Eyes Open – From Exoyul Series

11. Eyes Open

“I Miss the old days when we were all friends”

.

.

|Tittle : Eyes Open | Cast (s) : Kim Jongin {EXO}, Kwon Yuri {SNSD}, Bunch of Ocs |

| Genre : Action, Friendship, Romance, AU, Political, Thriller |

| Rating : PG-15 | Length : One-Shot |

.

.

I only own idea and plot, Song own by Taylor Swift. No Plagiarism.

.

.

Jalanan Pennsylvania Avenue seharusnya padat dengan orang-orang yang berlalu lalang membawa bendera serta terompet-terompet kebangsaan yang berjajar rapi di atas bak-bak mobil pick-up. Seharusnya ada juga mobil-mobil karnaval yang membawa beberapa orang dengan berbagai kostum unik melakukan pawai di sepanjang jalan tersebut hingga ke depan Gedung Putih.

Aku berada di salah satu bangunan dengan peluh menetes-netes. Di luar masih ramai dan padat, tapi bukan karena pawai yang seharusnya dihelat pada tengah hari ini. Alasan sebenarnya terletak pada jajaran pria berhelm hitam dengan kelengkapan material perang di tangannya. Mereka bersenjata, sebagian membawa laras panjang dan sisanya menunggu di mobil-mobil besar dengan meriam yang siap diluncurkan kapan saja.

Mereka bagian dari Partai A. Tidak suka gejolak politik yang ditimbulkan masyarakat luas terhadap pemerintahan salah seorang pejabat penting dari Partai A, kini mereka menimbulkan huru-hara pembalasan.

Korbannya, masyarakat luas –termasuk aku.

“Target terkunci, menunggu perintahmu, Kai.” Kudengar suara berisik di earphone nirkabel yang kupakai. Handsetnya sendiri sebenarnya berada di kantung celana belakangku dengan bentuk menyerupai pager. Aku tidak langsung menjawab, kuedarkan pandangan hati-hati ke seluruh jalanan penuh di depan gedung putih. Lalu saat mataku menangkap beberapa orang yang berseragam kebiruan tua sama denganku di atas gedung putih dengan granat yang membidik tepat pada salah satu mobil dengan meriam, aku tersenyum. Kataku, “dalam hitungan ketiga, George.”

Aku menyumbat telingaku dengan jari-jari saat suara ledakan besar dan jeritan berbaur di dalam kerumunan. Tembakan demi tembakan membabi-buta ke segala arah. Beberapa peluru bersarang di tubuh kawan-kawanku dan beberapa terbang bebas ke masyarakat sipil. Kacau.

Aku memerintahkan polisi yang tersisa untuk ikut bersamaku. FBI dan CIA telah aku tinggalkan dalam beberapa jam yang lalu karena ketidaksepahaman yang kami miliki. Aku terkejut saat mereka katakan perang seperti ini kadang diperlukan untuk stabilisasi pemerintahan yang baru. Aku tidak setuju. Pemerintahan yang baru tidak butuh menyusutnya angka penduduk, bukan?

Ini tindakan non-kemanusiaan, merenggut hak hidup manusia.

Tubuhku berguling di atas aspal ketika seseorang gigih menembakiku. Aku merunduk dan menghindar kemudian bersembunyi di balik tong-tong bahan bakar. Tanpa diberitahu, aku yakin diriku berada dalam bahaya, jika saja sang penembak melemparkan granat atau melepaskan satu timah panas ke permukaan tong-tong ini.

Suara dor singkat kudengar, aku menjauh dari tong dengan merangkak. Kupegangi kepalaku seperti ia akan jatuh kapan saja. Namun yang kudengar selanjutnya adalah suara derap langkah cepat. “Berdiri dan selesaikan tugasmu, pecundang.”

“Bill?” kataku, “kau menolongku?”

Aku terdengar menyedihkan ya? tapi bagaimana lagi, Bill adalah teman terdekatku setelah George. Bertemu dengannya hidup-hidup dalam medan perang serta kenyataan bahwa ia menolongku itu mukjizat. Sebagai informasi, Bill adalah salah satu anggota militer wanita dari Partai A yang saat ini mengamuk. Jadi ketika ia membantuku, yang jelas-jelas musuhnya, aku terharu. Bill tidak pernah melupakan aku sebagai teman kecilnya.

“Tidak tahu, angaplah begitu. Jadi, Kai, bisa kau katakan dimana George saat ini?”

Satu lagi, Bill juga tidak pernah melupakan George sebagai kekasih pertamanya. “Dia di atas Gedung Putih.” Kataku, disusul picingan mata pedas dari Bill.

“Kau yang memerintahkannya ke sana?” Bill menghela napas panjang kemudian berjongkok bersamaku, “Itu kuburan baginya. Kau tahu?”

Aku menautkan kedua alisku menjadi satu kemudian mengangkat bokong beratku untuk berdiri. Bill mendongak dan memutuskan untuk berdiri bersamaku. Aku berlari membawa tangannya ketika sebuah peluru melesat di atas ubun-ubunku. Hampir.

“Sebaiknya cari tempat aman untuk bicara” saran Bill. Kemudian yang aku tahu, kami berlari kencang. Berguling, bersembunyi kemudian merangkak. Aku sudah dua kali mengisi ulang peluruku, Bill 3 kali. Kami kepayahan beberapa kali kemudian tertatih di balik kayu-kayu lapuk.

“Di sini cukup aman,” Bill berujar, aku melihat kepulan asap masuk dari jendela yang terbuka dalam rumah bata yang kami tempati. Bill memutar bola matanya, “Oh, tidak juga.” Kami berlari lagi.

Kami semakin menjauh dari gedung putih yang sibuk dengan serangan.  Bill memutar tubuhnya kemudian menembaki beberapa orang yang mengejar kami dengan serangan peluru beruntun. Teriakan tak terelakkan kemudian menembus telingaku saat Bill berbalik kembali dan berlari bersamaku, aku sadar bahwa ada yang salah dengan kaki kanannya.

“Kau tertembak.” Kataku, mencoba memperlambat gerakan lariku.

“aku tahu, masuk ke sana!” perintah Bill.  Telunjuknya yang teracung membimbingku masuk ke dalam sebuah gorong-gorong besar yang baunya minta ampun. Kurasa kami cukup aman di sini mengingat tidak ada derap langkah ataupun peluru nyasar yang hendak menghakimi kami. Bill terduduk di salah satu semen mengeras, memperhatikan riak air selokan.

Gadis itu mencabut sebuah pisau dari kantung celana kanannya dan merobek kaus hitam yang ia pakai. Mata pisau tadi selanjutnya berada di tumit kaki kanannya. Aku tidak melihatnya tapi aku tahu ia berusaha mencongkel peluru yang bersarang di tumitnya dengan mata pisau.

Saat aku kembali memusatkan perhatianku pada Bill, gadis itu sudah melilitkan kain robekan bajunya pada luka di tumit kanannya. “Jadi George masih berada di gedung itu atas perintah kau?”

“Bukan, dia sendiri yang menawarkan diri ke atas sana.” Jawabku, Bill memulai kembali topik George. “Tapi kau menyetujuinya, bukan?”

Aku menelan ludah. Kalimat ‘Ya, tapi bawalah dua orang lagi bersamamu’ milikku yang aku ucapkan pada George, masih terngiang di telingaku. “Apa yang salah?”, tanyaku.

Pertanyaanku tidak langsung dijawab oleh Bill. Ia memutar malas bola matanya kemudian ia menatapku. “Itu kuburan baginya. Kau tidak tahu apa yang sedang terjadi di gedung itu.”

“Memangnya apa? hanya pejabat yang bersembunyi dari kekacauan, bukan?”

“Tadinya.” Kata Bill. Aku berdiri, tidak tahan dengan suasana yang dibuat oleh Bill, seolah semuanya aku yang salah, seolah George akan mati saja. “Mereka membunuh para petinggi itu di dalam sana.”

Mereka? maksudmu Kau dan para anarkis partaimu?”

Mereka, para pengkhianat Partai A. Si komunitas non-blok yang menginginkan negara tanpa pemimpin. Mereka menyerangku, menyerangmu dan menyerang penduduk sipil. Begini Kai, George sepertinya tidak tahu keadaan ini melihat dari tampang bodohmu, aku menyesal mengatakan bahwa aku masih mencintai pria brengsek itu. Jadi, kita harus kesana, menyelamatkannya.”

“Tunggu, apa kau pikir aku percaya padamu?, maksudku, kita musuh. Bisa saja kau menjebakku di tengah jalan atau apalah.” Aku gelagapan di akhir kalimatku saat manik mata Bill memicing tajam. Kemudian ia tertawa melecehkan, “jabatanmu belum cukup tinggi untuk mati di tanganku atau di tangan para pemberontak,” katanya.

Ia memalingkan wajahnya dari mataku kemudian menatap lurus ke depan, ke satu-satunya pusat cahaya di gorong-gorong, “lagipula, kita pernah berteman, bukan?”

.

.

©bapkyr

.

.

Dengan keajaiban akses dan kemampuan bertarung luar biasa dari aku dan Bill, aku berhasil menyusup ke dalam gedung putih. Bukannya melebih-lebihkan kemampuan kami, tapi siapa sih yang mampu melawan ratusan senjata teracung dalam barikade ketat dari pemberontak?

Kini kami berada di dalam gedung putih dan seketika aku menjadi clueless. Kalimat Bill yang mengatakan bahwa kami harus menyelamatkan George terdengar janggal. Lagipula, aku tidak melihat kawanan non-blok yang diceritakan olehnya. Aku mengendus hal tidak wajar di sini.

“Sebenarnya kita menyelamatkan George dari apa, lebih tepatnya?”

“Komunitas non-blok.” Katanya. Kepalaku kini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal, karena sejak aku menginjakan kaki di gedung putih menit-menit yang lalu hingga aku berlari di sepanjang koridor saat ini, tidak satupun gerakan aneh kutemukan. Maksudku, aku tidak melihat sekelompok orang berjaga di tiap pintu dengan senjata di tangannya atau apa. Ini terkesan senyap dan mencekam. “Dan sebenarnya mereka apa?” kataku, “hantu?”

Suara gemerincing seperti kunci beradu terdengar dari jauh. Bill mengajakku bersembunyi di balik sebuah pintu bercat putih yang paling dekat dengan posisi kami saat ini. Suara ketukan di lantai keramik terdengar, sialnya, semakin nyaring.

Bill menarikku semakin dalam ke ruangan di balik pintu kemudian menutup rapat pintu itu. Tapi dari celah kecil di bawah pintu, aku bisa melihat sepasang sepatu boots wanita berayun menjauh. Ada rantai-rantai kecil di sekitaran sepatunya dan aku sadar bahwa itu bukan suara gemerincing kunci.

Perlu aku jelaskan juga bahwa tepat setelah boots tersebut lewat di celah kayu, ada seonggok tubuh berjas hitam dengan dasi menjuntai ke atas lantai diseret. Kemudian, Bill mencengkram lenganku keras-keras ketika ia melihat potongan jari yang terlepas dari si tubuh terseret tersebut.

Dalam beberapa menit ke depan, kami terpaku dalam diam, tidak bersuara bahkan menahan napas kami untuk alasan tidak jelas. Ketika manik mata aku dan Bill bertemu, ia berkata, “kuharap itu bukan George.”

Aku mengulas senyum seadanya dan menepuk pundak gadis itu. “George mengenakan seragam biru, bukan jas perlente seperti itu. Apalagi dengan dasi,” kataku. “dan jarinya juga tidak segendut itu.”

Bill mengangguk.

“Apa itu salah seorang dari komunitas non-blok?” tanyaku. Kali ini Bill menggeleng. Kupikir ada komunitas lain selain non-blok yang ia sebutkan tadi di dalam gedung ini. tapi katanya, “dialah satu-satunya yang tersisa dari komunitas non-blok, yang paling kejam dan paling berbahaya. Dia musuh terbesar siapapun dalam gedung ini. Dan lagi, kau tidak akan membayangkan seperti apa dia akan membunuh George dengan tangannya.”

“Apa salah George? Dia tidak menyerang siapapun kecuali dia terdesak atau aku memerintahkannya. Lagipula, George bukan pejabat. Untuk apa dia dibunuh?”

Ekspresi Bill ragu, ia terlihat menimbang-nimbang. “Karena George meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu.” Katanya. Aku tetap tidak mengerti. “jadi si wanita itu mengenal George?”

“dengan baik” tambah Bill. “Bukan hanya George, dia juga mengenalku, bahkan kau. Dengar Kai, tidak semua hal-hal dapat dijelaskan melalui kata-kata, kau harus melihat fakta kemudian menyimpulkan semuanya sendiri,”

Kalimat Bill menggantung di udara saat kudengar ketukan Boots  kini lewat kembali di balik celah pintu. Bill memproduksi lebih banyak peluh dari terakhir kali aku melihatnya. Suara-suara nyanyian rendah yang keluar dengan menyeramkan dari bibir sang wanita misterius di balik pintu, membuat kudukku merinding.

Suara itu muncul dengan lamat-lamat hingga terdengar nyaring. Hanya sebuah nyanyian parau. Kutajamkan pendengaranku hingga aku bisa menangkap liriknya dengan jelas. Seketika aku menatap Bill yang mulai menangis.

“Pembunuh ini…” kataku, membiarkan tangisan Bill pecah dalam kesunyian. Ia mengangguk kemudian memalingkan wajah sendunya dariku.

The tricky thing
Is yesterday we were just children
Playing soldiers
Just pretending
Dreaming dreams with happy endings
In backyards, winning battles with our wooden swords
But now we’ve stepped into a cruel world
Where everybody stands and keeps score

“Nona cengeng yang sangat menyukaimu, Itu dia , Kai. Dia Yuri-mu.”

.

.

©bapkyr

.

.

Ketika aku mendengar nama Yuri disebut, aku telah menyetujui ingatanku untuk bergulir ke hari-hari lampau sementara langkah kakiku berpacu hebat dengan waktu.

Hari-hari lampau itu adalah masa kanak-kanak. Aku hidup di panti asuhan, bersama-sama dengan Bill, George serta Yuri. George dan Bill adalah American. Mereka hidup sebagai bagian dari penduduk dengan kebudayaan Amerika yang kental, kontras denganku ataupun Yuri.

Di dalam komunitas kecil kami sendiri, aku dan Yuri adalah satu-satunya orang Asia di sana. Tidak heran jika lambat laun ada perasaan saling membutuhkan yang lebih erat di antara kami. Kuakui, dia memang cantik. Kulitnya menyerupai warna buah sawo yang matang. Tidak jauh berbeda denganku.

Beberapa kulit hitam dari panti mengatakan kulit kami eksotis. Dan aku menyukainya.

Aku, Bill, Yuri dan George kemudian menjadi sahabat. Latar belakang kami yang sama, adalah alasannya. Kedua orang tua Bill dan George disinyalir tewas dalam kasus terorisme di World Trade Center, Yuri kehilangan kedua orangtuanya akibat peluru nyasar dari sebuah kasus demo politik anarkis di dekat pemukimannya di Virginia, sedangkan aku hanya bernasib buruk dengan seorang ayah tunggal yang ditembak mati karena kasus politik.

Kasus itu mengerucut dalam simpul pemahaman baru di kepala kami. Bahwa, politik dan perangkat yang bergerak di dalamnya adalah taboo bagi kami. Mereka adalah musuh nyata yang harus kami perangi. Tidak terkecuali para tentara, pegawai pemerintahan dan segenap kepala yang pro terhadap kebijakan politik yang ada.

Semuanya baik-baik saja sampai George, aku dan Bill melunak terhadap kesimpulan kuno itu. Bill adalah orang pertama yang meninggalkan panti dan mengejar cita-citanya untuk menjadi tentara wanita demi mengusung kebenaran yang ia pegang. Bill saat itu mengatakan bahwa membenci pemerintah tidak akan berdampak apapun jika tidak dimulai dengan tindakan. Bill memilih jalannya untuk mencoba memperbaiki sistem yang salah dari sisi kemiliteran.

George adalah yang kedua. Dengan alibi yang sama dengan Bill, ia mulai meninggalkan panti. Ia bertekad untuk menjadi polisi dan mengabdikan tenaganya demii warga sipil tak bersalah. Katanya, aksi terorisme adalah tujuannya. Dia harus mencegahnya apapun yang terjadi.

Tinggal aku dan Yuri. Namun aku meninggalkannya juga.

Saat itu aku berpikir bahwa Bill dan George sebenarnya tidak salah. Apa yang kami lakukan selama bertahun-tahun dengan membenci pemerintah dan perangkat politik di dalamnya, tidak akan membuat orang-orang yang kita sayangi kembali.

Aku mencoba menyampaikan kalimat terbaik sebagai penjelasan masuk akal untuk Yuri. Namun gadis itu enggan menyerap kalimatku. Ia mengatakan bahwa bergabung dengan pemerintah sama saja dengan bunuh diri dan bentuk pengkhianatan bagi para orang tua kami.

Tapi akhirnya, aku meninggalkannya juga.

Dan hari ini, mungkin adalah pertemuan pertama kami setelah 17 tahun berlalu. Dengan Bill, aku sudah beberapa kali bertemu dalam latihan gabungan antara tentara dan polisi. Tapi dengan Yuri, aku belum pernah lagi bertemu dengannya sejak panti itu dihancurkan karena masalah dana.

Bill, George dan aku tidak pernah tahu kemana Yuri menghilang.

Aku sudah melakukan yang terbaik untuk mencari keberadaan gadis itu, tapi di seluruh data penduduk di Amerika, aku tidak menemukan satupun data tentang Yuri. Gilanya, bahkan aku sempat mengira bahwa Yuri adalah teman halusinasi kami saja.

“Lihat, itu George.” Bill berbisik dan aku menghentikan langkahku. Bersembunyi di balik beberapa patung pajangan di sepanjang lorong adalah satu-satunya pilihan. George ada di ujung lorong terbuka dengan kaki dan tangan terikat pada sebuah kursi kayu. Kedua orang yang kukenali sebagai bawahanku, kini menggelepar dengan leher  tercabik benda tajam. Darahnya mencuat ke atas bagai air mancur.

George bisa melihat kami dan kami bisa menangkap ketakutan dalam matanya. Bill keluar dari persembunyian.

Aku sudah melarangnya, namun rasa cintanya pada George lebih besar daripada suaraku.

Aku masih bersembunyi di balik patung-patung. Bill berlari dan memeluk tubuh ringkih George, seperti telenovela saja.

Lalu dari salah satu pintu di tengah lorong tersebut, keluarlah sosok wanita yang tidak kukenali. Rambut hitamnya tergerai panjang hingga bagian betis. Rambut itu benar-benar lurus dan benar-benar hitam legam. Wanita itu memakai masker berwarna hitam, lengkap dengan sepatu boots berantai dan kuku-kuku panjang yang di cat hitam.

Matanya kebiruan saat aku menangkapnya sekilas. Ia memiliki poni lurus di dahinya seperti tokoh kartun. Baju ketat hitam yang dipakainya mengingatkan aku pada catwoman.

“Halo, Bill.” Wanita tadi melepaskan maskernya. Ia menoleh pada Bill kemudian menatap ke arah patung-patung, “Halo juga, Kai. Lama tak bertemu ya?”

Dia menemukanku. Entah sejak kapan.

Aku keluar dari persembunyianku dan berdiri di belakang punggung gadis itu. Yuri berdiri menyamping hingga aku bisa melihat hidungnya yang bertambah bangir. Bill di sisi lain dariku kini sudah mulai membuat George berdiri di sampingnya entah sejak kapan.

Dilihat dari tangan George yang selalu memegangi dadanya, kurasa ada sesuatu yang parah terjadi sebelum aku dan Bill datang.

“Kalian tidak tahu betapa aku merindukan kalian,” Kata Yuri. tubuhnya bersandar pada tembok di belakangnya kemudian jemarinya memainkan senjata laras pendek. Ia memutar-mutar benda itu di depan perutnya, “dan aku berani bertaruh kalian juga merindukanku.”

Aku gatal untuk tidak berbicara, “Dengar Yuri, yang kau lakukan kali ini benar-benar,”

“Salah?” lanjutnya, ia terkekeh lalu berkata, “Lucu! Kalianlah yang lebih salah. Apa menurutmu berperang di tengah jalan dan mencelakai warga sipil demi kepentingan politik para pejabat itu benar? Kalau kalian benci terhadap pandangan politik tertentu, kenapa harus massa yang bertindak? Kenapa kau tidak cabut saja akarnya?”

Picik. Itu yang kudapat setelah mendengarkan Yuri. Gadis yang selalu menangis di pundakku dulu, kini berubah menjadi kejam.

“Tapi membunuh bukan penyelesaian, ada tempat yang lebih baik untuk mengadili mereka,” kata Bill. Namun sepertiku, kata-katanya menggantung di udara, dipotong secara tajam oleh Yuri.

“Tidak ada Bill, tempat terbaik bagi mereka adalah neraka.”

.

.

©bapkyr

.

.

Yuri menyerang Bill ketika selongsong peluru dari moncong senapan Bill berhasil ia hindari. Aku berguling di lantai dan memegangi senjataku erat kalau-kalau ia dibutuhkan. George mencoba berlari dan menyelamatkan diri namun tendangan keras dari tungkai kaki Yuri membuatnya jatuh tergeletak di atas lantai.

Bill melihatnya sekilas dan menjambak keras rambut dari Yuri, ia memutar kepala gadis itu sekuat tenaga hingga keduanya memantul keras pada dinding.

Aku mendengar kata cih singkat dari mulut Yuri kemudian ia mengeluarkan sebilah pisau tajam dari saku belakangnya. Aku berlari dan menggunakan kesempatan itu untuk menarik George dari area merah.

Kupikir Yuri akan menusuk perut Bill dengan senjata tajamnya jadi aku menembakkan sebuah peluru ke bahu kirinya. Tepat ketika selongsong timah panas itu mendarat dan bersarang di bahu kiri Yuri, Bill terhempas jatuh ke depan dengan potongan panjang rambut Yuri yang terlepas dari kepalanya.

Aku salah, Yuri hanya menggunakan pisau untuk memotong rambutnya agar lepas dari jambakan Bill, bukan melukai Bill.

Kali ini Yuri memegangi bahunya yang kram. Ia mencongkel peluru dari sana dan mempertontonkannya pada mereka yang terkulai di atas lantai.

Yuri menyeringai, siapapun bisa membaca ekspresi kesakitan dari wajahnya, tapi ia mengulas senyum cerah. Ketika bunyi nyaring dari benda besi kecil tersebut beradu dengan kerasnya lantai, Yuri tertawa lebar.

Tertawa hingga kerongkongan merahnya terlihat.

Ia memegangi bahunya yang masih mengeluarkan darah segar, sesekali ia memandangi George dan Bill, tapi lebih sering matanya memicing padaku.

“Kupikir kita teman, Kai,” helaian demi helaian rambut hitam panjang milik Yuri kini terjatuh di atas tanah. Yuri memegangi rambutnya yang memendek sebahu kemudian melirik pada potongan rambut panjangnya di tangan Bill, “aku hanya memotong rambutku, Kai. Apa itu terlihat berbahaya untukmu?”

Tidak, tentu saja. Gumamku. Namun dari apa yang sudah kulakukan barusan, aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata itu. Segalanya seperti tertahan dalam ujung lidahku. Kelu.

Kemudian Yuri melepaskan tangannya dari bahu, ia menenteng pisau tajam dan melemparkannya di udara seperti kapas. Ketika bunyi berkelontang terdengar, maniknya tertahan pada mataku.

Aku mengartikan pandangannya dengan seksama namun mata gadis itu penuh dengan air yang menggenang. Air itu tidak pernah surut, malah meleleh dari pelupuk matanya, menghujani pipinya.

“Kurasa, kita memang bukan teman lagi.”

Gerakan Yuri yang merebut senjata apiku dengan tiba-tiba mampu membuat aku terpental beberapa meter ke belakang dan menabrak patung serta pajangan hingga oleng. Ia mengacungkan senjatanya di udara dan menembakkan beberapa peluru.

“Jika bukan teman, maka kita musuh.” Yuri mencoba menembaki tumit George yang berada paling dekat dengan tempatnya berdiri. Satu peluru berhasil bersarang dan membuat George memekik, namun peluru yang lain hanya membal kemana-mana tanpa arah.

Aku memperhatikannya dengan seksama, meski ia katakan bahwa kami musuh, tapi serangannya tidak terlihat seperti ia memusuhi kami. Dalam jarak sedekat itu, jika Yuri mau, ia bisa saja menembak jantung George atau apalah.

Bill sepertinya punya pemahaman berbeda denganku, ia menyerang Yuri sebagai balasan. Senjatanya yang masih bertengger di saku samping celananya, kini ditarik dan ditempatkan pada genggaman kuat tangan kirinya.

Bill menembak tepat di bahu kiri Yuri yang sudah terluka. Yuri meringis. Luka yang masih belum mengering tersebut, terbuka kembali.

Yuri berlari menjauh dan membawa aku sebagai sandera sementara Bill memasukkan George ke dalam sebuah ruangan entah apa di dekatnya. Bill berlari menyusul kami dengan terpincang-pincang. Aku baru ingat kalau Bill masih memilliki luka tembak di tumitnya.

Aku memukul tengkuk Yuri agar dia berhenti berlari, namun Yuri hanya membagi pandangan putus-asa padaku dan malah berlari lebih kencang. Dor!

Satu tembakan Bill lontarkan ke depan dan tepat mengenai punggungku. Aku tidak tahu kenapa Bill menembakiku, bukan Yuri tapi seringai tajam dari Bill membuatku ngeri juga.

“Yuri! Berhenti!”

Teriakan dari Bill bukan lagi teriakan depresi agar Yuri berhenti, aku menangkap nada mengancam dari pita suara gadis itu.

“Sudah kuserahkan George, apalagi yang kau inginkan, wanita jalang?” Yuri membalas. Aku mengerutkan dahi, “kurasa kita sudah impas!”

Dor!

Suara tembakan mendarat di dengkulku, aku tidak bisa berlari sementara senjata apiku terlontar beberapa meter di depanku. Yuri memegangi lenganku dan menembakkan beberapa peluru ke arah Bill.

Kali ini aku mendengar suara tawa kejam. Bukan dari Yuri, ini suara Bill.

“George terluka parah, Kai tidak. Apa yang impas? Kurasa kau setuju bahwa barter ini dilakukan tanpa melukai baik Kai dan George.”

Aku kaget. Barter? Jadi aku adalah bahan pertukaran? Aku dan George?

Sialan!

Aku merangsek maju dengan pelan namun punggungku panas. Yuri menatapku, bibirnya tidak berucap apapun tapi sorot matanya seolah mengatakan, “Tenang Kai, kau akan baik-baik saja”.

“Yuri, tugas kita belum selesai sampai di sini, kau seharusnya bersyukur bahwa aku tidak membunuh Kai-mu itu. Kau juga harus berterima-kasih pada semua akting hebatku sampai detik ini. Tapi kenapa kau bertindak semaumu? Sudah kubilang, jangan pernah muncul sebelum semuanya ada di dalam kendali kita.”

Dari sebuah kalimat saja, aku sudah yakin ada konspirasi terselubung di antara Bill dan Yuri. Tepatnya, mungkin kedua wanita ini bekerja-sama dalam kekacauan politik yang baru-baru ini terjadi.

Mungkin Bill juga termasuk dalam anggota Non-Blok atau apalah.

Artinya, aku ditipu.

“Aku sudah melakukan semua tugasku, tidak ada yang tersisa dari semua orang di dalam gedung ini. Selebihnya, itu tugasmu. Perlu kau tahu, bahwa aku menembak George brengsek itu karena dia berusaha menyentuh dan melecehkanku sebelum kau datang, dan itu membuatku harus mengikatnya di kursi. Dan kurasa itu pantas.”

Bill tidak mendengarkan, pelurunya bicara. Yuri berlari menjauh dariku dan mengabaikan keselamatannya sendiri. Ia memutar tubuhnya bagai gasing di udara sementara boots hitamnya mendarat di wajah Bill.

1, 2, ah! Ada total 5 peluru yang bersarang di tubuh gadis itu. 2 di kaki, 3 lainnya di bahu dan lengannya. Yuri bergerak ringan seolah tidak pernah terganggu dengan peluru-peluru tersebut.

Dengan satu tendangan saja, wajah Bill sudah menujam ke lantai diikuti senjata laras pendek miliknya yang terpental keras dan memantul.

Sirine keras berbunyi, George berteriak memperingatiku tentang bala bantuan. Well, ini seharusnya kabar baik untukku karena aku bisa terbebas dari dua wanita gila ini yang meributkan entah apa.

Lalu aku ingat tentang kejamnya penjara dan wajah lugu Yuri bertahun-tahun lalu.

Tidak!

Aku tidak bisa membiarkan baik Yuri maupun Bill digiring ke ranah hukum. Aku berdiri dengan kekuatan yang aku punya sementara George memandangiku dengan heran.

“Pintu keluar di sana, Kai,” ujarnya, aku mengabaikannya. George sepertinya mengerti apa yang kumaksud, ia mengulas senyum kemudian membawa tubuh Bill yang sudah lebam dari atas lantai. Aku merangkul Yuri.

Memapah Yuri membawa ingatanku pada belasan tahun lalu ketika Yuri kecil terjatuh dari pohon. Ia menangis dengan sangat lucu kemudian bermanja-manja di dekatku.

Yuri yang kulihat saat ini terlihat berusaha keras menahan air matanya. Dia tidak menatapku dan aku tidak bicara padanya. Ia terlihat tegar namun dalam kondisi yang dipaksakan. Kami tertatih-tatih hanya untuk menghabiskan satu lorong.

Ketika aku sampai di anak tangga, derap langkah cepat menahan gerakanku.

Sebaris polisi dengan baju biru yang sama denganku kini mengacungkan senjata api dengan pelatuk yang siap ditarik kapan saja pada kami.

Aku memandangi Yuri sedangkan George memandangiku. Bill sudah tidak sadarkan diri karena kehabisan darah.

Satu peluru dilepaskan seorang pemuda yang lalai ketika Yuri terjatuh tiba-tiba di sisiku. Rupanya ia sudah tidak sanggup menahan perihnya timah panas yang banyak bersarang di tubuhnya. Aku pun masih merasakan denyutan tidak senada dari jantungku. Peluru dari Bill di punggungku seperti semakin memanas. Perih.

“Serahkan dirimu, nak.” Suara berat dari komandan berkumis di barisan paling depan terngiang di telingaku. Yuri sudah ambruk dan George masih menatapku.

Brengsek!

Aku sangat tidak suka keadaan terdesak dan terkepung seperti ini.

Jika aku menyerahkan diri, maka dipastikan kami berempat akan diadili. Jika kami tidak menyerahkan diri, maka mereka akan menembak hingga salah satu atau empat dari kami mati. Tidak membantu.

Hening.

4

5

6

10 menit. Aku diam. Kedua kubu menegang. Aku berlutut, seperti yang Yuri lakukan. George mengikutiku. Kami berpandangan beberapa detik saat gumaman rendah dari bibir pucat Yuri terdengar.

Jantung Yuri melemah, aku merasakannya. Darahnya menggenangi alas tempat kami berlutut di ujung anak tangga. Aku menoleh ke belakang dan melihat beberapa polisi di anak tangga yang lebih rendah masi bersiaga dengan gerakan tiba-tiba kami.

Yuri menggumam lagi, hanya aku dan George yang bisa mendengarnya.

So here you are, two steps ahead and staying on guard
Every lesson forms a new scar
They never thought you’d make it this far

Aku menggenggam jemari lembut milik Yuri yang menundukkan kepalanya lesu. Nadinya semakin melemah. George membawa Bill yang pingsan ke pangkuannya sementara tangan kirinya yang bebas tertaut dalam jemari Yuri.

But turn around, oh they’ve surrounded you
It’s a showdown, and nobody comes to save you now

Kini aku menunduk lesu. Tanganku merogoh senjata api pada tangan Yuri. Bunyi tarikan pelatuk dan ancaman kudengar hebat. Para polisi itu mengkhawatirkan aku akan menembak mereka. Moncong semua senjata kini semakin lekat di mata kami.

“Serahkan diri kalian! Jangan berbuat bodoh!”

Aku mengulas senyum. Kupandangi George yang memejamkan matanya di atas tubuh Bill. Nadi Yuri semakin lemah.

Dor!

Kepala George berlubang dan darahnya berceceran di atas wajah Bill.

Bukan polisi, tapi aku. Aku yang menembaknya. Letusan itu mengundang banyak timah panas untuk datang ke arahku. Beberapa bersarang di tubuhku, beberapa di tubuh Yuri dan lebih banyak di tubuh Bill.

Detakan jantung Yuri semakin melemah, dan kurasa milikku juga, namun ia masih bergumam rendah.

But you’ve got something they don’t
Yeah you’ve got something they don’t
You’ve just gotta keep your eyes open.

Aku mengulas senyum walau kini tubuhku terlontar ke belakang bersama dengan tubuh Yuri. Kami terlontar-lontar menuruni anak tangga dengan darah yang tidak tahu berapa liter banyaknya. Aku merasa sakit, tapi aku tidak pernah sebahagia ini.

Tautan jemariku terlepas ketika kami berhenti pada salah satu anak tangga. Yuri berada di undakan lebih tinggi sehingga aku bisa melihat wajah manisnya. Kulitnya masih sama.

Di balik baju ketat yang ia pakai, tersimpan tubuh Yuri yang sama.

Ia tidak pernah berubah, lingkungan yang merngubahnya.

Aku tidak menyalahkannya. Dan ia sepertinya tidak menyesal. Kontras hitam-putih dalam sebagian dari hidup Yuri, membuat ingatanku kembali pada masa lampai, dimana aku, Bill, George dan Yuri hanya paham untuk memegangi Lollipop dan bermain hide-and-seek.

Kami tidak tahu senjata, kami tidak tahu apa itu perang. Kami hanya tahu para orang-tua kami tewas dalam arogansi tangan-tangan besar dari politik.

Lalu ketika aku merasakan jemari Yuri kembali, denyutan nadinya sudah hilang. Bibir Yuri terkatup pucat. Aku terbatuk dan memuntahkan darah kemudian kurasa tubuhku mengejang.

Kuedarkan pandanganku pada tubuh George, Bill dan terakhir, Yuri.

Aku ingin di akhir ceritaku ini, akan menjadi inspirasi bagi siapapun, bahwa perang dan kebencian tidak akan mengembalikan semuanya menjadi lebih baik.

Perang bukan menentukan siapa yang benar, hanya menentukan siapa yang tertinggal.

Lalu aku terpejam. Bibirku bergerak kecil,

“kita teman ‘kan?”

.

.

©bapkyr

War does not determine who is Right – Only who is Left –

Bertrand Russel.

.

.

A/N

Hao~ aku akhirnya membawa chapter ke-11 dari exoyul seriesku. Buat yang ketinggalan, ayo bisa dilihat daftar series ini :

Lay Chen | Xiumin | Sehun | Suho | DO | Tao | Luhan | Chanyeol | Baekhyun

Nah, aku sekalian promosi nih, bagi yang suka Kim Himchan, bisa liat FF ku DISINI

Sekian. Sehabis ini aku kejer tayang Ghost Slayer dulu ya~

92 thoughts on “Eyes Open – From Exoyul Series

  1. aloneyworld berkata:

    Jadi akhirnya mereka berempat mati?? Yaudah deh jadi kan ngga ada yang ditinggalin lagi, semuanya pergi sekarang😄 Si kai sama george itu barang barter? Yaampun ini keren banget deh kak aku suka😀 itu rambut yuri beneran sebetis? Hah mereka masih temenan kan ya sampe akhir??

  2. @kyuNAbumik berkata:

    Hello kak aku suka bnget ff.nya, knapa harus semua mati 😢. Yuri berubah bnget:v , temenya yg satu mati. mati semua😁Keren:)

  3. @kyunabumik berkata:

    Hello kak suka bnget pairingnya Kaiyul♡.satu mati.mati semua😀Keren ff.nya,kirain tadi bkal happy ending wkwk

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s