Ghost Slayer – Step #1

Poster #1 Ghost Slayer

I just own the idea and the plot.

DO NOT PLAGIARISM.

I do not make money from this. So do YOU.

Attention : This is Horror and Action Fanfict

***

“Kau menginjak kakiku, bodoh.” Seorang pria dengan rambut hitam yang berdiri karena gel kini mengangkat satu kakinya. Ia yang sebelumnya berdiri di garis depan dengan peralatan besi di tangannya, kini harus mundur satu langkah. Matanya memicing pada seorang gadis dengan rambut terurai sepunggung.

“Aku tidak sengaja, gerakanmu terlalu lambat.” Yuri mengibaskan rambutnya sembari memberi senyuman kemenangan pada pria yang kini mulai berjalan tertatih ke sisi kanannya. Jiyong membawa sebuah D-Kit dengan sarung tangan lengkap. Sementara gadis di sebelahnya, tidak berbekal apapun kecuali Gas-Kit yang sudah disemprotkan merata ke seluruh tubuhnya.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan ketika detektor ini menyala, Yuri?” Jiyong berjalan membawa alat besi di tangan kanannya, ia membuat Yuri tertinggal satu langkah di belakang punggungnya. Yuri memutar tubuhnya dan memasang pandangan awas ke sekelilingnya. Ia masih mengekori kemana Jiyong berjalan, hanya saja dengan gerakan mundur.

“Lari?” Jawab Yuri asal ketika ia mulai meraih sarung tangannya. Bulu kuduknya meremang, detektor dalam genggaman Jiyong menunjukkan lampu berkedap-kedip dengan warna hijau menyala serta bunyi bising yang hanya dapat di dengar mereka dengan kekuatan supernatural.

“Di depan kau, Yuri!” Perintah Jiyong melesat bagai busur panah ke gendang telinga Yuri. Seperti menerima resonansi, otak gadis itu langsung memerintahkan syaraf motoriknya bergerak bebas. Ia melakukan dua kali rolling depan ringan kemudian satu kali gerakan spiral memutar seperti batang sekrup. Jiyong ada di sisi lain –tidak jauh.

Ia menggapai sebuah benda menyerupai medan magnet dan mengarahkan benda U pada salah satu sisi di belakang Yuri. “Apa kau tidak bisa membawa alat itu lebih dekat? makhluk sial ini mulai menarik kakiku.” Protes Yuri. Kakinya terangkat ke udara, tubuhnya terbalik secara vertikal sempurna. Darahnya mengalir ke kepala, membuat gadis itu ingin muntah.

Eraman keras terdengar di telinga gadis itu. Ruangan pengap seperti gudang membuat suara gaduh itu menjadi. Tidak semua orang bisa mendengar suara mengerikan tersebut, teknisnya Yuri dan Jiyong seperti lumba-lumba, mereka dapat mendengarkan suara sampai level rendah.

“Kau bisa melakukannya atau tidak, bodoh? Aku merasakan venaku menyempit.” Protes gadis itu lagi. Jiyong mengambil sebuah peluru perak dan memasukannya ke dalam senjata lain yang kini ada di tangannya. Ia meninggalkan U-Kit nya begitu saja di atas semen yang mengering. “Kau mengganggu konsentrasiku.” Balasnya.

Yuri mencibir sebal. Ia melipat tangannya dalam posisi tubuh yang masih terbalik. Auman keras kembali terdengar, kali ini seperti suara kesakitan. Yuri mengintip sekilas dan melihat peluru perak menembus ke dada makhluk transparan tersebut. Monster besar itu limbung dan menjatuhkan Yuri ke atas tanah-semen-kering yang diinjaknya. Yuri segera memutar tubuhnya ke posisi normal sebelum ia terjatuh dengan kepala yang mendarat terlebih dahulu.

Makhluk itu berdebam di atas alas –tentu saja tidak ada yang dapat mendengar debaman itu selain AB-Siblings. Erangan itu berubah menjadi sayatan pilu, mengubah bentuk makhluk itu menjadi ukuran yang lebih kecil dan bahkan… lebih menyerupai manusia.

Seorang gadis terduduk kesakitan di sana, tanpa busana. Memiliki wajah yang lebih muda dari Kwon Yuri, Jiyong bisa langsung menebak usia gadis itu. Namun ia diam saja, tidak memiliki minat pada hantu walaupun diimingi embel-embel tanpa busana.

Segera setelah gadis itu melemah, Yuri mengeluarkan satu alat kecil seperti jam berbentuk persegi. Ia membuat jempolnya menempel sempurna pada permukaan alat tersebut kemudian cahaya terang keluar dari sana. Cahaya itu berwarna putih dan menenggelamkan roh wanita tanpa busana yang ada di depannya. Setelah cahaya itu meredup dan kemudian hilang, roh tersebut sudah tidak ada di sana.

Yuri menghela napasnya, kemudian berkacak pinggang. Ia menekuk lutut kaki kirinya, memiringkan kepalanya 10 derajat kemudian menyipitkan matanya pada Jiyong.

“Kau ingin membuat kepalaku pecah, huh?” Yuri mulai mengetukkan sepatu boots hitam mahalnya ke lantai semen. Jiyong menggaruk bagian kepala belakangnya dan mulai mundur teratur. “Aku tidak sengaja.” Balasnya singkat.

YA! kau lagi-lagi hampir menempatkanku pada bahaya. Kau tidak tahu betapa mahalnya aku mengurus tubuh ini, eoh?” Yuri berteriak sembari menyusul tubuh pria yang kini berlalu di depannya. Mereka sama-sama tiba di dalam sebuah van beberapa menit kemudian namun mulut Yuri tidak berhenti-berhentinya protes.

“Baiklah, aku minta maaf.” Ucap Jiyong pada akhirnya. Ia menyalakan mesin mobil dan duduk di belakang kemudi. Yuri menatapnya lekat kemudian menghempaskan tubuhnya sendiri pada sofa empuk sebelah kursi Jiyong. Van itu cukup tinggi, hampir seperti mini-bus. Hanya saja, bagian belakang van tersebut berisi peralatan canggih Ghost Slayer. Agak berbeda dari van kebanyakan.

“Aku sebenarnya ragu kau ini kakakku atau bukan.” Yuri melipat tangannya, membuang pandangannya ke luar jendela dan bergumam rendah. “Aku mendengarnya, Yuri.” Balas Jiyong terganggu. Yuri tidak mendengarkan.

Gadis itu lebih memilih mengikat rambutnya tinggi-tinggi di belakang kepala kemudian mulai menyalakan radio di van tersebut.

Mobil putih itu melaju kencang di antara jalanan sepi perbukitan Rusia. Ghost Slayers itu baru saja pergi. Mereka masih akan tetap di sana selama beberapa hari ke depan. Joblist masih tersisa beberapa dan mereka tidak akan pulang ke Korea sampai tidak ada yang tersisa.

.Ghost Slayer.

“Kemana?” Yuri membentuk satu wajah bulat yang membengkak ketika Jiyong menemuinya di atas kasur. Keduanya masih memakai piyama, hanya saja dalam posisi yang sedikit berbeda. Yuri masih mengumpulkan nyawanya di atas kasur sedangkan Jiyong sedang asik membuat mulutnya penuh dengan busa pasta gigi. “Daerah perkotaan Moskow. Tugas terakhir di sini. Mungkin kau lupa.” Balas pria itu.

Yuri menggaruk kepalanya kemudian menyibakkan selimutnya dan turun dari surga dunianya itu. Ia berjalan bagai seonggok zombie kelaparan. Tujuannya tidak lain, kamar mandi.

“Aku akan memakainya terlebih dahulu.” Jiyong memberi perintah. Pria itu dengan tergesa-gesa menyelesaikan kegiatan sikat gigi paginya dan bergegas mengambil handuk tanpa membersihkan busa di mulutnya terlebih dahulu. Dengan sigap, ia berlari dan menghadang tubuh Yuri tepat di ambang pintu kamar mandi.

“Apa-apaan?” Yuri masih linglung, bahkan matanya belum terbuka dengan sempurna. Wajah Jiyong tampak blur di matanya. “Kau jelek sekali, Jiyong.” Tambahnya.

ey~ aku sangat tampan jika kau bisa membuka matamu dengan benar. Lagipula berhenti memanggilku seperti itu. Aku kakak kandungmu, setidaknya kau memanggilku oppa atau apalah.” Jiyong melebarkan tangannya ke samping seperti batman yang terbang ketika Yuri sekali lagi menerobos masuk ke ambang pintu kamar mandi tanpa menghiraukannya. Mulut Jiyong berkecap berkali-kali –merasakan sensasi pedas dari pasta gigi yang mulai mengering.

“Kenapa kau menghalangi seorang gadis yang hanya ingin membersihkan diri di pagi hari?” Yuri protes karena ia tak kunjung menemukan celah untuk memasukkan tubuhnya ke dalam kamar mandi. Jiyong menggelengkan kepala kemudian mendorong tubuh Yuri dengan tangannya.

Ekspektasi apa yang didapatkan dari seorang gadis setengah ngantuk yang didorong kuat oleh tangan-tangan adam? Benar, Yuri terjatuh sempurna dengan pantat yang mendarat di atas karpet terlebih dahulu. Memang buruk dan menyakitkan, namun setidaknya gadis itu kini membuka mata seluruhnya.

“Kau ini kejam sekali pada adikmu. Kau kakak macam apa?” Yuri protes sambil mengelus-elus pantatnya yang kram tiba-tiba. Ia menggelengkan kepala dan membuat suara cibiran dari lidahnya pada Jiyong. Rambut gadis itu yang tergerai, sengaja ia kibaskan pada wajah santai Jiyong, membuat mata pria itu pedih. “Cepatlah, dan basuh ketiakmu. Sangat bau bahkan ketika mataku terbuka setengah.” Tambah gadis itu.

.Ghost Slayer.

“Kau yakin ini jalannya?” Jiyong melemparkan pandangan tidak yakin pada jalanan rusak dengan kerikil besar yang bertabur di atasnya. Jiyong beberapa kali memutar-mutar dan membuang setirnya ke kiri dan ke kanan ketika ia menemukan lubang besar yang cukup bahaya dalam jalanan satu arah tersebut. Omong punya omong, jalanan itu hanya dapat dilalui oleh satu mobil saja. Dengan ukuran mobil van yang cukup besar, Jiyong harus hati-hati agar van mereka tidak terjungkal pada sisi jurang dalam di sebelah kirinya.

“Aku cukup yakin. Peta ini mengatakan demikian.” Yuri membolak-balikan peta Moskow usang yang ia dapatkan dari bawah telepon di dalam kamar hotel. Ia membaca tulisan Rusia di sana baik-baik dan sangat yakin dengan keputusannya melewati jalanan tersebut. “Kecuali jika peta ini memang menyesatkan.” Tambah Yuri ketika ia melihat jalanan buntu di depannya. Hanya jurang, sejauh mata memandang.

“Kau bilang kau yakin ada di arah yang benar.” Protes Jiyong. “seharusnya aku tidak membiarkanmu membawa peta itu.”

“Aku tidak pernah salah membaca peta. Kau lihat saja sendiri.” Yuri menyerahkan kertas tipis itu pada Jiyong yang disambut cepat oleh pria itu. Ia meneliti setiap daerah dan jalanan yang tertera dengan jelas di sana kemudian mengerutkan dahinya.

“satu…dua…tiga…” Yuri mulai menghitung lipatan di dahi Jiyong dengan cibiran sukses. “Kau tidak bisa membacanya, iya ‘kan?” tanyanya. Jiyong tidak melepaskan matanya sejengkal pun dari peta tersebut, namun ia menyerah ketika yuri menyebutkan angka ‘empat’.

“Baiklah, aku tidak bisa membaca tulisan itu. Kenapa mereka tidak menuliskannya dalam bahasa inggris?” Protes Jiyong keras. Ia memasukkan persneling mundur pada mobil van putihnya dan melekatkan pandangan matanya pada spion.

“Apa kita harus memulainya dari awal lagi?” Yuri mengerutkan dahinya, berbicara sendiri. “Kita kembali ke hotal lalu mulai perjalanan dari sana. Aku akan membeli peta baru.”

Jiyong terlalu sibuk untuk memutar mobilnya dalam jalanan sempit berbahaya itu. Ia mengabaikan Yuri untuk beberapa saat sampai mobilnya berputar arah dan berjalan normal. “Aku sudah tidak dalam mood ku. Lebih baik kita berkemas dan meninggalkan tempat ini secepatnya.” Jawab Jiyong –lebih seperti perintah.

“Apa yang akan kita katakan pada Ibu dan… bagaimana dengan Mansion? Kita akan diberi sangsi.” Yuri memajukan bibir bawahnya dan menangkupkan kertas peta di atas wajahnya. Ia bersandar sambil menghela napasnya dan menerbangkan kertas ringan itu. “Sejak kapan kau mempedulikan Mansion?” Jiyong mengejek.

Yuri terdiam dan membayangkan sebuah puri besar dengan pria-pria berjas hitam mentereng dan potongan rambut gaya masa kini, ditambah wanita dengan gaun mini dan tatanan rambut layaknya kaum sosialita. Tempat itu lebih seperti promnight venue daripada Komunitas Ghost Slayer bagi Yuri.

“Ah aku ingat, pasti pria tinggi itu lagi.” Jiyong membuka mulutnya dan mengangguk mengerti dalam pikirannya sendiri. Yuri menatapnya bingung, “Pria tinggi?”

“Pria dengan rambut hitam, hidung mancung dan tinggi menjulang itu. Yang memanggilmu dengan sebutan princess memuakkan di pertemuan rutin Mansion bulan lalu.” Jiyong menjelaskan. Kening Yuri berkerut kemudian bola lampu kecil menyala di dalam otaknya.

“Namanya TOP.”

“Memang, tingginya memang seperti berada di atas udara. TOP.” Sambut Jiyong.

“Bukan itu maksudku, pria itu bernama TOP.”

“Kenapa dia bernama TOP”

“Tidak.. tidak… namanya Seunghyun.” Yuri mencoba menjelaskan dengan ingatannya yang masih kabur.

“Seunghyun? Nama itu terdengar lebih baik daripada TOP. Kenapa kau memanggilnya TOP?” Jiyong menyetir sembari tidak habisnya bertanya.

“Awalnya nama itu yang cukup kuingat dari informasi mereka yang di Mansion. Tapi dia memperkenalkan diri dengan nama Seunghyun kemudian.”

“Dan kau memperkenalkan dirimu sebagai princess?” Jiyong menoleh sekilas, menangkap ekspresi kesal di dalam wajah adiknya. Ia terkekeh.

“Dia yang memanggilku princess tanpa aku minta. WAE? Apakah ada yang mengganggumu, tuan kesepian?” Yuri berkacak pinggang dalam posisi duduk, di akhir kalimatnya ia mengangkat dagunya tinggi demi mendapatkan kekesalan pada mata Jiyong. Namun pria di sisi nya itu kini tertawa terbahak-bahak. “please stop teasing me like i was a kid.” Gadis itu kini melipat tangannya di depan perut. Sabuk pengamannya mengendur.

Jiyong berhenti tertawa ketika ia menemukan Yuri diam. Ia mengulurkan tangan kanannya dan membelai kepala gadis keras kepala itu dengan lembut. Yuri cukup stubborn untuk tidak mengatakan apapun.

“berhenti menggodaimu, kau bilang? Bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan kau adalah adikku satu-satunya, kiddy.” Jiyong mencubit hidung Yuri di akhir kalimatnya dan itu sukses membuat Yuri kesal dan memukul pundak Jiyong pelan. Kakinya terangkat beberapa kali ketika ia memukul-mukul pria itu. Sabuk pengamannya mengendur tepat ketika Jiyong menginjak remnya mendadak.

“Kau ingin membunuhku lagi, Jiyong?” Dahi Yuri terantuk dashboard sehingga ia kembali kesal. Namun tangan Jiyong memberinya sinyal pada apa yang sedang terjadi di balik kaca jendela mobil mereka.

“…dua….tiga…tujuh…TUJUH?” Yuri memekik ketika melihat tujuh roh jahat di depannya. Jiyong baru saja menaruh detektornya dan berbicara rendah. “Mereka semua B-Class…” jelas Jiyong.

Seringai tajam, tanduk, gigi bertaring, darah yang mengalir dengan warna hitam sebenarnya sudah cukup menjelaskan tipe roh seperti apa mereka. Hanya saja, Jiyong ingin memastikannya sendiri dengan alat pembaca gelombang elektomagnetik itu. “Apa yang harus kubawa?” Yuri segera melepaskan sabuk pengamannya dan membuka tirai penghubung kursi kemudi dengan bagian belakang van-nya. “Peluru perak, pisau perak, apa saja yang ada di belakang. Firasatku kurang begitu baik.” Jawab Jiyong cepat.

Yuri mengangguk sekilas kemudian meraih beberapa peralatan di van-nya. Sebuah tas pinggang melingkar di tubuhnya. Ia menyematkan berbagai alat di sana. Setelah ia rasa cukup dan menyemprotkan Gas-Kit di seluruh tubuhnya, Yuri mulai berjalan kembali ke tempat duduknya semula.

“Aku tidak menemukan banyak peluru perak tersisa.” Jawab Yuri ketika ia menyerahkan beberapa peralatan pada Jiyong. Jiyong mengeluarkan sisa napas beratnya dari mulut. “setidaknya aku sekarang tahu kenapa firasatku menjadi sangat buruk.”

.Ghost Slayer.

“Halo, dengan Ghost Slayer Mansion, ada yang bisa kami bantu?” Suara merdu nan ramah terdengar mendayu di telinga Jiyong saat itu. Tangan kanannya memegangi ponsel sedangkan tangan kirinya sibuk menembakkan senjata pada arwah-arwah penasaran yang berkelibatan di antara van putih miliknya.

“Maribeth, ini aku, Jiyong.” Jiyong tidak suka basa-basi. Dipanggilnya nama pemilik suara merdu di seberang teleponnya, kemudian ia bergegas memindahkan letak ponselnya ke telinganya yang lain. “Apakah kita pernah bertemu?” Balas Maribeth.

“Kwon Ji Yong, Blood type B, AB-Siblings. Sudah cukup jelas?” terdengar suara O panjang dari seberang telepon yang digenggam Jiyong. Perempuan di sana mungkin sedang mengetikkan sesuatu di atas keyboard komputer dan berdecak kagum setelahnya. “Ada apa seorang Kwon Ji Yong asli ternyata menelepon ke markas?” perempuan di sana terkagum sebentar –sebelum akhirnya Jiyong melepaskan telepon genggamnya karena sundulan kepala dari Yuri.

“Kenapa kau ini! Aku sedang meminta bantuan Mansion. Kau membuang ponselku.” Jiyong memarahi Yuri tanpa menunggu penjelasan gadis itu. Yuri menundukkan kepala sejenak kemudian merunduk hati-hati ke bagian belakang van. “Apa yang kau rencanakan? Bersembunyi?” Tanya Jiyong penasaran.

Tidak ada jawaban apapun dari gadis itu. Jiyong menundukkan kepala dan mencoba menggapai ponselnya yang ada di antara kedua kakinya dekat pedal rem. Tepat ketika ponsel itu menggantung kembali di telinga Jiyong, pria itu dikagetkan dengan kaca jendela mobilnya yang pecah tiba-tiba. Dua sampai tiga arwah jahat menyeringai di sana.

“Yuri, kurasa kau harus melihat ini.” Jiyong memperingatkan Yuri yang entah sedang melakukan apa di bagian belakang van. Jiyong melupakan ponselnya dan segera kembali bertumpu pada senjata canggihnya. “Pakai ini!” Yuri melemparkan sebuah pedang ke tangan Jiyong. Bukannya pria itu tidak ingin diperintah Yuri atau pura-pura tidak mendengarnya, hanya saja sebuah pedang yang baru saja dilempar Yuri adalah pedang yang tidak pernah ia pakai seumur hidupnya.

“Ini milik Ayah…” Jiyong memperhatikan kerutan dan garis wajah yang lugas pada gadis di depannya. “dan ini S-Class.”

“Aku tahu, tidak ada cara lain, kita kehabisan peluru perak.” Yuri mencoba menyambut bahu Jiyong dengan tepukan tiga kali dari telapak tangannya. Setelah sukses meyakinkan Jiyong atas penggunaan pedang tersebut, Yuri memakai sarung tangannya dan mengaktifkan seluruh peralatan yang tersisa.

“Mungkin U-Kit ini berguna.” Yuri bergumam sendiri ketika melihat benda dengan ujung seperti tapal kuda. Bunyi ringan kemudian terdengar dari arah pintu kemudi Jiyong. Yuri menoleh dan mendapatkan pria itu kini sudah keluar dari van –keluar dari tempat yang paling aman.

Yuri ingin nekat dan mengikuti jejak dari apa yang dilakukan Jiyong barusaja. Namun ia menyadari bahwa ia tidak dilengkapi persenjataan yang cukup. Ditambah, tidak memiliki pedang dan keahlian swordsmen secakap kakaknya itu. Walhasil, yang Yuri lakukan adalah berjaga di dalam van sambil menunggu kesempatan baik untuk menangkap para roh tersebut.

Yuri memicingkan mata dan mulai menghitung roh yang tersisa. Ia telah sukses membawa 3 roh ke gate. Jika sebelumnya roh tersebut berkeliaran dalam kelompok dengan anggota 7, kini hanya 4 dari mereka yang tersisa.

“Jiyong, cukup sekali tebas!” Yuri memperingatkan dengan sedikit berteriak. Ia tidak bisa berbohong bahwa terselip rasa khawatir yang berlebihan ketika melihat orang yang paling dekat dengannya kini sangat dekat dengan bahaya.

Pedang di tangan Jiyong memang tiada tandingannya, hanya saja bagaimana Jiyong dapat menguasai emosi dan keahliannya, itu yang menjadi ketakutan terbesar di dalam benak Yuri. Gadis itu kini memilin bajunya sambil mencoba mengusir salah satu roh yang baru saja memecahkan kaca jendela van nya –lagi.

Jiyong membawa mata pedang ke arah beberapa roh yang mengelilinginya. Ia mengedarkan pandangannya kalau-kalau ada roh yang luput dari pandangannya. Namun ia cukup awas untuk mengetahui itu.

Sebelumnya, Jiyong sempat mendengar bagaimana Yuri berusaha meneriakinya dengan memberinya cara kerja pedang tersebut. Tapi percayalah, Jiyong sudah mendengarnya berkali-kali sejak mereka dititipi pedang tersebut oleh Park Hyo Rin –ibu mereka.

“Sekarang apa…” Kaki Jiyong kini terseret beberapa langkah ke samping setelah ia sempat melamun dan melepaskan kesadarannya. Para roh itu melakukan gerakan poltergeist pada dirinya.

Lengkingan parau dari para hantu yang memang semuanya wanita kini terdengar jelas, memekik di telinga Jiyong. Ia terjatuh ketika roh yang menyerangnya melepaskan tubuhnya ke tanah. Jiyong jatuh berdebam diiringi dengan tatapan cemas dari Yuri di balik kemudi.

Jiyong berdiri layaknya ksatria yang tidak akan pernah tumbang. Dihujamkannya pedang ke tanah yang gembur kemudian ia berdiri dengan menumpu pada pedang tersebut. Bibirnya mengembang di sudut kanan, ia melirik Yuri sekilas kemudian menatap roh jahat di depannya dengan garang.

“Kalian yang meminta ini…” Belum selesai ia bicara, mata pedang di tangannya sudah melakukan ‘dialog’ dalam bentuk lain. Satu roh, hanya satu roh saja yang ia tebas. Namun suara lengkingan menyayat dengan bau-bauan bebatuan hangus kini memenuhi udara. Efek dari tebasan itu tidak berhenti sampai di sana, salah satu roh yang memang sedang menjahili Yuri, kini berdesis bagai ular, kemudian menghilang.

Dua roh yang tersisa tidak bisa bergerak. Senyuman dan aura bahagia yang menakutkan kini terpancar lebih hebat dari ekspresi Jiyong daripada roh itu sendiri. Seharusnya Jiyong yang bergidik ngeri. Alih-alih ngeri, pria itu kini tertawa.

Yuri, yang merasa mereka sudah ada di ambang kemenangan, kini keluar dengan santainya dari van. Persenjataannya yang minim kini dirasa bukan lagi masalah untuknya. Gadis itu berjalan riang ke arah Jiyong. Ia ingin ada di sana ketika para roh itu menghilang.

Namun siapa yang sangka bahwa Yuri salah besar. Gerakannya terhenti seketika ketika sesuatu menggerayangi tengkuknya. Yuri mendongak dan melihat roh lain kini hinggap di pundaknya.

“JIYONG!” pekik Yuri ngeri ketika ia merasa makhluk tak kasat mata itu mulai mencari lubang di dalam tubuhnya. Ia sendiri tidak menyangka kejadian tersebut akan menimpa dirinya. Seharusnya tidak pernah terjadi mengingat Yuri adalah Ghost Slayer yang sangat telaten dalam memakai tools nya. Gadis itu sangat yakin ia telah menyemprotkan Gas-Kit, dan seharusnya cairan itu menghalau makhluk halus untuk merasuki tubuhnya.

Yang  terjadi adalah kebalikannya.

Yuri memekik sekali lagi dan Jiyong berlari ke arahnya. Pria itu menyabetkan pedang besarnya ke udara dan serta merta memenggal kepala dari roh yang melayang di sana. Tinggal satu lagi, hanya satu lagi. Seharusnya Jiyong sudah menyelesaikan semuanya kalau saja Yuri tidak ikut campur dalam urusan sesaat tadi.

“YURI!” Jiyong berteriak, sebagian besar dari tubuh makhluk di punggung Yuri, kini berada di dalam tubuh gadis itu. Hanya tinggal kepala, dan tubuh Yuri akan dikuasai sepenuhnya oleh roh jahat tersebut. Jiyong berlari lebih cepat menggapai Yuri. Ia membalikkan arah mata pedangnya dan memukul dada Yuri dengan gagang pedang tersebut.

Yuri terbatuk, dadanya panas dan sakit. Ia segera berlari ketika sadar bahwa sesuatu yang bergelayut di punggungnya baru saja terlepas. Yuri bersembunyi di balik tubuh Jiyong dan menunggu reaksi keras dari roh yang marah.

Benar saja, taring mencuat dari kedua sudut bibir roh tersebut. Yuri biasa menyebutnya dengan monster. Bajunya yang putih kusam kini berubah menjadi merah darah entah karena apa. Tanduknya kini memanjang, di tambah satu lagi yang muncul pada bagian belakang kepalanya. Seharusnya roh itu adalah wanita, namun yang Yuri lihat kemudian adalah roh wanita dengan bulu-bulu  lebat layaknya monyet rimba.

“Dia S-Class…” Jiyong terbata ketika melihat alat di dalam tas pinggangnya berpendar kemerahan. Yuri menggigit bibirnya pelan. Mereka ada dalam bahaya besar. Tapi setidaknya Yuri dan Jiyong tahu kenapa Gas-Kit tidak berfungsi di tubuh Yuri.

“Apa kau yakin dapat memusnahkan makhluk ini?” Yuri berbisik di belakang telinga Jiyong. Pria itu menggeleng cepat. “Walau dengan pedang kelas S  ini?” Tambah Yuri lagi. Jiyong tetap menggeleng.

“Kalau begitu hanya ada satu cara…” Yuri menarik tubuh Jiyong dengan cepat dan mengajaknya berlari masuk ke dalam van yang sudah dilindungi. Yuri menutup pintu van dengan cepat dan duduk di balik kemudi. Jiyong menatapnya ragu. “Kau yakin dengan menyetir di daerah ini?”

Yuri melihat jurang di sisi nya kemudian mengangguk, disusul gelengan ringan. “Pasang saja sabuk pengamanmu. Aku tidak benar-benar yakin. Tapi aku lebih memilih mati jatuh dari ketinggian ini daripada dimakan oleh monster menyeramkan itu.”

Jiyong menarik sabuk elastisnya dan duduk dengan tegang. Roh jahat tersebut masih menumbuhkan bulu-bulu lebih banyak saat roda van lepas landas. Roh itu tidak mengejar, tapi Jiyong yakin ia akan. Setidaknya sampai metamorfosa anehnya selesai.

.Ghost Slayer.

.

.

.

TBC.

.

.

.

A/N : Ini chapter pertama. Diberitahukan untuk setiap Fanfiksi Ghost Slayer, akan dipublish dengan rata-rata jumlah words kurang lebih 3.000 saja. Jadi mohon maklum bila terlihat terlalu pendek. Aku menjaga inti cerita biar gak melebar kaya FF ku yang lain.🙂

Review masih diperlukan.🙂

93 thoughts on “Ghost Slayer – Step #1

  1. Ckh.Kyr berkata:

    Yang pertama aku komentari adalah, posternya serem-serem tjuy ;A;
    Tapi maklum karna ini FF horror ;3
    Hantunya kebanyakan wanita ya .-.

  2. Ardelia wynne berkata:

    Yuri sama jiyong keren sekali!! Trus ternyata cerita na ga horror horror banget. Secara aku penakut hehe but i’ll finish this no matter what :))

  3. NadheaKim berkata:

    Hay, anyeong ^^
    Reader baru di blog ini ^^
    Ak uda baca Teaser 1-3 ‘a,
    Tp baru koment sekarang :p
    Maav yaah..
    Heeheee🙂

    Ini baru part 1, tapi jujur ak susah bayangin gmna wujud hantu’a😥
    Tp gpp,
    Mungkin karena baru part 1 yaah🙂🙂

    Bahasanya keren, no typo!
    Hooah…

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s