GHOST SLAYER – Step #2

Poster #2 Ghost Slayer

Tidak disarankan dibaca malam hari. sekian.

© Bapkyr 2013

//

//

“Seharusnya kalian melakukannya lebih baik.”

“Kami sudah melakukan yang terbaik dari yang kami bisa, Tapi roh itu bermetamorfosa dan kam—“

“Berapa kali kubilang agar kau diam ketika aku bicara, Tuan Kwon Ji Yong?” Jiyong kini memelototi seorang pria tinggi dengan kumis tebal di depannya. Kepala pria itu tidak berambut sedikitpun sehingga membuat Jiyong sedikit menyipitkan mata ketika bola lampu remang menyinari daerah tanpa rambut tersebut. “Aku tidak bermaksud membentakmu. Mood ku sedang tidak bagus hari ini.” Lanjut pria berkumis itu lagi.

Jiyong dan Yuri duduk bersisian dan sesekali bertatapan ketika menemukan kesempatan. Kaki sepasang kaka-beradik itu kadang saling menginjak satu sama lain ketika pria berkumis mulai membentak. Mereka saling menyalahkan.

“Sudah kubilang itu bukan ide baik. Seandainya kau mendengarkanku.” Jiyong masih marah soal pedang yang ia pakai atas perintah Yuri. Bagaimana tidak?

Jiyong dan Yuri tidak pernah sekalipun di panggil ke dalam area Mansion untuk berhadapan dengan pria berkumis ini karena masalah paling sepele apapun. Namun berterima kasihlah pria itu pada Yuri, karena insiden pedang S-Class menjadi satu boomerang bagi keduanya saat ini.

Mereka memang bukan pesakitan atau Ghost Slayer yang akan diadili karena melanggar peraturan dasar, tapi tetap saja… . Pria berkumis itu adalah petinggi dari segala jasa dan produk hukum di dalam Mansion. Dia yang bertugas untuk mencatat, menelaah, mengawasi dan memberi sangsi bagi mereka –para Ghost Slayer dalam perkara menjalankan tugas yang diberikan.

Yuri dan Jiyong dipanggil atas tuduhan penggunaan senjata yang tidak pada tempatnya. Mereka baru saja menggunakan S-Class Blade dan parahnya, Blade itu adalah salah satu pedang yang paling bersejarah sepanjang dunia Ghost Slayer berdiri. Pedang itu bukan yang pertama, tapi pedang itu adalah satu-satunya warisan dari Kwon Shi Woon –ayah dari Jiyong dan Yuri.

Tidak ada yang tidak mengenal kemasyhuran dari seorang Kwon Shi Woon di masa lalu. Dan itu terbukti dari seberapa terkenalnya AB-Siblings dalam website resmi Ghost Slayer.

“Untuk sementara, mungkin pedang ini akan disita.” Pria berkumis tebal itu berbicara kembali setelah meninggalkan mereka sesaat untuk berdiskusi dengan rekanannya. Yuri dan Jiyong berpandangan sebentar, kemudian tanpa pikir panjang Yuri mengajukan keberatan atas keputusan dari pria itu.

“Aku bisa memberi kalian kembali pedang ini, hanya saja ada hukuman lain yang mungkin lebih berat dari ini sebagai substitusi.” Pria berkumis memberikan penawaran. Yuri ragu sesaat, dia tidak begitu pandai dalam negosiasi. Sikut gadis itu menyenggol singkat sikut kakaknya. Jiyong berdeham.

“Ada baiknya kita bernegosiasi sedikit untuk ini. Pedang itu milik kami karena kami adalah anak kandung dari Kwon Shi Woon. Tidak ada sedikitpun alasan masuk akal bagi kau untuk mengambilnya.” Jelas Jiyong. Dahi si pria berkumis membentuk kerutan berlapis-lapis.

“…dan lagi, seperti yang aku katakan, jika kami tidak menggunakan pedang itu, mungkin kami akan kembali di hadapanmu dalam dua buah peti mati kayu. Roh di Moskow sangat menyeramkan, sebagai informasi.”

“Aku ingin tertawa mendengar sebuah penawaran dari pria yang pantasnya bicara dengan anakku. Tapi kuakui kau cukup berani Nona dan Tuan Kwon.” Pria itu berkacak pinggang. Matanya menatap skeptis pada kedua orang yang kini diam. Jiyong mengetukkan jemarinya di atas meja sedangkan Yuri  menguap sambil membuang wajahnya ke lain arah.

“pada akhirnya aku bisa apa. Aku sudah memberikan penawaran padamu. Ambil pedang ini dan pergi untuk tugas yang lebih berat, atau duduk diam dengan ibu kalian dan meratapi bagaimana pedang ini kami tahan.”

Jiyong mengomentari kalimat pria berkumis dalam diam. Hatinya mengutuk Yuri yang terlihat santai –lebih kepada mengantuk. “Setujui saja. Aku lebih takut pada ibu daripada pada tugas.” Yuri berbisik. Jiyong tidak langsung mengiyakan, wajahnya terlihat menimbang-nimbang. Saat tangannya terangkat di udara, ia berkata ya dengan lantang.

“Bagus. Itu yang aku inginkan dari dua Kwons.” Puji si pria berkumis. Sesaat tadi pria gempal itu rupanya memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk mengambil beberapa map. Kini seorang wanita dengan kaki jenjang dan rambut yang dicat keemasan, datang kepada Yuri.

“Itu adalah tugas kalian selanjutnya. Aku berharap besok adalah waktu yang tepat untuk mulai bekerja.”

Yuri mengumpat kecil saat melihat nama ‘Tokyo’ di file paling depan dari mapnya. Yuri melirik Jiyong sekilas kemudian saling mengartikan pandangan satu sama lain. “Tapi kami barusaja datang dari Moskow dan kami harus ke Tokyo?”  Yuri berkata tidak percaya satu detikpun dari apa yang barusaja dibacanya.

“Kami bahkan belum pulang ke rumah dan beristirahat.” Tambahnya lagi. Pria di depannya menyalakan pemantik dengan satu kali gerakan lembut. Ia sulut tembakau dalam pipa dan membumbungkan asapnya tinggi-tinggi di udara. Pria itu sepertinya menahan tawanya, tapi yang terlihat hanyalah seringai tajam bagi Yuri. Gadis itu tidak pernah salah untuk tidak pernah menyukai Logan –si pria berkumis.

“Aku rasa tidak ada kata istirahat dalam penawaran yang kuberikan tadi.” Sambut Logan. Lugas.

“Kau pikir kami robot atau apa” Yuri mengumpat, lebih seperti berbicara kecil pada dirinya sendiri. Jiyong hanya memandang map-map yang digenggam Yuri dengan tatapan kosong. Hampa.

Pikirannya melayang jauh dari tempat seharusnya. Bertahun-tahun ia bekerja sebagai ghost slayer, bertahun-tahun ia mengasah kemampuannya dalam bidang itu, dan kini ia harus dihadapkan pada medan yang sebenarnya.

Tokyo, tempat yang paling ditakuti oleh para ghost slayer karena frekuensi makhluk halus yang tidak bisa ditangkap logika.

Tapi bukan. Bukan itu yang ditakutkan Jiyong.

Kenyataan bahwa Tokyo, adalah salah satu tempat terburuk yang ingin ia kunjungi sesekali –tempat dimana ayahnya dinyatakan tewas dengan misterius.

.Ghost Slayer.

“well, Yuri… mungkin ini berlebihan, tapi bisakah kau kemari sebentar dan melakukan sesuatu untukku?”

“apa sih? Kau tidak lihat aku dikelilingi pria dekil dengan tanduk setengah ini, huh?” Alih-alih dijawab, Yuri menyentak keras. Gadis itu menggantung di langit-langit sebuah atap dengan anyaman baja ringan. Beberapa kali suara geraman menghampiri gadis itu, namun tubuh kurus kecil yang dimiliki Yuri cukup bagus untuk sekedar berayun dan menghindar.

“Makhluk ini menjilatku, dan ini menjijikan.” Jiyong merengek seperti anak kecil. Yuri lompat sekali lagi di udara dan mendarat tidak jauh dari Jiyong serta makhluk pria kecil yang mulai mengikat tangan pria itu. “Kau ini pria atau bukan, sih?”

Yuri berlari kencang bahkan sebelum Jiyong berkedip. Ia menggunakan sebuah pisau perak seukuran gunting kuku dan melemparkannya dengan efisian kepada mata satu yang dimiliki mahkluk kecil di sekitar Jiyong.

“Kau belum selesai dengan si raksasa bodoh itu.” Jiyong mengingatkan ketika Yuri hampir berpuas diri dengan tangkapan kecilnya. Makhluk berlendir dengan cula yang hanya tinggal sebagian kini mengamuk lebih hebat ketika teman kecilnya masuk ke dalam gate, menghilang di balik cahaya. Meski tidak dapat menghancurkan benda kasat mata dengan tubuh gaibnya, makhluk besar itu masih tetap dalam ukuran berbahaya. Setidaknya itu yang dikatakan D-Kit dengan lampu hijaunya.

“Dia ini apa sih? Peluruku membal.” Yuri mundur terlatih, melindungi pungung dan blind spot nya dari raksasa. Jiyong masih sibuk membersihkan dirinya dari lendir amis yang mengikatnya. Agak susah dengan tangan yang terikat lendir membeku dan mata yang masih blur karena semprotan benda cair itu.

“Kau bisa bantu aku sedikit lagi tidak?”

“Kali ini apa lagi?” Yuri masih waspada, berbicara dengan Jiyong tanpa melepaskan perhatiannya pada raksasa gaib di depannya.

“Celanaku hampir jatuh, ada yang salah dengan pengaitnya. Bisa kau naikkan ristletingnya?” Mungkin terdengar manusiawi untuk Jiyong, kenyataannya Yuri hanya menggigit bibirnya sambil menimbang-nimbang. Walaupun kakaknya, ia tidak pernah sekalipun membetulkan celana pria. Dan ya… apalagi… melakukan itu.

“Kau menghinaku ya? kau pasti bercanda.” Yuri tetap tidak menoleh. Raksasa di depannya beberapa kali mendengus tanpa bertindak jauh. Mungkin makhluk bodoh itu menyusun rencana dengan mengulur waktu dan memukul mundur dua kakak beradik itu ke posisi terbaik untuk serangan balik.

“Kalau kau menoleh sedikit saja, kau akan menentukan sendiri apakah aku bohong atau tidak. Kita tidak punya banyak waktu sih kalau kau perlu diingatkan lagi.” Raksasa di depan Yuri menyerangnya dengan lendir bercampur belatung dan sampah membusuk. Yuri sempat mempertanyakan darimana datangnya sampah-sampah kasat mata itu, tapi ada yang lebih penting daripada memikirkan sampah. Menaikkan ristleting celana Jiyong tentu saja.

“Sudah. Jangan meminta aku melakukan ini lain kali.” Yuri memicingkan mata ketika tugas kecilnya selesai. Jiyong bisa bernapas lega, setidaknya ia bisa melangkah lebar ke dalam van dan mengambil beberapa alat pemotong untuk lendir mengeras di tangannya.

Pria itu juga tidak perlu khawatir dengan raksasa yang mengikutinya, karena Yuri menanganinya dengan sangat baik –walau yang gadis itu lakukan sepanjang waktu hanya menghindar.

Tak perlu waktu lama untuk Jiyong dengan tugas sekecil membebaskan tangannya dari lendir. Segera setelah pemanasan kecil ia lakukan, diraihnya gun-kit yang terbebas di sudut van. Ia mengisinya dengan peluru perak dan moncong senjatanya diarahkan tepat pada raksasa bau tersebut.

“Berhenti bermain, roh jelek.” Jiyong memekik ke udara kosong. “Lho? Seharusnya dia ada di sana, kan, Yuri?”

Yuri memicingkan mata. Ia berdiri, menahan napasnya yang memburu. Tangannya kini dilipat di depan dada sedangkan kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Pasir dari dalam gudang tidak terpakai kini beterbangan seiring dengan senyum melecehkan Yuri yang paling ternama dalam mansion.

“Kau terlambat dua detik saja. Dia sudah berada di dalam Kingdom sekarang.”

Entah keajaiban apalagi yang Jiyong dapatkan hari ini dengan perkembangan bertarung adiknya itu. Yuri berjalan dengan melepaskan sarung tangan dari jemarinya. Ia masuk ke dalam van bahkan sebelum Jiyong sempat berkata maaf.

.Ghost Slayer.

“Kau mengirim mereka ke Jepang, Logan?” Pria tinggi dengan jas hitam dan jam rollex di tangannya kini menggoyang-goyangkan kakinya yang tidak menyentuh tanah. Hantu?

Bukan.

Maksudku, bagaimana bisa hantu memiliki Gate-Kit di tangannya. Seperti yang bisa ditebak, dia salah satu ghost slayer. Kali ini pria itu berdiri dengan kedua tangan tersembunyi di balik saku depan celananya. Pria pendek berkumis dengan rambut jarang di belakangnya, tertunduk sopan –membuat gesture tangan yang rapat seperti berada dalam adu penalti.

“Sesuai perintah kau, Sir.”

“Kau bisa memanggil namaku.”

Ah,  maafkan aku, Seunghyun..”

“Oke, lebih baik kau memanggiku dengan sir  saja. Aku tidak nyaman jika bibirmu yang mengucapkannya.”

Selain jam rollex dan gate kit yang termasuk item keren, pria itu tentu saja memiliki kepribadian ganda yang tidak kalah kerennya. Seperti badai pasir di gurun. Tidak seorang pun tahu apa maunya pria ini sampai ia bicara.

Dan lagi, ia sedikit plin-plan.

“Tapi Seunghyun juga boleh sih.”

Sedikit? Tidak juga.

“Jadi apa yang mereka lakukan di Tokyo?” Dan ya, selain berbicara tentang kepribadian ganda dan kebimbangan, pria ini dipenuhi dengan selera humor dan ingatan yang blur. Mungkin karena warna rambutnya sering berubah-ubah dan menghapus sebagian memori kecilnya dengan rambut sebelumnya. Oke, ini hanya karangan.

Jadi, Seunghyun adalah pria kaya, berkepribadian ganda, tidak memiliki pendirian pasti dan pelupa. Tapi dia keren, tidak ada yang pernah menyangkal hal yang satu ini.

“Kupikir kau memerintahkanku melakukannya karena kau punya rencanamu sendiri, Seunghyun, sir” Menghindari salah-salah kalimat, Logan memilih menyebutkan dua panggilan bagi pria tinggi di depannya dengan lengkap.

“Apakah aku mengatakan sesuatu padamu tentang rencanaku?”

“Tidak sama sekali.”

“Apa kau yakin?”

“Demi Tuhan.”

“Jadi kira-kira siapa yang akan kau sarankan untuk bertanya, karena, ya, sepertinya aku lupa kenapa aku melakukan itu.”

Logan ingin mengumpat, terbaca jelas dari raut mukanya yang mulai masam. Namun lambang burung gagak di kantor pria rollex itu sudah cukup besar untuk membungkam mulutnya dengan ancaman-ancaman imajiner di dalam kepala pria pendek tersebut.

Lambang buruk gagak dalam kantor Seunghyun adalah kehormatan, sebagai Allegra. Tentu saja, apalagi yang lebih baik –dan menakutkan- dari Allegra di sana.

“Aku menyarankan agar kau mencuci otakmu daripada bertanya pada orang lain. Kau bisa pergi sekarang, Ayah.”

Seorang wanita dengan rambut panjang dengan beberapa sulur yang menyerupai bulu burung merak kini berjalan perlahan. Sebelumnya, ia menepuk pundak pria pendek yang ia sebut sebagai Ayah. Tidak ada hubungan darah di antara Logan dan gadis ini. Ini menyangkut dengan kebiasaan si wanita yang selalu menyebut pria berkepala botak sebagai bapak karena terlampau mirip dengan rahib. Dan lambat laun, kata bapak itu ia modifikasi sendiri sebagai Ayah.

“Chaerin! Lama tidak melihatmu di Mansion. Silakan duduk di sini, aku ingin kau bercerita banyak.”

“Lupakan tentang ceritaku dan mulai ceritakan apa yang kau lakukan pada dua Kwon itu?”

Whoa! Tenang sedikit, aku tidak melukai Jiyong mu yang berharga itu.”

Chaerin –wanita dengan hiasan sulur bulu merak, kini tertawa. Bisa dibilang sedikit melengking dengan gaung kecil yang memantul dan bersahut-sahutan dalam nol sepersekian detik kemudian. Seunghyun memberi gadis itu apel merah yang masih utuh dan melemparkannya di udara.

Chaerin menjulurkan tangannya ke atas dan menangkapnya tanpa melihat. Ia memasukkan apel itu ke dalam mulut sambil menyingkirkan beberapa kertas di meja kerja Seunghyun. Gadis itu kemudian duduk asal di sana.

“Mengirim mereka ke Jepang, apa kau sudah gila?”

“Siapa yang gila?”

“Kau!”

“Aku? Kapan?”

“Berhentilah melucu. Aku tahu kau tidak pernah diterima pada casting gag concert.”

Lalu Seunghyun meledak dalam dunia tawanya sendiri. Ia memukul-mukul meja dan mengguncang-guncangkan kursi kerja yang ia duduki, seperti sesuatu yang dikatakan Chaerin terlampau lucu baginya. Sebaliknya, Chaerin hanya memutar matanya dalam diam kemudian gemeletuk dari suara giginya terdengar ketika ia mencabik sebagian kecil daging apel dari tangannya.

“Itu lucu, Chaerin. Kau sangat lucu. Baiklah… baiklah…” Seunghyun mengatur napasnya setelah ia selesai menghinoptis dirinya sendiri untuk diam dan tenang. Dan itu berhasil.

“Jadi, katakan alasan dibalik pengiriman mereka ke Tokyo? Kau tahu kan di sana cukup berbahaya bahkan dengan ghost slayer setingkat mereka?”

“Jadi begini… “ Seunghyun mulai berdeham dan bersiap untuk bicara, “… tapi bisakah aku meminum seteguk air terlebih dahulu?”, katanya.

Chaerin menggigit dan mengunyah apel merahnya dengan kasar, sementara jemarinya dengan kuku yang panjang kini mencabik tubuh apel yang masih utuh di sisi lain dari tangannya. Seunghyun menangkap jelas ekspresi Chaerin, “mungkin… tidak jadi…” katanya.

“Ini tentang Zico. Kau ingat dia?” Tanpa membuang waktu, Seunghyun berbicara.

“Si anak kecil yang sempat mengundurkan diri dari Ghost Slayer?”

“Dia tidak mengundurkan diri dan Mansion tidak pernah benar-benar mengeluarkannya dari sini. Apa ya… mungkin dia mengambil waktu lama untuk vakum dan Mansion mengijinkannya. Lebih seperti itu.” Kata Seunghyun, menjelaskan.

“Lalu hubungannya dengan Kwon bersaudara?”

“Zico adalah anak asuh dari Kwon Shi Woon. Tentu kau tahu siapa pria itu ketika kau membaca biodata Kwon Shi Woon. Ini mengenai kecurigaan Mansion atas kasus Kwon Shi Woon beberapa tahun lalu, mereka memerintahkan Jiyong dan Yuri yang notabene adalah anak dari Kwon Shi Woon untuk menyelidiki hubungan lebih jauh antara Zico dan Ayah mereka selama di Jepang.”

“Kenapa Mansion tidak melakukannya sendiri?”

“Karena aku menentangnya.”

“Kenapa kau menentangnya?”

“Akan menjadi sangat tidak seru jika Mansion yang melakukan penyelidikan ini. Lagipula, kami memiliki banyak masalah daripada kasus Kwon Shi Woon ini. Ya, walaupun kuakui dia adalah tokoh yang cukup berpengaruh. Tapi alangkah lebih bijaknya jika kedua anaknya, yang barusaja menimbulkan masalah dengan S-Blade melakukan pekerjaan tersebut. Mansion bisa menghemat tenaga dan waktu untuk masalah ini.”

Chaerin tertawa picik. Ia membuang apelnya yang tinggal tangkai kemudian turun dari meja. Wajahnya ia hadapkan pada wajah tampan milik Seunghyun kemudian berbisik rendah.

“Aku tahu bukan itu alasanmu sebenarnya.”

Kali ini giliran Seunghyun yang menyeringai. Ketika rambut Chaerin terkibas di depan wajahya, Seunghyun menarik napasnya dan memutar badannya ke belakang, ia menatap jendela dari kantornya.

Chaerin telah berjalan menjauh, hampir tiba di depan pintu kantornya ketika gadis itu berkata pelan.

“Aku tahu apa yang kau mau sebenarnya, Seunghyun. Tapi aku hanya pura-pura tidak tahu kali ini. Sebenarnya, aku juga memiliki tujuan yang sama denganmu.”

.Ghost Slayer.

“Kau yakin Zico ada di Jepang, Jiyong?” Yuri mengedarkan pandangannya di sebuah jalanan ramai di Shibuya. Ia merasa seperti berada di dalam kartun jepang dengan wanita-wanita rok mini serta pria-pria tinggi kurus yang berjalan dengan mata sayu. Seseorang menabrak Yuri dan pergi tanpa meminta maaf. Bercak saus merah masih tertinggal di jaket gadis itu.

“Ini menjijikkan.” Yuri mengumpat dan melepas jaketnya. Ia terpisah dari Jiyong karena keramaian di sekitarnya. Kali ini tubuh Yuri hanya terbalut sebuah kaus tipis dengan kerah V yang lebar. Di lehernya terhiasi sebuah kalung  salib yang tidak bisa ditemukan bahkan di belahan dunia manapun. Hasil karya Ibunya, sebuah kalung dari gigi-gigi macan yang diawetkan yang dipadankan dengan bandul salib kayu. Sedikit ekstrem memang.

Yuri barusaja menyadari bahwa ia telah terlepas dari perhatian Jiyong dan kini berdiri kebingungan di tengah keramaian.

Firasat gadis itu memang sudah buruk sejak pagi tadi ia bangun tanpa sempat sarapan, dan itu terbukti dalam beberapa detik kemudian. Beberapa pria menariknya dari belakang dan membungkam mulutnya di tengah keramaian.

Mengeluarkan gerakan refleks, akan sangat mencolok bagi Yuri di sana, meskipun untuk mengalahkan 3 pria besar berotot dengan bau alkohol yang tidak menyenangkan sangat mudah baginya.

Beruntung bagi Yuri karena ke-3 pria itu menariknya ke gang sempit. Ya, dia tetap pada rencananya, gerakan refleks tadi.

Yuri sudah memusatkan konsentrasi dan tenaga yin serta yang-nya pada kepalan tangan kanan dan kirinya ketika sebuah balok kayu besar melayang bebas di udara, menimpa ketiga pria di depannya. Yuri melihat ke titik tolak dari balok kayu tersebut dan Jiyong nampak terengah-engah.

“Kau dikejar hantu?” Yuri berdiri, melepaskan kepalannya dan berjalan ke arah Jiyong. Tidak lupa ia menambahkan sentuhan terakhir bagi para pria di dekatnya dengan menginjak bagian terpenting para pria itu satu persatu.

“Bisakah kau berterima-kasih daripada mengomentariku?

“Berterima kasih untuk mengambil bagian terpenting dari adegan ini? lupakan saja.”

Jiyong memutar bola matanya ke atas dan ke bawah, “terserah.”

Tepat ketika keduanya mulai berjalan bersisian dan kembali ke jalanan yang lebih lebar, sebuah tekanan udara menggerogoti punggung mereka. Keduanya berpandangan beberapa saat, menukar pertanyaan bias lewat mata satu sama lain. Ketika suara kaca pecah terdengar dan teriakan melengking, Jiyong dan Yuri saling mengangguk kemudian berlari dengan sekuat tenaga pada suatu aura yang menarik mereka.

Yuri tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali menginjak para pria yang masih terkulai lemas di atas tanah. Arah yang ia tuju adalah sebuah rumah kecil di ujung gang sempit. Jiyong mendongak sesaat setelah mereka sampai ke depan pintu kumuh dan penuh cela.

Terdapat puing-puing kaca yang berserakan di tanah yang Yuri pijak. Bahkan beberapa puing yang lebih halus masih beterbangan di udara dengan pantulan sinar bulan yang bias. Membuat benda tersebut berkelap-kelip seperti kunang-kunang yang terbang.

Menghindar dan berguling. Jiyong dan Yuri baru saja melakukannya setelah mendapatkan kejutan tidak terduga dari lantai 2 bangunan kumuh tersebut. Seorang nenek tua baru saja terlempar ke bawah dan kini telah terkapar dengan bumbu puing kaca yang merobek kulit wajahnya. Cukup mengerikan namun belum cukup membuat Jiyong dan Yuri gentar.

Kakak-beradik tersebut tidak mau membuang waktu mereka untuk berkalang tanah dan menonton adegan ironis yang baru saja terjadi. Mereka naik ke lantai dua dengan menggunakan tangga yang berbau seperti kaus kaki basah yang berjamur. Pengap dan bau, deskripsi sederhana dari bangunan tua itu.

Untuk nenek yang terkapar di depan, Yuri tidak melupakannya. Tapi gadis itu tidak dapat melakukan apa-apa selain berdoa dengan singkat. Nenek itu sudah tidak memiliki aura kehidupan. Sebagai ghost slayer, Yuri bisa melihat jiwa yang memisah dari tubuh kasat mata nenek tersebut. Secara teknis, nenek tersebut telah tewas.

Raungan kejam, tangisan miris dan bau amis darah. Yuri merasakannya segera setelah ia sampai pada satu-satunya pintu paling besar di lantai 2. Di permukaan pintu tersebut terukir nama ‘Hiragawa Misaki’ dengan huruf I terakhir yang hampir copot. Jiyong menyulurkan tangannya ke depan, mendorong pintu yang tidak rapat tersebut untuk mendapatkan sedikit celah.

Yuri melongok ketika sebuah ceruk kecil terhampar di depan matanya. Sebelum bahkan ia sempat melihat debu yang terbang, Jiyong menutupnya kembali. Matanya menatap Yuri khawatir kemudian giginya bergemeretak, “Aku jamin kau tidak mau melihat ini.” katanya.

“Jangan membuat teka-teki.” Kata Yuri. Gadis itu bersikukuh untuk tetap mengintip di balik celah. Jiyong berusaha menjaga celah itu terbuka lebih lebar dengan menghalangi jarak pandang Yuri menggunakan tubuh maskulin miliknya.

Belum sempat kejadian itu berlangsung lama, teriakan kembali melengking. Kali ini persis seperti seorang ibu muda yang berada pada proses persalinan pertamanya. Yuri sempat menjauh beberapa sentimeter dari pintu sementara Jiyong membuka pintu itu lebar-lebar pada akhirnya.

Itu sebuah kamar. Kamar seorang gadis, awalnya.

Total ada 3 orang di sana : pria paruh baya, wanita paruh baya yang bertindak seperti seorang istri dan pingsan setiap 1 kali dalam 1 menit, yang terakhir adalah gadis pemilik ruangan tersebut. Saat Jiyong masuk, wanita paruh baya yang mulanya duduk di pojok ruangan dengan mata kosong kini pingsan dan terkulai lemas di atas kursi. Pria paruh baya, menggenggam salib dan beberapa kali berdoa di sisi kasur.

Gadis bermata sipit dan berambut hitam panjang, ada di atas kasur.

Di atas kasur dalam arti yang sebenarnya, ia melayang.

Poltergeist, jiwa anak ini sudah dirasuki.” Jiyong  berkata nanar pada Yuri yang seharusnya ada di belakangnya. Yuri diam di tempat, membeku. Jiyong menoleh sebentar, memperhatikan gadis di belakangnya dari ujung kepala hingga ujung sepatunya, “kan sudah kubilang kau tidak akan ingin melihat ini.” katanya lagi.

“Kembalilah ke van dan bawakan aku semua kit yang dibutuhkan.” Perintah Jiyong meluncur masuk begitu saja ke gendang telinga Yuri. Seperti terhipnotis, sementara kakaknya sibuk mencari cara membangunkan si wanita paruh baya, Yuri memilih berlari dengan cepat kembali ke van yang terparkir di depan sebuah salon. Dengan gesit namun hati-hati, ia membawa beberapa peralatan yang krusial.

D Kit, H Kit, dan Gun-Kit. Hanya benda-benda tersebut yang dapat ditampung tangan Yuri. Kaki-kaki jenjangnya segera melangkah tanpa mengingat bahwa kini pintu belakang vannya masih belum terkunci. Yuri tergopoh-gopoh melewati gang kecil –tanpa pria-pria besar yang seharusnya masih di sana, kesakitan- kemudian berlari tanpa lelah meniti tangga ke atas. Kala ditemukannya Jiyong dengan baju koyak dan cakaran di sekitar dadanya, Yuri menyerahkan semua peralatan pada pria itu dan mundur teratur.

Ia memiliki masa yang buruk dengan korban-korban poltergeist. Ia pernah gagal, sekali. Dan ia  tidak ingin kedua atau ketiga.

“Cepat atau lambat kau pasti akan terbiasa dengan ini, yang kau perlu hanya persiapan mental. Kau sudah mumpuni, sebenarnya.” Saran Jiyong. Tak ada nada memaksa atau memohon dari mulut pria itu. Kalimatnya meluncur begitu saja ketika melihat si gadis melayang kini mulai mencekik ayahnya yang masih berdoa.

Jiyong tidak bisa sendiri, itulah yang ada di pikirannya. Ia membutuhkan Yuri, bagaimanapun.

“Kau harus bisa kali ini, Yuri. Jika tidak…” suara gedebuk keras kini memenuhi isi ruangan. Gedung tersebut hanya memiliki satu tanda kehidupan, dan kini tanda kehidupan itu sudah meredup seiring dengan gerakan melukai brutal dari korban poltergeist.

Wanita paruh baya menjerit, saat ia sadar. Yuri tidak punya pilihan untuk diam, pun tidak punya keberanian untuk melawan si gadis melayang. Yang ia lakukan hanyalah membiarkan Jiyong di lini depan dan membawa wanita paruh baya keluar ruangan dan membaringkannya di satu sudut dekat tangga.

Suara tawa berat terdengar kemudian, mata si gadis melayang kini memerah kemudian perlahan menghitam. Giginya kini berubah warna dari kuning menjadi kehitaman seperti gosong terbakar. Lidahnya terjulur keluar sementara air liurnya kerap menetes menghujani sprei putih yang sudah penuh darah. Si gadis melepaskan kerah baju Ayahnya dan melemparkannya di udara.

Yuri adalah titik jatuh terdekat dari semua yang ada, ia berlari cepat dan memposisikan dirinya sebagai karpet alas. Dan…

Bruk.

Tubuh sang pria paruh baya mendarat tepat di punggungnya. Yuri meringis ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya. “sial”, umpatnya.

Jiyong lain lagi, ia menggunakan sarung tangannya dan mulai berjalan pelan pada si gadis melayang yang masih tertawa berat. Jiyong mengendap-endap, sesekali dilihatnya Yuri yang mulai berhasil membawa tubuh pria di atasnya keluar, berkumpul dengan istrinya.

Saat lengkingan terdengar dan tubuh sang gadis melayang membentuk huruf n di udara, Jiyong hampir saja melepaskan peluru peraknya. Kemudian ia sadar, melepaskan peluru perak sama saja artinya membunuh si wadah dari makhluk halus di dalam tubuh gadis itu.

Jiyong mengantongi gun-kit dan hanya bisa bergantung pada sarung tangannya saja. Fungsinya sama seperti gun-kit, melemahkan sistem kerja si makhluk halus dan menyeretnya ke gate, perbedaan mencoloknya dengan gun-kit berada pada jarak serang saja.

Jika gun-kit dapat digunakan untuk jarak jauh, maka H-kit hanya bisa digunakan di jarak dekat dengan Victim, ya dengan kata lain, Jiyong harus menyentuhnya.

Suara burung gagak tiba-tiba terdengar ketika senja menyapa. Sudah semakin gelap, dan mereka berada di gedung tua dengan suasana mencekam. Yuri meneteskan peluh ketika tubuh si gadis melayang semakin melengkung di udara. Sedikit lagi, mungkin tulang punggung gadis itu akan patah.

Tidak bisa bertahan dengan menonton saja, Yuri meraih sarung tangan miliknya sendiri dengan harapan agar ia bisa menggunakannya dengan efektif. Kejadian dimana ia menangani kasus poltergeist beberapa tahun lalu dan diakhiri dengan dirinya sendiri yang menjadi korban adalah satu kenang-kenangan yang tidak pernah ia ingin ulang.

Sebabnya, Yuri adalah wanita traumatis.

Gadis itu dan kakaknya, melupakan gas-kit hari ini, teknisnya, mereka adalah cacing yang dilepas ke lautan tanpa kail. Agak berbahaya.

Si gadis melayang kini melengkung kembali hingga kepalanya berada di bawah secara vertikal, hampiir sejajar dengan kaki-kakinya. Lolongan menyeramkan terdengar dari bibir yang mulai berdarah-darah tanpa sebab.

Jiyong memegangi kaki gadis itu di saat lolongannya terdengar pedih. Yuri hanya melihat dan menutup telinganya.

Rupanya si peminjam –makhluk tak kasat mata yang mendiami tubuh sang gadis, kini meronta. Ia memutar tubuh si gadis di udara sedemikian rupa sehingga kini tubuhnya bungkuk ke depan, wajahnya berhadap-hadapan dengan Jiyong dan bibirnya menyeringai lebar.

“Kau tidak bisa menyentuhku seperti ini.” Suara-suara berat, yang terdengar seperti suara monoponik dari beberapa orang kini bergema di telinga Jiyong, darahnya menetes tanpa sebab dari lubang di sana.

Si gadis melayang mulai meronta, ia berusaha melepaskan kakinya yang menggantung dari tangan Jiyong dengan menendang-nendang pria itu dengan kuat. Jiyong akan terpelanting jika bantuan tidak segera datang.

“Yuri, bantu aku!” katanya, berteriak. Yuri bergeming pelan, kemudian menggigiti bibirnya, “Cepat!” lanjut Jiyong lagi.

Yuri dengan setengah hati berjalan pelan, tangannya bergetar di saat lapisan sarung tangan kecoklatannya bersentuhan dengan kaki si gadis melayang. Mata gadis itu melebar di saat Yuri dirundung ketakutannya sendiri. Gadis melayang terkekeh keras.

“Kau takut, aku merasakan ketakutan!” Lengkingan kemenangan, begitu yang Jiyong artikan jika Yuri tidak dapat menguasai rasa takutnya sendiri. “YURI!” Jiyong berteriak keras, menyadarkan gadis itu dari segala ketakutannya. Namun sia-sia, mata Yuri masih tidak menunjukkan ciri-ciri keberanian.

Jiyong berinisiatif, ia memelintir kaki si gadis melayang dan membuatnya berteriak parah –lagi. Jiyong mengaktifkan sarung tangannya dan cahaya putih bersih keluar dari sana, bekerja seperti memisahkan daging ham dengan burger nya.

Yuri tidak sanggup melihat, apalagi dengan percikan darah segar yang amis kini menghujani tubuhnya. Ada teriakan lain ketika lengkingan si gadis melayang mengucap bebas, teriakan sedih dari orang tua yang menunggu di ambang pintu. Matanya menyiratkan ketakutan sekaligus khawatir yang berlebih.

Yuri menangkap semua haru biru di sana dan mencengkram lengannya sendiri hingga ia merasa sakit.

Benar, Yuri. Ketakutanmu tidak lebih besar dari mereka, dan buat apa pula kau takut. Pikirnya. Yuri menarik napas panjang, sekedar pemanasan, walaupun ia tahu tidak ada udara layak untuk dihirup di sekitarnya. Yuri naik ke atas ranjang dan memegangi kepala gadis yang masih melayang di sana. ditatapnya baik-baik mata hitam total yang perlahan berubah menjadi merah.

Jiyong meneteskan peluhnya, lebih banyak dari normal. Jiwa tak kasat mata yang ia tarik, sudah hampir setengah jalan ketika dilihatnya jiwa lain yang menempel erat.

“Tidak, ini buruk.” Jiyong menghentikan tangannya dari menarik arwah dan diam di tempat, ia berpikir di antara lolongan dan lengkingan kesakitan. Arwah yang ia tarik ternyata menarik kembali arwah orisinal si gadis. Teknisnya, ketika akhirnya arwah itu berhasil diusir, maka sang gadis akan tewas.

“Apakah itu terjadi lagi, kali ini?” Yuri menafsirkan sendiri rutukan kecil dari Jiyong. Dijawab anggukan sekilas, Yuri menatap nanar pada wajah si gadis yang mulai kebiruan dan bengkak.

Wajahnya mungkin akan lebih cantik tanpa darah, mungkin ia seumur denganku, pikir Yuri.

Sebersit rasa iba timbul di benaknya, mendorongnya untuk menyalakan bohlam di kepala.

“Jiyong, kurasa pisau perak akan berguna di sini.” Sarannya. Mata Jiyong membuka lebar.

“Kau bercanda. Jiwa gadis ini juga akan terluka.”

“Tapi dia tidak akan mati! Hanya terluka, lebih baik terluka. Pengorbanan sedikit itu perlu.”

“Ini permanen, Yuri. Jiwa yang terluka tidak dapat sembuh cepat seperti saat jarimu teriris pisau. Kurasa kau tahu apa maksudnya. Selain setengah gila, mungkin cacat adalah efeknya.”

Yuri kembali diam, tidak bisa mencurahkan kalimatnya di udara. Dilihatnya kedua orangtua yang menangis kemudian salah satunya mengangguk pada Yuri, seolah mereka mengerti pembicaraan apa yang barusaja berlangsung dalam bahasa korea antara Jiyong dan dirinya.

“Dia menyetujuinya, kau lihat. Kita harus coba.” Yuri mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, ia bersikeras menggunakan metode dengan pisau perak kali ini. Jiyong tidak punya alternatif lain, walaupun prinsipnya dia tidak pernah setuju.

Yuri mencabut pisau kecil dari kantung celana jeans nya. Belum apa-apa, arwah yang setengah keluar kini meronta. Yuri melemparkan pisau pada Jiyong. “Kau yang lakukan ini.” katanya.

Jiyong ragu sesaat, namun melihat jalan buntu di depan mereka, ia menghela napas. Jiyong memegangi arwah yang setengah keluar dan memutus kontak arwah jahat dengan arwah orisinal si gadis dengan menggunakan pisau.

Tidak ada teriakan dari roh, hanya lengkingan luar biasa dari si wadah saja. Badan Yuri bergetar hebat, tubuh gadis di tangannya mulai berat, tertarik hebat oleh gravitasi. Jiyong terus memotong di tengah-tengah kekacauan yang dibuat sang wadah.

Si gadis melayang mencakar-cakar udara dan meraung-raung keras. Darah dimuntahkan dengan hebat dari mulutnya, menyebur ke atas dan pecah kemana-mana bagai kembang api tahun baru. Sebagian melekat erat di rambut Yuri, sementara yang lain berpencar di sprei.

Jiyong terus memotong hingga hanya bagian kecil yang tersisa. Si arwah tertawa kemudian menggempur badan Jiyong dengan kekuatannya yang makin melemah. Yuri mencabut satu lagi pisau kecil dari sakunya dan melemparkannya dengan tepat pada kepala sang arwah jahat.

Ia meronta hebat, hampir mencekik lehernya sendiri kemudian lemas. Saat koneksinya dengan sang wadah terputus, Jiyong sudah menyalakan transmitor dalam jam tangannya. Gate terbuka dan menyerap semua sisa-sisa kekejaman dari sang arwah.

Jiyong terkapar di atas lantai, kelelahan.

Begitupun Yuri, ia terduduk lemas dengan kepala sang gadis cantik di pangkuannya. Gadis itu terpejam, wajahnya kembali normal perlahan, tubuhnya yang membiru kini kembali normal dengan warna putih merona khas Jepang. Darah yang keluar dari hidung dan kelima panca inderanya yang lain, masih tergenang dan mengering, namun secara fisik, jauh lebih baik daripada beberapa detik yang lalu.

Pria paruh baya dan istrinya kini berjalan dengan cepat ke arah Yuri, membawa tubuh anaknya pada pelukan mereka dan menangis bersama-sama. Yuri berdiri dan menundukkan kepala tanda hormat, kemudian menatap lelah pada Jiyong.

“Puas?” tanyanya.

Yuri mengangguk, air matanya keluar dengan sendirinya. Dia tidak sedih, dan air mata itu disebut sebagai air mata bahagia. Yuri berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Jiyong yang terduduk. Ia memeluk tubuh penuh peluh di depannya dengan perasaan meluap-luap.

Yuri hanya merasa, bebannya sedikit lebih baik.

.TBC.

//

//

Eotte?🙂

62 thoughts on “GHOST SLAYER – Step #2

  1. Galuh putry berkata:

    DAEBAK!!!!!
    Agak merinding waktu adegan yg ada darah” nya gitu. Ngeri ih..
    Tapi sumpah! Ini beneran keren kak. Fighting!!🙂

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s