VIBRANCE [Part 6]

Vibrance 3

Heyho~~~ baru di update nih kkk~

part 7 sedang dalam proses. kalau gak ada gangguan, nanti malam aku post lagi🙂

***

Tidak ada yang spesial hari ini, selain mendengarkan bagaimana Myungsoo bercerita tentang Proffesor Sirla, aku tidak menunjukkan minatku pada apapun. aku masih sama, Yuri yang kemarin. Hanya saja… err…. bagaimana aku mengatakan ini… ada dua orang pria asing yang setiap hari melekatkan pupilnya pada setiap gerakan yang aku buat. Bahkan seingatku, mereka ada di sana saat Myungsoo mencoba mengajakku untuk makan siang di jam break kami.

“maaf, tapi Yuri dan kami akan berlatih”

Kai mengucapkan segalanya. Mewakili setiap kata yang baru saja akan melewati kerongkonganku. I have no choice. Bagaimanapun mereka adalah teman satu tim ku.

“kau yakin dengan latihan?”, aku mengangkat alisku, ragu dengan apa yang dikatakan Kai, aku mulai berbisik rendah pada pria itu. Kai tidak terlihat mengiyakan –itu hanya akal akalan pria menyebalkan itu saja. Berbeda dari Kai yang berusaha menjauhkan ku dari lingkungan sosial, perilaku Luhan lebih cenderung normal. Dia adalah Luhan yang biasa. Misterius.

Jika aku tidak salah, hari ini adalah hari ketiga setelah pengumuman pembagian tim. Beberapa tim lain sudah berlatih. Aku bisa mengingat bagaimana Krystal dan Myungsoo menceritakan tim masing-masing dari mereka bekerjasama beberapa hari yang lalu. Aku juga bisa melihat Taecyeon dan Himchan yang berlatih setiap jam pelajaran berakhir di halaman belakang sekolah. Mungkin itu sebabnya kerikil ada di mana mana. Kurasa mereka berlatih dengan brutal.

Mengenai Himchan… aku baru mengingat sesuatu.

Kemarin aku baru saja menemukan pria pendiam itu di lorong sekolah dengan satu musang salju di tangannya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi dia membawa musang itu pelan-pelan, seakan tidak ingin ada orang lain yang melihat. Tentu saja dengan aku mengatakan ini bahwa ia sudah jelas terlihat. Dia mungkin tidak menyadari kehadiranku di sana, dan aku juga tidak terlalu peduli.

Himchan adalah murid yang sangat pendiam. Passing grade nya selama aku satu kelas dengannya adalah rata-rata air. Dia tidak menonjol dalam hal apapun. setidaknya bukan tipe seperti Taecyeon atau Tiffany. Tapi dia cukup kuat –kurasa.

Tidak ada luka sama sekali di tubuhnya setelah ia berlatih dengan Taecyeon selama 3 hari terakhir, adalah bukti cukup bahwa Himchan adalah penyihir yang kuat.

Dan lagi Jiyeon— mereka satu tim dengan Jiyeon. Yang artinya, mereka memiliki penyihir dengan keahlian tongkat sihir yang eksklusif dan fisik yang kuat. Mereka adalah tim yang sempurna.

“–kau perlu berhati hati dengan noble 4, terutama pangeran mereka Oc Taecyeon-“

Aku mengingat kembali bagaimana Dims menyebutkan nama Oc Taecyeon secara gamblang di depanku. Meskipun aku akui bahwa Kai ada pada level yang sama dengan Taecyeon, tapi tidak satupun yang dapat menjamin bahwa aku dan Luhan adalah lawan yang pantas untuk Jiyeon atau Himchan.

Pra-Ujian ini akan menjadi pertandingan harga diri yang legit. Daripada mengatakan ini adalah Pra-Ujian, aku lebih suka mengatakannya ini adalah pertarungan politik. Para nobles akan membuktikan seberapa kuatnya nobles mereka ketika berhadapan dengan tim dari nobles lain. Dan lagi jika mereka di hadapkan pada pertandingan dalam noble yang sama, maka pertarungan itu akan berubah menjadi pertarungan perebutan kekuasaan internal. Entahlah.

Aku bisa katakan, jika aku dan Luhan di sini hanya sebagai penggembira.

“kau akan tersedak jika kau mengunyah irisan sapi manis mu seperti itu”, aku bisa mendengar tangan Luhan memegangi garpu yang kutusuk-tusukkan di atas potongan sapi manis ku. Aku menangkap iris matanya, kami sangat dekat sehingga aku bisa memperhatikan ada berapa lipatan di matanya.

“dan jangan melihatku seperti aku adalah sapi manis”, ucapnya. aku menggelengkan kepalaku beberapa kali mencoba mengumpulkan serpihan memori yang sempat terbang di atas ubun-ubunku. Kai di depanku, duduk dan menyeruput air minumnya dengan perlahan. Matanya tidak memandang ke arah manapun selain pada piring kosong di depannya. Ia terlihat gelisah. Kegelisahan yang sama dengan yang pernah aku lihat beberapa hari lalu di kediaman Yongguk.

Luhan mungkin menyadari atmosfir aneh yang diciptakan Kai. Ia memandangku juga sebelum ia berdehem dan menyeret piring kosong dari depan mata Kai.

“mereka tidak akan menyerang dengan segudang penyihir berbakat di sini”, ucap Luhan –misterius.

“mereka mengawasi kita sejak di hutan”

“aku tahu, Kai. Mereka tidak akan menyerang. Mereka hanya akan menyerahkan nyawanya sia sia jika berani menyerang Raville saat ini”

“apa yang kalian bicarakan, Luhan, Kai?.” Aku mengerutkan dahi, tidak bisa menangkap apa yang dua pria itu bicarakan di depanku.

phoenix.  Mereka di sini, mengawasi kita sejak beberapa hari lalu.”, ucap Luhan datar sambil memasukkan beberapa potongan dadu dari sapi manisku ke mulutnya. I wonder, aku penasaran kenapa ekspresi pria rambut perak itu tidak berubah sedikitpun. Kurasa apa yang dikatakannya mengandung inti yang sangat serius. Menyangkut phoenix, adalah hal yang berbahaya. Dan dia mengatakan itu seolah bahwa masalah phoenix adalah masalah yang bisa dihapus oleh hujan sehari.

“apa yang mereka lakukan di sini?”, jawabku dengan sedikit mengabaikan Luhan. Aku lebih menyukai menanyakan hal serius pada Kai.

“aku mendengarnya dari ayah secara tidak sengaja, phoenix mencoba menghubungi mata-matanya di dalam sekolah ini. tapi aku tidak tahu siapa yang ayahku maksudkan”

Aku menelan ludahku seperti sudah menjadi bagian dari habit. Aku meletakkan semua garpu dan sendok yang kugunakan untuk makan. Aku lebih memilih menopang daguku pada kedua tangan dan memperhatian detil penjelasan dari Kai. Namun begitu, Kai tidak kunjung membuka mulutnya. Ia membatu, mulutnya bungkam seperti dijahit. Aku melihat Luhan sekilas dan pria itu memakan habis daging sapi manis yang diabaikan olehku beberapa detik lalu.

“Kita satu Tim, apa yang kalian tahu, kalian harus memberitahukannya padaku, Ayolah..”, Ucapku sambil membuka tangan, lebar, menyerah dengan keadaan hopeless dari ekspresi Kai. Aku merengut, dan aku hampir saja tersedak ketika melihat di atas piring kosongku muncul beberapa huruf dengan ajaib. Aku melihat pada Luhan, jemari pria itu terlihat sibuk menuliskan sesuatu di udara, dan setiap ia selesai dengan jemarinya, huruf demi huruf muncul di piring kosong milikku.

Aku menyusun huruf demi huruf itu satu persatu, membentuk satu kalimat penuh yang lengkap. Kai terlihat memperhatikanku dengan memicingkan mata, sembari beberapa kali menoleh ke kanan dan ke kiri.

Mereka ada di dekat kita. Mata-mata Phoenix. Hati-hati dengan kalimatmu.

Aku menggeleng ke arah Luhan, menaikkan satu alis dan merapatkan tangan di bawah dagu. Ia memberikan gesture singkat untuk mencoba menyampaikan siapa yang ia maksudkan dengan mata-mata dalam Raville.

Aku tidak tahu, aku hanya mendapatkan pressure nya saja.

Aku mengangguk pertanda mengerti. Dari kejauhan, aku bisa melihat Dims menghampiri meja kami dengan terburu-buru. Ia memerintahkan kami agar menuju ke ruangannya dengan segera. Kai di depan, berjalan bersisian dengan pria itu sementara aku memilih berjalan di sebelah Luhan.

“Yuri, apa kau sudah mulai terbiasa dengan tongkat sihir yang kupinjamkan?”, Tanya Dims begitu kami duduk dengan nyaman di atas sofanya. Aku mengangguk ragu, jika kegiatan membereskan rumah dan mencuci baju termasuk dalam kategori ‘adaptasi dengan tongkat sihir’, mungkin jawabannya ya.

“apa kau sudah bisa menggunakan mantra kutukan setingkat Hugo Veda?”, tanyanya lagi, dengan tergesa-gesa. Aku menggeleng, tentu saja aku belum melakukan itu. Aku tidak memiliki sesuatu yang harus aku hancurkan dengan merapalkan mantra seperti itu.

“apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat… terburu-buru?”, Tanya Kai curiga. Dims duduk dengan memangku kaki kanannya di atas kaki kirinya dengan manly. Kemudian ia berdiri kembali sambil menggigiti jempolnya sendiri. Ia melihat pada satu peti besar di pojok ruangannya dan kembali menatap kami.

“ada penyusup dalam sekolah ini. rumor ini belum pasti, tapi seseorang menemukan beberapa musang salju mati dengan menjijikkan tadi pagi. Bulu Phoenix ada di sana… mereka mencoba mengancam kita dengan ini”

Aku tiba-tiba teringat dengan Himchan. Pria itu mengendong satu musang salju beberapa hari lalu. Entah ini ada kaitannya atau tidak dengan pria itu, tapi yang kucoba pahami adalah, mungkin aku harus mengatakan ini.

“Aku melihat Himchan dengan seekor musang salju beberapa hari yang lalu”

“Himchan? Pria dari noble 5?”, Tanya Kai padaku. Aku mengangguk, “memang ada berapa Himchan di sekolah ini, huh?”

Aku melipat tanganku di depan dada sambil tersenyum-senyum singkat. aku melakukan Knock down untuk pertama kalinya pada seorang jenius Noble 1 seperti Kai. Ini menyenangkan. Aku rasa aku sudah cukup membantu dengan mengatakan ini pada mereka, namun yang terjadi selanjutnya adalah keheningan yang cukup panjang.

Mungkin sebaiknya aku tidak mengatakan apapun.

“Yuri, kuingatkan padamu sekali lagi. Pra-Ujian akan … bagaimana aku menempatkan ini dalam kata-kata… bloody. Lebih seperti kekerasan dan pertarungan sesungguhnya. Kau perlu untuk berhati-hati. Dan jika rumor itu benar, maka kau akan melawan salah satu dari penyihir di sini. Berbahaya”

“daripada memperingatkan kami berkali-kali tentang hal yang sudah kami ketahui, kurasa lebih baik kau mulai menyelidiki kebenaran rumor tersebut, Proffesor.. dengan segala hormat”, Ucap Luhan mempersingkat pertemuan kami.

“dan kau Luhan, jaga attitude mu. Siapa yang tahu bahwa identitasmu mungkin sudah diketahui pihak lawan”, Kai memperingatkan Luhan atas kalimat tidak sopannya pada Dims. Dims tidak peduli pada dua pria muda yang berdebat di depannya. Yang ia khawatirkan mungkin hanya aku.

Bagaimanapun aku adalah spesial.

“Aku baru saja kembali dari Green Seat, kalian adalah orang pertama yang mendengar informasi ini. aku belum sempat melakukan penelaahan tentang kejadian tadi pagi. Jadi kumohon kau bisa menarik kembali kata-katamu, Luhan”, jelas Dims bijak. Ia menatap pada bola mataku di akhir kalimatnya walau ia menyebut Luhan. Yang Dims maksudkan adalah peringatan yang sama padaku. Mungkin karena aku sering mengatakan apa yang tidak seharusnya kukatakan di depan umum.

“Baiklah, begini saja, aku sudah mengajukan diri untuk melatih tim kalian sebelum Pra-Ujian. Setelah bel pulang berdentang, datang ke ruanganku secara tim. Aku akan mulai melakukan training singkat untuk kalian. Terutama untuk kalian, nona Yuri dan tuan Luhan”

Aku bertukar pandang dengan Dims kemudian mengalihkan pandanganku pada pria rambut perak. Ia terlihat tidak tertarik sama sekali. Ketika mata kami bertemu, ia segera mengalihkannya ke debu yang bergerak menepi pada bak sampah kosong di pojok ruangan. Aku harus belajar mantra itu, agar tidak melulu membersihkan lantai tiap pagi dari debu.

Tepat di setelah aku selesai menatap debu-debu –seperti yang dilakukan Luhan, Kai mengajak kami keluar ruangan. Tujuannya tidak lain dari kelas kami. Pelajaran selanjutnya mungkin sudah dimulai tanpa kami bertiga.

Aku setengah berlari di lorong, namun aku terhenti ketika melihat Kai dan Luhan yang berjalan berjauhan dan dengan ritme langkah cenderung normal. Seharusnya mereka lebih terburu-buru karena kami sebenarnya sudah sangat terlambat.

“bisakah kalian berjalan dengan lebih cepat, pria-pria muda?”, aku menyindir dua pria itu sambil mengetukkan kakiku bergantian di atas lantai. mereka mengabaikanku, as expected. Aku memutuskan meninggalkan mereka di belakangku. Aku berlari menghabiskan seluruh jalan pada lorong panjang. Aku hanya 2 kali belokan ke kiri lagi untuk sampai ke kelas.

Lorong sudah sangat sepi dan aku sudah cukup jauh dari dua pria pemalas di belakangku. Aku memutuskan berjalan dengan normal sambil memutar tubuhku ke kiri, menyusuri lorong. Tidak ada kelas di sana, di sepanjang lorong itu hanya dua buah tembok yang besar mengapitku.

Aku berjalan pelan, menempatkan tanganku di belakang tubuh dengan santai.

Bruk

Sesuatu terjatuh di belakang tubuhku. Jatuh dengan cukup kencang kurasa karena setelahnya kudengar suara retakan keras. Aku menoleh dengan cepat. Kupikir sebuah asbes atau kayu dari atap yang sudah tua, terjatuh.

Aku termangu di sana –dengan apa yang sedang kulihat.

Sepatuku menjadi basah karena air kental berwarna merah yang mengalir di dekatku. Helai demi helai rambut kulihat berjatuhan menyusul materi berat yang sudah jatuh terlebih dahulu. Satu sosok wanita dengan rambut coklat ada di sana, terbaring dengan wajah yang menghadap ke lantai. jantungku berdegup kencang. Aku memberanikan diriku untuk melangkah pelan ke arah sosok telungkup itu. sepatuku menginjak darah yang tergenang. Bajunya yang sama denganku, terlihat lebih kumal. Aku berjongkok, mencoba menghalau beberapa rambut yang menutupi wajahnya. Tanganku bergetar, tentu saja. Ini kali kedua aku melihat hal yang sama setelah kejadian Vloppius.

Bukan keberanian yang membawaku sampai sejauh ini, aku hanya penasaran. Seragam, rambut, postur, sepatu… aku seperti mengenal baik sosok ini.

Aku menghalau beberapa helai terakhir pada wajahnya, dengkulku lemas, aku terjatuh di atas genangan darah segar. Wanita di sana telah menutup matanya. Wajahnya yang cantik tidak bisa menutupi bahwa kematiannya sungguh sangat menyeramkan. Bibir gadis itu pucat, sama pucatnya dengan aku yang melihatnya saat ini.

Aku menutup telingaku, menggerakkan kakiku yang lemas menjauh dari sosok itu. aku gelengkan kepalaku berkali-kali, air mata keluar dari pelupuk mataku. aku mengangkat tanganku sejajar bahu, dan melihat darah segar di sana. aku tidak bisa berdiri, seluruh syarafku tidak bekerja. aku lemas. Tenggorokkan ku tercekat, air mataku keluar dengan lebih banyak.

“Krys… Krystal… TIDAK !”

.Vibrance.

Semua orang memandangku. Aku berdiam diri di perpustakaan sekolah, tidak ingin menerima kunjungan dari siapapun. Aku duduk menyendiri di balik sebuah lemari kayu yang besar pada pojok dari ruangan itu. Luhan dan Kai memang tidak jauh dari tempat ku duduk, mungkin mereka sudah akan bersamaku jika aku tidak mengusirnya baru saja.

Nasibku tidak cukup beruntung lagi hari ini.

Krystal baru saja dinyatakan tewas. Penyebabnya sama dengan apa yang menjadi misteri dari kasus Vloppius. Mereka mengatakan bahwa Krystal di bunuh oleh orang asing, tapi aku tahu bahwa itu hanya kamuflase. Kenyataannya, aku sempat melihat bulu-bulu halus binatang di tubuh gadis itu.

Phoenix, did it”, ucapku pada Kai dan Luhan. Mereka serentak menoleh padaku dari dua posisi yang berbeda.

“kita di tempat umum, Yuri”, Kai berusaha mengingatkanku. Tapi aku terlalu geram dengan hanya membayangkannya saja. Krystal adalah salah satu teman baikku di kelas. Dan lagi, dia adalah anak yang baik dan ramah. Bagaimana bisa phoenix melakukan hal ini padanya. Dia sama sekali tidak pantas menerima kematian dengan cara keji seperti itu.

“biarkan saja…”, Luhan membungkam mulut Kai dengan satu kalimat singkatnya, “…biarkan nona ini bertindak semaunya sendiri”, Luhan menatapku sinis dan aku terdiam. Seakan lidahku teriris karena kata-katanya.

Aku memalingkan wajah ke arah lain, dan mencoba sekali lagi tenggelam dalam diamku sendiri. Namun kata-kata Luhan barusan seperti candu di dalam otakku. Mengusik dan membuat segalanya kacau. Aku tidak bisa lagi duduk di balik meja dan membuat wajahku terbenam di atas permukaannya. Jika aku ingin sendiri, maka sekarang adalah saat yang paling baik.

Aku beranjak dengan tiba-tiba –membuat dua pria itu membelo ke arahku.

“Aku tidak bisa tinggal diam di sini—“, ucapku geram. Kukepalkan kedua tanganku erat, aku memandang Luhan dan Kai bergantian dengan sisa kepercayaan diri yang kumiliki. Gerakan tiba-tiba yang tidak pernah disambut datang dari arah pintu depan perpustakaan. Dims dengan jubah hitamnya muncul di sana, berjalan tergopoh-gopoh dengan raut wajah yang cemas. Ia beberap kali melihat ke seluruh ruangan untuk memastikan sesuatu. Setelah ia mengusir beberapa orang dari perpustakaan, ia berjalan pelan ke arah kami.

“Yuri, a bad news”, ucapnya terengah. Luhan meluruskan kakinya yang ia sandarkan di dekat sebuah rak kayu. Kai berhenti menjentikkan jarinya. Perhatian seluruhnya milik Dims dan aku.

“biar kutebak, dewan sihir memanggilku?”, jawabku pelan, mencoba membaca kerutan di dahi pria tua itu dengan teliti. Ia menggeleng segera. Tangannya yang besar mencapai kedua pundakku. Ia mencoba mengalirkan energinya padaku, memberikan satu penguat atas apa yang akan dia katakan.

“Tidak—lebih buruk dari itu. Noble 7 memanggilmu ke kastil mereka”

.Vibrance

Sepotong kalimat dari Dims tadi siang mampu membawaku ke depan pintu kayu tua besar yang berderit saat kudorong. Sisi positifnya adalah, setidaknya aku bisa lepas dari Luhan ataupun Kai yang menyebalkan itu. Sisi negatifnya adalah—aku tidak tahu untuk apa aku di sini detik ini.

Seorang wanita dengan rambut yang ditarik ke atas serta sisa rambut keriting di bagian depan telinganya berjalan ke arahku. Dia tidak terlihat senang, pun sedih. Gaun panjang yang ia kenakan dapat sedikit memberiku perhatian bahwa ia adalah wanita cukup terhormat di dalam kastil itu. Jika bukan istri dari pemimpin dari Noble 7, maka dia mungkin anaknya.

“duduklah di sini, Nona Yuri”

Aku mendengar suara serak yang berumur dari sisi kananku. Di sana sebuah sofa empuk dengan ukiran-ukiran khas Noble 7 terbentang. Pria di sisi lain, mencoba mengarahkan aku dengan suara untuk duduk di sofa kosong seberangnya. Wanita dengan gaun, membawaku ke sana. menempatkanku duduk, kemudian pergi tanpa sepatah katapun.

“Dia masih terpukul. Dia ibu dari Krystal, Diana”, pria bersuara serak tadi bicara. Aku melihat pada sosok wanita yang menghilang di balik pintu dengan lemas. Alasan dia tidak menyukai bertemu denganku mungkin cukup masuk akal. Aku ada di sana saat jasad anaknya ditemukan.

“Aku Besavior, aku ayah kandung dari Krystal dan juga… pemimpin dari Noble 7- Jika kau belum tahu”

Aku segera mengubah cara dudukku menjadi lebih sopan. Aku menggerakkan tanganku pelan, membentuk salam hormat pada pria di sana.

“Namaku Yuri.”, aku coba memperkenalkan diri.

“Aku tahu”, pria itu berdiri. Ia membawa sebuah cangkir indah dengan ukuran mungil di tangannya. Ia berjalan pelan dengan salah satu tangan terbebas mengayun di udara. Dengan senyumnya yang aneh, ia meletakkan gelas kecil itu di sisi meja yang berada tepat di depanku.

Drink?”

“No, thanks”, ucapku saat pria tua itu kembali ke tempat duduknya dan menawarkan segelas wisky padaku.

Besavior mengusap gelas bening jernihnya dengan sebuah lap kering sebelum ia mengisi gelas itu penuh dengan wisky. Beberapa orang pria serentak datang dari pintu lain di belakang Besavior. Mereka menyebar, berdiri dengan tenang dan bertingkah seperti menunggu sesuatu.

“Jadi… Yuri, katakan sesuatu tentang kejadian hari ini. kau ada di sana saat kejadian itu, Don’t you?”, Besavior menaikkan satu not dasar dari suaranya. Ia memegangi satu gelas penuh wisky di tangannya. Matanya seperti menginterogasiku dengan teliti. Aku tahu apa yang dimaksud, dan tentu saja aku paham. Hanya saja aku sudah diberitahu Dims bahwa aku tidak boleh memberitahu pihak Noble 7 tentang kemungkinan anak mereka diserang Beast. Dewan Sihir sudah mengumumkan dugaan kuat Krystal dibunuh oleh seseorang, bukan hewan.

“Aku memang di sana. tapi aku tidak tahu bagaimana anak anda bisa…”, aku ragu ketika mendapati lidahku menyebutkan satu kata terakhir. Aku tidak sanggup menyebutkan kata ‘tewas’ di depan seluruh mata yang kini menindaiku curiga.

“Tidak perlu sungkan. Aku tidak berpihak pada dewan sihir atau siapapun. Aku hanya ingin tahu cerita detail dari kematian anakku”, tepat di akhir kalimat Besavior, seorang pria dengan tergopoh mendobrak pintu yang sebelumnya aku lewati. Sedikit banyak aku bersyukur karena setidaknya mata yang mengawasikku berkurang lebih dari setengah. Terengah di sana adalah seorang pria dengan seragam almamater yang sama denganku. Tidak perlu lebih dari setengah detik buatku untuk mengenalinya.

Kim Myung Soo.

Pria itu berjalan, mencuri perhatian semua orang di sana.

“Ayah—“, ia bergumam rendah, memanggil Besavior.

“Oh, aku tidak tahu sekolah akan selesai begini cepat, Myungsoo”, kilatan biru terlihat dari sepotong iris mata Besavior. Aku menangkapnya, mungkin Myungsoo juga.

“Ayah—ada yang ingin kusampaikan”, Myungsoo mendelik ragu ke arahku, ia masih berjalan dengan ekspresi putus asa ke arah ayahnya. Besavior tidak menyambut hangat. Ia tersenyum padaku singkat kemudian menggerakkan tangannya sopan pada Myungsoo.

“kita bisa bicarakan itu nanti. Aku sedang dalam pertemuan dengan Nona Yuri. mungkin kau tahu, tentu saja kau tahu—“

“Tapi, Ayah—“

Stop there. Aku tidak mengajarkan ketidaksopanan padamu, Myungsoo. Sekarang kembali ke kamarmu dan renungkan semuanya. Aku akan menemuimu setelah aku selesai”, Nada bicara Besavior meninggi. Aku membaca kilatan amarah di dalam jiwanya. Aura aneh merasuki tubuhku dengan segera.

Dingin, sendu, menyayat, merengkuh jiwa. Entahlah.

Perasaan ini seperti menekan-nekan perutku, seperti aku akan muntah.

“Maafkan aku atas ketidaknyamanan tadi, Nona Yuri. sampai dimana kita tadi?”, senyum pria itu menyeringai lebar di depan wajahku. Perasaan mual ini semakin menjadi ketika kilatan cahaya berwarna merah terang di matanya terlihat jelas di depan batang hidungku. Perasaan tertekan muncul dan semakin kuat. Aku meneteskan keringat. Pandangan mataku menjadi sangat blur.

Aku masih bisa melihat Myungsoo yang sebelumnya setuju untuk pergi ke kamarnya, kini berlari ke arahku. Beberapa pria yang berdiri di pojokan ruangan menghalangi tubuhnya. ia meraung, mengulurkan tangannya padaku. Tapi aku tidak tahu apa yang ia teriaki.

Pandangan mataku semakin tidak jelas seiring dengan napasku yang berat. Perutku semakin mual. Aku mulai limbung. Seluruh panca indera ku serasa mati.

Sesuatu yang empuk terasa di seluruh bagian kanan dari tubuhku. Aku tahu aku terjatuh di atas sofa. Namun aku tidak bisa melihat sofa itu sendiri. Aku seperti buta. Aku tidak bisa merasakan oksigen masuk melalui hidungku. Bahkan tidak suara semut merayap di telingaku. Aku mati rasa.

Dalam beberapa detik, aku merasakan seperti aku telah mati. Tubuhku terangkat, aku bisa merasakannya. dan aku terpejam setelahnya, tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

.Vibrance

“Kau tidak seharusnya membantu, Crocus”, suara Besavior rendah, penuh amarah dan dingin. Ia menatap emosi pada seorang pria bertubuh tegap dengan dua orang pria muda di belakangnya. salah satu pria itu membawa tubuh Yuri di tangannya. Membuat gadis itu menjauh dari Besavior. Di sudut lain, Myungsoo sudah terjatuh pingsan. Tenaganya habis melawan tangan-tangan kekar prajurit dari ayahnya.

Seorang wanita muda yang menyambut kedatangan Yuri sebelumnya, kini masuk dari sisi pintu lain. Ia membawa tubuh Myungsoo di tangannya dan pergi dari sana.

Crocus berdiri tegap dengan tongkat sihir siaga di tangan kanannya. Ia berdecak dan menggelengkan kepala beberapa kali saat melihat batalyon dari Besavior mengepung.

“tidak seharusnya kau memberikan pressure kuat pada wanita muda tidak bersalah ini, Besavior”, Crocus memerintahkan Kai agar maju satu langkah, meng-cover nya dari sisi kanan. Sisi kiri telah dipenuhi oleh aura dari Luhan –tentu saja dengan Yuri yang tidak sadarkan diri di tangannya.

“kau tidak berhak mencampuri urusanku, Crocus

“jika kau membawa gadis ini , maka kau sudah resmi berurusan denganku”, Besavior mengeluarkan tongkat sihir dari balik baju besarnya. Ia tertawa meremehkan.

“Dewan Sihir, isn’t it?

No. I have my own reasons. Dengar Besavior,  gadis ini tidak ada sedikitpun kaitannya dengan kematian Krystal, anakmu. Dia hanya berada di tempat yang salah”

“—untuk kedua kalinya. Kau lupa itu”, Besavior membenarkan. Crocus kemudian teringat dengan kasus yang ia tangani sebelumnya. Kematian pria tua bernama Vloppius.

Very well,  tapi tetap saja kau tidak mempunyai alasan untuk melukai gadis ini”

“alasan?… tidak ada alasan katamu…”, di akhir kalimatnya Besavior tertawa terbahak-bahak. Seluruh tubuhnya bergoyang. Lemak di perutnya yang membuncit naik dan turun dengan irama yang ia buat sendiri.

“—keberadaan dia di Raville adalah lebih dari cukup untuk menjadi alasan aku melukainya. Sejak awal, aku menentang siswa non-noble berada di Raville adalah untuk alasan-alasan keamanan seperti hari ini—aku tidak menyukai Con

Besavior, pria yang masih terlihat tampan dalam usianya yang menginjak senja itu menyebut kata kramat dalam satu kalimat nya. Con. Con adalah sebutan kuno untuk penyihir berlevel rendah yang tidak mempunyai darah Noble. Namun Con dalam kasus Yuri adalah sedikit berbeda. Karena baik Luhan, Kai ataupun Crocus mengetahui siapa Yuri sebenarnya. Dan dia tidak ada sedikitpun kaitannya dengan Con.  Andai saja Crocus bisa mengatakannya pada Besavior.

“Kau masih sama. Angkuh”, Crocus mencoba mengompori Besavior. Dia paham betul bahwa pria sebaya di sana itu mudah sekali untuk disulut amarahnya. Crocus tidak punya plihan lain selain melakukan pertarungan dengannya. Ia menyiagakan tongkat sihirnya dengan lebih tinggi di depan dadanya. Prajurit Besavior di seluruh sudut ruangan bergerak maju. Mereka menarik tongkat sihirnya masing-masing. Kai bisa melihatnya, tongkat sihir elemen cahaya. Mereka berpendar dengan warna yang berbeda-beda seiring dengan iris mata yang berubah warna.

“Bawa Yuri keluar jika kau memiliki kesempatan, Luhan”, Kai memperingatkan Luhan. Dilihatnya saat ini Yuri yang masih terpejam dengan kecemasan dalam ekspresinya. Luhan bergerak normal. Tidak perlu menyebutkan bahwa ia sangat siap dalam pertarungan –meski tanpa tongkat.

“kau menawarkan permusuhan pada kami, Besavior”, Crocus kembali bicara. Saat ini di depan mereka, prajurit dari noble 7 sudah maju satu langkah dengan tongkat sihirnya. Secara teknis, mereka kalah jumlah. Namun tidak satupun yang dapat memperkirakan bahwa wolf berada di antara mereka. ini yang menyebabkan Crocus masih memiliki segenap keberanian untuk melawan.

“aku tidak punya pilihan. Kau sendiri menerebos masuk kastil kami dengan tidak sopan”, di akhir kalimatnya, Besavior melayangkan sebuah mantra di mulutnya. Satu pendar cahaya merah terang muncul pada ujung tongkat sihir pria itu. cahaya tadi melayang dengan cepat bagai kilatan petir di hujan deras. Jika Crocus tidak siap dengan cahaya keperakan dari tongkatnya, mungkin mereka sudah hangus.

Crocus adalah jenius dari Noble 1.  Seperti Noble 1 kebanyakan, ia menguasai sedikitnya 3 elemen dasar dari 7 elemen yang ada. Dalam kasus ini, semua orang bisa mengatakan bahwa ia menguasai kekuatan cahaya seperti halnya Noble 7. Kekuatan elemen yang bisa dikuasai oleh setiap orang dari Noble 1 berbeda-beda. Kekuatan dasar mereka memang healing dan nature. Tapi mereka memiliki 3 elemen lain sebagai pelengkap.

Kai menarik tongkat sihirnya dari baju ke udara. Ia mengayunkan di sana dan membentuk satu angin Typhoon lokal yang berputar di bawah kakinya.

“Luhan, naik”, ia memerintahkan Luhan. Namun pria itu tidak terlalu menyukai perintah Kai. Ia lebih memilih melemparkan tubuh Yuri di udara, dan mulai menyerang berbagai prajurit Besavior di depannya. Kai sempat kaget, ia kembali pada kesadarannya sesaat sebelum Yuri jatuh dan menyentuh tanah. Angin di bawah kaki Kai seperti menurut pada kehendak pria muda itu. angin tersebut terbelah menjadi dua bagian, salah satunya masih berada di bawah kaki Kai, dan yang lain berada di bawah tubuh Yuri.

cih”, Kai menyeringai lebar ketika melihat Luhan bertindak diluar rencana. Pria itu membabi buta. Menjentikkan jarinya beberapa kali dan menerobos berbagai pria Besavior yang bertumbangan. Luhan mulai tidak terlihat di ekor mata Kai ketika pria rambut perak itu hilang di balik pintu yang lain.

“Ayah, aku akan mengejarnya”, Kai pamit. thanks to Luhan. Saat ini setelah perginya Kai, tinggalah Besavior dan Crocus di sana. berduel.

Kai merapatkan kembali Typhoon nya dan mendapatkan tubuh Yuri di tangannya. Ia membaringkan Yuri di atas pahanya dan mulai merapalkan mantra Healing pada wanita itu.

“mendapatkan pressure dari seorang pemimpin Noble 7, pasti sangat berat”, Kai menggumam. Di depannya telah terjadi ledakan besar yang merusak. Typhoon nya berhenti bergerak. Ia mengambang.

Dilihatnya Luhan sedang berhadapan dengan seorang pria bertopeng. Pria itu membawa tubuh Myungsoo yang tidak sadarkan diri. Jauh di sudut ruangan lain, terdapat seorang wanita dengan gaun. Diana tergeletak, darah penyihir berceceran di atas lantai.

Luhan sempat menoleh pada Kai yang masih melayang di udara. Mereka berkutat di dalam keheningan sementara. sampai akhirnya Kai mengangguk dan bergabung dengan Luhan.

“dia Phoenix”, ucap Luhan pendek. Ia membiarkan Kai menggantikannya untuk menyerang pria bertopeng tersebut. Sementara Luhan mundur dan membiarkan Yuri berada di sebuah balon raksasa yang ia buat dengan sihir.

Kai menyerang pria di depannya dengan tongkat sihir. Ia menggunakan elemen cahaya kali ini. pendar cahaya hijau muda yang segar. Pria bertopeng di ujung lainnya, menerima serangan Kai dengan telak. Namun begitu Kai terbelalak, pria bertopeng berdiri tegak, seolah serangan tadi hanya tiupan angin musim semi yang normal. Pointless.

“penyihir tidak akan memenangkan pertarungan ini, Kai. Simpan tongkat sihirmu”, Luhan berdiri bersisian dengan Kai. Tubuh tegak mereka berdiri melindungi Yuri yang melayang pada balon udara di belakang mereka. pria bertopeng di sisi yang lain terdiam. Matanya melihat ke berbagai sisi. Myungsoo masih ditangannya. Ia telah sadarkan diri, tapi luka-luka di tubuhnya belum mampu membawa kekuatannya kembali. Selain itu, ia tidak dibekali tongkat sihir dari apa yang dilihat oleh Luhan.

Phoenix mengincar Myungsoo. Entah apa yang mereka rencanakan”, Luhan berbisik. Kai lebih terlihat berpikir. Setelah Krystal, kini Myungsoo. Kakak-beradik itu.

Ledakan besar terdengar dari ruangan lain. Rupanya pertempuran Crocus dan Besavior adalah satu keseriusan yang seri. Ledakan-ledakan kecil lain bersahutan –membuyarkan konsentrasi pertarungan Luhan-Kai dengan pria bertopeng.

Di satu kesempatan kecil, pria bertopeng tersebut membuat sebuah kobaran api yang besar; menyala; menjilat-jilat atap. Luhan mau tidak mau mundur beberapa langkah. Memastikan Yuri masih ada di sana.

Kobaran api panas, mampu membuat mata Myungsoo sedikit terbuka. Ia melihat Luhan, Kai dan Yuri berada di seberangnya. Myungsoo merasakan bau amis dari tubuh pria yang membawanya. Pria itu mengenakan topeng hingga leher. Myungsoo merasa mual. Ia terbatuk. Dilihatnya di sisi yang lain, Diana –ibunya, tergeletak tak berdaya. Myungso meraung, mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria bertopeng. Namun yang ia dapatkan selanjutnya adalah pukulan telak.

Kai melihat Myungsoo, ia merapalkan mantra dengan tongkat sihirnya dan melemparkan sebuah serangan elemen air untuk meredam api. Usaha Kai memang tidak sia-sia, tapi ia terlambat. Pria bertopeng dengan tubuh Myungsoo di tangannya sudah hilang.

Yuri bergerak. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. Jari-jarinya mencoba meraba pada permukaan transparan aneh di depannya. Saat ia membuka matanya perlahan, gadis itu mencium bau-bauan aneh di dekat tubuhnya. hangus, darah dan amis.

Yuri menyegerakan untuk membelalakkan matanya. Ia berdiri, dilihatnya Luhan dan Kai yang memandangnya. Seorang wanita tergeletak tak berdaya di balutan gaunnya yang apik. Di sisi lain, ledakan demi ledakan terjadi dalam setiap detik. Yuri mengernyitkan dahi. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dia ada dalam sebuah balon udara yang besar.

Luhan menjentikkan jarinya, seketika balon transparan itu menghilang dari sekeliling tubuh Yuri. Yuri terjatuh dari ketinggian, namun tangan Luhan tepat ada di bawahnya.

Pria itu menangkapnya.

“A-Apa yang terjadi?” Yuri terbata. Ia mencoba mengartikan tatapan aneh dalam pupil Luhan padanya. Yuri sempat mengalihkan pandangannya pada Kai, kemudian ia kembali fokus pada Luhan. Pria rambut perak itu berlelehan keringat dari dahinya. Sebagian menetes pada kaus yang dipakai Yuri.

Kai berjalan. Ia melewati Luhan dan Yuri yang masih diam dalam posisinya berdiri. Kai melihat ke arah kiri dan kanan kemudian memunggungi mereka. Ia berkata dengan nada serius.

Phoenix… mereka membawa Myungsoo”

.TBC.

Wahu~~ sudah lama aku ga update Vibrance yep. kkk~ terima kasih untuk semua kesabarannya.

gak nyangka animo untuk FF ini begitu besar. salut buat kalian🙂

sebagai bonus, ini gak aku protect. kk~

proteksi akan kembali diberlakukan tergantung hasil dari FF ini. kalau siders makin banyak ya… apa boleh buat. *tawa evil*

nb : buat yang bertanya-tanya siapa yang ada di dalam poster selain Kai, Luhan dan Yuri, Itulah Himchan. [buat yang belum tau, Himchan itu member BAP]

222 thoughts on “VIBRANCE [Part 6]

  1. Ersih marlina berkata:

    aaaa, smakin penasaran tingkat akut ini mh

    kristal tewas kya vlopius, kejadiannya ada yuri pula lagi. Jadi di slahn kan.

    Pko nya mau lnjt bca trus. Fighting ka nyun

  2. febrynovi berkata:

    myungsoo dibawa phoenix… yah wajar sih kan dia salah satu keturunan noble, sedangkan misinya phoenix itu ngincer yuri & ngabisin semua keturunan noble..

    lanjuut~

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s