THE STEWARDESS [Part 3]

The stewardess 6

duile part 3 nih kelar. untuk disclaimer, bisa lihat teaser/prolog.

***

jinjja…”, yuri menendang kerikil di depan bandara ketika ia mendapatkan jam nya sudah menunjukkan angka yang lebih besar dalam setiap detiknya. Dia menggeleng dan menghela napas bergantian kemudian pikirannya menerawang.

Memori kemarin malam masih lekat di otaknya. Tentang bagaimana Yoochun pergi ke bandara dan kembali ke Seoul karena Ibunya yang kecelakaan. Yuri berkacak pinggang ketika Jaejoong datang di depannya sambil menyeret sebuah koper.

“kau terlambat, oppa”. Ucapnya datar, Jaejoong tertawa. Dengan kacamata hitam yang ia pakai; sepatu sneakers dan celana jeans yang skinny, dia melangkah lebar mendekati Yuri dan merebut tangan gadis itu. Yuri berdecak ketika mereka mulai berjalan bersebelahan sambil membawa koper di tangan masing-masing.

“dan untuk alasan apa kau pulang ke Korea, oppa?”, Yuri bertanya ketika mereka telah melewati pemeriksaan bandara, ia berjalan dengan sedikit pelan; menyamakan ritme dengan Jaejoong.

“keluargaku memintaku pulang. Mengenai warisan dan perusahaan Ayah kurasa”, Yuri mengangguk. Ia memikirkan bagaimana perusahaan besar multinasional menjadi bahan perbincangan ketika pemegang saham utamanya tiba tiba terkena serangan jantung. Ya, Ayah jaejoong adalah pria itu. dan Jaejoong adalah salah satu dari orang terkaya di Korea.

Dia memilih pergi dan menjadi pekerja serabutan di negeri orang daripada mengelola perusahaannya. Dari yang Yuri dengar, Jaejoong mendapatkan 75% dari seluruh harta dan saham ayahnya di Korea. Namun begitu, kekayaan itu baru dapat diberikan ketika Jaejoong berusia 25 Tahun.

“jadi kau akan berulang tahun dalam waktu dekat, oppa?”, Yuri teringat. Jaejoong hanya tersenyum kemudian memalingkan wajahnya ke atas langit.

“dalam 2 minggu ke depan, jika aku tidak salah ingat”, Yuri memukul ringan pundak pria itu.

“aku sedang tidak bercanda”

i am not

Yuri memajukan bibirnya dengan lucu, kemudian mereka berpisah di saat yuri pamit menuju ruang ganti pramugarinya. Jaejoong duduk di seat reguler yang tersedia di sana. di sebelahnya adalah seorang wanita muda dalam usia 20-an yang sedang asyik membaca sebuah majalah. Wanita itu cukup tinggi bahkan dalam posisi duduk; rambut hitamnya tergerai indah di belakang bahu dan pergelangan tangannya dihiasi oleh sebuah jam buatan Paris yang sangat mahal.

Jaejoong duduk di tempatnya sambil melihat sekilas pada wanita itu dan mengerutkan dahinya. Ia yakin pernah melihat wanita ini di suatu tempat namun dia tidak begitu peduli.

Di tempat lain, Yuri sedang menata rambutnya dengan rapi di depan sebuah cermin besar. Seperti biasa, ia menyempatkan diri membaca buku kecil yang selalu ia bawa bersama dirinya. Buku kecil itu ia genggam dengan penuh kerinduan. Ia buka lembar demi lembar di sana sampai ia tiba di halaman terakhir. Mukanya memerah, seakan asap keluar dari tiap lubang dari pori-porinya.

Ia membaca tulisan kecil yang tertera seperti cacing merayap di atas kertasnya.

aku menyukai halaman terakhir. Aku ambil’

Yuri menatap sobekan di sana, ia hampir lupa seharian kemarin ia tidak pernah sekalipun melirik ataupun mengecek dengan teliti buku diary nya. satu lembar telah hilang dan dia bisa mengetahui pada siapa ia harus mengepalkan tangannya.

“Park Yoo Chun. pria sialan itu”

Yuri meremas bukunya erat, jika ia tidak mengingat bahwa pesawat akan segera terbang, dia mungkin sudah mencincang buku itu menjadi beberapa bagian agar tulisan cacing itu hilang dari sana.

Hari itu adalah tepat hari kerja bagi Yuri dan hari kemana ia harus kembali ke Korea. Roma sudah harus ia tinggalkan. Di satu sisi ia bernapas lega karena ia tidak bertemu dengan berbagai nasib buruk selama dia berada di Roma, di sisi lain, dia merasa sedih.

Kesedihannya berawal dari bagaimana Jaejoong kembali juga bersamanya ke Korea. Jaejoong adalah anak dari seorang milyarder di negara ginseng, berkelas, tidak mudah di sentuh orang asing. Dan artinya, ia memiliki sedikit waktu untuk sekedar bersua dengan Jaejoong begitu pria itu mendarat di dataran Korea. berbeda dengan di Roma, Jaejoong hanyalah pemandu wisata biasa; sahabat sekaligus pria yang mencuri hati gadis itu dengan diam-diam.

Yuri melihat jam tangannya. Ia keluar dari kabin khusus pramugari dan berjalan gontai ke tempatnya. Hari ini ia harus berdiri di kabin reguler, tepat di mana Jaejoong berada. ia diberi tugas memberi peragaan keselamatan di depan. Beberapa kali mata Yuri dan Jaejoong bertemu dan Yuri dibuatnya gelisah dan malu.

“ada yang ingin kau pesan, Tuan dan Nyonya?”, Yuri menunduk sopan pada setiap penumpang. Ketika ia sampai di kursi Jaejoong dan seorang wanita di sebelahnya, ia sedikit tersenyum.

“cukup air mineral”, sahut si wanita muda. Yuri mengangguk dan mempertanyakan satu pertanyaan yang sama pada Jaejoong. Pria itu menggeleng dan menunjukan satu air mineral di tangannya. Yuri mengangguk dan segera berbalik. Namun di detik senggang yang ia buat, matanya sempat menangkap Jaejoong yang dengan erat memperhatikan wanita muda di sebelahnya.

Yuri memutuskan pergi dari sana tanpa banyak spekulasi.

“Ham Eun Jung-ssi”, Jaejoong membuat satu kalimat dengan nada tanya yang kuat pada wanita muda yang duduk di sebelahnya. Wanita itu sontak meyibakkan majalah dari wajahnya dan membuka kacamata hitamnya. Selama beberapa detik ia memperhatikan pria yang baru saja menyebut namanya. Kerutan di dahi; mata yang kebingungan dan bibirnya bergerak pelan, dapat menyiratkan secara penuh bahwa wanita itu berpikir keras.

“aku Kim Jae Joong. Kau ingat? kita pernah berada di SMA yang sama”

Eunjung –nama wanita itu, menepuk tangannya keras ketika Jaejoong menyebut namanya sendiri. Ia tertawa kemudian menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Ia menyodorkan tangan putih nya pada pria itu dan tersenyum lebar, mengguratkan keinginan bertemu yang terpendam.

what a time. Kim Jae Joong-ssi, sudah kuduga kau akan tumbuh begini tampan”, ucapnya memuji. Wanita itu menatap lekat jaejoong dan menepuk nepuk pundaknya. Dari jauh, tanpa tahu adanya sedikitpun clue, Yuri menatap mereka dan menggenggam air mineral yang dipesan wanita itu kuat-kuat. Perasaan sesak dan kesal berkumpul menjadi satu titik dan membuat napasnya terengah.

“Yuri-ssi, kau merusak botolnya”, ucap salah seorang wanita dengan baju sama seperti Yuri. Yuri tersentak dan mengangguk sopan sambil meminta maaf. Ia mengambil nampan dan sebuah gelas kemudian menempatkan botol dan gelas itu di atasnya. Ia berjalan membawa nampan itu dengan permukaan telapak tangan yang berkeringat. Ketika ia tiba di dekat tempat duduk Jaejoong, pria itu sama sekali tidak mengindahkannya. Jaejoong terlihat sibuk tertawa dan mengobrol sesuatu yang tidak bisa Yuri tangkap dalam waktu singkat.

“permisi, ini air mineral nya”, Yuri mencoba tersenyum dan bersikap profesional, tapi ia yakin ia pasti terlihat aneh saat ini.

ah, thanks”, sahut wanita muda itu. Yuri melirik ke Jaejoong sesaat dan pria itu terlihat memegangi ponselnya –seolah ia menolak kontak mata dengan Yuri.

“semua pria di dunia ini sama saja”, Yuri membisik pelan dan menatap sebal pada Jaejoong

what?”,  wanita muda itu menatap Yuri lekat, terganggu dengan apa yang dikatakannya.

Ah, Sorry. Sorry. Nothing at all”, sahut Yuri sambil mencoba berlalu menghindari tatapan kesal wanita itu. ia hampir saja bisa menjadi bulan-bulanan jika masih tetap di sana.

Yuri menetap di kabin khusus setelah tugasnya selesai, ia menatap sampul dari buku diary nya, namun keinginannya untuk menulis musnah sudah. Yang bisa ia lakukan sampai mendarat hanyalah duduk duduk santai dan mengistirahatkan kaki dan tubuhnya.

The Stewardess

“Kau yakin tidak ingin kuantar?”, tawar Jaejoong pada Yuri. gadis itu menggeleng –masih dengan seragam pramugarinya. Ia mendelik sekilas pada satu sosok wanita yang duduk di jok belakang mobil Jaejoong. Jika Yuri tidak salah ingat, namanya adalah Ham Eun Jung. Jaejoong mengenalkannya pada Yuri ketika mereka tiba di bandara Incheon.

“rumahku dekat, jangan khawatirkan aku”, sahut Yuri, menyunggingkan senyuman palsu. Wanita yang duduk di jok belakang tersenyum tipis kemudian menutup jendela mobilnya segera setelah ia memakai kembali kacamata hitam mahalnya.

Yuri hanya bisa menghembuskan napas ketika mobil hitam mewah itu pergi dari hadapannya.

“penerbangan ke Roma beberapa bulan ke depan, akan menjadi membosankan jika tidak ada oppa di sana”, Yuri menarik kopernya dan berjalan singkat di kawasan bandara. Ia menemukan satu paman tua yang memiliki taksi biru langganannya, dan serta merta ia membukakan pintu untuk Yuri.

“ke rumah langsung?”, tanya ahjussi itu ketika Yuri duduk dan membiarkan kopernya di masukkan ke bagasi mobil. Yuri mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Ia tidak ingin hatinya yang gundah menunjukkan ketidakramahannya pada orang asing. Setidaknya ia telah belajar bagaimana menggunakan fake smile yang baik dan benar.

“bagaimana penerbanganmu hari ini?”, ahjussi itu cukup ramah. Dan Yuri tidak bisa menolak untuk tidak meresponnya.

“cukup baik, namun tidak lebih baik dari biasanya”. Ucap Yuri sambil melihat keluar jendela, ia bisa melihat lautan senja yang menguning di ufuk. Berbeda dari Roma, di sini lebih dingin di musim semi, sehingga Yuri masih bisa merasakan hawa hampir seperti es cair masuk melalui celah taksi yang di tumpanginya walau sudah tertutup rapat di sana sini.

“mengalami kejadian buruk?”, ahjussi itu dengan telaten bertanya, tanpa ada maksud ingin tahu atau mengorek informasi. Dia bertanya dengan nada khas  seorang ayah yang merindukan putrinya. Walaupun in fact,  yuri hanyalah seorang penumpang.

“sepertinya begitu”, ucap Yuri singkat. lagi lagi ia menunjukkan fake smile terbaiknya pada ahjussi tersebuut.

“kau— putus dengan pacarmu?”

Kalimat tanya ahjussi itu memang tidak terdengar lucu, tapi itu hampir membuat Yuri meledak di dalam tawanya.

“aku tidak punya pacar”, sahutnya sambil menahan tawa hingga pipinya menggelembung. Ahjussi itu mencuri pandang melalui kaca spion tengah di dalam mobil, ia memperhatikan ekspresi Yuri dengan telaten sebelum ia berkomentar.

“kau cantik, tidak mungkin kau tidak punya kekasih”, sahutnya. Yuri meremas bajunya dan melihat nanar ke luar jendela. Di tatapnya lampu jalanan yang mulai menyala dan matanya berkedip ketika sinar itu mulai merasuk pupilnya, perih.

Senyum Yuri mengembang tipis ketika ia tidak menemukan respon yang tepat dan ahjussi itu sibuk mengatur perseneling mobilnya –tidak mengindahkan pernyataannya sendiri. Setelah sekian menit lamanya, mereka tiba di satu perumahan sepi dengan beberapa satpam berjaga di depan. Yuri menyerahkan beberapa lembar mata uang won pada ahjussi itu dan mengangguk terima kasih.

Yuri bisa tinggal di asrama pramugari seperti biasanya ia lakukan, tapi kali ini mood nya membawanya pada tempat tinggal salah seorang kerabat jauhnya. Yuri biasa menyebutnya Kim ahjumma. Dia tidak secara langsung berhubungan darah dengan wanita dalam usianya yang kepala empat itu, namun setidaknya jika ditarik turun beberapa generasi, maka mereka adalah saudara ipar –dengan hubungan darah yang sangat jauh dan tidak masuk akal.

Tok. Tok .tok

Yuri mengetuk pintu salah satu rumah bercat ungu dan berpagar minimalis hitam. Rumah itu bergaya ala eropa dan satu satunya dengan patung air mancur di antara sederet rumah lainnya. Sangat mudah mengetahui apakah rumah itu berpenghuni atau tidak. Cukup lihat lampunya yang menyala di dalam. Kim ahjumma memiliki kebiasaan tidur tengah malam dan bangun siang bolong. Dia adalah seorang pemalas yang hidup bergelimang harta. Anaknya sudah bekeluarga dan suaminya sudah lama wafat, walhasil ia hanya sendiri di rumah besar itu.

Yuri menunggu di depan pintu sambil menyilangkan tangannya, sebagai informasi, dia telah berhasil melewati pagar –karena seperti biasa, pagar itu tidak terkunci. Suara derap langkah pelan terdengar di telinga gadis itu. ia melonggarkan dasi pramugari yang masih menempel di kerah bajunya sambil mendengar kunci yang berputar di knop berkali kali.

Ketika Pintu berhasil terbuka, ditatapnya sosok wanita paruh baya dengan rambut bob sebahu dan piyama ungu.

“Yuri~”, wanita itu menyambut hangat Yuri yang masih berdiri di depan pintu. Lelah Yuri kembali menyergap ketika dengan kencang, Kim memeluknya hingga ia kehabisan napas.

“sudah lama kau tidak kemari, ayo masuk”, ucap Kim  ramah. Ia menarikkan koper Yuri untuk gadis itu, namun Yuri menolak dan memilih membawa kopernya sendiri. Ia memasukkan kopernya ke dalam sebuah kamar tamu yang sangat familiar di matanya.

Yuri membuka bajunya dan bergegas mengambil handuk, sekilas ia pamit untuk mandi pada Kim. Kim mengangguk dan segera beranjak ke dapur, ia membuatkan Yuri teh dan beberapa kudapan yang dapat gadis itu makan segera setelah ia selesai membersihkan diri.

“Yuri, jika kau butuh aku, aku ada di ruang televisi”, sahut Kim sambil mengetuk pintu kamar mandi Yuri.

eoh”, sahutnya lemas.

Entah mengapa Yuri merasakan dirinya kehilangan gairah hidup setelah apa yang ia lihat tentang Kim Jae Joong.

“Ham Eun Jung— gadis itu sempurna”, Yuri memperhatikan dirinya sendiri di cermin kemudian sudut bibirnya membentuk lengkungan sempurna ke bawah, menunjukkan betapa kecewanya dia. Sesuatu di dalam gadis itu mengatakan bahwa keberadaan Ham Eun Jung sudah menghapus semua yang ia coba bangun dengan Jae Joong –walaupun itu hanya di dalam mimpinya.

Yuri keluar dari kamar mandi, ia bergegas membuka kopernya dan mengambil beberapa potong pakaian. Tanpa ba bi bu, ia segera memakainya dan berlari ke meja makan –seperti sudah tahu bahwa di sana ada kudapan untuknya.

Ia menghirup aroma teh yang dibuat Kim terlebih dahulu sebelum menyeruputnya pelan-pelan. Kudapan kali ini adalah kue keju. Bukan favoritnya, tapi cukup untuk membuat perutnya sedikit lemas. Yuri tidak dapat makan terlalu banyak di waktu malam. Seperti yang dia katakan ke orang-orang di sekitarnya, dia mempunyai program diet.

Kim datang tidak lama setelah Yuri mendengarkan Televisi di ruangan sebelahnya mati. Wanita pendek itu tersenyum sekilas kemudian duduk di kursi bersebrangan dengan Yuri. ia menatap lekat bagaimana Yuri dengan beringas menghabiskan kue kejunya kemudian tersedak.

“pelan-pelan”, nasihatnya. Yuri hanya terkekeh kemudian meminum teh nya dengan segera ;terlepas dari panas atau tidaknya. Yuri merasa lidahnya terbakar, tapi setidaknya ia sudah tidak tersedak.

“Yuri-ah, ada yang ingin ahjumma katakan padamu”, Nada Kim berubah menjadi serius. Yuri menghentikan kunyahan kue nya dalam sekali kesempatan dan menatap wanita itu dalam satu arah pandang.

wae? kau terdengar serius sekali, ahjumma. Tidak seperti kau”

“hehe~”, Kim terkekeh sebentar, “ada yang harus kukatakan padamu, dan kurasa ini penting”

“sepenting apa itu ahjumma, sehingga kau membicarakannya di saat seperti ini? aku baru saja pulang”, sahut Yuri protes.

“maafkan aku sebelumnya, tapi—- ini menyangkut keluarga kita, dan kau”

“aku?”, Yuri melebarkan matanya. Ia menaruh kue yang masih ada di tangannya di atas piring, kemudian mengambil beberapa lembar tisu.

“tentang Ayah dan Ibumu—kurasa kau perlu tahu hal ini—“, Yuri menghela napas panjang.

“aku tidak ingin mendengarkan apapun tentang mereka yang pernah mengabaikanku”, sahut Yuri. matanya membara. “sekalipun mereka adalah orang yang sudah meninggal”, lanjutnya.

Kim menarik napasnya, mencoba mengumpulkan lebih banyak kekuatan dan kesabaran menghadapi gadis keras kepala di depannya.

“Tapi kau perlu mendengar ini, aku sudah cukup lama menyimpannya dan sudah hampir lupa bahwa aku mempunyai tugas untuk menyampaikan ini padamu, sampai akhirnya seseorang datang padaku kemarin dan mengingatkanku akan semuanya—“

Yuri menaikkan satu alisnya, “kau bicara cukup berbelit- belit hari ini, ahjumma. Apa yang kau bicarakan? apa yang kau simpah dan sembunyikan dariku?”

“mengenai orang tuamu, balas budi dan semuanya—“, Yuri baru saja akan membuka mulutnya namun Kim memotongnya, “—jangan potong aku sebelum aku selesai”

Mata mereka bertemu, dan Yuri tidak mempunyai pilihan selain diam.

“perlu kau ketahui, yang kau kenal selama ini sebagai orang tuamu adalah tidak lebih dari seorang penipu. Mereka bekerja demi uang. Kau bukan anak kandung mereka, dan aku, bukan ahjumma mu”

Mata Yuri melebar, pikirannya berputar, tapi dia menunggu kalimat Kim selesai sepenuhnya.

“kau adalah anak dari seorang kaya di Seoul. Pria itu memiliki 2 istri, dan kau adalah anak dari istri keduanya –istri gelap. Menghindari kontroversi, Ia menitipkan dirimu dan istri gelapnya pada pria yang kau kenal sebagai ayahmu selama ini. waktu berjalan dan semuanya berubah. Ayah kandungmu kehilangan istri pertamanya dalam kecelakaan, dan ia datang ingin mengambil kembali ibumu dan dirimu. Namun ayah angkatmu memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan ekonominya sendiri. Ia dan ibumu berkomplot dan menyembunyikan kau dari ayah kandungmu. Alasan ibumu cukup logis karena ia merasa dibuang—“

Kim menelan ludahnya yang sudah berkumpul di pangkal lidah, kemudian melanjutkan ceritanya.

“—suatu hari mereka meninggal dalam kecelakaan, dan sebelumnya, ibu kandungmu menceritakan semuanya padaku. Kami bertetangga, dan kami cukup kenal dekat. Ia menitipkan dirimu padaku dan mengatur rencana agar aku berpura pura hidup sebagai saudara jauhmu. Ia juga mengatakan bahwa suatu hari aku harus menceritakan ini padamu”

Suara Kim bergetar.

“aku ingin sekali menceritakan ini dari dahulu, tapi aku terlalu takut kehilangan dirimu. Aku sudah semakin tua, dan anakku sudah bekeluarga sangat jauh. Aku tinggal sendirian di sini, jika tidak ada dirimu, atau jika kau kembali pada ayah kandungmu, kau akan melupakanku— maafkan aku dan keegoisanku”

Yuri cukup tersedak ketika mendengar bait demi bait cerita tulus dari Kim. Ia juga menahan emosinya yang bergejolak. Jika ada yang bisa dipukul, mungkin ia sudah menendang sesuatu. Tapi Kim dan suaranya yang parau, membuat lautan api membara di dadanya perlahan memupus. Wanita itu setidaknya mencoba jujur pada akhirnya, dan lagi— ia akhirnya  tahu bagaimana perasaan wanita itu pada dirinya.

Yuri mengulurkan jemarinya dan mengenggam erat tangan Kim yang bergetar di atas meja. Kim menatap Yuri lembut.

gwaenchana,  aku bisa mengerti. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap bersamamu setiap aku memiliki waktu, ahjumma”, sahut Yuri, mencoba tersenyum.

Kim mengangguk perlahan, tersenyum. Tapi di detik selanjutnya ia menggeleng keras. Ketenangannya hilang.

“tidak bisa Yuri, semua sudah terlambat, sudah kubilang—kemarin orang itu datang dan memintamu kembali”

Yuri menaikkan satu alisnya, ia berpikir. Mencoba menyambungkan patah demi patah kata yang baru saja ia dengar dari mulut Kim, kegundahan Kim semakin terasa ketika Yuri mencoba menebak.

“jangan katakan—“

“benar, Yuri-ah. Ayah Kandungmu, Kwon Seung Ha. Dia datang padaku”

Yuri termenung, mencerna.

“a-apa yang dia katakan padamu, ahjumma?”

“memintamu, dia memintamu kembali padanya”

mworago?”

Yuri melepaskan tangannya dari Kim, ia memegangi tangannya sendiri. Berbagai spekulasi berputar di otaknya bergantian. Ia sendiri bingung harus berkata seperti apa. ia mungkin memiliki kegembiraan yang aneh karena mendengar kabar bahwa ia akhirnya mengetahui bahwa Ayah nya masih ada, di sisi lain… bertemu seorang Ayah kandung yang tidak pernah ia lihat dalam jangka waktu 20 tahun lebih selama hidupnya, mungkin agak sedikit mengkhawatirkan  baginya. Lagipula bagaimana bisa Yuri meninggalkan ahjumma yang dengan setia mendampingi hidupnya yang flat?

“aku akan bersamamu, kau tidak usah khawatir”, Yuri memberikan keyakinan yang ia sendiri ragukan. Kim menggeleng beberapa kali.

“tidak bisa, Yuri-ah. Dia ayah kandungmu dan dia lebih berhak memilikimu. Lagipula dia bukan orang jahat. Aku sering melihatnya di media, dan bahkan bertemu dengannya kemarin, dia orang yang sangat baik. Sama sepertimu, tidak heran mengetahui bahwa ia Ayah kandungmu”

“Tapi ahjumma… dia tetap orang asing bagiku. Aku bahkan belum sekalipun mendengar namanya”

“maafkan aku, Yuri-ah, tapi aku sudah menandatangani perjanjian dengannya. Kau akan ikut bersama Kwon Seung Ha, apapun yang terjadi. Hak asuhmu, ada di pria itu”

Yuri hampir saja memecahkan piring di depan mejanya dengan gerakan beranjak tiba tiba. Ia menyerang Kim dengan tatapan mautnya, giginya menggertak dan matanya menyala.

“kau bilang kau tidak bisa hidup bersamaku, ahjumma. Kau bilang kau sudah menganggap aku seperti anakmu sendiri? Bagaimana bisa kau menyerahkanku begitu saja dengan sebuah kertas pada pria asing, eoh? Katakan”

Kim memegangi dadanya yang mulai terasa sakit. Bibirnya bergetar, seiring dengan tangannya yang lebih sering terkulai menggantung di udara.

“m-maafkan aku”

Hanya sebaris kalimat singkat yang ia katakan. Namun yuri sudah merasakan sebaris itu adalah jawaban atas semuanya. Ia mengangguk cepat, membungkam mulutnya. Bibirnya bergetar, matanya mulai berair, dengan kasar, ia berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting pintu keras-keras –menunjukkan betapa banyak kekesalannya pada Kim. Di balik pintu, ia bersandar, berdiri dan merosot dalam detik selanjutnya. Ia memegangi lututnya dan meneggelamkan wajahnya di sana.

Kau tidak akan menangis Yuri, kau tidak akan menangis. Kau kuat

Yuri bergumam pada dirinya sendiri, namun detik berlalu, dan air matanya menetes satu persatu di atas lantai. rambutnya menutupi seluruh wajah yang ia tenggelamkan di antara lututnya yang ditekuk. Lantai keramik sudah basah oleh linangan air matanya yang menganak sungai. Napasnya menjadi berat, perih, hatinya perih.

Tidak pernah ada yang benar dalam hidupku. Tidak akan pernah ada.

The Stewardess

YURI POV

Aku baru saja mengepak barang-barang ku ke dalam koper dan berniat pergi dari rumah Kim ahjumma ketika ia berdiri di ambang pintu kamar dengan mata merah. Aku melihat cekongan di bawah bola matanya. Dia begadang lagi semalam, namun kali ini berbeda dari biasanya. Matanya memerah dan terlihat—bengkak.

Aku rasa dia menangis semalaman. Tapi siapa yang peduli pada wanita yang menukarku dengan selembar kertas pada pria yang tidak ku kenal.

“Yuri, dengarkan aku”

“aku sudah selesai, ahjumma. Aku akan pergi kembali ke asrama”

“tapi kau tidak bisa”, kudengar suara lemah ahjumma bergema di udara. Suaranya tidak mengandung harapan atau perlindungan seperti yang biasanya aku dengar lagi. dalam balutan skinny jeans dan kemeja putih yang kupakai, aku bisa merasakan aroma wewangian herbal dari deterjen herbal yang ia pakai untuk menyetrika bajuku di dalam koper. aku heran kapan ia melakukannya.

“aku bisa”, aku jawab singkat.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan ahjumma bergegas membukanya. Aku tidak tahu dengan siapa ia mengobrol, tapi suara desingan mobil yang cukup kencang membuatku penasaran dan menoleh ke jendela yang menghadap keluar. Aku mengintip dari jendela kamarku dan melihat sebuah mobil hitam glossy mirip dengan apa yang kulihat di film blockbuster terparkir memakan tempat di depan rumah.

Satu pria dengan sebuah headphone di telinganya berjaga di pintu jok belakang mobil. Aku tidak pernah mengingat ahjumma memiliki kenalan FBI atau semacamnya.

Aku cukup penasaran untuk terdiam dan membeku di kamarku, dengan sendal tidur yang masih kupakai di kaki, aku berjalan singkat ke ruang televisi yang lebih dekat dengan ruang tamu. Di sana aku bisa dengan lebih jelas mendengarkan apa yang ahjumma bicarakan dengan tamunya.

Aku melihat seorang pria berjas dan sangat berwibawa serta—–mirip sekali denganku, duduk di seberang ahjumma. Pria itu tertawa dan beberapa kali menundukan kepalanya mengucapkan terima kasih. Kemudian mereka berdua berdiri dan ahjumma mengatakan pada pria itu agar menunggu sebentar.

Ia berbalik ke arahku , dan aku segera bisa menebak apa yang akan terjadi.

Mereka menginginkanku.

Aku segera berlari, melupakan koperku, melesat ke dapur. Jika aku tidak salah ingat, di sana ada sebuah pintu yang menuju bagian belakang rumah ahjumma. Aku bisa kabur lewat sana tanpa diketahui siapapun. Lebih baik kabur sekarang daripada aku bertemu dengan pria yang mengaku sebagai ayah kandungku.

“Yuri? kau dimana?”, aku bisa mendengar ahjumma memanggil namaku. Dari kecilnya suara yang dihasilkan, aku tahu dia masih tertahan di kamarku. Mungkin dia bingung atau semacamnya. Aku sedang berdiri di ambang pintu dapur, masih berusaha dengan kunci karatan yang terpasang di sana. ahjumma tidak pernah menggunakan pintu belakang. Jadi wajar jika kunci nya berkarat.

“Yuri? kau dimana? Jawab aku, Yuri-ah”, suara ahjumma semakin dekat, dan aku bersyukur kunci pintu sialan itu dapat terbuka. Aku memutar knop nya dan menarik pintu itu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.

Aku cukup sial kali ini, pintu itu sudah sangat lama tidak dipakai, sehingga deritan yang dihasilkan cukup untuk membangunkan raksasa yang sedang tidur. Ya, ahjumma berlari dan mengejarku di dapur sambil meneriaki namaku.

“YURI ! berhenti di sana”, ucapnya mengertak. Aku menoleh sekilas,

“maafkan aku”, sahutku, aku segera berlari menjauh dari nya, aku keluar ke udara bebas dan berlari sekuat tenaga. Aku masih mengenakan sandal tidur yang tidak menyenangkan untuk dibawa berlari. Tapi satu satunya cara lari dari masalah aneh ini adalah segera meninggalkan rumah ahjumma hingga ia tidak bisa menemukanku lagi.

Aku pikir aku sudah cukup pintar untuk menemukan cara ini, dan sudah cukup kuat untuk berlari; namun nyatanya seorang penjaga mobil dengan jas hitam dan headphone di telinganya mengejarku. Ia berlari lebih kencang dari apa yang kubayangkan. Mungkin menyamai cheetah atau semacamnya. Dalam hitungan detik saja, aku berhasil ditangkapnya. Aku meraung, menginjak dan menendang tubuh pria itu. aku melakukannya berkali kali dan dengan sekuat tenaga. Namun pria itu menggengamku seperti aku adalah properti batu yang tidak bergerak.

Satu orang lagi datang dan mengunci tangan kananku sementara pria pertama mengunci tangan kiriku, tanpa ampun, aku di bawa kembali ke dalam rumah.

Inilah saat-saat paling tidak menyenangkan yang harus kuhadapi. Tatapan marah dari ahjumma dan tatapan aneh dari pria yang ada di depannya. Mereka berdua terengah engah, sepertinya baru saja kembali dari mengejarku.

“aku tidak ingin ikut denganmu”, sahutku kasar pada pria yang mengaku sebagai Kwon Seung Ha padaku.

“Yuri, jaga bicaramu”, ahjumma memperingatiku.

“ah, tidak apa, mungkin Yuri-ssi belum terbiasa denganku”, sahutnya. Aku hanya mendesis. Meragukan setiap nada ramah yang ada di kalimatnya. Menyebalkan.

Sejurus kemudian, yang aku tahu adalah mereka membawa koper dan memasukanku ke dalam mobil hitam glossy secara paksa. Aku seperti korban penculikkan saat ini. aku juga sempat kaget bahwa di dalam mobil itu terdapat beberapa koper yang aku kenal sebagai koper yang aku tinggalkan di asrama pramugari.

Mereka bahkan mengejarku hingga ke tempat itu, cih. Aku bergumam melecehkan.

Pria bernama Kwon Seung Ha, duduk di jok depan, di sebelah pria berjas hitam sebagai supirnya. Aku duduk di jok belakang, bersama koper dan satu pria yang mengejarku seperti cheetah.

“maaf jika kau tidak nyaman berada di jok belakang. Hanya mobil ini satu satunya yang tersisa”, Kwon Seung Ha berkata padaku. Aku tidak mengindahkan satu jengkal pun kalimatnya.

“ada sesuatu yang harus aku katakan dengan segera padamu setelah kita sampai rumah. Aku butuh bantuanmu, Yuri-ssi

Aku mengangkat alisku. Bergumam rendah dan mendesis keras. Sepertinya belakangan ini aku diterpa berbagai musibah. Mungkin ini akibat aku bertemu dengan pria brengsek bernama Park Yoo Chun. benar, semuanya berawal dari pertemuan dengan dia, kesialan-kesialan ini…

End Of YURI POV

The Stewardess

“YA PARK YOO CHUN! kau tuli? Eomma memanggilmu, bodoh” Park Sang Woo membuyarkan Yoochun dari lamunan singkatnya di meja makan. Ia terbatuk berkali kali kemudian meminum air mineral dengan segera. Ia memandang kakaknya yang duduk di arah berlawanan dengannya, kemudian memandang wanita penuh kharisma yang duduk di kursi ujung meja makan.

Dengan ragu, ia mengangkat wajahnya dengan ekspresi malas.

“ada apa, eomma?”, Yoochun bertanya singkat dengan nada canggung, ia sendiri segera menyibukkan pandangannya pada steak yang sedang ia potong dadu.

“sudah lebih dari sehari, kau belum memberikan jawabanmu, Park Yoo Chun-ssi”, dengan nada menyindir, wanita paruh baya itu bicara. Perhiasan di tangannya menunjukkan keangkuhan yang berlebih.

“sudah kubilang, eomma. Aku tidak akan menikah dalam waktu dekat. Sang Woo hyung mungkin lebih siap daripada aku”, pandangan mata Yoochun berhenti di tubuh kakaknya, Sang Woo sempat tersedak kemudian mengutuk Yoochun pelan.

“karier Sang Woo lebih cemerlang darimu, dia tidak bisa meninggalkan dunia itu sekarang karena pernikahan perusahaan. Hanya kau yang bisa, dan kau harus. Aku menipumu dan memaksamu kembali ke Seoul saat kau di Roma adalah untuk jawaban menyenangkan darimu. Kuharap kau mengerti, ini bukan pilihan. Ini kewajiban”

Yoochun menelan pil pahit dari kalimat ibunya. Lee Gi Ja, adalah wanita yang penuh percaya diri dan keras kepala. Tidak ada yang bisa membantah sedikitpun dari perintahnya, termasuk Yoochun.

“perusahaan kita sedang mengalami krisis karena ayahmu terus-terusan bergantung pada bank. Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah bergabung dengan perusahaan lawan dan mengurangi persaingan. Aku sudah setuju mengikat salah satu perusahaan melalui pernikahan. Dan kau bertanggungjawab untuk melaksanakannya”

Yoochun meletakkan pisau dan garpunya di atas piring dengan sedikit kencang. Dentangannya membuat Gi Ja, tersentak kaget.

“aku akan menikahi wanita yang aku cintai, eomma. Tidak seperti ini”

Yoochun beranjak dari kursi setelah ia menunduk sopan pada Gi Ja, ia menatap tatapan dari Sang Woo sekilas kemudian berbalik meninggalkan meja makan. Di langkah keduanya, ia bisa mendengar Gi Ja berkata dengan lugas –membuat semua kalimat Yoochun sebelumnya, luntur.

“kau bisa mencintai gadis itu di saat kau telah menikahinya, tidak usah merepotkan dirimu sendiri, Park Yoo Chun-ssi

Yoochun mendelik sekilas, kemudian ia menghembuskan napas beratnya.

“Aku ragu kau bahkan ibu kandungku”, dengan nada sinis, Yoochun meninggalkan meja makan. Gi Ja terlihat menahan emosinya, giginya menggertak dan ia memukul meja dalam satu kali kesempatan. Sang Woo sempat tersedak, kemudian memilih menyelamatkan dirinya dari meja makan yang sudah tidak aman.

Gi Ja mengepalkan tangannya.

“anak itu— benar-benar”

.TBC

 

Yah akhirnya Stewardess dulu yang update. setelah ini baru exoyul ver ya. diingatkan. NO SIDERS.

udah cukup baik aku ini FF ga ikutan di proteksi juga kaya Vibrance.

oh iya, buat yang nanya Password Vibrance, bisa tinggalin EMAIL KAMU ya di kolom komentar, atau bisa juga mention ke twitter aku @OnARainyNight .

untuk Vibrance part 6, sabar ya. aku emang belum nge draft. aku juga bukan robot kan. haha. jadi mohon kelapangan hatinya untuk bersabar.

sekian dan terima kasih. ini FF kalau mengalami hal serupa kaya Vibrance dan JMTB, maaf maaf aja, aku protect lagi. thanks.

120 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 3]

  1. Linda Aslyah berkata:

    Yuri-Yoochun❤ pairing baru dan like this yoo~
    ffnya seruu banget! dan jarang yang pake Yuri sebagai Pramugari cantik jelita.
    Yuri-Yoochun Yuri-Jaejoong dua2nya cocok!🙂
    next ditunggu ya Unn,

  2. janemaris berkata:

    Ampun dah eonn ternyata itu eommanya yucun oppa purapura tabrakan biar anaknya pulang? Itu katakata yuchun oppa yang tetakhir nusuk banget eon. Ampun dahh jaejung oppa eboy banget lu -_- itu janganjangan yulnie sama yuchun oppa mau dijodohin ya??

  3. Tansa berkata:

    Hmm Yuri kan suka sama Jaejoong
    tapi apa Jaejoong juga suka sama Yuri?
    Ahhh makin penasaran
    langsung baca part selanjutnya

  4. Pangeran sarda berkata:

    aku pikir ibunya yoochun sakit beneran,ternyata nipu.. kaknyun di part ini kenapa merasa sedih ya ?????
    kaknyun aq minta pw vibrance part 12-17 donx,pangeransarda@gmail.com

  5. sherlie wijaya berkata:

    Annyeong eonni ceritanya daebak banget jdi ngga sabat baca cerita selanjutnya
    keep writing eonni
    fighting
    gomawo

  6. sinta dewi berkata:

    Berhubung partny dah lengkap jd langsung lanjut aja ya…soal ff mah ga diragukan lg..ff kamu mah keren2 semua…

  7. liliknisa berkata:

    Makin penasaran kak nyun
    Dari yuri ketemu papah kandungnya yang asli.
    Dari yoochun dikibulin mamahnya buat dijodohin.
    Dari jeajoong balik kekorea buat nerusin perusahaan ayahnya karna sakit.
    Cusss part selanjutnya ^^

  8. wulan berkata:

    ternyata yuri, anak orang kaya yah…
    wah, mau minta bantuan apa tuh ayahnya yuri…

    yoochun mau dinikahkan?? sama siapa??

  9. Anonym berkata:

    Udah jaejong sama si ham-apaitutadi- ajan yuri sama yoochun😀 entah kenapa aku ngerasa yoochun bakal dinikahinnya sama yuri deh😀

  10. Ersih marlina berkata:

    Wah, banyak rahasia di masa lalu ternyata
    ckckck, wajar yuri ga mau nmuin ayah kandungnya, pasti yuri emang ngrsa kbuang gtu.
    Tapi cara yuri kabur aigoo, ngakak. Susah payah keluar, eh malah ktangkep jga

    kterlaluan ngbhongin yoochun tuh ibunya, ck pake d jodohin sgla lagi

    lnjut bca, fighting ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s