AMARANTA.

Amaranta - bunga yang tidak pernah layu

Amaranta, bunga yang tidak pernah layu.

Rate : G // Length : Ficlet // Cast : Kwon Yuri as Yuri dan Amaranta [OC] //

I just own the idea and plot.

i do not make money from this, so do you.

A/N. Don’t judge a book by its cover. [Berhubung cover aku gaje banget]

***

Perbukitan di belakang rumah Amaranta mungkin sudah tidak pernah ada saat ini. Tapi temanku itu menemukan sebuah lubang besar yang ada di bawah tanah di balik reruntuhan gedung bekas bencana alam bertahun lalu. Lubang dengan diameter sebesar 3 kaki tersebut tertutup oleh gundukkan sampah-sampah rumah tangga yang bahkan tidak pernah diusik.

Amaranta adalah seorang gadis kecil –ketika aku berkenalan dengannya 13 tahun yang lalu. Dia memiliki mata biru bulat yang menawan. Tidak besar, tapi menawan. Kulitnya putih pucat sebagaimana kulit wanita Inggris yang lain. Namun aura yang dihasilkannya mampu menyapu matahari pagi. Dia bersinar bahkan ketika ia menangis. Deretan gigi putihnya yang secemerlang porselen cina kini terhampar di depan mataku.

Dia tersenyum di antara benda kayu berbentuk persegi yang gepeng –aku menyebutnya bingkai foto.

Kemana Amaranta?

Semuanya bermula di hari ulang tahun gadis kecil itu yang ke-8.

.

.

Sudah dua bulan sejak Amaranta memberitahukanku tentang lubang itu. Kami pernah sekali-dua kali masuk dan menilik ke sana dengan bantuan seutas tali yang rapuh. Hasilnya, aku menyerah. Mungkin aku baru setengah atau barangkali seperempat jalan ketika kurasa tali sudah semakin merenggang.

Amaranta sedikit berbeda. Gadis itu terlalu berani untuk ukuran gadis Inggris yang lain. Ia tidak takut cahaya matahari, tidak takut vampir dan tidak takut pada seutas tali rapuh.

Kali ini dia mencoba peruntungannya. Aku tidak setuju, tapi sekarang gadis itu sudah menggantung di tengah-tengah lubang dengan sebuah tali rapuh melilit pada tubuhnya. Aku memegangi salah satu ujungnya dengan kencang.

“Kau harus memeganginya dengan kedua tanganmu, Yuri.” Ia meneriakiku ketika tali mulai bergerak turun. Aku memutar bola mata seraya tak hentinya berdoa untuk keselamatan gadis yang lebih muda dua tahun dariku itu.

Sudah beberapa kali kuulur dan kutarik tali rapuh itu. Suara Amaranta terdengar semakin sayup jauh di bawah lubang. “Kau baik-baik saja, di sana?”

“Di sini gelap. Aku merasakan sesuatu di kakiku.” Suara Amaranta memantul di dinding lubang –menimbulkan gaung yang berulang-ulang dan semuanya masuk secara bersamaan ke dalam telingaku. “Apa?” kataku.

Aku tidak mendengar jelas.

Yang aku tahu selanjutnya adalah aku menjerit, tanganku menutupi separuh dari wajahku ketika tali tersebut menjemput nasib buruk. Aku mendengar teriakan yang sama datangnya dari Amaranta. Ia terjatuh ke dalam. Dari suaranya yang semakin mengecil setiap detik, aku tahu bahwa lubang itu cukup dalam.

“Amaranta!” Kataku memekik. Tidak ada respon yang kuharap-harapkan dari sana. Mungkin gadis lugu itu pingsan atau lebih parahnya sudah tidak bernyawa di dalam sana. Logikanya, jatuh dari ketinggian, menyeramkan bahkan hanya untuk didengar.

Suara yang selanjutnya kudengar adalah gemerisik dari dedaunan kering musim gugur yang kuinjak dan suara samar yang asalnya dari dasar lubang.

“Indah!”

Apa telingaku beralih fungsi karena ketakutan?

Aku mendengar suara –menyerupai, atau mungkin memang- Amaranta di dasar lubang yang gelap. Aku membayangkan kata seperti, ‘tolong aku’ atau ‘sesuatu menimpa kakiku’ yang mungkin akan kudengar. Tapi, indah?

Apa yang indah dari jatuh ke lubang. Apa sesuatu menghantam kepala gadis itu?

“Yuri, kau harus melihat ini!” Ucap Amaranta lagi. Sayup, bergaung namun sedikit masih dapat kutangkap. “Jika kau memerintahkanku untuk terjatuh, maaf, tidak akan. Sekarang tetap di sana sampai aku menemukan bantuan. Kau mengerti?”

“Tidak, tidak, jangan kemana-mana. Aku akan naik ke atas sendiri.”

“Jangan bercanda. Bahkan tidak ada kotak perkakas di dalam sana.” ejekku. Tapi aku tidak bermaksud mengejek sih. Hanya saja dia sedikit menjengkelkan. Gadis itu selalu selangkah lebih depan dariku. Contohnya saat ini, berpura-pura tidak membutuhkan bantuanku, menyesakkan untuk aku yang berusaha baik padanya.

“Aku akan naik sendiri. Kau lempar saja tali dari sana. Jangan beritahu siapapun sampai esok pagi.” Aku mendengus, “Bukan saatnya untuk bermain petak-umpat, Amaranta. Apa yang harus kukatakan pada ibumu?” Kataku.

Tidak ada jawaban dari Amaranta selain ia menyebut no, no dan no berulang kali. Sifat keras kepalanya menurun dari Ayahnya yang orang Jerman. Aku tidak aneh. Jadi daripada aku menghabiskan waktuku untuk berdebat, aku mengambil seutas tali yang kucabut paksa dari kandang babi tetangga. Bau sih. Tapi lebih baik daripada aku menggunakan jemuran tali bibi Elodie yang tidak pernah akan tersenyum sepanjang hidupnya.

“Kau naik atau tidak? Hampir senja.” Aku menunggu bosan. Bahkan setelah aku ulurkan tali itu ke lubang, Amaranta tidak kunjung naik. Aku hanya jongkok dan sesekali berdiri berkacak pinggang seraya mengelus dadaku beberapa kali.

“Sebentar lagi, aku memetik yang terakhir.”

“Apa yang kau petik?”

“Bunga aneh. Rapuh seperti dandellion, Harum seperti lily dan berduri seperti rose. Aku tidak tahu apa namanya. Tapi bunga itu ada di sekitar sini. Ini yang kusebut indah.”

Aku berdecak. Hanya bunga.

“Cepatlah naik ketika kau selesai. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama.”

“Kalau begitu kau bisa pulang, Yuri. Aku akan menghabiskan semalaman untuk semua bunga ini.” Pertama-tama aku memicingkan mataku pada Amaranta yang jelas—jelas tidak dapat melihatku dari bawah sana. Lalu aku berdeham diikuti suara langkah kesal yang kujejakkan di atas tanah.

“Kau akan mati kelaparan dan kedinginan di sana.” Aku menakutinya. Tapi sialnya aku lupa bahwa Amaranta, tidak pernah takut apapun termasuk hukuman yang dipersyaratkan kedua orangtuanya untuk nilai jelek di sekolah.

“Tidak, Tidak, Demi Tuhan. Aku ingin semua bunga ini. Aku sudah berjanji akan menghadiahkan ini pada seseorang.”

Aku memutar bola mataku, dengan suara ringan yang terkesan menjahili, aku mulai menebak-nebak. “Apakah itu Louis?”

Hanya suara kekehan kecil yang kudapat. Baiklah, setidaknya aku tahu apa yang ia rencanakan. Mengumpulkan bunga aneh untuk diberikan pada orang aneh yang terjalin dalam suatu hubungan asmara yang aneh juga. Tidak heran.

“Baiklah, Amaranta. Aku menyerah. Aku akan kembali ke rumahku dan mengikat ujung tali ini pada pohon. Kau bisa naik kapanpun kau suka. Kau paham?”

“Tidak masalah.” Seru gadis itu. Aku meninggalkannya dengan langkah lebar tanpa ragu. Tujuanku adalah rumah kecil di kaki bukit dengan empat jendela, dua jendela mengarah ke perbukitan dan dua lainnya berada di sisi jalan. Rumah itu diterangi lampu kuning yang temaram, agak berbeda dari rumah Amaranta dengan lampu krystal yang besar. Tapi tetap saja, Aku menyukai rumahku sendiri.

.

.

Aku mengingat ketika Amaranta menyodorkan bekal makan siangnya ketika aku meminta-minta di depan sekolahnya. Itu masa kelam, sekaligus pintu baru untuk kehidupanku. Mengenal Amaranta dan menceritakan kisah gadis bermata biru itu pada semua orang adalah sejarah terlarang untukku –lebih seperti melanggar hukum lisan yang kubuat pada diriku sendiri.

Hari ini seharusnya aku mengajak Amaranta berkeliling perkebunan kakek Gepetto jika saja gadis itu ada.

Jika saja dia masih hidup.

Amaranta tidak pernah mengenali angka 9, 10 dan 11 dalam hidupnya. Hidupnya terhenti di tahunnya yang ke-8. Semuanya karena lubang sialan malam itu.

Kuulangi, Lubang malam itu.

Aku mendadak menjadi makhluk skeptis yang tidak pernah mengenal kata kematian jika sudah berbicara tentang Amaranta. Meninggalkannya dalam sebuah lubang di malam musim gugur yang dingin adalah kesalahan pribadi yang tidak pernah diketahui oleh siapapun –termasuk orangtuanya.

Tapi karena hal itu, Amaranta selalu datang dan mengganggu mimpiku. Dia mencoba tersenyum dalam linangan darah yang keluar dari kepala dan kakinya. Persis seperti saat mereka menemukan jasad gadis itu di bawah lubang dalam.

Amaranta dinyatakan tewas karena keteledorannya. Mereka –para ahli forensik,  tidak pernah sekalipun menyebut namaku di insiden itu jika tidak karena bunga yang Amaranta tinggalkan di mulut lubang.

Bunga tersebut disusunnya melingkar di mulut lubang, berjajar rapi dengan tangkai yang masih utuh dengan duri. Amaranta sepertinya melakukannya dengan segenap hati –melihat dari bagaimana bercak darah tertinggal di tangkai bunga-bunga aneh tersebut.

Aku sudah berjanji menghadiahkan ini pada seseorang.

Mencerna dan memahami kembali apa yang Amaranta katakan padaku sama saja rasanya dengan menusuk kepalaku dengan ratusan jarum. Itu bukan Louis. Itu aku. Demi Tuhan, apa yang kupikirkan kala itu? Dia jelas-jelas mengumpulkan tangkai bunga aneh itu untuk diberikan padaku.

Aku menggigil selama beberapa hari setelah kuhadiri pemakaman Amaranta. Secara teori, terlihat seperti pemakaman biasa namun teknisnya dilakukan tanpa jasad utuh dari sang gadis. Seperti yang kubilang tadi, kepala dan kaki gadis itu remuk.

Dan yang kini membuatku menggigil setelah bertahun-tahun adalah hal lain lagi. Saat ini, kupandangi bingkai foto si gadis bermata biru di tanganku. Di balik sebuah ruangan persegi empat yang polos dan bergaung; buku-buku yang berserakan di atas tempat tidur; selimut yang ternodai oleh darah kering, kini aku meraung dan menangisi wajah pucat di sana.

Aku menyesal? Bukan. Tidak!

Aku ketakutan. Bahkan setelah belasan tahun berlalu, aku ketakutan.

Aku ketakutan. Bahkan ketika aku melihat gambar bisu, aku masih ketakutan.

Bunga itu masih di sana. Seperti memandangiku dari celah pori-pori mikro yang tersebar di seluruh batangnya yang tebal. Bunga itu tidak pernah mati. Dan aku tidak pernah membiarkannya hidup.

Sekali aku membuangnya, bunga itu akan kembali tersusun di dalam rak-rak tua dengan bau debu tebal yang menghalau oksigen. Bunga itu seperti perwujudan nyata dari Amaranta yang tidak pernah ingin pergi dari hidupku. Seperti Amaranta masih mengawasiku di sana.

Lalu aku ingat tentang bagaimana aku membawa bunga itu ke rumah. Malam setelah pemakaman adalah permulaan yang buruk saat aku mulai berpikir –menerawang.

Yang aku tahu, bunga itu sudah tersusun di mulut lubang.

Lalu pertanyaannya, bagaimana seorang gadis kecil dengan kepala pecah dan kaki yang hancur bisa naik ke atas permukaan lubang dan menyusun semua bunga itu tanpa cela?

Tidak ada yang bisa melakukannya. Bahkan tidak, bagiku.

Tapi ini Amaranta.

Amaranta si gadis yang tidak pernah takut.

Dan saat kupandangi duri-duri pada bunga-entah-apa yang ada di pojok rak, jiwa pemberani itu masih ada di sana. Jiwa haus akan keingintahuan dan kobaran persahabatan.

.

.

Amaranta,

Bahkan bunga darinya, tidak pernah layu.

.

.

=The End=

.

.

Nah sekarang saatnya men-judging.

Ini setting, diksi, genre, alur, baru bener buat aku. lagi mencoba aja buat semacam cerpen. semoga suka ya.

satu lagi, tolong panggil aku NYUN / Kayur aja. Aku agak gimana kalau dipanggil thor thar thor. kesannya kaya ada gap gitu. hoho.

Thanks for leaving me a review. /hope so/

86 thoughts on “AMARANTA.

  1. Tetta Andira berkata:

    hehhe , mian ne Kayur😦 bt , kllo saia manggil’x pke chingu ajah , blh ? ;;) oyaa , soal karyamu . Bagi saia , tulisanmu sllu unik & menarik . istilah’x pnya kesan trsendiri stlh mmbca’x . Jjur aja , saia smpe jatuhcinta . Mwo ? Anio , bkn dgnmu . Bt , dgn tulisanmu😀 mian jg kllo komen’x kpnjngan & bkin kram mata *pletakk*d.jitakkayur ^^ okkeh deh , yg trakhir .. Tnpa prnh bosan saia ucapkn . Keep spirit & hwaiting , chingu🙂

    • bapkyr berkata:

      ngg.. aku lebih nyaman dipanggil kayur atau nyun sih. hoho.
      duh makasih banget, padahal ini sih kata aku masih jauh dari kata ‘layak’ . entahlah.
      ih, gak, aku malah suka yang komen panjang-panjang. Artinya dia pahamin banget tulisan aku. kk~
      makasih ya teta

      • Tetta Andira berkata:

        Okkeh dee , kayur🙂 biar lbh akrab yaa ?? Hhe~
        Saia sneng bnget bsa knal sma penulis keren ky’ kmu ..
        Udah tulisan’x keren , org’x ramah & gak sombong . Pdhl tulisanmu bgus bnget , bt msh bisa ngerendah aja ^^
        Iyaa , samasama . Saia jg mksh bnget . Krna kmu mau berbagi sama kami para readers😉
        Sllu smngat ya ? Kami sllu mnunggu karyamu :*

  2. YhyeMin_ berkata:

    hmm eon ff ni smua oc kcuali yuleon tpi anehny aku bsa dptt feel dsni^^ pdhal klo bca ff oc bner” gk respon otaknya susah diajak kompromi… tpi dsni yg pling membantu sih biar dpt feel g2 ngmbil sudut pandangny yuri eon…
    Jdi amaranta itu pas jtoh kpla lngsng pcah n kaki hancur*tragis tpi roh nya slalu bersama yul eon#nice ff

  3. Tarhy94 berkata:

    aq kira Amaranta it hnya sjenis Bunga yg bsa bcra..trnya Ank kcil yg yuleon Anggap sprti adik n shbatnya sndrii..hmmm…nyesekk bngett bcaanyaa Trnytaa Bunga Yg d kumplkann Amranta untk yuleon ..kokk Yuleon Tega sihh ninggalin Amarantaa….T.Tjdinya Amranta mati dehh..T.T

    But.Gkppalahh..yg pnting Yuleon Gk Ninggalin Yurisistable(Hehehehe)
    but.Overall krenn ..Unniee emankk Debakk laahh^^

    #Fighting&KeepWrithing^^

  4. yuniq eka cahya berkata:

    Rda2 horor trailer gmna gtu ya eonni??? Tpi feel dpt ko pdahal OC lhoo??? Mslah ny kdang sya mles ngebayangin gmna mka org itu.. Gomawo🙂

  5. Aletha berkata:

    /merinding/
    jadi ini horror yah. bagus banget, bener kayak cerpen. trus karakternya si amaranta kerasa banget, kental banget *plak
    gabiasanya kayur nulis beginian kkk~

  6. Jaz berkata:

    Serem baca x,,.merinding,,,
    emang kaya cerpen sie,,,tp aq salut dngn persahabatan mreka,,
    maaf deh klu aq sering bnget pangil thor,,skrng aq ganti deh dngan Nyun aja ya,,:-*

  7. Riska Dewi berkata:

    Baiklah aku panggil author…kayur aja ya……😀
    Oh iya bicara tentang FF……….kasihan banget sih si Amaranta…….aku jadinya pengen nangis…… ;(
    Dan juga FFnya Kayur selalu daebak deh pokonya…… 😉

  8. ikaa_roro berkata:

    Nyun, bru kali nie ªQƱ̈̇ bca ff muu ending ny gak ngerti (?) みϱ”̮みϱ”̮みϱ”̮みϱ (⌒˛⌒)
    It mksud ny gmna ?yuri d gnggu amatara gtu?

    • bapkyr berkata:

      Ya ceritanya, Yuri semacam diganggu rasa bersalahnya sih, lebih ke alam bawah sadar dia yang nganggep amaranta masih di sana, via bunga anehnya itu.
      Ini emang gak dibungkus dengan jelas endingnya, dibuat ‘terbuka’ gitu aja ala ala novel terjemahan

  9. friendshidae berkata:

    Aku baru bs baca skrng…
    Aduh ada bbrp ff eonnie yg blm aku baca*abaikan
    Eon, aku merinding baca nya
    Aduh amaranta berani amat ya,
    Jd enpi liat prshbtn mereka..
    Cerita ksluruhannya bagus kok eon
    Sprti biasa ff eonnie slalu bgs…

  10. Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

    Ini… kok malah jadi horror sih eonn?? O.o merinding pula >_<
    tapi keren…. Jadi sosok Amaranta masih ada di bunga itu?

  11. Silvermist Shimmer (@NissABC) berkata:

    Bisa dijadiin teladan nih buat bina persahabatan yang baik /serious/
    Ehh,,nyun eonni aku mau tanya nih,,berati si Ama waktu nyungsep ke lubang itu kepalanya uda “broke” ? Dalem amat ya lubangnya -_- *bayangin black hole /cengo/
    Keep Writing😉

  12. Just26th berkata:

    jadi? amaranta mati? matinya pas terjun pertama ke lubang itu? atau setelah nyusun bunga buat yuri trus terjun lagi?/? lol. horror. kurang kerjaan banget bocah 8taun masuk” lubang gelap gitu xD
    kasian yuri. sebenernya bukan salah yuri juga sih amaranta mati. tapi yuri mikirnya pasti dia meninggal pas ga ada yg nolongin buat kluar lagi dari lubang itu karena ditinggal sendiri/?
    sukaaa bingittzz.–.

  13. seria berkata:

    keren.. Ff nyun mah emang keren2.. Buat aku betah liatin layar hp..
    Mau komentar dikit nyun~
    Itu bisa aja si amaranta nya naik dlu nyusun bunga itu.. Kan yuri udah pasangin tali buat dia naik. Trus pas dia mau trun lg (mungkin mau ngambil bunga lg?) eh, jatoh deh.. Jd yuri yg tenang, bkn slh km kok.. *puk2 yuri *ngarang cerita sndri
    hbis gk tega liat yuri tersiksa.. /plak

  14. YoonAra berkata:

    Annyeong:) aku udh baca FF ini lamaaaa bgt. Bahkan wktu guruku ngasih tugas menceritakan kembali di depan kelas, FF ini yg aku ceritain. Kata-kata pujian udh menuhin komentar2 di atas dan aku bingung mau ngasih pujian apa. Pokoknya FF ini bagus banget Kak Nyun! Keep Writing!

  15. Puput berkata:

    Seremmmmmm penulisan katanya pas, tanda baca nya agak kurang tapi selain itu semuanya bagus kok

  16. Baenana berkata:

    Aduuuuuh ini ff nya keren deh!! Persahabatannya jugaaak kereen bgt penulisannya juga rapi. Keep writing Kak Nyun!!😀

  17. aloneyworld berkata:

    Jadi Amaranta ngumpulin bunga itu buat si Yuri? Tapi disini ngga dijelasin ya kak penyebab kaki sama kepala si Amaranta itu remuk kenapa, padahal penasaran -_- tapi ini juga udah keren ko😀

  18. aloneyworld berkata:

    Jadi sebenernya bunga itu buat si yuri? Bukan louis? Yaampun amaranta sayang banget sama yuri keknya ya😀 tapi itu kepala sama kakinya remuk grgr apa kak? Jatoh? Aihh jadi itu endingnya si yuri jadi ngerasa bersalah ya kak? Keren😀

  19. Hara_Kwon berkata:

    Tadi awalnya masih ada sedikit bagian yg buat aku bingung, tapi lama2 akhirnya paham juga. Kenapa Amaranta bisa meninggal seperti itu? Aku penasaran. Dan ini bener2 buat aku merinding bacanya.
    Good job kak nyun!🙂

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s