Ghost Slayer #3

Poster #3 Ghost Slayer

Bring you the third Step into Ghost Slayer’s World.

Enjoy!

© bapkyr 2013

.

.

“Merasa baikan?” Jiyong menyodorkan kantung plastik hitam yang ke-3 pada Yuri. “apa kita sudah bisa kembali ke hotel?” katanya lagi.

Yuri mendengkur keras dan seketika cairan putih kental keluar dari mulutnya lantas terjun bebas masuk ke dalam kantung plastik. Yuri terengah. Ditatapnya manik milik Jiyong dengan segan, kemudian ia menjulurkan kedua tangannya pada pria itu. Katanya, “gendong aku.”

“Apa selain makanan, kau juga memuntahkan isi kepalamu?” balas Jiyong, air wajahnya terkesan ragu, namun ia berkata, “baiklah, sekali ini saja, balas jasa kau menutup ristleting celanaku.”

“Sampai kamar tidurku, oke?” Kata Yuri. Jiyong mengiyakan dengan anggukan singkat. Keduanya kini menjauh dari gang sempit. Yuri tidak mengatakan apapun soal sang ibu dari si gadis kerasukan yang mengatakan sesuatu tentang teror kutukan atau semacamnya. Bahasa Jepangnya kurang bagus, Yuri takut kalau-kalau maksud dari penyampaian si ibu tadi sangatlah berbeda dengan pemahaman dirinya.

Ia menyimpannya rapat-rapat untuk dirinya sendiri.

Jadi ketika Jiyong melemparkannya di atas kursi penumpang dalam van, Yuri terlonjak dan sadar dari lamunannya. Ia mengutuk dalam gumaman rendah. Dilihatnya Jiyong yang menukar pandangannya pada setir. Yuri berhenti mengumpat.

“Ada apa?” tanyanya, “kenapa kau tidak menyalakan mesinnya?”

“Apa ya?” Jiyong berhenti beberapa detik, ia mengumpulkan tenaganya kemudian menghembuskan napas panjang, “ada yang aneh, Yuri. Aku merasa seperti dimata-matai sejak keluar dari rumah keluarga Jepang tadi.”

Yuri menggelengkan kepala kemudian menatap spion di sisi kanan dari posisinya. Hanya jalanan ramai, orang lalu lalang dan mobil-mobil terparkir, Selebihnya Yuri tidak melihat sesuatu yang mencurigakan seperti orang dengan masker dan topi rajut yang berjalan miring seperti kepiting, contohnya.

“Tidak ada yang aneh, mungkin itu hanya perasaanmu saja.” Kata Yuri. Gadis itu memasang seatbelt yang tergantung di sisi kanannya, kemudian senyumnya terulas pada Jiyong.

Jiyong mengangguk setuju setelah sebelumnya terkesan menimbang-nimbang. Katanya, “ya, mungkin hanya perasaanku saja.”

Jiyong menyalakan mesin mobilnya, tangannya menguasai setir. Sesekali diliriknya spion, ketika perasaan aneh menyergapnya dalam sunyi.

.

.

“Mungkin kau ingin mencoba Jepang?” Seunghyun melemparkan sebuah map coklat tebal di atas meja kayu kosong dalam sebuah ruangan, eh, bukan ruangan. Itu aula yang sangat besar. Di dinding-dinding aula itu terpatri berbagai lambang burung gagak dengan berbagai pose. Ruangan tersebut lebih terkesan gothic daripada artistic. Lilin-lilin besar terpasang di setiap sudut yang dibuat aula besar tersebut –persis seperti mereka akan melakukan pemanggilan arwah, “eh, koreksi. Mungkin kau ingin mencoba Jepang. Aku tidak bertanya kok tadi.”

Victoria mendesah di balik gaya duduknya yang santai. Gaun hitam mini dengan rantai di sekitar pinggangnya terusik ketika tubuhnya bergoyang. Victoria bangkit dari tempat duduknya dan menatap nanar pada Seunghyun, “kau ingin membunuhku?” katanya.

Alih-alih menjelaskan, Seunghyun melempar tawanya hingga suara itu memantul di setiap dinding dengan relief gagak.

“Untuk apa aku membunuhmu?” katanya di sela-sela tawa renyah. “Entahlah, memusnahkan aku dari hidupmu barangkali.” jawab Victoria sekenanya.

“Membunuhmu? Di Jepang? Lucu!” Seunghyun menahan gelitikan hebat di sekitaran perut ratanya. Kini ia membawa sapu tangannya keluar dari saku dan mulai mengusap peluh di wajahnya dengan benda lembut tersebut, “kau tahu itu tidak akan berhasil untukmu, Vict. Kau ‘kan si wanita dengan sejuta nyawa.”

“Oh ayolah, itu hanya julukan. Jika kau tidak ingin membunuhku, lalu apa alasannya aku sampai dikirim ke Jepang?” Victoria adalah tipe wanita yang tidak bisa lama untuk menunggu jawaban. Seunghyun paham betul.

“Kwon bersaudara itu masalahnya.”

“Mereka membuat masalah lagi?”

“Tidak, tidak, kali ini tidak, tapi masalah akan datang selama mereka masih ada.”

Victoria ragu sesaat. Kemudian ia mengajukan pertanyaan lagi, “kau ingin aku membunuh mereka?”

Seunghyun mengangkat alis kanannya. Ia memelototi Victoria sebagai pelampiasan dari ledakan tawanya yang ia telan kembali, “bunuh, bunuh. Kau benar-benar sedang ingin membunuh orang ya? aku tidak membicarakan bunuh-membunuh sekarang. Yang aku inginkan dari kau adalah, menjauhkan dua kakak-beradik itu dari kekuatan supernatural mereka selama beberapa saat. Aku mengirim mereka ke Jepang dengan asumsi mereka akan menemukan Zico dengan cepat. Tapi, menurut laporan, kedua kakak-beradik itu telah menarik perhatian beberapa roh di sana karena kekuatan supernatural yang mereka miliki dan membuat mereka selalu berada dalam bahaya setiap hari.”

Victoria mendapatkan tatapan serius dari Seunghyun. Bibirnya mengulas senyum, memperlihatkan warna lipstick hot pink yang baru saja dikenakannya pagi tadi. Wajah Victoria terkesan menimbang-nimbang dengan prosentase 80:20 untuk kalimat ‘aku tidak mau’.

“Aku, secara pribadi, tahu soal keahlian rahasiamu tentang menekan kekuatan supernatural orang lain. Saat ini adalah yang paling tepat untuk menggunakannya.” Kata Seunghyun lagi.

“Aku sudah lama tidak menggunakannya. Terakhir adalah 6 tahun lalu pada seorang Ghost Slayer yang kerasukan. Aku tidak tahu bagaimana melakukannya dari awal lagi.”

Seunghyun menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk jauh dari Victoria. Ruangan besar itu hanya diisi mereka berdua, ditambah dinding-dinding keras yang membuat suara bergaung, tidak menyulitkan keduanya untuk berkomunikasi bahkan dari jarak berjauhan.

“Kau akan menyesal dengan menolak tawaranku ini, imbalannya cukup besar untuk membeli apartemen baru di Virginia, kurasa. Ditambah, aku yang akan memberikannya padamu secara pribadi.”

Victoria berdiri, gaun mini sepahanya tersibak, Seunghyun tidak memerhatikan. Manik hitam milik Victoria memicing tajam, “berhentilah menggodaku dengan uang. Aku bukan wanita jalang.”

Victoria menarik tas tangan kecil lengkap dengan map kecoklatan yang diberikan Seunghyun. Ia berjalan melewati Seunghyun tepat di hidungnya tanpa sepatah kata apapun. Matanya menyalak ketika terjadi kontak singkat dengan manik milik Seunghyun.

Bam!

Pintu tertutup dengan keras, Seunghyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian berjalan menjauh dari sofa. Diliriknya seorang wanita dengan rambut yang terikat seperti air mancur yang kemudian tersembul dari balik tirai kemerahan tebal. Keduanya saling memandang, picik.

“Apa dia setuju?” tanya si wanita misterius tersebut. Seunghyun menjawab dengan anggukan. Kemudian ia berkata, “Wanita memang selalu lemah dengan harta. Mungkin kau pengecualian, Chaerin.”

Keduanya tertawa kecil, kemudian berjalan bersisian di dalam kegelapan aura besar.

.

.

“JIYONG!”

Suara melengking dari Yuri sudah sukses memantul di seluruh dinding apartemen sewaan mereka. Teriakannya tidak hanya sekali dua kali, ada pantulan yang bertubi-tubi tidak terhingga ketika Jiyong berulang kali melepaskan beberapa serpihan kaca dari telapak kaki Yuri.

Perlu diceritakan bahwa menit yang lalu, Yuri baru saja memecahkan gelas kaca yang baru mereka beli hari sebelumnya.

“Ini yang terakhir, bertahanlah.” Ucap Jiyong disusul dengan erangan dari Yuri. Keduanya ambruk. Yuri di sofa dan Jiyong di lantai. Jiyong menyeret sebuah baskom penuh air hangat dan menuntun kaki yuri masuk ke dalamnya. Awalnya gadis itu berteriak perih, namun setelahnya ia memuji-muji Jiyong.

Jiyong merangsek ke atas sofa dan menyambar sebuah remote televisi yang tergeletak di sisi kanan Yuri. Ia mengganti channelnya asal dan berhenti di salah satu channel berita ketika ponsel Yuri berbunyi nyaring.

“Ini Choi Seunghyun.” Kata Yuri ragu, berjaga-jaga kalau Jiyong agak terganggu dengan panggilan tengah malam butanya itu. Setelah mendapatkan anggukan setuju dari Jiyong, Yuri berbicara pelan di ponselnya.

“Halo, Nona Yuri.”

Suara dari Seunghyun terdengar cukup nyaring, hingga Jiyong mau tidak mau mendengarnya.

“Selamat malam, apa yang bisa kubantu, oppa?” Yuri melirik sekilas pada Jiyong yang sedang menahan tawa sembari mengedikkan bahunya. Dahi pemuda itu berkerut, dengan ekspresi mencibir, ia berkata pelan, “Oppa?”

“oh, kau menyimpan nomorku? Ini suatu kehormatan. Apakah Jiyong bersamamu, Yuri?”

Yuri melirik sekilas pada Jiyong kemudian iya berkata ragu, “I-iya, ada apa? kau ingin bicara dengannya?”

“Yes please. Aku tidak dapat mengubungi ponselnya. Bisakah aku berbicara dengannya sebentar, Nona Yuri? Jika kau tidak keberatan.”

Yuri melepaskan ponsel dari telinganya kemudian memberikan benda itu pada Jiyong.

“Apa?” Kata Jiyong pelan. “Seunghyun oppa ingin bicara denganmu.” Jawab Yuri. Jiyong menyambut ponsel tersebut lantas ia letakkan pada telinganya. Katanya, “Ada apa Seunghyun?”

“Oh, Jiyong? Wah, suaramu berubah banyak,”

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan karena ini sudah malam.”

Ew, dan kau bertambah dingin. Tapi baiklah, karena mansion juga tidak membayar biaya pulsaku, jadi aku buat ini singkat. Aku kirimkan Victoria ke Jepang, dia sedang dalam perjalanan. Kuharap kau menjemputnya di bandara.”

“Victoria? Untuk apa kau mengutusnya kemari?”

“Membantumu mencari Zico. Kebetulan dia sedang tidak mempunyai banyak jadwal, dan dia sepertinya butuh uang, jadi aku mengirimkannya untuk membantumu.”

Janggal. Ada alasan yang janggal dalam kalimat Seunghyun, Jiyong merasakannya namun ia berusaha menghalau perasaan-perasaan itu. “Baiklah,” katanya “jam berapa aku harus menjemputnya di Bandara?”

“Besok siang, jam 11 siang barangkali.”

Jiyong menatap Yuri yang kini duduk bosan di dekatnya. Bibirnya bergerak membentuk umpatan cih singkat yang tidak terdengar.

Roger.” Jawab Jiyong. Tanpa menunggu salam selamat malam dari Seunghyun, Jiyong sudah lebih dulu mematikan panggilan dan melempar ponsel di tangannya kepada sang pemilik sah.

“Dia mengirimkan Victoria eonni untuk membantu kita?” Kata Yuri, kedua maniknya berbinar meminta penjelasan. Jiyong menjawabnya dengan desahan panjang kemudian ia beranjak dari sofa– setelah sebuah botol air mineral ia tenggak sampai habis, barulah ia berkata, “persis.”

“Untuk apa? kita cukup kuat kok.”

“Itu yang aku tanyakan pada diriku sendiri,” Jiyong mengatupkan bibirnya, kemudian duduk kembali di sofa semula, “Seunghyun agak misterius, aku tidak menyukainya.”

“Tapi dia baik lho. Dia selalu membantuku dalam urusan Mansion.”

“Dia baik, tapi hanya pada wanita.”

“Kau bukan wanita?”

Yuri mencibir, kemudian tertawa saat suara “ey~” milik Jiyong bergumam rendah. Televisi masih menyala-nyala menayangkan seorang wanita yang berbicara serius dalam bahasa Jepang. Di belakangnya terdapat satu foto dari sebuah kebakaran yang terjadi siang tadi.

Yuri melirik pada jam besar di dinding dan ia menguap, “sepertinya ini sudah waktunya beristirahat.” Katanya. Ia beranjak dari sofa dengan tangan protektif dari Jiyong. Namun Yuri tidak menerima bantuan itu dengan suka cita. Katanya, “hanya berjalan dari sini ke kamar tidur, apa yang sulit?”

Jiyong melepaskan Yuri dengan pandangan ‘terserahlah’ miliknya. Ia hanya mengawasi punggung Yuri kalau-kalau ia oleng karena kakinya yang masih terluka atau apa.

Setelah suara debaman ringan dari pintu terdengar, Jiyong menghela kembali napas panjangnya. Ia melirik arlojinya dan mendapatkan Gate yang tidak pernah lepas dari lengannya sedikitpun. Hanya untuk berjaga-jaga, pikirnya.

Mata Jiyong terpaku pada setumpuk peralatan Ghost Slayer miliknya dan Yuri yang tergeletak begitu saja di atas meja makan. Rupanya, Yuri lupa menaruh semua benda itu kembali ke Van setelah membersihkannya.

Jiyong terlalu lelah memikirkan benda-benda tersebut, jadi ia lebih memilih melakukan senam singkat pada matanya kemudian tertidur pulas di atas sofa.

.

.

Jiyong terbangun. Jam di dinding berdentang kencang 12 kali.

Pemuda itu mengucek matanya yang kemerahan dan mengedarkan pandangan ke seluruh isi dari ruangan santai tersebut. Televisi masih menyala-nyala, lampu masih belum dipadamkan, sementara ia sendiri masih bergumul dengan bantal-bantal di atas sofa.

Jiyong meraih remote televisi dan menekan tombol power off dari sana. Suara-suara berisik dari Televisi sudah tidak terdengar. Jiyong berdiri sambil menggaruk kepalanya, ia menekan saklar lampu ruang tengah dan seketika lampu di sana padam total.

Harusnya Jiyong bisa segera masuk ke kamarnya dan tidur di sana ketika ia tidak sengaja melihat lampu berwarna kehijauan berkedip-kedip di atas meja makan. Jiyong mendekat dan mendapatkan D-Kit miliknya yang menyala-nyala.

Ia menggenggam alat itu dan menekan tombol off yang ada pada gagangnya. Jiyong mengerutkan dahi. Aura di ruangan itu menjadi tidak karuan. Pemuda itu berjalan meninggalkan D-Kit miliknya, lantas saat ia sampai di depan pintu kamar dan memegangi knop, lampu hijau itu menyala-nyala kembali.

Kali ini diiringi suara ceklek ringan dari sebuah kamar di depannya—kamar Yuri.

“Kau belum tidur?” Kata Jiyong.

Sebenarnya,  pemuda itu tadinya terhenyak, tapi setelah melihat wajah yang benar-benar Yuri ada di depannya, ia sedikit lega. Yuri menggeleng sambil mengucek matanya. Ia berjalan cepat ke ruang makan dan membuka lemari pendingin di sana.

D-Kit ku sepertinya rusak,” Jiyong menghentikkan kalimatnya, ia membiarkan Yuri menghabiskan air dalam gelasnya, “Um, Yuri, bisa sekalian kau matikan lampu itu untukku?”

Yuri mengangguk. Ia meletakkan gelas kaca di atas meja makan yang penuh dengan barang, lalu tangannya menyambar D-Kit milik Jiyong. Yuri menekan tombol off di sana lalu mengangguk kecil pada Jiyong. Poninya menutupi sebagian dari wajahnya.

Jiyong mengulaskan terima kasih pada bibirnya sekilas, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Terdengar bunyi debaman dari pintu dengan suara kecil sekali dari kamar Yuri, menandakan gadis itu juga sudah masuk kembali ke kamarnya.

Jiyong berbaring dan menyalakan lampu tidur yang berpendar dengan cahaya kuningnya, matanya ingin terpejam namun pikirannya tidak mengizinkan.

Ia ingat kembali ketika Yuri berjalan cepat ke dapur.

Ada yang janggal.

Berjalan cepat.

Yuri.

Berjalan cepat?

Dengan tumit terluka?

.

.

Yuri sedang duduk di sofa dan menyantap toasted bread yang ia buat sendiri ketika Yuri dengan terhuyung dan terpincang-pincang keluar dari kamar. Jiyong enggan menatap wajah kumal yang baru ditunjukkan Yuri, tapi matanya memaksa.

Yang ia tatap pertama kali bukan wajah adiknya, tapi kaki. Tepatnya cara gadis itu berjalan.

“Kakimu sakit lagi?” tanya Jiyong. Yuri menggaruk kepalanya kemudian duduk di sofa dan menyambar roti bakar milik Jiyong di atas piring, “lagi? ini bahkan belum ada 24 jam sejak kau mengobatinya. Mungkin maksudmu, kau ingin bertanya apakah aku sudah sembuh, begitu?” katanya.

Jiyong menatapnya lagi.

“Apa sih?  Kau aneh deh.” Kata Yuri sembari menjejalkan semua roti ke dalam mulutnya.

“Tadi malam kau berjalan cepat ke dapur.”

“Siapa?”

“Kau.”

“Aku tidur, dan aku tidak pernah memiliki riwayat berjalan sambil tidur, jadi itu tidak mungkin. Kau mengigau ya?”

Jiyong tidak kehabisan akal, katanya, “tapi tadi malam kau memang ke dapur dan kau berpapasan denganku. Bahkan kau minum air dari gelas ini,”

Kalimat Jiyong menggantung ketika ia tidak melihat sebuah gelas di atas meja makan. Menurutnya, jika ia benar, gelas itu ada di sana karena Yuri meletakannya di sana semalam.

“Gelas apa? Ya ampun, kau ini mengigau Jiyong,” timpal Yuri setelah ia menelan semua rotinya. “mungkin itu efek dari kurang tidur, kau berhalusinasi.” Tambahnya.

Jiyong menggeleng tidak percaya kemudian ia berkata, “tapi tadi malam kau benar-benar keluar kamar, sungguh. Bahkan kau mematikan D-Kit milkku yang berkedap-kedip kehi—“ kalimat Jiyong terhenti. Ia menatap Yuri lekat.

“Apa?” kata gadis itu.

Jiyong beranjak dari sofa empuknya dan menyambar semua peralatan yang teronggok di atas meja makan. Ia menarik tangan Yuri dan bersama-sama, mereka keluar dari ruangan itu.

“Roh jahat, ada roh jahat di tempat ini.”

.

.

“Lihat ini, aku menemukannya di internet.” Kata Jiyong. Dengan malas dan tubuh lengket yang enggan bergerak, Yuri meraih selembar kertas yang diberikan Jiyong. Ia menyibakkan rambutnya yang berkali-kali jatuh di atas himpunan aksara Jepang hampir tidak terbaca.

“Ini tulisan apa? Aku tidak mengerti!” Yuri membalikkan kertas dengan kasar hingga punggung tangannya sempat menubruk dashboard van. Jiyong masih duduk di belakang setir sambil sesekali melirik pada Yuri yang merintih. Tangan Jiyong kemudian terulur dan membalikkan kertas tersebut pada halamannya yang lain.

“Bukan hangeul, tapi lebih baik,” komentar Yuri saat mendapati barisan aksara yang ditulis dalam bahasa Inggris, dahinya berkerut bahkan ketika maniknya baru selesai membaca sebuah kata, makin tidak mengerti ketika ia akhirnya sampai di titik paling akhir. Yuri menatap semu pada Jiyong sambil mencibir, katanya, “Doppelgänger? Menurutmu aku memiliki seorang Doppelgänger?”

“Dari apa yang kulihat semalam, 80%, Yuri.” jawab Jiyong, masih fokus pada jalanan beraspal, “sialnya dia mengikuti kita.”

“Aku tidak merasakan apapun, darimana kau tahu?”

“Kau itu makhluk yang dia tiru, kau tidak akan merasakan apapun karena dia menjaga aura sama persis dengan aura tubuhmu. Singkatnya, dia tersembunyi.” Yuri mengernyitkan dahinya kemudian memandangi aspal yang telah dilewati ban-ban besa van mereka dari spion, “Jadi hanya kau nih yang bisa merasakannya?” kata Yuri.

Jiyong mengangkat bahunya kemudian membanting setir ke kiri jalan, memasuki sebuah jalanan bebas hambatan yang bermuara ke bandara.

“Persis.”

“Sejak kapan?”

“Sejak semalam, tapi aku sudah mengatakan bahwa aku merasa dimata-matai sejak kejadian gadis poltergeist itu, kau ingat?” Jiyong menggerakan persneling mobil kemudian ia mendapatkan anggukan singkat dari Yuri. Gadis itu kebingungan kemudian menggaruk tengkuknya, “sebenarnya ibu dari gadis itu mengatakan sesuatu padaku sebelum kita pulang.”

“Apa? sesuatu yang penting?” Jiyong sesekali menoleh untuk melakukan kontak mata dengan Yuri. Ketika Yuri mengangguk kemudian disusul gelengan cepat, Jiyong menghentikkan vannya di sebuah rest area kecil. Keduanya tidak turun dari mobil pun tidak mengisi bensin, mereka hanya bertatap-tatapan sambil menunggu salah satu bicara.

“Wanita itu mengatakan sesuatu tentang kutukan roh atau apalah. Aku tidak begitu mengerti bahasa jepangnya,” kata Yuri. Jiyong menggeleng untuk menenangkan dirinya sendiri dari rasa penasaran. Ia menarik napas panjang dan menghelanya dalam satu kali kesempatan, “dia mengatakan lebih banyak lagi, tapi aku tidak mengerti, ia ketakutan.”

Jiyong memutar bola matanya kemudian mendesah, “baiklah Yuri, ini tidak membantu rasa penasaranku, tapi informasi bagus.”

Yuri mengedikkan bahunya sambil berkata, “Ya, terserahlah,” kedua bola matanya kini terpaku pada jalanan aspal kembali. Jiyong sudah memacu vannya keluar dari Rest Area. Papan-papan petunjuk arah yang dipasang di kiri dan kanan jalan membuat Yuri penasaran, “apa kita akan pulang ke Korea hanya karena hantu dopping  ini?”

Jiyong akui, jika ia sedang tidak dalam badmood, ia sudah tertawa. “kita akan menjemput Victoria, terlalu dini untuk pulang ke Korea. lagipula, bukan dopping tapi Doppelgänger. Mereka berbahaya Yuri, bukan untuk dijadikan bahan lawakan. Kudengar, kehadirannya selalu dianggap pertanda buruk dan kesialan, bisa jadi sampai pada kematian.”

“Siapa targetnya?.” Kata Yuri, “jika makhluk itu membawa petaka, siapa yang akan dia celakai? Aku?”

“Tentu. Dengar Yuri, meskipun ia tidak mengganggu secara fisik, tapi kehadirannya jika dibiarkan begitu saja, akan mengganggu jiwamu. Makanannya adalah jiwamu. Kau tahu kan apa yang akan terjadi jika ia terus-terusan berada di dekatmu?”

“Tapi dia tidak ada di dekatku sekarang.”

“Kau tidak dapat melihatnya, itu mitos umum. Seseorang yang menjadi inang untuk makhluk satu ini, tidak akan pernah menyadari kehadirannya sampai ketika mereka berada di ujung maut. Perlu kau tahu juga sih, ketika kau menghilang dari dunia ini karena jiwamu yang  terus dimakan, Doppelgänger akan menggantikan posisimu sebagai manusia. Singkatnya, ia memilihmu untuk kembali hidup kemudian mengirimmu untuk menggantikan posisinya dalam dunia arwah.”

Yuri mencibir, “dongeng bagus, Jiyong, tapi aku tidak percaya pada kisah konyolmu. Dengar, jika jiwaku terus dimakan dan aku mati kemudian makhluk jelek itu menggantikanku di dunia, semua orang juga akan tahu siapa dia. Kan mereka tahu aku sudah mati.”

Jiyong mengulas senyum, “tidak begitu.” Yuri mengernyitkan dahi dan memandang tulang pipi Jiyong yang semakin naik, “apa?”

Doppelgänger makan memorimu juga, dan ketika memorimu perlahan memudar, orang-orang di sekitarmu akan mengalami hal yang sama, khususnya ingatan mereka tentangmu. Singkatnya, Yuri, kau akan dilupakan cepat atau lambat.”

Yuri menelan ludahnya, “em, itu sedikit mengerikan ya Jiyong. Jadi apa kau punya jalan keluar?” Yuri menunjukkan senyum palsunya. Sedikit dengan gigi-gigi yang mencuat dan mata melebar asimetris.

“Bilang saja kau takut.”

“Sedikit, sebenarnya.”

“Kau takut mati?”

“Aku sih tidak peduli soal mati.”

“Lalu?”

“Bagian dimana diriku dilupakan, itu yang kuhindari.”

Jiyong mengangguk, “untungnya ada satu cara sih, dan kebetulan Victoria akan berada bersama kita dalam beberapa menit. Ada gunanya juga Seunghyun mengirimnya kemari.”

Van yang dikendarai oleh Jiyong dan Yuri kini berjalan dengan lebih cepat. Jalanan sepi namun Jiyong merasa vannya ramai oleh aura asing. Ia melirik spion dan melihat seorang wanita mirip Yuri sedang terbang rendah dan menggedor-gedor vannya. Jiyong tidak bicara apapun, ia lirik lagi Yuri yang terbang dan bersyukur mansion telah memberikan mereka van anti hantu.

.

.

“Aku cuma diberitahu akan dijemput oleh Kwon Jiyong dan Kwon Yuri,” Victoria menyesap kopi hitam pahitnya kemudian memerhatikan seorang gadis yang duduk di antara Yuri dan Jiyong-memberi jeda panjang pada kalimatnya,”tapi kalian membawa hantu, kejutan yang manis.” Katanya.

“Ini Doppelgänger,” kata Jiyong, “menempel pada Yuri sejak kami menangani kasus poltergeist.”

Victoria memerhatikan rambut basah Yuri yang diikat sembarang. Rupanya gadis itu memanfaatkan bandara untuk melaksanakan jadwal mandi paginya yang molor hingga 4 jam lebih.

“Seharusnya kau memiliki rasa kagum pada dirimu sendiri, Yuri. Doppelgänger bukan hantu sembarangan. Dia tidak akan menempel pada inang yang tidak ia sukai. Ada nilai plus dalam dirimu sehingga menarik perhatian makhluk ini.” Kata Victoria, menjelaskan.

Jiyong melempar pandangan cepat pada Yuri kemudian hantu yang ada di sebelahnya. Roh mirip Yuri tersebut akan tersenyum ketika Jiyong menatapnya, sebenarnya manis –andai dia bukan hantu.

“Jadi, kau bisa melakukan apa untuk memisahkan hantu ini dari diriku, eonni?”

“Seperti yang kubilang, konsep dasar para Doppelgänger adalah menempel pada orang yang mereka sukai. Melepaskan makhluk itu hanya dengan menjadi sebaliknya, menjadi inang yang tidak mereka suka.” Kata Victoria, “aku tahu karena aku pernah mengalaminya.” Tutupnya.

Yuri masih tidak puas, katanya, “apa yang kau lakukan saat itu?”

well—jadi sang benalu menempel padaku karena ia menyukai bentuk tubuhku. Jadi kunaikkan saja berat badanku, dia menghilang dengan sendirinya setelah itu. Mudah kan?”

Ya—mudah untuk dikatakan, rutuk Yuri dalam hati. Jika hal yang disukai sang benalu ini sama seperti cerita Victoria, maka Yuri ada di dalam bahaya. Ia sedang berada dalam program diet ketat.

“Tapi dalam kasusmu, karena kau belum tahu apa yang menyebabkan hantu ini menempel padamu, kau harus mencoba saran berikut,” Victoria menggeser cangkir kopinya dan melipat tangannya di atas meja. Rambut gadis itu tergerai berhelai-helai ketika kepalanya menunduk untuk mengecilkan volume suara dan berada lebih dekat dengan Yuri, “pertama, kau ubah penampilanmu secara fisik. Cobalah untuk berpakaian dan berdandan seperti yang tidak pernah kau lakukan sebelumnya. Siapa tahu akan bekerja.”

Tanpa mengangguk pertanda mengerti atau apa, Yuri berkata, “Lalu yang kedua?”

“Ubah sedikit nada bicaramu, kelakuanmu dan kebiasaan yang kau lakukan sehari-hari. Mungkin ada ketertarikan tersendiri dari perwatakanmu terhadap para roh itu, dan yang ketiga, coba menekan turun kekuatan supernaturalmu. Jangan menggunakannya terlalu banyak. Dalam hal ketiga ini, aku bisa membantu.”

Yuri mendesah panjang. Ia melirik Jiyong sambil memegangi dahinya yang –barangkali ia ramalkan akan jatuh dalam beberapa detik. Kemudian ia menggeleng dan bergumam, “Jiyong, aku tidak menyangka ada hantu yang kelewat menyusahkan.”

.

.

Jiyong duduk di undakan tangga dekat pintu masuk dan deretan sandal yang tergeletak rapi ketika pintu terbuka dan Yuri terlihat dari sana. Ia melirik depresi pada Jiyong kemudian dengan matanya berputar malas di balik kacamata tebalnya.

Jiyong tertawa sebentar.

Pintu masih terbuka, kali ini Victoria masuk setelah lebih dulu didahului oleh sang Doppelgänger. Roh yang wajahnya makin mirip Yuri tersebut tidak serta-merta berjalan melewatinya seperti yang dilakukan Yuri asli atau Victoria.

Gadis hantu itu tersenyum ramah sambil memilin roknya pada Jiyong, kemudian ia menjauh.

“Aku muak! Sudah seharian aku bertindak bukan seperti aku.” Yuri kesal. Ia melemparkan kacamata minus tebal ke lantai. Baju rajut kebesarannya ia lepaskan kasar; dandanan menor yang menutupi seluruh wajahnya kini ia usap sembarang. Yuri benar-benar ada dalam masa jenuhnya.

Um, jadi ketiga cara itu tidak berhasil pada akhirnya, ya?” tanya Victoria, “tapi sungguh, kukira akan ada paling tidak satu yang sukses.”

Yuri mendesah panjang kemudian ia meminta kembali Victoria agar melepaskan tekanan pada kekuatan supernaturalnya. Victoria awalnya menolak, mengingat adanya kemungkinan kecil Doppelgänger itu akan menyerah. Tapi Yuri lebih jago dalam urusan memaksa.

Jiyong berjalan ke ruang tengah tempat dimana dua wanita tersebut tengah berbincang. Sesekali ditatapnya gadis yang berdiri sambil tersenyum di pojokkan.

“Jiyong, apa kau memiliki ide?” mata Victoria mendelik pada si gadis yang kerap tersenyum ke arah pemuda di depannya. “dia menyukaimu, ya?” lanjutnya.

“tidak tahu, tidak peduli.” Ucap Jiyong apatis, disusul dengan tawa renyah dari Yuri.

“tidak pernah ada dalam sejarah seorang Kwon Yuri menyukai Kwon Jiyong, kakaknya sendiri. Ya, meskipun hanya seorang tiruan dan merupakan han—“ kalimat Yuri menggantung di udara ketika empat mata campuran milik Jiyong dan Victoria menatap padanya. “ITU DIA!” Victoria memekik.

“Apa?” Yuri masih kebingungan.

Doppelgänger itu melekat padamu karena kau adalah orang terdekat dengan Jiyong. Yang ia sukai, bukan dirimu, tapi Jiyong.”

Yuri dan Jiyong bertukar pandang, keduanya hampir saja tertawa.

“Lalu bagaimana ini seharusnya?” tanya Yuri lagi.

“Gampang!” Victoria menjentikkan jari kemudian mendorong tubuh Jiyong hingga ambang pintu depan, “keluarkan saja Jiyong dari apartemen ini hingga esok pagi, jangan biarkan dia bertemu denganmu barang sedikitpun. Semua akan beres. Doppelgänger akan makan jiwamu kalau hatinya sedang gembira, jadi dengan Jiyong yang tidak ada di sekitar dirimu, ia akan sedih lalu berhenti makan jiwamu dan wosh, dia akan pergi.”

Jiyong melangkah mundur dengan ragu. Ia membagi tatapan ‘apa kau yakin’ pada Victoria dan dibalas dengan anggukan hebat berkali-kali. Victoria mengunci pintu depan ketika tubuh Jiyong sudah sepenuhnya keluar.

Seperti hipotesanya semula, sang Doppelgänger kini kehilangan senyumannya di pojokkan. Ia tidak bisa menyusul Jiyong karena setiap Doppelgänger tidak bisa berada jauh dari inangnya.

Yuri tidak merasakan apapun selain sepi. Tidak pernah ia ditinggalkan sendiri oleh Jiyong. Ya, walaupun Victoria cukup baik baginya, tapi tetap saja ia merasa janggal ditinggal kakaknya.

Kini Yuri melangkahkan kakinya ke kamar pribadinya, sementara Victoria sibuk menginspeksi lemari pendingin mereka. Ketika pintu tertutup rapat, Yuri segera membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Lamat-lamat ia mendengar suara seorang gadis menangis dari segala arah. Mungkin Doppelgänger, pikirnya. Namun suara itu menjadi nyaring seiring Yuri berusaha melupakan Jiyong dan menutup mata.

Mata Yuri beredar ke seluruh ruangan. Selain suara, ia tidak bisa merasakan apapun lagi. Tangisan itu semakin kencang setiap detiknya, membuat Yuri bergidik ngeri.

Yuri tidak berteriak atau meminta bantuan Victoria karena ia berpegangan pada konsep Doppelgänger tidak pernah mencelakai secara fisik.

Jadi ia hanya diam dan mendengarkan tangisan tersebut.

Tubuh Yuri kini berbaring menyamping, dan ia merasakan seseorang ikut berselimut dengannya di atas kasur, tepat di belakang punggungnya. Ia biarkan itu terjadi sementara suara tangisan terdengar lebih dekat.

Yuri mendesah,

Hey Doppelgänger, kau menyukai Jiyong sampai seperti inikah?”

.

.

.tbc

.

.

a/n

Yo, review masih diperlukan xp

alangkah lebih bagusnya sekarang ngereview segi penulisan, tanda baca, plot sama EYD aku.

aku akan sangat berterima-kasih loh🙂

75 thoughts on “Ghost Slayer #3

  1. slmnabil berkata:

    Yaampun kak nyun, apalagi yang bisa direview dari tulisan yang bentukannya udah kaya gini? Plotnya, I love it! Apalagi saat kemunculan si hantu itu. Dialog antar tokoh, apalagi kwon siblings berkelas banget, seger dibacanya wkwk. Great job kak!💜

  2. Ardelia wynne berkata:

    Duh doppelganger na lucu deh kak nyun. Dia suka sama jiyong wkwkwk
    Penasaran bgt sama lanjutan na. Kira” si hantu itu bakal pergi ga ya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s