You Belong With Me – EXOYUL Series

9. You Belong With Me

Series ke -9 dari rangkaian EXOYUL – Taylor Swift’s song series.

Main Cast : Kwon Yuri – Park Chan Yeol

Length : One shot.

Genre : Fluff – Romance.

I Just own the idea and plot. The lyrics inside owns by taylor swift. Do Not Plagiarism.

***

Duduk manis di tribun penonton pinggiran lapangan basket tidak serta merta memperbaiki image ku sebagai perempuan berkacamat tebal. Aku tidak berkeberatan dengan panggilan tersebut, toh aku memang memakai kacamata bodoh yang begitu tebal. Aku juga tidak menyalahkan para wanita dengan pakaian seksi dan menari dengan holahop kini meneriakiku untuk menyingkir dari sana. Tempatku memang bukan di sini, seharusnya aku berada di tengah buku tebal dalam perpustakaan yang pengap. Seperti itu saja.

“Hey kau kampungan, menyingkir dari sana. Kau mendengarkan tidak?” Seorang wanita paling tinggi dengan kaki jenjang menghampiriku. Pandangan matanya menatapku dengan jijik seolah aku adalah sampah busuk yang tidak pernah dibuang. Aku mengangguk lemah sambil memegangi frame kacamata tebalku kemudian pergi.

Aku berjalan gontai ketika sebuah suara peluit terdengar. Para pemandu sorak mulai berloncat-loncatan seperti tupai. Aku menghentikan langkahku sebentar dan menyempatkan diri menoleh ke belakang. Pria paling tinggi dengan senyuman yang mengembang terlihat paling bersinar di mataku. Aku cukup jauh dengannya, dan mungkin ia tidak bisa melihatku. Namun bahkan keringat pria itu, Aku bisa dengan jelas menangkapnya di mataku.

Pria itu, Park Chan Yeol.

“Hey, sedang apa kutu-buku ini di sini?” Wanita lain dengan rambut dipotong seperti helm kini berjalan mendekatiku dan meremehkanku –seperti wanita kaya lain melakukan itu.

Ia meninggalkanku segera ketika aku berdeham dan menundukkan kepalaku ke tanah. Sudah cukup untuk melihat Park Chan Yeol latihan hari ini. Aku harus pergi.

-oOo-

Namaku Kwon Yuri. Seorang gadis biasa di umurnya yang ke 22 tahun. Aku terbiasa sendiri, bukan karena aku tidak pandai bergaul. Aku kuliah di tempat yang seharusnya tidak pernah aku masuki. Sebuah universitas kelas atas, mewah dan… menyeramkan. Isinya hanya para wanita yang berjalan dan berdandan bak model tiap hari serta beberapa pria yang mungkin pernah membintangi berbagai film blockbuster. Singkat cerita, mereka sempurna.

Sedangkan aku adalah kontrasnya. Dengan kacamata tebal, rambut hitam yang selalu dikucir kuda serta pakaian norak yang bau, aku cukup diasingkan oleh lingkunganku sendiri. Jika aku tidak pintar, mungkin aku sudah tidak akan dianggap sebagai manusia di sana.

“Sudah membaca semuanya, Yuri?”

Ah~ sudah, terima kasih, Lee Joon-ssi.” Aku saat ini berbincang dengan salah satu penjaga perpustakaan. Beberapa hari yang lalu aku meminjam buku-buku referensi untuk penelitianku dan kali ini aku sudah mengembalikan semuanya. Lee Joon mungkin kaya dan tampan, tapi dia sedikit berbeda dari para ‘model’ yang lain di sekolah ini.

Dia antusias dengan belajar dan selalu menempatkan nilainya di posisi teratas. Dia cerdas. Tapi tidak dengan kacamata tebal seperti yang kupakai. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sedekat ini dengan pria itu. Mungkin karena tempat favorit kami sama, perpustakaan.

Dia bukan penjaga perpustakaan, tapi dia menyukai pekerjaan itu di waktu senggangnya. Dia pria yang baik dan charming.

“Kau sudah menyelesaikan makalahmu?” Tanyanya. Aku menggeleng dan menyunggingkan senyum seraya berjalan menjauh darinya. “Aku baru saja membuat outline dan beberapa pertanyaan inti.” Jawabku.

Lee Joon ternyata mengikutiku sampai tempat duduk. Ia membawa sebuah buku tebal yang masih terbungkus rapi di dalam plastik transparan, kemudian membuka sampul itu di depanku dengan antusias.

“Anatomi manusia?” Aku mengangkat alisku yang tebal. Cukup aneh melihat buku itu ada di tangan Lee Joon. “Kau tertarik pada bidang ini pada akhirnya?”

“Aku membutuhkan ini untuk belajar tentang sesuatu yang masih tidak aku mengerti.” Jawabnya. Ia mulai membuka cover tebal dari buku tersebut dan membalik halaman pertamanya. Ia meniti indeks daftar isi kemudian mengangguk kencang ketika menemukan bab yang ia inginkan. Aku mengintip pada judul yang sedang ia buka.

“Hati?”

Lee Joon mengangguk kencang. Dia terlihat serius membacanya dan itu membuat aku beberapa kali harus membetulkan posisi kacamataku. Dia terlihat sangat serius. Mungkin ia memiliki penelitian khusus tentang anatomi manusia khususnya bagian hati.

“Tidak ada juga… padahal ini buku terlengkap dan termahal yang pernah aku tahu.” Pria itu berhenti membolak-balikkan buku tebal tersebut dan menghembuskan napasnya kencang di depan wajahku. Dia menggembungkan pipinya kemudian tenggelam di atas tangannya yang melipat di atas meja. Aku tidak mengerti apa yang ia cari, jadi aku bertanya.

“Sebenarnya informasi apa yang kau butuhkan? Mungkin aku bisa membantu.” Tawarku. Lee Joon langsung mendongakkan kepalanya dan menatapku lekat di mata. Ia benar-benar serius untuk meminta bantuanku rupanya. “Yuri, kau pernah belajar anatomi manusia?”

“Tentu saja. Tapi karena jurusanku saat ini… aku mungkin melupakan sebagian bes—“

“Kalau begitu kau pasti tahu tentang hati manusia?” Aku belum selesai bicara namun Lee Joon tidak sabaran untuk memenggal kalimatku dengan gerakan kilat. Aku hanya bisa mengangguk sambil berdoa agar dia tidak bertanya hal-hal yang memang tidak pernah kuketahui.

“Kalau begitu…” Lee Joon membuka kembali halaman demi halaman buku tebal itu dan berhenti ketika gambar besar dari bagian-bagian hati manusia terpampang di sana. Ia menyerahkan buku itu padaku. “…Tunjukkan padaku dimana letak cinta?”

Aku hampir menjatuhkan daguku ketika Lee Joon bertanya. Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa dengan pertanyaannya. Tapi setidaknya aku tahu alasan kenapa para wanita di sini tidak pernah ada yang menyukai Lee Joon. Dia memang pintar, tapi somehow, dia terkesan idiot.

Dia masih menunggu jawabanku dengan api berkobar di matanya. Aku menelan ludahku pelan, tidak tahu apa yang harus kujelaskan pada idiot satu ini.

“—Jadi begini—“ Aku terdiam kembali setelah aku mencoba berbicara. Letak cinta katanya? Cinta itu tidak kasat mata, dan bagaimana aku menjelaskan letak cinta di dalam anatomi hati?

“kau juga pasti tidak tahu, ‘kan?” Lee Joon mengartikan keheningan kami dengan kalimat ‘aku tidak mengerti’. Aku mengangguk lemah. Lebih baik tidak mengatakan apapun pada pria itu daripada ia mulai bertanya hal-hal tidak logis lain padaku. “Tidak ada yang pernah tahu letak cinta, tapi para wanita itu tetap saja mengatakannya dalam setiap kesempatan. Aku harus membuat makalah tentang ini.” Ucapnya berapi-api. Aku tersenyum hambar sambil menutupi wajahku dari para pengunjung perpustakaan yang lain. Aku malu berteman dengan pria pintar tapi idiot ini.

Setelah duduk di sana selama kurang lebih 15 sampai 20 menit, aku memutuskan pamit pada Lee Joon. Aku harus pulang karena kelas terakhir di batalkan secara sepihak oleh dosen yang seharusnya bertanggung jawab atas kelasnya. Hanya bisa mendesah kecewa, akupun berlari di sepanjang koridor. Jika aku membuang beberapa menit saja, dipastikan tidak ada angkutan yang akan membawaku pulang.

Aku hampir tiba di gerbang ketika melihat mobil biru cerah melintas kencang di hadapanku. Aku hampir terserempet dengan brutal jika saja aku tidak menyingkir dengan segera dan terjatuh di atas gundukan tanah kecil. Suara tertawa kencang dari wanita-wanita yang ada di balik kaca hitam mobil biru itu menyeruak ke udara. Membuat gemuruh kesal di dadaku. Tapi aku bisa apa?

Aku membenarkan posisi kacamataku dan hanya bisa mengeluh panjang tentang celanaku yang kini kotor karena tanah. Bajuku rupanya terkena genangan air hujan tadi malam yang kecoklatan. Sungguh, benar-benar another bad day untukku.

“Kau baik-baik saja?” Kudengar suara rendah dari pria kini bergema di telingaku. Aku tertawa kecil, sepertinya imbas dari hampir terserempet mobil merusak fungsi kerja otakku. Aku menepuk-nepuk celanaku dan mendongak. Iris mata hitam yang teduh, itu yang aku lihat.

“Kau baik-baik saja?” Ulang pria itu lagi, kali ini ia mengulurkan tangannya padaku. Aku terhipnotis oleh manik itu. Kusambut uluran tangannya dan berdiri dengan segera. Rambutku yang dikucir kuda kini bergoyang kecil seiring tiupan angin. Aku seperti berada dalam adegan slow motion.

“Halo?” Pria itu menggoyang-goyangkan tangannya naik turun di depan wajahku. Aku terkesiap dan menggeleng pelan. “B-baik. Aku b-baik baik saja…” Ucapku terbata. Park Chanyeol, pria itu melepaskan genggaman tangannya dariku. Aku merasa jiwaku ikut terbawa bersamanya.

“Lain kali kau harus hati-hati dengan mereka.” Sarannya. Sumpah, Tuhan mendengarkan doaku. Park Chanyeol sepertinya mengetahui persis apa yang membuatku jatuh barusan. Dan ini artinya, ia memperhatikanku. Oh yeah. Apakah aku berlebihan?

“Siapa namamu?” Tanyanya lagi. Aku mengedipkan kelopak mataku pelan, membiarkan diriku lebih lama menatap wajah sempurna di depanku. Bibirku bergerak dengan sendirinya seperti orang bodoh. “K-Kwon Yuri…” ucapku.

“Baiklah Yuri-ssi, aku harus pergi sekarang. Lain kali kau harus hati-hati.” Pria itu pergi dengan senyuman di wajahnya padaku. Ulangi, senyuman padaku!

Aku pikir hari ini akan ditutup dengan berjuta kebodohan, kesialan dan hari buruk seperti yang sudah-sudah. Tapi malaikat datang dan melepaskan panah cintanya padaku. Ini best day ever!

-oOo-

“Apa yang membuat wajahmu begitu bodoh hari ini, Yuri?” Wanita tua di pojok ruangan kini melipat tangannya dan menyandarkan bahu kananya pada tembok. Matanya menatapku lekat. Sesekali ia berdecak dan bertatapan dengan pria kecil di sebelahnya.

noona mungkin terkena virus flu babi atau semacamnya, eomma.” Sambut pria kecil itu. Aku mendengarnya tapi aku tidak peduli. Aku melanjutkan makan malamku dengan senyum sepanjang waktu. Eomma baru saja menggelengkan kepalanya lagi dan pergi ke dapur. Kwon Yoogeun, pria kecil yang ada di sebelahnya, kini mengikutinya. Aku ditinggalkan berdua bersama Appa.

Dia tidak secerewet eomma jadi dia tidak bertanya apa yang membuatku selalu tersenyum seperti orang gila.

“Aku sudah selesai. Aku ke kamar.” Ucapku singkat setelah piringku kosong. Appa hanya mengangguk sambil membiarkanku naik ke tangga lantai dua dan masuk ke kamarku. Aku mengedarkan pandanganku pada seluruh tembok biru muda yang terpampang di sana kemudian berteriak keras. Dengan sebuah boneka mickey mouse besar, aku berlarian ke setiap sudut dan memekik. Di akhiri dengan tubuhku yang melayang ke atas kasur empuk. Aku memeluk boneka itu kuat-kuat dan memejamkan mata.

“Park Chanyeol… Kau begitu tampan.”

-oOo-

“Aku akan mengiris anak itu kalau aku terlambat. Sial.” Aku mengumpat tentang Yoogeun. Anak itu menyembunyikan tas ku di bawah kasur dan memperlambat gerakanku pagi ini. Sebagai efek, aku harus berdiri menunggu angkutan umum yang lewat di saat matahari sudah naik lebih tinggi. Jika dalam 5 menit aku tidak kunjung mendapatkan bus atau angkutan lain, sudah dipastikan aku telah terlambat untuk kelas pertama.

Sebuah mobil hitam datang di depan trotoar tempat aku berdiri. Aku mundur perlahan sambil memegangi tas punggungku di depan. Kaca jendelanya bergerak turun dan aku melihat pria tampan baru saja melepas kacamata hitamnya.

“Sedang apa kau di sana, Yuri-ssi?”

“Lee Joon-ssi…” aku terpana melihat penampilannya. Untuk gerakan singkat, mungkin siapapun tidak akan menyangka dia cukup idiot. “Kau menunggu bus?” Tanyanya.

Aku mengangguk “Tapi aku tidak menemukan satu unit bus pun sampai detik ini.” Ucapku lemah. Leejoon tertawa. “Masuklah.”

“Apa?”

“Masuklah, ikut bersamaku. Lagipula kita berada di universitas yang sama.” Ucapnya. Aku menggaruk kepalaku sebentar, namun tawaran Lee Joon sangat tidak mudah untuk ditolak. Aku butuh tumpangan agar tidak terlambat.

Aku segera membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Lee Joon yang menyetir. Lee Joon menjalankan mobilnya seperti pembalap. Mungkin dia sadar bahwa dia juga hampir terlambat.

-oOo-

“Ma-maafkan aku…” Aku menundukkan kepalaku ketika melihat dosen berperawakan pendek yang menatapku benci karena keterlambatan 1 menit yang aku lakukan. Kini semua tatapan berada di tubuhku. Termasuk beberapa wanita anggota pemandu sorak.

“Aku tidak bisa mentolerir ini. Kau tidak diijinkan masuk kelasku hari ini, nona.” Ucap dosen itu tegas. Saat aku ingin berbicara, suara decitan pintu yang dibuka terdengar dari belakangku. Seorang pria terengah;rambut berantakan;kaus yang tidak rapih kin berdiri di sana. Tas nya menggantung di bahu kanannya. Ia tersenyum.

“Maafkan aku, aku terlambat.” Park Chanyeol di sana. Ia berjalan singkat sambil meminta maaf. Ia berdiri di sisiku dan menatapku sekilas kemudian tersenyum kembali. “Maafkan aku, aku terlambat.” Ulangnya.

Dosen terlihat ragu sesaat. Aku memutuskan untuk memutar arah tubuhku dan pergi dari sana. “Kwon Yuri, kemana kau akan pergi?” Chanyeol membisikkan sesuatu di telingaku. “Aku terlambat dan tidak diperbolehkan mengikuti kelas.” Balasku singkat. Tidak tahan dengan tatapan mata para gadis pemandu sorak yang ada di depanku.

“Park Chan Yeol, silakan duduk di tempatmu, kelasku akan kembali dilanjutkan.” Aku tersentak mendengar dosen pendek itu mempersilakan Chanyeol untuk segera duduk. Sedangkan aku yang notabene tidak lebih terlambat dari pria itu, kini diusir. Tidak adil. Kenapa semua perangkat pendidikan di universitas ini tidak pernah begitu adil pada mahasiswa dengan asupan beasiswa sepertiku?

“Aku boleh mengikuti kelas? Dan kau mengusir Kwon Yuri, pak?” Tanya Chanyeol masih tidak mengerti. Dosen pendek tersebut diam saja. Mungkin dia belum pernah menyiapkan jawaban yang masuk akal.

“Kalau begitu aku juga akan keluar dari kelas ini, Pak. Kau harus bersikap adil.” Chanyeol pergi dari sisi dosen tersebut dengan teriakan kecewa dari para pemandu sorak di dalam kelas. Ia menarik lenganku untuk mengikutinya keluar. Aku… disentuhnya.

Mungkin saat aku pulang ke rumah, aku harus membelikan Yoogeun permen lollipop besar karena ia membuatku terlambat.

-oOo-

“Minum?” tawar Chanyeol ketika kami duduk di sebuah taman kecil. Tidak ada bangku di sana, kami hanya duduk di sebuah tembok sebatas dengkul, pembatas antara taman dan jalanan setapak.

“Tidak terima kasih.” Jawabku. Aku berusaha keras menahan pipiku agar tidak memerah saat ini. Duduk berdua saja dengan Park Chanyeol? Tidak pernah aku pikirkan sama sekali.

“Jadi kau terlambat juga?” Tanyanya. Aku mengangguk. “Aku tidak mendapatkan bus ku pagi ini.” lanjutku.

“Oh, aku tidak mendapatkan bus juga hari ini.” Jawabnya. Ia mulai membuka botol air mineralnya dan menenggak sedikit demi sedikit air putih di botol itu. “Bukankah kau membawa mobil pribadi?” Tanyaku.

“Mobil itu masuk bengkel kemarin sore. Aku menggunakan bus mulai hari ini sampai mobil itu selesai diperbaiki.” Jawab Chanyeol setelah ia menutup botol air minumnya. Aku membentuk huruf o pada mulutku.

“Aku tidak pernah menyukai dosen pendek itu.” Ujarnya tiba-tiba. Aku tidak mengiyakan, hanya diam. “Dia menyebalkan sejak tahun pertama. Aku heran kenapa mereka masih mempekerjakannya.” Sahutnya lagi. Aku tertawa.

“Apa yang lucu?” tanyanya, aku melihat tiga kerutan horisontal di dahinya. “Oh maaf…” Aku merasa bersalah menertawakannya. Aku juga tidak tahu apa yang membuatku tertawa barusan.

“Kau ini aneh tapi lucu.” Timpalnya, kali ini giliran ia yang tersenyum. “aku pikir kau tertutup… dengan kacamata dan…”

“dandanan kunoku?” sambungku. Kami tertawa bersamaan di akhir kalimatku. “Aku cukup baik dalam bergaul, masalahnya, siapa di sini yang bersedia berteman dengan wanita berkacamata sepertiku.” Jelasku. Masih dalam suasana manis yang kami buat. Park Chanyeol menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia menyandarkan tubuhnya lebih rileks di pilar yang ada di sampingnya.

“Aku bersedia menjadi temanmu.”

Petir. Aku hanya mendengar petir asing di telingaku. Park Chanyeol ingin berteman denganku? Yang benar saja. “A-aku tidak bermaksud memaksa—“

“aku tidak terpaksa. Lagipula mengobrol denganmu cukup membuatku nyaman.” Lanjutnya lagi. Aku diam beberapa saat, menundukkan kepalaku sambil beberapa kali membenarkan letak kacamataku. “jadi, bagaimana?” Park Chanyeol kembali bertanya.

Ia menyerahkan telapak tangan putihnya padaku. Menyodorkannya dengan senyuman mengembang di wajahnya. Aku menatapnya sekilas dalam kebekuan selama beberapa detik. Dengan tangan dingin dan bergetar, aku menyambut tangannya.

“Baiklah.” jawabku singkat.

“Namaku Park Chanyeol. Biarkan aku membuat ini resmi.” Sahutnya, matanya menyipit dan bibirnya mengembang.

“Namaku Kwon Yuri. kau bisa memanggilku Yuri.” Aku membalas senyuman pria itu dengan gerakan singkat di mataku. Senang, kupu-kupu beterbangan di perutku. Akhirnya hari ini datang padaku. Demi Tuhan, aku tidak pernah sebahagia ini.

-oOo-

“Kau terlambat lagi, Yuri-ssi?” Aku berjalan singkat di bangku taman sambil tersenyum. Rambutku kini dikepang menjadi dua bagian. Dan itu membuatku merasa sedikit cantik. Chanyeol masih duduk di bangku dengan roti gosong yang hampir habis di tangannya. Aku mengangguk atas pertanyaannya kemudian ia tertawa. “Kita memiliki kebiasaan terlambat yang sama.” Timpalnya.

Well, sebenarnya aku tidak benar-benar terlambat. Aku sepanjang pagi bersembunyi di perpustakaan dan membiarkan diriku terlambat. Hanya satu alasan untuk ini, aku ingin lebih lama bersama Park Chanyeol. Aku memang sedikit tidak waras.

Ketika aku duduk, tanpa kusadari sebuah kertas melayang jatuh ke atas rerumputan. Chanyeol memungutnya dan mengambil kertas kumal itu. “Apa ini?” ucapnya. Aku menangkap objek yang menjadi pertanyaan pria itu. Aku merebutnya kembali.

“Not-not lagu… Kau komposer?” Tanya Chanyeol. Aku menggeleng. “Aku hanya suka menulis lagu, tapi tidak pernah menyelesaikan liriknya. Aku bukan komposer.” Jawabku. Chanyeol tertawa. Ia merebut kembali kertas dengan not-not di tanganku kemudian menggumamkan ritme nada dengan suaranya.

“Cukup bagus. Ini akan cocok sekali untuk menjadi lagu cinta dan penyemangat.” Saran Chanyeol. Aku tersenyum hambar. “Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi aku tidak bisa menemukan lirik yang pas.” Jawabku.

Chanyeol membuang remah roti di tangannya kemudian menggumamkan kembali lagi di not kertas tersebut. Aku menunggu sambil mencuri menatap wajahnya yang sempurna.

“Seharusnya wanita pandai menulis lirik kisah cinta. Kenapa kau tidak bisa?” Chanyeol memalingkan wajahnya padaku, telingaku mungkin sudah memerah.

“A-aku tidak tahu…” Ucapku , sedikit terbata.

“Apa kau tidak pernah jatuh cinta?” Tanyanya, dengan nada menjahili. Pipiku memerah. Bagaimana aku bisa mengatakan ini padanya. Mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta pada pria yang kini duduk di hadapanku. Mengatakan bahwa hey Chanyeol, aku jatuh cinta padamu. Begitu?

Aku tidak bisa. Tentu saja.

“A-aku sudah pernah jatuh cinta!” sergahku cepat, mungkin dengan nada yang tidak bisa diterima Chanyeol. Sehingga ia kini menggodaiku lagi. “pernah? Artinya saat ini tidak, begitu?”

Aku menggigit bibirku sementara pria itu menahan tawanya menunggu jawabanku. “Aku pun sedang jatuh cinta saat ini!” sergahku lagi. Aku tidak berbohong untuk ini. ingin ku berteriak di telinga pria itu dan mengatakan ‘hey chanyeol, aku jatuh cinta padamu. Berhenti menggodaku.’ –andai saja aku bisa.

“Benarkah? Kau sedang jatuh cinta? Aku cukup terkesan. Lalu siapa pria beruntung itu?”  Mata Chanyeol sepenuhnya ada di wajahku. Aku merinding tiba-tiba. Seperti ada sesuatu yang bilang ‘hey Yuri kau terjebak.’

Aku menyukai Chanyeol, tapi tidak mungkin bagiku untuk mengatakan itu sekarang padanya, bukan? Lagipula aku tidak berharap aku adalah orang yang pertama mengatakan cintaku pada seorang pria. Harus pria terlebih dahulu mengambil start. Aku hanya bisa menunggu.

Di saat-saat kritis, kulihat Lee Joon berjalan lurus tanpa menoleh kepadaku. Dia terlihat sedang membaca buku sambil menyedot bubble tea dinginnya beberapa kali. Bola lampu menyala di dalam syaraf otakku.

“Pria di sana!” jawabku asal pada Chanyeol. Jariku mengarah ke tubuh Lee Joon. Aku tidak berpikir banyak dan hanya menunjuk asal. Chanyeol menyipitkan matanya dan melihat pria yang baru saja kutunjukkan padanya sebagai pria yang sedang kusukai. “Lee Joon?” tanyanya tidak percaya.

Aku mengangguk lemah. “Kau menyukai pria seperti itu?” Yakinnya lagi. Aku tetap mengangguk tapi aku mengutuk diriku sendiri karena berbohong.

“Baiklah…” Ucapnya dengan nada meraba-raba situasi. Dia masih terlihat ragu. Aku tidak tahan dengan segala kebohongan yang baru saja aku ucapkan. Jika tidak segera pergi dari sana, mungkin aku akan mengatakan kebohongan lebih banyak lagi dari ini. “Aku harus pergi sekarang, Chanyeol. Bye.” Aku mengucapkan kalimat singkat setelah menarik tas punggungku pelan. Chanyeol mengangguk sebentar.

Di saat aku sudah semakin jauh darinya, dia berteriak tentang kertas notasi lagu yang tertinggal.

“Simpan saja, aku memiliki copy­-nya.” Sahutku sambil berlalu. Lee Joon tersenyum padaku dan aku buru-buru menariknya ke tempat lain.

-oOo-

Sejak kejadian di taman –dimana aku berbohong, kini aku tidak pernah bertemu dengan Chanyeol lagi. Karena aku menjauhinya? Tidak. Lebih seperti dia yang menyibukkan dirinya sendiri untuk tidak pernah bertemu lagi denganku.

Hanya mungkin sedikit pengecualian untuk hari ini. Dia datang padaku di saat aku menenggelamkan diriku di dalam buku tebal.

“Chanyeol-ssi…” Aku terbata dengan kedatangannya tiba-tiba. Dia tertawa.

“Jangan memasang ekspresi kaget seperti itu. Aku bukan hantu.” Sergahnya cepat. Aku terkikik pelan. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.

“Menemuimu.” Pria itu menatap langit-langit perpustakaan kemudian melempar-lemparkan pena milikku ke udara. Aku menelan ludahku. “Kau tidak bersama pria itu?” tanyanya setelah ia menemukan Lee Joon di pojok ruangan.

“Siapa?” Aku tidak menangkap siapa yang dia maksud jadi aku bertanya. Setelah ia mengerling pada posisi dimana Lee Joon duduk menyepi dengan buku tebalnya, aku mengerti.

“Tidak…” jawabku pelan. “Kau tidak mengatakan perasaanmu padanya?” sahut Chanyeol lagi. Aku berdeham pelan.

“Belum. Kenapa kau begitu peduli?” Aku menjadi sangat sensitif hari ini. Seharusnya dia tidak datang dan membahas hal ini lagi. Aku muak berbohong padanya. Aku muak menyembunyikan perasaan milikku yang sebenarnya dari Chanyeol. Aku muak dengan diriku sendiri.

“Tidak. Kupikir kau mengatakannya. Aku menunggu lirik lagu yang kau ciptakan untuk notasi tempo hari.” Jelas Chanyeol. “Kenapa tidak kau saja yang membuatnya?” Aku menantangnya, muak dengan segala ocehan tidak berarahnya.

“Jika aku yang membuatnya, maka akan menjadi lagu sakit cinta.”

“Kenapa?”

“Kau tahu wanita pemandu sorak yang selalu bersamaku?”

“Aku tahu. Dia kekasihmu.”

“Dia bukan lagi kekasihku. Aku baru tahu kalau ternyata, dia telah lama mengkhianatiku.” Ucapnya tersenyum. Pria ini! Aku tidak mengerti, kenapa dia bisa tersenyum di saat-saat seperti ini.

“Maaf aku tidak tahu..” aku menyampaikan ucapan turut bersedih namun hatiku bersorak. Apa aku terlihat jahat?

“Tidak apa, lagipula itu sudah lama sekali. Bahkan sejak aku belum mengenalmu.” Aku mengerutkan dahi. “Sejak belum mengenalku?”

“Ya, sekitar dua atau tiga minggu yang lalu.” Jawabnya pendek. Aku makin heran. Dia tidak pernah sekalipun bercerita bahwa ia baru saja berpisah dengan kekasihnya. Dia selalu tersenyum seperti ia tidak pernah merasakan kesakitan apapun. “Tapi aku sudah menemukan penggantinya.”

Ya, bisa ditebak. Hatiku hancur menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. berserakan di atas lantai dan tergilas oleh tronton yang besar.

“…Selamat kalau begitu…” Aku mencoba tulus namun aku tidak bisa. Hatiku terguncang, mungkin ia bisa membacanya. Kegundahan yang terjadi di dalam pikiranku. “Jangan mengucapkannya sekarang, aku akan mengatakannya nanti malam. Semoga dia bisa menerimaku.”

“nanti malam?” Aku mengerutkan dahi. “ada apa dengan nanti malam?” lanjutku.

“kau tidak tahu?” aku menggeleng atas pertanyaan singkat Chanyeol “Pesta dansa antar fakultas. Ulang tahun universitas. Kau harus lebih banyak mengunjungi website kampus, Yuri-ssi..” sarannya. Aku mengedikkan bahuku dan tersenyum tipis. Aku tidak tahu tentang pesta. Lagipula aku tidak akan pernah menghadiri pesta apapun.

“Jangan bilang kau tidak berencana untuk datang?” Tebak Chanyeol. Aku hanya tersenyum hambar. “Ayolah Yuri-ssi, kau harus datang nanti malam.” Ajaknya.

“Aku harus… pergi dengan Lee Joon nanti malam.” Tolakku halus. Aku mencoba tersenyum, tapi wajah pria itu mendung. Dia menggeser kursinya ke belakang dan menegakkan tubuhnya. Ia berputar dan membelakangiku segera.

“Kalau begitu semua rencanaku tidak akan berhasil, Yuri-ssi…” Ucapnya pelan. Hampir berbisik. Aku menatap punggung pria tinggi itu. “Memberitahu seorang gadis bahwa aku mencintainya, rencana itu tidak akan pernah terjadi malam ini…” Chanyeol memberi pandangan mataku membeku padanya. Ia menoleh kecil, mempertontonkan pipi kirinya yang memerah. Kata-kata selanjutnya terdengar rendah –sangat rendah, tapi aku bergetar. Aku seperti ditampar.

“Gadis itu… sepertinya memilih pria lain. Aku tidak memiliki harapan.”

-oOo-

“Apa maksudnya aku?” Aku membanting kembali bantal dan guling yang berserakan di kamarku. Sesekali aku menjambak-jambakkan rambutku karena aku merasa terlalu idiot. Park Chanyeol sepertinya barusaja mengatakan isi hatinya padaku tadi siang. Tapi aku… dengan semua kebodohanku… menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Kau bodoh, Yuri!” Aku membenamkan kepalaku di antara kasur dan selimut. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Aku diam, merenung dan berpikir dingin.

Sebuah panggilan masuk terdengar dari ponselku. Kulihat nama yang terpampang di sana.

“Lee Joon-ssi?” Aku segera berbicara pada seseorang yang ada di seberang ponselku.

“Kau tidak datang, Yuri-ssi?”

“Apa aku harus datang? Kenapa semua orang menyuruhku datang?” Aku sangat sensitif hari ini. Lee Joon sepertinya terdengar terkejut mendengar reaksiku.

“Kau sedang mengalami period mu, Yuri-ssi? Kenapa kau menjadi sangat galak. But well, Aku hanya ingin menyampaikan ini, Park Chanyeol mencarimu.”

Ubun-ubunku menjadi sangat panas mendengar nama itu. “Katakan aku tidak datang.”

“Sudah kukatakan. Dia mengira aku bersamamu malam ini. Ada sesuatu yang terjadi malam ini, kau harus datang, Yuri-ssi

“Kenapa harus aku?”

“Jangan banyak bicara dan ganti bajumu. Cepat kemari.”

Aku mendengar suara putus-putus di ponselku. Lee Joon mencoba menjadi misterius –yang mana sangat tidak pantas dengan image nya. Aku menggeleng pelan di saat eomma menggedor pintu kamar kayuku dan mengatakan tentang telepon dari seseorang dari kampus.

“Yuri, apakah kau memiliki pesta malam ini? Kenapa kau masih diam di kamar?” Panggil eomma di balik pintu. Aku menghela napas. “Aku tidak akan pergi!” sahutku.

“Lagipula aku tidak memiliki baju yang cukup bagus.” Tambahku. Terdengar suara desahan panjang yang melelahkan kemudian suara eomma menghilang di sana. Dalam beberapa menit suara derapn langkah kencang kembali lagi ke kamarku. Eomma kembali menggedor pintu kamar. Aku membukanya dengan malas.

Sebuah gaun, itu yang pertama kali tertangkap oleh mataku. Gaun itu ada di tangan eomma ku dan aku tidak tahu darimana ia mendapatkannya.

Mwoya?” tanyaku. Namun wanita itu malah menarikku untuk duduk di depan meja rias. Ia menarik-narik rambutku dan memakaikan cairan-cairan aneh di sekitar rambutku. Ia melepas kacamataku dan menempelkan beberapa debu-debu entahlah di pipiku.

“Kau mencoba mendandaniku, eomma?” Tanyaku. Mataku terpejam karena wanita itu sedang sibuk memasangkan sesuatu di kelopak mataku. “Sudah saatnya kau yang menjadi pusat perhatian, Yuri. Kau sudah dewasa, dan sebenarnya… kalau kau mau, kau bisa tampil seperti mereka yang berada di televisi.”

“tapi aku menyukai penampilanku yang biasa—“

“tidak lagi. kau menutupi kecantikanmu sendiri. Itu pembohongan publik. Bagaimana seorang pria bisa jatuh cinta padamu dengan penampilanmu yang menyedihkan?”

Kemudian aku teringat pada Park Chan Yeol. Pria itu telah jatuh cinta padaku meski aku bukan Yuri dalam balutan gaun. Aku tersenyum. Sesuatu memukul kepalaku dari belakang. Saat aku tahu itu hanya sebuah catokan rambut, aku berlari dari sana. Mengambil pensil dan lembar kosong. Kemudian aku mulai menuliskan notasi lagi di sana. lengkap dengan liriknya.

“Apa yang kau tulis?” tanya eomma.

“Sesuatu eomma…. Seorang pria yang akan kuperjuangkan.”

-oOo-

Chanyeol tidak sadarkan diri. Ia telah banyak meminum anggur dan wisky. Di sekitarnya terdapat para wanita cantik yang mencoba mencari perhatian padanya. Bahkan salah seorang mantan kekasihnya kini bergelayut dalam pelukan pria itu.

Lee Joon datang dan menarik tangan pria itu. Namun Chanyeol mengakhirinya dengan menghempaskan tubuh Lee Joon jauh-jauh.

“Sudah berapa kali kubilang, aku tidak bersama Yuri. dan aku tidak tahu dimana Yuri berada sekarang!” Lee Joon membentak. Park Chanyeol tidak mudah percaya pada perkataan pria itu. Yang ia mengerti adalah ia tidak akan pernah mengatakan cintanya pada Yuri karena kesalahpahaman. Dan ia minum karena kebodohannya sendiri.

“Pergilah…” ucap Chanyeol terbata. Lee Joon menggertakan gigi kemudian pergi dengan tergesa-gesa.

Malam sudah semakin larut dan pesta menjadi anak muda saja yang tersisa. Beberapa sudah duduk berdua di pojokkan dengan obrolan ringan dan sisanya menyebar, bahkan ada beberapa pasangan yang berciuman mesra di pesta taman tersebut. Chanyeol melihatnya frustasi. Ia membuka tuxedo nya dan memisahkan diri dari para wanita yang mengelilinginya.

“…test…”

Suara microphone terdengar. Chanyeol memicingkan matanya pada seorang wanita cantik dengan balutan gaun berwarna putih cerah. Namun ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.

Saat Chanyeol akan berjalan, Lee Joon menahannya.

mwoya?” Tanya Chanyeol menggeram. Lee Joon diam saja dan membiarkan tubuh besar itu berada di depannya. Lee Joon menggunakan kode mata agar Chanyeol bisa melihat siapa yang sedang duduk dengan gitar di depan dada di atas panggung.

“Aku tidak tertarik pada wanita itu.” Ucap Chanyeol dingin. Tubuhnya limbung ketika ia mendengar nada intro familiar di telinganya. Suara petikan gitar terasa menyentuh, dan ia tidak pernah asing dengan notasi perpindahan nada yang dipetik oleh wanita di sana.

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan melihat seorang wanita tadi dengan gaun merah muda duduk dan tersenyum padanya. Ia masih memetikkan gitar kemudian disusul dengan suara bass, drum dan keyboard yang menyesuaikan ritme.

Gadis itu tersenyum. Ia berdiri dan meraih stand microphone. Gadis itu bernyanyi dengan riang.

You’re on the phone
With your girlfriend
She’s upset
She’s going off about
Something that you said
She doesn’t get your humor
Like I do

I’m in my room
It’s a typical tuesday night
I’m listening to the kind of music
She doesn’t like
She’ll never know your story
Like I do

But she wears short skirts
I wear t-shirts
She’s cheer captain
And i’m on the bleachers
Dreaming about the day
When you wake up and find
That what you’re looking for
Has been here the whole time

Gadis itu tertawa. Chanyeol berjalan semakin dekat ke sisi panggung dan menatap mata gadis itu yang berubah menjadi kekuningan seperti mata kucing di malam hari.

Park Chanyeol tidak pernah salah, gadis yang ia lihat itu adalah Kwon Yuri.

If you could see
That i’m the one
Who understands you
Been here all along
So why can’t you
See you belong with me
Standing by and
Waiting at your backdoor
All this time
How could you not know
Baby
You belong with me
You belong with me.

Yuri berloncat-loncatan dengan pemain musik di belakangnya. Nada yang mudah diingat serta lirik yang sangat pas dengan kepribadiannya membuat tepuk tangan riuh membahana di sekitarnya. Yuri menunjukkan deretan gigi putihnya kepada mereka yang memberikan tepuk tangan.

Ia menyelesaikan lagunya dengan terengah, ia tersenyum puas.

Saat ia turun dari panggung kecil, Chanyeol menangkap tubuhnya. Mendekap gadis itu dalam tangannya.

“Kau Yuri?” tanyanya. Yuri mengangguk –menatap Chanyeol dengan sedikit takut karena bau alkohol.

“Dan kau menyelesaikan lirik lagu itu?” Yuri mengangguk lagi atas pertanyaan Chanyeol. Pria itu melepaskan tangannya dari tubuh Yuri, membiarkan gadis itu memandangnya.

“Kau terlihat… berbeda…” Chanyeol memperhatikan Yuri dari ujung kaki hingga ujung kepala. Yuri dengan gaun, sepatu tinggi dan dandanan yang menawan, adalah Yuri yang tidak pernah ia bayangkan.

“Apa aku aneh?” tanya Yuri kecil. Ia merasa tidak nyaman dengan pandangan Chanyeol padanya.

“Tidak… Kau terlihat… seperti bidadari..” Jantung Yuri mencelos mendengarkan bagaimana Chanyeol memujinya. Yuri tersenyum malu, pipinya memerah. Jantungnya berdegup kembali dengan kencang di saat Chanyeol menggenggam tangannya.

“Jadi… kau pada akhirnya datang…” Yuri mengangguk malu, ia menggigit bibirnya. Kemudian membuka kelopak matanya pelan, memandang Chanyeol. Chanyeol menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal dan sesekali menghindari kontak mata dengan Yuri. pipinya memerah dan telinganya mengalami hal yang sama. Mereka akan melihat satu sama lain kemudian menghindar karena malu jika mata mereka bertemu.

“Yuri…”

“Chanyeol…”

Keduanya menatap sejenak kemudian tertawa lepas ketika mereka memanggil nama satu sama lain dengan waktu yang bersamaan.

“Kau duluan..” Ucap Yuri malu. “tidak, ladies first.” Jawab Chanyeol.

Yuri menggembungkan pipi. Kemudian melipat tangannya di depan dada. “Aku tidak akan mengatakan apapun…” sahutnya.

“Kalau begitu aku juga.” Sahut Chanyeol.

“Baiklah, ini mulai menyebalkan, Chanyeol-ssi.”

“Aku memang menyebalkan.”

“…dan tidak lucu.” Yuri mulai bosan, dalam arti benar-benar bosan. Ia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari Chanyeol. Pria itu dengan cepat menarik tangan Yuri dan membuat tubuh molek gadis itu jatuh ke dalam tangannya. Tidak ingin membuang kesempatan dengan jarak tubuh mereka yang memang sudah terlalu dekat, Chanyeol menanamkan bibirnya pada bibir merah muda milik Yuri.

Yuri belum sempat bereaksi apapun dan harus menerima bibir Chanyeol pada bibirnya. Matanya membelo kontras dengan Chanyeol dengan mata terpejam.

Riuh tepuk tangan di tengah kerumunan terdengar lebih keras. Chanyeol melepaskan bibirnya dan melemparkan senyuman pada setiap orang yang menyorakinya. Lee Joon yang paling antusias.

“..A-apa ini…” Yuri masih terbata. Jantungnya belum berdetak dengan normal. Namun Chanyeol sudah menarik tubuh itu ke dalam dekapannya. Kepala Yuri terbenam di dalam dada Chanyeol dan gemuruh tepuk tangan terdengar semakin besar. Para wanita seksi yang sebelumnya bersama dengan Chanyeol, kini membubarkan diri satu persatu dengan tatapan sinis.

Chanyeol berbisik di telinga Yuri. seolah tidak ingin didengar oleh siapapun selain mereka.

“Kamu milikku, Yuri. Aku mencintaimu.”

If you could see
That i’m the one
Who understands you
Been here all along
So why can’t you
See you belong with me

-THE END-

.

.

.

AKAKAKAKAKA. agak gaje ini men. dibuat ringan aja deh biar agak singkron ame lagunye.

Aduh itu Chanyeol romantis sekali di FF yang ini. aku agak…. ga setuju sebenernya kalau dia jadi sok sok an romantis. /Jealous soalnya.

ini udah Series ke-9. AKHIRNYAAA~~

perlu diberitahukan sehabis ini akan ada yang versi Baekhyun. Siap-siap!🙂

89 thoughts on “You Belong With Me – EXOYUL Series

  1. bebink berkata:

    ini ga gaje eonni ini romantis. aaaaa so sweet. ngakak pas bagian lee joon oppa nanya letak cinta dimana hahahaha dasar beon sunpah hahahaha. cerita eonni selalu bagus kok. hwaiting eonni😀

  2. NG_YuriGG • Sulleh_ berkata:

    Jealous sama yuri/? Aaaa sweet~ kecelahh,bingung mau comment apalagi’_’ pokoknya keren dah hwhw

  3. Cho Yuri berkata:

    Aku mw tny jga ahh
    Letak cinta itu dmn yaa😄
    Lee joon pea😄
    Kagak gaje eon keren kok
    Dan bgs cast namja ny bkn kyu
    Krna kagak cocok ama imageny
    Wkawka
    Klo blagak sok cool itu sih cocok whehehe

  4. adeliaarkp berkata:

    waa bagus chanyeolnya soswit gt bayangin yuri culun gimane ye wkwks asik abis ini yuri baekhyun ye semangat nyun

  5. Linda Aslyah berkata:

    aaaaa Yeoli eh Chanyeol kenapa kamu so sweet sekali aku juga mau disukain sama kamu hahaha..
    perfect love story and I hope to have the same thing hmm.. ~,~ ahh Unn jadi curhat kan.
    part ini nyentuh banget padahal si Chanyeol happy virus, bawaannya kalau liat dia teh kocak. tapi di ff ini blur, Chanyeolnya romantis. aaaaa~ like it

    • bapkyr berkata:

      andwae chanyeol punya aku. /umpetin dulu himchannya/
      ah aku gak mau kaya yuri, masa aku harus jadi nerd dulu /digampar/
      hahaha. rata rata di FF aku castnya bertolak belakang banget sama sifat aslinya. biarin ah, dinistain sedikit di sini. kk~

  6. Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

    Ahh~~ jadi nge-fly aku O.o? xD
    aku suka series yg iniiii~~! tapi semuanya juga suk sih ^^d

    cuma yg ini beda aja gitu… mungkin karna Yuri menjadi nerd xD *pletak*

    Akuuu suuukkkaaaaa seeeekkkaaallliii~~~~~~~ ^0^

    Aku tunggu yg KrisYul❤

  7. janemaris berkata:

    Joon oppaaaaa unyu banget nanyak dimana letak cinta >.<
    Arghhhh chanyeol oppa kok bisa sweet banget ngebantu yulnie bangun pas jatuhhh :$
    Ampuunn itu si yoogeun jahat bener kena flu babi masa -_- yulnie juga sadis banget masa mau ngiris yoogeun -__-
    Arghhh ampun yeolieppa sweet banget eonnie bisa gila aku lama2, dia narik yuri keluar kelas bareng :$
    Park Chanyeol bersedia jadi temennya yulnie donggg :$
    Arghhhhh chanyeolaaaaaa kamu bener2 sweet ampunn aku senyamsenyum sendiri bacanya, itu dia seneng banget waktu yuri uda siap nyanyi mujimuji kayak bidadari lagi luuu gomballl. Arghhh sweet eonnieyaaa!!!!

  8. Suciramadhaniy berkata:

    Omg! Envy bgt sama Yuri! Ya ampun kakak kamu berhasil mwmbuatku senyum-senyum sendiri. Ceritanya dikemas dgn rapi dan aku sukaaa bgt!!! apalagi aku suka bgtt sama lagu-lagunya Taylor Swift. You belong with me adalah salah satu lagi fav ku. Pokoknya fic ini keren! Feelnya dapat bgt. Ini series yg ke-9 berarti ada lagu-lagu Taylor yg lain? WAH!😀
    Ohya kalo boleh request aku minta yg lagu twentytwo -nya Taylor kak.

    • bapkyr berkata:

      Omo uci. Kamu kesini? DAN BACA INI?! aduh ini epep ga sempet di edit. Ga nyaman banget deh typosnya.Tapi kalau kamu bilang keren, kayaknya aku harus baca ulang ini ff. Haha. 22 gak masuk list sayangnya. Tinggal 2 cerita lagi dan itu sudah di mapping dari awal kemana ceritanya. Hiks. Lain lali deh ya. Aku juga mau buat yg 22. /efek liat MV nya/

      • Suciramadhaniy berkata:

        Hehe walaupun ada typo(s)nya tapi aku sukaa alur ceritanya kak😉 Cocok juga ternyata Yuri dipasangin sm Chanyeol xD haha. Tinggal 2 cerita lagi? Yah syg bgt. Pdhl itu lagunya enaak bgt kak🙂 Ohya, aku kesulitan utk nyari series fic EXOYUL yg lain kak. Gimana caranya kak biar aku bisa baca fic lagunya Taylor yg lain?😉

        • bapkyr berkata:

          Aku punya page kaya library fungsinya. Kalau via web –> go ke page peterpan story (sorot aja kursornya) terus buka page one shot-two shot list
          Kalau via mobile –> klik menu terus klik peterpan story terus klik one shot two shot list.
          Atau bisa juga kamu ke page homepage utama. Di postingan rules itu ada link lgsg ke page one shot two shot list.

          Semoga membantu ucii.

          Ini gak sempet pake proses editing -_- hahaha

  9. HanY berkata:

    Hahahah lucuuu ich..
    Ternyata Yeol daj ska ma Yul onn y….
    Aduuh tuch pke slh sngka dlu lgi c_Yeol ngira Yul ska ma Joon.. heheh

    Ayoo qt Laaanjut…

  10. aney berkata:

    kenapa manis kenapa romantis banget kenapaa??
    duhuhu suka bgt lah pokoknya.
    keep writing ya kak!😀

  11. seria berkata:

    huaaaah.. Sukaaa.. Pas bgt.. Aku jg suka bgt lgu TS-YBWM cucok.. Hahahahahagag.. Aku deg2an sndri bacanya~

  12. aloneyworld berkata:

    Woaahh entah kenapa suka banget sama chanyeol yang romantis tapi konyol begini😀 suka suka suka yaampun keren😀 selanjutnya baek? Huwaaa semoga imut kaya baeknya ya😄

  13. Callysta Hanindya berkata:

    Huhuhuu~romantis😀
    aku fikir bakal sad ending, eh ternyata happy ending😀
    ffnya keren kaknyun, di tunggu karya lainnya🙂

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s