23

23 BY BAPKYR

Tittle                      : 23

Main Cast            : Luhan – Yuri

Genre                   : Horror

Rating                   : PG 15

Length                  : One Shoot

Disclaimer           : Poster made by me. Plot and the Idea were createn by me. cerita ini diadaptasi dari sebuah artikel Urban Legend yang Author baca di sebuah blog. Link menyusul (karena keterbatasan kuota modem). aku hanya mengambil ide angka 22 nya, selebihnya, adalah ide aku sendiri. Thank you karena sudah menghargai karya aku dengan tidak memplagiat isi dari Blog ini termasuk karya-karya aku.

***

Paradigma yang salah sudah menyebar. Seorang gadis duduk sendiri di tepian dermaga, menunggu barangkali ada cahaya yang menembus pupil matanya dan memberinya satu lagi harapan. Ia menunggu langit bercahaya kembali memancar di sekitar riak air laut yang ia ciptakan dengan ayunan kakinya.

Disaat suara serak daun yang bergumul dengan angin terdengar, gadis itu menoleh ke belakang. Dilihatnya satu dataran kosong yang hampir hangus terbakar. Mulutnya membungkam;matanya melakukan penindaian sederhana atas apa yang terlihat. Gadis itu mencengkram tangannya sendiri, membuat darah segar menemukan jalan keluar dari pori-porinya.

Ia diam mematung, asap mengepul di atas ubun-ubunnya, menyebarkan satu bau-bauan mayat busuk yang tersebar di setiap sudut jalan –bahkan yang tidak tersentuh. Mata gadis itu berbinar, bukan karena kegirangan, lebih kepada perih dan pedih yang baru saja diciptakan dari asap mengepul tadi. kuku-kuku panjang yang membuat luka pada tangannya, ia cabut perlahan. Meskipun darah berceceran di atas gaun sutera hitam yang dikenakannya, gadis itu tidak merintih barang satu dua patah kata. Matanya yang kekuningan layaknya kucing malam hari, tersorot dengan jelas.

Tidak lama, setelah asap itu mulai menghilang, beberapa orang bersenjata tajam; tanpa alas kaki; berlari membawa obor, datang pada sang gadis bergerombol. Sang gadis tersenyum, ia menyentuh satu benda pipih, tajam dan berkilat karena pantulan obor yang ada di depannya. Sekilas sekali, ia tersenyum, memandang pada benda pipih yang adalah mata pisau. Ia ayunkan pisau itu ke atas dan ke bawah. Dan dalam sekali hentakan, benda pipih tajam itu sudah berada di atas jantungnya. Darah tercecer di mana-mana, menggantikan temarak riak air.

Gadis itu melemas, ia terjatuh di atas dermaga kayu yang ia duduki sejak tadi. kali ini ia telentang, matanya melihat pada bintang-bintang malam yang menggantung, berserakan dengan sembarang. Bibir gadis itu membuka dan mengatup selama beberapa kali. Sampai ketika gerombolan orang asing tadi datang, Gadis itu bergumam kecil, sebelum akhirnya ia menutup mata selamanya.

“…23…23….23….”

–23–

2013 February 14th. Seoul, South Korea.

Suara ambulance dapat terdengar bahkan dari dalam selokan sempit di ujung jalan. Beberapa orang berseragam putih dengan peralatan medis yang lengkap terlihat berlalu-lalang –sibuk. Polisi memegangi walkie talkie nya dan terus berbicara panjang lebar di depan benda mati tersebut. Polisi yang lain, mencoba menenangkan massa yang sudah berkumpul bahkan sejak sebelum polisi mengamankan mereka.

Agassi,  kau bisa sedikit minggir ke sebelah sana?”, seorang polisi memberi arahan pada wanita muda yang mencoba menghalangi pekerjaannya. Wanita muda itu menggeleng, dengan singkat ia menunjukkan sebuah kartu tanda pengenal yang tergantung di lehernya.

“aku seorang jurnalis, aku memiliki lisensi”, ucap gadis itu singkat. ia melenggang masuk ke dalam area di balik sebuah garis polisi yang membentang di depannya. Polisi itu hanya menggeleng beberapa kali sebelum akhirnya kembali pada pekerjaannya.

Yuri Kwon –wanita yang melenggang dengan sebuah kamera dan notes kecil, menghampiri seorang paramedis yang memiliki sedikit waktu senggang di balik setir mobil hitam. Yuri –begitu biasa ia disapa, mengeluarkan pena dari kantung celananya dan mulai melakukan perkenalan singkat pada pria paramedik di depannya. Ia mengatakan ini dan itu sebelum akhirnya mereka terlibat sebuah percakapan singkat.

Pria di depan Yuri, menjawab dengan cepat disertai makna penuh, tanpa ada satu detil cerita pun yang terbuang. Yuri sangat puas dengan jawaban paramedik itu dan tetap menggoyangkan penanya di atas kertas sambil terus melontarkan beberapa pertanyaan.

“…bisa dipastikan ini adalah bunuh diri”, ucap pria itu dengan nada berat. Yuri mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Namun begitu, ia menggaruk kepalanya singkat.

“darimana kau tahu? Maksudku… kau hanya seorang….”, Yuri menaikkan satu alisnya, melirik hati-hati pada pria itu.

“paramedik?.. Oh come on.. di sekitar blok ini, hari ini adalah kasus yang ke-17. Sudah 17 korban berjatuhan. Televisi mengatakannya, Apa kau tidak memiliki Televisi di rumahmu?”

Yuri hanya mengangguk singkat dan melebarkan bibirnya dengan nyaman.

“baiklah, maafkan aku. Kita kembali pada topik… kau bilang hari ini adalah korban ke-17, bisa kau beritahukan detil insidennya?”

Pria itu menggeleng, ia beberapa kali berkacak pinggang ringan sebelum akhirnya menempatkan satu jarinya di depan dagunya yang lancip.

“kau bisa bertanya detilnya pada pihak kepolisian di sana, yang aku akan coba berikan sementara adalah gambaran sederhana… hari ini korban adalah seorang mahasiswi kedokteran di universitas E. Dia ditemukan dengan kondisi membusuk, yang aku dengar ia telah di sana, membangkai selama beberapa hari –dengan leher tergantung pada seutas tali”

Yuri menelan ludahnya. Saat ia mencoba merespon apa yang dikatakan pria tadi, ia direpotkan oleh suara dering nyaring dari ponsel yang bergetar di kantungnya. Yuri meminta maaf dan segera menyudahi wawancara singkatnya dengan pria berdagu lancip tersebut dan menjauh. Ia menarik ponsel dari sakunya, menempatkan benda mati itu di telinganya.

“Yuri, dimana kau?”

“sedang bertugas. Ada apa, Luhan?”

“sebaiknya kau cepat kembali ke kantor. Ada sesuatu yang perlu kuberitahukan”

“apa ini? Luhan… kau tahu aku sedang bekerja.. Lu—“, telepon terputus bahkan sebelum Yuri menyelesaikan kalimatnya. Ia menggeleng beberapa kali sembari memasukkan kembali benda mungil di tangannya pada sakunya.

Sebelum Yuri melangkah, ia melihat pada sebuah jendela yang terbuka di sebuah apartemen tempat kejadian perkara. Beberapa polisi keluar dan masuk dari sana, memegangi sebuah walkie talkie bersama sebuah buku kecil. gorden yang terlihat adalah warna putih cerah. Yuri menyipit, mencoba melihat lagi dengan jelas ke arah balkon itu.

Kini, Yuri melihat sesuatu yang lain di balik beberapa polisi yang berlalu lalang. Ia tidak yakin benar, sampai ia mencoba mengedip kecil. Seorang wanita dengan gaun hitam sebatas lutut dan rambut sebahu berdiri di sana, di antara polisi-polisi yang berlalu lalang.

Yuri menyipitkan matanya sekali lagi, dikecapkannya lidahnya berkali-kali. matanya melirik ke kanan dan ke kiri –mencari sesuatu. Untuk sekilas, Yuri tidak lagi melihatnya –gadis cantik dengan gaun hitam.

.23.

“Sebaiknya kau mempunyai kabar bagus dengan membawaku kembali ke kantor”, Yuri melemparkan tas pinggangnya sembarang di atas sofa. Ia sendiri bergegas menuju sebuah lemari pendingin dan mengambil sebuah cola dari sana. Yuri duduk di sebuah sofa ketika seorang pria berwajah tampan bernama Luhan datang membawa perangkat laptop.

“kau sudah mendengar kasus yang terjadi pada mahasiswi dari Universitas almamater kita?”, Yuri mengangguk bosan. Ia menenggak cola yang ia minum dan menaruhnya dengan membuat suara berdebam di atas meja kaca.

“Untuk itulah aku di sana tadi jika kau tidak menggangguku dengan teleponmu, bodoh”

eyy~~ kau tidak memberitahuku”

“perlu kuberitahukan bahwa ada seseorang yang menutup teleponku tepat sebelum aku selesai bicara”, Yuri mencoba menyindir pria di depannya. Namun pria itu seolah tidak peduli. Ia hanya duduk dan memandangi layar dari laptop yang teronggok di atas pahanya.

Yuri berbohong jika ia mengatakan dia tidak cukup penasaran. Dengan jari yang ia ketukkan beberapa kali di atas meja kaca, Luhan cukup pintar untuk mengerti bahasa tubuh Yuri.

“kau percaya hantu?”, Yuri hampir tertawa ketika pria itu melontarkan pertanyaan paling absurd baginya. Gadis itu menahan tawanya dengan menenggak cola sehingga kalengnya menjadi ringan.

“kau tidak usah berputar-putar, segera katakan apa yang ingin kau katakan. Aku tidak mempunyai cukup waktu untuk leluconmu, Luhan”

“aku tidak akan menceritakan apapun jika kau tidak menjawab pertanyaanku”

Yuri menaikkan alis kanannya kemudian tersenyum sarkastik, “darimana kau menemukan pertanyaan lucu seperti ini? tentu saja tidak, aku tidak percaya pada hantu. Mereka hanya makhluk imajiner”

“kalau begitu kau harus percaya setelah aku menceritakan ini”, Yuri menahan gelak tawanya yang kini sudah menggelembung di pipi. Ia mencoba tenang, namun perutnya tergelitik. Luhan seakan tidak ingin terbawa suasana yang Yuri coba buat. Ia fokus di depan layar laptop nya sambil menggerakkan jarinya di atas trackpad.

“Kau tahu gadis ini siapa?”, Luhan menunjukkan satu foto gadis berwajah seram yang muncul di balik cermin dalam format .gif. gambar itu bergerak dan berulang-ulang berusaha menakuti Yuri. Yuri melihatnya baik-baik. Pertama kali ia merinding, namun di gerakan kedua matanya sudah mulai terbiasa.

“siapa dia?”, tanya Yuri.

“Mereka menyebutnya Bloody Mary”, Luhan terlihat serius, tapi berbicara dalam nada antusias. Yuri termangut.

err.. dan siapa itu Bloody Mary?”, lanjut Yuri lagi.

“seorang tokoh horor dalam urban legend di dataran barat. Mereka mengatakan Bloody Mary akan muncul di balik cermin setelah seseorang memanggil namanya 3 kali”

“kau pernah mencobanya?”, Yuri melontarkan pertanyaan tanpa sedikitpun jeda setelah Luhan menyelesaikan kalimatnya. Luhan memandang Yuri dengan sebal, namun dilanjutkan dengan anggukan kecil.

OMO, lalu apa yang terjadi? Kau bertemu dengan Bloody Mary?”

“aku bertemu dengan Bloody Yuri, karena aku bercermin pada cermin kebanggaannya”, Tawa Yuri lenyap. Otaknya memutar kejadian beberapa hari lalu tentang bagaimana Luhan memecahkan cermin kesayangannya.

“itu tidak lucu, Luhan”

“aku tahu, aku hanya ingin membuatmu berhenti tertawa”, Yuri melipat tangannya di depan dada, kemudian mengangguk kecil.

“baiklah kau menang. Sekarang ceritakan, apa maksudmu mengatakan Bloody Hell  ini padaku?”

Bloody Mary”, Luhan mengoreksi.

“benar, itu yang aku maksudkan”

“dia hantu. Dan dia ada. Itu yang aku ingin coba katakan. Well… meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Tapi data dan fakta yang kubaca mengatakan sekitar 60% dari kisah Bloody Mary ini nyata”

“persingkat, lalu kenapa kalau dia nyata?”, Yuri memupuskan satu energi berapi-api yang Luhan tunjukkan padanya. Luhan tidak patah arang, ia mengetikkan sesuatu di depan laptop nya kemudian menunjukkan layar 21 inci itu pada Yuri.

“…dia adalah hantu 20…”, Jelas Luhan sambil menunjukkan gambar ilustrasi seorang wanita muda dengan gaun putih panjang.

what the hell… kenapa harus 20?”

i dont know either, no one know. Dia adalah salah satu urban legend di dataran barat juga, ia muncul sesekali dan membunuh wanita-wanita muda yang melihatnya. Hanya wanita-wanita muda”

Luhan memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya. Ia menatap Yuri dalam-dalam. Yuri tidak mengerti. Selain mengerutkan dahi dan memutar-mutar kaleng dari cola kosong di tangannya, ia tidak melakukan apapun lagi.

“Wanita-wanita muda, Yuri. kau paham? Wanita-wanita muda…”, Luhan sekali lagi memberikan penekanan yang tersirat dalam kalimatnya. Yuri terlihat berpikir, dahinya berkerut dan wajahnya menunjukkan air muka yang lebih serius.

Satu bola lampu menyala di dalam otaknya. Ia mengangguk cepat pada Luhan sembari menjatuhkan kalengnya secara tidak sengaja.

“kasus pembunuhan 17 wanita muda belakangan ini….”, gumam Yuri lemah.

Thats right, itu yang ingin aku coba katakan. Di sini ditulis bahwa hantu 20 menyerang wanita-wanita muda dan membuatnya meninggal secara tidak wajar. Untuk contoh yang paling sederhana adalah bunuh diri”

Yuri membenarkan posisi duduknya. Mata angin dari fokusnya kini terarah di mata Luhan. Ia memperhatikan wajah pria itu baik-baik. Pikirannya melayang.

‘hari ini korban adalah seorang mahasiswi kedokteran di universitas E. Dia ditemukan dengan kondisi membusuk, yang aku dengar ia telah di sana, membangkai selama beberapa hari –dengan leher tergantung pada seutas tali’

Satu memori yang masih hangat berputar kembali di otaknya. Yuri berdusta jika ia mengatakan Luhan benar-benar tidak masuk akal. Yuri mengakui bahwa ia adalah orang yang lebih menyukai hal realistis yang dapat dijelaskan dengan logika daripada hal blur dan berbau mistis.

Namun sejak kejadian bunuh diri yang terjadi baru-baru ini di sebuah daerah lokal yang sama, ia tidak mempunyai pilihan lain selain menyingkirkan sedikit nalarnya dan mulai mempercayai apa yang Luhan katakan.

Yuri adalah seorang jurnalis yang profesional. Semua orang hampir tahu siapa dia dan bagaimana menuliskan namanya dalam sebuah halaman editorial di majalah terkenal. Namun hanya sedikit yang tahu bahwa dibalik profesi jurnalis nya, Yuri memiliki satu rahasia yang hanya Luhan ketahui. Rahasia mereka bersama.

Mereka adalah detektif sewaan. Cukup terkenal namun lebih suka bekerja di balik layar dan tersembunyi.

Cukup mudah, hanya dengan 2 orang yang berada dalam satu tim serta beberapa pekerjaan ganda, mereka sudah meraup client dari berbagai kelas. Trik pemasaran dari Yuri yang apik dan elegan, serta penanganan dan penelitian yang akurat dari Luhan, sudah memberikan mereka keuntungan yang besar berada dalam satu tim.

Hanya saja… semuanya sedikit terganggu dengan kasus 17 bunuh diri wanita muda belakangan ini. Mereka diminta melakukan penelitian oleh sebuah developer swasta yang telah membangun daerah Blok G tersebut menjadi sebuah perumahan elite serta apartemen mewah. CEO dari developer itu mengatakan bahwa belakangan ini seringnya terjadi kasus bunuh diri pada lahan mereka membuat sebagian besar peminat lari dan memilih pergi dari hunian-hunian yang tersedia di sana. Untuk itu mereka menyewa Yuri dan Luhan, membuat mereka bekerja secara independen dengan hasil yang terbaik.

Saat menerima pekerjaan tersebut –saat korban masih berada pada angka 5 orang, Yuri dan Luhan merasakan semuanya baik-baik saja, toh cepat atau lambat mereka pasti menemukan satu wacana yang tepat untuk menjelaskan hal ini secara logis.

Namun sejak terus bertambahnya korban wanita muda di sana, Yuri dan Luhan mulai mencari kembali asal penelitian mereka dari awal. Hingga saat Luhan menceritakan soal hantu 20, mereka masih belum menemukan perkembangan apapun dari kasus yang seharusnya telah mereka pecahkan.

“kau ingin aku mempercayai ini?”, Yuri menudingkan jarinya pada gambar yang sedang ditunjukkan Luhan. Luhan menggelengkan kepala dan menggerakkan jari telunjuk kanannya ke kiri dan ke kanan.

“aku tidak memintamu, tapi kau dapat menggunakannya sebagai alternatif hipotesa”, ucapnya singkat.

Yuri memiringkan kepalanya 20 derajat kemudian berdiri di depan pria itu. ia dengan tegas dan laksana pemimpin perang, menutup layar laptop dengan tangannya sendiri. Ia bisa melihat Luhan mengomel padanya, namun Yuri memilih pergi dan menutup telinganya.

Hantu, eoh? Apakah mereka benar-benar ada?

.23.

Yuri berdiri di ambang pintu –gamang. Gadis itu memiliki beberapa kebimbangan yang berkutat di otaknya. Cara berpikirnya benar-benar diluar dari batas kebiasaan normalnya. Yuri sesekali menyeruput secangkir kopi hangat yang ada di tangan kanannya sambil terus menatap nanar ke halaman belakang rumahnya. Sirine polisi baru saja terdengar ketika gadis itu menelan pahitnya kopi pelan-pelan.

Dari belakang tubuhnya, seorang pria berjalan tergopoh-gopoh, hampir berlari.

“Yuri, di belakang rumah ini—“, Ucap Luhan berusaha memberitahu Yuri sesuatu.

“Aku tahu”, jawab gadis itu pendek, Luhan berusaha diam dan mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum ia sempat menimpali apa yang Yuri katakan padanya. Yuri menggeleng pelan, ia membuang sisa kopi dari cangkir nya sembarang ke tanaman perdu di depannya. Yuri mendapati tatapan aneh dari Luhan sekilas, kemudian ia berbalik –pergi menjauh.

Yuri menggigiti bibirnya, ia berjalan ke arah dapur, melewati satu ruangan dengan televisi yang menyala.

—sampai berita ini diturunkan, disinyalir penyebab meninggalnya korban wanita muda ini adalah karena bunuh diri. Dengan begitu, kejadian hari ini telah menggenapkan rentetan kasus bunuh diri wanita muda yang terjadi akhir-akhir ini pada Blok G. Korban adalah korban ke-20—“

Yuri memijit tombol merah pada remote sebelum pria berdasi dengan microphone besar di tangannya sempat berbicara lagi. Luhan menatapnya dari jauh.

“sesuatu terjadi padamu, Yuri?”, pria itu mencoba memasukkan diri di dalam pikiran gadis itu. Yuri telah kehilangan akal sehatnya sejak ia pulang di waktu hujan pada tengah malam di hari sebelumnya. Luhan tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi gadis itu menangis saat itu. masih jelas terbayang bagaimana wanita itu menangis di otaknya.

“Yuri, apa yang terjadi? Kau—kau darimana saja seharian ini?—apa yang kau lakukan?!”

“—Lu—Luhan… dia—- dia ingin membunuhku— DIA INGIN MEMBUNUHKU !”

Luhan menjatuhkan pena yang ia pegang, lamunannya terbuyarkan. Ia melihat Yuri dengan jaket dan setelan lengkapnya. Entah sejak kapan ia melamun dan mendapati Yuri yang berganti baju dengan cepat.

“Aku akan mulai menyelidiki korban ke-20. Tetaplah di sini dan tunggu kabar dariku”, Ucap Yuri lugas, dengan nada sedikit seperti mendoktrin.

Luhan berjalan cepat, ia menahan tangan Yuri yang sedang berayun. Mungkin gadis itu sudah akan menghilang dari balik pintu utama jika saja Luhan tidak menahannya.

“kau sedang tidak sehat— istirahatlah terlebih dahulu”, Luhan menyarankan. Seperti yang pria itu duga, Yuri menggeleng dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman erat Luhan. Namun sekuat apapun Yuri, ia tetap seorang wanita. Dan pria di depannya, memiliki kekuatan fisik yang tidak dapat diterka dari wajahnya yang manis.

“aku baik-baik saja, aku harus menyelesaikan kasus ini”

“bukan kau saja. Kita, Yuri. kita. Kau masih memiliki aku sebagai rekan satu tim mu. Sekarang istirahatlah dan aku akan menggantikanmu”

“apa aku tidak dengar? Sudah kukatakan aku baik-baik saja”

“berhentilah berkeras kepala, hujan semalaman membuat wajahmu pucat”

“berhentilah bersikap seperti kau adalah kekasihku, aku baik-baik saja. Kau dengar?”, di akhir kalimatnya, Yuri memutar tubuhnya dan berusaha melepaskan genggaman tangan Luhan di lengan kirinya. Tapi tanpa sengaja, gadis itu membuat sedikit gerakan pukul mengejutkan di bibir atas Luhan. Luhan bergerak menghindar secara refleks mengingat dia adalah mantan atlet judo. Namun gerakannya itu ternyata memiliki imbas sedikit besar pada tubuh Yuri. Yuri yang sedang mencoba memutar tubuhnya sekali lagi, limbung karena pukulan tidak sengaja dari kepalan tangan Luhan yang bebas. Sebelum gadis itu benar-benar terjatuh, Luhan mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menangkap tubuh molek gadis itu dengan tangannya.

Tubuh Yuri mendarat sempurna pada tangan besar milik Luhan. Pria itu bersyukur di dalam hatinya walaupun ia akui jantungnya berdegup tidak karuan. Mereka melakukan kontak mata singkat, bertatapan satu sama lain. Perasaan unik menyerang tubuh Luhan. Bulu romanya berdiri saat ia menatap iris kecoklatan pada mata Yuri. gadis itu tidak mengucap barang sepatah atau dua patah kata pun. Yang mereka lakukan adalah diam dan tenggelam dalam ombak keheningan.

Yuri tiba-tiba terbatuk, dari hidungnya keluar darah segar yang kental. Luhan mau tidak mau harus menggunakan baju nya sebagai lap pada hidung Yuri. tubuh Yuri bergetar hebat di tangan Luhan. Gadis itu menarik jaket yang sedang dipakai oleh Luhan, dan membenamkan wajahnya di sana, seolah tidak ingin Luhan melihatnya.

Pelan, Luhan bisa merasakan celana dan jaketnya basah. Ia terduduk, membuat tubuh Yuri nyaman dengannya. Luhan menatap rambut hitam gadis itu sendu. Ia mengangkat tangan kanannya, dan mulai melakukan gerakan singkat pada kepala Yuri. Luhan sudah tidak peduli lagi pada kenyataan apakah Yuri keberatan atau tidak dengan tindakannya. Yang ia tahu, untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, ia melihat gadis cantik itu menangis kembali.

.23.

“Luhan—dia akan membunuhku—“, ucap Yuri ketakutan.

Luhan kebingungan, Yuri terus menerus mengatakan hal yang sama sejak terakhir ia pulang malam karena kehujanan. Ditambah lagi, dalam sekali tiap beberapa jam, hidung Yuri akan mengeluarkan darah. Luhan tidak bisa melakukan apapun karena gadis itu hanya diam dan menatap kosong pada ujung kamar.

Dia tidak seperti Yuri yang ia kenal beberapa hari sebelum ini.

Belum berhenti sampai di sana, keanehan pada gadis itu bertambah. Yuri akan menjerit setiap mendengar sirine mobil polisi atau ambulance. Gadis itu menggigil ketakutan, kemudian bersembunyi di bawah selimut dengan rambut yang ia kelinting menggunakan telunjuknya sendiri.

Untuk dikatakan gila, Luhan cukup tidak tega pada gadis itu. sebenarnya dia tidak gila, Yuri masih bisa berbicara dengan normal ketika Luhan bertanya. Ia juga masih bisa menggunakan intelejensinya yang cukup tinggi pada setiap percakapan normal mereka. namun ketika malam datang, maka Yuri yang biasa akan menghilang dari dirinya sendiri. Berganti dengan Yuri aneh yang selalu berteriak ketika lampu gelap, atau Yuri yang menangis tanpa sebab.

Hari ini adalah batas akhir dari kesabaran Luhan. Korban yang berjatuhan di Blok G sudah mencapai 21 orang. Dan mereka semua adalah wanita muda dengan kisaran umur 17 hingga 25 tahun. Seharusnya mereka sudah menemukan clue untuk kasus ini, mengingat deadline mereka yang semakin sempit. Namun Luhan tidak bisa bekerja dengan kondisi Yuri yang tidak stabil seperti itu. ia memutuskan memanggil salah satu dokter psikologi kenalannya.

Bel berbunyi, Luhan bergegas membukakan pintu.

Berdiri di ambang pintu, adalah seorang tinggi dengan rambut hitam dan wajah yang tampan.

“Minho-ssi”

Luhan-ssi, lama tidak bertemu” , pria bernama Minho menyambut hangat sambutan dari pemilik rumah. Luhan tidak menyukai berbasa-basi, setelah ia mengobrol singkat, ia langsung mengarahkan Minho pada sebuah kamar dimana Yuri berada.

Ia membiarkan hanya Minho dan Yuri yang berada di kamar itu. Luhan menunggu di ruang makan sambil sesekali mengunyah kue kacang yang biasanya Yuri makan. Ia menatap televisi yang menyala di depannya dengan gamang.

“—meninggal karena menabrakan diri pada sebuah truk? Apa-apaan….”, Luhan menggelengkan kepala beberapa kali ketika mendengarkan sebuah berita. Dalam running text di layar, terlihat bahwa berita itu merupakan rangkaian kabar dari korban ke-21 yang dinyatakan tewas bunuh diri dalam perumahan Blok G.

“—korban diketahui berinisial K. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana kronologi kejadian malam tadi. CCTV jalanan sempat merekam bahwa korban adalah benar menabrakan dirinya sendiri pada sebuah truk yang melintas. Menurut kesaksian para kerabat dan teman-temannya, K adalah seorang wanita yang baik—“

Tiba-tiba tayangan berganti. Announcer wanita dengan rambut bob tadi hilang. Menggantikannya, adalah seorang pria yang sedang berbicara di tengah keramaian aparat kepolisian dan paramedik di belakangnya.

“—benar, K adalah orang yang sangat baik. Namun beberapa hari sebelum ia tewas, ia kerap kali kehilangan banyak darah akibat pendarahan pada hidungnya—“

DEG.

Jantung Luhan mencelos. Ia teringat pada Yuri.

Luhan… dia akan membunuhku.

DEG

Luhan teringat kembali bagaimana gadis itu mencoba menyampaikan kalimat yang belum selesai padanya. Luhan pikir Yuri hanya berhalusinasi. Tapi pria itu mendapatkan pikiran negatif lain di otaknya. Ia bergegas mematikan Televisi dari remote nya dan berlari seperti orang gila ke kamar Yuri. Luhan membuka pintu kamar Yuri –dengan setengah mendobrak, membuat Minho terperangah.

Luhan berjalan pelan, melihat bahwa Yuri masih terduduk dengan tatapan mata yang kosong dan penuh dengan aura negatif di sana. Minho di sebelah Yuri hanya menggeleng pelan pada Luhan, mengatakan apa yang tidak ingin Luhan dengar.

“dia tidak berbicara apapun padaku, Luhan­-ssi

.23.

Luhan mengendap ke arah kamar Yuri ketika ia mendengar suara kecil Yuri yang bergumam rendah. Saat itu tengah malam, dan hanya mereka berdua di dalam rumah. Luhan yakin ia meninggalkan Yuri dengan televisi yang dimatikan. Tidak ada satupun benda yang ia tinggalkan hidup di sana. Langkah Luhan semakin rendah mengendap, ia mengintip ada lubang kunci di pintu kamar Yuri.

Dilihatnya Yuri sedang berbicara dengan seseorang. Raut wajahnya menjadi lebih pucat dari masa dimana Minho menemuinya. Luhan mencoba mempertajam indera pendengarannya.

“—tinggalkan aku, aku ingin sendiri”, Luhan mendengar Yuri berbicara dengan nada rendah –hampir berbisik. Beberapa kali dilihatnya gadis itu yang mencoba mempererat guling di tangannya.

“berhentilah membunuh mereka—berhentilah—“, Lanjut gadis itu lagi. Luhan mengerutkan dahi, ia mencoba mengambil posisi lain agar ia bisa melihat dengan siapa Yuri berbicara. Yang ia lihat selanjutnya adalah sebuah udara kosong yang berhadapan dengan Yuri.

Luhan perhatikan Yuri sekali lagi, gadis itu meneteskan peluh yang bisa membasahi sarung bantal. Yuri terlihat semakin ketakutan. Matanya melebar, bibirnya bergetar. Luhan bisa melihatnya jelas bahkan dari tempat sebesar lubang kunci.

Gadis itu menggerakkan kakinya –menendang pelan, ia mundur teratur. Diremasnya selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Yuri menggelengkan kepala.

Luhan menatap sekali lagi pada fokus mata Yuri. ia benar-benar tidak melihat satu benda –atau orangpun, yang berdiri di hadapan gadis itu. dan semuanya sangat aneh untuk Luhan.

“ti—tinggalkan aku sendiri… ku—kumohon”, Yuri menurunkan nada suaranya menjadi lebih pelan. Ia memohon ketakutan demi sesuatu yang berdiri di antara udara kosong. Bibir Yuri semakin bergetar, bahkan giginya mulai menggigiti bibirnya hingga berdarah. Luhan bisa melihat dengan jelas bahwa kasur yang ditiduri oleh Yuri bergetar hebat, seolah gempa bumi hanya terjadi di sana.

Dalam beberapa detik, Luhan bisa melihat tetes demi tetes darah turun dari bibir Yuri. gadis itu membelalakkan mata dan membuka mulutnya lebar-lebar. Ia memasang ekspresi menyeramkan seperti tercekik. Luhan tidak tinggal diam, ia berusaha mendobrak pintu kamar Yuri yang terkunci dari dalam. Seketika ketika gerakan gempuran pertama tubuhnya pada permukaan kayu itu dilakukan, televisi di ruang lain menyala secara tiba-tiba. Lampu di sekitar rumah itu berkedap-kedip remang. Luhan menghentikan gerakannya. Suara Yuri meninggi, ia seperti berteriak dalam setiap sengalan napasnya yang tertahan di tenggorokkan.

Luhan menyimpan rasa aneh pada alat-alat elektroniknya untuk nanti. Ia sekali lagi mendobrak pintu di depannya dengan kuat. Suara lengkingan menyeramkan datang dari bibir Yuri. Luhan belum pernah mendengar ini sebelumnya. Sesuatu yang salah terjadi pada Yuri.

Jendela di sekitar rumah itu terbuka lebar dengan tiba-tiba setelah lengkingan Yuri mereda, jendela itu berayun pelan dan membuat jalan bagi angin untuk masuk ke rumah Luhan. Anjing-anjing di rumah yang agak jauh terdengar menggogong sayup. Sahut menyahut satu sama lain.

Luhan kehilangan keseimbangannya. Jika ia tidak salah ingat, ia baru saja menyelesaikan dobrakan ke-5 nya. tidak ada yang rusak sedikitpun pada pintu tua itu. Yuri masih di sana, berteriak dan menangis. Gadis itu membisik beberapa kali, memohon dengan rendah. Tangisannya semakin pilu ketika Luhan mencoba berdiri dan mendobrak pintu itu kembali.

“YURI”, Luhan berteriak. Suara lengkingan terdengar dan menghempaskan sesuatu ke permukaan pintu. Saat Luhan mencoba mengintip, disanalah Yuri terkapar. Di atas lantai, dengan kening yang terluka.

Luhan sudah tidak tahan, ia mengambil sebuah kapak besar dari dalam dapur. Ia ayunkan beberapa kali sebagai pemanasan sebelum akhirnya mata kapak itu sampai di permukaan kayu dari pintu.

Satu goresan besar dan berlubang terlihat di sana. Luhan tidak berhenti, layaknya seorang penebang kayu andal, ia mencoba beberapa kali merusak pintu itu dengan ayunan mata kapaknya.

Saat ia rasa cukup, Luhan mendobrak kembali pintu itu dengan tubuhnya. suara berisik televisi di ruangan lain tidak berhenti. Saluran berganti-ganti otomatis secara ajaib. Luhan tidak peduli. Matanya menyudut pada satu sosok gadis terkapar di atas lantai. gadis itu bergerak, merintih, menangis dan bergumam pelan. Luhan –dengan setengah berlari, mencoba menggapai gadis itu. ia buka tangan besarnya yang sempurna demi menggapai tubuh sang gadis.

Dipegangnya gaun malam putih merona yang melekat pada tubuh Yuri. Yuri menggumam rendah, darah masih keluar dari pelipis dan bibirnya. Tepat ketika Luhan mengangkat kepala Yuri lebih tinggi, darah kembali keluar dari hidungnya. Gadis itu mendesah pelan; ia berbisik sesuatu sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

“—jangan bunuh aku— Elliot

.23.

Luhan bersandar di atas sofa empuk, ia baru saja mempersilakan Minho datang ke rumah itu untuk kedua kalinya dalam satu hari. Dokter muda itu beserta beberapa asistennya memasang perlengkapan medis pada tubuh Yuri di kamarnya.

Yuri masih belum sadarkan diri, namun setidaknya lukanya telah terobati.

Luhan menghela napasnya pelan. Ia barusaja menyadari bahwa rumah yang ia tempati benar-benar porak poranda saat ini. jendelanya masih terbuka, beberapa serpihan bekas pintu yang dirusak kapak pun masih tercecer. Dan lagi, televisi yang ada di hadapannya saat ini masih menyala dengan terang.

Tidak seperti sebelumnya, televisi itu berhenti pada satu channel berita malam. Luhan memperhatikannya baik-baik. Ia tidak pernah melihat channel itu sebelumnya di seluruh hidupnya. dan lagi gambar yang mereka tampilkan. Hitam dan putih.

Tidak ada suara di sana selain suara berisik tidak jelas. Luhan bisa melihat tayangan hologram dari seorang gadis yang terpajang jelas di depan layar tersebut. Foto gadis itu terpampang lebar di depan layar. Tidak jelas apa yang diberitakan di sana, tapi Luhan bisa membaca headline news kecil yang ada di depan sana.

—Pelaku pembantaian sadis telah ditangkap—‘

Mata Luhan sedikit melebar, kali ini ia duduk lebih dekat dengan layar televisi, mencoba membaca satu tulisan yang lebih kecil.

‘—Elliot ditemukan bunuh diri setelah membunuh beberapa teman sebayanya—‘

Luhan tersedak ludah yang berusaha ditelannya.

“Elliot?”, ia mengulang satu kata singkat yang baru saja di bacanya. Dia teringat pada Yuri. gadis itu menyebutkan nama Elliot tepat sebelum ia jatuh pingsan.

Luhan tidak percaya pada kebetulan atau keajaiban, tapi dia percaya hantu dan dia adalah penganut logika yang realistis.

Ia segera membuka komputernya dan mengetikkan nama Elliot pada mesin pencari di internet.  Tanpa perlu menunggu lama, beberapa artikel muncul sebagai halaman utama. Nama Elliot terpampang dimana-mana. Luhan menelusuri artikel demi artikel satu persatu demi mendapatkan gambar gadis yang ia lihat di TV nya.

Setelah beberapa detik berlalu, ia mendapatkannya.

Luhan dengan tergesa-gesa membuka file tersebut dan membaca artikel itu dengan pelan dan penuh penghayatan.

‘—Elliot membunuh untuk alasan yang tidak jelas. ia memiliki keterbelakangan mental dan kejiwaan yang terganggu. Fisiknya lemah, entah penyakit apa yang dideritanya –ia kerap kali mengeluarkan darah dari ke-5 panca inderanya, membuat kedua orangtuanya habis-habisan mendanai kesembuhannya— Elliot ditemukan bunuh diri dengan sebilah pisau di pinggir sebuah dermaga kayu setelah semua orang memburunya, ia terbaring di sana bersama ke-3 wanita teman sebayanya yang baru saja ia bunuh—Orangtua Elliot mengaku bahwa gadis cantik itu tidak pernah melakukan tindakan kekerasan apapun sebelumnya. Dugaan sementara polisi, kejadian ini adalah murni dari terganggunya jiwa korban—‘

Luhan membaca kembali artikel lain. Ia masih penasaran.

“—Total korban Elliot adalah 22 orang wanita muda. Namun salah satu korban terakhir, dapat diselamatkan setelah Elliot tewas bunuh diri—“

Elliot akan mulai semuanya dari awal, Luhan”, Luhan hampir menjatuhkan komputernya ketika Yuri dengan tiba-tiba berdiri di belakangnya. Yuri berdiri dengan tatapan tajam pada layar komputer. Di belakangnya senyap, tidak ada tanda-tanda Minho atau asistennya.

Luhan menelan ludah “Kemana dokter dan para sustermu, Yuri?”

Yuri menggeleng, ia menarik Luhan dengan paksa sesaat sebelum Luhan sempat menarik napasnya kembali.

“Yuri, jawab aku. Perilakumu aneh belakangan ini. jangan membuatku takut”, Ucap Luhan, menghempaskan tangan Yuri dari pergelangan tangannya.

Yuri menatap tajam. Luhan mencoba bergeser dan melihat apa yang terjadi pada Minho dan yang lain di kamar Yuri. sekilas sekali, ia bisa melihat seorang pria dan beberapa wanita terbaring di sana, tidak sadarkan diri.

“Apa yang kau lakukan pada mereka, Yuri?”

“Aku bukan Yuri”

“Kau bicara apa?”

“Aku bukan Yuri. sekarang tutup mulutmu dan ikut denganku. Gadis ini dalam bahaya”

“Apa maksudmu? Apa yang terjadi?”

Luhan tiba-tiba merasakan angin besar di tengkuknya, rambut Yuri beterbangan, gadis itu –dengan mata memerah, menatap Luhan dengan marah. Gigi-giginya berderet rapih, bibirnya meneteskan darah segar.

“Ikut aku, dan kau akan mengerti”

.23.

Luhan tiba di suatu rumah dengan penerangan yang minim. Tinggal di sana adalah sebuah keluarga sederhana dengan dua orang kaka beradik yang berprofesi sebagai penjual kain. Luhan berdiri di depan rumah itu –terdiam-, Yuri memandang sebuah jendela yang terletak di lantai dua.

Elliot telah melakukannya dengan cepat”

Elliot dan Elliot, apa yang kau maksudkan?”, Luhan meninggikan nadanya.

Tiba-tiba suara lengkingan keras terdengar, kaca jendela pecah, seorang wanita dengan gaun malam berwarna biru muda terlihat terjun bebas dari lantai dua. Kepalanya terjatuh terlebih dahulu di atas aspal. Luhan di sana jika saja ia tidak ditarik pergi oleh Yuri dengan tiba-tiba.

“itu yang kumaksudkan”, sahut Yuri, “Elliot telah menemukan korbannya yang ke-21. Yuri adalah yang terakhir. Ia telah menandainya”, Luhan yang sedang bersembunyi di balik semak-semak terperangah. Ia tidak mengerti sama sekali.

“aku bukan Yuri. aku Russel. Dengar, Mungkin ini terdengar aneh buatmu. tapi aku sudah lama mati, dibunuh oleh Elliot

Luhan mengerutkan dahinya, “Lalu kemana Yuri? kau memakai tubuh Yuri tanpa ijin.”

“sudah kubilang, Elliot telah menandainya. Aku adalah korban terakhir Elliot yang sempat diselamatkan setelah dia bunuh diri. Aku korban ke-22. Membunuhku adalah tujuan Elliot bangkit kembali. Menuntaskan pekerjaan yang belum selesai”

“Tubuh Yuri, akan kembali jika jiwaku sudah pergi—tapi aku tidak bisa menjamin jiwanya akan kembali”, Lidah Yuri terus menerus mengeluarkan darah, begitu juga dari hidungnya.

“apa maksudmu Yuri akan—“, Luhan menebak

“benar, dia akan mati setelah Elliot menemukanku di sini”

Luhan mencengkram lengan gadis di depannya dengan kuat, dengan suara rendah yang berat, ia terlihat marah.

“Kalau begitu keluar dari tubuh ini. bukan Yuri yang dia inginkan, ia menginginkanmu”

Gadis itu seolah tidak takut, ia menggeleng pelan. Balik mencengkram lengan Luhan.

“bukan aku yang memilih tubuh ini, tapi Elliot sendiri. Apa yang kukatakan dengan ‘menandai’ adalah hal-hal seperti ini. Elliot membangkitkan kami dan menaruh kami pada tubuh-tubuh baru. Kemudian ia membunuh kami kembali. Tubuh yang dimasuki oleh makhluk tak kasat mata seperti aku dan 21 orang korban lainnya, akan bereaksi secara fisik seperti mengeluarkan darah dan lainnya—“

Luhan menghempaskan tangan Yuri keras. Darah mulai menetes dari lengan atasnya.

“Maafkan aku, tapi tubuhku ditakdirkan berada dengan wanita ini. Elliot akan menyelesaikan apa yang belum selesai di masa lalu”

Yuri menggeleng. Luhan menahan rasa perih di lengannya sambil mencoba merobek bajunya; menghentikan pendarahan.

“Aku tidak bisa mengontrol tubuh ini. Melukaimu bukan intensiku”

Luhan menggeleng; depresi; bingung dan terluka. Dihadapannya adalah sosok Yuri, seorang gadis yang sudah ia kenal sejak lama –dan diam diam ia cintai.

Dan baru saja yang dikatakannya adalah hal yang tidak masuk akal. Yuri adalah bukan Yuri.

“aku akan membunuh Elliot terlebih dahulu sebelum ia melukai Yuri”, Luhan berdiri, Yuri melihatnya terperangah.

“kau tidak bisa membunuhnya. Elliot sudah mati. Ia tidak bisa dibunuh—“, Luhan menatap ke bawah, ke arah Yuri yang duduk mengiba. Dilihatnya mata kemerahan di sana. meskipun bukan seorang Yuri di sana, setidaknya tubuhnya masih merupakan tubuh yang ia peluk kemarin.

“benar— Elliot tidak bisa dibunuh, tapi dia bisa dikembalikan. Ia hanya perlu membunuhku untuk mendapatkan ketenangannya kembali. Hanya itu… jika saja ada cara…”

Yuri –yang merupakan Russel, terbata. Tatapannya kosong menatap jalanan yang sekarang terang benderang. Beberapa orang berkerumun dan lampu-lampu rumah menyala. Mereka berkerumun di satu titik dimana wanita terjatuh dari lantai dua.

Samar-samar Luhan bisa melihat seseorang berdiri di atap rumah wanita muda itu; seorang wanita dengan gaun sutera hitam dan rambut yang panjang.

Luhan menangkap matanya, dan gadis itu menatap nanar. Bibirnya bergerak, mengucap sesuatu yang tidak jelas.

“21…21…21…”

.23.

Luhan dan Yuri berlari cepat. Dibelakangnya hanya ada angin kecil yang mengejar, namun mereka berlari seolah-olah mereka akan mati hari itu. Luhan beberapa kali mengalihkan pandangannya ke belakang, mencari apakah sesuatu tak kasat mata itu datang mendekat atau tertinggal jauh.

Mengeluarkanku dari tubuh ini adalah cara pertama agar gadis muda ini tidak tersentuh Elliot

Kata-kata itu masih terbayang di benak Luhan. Kalimat itu terdengar masuk akal. Tapi dipikir dari sudut pandang manapun, sesuatu mustahil terselip di sana.

Bagaimana cara mengeluarkan seorang roh mati dari tubuh yang hidup adalah pelajaran yang belum pernah Luhan terima selama hidupnya.

Dan kini mereka berlari; menjauh; tidak tentu arah.

“apa kau memiliki memori?”, Suara Russel terdengar dari bibir manis Yuri. Luhan menaikkan alisnya.

“sesuatu, apa saja, yang dapat membawa jiwa tertidur wanita ini kembali pada tubuhnya dan mendesakku keluar?”

“aku tidak punya”, jawab Luhan pendek.

“kau harus berpikir, hanya ini kesempatanmu”

Luhan berlari kencang, pikirannya melayang. Jika memori adalah satu-satunya jalan, maka ia lebih memilih membeku. Tidak ada satu kenangan indah pun tentang dirinya dan Yuri. selama ini, yang mereka tahu hanya bekerja dan berteman. Tidak ada yang spesial.

Jika satu momen membuat keduanya tertawa, maka momen itu hanya bertahan paling lama satu hari sebelum akhirnya mereka menenggelamkan diri dalam pekerjaannya kembali.

Mereka menjalani hidup secara flat. Tanpa ada yang spesial. Kecuali bagian Luhan mencintai gadis itu diam-diam.

Luhan terjerembab dengan tiba-tiba. Sekelilingnya adalah sebuah tanah lapang dengan satu dermaga kayu dan air laut di sisi lain. Entah sejak kapan mereka bisa sampai di sana. seperti ilusi.

Elliot membawa kita ke masa lalu”, Ucap Russel.

Luhan melihat ke sekelilingnya dan mendapatkan seorang gadis muda dengan gaun hitam berjalan. Ia tersenyum, namun bibirnya membeku. Langkahnya seperti robot, namun tidak memudarkan kecantikan alami dari gadis itu.

Tangan gadis itu bergerak pelan. Seolah bagai mantra, Luhan berjalan mendekat. Gadis cantik itu seperti menghipnotisnya walaupun di belakang Luhan, Russel sudah berteriak beberapa kali.

Gadis dengan gaun hitam itu Elliot.

Ia menyapukan tangan lembutnya pada pipi Luhan. Pria itu memandang dengan mata kosong. Saat pupil matanya kembali hitam dan kesadarannya terkumpul, Luhan sudah menemukan dirinya terjerembab dengan darah di atas tanah. Tangan kirinya meraba satu bagian di atas perutnya yang terasa begitu sakit. Sebuah pisau kecil tertancap sempurna di sana. Luhan menariknya perlahan. Rasa linu langsung memenuhi tubuhnya. ia memejamkan matanya beberapa kali, menahan kesakitan.

Jauh di depan Luhan, Elliot sudah berdiri, memojokkan Russel sampai ke tepian dermaga. Tawa lengkingan membahana. Air laut beriak besar, menunjukkan beberapa mayat yang terombang-ambing di sana dengan mengerikan. Salah satunya adalah yang ia kenali sebagai Yuri.

Yuri?

Benar, Luhan melihat Yuri lain yang terombang-ambing di lautan tersebut. Ia berlari, menahan rasa sakit di perutnya, mencoba melihat lebih dekat.

Russel berteriak.

“sadarkan wanita di sana dan lepaskan jiwaku dari tubuh ini, pria muda”

Seketika, Luhan tahu apa yang  terjadi di sana. mereka berada di dalam dunia paralel. Yang terombang-ambing di sana adalah jiwa asli milik Yuri. sedangkan yang sedang ada di hadapan Elliot adalah tubuh asli Yuri dengan jiwa Russel di dalamnya.

Membingungkan, tapi akhirnya Luhan menemukan simpul dari benang kusut yang ia hadapi.

Ia berlari, menceburkan diri ke dalam riak-riak air laut. Tangannya yang panjang berusaha menggapai satu tubuh mengapung dengan gaun putih di sana. Luhan mendapatkannya dan membawa tubuh itu ketepian. Ia sendiri meringis, air laut yang asin telah membuat lukanya semakin terasa perih.

“Yuri, bangun. Kau dengar aku?”, Luhan tidak memperdulikan luka di perutnya. Ia menggoyangkan tubuh wanita di depannya dengan kencang, berharap wanita itu mendengar.

“Yuri, kau harus dengarkan aku. Kembali ke tubuhmu sekarang. Yuri! kau harus bangun!”, Luhan kembali menggoyangkan tubuh gadis itu. gadis itu tidak bergeming, dia ada di sana, tapi dia seperti orang mati.

Di tempat lain, Elliot masih menikmati lengkingan suara menyayat yang ia buat. Sementara Russel menapat Elliot pasrah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan menerima apa yang sudah menjadi takdirnya bertahun-tahun lalu.

Luhan mengerutkan dahinya. Sekeras apapun ia membangunkan Yuri, ia tidak akan terbangun.

‘kau memiliki memori?’

Satu kata singkat dari Russel terdengar di dalam otaknya.

“Memori, benar. Itu satu-satunya cara”

Luhan mencoba mengingat-ingat beberapa potongan grafis dalam otaknya. Tidak ada yang menarik di sana. sekeras apapun ia mencoba mengingat, semuanya blur, flat dan tidak menarik. Tidak ada yang ia sendiri rasa paling menyenangkan terjadi di dalam hidupnya dan hidup Yuri.

“Yuri… apakah kau mengingat pesta daging panggang tahun baru?”, Luhan setidaknya mencoba, sebelum akhirnya keheningan yang ia dapatkan. Ia mencoba lagi, namun hasilnya nihil. Dilihatnya tempat dimana Russel dan Elliot berhadapan. Semakin mencekam.

Bau mayat tercium dengan jelas di hidung Luhan.

Elliot sudah mencabut pisau kecil dari belakang tubuhnya. ia mengayunkan pisau itu di udara dengan bahagia. Lengkingan sendu yang parau terdengar kembali. Memekakkan gendang telinga.

Dengan gerakan secepat kilat, bahkan sebelum Luhan sempat berkedip. Mata pisau kecil itu sudah tertanam sempurna di tubuh Russel. Yang artinya, di tubuh Yuri.

Darah segar keluar deras dari bagian dada kiri atas milik Yuri yang ada di depan Elliot. Sedangkan di sisinya, ia bisa melihat Yuri yang membeku dengan aliran sebagian tubuh yang hampir menghilang. Luhan memalingkan wajahnya ke Russel. Wanita muda dengan tubuh Yuri itu sudah kehilangan denyutan jantungnya. Elliot tertawa renyah.

Elliot menatap Luhan dengan tajam. Bibirnya menyeringai dan menggumam kecil.

22…22…22”

Luhan memungut pisau kecil yang ia geletakkan di atas tanah sebelahnya. Ia kemparkan pisau kecil itu ke arah Elliot. Namun serangannya hanya menembus tubuh tersebut, seolah ia tidak ada di sana. Elliot tertawa seram.

Ia berjalan mundur dan mengambil pisau itu. Luhan berjaga sementara tubuh Yuri di depannya sudah semakin memudar.

“Yuri, bertahanlah Yuri, kumohon”, bisik Luhan lemah.

Elliot tertawa, ia menyeringai lebar sekali lagi pada Luhan. Ditatapnya pria itu dengan nanar. Ia menangis.

Elliot menangis pilu, meraung seperti anak kecil. tapi tidak lama, ia tertawa melengking. Menyeruakkan tengorokannya yang merah di udara.

Elliot mengayunkan pisaunya. Luhan memejamkan mata. ia diam selama beberapa detik, tidak berani memeriksa di sebelah mana kali ini pisau kecil itu menancap di tubuhnya.

Namun yang Luhan dengar selanjutnya adalah keheningan dan isakan pilu seorang gadis. Elliot menangis sambil berjalan ke tepian dermaga. Dilewatinya tubuh Russel yang bersimbah darah. Russel masih bergerak namun dengan sangat lemah.

Elliot menangis tersedu. Ia celupkan salah satu tangannya ke dalam riak air. Ia mengayunkannya di sana. Luhan melihat gadis itu, sebilah pisau terbenam tepat di dada kirinya, sebagaimana ia melakukannya pada Russel.

“—aku—ingin—dapat—dikenang—“

Luhan bisa mendengar Elliot untuk pertama kalinya berbicara. Suaranya mirip seperti Yuri, namun dengan intonasi yang lebih menggetarkan jiwa, menyeramkan.

“—dengan—begini—dunia—masih—dapat—mengenangku”

Suara gadis itu semakin parau. Dia tidak mengeluarkan sedikitpun darah, tapi Luhan tahu bahwa gadis itu melemah.

“—aku—akan—mati—sekali—lagi—“

Luhan merinding hanya dengan melihat senyuman manis dari gadis bergaun hitam itu. Russel sudah sekarat bersama tubuh Yuri, sedangkan jiwa Yuri yang ada di hadapan Luhan sudah memudar sepenuhnya. Hilang dari pandangan Luhan.

Luhan berdiri, berlari ke arah Russel. Ia goyangkan tubuh wanita itu beberapa kali, mencoba menemukan jawaban.

“k-kau masih memiliki sedikit waktu untuk membawa jiwa gadis itu. bicara sekarang, waktu kita sempit. Aku sudah sekarat”, Russel menjelaskan dengan terbata. Luhan mengerti hanya saja ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Luhan menatap gadis dengan gaun hitam di tepian dermaga kayu. Rambutnya tergerai. Gadis itu menyandar pada sebuah pilar besar di ujung dermaga. Matanya perlahan terpejam, ia tersenyum setelah sebelumnya bergumam rendah.

“23…23…23…”

Luhan berganti menatap tubuh Yuri yang sudah kaku. Russel sudah tidak ada di sana. ia tidak bercanda dengan mengatakan waktu mereka sangat sempit. Dan disinilah ia sekarang. Sendirian, tanpa hasil.

Luhan merinding. Dipeluknya tubuh gadis yang terbaring kaku di depannya. Luka besar dan darah yang hebat menutupi gaun putih yang dipakainya. Yuri sudah kaku, terbujur tanpa nyawa.

Luhan bukan pria yang cengeng. Namun ia tidak bisa menahan isakannya barang sedetik. Sebuah bulir air bening terjun bebas dari pelupuk matanya. Luhan menangis. Dipeluknya gadis itu dengan lebih erat. Ia ciumi keningnya, ia genggam erat keduatangannya yang dingin.

Perlahan, Luhan bisa melihat tubuh Elliot menghilang. Dan kini, sekelilingnya berubah menjadi jalanan aspal di perumahan, sebagaimana ia lihat di hari-hari yang lain.

Di pelukannya saat ini, ada Yuri. terpejam.

Badan Luhan bergetar hebat. Memeluk Yuri –gadis yang ia cintai, adalah impiannya sejak lama. Tapi memeluk tubuh Yuri yang sudah terbujur kaku, sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran Luhan.

Bibirnya bergetar.

“Yu-yuri… maafkan aku”, ia terbata. Air matanya masih tetap berlinang.

Dari jarak dekat, Luhan bisa merasakan denyutan nadi wanita itu yang sudah hilang sempurna. Ia merengkuh kuat tubuh itu, seakan semua adalah salahnya.

Gerimis mulai membasahi daerah itu, tubuh Luhan basah kuyup. Ia masih di sana, di tengah jalan dan di atas aspal serta malam yang sepi. Jauh dari Blok G, jauh dari rumahnya. Luhan terduduk lemas, sembari memeluk seorang gadis yang pernah mengisi hidupnya.

Petir menggelegar. Ia bisa merasakan rasa perih luar biasa di perutnya. Luhan hampir saja melupakan kenyataan bahwa ia masih terluka.

Pelukannya melemah seiring dengan banyaknya darah yang keluar dari lubang di perutnya. Luhan tergeletak, bersebelahan dengan tubuh Yuri.

Ia menggenggam erat tangan Yuri ketika hujan semakin turun dengan deras. Darahnya dan darah Yuri bercampur menjadi satu dan terseret ke sebuah dataran yang lebih rendah bersama dengan air hujan.

Wajahnya menatap ke langit yang gelap tanpa bintang, kemudian Luhan menatap wajah Yuri.

“Aku tidak ingin menyesal. Aku tidak ingin mati seperti Elliot. Biar kukatakan ini sekali saja…”

Genggaman tangan pada gadis itu mengerat. Luhan tersenyum.

“Aku mencintaimu”

Mata Luhan terpejam, ia telah kehilangan berliter-liter darah. Hujan tidak membawa mereka kembali, air hujan menyapu setiap denyutan yang tersisa. Semuanya telah kembali pada kedamaian.

Jauh di atas langit, seorang tersenyum aneh. Ia terbang ke arah lain. Menggumam rendah sambil menyisakan sedikit air hujan di gaun hitam yang dipakainya. Bibirnya bergerak.

“24…24…24…”

.THE END.

 

 WOOHOOO~~

Ini comeback stage aku setelah liburan nih. ada yang kangen??

Blog ini tampilannya berubah ya. kkk~~~ aku lagi suka mempercantik blog soalnya.

dan sekarang aku membawa FF baru hasil Pollingan kemarin.

genrenya pun berbeda dari yang lain. ya semoga suka ya.

jangan lupa tinggalin komentar loh. permintaan standar.

kabulin ya, kan aku baru comback stage /apaini.

124 thoughts on “23

  1. RensyPrasetya (Rensy3698) berkata:

    Yulhan ξ\(ˇ▽ˇ)/ξ kangen pairingan kopel ini, kenapa sad ending thor? Pngen senyum” geje krena somplak baca romance momentnya.. Ini malah mewek pas di moment romance nya.. Nice ff.. Keep writting thor ‘-‘)9 vibrance nya di tunggu yah..

  2. Minyul1259 berkata:

    Serem banget eon ini >_<
    aku juga pernah denger sih eon, hantu dalam cermin gitu. Tapi aku gak tau pasti gimana ceritanya. Soalnya, baru beberapa kata aku baca aja, aku nya udah takut duluan😀
    bagus eon, tapi aku gak tau endingnya sad atau happy. Yang jelas endingnya sangaaaat romantis. Yulhannya pegangan tangan soalnya. Ya walaupun yuri nya dalam keadaan tidak sadar alias mati #hiks #plak #apaansih -_-

  3. janemaris berkata:

    arghhh eonnie aku asli mangap baca ff ini, ini jadinya kisah nyata gitu? aduhh aku malem2 bacanya jadi merinding sendiri sanking penasarannya aku cari noh si eliot di mbah google -_- kasian luhan eon sampai yuri mati dia belum pernah bilang suka :((( tapi adanya sweetnya juga mereka mati bareng hehehe

  4. Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

    Dihaaa xD FF nya bikin aku merinding >.,<!!!

    eonn… aku menunggu FF vignette TaoYul lho😀

    • Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

      yaahhh… kok komentarnya cuma muncul setengah?? ok aku tulis ulang lagi ^^~

      Dihaaa xD FF nya bikin
      aku merinding >..<

      eonn… aku menunggu
      FF vignette TaoYul lho😀

    • Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

      Dihaaa xD FF nya bikin
      aku merinding >..<

      eonn… aku menunggu
      FF vignette TaoYul lho😀

  5. Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

    Seram dan memegangkan banget eonn…
    keren!!! great FF😀
    apa lagi ada Luhan nya😀

    agak bingung tentang bagaimana Russel bisa masuk ke tubuh Yuri dan sejak kapan Russel berada di tubuh Yuri?

    Elliot horror bangeeettt >.<

    eonn… aku menunggu
    FF vignette TaoYul lho😀

  6. theysee22 berkata:

    kerrreeennnn…tp seremmm..aq bca ini pagi2 buta stlh trbangun gra2 mimpi buruk, n hasilnya aq merinding skrg…endingnya bkin nyesek, dua-duanya mlh mati…trus si elliot bklan bangkit lg kah buat nyari korban ke 24??

  7. Lee Minhyuk Btob ♡ Nam Jihyun 4minute berkata:

    Wow agak serem ff nya tp ttp keren kok
    Eonni minta Password vibrance dong 4 5 dan 7 lewat zmz eonnie 08986614494 ya eonni #puppy eyes

  8. Dhea Kwon berkata:

    Yaaaaahh, Yuri-Luhan nya napa mati?
    Sheyeem iihhh.. merindng dah bacanya,
    Tpi genre apapun ff unni ttep DAEBAK!!

  9. Niaaa berkata:

    Jadi si elliot itu ngebunuh arwah yg dihidupkan lg sekalian sma org yg dipinjem badan ny sma arwah itu kan ? Berarti total ny ngebunuh 22 nyawa, 22 arwah yg sdh dibunuh sblmny -,- dan ngebunuh dirinya sendiri 2 kali haha😀
    Merinding sii iyaa bacanya -,-

  10. Nikita Tirta berkata:

    Yulhan..sad n happy ending..Sad krna mreka mti , happy krna mrka mati bersama…24 trmasuk Luhan kali ya?Atau Elliot mengira dirinya jga…Apa2 pun Ffnya bagus.

  11. yuri yoona berkata:

    Wah eonni ff nya hneran menakutkan.. Aku smpe gk berani baca malam tdi..jdi bru pagi lagi aq baca… Horor ny hneran dpet.. B
    Biasanya aku gak suka sad ending.. Tpi kli ini kykny itu gak pengaruh soalnya keren banget

  12. countessha berkata:

    ya tuhaaannn :””””( ini FF udah, horor, bikin merinding, pembunuhan, mati pulak si couple yulhan,, kak nyun, kakak jahat sekali dengan kuhhh,, membuat aku menangis tersedu*eaaakklebbaayy* kak nyun, ceritanya keren semua nih, coba kak nyun jadi penulis, bakal aku baca deh, semua karya kakak, hehe😀 kak nyun, coba buat cerita ini chaptered, tapi happy ending, bukan sad ending,, seneng deh..
    keep writing ya kak nyun^^ aku disini selalu mnyemangatimu, wkwk😀

  13. Luluu berkata:

    Kaknyun… aku bacanya ampe ketakutan sndiri ._.v hehe.. horrornya dpt (y) wkwk
    aku sedih trakhirnya, tp seenggaknya luhan sama yuri ga terpisah :” samasama pergi kesuatu tmpat lain hehe.. itu yg bilang 24 24 24 serem kayaknya wkwkwk.. overall ini keren! Hehe.. keep writing kaknyun~

  14. Wdy_01 berkata:

    Kyaaa~>___< Tapi sayang YulHan mati TT_TT Suka pas Luhan nyatakan cinta ke Yul,meskipun Yul dah mati TT_TT Dae to the Bakk lah^^ Keep writing and Hwaiting kak kayur^^

  15. Bintang Virgo berkata:

    kak ffnya daebak…
    postnya ama judulnya sama dengan tanggal ultahku eon..
    jadi serem nih…

    tapi eon aku agak tidak mengerti
    soalnya elliot itu kenapa mau membunuh orang yang udah pernah ia bunuh pada masa lalu dengan tubuh orang lain lain sama aja tetap dia tidak dikenang sama orang lain pada jaman itu soalnya kan pembunuhnya tidak diketahui siapa….

    tapi ga apa apa kok eon tetap aja keren abissss

  16. andrivalerian berkata:

    Keren, ini keren Kak Nyun!! Penggambaran hantunya itu bener-bener ‘horor’ banget. Mengimajinasikan gimana latar tempat dan suasana dalam cerita ini tidak ada masalah.

    Satu lagi, horornya bener-bener dominan dan romance-nya baru muncul di epilog. Endingnya juga bener-bener mengenaskan, but I like it!!

    Saya cuma bisa komen segini aja. Suksees selalu untuk Kak Nyun!!

    P.S; saya masih akan menjelajahi blog Kak Nyun malam ini,

  17. seria berkata:

    nyun.. Keren deh kalo ff km.. Tp aku rada bingung, atas dasar apa eliot masukin arwah tman2 yg dia bnuh ke tbuh yuri dan cewek2 lain? aku pkir sblmnya mrk ada yg melakukan ritual kyk bloody mar gtu?

  18. lia generation berkata:

    tadi a agag2 gag ngerti,, tapi liat koment2 sebelumnya,, ngerti jugag jadi a,,
    keren cerita a eonnie,,
    23 tu angka kesukaan a hyoyeon eonnie,, hehehe

  19. SSY_ELF berkata:

    SADIS WEH……😦
    Ok fix, untuk pertama kalinya aku memberanikan diri baca ff genre horor… serasa nonton film…. SERAM >.<
    *MERINDING :3
    *MEWEK😥
    *Shock pas akhirnya -,- #plak, lebay
    Bikin lagi yang genre kek gini ya eon…. walau aku bacanya harus dekat mama(?) gak berani baca sendiri -_-

    Eonni Jjang!!

  20. aloneyworld berkata:

    Aku pernah baca urban legendnya cuma itu singkat banget -_- tapi disini kaknyun nyeritain sampe sedetail ini yaampun keren banget😀 dibikin bertanya-tanya ini ada apa? elliot siapa? russel siapa? yaampun keren😀 makin ngefans sama kaknyun hihi😀 tapi sebel sama luhannya kenapa pas suruh nyadarin jiwa yuri dia ngga bilang aku mencintaimu gitu kali aja yuri bakal bangun kan😄 aku kira mereka berdua bakal hidup lagi ternyata dua-duanya mati, sedih juga sih😦

  21. mallati_yurisistable berkata:

    serem, ampe merinding bacanya krna baca ff d malam hari lebih greget….btw kenapa horror bgt??? semuanya kok meninggal? huaaaa bener2 merinding bacanya kakak…
    Yulhan couple favorit

  22. hyezijung berkata:

    Readers baru ketemu ff serem.. jinjja? Yulhannya mati barengan lagi.. aduh.. mimpi apaan aku semalam. Ffnya daebak eon.. betewe buat lagi ya yang genre thriller.. seru kyak😆

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s