KLISE : UNSTOPPABLE [Part 2]

bapkyr-reqlalala-copy

Lalala~~ maaf atas keterlambatannya /ini orang kok telat mulu/ /plak/

***

“Sudah di bandara?”

Itu tadi bukan suaraku. Myungsoo yang berbicara. Ini sudah kali ke-6 dia menanyakan topik yang sama padaku di setiap obrolan ponsel kami. Kau bisa menebak ‘kan apa yang kulakukan saat ini –selain mengerucutkan bibir serta diam seribu bahasa—tapi Myungsoo tidak peka, sayang sekali.

“Yuri-a, kau sudah di bandara kan?”

Kali ini sudah 7. Kataku, “aku harus menjawab berapa kali agar kau tidak bertanya lagi?”

“kenapa kau meninggikan nada bicaramu, huh?”

“Aku tidak meninggikan nada bicaraku. Kau ini kenapa sih?”

tapi tadi, kau—sudahlah!”

Lalu aku mendengar suara keras dari benda yang beradu kemudian aduhan singkat dari mulut Myungsoo. Oh, benar, dan suara Luhan yang dengan lembutnya mengatakan kau tidak apa-apa, Myungsoo.

Benar-benar rekan yang baik.

kau sudah makan?” Pria itu menarik kembali fokusku, sepertinya dia tahu saja bahwa aku sedang membayangkan wajah Luhan yang duduk manis penuh perhatian di sebelah Myungsoo. Kalau aku tidak salah, mereka seharusnya sedang bersiap untuk satu pentas musikal, dan aku tidak tahu kenapa Myungsoo sempat-sempatnya meneleponku saat ini.

“Belum, begitu sampai di Tokyo baru aku akan makan. Atau memesan saja di pesawat nanti.” Kataku. Kemudian rutukan demi rutukan lengkap dengan nada yang sengit kini menembus gendang telingaku, terurai melalui kuman-kuman di sana dan masuk ke dalam otakku sebagai bentuk kekesalan. Aku tidak mau mendengarkan lebih banyak, aku mematikan ponselnya.

Lagipula ini waktunya take off.

Manajerku mengurus semua keperluan boarding dan aku hanya tinggal mengikuti prosedur saja. Kulihat papan besar di area lobby utama yang menunjukkan bahwa dalam 3 jam, aku sudah bisa berada di Tokyo. Semoga cuaca cukup bersahabat.

Aku sedang di toilet ketika seorang pria menyusulku ke sana dengan terengah. Tenang, itu bukan sasaeng atau siapapun kok, dia lawan mainku dalam sebuah iklan minuman penyegar. Bukan artis terkenal, tapi dia memiliki wajah dan postur yang cukup baik.

Pertanyaannya, untuk apa pria itu terengah di depan ambang pintu toilet wanita?

Noona, ada sedikit masalah,”

Melihat dari ekspresinya saja aku sudah tahu memang ada yang salah. “Ada apa?” kataku –mengabaikan bagaimana aku meletakkan tas tangan di atas wastafel yang sangat basah.

“Aku meninggalkan pasporku di rumah.”

Aku diam, berkacak pinggang kemudian tertawa, “bisakah kau memberikan lelucon yang lebih segar dari lelucon dalam level ini?” Aku memandangi si pemuda dari atas sampai bawah, ekspresinya tidak berubah kecuali bagian peluhnya yang semakin banyak menetes dari dahi. Lantas aku menyimpulkan, pemuda ini tidak sedang bercanda.

“Kenapa kau tinggalkan, huh? Ini sudah waktunya take off!

“Aku pikir aku membawanya, Demi Tuhan, kupikir aku benar-benar membawanya sampai saat aku cek ternyata itu bukan paspor. Hanya sebuah buku catatan kuliahku. Sampulnya sedikit mirip memang,” Yah, mau bagaimana lagi. Aku tidak punya kuasa atau keajaiban seperti bisa teleportasi barangkali. Lagipula, untuk apa dia mengatakan ini padaku sedangkan bersamanya tadi, ada selusin kru iklan yang memiliki kapasitas sebagai penasehat. Benar kan?

Noona, kau tahu ‘kan aku anak baru—terlalu baru untuk perjalanan ke luar negeri, dan juga,” Pemuda itu mengerling sebentar ke arah lusinan kru yang menenteng tas-tas tangan dan koper-koper mereka. “Aku terlalu takut untuk mengatakan ini pada mereka. Ini kali pertama aku bekerja sama dengan mereka.”

Oh, jadi ini maksudnya. Dia mengatakan padaku agar aku menyampaikannya pada lusinan kru tersebut. Bagus sekali Kwon Yuri, lalu kau bisa kena imbasnya setelah ini.

Tapi melihat sorot mata pemuda ini, aku tidak tega juga. Apalagi setelah ia mengatakan, “aku akan menyusul dengan penerbangan selanjutnya, jadi mohon bantu aku sekali ini, Noona. Aku tidak tahu harus mengatakan ini pada siapa, manajerku saja tidak berani.”

Kau pikir aku berani?

Aku ingin mengumpat begitu, tapi dia terlalu muda, aku tidak tega. Seperti melihat Myungsoo berkacamata tebal dengan seragam rapi dan tampang yang bodoh. Ada persamaan mendasar dari keduanya—pemuda ini dengan Kim Myungsoo—mereka sama-sama tampan. Itu.

“Baiklah, Sehun-ssi. Hanya kali ini.”

Pria tinggi itu menunduk dengan sopan padaku kemudian berkali-kali berterima kasih tanpa mengindahkan setting adegan ini. Hey, kami masih berada di toilet wanita dan tubuh jangkung Sehun menghalangi jalan masuk. Tidak heran ketika kemudian seorang ahjumma memukul pundak pemuda tadi.

Setelah Sehun pergi, aku mengambil tasku dari atas wastafel. Sial! Bagian bawahnya sudah berubah warna dari coklat muda menjadi coklat tua. Ini basah!

“Oh, Kwon Yuri, belum apa-apa kau sudah sial lagi.” Aku berjalan, mengumpati kebodohanku. Kim –yang merupakan manajer paling bertanggung jawab yang pernah kupunya—kini memberiku sebuah tas baru ketika melihat tas coklatku basah kuyup. Aku menolak, dia sudah terlalu banyak membantuku. Dan aku sudah banyak menerima pertolongannya, kali ini boleh sedikit pengecualian.

Di pesawat, kursi di sebelahku kosong. Aku sudah mengatakan pada sutradara dan segenap kru yang lain soal Sehun yang melupakan paspornya dan bla bla bla. Respon mereka cukup bagus, tapi mereka memanggil Kim untuk duduk di antara kru-kru. Mungkin mereka merundingkan sesuatu.

“Boleh aku duduk di sini?” suara rendah yang kukenal kini menggema. Aku kira hanya halusinasi namun Yonghwa memang sedang berdiri di sana dengan senyuman paling manisnya. Oh, aku diabetes.

“Kau ada di sini?” sahutku tidak percaya. Yonghwa duduk di kursi kosong sebelahku dan mulai membenahi sabuk serta posisi duduknya. Setelah siap, ia berkata, “memang aku tidak boleh berada di sini?”

“Bukan! maksudku, kau juga ke Tokyo? Apa yang kaulakukan di Tokyo?”

“Bekerja. Apa lagi?”

“Kau membuka rumah makan sushi di sana?”

Yonghwa tertawa. Aku tidak menemukan ada yang lucu selain, ternyata, pengait celananya terlepas. Aku bicara padanya dan ia menggodaku sekarang. “Kau melihat ya? kau ini pervy.”

“Jangan mengalihkan topik deh, sekarang katakan, apa yang kau lakukan di Tokyo? Bekerja apa? OMO, jangan-jangan kau—“ kata-kataku menggantung, aku mengatur nafas. “Yakuza ya?”

Yonghwa meledak dalam tawa renyah, aku mencoba memungut serpihan dari kerenyahan tawanya dengan kening berkerut. Tidak tahu apa yang akan, atau harusnya, aku baiknya, aku katakan.

“Apa kali ini kau juga tidak diberitahukan bahwa nama Jung Yonghwa termasuk dalam daftar kru iklanmu, huh?”

“Demi Tuhan!” aku memekik. “Jadi kau bekerja bersamaku?” lantas Yonghwa mengangguk atas pertanyaan terakhirku.

Well, ini cukup mengobati rasa kesalku karena rentetan kejadian tidak bermutu pagi ini. Lagipula, kesempatan ini begitu langka untuk didapatkan –jauh dari Myungsoo dan bekerja bersama teman lama seperti Jung Yonghwa—jadi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

-n-

“ada berapa hari ini?—hanya 5, baik aku mengerti—terima kasih Hyung.”

Myungsoo menutup sambungan ponselnya dari Kwon Jiyong. Jemarinya kini merambah ke bagian atas wajah, memijit pelan daerah keningnya yang berkerut. Setelan jas hitamnya belum ia lepas, sepatunya masih ia pakai, sedangkan ia duduk di anak tangga dengan wajah berkerut penuh kecemasan.

Suara derap langkah ringan menghampirinya. Derap sepatu boots milik Luhan.

“Yuri masih mendapatkan surat-surat itu?” tanyanya. Myungsoo tidak menjawab barang sepatah kata pun, tapi apa sih yang seorang Luhan tidak tahu dari Kim Myungsoo?

“Kali ini berapa buah?”

“5” jawab Myungsoo singkat.

“Wah, itu bagus, sudah berkurang. Biasanya di atas 10, ‘kan?” Kata Luhan. Tangannya menepuk pundak Myungsoo dari samping ketika ia duduk di sebelah pemuda cemas itu. Myungsoo melepaskan pijitan di keningnya kemudian menatap nanar pada tangga berundak yang lebih rendah dari posisi duduknya. Ia menarik nafas panjang kemudian berkata,

“salah satunya ditulis dengan darah.”

Luhan menelan ludah, tangannya perlahan mengendur dari pundak Myungsoo. Ia sudah tidak bisa berkomentar banyak tentang hal ini.

Sudah lama –mulanya tepat ketika hubungan Myungsoo dan Yuri diketahui publik—kejadian ini berlangsung. Surat-surat ancaman dan hinaan yang ditujukan pada Yuri, terus berdatangan. Semua dari fans Klise, tapi sebagian besar dari fans fanatik Kim Myungsoo.

Menurutmu, mengapa Yuri baik-baik saja hingga saat ini?

Oke, ini sedikit rumit, karena :

Pertama, Yuri tidak mengetahui apapun soal surat-surat tersebut. Kedua, Yuri menganggap hubungannya sudah tidak spesial seperti dahulu.

Tapi ketahuilah, jika bukan karena Myungsoo, mungkin Yuri sudah berada di rumah lantas memilih kehidupan sebagai anti-sosial, dia juga bahkan tidak bisa menjadi seorang model.

Sudah lama Kim Myungsoo, bersama-sama dengan Kwon Jiyong melakukan apapun yang mereka bisa demi menyingkirkan segala surat kaleng dari mata Yuri. Setiap hari, ah, bahkan kadang tengah malam, keduanya gemar bertukar informasi tentang apa dan bagaimana ancaman yang diterima pada hari itu.

Jumlahnya memang semakin menurun setiap hari dan lagi, ancaman itu hanya pepesan kosong belaka, tapi tetap saja sebagai seorang pria, keduanya memiliki rasa tanggung-jawab yang penuh pada Yuri. Satu sebagai kekasih, satunya lagi sebagai kakak.

Luhan terkadang memiliki andil juga dalam pemusnahan surat-surat tersebut. Karena memiliki gudang besar di rumahnya, Myungsoo kerap menitipkan semua surat di sana. Yang terlampau ekstrem biasanya sudah ia bakar.

Jadi alasan dibalik mengapa Myungsoo terlalu protektif pada Yuri, sudah jelas bukan?

“Kali ini apa ancamannya?” tanya Luhan. Myungsoo mendelik sekilas kemudian desahan panjang keluar dari bibirnya. “dibunuh.”

“Oh, bukankah sudah terlalu sering ancaman seperti itu dilontarkan?” Kata Luhan. Myungsoo menggeleng lemah, kemudian menenggelamkan wajah di atas tangkupan kedua tangannya. “Kali ini terlihat menyeramkan, si pengirim mengirimkan foto.”

“foto?” manik Luhan berbinar, dilihatnya Myungsoo yang kesulitan merogoh sesuatu dari saku belakang celananya. Satu lembar kertas foto glossy kini ada dalam genggaman Myungsoo. Pemuda itu memberikannya pada Luhan yang sudah tenggelam dalam penasaran.

Wajah berbinar milik Luhan kini berubah menjadi pucat pasi. Dia sebenarnya tidak mau banyak komentar, tapi melihat foto tersebut sekali lagi, mau tidak mau bibirnya bergerak –menimbulkan kalimat patah-patah.

“I-ini—bagaimana dia mengambil foto seperti ini?”

“Itu masalahnya. Jika memang foto ini benar, Yuri ada dalam bahaya.”

“Sekarang dimana dia?”

“Pesawat. Ke Tokyo. Aku sudah mengirimi foto ini pada manajernya, mungkin manajernya sudah memberitahu para kru di sana. Semoga ia baik-baik saja. Kau simpan ini bersama surat yang lain, Luhan. Aku tidak ingin Yuri mengetahuinya.”

Myungsoo menyerahkan selembar foto pada Luhan sementara dirinya berjalan masuk ke dalam ruangan di balik pintu besi besar. Luhan memandangi foto yang diberikan Myungsoo kemudian bergidik ngeri.

Ada foto Yuri di sana, tertidur, memegangi guling dan segala macam benda di atas kasurnya. Ia terlihat cantik, ditambah segala pernak-pernik kamarnya yang kebiruan. Tapi bukan itu masalahnya,

Foto tadi jelas-jelas menampilkan sosok Yuri yang terbaring, seperti seseorang memotretnya dari atas atap.

Dari,

Atas,

Atap.

Well, ini mengerikan. Seseorang tidak diundang berada di kamarnya saat itu.

-n-

“Kau baik-baik saja?” Yonghwa masih menunggu di ambang pintu toilet wanita. Aku masih melakukan dengkuran-dengkuran keras dari tenggorokanku. Sesekali aku menahannya karena kepalaku yang pusing.

Ketika cairan akhirnya keluar dari mulutku, aku keluar dari toilet, menggapai air mengalir dari kran di wastafel yang seolah memanggil-manggil, lantas mencuci bibirku dengan air tersebut.

Kulihat Yonghwa sekilas, “aku biasanya tidak begini.”

“Mungkin kau kurang sehat. Sebaiknya kau beristirahat selepas ini, lagipula shooting akan dimulai besok.”

Aku mengangguk setuju. Yonghwa memapahku menuju pundak manajer Kim yang sedang kebingungan mencariku. Ya, aku lupa memberitahukannya aku sedang berada di toilet.

Ada sebuah mobil bus mini yang terparkir di depan pintu utama bandara. Beberapa wanita Jepang yang tidak kukenali kadang memandangku sinis. Oke, mungkin mereka mengenaliku, tapi sebagai kekasih Myungsoo. Aku benci saat-saat seperti ini.

Kim memberiku air putih hangat untuk diminum sedangkan Yonghwa memberikanku plester penurun panas. Dia sedikit bodoh, kurasa. Aku ‘kan hanya muntah bukannya demam. Tapi menghargai Yonghwa, aku memakai plester tersebut di dahiku.

Aku sedang menghayati bau-bauan mint segar yang keluar dari plester ketika ponselku berdering keras. Deringnya mengganggu karena aku tidak memasang lagu apapun sebagai tanda panggilan, hanya sebuah kring dan kring standar.

Lama-lama didiamkan, mengesalkan juga. Tidak perlu aku perhatikan dulu siapa yang menelepon kali ini, karena jawabannya sudah permanen.

Wae?” kataku kesal.

“Omo, kenapa nadamu kasar begitu? Sedang dalam masalah?”

Itu Kim Myungsoo. Siapa lagi menurutmu.

“Tidak, aku sedang istirahat. Bisa kau menelepon nanti?”

berapa jam lagi?”

“Nanti aku kabarkan.”

“Baiklah. Jangan abaikan kesehatanmu, Yuri. Telepon aku jika kau memiliki masalah sekecil apapun, mengerti?”

“Oke.”

Lalu aku memutuskan sambungan. Tidak peduli jika Myungsoo masih di seberang sana dan memegangi ponselnya kebingungan. Perutku geli membayangkan wajah bodohnya.

-n-

Aku duduk, dengan seorang Hair-stylist yang kelewat perfeksionis. Dia membicarakan tentang gaya rambut yang sedang tren di Jepang serta bagaimana wanita-wanita di sana menggantinya sekali setiap seminggu. Aku tidak tertarik.

Kemudian Sehun –si pria tinggi yang tempo hari melupakan paspornya—kini berjalan tergopoh ke arahku sembari mengayunkan sebuah tas tangan yang mencurigakan. Ia berhenti tepat ketika aku melontarkan senyum padanya.

Noona, terima kasih atas bantuanmu kemarin, ini ada sedikit ucapan terima kasihku.” Ia menyodorkan tas tadi padaku, aku melongok sebentar tapi Miss Hana—si Hair Sylist—telah menerima tas tadi dengan antusiasme tinggi.

Aku membalas ucapan hangat dari Sehun serta semua penghormatan dia padaku yang padahal, tidak melakukan banyak hal untuknya. Setelah obrolan bla-bla-bla tadi akhirnya selesai, Miss Hana memberikanku sebuah gelang dengan manik-manik kecoklatan yang dirangkai rapih serta sebuah skull yang menjadi pusat. Gelagatnya, Sehun menyangka aku gothic atau semacamnya.

Tidak hanya gelang, ternyata dia memberiku kalung dan anting yang semuanya berbau tengkorak. Dia pikir aku ahli biologi atau apa sih?

“Aku ambil yang ini, kau keberatan?” Kata Hana. Mari kita lupakan sebutan Miss baginya karena dia sebenarnya berada dalam umur yang sama denganku. “Ambil saja, tapi jangan gelangnya.”

Aku sedang mendengarkan pujian Hana pada Sehun serta mulai merapikan isi dari tas tangankku yang terhampar sembarangan di atas meja rias. Shooting kali ini sudah rampung dan aku harus kembali ke cottage. Kru yang lain mungkin masih harus membenahi beberapa peralatan, jadi aku pulang dengan Kim.

“Kelihatannya kau sudah ingin pulang?”

Ada suara. Aku tidak melihat wajah si penanya, tapi aku mengenalinya sebagai Jung Yonghwa. “Menurutmu?” ucapku, dengan ulasan senyum penuh arti padanya.

“Kim-ssi masih sibuk lho.”

“Dia tidak akan lama. Aku sudah menghubunginya.” Di akhir kalimatku, sebuah pesan singkat muncul di layar depan, dengan nama Kim terukir di sana. Aku membacanya teliti kemudian menatap manik Yonghwa baik-baik. “Kau ini peramal atau apa?”

Pria itu tertawa sambil memegangi tengkuknya. Hana telah meninggalkan kami kala itu.

“Aku Jung Yonghwa. Apa yang aku tidak tahu.”

Aku menarik napas pendek, “jadi, apa kau tahu jam berapa aku bisa bebas dari lokasi ini?”

Yonghwa duduk di salah satu meja rias di dekatku, ia kemeja dengan kerah rendah. Kancingnya terbuka satu, di deretan yang paling atas dari kemeja. Rambutnya basah, mungkin karena seharian ia bermandikan keringat di dekat pantai, tapi justru membuatnya berkilauan. Aku menyebutnya sebagai rambut bintang –karena helaiannya berkerlap-kerlip di bawah mentari.

“Jika kau menerima ajakanku, kau bisa pulang sekarang juga.”

Aku menyampirkan tas tanganku di bahu kanan, kemudian berdiri sedemikian rupa sehingga wajahku berada tepat di depan hidung bangir milik Yonghwa. “Kau bercanda. Kau punya kendaraan? Aku ragu.” Kataku.

“Siapa bilang harus dengan kendaraan?”

Mataku membulat dengan sempurna sementara tubuhku oleng sedikit ke arah kanan karena heels yang kupakai menginjak lantai yang tidak rata. Aku tertawa sinis, tidak dalam konteks meremehkan, hanya, sedikit, merasa perlu –untuk melindungi harga diriku. Lantas kataku, “jangan katakan kau menyuruhku berjalan dengan penampilan seperti ini, oh, terlebih lagi dengan heels setinggi ini?”

“Aku membawa sandal.”

“Kau bercanda, kau merencanakan semua ini ‘kan?”

Yonghwa tertawa dan melepaskan sepasang sandal biru yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya. Bagian itu luput dari penglihatanku. Pemuda ini sudah merencanakan semuanya.

Aku?

Ya, aku ingin segera pulang ke Cottage, tentu saja. Dari melihat keadaan menjadi sedemikian lucu, mau tidak mau aku berjalan pulang ke sana ditemani dengan Yonghwa dan senyum jahilnya.

Kami telah membuat kesepakatan bahwa ia akan membawakan heels-ku dan aku akan menitipkan tasku pada Kim. Jarak dari pantai ke Cottage kebetulan tidak jauh. Yang membuat perjalanan kemari menjadi sangat jauh adalah karena sistem jalannya yang memutar, satu arah dan banyaknya volume kendaraan yang melintas.

Untung aku berjalan kaki.

“Omong-omong, tempo hari, kau belum memberiku nomor ponselmu.” Kataku, mengawali pembicaraan. Kami sudah berjalan 15 menit dari tempat awal tadi. Jika aku menoleh ke belakang, aku bisa melihat Kim dan beberapa kru masih berunding, oh, serta Hana yang kini mengajak Sehun berbincang.

Artinya, kami masih belum ada seperempat jalan menuju Cottage.

“Jika aku memberikan nomor ponselku,” Yonghwa mengayunkan sepatu heels-ku di tangannya, ia melirik ke arah jalanan kemudian kembali padaku. Maniknya kini menatap kedua manikku yang membulat penasaran. “Apakah kau akan menghubungiku pertama kali?”

“Apakah itu pertanyaan menjebak?” kataku.

“Apa sekarang pertanyaan bisa dijawab dengan pertanyaan lagi?” sindir Yonghwa. Aku menatapnya nol sepersekian detik, mata kami bertemu-pandang, lantas aku tertawa. “Barusan kau melakukannya.” Kataku, respon terhadap kalimat Yonghwa yang paling akhir.

“Oh, my bad, lupakan. Jika diteruskan ini akan menjadi debat panjang. I guess,” Yonghwa merogoh sesuatu dari saku celananya. Ketika sebuah benda seukuran tangan dikeluarkan dari sakunya, aku melongok sebentar. Tahu-tahu sebuah bunyi nyaring keluar dari speaker ponselku.

Aku tersenyum membaca sebuah pesan yang muncul dari nomor tidak dikenal.

“Kau harus menyimpannya sebagai Yonghwa Oppa.” Kata Yonghwa. Aku mengangguk lantas mengetikkan sesuatu sembari tersenyum jahil. Oh, bukan karena aku menuliskan nama sembarang pada nomor pria itu, bukan sama sekali.

Alasan aku tersenyum adalah pesan singkat darinya. Kau pasti akan ikut tersenyum bersamaku jika mendapatkan pesan seperti itu dari Yonghwa.

‘Yuri, ini mataku saja, atau kau memang terlihat sangat cantik hari ini?’

Katakan, bisakah kau tidak tersenyum?

-n-

“Kau terlihat sangat kusut, apa sesuatu terjadi?” Luhan menyandingkan tubuhnya di sebelah Myungsoo yang berdiri gelisah di salah satu sudut ruangan. Keduanya sedang menunggu giliran untuk sebuah gladibersih yang akan dihelat dalam beberapa menit lagi.

Ada sekelompok wanita yang menari lincah dengan lagu up-beat. Myungsoo mengenali salah satunya dan dia berusaha menelengkan kepalanya ke arah lain. Degup jantungnya akan semakin naik, mencapai ambang batas ketika wanita itu tersenyum atau tertawa ke arah kamera.

“Apa tentang Hyuna-ssi kali ini?” Luhan memandangi seorang wanita yang kerap berdiri di tengah dari kawanan wanita yang lainnya. Dengan rambut keunguan dan lekuk tubuh yang mendekati sempurna, wanita itu telah mencuri banyak perhatian dari kaum adam. Bahkan disebut-sebut sebagai The Next Britney.

Myungsoo melakukan sebuah desahan panjang di depan wajah Luhan. Ia menggelengkan kepala kemudian berbisik rendah ketika keduanya berdiri bersisian. “Menurutmu, bukan dia kan pelakunya?”

“Apa? pelaku apa?” Luhan mengernyitkan dahinya. Fragmen-fragmen dari memorinya yang sudah terlepas kini bersatu kembali, bertumpu pada satu titik yang membuatnya mengatakan, “ah, tentang surat berdarah dan foto itu?”

Luhan menatap ke arah panggung dimana Hyuna hampir mencapai pose ending dari performance-nya. “Tunggu, kau tidak menganggap Hyuna-ssi benar-benar melakukannya bukan, Myungsoo? Dia idol! Mana mungkin dia melakukan such a useless trick untuk Kau dan Yuri?”

“Aku juga tidak percaya, tapi,” Myungsoo memasukkan salah satu tangan ke saku depan dari celananya kemudian berkata, “Ada 3 alasan yang tepat untuk mencurigai Hyuna.”

“Apa? tentang dia yang tergila-gila padamu?”

“Itu alasan ketiga.”

“Lantas, bagaimana dengan dua alasan lainnya?”

Myungsoo memasukkan tangannya yang lain ke dalam saku, sehingga kini ia berdiri dengan gaya khas seorang boss. “Hyuna, wanita itu, baru saja kalah casting dalam sebuah iklan yang dibintangi Yuri saat ini.”

“Maksudmu iklan minuman penyegar itu?” Myungsoo mengangguk. Luhan tertawa, kemudian merangkul pundak Myungsoo. Ia berkata dengan nada tidak percaya, “hanya sebuah iklan kecil. Hyuna seorang bintang besar yang sedang naik daun, tidak logis jika ia menaruh dendam pada Yuri hanya karena hal tersebut.”

“Tidak begitu,” Myungsoo menjelaskan. “Iklan tadi memang tidak terlalu bergengsi bagi karirnya. Tapi bagian dimana ia dikalahkan Yuri dalam casting, mungkin itu sedikit mengganggunya. Jika kau mengenal Hyuna, kau akan tahu betapa banyak kucing dan tikus yang disingkirkan olehnya demi mencapai panggung ini. Kau tentu paham maksudku.”

Luhan mencerna kata demi kata dari bibir Myungsoo sedikit demi sedikit. Ia masih memiliki sedikit kontra dengan pernyataan pemuda itu tapi Luhan memilih diam. Apa yang mengganggunya tidak separah apa yang ia pikirkan tentang alasan terakhir yang belum dikatakan oleh Myungsoo.

Jadi Luhan bertanya, “lalu alasan selanjutnya?”

Di bagian ini, Myungsoo terlihat gelisah, seperti awal Luhan menyapanya tadi. Kedua tangannya ia keluarkan dari saku sementara peluh dengan cepat menuruni dahinya.

“Tadi ia menghampiriku, berkata sesuatu,” Myungsoo melirik pada lampu-lampu panggung yang meredup sementara barisan penari latar dari penampilan Hyuna kini bercerai-berai dengan apik. Ditangkapnya sosok Hyuna yang berjalan mendekat dengan sepatu kets hitam. Manik keduanya bertemu di tengah hiruk-pikuk belakang panggung.

Ketika Hyuna memutuskan menjauh dari sosok Myungsoo dan Luhan, ia menunjukkan senyuman paling mematikan untuk dua pemuda tersebut. Senyuman paling jahat dalam beberapa dekade, untuk Myungsoo.

Kau menemukan satu, aku akan mengirimkan seribu, sampai akhirnya kau tidak bisa menyembunyikan apapun dari gadis itu,” Luhan menatap peluh menetes lebih banyak dari dahi Myungsoo, kalimat Myungsoo masing menggantung sedangkan gelagatnya, sudah seperti kehabisan kata-kata. Luhan membagi pandangan tidak mengerti ketika Myungso mulai menatap matanya.

“Itu tadi yang Hyuna katakan padaku. Tentu kau tahu apa maksud gadis itu.”

-TBC-

Duile~ ada Hyuna.

Hyuna di sini sebenernya OC Lho ya~ tapi kalau kalian menganggap dia adalah Hyuna 4Minute, yah, terserah :3

greget sebenernya pas bikin scene Yonghwa-Yuri, sebel gimana gitu. (padahal gue penggemar Yonghwa), mungkin karena bukan Myungsoo :3

Ah, lama lama aku bisa bikin crack-ship untuk MyungYul kalau begini. /jilat eskrim/

oke sekian. Review masih sangat diperlukan demi perkembangan FF ini.

Oh iya, kalau ada yang saran ‘kak, masukin member suju dong’ atau ‘Kak, bikin cinta segi sembarang antara Luhan-Myungsoo-Yuri-Sehun dong’ and so on, Monggo~ Saran malah sangat diperlukan lho.

sekian. salam hangat,

Kaknyun.

118 thoughts on “KLISE : UNSTOPPABLE [Part 2]

  1. tyas arin berkata:

    kirain yg ngrim foto sehun . ahhaha . kn sp tau fanboy myungso dy hehe
    itu bnran hyuna y yg ngrim ?? awwwww

  2. yuniq eka cahya berkata:

    Hyuna lagi -_-” entahlah sya jdi ga sregg gegara comeback ny mungkin yee…. Tpi buat tokoh antagonis ny dapet bgt (y) Ok eonni ditunggu next part ny😉

  3. annon bee berkata:

    Uwo! Su su su su su su su su su SURAT Berdarah!! \(˚☐˚”)/\(“˚☐˚)/
    Wuih, ngeri :s . Hyuna?? Aaaaaaaaaaaa! #apaansilebay-_-*
    Baca ff ini, aku tergila, gila dengan Myungsoo (´▿ `ʃƪ) keren…. (´▿ `ʃƪ)
    Lanjut nya buat Yuri Sma Myungsoo selalu (´▿ `ʃƪ) tar Luhan Oppa sma aku (>̯┌┐<̯) #plak!*
    ("ˆ́▿ˆ̀) lanjut de min :3 ditunggu

  4. Spakling Pearls berkata:

    Aku sempat berpikir itu yonghwa yg kirim foto itu mngkn aja dia suka ma yuri terus dia ingin yuri putus dgn myungsoo rupanya bukan tp part ini kurang bnyk moment myungri nya kalau boleh aku ingin di perbanyakin lagi next part moment mereka

  5. Xi Yulhan berkata:

    Thor , klo bsa tambahin dong kalo antara Yonghwa / Sehun ska gtu sama Yuri jdi seru gtu ceritanya , tpi klo gk mw jga gpp kok thor … Lanjutin ya ceritanya kalo perlu banyakin lagi partnya biar jadi tambah seru … Fighting !!

  6. clarrisa agrippina berkata:

    Eon. Cuman mau bilang myungsoo harus sama yuri loh ya dan juga yonghwa sama siapa aja terserah yg penting tdk dengan yuri! Kekeke~ aku sepertinya mengancam. Mianhae eon 😂 dannnn, aku suka ceritanya karena ff eon emng paling kece 😍

  7. Tansa berkata:

    Jadi gmna perkembangan hubungan antara Yuri dan Myungsoo? Aku masih curiga dengan latar belakang Yonghwa yang mulai mendekati Yuri. Seperti ada maksud tersembunyi dari Yonghwa.. Ahhh aku ga sabar baca part selanjutnya hhohoo

  8. nana berkata:

    yah jangan bertengkar gtu dong..
    Aku takud bnget hubngan mrka brdua berantakan.
    Ada lagi tokoh antagonis pula.
    Ahkh tambh penasaran nieh..
    Hwahahaha oke kak semangat yah

  9. nana berkata:

    .what ??
    Hyuna jahat bnget, psyco ea di ff ini..
    Aduh yul eon semga kamu baik2 saja ya, aku yakin bnyak orang yang melindungy mu.
    .oh ya jangn cuek gtu sama myungso oppa, + jangan coba2 selingku ea.
    Aku tau koq yul eon bukan tipe yg selngkuh.
    Hehehe

  10. febrine adeila latifa berkata:

    Ia pas bagian yonghwa yuri itu bikin greget bnget,walau aku jga suka yonghwa.#sama#
    Greget nya emng karna si yuri bkan sma myungsoo…pngen liat adegan mesra yuri sma myungsoo tapi kyaknya di part ini cma sdikit ya??? ,y udah deh eonn aku cus ke part 3 dulu..

  11. bebink berkata:

    ooohh ternyata alasan si myungsoo ga ngehunungin si yuri itu biar si yurinya ga sakit. aw aw aw sok sweet banget hahaha. iya eon aku juga agak gimana ya baca scennya yuri yonghwa kurang dapet feel sama imajinasinya eon hahahah. tapi tetep keren kok ffnya. eon boleh ngasih saran ga eon? aku mau request cerita sih eon, eonni tau film material girl ga eon? bikin ff dari film itu dong eon. nah pemeran utamanya itu yuri sama seohyun eon. terus yuri dipasangin sama kris nah seohyun dipasangin sama yonghwa deh. hahahahah aku cuma request sih tapi yaahh eonni pertimbangin lagi aja yaaa hihihi. semangat nulis eonni🙂

  12. Jia Jung berkata:

    Hubungan MyungYul kokaya’a lagi renggang ya.
    Kangen liat mereka berantem n baikan lg kaya di Klise. MyungYul jgn dipisahkan ya Eon, jebal apa pun yg terjadi..

    Jia Jung

  13. seria berkata:

    aku jg sm, curiga sm yonghwa~
    hmmm.. Saran.. Pengen masukin kai~ gegara bc vib 3 chap, jd suka kai~

  14. minyul generation berkata:

    Cerita a ud jadi serius ya,,
    “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮
    Ud jadi pembunuhan aj,,
    Hwaiting eonnie

  15. Bintang Virgo berkata:

    kak nyun…
    kenapa kakak selalu bisa bikin orang deg degan dengan ff kakak yang TOP pake BGT ini?
    myungyul,,…. yongyul…yulhun..
    i like them….
    but i liker this ff than the 3rd couple..
    hahahah😀

  16. intan berkata:

    Cerita ini akan semakin rumit, tp aku menyukainya.
    Banyak masalah yg terjadi disini.
    Semoga semua baik2 saja.🙂

  17. Lulu Kwon Eun G berkata:

    hempp… lagi dibuat penasaran yg super duper.. gk bisa ketik apa2..
    izin lnjut lg ya kak nyun..

  18. kimchikai berkata:

    Huh? Jadi selama ini sikap myungsu buat ngelindungin yuri dari surat2 itu? kalau aja yuri tau pasti dia gk ngira macem2 lagi deh tentang hubungan mereka..

  19. Ersih marlina berkata:

    Nyeremin pasti surat kalengnya.
    Sikap yuri jadi acuh ga acuh gtuh, jngan pisah dong kalian
    dan myungsoo berusha ngelindungin yuri tanpa yuri tau, gentlemen banget loh
    aaa, yonghwa. Jngan jdi org ke 3 dong. Terlalu baik sih hehe kalo jdi jahat
    hyuna ? Pelakunya? Siapapun itu stop deh musuhin yuri. Ok?
    Hehe. Lnjut bcaa ya ka nyun fighting

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s