Begin Again – From EXOYUL Series

7. Begin Again

Title : Begin Again

Main Cast : EXO Huang Zi Tao dan Kwon Yuri

Genre : Angst Romance

Length : Vignette semi songfic

Disclaimer : Cast hanya meminjam dari SM. poster was made by me. lirik lagu dalam fiksi ini dimiliki oleh Taylor Swift dan agensinya. aku hanya memiliki ide dan plotnya. mohon agar tidak mempublish cerita ini di tempat lain tanpa seijin saya, dilarang menjadi plagiator dan dilarang menjadi siders.

A/N : Series ke tujuh dari Exoyul – Taylor Swift’s Fics.

***

Tik Tok… Waktu…

Aku bergumam rendah pada mentari yang hampir tenggelam di ufuk barat. Kepakan ringan dari burung-burung yang terbang berkerumun menuju sarangnya, membuat mataku yang terpejam kini membuka sepenuhnya. Angin semilir tidak mampu menyampaikan kata yang ada di dalam otakku. Hening.

Di seberang rumah mewah dengan cat putih itu ada sebuah Cafe. Sederhana, dengan aroma manis yang menyengat. Aku mengatakan itu tidak nyaman, namun seorang gadis merasa senang berjam-jam duduk di sana.

Siluet gadis itu masih membekas di sana, meski hanya udara kosong yang dapat kuraih saat ini. kursi panjang di dekat jendela adalah favoritnya. Dan aku hanya bisa memandang punggungnya dari tempatku berdiri saat ini.

Hujan membawa gadis itu hilang kemudian. Dan kini senyap.

Tik Tok… Waktu…

.Begin Again.

3 Tahun lalu.

“Kau akan terlambat, Tao”, suara berisik rendah terngiang di gendang telingaku. Membuat resonansi kuat hingga ke bagian dalam otak. Aku menatap sinis pada wanita dengan kerutan di wajah –yang ditimpa bedak di depanku. Wanita itu terus mengomel di balik lipstik nya yang tebal. Aku memejamkan mataku sekali-kali sambil meredam gerakan resonansi hebat di otakku.

Aku meniti tangga dengan sebuah tas punggung yang ditarik sebatas pantatku. Aku menyukai gaya seperti ini, terkesan liar dan nakal. Ini sedang booming.

Seragam yang seharusnya dipadankan dengan rompi garis-garis, kini kupakai asal. Rompi itu sudah tergulung kusut di dalam tas ku bersama lembaran buku-buku keriting dan sampah dari serutan pensil yang berserakan.

Aku pikir eomma sudah membungkam mulutnya ketika kami sampai di depan ruangan besar. Aku disambut oleh seorang noona dengan kacamata tebalnya. Ia membicarakan sesuatu yang tidak jelas di pendengaranku, kemudian membawaku berdiri canggung di depan sebuah kelas.

Kelas baru, berbeda dari kelas-kelas baruku yang lain.

Sulit menjadi seorang anak dari keluarga yang selalu berpindah-pindah seperti burung. Kemarin aku di China, sekarang aku di Korea. kemarin aku memakan bao zi, kini aku harus kuat dengan kimchi. Entahlah.

“kau bisa masuk sekarang”, noona rok mini itu mempersilakan aku memasuki sebuah ruangan asing. Aku berjalan dengan santai. Sudah kukatakan bahwa aku terbiasa dengan lingkungan asing, hasil pengalaman selama bertahun-tahun.

“Namaku Huang Zi Tao. Kalian bisa memanggilku Tao”, ucapku to the point, tanpa annyeonghaseyo atau sekedar hi.

Seorang guru dengan rambut klimis –basah, kumis tebal dan tubuh gempal yang pendek, menyeringai padaku. Ia memelintir kumisnya sebentar kemudian memindai tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku hanya berdiri santai, memasukkan kedua tanganku ke dalam saku dan menunggu perintah dari pria klimis itu.

“duduk di tempat yang kosong”, kalimat pria tua itu bagaikan mantra. Aku berjalan cepat ke barisan longgar dari deretan kursi dan meja di depanku. Aku mengedarkan pandanganku di setiap sudut dan menemukan satu set kursi-meja kosong di pojokan kelas, dekat jendela.

Aku menyeret kakiku malas, dan berjalan ke sana. beberapa orang berbisik di belakangku. Siapa yang peduli.

Aku baru saja akan masuk ke sela yang dibuat meja dan kursi tersebut. Aku sadar, tubuhku terlalu besar untuk masuk ke dalam sana. aku melihat pada wanita yang duduk dengan tatapan melamun ke luar jendela. Dia seharusnya bisa memundurkan mejanya sedikit, memberikan rongga lebih lebar untuk tubuhku masuk ke dalam sela kursiku.

“Permisi, apakah kau bisa mundur, nona?”, mencoba sopan. Itu yang aku pikirkan. Wanita itu tidak menggubris. Ia memandangi kaca jendela yang sebenarnya tidak akan pernah balik memandangnya. Aku menggeser mejanya sedikit, namun wanita itu terlonjak kaget. Ia melihat ke arahku dengan mata besar yang membulat.

Aku menangkap iris coklat muda di sana, membentuk bak suar-suar cahaya di tengah kegelapan. Gadis itu menundukkan kepalanya meminta maaf dan segera menarik mejanya. Aku sempat terdiam beberapa detik, decitan meja membuyarkan semuanya.

Gadis itu masih terduduk dan tertunduk diam padaku, ia membuang pandangannya ke luar jendela. Aku duduk dengan normal setelah mengucapkan terima kasih. Aku menyandarkan tubuhku ke samping. Mendelik perlahan pada jendela, mencoba mencari bayang-bayang wajah dari wanita di belakangku yang terpantul di sana.

Dia sangat cantik.

.Begin Again

Hujan. Aku sedang berdiri diam di bawah sebuah tenda kecil di perempatan jalan. Seseorang menghampiriku dengan tiba-tiba. Ia menawarkan sebuah payung hitam besar yang muat untuk dua orang. Awalnya aku menolak, namun senja sudah mengejar.

“Terima Kasih….”, aku terbata. Aku tidak mengetahui nama pria ini meskipun ia telah berada di kelasku selama 3 hari terakhir.

“Tao. Namaku Tao. Dan kau pasti Yuri”, ia menyebutkan namaku tanpa sematan penghormatan. Aku tidak tahu apakah aku lebih tua darinya atau tidak. Tapi aku hanya bisa memaklumi, dia bukan orang Korea.

“Dimana rumahmu?”, tanya pria itu saat kami mulai melewati jalanan dengan air tergenang luas. Aku melayangkan lenganku, menunjukkan satu arah dengan jari telunjukku.

“di sana, belokan terakhir, paling ujung. Di depan sebuah cafe”, pria itu mengangguk. Namun kurasa ia tidak benar-benar mengerti. Dia orang asing, kubilang.

“aku akan mengantarmu sampai sana. apakah kau keberatan?”, mata kecil dari pria itu menatapku dari sisi kanan. Hembusan napasnya menggoyangkan bulu-bulu halus di sekitar pipiku. aku tidak berharap pria itu ikut bersamaku, tapi apa boleh buat, awan masih menggumpal kecoklatan dan payung hanya satu buah.

“baiklah”

Pria itu tersenyum. Dia tidak terlalu tampan sebagaimana banyak pria yang aku lihat. Tapi sesuatu di dalam senyumnya, membuatku berdesir.

.Begin Again.

Aku telah menghabiskan sebulanku di Seoul, beradaptasi dan bermukim sebagaimana pendatang dari berbagai negara lakukan. Di hari biasa, aku hanya bersekolah, menyelesaikan kurang dari setahun pendidikanku. Jujurnya, aku tidak menyukai sekolah. Aku tidak menyukai buku, bahkan aku benci aroma dari serpihan kayu pada meja tulis di dalam kelas. Jika bukan karena gadis itu, aku tidak akan pernah mendapatkan sebulanku hanya untuk menghadiri kelas.

Yuri –gadis bermata coklat muda.

Sejak pertama aku melihatnya, aku merasakan perasaan yang aneh. Yang dia lakukan hanya diam dan memandang jendela, dan yang aku lakukan lebih seperti penguntit. Aku memandangnya diam-diam melalui pantulan jendela, aku membawakannya payung ketika dia kehujanan, aku memberinya kue ikan isi coklat setiap hari secara diam-diam. Apa namanya kalau bukan penguntit.

“Kau sedang jatuh cinta”, ucap Daehyun –salah seorang teman yang kupercayai selama 2 minggu terakhir. aku tertawa meremehkan. Sudah lama sekali aku meninggalkan kata jatuh cinta sejak seseorang menginjak harga diriku sebagai pria dengan nyata. Masih lekat di ingatanku bagaimana gadis itu meninggalkanku sendirian. Dia kini… mungkin sudah bahagia bersama orang lain.

Ah, Tidak…

Dia mungkin… sudah bahagia di sisi Tuhan.

“Sebaiknya kau jangan jatuh cinta pada gadis aneh itu. yang ia lakukan sepanjang tahun hanya menyendiri dan memandangi jendela. Dia cukup aneh”, Daehyun membawaku kembali ke masa kini. Lamunanku pudar bagai serpihan kaca pecah. Aku hanya tertawa dan mengangguk, sesekali kulihat wanita yang duduk bersandar di dekat jendela.

Dia memang aneh. Tapi aku selalu menyukai keanehan.

.Begin Again.

“kau kehilangan sesuatu, Yuri?”, suara lembut itu lagi. di tengah matahari yang belum tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, aku berdiri di atas sekolah. Menengadahkan kepalaku ke atas sambil mengorek-ngorek sesuatu di dalam tas ku. Di kala itu pula seorang pria tinggi; kurus; dengan hiasan senyuman aneh di wajahnya, kini berdiri bersisian denganku.

Ia memasukkan salah satu tangan besarnya pada kantung kanan celananya. Aku belum menjawab pertanyaan pria itu.

“Apa kau mencari ini?”, dia menyerahkan sebuah benda kecil hitam dengan kedua lensa di ujungnya. Aku mengambil benda itu dengan segera setelah menyadari namaku terukir di sana –teropong yang telah kucari sedari tadi.

“Terima kasih.” Aku mendelik ringan –menatap takut, pada pria di depanku. Bukan tanpa alasan, setiap pagi, bahkan sebelum aku sempat membuka buku di dalam kelas, sebuah kotak bekal dengan fish cake isi coklat di dalamnya. tidak kukatakan sekali atau dua kali. hampir tiap pagi. Usut punya usut, aku baru tahu jika Tao-lah belakangan yang kerap memberikanku bekal itu.

Aku bukannya tidak menyukai tingkah lakunya. hanya saja… aku masih belum sembuh benar dari trauma masa laluku; tanpa obat penawar; kenangan pahit yang terus hidup.

Aku lebih menginginkan kata ‘sendiri’ dan ‘apatis’ lebih dari apapun.

“Kau menjatuhkannya. Omong-omong, untuk apa teropong itu, Yuri?”, aku memeluk teropongku. Membawanya perlahan ke depan kedua ekor mataku. lensanya aku arahkan pada sinar senja yang mulai meredup.

“melihat matahari tenggelam”

Pria itu termangut-mangut. Ia tersenyum –hatiku kembali berdesir.

“Tapi matahari sudah tenggelam”

“aku tahu”. Ucapku datar. Kulepaskan teropong kecil itu dan kutaruh dengan aman di antara tumpukan buku di dalam tas. Aku berbalik, ingin menunjukkan pada pria itu bahwa aku terganggu dengan keberadaannya.

“apa kau terburu-buru?” paraunya suara pria itu membuat langkahku terhenti. Tidak ada alasan khusus, hanya saja suaranya… suaranya membuat sebagian besar syaraf otakku tidak bekerja.

“tidak. Kau membutuhkan sesuatu dariku?”

“sebenarnya tidak ada…” suara pria itu meragu. Aku ingin mengakhiri perbincangan ini.

“baiklah. sampai jumpa”, ucapku –melambaikan tangan.

Cafe !” pria itu berteriak di belakang tubuhku, membuat kepalaku menoleh singkat. aku mengangkat sebelah alisku dan mempertunjukkan kerutan-kerutan tipis di dahiku. Jakun dari pria itu naik dan turun, ia sedikit nervous.

Cafe. Maukah kau menemaniku untuk sekedar minum kopi?”, aku memiringkan sedikit kepalaku. Tidak mengerti. Aku baru saja akan menggeleng ketika pria itu menggerakkan bibirnya.

Cafe depan rumahmu. Tidak jauh. Bagaimana?”

Aku tersenyum tipis. “maaf Tao, tapi ada yang harus aku lakukan hari ini”

“Sekali. Bahkan untuk sekali ini saja, Yuri?”. pria itu memohon. Seperti anjing kecil dengan bulu lebat yang lucu. Ia memiringkan kepalanya, menunjukkan sisi manis dari dirinya. Aku berusaha kejam, tidak melihat ataupun menoleh padanya. Tapi suaranya yang meninggi dengan tonasi nada cute… Ya, aku menyerah.

“baiklah. hanya kali ini, Tao”

.Begin Again.

Yuri berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan mengunjungi cafe itu sekali saja –bersamaku. Tapi hari ini, jika aku tidak salah menghitung adalah kali ke-8 aku dan gadis itu duduk berdua; berhadap-hadapan; menyeruput kopi dan mengobrol ringan.

“kau menyukai cafe ini pada akhirnya.”, aku menggodanya. Membuat lelucon tentang betapa keras kepalanya gadis itu ketika aku hendak mengajaknya pertama kali ke tempat ini. ia mengaku bahwa selama ia tinggal di daerah itu, tidak pernah sekalipun ia menginjakkan kaki ke cafe sederhana ini. dia hanya tahu rumah dan sekolah.

“selama ini mataku mungkin buta” gelak tawa Yuri yang manis terdengar. Nada suaranya lembut namun menggoda. Dia anggun namun sangat clumsy di satu sisi. Aku tidak pernah mengetahui kepribadiannya yang lain selain Yuri si penatap jendela jika aku tidak pernah sedekat ini dengannya.

“satu Caramel Macchiato dan Muffin” aku mendengar gadis itu memesan cangkir kopi nya yang kedua. Aku hanya bisa menatap sembunyi. Aku tidak pernah menyukai minuman jenis kopi selain dari Cappucino. Namun gadis ini, menyukai semua minuman pahit-manis-legit ala Eropa. Entahlah.

Aku memegangi ponselku. Lupa bahwa sedari tadi benda itu bergetar di dalam saku. Beberapa pesan singkat kubaca teliti. Kemudian aku berdehem.

“Ibumu?”, Yuri bertanya.

“Ya… Tidak..”, ucapku ragu. Yuri mengernyitkan dahinya.

“Ya, karena yang tertulis di ponselku adalah ‘eomma’ dan Tidak… karena dia bukan ibu kandungku”

Yuri mengangguk, matanya berkaca-kaca “maafkan aku”, ucapnya.

“kau tidak melakukan kesalahan apapun sebenarnya.” Ucapku singkat. aku meletakkan ponsel di atas meja, membiarkan beberapa pesan bergetar lagi dalam tubuh benda kecil itu.

“Bagaimana denganmu, Yuri? ceritakan tentang keluargamu.” Aku memasang ekspresi penasaran. Gadis itu terlalu tertutup untuk hal seperti ini. sebenarnya ada rasa canggung yang menyeruak ketika aku bertanya, namun apa boleh buat. Ludahku sudah menjadi huruf.

Seperti yang kuduga. Air mukanya berubah –sendu.

Matanya yang kecoklatan dan besar kini menyipit. Bibirnya yang merah merekah kini menyempit, wajahnya ditekuk. Gadis ini sedang dalam mood yang tidak baik. Aku harus menarik kata-kataku.

“Ah.. maafkan aku.. lupakan pertanyaan tad—“

“aku sudah tidak mempunyai keduanya. Aku tinggal bersama seorang ibu angkat. Orang tua kandungku sudah tiada”

Aku mencerna setiap kata dalam kalimatnya dengan hati-hati. Secara teknis, kami memiliki persamaan mendasar.

i am sorry”

nevermind”

Semilir angin bertiup di sekitaran tubuhku. Membawa pikiranku melayang jauh. Tidak heran, sejak pertama kali bertemu dengannya, aku merasa begitu tertarik dengan wanita ini. dia sama. Sama sepertiku.

.Begin Again.

“Aku mencintaimu”

Aku mendengar suara kutukan itu lagi. hatiku memang berdesir, namun ketakutan mengalahkan semuanya. Sudah kubilang aku belum sembuh dari luka yang mengering itu. aku belum bisa menemukan jalan yang memang bisa kulalui dengan cepat.

“Yuri, aku mencintaimu”

Hentikan. Kumohon hentikan kutukan itu. aku tidak mau mendengarkan apapun. apa kau tidak lihat peluh yang bercucuran dari dahiku? Atau bagaimana meja kayu ini bergetar karena ketakutan terbesar yang aku miliki?

Aku tidak bisa. Mendengar kalimatmu sekali lagi pun, aku sudah tidak bisa. Tidakkah kau mengenal mata kecoklatan ini? tidakkah kau tahu betapa banyak mata ini menangis untuk masa lalunya?

“Yuri—“

“hentikan Tao—“, aku merinding, bergidik hebat. Aku menyeka sebuah bulir bening yang menetes dari pelupuk mataku sebelum mereka membentuk anak sungai di bajuku. Aku meremas rok sekolah yang kupakai. Di bawah meja, aku mencoba meredam getaran hebat yang kakiku coba timbulkan sekali lagi.

“Aku tidak bisa…”, gumamku rendah, terbata dan parau. Aku mencoba terlihat tegar, namun aku hanya terlihat bodoh. Aku tidak ingin pria ini terluka. Namun aku tidak ingin luka baru muncul di atas luka yang belum mengering.

“Tapi aku benar-benar….”

“berhenti mengatakan kau mencintaiku. Kau hanya membunuhku pelan-pelan, Tao…”, ucapku perlahan. Dia terlihat tidak mengerti, dia sama sekali tidak mengerti, dia memang seharusnya tidak pernah mengerti.

“6 tahun lalu… seorang pria datang dan mengutukku dengan kalimat itu. lukanya masih berbekas, sementara dia pergi dengan lepas..”

Tao mengernyitkan dahi. Aku sudah tahu kenapa.

“jangan menambah lukaku. Jangan membuat aku mengutuk diriku sendiri lebih lama lagi, Tao”

Aku tidak menghabiskan Caramel ku. Aku biarkan gelas mungil itu masih terisi penuh. Kutinggalkan pria kebingunan itu di sana. kubiarkan dia dibekukan dengan lidahnya sendiri. Kubiarkan dia paham… bahwa aku sudah tidak mungkin mengenal rasa cinta.

.Begin Again.

“Maafkan aku, tapi Yuri tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa.” Aku mengangguk mengerti. Sejak hari itu, Yuri tidak pernah datang ke sekolah. Ia tidak pernah pergi ke cafe dan ia tidak pernah bertemu denganku. Aku tahu bahwa ia menolakku secara halus.

Aku pikir kami sama. Aku pikir segala tentang kami adalah sama. Tapi tidak untuk perasaan ini. hanya sepihak, hanya aku.

“Maafkan aku, tapi bisa kau titipkan ini untuknya, ahjumma? Katakan saja, Tao mencarinya.” Aku menitipkan sebuah bungkusan kecil yang berisi kopi kesukaan Yuri pada wanita paruh baya di ambang pintu. Wajahnya berkerut, dia tidak terlihat seperti Yuri sama sekali. Mungkin dia adalah wanita yang Yuri bilang sebagai ibu angkatnya.

“Jadi kau adalah… Tao?”, wanita paruh baya itu memasang wajah ragu dan penasaran dalam waktu cepat. Aku mengangguk sopan. Tidak lama, ia menarikku –jauh dari ambang pintu. Ia mengajakku duduk di sebuah bangku panjang di depan rumahnya.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu, Tao”, ucap wanita itu pendek. Aku mengernyitkan dahi.

“Yuri, gadis itu mengurung diri di kamarnya sejak sore hari seminggu yang lalu. Dia menyebut namamu di dalam setiap tidurnya. Dan aku tidak pernah berani menanyakan ini padanya”

“mengurung diri?”, aku terbelalak. Tidak masuk akal buatku bahwa gadis itu mengurung diri di kamar hanya karena sebuah kalimat singkat yang kuucapkan beberapa hari yang lalu. Yang harusnya sakit adalah aku. Yang cintanya tidak terbalas adalah aku. Bukan dia.

“dia kehilangan keluarganya sejak kecil. kehilangan kakaknya di umurnya yang masih belia dan kehilangan kekasihnya 6 tahun lalu. Dia kehilangan semua orang yang mencintainya. Dia adalah tipe wanita dengan trauma pada masa lalu”

Aku diam.

“kekasihnya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dia adalah tipe pria belia yang sangat baik dan rupawan. Aku menyesalinya. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun. sejak saat itu, senyum Yuri menghilang dari wajahnya…”

Aku masih diam.

“..sampai beberapa hari belakangan, ketika dia pulang dengan seragam bau karamel dan senyum mengembang di bibirnya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya bahagia. Tapi aku kini tahu ‘siapa’ yang mengembalikan senyumannya”

Dadaku bergejolak. Namun aku masih membungkam.

“dia tidak pernah bercerita padaku –Yuri itu. Tapi aku tahu bahwa dia menemukan kebahagiaannya kembali. Seminggu yang lalu, saat ia pulang dengan menangis. Aku bertanya padanya, mencemaskan barangkali sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dan dia, memelukku”

Aku menatap mata wanita paruh baya itu. teliti. Serius.

“yang dia katakan berulang-ulang hanyalah, Tolong dan Maaf. Aku tidak mengerti untuk apa dan kepada siapa ia mengatakan itu. bahkan di dalam tidurnya, ia terus menerus mengatakan kedua kata itu. serta dengan lirih, menyebut namamu”

Aku masih diam. Lidahku kelu.

“Dengar, anak muda. Aku tidak tahu siapa kau dan apa hubunganmu dengan anak angkatku. Tapi, ada satu cara… hanya ada satu cara untuk membuat gadis itu kembali pada kehidupan normalnya. Dan itu harus kau yang melakukannya. Aku tahu persis”

Aku menelan ludahku setelah mengumpulkannya di sudut dalam dari rongga mulutku. Rahangku terkatup sepenuhnya, menunggu penyelesaian dramatis dari wanita paruh baya ini.

“Apa yang bisa kulakukan?”. Tanyaku sekenanya.

“kembali pada gadis itu dan menarik ucapanmu yang membuat ia bersedih. Atau…”

“atau apa?”

“atau pergi dari gadis itu tanpa sepatah katapun, membuatnya melupakanmu secara natural, membuatnya kembali menjadi gadis yang duduk sendiri di balik jendela”

.Begin Again.

Yuri, aku tidak menginginkanmu. Dan kau tidak menginginkanku, tapi kita dipertemukan. Di saat aku menginginkanmu dan kau menginginkanku, kita terpisah. Aku dan kau seperti berada di balik jendela tipis yang kau pandang tiap hari. Kau dan aku saling melihat, namun kita tidak dapat berucap dengan jelas. Kau dan aku saling memandang, namun kita tidak dapat saling bersentuhan. Kau sakit, Aku sakit, Kita sakit.

Yuri, hari ini adalah hari terakhir aku memakan kimchi dengan bebas. Aku tidak tahu apa makananku selanjutnya. Apakah kembali pada bao zi? Atau aku akan memakan sushi? Pizza juga salah satu kemungkinannya. Tapi wanita tua dengan lipstik tebal itu tidak akan membawaku ke dataran Eropa, pizza tidak akan menjadi makanan favoritku selanjutnya.

Aku tidak tahu kemana aku akan berdiam kali ini. aku benar-benar tidak tahu.

Yuri. aku dapat memahami kau menderita karena masa lalumu. Tapi ketahuilah, semua orang pernah menderita karena masa lalunya. Bahkan beberapa tidak berharap pernah dilahirkan. Yang kau lakukan selama ini hanya menyakiti dirimu sendiri, membuat kau terasing.

Namamu Yuri dan kau serapuh kaca. Tapi apakah kau tahu apa yang pecahan kaca bisa lakukan pada permukaan kulit?. Benar, Kaca yang terpecah belah… akan melukai siapapun yang menyentuhnya. Dan aku… sedang terluka Yuri. lebih terluka dari apa yang kau tahu.

Setelah kau membaca surat ini, jangan mencariku –walaupun aku tahu kau tidak akan pernah melakukannya. Kau boleh kembali memandang jendela berlama-lama dan melupakan manisnya caramel macchiato. Kau bisa kembali meneropong matahari senja sebagaimana kau sering melakukannya. Permintaanku hanya satu. Jika kau adalah kaca, jadilah kaca yang dapat memisahkan kau dengan masa lalumu.

Bulir air mataku tergenang di pelupuk. Ubun-ubunku berdenyut kencang. Surat putih itu kulipat dengan hati-hati. Beberapa bagiannya kubiarkan terbuka setelah angin menerbangkan rambutku melalui celah kecil di jendela kamar. Aku menatap lirih pada barisan huruf berantakkan di sana.

Potongan grafis dari pria yang menggoreskan huruf demi huruf dalam lembaran surat kecil itu tergambar jelas di otakku.

Hatiku sakit. Lebih menyayat dari biasanya. Aku salah. Aku salah. Aku benar-benar salah.

Tao… pria itu pergi dengan luka yang kubuat dalam hatinya.

.Begin Again

Aku sudah hidup lebih lama daripada yang aku perkirakan. 8 bulan, menjelaskan bagaimana aku hidup dalam 8 bulan terakhir adalah hal paling berharga di dalam hidupku.

Setelah hari itu –dimana sebuah surat mampu memukul rendah bagian dalam dari otakku, aku berubah. Karena kehendakku sendiri, karena orang-orang yang terkena luka dari serpihan rapuh Kwon Yuri ini, Karena dia, Karena Tao.

Pria itu benar-benar pergi. Entah kemana. Harusnya ia duduk di sini, bersamaku dan beberapa teman lamanya. Tapi kursi itu kosong. Jubah hitam, toga dan selembar sertifikat tidak mampu meluapkan betapa rindunya aku akan sosok pria tinggi itu.

“Kau akan berfoto, Yuri? jika kau tidak segera mereka akan memulainya tanpamu”

Daehyun, pria itu mengingatkan. Aku tersenyum dan mengangguk rendah. Dengan langkah kaki kecil yang bersahutan di antara kaki kaki yang lain, aku mengambil satu posisi di ujung. Berdiri dan tersenyum di depan sebuah benda hitam dengan sebuah cahaya kilat.

cheese”, aku menggabungkan suaraku bersama suara berat yang lain. Kami bahagia, aku seharusnya bahagia. Tapi aku tidak.

Seharusnya ada satu orang yang berdiri di sebelahku dan berfoto bersama kami saat ini. seharusnya orang itu ada di sana dan membuat satu gerakan lucu bersama daehyun dan teman-temannya yang lain. Seharusnya orang itu mengajakku kembali duduk-duduk di sebuah cafe bersama caramel macchiato dan cappucino pahitnya. Harusnya aku melupakannya.. harusnya…

“Yuri”, wanita paruh baya memanggilku. Ia menawarkan sebuah microphone padaku. Aku menggelengkan kepala.

“Ayolah. Tiada lagi yang menyamai indahnya suaramu di sini”, aku tidak bisa menolak. Hanya kali ini saja, terakhir kalinya aku bernyanyi. Aku naik ke atas sebuah panggung kecil; di tengah sebuah pesta taman dengan pria dan wanita dengan toga di kepala mereka. Riuh tepuk tangan terisi di setiap hembusan angin, di setiap helai rerumputan bergoyang.

Aku tersenyum. “Untuk seseorang dalam masa laluku, masa lalu kita semua”

Riuh rendah terdengar ketika aku mulai duduk dan memetik gitar. Aku pejamkan mataku, mencari saat yang tepat untuk menyuarakan nada perdana di lagu tersebut. Suasana menjadi hening walaupun bisikan tidak mengganggu sempat terdengar.

Aku berdehem, membuka mulutku –mulai melantunkan bait pertama dari lagu yang kupilih.

Took a deep breath in the mirror
He didn’t like it when I wore high heels
But I do
Turned the lock and put my headphones on
He always said he didn’t get this song
But I do, I do

Aku mengedarkan pandanganku sambil terus mengayunkan jemariku di atas senar gitar. Aku tersenyum pada wajah-wajah yang kukenali lebih dalam selama 8 bulan terakhir. desiran aneh kurasa, tapi tidak seaneh saat aku menatap Tao di masa lalu. Aku sangat berharap dia di sini, berdiri dan melihatku bernyanyi. Melihatku mencoba melupakan masa lalu.

And you throw your head back laughing like a little kid
I think it’s strange that you think I’m funny ’cause he never did
I’ve been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break and burn and end
But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again

Aku ingin dia tahu bahwa apa yang dia lakukan selama waktu singkat di dalam hidupku tidak pernah sia-sia. Pecahan kaca Kwon Yuri yang melukai orang lain kini sudah merekat erat dengan Kwon Yuri itu sendiri. 8 bulan sudah Kwon Yuri ini habiskan untuk menyadarkan dirinya dari masa lalu, membuat pengandaian dan pengharapan kembali –dari awal.

Riuh rendah tepuk tangan kudengar 5 menit kemudian saat petikan gitarku mencapai nada akhir. Wajah-wajah penuh kepuasan dengan senyuman mengembang telah aku lihat. Aku menyukai suasana ini.

Aku turun dari atas panggung. Kuterima sapaan singkat dari para penampil selanjutnya di pinggiran papan kayu tersebut. Aku hanya melambaikan tanganku, senyum tak lepas.

Aku duduk di sebuah tenda kecil. di sekitar meja yang penuh dengan makanan. Aku mengambil sebuah cangkir kecil. kuisi penuh dengan sebuah cairan coklat pekat. Bukan kopi, ini coklat hangat.

Aku menikmati seteguk, dua teguk, tiga teguk –dari cangkir itu.

love chocolate already, miss?”

Aku mendongak ke samping kanan. Melihat manik hitam yang indah di sana. rambutnya yang hitam sudah menjadi kecoklatan yang gelap. Matanya lebih sipit dengan balutan kantung panda di bawah matanya. Aroma parfumnya sudah berbeda dari apa yang aku ingat. dia duduk di sampingku, menempati sebuah kursi kosong.

Aku tidak percaya, tapi dia ada. Tao… pria ini..

“meninggalkann caramel, huh?” dia menyeruput cangkir coklat panasnya ketika bicara. Aku masih diam.

“kelas ini tidak berbeda dari beberapa bulan yang lalu saat kutinggalkan. Mungkin satu-satunya yang berubah adalah dirimu. Kau bernyanyi sekarang, eoh?”

Aku masih diam. Cangkir yang kugenggam, mengerat.

“Kau terlihat lebih hidup. apa kau sudah membaca suratku?”

Aku diam, namun keringat membuat gelas yang kupegang menjadi sangat licin. Gelas itu terjatuh ke atas tanah. Bagian kacanya tidak pecah, namun isinya berserakan di atas rumput. Aku menunduk kaget dan segera mengambil gelas itu dengan tangan telanjangku. Tao ikut menunduk –mensejajarkan tinggi tubuh kami.

“Gelas ini… seperti kau. Terjatuh di awal dengan isinya yang tumpah kemana-mana”, aku mendongak. Menatap bibir pria itu lekat. Tao tersenyum padaku, seperti ada sesuatu yang lucu di mataku.

“Tapi gelas ini… tidak lagi rapuh, tidak hancur berkeping-keping walaupun terjatuh pada awalnya”

Aku membawa gelas itu di dalam tanganku. berdiri, bersamaan dengan saat pria itu menegakkan tubunya dan membawa tanganku ke dalam genggaman tangannya. Aku tidak dapat menahan linangan air mata yang berkumpul di sudut mataku. bulir air itu jatuh, menetesi gelas kosong yang ada di tanganku. aku tertunduk. Kepalaku melemah, aku bersandar pada dada bidang dari pria di depanku. Ia mulai mengusap kepalaku pelan.

“Aku di sini, Yuri. membawa kaca itu kembali padaku”

Aku menenggelamkan wajahku di dalam pelukannya. Bau manis dari karamel kurasa di setiap gerakan isak yang kubuat. Bahagia? Tidak… aku bahkan merasaka hal lebih dari kata ‘bahagia’ itu sendiri.

“Kau di sini… Kau ada di sini, pada akhirnya…”, ucapku terbata, di sela singkat dari isakan yang kubuat. Air mataku membasahi bajunya. Aku tidak peduli apakah seseorang melihat kami atau tidak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, memastikan luka yang pernah kugoreskan pada pria itu sudah lenyap. Memastikan apa yang sudah aku lewati dengan sia-sia di masa lalu.

“Tao… dengarkan aku… Kwon Yuri, sudah mencintaimu”

Aku mendengar detakan aneh di dalam dada pria itu. aku tahu ini detakan bahagia. Aku tahu bahwa ia juga berharap aku bahagia.

“Aku tahu. Untuk ini aku kembali”

Kami tersenyum tanpa melihat satu sama lain. Aku berharap hari ini lebih panjang dari semua hari yang sudah aku lewati, berharap hari esok yang datang lebih lambat.

.Begin Again.

Tik Tok… Waktu…

Aku bergumam rendah pada mentari yang hampir tenggelam di ufuk barat. Kepakan ringan dari burung-burung yang terbang berkerumun menuju sarangnya, membuat mataku yang terpejam kini membuka sepenuhnya. Angin semilir tidak mampu menyampaikan kata yang ada di dalam otakku. Hening.

Di seberang rumah mewah dengan cat putih itu ada sebuah Cafe. Sederhana, dengan aroma manis yang menyengat. Aku mengatakan itu tidak nyaman, namun seorang gadis merasa senang berjam-jam duduk di sana.

Siluet gadis itu masih membekas di sana, meski hanya udara kosong yang dapat kuraih saat ini. kursi panjang di dekat jendela adalah favoritnya. Dan aku hanya bisa memandang punggungnya dari tempatku berdiri saat ini.

Hujan membawa gadis itu hilang kemudian. Dan kini senyap.

Tik Tok… Waktu…

“Kau tidak akan masuk, yeobo?”

Aku menoleh singkat. gadis itu di sana, dengan balutan gaun malam putih yang tipis dan secangkir macchiato di tangannya. Ia tersenyum, memanggilku kembali ke dalam pelukannya.

Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Yang salah adalah pikiranmu sendiri. Tidak ada yang salah tentang kau dan aku, yang salah adalah ketakutanmu sendiri.

Kita bisa bertemu kemudian terpisah atau bisa terpisah tanpa pertemuan sama sekali, tapi satu yang akan kutanamkan padamu… jika semuanya sudah hancur, kau bisa menyusunnya kembali. Memulainya dari awal. Kita bisa mulai lagi.

THE END

102 thoughts on “Begin Again – From EXOYUL Series

  1. Luluu berkata:

    Bagus kaknyun~ hanya saja aku kurang ngerti bagian ending nya… ._.v aku ga nyampe imajinasinyamm hehe.m
    tp ga merubah kebagusan ceritanya sih hehe..
    keep writing kaknyun~

  2. aloneyworld berkata:

    Aiiihhh aku bahagia bacanya😄 yaampun akhirnya si bao zi itu balik juga yaampun😄 gemes banget deh ah, apalagi bagian yuri yang ngurung diri, kenapa harus sampe kayak gitu sih mbak hadapi aja hadapi😄 tapi akhirnya yuri sadar juga dan jatuh cinta sama tao hihi😀 keren😀

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s