KLISE : Unstoppable [Part 1]

bapkyr-reqlalala-copy

Lalalala~~

Chapter 1 is Out!

***

Saru, itulah yang kurasakan ketika mendengar suara bising yang berputar di dekat telingaku. Dari aku menceritakan ini, tentu saja aku sedang tidak berada di rumah. Aku sudah keluar dari cengkraman pria jahat yang entah bagaimana telah menjadi kekasihku selama setahun terakhir. Pada akhirnya aku bisa bebas juga.

Bicara mengenai Myungsoo, aku baru saja melewatkan konser Klise dimana harusnya aku duduk di bangku super VVVVVIP atau apalah. Dan dia marah, tentu saja. Aku tidak bisa berkilah dari amukannya. Kesibukanku baru-baru ini di dunia modelling hampir menguras waktu senggang bagi hubungan kami.

Tapi Myungsoo, bukan tipe kekasih yang gemar marah berlama-lama pada kekasihnya. Dan aku bersyukur untuk satu itu –terlepas dari bagaimana seringnya ia menjahiliku.

Kereta berhenti di depanku, dan aku lupa ini sudah saatnya aku masuk ke dalam gerbong dari benda-besar-melata tersebut, jika aku tidak mau gagal dalam kontrak iklan ke-3 ku.

Hari ini aku memiliki dua jadwal di dua tempat berbeda. Satu ke kantor untuk menandatangani kontrak iklan dan satu lagi aku ada jadwal pemotretan untuk salah satu majalah. Aku cukup terkenal untuk mengundang mata para mahasiswa di MRT melirik kepadaku dan menyodorkan kertas-kertas untuk kutandatangani. Hebatnya, semuanya laki-laki.

Wanita yang ada di kereta hanya melihatku sinis. Terlebih mereka yang tergolong muda.

Aku menduga mereka penggemar Myungsoo atau apalah.

Bicara mengenai pria itu lagi, aku sedikit kecewa dengan hubungan kami. Pertama, aku tidak mengerti jalan pikiran pria itu. Sebenarnya yang memperkenalkan aku ke duniaku saat ini adalah Myungsoo, namun pagi tadi –dan beberapa kali sebelumnya, ia berbicara ketus tentang betapa tidak sukanya ia dengan duniaku. Tidak berhenti sampai disitu, belakangan ia juga gemar mengomentari bajuku, sepatuku, aksesorisku bahkan merek pakaian dalam yang kupakai.

Aku tidak mengerti, darimana ia tahu semua itu dan bahkan menentukan apa yang pantas dan tidak pantas untukku?

Aku juga memiliki stylist ‘kan. Aku tidak mungkin lupa, seharusnya pria itu juga.

Kedua, Myungsoo sering mengabaikanku. Contoh kecilnya adalah minggu lalu, ketika aku mengabaikan jam kerjaku dan berlarian dalam hujan hanya untuk memenuhi janjiku di sebuah cafe dengannya. Tebak apa? Dia tidak ada di sana, dan dari yang kudengar dari Luhan, Myungsoo sedang asyik dengan dunia bowling –nya. Dan Luhan juga menambahkan kalimat sensitif buatku ‘Yuri, Myungsoo bilang, ia tidak ingin diganggu siapapun. Maaf.’

See?

Pria itu sedikit banyak berubah. Aku seharusnya tahu bahwa pria di dunia ini memiliki kadar keegoisan yang sama. Harusnya aku tidak memilih pria ini sebagai kekasihku!

Tapi apa sih yang Kwon Yuri dapat lakukan untuk ini. Aku sendiri sudah berkomitmen bahwa aku mencintainya dan dia mencintaiku. Seharusnya tidak ada masalah, seharusnya.

Noona, bisa aku minta tanda tanganmu sekali lagi? Ini untuk adikku.” Seorang anak kecil membuyarkan lamunanku. Aku tersadar bahwa aku sedang duduk di kereta dengan dikerumuni oleh banyak orang. Kulihat lelaki muda dengan topi merah di depanku. Dia tidak tampan, matanya terlalu kecil dan bibirnya sedikit maju. Tapi dia terlihat tulus.

“Baiklah. Siapa nama adikmu?” Aku mencoba tersenyum, memperlihatkan sisi terbaikku kepada anak muda tersebut. Ia menyebutkan nama Yoogeun dan aku segera menulisnya di kertas kosong. Tidak lupa aku memberikan note kecil dan tanda tanganku.

“Terima kasih, Noona.” Ucap pria itu senang. Ia berputar, berjalan menjauhiku. Beberapa pria paruh baya dan mahasiswa dengan kacamata tebal yang berdiri di belakangnya kini tersenyum puas. Aku melongok ke barisan dadakan yang terbentuk di depanku begitu saja. Ini menjadi seperti fansign dadakan dan aku tidak menyiapkan mental untuk ini.

Dalam 20 menit, aku harus turun dan pergi ke kantor. Itu rencanaku. Tapi tidak dengan segala keramaian di depanku. Mengabaikan fans akan berarti fatal pula untuk karirku. Aku melayani permintaan tanda-tangan dengan cepat, sebisa yang tanganku lakukan. Sesekali mataku melirik ketika kereta berhenti, waspada kalau-kalau aku terlewat dari stasiun yang seharusnya.

Aku berharap dalam setiap detik yang kulalui, jumlah fans akan semakin berkurang. Namun beberapa penumpang dari stasiun yang baru saja disinggahi, kini ikut mengambil porsi di dalam barisan, membuat aku kehilangan oksigen selama beberapa menit ke depan.

Ini sudah gila, aku tidak tahu kenapa fansku menjadi sebanyak ini. Seharusnya aku menurut saja ketika managerku menawari kendaraan pribadi untukku. Alasan aku menolaknya hanyalah karena aku tidak ingin direpotkan dengan belajar mengemudi dan lainnya.

“Terima kasih sudah sangat berbaik hati…” belum selesai aku bicara, kereta tiba-tiba berhenti. Semua lampunya mati. Jika aku tidak salah intip, kami berada di rel yang notabene berada 15-20 meter di atas tanah. Hanya ada jalan mundur dan maju. Ada juga sih jalan keluar, kalau kau ingin mati konyol.

Dengan refleksnya, kerumunan menjadi riuh, membubarkan diri segera. Aku sedikit bersyukur. Para pria yang tadinya berbaris di depanku kini berpencar. Sebagian besar sih berjalan ke gerbong depan untuk mencari informasi dengan apa yang terjadi.

Sepertinya speaker di dalam kereta juga rusak.

Aku merasa seperti sapi panggang. Ini masih Juni. Siang lumayan terik walaupun biasanya hujan akan turun di sore hari.

Aku mendengar beberapa ibu-ibu berbisik tentang kerusakan mesin atau apalah. Dan kabar baiknya, aku harus merasakan diriku terpanggang di dalam gerbong kereta tanpa AC. Beberapa orang sudah terlihat mengipas leher masing-masing dengan tangannya. Para mahasiswa melepas jaket almamaternya; karyawan dan karyawati melepaskan blazernya. Sedangkan aku?

Apa yang ingin kulepaskan? Kaus polos warna putih dengan kerah V lebar ini maksudmu?

Ya, tentu, jika setelahnya aku berniat menjadi penari telanjang di klub.

Ini gila, aku kepanasan.

Untung kejadian ini tidak berlangsung lama. Ketika akhirnya kereta kembali normal, aku bersandar lemas pada besi-besi dingin di belakang punggungku. Tidak ada kerugian tentang hal buruk barusan kecuali bagian dimana make-up ku akhirnya luntur serta baju putihku yang basah karena keringat.

Sialnya, baju ini mengundang mata nakal dari para pria untuk terus memandangiku dengan penuh nafsu. Aku sekarang bisa menyesal memilih baju ini di antara bajuku yang lain. Seratnya yang kelewat tipis kini makin mempertontonkan tank top yang kupakai ketika bulir-bulir keringat membasahi bagian perut dan punggungku.

Aku jadi tidak nyaman, maka kuputuskan untuk ke toilet sebentar.

Aku berjalan dengan cepat, berusaha memusnahkan pandangan gila dari para pria paruh baya di depanku. Ini sangat memalukan. Harusnya aku mendengarkan Myungsoo.

Aku sampai juga di depan pintu toilet dan sepertinya aku masih harus menunggu beberapa menit karena pintu tersebut tertutup rapat. Aku mendengar suara kran air dan sebagainya dari dalam. Seseorang menggunakan toilet tersebut.

Aku berdiri di depannya sambil memperhatikan pria-pria yang berlalu lalang di antara sambungan kereta. Entah apa maksudnya. Mereka memperhatikanku sesekali kemudian menyeringai lebar. Aku gentar juga.

Ketika akhirnya pintu terbuka dan seorang wanita keluar dengan tergopoh-gopoh, aku masuk ke dalam toilet menggantikannya. Kututup pintu masuknya dengan hati-hati, tidak lupa untuk menguncinya.

Kupandangi wajahku di cermin, lengkap dengan bajuku yang masih basah karena keringat. Berlama-lama di dalam toilet sepertinya bagus juga. Baru 2 menit berlalu saja, aku sudah bisa merasakan bagian basah di punggungku mengering. Pasti karena pendingin ruangan yang ada di pojok toilet ini.

Aku mengetuk-ngetukkan heelsku pada lantai besi dari kereta. Aku masih menunggu waktu untuk mengeringkan bagian depat dari bajuku saja. Kulirik jam tanganku, masih ada waktu sampai 10 menit untuk berada di ruangan itu.

Tiba-tiba saja kereta berhenti kembali dan entah bagaimana pintu toiletku terbuka. Kepalaku terantuk besi yang berada di sisi atas dari daun pintu.

Belum sempat aku mengumpat atau berdecak kesal, kini seseorang menerobos masuk ke dalam toilet dan memegangi kedua tanganku kencang. Aku mengintip dari mataku yang refleks terpejam. Kulihat seorang pria paruh baya yang semula berjalan mondar-mandir kini berada di depanku dengan seringai lebar.

Dengusan napasnya terdengar tidak sehat untukku. Dia mabuk sepertinya.

Tangannya yang kehitaman dan kasar kini membekapku. Aku meronta kuat, kutendang apa yang bisa kakiku sentuh. Tendangan pertama mengenai kakinya dan tendangan kedua sukses mendarat di selangkangannya.

Tapi itu membuatnya murka. Dari awal, aku tahu pria ini memiliki pandangan tidak senonoh untukku. Dan kini, ia bisa melakukan apa saja yang dia mau kalau aku tidak melawan.

Pria itu mencengkram tanganku lebih erat, hingga kurasakan vena menyempit. Ia mencoba melumat bibirku namun tangannya masih menghalangi. Ia sepertinya sadar, sekali saja ia melepaskan tangannya dari mulutku, aku bisa saja berteriak.

Tangan kotor pria itu mendarat di bahuku, menelusuri bahu yang kupertontonkan dari balik kerah V. Aku ingin menangis saja rasanya.

Jauh di dalam otakku, aku hanya berharap Myungsoo ada di sini.

Aku memejamkan mata di saat pintu berdecit. Seorang pria dibalut kaus dan celana pendek berdiri di sana. Ia memandangiku kemudian kepalan tangannya meninju keras pada pria mabuk di depanku. Aku berhasil terlepas dari genggamannya.

Namun rupanya, pria paruh baya itu tidak terima. Ia menerjang sang pria-celana-pendek dengan hantaman yang lumayan keras di perut. Baku hantam tak terelakkan, dan kini mengambil area yang lebih luas ke gerbong depan. Aku memekik.

Kini kerumunan kembali datang di sekelilingku. Bukan untuk meminta tanda-tangan atau berfoto bersama, kerumunan itu memandangi baku hantam yang terjadi tepat di depan kedua mata mereka masing-masing. Beberapa bahkan mengabadikannya dalam jepretan kamera.

Ini buruk. Aku tidak mengenal kedua orang tersebut namun pastinya aku akan dikaitkan jika media mencium hal ini. Oh bukan hanya aku, mungkin Myungsoo, Klise, Perusahaan kedua orangtua Myungsoo, orangtuaku, bahkan seluruh negara ini akan dilibatkan.

Untuk bagian terakhir, mungkin aku berlebihan.

Tapi kembali pada fakta, ini serius. Baku hantam mungkin tidak akan berhenti jika polisi tidak datang dan menghentikkan kedua orang itu. Sang pria mabuk digiring keluar entah kemana, dan aku serta pria-celana-pendek kini bertatap-tatapan sebelum akhirnya kepolisian setempat membawa kami juga.

Perlu kuberitahukan di sini bahwa proses kepolisian ini lebih lama dari yang aku duga sehingga agensiku terpaksa menunda semua jadwalku hari ini. Aku perlu menambahkan juga bahwa Kim, managerku sudah berada di dealer untuk memberiku sebuah mobil.

Aku dinyatakan tidak bersalah. Lagipula siapa yang akan menyalahkan wanita yang sedang mengeringkan baju di toilet kala itu?

Tapi polisi menetapkan aku sebagai saksi ahli. Tugasku hanya menyampaikan kronologi kejadian memalukan beberapa saat yang lalu dengan sejelas-jelasnya dan sebenar-benarnya. Di sini, aku mungkin mengatakan semua sejelas-jelasnya, tapi aku mengabaikan bagian yang ‘sebenar-benarnya’.

Aku mengabaikan bagian dimana pria-celana-pendek memulai bakku hantam pertama kali. Aku bilang bahwa pria mabuk itu yang memulainya. Jauh dalam benakku, mungkin inilah bentuk ucapan ‘terima kasih sudah menolong’ku pada pria-celana-pendek tersebut.

Kini ia bebas, dan berjalan kepadaku di ruang tunggu. Sementara ini, lupakan saja tentang si pria mabuk. Aku menundukkan kepala singkat dan mengucapkan banyak terima kasih dalam bahasa formal padanya.

“Tidak usah seperti itu, Aku sebaya denganmu.” Ucap si pria. Aku tersenyum, “Tapi tetap saja kau asing bagiku. Sudah seharusnya aku menggunakan banmal.”

Pria itu tertawa, kemudian menyodorkan tangannya padaku. “Aku tidak ingin mengatakan namaku Nona Yuri, tapi kau memaksa.” Aku mengangkat salah satu alis dan tersenyum dengan raut ketidakmengertian, “maksudnya?”

“Kau akan tahu bahwa kita bukan orang asing sama sekali, pokoknya hal-hal seperti itu.”

Kini aku membuat mulut berbentuk O tidak sempurna. Aku melipat kedua tanganku di depan dada dan memiringkan kepala 3 derajat. Mungkin terlihat berpikir sekaligus terlihat bodoh.

“Tapi aku yakin tidak pernah mengenalmu.” Kataku.

“Tidak sekarang. Tapi mungkin pernah, dulu sekali.”

“Kau teman lamaku?”

yeah, bisa dibilang seperti itu. Aku baru saja kembali ke Korea beberapa bulan lalu sih. Sebenarnya aku meninggalkanmu, dulu sekali.”

Aku melepaskan tanganku yang sebelumnya kulipat. Kini kedua tangan tersebut serentak menutup mulutku yang mulai melebar. Aku membelalakkan mataku kemudian memekik pelan.

OMO! Jangan katakan kau…” Aku tenggelam dalam luapan kekagetan yang tidak terbendung. Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat karena pria ini menarik tanganku. Kami berjabatan tangan.

“Benar, aku Jung Yonghwa.”

.

.

“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu! Kau… sangat berbeda. Tidak dengan kacamata tebal, rambut belah tengah dan… bekas luka pada pipimu…”

“Aku melakukan operasi besar pada wajahku. Luka itu hilang, tapi efek sampingnya seperti yang kau lihat. Wajahku sedikit berubah.”

Itulah sepenggal obrolan singkatku segera setelah aku dan Yonghwa sampai di cafe paling terdekat dari kantor polisi. Lupakan tentang awak media dan semua fans, karena Kim sudah mengurus semuanya dengan rapih. Aku hanya perlu duduk dan menghabiskan americanoku dengan santai.

“Dan… apa yang membawamu kembali ke Korea?”

“Pesawat.”

ey~~”

Aku mencibir dengan candaan ringannya. Ketika pria ini tersenyum, aku merasakan sejuta sinar mikro terpancar dari setiap kerutan yang ada di wajahnya. Dia tidak setua itu sih, tapi ada kerutan-kerutan kecil yang aneh di sekitar pipinya. Aku tebak, mungkin itu sisa operasi dari bekas luka permanennya.

Kalau aku tidak salah ingat, yang membuat luka di pipi Yonghwa adalah ayahnya sendiri. Yonghwa tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis. Kudengar ayahnya adalah seorang residivis. Mungkin di sekolah dasar kami, dulu sekali, hanya akulah satu-satunya teman baik untuk pria ini.

Kami berbagi bekal makan siang, berbagi ilmu dan berbagi cerita.

“Serius. Apa yang membawamu kembali ke Korea? Bukankah kau sudah menjadi pengusaha di Chicago?”

Yonghwa tertawa mendengar pertanyaanku. Aku tidak aneh sih, aku hanya menerka-nerka sekaligus menggodanya. “Pengusaha katamu? Aku setuju jika menjadi fotografer adalah kriteria dari pengusaha.”

“Kau seorang fotografer?” Kali ini boleh giliran aku yang tertawa. Tidak pernah terbayangkan jika pria kuno ini bahkan mengenal yang namanya kamera. Aku ingat satu scene dahulu sekali, dimana Yonghwa menangis minta bantuanku karena tidak mengerti cara membuka buah kaleng. Dan sekarang ia muncul di hadapanku dengan gaya yang stylish sambil membual bagaimana ia menjadi fotografer. Ini lucu.

“Kau tidak percaya padaku?” Tanyanya, aku mengangguk tanpa ragu. “Aku tidak membawa kameraku saat ini…” Aku mengetukkan jari-jariku di atas meja kayu. Pikiranku serta merta mengatakan bahwa pria ini memang benar membual, “…tapi aku harusnya bertemu denganmu siang ini di pemotretan majalah. Sayangnya karena urusan sialan tadi, kita malah terjebak dalam cafe ini.”

“Jadi kau yang disebut-sebut sebagai fotografer baru majalah Y?”

“Ya. Nona Kim, managermu itu saja tahu kok.”

Whoa.”

Aku mengangguk-anggukan kepala. Yonghwa tersenyum kemudian mendongak pada televisi yang berada di dinding. “Kau masuk berita tuh.” Ucapnya.

Aku menoleh ke arah televisi dan melihat adegan baku hantam lengkap dengan wajah ketakutan yang aku tunjukkan. Tanpa menunggu beritanya selesai, aku sudah terhubung dengan ponsel milik managerku.

Unnie, kau bilang ini tidak sampai muncul di media elektronik?”

“Aku sudah melakukan yang terbaik.” Ucapnya singkat. Kemudian hubungan komunikasi tersebut terputus. Aku mengeluh. Kalau media sudah menyiarkan ini berarti… tidak lama lagi…

Ponselku berbunyi kembali dan aku mendesah melihat nama yang muncul di layarnya. Aku tahu ini akan menjadi lebih buruk jika aku tidak mengangkat panggilan tersebut. Tapi aku sedang tidak ingin.

Kubiarkan nama Kim Myungsoo menyala-nyala di ponselku. Aku tidak memandanginya lagi. But Yonghwa did.

“Kekasihmu menelepon, kau tidak mau menerimanya?”

“Biarkan saja, paling-paling dia ingin memarahiku.”

“Kalian sedang berada dalam masalah ya?”

“Tidak juga sih. Entahlah. Lupakan tentang Myungsoo, mari kita bahas pekerjaanmu.” Aku menarik gagang dari cangkir kecil di dekatku kemudian meminum americano di dalamnya perlahan.

“Tidak ada yang menarik dari kehidupanku kecuali bagian dimana aku melihatmu di internet, bersama idol.”

Yuri tersenyum tipis. Dilihatnya dari jauh kerumunan yang semakin padat di luar cafe. “Itu ada apa sih?” Mata Yuri mencoba mendapatkan penjelasan. Nona Kim, managernya kini masuk ke dalam cafe dengan tergesa-gesa, menghampiri Yuri.

“Wartawan tahu kau di sini, Yuri.” well, itu tidak terdengar baik buatku. Jadi aku menyetujui usulan Kim agar segera pergi dari cafe itu, meninggalkan Yonghwa. Sedetik sebelumnya, aku sudah memberikan nomor ponselku padanya. Jadi, aku tetap bisa akan bertemu dengannya suatu saat.

.

.

Aku baru selesai mandi. Aku tidak tahu disebut dengan istilah apa mandi jam 2 siang. Seperti biasa, aku duduk di depan cermin dengan pakaian lengkap dan rambut yang masih basah. Tanganku menggapai hair dryer yang tergeletak di pusat meja rias.

Suara bising dari benda itu kini memenuhi telingaku. Aku mencoba rileks dan memberi sugesti bahwa semua yang baru saja terjadi, hanya mimpi. Ah, kecuali bagian aku bertemu Yonghwa.

Aku memberi nomor ponselku padanya, tapi aku lupa bertanya miliknya. Kadang setiap kali kupandangi layar ponsel yang menyala-nyala, kupikir itu pesan singkat dari Yonghwa atau apalah.

Setelah beres dengan rambutku, aku berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Jiyong oppa memicing. Aku sadar bahwa tepat ketika aku pulang ke rumah beberapa menit yang lalu, aku mengabaikan pertanyaan khawatirnya.

“Sudah kubilang kau membutuhkan kendaraan.” Jiyong menasihatiku, dengan nada omelan yang kental. Ibuku memilih diam dan sesekali berdeham ketika aku hanya memandangi makanan yang ia sajikan.

“Ya, maafkan aku. Lain kali aku akan mendengarkan nasihatmu.” Kataku.

“Bagaimana Myungsoo?” Jiyong oppa mengalihkan pembicaraan. Mood ku jadi naik-turun.

“ ’kan yang terlibat musibah aku, bukan Myungsoo.” Kataku lagi. Jiyong kini menaruh sendok di atas piring kosongnya dan mendorong keduanya menjauh dari siku-sikunya. “Aku tahu kau mengerti bahwa bukan itu yang kumaksudkan.”

Aku memutar-mutar lidahku di dalam mulut. Kutelan beberapa potongan sawi hijau masak pedas dengan segera kemudian mengambil beberapa tegukan air putih. Aku menarik dan mengeluarkan napas beberapa kali, sebagai persiapan mental.

“Dia meneleponku tadi siang.” Kataku.

“Dan kau tidak mengangkatnya?” Jiyong oppa menyelidik. Aku tidak bisa bohong. Kukatakan ya dengan ragu, “sudah kuduga. Jadi masuk akal ia mencoba menghubungiku tadi siang. Untung saja ponselku ada pada Dara. Sebenarnya apa sih yang terjadi di antara kalian?”

Dipanah oleh pertanyaan seperti itu, aku bingung juga. Sebenarnya kami baik-baik saja. Mungkin hanya aku, atau hanya Myungsoo, atau hubungan ini yang salah. Entahlah. Aku hanya merasa aku dan Myungsoo berada pada titik jenuh. Kami adalah sepasang kekasih, namun jarang bertemu, jarang mengobrol dan selalu terlibat skandal. Kurang lengkap apa?

“Dia sebenarnya peduli padamu, Yuri. Dia hanya tidak memiliki banyak waktu untuk menunjukkannya padamu.”

“Terserahlah, aku juga tidak akan memohon perhatian padanya kok.” Ucapku. Aku menyendokkan satu lagi suapan kecil dari sawi di mulutku. Piringku belum kosong, tapi rasa laparku sudah hilang. Jiyong oppa hanya menggeleng kecil ketika aku kembali ke kamar tanpa pamit.

Aku merebahkan tubuhku di antara bantal-bantal yang empuk. Kupandangi langit-langit kamar kebiruanku. Lalu foto besar milik Myungsoo yang terpajang di langit-langit kini mengganggu pikiranku.

Siapa sih yang memasang foto itu di atas sana, aku mengumpat. Namun ketika sadar bahwa aku sendiri yang memasangnya di sana dengan bantuan Jiyong, aku menjadi kesal sendiri.

Perasaanku sedikit labil. Tidak tahulah! Aku tidak mau ambil pusing, aku pergi tidur saja. Pikirku.

Namun tiba-tiba decitan pintu terdengar. Aku mendengar suara terengah-engah kemudian derap langkah cepat. Oh, ditambah lagi tangan-tangan yang kini mengangkatku dari tidur dan mendekapku erat.

Myungsoo di sini. Peluhnya menetes dari dahi dan seluruh tubuhnya. Ia masih mengenakan tuxedo hitam dan sepatu mengilat. Aku bisa menebak, ia kabur dari jadwal –lagi.

Namun begitu, aku tidak berbicara apapun padanya. Tangannya masih mendekap tubuhku erat. Kudengar suara jantungnya yang masih tidak beraturan. Napasnya tersengal kemudian peluhnya menetes lagi, kali ini ke wajahku. Tepat saat ia melepaskan pelukannya dan menatap kedua manikku erat.

“Kau…” Nada awal bicaranya begitu tinggi. Aku jadi berpikir pasti dia akan memarahiku seperti yang biasa ia lakukan. Di tengah itu, aku memejamkan mataku kuat-kuat, “…baik-baik saja, Yuri?”

Malaikat mana yang lewat tiba-tiba? Myungsoo tidak memarahiku. Sebaliknya, saat kubuka mataku dan kutatap balik kedua bola matanya, tersirat kekhawatiran yang begitu sangat. Aku membacanya.

“Kau mengkhawatirkanku?” tanyaku tidak percaya.

“Tentu. Kau kekasihku!” Jawabnya, sedikit menggunakan pita suaranya kencang. “Pria mana yang ingin kekasihnya disentuh pria lain, huh? Atau kau memang senang disentuh pria mabuk?”

“tidak, tidak, tidak. Tentu saja tidak, tapi ‘kan… biasanya…. kau…”

“Pokoknya kau yang nomor satu. Jangan berburuk sangka padaku.”

“Meskipun jadwalmu berantakan karena aku?”

Hey, siapa yang peduli pada jadwal.” Kali ini Myungsoo tersenyum manis padaku. Aku begitu tersentuh mendengar kata-katanya. Yah, aku memang wanita yang begitu lemah soal perasaan. Aku menyentil dahinya di saat ia mulai menggelitik pinggangku.

Aku tergelak dalam tawa dan menendang-nendang kecil pada tubuhnya. Saat mata kami bertemu begitu dekat, aku kembali merasakan sentuhan di bibirku.

Kali ini bukan apel, mungkin sedikit mint dan … coklat?

“Kau makan coklat?” tanyaku, “kupikir kau tidak pernah menyukainya.”

“Sedikit.” Katanya, kemudian rasa coklat itu kembali terasa di lidahku. Mungkin tidak akan berhenti sampai 5 menit ke depan, entahlah.

Myungsoo memang pria yang manis dan aku tidak salah mencintainya.

.

.

 .TBC.

.

.

A/N

Well, maaf buat keterlambatannya. Melihat animo yang begitu tinggi, jadi saya gak enak sendiri untuk menahan draft ini lama-lama di komputer.

Enjoy ya. RCL juga.

126 thoughts on “KLISE : Unstoppable [Part 1]

  1. kwonsy berkata:

    okayy, sukaa banget nih. apalagi yang pas myungsoo bela-belain datang cuma buat lihat Yuri baik-baik aja atau nggak. aseek ah~ tp partnya agak pendek yah eon?
    okaay, sekarang aku beralih ke part 2 duluuu

  2. Tansa berkata:

    Ih aku envy banget hahaha
    Keren keren ceritanya hahaha apalagi ada Yonghwa hmm jadi makin penasaran dengan cerita selanjutnya

  3. nana berkata:

    kya ada orang bru yah dan ini trnyta masa lalu yul eon.
    Yah semga yul eon dang myungso baik2 aja.
    Meskpn ada orang bru dalam percintaan mereka.
    Hwaiting

  4. sabrinageani berkata:

    eon, ini ff daebak banget nih min, gk tau lagi mau comment apa. oh iya min aku new reader disini🙂

  5. bebink berkata:

    maaf eonni baru sempat baca cerita ini. so sweet sekaliii aw aw aw. mau banget punya pacar kaya myungsoo kkkkk. ternyata yonghwa temen kecil yuri ya hmmmm i see i see. oke semangat nulis ya eonni. hwaitiiiing

  6. Jia Jung berkata:

    Aiiissshhh,, Yul muna jg nih..
    Marah2 tp padahal ngarep juga..
    Myungsoo gentle bgt,, ngebayangin dia dtg pakai tuxedo + sepatu mengkilap keringetan abis lari2an..
    Trus Yong gmn nih??

    Jia Jung

  7. minyul generation berkata:

    So sweet bgt myungsoo a,,
    Bela2in kabur dari jadwal cuma mw nanya yuri doang,,
    Siip deh,, next chapter eonnie

  8. Bintang Virgo berkata:

    wah…
    myungsoonya sangat teramat gentle dan mainly…
    wah kayaknya bakalan ada love triangle nih..

  9. Lulu Kwon Eun G berkata:

    waduhh ad orang ke 3 nih… ah seru..seru…
    jd bayangin hub aq sndri ahaha sssstt
    tp yuleon cuplis jgn hianatin myungsoo yah!

  10. kimchikai berkata:

    Ngeri bngd bayangin yuri di sentuh om2 mabuk, andwae! untung ada yonghwa yg nolongin.. myungsu sama yuri ini egonya pada tinggi kayaknya ya.. Tapi tetep manis sih moment mereka, apalagi pas tbcnya..

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s