VIBRANCE [Part 11]

Vibrance 2

Sorry for delay😦

***

“Kau di sini?” Yongguk mengenali sesosok pria tua yang sedang termenung di atas sebuah batu. Pria itu muncul dengan sendirinya secara ajaib, seperti baru saja muncul dari persembunyian barikade udara yang tebal kemudian termaterialisasi di balik balutan kabut.

Dims di sana, dengan kerutan di keningnya.

Tersenyum dengan bias kemudian melemparkan pandangan asal ke bebatuan terjal di dekat sebuah jurang yang curam, begitulah Dims menyambut Yongguk.

Yongguk menggedikkan bahunya beberapa kali kemudian menggeleng singkat. Katanya, “tidak perlu murung begitu, kita sudah tahu bahwa akan datang hari seperti ini, bukan, Dims?,” Yongguk menghela nafas sebentar kemudian bicara lagi, “ah tidak, maksudku, Zero?”

Dims menggoyang-goyangkan kakinya yang sedari tadi ia lipat bersila di atas sebuah batu. Kepalanya yang sudah mulai jarang ditumbuhi rambut kini ia garuk perlahan. Dengan sedikit gaya, ia berdiri, meruntuhkan semua debu kokoh yang menempel  seperti lintah pada baju rajutnya.

Dims menatap Yongguk sesaat kemudian ia berkata, “Aku tahu, tapi aku belum lama untuk—“

“Tentang Yuri lagi? Oh, ayolah, aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu—mengingat kita berbagi tubuh yang sama—tapi aku percayakan semuanya pada mereka yang sedang bertarung di luar sana. Kadang, seharusnya, kau justru melupakan hal-hal pribadi yang bersifat emosional seperti itu dari dalam dirimu. Bisa merusak semua fokus rencanamu.”

Dims ragu. Dilihatnya sosok dengan wajah yang sama sekali berbeda dengannya.

Oke, dia berbeda, tapi itu aku.

Sudah sejak berabad-abad yang lalu, ketika Zero berada dalam pertarungan  berdarah antara para beasts. Ia berhasil menyembunyikan diri dengan bantuan para serigala dan hidup sebagai Yongguk selama berabad-abad. Ia mengandalkan kebohongan demi kebohongan untuk menutup jati dirinya dari orang lain.

Jika ada yang bertanya siapa yang paling mengenal baik sosok Zero maupun Yongguk?

Wolves?

Tidak.

Jawabannya, tidak ada satupun.

Karena kali ini, wolves tidak mengetahui sejatinya siapa Yongguk atau Zero atau…, Dims.

Ini adalah kisah dimana Zero mempelajari ilmu kuno terlarang, tentang pembelahan sel dan sebagainya. Kenyataan bahwa Zero adalah makhluk abadi—karena memiliki darah keturunan wolf dan phoenix—membuatnya harus ekstra hati-hati agar keberadaannya tidak terendus.

Melalui ilmu terlarang yang ia pelajari sejak lama, perlahan, ia membentuk sosok Dims. Ia membagi dua kekuatannya dalam kadar yang sama dari tubuh orisinalnya pada sosok pria yang selanjutnya kita kenal sebagai guru yang paling peduli terhadap Yuri.

Lalu semuanya akan masuk akal tentang mengapa Dims sangat mencintai Yuri dan rela memberikannya pinjaman tongkat sihir.

Itu Ayahnya sendiri, bukan?

Bukan tanpa resiko Zero mempelajari ilmu demikian. Yah, sebagaimana kitab kuno dari ilmu terlarang yang lain, pasti ada sesuatu yang tersembunyi dalam ilmu tersebut yang pada akhirnya akan menimbulkan efek samping pada si pemakainya.

Zero tahu, dan ia sudah menyiapkan hal terburuk dari yang paling terburuk, semisal menyiapkan Luhan untuk membunuhnya, barangkali,

Atau memang.

Dikatakan bahwa ilmu pembelahan akan memiliki efek samping yang berbeda pada para penggunanya. Tingkat efektivitas dan resiko akan sangat bergantung pada seberapa kuat sihir yang dimiliki si pengguna. Sialnya –anggap saja ini sebuah kesialan—Zero adalah yang paling kuat dalam sejarah penyihir, mari kita tarik kesimpulan bahwa, resiko yang ada berbanding lurus dengan keamanan yang dia terima.

Dalam kasusnya, Zero tidak dapat menggabungkan tubuh orisinalnya dengan sosok Dims dengan cara apapun, ya, kecuali kalau dia ingin berubah menjadi monster menyeramkan.

Di sini muncul sedikit permasalahan.

Kaum wolves, kekurangan jumlah, jika ia tidak turun tangan maka semua jiwa-jiwa yang sudah dipertaruhkan akan terbuang percuma. Seandainya ia bergabung dengan para pejuang tadi dengan kekuatannya yang sudah terbagi dua sekaligus tongkat miliknya yang sudah ia berikan sebagai pelindung bagi Kai, maka tidak ada pengharapan berlebih. Pastinya ia akan kalah jua.

Satu-satunya jalan adalah kembali menggabungkan tubuh orisinalnya sebagai Yongguk dengan tubuh dari sosok Dims untuk menciptakan kembali Zero yang pernah ada. Hanya itu.

“Kita hanya memiliki 30 menit untuk menang,” Dims berkata, ada nada tersekat di sana. “Dan untuk mengucapkan salam perpisahan pada Yuri.”

Yongguk termenung dalam posisi berdirinya yang sudah tidak nyaman. Semut besar berwarna kemerahan beberapa kali menggigiti kakinya seolah dia adalah gula raksasa. Yongguk berdeham karena tidak menemukan respon terbaik yang bisa ia berikan pada jiwanya pada sosok Dims.

“Aku harap Yuri tidak mengutukku karena terlalu banyak menggunakan mantra agerecov.” Tambahnya.

Yongguk menerawang, mencerna kata-kata dari Dims.

Mantra kuno yang dipergunakan untuk menghambat pertumbuhan Yuri. Mantra terkenal yang sudah musnah, agerecov.

Mantra itu sudah terbukti membuat Yuri lamban dalam tumbuh menjadi dewasa dan berkembang. Mari kita perjelas ini.

Secara teknis, Yuri sudah ada sejak beratus abad yang lalu di zaman Zero masih berkuasa.

Lantas, sungguh tidak masuk akal bukan jika seseorang yang sudah beratus-ratus tahun hidup sebagai penyihir, masih terlihat seperti gadis biasa di usia tanggung? Apalagi bergaul dengan beberapa teman sebaya di sekolah sekelas Raville.

Ya, Zero menggunakan mantra agerecov. Membuat masa balita Yuri hingga ratusan tahun kemudian membuangnya pada sebuah panti asuhan. Seperti itu.

Kwon Hani, adalah seorang keturunan wolf yang mempunyai kekuatan sebagai peramal yang andal. Atas saran dari Hani, Zero melakukan semua hal tersebut.

Akan ada masa dimana sebuah perang akan pecah sekali lagi, musuh yang tidak diduga datang sementara matahari meredup. Mahkota dari sang putri akan jatuh. Seorang ksatria bisa menyelamatkan, tapi tidak semua, mungkin hanya satu, mungkin dua, tapi dia tidak bisa menyelamatkan dirinya.

Zero percaya bahwa ungkapan matahari melemah adalah dirinya yang sekarang; mahkota dari sang putri akan jatuh artinya Yuri yang kalah dalam pertarungan. Bagian itu sudah jelas.

Tinggal ksatria. Zero tidak yakin apakah itu Kai atau Luhan.

Melalui matanya sebagai Yongguk, ia telah banyak melihat gerak-gerik Luhan sebagai perwujudan nyata dari ksatria. Sedangkan melalui matanya sebagai Dims, Kai adalah murid jenius yang memiliki rasa tanggung-jawab yang lebih tinggi dari apapun, terlebih nilai tambah karena dia adalan anak dari mendiang Crocus.

“Dia tidak akan ingat jika kau tidak menjelaskanya.” Sahut Yongguk singkat, kembali pada topik. Keduanya kemudian diam kembali, menatap asap-asap mengepul di kejauhan.

“Sudah saatnya, Dims.” Yongguk mengingatkan, ia membuat sebuah lingkaran di atas tanah dengan menggunakan sesuatu yang berwarna kehitaman di tangannya. Mungkin orang akan mengira bahwa ia menulis dengan tinta kering, tapi percayalah, itu bukan.

Darah phoenix tempo lalu yang mereka tangkap kemudian dikeringkan.

Dims berdiri dari pertapaannya. Hatinya masih ragu. Katanya, “jika kita tidak bisa memenangkan pertarungan dalam 30 menit, apa yang terjadi?”

Yongguk melangkah masuk ke dalam lingkaran dan berdiri di tengah. Ia menjatuhkan sebuah tongkat kecil dengan ujung penuh darah phoenix yang menghitam dan kering. Kedua manik pria itu bertemu-tatap, “penyihir akan menjadi makhluk magis, beberapa menjadi patung, sesuai tingkatan kekuatan mereka. Dan kita, dengan semua kekuatan ini, mungkin,” Dims mendesah, ia berjalan masuk ke dalam lingkaran dan berdiri berhadapan dengan wajah kukuh Yongguk.

“Monster.”

-V-

Kai berguling ketika sebuah serangan mendarat di tumit kanannya. Himchan mengulum lidah kemudian tertawa melecehkan. Taecyeon sudah bersimpuh di sisi yang lain dengan luka-luka besar yang membuat darah tidak berhenti mengalir.

Lee Joon, kali ini tidak bisa membantu. Pemuda setengah serigala tersebut sudah terkapar di tanah dengan wajah terkejut dan berdarah-darah. Bisa ditebak, bukan?

Senja sudah hampir memudar dan hujan tak hentinya berderai.

“seperti itu saja, Kai?” Himchan mengolok. Ia berjalan melewati Taecyeon kemudian menendang pria sengsara tersebut tanpa sebab. Seringai Himchan dan sorot matanya yang berkilat adalah hal terseram yang baru pertama kali Kai lihat dari sosok penyihir.

Meskipun Crocus, mendiang Ayahnya, sebenarnya adalah yang ia takuti seumur hidup.

Magenta!” Kai berteriak sambil mengacungkan tongkatnya ke udara. Sebuah sinar dengan spektrum kompleks kemudian menyeruak dari balik awan mendung, turun ke tanah dan membuat barikade yang berputar lamban di sekeliling tubuh Kai, seperti benteng. Kai tersenyum penuh kebanggaan, “seperti apa maksudmu, Himchan?”

cih.” Himchan mengumpat. Ia meludahkan daunnya sembarangan dan menendang Taecyeon dari arena perkelahian—tapi terlihat seperti Taecyeon yang mendorong dirinya sendiri untuk menjauh dari sana dan pergi entah kemana, menembus rimbunnya hutan.

Cahaya warna-warni di sekitar Kai terbukti ampuh menahan serangan  bertubi-tubi dari Himchan. Bahkan Kai terlindung dari serangan tiba-tiba di belakang tengkuknya. Lantas saat menemukan kesempatan, Kai membuka satu titik dari barikade cahaya untuk menyerang Himchan dengan mantra lain dari tongkat sihirnya.

Entah mantra apa yang dilontarkan Himchan, saat ini ia sedang duduk di atas sebuah batu besar yang menyerupai badak. Tingginya sekitar 7 kaki dari tanah dan tentu saja, menyulitkan bagi Kai.

“Kusebut ini robocop.” Kata Himchan, disusul dengan tawanya yang terkesan jahat dan ambisius. Pemuda itu kemudian memecutkan semacam cambuk yang terbuat dari cahaya. Cahaya itu bermula dari tongkat sihirnya. Bagai cowboy, kini ia mengejar Kai yang lebih dulu berlari dari bahaya –tidak melepaskan barikade cahaya di sekelilingnya. Seperti banteng rodeo, badak itu menyerang dengan derap yang lebih cepat dari kilat, membawa Kai terpojok di balik barikadenya. Kaki sekuat beribu ton beras kini ia jejalkan di atas kepala Kai. Tidak mengenai Kai, tapi cukup untuk mengonfrontasinya agar panik. Badak itu loncat sekali,

Dua kali;

Tiga kali;

Dan di kali ke empat, barikade milik Kai hancur dengan semupurna. Himchan tertawa senang, apalagi saat menemukan kening milik Kai yang hampir saja terinjak.

“kusebut ini super-rhino juga.”

V-

“Kau tidak bisa lari dariku, nona.” Onna memekik ketika Yuri mencoba menyelamatkan diri dari area yang sudah dibatasi oleh Onna sebagai lahan bertandingnya. Luhan masih sanggup berdiri, bisa dikatakan ia ada dalam kondisi sangat prima.

Biar begitu, Onna sama sekali tidak memiliki intensi membunuh jika berhadapan dengan Luhan. Fokus gadis menyeramkan itu hanya pada Yuri, kemanapun Yuri melarikan diri.

“Berhenti mengganggu dia, lawanmu di sini, gadis buruk!” Luhan mengonfrontasi. Onna  menoleh sebentar, membiarkan hujan rintik menyapu rasa geli di perutnya. Ia tertawa, terbahak dengan tulang-tulang busuk yang kadang terlontar dari kerongkongannya. Air liur gadis itu menetes sementara ia berusaha menutup mulutnya.

“lawanku? Gadis busuk? Apa lagi yang kau punya agar membuatku marah, pria kecil?” jawab Onna. Matanya memicing pada tubuh Yuri yang terjerembab karena mencoba keluar dari area yang dibuat Onna. “aku sudah pasti akan mati di tanganmu, kau bisa senang karena kalimatku tadi. Tapi,”

Petir menyambar pepohonan dengan tiba-tiba. Yuri melongok ke atas, pohon itu tumbang ke arahnya. Sebelum Luhan datang dan menyelamatkan Yuri dari pohon tersebut, dengan sendirinya, benda itu membal dan terpelanting beberapa meter jauhnya dari tempat Yuri terduduk lemas. Selain menahan mereka yang berada di dalam area barikade agar tidak menerobos keluar, rupanya area yang diproteksi oleh Onna ini membuat benda dari luar tidak bisa menembus masuk ke dalam pula.

Sementara perhatian Luhan dan Yuri masih teralihkan, satu sosok kejam dengan bau-bauan seperti dupa yang dibakar dengan tulang hiu besar kini berhembus di seluruh area, mengganggu kenormalan berfikir bahkan cenderung membuat gila.

Yuri hampir pingsan jika ia tidak mengingat mantra tidak berguna yang ia pelajari dari buku-buku sihir rumah tangganya, mantra penyaring aroma tidak sedap. Cukup efektif jika dipergunakan sebagai penahan aroma tengik dari bangkai rumah tangga, tapi agar berbeda dari kasus di depannya saat ini.

Namun begitu, setidaknya masih berfungsi, pikirnya.

Yuri mengerjapkan matanya sesekali sambil mencoba menambah daya pada sihirnya. Sosok tinggi besar, bertaring—tanpa gigi normal yang seharusnya—ditambah sayap bau, kini berdiri kukuh di sebelah Onna. Keduanya menyeringai, namun tidak seseram ketakutan yang dipancarkan Luhan dari wajahnya.

Untuk sepersekian detik perkiraan, asumsi Yuri pada ketakutan Luhan hanya sekejap. Namun yang ia lihat kemudian adalah kaki Luhan yang bergetar hebat saat mencoba berdiri dan ekor Luhan yang mencuat dari tulang bokongnya.

Yuri memerhatikan manik milik Luhan yang semakin memerah, nafas pemuda itu sudah di atas ambang normal—lebih tidak normal dari nafas manusia setengah beast yang lain.

Rambut perak Luhan kini berdiri bagaikan landak, bersiap untuk mangsa yang sudah ada di depannya. Mata Yuri kini teralihkan pada sosok di sebelah Onna. Seorang pria yang percaya diri dengan liur menetes-netes. Rambut perak dari sang pria kini bersinar ketika ia mengibaskan sayapnya dari kabut-kabut dan kunang malam.

Tunggu.

Rambut perak?

Ada dua pria rambut perak di sini?

“Selamat malam, Luhan,” sahut si pemuda asing. Yuri melirik sekilas pada Luhan yang masih belum stabil, nafasnya berhembus lebih berat, matanya memicing tajam. Sang pria yang berada di sebelah Onna seolah tidak peduli. Lagi, dengan sangat jelas Yuri bisa mendengar pria itu berbicara kembali ada Luhan.

“ah bukan, selamat malam,” Pria itu memandang wajah Luhan dengan hangat, “adikku yang manis.”

V-

“Oh, sial!” Kai mengumpat. Barikade cahaya pelangi yang mengelilinginya kini sirna sudah. Jika kau bertanya apa yang ia lakukan sekarang, jawabannya, tidak jauh berbeda dengan ketika kita meninggalkannya untuk cerita lain.

Masih dengan badak, Himchan dan teror yang semakin memanas setiap detik.

Satu per satu pejuang dari pihaknya berguguran. Phoenix pun menyusut, ikut terbaring bersama para lawan-lawan tangguh yang sudah lebih dahulu berkalang tanah. Hanya 10 sampai 11 saja yang masih bertahan, itu pun dengan keadaan sulit dideskripsikan. Sebagian, sudah tertutup sempurna oleh darah kental.

Kai berfikir keras.

Kadang ia berfikir seolah ia menjadi Crocus dan membayangkan apa yang Ayahnya akan lakukan di situasi darurat seperti itu. Pukul mundur pasukan atau memilih mati di arena. Tipikal seperti Crocus tentu akan memilih jawaban nomor dua, namun Kai tidak bisa.

Harga dirinya yang secara refleks tidak pernah puas dengan kekalahan, kini dihadapkan pada nurani dari para korban perang yang berjatuhan. Namun, seperti kata Yongguk, ia tidak bisa mundur sekarang, sudah terlalu terlambat untuk menyerah.

Kai tidak ingin perjuangan mereka yang sudah tenggelam di atas dedaunan kering, keringat dan darah menjadi sia-sia hanya karena satu rasa hina : takut.

Ketika ia menempatkan posisinya sebagai Yongguk, Kai mendapatkan satu dukungan moril bahwa yang ia lakukan sudah benar. Sesekali ditatapnya tongkat sihir miliknya dalam-dalam –seolah tongkat itu berbicara padanya untuk memberikan nasihat singkat dan sebagainya—lalu pemuda itu akan mulai menyerang kembali.

Lalu dia akan mundur ketika dirasa semua serangannya sia-sia.

Begitu seterusnya hingga Kai merasa lelah sendiri.

“Sudah kuduga, Crocus si botak tidak akan mengajarkanmu apa yang pernah ayahku ajarkan padaku. Kau kalah, Kai.” Himchan memekik, tertawa senang seperti anak kecil yang baru saja diberi eskrim gratis dari orang asing. Ia loncat-loncat sementara badak yang ia tunggangi kini bersiap mengejar Kai sekali lagi. Ketika Himchan berhenti tertawa, matanya fokus pada satu sosok letih di atas tanah, hanya bisikan sekilas, kemudian badak itu berlari kencang, “kita selesaikan ini, rhino.”

-V-

Seorang pria berambut perak dengan sorot mata yang berbeda dari Luhan kini menjelaskan kedudukan keduanya di mata Yuri. Satu memang Luhan, tapi satunya lagi adalah musuh. Sialnya, musuh ini adalah orang yang pernah terlalu dekat dengan Luhan di sepanjang hidupnya.

Yuri mengerti, bahkan dari bahasa tubuh yang ditunjukkan Luhan, bahwa pria ini adalah pria yang mampu menumbangkan keseluruhan rasa percaya diri dan berani yang pernah ia miliki.

Onna terbang dan menyerang Yuri dari atas. Luhan menepis dengan cakaran, tapi di sisi lain, rambut perak yang lain terbang dan menumbangkan Luhan dalam sekali kepakan sayap hebat.

“Kau masih hebat seperti dahulu, Woobin!” Onna memuji, tapi tidak ada satupun yang percaya bahwa ia benar-benar tulus –sorot matanya yang memicing tajam dan salah satu sudut bibirnya yang terangkat—sungguh, lebih seperti pelecehan.

Gerimis masih membasahi tubuh para petarung di bawah awan, Yuri kini meringkuk di salah satu sudut terbaik dari perlindungan Luhan. “tetap disana.” Katanya.

Rambut Yuri kini sudah basah, seperti ada beban seberat satu kilogram bergelayut di kepalanya karena terlalu lama kehujanan. Jauh di dalam syaraf otaknya yang bekerja, sesuatu mengganggunya, membuat potongan grafis kematian Luhan kembali berkelebat di dalam otaknya.

Yuri memejamkan mata, menghilangkan semua fikiran negatifnya.

Lalu suara-suara teriakan perih dari beberapa wajah yang ia kenal malah memenuhi gendang telinganya. Suara minta tolong, isak tangis, keputusasaan, harapan, teriakan, keberanian, pengorbanan, keluarga.

Keluarga.

Keluarga.

“AAAAAA!”

Siapapun tidak akan menyangka bahwa suara mahadahsyat dan melengking barusan adalah suara dari seseorang yang putus asa seperti Yuri.

Ketika Yuri terengah, BAM!

Sebuah ledakan besar yang meruntuhkan pertahanan milik Onna kini terjadi di depan matanya. Ditambah lagi, kini ada beberapa genangan darah dari gendang telinga Onna yang terus turun sejalan dengan air hujan menuju ke tanah.

Mata Onna kini melebar, oh, hampir copot malah. Dengan mata yang merah menyala, ia terbang rendah menukik dengan tangan-tangan yang siap mencekik pada Yuri sebagai target. Yuri tidak bodoh, ia tentu tahu sesuatu dalam suaranya menyebabkan ledakan sehingga kini Onna marah padanya.

Yuri berlari secepat yang ia bisa, tapi,

Percayalah, dia tidak perlu melakukan itu.

Tongkat sihir yang sudah rusak menjadi dua miliknya, kini berpendar, terbang dari sakunya dan merekat menjadi satu. Utuh! Bahkan seperti tidak pernah patah sebelumnya. Tongkat itu memilih tangan kanan Yuri sebagai wadah kemudian memberikan energi positif sehingga Yuri dapat terbang tanpa sayap.

Aneh bukan?

Secara tiba-tiba, Yuri yang beberapa saat yang lalu masih menjadi wanita terlemah dari seluruh pertarungan, kini menjadi wanita pertama yang mampu terbang tanpa sayap.

Onna masih takjub, tapi Luhan tidak memberinya kesempatan. Dari belakang, ketika semua mata lengah, Luhan mencakar dan menyerang Onna dengan cahaya super kilat. Kabar baiknya, semua serangan itu mampu membabat habis sayap dari tubuh Onna.

Darah amis yang berbau seperti tikus got busuk kini memenuhi punggung Onna. Ia berteriak, kesakitan. Luhan mundur perlahan namun Woobin mendapatkan tubuh Luhan di tangannya. Dua pemuda itu kemudian beradu fisik sambil mencari kesempatan: menyelamatkan Onna bagi Woobin atau membunuh Onna bagi Luhan.

Onna mengejang, Yuri tahu.

Tidak ingin menyia-nyiakan peluang yang diciptakan Luhan, Yuri dengan tidak yakin—sedikt gugup dengan lelehan peluh yang membanjiri kausnya—mengacungkan tongkat sihir ke arah si wanita mulu robek yang sekarat.

Onna mengumpat dan mengancam, tapi Yuri tidak gentar. Ada suara pria yang mengatakan bahwa ia harus membunuh Onna dan pergi ke utara segera –tapi ia tidak tahu tepatnya siapa yang berbicara padanya.

“aku harus mencoba ini,” kata Yuri pada dirinya sendiri, ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya sambil merapal mantra yang ia tahu, “Hugo Veda.”

Pepohonan tumbang, petir menggelegar dan tanah bergetar hebat. Yuri tidak tahu bahwa efek mantra Hugo Veda-nya akan menjadi begitu fantastis. Onna sudah mengejang dan pergi dalam keheningan beberapa detik kemudian, tapi sang petir begitu juga tanah yang bergetar, belum benar-benar berhenti.

Woobin menatap Yuri. Matanya membulat, lebih besar dari sebelumnya. Bibirnya tidak terkatup sekalipun ketika melihat Yuri yang masih mengawang kebingungan. Bagai anak panah, Woobin melesat, hendak menyelesaikan urusannya dengan Yuri saat itu juga.

BRUK.

Pohon tumbang dan kebetulan menimpa tubuh Woobin yang sedang mengincar mangsanya. Yuri tersentak, sadar dari lamunan. Matanya terpaku pada cahaya dari ujung jari Luhan berpendar ringan.

Lamat-lamat, sebelum Woobin melakukan serangan balasan pada Luhan, Yuri bisa mendengar Luhan berkata, “Pergi, Yuri! Pergi dari sana!”

-V-

Ingat ketika tongkat Yuri yang sudah patah kemudian dapat bersatu kembali? Atau keajaiban dimana Barikade buatan Onna yang mahakuat itu sudah hancur hanya karena sebuah teriakan dari Yuri?

Tidak, itu bukan kebetulan atau kekuatan hanya lewat saja.

Sesungguhnya, di tempat berlainan, kini badak batu milik Himchan hancur menjadi kepingan debu yang terlarut di tengah air hujan. Tidak berbekas.

Himchan sendiri kini terduduk di bawah pohon diliputi ketidakmengertian yang mendarah daging tiba-tiba. Kai memanfaatkan peluang dan mengacungkan tongkat sihirnya tepat di wajah Himchan. Katanya, “Pocrus

BANG!

Seperti sebuah tembakan, ada cahaya hebat yang meledak dari tongkat Kai. Wajah Himchan kini sudah terlarut di dalam cahaya dan ledakan, Kai sudah tidak mau tahu. Ia berbalik, menyimpan tongkatnya di saku belakang celananya dan berjalan menjauh ketika ledakan tersebut terjadi. Seperti seorang pahlawan heroik saja.

Membantu beberapa survivor, Kai menebas para Phoenix yang sudah kepayahan dengan tongkat sihirnya. Perlu diketahui bahwa cahaya yang keluar dari tongkat tersebut berbentuk pipih dan tajam, bagian ujungnya melengkung samar sedangkan bagian pangkalnya melebar, seperti pedang.

Bruk.

Suara tadi adalah suara kekalahan dari Phoenix terakhir. Mereka menang, dalam battle section ini mereka sudah menang.

Wolves yang tersisa tidak lebih dari 6 orang, Kai merasa bersalah. Dilihatnya jasad Daehyun dan Lee Joon yang teronggok mengerikan di salah satu sudut tanah basah yang berbeda.

“Kuburkan mereka semua, baru kita pergi.” Perintah Kai.

Namun guruh tidak setuju, petir menyambar dan langit memuntahkan airnya lebih deras. Kai diam, memandangi butiran-butiran air yang jatuh di atas dahinya. Ketika butir itu perlahan menyusuri hidung, bibir kemudian jatuh ke atas tanah, suara aneh berdengung.

Tidak ada yang mendengarnya lagi selain Kai seorang.

Suara itu berhasil mendapatkan perhatian Kai seluruhnya. Ia memerintahkan yang tersisa untuk mengurus jasad dari para koleganya sementara pemuda itu sendiri, segera berlari menerobos hutan, ke arah dimana sebelumnya Taecyeon berlari.

“Kai, pergilah ke utara dan temukan Yuri. Yakinkan Chiron, aku membutuhkannya, katakan 28 menit. Rahasiakan dari siapapun.”

“Sial! Apa maksudnya.” Kai mengumpat di tengah ayunan kakinya, ia yakin betul tadi adalah suara Yongguk, tapi dia tidak tahu, apa maksudnya dengan bertemu Chiron dan mengatakan 28 menit.

-V-

Drakon tahu apa yang harus mereka lakukan. Bawa serta Centaur juga.”

“SIAPA ITU!” Yuri mulai marah ketika suara-suara terus bermunculan di telinganya seperti lalat. Ia terbang dengan lebih cepat, melawan arah angin dan menerobos hujan yang lebih deras.

Ketika ia berada di pucuk paling atas dari pohon elm, dilihatnya Taecyeon yang kepayahan bersandar pada batang-batang pepohonan tersebut. Yuri terbang rendah dan berdiri di depan pemuda itu dengan kepercayaandiri luar biasa.

“Y-yuri? kau masih hidup?” katanya, hampir tidak percaya. “kau tidak bersama—“

“wanita mulut robek itu sudah mati. Jadi katakan, kau berada di pihak siapa?” Yuri berkacak pinggang, menunggu jawaban. “Oh, ternyata bukan di pihak kami. Oke, kalau begitu, selamat berjuang.”

Yuri melangkahkan kakinya, menjauh. Taecyeon menahan gerakannya dengan kalimat parau diiringi sorot mata keheranan. Katanya, “kau tidak membunuhku sekarang?”

Yuri menatap Taecyeon. Ia yakin melihat mata Taecyeon seolah bicara ‘hey, aku musuhmu lho. Kau yakin tidak mau membunuhku?’ tapi Yuri memilih mengabaikan Taecyeon dan merespon dengan jeda hening panjang terlebih dahulu.

“Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuhmu. Jika kau naas, mungkin ada orang lain yang bersedia melakukannya untukku. Berdoa saja.”

Yuri, segera ke utara!”

Yuri mendengarnya lagi tepat ketika ia menjauh dari Taecyeon dan menyelesaikan kalimatnya. Kepalanya benar-benar pusing.

Menemukan Drakon dan Centaur adalah tujuannya sejak awal, tapi suara siapa yang mengganggunya dan memerintahkannya melakukan hal yang sama.

Yuri berusaha menghilangkan perasaan-perasaan tidak masuk akal dari dirinya sembari ia terbang kembali.

Mungkin ke utara lebih cepat akan lebih baik. gumamnya.

-tbc-

.

.

A/N

Halo. akhirnya aku bisa update ini setelah sekian lama.

diberitahukan bahwa Vibrance akan mencapai ending. /sorak sorai/

dan untuk chapter selanjutnya akan di password lagi /senyum epil/

password akan diberikan kepada mereka yang pernah meninggalkan review dan komentar di blog ku. artinya, silent readers yu dadah babay deh ya.

sekian.

salam kecup dari jauh,

kaknyun.

169 thoughts on “VIBRANCE [Part 11]

  1. KuahRamen berkata:

    Akhirnya yuri nunjukkin kekuatannya yg sbenernya, pdhal mgkin msih bisa lbih kuat lagi kan ya ?? Banyak kejutan, napa tiba2 kakak luhan datang dan mgapa ada di pihak phoenix aku bingung. Dan kai, gak usah diraguin. Memang jiwa pemimpin og. Kkkkk ~

  2. KuahRamen berkata:

    ..Akhirnya yuri nunjukkin kekuatannya yg sbenernya, pdhal mgkin msih bisa lbih kuat lagi kan ya ?? Banyak kejutan, napa tiba2 kakak luhan datang dan mgapa ada di pihak phoenix aku bingung. Dan kai, gak usah diraguin. Memang jiwa pemimpin og. Kkkkk ~

  3. irma berkata:

    Udah mau habis ya eon😦 *nangis*
    tapi aku senang yuri akhirnya bisa menggunakan kekuatannya😀
    daebakkk eon😉

  4. Choi Nayoung berkata:

    huwaaahh keren bangeett~~ aku bayangin pas perangnya kayak di narnia tapi beda dikit lahh~~ hehe._.v
    ditunggu kelanjutannyaa~ semoga semakin keren dan tanpa ada typo._. tadi aku baca keknya ada sebuah typo, tp gapapalah. Tidak ada manusia yg sempurna #azeekk /ditendang author/
    Keep writing thor^^~

  5. Bintang Virgo berkata:

    WOW
    kekuatan Yuri yang sesungguhnya bakalan muncul/sudah muncul?
    Luhan & Woobin adik kakak kok bisa?
    keren thor Lanjutkan
    tapi luhan, kai, yuri jangan ada satupun dari mereka yang mati ya thor *memohon dengan wajah memelas*

  6. Onlyuri berkata:

    Dan ini part paling bikin aku nyesek karena blm bisa baca lanjutannya, ngerasa salah bgt karena ga baca dm kaknyun baik2 /nangis terjun dari tebing/
    Aku suka banget sama part ini, kayanya pas monster (zeroxdims) muncul seru banget deh.. udah gt aku penasaran jg apa jadinya kalp mantra yg di kasih di yuri ilang? Apa yuri nya mati un?:/
    Unnie jebal mianhaeyo……. bales dm ku di twitter ya ;______;

  7. minyulhanshipper berkata:

    akhirnya kekuatan yulnie muncul juga yippi yippi ^^
    lulu oppa, yulnie dan kai jangan mati ya.. yulhan bakal bersatu kan di endingnya? pokoknya yulnie musti ama lulu oppa *maksa hehe..
    author yg baik, mau dong dikirimin pw part 12 ampe 17 ke yayalulumi@gmail.com🙂
    gomawo gomawo gomawo

  8. beninglaras berkata:

    Kanyuun, aku agak bingung.. zero itu jd macam voldemort gt y? Dia ngebelah jiwany jd 2?? Tp tubuh asli zero yg mana? Dims? Atau yongguk? Brarti tongkat sihir yg di yuri bnran pny yuri y?? Kan yuri anakny dims jg.. si kai cocok jd panglima perang, buktiny phoenix kalah.. strateginy mantaap.. tp knp hrs tetep nemuin chiron sm drakon y?? Ad rencana lain kah? Kekuatanny yuri perlahan2 mulai keluar yaa.. huhuuu..

    Lanjuut bacaa part 12..

  9. seria berkata:

    jadi luhan punya kembaran? Bingung.. Kan luhan wolf.. Kok bs saudara di phoenix? Ntar bkal di ceritain kan nyun? Penasaran.,
    keren.. Keren.. Itu yg suara2.. Si zero?

  10. rensynsr berkata:

    Kak nyun kalo nulis ff gimana sih caranya sampe nggak bisa ketebak kedepannya gimana .-. Beberapa ff aku masih bisa nebak akhir cerita dan jadinya ama siapa. Tapi kalo ff kak nyun nggak ketebak sama sekali -_- semua ff kak nyun pemerannya harus bener-bener di siksa dan penuh cobaan untuk dapetin cintanya makanya aku nggak bosen baca ff kak nyun.
    Keep writting ya kak ‘-‘)9
    Dan jangan bosen nulis ff yuri jadi main cast nya. Selain yuri sulit dapet feelnya hehe

  11. lia generation berkata:

    agag bingung baca a,,
    brarti zero tu membagi diri a jadi 2 bagian?? gitu maksud a ya??
    1 jadi yongguk, 1 lagi jadi dims??
    kayak voldemorth gitu kan??

    hahaha
    eonnie hwaiting,,!!
    cerita a makin seru dan gag bisa d tebak

  12. Sekar Ayu berkata:

    tuh kan yuri emang hebat ! zero ada dua ? awalnya aku bingung sih tpi waktu bca kelanjutannya
    oalah begitu to .. haha
    keren abis deh eon, aku gk tau hrs ngomong apa selain kata “keren” habisnya bgus bgt ffmu
    serasa baca novel JK Rowling versi indonya
    suka bgt deh pokoknya sama ff mu eon ! daebak !

  13. zelo berkata:

    Wow drakon dan centaur, centaurus nya namanya chiron juga.. minjem percy jackson ya unn?? Wkwkwkwkwk lanjut dulu yaa, thankyou, fighting unnie><

  14. Lulu Kwon Eun G berkata:

    Smoga Yuri sama Luhan gak mati😦
    Yuleon keren bunuh si Onnah😀
    trus bisa terbang gitu, apalagi pas ketemu Taecyeon dan bilang:

    “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan
    membunuhmu. Jika kau naas, mungkin ada
    orang lain yang bersedia melakukannya
    untukku. Berdoa saja.”

    ahaha kebayang muka Taecyeon pasti melongo, padahal aq pengen Taecyeon juga mati (ketawajahat) *peace

    oya kayur, aq makin penasaran nih,, boleh bagi PW.a lagi kak. hihi tega deh bikin aq penasaran,,😦

  15. Intan berkata:

    Yuleon udah berkembang lbh bnyak, syukurlahh..:-D
    apa Woobin itu kakaknya Lulu gege?
    Waauww..
    Ini semakin menarik kak nyun..:-D
    daeebaaakkkkk.. *_*

  16. liliknisa berkata:

    Ya ampun makin keren aja
    Onna dengan teriakan yuri langsung mati wow
    Berarti kekuatan yuri ga sembarangan ^^

  17. lalayuri berkata:

    Kak Nyun, jangan bilang Luhan itu pheonix ? Ah aku gak ngerti kenapa kakaknya luhan ada di pihak pheonix. Kak Nyun minta password part 13-end please kak, klo bisa hari ini soalnya aku kepo maksimal sama kelanjutannya kirim ke stevanihelena33@gmail.com makasih kak

  18. Yayarahmatika berkata:

    Berharap dims dan yongguk gak mati, yuri belum tau kebenaran tentang ayah kandungnya, dan gak ada satupun yang tau mengenai yongguk dan dims, plisss luhan jangan mati kayak di mimpi nya yuri pliss. Tapi kayaknya yang nyelamatin yuri itu luhan, tapi luhan gak bisa nyelamati dirinya sendiri dan akhirnya luhan pun mati. Begitukah kak nyun? Rasanya gak pengen ceritanya ending, pengen di lanjut lanjut terus kak nyun

  19. kimchikai berkata:

    Untung onnanya dah mati, sebel juga sama kehadiran dia.. Bau bau kmenangan ada di pihak yuri kayaknya.. semoga aja yuri, luhan, dan kai gak ada yang mati..

  20. Hara_Kwon berkata:

    Yeaaayy!! Akhirnya Kai, Luhan, Yuri, dan para wolves bisa mengalahkan musuh musuh mereka. Oya aku lupa lagi kalo Luhan memiliki kakak satu lagi -_-
    Bener2 buat deg deg an sendiri bacanya.
    Akhirnya mereka akan bertemu dgn darkon dan centaur. Huhuhu sayang sekali waktu ayahnya Yuri udah mulai pendek.

  21. Yelin berkata:

    yaah..si taecyeon mlh kabur tuh..
    pengen ktawa jg pas ngebayangin luhan punya ekor..hha
    perangnya belum selese kan ini..penasaran sama aksinya centaur ma drakon..jadi lanjut baca part slnjutnya ahh

  22. febrynovi berkata:

    luhan punya kakak? woobin? …..

    akhirnya himchan kalah juga ayee xD taecyeon pengecut, dia kan diminta buat jagain himchan tapi malah kabur. payah xD

    misteri yang ada di dalam cerita mulai terkuak satu-satu ya.. seru xD

    lanjuut

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s