THE STEWARDESS [Part 5]

The stewardess 5 by bapkyr

Maaf atas keterlambatannya.

Chapter sebelumnya : PART 4

Warning : Typo

***

.The Stewardess

“Berhenti menatapku seperti itu. Menjijikan.” Aku mencibir pada seorang pria yang kini berdiri bersisian denganku. Pria itu membawa gelas anggur di tangannya. tangannya yang lain ia masukan ke dalam saku. Pria itu memandangiku dari atas hingga bawah berulang kali, membuatku risih.

Aku menjejakkan kakiku jengkel kemudian berbalik menjauh. Tangan pria itu menarikku kembali ke sisinya. Bau anggur menyergak masuk ke hidungku.

“Apa lagi yang kau inginkan, Tuan Park?” Aku berkata sarkastik ketika aku menghempaskan tangannya. Pria itu tertawa kecil kemudian kembali meminum seteguk dua teguk anggur yang ada di gelasnya.

“Kau bodoh atau apa? Mereka memandangi kita saat ini, semua tamu penting ini. Aneh jika kau tiba-tiba pergi dariku.”

“Aku tidak peduli.” Aku mencibir. Pria itu meletakkan gelasnya di atas nampan seorang waiter yang lewat. Ia mengelap tangannya dengan sebuah sapu tangan biru muda kemudian memasukkan kembali sapu tangan itu ke dalam saku kemejanya.

Ia menatapku kemudian menunjukkan jari-jari kanannya. Sebuah benda berkilauan melingkar di jari manisnya. Sama persis dengan milikku.

“Kita telah bertunangan. Kau tidak bisa bertindak sesukamu.”

Aku mendengus kesal. Pria itu benar, Yoochun menyebalkan dan arogan itu benar. Aku sudah bertunangan dengan dirinya.

Aku baru saja akan bicara, ketika sepasang suami istri datang dan mengucapkan kalimat selamat dan doa pendek untuk aku dan Yoochun. Kami hanya tersenyum, berakting seolah kami senang. Sepertinya aku ada bakat menjadi aktris yang baik, tidak ada satu tamu yang curiga akan kekesalanku hari ini. Sukses dengan akting.

Aku sudah berdiri hampir 3 jam dengan sepatu menjulang di kakiku. Wajar jika saat ini aku merasakan kram.

“Aku butuh toilet.” Aku pergi tanpa pamit pada Yoochun. Pria itu mungkin mendengarkan gumaman kecilku, ia tidak marah aku pergi dari sisinya dan membiarkan pria itu menyalami tamu sendirian.

Urat-urat di kakiku menjadi tegang. Aku sedikit berlari menggapai toilet, membuka pintu dan segera menguncinya dari dalam. Aku melepaskan sepatuku dengan dengusan napas yang berat dan mulai memijit-mijitnya.

Tidak mau sia-sia, aku menggunakan waktu sempit ini untuk menggerutu. Betapa sialnya aku bertemu dengan pria itu. Dari Roma, hingga ke Seoul.

 

-oOo-

 

“Yuri, kau tidak apa-apa? Suara ketukan lembut terdengar di balik pintu. Seorang pria dengan tuxedo hitam dan tatanan rambut yang senada mengetuk pelan pada permukaan pelitur kayu. Yuri –gadis yang dipanggil, terperangah. Ia mengenali suara itu.

“Jaejoong oppa?” Tanyanya. Tidak perlu menunggu balasan positif dari pria di seberang pintu kayu, Yuri membuka kunci setelah sebelumnya membasuh kakinya dengan air. Ia menarik pintu tersebut dan membawa seseorang di baliknya bicara.

“Ada apa denganmu?” Jaejoong bertanya, memindai setiap jengkal tubuh Yuri dengan matanya yang awas. Yuri menggeleng, kemudian menunduk lemah. Ia menunjukkan kakinya yang membengkak di atas high heel.

“Kau penderita beri-beri?” Jaejoong menaikkan satu alis dan tersenyum tipis pada Yuri. Yuri memukul pundaknya pelan, kemudian kembali meringis karena kakinya menyentuh permukaan sepatu yang keras.

aniya~ aku bercanda. Kau terkilir?”

Yuri menggeleng, “Mungkin karena terlalu banyak berdiri.” Jawabnya singkat. Jaejoong merendahkan badannya, ia berjongkok dan memeriksa kaki Yuri dengan teliti. “Kau masih bisa berjalan?”

Yuri mengangguk “tidak bisa terlalu jauh.” Jawabnya. Jaejoong mengangguk. Ia berdiri kemudian menawarkan telapak tangannya yang terbuka lebar di depan gadis itu. Yuri melebarkan matanya, memiringkan kepalanya 10 derajat ke kanan, “mwo?”

“Kau perlu kembali ke tempatmu, bukan? Ayo.” Ajak pria itu lagi. Jaejoong membuka telapak tangannya lebih lebar dan menggoyang-goyangkannya di depan bahu Yuri. Yuri mengerling sekilas kemudian tersenyum.

aigoo. Aku tidak perlu bantuan seperti ini. Aku bisa jalan sendiri.”

“Aku berani bertaruh kau akan jatuh dalam langkah ke-3.”

ey~~”

Yuri tersenyum kecil. Mereka sama-sama tertawa. Yuri menerima bantuan pria itu pada akhirnya, ia dipapah menuju sebuah sofa empuk di sudut ruangan –tempat dimana Yoochun duduk.

“Jaejoong-ssi.” Sapa Yoochun. Ia melirik sekilas pada Yuri yang acuh tak acuh. Wanita itu duduk di sofa, membantingkan tubuhnya kemudian mengambil sebuah gelas anggur dan menenggak isinya dalam satu tegukan.

Jaejoong tidak sempat membalas sapaan ringan dari Yoochun. Sebuah lambaian singkat dari sepasang suami istri yang berdiri di ambang pintu pesta mampu membuatnya bergerak terburu-buru. Jaejoong pamit kemudian melirik sekilas pada Yuri.

“Kau tidak boleh berjalan terlalu banyak.” Ucapnya pelan. Yuri mengangguk dan tersenyum lebar hingga Jaejoong menghilang dari pandangannya.

Yuri menuangkan anggur baru ke gelasnya yang kosong dan meminumnya dengan bahagia. Giginya berderet rapi dan matanya menyipit. Dia hanya tersenyum.

Yoochun memperhatikan gadis itu dengan seksama, kemudian tertawa mencibir.

Kau tidak boleh berjalan terlalu banyak. Apakah karena itu kau tidak bisa berhenti tersenyum, Nona?” Yoochun memasukkan salah satu tangannya ke saku dan menertawai ekspresi gadis itu. Yuri menatap sinis pada pria di depannya, sambil mengutuk di dalam hati.

“Kwon Yuri, dia tidak akan menjadi milikmu. Lihatah dirimu.” Ulang Yoochun –memanasi. Yuri gerah, ia ambil sebuah bantal sofa di belakangnya, dan melemparkannya pada wajah pria itu hingga anggurnya tumpah. Mata Yoochun melebar ketika baju mahalnya basah dalam satu kali kesempatan. Mulutnya menganga lebar, menatap Yuri dengan tatapan iblis.

Yuri tersenyum, menertawai jahil. Dia mengacungkan jempol pada jemari kanannya, kemudian memutarnya 180 derajat hingga ujung jempol menghadap ke lantai. Jempol itu ia arahkan langsung di depan pupil mata Yoochun, memancing emosi pria itu.

Yuri terkekeh puas, kemudian dengan kaki terseret, pergi dari sana.

-oOo-

Ting Tong.

Sebuah bel keras terdengar di ambang pintu utama. Yuri mendengarnya, tapi ia terlalu malas untuk melihat siapa yang mencoba mengganggunya pagi-pagi buta. Yuri masih enggan membuka matanya barang secelah semutpun.

Ting Tong.

Bel kedua berbunyi kembali, masih dalam nada suara yang sama. Yuri menarik bantal yang ditindihnya di kepala dan membuatnya sebagai sumpalan untuk kedua telinganya. Ia cukup terganggu.

Ting Tong.

Yuri menggelengkan kepalanya dan membuka matanya lebar. Rambutnya yang lurus kini acak-acakan di atas kasur empuk. Piyama tidur yang ia pakai sudah tidak beraturan posisinya. Hidung gadis itu kembang kempis karena kesal.

Ia lirik sebuah jam kecil.

“Jam 6 pagi. Setan mana yang berani mengganggu tidurku.” Yuri bergumam kesal. Saat ia akan beranjak dari tempat tidurnya, ia mendengar suara derap langkah ke pintu utama. Segera, senyum mengembang di wajahnya.

“Setidaknya aku punya pembantu yang mengurus ini.” Ujarnya rendah. Yuri menggeliat, merentangkan tangannya ke samping dan kaki-kakinya lurus. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menghempaskan tubuhnya kembali ke atas kasur.

Tangan Yuri meraba-raba pada sebuah guling empuk yang sudah terjatuh. Ia menariknya dengan mata tertutup kemudian perlahan memeluk guling itu.

“Oh jadi ternyata Kwon Yuri adalah gadis pemalas.”

Yuri terperangah. Ia membuka matanya dan menangkap sosok pria yang berdiri di ambang pintu sambil mengunyah apel di mulutnya.

“Park Yoo Chun!” Yuri berteriak. Ia menarik selimutnya sampai sebatas dada kemudian menatap Yoochun dengan emosi.

“mungkin kau bisa menambahkan oppa di belakang namaku.”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Kamarmu cukup nyaman, tapi sedikit bau.”

“Apa yang kau lakukan di kamarku, kubilang!”

“Aku tidak suka warna cat kamarmu.”

“YA! Pria bau dengarkan aku!”

Yoochun menjatuhkan apelnya ketika Yuri berteriak keras. Tangannya mengepal kesal, matanya membelo. Yoochun merundukkan badan ke depan dan memungut apel yang ia jatuhkan, namun Yuri sudah terlanjur kesal dan membanting sebuah guling yang di dekapnya pada kepala pria itu.

“Bisakah kau berhenti melempar barang. Kau bukan atlit. Apa semua pramugari melakukan ini?”

“Kau menjengkelkan.” Yuri menarik selimutnya yang mulai merosot. Ia berdiri di sisi kasur dan berjalan cepat menuju pria dengan sepatu kets dan headphone di telinganya itu. Yuri membalikkan tubuh pria itu ke ambang pintu dan mendorongnya perlahan. Yoochun sempat melawan karena apelnya tertinggal di kamar Yuri, namun Yuri lebih cerdik. Ia menendang apel itu hingga buah kulit merah itu dan pemiliknya keluar sepenuhnya dari kamar biru Yuri.

Yuri terengah dan menutup pintunya dengan cepat. Ia menguncinya dari dalam sementara Yoochun masih menggedor pintu kayu itu. Yuri berjalan kecil ke depan wastafel dan membasuh wajahnya yang masih kusut. Ia menatap baik-baik goresan wajah itu di depan cermin.

Yuri mengusap pantulan wajahnya di permukaan cermin kemudian melihat sebuah benda berkilauan di jari manisnya. Yuri mendesah, kepalanya tertunduk.

“Aku sudah gila.”

-oOo-

Yoochun keluar dari kamar Yuri dengan perut yang kegelian. Dia tertawa terbahak-bahak ketika kakinya mencapai pintu ruang tamu yang lebih luas. Meja besar terpajang di sana, tentunya tidak perlu menyebutkan aneka hidangan mewah yang tersaji di atasnya. Yoochun dengan celana pendeknya berjalan ringan ke kursi kosong yang tersedia.

Di ujung meja besar itu, duduk seorang pria paruh baya dengan seorang wanita yang duduk di arah jarum jam 9. Mereka berbicara dengan gaya klasik –khas konglomerat.

“Yoochun-ssi, Mana Yuri?” Pria paruh baya di ujung meja melongok ke ambang pintu dan melihat ringan pada Yoochun.

“Mungkin dia masih mandi.” Ucap Yoochun. Ia masih menahan senyumnya yang mengembang di kedua sudut bibirnya. Membayangkan gadis itu mandi dengan kekesalan yang memuncak, pasti sangat lucu sekali. Pikirnya.

“Maafkan anakku, mungkin dia agak sedikit keras kepala. Tapi dia adalah gadis yang sangat baik.” Ucap Kwon Seung Ha menjelaskan. Ia melirik sekilas pada Park Gi Ja di arah jam 9 dan tersenyum pada Yoochun.

“Tidak masalah. Yoochun juga pria yang arogan dan keras kepala. Kuharap mereka dapat saling membenahi diri satu sama lain.” Park Gi Ja menutup topik dengan satu kalimat sederhana. Dengan elegan, ia menuangkan air putih pada sebuah gelas berkaki dan meminumnya dengan style.

Tidak ingin kalah, Seung Ha memasang celemek makannya dengan gaya gentleman dan memotong-motong daging sapi panggang yang kini ada di meja makannya dalam irisan tipis. Ia membuatnya menjadi potongan persegi yang lebih kecil.

Dalam 2 menit kemudian, seorang gadis datang ke ruangan itu dengan terengah-engah. Celana jeans ketat dan kemeja peach yang glossy terlihat cantik di tubuhnya. Namun ekspresi gadis itu sama sekali berbeda dengan bagaimana cerahnya baju yang dipakainya. Ia menekuk bibirnya ke bawah ketika melihat Yoochun duduk dan memakan sebuah roti panggang di meja besar.

“Yuri, maaf kami memulai sarapan tanpamu.” Seungha berbicara. Yuri tidak bisa menolak untuk diam. Ia menganggukkan kepala dan mengucapkan kata ‘tidak apa’ dengan nada rendah.

Yuri mengambil satu tempat duduk di dekat Park Gi Ja, namun wanita paruh baya itu menyuruhnya duduk di sebelah Yoochun –sedikit jauh dari Ayahnya dan Gi Ja.

Yuri tidak menyukainya. Disuruh.

Namun ia harus. Seung Ha memberi kode padanya.

Yuri beranjak dari tempat duduk itu dan segera duduk di sebelah Yoochun dengan sebal. Seakan tidak ingin membuang satu kesempatan emaspun, Ketika ia menarik kursi di sebelah Yoochun, gadis itu dengan sengaja menginjak kaki Yoochun dengan heel tinggi yang dipakainya.

Yoochun membuka mulutnya lebar tanpa suara. Ia tersedak kemudian menatap Yuri dengan jengkel. Gadis itu tersenyum tipis kemudian menarik piring Yoochun dengan paksa. Ia memakan sisa roti di piring itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.

-oOo-

“Aku sudah gila. Aku benar-benar sudah gila.” Yoochun mengumpat. Sesekali ia menendang kerikil yang ada di depannya. Celana pendeknya sudah mengkespos lebih dari setengah kakinya yang putih. Tapi pria itu mengangkatnya sedikit tanpa sadar karena kekesalan yang ia rasakan.

Yoochun meraih ponselnya segera ketika benda kecil itu berdering nyaring.

yoboseyo!” Sapa Yoochun dengan sedikit kesal.

aigoo. Siapa yang berteriak di sana?”

ah~ hyung.” Yoochun mengenali suara Sang Woo yang berbicara di seberang sana. Ia membalas dengan nada manja.

ey~ jangan membuat nada seperti itu. Aku tidak akan mendengar cerita dan keluh kesahmu hari ini.” Yoochun sedikit kecewa. Ia pikir ia bisa bercerita pada seorang kakak satu-satunya.

“tidak akan. Ada apa kau meneleponku?” Tanya Yoochun.

Appa mengatakan kau menyukai apartemen atau rumah. Dia meneleponmu tapi kau tidak mengangkatnya sama sekali.”

Yoochun mengerutkan dahi. “Apa maksudnya dengan apartemen atau rumah?”

“Kau akan menikah, bodoh. Dimana kau pikir akan tinggal dengan istrimu? Di rumahku?”

Yoochun mengangguk cepat, pertanda mengerti. Ia berpikir sejenak hingga kerutan horisontal di dahinya terpampang jelas. sesekali ia mengetukkan telapak kakinya di tanah. Yoochun menoleh ke belakang ketika Yuri berjalan pelan ke arahnya. Ia berteriak.

“Yuri, mana yang kau benci, apartemen atau rumah?”

Yuri yang baru saja akan melengang, kebingungan. “Cepatlah!” Yoochun berteriak kembali padanya. Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan memasang wajahnya yang paling bodoh yang pernah ia buat pada pria di hadapannya.

“Aku tidak menyukai Apartemen.”

Yoochun mengangguk atas jawaban Yuri. Ia kembali berbicara di telepon pada Sang Woo. Dengan berbisik, ia mengatakan pilihannya.

“Apartemen. Aku akan mengambil satu buah apartemen dan mengubahnya menjadi neraka untuk gadis itu.”

-oOo-

Seorang gadis duduk manis di pelataran cafe. Awalnya ia rasa mood nya naik drastis setelah sebuah kopi mexico pahit racikan ia tenggak dalam beberapa menit. Televisi di cafe itu mulai dinyalakan. Sebuah berita muncul sebagai headline. Hampir di setiap channel.

Awalnya si gadis tidak peduli. Namun matanya melebar seiring dengan nama yang terpajang di layar 29 inci itu.

Park Yoo Chun bertunangan.

Dengkul gadis itu lemas, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia mengambil tas merah yang ada di atas meja bulat kemudian meletakkan beberapa lembar won di sana. Gadis itu berjalan dengan cepat sambil berusaha mengeluarkan sebuah ponsel mahal dari tasnya. Ia menekan angka 1 di sana selama beberapa detik, kemudian sebuah suara terdengar dari seberang ponsel.

Yoboseyo? Siapa ini?”

Gadis itu tersenyum tipis. Angin menerbangkan sedikit dari rambutnya yang dipotong sangat pendek. Gadis itu mulai berbicara.

“Park Yoo Chun-ssi, Urimanya…”

-oOo-

Yuri menendang sebuah bola basket yang tergeletak di halaman belakang rumah besar Sang Woo. Ia merasa keren karena mampu menendang bola tersebut jauh dari kakinya. Namun saat menyadari bahwa bola itu memantul dengan keras di dinding dan berbalik ke arahnya seperti boomerang, gadis itu berlari kecil menghindar. Tidak ingin sebuah bola membuat wajahnya memar.

“Hari ini tidak ada yang berjalan dengan baik, jinjja…” Yuri mengeluh. Ia duduk di sebuah undakan kayu dan memeluk lututnya. Ia sandarkan pipinya di dengkul rapat itu dan mulai memejamkan mata.

Yuri menggelengkan kepalanya dan membuka mata kembali ketika ia mendengar suara kecil tidak jauh dari tempatnya duduk. Park Yoo Chun berdiri di sana, dan menerima telepon dari seseorang. Yuri berusaha tidak mencuri dengar, namun ia terlanjur mendengar.

“Eunjung-ssi…” Ucap Yoochun lirih. Yuri menatap ekspresi pria itu yang berubah menjadi sangat aneh. Seperti sebuah drama. Yuri menahan hasrat ingin tertawanya, dan ia pergi sebelum tertangkap basah.

Urimanya, oppa.” Sebuah suara kecil di seberang ponsel Yoochun bergumam rendah. Mata Yoochun terbuka lebar, ia masih berdiri tapi jiwanya sudah tidak di sana. Suara nostalgik yang tidak ia dengar sejak lama, kini ada di seberang telinganya.

“Aku kembali ke Korea, oppa. Apa kita bisa bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan…”

“…” Yoochun masih belum bisa berkata-kata. Ia menunggu semua jiwanya berkumpul dan menjadi satu kesatuan di dalam tubuh ringkihnya saat ini. Ia terpana hanya mendengar suara lembut dari ujung sana.

oppa,  kau masih marah padaku?”

Yoochun masih terdiam. Tangannya gemetar. Kilasan flashback yang menyayat kini berputar kembali bagai gasing di otaknya.

oppa, mianhae.”

Yoochun menghempaskan ponselnya ke tanah. Benda kecil itu terbanting dengan keras kemudian layarnya retak. Telepon yang seharusnya masih stand by di sana, kini terputus. Yoochun menatap benda itu nanar. Ia terduduk, dengkulnya lemas. Ia menangkupkan tangannya di wajah, mengusapnya dengan kasar.

Yuri barusaja akan pergi ke kamarnya ketika mendengar suara keras dari halaman belakang. Ia mengintip sebentar dan melihat seorang pria sedang duduk frustasi di undakan. Pria itu baru saja membanting ponselnya dan kini duduk seperti orang bodoh. Yuri mengerutkan dahinya penasaran, namun ia lebih memilih diam dan memperhatikan.

-oOo-

Yuri –gadis dengan mata hitam tegas yang indah, kini menatap sebal pada layar sebuah arloji mahal di tangannya. Jarum panjang di sana menunjukkan angka yang semakin besar setiap helaan napas berlalu. Gadis itu mengetuk-ngetukan heels nya pada jalanan aspal yang di injaknya. Terkadang ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan tanda-tanda seseorang di sana.

Oppa!”

Yuri berteriak ketika ia menemukan sosok pria berperawakan tinggi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Pria itu mengenakan kaus tipis dan celana pendek sebatas dengkul. Headset kecil di telinganya ia lepaskan ketika Yuri memajukan bibirnya dengan gaya anak kecil. Gadis itu memukul bahu Jaejong –si pria.

Oppa, Kau terlambat 10 menit dari janjimu.” Yuri melipat tangannya di depan dada dan membalikkan badannya dari depan tubuh pria itu. Jaejoong tersenyum tipis. Ia berlari kecil ke depan gadis itu dan mencubit kedua pipinya.

“Mobilku masuk ke bengkel. Aku kesini menggunakan kendaraan umum. Maafkan aku.” Rambut hitam lurus milik Yuri di usap lembut oleh Jaejong , seakan mereka adalah sepasang kekasih. Yuri tidak bisa untuk diam dan berdiri di depan wajah pria itu. Ia berbalik, memalingkan wajahnya –tidak mau warna kemerahan di pipinya terlihat.

“Jadi, apa yang harus kita naiki terlebih dahulu?” Jaejoong menaruh kabel headset yang terjuntai, masuk ke dalam saku celananya. Yuri berbalik setelah ia rasa pipinya sudah kembali normal. Ia menatap Jaejoong kemudian deretan gigi putihnya terlihat segera.

Roller Coaster !

Yuri menarik tangan pria manis itu dan membawanya pada sebuah pintu gerbang taman hiburan yang cukup besar.

-oOo-

Seorang gadis duduk tertegun. Kopinya sudah mulai dingin sejak didiamkan beberapa menit yang lalu. Lalat sempat menghinggapi salah satu dari dua cangkir di atas meja. Namun dua orang pemiliknya diam saja –tidak peduli.

“Apa yang kau inginkan?” Yoochun –salah satu pemilik cangkir itu, berbicara dengan nada yang tegas. Ia tatap pemilik manik kemerahan di depannya dengan sangar. Seorang gadis yang ditatapnya, kini tersenyum tipis. Ia menatap nanar ke luar jendela besar di sisi nya kemudian berdehem. Merespon Yoochun tanpa melihat pada mata pria itu.

“Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Yoochun merendahkan tubuhnya ke belakang dan bersandar pada sofa. Kakinya tidak berhenti mengetuk. Ia menatap gadis itu baik-baik. Hidungnya, Pipinya, Rambutnya, Bibirnya, bahkan seluruh aroma tubuhnya tidak berubah sedikitpun dari yang ia tahu 3 tahun yang lalu. Dia masih sama. Wanita itu masih Ham Eun Jung yang ia kenal.

“Kau membuang waktuku.” Yoochun menarik napas dan membenarkan posisi masker pada wajahnya. Dia berada di tempat umum dan dia tidak bisa melepaskan sedikitpun kain yang melekat pada seluruh tubuhnya saat ini. Diliriknya ke belakang, beberapa pengunjung berbisik-bisik rendah.

Yoochun mulai merasa tidak nyaman.

“Dengar Eunjung-ssi, menemuimu begini sudah sangat beresiko untukku. Jika kau tidak memiliki poin penting dari hari ini… maka ak—-“

“Aku masih mencintaimu, Yoochun-ah.” Suara sang gadis bergetar, rendah. Manik matanya kini teralih sepenuhnya pada mata tajam milik Yoochun. Yoochun terdiam. Kedua bola mata indah itu kini berkaca-kaca di depan Yoochun. Gadis itu hampir menangis. Suaranya tersekat.

“Aku berubah, melakukan semua ini, demi kau. Aku mencintaimu, Yoochun-ah…”

Yoochun tidak bisa membaca bibir dari Gadis ini, tapi air mata Eunjung cukup menjelaskan semuanya. Yoochun tidak bisa bergerak. Tubuhnya membeku laksana gletser.

Gadis di depannya kini meraih tangan Yoochun yang kosong. Ia menggenggamnya kuat seakan sesuatu yang berat pernah terjadi di antara mereka. Eunjung menautkan jari-jarinya rapi di sela-sela jemari Yoochun, tidak ingin kehilangan pria itu.

“Aku baru saja kembali ke Korea. Aku melihat berita itu. Siapa Kwon Yuri?”

Awalnya Yoochun terlarut dalam situasi yang dibuat Eunjung. Ia terbuai dan terlena dengan masa lalunya yang indah dengan gadis cantik itu. Ia menatap mata Eunjung lekat, dan merasakan pori-porinya terbuka dan menutup dengan cepat, mengeluarkan peluh.

Tepat ketika Eunjung menyebutkan nama Kwon Yuri. Dunia yang aneh mulai bergelayut di otaknya dan membuat Yoochun kesal tiba-tiba. Ia menghempaskan genggaman tangan Eunjung dengan tiba-tiba. Gerakan itu sempat membuat Eunjung kaget dan membuka mulutnya lebar. Air bening jatuh dari pelupuk mata gadis itu.

Bibir Eunjung bergetar hebat. Lipstik nya yang kemerahan dan blush on tebal yang dipakainya kini luntur karena air yang menuruni pipinya dengan deras. Beberapa orang santer berbisik di dekan tempat duduk mereka.

Yoochun menggigit bibirnya. Ia tidak tahan dengan wanita yang menangis. Dan lagi, ia benar-benar tidak bermaksud menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar. Dia hanya refleks melakukannya.

Perlahan tapi pasti, tangan gentle dari Yoochun mulai meraba permukaan tangan Eunjung yang masih bebas di atas meja. Ia sentuh jari jemari mungil yang indah di sana kemudian menggengamnya erat. Yoochun masi mengenakan sarung tangan dan masker, Namun Eunjung tahu bahwa pria itu sedang tersenyum padanya.

“Maafkan aku, Eunjung-ah” Yoochun mulai mengembalikan nada bicaranya dengan normal. Gadis itu tersenyum lebar mendengarnya. Bagaimana tidak? Jika sebelumnya Yoochun terbiasa menggunakan sapaan formal padanya, kini Eunjung mendengar pria itu memanggil namanya dengan akrab –seperti yang ia lakukan 3 tahun lalu.

Eunjung menghentikkan tangisannya dengan segera. Ia menatap bahagia pada dua manik hitam yang menatapnya. Eunjung membalas genggaman pria itu dengan menumpuk satu lagi tangannya yang lain di atas tangan pria itu. Ia tersenyum lebar di antara make up nya yang luntur.

-oOo-

Yuri berteriak kegirangan sambil menghabiskan gula-gula kapas besar yang ada di tangannya. Jaejoong memegangi perutnya yang kram dan berjalan tertatih. Yuri melihat ke belakang, dimana Jaejoong tertinggal kemudian memapahnya dengan hati-hati.

Saat mereka mendapatkan langkah ke-5 nya, Jaejoong tertawa terbahak-bahak di telinga Yuri. membuat gadis itu cukup kaget.

Mwo ya? kau tidak sakit? Kau membohongiku?”

Jaejoong mengangguk atas protes keras dari Yuri. Yuri melemparkan gula kapasnya pada pria itu kemudian berjalan menjauh dengan kesal. Ia rogoh saku celananya dan mengambil sebuah ikat rambut biru dari sana.

Yuri berjalan dengan sahutan kecil dari Jaejoong di belakangnya. Ia berakting pura-pura tidak mendengarnya sambil berusaha mengikat rambutnya.

Gerakan langkah yang cepat serta angin yang cukup kencang, beberapa kali menggagalkan gerakan Yuri untuk mengikat rambutnya menjadi ekor kuda yang rapih. Beberapa kali helaian rambut itu terbang tertiup angin. Sampai akhirnya Yuri kesal sendiri dan membuang ikatan rambut itu di sisi kanannya. Gadis itu melengang –menjauh dari Jaejoong.

Yuri melengang bebas sambil mengibaskan kaki-kakinya ke depan dan belakang seperti anak kecil. Ia seperti terlihat berdansa, namun ia hanya berjalan dengan gembira. Kemudian langkah Yuri melambat. Ia sesekali melihat ke belakang kemudian mendongak, mencari sosok yang seharusnya ada di sana.

Yuri membalikkan badan sepenuhnya dan tidak menemukan apa yang dia cari. Ia berjalan kembali pada jalanan yang sudah ia lewati demi mencari sosok pria itu.

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkramnya dengan pelan dan menarik rambut-rambutnya. Yuri hampir memekik jika saja suara halus tidak ia dengar selanjutnya.

“Tidak baik membuang-buang barang cantik seperti ini.” Jaejoong mengikat rambut Yuri di belakang, menjadi satu simpul. Ia ikat rambut tebal itu dengan sebuah ikat rambut biru milik Yuri yang sempat gadis itu buang. Dengan sedikit keahlian, Jaejoong berhasil membuat rambut Yuri rapih, terikat di belakang bagai air mancur.

Yuri berbalik, ia menatap mata Jaejoong dalam jarak dekat. Yuri bisa merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Senyuman manis dari Jaejoong meluluhlantakkan hatinya. Ia tidak sangup melihat lebih lama. Mata gadis itu terpejam.

Seakan tidak terganggu oleh keramaian, Jaejong memperpendek jarak di antara meraka. Wajahnya semakin dekat dengan Yuri. Gadis itu bisa merasakan dengusan napas pelan yang ia kenal tepat di dahinya. Dan napas itu semakin dekat dalam setiap detik.

Yuri mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia memejamkan mata sembari sesekali mengelap peluh di telapak tangannya pada jeans yang ia kenakan. Yuri bisa merasakan sebuah benda kenyal yang menggores bibirnya sekilas. Jantungnya seakan loncat dari tempatnya. Mata Yuri panas dan ia tidak mampu berpikir. Otaknya berputar ke semua memori yang ia punya. Kemudian satu kilatan memori muncul begitu saja dalam otaknya. Sosok seorang pria dengan jas perlente yang arogan.

Yuri dengan tiba-tiba menghempaskan tubuh Jaejoong menjauh darinya. Bibir mereka sudah sedikit bersentuhan, tapi tidak lebih dari sekedar ‘sekilas bersentuhan’.

Yuri menatap wajah Jaejoong dengan gamang, Ia melihat kedua tangannya sendiri. Tidak disangka.

Yuri pikir saat-saat itu adalah saat yang paling ia idamkan dalam semua mimpi-mimpinya. Tapi kedua tangannya malah menghempaskan pria yang sudah dicintainya sejak lama. Yuri tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Tapi ia melakukannya.

“Maafkan aku. Aku seharusnya tahu kau sudah bertunangan.”

Bam. Yuri merasakan seperti ada ledakan besar di otaknya. Bertunangan?

Benar. Bahkan dirinya sendiri melupakan itu. dan sosok perlente yang ada dalam sekelebat bayangannya, tidak lain adalah Park Yoo Chun.

Yuri menatap sebuah benda besi melingkar di tangannya. Sebelumnya, Jaejoong memperhatikan benda itu. Yuri menelan ludahnya perlahan kemudian mengendurkan syaraf-syaraf otaknya yang menegang.

Ia mulai mencoba membuka mulutnya.

a-anieyo…”

Yuri tergagap, namun sebaliknya, Jaejoong mencoba tersenyum pada gadis itu.

“Mari kita lupakan hal tadi.” sahutnya singkat. Jaejoong mulai berjalan melewati gadis itu. Kedua tangannya ia masukkan dengan santai ke dalam saku celana pendeknya. Yuri masih membeku, sekilas menoleh pada punggung pria yang kini mulai menjauh dari matanya.

Yuri merasakan angin yang cukup panas lewat di dekat telinganya. Sebuah kilatan cahaya cepat muncul entah darimana. Ia berkedip, membiasakan matanya yang baru saja terkenal sebuah kilatan. Dilihatnya kembali punggung Jaejoong. Kemudian gadis itu mendesah pelan.

“Entah kenapa aku merasakan kalau kita akan semakin menjauh, oppa.”

-oOo-

Yoochun dan Yuri duduk bersisian –namun dalam jarak jauh yang aman, di sebuah sofa empuk. Di depannya duduk seorang pria paruh baya dan wanita yang baru saja datang dengan jaket tebal di pundaknya.

Seungha mengambil satu buah cangkir mahal dan mengisinya penuh dengan air putih hangat. Sedangkan Gija –si wanita dengan mantel, kini mulai membuka mantel dan meletakkannya dengan elegan di atas sofa yang lain. Ia mengawasi Seungha bicara dengan Yoochun dan Yuri dari sisi yang agak jauh.

Seungha menyeruput air putihnya kemudian meletakkan dua lembar map di depan meja. Map coklat setebal 2 inci ada di hadapan Yoochun dan Yuri, namun mereka tidak tahu apa yang ada di dalamnya.

“Kanan untuk kau, Yoochun.” Seungha menunjuk sebuah amplop coklat tebal di sisi kanan kemudian menatap tajam mata Park Yoo Chun. “Kiri untukmu, Yuri.” Seungha memberikan map sisanya secara pribadi pada anaknya.

Yoochun dan Yuri sempat bertatapan aneh satu sama lain –merasa atmosfir aneh di sekitar mereka.

Dengan gerakan tidak berirama, mereka mulai membuka map dan menarik beberapa lembar kertas foto dari sana.

Yoochun memperhatikan semua detil foto yang ada di tangannya. Seorang gadis memakan gula-gula kapas, seorang gadis bergandengan tangan dengan pria, seorang gadis bertatap-tatapan dengan pria di depan umum, seorang gadis berciuman dengan seorang pria.

Yoochun memasukkan kembali foto-foto di tangannya dengan kasar ke dalam amplop coklat. Ia mendesah panjang, tidak sanggup untuk melihat satu lembar foto yang terakhir. Matanya menangkap sosok Yuri yang masih memperhatikan berlembar-lembar foto di tangannya.

Yoochun melirik sekilas, dan menemukan foto Eunjung dan dirinya di dalam sebuah cafe –berpegangan tangan.

Yuri menghela napasnya, kemudian memasukkan foto-foto itu dengan hati-hati. Matanya menangkap manik milik Yoochun secara tidak sengaja, mereka bertatapan tanpa suara selama beberapa detik.

“Kalian tidak seharusnya melakukan hal ini pada kami.”

Seungha berbicara datar, namun arti dari kalimat itu mampu membuat kedua pasang muda-mudi di depannya terhenyak. Mereka memandang ke arah berlawanan dan menunduk.

“Aku bisa memaafkan kejadian ini. Setidaknya masalah ini redam karena uang. Fotografer itu sedikit serakah.”

Yuri menarik napas dan mengeluarkannya dengan jeda panjang. Ia sedikit lega.

“Tapi….” Seungha belum selesai sampai di sana, ia melirik ada seorang wanita yang kini berjalan mendekatinya pelan. “…Ini belum selesai. Dan kalian harus bertanggungjawab.”

Yuri mengernyitkan dahi, sama tidak mengertinya dengan Yoochun. Namun begitu, mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kami memutuskan mempercepat tanggal pernikahan kalian. Hal seperti ini yang kami takutkan. Kami tidak bisa menunda hari pernikahan. Semua sudah disiapkan, dan besok… kalian akan menikah.”

Yuri menatap sekilas pada Yoochun, kemudian menghempaskan tubuhnya tinggi-tinggi. Ia berdiri, membuat protes dari tubuhnya. Suaranya yang nyaring kini mulai memenuhi sudut ruangan. Yuri berteriak kencang.

ANDWAE!”

-oOo-

Riuh tepuk tangan membahana dalam satu gedung tertutup. Tepukan itu mampu membawa seorang pria dalam balutan tuxedo hitam mahal berjalan gagah di atas karpet merah. Ia menyunggingkan senyumnya yang dipaksakan pada seluruh isi ruangan. Jauh di depannya, seorang pastur sudah berdiri dengan mimbar kayu, buku kecil dan bunga di tangannya.

Yoochun berjalan pelan. Kemudian berdiri gagah membelakangi pastur. Saat itu ia bisa melihat dengan jelas beberapa wajah dari orang yang ia kenal. Jauh di pojok ruangan, seorang wanita berdiri dengan kamera di wajahnya. Saat kamera itu disingkirkan, wajah yang tidak asing muncul di sana. dan itu membuat Yoochun sedikit tegang.

Eunjung dalam balutan gaun hitam mini berdiri di sana. memotret Yoochun dengan teliti sambil menyunggingkan senyumnya.

Yoochun berusaha memalingkan matanya pada arah jam 9. Ia mendapatkan senyuman hangat dari pria yang pernah ia kenal. Kim Jae Joong. Pria itu berdiri dengan balutan jas mahal yang hampir sama dengannya. Mungkin hanya bunga yang tersemat di saku Yoochun yang membuat mereka terlihat berbeda sedikit.

Yoochun membalas senyuman pria itu, namun ia teirngat pada sebuah foto Yuri.

Yoochun menggelengkan kepalanya kemudian mencoba berkonsentrasi kembali. Suara tepuk tangan meriah menyadarkannya dari memori-memori buruk. Seorang gadis dalam balutan gaun putih yang sempurna kini melengang masuk dengan hati-hati.

Seungha menuntun tangan gadis itu untuk berjalan. Yoochun memperhatikan gadis itu dengan baik-baik. Bagaimana ia berjalan, bagaimana gadis itu tersenyum, bagaimana gaun yang dipakainya terlihat sangat pas, bagaimana gadis itu menjelma menjadi putri yang sangat cantik.

Yoochun tidak sedang bermimpi, ia benar-benar seperti melihat putri kerajaan yang benar-benar cantik.

Yuri berjalan pelan dengan sepatunya yang tinggi. Ia sampai beberapa inci di depan Yoochun. Pria tampan itu mengulurkan tangannya, menggantikan tangan Seungha. Yuri merasa canggung, namun ia tetap berakting. Ia tersenyum lebar kemudian menyambut hangat tangan Yoochun.

Dalam beberapa menit, pemberkatan dimulai. Yoochun menyampaikan sumpahnya sebagai suami dan Yuri mengatakan sumpahnya sebagai istri.

Suara tepuk tangan kembali membahana dan kedua orang itu kini berpegangan tangan. Mereka berhadapan satu sama lain ketika suara-suara mulai meneriaki agar mereka berciuman.

Yoochun membuka helaian kain tipis di wajah Yuri, ia menatap setiap lekuk dari wajah yang dimiliki gadis itu.

Sempurna. Pikirnya.

Yoochun mulai menggenggam tangan gadis itu erat dan memperpendek jarak di antara mereka. Yuri hanya menatap Yoochun dengan canggung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sementara Yoochun, merasa sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir merekah wanita di hadapannya. Yuri memejamkan mata. Gerakan menjadi sangat lambat bagi keduanya, keringat bercucuran.

Tepat ketika bibir mereka akan bersentuhan, Yoochun menarik gadis itu ke sisinya dan memeluknya erat. Ia membuat posisi seakan-akan mereka berciuman –kenyataannya tidak.

Posisi mereka dari sudut pandang tamu, seolah-olah mereka sedang melakukan adegan panas di sana. Sedangkan pada kenyataannya, mereka hanya berpelukan satu sama lain dan berakting dengan canggung.

“Aku tidak akan mencium gadis sepertimu. Tidak akan pernah.” Bisik Yoochun pada telinga Yuri. Yuri berdecak pelan, kemudian kembali pada posisinya. Mereka tersenyum lebar ketika semua kamera menyoroti wajah mereka dengan cahaya. Yoochun masih menggenggam tangan Yuri dan Yuri tidak berkeinginan untuk melepaskannya.

Mungkin hari itu adalah hari terburuk di dunia bagi keduanya.

-oOo-

WAH. Maaf kalau banyak typo. aku ngerjain ini barusan~~ abis liat Drama korea lamanya Jang Nara ‘wedding’, langsung keingetan sama FF ini. kkk~

jangan nanyain Vibrance ya. karena tu FF masih dalam proses pengerjaan. kk~

ayo saran dan kritiknya. butuh perbaikan nih🙂

kalau ada yang kurang-kurang bilang aja~

63 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 5]

  1. YhyeMin_ berkata:

    krang seru eon klo dpart ini
    Next part kykny bkl seru deh krna bkl ada prang dunia ktiga wkwkwk
    Ahh eon bru aja aku mau tanya vibrance udah eon bungkam dgn kta” tlak oke deh bersbar lagi gk papa semangat eon buat vibrancenya..fighting!!

  2. ayana006 berkata:

    evil yoochun pilih apartement karena yuri gak suka. hhaha
    part ini moment mereka kurang gimana gitu.. #apasih
    ditunggu next part nya juga klise nya eon..

  3. chohyury berkata:

    Yeyeye akhir.a update lagi…
    Hihihi…
    Yul ama micky udah nikah… Asyik…
    Tapi kasian jaejong😦 tdi udah so sweet bnget, ya ampun pasti nyesek tuh…
    Penaasaraan eoon…
    Hari ini eonn ultah bukan?
    Saengil chukkae😀 WYATB…
    Keep writing😀

  4. 한늘앟 ~ berkata:

    Bagus eon, seru!! Tp masa aku ngerasa menuju ending td alurnya agak kecepetan hehe.. Tp masih daebak bgt.
    Next part eon, mau tau kehidupan suami istri yuri sama yoochun hehe

  5. shellaazhari berkata:

    kaya ada yg kurang ne /mikir keras
    Konflik nya kurang menurut aku kakaknyun jadi kurang greget gimana gitu heuheuheu
    Ditunggu part selanjutnya ne heuheu
    Fightingg n.n

  6. ikaa_roro berkata:

    Waaaaaaa akhir ny update,,
    Kaya ny konflik pnjg bru d mulai nie, yuri-yoochun-jaejong-Eunjung,,
    D tggu kelanjutan, keep writing
    fighting (ง’̀⌣’́)ง

  7. Shin Min Mi berkata:

    sumpah ya thor. bener kata yuri.. park yoochun orang yg menyebalkan dan arogan
    semoga yuri bisa tahan ama sifatnya yoochun ya… aigoo.. akhirnya mereka nikah juga
    kasian oppa jaejoong dong thor.. sebenernya jaejoong oppa beneran cinta ma yuri ga si? klo beneran knp g jadi laki” gentle yg ngungkapin perasaannya…? apa jaejoong oppa cuma manfaain yuri? o_o

    nextnya palli thor.. vibrance juga ya..😀

  8. friendshidae berkata:

    Kecepetan nih eonnie.
    Mereka kyknya msh blm saling suka ya😦 Itu si yoochun epil deh, masa nanya nya ‘paling benci rumah apa apartemen’ eh pas di jwb apartemen, dia malah milih apartemen, ngbayangin ekspresi bodoh nya yuri eonnie jg bkin aku ngakak😀
    Ayok lanjutin part 6 nya eonnie
    Udh penasaran
    Semoga bnyk momen mereka di part 6 nya

  9. Tarhy94 berkata:

    Daebak..^^
    gak kbyang nnti klo yul unnie tau kalo yochun oppa tgal d aprtemen.pdhal yul unnie benci aprtemen..aa….komedy romentiss…aq sukaa^^
    eon next partnya jgan lma” yah..klo bsa d pnjangan dikitt yahh…

    ^_^

  10. araa berkata:

    Kayur udh liat mv snsd galaxy supernova?di situ yuri keren kan?biarpun part nyanyinya sedikit😦
    Masalah vibrance gpp lah yg penting authornya selalu update ff yg lain :p

  11. Baek Lina is Yurisistable berkata:

    Uwah… ada eunjung jg. aq jg ngfans bgt sm eunjung dr nntn dream high. ntar, eunjung sm jaejong aja y thor… hehehe…

  12. yuniq eka cahya berkata:

    Gegara quota abis ktnggalan update-an bnyk. Ya udh deh bca yg pling bru aja dlu. Sya sempet ktwa pas bgian mrka yg disidang ama ortu yuri yoochun, bsa sma2 gtu, scene itu lcu mnrt sya. Btw sya ska pas moment ekhmmm…………….. yuri jaejoong. Prsaan hdpny yoochun tuh santai bgt yeee??? youwiss lah dtnggu next part ny. Keep writing dan gomawo ^^

  13. YoonYuladdicts berkata:

    akhirnya muncul juga updatenya…
    yuri yoochun nikah ? aku suka momentnya yuri jaejoong romantis bgtt #plak
    itu eunjung yg dipesawat bareng jaejoong kan ?
    eonni aku penasaran banget sama lanjutannya…
    vibrance sm vignette jgn lupa ya eonn..
    hwaiting !

  14. Linda Aslyah berkata:

    complicated banget ceritanya but, ia very like it. feelnya serasa banget apalagi romance nya Jaejoong sama Yuri. tapi tetap Yuri sama Yoochun.
    masih menunggu yang Vibrance sama Vignette EXOYul series.🙂 selanjutnya ditunggu yaa Unn🙂

  15. Hani"thahyun"Kim berkata:

    waaaaahhh yoochun evil yaa..
    dia punya rencana apa nih setelah mereka nikah dan tggal di apartemen..hahaha
    yuri kenapa nolak dicium sama jaejoong yaa..padahal kesempatan sblm yur nikah sama yoochun…yoochun aja ga mikirin yuri pas ketemu eunjung…aaahh esmosi nih sama yoochun…awas aja klo ngerjain yuri aku bilangin kyuhyun loh…hahahaha

  16. tha_elfsone berkata:

    yeyeye akhirnya publish🙂
    tapi aq telat baca nya…😦

    aq g bisa bayangin jgn nasib rumah tangganya yul ma yoochun kalo mreka kaya tom and jerry gtu..ckckck
    yaa ampun yul kenapa coba mestii mendorong jaejong …hayyoooo jangan” dh kepikiran ma yoochun yaah..heheh

    uclah d tnggu part 6 nyata yaah kayur🙂

  17. Sjelfeu berkata:

    Akhirnya dua pasang itu menikah jugaaaa haha
    tapi masih bingung kenapa eunjung bawa kamera ? Kan harusnya dia sedih, etapi malah poto poto haha

  18. Tansa berkata:

    Cepet banget ya mereka menikahnya..
    Cuma gara-gara Yoochun yg ketemuan sama Eunjung yang notabene mantannya
    dan hebohnya lagi juga gara-gara Jaejoong sama Yuri yang hampir ciuman
    Oh ya ngomong-ngomong Gil Ja sama Kwon Seungha pinter banget ya

  19. Nikita Tirta berkata:

    Kerana kecurangan mereka disatu awal dri waktu yg ditetapkan…Yuri mengharap juga ya dicium Yoochun smpai2 menpejam matanya..Ahaha..Tak sbar nak bca part seterusnya nak tahu hidup suami isteri evil ini.

  20. febrynovi berkata:

    aih aku kira perasaannya Yuri ke Jaejoong itu one-sided love gataunya Jaejoong juga suka sama Yuri❤

    ah aku bingung harus ngeship siapa… Yuri cocok sama duaduanya❤

    lanjut kaknyuun xD

  21. Ersih marlina berkata:

    Enjung mantan kekasih yoochun ? Ga ppa sih, toh mereka udah jadi mantan.

    Kkk, gra2 kencan mereka prnikahan langsung jadi besok nih. D tunggu perang mulut kaliaan ya😀
    lnjb bca, hwaiting ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s