The Stewardess [Part 6]

The stewardess 2

Ini udah part 6 oho~ asik asik.

Makasih udah setia nungguin FF ini. /emang ada yang nunggu?

Let’s di joss aja FF ini.

***

“Ayah…tidak bisakah aku tinggal di rumahmu?” Yuri merengek kecil pada Seungha. Gaun putih yang ia pakai kini terseret kotor di atas tanah parkiran. Seungha duduk rapih di balik jendela mobil dan menggenggam tangan gadis itu erat.

“Kau sudah bersuami sekarang, Yuri.” Seungha menepuk-nepuk tangan gadis itu pelan. Yuri cemberut. Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di depan mobil Seungha. Sementara di sisi lain, sebuah mobil mini berwarna putih cemerlang baru saja dengan cepat melewati mereka. Seungha menunduk singkat ketika seorang wanita dari balik jendela mobil itu menunduk ke arahnya.

“Tapi Ayah—“ Suara klakson kencang dari mobil hitam di depan Yuri mulai membahana. Yuri melirik jengkel. “Jinjja—“ Yuri menahan amarahnya.

“Lihat, Yoochun sudah menunggumu. Mungkin dia tidak sabar untuk sesuatu malam ini.” Mata Yuri membesar, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan refleks. Bibirnya ia katupkan berkali-kali. Gadis itu menoleh ke arah mobil yang kembali berisik dengan klaksonnya kemudian memohon kembali pada Seungha.

“Ayah, jebal… Aku ingin tinggal denganmu…”

Seungha tertawa kecil, ia menggenggam tangan putrinya erat. “Park Yoo Chun adalah pria yang baik. Kau akan baik-baik saja dengannya. Aku tidak akan tinggal diam jika ia menyakitimu, jadi percayalah padaku.”

Mata Yuri mulai berkaca-kaca, keraguannya sedikit hilang ketika melihat kepercayaan penuh dari mata Seungha. Ia menelan ludah ketika pria itu mencium dahinya dan mulai menutup jendela mobilnya. Yuri menjauh dari mobil itu dan membiarkan Ayahnya pergi.

Klakson mobil kembali terdengar dari mobil hitam yang tersisa. Yuri mengangkat rok nya tinggi-tinggi kemudian berjalan dengan gaya cepat khas hip-hop. Ia memandang sisi pintu yang terbuka untuk dirinya dan melihat seorang pria dalam tuxedo hitam di sana.

“Kau benar-benar jelmaan siput. Bisakah kau berjalan lebih cepat?” Pria itu berteriak kecil. Yuri melipat bibirnya, mencoba bersabar dengan menarik napas cukup panjang.

“Aku memakai gaun yang berat, Yoochun-ssi. Dan sepatuku ini, it is no joke.”

“Kalau begitu lepas sepatumu dan berlari. Kau benar-benar pemalas.”

“Bisakah kau berhenti memarahiku?”

“Aku tidak memarahimu nona muda—“

“Kau meneriakiku!”

“Aku tidak—“

“Kau yang di sana, Mobilmu menghalangi mobilku !” Seorang pria mabuk meneriaki mobil yang ditumpangi Yoochun. Yoochun belum selesai dengan kalimatnya dan dengan terpaksa, Ia menutup mulut. Yuri bergegas masuk ke dalam mobil.

Mobil hitam itu melaju lebih jauh ke depan dengan seorang supir yang mengambil kendali. Yuri dan Yoochun saling menatap jendela di sisi mereka –mengalihkan pandangan satu sama lain. Ketika wajah masing-masing terlihat dari pantulan jendela yang mereka tatap, keduanya akan berdeham kemudian berpaling ke arah lain –berpura-pura tidak terjadi apapun.

Yuri mencondongkan badannya ke depan dan melepaskan sepatu tinggi dari kakinya. Tumitnya lecet karena sepatu yang ia pakai sepanjang hari. Ia segera menggerakkan gaunnya ke bawah dan menutupi luka kemerahan di kakinya. Yoochun melihatnya.

“Kemana kita akan pergi?” Yuri bertanya, tidak melihat sedikitpun pada pria di sebelahnya. Yoochun berdeham, mengalihkan pandangannya dari kaki kemerahan milik Yuri.

“Kau akan tahu ketika kita tiba di sana.”

“Rumahmu?” Yuri bertanya tidak ingin kesan misterius milik Yoochun memenuhi seisi mobil. Ia tidak suka dibuat penasaran. Ia akan gemuk memakan rasa penasaran itu.

“Kau akan tahu. Kau cerewet sekali.” Yoochun mengolok. Yuri mengembungkan pipinya dengan udara. Ia menahan emosinya untuk kembali pada tahap normal. Yuri memilih diam dan memperhatikan jalan kalau-kalau ia dibawa kabur ke luar negeri.

Perjalanan itu cukup jauh dari apa yang Yuri bayangkan. Ia merasa mual karena perutnya belum terisi apapun sejak ia meninggalkan pesta. Yuri memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke belakang. Ia tidak ingin tertidur –lagipula ia tidak mengantuk. Hanya saja, waktu yang menunjukkan angka semakin larut dan juga kemacetan dalam jalur utama yang tidak terelakkan, membuat dirinya bosan.

Yuri tidak bisa berbincang dengan siapapun. Jika sekali saja ia mengajak Yoochun untuk berdialog, maka pertengkaran adalah muara akhir yang akan ia temui. Dan Yuri terlalu lelah untuk itu. Jadi dia memilih memejamkan mata lebih dalam dan mencoba tertidur.

Ahjussi, apa tidak ada jalanan lain selain ini?” Yoochun mulai tidak sabar dengan kemacetan panjang. Ia melonggarkan kemejanya dan membuka dua kancing di sana.

“Ada, tuan muda… tapi kualitas jalanannya…”

“Ambil jalan itu. Aku tidak bisa berlama-lama menghabiskan waktu di sini.”

Sang supir mengangguk pelan dan memutar setirnya mencari sebuah jalur pendek di sisi kiri. Mobil mewah itu memasuki kawasan rumah penduduk dengan jalanan yang ekstrem, seperti mereka ada di dalam area off road race.

Yoochun hanya bisa diam dan memejamkan mata sambil menahan tubuhnya ketika mobil itu bergoyang terkena batu. Sekali, Pria itu menoleh ke sisi gadis di sebelahnya karena penasaran dengan keheningan yang tercipta.

Yuri, gadis itu sudah terlelap. Kepalanya bergoyang sekali dua kali karena guncangan di mobil. Ia semakin merosot dan merosot ke arah jendela. Hanya butuh satu goncangan kecil lagi, maka kepala gadis itu sudah bisa terantuk hebat dengan jendela.

Yoochun melihatnya. Ia memang membenci gadis itu dan bagaimana gadis itu memperlakukannya. Namun ia tetaplah seorang pria.

Di angkatnya kepala gadis itu dengan hati-hati menjauh dari jendela. Dan dengan satu kali kesempatan, Yoochun menaruh kepala gadis itu di bahu kirinya. Ia membiarkan Yuri tertidur di sana dengan aman.

“Ayah—kau benar-benar jahat…” Yuri mengigau. Yoochun meliriknya sekilas, mencoba mencari tahu apa yang ada dalam mimpi gadis itu. Tapi yang pria dapatkan kemudian adalah keheningan dan goncangan kecil yang lain. Gadis itu kembali larut dalam mimpinya.

Yoochun tersenyum kecil kemudian berdecak. Ia juga menggeleng beberapa kali dan melirik ke luar jendela.

“Ayah… Aku tidak ingin menikah dengan pria bau itu—“ Yuri kembali merintih pelan, sedikit parau. Namun ekspresi gadis itu berubah menjadi kesal sebelum Yoochun sempat meliriknya. Tangan Yuri menggapai-gapai pada langit-langit mobil dan kaki nya ia gerakan dengan cepat –gerakan menendang.

Tendangan gadis itu beberapa kali mengenai dengkul Yoochun. “YA! Park Yoo Chun… Kau pikir kau siapa, eoh? Kau adalah pria jelek yang bau dengan rambut tipis yang pernah kukenal. Apa kau tahu… Helikopter bisa mendarat di jidatmu yang lebar itu… Ya Park Yoo Chun… Kau akan menyesal menikahiku…”

Gadis itu masih mengigau dengan gerakan silat aneh yang hebat. Yoochun mendengar bagaimana Yuri menyebutnya pria dengan rambut tipis yang bau. Ia geram.

Satu guncangan terakhir di dalam mobil, mampu membuat Yuri terbangun dengan cepat. Yoochun segera menjauh darinya, berusaha tidak terlihat seperti ia telah meminjamkan bahunya pada Yuri. Kepala Yuri terantuk ringan pada kursi penumpang di depannya. Ia mengelus kepalanya pelan.

“Sudah bangun, nona kulit hitam?”

Yuri melirik sekilas pada Yoochun dan mencibirnya. Dia tidak menjawab apapun selain kembali membenarkan posisi gaunnya dan duduk bersandar di kursinya.

“Pria bau-rambut tipis dan jidat yang bisa mendaratkan sebuah helikopter, eoh?” Yoochun melipat tangannya dan tersenyum tipis pada gadis itu. Yuri menoleh dengan tiba-tiba dan menggigit bibirnya.

“Kau masuk dalam mimpiku?” Yuri mengernyitkan dahi dan terbata. Menatap takjub pada pria di depannya. Pria itu diam saja. Yuri kembali memikirkan sesuatu dan bola lampu menyala di otaknya.

“Apa aku mengigau?”

“persis”

Yuri menggigit kembali bibirnya dan menutupi wajahnya dengan tangan. Tubuhnya merosot rendah di atas kursi. Ia sama sekali tidak berani menatap Yoochun untuk saat ini.

“Tidak apa, Aku tidak marah untuk ini. Tapi kau juga tidak harus marah untuk sesuatu yang akan aku tunjukkan padamu…”

Di akhir kalimatnya, Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah bangunan yang tinggi dan luas. Yuri mengintip lewat jendelanya dan melihat sebuah bangunan mewah di sana. Ia melihat sebuah papan besar di dekat taman dari gedung itu.

J Apartment

Yuri buru-buru menegakkan tubuhnya. Yoochun sudah keluar dari mobilnya. Ia dengan baik hati dan senyum yang menunjukkan sisi paling buruk dari dirinya, kini membukakan pintu mobil di dekat Yuri.

“Kau tidak harus marah untuk hal ini, Yuri. Kita sudah impas.”

Yoochun membiarkan Yuri turun mobil dengan limbung. Kepala gadis itu masih mendongak ke atas, sampai ujung gedung besar di atas langit. Yoochun dengan santainya berjalan masuk ke pintu utama. Yuri masih di sana jika saja supir mereka tidak mengingatkannya. Yuri mengambil sepatu high heel nya di dalam mobil kemudian melemparkannya sembarangan ke depan sambil berteriak.

“PARK YOO CHUN KAU BRENGSEK!”

.The Stewardess

Yuri mengacak-acak rambutnya ketika ia tiba di depan sebuah pintu dengan penindai sidik jari di depannya. Ia masuk dengan brutal setelah berbicara pada sebuah speaker dan kamera di depan pintu.

Segera setelah ia masuk ke ruangan serba putih itu, Yuri menyerang Park Yoo Chun dengan bantal yang tergeletak di ruang tamu. Ia memukuli pria itu dengan kesal dan membuat pakaian pria itu berantakan.

“Park Yoo Chun, Kau brengsek. Kau benar-benar—aishhh…. jinjja…” Yuri belum puas walaupun dirinya terengah. Gaun yang berat dengan kaki yang belum sembuh sempurna, kini harus ia bawa karena Yoochun berlari ke sebuah ruangan lain.

Pria itu berteriak seperti wanita ketika Yuri mendapatkannya dan memukulinya dengan sebuah remote AC. Yoochun menutupi wajahnya dengan tangan kemudian berlari kembali setiap ia mendapatkan kesempatan.

“YA!!! Jangan berlari, Park Yoo Chun.”

“wanita itu seperti monster…” Yoochun menggumam pelan ketika ia berlari menjauh. Telinga Yuri terlalu tajam untuk mendengar gumaman kecil pria itu.

“Siapa yang kau bilang monster, YA!” Yuri mengambil sebuah bantal yang lebih gemuk di sisi ruangan. Ia melihat sebuah kasur dengan sprei putih di sana dan beberapa bantal yang tergeletak rapi. Tidak lupa bunga mawar yang tertabur indah di atasnya. Saat ia sadari, ruangan itu sudah penuh dengan bau-bauan mawar yang menyergak. Yuri tahu bahwa mungkin kamar itu dipersembahkan pihak apartemen –atau mungkin Seungha dan Gija- untuk mereka.

Yuri menggelengkan kepala dari apa yang sekilas mengganggunya. Membayangkan apa yang Gija dan Seungha lakukan dengan kamar itu saja sudah membuatnya begitu marah. Ia melemparkan bantal besar itu pada kepala Yoochun. Serangan itu meleset dan Yoochun tertawa puas.

Yuri sudah tidak peduli lagi jika ia di cap sebagai anak kecil atau wanita dengan sifat kekanak-kanakkan saat ini. Yang ia tahu, ia harus menyiksa pria menyebalkan di depannya dengan segera. Yuri berlari –tidak mengindahkan kakinya yang masih perih. Ia menemukan sebuah remote lain di dekat kakinya dan memungutnya. Ia mengambil jarak yang dekat untuk mulai melempari pria itu dengan remote.

Yoochun terjebak, jalan buntu. Yuri berlari kencang ke arahnya. Yoochun membuang beberapa bantal ke arah Yuri, menghalau gadis itu agar tidak mendekatinya lebih jauh.

Namun terlambat, Yuri sudah semakin dekat.

Gadis itu tersenyum dengan tipis kemudian bersiap mengayunkan remote di tangannya. Benda kecil itu kemudian melayang tepat ke arah Yoochun nol sepersekian detik kemudian. Yuri melebarkan senyuman di bibirnya kemudian ia berlari mengejar remote tersebut.

Sebuah bantal yang ada di lantai secara berantakan, menyentuh luka merah di kaki gadis itu. Ia memekik pelan kemudian kakinya menginjak bagian belakang gaunnya. Yuri limbung. Tubuhnya terjatuh ke atas kasur dengan posisi telentang, sementara kaki-kakinya masih ada di sisi pinggir dari kasur empuk itu.

Tidak jauh darinya, Yoochun yang hendak menghindar dari remote melayang di depannya, cukup kaget dengan insiden jatuhnya Yuri di atas kasur. Gerakannya yang cepat sudah tidak sempat dihalau. Saat ini ia berada di atas kasur dengan tubuh yang tidak terkontrol.

Yoochun berputar sekali, menghindar dari remote kemudian tubuhnya terjatuh –Tepat di atas tubuh Yuri.

Suara remote yang menabrak tembok kini terdengar rendah di belakang mereka.

Yoochun menggelengkan kepalanya dan membuka matanya. Ia seperti melihat bidadari yang jatuh di hadapannya. Yuri terbaring di sana dengan sebagian rambut yang menutupi wajahnya. Ia menyadari bahwa tubuhnya berada tepat di atas Yuri dan membuat gadis itu kesulitan bernapas.

Namun Yoochun tidak serta merta membawa tubuhnya pergi dari sana. Sesuatu membuatnya masih terdiam di sana. Dan sesuatu itu membuat jantungnya memompa darah ke kepala dengan lebih cepat. Yoochun memperhatikan hidung dan mata gadis itu yang begitu sempurna. Ia menggunakan telunjuknya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut di wajah gadis itu.

Kini wajahnya terlihat sempurna. Yuri menatap mata Yoochun dengan teliti. Ia menangkap wajahnya sendiri pada bola mata pria itu. dan Yuri merasa jantungnya hampir copot ketika dengusan napas Yoochun bertiup cepat di depan wajahnya.

Yoochun tidak bau seperti yang ia olok-olok, sebenarnya.

Tapi bagian dimana ia mengatakan dahi Yoochun yang lebar, itu bukan kebohongan sama sekali. Kini dahi itu sudah berada tepat di depan mata Yuri. dan semakin mendekat.

Semakin mendekat?

Tentu saja.

Yoochun mendekatkan wajahnya pada Yuri. Ia kehilangan akal sehatnya pada kecantikan gadis itu. Yuri tahu apa yang akan terjadi, namun hatinya tidak dapat menolak. Napasnya semakin memburu dan jantungnya semakin berdetak kencang.

Pikiran Yoochun saat ini adalah tentang bagaimana bibir Yuri bisa merekah dengan indah di depannya. Ia menelan air liurnya selang beberapa detik dan memajukan bibirnya sedikit –memperpendek jaraknya dengan bibir Yuri.

Keduanya memejamkan mata, menyerah dengan apa yang akan terjadi di sana.

Ting Tong.

Suara bel terdengar kencang. Yoochun dan Yuri tidak mengindahkannya. Mereka masih di sana.

“Yuri, ini aku… Kim Jae Joong.”

Yuri membuka matanya dengan segera dan mendorong tubuh Yoochun menjauh darinya. Ia membenarkan gaunnya dan merapikan rambutnya dengan tangan. Yoochun terjerembab dengan kasar di atas lantai. Yuri menangkap kekesalan pada mata pria itu. Tapi Yuri dengan sigap pergi ke ruang utama, membukakan pintu untuk seseorang yang barusaja memanggil namanya.

.The Stewardess

“Maaf membuatmu menunggu lama, oppa.” Yuri baru saja berganti baju. Ia mengenakan celana pendek sebatas paha dan kaus tipis dengan kerah V. Yoochun hanya memandangi gadis itu dengan tatapan aneh.

Yuri berjalan pelan dengan membawa beberapa snack yang ada di lemari pendinginnya. Ia menyuguhkan beberapa pada Jaejoong yang duduk di ruang tamu.

“Tidak apa-apa. Maafkan aku juga karena mungkin mengganggu kalian— terutama di malam—“

“Hentikan oppa. Aku tidak mau mendengarnya.” Yuri melirik sekilas pada Yoochun yang tersedak. Ia sendiri belum menguasai gugupnya. Yuri minum air putih dari botol dengan tergesa-gesa.

“Ibuku memerintahkanku untuk menyampaikan ini padamu.” Jaejoong tidak memperhatikan ekspresi yang dibuat Yuri. Ia menunjukkan beberapa koper yang ia bawa sebelumnya. Yoochun yang juga telah berganti baju, kini mendekat. Duduk di salah satu sofa di ruangan itu.

“Apa itu?” Tanya Yuri.

“Baju dan beberapa perlengkapan untukmu. Kudengar Ayahmu meminta ibuku untuk mempersiapkannya.”

“Aku punya bajuku sendiri. Aku membawa beberapa.” Ucap Yuri.

“Aku tidak tahu, aku hanya diperintahkan menyerahkan ini padamu.” Yuri memiringkan sedikit kepalanya kemudian mengangguk dan tersenyum pada pria di depannya. “Baiklah, sampaikan terima kasihku untuk ibumu.”

Jaejoong tertawa atas senyum kecil Yuri dan itu membuat gadis itu mengerutkan dahi.

“Kenapa kau tertawa oppa? Ada yang lucu?”

“Tidak—“ Jaejoong menutup mulutnya kemudian berusaha mengembalikan ekspresi wajahnya. Yoochun melihat semuanya dan magma kini seperti memenuhi jantungnya.

“Jaejoong-ssi… sudah terlalu malam, jalanan akan menjadi berbahaya untuk pria manis sepertimu.” Yoochun mencoba mengusir Jaejoong dari apartemennya dengan cara halus. Ia tidak ingin membuat pria itu tersinggung, namun ia juga tidak ingin Jaejoong lebih lama duduk di sana dengan Yuri.

“Jaejoong oppa bisa menginap di sini. Lagipula sudah terlalu malam untuk kembali ke rumahnya—“

Andwae.” Yoochun berbicara nyaring, hampir berteriak ketika kalimat Yuri belum selesai. Yuri menatap Yoochun kaget dan sedikit kecewa.

“K-kamar di sini hanya ada satu buah.” Yoochun berbohong. Namun Jaejoong tertawa. Ia menepuk-nepukkan tangannya di pahanya sendiri kemudian berdiri dengan tenang.

“Baiklah. Aku mengerti. Aku akan pergi.”

“Terima kasih karena kau mengerti.” Yoochun menimpali kalimat Jaejoong. Yoochun kemudian mengantar pria rambut hitam itu sampai ke depan pintu utama. Sementara Yuri sekilas, menginjak kaki Yoochun dan dengan kesal pergi ke kamarnya –membanting pintunya keras seperti anak kecil.

“Terima kasih sudah berkunjung. Kuharap kau menelepon terlebih dahulu lain kali.” Yoochun berbicara dengan ringan ketika mereka sampai di ambang pintu depan. Jaejoong tidak membalasnya dengan kalimat. Lagi-lagi ia hanya tersenyum.

Ketika Yoochun menundukkan kepalanya dan hampir menutup pintu, Jaejoong berbalik –bertatapan dengan pria itu. Suara lembut yang ia punya kini beresonansi di udara –membentuk sebuah kalimat.

“Yoochun-ssi…” Ucap Jaejoong pelan dan terbata. Senyumnya masih belum hilang dari bibirnya, anting kecil yang tersemat di bagian telinga kanannya bergoyang ketika pria itu kembali membuka mulutnya.

“Yoochun-ssi, aku tahu kau tidak mencintai Yuri.”

Yoochun menggelengkan kepalanya dan tersenyum meremehkan.

“Lalu?”

Kali ini giliran Jaejoong yang tertawa meremehkan. “Jangan pernah menyentuh gadis itu. Pria yang tidak mencintainya, tidak pantas menyentuhnya.”

Yoochun menyeringai, “Apa pedulimu jika aku menyentuhnya atau tidak?”

Jaejoong menunduk, ia mengetukkan sepatunya di atas lantai. Ia tersenyum lembut kemudian menatap pria di depannya dengan tatapan paling serius yang pernah ia punya.

“Karena dia mencintaiku. Dia milikku.”

.The Stewardess

Yoochun meminum segelas air putih dengan segera. Ia tidak tahu kenapa ia menjadi sangat marah. Setelah gelas itu kosong, Yoochun meletakannya dengan kasar di atas sebuah meja kayu hingga berbunyi nyaring.

Napasnya terengah dan pandangan matanya memerah.

Yoochun berjalan cepat menuju sebuah kamar. Di sana terkunci –tentu saja dengan Yuri yang ada di balik pintu.

Yoochun mengetuk pintu kayu itu dari luar dan memanggil nama Yuri dengan kencang.

“Yuri, aku mau tidur.”

“…”

Hening. Tidak ada  jawaban sama sekali. Yoochun menggedor pintu itu sekali lagi.

“Yuri, aku lelah. Hentikkan permainan kekanak-kanakan ini.”

“…”

Masih hening.

“Yuri, aku butuh tidur.” Yoochun mengetuk kembali, kali ini tidak sia-sia. Pintu itu terbuka.

Yoochun menggeleng lemah kemudian melenggangkan kaki kanannya untuk masuk. Namun sebuah bantal mendarat di wajahnya bersama selimut dan guling empuk. Setelahnya pintu itu tertutup kembali dengan debaman keras.

“Kau ingin aku tidur di luar?” Yoochun berteriak tidak percaya, namun lagi-lagi hanya keheningan yang ia dapatkan. Yoochun menendang pintu di depannya dengan kuat, namun ia melompat-lompat kecil karena mendapat gaya reaksi. Jempol kakinya memerah.

Yoochun menyerah dan membawa perlengkapan tidur di tanganya pada sofa ruang tamu. Ia benarkan posisi sofa itu sedikit, kemudian berbaring di atasnya. Yoochun berusaha memejamkan matanya yang sudah sangat berat.

Emosinya ia redam seiring dengan mata yang semakin memejam. Yoochun tidak menyukai sebuah mimpi, namun kali ini ia berharap apa yang terjadi sebulan terakhir, hanyalah sebuah mimpi.

.The Stewardess

“Apa?” Yuri berbicara di balik bahunya ketika Yoochun mulai menatapnya aneh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pria itu duduk di atas sofa dengan muka bengkak dan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka. “Berhentilah menatapku seperti itu.” Bentak Yuri. Intonasi gadis tersebut berada di pertengahan antara kesal dan tidak peduli.

“Kau akan pergi?” Yoochun menyibakkan selimut dari tubuhnya. Ia membawa bantal di tangannya dan berjalan lurus ke depan tubuh gadis di depannya. Yoochun menindai penampilan gadis itu sekali lagi. Kaus tipis dengan tali tanktop kehitaman di bahunya; Celana pendek denim; sepatu hak rendah dengan tali-tali di permukaannya. Yoochun tidak luput menyebutkan bedak dan make-up yang menempel kuat pada wajah gadis itu.

Yuri melengos, ia tidak mempedulikan Yoochun.

“Aku akan kembali jam 4 nanti.” Ujar Yuri pendek. Gadis itu berjalan pelan ke kamarnya dan keluar dengan sebuah tas kecil yang ia gantungkan di bahu kirinya. Yuri menepuk-nepuk tasnya beberapa kali kemudian ia mendapatkan Yoochun memandanginya. “Apa lagi?”

“Apa kau tahu dimana ini?” Yoochun menaruh bantal di tangannya pada sofa empuk tempatnya tertidur semula. Pria itu berjalan melewati tubuh Yuri yang mematung dengan kepala yang bergerak seirama dengan langkah Yoochun. “Apa yang coba kau katakan kali ini? Tidak usah berputar-putar, bodoh.”

Yoochun mengambil sebuah handuk kering yang tergeletak di salah satu jemuran besi. Ia menaruh handuk tersebut di tengkuknya setengah melingkar. Kemudian menatap Yuri dengan tawa cibiran.

“Kau ini istri dari seorang Park Yoo Chun.”

“Lalu?”

“Aku artis.”

“Aku pramugari. Lalu?”

“Aku sudah tahu kau pramugari, bodoh.”

“Aku juga sudah tahu kau artis. lalu?”

“baiklah, aku akan buat ini singkat…”

“…”

“kenapa kau tidak menjawabku?”

“Katanya kau akan membuatnya singkat. Jadi sebenarnya siapa yang bodoh di sini?”

Yoochun menelan ludah dengan tergesa-gesa sehingga jakunnya naik dan turun dengan sangat cepat. Ia menggeleng beberapa kali dan menatap gadis yang mulai menyebalkan di depannya.

“Kau ini istri dari Park Yoo Chun.”

“lalu?”

“Baiklah, jangan membuat aku memulainya lagi.”

“…”

“Pokoknya kau istri dari Park Yoo Chun dan kau tidak bisa keluar sendirian.” Yuri menatap pria di depannya dengan alis terangkat. Ia tertawa sebentar kemudian mengedikkan bahunya sekali dua kali. Dilewatinya pria itu dengan satu langkah kaki lebar, Yuri mulai berjalan ke arah pintu.

“Pokoknya aku sudah memperingatkanmu, nona.” Ucap Yoochun lagi. Gadis itu tidak menangkap benar apa yang dikatakan Yoochun, tapi ia sudah terlanjur mencap apa yang dikatakan pria itu hanya sebuah pepesan kosong dan basa-basi. Jadi gadis itu membuka pintunya dan menghilang setelah bunyi ceklek ringan terdengar.

Yoochun mendesah panjang. Ia mengusap wajahnya dengan handuk yang ada di tangan seraya berjalan pelan ke arah kamar mandi.

“Apa gadis itu tidak tahu aku memiliki sasaeng yang begitu banyak?”

.The Stewardess

ck. Pria itu.” Yuri mendesah pelan. Langkahnya kini berhenti pada sebuah trotoar dengan halte bus di depannya. Yuri duduk dengan menyilangkan kakinya. Ia mengeluarkan sebuah ipod dan memasang headset ke telinganya. Kepalanya terangguk-angguk pelan seraya matanya beberapa kali memperhatikan lalu lintas kendaraan yang lewat.

Saat ia menemukan sebuah taksi hitam, tangan Yuri terjulur ke depan, memberhentikkan taksi itu. Yuri membuka pintu dan duduk di jok belakang dengan nyaman setelah sebelumnya mengatakan tujuannya pada sang supir.

“Sepertinya aku pernah melihatmu, agassi.” Ucap sang supir sopan. Yuri tidak ingin menjawab, ia hanya terkekeh ringan. “Kau yang ada di acara televisi kemarin, bukan? Istri dari Park Yoochun itu?”

Tanya supir paruh baya itu lagi. Yuri tidak mengangguk, pun menggeleng. Ia diam dan kembali dengan menunjukkan deretan gigi putihnya pada spion tengah dari taksi.

Yuri mematikan suara musik yang mengalir melalui kabel kecil di telinganya. Ia teringat kembali pada perkataan Yoochun. ‘Kau adalah istri dari Park Yoochun’ menjadi sangat masuk akal di kepala Yuri. Sekarang ia mengutuk dirinya sendiri karena sempat mengabaikan pria itu.

“mmm.. sepertinya aku berhenti di sini saja, ahjussi.” Yuri berkata sopan. Sang supir menginjak remnya perlahan. “Tapi ini masih terlalu jauh jika kau ingin ke Seoul.”

“Tidak, aku memiliki sesuatu yang harus kulakukan di daerah ini. Terima kasih.” Yuri menyerahkan beberapa lembar won sesuai dengan yang tertera di display argo. Ia beberapa kali menunduk dan bahkan melayani pria paruh baya itu untuk menorehkan tanda tangannya pada selembar kertas. Yuri tidak akan pernah tahu bahwa tandatangannya akan menjadi sangat berguna sebagai ongkos taksi. Pria paruh baya itu membiarkan kekurangan ongkos taksi yang beberapa won menjadi impas dengan tandatangannya.

“Aku harus berjalan kaki dari sini, sepertinya…” Yuri bergumam pada dirinya sendiri. Menaiki angkutan umum kembali adalah ide buruk. Siapa yang akan tahu jika ia kembali dikenali. Yuri mengorek tas kecilnya dan menemukan kacamata hitam di sana. Ia memakainya sambil terus berjalan di pinggir trotoar.

Tujuannya hanya satu, kembali ke apartemen sialan itu.

Yuri menggoyangkan tasnya ke depan dan ke belakang sambil tetap menjaga wajahnya agar tidak terlalu kentara di depan umum. Celananya yang pendek membuat sebagian kulit kakinya terpanggang kepanasan karena cuaca yang cukup terik.

Berkeringat, Ia memutuskan untuk duduk di salah satu undakkan semen yang mengeras dan mengikat rambutnya menjadi kucir kuda yang sangat tinggi di belakang. Yuri menggunakan kelima jarinya sebagai pengganti kipas. Ia kepanasan dan kehausan.

Gadis itu memutuskan untuk berdiri dan kembali berjalan karena menyadari duduk diam di sana tidak akan membawanya pada ruangan yang dingin.

Gadis itu mengibaskan kerah bajunya seraya berjalan. Ia melewati beberapa orang yang menatap aneh padanya kemudian saling berbisik dengan rekannya masing-masing. Yuri mencoba melangkah cepat ketika beberapa derap langkah mengikutinya. Ia melirik dan melihat dua orang pria mencoba mengikutinya dengan ritme langkah yang pas.

Yuri masih berada di antara keramaian jadi ia bisa tenang walaupun pria-pria itu masih di belakang bahunya. Jika sesuatu terjadi, ia masih bisa berteriak.

Tapi ada sesuatu yang tidak diperhitungkan oleh Yuri. Tarikan dari seorang wanita yang menunggunya di belokan kecil di depan. Wanita itu membekap mulut Yuri dan membawa tubuhnya masuk ke dalam gang sempit yang bau busuk. Yuri meronta dan menginjak kaki gadis misterius yang membawanya. Bekapannya terlepas namun Yuri sudah dihadang dengan dua pria yang mengikutinya sejak sebelumnya.

“Siapa kal—“

Belum sempat Yuri menyelesaikan kalimatnya, rambutnya dijambak dari belakang. Tubuhnya tertarik ke belakang dan membentur sebuah tembok bata polos tak bercat.

“Halo Kwon Yuri.” Suara parau dari wanita pendek dengan tato bertuliskan ‘Park Yoo Chun Naekkoya’ di tangannya kini terdengar. Yuri melirik sekilas dan harus menahan kepalanya karena wanita itu mencengkram dagunya. Yuri tidak bisa bicara lagi.

Ketika sebuah pisau kecil di keluarkan dan diayunkan ke leher Yuri, gadis ini sudah diam tidak sedikitpun meronta.

“Kau ternyata tidak sejelek yang aku pikirkan.” Lanjut wanita itu lagi. Gigi-gigi dari wanita pendek itu mencuat keluar tidak rapi, rambutnya ikal sebahu dan ia mengenakan jeans serta kaus tipis yang tidak terlihat mencolok. Pria-pria yang ada di dekat Yuri kini mulai mundur teratur, berjaga di mulut gang.

“Kau tahu siapa aku?” Tanya wanita itu lagi. Mata pisau bermain di dada Yuri dan merobek kaus yang dipakainya di bagian dada.

“Kau tahu siapa aku!” Wanita pendek itu membentak Yuri. Yuri menggelengkan kepala, ketakutan. Matanya mengikuti arah mata pisau bergerak di tubuhnya. Pisau itu tidak –belum—melukainya, tapi Yuri sudah kehilangan hampir dari separuh nyawanya ketika kulitnya tersentuh besi tajam itu.

“Bodohnya. Lihat ini…” Si wanita pendek menunjukkan tangannya yang penuh tato pada Yuri, ia juga membuka sedikit dari bajunya untuk memperlihatkan tato wajah pria di perutnya. Yuri menelan ludah. Semua tato di tangan gadis itu masih berhubungan dengan Park Yoochun.

Yuri menyesali semuanya sekarang.

“Kau tahu apa artinya ini?”

Yuri menggeleng.

“Mudah saja, artinya kau harus mundur dari peperangan ini. Banyak yang akan kau sesali jika kau masih berada di sisi Park Yoochun. Apa kau tahu?”

Yuri memilih diam. Mata pisau yang sempat terbebas dari kulitnya ketika wanita itu mengangkat bajunya, kini kembali bergerak di leher Yuri. gerakannya masih gerakan ringan, namun wanita pendek itu memberikan tekanan gaya yang berbeda ketika mata pisau menari di bahu kanan Yuri.

Yuri mengigit bibirnya ketika si wanita menyobek kausnya di bagian bahu kanan dan kirinya. Karena terlalu tipis, baju tersebut langsung terjatuh, meninggalkan tubuh pemiliknya.

Tubuh Yuri hanya berbalut tanktop hitam yang ketat. Belum cukup sampai di situ, si wanita pendek menusukkan pisaunya pada lengan kanan Yuri, membiarkan darah segar merembes keluar dari sana. Yuri sudah akan berteriak jika saja wanita itu tidak membungkan mulutnya dengan mata pisau.

Air mata merembes keluar bahkan ketika Yuri terpejam kesakitan.

“Ini baru contoh kecil, nona. Kau ingin lihat apa yang lebih hebat dari ini?” Pisau kecil sang wanita kini menari kembali di tubuh Yuri. Kali ini wanita itu menarik sebagian kecil rambut Yuri dan menjambaknya dengan keras. Yuri berteriak kencang, kesakitan.

Pisau itu mengiris helaian rambut berharga Yuri, bahkan sebagian helai dicabut sepenuhnya sampai ke akar –membuat Yuri meringis perih. Lengan Yuri yang masih terbebas kini menggenggam erat lengannya yang terluka, seolah Yuri memeluk tubuhnya sendiri.

“Sudah merasa sakit, nona Kwon Yuri?” Ejek sang wanita pendek. Ia menyeringai sementara Yuri tertatih menahan perih. “Ini belum seberapa dengan perihnya aku melihat kau menikahi Park Yoochun. Kau harus tahu nona, aku telah menyukai pria itu sejak ia pertama kali muncul di layar kaca. Aku berhenti sekolah, menghabiskan hidup dan uangku hanya untuk pria itu. dan sekarang kau yang orang asing tiba-tiba muncul entah darimana dan menikah dengan Park Yoochun. Apakah kau pikir ini adil?”

Yuri terdiam, ia menahan airmatanya agar tidak berlinang lebih banyak. Beberapa kali ia menggigiti bibirnya sendiri hingga ia merasakan daerah sekitar itu sakit.

“KATAKAN APA KAU PIKIR INI ADIL!” Rambut Yuri dijambak sekali lagi oleh wanita yang mulai menggila. Matanya melotot dan bibirnya bergetar hebat. Amarah wanita pendek itu memuncak ketika Yuri meraung kecil. Wanita itu mengayunkan pisaunya di lengan Yuri yang sudah terluka dan membuat lubang yang lebih besar lagi di sana.

Yuri memekik, memohon dan meminta maaf.

“Kau seharusnya tidak pernah menikahinya. TIDAK PERNAH.” Wanita pendek itu mendorong tubuh wanita di depannya hingga terjatuh. Kepala Yuri terbentur aspal. Sakit yang ia rasa diperparah dengan injakan hebat wanita pendek pada kaki kanannya.

Yuri berteriak.

Suara ribut-ribut terdengar dari balik punggung si wanita pendek. Namun wanita itu terlalu serius dengan Yuri dan jeritannya. Ia tertawa seram kemudian menangis. Matanya dipenuhi kebencian ketika melihat Kwon Yuri di depannya. “Apakah karena kau cantik? Lalu Park Yoochun menikahimu, nona? Apakah wanita buruk sepertiku tidak berhak mendapatkan Park Yoochun?”

Tubuh wanita pendek mulai merendah, condong ke depan. Ia berlutut menatap wanita yang menangis memohon di depannya. “Mari kita lakukan sedikit eksperimen, nona. Aku mencoba membuktikan kalau Park Yoochun tidak menyukai wanita dengan penampilan buruk…” Pisau kembali mendarat di kulit Yuri. Kali ini, lebih ekstrem, di wajahnya.

Mata pisau masih menari dengan ringan di wajah Yuri, dan itu membuat matanya terpejam. Lengan gadis itu masih terasa perih, ditambah ia rasa ada yang salah dengan tumit kakinya setelah diinjak cukup keras oleh wanita pendek menyeramkan itu.

Yuri mengatupkan bibirnya erat-erat ketika mata pisau terasa semakin menusuk di pipi kanannya. Ia tidak ingin melihat darah keluar dari wajahnya, tidak ingin melihat luka lebar di sana secara langsung. Yuri memeluk tubuhnya sendiri sambil berharap agar seseorang datang menolongnya.

Bruk.

Suara tendangan. Atau pukulan. Atau entahlah. Yang jelas Yuri membuka matanya dengan segera. Pisau sudah tidak ada di wajahnya namun ia melihat seorang pria meneteskan keringatnya di depan hidung Yuri.

“Kau tidak apa-apa?” Lanjut pria itu seraya mengangkat tubuh ringan Yuri.

Oppa!”

Wanita pendek kini tergeletak di sebelah Yuri dengan kepala yang berdarah. Sebuah balok kayu yang dipegang Park Yoochun –pria berkeringat itu, menjadi bukti dari suara besar yang Yuri dengar dikala dirinya terpejam.

Oppa, aku mencintaimu oppa!” si wanita pendek mulai berteriak. Ia meraba-raba pada kaki Yoochun yang ada di dekatnya. Alih-alih mendengarkan, Yoochun meraih tubuh Yuri dan membopongnya di depan dada. Ia mengibas-ngibaskan kakinya mencoba lepas dari tangan gadis pendek tersebut.

“Kau bahkan tidak ingin melihat fans mu sendiri, oppa?Kau kejam oppa. Apa karena aku begitu buruk rupa? Katakan oppa! Kenapa kau memilih gadis asing ini, kenapa oppa?!”

Tangan gadis pendek itu masih bergelayut di kaki Yoochun. Yoochun membelakanginya sambil terus menyeruak dari genggaman gadis itu. Yuri melingkarkan tangannya di kepala Yoochun agar ia tidak jatuh karena goyangan tubuh pelan yang dibuat pria itu.

OPPA!” Si gadis mulai berteriak di saat Yoochun berhasil lepas dari tarikan tangannya. Ia berjalan pelan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Yuri mencuri pandang dari atas bahu Yoochun, wanita pendek yang menyerangnya kini menangis –meraung histeris.

“Cantik atau tidak bukan persoalan bagiku. Tapi aku sangat tidak menyukai wanita yang mencelakai sesama wanita lainnya. Aku tidak hanya membicarakan soal hari ini tapi soal beberapa kejadian sebelum ini. Jangan kaupikir aku tidak tahu, nona muda. Seseorang yang menyakiti orang lain karena aku, tidak pernah kuanggap sebagai fansku. Aku tidak pernah memaafkan seorang sasaeng.”

Yoochun kemudian pergi setelah langkahnya sempat terhenti untuk berbicara. Yuri memandang wajah pria itu dari samping dan menemukan kehangatan yang tidak pernah ia lihat dari pria itu. Pandangan matanya lugas, garis wajahnya tegas dan ekspresinya yang datar, mengokohkan pria itu sebagai pribadi yang manly dan somehow,  terlihat keren di mata Yuri.

Yuri melihat mulut gang yang sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan ponsel mereka. Dua pria yang sebelumnya ia kenali sebagai sekutu dari si wanita pendek kini sudah di amankan dengan wajah yang babak belur.

Yuri kembali menatap wajah Yoochun dan mendapatkan luka di sekitar bibir dan dahinya. Terlihat jelas, Yoochun berkelahi dengan dua orang tadi.

Yuri tidak mengatakan apapun meskipun ia penasaran.

“Kau bisa berjalan?” Tanya Yoochun tiba-tiba. Yuri tersentak dari lamunannya kemudian mencoba menggerakkan kedua tumitnya. Tidak ada masalah pada tumit kiri, namun tumit kanannya akan terasa linu untuk bergerak barang satu mili senti.

“Sepertinya tidak.” Yoochun membaca ekspresi kesakitan dari Yuri dan menggendongnya sampai tempat dimana mobilnya terparkir. Beberapa bodyguard sudah mengepung mobil itu dari massa yang mulai bertumpuk. Yoochun memasukkan tubuh Yuri terlebih dahulu ke jok belakang mobilnya, sementara ia menyusul beberapa detik kemudian.

“ah!” Yuri berteriak ketika tanpa sengaja sepatu Yoochun menyenggol tumit kanannya.

“apakah sesakit itu?” Tanya Yoochun penasaran. “Wanita itu menginjakku dengan heel. Bisa kau bayangkan sendiri.” Sahut Yuri.

“Apa kita perlu ke rumah sakit?” Yoochun baru menyadari bahwa lengan Yuri kini penuh dengan darah yang masih merembes keluar. “Aku bisa menangani ini sendiri.” Yuri menolak.

“Kau pramugari, bukan dokter.” Protes Yoochun.

“Jadi apa kau pikir kau dokter, tuan aktor?”

“Aku tidak bilang akan mengobatimu. Aku hanya akan membawamu ke rumah sakit. Jika kau memilih tidak, aku tidak akan memaksa. Kau yang terluka bukan aku.”

“Tapi aku terluka karena kau dan fans gilamu, asal kau tahu.”

“Jadi sebenarnya kau ingin ke rumah sakit atau tidak, sih?”

Yoochun mulai kesal. Ia tidak pernah menutup satu saja topik pembicaraan pun dengan benar ketika sudah berbicara pada wanita di sampingnya. Yuri menarik napas panjang dan menghelanya dengan segera saat ia rasa Yoochun ada benarnya juga.

“Baiklah. Ke rumah sakit.”

Yoochun menjentikkan jarinya dan berbicara pada supir yang menyetir mobil hitamnya.

“Jangan beritahu ini pada Ayahku.” Yuri memohon kecil pada Yoochun. Manik hitam gadis itu kini memandang kecil pada kaca mobil yang paling dekat dengannya. “Aku tidak akan melakukan itu. Tapi tidak tahu dengan media.”

“Maksudmu…”

“Ya, kau tidak lihat bagaimana mereka mengambil foto-foto kita tadi? Kurasa detik ini berita baru tentangku sudah akan terpajang di beberapa media online. Aku tidak menjamin ayahmu tidak tahu.”

Yuri membuat kepalanya berdebam pada jok mobil yang menjadi sandarannya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali dan menggoyangkan kepalanya singkat. Beberapa helai rambut jatuh dari kepalanya. Yuri menggenggam helaian yang jatuh dan meraba rambut yang tersisa di sebelah kanannya.

“Wanita sialan itu memotong rambutku menjadi seperti ini.” Yuri memperlihatkan sebagian kecil rambutnya yang terputus sebahu pada Yoochun. Pria itu melihatnya teliti dan mendapatkan sekelompok rambut yang panjangnya berbeda dari rambut Yuri yang lain.

“sehabis dari rumah sakit, kita ke salon.”

“aku tidak mau memotong rambutku.”

“pokoknya ke salon setelah selesai dengan rumah sakit.”

Yuri mendesis. Ia menatap pria menyebalkan di depannya dengan gemuruh di dadanya. Park Yoo Chun adalah seorang aktor. Namun di saat ini, bagi Yuri, pria itu terlihat seperti Aktor, Atlit gulat, dokter dan hair stylist di saat bersamaan.

.TBC

 
Gaje ya? hahaha.

Gatau ah gatau ah gatau ah. Yang penting udah di publish chap ini.

Sekedar pemberitahuan, setelah selesai membaca, yang harusnya kalian lakukan adalah…

1. Memberi review dan kritik dan saran dari cara penulisan aku.

2. Jangan nagih FF yang lain dulu karena sesungguhnya sedang dikerjain.

3. Jangan nagih chapter selanjutnya dari FF ini karena aku cuma punya dua tangan.

4. Jangan abaikan poin 1,2,3 di atas

5. Baca lagi no. 4

Sekian. dan terima kasih. pyong~~

Iklan

63 thoughts on “The Stewardess [Part 6]

  1. Serem juga tu sasaeng, btw dipart ini aku suka adegan yoochun yuri, yg menurutku nggak terlalu romantis tapi ngena bgt

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s