I -From ILOVEU Series

i_bapkyr_melurmutia

This is the 1st series from ILOVEU – BAPYUL ficlet.

Main Cast : Kwon Yuri – BAP Jong up.

Length : Ficlet

Genre : Angst

Disclaimer : I Just own the plot and idea. Do Not Plagiarism.

Thanks to MelurMutia at CafePosterArt for awesome Poster

***

Kompas, Matahari, Rasi Bintang?

Tidak bekerja.

Aku tersesat.

-oOo-

Aku suka berjalan, di atas kakiku sendiri –dengan atau tanpa alas kaki. Langkahku stagnan, hanya berpindah kurang lebih 10 senti dalam tiap detiknya. Langkah kecil?, memang. Tempurung dengkul kakiku rapuh, berbeda dengan orang kebanyakan. Aku bisa berjalan, hanya saja dengan gaya yang sedikit kuno dan berbeda.

Dan itu dulu.

Aku suka berjalan, tapi Tuhan tidak pernah menyukainya.

bicara tentang berjalan, hari ini aku tidak menemukan sebuah tongkat kecil lapuk yang biasanya menemani setiap detik dari sisa hidupku. Aku ragu apakah tongkat itu memang tertinggal di sudut kamar rumah sakit atau memang sudah habis dimakan rayap.

Diam di atas bangku taman rumah sakit yang panjang ; menatap nanar pada kuku tanganku yang tidak cantik sama sekali, adalah satu-satunya yang aku lakukan saat ini. Aku sebenarnya menunggu, namun aku tidak tahu apa yang kutunggu.

“Sendirian lagi, noona?” pria berdasi, berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya kini berdiri di sebelahku. Dia tidak duduk –dia tidak pernah duduk. Dari apa yang kutahu, dia cukup tampan. Kacamata beningnya tidak menutupi baik satu partikel atompun dari ketampanannya. Ia berdiri dengan gagah; terkadang berdehem dan menggerakkan kedua lengannya, memainkan stetoskopnya.

“Aku bersamamu. seperti biasa, Jongup-ah.” Aku menjawab.

Keriput kecil muncul di pelipis pria itu ketika ia tertawa. Deretan gigi putihnya cukup menyilaukan terpantul mentari. Dia melipat tangannya di depan dada, mengoyangkan kakinya pelan.

“Bagaimana kakimu?” tanyanya.

“Tidak bisa berjalan tanpa tongkat. Seperti biasa.” aku mencoba untuk menggunakan syaraf motorik agar kaki yang tergantung di atas kursi itu bisa bergoyang barang sedikit, namun yang kutemukan adalah… batu. Kakiku membatu.

“Pagi tadi mereka mengatakan sesuatu tentang amputasi.” Tambahku menjelaskan. Aku mencondongkan tubuh dan menyentuh kedua kaki-kakiku dengan pelan. Berakting seolah-olah aku tidak akan melihat dua kaki itu selamanya.

Jongup melebarkan bibirnya ke samping, menarik urat-urat wajahnya menjadi fleksibel. Matanya menyipit ketika ia mulai melepaskan benda bening yang terpasang di sana.

“Kau akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Aku tidak mengkhawatirkan apapun, Jongup-ah. Hanya saja, bagaimana dengan menari tanpa kaki? Apa aku masih bisa melakukannya?”

Jongup tertawa. Tepukan tiga kali terasa sangat hangat di bagian punggungku. Pria itu sebenarnya lebih muda dariku, tapi cara berpikirnya jauh lebih dewasa. Matang.

“Apa kau pikir kau hanya bisa menari dengan kaki?” Jongup berjalan menuju sisi depan dari tubuhku. Ia memandangi kakiku kemudian berjongkok pelan, menyentuh ‘batu-batu’ itu teliti. Aku menggeleng –tidak yakin apa yang akan kukatakan.

“Kudengar Beethoven adalah seorang tunarungu, namun dia adalah seorang musisi yang hebat…” Jongup menelusuri kaki-kaki tidak bergunaku dengan perlahan. Dari atas ke bawah. “…Kudengar Stevie Wonder adalah seorang tunanetra, tapi dia juga seorang produser dan musisi kelas dunia…”, Tangan Jongup berpindah ke kakiku yang lain. Melakukan gerakan yang sama dengan sebelumnya.

“…dan kudengar… Kwon Yuri adalah wanita dengan kaki yang akan diamputasi, tapi semua orang tahu bahwa dia adalah penari yang hebat.”

Tamparan hebat. Bukan secara teknis, tapi lebih diksi konotatif yang kupilih untuk apa yang membuat dadaku sesak. Jongup bukan penyair, tapi dia memiliki kata-kata seperti seorang pujangga yang merangkap sebagai motivator. Sudah kubilang, dia lebih matang.

Kutatap iris mata hitam di depanku dengan serius –tidak ingin satu detikpun terbuang percuma. Aku mengambil napasku perlahan, hati-hati dan diam-diam –tidak ingin momen berharga ini rusak. Saat Jongup mulai menggenggam tanganku, hatiku berteriak. Sesak.

Inginku adalah menahan aliran sungai di pelupuk mataku berhenti berderai, tapi semakin ku mencoba adalah semakin ku gagal.

“Kau tidak akan mati hanya karena mereka memotong kakimu, Yuri. Jika kau tidak bisa menari dengan kakimu, gunakanlah tanganmu. Tidak ada yang tidak bisa Kwon Yuri lakukan, benar?”

Air mataku kembali terjatuh. Aku ingin berteriak agar pria dengan iris mata hitam ini berhenti berbicara, namun tenggorokanku kehabisan udara. Pita suaraku tidak bergetar sama sekali. Yang kulakukan hanya menangis –sebagaimana wanita putus asa yang lain.

“Jongup-ah…” Aku memanggil namanya. Namun pria itu seperti tuli. Aku tidak peduli. Sesuatu masih mengganggu keyakinanku. “…Tarianku tidak akan sempurna, tanpa kaki.”

Bibirku bergetar. Perasaan yang lebih kelam dan gelap kini menggelayut di dalam bayang-bayang grafis otakku. Bagaimana bisa aku menari tanpa kaki?.  Jika saja waktu bisa diputar kembali, dan aku tidak pernah ada dalam kecelakaan itu.

Di detik selanjutnya, genggaman tangan Jongup mengerat. Bibirnya membuka dan terkatup, ia berbicara dengan parau.

“Tidak ada yang sempurna, Kwon Yuri –dengan atau tanpa kaki. Kau harus bersyukur setidaknya pada satu hal ini, kau lebih baik. Kau masih bernapas.” Air mataku tiba-tiba berhenti. Semilir angin mengeringkan air mata di pipiku dengan segera. Dedaunan berputar di atas ubun-ubunku, seakan ingin membuat mahkota indah di atas rambutku.

Kugerakkan jemariku, gengaman tangan pria itu mengendur. Pria itu tersenyum, menunjukkan betapa kecilnya kedua bola mata itu dibanding milikku. Aku tidak menyalahkan pria itu karena keheningan yang tercipta setelah beberapa detik berlalu. Mungkin yang salah aku, dan kecelakaan itu.

“Kau tidak tahu betapa aku merindukan oksigen lebih dari apapun, bukan? bahkan aku bersedia menukarkan kaki-kakiku demi udara itu.”, Pria itu tersenyum, namun maaf… kalimatnya tidak terdengar lucu untukku. Dia hanya menempatkanku dalam posisi terpojok. Aku menggigiti bibirku, dadaku sakit. Seperti sebuah timah panas tersangkut di sana dan tidak pernah ingin keluar.

Tubuhku bergetar ketika pria itu melepaskan genggaman tangannya dariku. Dan bisa kutebak, ia masih tersenyum.

“Maafkan aku… Jongup-ah…” terbata. Bibirku bergetar. Pria itu menggelengkan kepalanya padaku ia berdiri, mencoba membelakangi tubuhku dan mendongak pada awan. Ia mengangkat tangannya melambaikan tangan pada sesuatu tak kasat mata. Aku memandangnya heran.

“Yuri… lakukan operasi itu, dan hiduplah lebih lama. Kakimu tidak boleh membusuk.”, suara pria itu bergetar. Aku tahu… Aku tahu nada seperti ini. Dia pasti menangis, si cengeng itu sedang menangis. Aku ingin sekali beranjak dari tempat dudukku dan berlari memeluk pria itu dari belakang. Tapi apa yang bisa kulakukan dengan kaki-kaki lumpuh dan bau busuk ini?

“Aku tidak ingin kehilangan kedua kaki ini. Lebih baik aku mati daripada aku memotongnya.” Aku berteriak secara refleks. Beberapa orang di taman Rumah Sakit itu menatapku dengan aneh. Aku diam.

Pria itu berbalik. Menunjukkan ekspresi lain. Matanya membelo, dan hidungnya kembang kempis. Ia berjalan padaku dengan cepat dan mengayunkan telapak tangannya pada pipiku. Keras.

Jongup mungkin marah padaku. Jongup mungkin barusaja menamparku.

Aku mengelus-elus pipiku. Harusnya sakit di sana, harusnya memerah di sana. tapi yang kurasakan hanyalah semilir angin yang berputar di permukaan kulit wajahku –tanpa rasa sakit. Wajah Jongup masih memerah karena amarah.

“Berhenti bicara mati. Kau tidak tahu apa-apa.” Semilir angin di pipiku kini memudar, seiring dengan cahaya silau yang ditunjukkan Jongup padaku. Stetoskop yang tergantung di lehernya terjatuh dengan sempurna di atas dedaunan kering. Sementara badan pria itu mulai memudar –transparan.

Bibir Jongup bergerak. Aku tahu dia menangis jika saja tanpa cahaya silau itu di sekitar tubuhnya. Ia mencoba mengatakan sesuatu padaku.

“…Kau tidak tahu apa-apa tentang kematian… kau tidak tahu, Yuri.”

Di akhir kalimatnya, air mataku menetes. Sedikit demi sedikit, tanganku mencoba menggapai udara kosong. Aku terengah. Mataku mencoba mencari sebuah stetoskop yang terjatuh di atas tanah. Namun benda itu tidak ada di sana. Aku bergerak, mencoba berdiri dengan kaki-kaki busukku. Aku lelah, aku lelah dengan menggapai dan menggapai. Lalu aku terjatuh, dengan wajah mendarat pertama kali di atas tanah. Kucengkram dedaunan kering di sana, mencoba membasahinya dengan air mataku sekali lagi.

“Maafkan aku… tidak seharusnya kau berada saat kecelakaan itu, Jongup-ah.” Aku tersedu. Mungkin aku seperti orang gila. Rambutku berantakan, menutupi sebagian wajahku karena angin liar yang bertiup tiba-tiba. Pria dengan iris mata hitam dan bola mata kecil itu sudah tidak ada di depanku. Cahaya besar membawanya ke suatu tempat yang jauh –tempat yang bahkan tidak bisa kugapai dengan kakiku.

Jongup, pria muda itu meninggalkanku dalam kesalahan yang kubuat.

Aku meraung, mencengkram kuat dedaunan kering, mengubahnya menjadi serpihan debu yang beterbangan tertiup angin seperti dandellion. Dan aku tergeletak tak berdaya.

Aku mendengar derap langkah cepat. 4 kaki, dua orang. Mereka berbicara rendah, namun aku mendengarnya dengan jelas. Aku menangis lagi.

“Tambahkan dosis obat penenang pada Nona Kwon Yuri. Traumanya masih belum sembuh.”

-oOo-

Jongup-ah, aku tersesat.

Aku tidak dapat berjalan. Dan aku tidak memiliki arah.

Kompas, matahari, Rasi bintang.

Tidak bekerja.

Aku benar-benar tersesat.

Bisa kau bawa aku?

=THE END=

Yip. telah sampailah kita pada kata ‘the end’

bagaimana? ada kritik, saran atau opini?

99 thoughts on “I -From ILOVEU Series

  1. lia berkata:

    Asik cerita a
    Ternyata jong up a kut kecelakaan ma yuri yaaa,, tapi dy a ud matii,,
    Rajiin2 buat ff ya eonnie,,
    Aq suka semua cerita yg eonnie buat🙂

  2. @kyunabumik berkata:

    kirain pas diawal cerita jongup seseorang yg menyemangati yuri untk hidup,eh jongup nya udah… (?) singkat,tapi dpet feel nya:) *-*

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s