VIBRANCE [Part 10]

 

Vibrance 4

Maaf kelamaan~

***

Seorang gadis timbul tenggelam di balik semak-semak. Sesekali matanya yang masih awas mengedarkan pandangan ke sisi kanan dan kirinya. Ketika ditemukan suara gemerisik tidak biasa, gadis itu akan berbalik dan mengacungkan tongkat sihir. Begitu ia lakukan beberapa kali hingga ia benar-benar yakin bahwa gemerisik itu tidak berarti bahaya.

Yuri, gadis itu, terus berjalan. Sedikit terselip rasa kesalahan yang mampu menyuarkan keraguan dalam dadanya, Tapi berpikir dari sudut pandang manapun, ia tetap saja telah terlanjur pergi dari tempat paling aman untuknya.

Dan ia sekarang merupakan menu sarapan untuk alam liar yang lebih kejam.

Yuri bukannya bodoh. Gadis itu sudah mengetahui dari awal bahwa cepat atau lambat ia memang harus pergi dari tembok perlindungan yang mengelilinginya. Ini bukan tentang Yongguk dan segala tongkat sihirnya yang sempat menimbulkan kecurigaan Yuri, tapi hal-hal yang baru tentang mimpi buruknya malam itu.

Jadi, Yuri kembali ke kamarnya setelah ia berbincang dengan Yongguk sambil menerka-nerka keberadaan tongkat sihir yang ia lihat. Saat gadis itu menyerah dan menggunakan sisa tenaganya untuk memejamkan mata, mimpi buruk yang terkesan lebih nyata bergelayutan.

Bukan dunia paralel seperti yang pernah ia lihat, lebih seperti potongan gambar yang tidak jelas tentang tewasnya para wolves; pertumpahan darah dalam tubuh phoenix clan; Myungsoo dengan tubuh tercabik disertai tangisan kesakitan dari beberapa wajah yang ia kenali; dan terakhir, terbunuhnya Luhan.

Yuri tidak ingin mengingat semua mimpi buruk yang muncul dengan tiba-tiba itu. Hanya saja, kemungkinan itu tidak bisa ia abaikan.

Aku yang mereka inginkan, bukan wolves atau teman-temanku. Jika aku di sana, maka mereka akan melepaskan semua orang. Begitu pikirnya.

Yuri tidak salah, namun gadis itu terlalu cepat untuk dikatakan benar. Dia hanya tidak tahu apa yang menunggu di depannya.

.Vibrance

Kai memutuskan untuk menerima sebuah tongkat sihir baru dari Yongguk. Dia tidak bisa menolak walaupun ia ingin. Tidak ada kata sarkastik ataupun pandangan skeptis dari Kai pada pria itu setelah Yongguk membuka identitasnya. Setiap mata mereka bertemu, Kai akan menyilangkan tangan di depan dada secara otomatis dengan haru biru yang mampu menggetarkan dadanya.

Impian Kai adalah menjadi seperti Zero. Dan Zero kini meminta bantuannya. Tidak ada yang lebih baik dari ini, pikirnya.

Beberapa wolves yang sama sekali tidak ia kenali kini berkerumun di belakang Kai, beberapa berbicara keras, beberapa memilih berbisik sambil sesekali memandangi pria itu. Kai mencoba tenang. Setelah ia tahu bahwa ia diberikan mandat untuk memimpin pasukan wolves maju ke medan perang, yang ia pikirkan hanya Yuri. Jauh di dalam lubuk hatinya, terselip rasa penyesalan.

Harusnya ia yang mengejar Yuri, harusnya.

“Fokus, Anak muda. Tujuanmu tidak boleh bercabang. Misi ini tergantung padamu.” Kalimat Yongguk kembali terngiang di telinga Kai. Setelah mengetahui bahwa tidak semua penyihir di Rauchsst tahu keberadaan Zero yang masih hidup, Kai memikul beban berat. Arti tersiratnya, Zero tidak bisa memimpin kaumnya untuk berperang.

Dari apa yang sudah terjadi beberapa detik lalu, dan dari bagaimana air muka Kai yang tidak bisa menunjukkan ketenangan, sudah jelas bahwa Zero menunjuk Kai sebagai penggantinya. Sangat jelas.

“Sebelum matahari berada tepat di atas kepala, kau sudah harus menyerang. Kita tuntaskan ini, phoenix akan melemah di bawah sinar mentari.” Kai menelan ludah, ia sudah berada di depan sebuah barisan yang –entah kapan- sudah rapih. Dilihatnya Yongguk yang berdiri dengan baju zirah tebal dan tongkat sihir di tangannya. Pria tua itu mencoba tersenyum tulus, namun Kai tidak dapat mengartikan bagian mananya yang benar-benar tulus.

Pria paruh baya itu pasti benar-benar mengkhawatirkan putrinya. Pikir Kai.

Diam-diam ia juga berharap, bahwa di medan perang nanti, ia bisa menemukan Yuri dalam keadaan baik-baik saja.

.Vibrance.

Kai baru saja setengah jalan ketika serangan panah beracun mendadak menghujani ia dan para pasukan wolvesnya. Posisi jadi kacau balau, semua yang tersisa berlarian menemukan tempat paling aman dari panah-panah yang masih melesat di udara.

Mari kita bahas panah ini. Mungkin kata panah cukup sempit dalam kasus ini. Cara kerjanya memang seperti panah biasa dengan  busur dan anak panah yang memiliki bulu di salah satu ujungnya. Yang membedakan adalah bagaimana panah-panah kecil itu kembali kepada si tuan setelah mereka melukai lawan. Persis seperti boomerang.

Dilihat dari banyaknya anak panah yang terjatuh, lazimnya, satu atau dua pasukan dengan total sekitar 50 orang harusnya berdiri di sana. Namun yang bisa dilihat oleh mata kecil Kai adalah, hanya 4 sampai 5 orang berdiri mematung sambil mengibaskan busur panah yang berubah menjadi bulu-bulu halus terbakar.

Lee Joon, yang berada paling dekat dengan posisi Kai saat ini, berbisik rendah. “Itu phoenix.” Katanya.

Kewaspadaan Kai dan pasukannya meningkat 100%. Mata mereka memicing ke segala arah, mungkin bisa disusul dengan degupan jantung yang masih tidak stabil karena berlarian beberapa saat yang lalu.

1, 2, 7… sudah 7 wolves yang tumbang saat ini. Padahal mereka belum menyerang satu phoenix pun. Mungkin ada kejutan lain jika Kai memaksakan mereka untuk terus berjalan.

“Bersembunyi sampai kapan, Kai?” Kai melongo. Maniknya terpaku pada satu sosok yang ia kenal. Sosok pria dengan badan atletis yang terbentuk dengan baik. Taecyeon. Kai tidak salah.

Di belakangnya, pria yang mengunyah daun kini menyeringai lebar. Arah matanya terpaku pada Kai semata. Seolah Kai adalah toasted bread yang belum mereka santap pagi tadi. Lee Joon menarik baju Kai ketika pria itu keluar dari semak-semak dan menampakkan dirinya secara gamblang.

well,  aku tahu setidaknya kau tidak pengecut dan menyembunyikan popok pipismu karena ketakutan di semak sana.” Taecyeon menyulut api di dalam kalimatnya, namun pemantik di dada Kai tidak berfungsi. Ia diam, mengumpulkan konsentrasi dan mengatur rencana.

Sebaliknya, kini  5 orang phoenix di depan Kai tertawa sumringah. Kelimanya membawa tongkat sihir, dan itu sedikit melegakan Kai. Setidaknya mereka hanya penyihir, pikirnya.

Keadaan berubah drastis ketika langit berubah menjadi gelap dengan sedikit kilat yang berkelap-kelip tidak bersuara. Entah datang darimana dan kapan awan-awan hitam yang kini membumbung rendah di atas kepala Kai. Semuanya tiba-tiba muncul begitu saja ketika kawanan Phoenix datang.

“Ini agak buruk.” Ujar Lee Joon. Kai menangkapnya sekilas.

Ini sangat buruk.

Kai menghitung lagi para survivor yang tersisa dilanjutkan dengan menghitung habis keseluruhan jumlah lawan.

Ia menyimpulkann bahwa ini adalah pertarungan hidup dan mati dengan prosentase 50 : 50. Seimbang. Satu-satunya yang mungkin bisa dibuat pengecualian adalah keberadaan 5 penyihir di antara phoenix yang ada di sana. Kai menelan ludahnya yang getir juga pada akhirnya. Ia mengatur kembali rencananya hingga ia bosan sendiri.

Kai memilih kembali pada titik nol. Artinya kemungkinan 50 : 50 itu mau tak mau ia pilih. Ketika keadaan menjadi phoenix versus wolves, maka Kai harus berjuang sendiri dengan 5 penyihir sisanya. Seharusnya rencana menjadi seperti itu.

Tidak ada senjata yang dipergunakan, kedua kubu masih diam tak bergeming di tempat masing-masing;berhadap-hadapan;merasakan tekanan tinggi satu sama lain; saling mengancam dengan juluran lidah yang menyeramkan.

Kai mengonfrontasi mereka, “Jadi kalian melakukan cara licik dengan menjegal kami di sini?”

Taecyeon tertawa, sementara Himchan memungut dedaunan lain untuk menggantikan daun penuh liur yang ada di mulutnya.

“Ini bukan cara licik, ini strategi.” Kata Taecyeon.

“Tidak Taec, ini cara licik. Pria hitam itu benar. Tapi ini cara licik yang keren, kurasa.” Himchan menepuk pundak Taecyeon. Bertindak seolah ia bukan kawan maupun lawan untuk kedua kubu yang sedang panas. Kemudian ia menyeringai ketika Taecyeon membaginya pandangan tidak mengerti.

“Sebenarnya sekarang atau nanti, strategi atau bukan, mereka toh tetap akan mati di tangan kita.”

Mendengar kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut Himchan, cukup membuat Kai gerah. Namun ia menahannya. Kai berpendapat bahwa amarahnya mungkin akan digunakan sebagai serangan terakhir. Siapa yang bisa menangkal kekuatan dari penyihir remaja yang marah? Ayahnya saja tidak bisa, begitu pikir Kai.

“Jadi karena kita sudah seperti ini, mari bertaruh. Anggaplah ini tentang noble 1 dan noble 4. Siapa yang lebih unggul.” Taecyeon memindahkan tongkat sihir dari tangan kanannya ke tangan kirinya. Tubuhnya condong ke depan dengan kaki yang siap mengayun kapan saja. Kai memberi isyarat persiapan bagi mereka yang berbaris di belakangnya. Ia lihat pasukannya sekilas, kilatan mata persis seperti saat ia melihat Yuri. Menyiratkan ketakutan dalam batas nol.

Tentu saja, mereka beast dan aku penyihir. Batin Kai membesarkan diri ketika ia menemukan hanya dirinya yang sedikit gentar di sana.

Tidak ada genderang pertanda mulainya perang terbuka di sana. Tapi semua makhluk mitologi yang ada, membaur menjadi satu. Dengan kekuatan fisik, senjata tajam dan taktik licik yang tidak bisa pernah diterka.

Kai berada di antaranya, dihadapkan langsung pada 5 penyihir –yang mana 2 di antaranya adalah 2 orang yang paling ia kenal. Tidak ada tanda-tanda akan dimulai pertarungan 1 lawan 5 di antara mereka kecuali ketika Kai menyihir sebuah pohon untuk berjalan dan mengamuk.

Himchan mengambil alih kekacauan, dengan ayunan kecil tongkatnya dan mantra yang keluar di antara dedaunan pada mulutnya, Ia mampu menghentikkan gerakan pohon tersebut dengan angin besar. Ya, walaupun pohon itu kemudian berdebam di tanah dekat para phoenix dan wolves yang sedang bertarung.

“Akhirnya kau mengerti apa itu kelicikan, boy.” Seorang wanita yang sesaat tadi berdiri di belakang Himchan, entah bagaimana sudah berada di belakang tubuh Kai. Kai berhasil menghindar dengan teleportasi jarak pendek, ia merasakan aura aneh pada wanita tersebut. Sebagai pengguna elemen dasar healing yang mampu mendeteksi sel-sel penyihir, Kai tidak menemukan adanya aura kehidupan pada wanita tadi. Seolah semua yang ada di dekatnya, tidak memiliki nyawa.

Dan itu terbukti. Ketika sekali lagi Kai memancing wanita itu untuk menyerangnya, Seluruh tumbuhan dan makhluk hidup yang dipijak oleh wanita tersebut, hangus, menghitam dan mati.

Kai tidak pernah melihat penyihir dengan kekuatan unik seperti itu, tapi ia bersumpah ia sangat mengaguminya –jika saja wanita itu bukan musuh. Tapi pria ini, cukup memiliki kemampuan mumpuni dalam menghadapi jenis sihir apapun. Kali ini ia menggunakan sebagian dari elemen dasarnya sebagai noble 1. Regenerasi sel.

Pada penyihir normal, sel-sel mereka akan membelah dan berkembang pada kurun waktu tertentu, kemudian ada satu masa dimana sel-sel mereka mengalami keterlambatan pembelahan yang mengakibatkan menuanya seseorang. Berbekal pengetahuan dasar dari grade 2 di Raville, Kai memanfaatkan situasi dari kasus jarang ini.

Jika seseorang telah mati, artinya, sel-sel darah mereka sudah mati. Momen dimana Kai tidak dapat merasakan aura kehidupan sang penyihir wanita cukup jelas menandakan bahwa, somehow sang wanita menghentikkan pertumbuhan selnya dan menggunakan sesuatu hingga ia bisa bertahan hidup tanpa perkembang biakkan sel.

Kai membalik situasinya. Bagaimana jika dirinya menghidupkan kembali sel-sel pada penyihir aneh tersebut? Tentu sesuatu yang besar akan terjadi bukan?, setidaknya begitu yang dipikirkan oleh Kai.

Ia mencobanya. Menggumamkan rapalan mantra-entah-apa dan membuat tongkat sihir asli miliknya menyala-nyala dengan cahaya kebiruan. Cahaya itu ia arahkan pada si wanita yang berjalan melingkar di semua arah mata angin. Kai mendapatkannya dengan mudah, wanita itu tersungkur di depan matanya setelah cahaya biru menembus mulutnya.

Taecyeon menyerang kemudian. Kai menghindar, sesekali, ia melirik pada wanita yang tumbang di sana. Himchan lain cerita, setelah sukses menghentikkan laju pohon, kini ia duduk bersantai di bawah pohon rindang yang lain. Matanya memerhatikan dedaunan lagi sementara mulutnya sibuk mengunyah.

Kali ini kai mengunakan air. Berdasar kepada ilmu elemen dasar yang mengatakan bahwa air bisa mengalahkan api, Kai yakin serangannya kali ini akan tepat. Ketika Taecyeon menggumpalkan api hingga sebesar bola rugby, Kai sudah selesai dengan elemen airnya. Keduanya berhadap-hadapan dan saling memicing waspada. Taecyeon melemparkan bola itu cepat, namun Kai lebih cepat daripada pria berotot tersebut.

Sebelum bahkan api tersebut mencapai setengah jalan, Kai sudah melemparkan bom-bom air yang memusnahkan jilatan panas dari api tersebut di udara.

Menyedihkan untuk seorang pangeran dari noble 4.

Tidak sampai disitu Taecyeon berhenti, ia kembali menyerang dengan mantra-mantra tingkat tinggi yang bahkan tidak pernah diajarkan dalam Raville. Kai sementara hanya menghindar dan menghalau. Ia tidak bisa langsung menyerang karena mantra-mantra yang diucapkan Taecyeon tidak ia kenali. Kai bukan takut, tapi dia tidak ingin salah perhitungan dan malah menyebabkan kerugian di kedua belah pihak.

Kai memang ingin menang, tapi dia tidak ingin menang dengan darah.

Pria itu adalah tipe yang selalu memakai strategi di otaknya, tidak sekedar otot.

Di tempat lain, Himchan mengendus. Matanya mendapatkan sang penyihir wanita yang sebelumnya diserang oleh Kai, kini menua dan sekarat. Himchan membuang daun di mulutnya dengan kasar sehingga air liurnya berserakkan di mana-mana.

Kedua manik mata pria itu kini menangkap sosok 2 penyihir yang tersisa di dalam timnya. Himchan mencabut tongkat dari saku belakang celana ketatnya. Seketika, cahaya hitam keluar dan melesat dari tongkat itu bahkan sebelum Himchan merapalkan mantra. Cahaya hitam itu disertai buih-buih yang terbang bebas. Buih-buih itu menggumpal perlahan-lahan dan membentuk satu kesatuan baru dengan cahaya hitam –membentuk satu tubuh seperti kuda namun dengan belalai di hidungnya.

Kai sempat melihat, namun ia disibukkan dengan loncatan sederhana dari serangan Taecyeon.

Himchan tidak mengambil banyak waktu. Ia menggerakkan tongkatnya dan seketika kuda-entah-apa itu mengamuk hebat. Masih dengan cahaya hitam yang mengelilingi tubuh makhluk itu, Himchan membuka matanya lebar. Targetnya tidak lain adalah dua orang yang berdiri gemetar di depan binatang tersebut.

“Kalian sudah tidak berguna lagi, Kai sudah tahu bagaimana memusnahkan kekuatan yang kalian banggakan.” Di detik selanjutnya, Himchan melakukan bagian ‘kalian sudah tidak berguna lagi’ dari kalimatnya. Sebagaimana benda yang tidak berguna lain, Himchan membuangnya. Dalam kasus ini, ia membunuh dua penyihir malang tersebut.

Tanpa ampun, tanpa suara, tanpa teriakan, hanya dalam sekejap.

Sayang sekali bahwa Kai tidak sempat melihat pemandangan menakjubkan tadi. Pria itu masih loncat dari tanah ke tanah yang lain hanya untuk mendapatkan strategi yang paling tepat. Ketika Kai akhirnya tahu bahwa dua penyihir yang tadi sempat menyerangnya kini sudah hangus, matanya melirik sekilas pada Himchan yang memasukkan kembali dedaunan ke mulutnya.

Kai sempat oleng sedikit karena melamun, dan kini ia terjatuh dengan tongkat sihir Taecyeon yang teracung pada hidungnya. Tongkat Kai sendiri kini berada beberapa meter darinya, tangannya tidak cukup panjang untuk menggapainya.

Gotcha!” Taecyeon memekik girang. Ekspresinya seperti pemancing yang mendapatkan ikan terbang dengan berat 1 ton. Sulit dideskripsikan. Tongkat sihir Taecyeon masih mengacung waspada di depan hidung Kai. Sang korban tidak berkutik.

Benar-benar tidak berkutik sampai akhirnya ia menemukan sebuah tongkat lain di saku belakang celananya, sedikit tertindih. Kai merabanya perlahan ketika perhatian Taecyeon sempat teralih pada Himchan yang mulai bergabung dengannya.

Di tempat lain, tidak jauh, peperangan semakin sengit. Lee Joon kini berdarah-darah keluar dari arena dan membuat tubuhnya sirna dari luka-luka. Ia menukar pandangan pada Kai yang berada dalam kesulitan. Tanpa perlu berpikir dua kali, Lee Joon melesat bagai anak panah. Cakar dan taringnya kini mencuat, matanya memerah dengan keji sementara hidungnya mengendus pada target utama. Ok Taecyeon.

Taecyeon gentar juga ketika seekor beast melesat kencang ke arahnya. Ia merapalkan mantra dalam waktu sempit sehingga perhatiannya teralih dari Kai. Dalam waktu sempit itu, Kai mencabut tongkat pemberian Yongguk dan memakainya untuk menghalau serangan cahaya hitam milik Himchan.

Taecyeon terpaksa memukul mundur dirinya dan berdiri bersisian dengan Himchan. Sementara Kai, dengan sedikit bantuan Lee Joon kini bersiap dengan tongkat sihir barunya.

Kemudian Leejoon membagi tatapan matanya pada Kai ketika pria itu berkata, “Serahkan ini padaku.” Dalam mata Kai, entah semangat apa kini berkobar. Bukan hanya semangat pertarungan semata, tapi semangat-semangat untuk Rauchsst yang perlahan menggumpal di otaknya. Dada Kai memuncah dan ia menjadi lebih gesit untuk berpikir tentang strategi. Kai sendiri merasakan dirinya lebih cemerlang dari beberapa detik yang lalu.

Dilihatnya tongkat Yongguk di tangannya, kemudian Kai menyimpulkan sesuatu yang belum pasti.

“Ini tongkat asli milik Zero. Dia memberikannya padaku.”

.Vibrance

Yuri berlari kencang menjauhi guntur yang bergerak tanpa suara. Kilatan petir dari awan mendung di atas kepalanya seolah-olah mengikuti gerakan kakinya tanpa henti. Yuri mencoba sihir, tapi dia selalu gagal. Penyebabnya, ia tidak terlalu paham benda yang ada di atas sana serta ia sendiri tidak banyak menghapal mantra yang cukup meyakinkan untuk medan seperti itu.

Yuri masih ingat tentang materi mitologi hewan sihir. Selain beast, tentu saja Rauchsst dan segala peradaban masa lalunya memilii hewan-hewan sihir lain yang bertindak sebagai komensalis bagi kehidupan penyihir. Beri-memberi dan bantu-membantu.

Bagian yang paling Yuri ingat adalah keberadaan Centaurus dan Drakon yang musnah begitu saja dari peradaban. Tanpa diketahui sebab musabab yang jelas. Diceritakan bahwa centaur adalah manusia yang memiliki tubuh seperti kuda dari pinggang ke bawah. Di Yunani, kerajaan dekat Rauchsst, masih dapat ditemukan beberapa spesies centaur yang hidup abadi dan rukun dengan beberapa penyihir. Centaur lebih bijaksana dari penyihir yang memelihara mereka.

Memelihara?

Benar. Dan hanya terjadi di Kerajaan Yunani.

Di Rauchsst sendiri, pernah dikabarkan bahwa Zero memiliki seorang centaur setia di masa-masa mudanya. Sejarah menyebutkan nama Chiron pada Centaur tersebut. Namun ketika Zero menginjakkan kaki pada kerajaan, centaur tersebut tidak pernah muncul kembali. Dan cerita berkembang menjadi isapan jempol yang kadang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Lain halnya dengan Drakon. Manusia yang memiliki tubuh naga yang panjang ini disebut-sebut beberapa kali muncul di dalam lembah di sekitar gunung. Mereka tidak menyerang penyihir, tapi lain cerita jika penyihir tersebut menyerangnya terlebih dahulu.

Baik Drakon maupun Centaur, tidak dapat mengubah tubuhnya menjadi seperti manusia utuh. Lain hal dengan beast –dan ini kenapa hanya phoenix dan wolves yang disebut sebagai beast. Drakon dan Centaur hanya berfungsi sebagai binatang. Mereka memiliki kekuatan magis namun tidak merusak seperti beast.

Tapi jika lawannya adalah penyihir, mungkin akan lain cerita.

Berbekal pengetahuan singkatnya, Yuri kini berharap kedua makhluk tersebut ada. Tujuan utamanya pergi dari tempat paling aman di gua wolves, salah satunya adalah untuk ini. Ketika gadis itu menyadari bahwa pasukan wolves akan kekalahan jumlah, satu-satunya yang ia pikirkan adalah meminta bantuan pada makhluk-makhluk masa lalu dalam mitologi –meskipun ia tidak yakin 100% ia waras saat memikirkan itu.

Yuri punya pilihan, tapi dia mengabaikan semuanya. Bagaimana tidak? Pilihannya hanyalah asumsi tidak tentu tentang bagaimana ia –atau temannya- mati dengan cara yang bagaimana. Itu saja.

Jadi ia kini masih berlari dengan harapan petir tidak mengganggu rencananya.

Gemuruh kencang dan angin bak topan tiba-tiba datang dari balik punggungnya. Yuri berbalik dan menemukan seorang wanita tinggi besar dengan mulut robek berdiri di sana, menyeringai. Lidah wanita itu terjulur panjang seperti ular, ia mendesis kemudian tertawa.

Angin berhembus lagi, bau-bau amis kini memutari hidung Yuri.

“Halo, Nona.” Sapa sang mulut robek ramah. Namun Yuri membisu, ia mundur teratur. Kalimat ‘halo, Nona’ tadi baginya terdengar seperti ‘Halo, makanan’.

Onna –si wanita mulut robek tadi, bergerak bebas dengan sayap-sayap yang mengakar di punggungnya. Lendir yang amis beberapa kali menetes di setiap rute kecil yang dilalui sayapnya. Yuri mundur teratur sambil mempersenjatai dirinya dengan tongkat sihir.

“Tidak perlu takut, aku membutuhkanmu hidup-hidup.” Suara Onna bergetar, menahan hasrat kelaparannya. Yuri tidak bisa percaya pada wanita di depannya. Pemandangan mengenai tangan Crocus yang dikeluarkan wanita ini dari mulutnya beberapa waktu yang lalu, cukup membuat Yuri depresi dan terpukul secara psikis.

Gentar adalah deskripsi paling tepat untuk getaran hebat di kaki-kaki Yuri saat Onna mulai terbang rendah ke arahnya.

Awan mendung masih berarak, petir tidak menyambar. Lupakan sejenak tentang petir. Saat ini di mata Yuri ada yang lebih penting daripada serangan petir.

Onna mulai melenggang dengan kakinya. Sayapnya menyusut dan menutup. Di balik mulut Onna yang robek, Yuri bisa melihat deretan gigi menguning yang setiap selanya tersempil benda lunak berwarna merah. Mungkin Onna baru saja mengunyah sesuatu dan meninggalkan bekasnya di sana sebagai kenang-kenangan.

Namun Yuri bersumpah, benda apapun yang menyempil di sela gigi Onna, adalah benda teramis dan berbau tidak menyenangkan yang pernah ia tahu.

Saat Onna memperlihatkan kerongkongannya dengan tertawa lebar, Yuri bisa melihat tulang-tulang masih tersangkut di tenggorokannya. Dan… benda bulat kecil perpaduan warna hitam dan putih yang terlihat seperti…

mata… gumam Yuri pada dirinya sendiri.

Yuri menelan ludahnya dengan susah payah setelah melihat pemandangan menyeramkan barusan. Ia memilih berlari jika saja kakinya tidak gemetar seperti saat ini.

Ketika tangan Onna mulai menggapai lengannya, syaraf Yuri menegang. Tongkatnya terlepas dari tangan dan jatuh begitu saja di atas tanah. Kaki Onna menginjaknya dan tongkat itu patah menjadi dua bagian. Yuri mengutuk dirinya sendiri.

Onna tidak berhenti sampai di situ saja, dengan tubuh luwes, ia memutar tubuhnya dan membelakangi Yuri.

Yuri sempat terheran dengan apa yang Onna lakukan, namun ia tidak ingin membuang waktu di sana, ia mundur perlahan dengan kekuatannya yang masih bisa ia gunakan. Saat Onna bergerak maju, menjauh, Yuri memungut kedua patahan dari tongkatnya di atas tanah. Kemudian bayangan tentang Dims berputar di dalam otaknya. Aku pasti akan dikutuk habis-habisan oleh Dims setelah ini, pikirnya.

Yuri menegakkan tubuhnya sendiri dan mencoba kabur dari sana ketika petir menghalangi satu-satunya jalan baginya. Petir berkumpul menjadi satu barisan ke samping –seperti barikade. Yuri tidak bisa melewatinya.

Jika dikatakan hanya satu barikade itu saja, salah juga. Tepatnya, Onna membentuk satu barikade persegi panjang yang dapat menjadi arena pertarungan epik 2 lawan 1.

2 lawan 1?

Yuri menoleh sekilas pada sosok kehujanan yang ada di depan Onna. Sedikit banyak, Yuri bisa mengerti kenapa Onna teralihkan perhatiannya sekilas. Pria yang tidak terlalu tinggi dengan raut wajah khawatir berlebih kini terengah-engah di sana.

Yuri menangkap rambut keperakkan yang menjadi ciri khasnya.

Itu Luhan.

Dan kini pria itu berhadapan dengan Onna.

.TBC.

A/N.

Sedikit pengumuman nih buat semua pecinta Vibrance.

Mulai hari ini, part 10 ke atas, panjang satu chapter sekitaran segini. 2.500 – 3.000 words.

Udah itu aja. hoho.

eh buat yang pernah nanya facebook, aku buat baru. Ini Link nya kalau mau nge add :

FACEBOOK

Sekian. Review masih ditunggu loh.

144 thoughts on “VIBRANCE [Part 10]

  1. Sekar Ayu berkata:

    PERANG ! dan akhirnya perang pun terjadi
    sumpah keren bgt wktu bagian kai perang sama 5 penyihir itu … feelnya kerasa bgt eon
    luhan please selamatin si yuri ! ayo !
    makin penasaran, cus lgi ya ke part selanjutnya

  2. zelo berkata:

    Udah penasaran gak nahan wkwkwkwk lanjut ya unn, ceritanya daebbakkk!! Hebat wkwkwk xD fighting ne

  3. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Tegang sumpah berasa nonton Box Office tau gak, Daebak kak!
    feel nya selalu dapet,, apalagi pas Perang gini, bikin peluh ku bercucuran.. kk~

  4. Intan berkata:

    Kenapa di akhir mimpi Yuleon nggak enak bnget buat di baca.
    Padahal aku berharap kalo diakhir ceritanya Yuleon bisa sama Lulu ;-( tapi ternyata…. ;-(

  5. lalayuri berkata:

    Kak Nyun, nanti Luhannya gak mati kan kaya di mimpi nya Yuri ? Ceritanya makin seru, aku suka, apalagi dibagian kai melawan mereka dengan kecerdasannya bukan dengan otot. Aku ijin baca part selanjutnya. Kak aku minta pw part 13-17 kirim ke stevanihelena33@gmail.com makasih

  6. Phannia berkata:

    Perang!!!
    Trus nasib pra-ujiannya gimana..?😮 #plakk
    haduh jadi takut sendiri sama onna, padahal gak tau rupanya kaya apa.. mrinding gila bacanya..

  7. Yayarahmatika berkata:

    Menegangkan, baca nya serasa ikut dalam pertarungan, yang paling menegangkannya pas yuri lari tiba tiba ketemu onna, dan pas tongkat taecyeon udah ada di hidung kai, untung aja luhan muncul di akhir nya agak lega sikit

  8. kimchikai berkata:

    Kai please pulang dengan selamat!! lawan taecyon dan himchan! Km pasti bisa!!

    onna itu nyeremin bangd sih ya, dan semoga mimpi yuri gak jadi kenyataan.. Nyeremin bngd sih kalau sampai luhan mati, akh tidak! *lebay

  9. Hara_Kwon berkata:

    Yuri pergi buat cari bantuan, dan di tengah perjalanan dia bertemu dgn Onna. Yaampun. Dan akhirnya Luhan menemukan Yuri.. yeeyy!!
    Pertarungan akan sangat menegangkan.
    Kai dan para wolves lainnya juga sedang bertarung.
    Izin lanjut baca kak

  10. Ersih marlina berkata:

    intinya. Boleh dong semuanya selamat. Hehe gemeter jga bcnya.

    Nah, krna di landa pnasaran yg makin2. Komennya ga bnyak. Hehe maaf untk itu dan smngat trus ya ka nyun

  11. Yelin berkata:

    berasa ikut perang..hhe
    tegang, takut, khawatir, waspada, deg2an dan perasaan lain di chapter ini berasa baget.. ngeri bgt sama onna..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s