Long Live – From EXOYUL Series

10. Long live

Membawa chapter ke-10 dari exoyul – taylor swift’s songs special nih.

Main cast : Byun Baekhyun – Kwon Yuri // Author : BAPKYR // Genre : Fluff, Friendship, Angst, Family, Romance // Length : OneShot // Rate : General

This Fics is officially made by me, I juts own the idea and plot.

Do not Plagiarism. i dont make money from this, so do you.

Remind you that The lyrics inside is owned by Taylor Swift.

.

.

“Kau melihat sepatuku, Ayah?” Seorang gadis kecil menatap seorang pria berdasi dengan kemeja hitam yang baru saja ia dapatkan di atas sofa. Pria itu menatap sekilas pada gadis kecil yang terduduk di undakan kecil dekat dapur. Sekeliling gadis itu dipenuhi dengan kardus-kardus sepatu lengkap dengan debu tebal dan beberapa binatang kecil yang berlarian panik.

“Bukankah di sana semuanya sepatumu, Yuri?” Baekhyun –pria pendek dengan wajah super-manis kini tersenyum sambil mengacungkan telunjuknya di sekitar kardus yang berserakan. Yuri –sang gadis kecil kini menggeleng lemah. “Bukan ini yang kucari… Sepasang sepatu merah muda dengan gambar barbie di tengahnya. Ah ya, ada lampu kecilnya juga di bagian tumitnya.”

Baekhyun merapikan jasnya sedikit kemudian berjalan menuju gadis yang kebingungan itu. Ia memilah-milah sepatu yang sudah terlanjur berserakan kemudian mengangkat sepatu biru cerah dengan gambar mickey di permukaannya. “Ini kurasa cukup bagus. Pakailah ini, nanti akan kucarikan sepatu yang kau maksud sepulang aku bekerja, kita sepakat?”

Baekhyun menyunggingkan senyum pada gadis kecil di depannya. Keduanya mengalami kontak mata singkat; mata coklat yang sama indahnya.

“Tapi kau janji akan mencarikannya, Ayah?” Si gadis memohon lewat maniknya yang berkaca-kaca. Baekhyun mengulas senyum manisnya seraya mengusap kepala gadis itu lembut hingga rambutnya teracak sedikit. “Aku berjanji.”

Yuri berteriak girang. Tangannya meraih sepatu yang masih di genggam Baekhyun. Ia memakainya dengan cekatan seolah semua waktunya sudah habis untuk mengikat tali di antara sepatu tersebut. Si gadis kecil langsung berhambur menuju meja makan dan meraih sebuah sandwich panggangnya setelah ia selesai dengan urusan sepatu. Baekhyun menatap semuanya dengan senyum yang tidak pernah mengendur.

Dia sangat mirip denganmu, Kwon Yuri.

“Ayah, omong-omong, kemarin aku mendengar dari televisi bahwa kau akan kembali ke Korea. Apakah itu benar?” Yur melahap gigitan terakhir dari sandwich-nya. Baekhyun berjalan pelan dan menari salah satu kursi di depan gadis itu. Ia mengangguk pelan.

“Kau sendiri atau bersama EXO?”

“Bersama EXO.”

“Lalu kau akan meninggalkanku sendirian di London seperti hari-hari kemarin?”

Baekhyun tertawa kemudian ia cepat-cepat menghentikannya kala di tatapnya Yuri dengan mata berkaca-kaca. “Kali ini aku akan membawamu, kok.”

Mata coklat Yuri berbinar. “Apa kau akan mempertemukan aku dengan ibu, pada akhirnya, Ayah?”

Baekhyun menggigit bibirnya dan kembali mengulas senyum hingga matanya menyipit satu garis. “Tentu.”

Dan lagi-lagi, Yuri kecil tertawa kegirangan. Ia memeluk Baekhyun dengan kencang meluapkan apa yang ada di hatinya secara nyata. Baekhyun mendapatkan pelukan hangat anaknya dengan manis. Ia memejamkan mata kemudian menepuk-nepuk punggung Yuri pelan.

“Kapan kita akan kembali ke Korea, Ayah?” Pelukan gadis itu terlepas. Ia memandang mata Baekhyun dan berusaha menemukan kebohongan yang mungkin akan dikatakan pria itu. Tapi Yuri akhirnya mengalihkan pandangannya pada sebuah figura foto di sisi lain dari ruangan seberang meja makan. “aku ingin sekali berbicara dengan Ibu.”

Baekyun ikut-ikutan memperhatikan foto yang terbingkai dengan apik di sana. Seorang gadis muda yang tersenyum di antara daun-daun yang berguguran di belakangnya. Sebuah ransel kecil; kemeja putih yang dibalut jas almamater sekolah; sepatu biru; rok mini dan rambut hitam yang tergerai indah di bahu, adalah pemandangan diam yang ia lihat selama beberapa saat.

“Ceritakan kembali tentang Ibu, Ayah.” Yuri kecil mendongak dan menatap wajah Ayahnya. Baekhyun teralihkan dari foto bisu tersebut, manik coklat kembali mendapatkan perhatiannya.

“Bukankah kau sudah mendengarnya berkali-kali, Yuri?”

“Belum cukup. Masih banyak yang aku ingin tanyakan tentang Ibu. Bisakah kau menceritakannya sekali lagi, Ayah? Hanya sekali ini saja, agar disaat aku bertemu dengan Ibu nanti, aku tidak merasa asing dengannya.”

Suara parau yang cempreng dengan arti memohon yang jelas kini masuk ke dalam gendang telinga Baekhyun perlahan. Diliriknya jam dinding yang terpajang di ujung tembok dengan wallpaper kehijauan. Baekhyun menimbang-nimbang, ia masih memiliki waktu untuk cerita pagi sebelum jadwal padatnya di Inggris bersama EXO.

“Baiklah. Tapi aku tidak ingin kau memotong ceritaku.”

Yuri mengangguk senang. Baekhyun meraih sebuah gelas penuh air putih dan meminumnya perlahan sebagai ancang-ancang. Ia berdeham dan menatap manik coklat di depannya sekali lagi.

.

.

Hari ini dingin, tapi rupanya tidak semua orang kedinginan. Maksudnya, bagaimana seseorang bisa kedinginan dengan kaus kaki tebal dan mantel berbulu yang mampu mengubahnya jadi biri-biri siap tembak?.

Yuri adalah salah satunya, dengan kaus kaki tebal dan rambut yang belum tersisir sempurna, ia telah berhambur di jalanan setapak daerah kecil di Seoul. Membelah orang-orang yang lewat dengan adegan lari kecilnya yang semrawut, Yuri tidak peduli.

“Yuri! Tunggu aku!” Seorang pria berkacamata tebal dengan perawakan pendek –hingga sebagian tubuhnya hampir tenggelam di tengah mantel tebal yang dipakainya- berlari lebih cepat dari yang ia bisa sambil beberapa kali mengumpat pada gadis di depannya. Ia menabrakan diri secara tidak sengaja pada orang-orang yang lewat, kemudian berhenti dan meminta maaf beberapa kali. Kontras sekali dengan Kwon Yuri, gadis yang sedang dikejarnya.

“Hey, kau menginjak sepatuku!” Pria tinggi besar menghentikkan langkah Kwon Yuri. Ia tidak bisa berlari lebih jauh sebagaimana sebelumnya karena pria di depannya itu. Kesal dan ekspresi tidak nyaman, kini ditunjukkan pria itu

Byun Baekhyun –pria berkacamata dengan mantel kebesaran, kini berhenti beberapa meter di belakang pemandangan tersebut. Dilihatnya Yuri yang berhadapan dengan paman tua kekar serta beberapa orang yang mengelilingi mereka dengan pandangan ‘ada apa sih’.

Yuri melengos dan pergi setelah ia bertatap-tatapan dengan pria itu selama beberapa menit. Lengannya kemudian dicengkram kuat oleh si pria kekar tadi.

“Kau dengar atau tidak? Kau meng-in-jak-se-pa-tu-ku !” Pria itu menaikkan nadanya satu oktaf lebih tinggi tepat di depan wajah gadis itu. Ia menekankan kalimatnya dengan terpatah-patah.

“Aku tahu. Lalu?” Alih-alih ketakutan, Yuri menukar pandangan dengan mata kesal milik pria di depannya. Iris matanya yang hitam sempurna kini sedang membakar amarah yang mengkristal dari pria di depannya. “Lalu? Lalu katamu? Kau ini baru saja menginjak kaki seseorang. Bukannya meminta maaf, kau malah bertindak menjengkelkan! Anak muda jaman sekarang memang sudah tidak paham adat.”

Pria itu mengumpat lebih keras di depan umum. Percikan saliva dari pria itu kini mendarat beberapa di wajah Yuri. Baekhyun bersembunyi di balik batang sebuah pohon besar terdekat dengan mereka. Ia melihat semuanya dengan teliti kemudian mengumpat kecil pada Yuri.

“Oh begitu, ini…” Yuri menggoyangkan lengannya hingga cengkraman pria itu terlepas. Ia melebarkan kedua kakinya hingga salah satunya tepat berada di depan sepatu hitam milik pria kekar tersebut, “…kalau begitu kau bisa menginjak kakiku. Lalu kita impas.” Kata Yuri tenang.

Jika yang dillihat Baekhyun adalah tokoh kartun dalam disney channel, maka yang ia lihat saat ini adalah asap yang mengepul dari kepala si pria asing di depan Yuri. Baekhyun menggeleng kemudian dengan gemas mencengkram kulit keras dari batang pohon yang sudah membeku. Yang ia dapat selanjutnya adalah kulitnya yang perih kedinginan.

Adegan yang terjadi selanjutnya sempat luput dari penglihatan Baekhyun karena insiden mencengkram kulit pohon  tadi. Yang ia dapatkan adalah Yuri yang berjalan pelan ke arahnya dan menarik pria itu.

“Kemana pria asing tadi?” Ucap Baekhyun dengan nada tanya kebingungan yang kental. Yuri menghela napasnya dalam beberapa detik kemudian.

“Dia pergi setelah mengumpat padaku.”

“Apakah dia menginjak kakimu juga?”

“Tidak. Dia hanya mengumpat.”

Kali ini giliran Baekhyun yang memiliki kesempatan untuk menghela napasnya. Kemudian pandangan matanya menindai keseluruhan tubuh molek milik gadis yang kini berjalan di sebelahnya.

“Jangan berpikiran kotor dengan melihatku seperti itu, Byun Baekhyun!” Yuri memukul tengkuk Baekhyun tanpa ampun, sementara pria itu mengusap tengkuknya beberapa kali setelahnya.

ey~ kau tahu aku bukan pria seperti itu.”

“Lalu kenapa kau menatapku dengan… ya… pandangan anehmu itu?”

“Hanya tidak habis pikir lagi denganmu, Yuri.”

“lagi?”

“Ya. Lagi. Kau selalu tertimpa masalah seperti ini karena kecerobohanmu, dan yang aku sayangkan, kau tidak pernah meminta maaf. Dan ya, aku tidak pernah melihatmu meminta maaf pada siapapun selama kita berteman sejak kecil.”

Yuri tertawa. Ia gelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat sebelum Baekhyun kembali berbicara. “Itulah aku.” Ucapnya singkat.

“Aku butuh jawaban lebih panjang dari sekedar ‘itulah aku’, Yuri.” Baekhyun menjambak rambut Yuri dengan jambakan bercanda paling ringan. Yuri terkekeh sebentar kemudian menggenggam tali-tali tas ransel yang ada di tubuhnya. Ia merapatkan mantelnya begitu udara semakin dingin menyelusup sisi terbuka dari bagian depan tubuhnya.

“Aku menyukai balasan yang setimpal untuk semua kesalahanku dibanding kata maaf. Contoh kecilnya tadi, ketika aku menginjak kaki pria itu. Sebagai gantinya, dia harus menginjakku. Ini lebih setimpal daripada aku mengatakan maaf padanya, bukan?”

Baekhyun tidak tertawa, dia lebih menunjukkan ekspresi prihatinnya pada gadis di sebelahnya. Yuri terkekeh ringan kemudian ia berlari setelah memukul bahu pria di sisinya dengan kencang.

“Aku akan lebih dulu untuk kelas musik kali ini, Baekhyun. Kau tidak bisa mengalahkanku hari ini.” Seru Yuri. langkah lebar dari kakinya menapaki jalanan setapak yang tertutup salju. Baekhyun hanya tersenyum kecil ketika ransel punggung milik gadis itu bergoyang jauh di depannya. Ia bisa melihat sebuah gedung dengan gerbang besar beberapa meter di depannya. Tempat dimana ia dan Yuri menggantungkan seluruh mimpi-mimpinya, ada seluruhnya di sana.

Sekolah musik F.

.

.

“Aku mendapatkan A. Biar aku tebak apa yang kau dapat, B? C?” Baekhyun tertawa setelah ia membawa kertas transkrip nilai akhir dari ujian menyanyinya pada Yuri. Yuri duduk di sebuah pelataran kotor dari atap paling tinggi dari gedung. Ia memandangi sebuah kertas yang telah ia sobek menjadi beberapa bagian di sampingnya. Namun begitu, huruf kecil dari B, masih tertangkap jelas oleh mata Baekhyun.

Pria itu tersenyum jahil, namun yang selanjutnya ia lakukan adalah memungut serpihan dari kertas-kertas yang berserakan di sekitar Yuri. Baekhyun mengumpulkannya menjadi satu dan menyusun kembali kertas itu di atas lantai semen seperti puzzle.

Yuri memandang sekilas saat Baekhyun mencoba mempertunjukkan hasil kerjanya pada gadis itu. Tanpa minat, ia menenggak sebuah botol berisi cola dengan serampangan. Hasilnya, ia tersedak.

Baekhyun membiarkan gadis itu hingga ia bisa menguasai dirinya. Setelahya, keduanya saling pandang satu sama lain. Musim dingin sudah dilewati beberapa bulan lalu, dan keduanya sudah sampai di ambang kelulusan akhir. Musim panas ini adalah salah satu alasan kenapa Yuri lebih senang sendiri dan menyobek-nyobek transkrip nilainya.

Yuri, aku diterima menjadi trainee di SM Entertainment.

Setiap gadis itu mendengar kembali bagaimana Baekhyun membicarakan itu, amarah memuncah di dadanya. Baekhyun adalah sahabat sekaligus rival terbaiknya selama bertahun-tahun. Tidak ada alasan baginya untuk membenci pria itu walaupun, ya, pria itu sedikit demi sedikit mencuri impian terbesarnya. Menjadi penyanyi.

Yuri berada pada fase dimana ia menginginkan keadaan terpisah dari Baekhyun. Namun Baekhyun selalu menemukannya dan berada berhadap-hadapan dengan gadis itu secara kebetulan. Seperti dalam hal tes menyanyi terakhir –yang mana ia mendapatkan nilai B dan A untuk Baekhyun–, Yuri tidak habis pikir.

“Kelulusan sudah di depan mata, Yuri…” Baekhyun membuka pembicaraan, tidak tahan dengan keheningan yang semakin lama semakin membuat napasnya sesak. Yuri mencekik mulut botol dari cola nya kemudian meminumnya dengan ritme lebih pelan. Tanpa niat merespon Baekhyun.

“Aku tahu kau marah padaku. Jangan menyembunyikannya.”

“…”, Yuri masih diam dan meneguk colanya.

“Kau tahu, minum cola tidak bagus untuk pita suaramu.”

“Siapa yang peduli pada pita suara.” Skeptis, Yuri mulai menjawab.

“Kau masih memiliki impianmu sebagai penyanyi, bukan?” Yuri terdiam, ia melepaskan cola dari tangannya dan menaruhnya dengan rapi di sisi kanannya. Gadis itu memahami Baekhyun yang memandangnya tanpa henti, tapi ia lebih memilih membuang wajahnya ke lain arah. “Aku berpikir untuk mencari mimpi yang lain.”

Baekhyun tersenyum tipis kemudian membawa tangan gadis itu pada telapak tangannya. Yuri diam saja dan mengikuti apa yang Baekhyun lakukan selama itu tidak membuatnya terpojok.

“Kau tidak punya mimpi lebih tinggi selain menjadi penyanyi. Jangan kau pikir kau bisa mengubahnya setelah 17 tahun ini bekerja keras. Aku tahu bagaimana kemampuanmu dan aku tahu kau pasti bisa.”

Yuri melepaskan tangannya dari Baekhyun. Hanya mendengar sebuah kalimat singkat dari Baekhyun saja, ia merasa seperti teriris. Baekhyun tidak salah. 17 tahun belakangan, Yuri habiskan untuk belajar tentang bernyanyi dan menari dengan giat, dia tidak mempunyai bakat, tapi ia memiliki semangat.

Setiap ia terjatuh, akan ada Baekhyun yang mengangkatnya. Setiap Yuri berkata bahwa ia menyerah, akan ada Baekhyun yang memberikan kekuatan padanya. Tapi saat ini, pria yang benar-benar menjadi tumpuan dalam mimpinya, telah merebut mimpi itu sendiri.

Baekhyun tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang penyanyi, tapi pria itu memiliki bakat. Kontras sekali dengan Yuri. Kenyataan bahwa Baekhyun lah yang dipilih menjadi trainee dari sebuah perusahaan entertainment kenamaan yang Yuri idam-idamkan, adalah sebuah cambuk besar bagi mental gadis itu.

Ia menyimpulkan sendiri bahwa usaha 17 tahun akan sia-sia jika sudah berhadapan dengan bakat alami dari lahir. Pada akhirnya, ia tidak bisa menjadi apa yang ia impikan.

“Aku sudah menyerah dengan menyanyi.” Sahut Yuri singkat.

Baekhyun menarik napas sekejap. Ia berdiri dan pergi dari hadapan Yuri dengan segera. Yuri yang mengira ia sudah aman untuk menyendiri, kali ini harus diganggu kembali oleh kedatangan Baekhyun beberapa menit kemudian. Pria itu membawa beberapa kertas yang salah satunya memiliki cap SM Entertainment.

Baekhyun membawa surat-surat tersebut ke depan hidung Yuri dan menyobek-nyobeknya menjadi butiran yang kecil. Setelah puas, Baekhyun menerbangkannya di udara, di langit yang mulai menunjukkan warna senja.

Yuri berdiri, menampar wajah pria itu dengan keras di saat pria itu tersenyum. Mata Yuri yang berbinar, kini dipenuhi oleh riak-riak air yang enggan turun. Baekhyun menyentuh pipi kanannya dan menatap manik kecoklatan dari gadis di depannya.

Aroma kecewa dan depresi serta persahabatan yang kompleks, kini menyuar di antara mereka.

Tanpa kata, hanya tatapan, keduanya seolah sudah mengerti apa yang mereka pikirkan satu sama lain. Di saat riak air sudah mulai turun, membasahi pipi Yuri, Baekhyun menarik gadis itu ke pelukannya. Memberinya kehangatan matahari.

Yuri tidak ingin menangis, tapi pada akhirnya ia melakukannya. Dada kecil dari Baekhyun adalah tempat yang tepat untuk dibajiri dengan air matanya. Ia terisak hingga tubuhnya bergetar, sementara Baekhyun dengan rajin menepuk-nepuk punggung gadis itu.

“Kau tidak perlu melakukan itu, Baekhyun.” Ucap Yuri dengan terpatah-patah beberapa menit kemudian. Ia sudah mulai menguasai dirinya, namun enggan lepas dari pelukan pria itu. Yuri lebih suka di sana, dengan wajah tidak terlihat dan membaca debaran jantung Baekhyun dengan telinganya.

“Aku perlu melakukan ini. Percayalah.”

“Kau barusaja membuang impianmu.”

“Tidak. Itu bukan impianku sejak awal, itu mimpimu. Dan mimpi itu berada di tangan yang salah, jadi aku membuangnya.”

“kau bodoh, Byun Baekhyun!” Yuri memukul ringan pada dada kiri pria itu, namun tubuhnya semakin sempit dengan ruang gerak yang terkunci oleh tangan Baekhyun. Baekhyun mempererat lingkaran tangannya di tubuh Yuri.

“Aku lebih suka menjadi pria yang bodoh di matamu ketimbang pria yang dibenci olehmu.”

Yuri diam-diam tersenyum tipis, namun ia menyembunyiannya. Dengan nada parau yang serak, ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kalau menjadi penyanyi bukan mimpimu, lalu apa mimpimu?”

Baekhyun berdeham singkat kemudian menarik tubuh Yuri dari tubuhnya, ia menggenggam kedua bahu Yuri dengan lembut kemudian menatap mata coklatnya lekat.

Kejadiannya sangat sekilas, tapi Yuri bisa merasakan aroma mint segar yang sangat baru kini masih berputar di mulutnya. Bibirnya basah dan pipinya merona merah. Yuri menggigit bibir bawahnya dan menyembunyikan pandangan matanya dari Baekhyun.

Pria itu tidak kalah canggungnya dari Yuri, namun ia segera menguasai dirinya.

“Mimpiku adalah…” Baekhyun mencoba mendapatkan fokus mata dari gadis di depannya. Mereka melakukan kontak mata singkat, “…mewujudkan semua mimpimu.”

Aroma mint kini kembali memenuhi mulut Yuri. namun ia tidak mempertanyakannya kembali. Gula kapas, ia hanya memikirkan benda lembut seperti gula kapas yang memenuhi seluruh bibirnya saat ini.

.

.

Yuri terbangun. Kepalanya sedikit pusing dan tubuhnya sakit. Saat ia mencoba menggerakkan kakinya, perih memenuhi selangkangannya. Yuri mengacak pelan rambutnya dan mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan.

Ketika matanya bisa melihat dengan sempurna, ia mendapatkan kamar asing yang mengelilinginya. Seingatnya, ia tidak pernah sekalipun memasang poster The Beatles ataupun Gun n Roses di dinding biru kamarnya. Lagipula kamar  itu tidak memiliki dinding biru, lebih seperti abu-abu muda dan sedikit kusam.

Yuri masih mencari kalau-kalau ia menemukan poster Turbo atau H.O.T yang 5 tahun lalu ia pasang. Tapi nihil. Kamar itu benar-benar asing.

Kemudian ia berpikir. Bahwa satu-satunya orang terdekat yang tergila-gila pada The Beatles adalah…

“Byun Baekhyun.” Yuri bergumam rendah dan menutup mulutnya segera ketika melihat seorang pria dengan tubuh tanpa busana dan selimut yang menutupi sebagian dari tubuhnya kini berbaring di sebelahnya. Yuri kemudian menatap dirinya sendiri dan menemukan keganjilan yang sama pada dirinya.

Dilihatnya seragam sekolah yang berserakan di tepian kasur dan tas yang terlempar di dekat meja kecil, semuanya miliknya.

Yuri ingin menangis namun ia tidak ingin terdengar oleh Baekhyun yang masih tertidur pulas. Alasan kenapa tubuhnya sakit dan selangkangannya perih kini terjawab sudah. Yuri menyibakkan selimutnya dengan hati-hati dan membawa tubuhnya untuk berbusana secepat mungkin. Ia menahan air matanya agar tidak menetes dan tidak membuat suara sekecil apapun.

Ketika semuanya sudah melekat kembali di tubuhnya, Yuri mulai membereskan sisa-sisa barang berantakan di kamar Baekhyun. Ia tidak tahu kenapa ia berada di sana dan kenapa semuanya  terjadi, tapi Yuri memilih diam.

Dilihatnya wajah pria yang masih tertidur di sana, Yuri menahan sesak di dadanya.

.

.

“Yuri!” Baekhyun berlari dengan sebuah penghargaan di tangannya dan sebuah toga di kepalanya. Dihampirinya Yuri yang sedang dalam pertengahan perbincangan dengan beberapa temannya. Yuri menoleh kecil kemudian mengulas senyum termanis yang bisa ia tunjukkan pada Baekhyun.

Aigoo~ kenapa susah sekali mencarimu belakangan ini. Untung saja kau masih bisa menghadiri inagurasi.” Pria pendek itu berceloteh segera setelah ia sampai di depan wajah Yuri. Dengan napas yang masih terengah, pria itu memeluk tubuh Yuri di depan umum. “Selamat, Yuri! kau akhirnya mendapatkan impianmu.” Baekhyun berkata lagi, kali ini dengan nada girang yang meluap-luap.

Nona Kwon Yuri, anda diterima menjadi Trainee SM Entertainment.

Harusnya itu menjadi kabar bahagia untuk Yuri. Diterima sebagai trainee merupakan langkah awal dari mimpi utamanya sebagai penyanyi. Tapi tetap saja, sesuatu masih mengganggunya. Dan itu tidak bisa dikatakannya pada Baekhyun.

Setelah hari itu, Yuri lebih memilih menghindar dari Baekhyun. Berakting seolah tidak terjadi apapun malam itu pada Baekhyun adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Ia tidak ingin mengingat-ingat semua yang terjadi malam itu, tapi ia selalu akan ingat jika bertemu dengan pria itu.

Malam Inagurasi dan kelulusan adalah satu-satunya yang tidak bisa ia hindari. Baekhyun menemukannya dan kilasan memori malam itu kembali menyeruak dalam otak Yuri. Ucapan selamat dari Baekhyun tidak terkesan indah baginya. Lebih seperti horor.

Apalagi ketika ia ingat ketika ia bertandang ke salah satu dokter kenalannya beberapa hari lalu dan mengeluhkan kesehatannya yang semakin memburuk.

Yuri-ssi, aku punya dua kabar untukmu. Baik dan buruk. Baiknya, kau hamil dan janinmu sudah masuk pada bulan ke-3, perutmu akan terlihat besar di bulan ke-5. Dan kabar buruknya adalah, rahimmu lemah, jadi berhentilah menari. Kecuali jika kau ingin menggugurkan janin ini.

.

.

Menggugurkan janin tentu bukanlah pilihan yang bijak. Yuri tidak seegois itu. Walaupun ia memang tidak bisa menari, tapi ia bisa bernyanyi –walau menari lebih bagus dilakukan olehnya daripada menyanyi. Lagipula Yuri juga pandai menulis lagu dan itu memberikannya peluang bagus untuk debut segera.

Dan ya, Yuri membayarkan seluruh usahanya selama training 2 bulan saja dengan debut yang cukup sukses sebagai solois. Dia menyanyi, memetik gitar dan melantunkan nada-nada jazzy. Beberapa lagu upbeat dimasukkan ke dalam album mininya selang beberapa bulan setelah sukses dengan single debut nya. Namun begitu, Yuri menolak untuk menari.

Kepopuleran Yuri berbanding lurus dengan apa yang didapatkan oleh Baekhyun. Ia menjelma menjadi komposer yang jenius demi mengangkat pamor Yuri. Ya, Baekhyun masuk ke dalam tubuh SM sebagai pekerja di balik layar.

“Kau bernyanyi dengan sangat baik kali ini, Yuri.” Baekhyun memuji Yuri yang baru saja kembali ke apartemennya. Baekhyun kadang bertindak seperti manajer Yuri dan mengundang decak iri bagi manajer gadis itu yang sebenarnya. Yuri tidak keberatan, lagipula ia memang membutuhkan Baekhyun.

“Sebenarnya aku merasa tidak enak badan kali ini.” Yuri mengambil gelas kecil di meja dapurnya dan menuangkan air putih ke dalamnya. Gadis itu meminumnya dengan segera.

“Kau harus mengambil cuti beberpa hari kalau begitu.”

“Tidak, aku masih harus menyelesaikan lagu baruku untuk single baruku.”

“Kau yakin tidak akan beristirahat?”

Yuri menggeleng pelan. Ia menatap pria pendek di depannya dengan skeptis, kemudian tertawa. Merasa diremehkan, Baekhyun mengacak rambut gadis itu pelan. Yuri menendang kecil kaki Baekhyun kemudian keduanya tertawa renyah. Gadis itu kemudian mengambil sebuah buku lebar dan menunjukkannya pada Baekhyun.

“Kau yang menulis ini?” Kerutan di dahi Baekhyun bukanlah sebuah kamuflase, daripada dibilang heran, pria itu lebih terkesan takjub.

“Aku belum menyelesaikannya.” Yuri kembali merebut buku itu dan menuliskan beberapa kunci nada disana. Ia belum menyelesaikan liriknya, tapi memberikan gambaran singkat tentang lagu itu pada Baekhyun.

“Aku ingin lagu ini menceritakan kisah aku dan kau. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku menuangkannya dalam sebuah lirik. Kau ‘kan seorang komposer, bisa tidak kau menyelesaikannya untukku?”

Baekhyun melirik kembali pada barisan blok nada yang diciptakan oleh Yuri. Ia mengerling pada gadis itu sekilas kemudian menjahilinya.

“Kalau begitu namaku harus berada dalam albummu.”

“Aku sudah memasukan namamu di urutan teratas dalam thanks to album miniku sebelumnya.”

ah~ benar. Aku lupa.”

Yuri memukul tengkuk Baekhyun singkat segera setelah ia berdiri –seperti di masa lalu. Baekhyun membalasnya dengan pukulan ringan di perut Yuri. Gadis itu kaget dan segera membalikkan tubuhnya agar Baekhyun tidak kembali memukul perutnya. Namun dewi fortuna tidak berada di pihak Yuri, tubuhnya limbung dan ia terjatuh ke atas lantai dengan perut yang mendarat terlebih dahulu.

Darah menetes dari selangkangannya terus menuju kakinya. Yuri memejamkan matanya sambil beteriak kesakitan. Ketika ia rasa semuanya semakin berat bagi tubuhnya, mata gadis itu sudah terpejam.

.

.

Yuri duduk di kasur serba putih dengan penjagaan ketat dari beberapa orang yang tidak dikenalnya. Ia memandang kosong pada sebuah jendela yang menghadap ke sisi taman dari Rumah Sakit. Seorang anak kecil yang duduk di kursi roda memandanginya dari sisi lain jendela.

Fokus Yuri teralihkan ketika Baekhyun tiba-tiba masuk. Ada kantung biru keunguan di sekitar matanya dan Yuri tahu kenapa. 3 hari dirinya berada di rumah sakit mungkin terlalu berat untuk Baekhyun, ditambah lagi kondisi Yuri yang sudah tidak punya keluarga. Akan sangat menyedihkan jika gadis itu berada di rumah sakit sendirian.

“Makanlah ini, kau belum makan apapun dari kemarin.” Baekhyun menyodorkan semangkuk penuh bubur pada Yuri. Namun gadis itu menggeleng, ia membuang wajahya kembali ke sisi jendela.

“Yuri, kau harus memperhatikan kesehatanmu!” Perintah Baekhyun lagi. Namun Yuri bertindak seperti gadis dungu yang tidak mengerti apapun. ia diam.

Baekhyun menyerah. Ia meletakkan buburnya di meja kecil. Ia sendiri naik ke kasur Yuri dan duduk di sisi kasur tersebut. Baekhyun melihat tangan Yuri yang bebas di kasur, ia menggenggam dan mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut.

“Sekarang katakan, anak siapa itu?”

Yuri terhenyak. Tapi ia segera menguasai dirinya untuk tidak menatap pada mata Baekhyun.

“Dokter mengatakan kau dan bayimu baik-baik saja. Jadi katakan, siapa ayahnya?”

Yuri tentu saja enggan bicara. Dan lagi, ia tidak tahu darimana ia harus mulai jika ia berbicara.

“Aku tahu kau bukan wanita yang mudah, Yuri. Melihat dari bagaimana kau memperlakukanku beberapa bulan terakhir…” Baekhyun bangkit, kini ia membawa wajah Yuri berhadapan dengan wajahnya, “…apakah itu aku?”

Yuri masih enggan bicara, tapi matanya berair. Ia tidak ingin berkata apapun, tapi air matanya berlinang. Bagi Baekhyun, air mata itu sudah cukup jelas untuk pertanyaanya barusan. Pria itu bangkit dan menghujamkan kepalan tangannya di tembok yang cukup keras. Ia berteriak diiringi dengan isakan tangis di bawah selimut dari Yuri.

“kapan itu terjadi? Sejak kapan kau menyembunyikan ini, Yuri?” Baekhyun berkata terpatah-patah dari jarak beberapa meter dari Yuri. Kepalanya masih menunduk ke lantai sementara tangannya berdenyut dan berdarah.

Tentu saja Yuri enggan menjawab. Ia diam seribu bahasa dengan isakan tangis yang melebar di bawah selimut. Dalam menit selanjutnya ia merasakan sentuhan hangat pada tubuhnya, aroma yang ia kenal dengan sentuhan mint pada bibirnya.

Yuri membuka matanya lebar-lebar dan melihat wajah Baekhyun ada di hadapannya. Jemari Baekhyun dengan telaten menghapus air mata Yuri, sementara Yuri tidak bergerak memandangnya. Baekhyun bergerak, menarik tubuh tertidur Yuri dengan kedua tangannya kemudian memeluk gadis itu.

“Jangan menangis. Kau hanya menambah dosaku menjadi semakin besar. Dengar, aku akan bertanggungjawab untuk ini, jadi jangan pernah menangis lagi.”

Baekhyun mengecup kepala gadis di tangannya dengan lembut. sementara Yuri tenggelam di dalam dadanya.

.

.

Kontrak agensi dengan Yuri tidak bisa terelakkan kekuatan hukumnya. Mengingat kandungan Yuri yang semakin besar dan kondisi Yuri yang tidak memungkinkan untuk kembali berkarir, agensi raksasa itu meminta ganti rugi.

Untuk itulah Baekhyun di sana. Berbekal kemampuanya negosiasi dan bakat menyanyi yang dimilikinya, SM menempatkan Baekhyun sebagai pengganti Yuri dan membuat gadis itu terlepas dari tuntutan hukum.

Dan mengenai kehamilan, Baekhyun dan SM cukup pintar untuk menutupnya rapat-rapat dari media dan publik. Mereka mengatakan sesuatu tentang training ulang bagi Yuri sebelum album mini keduanya.

Semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Kandungan Yuri sudah masuk ke bulan ke-8 dan ia masih berada di Rumah Sakit dengan penjagaan ketat –menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bintang karir Baekhyun semakin cemerlang ketika SM membuatnya bergabung bersama rookie grup fenomenal, EXO.

Baekhyun didapuk sebagai vokalis utama bersama 2 orang pria muda lainnya. Sementara Yuri hanya bisa memandangnya dari balik layar kaca. Kadang ia tersenyum memandang pria itu melucu pada sebuah acara, kadang ia menangis ketika menyadari semakin sempitnya waktu yang Baekhyun dapat berikan padanya.

Tidak pernah ada komitmen aku mencintaimu atau kau mencintaku di antara mereka. Tapi keduanya tahu bahwa mereka memang saling mencintai satu sama lain. Dengan atau tanpa diucapkan.

Sejak debut Baekhyun bersama EXO, bisa dikatakan dalam sebulan, Baekhyun hanya mengunjungi Yuri di rumah sakit selama satu kali saja, atau maksimalnya dua kali. Dalam kunjungan terakhirnya, Baekhyun memberikannya buku dan gitar.

Sedikit kesepian dan kerinduan gadis itu akan terusir ketika ia mulai memainkan gitar pemberian Baekhyun. Agak susah baginya untuk memetik gitar dengan perut yang semakin membuncit, jadi lebih sering bagi Yuri untuk menggumamkan nada tanpa memetik gitar tersebut.

Yuri menulis lagu yang belum ia selesaikan.

Ia menumpahkan seluruh emosinya di sana dan membayangkan apa yang menjadi mimpi terbesarnya. Ketika melihat Baekhyun di atas panggung dengan beberapa orang menari di belakangnya, Yuri tersadar akan sesuatu.

Bahwa yang ia mimpikan bukan sekedar bernyanyi. Yang ia benar-benar inginkan adalah bernyanyi bersama Baekhyun dan mewujudkan semua mimpi mereka bersama. Ya, bersama.

Kemudian air mata itu kembali berlinang membasahi kuku-kukunya yang sudah kusam. 8 bulan tidak mudah bagi Yuri untuk membawa perut besarnya. Dan ia tidak bisa melakukan apapun saat ini.

.

.

Anak kita perempuan, Baekhyun.

Benarkah?

Ya, dokter mengatakannya padaku tadi siang. Kau sudah menemukan nama yang bagus?

Mmm… aku akan memikirkannya ketika jadwal EXO berakhir hari ini. Aku masih berada di tengah proses recording, jadi maaf aku tidak bisa berlama-lama. Ada yang ingin kau sampaikan lagi padaku?

Yuri?

Ah, tidak. Hanya… Sudahlah. Selamat bekerja Baekhyun-ah dan segera kembali kesini.

Jantung Baekhyun berdegup dengan kencang. Mengingat apa yang Yuri katakan padanya di telepon beberapa saat yang lalu, membuat hatinya berguncang.

Proses persalinan nona Yuri sedikit kompleks. Rahimnya lemah dan kami menemukan kista di sana. Satu-satunya jalan adalah melakukan operasi cesar namun hasilnya tidak dapat kami pastikan. Ini seperti undian, tuan Baekhyun, kesempatannya 50:50. Kami harus mendahulukan siapa? Ibunya atau anaknya?

Baekhyun memandang nanar pintu dengan suara teriakan dari dalamnya. Sakit dan perih, entah kenapa ia merasakan itu semua. Baekhyun terduduk lemas tidak bisa berdiri. Seharusnya ia di sana, di balik pintu itu dan melihat proses persalinan Yuri. Tapi ia tidak bisa, tubuhnya terlalu lemas untuk melihat gadis itu di sana. Untuk melihat bagaimana undian di sana akan terjadi.

Baekhyun, jika sesuatu terjadi padaku, selamatkanlah ia yang ada di perutku. Aku sudah hidup selama 18 tahun ini, dan berikan kesempatan yang lebih pada makhluk mungil di perutku.

Baekhyun mengigil. Ingatan-ingatan tentang gadis yang beberapa menit yang lalu memohon padanya masih terekam jelas. Keputusan sudah jelas dan ia tidak ingin berada di sana saat semuanya terjadi. Baekhyun merasa dirinya seperti seorang pendosa.

Suara teriakan semakin mengecil dan itu membuat jantung Baekhyun mencelos. Meskipun teriakan kesakitan, ia ingin mendengarnya lagi lebih lama. Mendengarnya lagi sampai ia benar-benar siap untuk keheningan panjang.

Suara teriakan tangis dari seorang bayi kini terdengar di kejauhan. Tepat ketika teriakan lainnya tidak terdengar. Baekhyun memejamkan matanya. Berharap ia salah dengar. Saat pintu di depannya terbuka, ia melihat beberapa dokter dan asistennya menarik sebuah ranjang penuh darah dengan tubuh manusia yang tertutup selimut putih.

Baekhyun berdiri, tapi ia terduduk lemas kembali.

Baekhyun, kau tahu aku tidak pernah meminta maaf pada siapapun. Tapi jika sesuatu terjadi padaku setelah persalinan ini, maka… maafkan aku.

“Demi Tuhan, apa yang telah aku lakukan…” Baekhyun berkata terpatah-patah. Ia menangis sejadi-jadinya, lebih keras dan histeris daripada makhluk kecil yang juga menangis di dekatnya.

Ketika ranjang itu dibawa semakin menjauh, aroma segar strawberry yang biasanya keluar dari tubuh di sana, harus tertahan karena aroma amis darah yang lebih menyergak.

.

.

Baekhyun, kau sibuk? Hubungi aku jika kau lebih senggang.

Baekhyun, perutku bergerak. Kau harus sesekali merasakan ini.

Baekhyun, aku kesusahan dengan memetik gitar, jadi aku hanya menulis lagu yang dulu sempat aku tunjukkan padamu.

Baekhyun, AKU MELAKUKANNYA! Aku menyelesaikan lagu ini. Maukah kau membuatkan instrumen pelengkapnya untukku?

Baekhyun, Aku ingin sekali menyanyikannya untukmu di sini. Tapi terlalu panjang, lagipula perutku semakin sakit. Tapi aku berjanji akan menunjukkannya padamu setelah aku membaik.

Baekhyun, kau sibuk?

Baekhyun melepas ponselnya. Pesan suara yang tertinggal di sana berjumlah 20, dan sebagian besar dari Yuri. Demi Tuhan, apa yang ia lakukan beberapa hari terakhir ini? Mematikan ponselnya dan mengabaikan Yuri.

Dari sekian banyak pesan Yuri, ia hanya meneleponnya sekali dan itupun sangat singkat.

Baekhyun memandang seluruh penjuru ruangan yang kini sepi. Ruangan rumah sakit tempat Yuri menghabiskan beberapa bulan terakhirnya. Baekhyun menyentuh gitar yang terpajang di sudut kasur Yuri, dekat jendela.

Ia menemukan sebuah buku di dekatnya dan membacanya lekat. Bait demi bait ia gumamkan, lalu pria itu menangis. Air mata di pelupuknya jatuh susul menyusul dengan seru. Di tepian kasur, pria itu memeluk gitar dengan erat. Hatinya sangat sakit.

.

.


Long live the walls we crashed through
All the kingdom lights shined just for me and you
I was screaming long live all the magic we made
And bring on all the pretenders
I’m not afraid
Long live all the mountains we moved
I had the time of my life fighting dragons with you
I was screaming long live that look on your face
And bring on all the pretenders
One day, we will be remembered

Aku melihat ke kanan dan kiri lalu menemukan diriku sendiri di layar besar dengan tatanan lampu-lampu megah. Semua orang terlihat bersorak di depanku, memuji dan berteriak. Tidak ada yang tahu, sama sekali tidak ada yang tahu arti sesungguhnya di balik lagu ini.

Di balik lagu ini, ada seseorang yang dengan giat menulis not balok setiap hari, menahan setiap rasa sakit yang menggerayangi tubuhnya. Menahan malu dan beban mental yang ia pikul sendiri.

Di balik lagu ini, ada wanita. Wanita yang tidak pernah mengucapkan maaf dalam hidupnya. Wanita yang selalu ingin bernyanyi, selalu ingin menari sebelum seorang pria datang dan menghancurkan hidupnya.

Di balik lagu ini ada pria yang depresi, terlarut dalam kesedihan dan kesalahan masa lalu. Pria yang tidak bisa menggenggam janjinya sendiri, pria yang kehilangan. Kehilangan gadis yang dicintainya dan masa depannya.

Di balik lagu ini ada sebuah kesedihan, pengorbanan dan air mata.

Di balik lagu ini ada impian, ada harapan dan cinta.

Di balik lagu ini ada Kwon Yuri dan Byun Baekhyun.

Dan juga seorang gadis kecil yang manis.

Halo, Kwon Yuri. Aku sudah memutuskan nama yang tepat untuk bayi ini. Namanya Byun Yu Ri. Jelek? Tidak!. Ini nama terbagus untuk diingat. Nama paling tepat agar semua orang mengingatmu, Yuri.

Aku memandang kembali mataku yang mulai berkaca-kaca. Aku harus terus bernyanyi. Menghidupkan keinginan Yuri di dalam ingatanku. Menghidupkan kembali kenangan Yuri melalui lirik, menghidupkan kembali cinta gadis itu melalui teriakan dan sorak sorai semangat yang kudengar.

Hold on to spinning around
Confetti falls to the ground
May these memories break our fall

Will you take a moment, promise me this
That you’ll stand by me forever
But if God forbid fate should step in
And force us into a goodbye
If you have children some day
When they point to the pictures
Please tell them my name
Tell them how the crowds went wild
Tell them how I hope they shine
.

.

Kwon Yuri, kau akan diingat. Kau akan selalu diingat.

.

.

Seorang gadis kecil menangis di atas gundukan di tanah. Gadis itu beberapa kali memukulkan tangannya ke dada ayahnya kemudian menangis kembali. Beberapa orang sibuk mengambil foto dari keduanya namun beberapa ada pula yang diam dan melihat dalam tangisan.

“Kupikir… Ibu masih… hidup…” Gadis kecil itu terbata, ia menatap kembali pada gundukan kecil kemudian memicingkan mata pada pria yang memeluk tubuh lemahnya. “Kau jahat Ayah! Kau tidak pernah memberitahuku dari awal! Kupikir… kupikir aku bisa memeluknya dengan datang ke Korea dan… dan…”

Gadis itu menangis kembali. Kali ini keduanya diam, Baekhyun tidak berbicara kembali dan ia tidak berusaha menjelaskan apapun yang masih bias di antara mereka.

Beberapa orang kekar dengan kacamata hitam kemudian datang dan membawa keduanya kembali ke mobil ketika keriuhan semakin terjadi. Sang gadis makin menangis sementara Baekhyun mendapatkan picingan mata tidak menyenangkan dari salah seorang pria paruh baya yang duduk di jok depan, bersisian dengan supir.

“Kau barusaja mengundang kontroversi dengan datang kemari. Kini semua dunia tahu bahwa Byun Baek Hyun dari EXO sudah memiliki anak.” Ucap pria paruh baya itu. Yuri yang menangis mendadak berhenti. Ia menatap wajah Ayahnya.

Baekhyun tersenyum, “Katakan juga pada mereka bahwa, Byun Baekhyun dari EXO juga sudah memiliki seorang istri, namanya Kwon Yuri. Dan ia adalah penyanyi, penari, komposer, kekasih dan ibu yang hebat.”

Yuri kecil kemudian tersenyum pada Ayahnya. Baekhyun memerintahkan mobil itu berhenti, ia berjalan keluar dengan Yuri kecil dan menggendongnya.

Yuri terkiki kecil di telinga Baekhyun saat pria itu tergopoh-gopoh menggendongnya dengan senang. Gadis kecil itu mengenakan sepatu biru dengan tali yang kotor dengan tanah pemakaman. Tali itu beberapa kali menyentuh jas Baekhyun dan membuatnya kotor. Namun pria itu tetap tersenyum, seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.

Yuri menatap mata coklat milik Baekhyun kemudian berbisik.

“Ibu pasti bangga memiliki pria sepertimu, Ayah.”

.

.

Long live the walls we crashed through
All the kingdom lights shined just for me and you
I was screaming long live all the magic we made
And bring on all the pretenders
One day, we will be remembered

.

.

-THE END-

.

.

.A/N.

Voila~~ ini FF kelar juga kebut dari jam 1 siang. haha~ maaf kalau bosan dengan jalan ceritanya. Dan maaf kalau ada yang protes kenapa sad ending. hahaha.

mungkin ini mood aku lagi membayangkan kejadian yang emang terjadi barubaru ini di sekitar aku. jadi ada yang kisahnya kaya gini [istrinya meninggal karena melahirkan] jadi aku kepikiran buat insert kejadian itu di fanfiksi. ya kira kira beginilah versi modifikasinya.

Hey Ho. bagi yang menunggu Klise – Unstoppable. bersabar sebentar lagi, akan ada angin segar buat kalian~ hoho.

sekian. RCL masih ditunggu.

NB : Byun Baekhyun kamu beda banget nak di fanfiksi ini, jadi bersalah ngubah image kamu. hiks.

114 thoughts on “Long Live – From EXOYUL Series

  1. HanY berkata:

    Sediiih…
    Membwt q mngeluarkan air mta ni onn.. T_T
    Baek meskipun nie bkan drimu yg biasa menggila tp ko ttp k byang y? Pa lgi ma kelakuan Yul onn yg bebel d pertma kbyang bgt tkoh”y..
    Heheh

    Kreen Onn ff nya.. d^^b

  2. Silvermist Shimmer (@NissABC) berkata:

    Hadow ,,Hobi banget bikin sad ending T_T *tarik nafas
    Sekali-kali kek happy ending gituh -.-
    Eee,,malam inagurasi itu apa sih ? semacam gladi bersih Wisuda gitu ya*Asal *maklumAnakSMP
    Keep Writting ya eon😉 . Aku suka banget FF mu^

  3. Banana Kim berkata:

    Astajim, sad ending :”|
    Salah baca FF nih kayaknya…. tapi boong^^
    ASLI KEREN BANGET. TAPI KENAPA HARUS SAD? WAEYOOOO? /korban sinetron/
    FIGHTING, KAKNYUN!

  4. yurimyblog berkata:

    Anjiiirrr, nangis masa??? Ah sumpa, bukan baekyul shipper dan ini pertama kalinya aku baca baekyul. Tapi kaknyuuuuuun, sumpah ini keren aku sampe nangis. Dan gabisa bayangin gimana benernya klo baekhyun gendong anaknya sendiri di jalan?? Pingsan pasti, wks. Nice, semangat sama ff ff lainnya!!

  5. seria berkata:

    gk.. Aku gk bosan nyun.. Sedih.. Yuri nya mati.. Aku pkir jd artis terkenal.. T_T
    nyun.. Sekali2 lgu justin timberlake bgus tuh apalg yg not a bad thing.. Pasti bgus kalo nyun yg buat cerita.. *rayu2* Akakakakak..

  6. Park Jin Eun berkata:

    Nangis kak bacanya,ff ini perpaduan dari genre sad,hurt,angst.Apalagi pas bagian yuri nulis not lagu,pas bagian itu aku bener2 pengen nangis.Baekhyun····nappeun!Yuri masih muda bgt,tp udh hamil,,,bnr2 nangis bacanya kak,sumvehhh.Suka ffmu yg berhasil bkin aku nangis.Tp jujur deh kak,ffmu emg PERFECT!!!!

  7. liliknisa berkata:

    Sayang banget sad ending tapi kak aku paling suka adengan beakhyun bilang kasih tau kalo dia punya isyri bernama kwon yuri

  8. np1012 berkata:

    Duh sad ending 😅😢
    Tapi dimaafkan soalnya ff2 angst atau sad endingnya kamu pasti plotnya bagus2 semua jadi yaaaa aku rela hahahaha 😂😂😂
    oke aku akan baca yg lainnya lagi!

  9. Dhean Kwon berkata:

    ffnx bneran daebak tpi sayang sad ending, sbnernx q pcinta ff dgn genre sad tpi diakhiri dgn happy ending.. hmm klo gtu HWAITING eon buat ff slanjutnx..

  10. aloneyworld berkata:

    Woaaahhh ini ngga cute sama sekali kak, baek lebih dewasa dan nunjukin banget kalo dia emang punya material husbandnya😀 yaampun pas awal bingung ko yurinya anak kecil ya? Eh ternyata anaknya baek sama yuri😀 mereka MBA tapi kenapa yurinya harus mati kak kenapaaaa😄 tapi tetep keren😀

  11. mallati_yurisistable berkata:

    pokoknya ff nya kakak bener2 daebak, huaaa ff kakak menyentuh hati banget, kenapa harus sad ending??? wow ff ini bikin aku mewek kakak…

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s