meraih tanganku dan menuntunku menuruni tangga.

Aku bersyukur setidaknya aku tidak turun sendiri karena gaun ini cukup berat untuk aku pegang. Apalagi bagian belakangnya yang menjuntai dan mengekor panjang. Satu orang pria –mungkin suruhan ayah, menyambut tanganku dengan segera setelah ia menyadari bahwa aku telah berada di lantai dansa yang sama dengan mereka. lampu meredup dan musik waltz khas kerajaan diputar di seluruh sudut ruangan.

Sebelum menerima uluran tangan dari pria itu, aku menatap sekilas pada Ayah yang ada di puncak ruangan. Ia mengangguk padaku, dan aku menerima ajakan dansa dari pria itu.

Kalau bisa lebih jujur, aku tidak menyukai aroma dari tubuh pria ini, membuatku mual.

“Namaku William”, ucapnya pada telingaku. Aku tidak suka nada bicaranya dan aku hanya membuat putaran dansa sebanyak 3 kali sebelum akhirnya aku melepaskan diri dari pria itu dan mengatakan namaku padanya.

Pesta ini adalah pesta dansa, tamu pria di sini ada sekitar 100 orang, artinya aku harus berdansa dengan 100 dari mereka semalaman suntuk. Aku baru saja menyelesaikan satu dengan nama William. Dan 99 dari mereka masih tersebar di lantai dansa, di bawah lampu-lampu indah.

“Namaku Himchan”, seorang pria yang cukup tampan dan tubuh lebih besar dariku menyambut tanganku. dia tidak memiliki aroma yang membuatku mual seperti William, tapi aku— aku tidak memiliki perasaan khusus untuknya.

Selanjutnya, yang aku ingat hanyalah nama pria yang mungkin akan kupilih selanjutnya. Setelah Himchan, mungkin ada Minho, Myungsoo, Kevin, Luhan, Keith, Daehyun dan Jaejoong. Yang kusebutkan tadi adalah yang terbaik di antara mereka yang sudah mengajakku berdansa. Mata ayah masih awas mengawasiku dari tempat yang lebih tinggi, aku tidak bisa melepaskan senyuman palsuku setiap detik. Aku harus selalu tersenyum.

Aku sudah tidak tahu berapa pria yang sudah berdansa denganku jika saja Layla tidak datang dan mengingatkan bahwa aku hanya perlu berdansa dengan 3 pria terakhir yang berada di ujung ruangan menungguku.

Aku berjalan lemah, menekuk lutut kananku singkat sambil memegangi gaunku, tanda hormat ala kerajaan. Seorang pria yang paling pendek di antara 3 yang lain maju dan menyambut tanganku setelah sebelumnya ia membalas salam hormatku.

“siapa namamu?”, dia tidak mengenalkan namanya terlebih dahulu seperti 97 pria sebelumnya. Aku tersenyum singkat –masih menggunakan senyuman paling palsu ku di dunia.

“aku Yuri”

Pria itu mengangguk pelan, kemudian memutar tubuhku seirama dengan musik yang bergema. Kami berdansa dalam diam, dia tidak terlihat berniat memperkenalkan namanya.

“siapa namamu?”, ucapku cukup penasaran. Dia tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya yang cemerlang. Belum sempat ia menjawab, waktu berdansaku dengan pria itu habis. Aku harus berganti pasangan dansa kali ini. tepat sebelum ia melepaskan tangannya dariku, aku mendengar ia berbisik.

“aku akan memberitahu siapa namaku, jika kau bisa berhenti menunjukkan senyum palsumu. Nona Yuri”, salah satu matanya berkedip padaku, dan ia berbalik. Pria itu dengan baju kerajaan berwarna merah terang hilang dan tenggelam di tengah kerumunan. Aku mendongak, penasaran kemana pria itu pergi. Kata-kata pria itu menusuk tepat di pusat otakku. Selain ketidak mengertian, aku tidak bisa berkata apa apa lagi. pria lain menyambut tanganku dan kami berdansa, pikiranku masih tidak berada di sana.

Pria pendek dengan seragam kerajaan berwarna merah yang tidak kuketahui namanya, telah sepenuhnya menarik perhatianku.

.Enchanted

“bagaimana kau bisa tidak mengetahui namanya!”

Aku mendengarnya lagi, kemarahan dan emosi ayahku. Kali ini aku mengucapkan sesuatu yang aku tahu tidak akan bekerja pada ayahku. Ketika ia bertanya pria mana yang kupilih untuk menjadi suamiku, aku mengatakan pria pendek yang pernah mencoba mengisi rasa penasaranku selama semalaman tadi.

Dan aku tidak tahu siapa namanya.

“t-tapi ayah—dia menggunakan baju kerajaan merah dan—“

“Yuri, dengarkan. Tadi malam, ada lebih dari 50 orang menggunakan baju merah, bagaimana aku bisa menemukan siapa yang kau maksudkan itu?”

Ayah berbicara lagi dengan nada tinggi padaku. Aku diam. Ketika Ayah pergi dengan marah, aku masih terdiam. Ketika singgasananya telah kosong dan para dayang memandang sedih padaku, aku pergi dan berlari. Menuju kamarku tentu saja.

Aku membanting pintunya yang besar dengan keras, kemudian menguncinya dengan cepat. Aku bersandar di permukaannya dan perlahan merosot. Satu bulir bening yang selalu keluar tiap malam datang, kali ini keluar di saat senja musim gugur. Tanganku basah, bajuku tidak lebih beruntung.

Aku memandang lemari besarku. Kemudian satu ide melintas. Aku ambil beberapa kepingan uang logam kerajaan dari sana dan menaruhnya hati hati di dalam kantung kecil. kantung itu aku gantungkan di bagian dalam dari gaun sifon ku.

Gaun sifonku terjuntai hingga betis, memudahkan ku untuk bergerak bebas dan lebih cepat. Aku buka jendela besar yang ada di kamarku. Di sana aku langsung dihadapkan pada dahan dan ranting pohon yang bisa kugapai dari kamarku yang berada di lantai 2.

Aku tatap langit yang jingga, senja sudah semakin gelap, berganti dengan atmosfir malam yang pekat. Aku menatap ke belakang, ke sebuah pintu yang baru saja aku kunci.

“maafkan aku, Ayah. Tapi aku tidak bisa menjadi bonekamu lagi. aku ingin hidup dengan caraku sendiri”

Aku mengambil sebuah mantel tebal yang mampu menutupi seluruh tubuhku hingga ke kepala, kemudian tanpa takut, aku loncat keluar jendela, dengan bantuan dahan pohon. Aku berayun di udara, kaki-kakiku mencoba mencapai batang pohon besar itu.

Bruk.

Aku bisa merasakan bagian depan tubuhku sakit karena aku dengan sukses mendarat di batang pohon. Permukaannya bergerigi dan aku masih harus menahan kesakitanku dengan bergerak turun melintasi batang pohon. Belum lagi aku harus berhati hati terhadap spionase yang beredar di seluruh penjuru mata angin.

Di belakang kerajaan adalah sebuah hutan lebat. Aku tahu bahwa di sana berbahaya, namun lebih baik aku ke sana dan menghindari jalanan umum seperti pasar dan jalan setapak. Bisa bisa seperti yang sudah-sudah, aku tertangkap.

Aku berlari setelah mencapai tanah, menerobos hutan belantara dan tenggelam dalam hitam pekat, aku merapatkan mantelku dan melirik ke sekitar hutan. Suara suara binatang mulai memenuhi seluruh antero pepohonan ketika malam sudah datang. Aku sedikit merinding ketakutan, namun aku mencoba berani.

Bam

Kakiku tersangkut sesuatu dan aku terangkat. Aku terjaring dalam satu jaring jaring tali yang kuat. Aku meronta, berteriak dan mencoba meminta pertolongan. Namun aku terlanjur jauh berada di tengah hutan, dan aku tidak tahu apakah ada yang masih cukup waras untuk berjalan kemari dan menolong seorang putri raja yang terjebak dalam pelariannya.

Dalam 15 menit, aku sudah kehabisan seluruh harapanku untuk keluar dari jebakan itu. aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Yang bisa kulakukan hanyalah menyerah dan memejamkan mataku sambil berdoa. Kuharap Ayah bisa menemukanku, dan memaafkanku.

.Enchanted

“kau tidak apa-apa, nona Yuri?”, aku mengucek mataku dan melihat nanar ke salah satu tangan lembut dari seorang pria di depanku. Aku belum bisa melihatnya jelas, namun Nona Yuri? dia mengenalku. Dan ada kemungkinan aku mengenalnya.

Aku mencoba membuka mataku lebih lebar. Daun-daun di tengah hutan kulihat berayun di tiup angin. Rupanya ini sudah pagi, aku tertidur di dalam jaring dan sekarang aku melihat jaring itu berada jauh di depanku dengan kondisi terpotong potong. Aku memegangi tubuhku setelah aku sadar apa yang terjadi. Aku mungkin sudah terpotong bersama jaring itu jadi kurasa aku adalah hantu saat ini.

“nona Yuri?”, pria itu memanggil namaku kembali, ia memperlihatkan wajahnya yang sempurna padaku.

“KAU?”, Ya, aku mengenalinya. Pria pendek dengan baju merah yang sempat tidak kuketahui namanya, sekarang dengan keajaiban muncul di depanku.

“A-apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa aku bisa berada di sini?” aku menjauhkan tubuhku darinya dan melindungi bagian depan dadaku dengan menyilangkan tangan.

“kau terperangkap dalam jebakan babi hutan yang aku buat, Nona. Dan kau tertidur semalaman di sana sampai aku datang pagi tadi”

Aku membelalakkan mata, “Jebakan babi hutan? Kau yang memasangnya?”

“Ya, baru kemarin malam. Dan kau merusak semuanya. Dan sekarang aku harus kembali menjadi vegetarian dengan dedaunan pahit di sekitar sini”

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan.

“kau— tinggal di sini? Di dalam hutan ini?”, pria itu tertawa dan aku bisa melihat gigi yang kulihat dua malam yang lalu.

“tepatnya aku baru berada di sini setelah pergi dari pestamu. Secara teknis, aku kabur dari istana”, di akhir kalimatnya, dia terduduk dan memberiku sebuah ranting aneh. Aku mengendusnya beberapa kali.

“itu kayu manis. Favoritku”, dengan ragu aku memasukkan benda itu ke mulut. Dan mengikuti bagaimana pria itu menikmati benda di tangannya.

“dari apa yang kulihat, sepertinya kau mengalami hal yang sama denganku. Katakan, apakah kau kabur dari istanamu?”, aku menghentikan kegiatan sedot menyedot kayu manis di mulutku kemudian menatap marah tanpa sebab pada pria itu.

“bukan urusanmu”, aku sempat menyangka pria ini akan diam dengan gertakanku, namun ia malah tertawa terbahak-bahak

“aku lebih suka kau seperti ini, menunjukkan ekspresi yang kau inginkan dengan bebas, daripada kau terus terusan tersenyum namun kau hanya terpaksa melakukannya. Aku melihatmu malam itu, dan aku mual”

Pria itu terkekeh di depanku, aku membuang kayu manisku.

“kau tidak tahu apa apa tentangku, kuharap kau bisa menjaga sikapmu. Kondisi yang sama, tidak mengubah keadaan bahwa aku adalah putri raja”

Pria pendek itu terdiam dalam beberapa detik, kemudian ia meledak kembali dalam tawanya setelah ia memungut kayu manis yang aku buang dan perlahan memasukannya ke mulutnya sendiri, aku bisa mendengar dia bergumam bahwa sayang menyia-nyiakan sesuatu yang manis.

“s-siapa namamu?”, aku tidak bisa menahan rasa penasaranku dari awal aku bertemu dengannya. Dia menoleh padaku, kami melakukan kontak mata singkat sebelum aku memalingkan wajahku karena canggung.

“aku tidak akan mengatakan siapa aku sebelum apa yang kukatakan padamu di malam pesta dansa itu, Nona Yuri”

Aku memajukan bibirku, ia pergi membawa ranting ranting di dekatnya dan membuat api di sana. kurasa dia memasak sesuatu yang ada di dalam ember hitam yang telah ada di sana sejak tadi. aku menahan rasa aneh yang tiba tiba datang di perutku. Bau bauan semerbak muncul ketika aku melihat ikan yang ia keluarkan dari ember hitam dan ia masak di atas tungku ranting.

Pria itu tersenyum padaku ketika ia menangkap ekspresi kelaparan yang aku tunjukkan. Dia menyebalkan, dan aku tidak tahu kenapa kemarin aku bisa-bisanya mengatakan aku akan menikahi pria ini pada Ayah.

.Enchanted

Cafe.

Gadis itu menyeruput kopinya hati-hati ketika ia telah selesai menyelesaikan lamunan singkatnya. Pria yang sejak tadi ia perhatikan kini duduk dengan lebih gelisah dari sebelumnya. Sepertinya pria itu menunggu sesuatu yang nyatanya terlambat.

Si gadis memesan sebuah americano baru karena cangkir sebelumnya telah habis ia tenggak. Daun daun masih berguguran di luar, ia memperhatikannya satu persatu sambil mencuri pandang dari pantulan bayangan pria itu di jendela.

Rambut hitam, tuxedo dan tampilan yang sempurna. Membuat mata gadis itu melayang kembali ke scene yang sempat terhenti di otaknya.

Aku penasaran, bagaimana jika malam itu kita tidak pernah bertemu. Atau hari ketika kita aku kehilangan kepingan uang logamku di dalam sungai itu tidak pernah ada. Apakah kau tahu perasaanku? Akankah kau tahu bagaimana aku cukup tertarik padamu? Akankah kau tahu bahwa aku ditakdirkan bersama denganmu?

I was enchanted to meet you.

.Enchanted

“kau bodoh”, aku mencerca pria dengan baju putih di depanku. Aku baru saja tercebur ke dalam sungai dengan baju lengkap dan aku kehilangan koin kerajaanku karena terbawa arus air sungai yang cepat. Pria itu tertawa.

“sudah kubilang biar kutemani, kau keras kepala”, pekik pria itu di tengah tertawanya. Aku naik ke pinggir sungai tanpa bantuan dan memajukan bibirku dengan kesal.

Pria itu mendekatiku dan memberikan sebuah mantel miliknya padaku, dengan perhatian dan mata teduh, ia menyerahkan mantel itu di tubuhku. Membungkus rasa dinginku dengan tebalnya bulu bulu mantel itu.

“t-terima kasih”, ucapku singkat.

“tidak masalah”

Kami berjalan singkat, ia sudah mempersiapkan makanan lain untuk kami siang ini. jika aku tidak salah, kami sudah berada di tengah hutan selama dua hari. Keajaiban ayah belum menemukanku.  Atau memang ia tidak pernah mencariku. Aku ragu.

Kami tenggelam dalam diam sambil mengunyah daging ikan panggang segar yang pria itu masak.

“Katakan, apa yang membuatmu kabur dari istana hey pria bodoh?”, aku mencoba membuat topik. Pria itu seperti tersedak ketika aku memanggilnya bodoh. Namun ia tidak mempermasalahkannya.

“kedua orang tuaku, berencana menikahkanku pada seorang wanita yang tidak ingin aku nikahi?”

“apa kau membicarakan pesta dansa itu?”, aku penasaran. Dadaku sesak, entah kenapa dengan tiba tiba. Jika yang ia maksudkan adalah pesta dansa di kerajaanku, maka artinya ia tidak ingin menikah denganku.

“benar. Tapi sepertinya aku harus kembali pada mereka dan mengatakan permintaan maafku”, ucapnya. aku mengangkat satu alisku sambil menahan debaran aneh di jantungku.

“kenapa?”, tanyaku.

“karena mereka tidak pernah salah”

“maksudmu?”

“mereka— tidak pernah salah dengan mengirimkanku ke sana. hanya saja aku sedikit kecewa dengan seorang gadis yang selalu bertindak seperti robot dan tersenyum tidak pada tempatnya. Jika saja dia lebih ekspresif, mungkin aku tidak akan kabur malam itu”

Aku menggigit lidahku. Apa yang dia maksudkan adalah aku? Apakah—-dia—- menyukaiku?

“bagaimana denganmu, nona Yuri? apa yang membuatmu kabur?”, dia bertanya padaku. Dadaku masih berdegup tidak beraturan.

“karenamu”, ucapku datar, refleks dan tiba tiba. Aku tidak mengerti kenapa aku mengatakan itu baru saja. Namun otakku dan lidahku tidak bekerja secara bersinergi.

“aku?”, pria itu membelalakkan matanya dan aku tidak bisa menghindar dari pertanyaannya. Aku tidak suka membuat masalah atau kalimat menjadi berbelit-belit. Aku sudah mengatakannya, dan aku harus menyelesaikannya.

“benar, pagi itu aku mengatakan pada Ayah bahwa aku akan menikahi pria pendek dengan baju kerajaan merah yang tidak pernah aku ketahui siapa namanya, dan ayahku marah karenanya. Ia mengatakan betapa bodohnya aku tidak mengetahui nama pria itu. kemudian Ayah pergi. Setelahnya, yang aku tahu, aku kabur”

Pria itu terlihat tersipu. Sama seperti apa yang kulakukan ketika aku mendengarkan ceritanya.

“dan sayang sekali— setelah aku bertemu dengan pria itu, aku tetap tidak mengetahui siapa namanya. Mungkin aku tidak akan bisa kembali karena ini”, ucapkku. Di akhir kalimatku, aku membentuk satu tawa unik di wajahku. Aku juga tidak tahu kenapa aku tersenyum, tidak ada yang benar benar lucu dari kalimat yang aku ucapkan baru saja. Namun aku hanya melakukannya, tersenyum.

Pria itu mematung di depanku, aku menatapnya. Dan kami terlibat kontak mata. aku tidak tahu sejak kapan ia menggenggam tanganku.

Ia tersenyum dengan lembut, kemudian bibirnya menyentuh dahiku. Aku terkesima dan tidak mampu bertindak apapun selain diam.

Dia tersenyum kembali, namun kali ini dengan satu kalimat singkat yang akan aku ingat sepanjang hidupku.

“kau telah menunjukkan senyummu yang sempurna, aku berikan ini sebagai hadiah. Dan mulai sekarang sebaiknya  kau pulang dan bertemu dengan ayahmu, katakan padanya.. pria tanpa nama itu bersedia menikahimu. Dan tolong tulis namanya dengan jelas di undangan kerajaan. Kyungsoo. Namanya Kyungsoo, dan dia— mencintai Yuri”

.Enchanted

Cafe.

Suara lonceng dari pintu cafe membuyarkan lamunan gadis dengan pena di tangannya. Americano nya masih utuh di atas meja, ia sama sekali tidak menyeruputnya sejak cangkir itu datang. Ia tidak melihat pria yang duduk di seberangnya dan menatap jamnya sejak tadi. gadis itu menoleh ke seluruh penjuru ruangan dan tidak menemukan pria itu dimana mana.

Ia berdiri dan mencoba memperhatikan seluruh ruangan cafe itu sekali lagi. dadanya berdetak tidak terkendali. Ia kehilangannya, ia kehilangan pria itu.

Gadis itu bergegas ke toilet ketika ia mulai merasakan satu butir bening dari pelupuk matanya menetes. Dengan sepatu tinggi dan gerakan cepat, ia berjalan ke arah toilet berada. toilet itu berhadapan dengan toilet pria.

Hanya sekilas, sangat sekilas, gadis itu bisa melihat pria yang ia cari di dalam toilet pria dengan wajah yang teduh. Pria itu menggunakan wastafel dan menggunakan air dari kran yang gemericik mengaliri tangannya.

Air gemericik itu masuk dan menembus gendang telinga si gadis dengan cepat. Pikirannya kembali melayang.

Gemericik air ini seperti suara lonceng di satu hari yang indah, Kyungsoo. Kau ingat bagaimana pakaian mu sobek karena tersangkut di pintu atau gaun pengantinku terinjak oleh kakimu dan aku terjatuh di tangga. Kau tertawa, kita tertawa. Hari itu begitu indah. Kau ingat?

.Enchanted

 

“kau menginjak gaunku, bodoh”, aku memakinya ketika pemberkatan pernikahan kami selesai. Kami masih harus melakukan ritual kerajaan dengan menaiki kereta kencana dan berputar ke seluruh negeri, menerima ucapan doa dari seluruh rakyat. Belum lagi berbagai jamuan dan pesta yang hadir setelah ini.

“maafkan aku, aku hanya terlalu—-canggung”, aku menatap matanya. Kami menaiki kereta kencana yang tertutup. Aku memegangi tangannya. Ia berkeringat.

‘kau tidak perlu khawatir. aku ada bersamamu”, aku membisikkannya di telinga Kyungsoo. Mataku terpejam ketika bibir kami bertemu, aku bisa mengetahui bagaimana dan sedalam apa pria ini mencintaiku ketika ia dengan perlahan memberikan ciuman lembutnya padaku.

Kami harus berhenti ketika pengawal kerajaan membuka kelambu kereta kencana kami. Aku harus melakukan ritual ini, namun aku merasakan ini bukan seperti tekanan dari kerajaan seperti apa yang aku rasakan sebelum menikahi Kyungsoo.

Ini lebih seperti— perjalanan indah.

“kuharap sekarang dan selamanya, aku bisa bersama denganmu, Yuri”

.Enchanted

Kuharap sekarang dan selamanya, aku bisa bersama denganmu, Yuri.

Kata kata itu masih terngiang di telingaku. Kyungsoo mengatakannya ketika kami berada dalam hari pernikahan kami.

Hari ini adalah tahun ke 30 merayakan ulang tahun perkawinan kami. Dan aku tidak sadar bahwa aku sudah hidup selama 30 tahun dengan Kyungsoo. Rambutku sudah tidak sehitam dulu, Kyungsoo sudah tidak segagah dulu. Kami berdua telah memiliki anak dan cucu dari 30 tahun perkawinan kami.

Dan kini, yang kulakukan adalah terbaring sepanjang hari di atas kasur dengan sprei putih di dalam istana. Kyungsoo berbaring di sebelahku, dan kami melakukan obrolan tidak penting sepanjang hari .

Suaraku tidak sejernih dulu dan pendengaran Kyungsoo sudah melemah. Kadang kami harus berdebat hanya karena kesalahpahaman dalam pendengarannya.

Kyungsoo memang berada bersamaku. Aku percaya hari dimana ia mengatakan bahwa ia akan selamanya bersama denganku. Tapi hari ini, ketika kami tumbuh lebih tua bersama, ada satu hal yang aku ragukan.

“Kyungsoo—“, ucapku lemah, pria itu tidak menoleh.

“Kyungsoo—“, ulangku, ia menoleh ketika aku bicara dengan nada lebih keras. Ia menatapku dengan seluruh kerutan di wajahnya.

“Kyungsoo, apakah kau masih yakin jika kita akan hidup berdua selamanya? Kau bersamaku dan aku bersamamu?”, Kyungsoo menaikkan satu alisnya, ia tersenyum. Bukan deretan gigi putih lagi yang aku lihat, kali ini deretan gigi rapuh, menguning dan ompong di sana.

“kita akan selamanya berdua. Sudah kukatakan padamu di hari pernikahan kita, Yuri”

“tapi itu terdengar tidak masuk akal. Di antara kita, entah kau atau aku, pasti akan menutup mata dan pergi dari dunia suatu hari. Salah satu dari kita pasti akan meninggalkan yang lain. Aku tidak yakin bahwa aku bisa hidup selamanya bersamamu, Kyungsoo”

Kyungsoo menghembuskan napasnya dan menatap ke langit-langit.

“Yuri—“ ucapnya rendah, aku menoleh dengan tubuhku yang bergetar.

“Yuri—kau percaya reinkarnasi?”, sahutnya. Aku mengangguk lemah.

“jika nanti aku bereinkarnasi di kehidupanku selanjutnya, yang kucari adalah dirimu. Aku tidak akan mencintai orang lain selain dirimu. Walaupun setelah itu aku mati dan aku bereinkarnasi lagi, aku hanya mencintaimu. Kumohon kau percaya, dan ingat aku di dalam seluruh hidupmu. Ingat hari ini”

Aku menatapnya, air mata berlinang dari mataku yang mengendur. Ia memegangi tanganku. badanku bergetar hebat, napasku menjadi sangat sesak. Pria di sebelahku, terbatuk hebat dan aku memegangi dadanya.

“ingat hari ini—ingat bahwa aku, masih akan mencarimu di kehidupanku yang lain, aku sampai kapanpun, akan tetap bersamamu. jangan menangis, jangan lagi menunjukkan senyum palsumu. Aku akan ada bersamamu dan membawa hari indah kau kembali”

Kasur berguncang hebat, dan aku bisa merasakan apa yang terjadi selanjutnya. Kyungsoo—pria itu menutup matanya di akhir kalimatnya. Musim gugur, aku bertemu dengannya di musim gugur dan aku kehilangannya di waktu yang sama. Aku tidak merasakan tangan dengan aliran darah atau denyut nadi kuat di genggamanku.

Napasku sudah sesak dan pandangan mataku buram. Kyungsoo sudah pergi lebih dahulu, dan mungkin ini saatnya aku pergi.

Aku bahagia hidup bersamamu, Kyungsoo. Jika aku bereinkarnasi nanti, tolong jangan mencintai orang lain, jangan menunggu orang lain selain aku. Aku akan selalu menunggu hari di mana kau dan aku bisa bersama sampai tua seperti hari ini.

Dadaku sangat sakit, aku tidak tahu apa yang membuat tenggorokanku sangat haus. Aku mengejang, dan akhirnya menutup mataku untuk selama-lamanya. Di sebelah pria ini, pria yang kucintai seumur hidupku.

.Enchanted

Cafe.

“maaf nona, kau menghalangi jalanku”,  gadis itu menyingkir dari jalanan antara toilet wanita dengan pria. Seorang pria kecil yang sejak tadi ia perhatikan, membuatnya harus melakukannya. Pria itu bernama Do Kyungsoo, dan dia adalah seorang manager di salah satu perusahaan di dekat cafe tersebut. Yuri melengos dan menatap wajah pria itu sekilas, ia tersenyum lembut dan membiarkan pria itu melewatinya tanpa ekspresi.

Kyungsoo, pada akhirnya… kau yang tidak mengingat apapun. bahkan kau lupa bagaimana aku tersenyum padamu? Apakah hanya aku— hanya aku yang bisa mengingat semuanya sendirian?

Gadis itu berjalan lemah, mengurungkan niatnya ke kamar kecil. ia menghapus air matanya dengan selembar tissue kemudian duduk di tempatnya kembali. Ia mengambil pena dan menyeruput americano nya yang sudah dingin. Pria bernama Kyungsoo masih sendiri, duduk di tempat lain sambil beberapa kali menangkap mata Yuri yang diam-diam memperhatikannya.

Sebuah lagu diputar di dalam cafe. Versi accoustic.

There I was again tonight
Forcing laughter, faking smiles
Same old tired lonely place

Walls of insincerity,
Shifting eyes and vacancy
Vanished when I saw your face

All I can say is it was enchanting to meet you

Your eyes whispered, “Have we met?”
Across the room your silhouette
Starts to make its way to me
The playful conversation starts
Counter all your quick remarks
Like passing notes in secrecy

And it was enchanting to meet you
All I can say is I was enchanted to meet you

Kwon Yuri, nama gadis dengan pena yang mencoba mencuri pandang pada Do Kyungsoo kali ini mengaduk americano nya yang mulai mengental. Dia mencoba mengalihkan pandangan curiga Do Kyungsoo padanya.

Pria di seberangnya hanya berdecak dan menggeleng kemudian melihat kembali pada angka yang lebih besar di jam tangan mahalnya. Yuri menatap daun berguguran yang semakin intens di luar jendela cafe. Lagu western yang menyejukkan jiwanya kembali merasuk melalui gendang telinganya.

This night is sparkling, don’t you let it go
I’m wonderstruck, blushing all the way home
I’ll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you

i was enchanted to meet you, huh?”, Yuri tertawa sinis. Ia mengalihkan pandangannya pada seorang gadis muda yang sedang berjalan dengan terburu-buru di luar jendela cafe. Arah kakinya perlahan dan pasti menuju ke cafe yang ditempatinya saat ini.

Lonceng pintu berbunyi dan gadis muda itu masuk. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, seperti mencari sesuatu. Gadis itu melebarkan senyumannya dan melambaikan tangan ketika seorang pria mengangkat tangannya.

Do Kyung Soo di sana, dan melambaikan tangan pada gadis muda itu.

Yuri melihat semuanya dan dengan lambat, ia bisa mendengarkan lirik selanjutnya dari lagu yang diputar di dalam cafe itu.

The lingering question kept me up
2 AM, who do you love?
I wonder ’til I’m wide awake
And now I’m pacing back and forth
Wishing you were at my door
I’d open up and you would say, “Hey,
It was enchanting to meet you,
All I know is I was enchanted to meet you.”

Yuri melambat, gerakannya melambat seperti sebuah slow motion.  Ia bisa melihat bahwa Kyungsoo dan gadis muda itu duduk di tempat yang sama. Mereka tertawa dan bercanda, obrolannya mengalir secara ringan. Sedangkan Yuri hanya bisa memperhatikan mereka berdua dari jauh.

Dadanya sesak, kakinya menjad tidak berasa sama sekali. Pandangannya blur, ia menggigit bibirnya sendiri.

Yuri merengkuh satu kertas di atas mejanya. Ia menyobek satu lembar dari buku kecil miliknya. Ia membuangnya sembarangan. Gadis itu berdiri. Ia berjalan dalam langkah pelan, melewati tempat duduk pria dan gadis itu.

This is me praying that
This was the very first page
Not where the story line ends
My thoughts will echo your name
Until I see you again
These are the words I held back
As I was leaving too soon
I was enchanted to meet you

Alunan musik masih bergelayut di telinga Yuri. ia berjalan pada kasir dan membayarkan beberapa lembaran uang di sana. ketika ia berbalik dan mulai membuka pintu, ia menangkap pandangan mata Kyungsoo sekilas sekali padanya.

Yuri tersenyum, meskipun ia tahu itu tidak akan berefek apapun. mereka telah bereinkarnasi, namun hanya Yuri yang memiliki ingatan lengkap tentang kehidupan mereka di masa lampau. Namun begitu, senyuman yuri adalah tulus. Seakan ia memberikan senyuman terakhir tanda perpisahan pada pria itu.

Lonceng pintu berbunyi, dan Yuri keluar dari cafe itu.

“helo sonsaengnim? kau mendengarkanku?”, gadis muda di depan Kyungsoo memanggilnya karena pria itu terus menerus menatap pada pintu cafe.

“Hani-ah.. maafkan aku… sampai di mana tadi? bagaimana suamimu?”, Gadis bernama hani itu tertawa.

“kenapa kau harus menanyakannya. Aku memiliki seorang anak darinya. Ah~~ kau benar benar tidak berubah sonsaengnim. Sudah 5 tahun aku tidak bertemu denganmu. dan kau masih linglung seperti ini. haha”, gadis itu tertawa terbahak-bahak sambil beberapa kali memanggil Kyungsoo sebagai sonsaengnim.

Kyungsoo tertawa dengan sopan, namun tatapannya lekat ke luar jendela, dimana ia bisa melihat punggung dari seorang wanita dengan pena di tangannya. Angin musim gugur menerbangkan rambutnya ringan. Membuatnya harus beberapa kali menyisir rambutnya dengan jari. Kyungsoo tersenyum.

“—apa kau sudah menikah? Apa kau sudah menemukan orang yang kau cintai. Sonsaengnim?”, Hani, gadis itu mencecar Kyungsoo dengan pertanyaannya. Pria itu masih menatap keluar jendela.

“sudah, aku sudah menemukannya sejak lama—“

jinjja? Dimana kau menemukannya? Apa dia cantik? Aku harus tahu karena kau adalah guru terbaikku. Kau harus dapat yang terbaik untuk hidupmu—“

“kau tidak perlu khawatir, Hani. Dia sangat cantik, dengan gaun putih dan cahaya lampu dansa yang gemerlapan. Dia sangat cantik bahkan ketika dia basah kuyup di dalam sungai, dia sangat cantik bahkan ketika dia khawatir akan kesehatanku—dia sangat cantik, bahkan di sisa dari akhir hidupku—“

Hani mengernyit dan memukul pundak Kyungsoo dengan pelan. “kau ini masih saja seperti dahulu, gemar berbicara nonsense, sonsaengnim” ia protes.

Kyungsoo hanya tertawa lemah, ia kembali menatap punggung wanita yang semakin menjauh di balik jendela. Ia bergumam di dalam hatinya.

Yuri, aku menemukanmu. Sampai aku datang padamu… tolong jangan pernah mencintai orang lain… jangan membuat pria lain menunggu cintamu..

Yuri sedang berjalan ketika  ia merasa seseorang memanggilnya, ia menoleh dan menemukan jendela cafe besar dengan Kyungsoo di baliknya. Pria itu tersenyum pada Yuri. Yuri mencoba mengedipkan mata berkali-kali, barangkali ia kemasukan sedikit pasir yang diterbangkan angin, namun ia tidak salah lihat. Kyungsoo… pria itu tersenyum lembut padanya, seolah ia dan Yuri sudah mengenal lama.

Yuri tidak bisa berbohong bahwa ia tidak merindukan senyuman itu. Yuri membalas senyuman Kyungsoo singkat dan melambaikan tangannya, ia berbalik, membawa tas tangannya dan penanya berayun singkat. daun-daun berguguran menghiasi senyumannya.

“kau mengingatku, Kyungsoo… kau mengingatku.. pada akhirnya”, gumam gadis itu rendah.

Please don’t be in love with someone else
Please don’t have somebody waiting on you

“aku tidak akan mencintai siapapun, selain dirimu, Kyungsoo-ah”

Yuri Kwon, gadis itu tersenyum.

Do Kyungsoo, pria itu tertawa.

Tinggal terserah takdir, mengatur bagaimana mereka harus berakhir selanjutnya.

They were enchanted to meet each other.

THE END

BAGAIMANAAAA? aku baru pertama kali bikin FF setting dua plot begini. semoga mengerti yaaah.

NEXT –> TAO -YURI.

wohooo…. mungkin abis lebaran baru di post. thanks ya. minal aidin🙂

nb : bonus lebaran, gak aku protect. itung itung THR hahaha

144 thoughts on “Enchanted – From EXOYUL Series

  1. riakwon berkata:

    keren unnieeee >< ini kyungsoo first bias aku di exo wkwkw XDD
    huwee keren keren jalan ceritanya nya unn😀 aku ngerti kok unn jalan ceritanya hehe

  2. destyanisn berkata:

    argh exoyul ;;;;;; joha joha! baru pertama baca fanfic kyungyul, dan langsung ngena. alurnya keren, baru nemu yang begini, bacanya jadi senyum2 gyahahaha~ i beg for the afterstory if you don’t mind. keep it up author-nim!

  3. chohyury berkata:

    Hwa~ keren keren…
    Daebak…
    Ini yg nama.a cinta sejati…
    Hahahahaha…
    Emang epep mu selalu keren eonn…

  4. disty_minyul99 berkata:

    Annyeong author,,
    aku new reader di sini..salam kenal..
    ff nya bagus banget, apalagi castnya yuri biasku..
    aku minyul shipper unn…kpn2 boleh request ff ya…

  5. Linda Aslyah berkata:

    nyentuh dan suka banget alurnya. beda dari ff yang lain.
    Unnie hebat, aku aja belum bisa2 bikin ff fantasy *curhat
    ditunggu series yang lainnya ya Unn🙂 mangaaat kaka :**

  6. janemaris berkata:

    ahhh eonnie aku sempet ngira itu si kyungsoo lupa sama yulnie eh ternyataaaa. kalau memang uda benerbener true gak bakjal kemana. tapi ff ini kurang cetar eon banding exoyul yang lain. ehehehe

  7. Dhea Kwon berkata:

    Aaww~~ Sosweet bnget matinya breng2 gtuu..
    Kraiin bkal sad ending soalnya ada cwe yg sma si D.O itu, ehh.. trnyata happy ending yiipppiii!!
    DAEBAK as always lah!!

  8. HanY berkata:

    Kyaaaa so sweet ich critanya…
    Sempet bingung dly d alur maju mundur nya..
    heheh

    Kreeen dewh kta” Kyungsoo nya, meskipun sempet kasian ma Yul onn nya smpet g d knal dly ma dy..
    Tp akhrnya…
    HAPPY..

  9. Luluu berkata:

    Uwaa.. aku tadi ud waswas Kyungsoo bakal lupa.. eh trnyaya ingt😀 hehehe
    suka bgt kaknyun… meskipun awalnya bingung, tp akhirnya aku ngerti sama alur maju mundurnya hehe.. goodjob kaknyun!
    Keep writing yaa~

  10. seria berkata:

    ya ampun.. Keren bgt nyun! Huah!! Bner2 romantis.. Cinta sejati~ arrrggghh.. Nyun.. lafh yah soo!

  11. Reader1 berkata:

    Awalnya bingung, kenapa ada cerita tentang kerajannya, ternyata reinkarnasi.
    keren kok thor. Ikutan sedih waktu d.o kayak ga kenal sama yuri.
    Semoga author bakal post yg castnya d.o lagi, kekeke

  12. zelo berkata:

    Keren kak o.o daebak!! Kayak film ceritanya hahaha, sayang do nya pendek/? Wkwkwkwk trims ceritanya ya kak😉 menghibur kami para.pembaca/? Good luck buat kak nyun ya lopelope ({})

  13. Jelita berkata:

    Kyaaa… Kaknyun… Main cast’ny Kyungsoo-nie.. Tatapan teduhh, Tertawa, aku bs bygin gmn cra dn mempesonany dia tertwa meskipun dismping sungai… Enchanted… Hwaaa… Jinjja Daebakk kk… Gumawo yoooo🙂🙂

  14. Dhean Kwon berkata:

    bikin mata bengkak bca mi ff q gk tau hrus ngomong ap tpi ff ni emang jjang mulai dri baca ampek abis airmata q gg henti”nx kluar tpi syukur happy ending, sumpah ff cingu keren bgt…

  15. Airin berkata:

    Kerennn kak,sampe nangis terharu bacanya :’) kirain d.o ingkar janji sama yuri eh ternyata engga^_^ swett dahh👍

  16. aloneyworld berkata:

    Woaahhh sumpah kak ini keren banget😀 walau sempet dibikin bingung sama settingnya akhirnya ngerti juga😀 ternyata reinkarnasi dan dua-duanya masih inget😀 aku kira kyungsoo bakal ngejar yuri terus bilang dia juga masih inget semuanya ternyata ngga😦 tapi yaudahlah toh nantinya mereka ketemu lagi😄

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s