GHOST SLAYER – STEP #4

Poster #4 Ghost Slayer

Maaf karena sudah membuat pembaca menunggu sangat lama sampe lumutan. Akhirnya aku bisa update Step#4 nya🙂

ENJOY.

***

Bruk.

Tadi itu bukan suara sederhana dari jatuhnya materi padat ke atas tanah. Barusan adalah bentukan kompleks yang tidak kasat mata baru saja terjatuh, terguling kemudian menghilang. Ada cahaya-cahaya biru yang berpendar di sebuah jam tangan milik Yuri. Saat cahaya itu meredup, Yuri menghela napas panjang.

“Merepotkan.” Katanya kesal. Yuri berjalan cepat kemudian menghampiri Jiyong yang sudah berada di dalam van putih milik keduanya. Yuri membuka pintu dengan cepat kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi penumpang, bersisian dengan Jiyong. “Tadi itu hantu apa sih? Baunya begitu amis. Aku sampai pusing.”

Yuri melepaskan sarung tangan hitam di tangannya. Jemarinya kini meraih sebuah ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.

“Itu hantu toilet. Tidak berbahaya sih selama kau tahan dengan baunya.”

Yuri meletakkan ponselnya kemudian menggeleng sarkastik. Ia menyunggingkan senyum setengah terpaksa pada Jiyong yang mulai mengendalikan setir. “Jadi itu sebabnya kau tidak turun dari van dan membantuku?”

“Persis.” Jiyong mengangguk sementara Yuri berdecak atas kebodohannya baru saja. “Tapi,” Jiyong melanjutkan. “Apa tidak ada tanda-tanda kehadiran Zico?”

Yuri mengambil sebuah kertas lusuh dari dashboard dan membentangkannya. Lebar kertas itu kira-kira sebesar jendela rumahnya, cukup sulit bagi Yuri membaca informasi di dalam kertas tersebut karena semuanya ditulis dalam huruf jepang yang sama sekali tidak Yuri pahami. Ia hanya paham beberapa kalimat yang memiliki terjemahan dalam bahasa inggris, yang terlampau sulit ia lewati begitu saja.

“Aku yakin di situ tadi harusnya Zico berada.” Yuri menimpali. Tangannya melipat kertas besar itu menjadi gumpalan yang lebih kecil. “Peta ini tidak berguna. Aku tidak bisa membaca arah.”

Kaki Yuri sebelah kanan, kini sudah naik ke atas kursi, menemani kakinya yang lain. Ia duduk bersila sementara tangannya masih disibukkan menggumpalkan kertas menjadi lebih kecil dan sederhana. Jiyong melirik sekilas kemudian tersenyum.

“Senang kau kembali menjadi dirimu lagi, Yuri.” Yuri menghentikkan gerakannya saat Jiyong memandanginya. Tidak ada alasan baginya untuk tiba-tiba merasa gelisah dan salah tingkah. Tapi Yuri refleks melakukannya. Ditambah, kali ini pipinya memerah seperti tomat. Yang ia bisa harapkan adalah semoga Jiyong tidak menyadarinya.

“Memangnya aku kemana.” Yuri melemparkan gumpalan kertas itu pada wajah Jiyong yang menyamping. Kemudian tangan gadis itu dilipatnya di atas dada sementara ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, tidak ingin melihat Jiyong sama sekali.

Doppelgänger itu sepertinya benar-benar pergi setelah malam itu. Aku cukup stress melihat kau yang bukan kau.” Kata Jiyong lagi.

Em.”

“Hanya itu?”

“Apa lagi yang ingin kau dengar?”

“Tidak. Tidak ada.”

Yuri melirik pada Jiyong sementara kakaknya itu membelokkan setir ke kiri. “Selanjutnya pedesaan di selatan Kyoto.”

Yuri melirik curiga. Tiba-tiba saja ia berharap bahwa kakaknya itu tidak pernah membelokkan setir vannya ke kiri dan masuk ke area jalan bebas hambatan. Perlahan, bulu kuduknya meremang.

“Kau bercanda kan?” Yuri menoleh pada Jiyong, memandangi wajah pemuda itu lekat. Maniknya enggan beralih ke lain arah walaupun pemandangan sawah yang menyegarkan kini terbentang di kanan dan kiri jalan. Jiyong terkekeh kemudian memacu vannya lebih cepat.

Yuri menghela napas. Desa yang dimaksudkan oleh Jiyong adalah satu-satunya desa yang tidak pernah ingin ia masuki selama hidupnya. Pernah menjadi lokasi shooting film-film seram jepang seperti Ju-On ataupun Ringo, tidak lantas membuat Yuri memiliki euforia tinggi ketika vannya mulai meluncur ke sana.

Percayalah, siapapun tidak akan pernah menginjak desa menyeramkan tersebut. Desa yang tidak berpenghuni dan selalu diselubungi dengan urban-legend yang setia di telinga masyarakat dari waktu ke waktu.

Tapi kini, Yuri sudah terlambat untuk memperingatkan. Lagipula, pekerjaannya ada pada bidang seperti itu. Mau tidak mau, Yuri hanya bisa diam dan mengikuti instruksi Jiyong, jika ia tidak mau ditendang keluar dari van.

“Kau benar-benar sudah gila, Jiyong.”

.Ghost Slayer.

“Wah, wah, kebetulan sekali. Aku baru saja akan mengunjungimu.” Seunghyun berjalan pelan mengitari sebuah sofa empuk di kantornya. Di tangannya ada sebuah gelas wine merah yang masih penuh. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kecil yang paling dekat dengan sosok Victoria yang terduduk elegan.

“Aku sudah selesai dengan urusan dua bersaudara itu.” Kata Victoria singkat. Tangannya menyambar gelas wine dengan klasik. Ia memutar-mutar gelas wine  itu di depan dadanya sebelum akhirnya menyeruput isinya dengan gaya. “Ada hantu Doppelgänger yang kebetulan ada di sana. Aku jadi punya alasan untuk menggunakan sedikit kemampuanku pada kekuatan Yuri. Aku tidak menyegelnya seratus persen. Aku mulai dengan sepuluh persen.”

Seunghyun duduk di atas meja kerjanya, berjauhan dengan Victoria, namun ekspresinya terkesan bersungguh-sungguh mendengarkan bagaimana Victoria berbicara. “Yuri tidak akan menyadari apapun untuk saat ini. Segelku memiliki karakteristik seperti virus. Mulai dengan sepuluh persen dan akan meningkat seiring dengan waktu. Yuri baru akan menyadarinya ketika segelku menutup lima puluh persen dari kekuatan ghost slayernya.”

Seunghyun tepuk tangan. Ia mengacak rambutnya sendiri kemudian tersenyum puas.

“Tapi,” Senyuman Seunghyun menghilang ketika kata tadi meluncur begitu saja dari mulut Victoria. “Rencana ini akan gagal jika Jiyong mengetahuinya. Yuri memang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ada yang salah dengan kekuatannya. Tapi Jiyong, tidak pernah sebodoh itu. Lubang besar dari rencanaku, ada pada pemuda itu.”

Kening Seunghyun berkerut, lantas ia tertawa terbahak-bahak. Victoria menunggu hingga tawa itu mereda, namun setiap menit berlalu, Seunghyun tak juga berhenti.

“Apa yang begitu lucu?” Katanya.

Seunghyun mengibaskan telapak tangannya kemudian melemparkan sebuah buku kecil pada Victoria tanpa mengindahkan pertanyaan gadis itu. Victoria menerima buku yang diberikan Seunghyun dengan sempurna. Ia membuka halaman pertama dari buku tersebut dan maniknya menangkap sederet angka lebih dari tujuh digit bertengger di sana. Dalam dollar.

“Kuharap itu cukup untuk kerja kerasmu, Vict. Terima kasih.”

Manik Victoria masih membelalak lebar, namun ia menghargai Seunghyun yang mengusirnya dengan cara halus. Victoria tidak lagi menyesap winenya. Ia meletakkan gelas itu begitu saja di atas meja. Sambil menyampirkan tas kecilnya di bahu kanan, gadis itu berdiri dan menaruh buku kecil pemberian Seunghyun di dalam tasnya. Victoria menundukkan kepala singkat, kemudian berjalan elegan menuju pintu keluar kantor Seunghyun.

Di ambang pintu, gadis itu berpapasan dengan kemunculan Chaerin yang baru akan masuk. Keduanya terlibat kontak mata sekilas, kemudian berjalan berlainan arah.

“Dia sudah kembali?” Kata Chaerin. Sepatu boots hitamnya membuat irama unik di lantai kayu dari kantor Seunghyun. Pria itu mengangguk tanpa memberikan penjelasan detail pada Chaerin, namun gadis itu tidak peduli lebih banyak. “Cukup efisien. Nah, jadi kapan kita akan ke Jepang, dan mengakhiri semuanya, Seunghyun?”

Chaerin meletakkan tangan kanannya di atas meja Seunghyun sementara tubuhnya berdiri miring dengan tangan tersebut sebagai pilar. Kuku tangan dari Chaerin terketuk-ketuk seirama detik jam ketika Seunghyun belum juga ingin menjawab pertanyaan gadis itu.

Ketika Chaerin mengangkat bokongnya untuk ia dudukkan di atas meja Seunghyun, barulah pria itu berbicara.

“Segera. Setelah ketiganya bertemu, kita akan segera ke Jepang dan menyelesaikan semuanya tanpa sisa.”

“Bagaimana dengan wanita tua di Korea? Ibu dari ketiganya?”

Seunghyun mengulas senyum picik. Disusul dengan anggukan mengerti dari Chaerin.

“Kau benar-benar licik. Aku semakin tertarik bekerja sama denganmu.” Ucap gadis itu.

.Ghost Slayer.

Domo Arigato.”

Seorang pemuda berjalan sempoyongan. Di tangannya terdapat kain kasa yang sudah berubah warna menjadi merah. Hidung pemuda tersebut tidak simetris. Melihat bercak biru yang melintang dari dahi hingga dagunya, sudah bisa ditebak, pemuda tersebut baru saja mengalami masa-masa buruk dengan kekerasan.

Burung gagak terbang di atas kepalanya. Saat dikatakan ‘dia atas kepala’, burung itu memang benar-benar ada di atas kepalanya. Seperti peliharaan yang enggan pergi dari majikannya.

“Kau harus makan, kau harus mencari keluargamu sendiri, Lily.” Kata pemuda itu. Di sebuah jalanan yang sempit dan gelap, pemuda itu bergumam rendah, berbicara dengan gagaknya yang terbang begitu rendah.

Ketika pemuda itu kelelahan dan terduduk di depan sebuah pagar kayu yang lapuk, gagak itu akan berhenti dan hinggap di lengan sang majikan, memberinya sebuah pertemanan unik.

“Kau keras kepala ya Lily. Sama seperti pria tua itu.”

Pemuda itu menepuk-nepuk kepala sang gagak hitam dengan lembut. Ia tersenyum namun senyumanya tidak benar-benar mengembang karena luka di sekitar bibir yang masih menggerayanginya. Kini mata sipit dari pemuda itu menatap ke langit malam, Ia mencoba berdiri dengan kaki gemetar sementara gagak tersebut mengudara kembali.

Pemuda itu terus berjalan, hingga pemberhentiannya yang selanjutnya.

“Kau harus hidup Zico. Kau tidak boleh ditemukan siapapun.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Langkah pemuda itu terseok-seok di antara dedaunan kering. Kepakan gagak menambah riuh kegaduhan satu-satunya dalam gang sempit tersebut. Setiap ia berjalan selangkah, tangannya akan menyentuh dinding-dinding serta pagar-pagar rapuh yang ia lewati.

Tidak, Zico tidak buta, namun ia menolak untuk melihat benda lain selain gagaknya. Zico sudah lama menutup matanya dari dunia, ia juga menutup dirinya sendiri dari lingkungan yang sudah lama ia kenal.

Sejak kematian seseorang yang ia sebut sebagai pria tua, Zico sudah tidak ingin mengenal apapun. Ia benar-benar menutup matanya.

Zico hanya memiliki satu tujuan, dan tujuan itu harus ia gapai dengan tangannya sendiri. Tanpa bantuan siapapun, tanpa pengorbanan dari siapapun.

Burung gagak miliknya kini terus mengepak di dekat telinganya. Zico masih berjalan. Ia tidak ingin melihat apapun walau hidungnya mencium bau-bau marabahaya. Zico tidak ingin membuka mata dan melihat makhluk-makhluk astral yang sudah lama ia tinggalkan bertahun lalu.

Ya, Zico tidak ingin lagi menjadi Ghost Slayer. Ia tidak ingin lagi melihat makhluk-makhluk gaib itu. Tidak lagi!

“Kau serang dari belakang dan aku akan menyerangnya dari depan.” Zico berhenti ketika mendengar suara pemuda berteriak di dekat lokasinya. Zico sangat yakin bahwa pedesaan tempat ia tinggal adalah pedesaan tanpa penghuni—kecuali makhluk astral, Lily dan dirinya tentunya. Zico sangat penasaran dengan suara-suara yang sudah lama tidak ia dengar dari jarak sedekat itu di dalam pedesaan ini.

Tubuh kecil dari Zico, dengan mudahnya dapat bersembunyi di semak-semak. Walaupun ia menolak untuk membuka matanya dan melihat siapa yang sedang berteriak di sana, Zico masih bisa merasakan keadaan lewat pori-pori dan keempat indera lainnya selain penglihatan. Ia sudah cukup terlatih untuk lebih peka.

“Hantu ini bodoh, kau bisa menyerangnya sendirian.” Zico mendengar suara wanita menjerit di lain sisi. Mendengar kata ‘hantu’ meluncur dari bibir wanita itu, Zico sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.

Apakah yang mereka lakukan pada hantu?

“Ah! Tangkap ini.” Teriakan pemuda yang berada paling dekat dengan telinga Zico kembali menggema. Di sisi yang lain ada suara jeritan dan cahaya yang menyolok-nyolok mata Zico yang terpejam. Dalam beberapa menit, keadaan terkendali, suasanya menjadi lebih hening.

Zico belum keluar dari semak rimbun tempat persembunyiannya ketika suara derap langkah berjalan mendekat.

Satu, dua.

Zico bisa menghitung dari suara derap tersebut bahwa hanya ada dua orang yang berjalan di dekatnya. Satu pria dan satu lagi wanita. Zico tidak peduli pada percakapan keduanya, ia bisa saja kabur diam-diam sementara mereka tidak menyadari kehadirannya.

Namun, yang terjadi tidak semulus imajinasi Zico.

“Dia itu roh kelas rendahan, Jiyong. Kau harus melakukannya sendiri lain kali, tidak perlu dengan bantuanku. Kau ini memang menyebalkan.”

Zico menahan napasnya. Jiyong? Kwon Jiyong? Tidak, Tidak, Tidak mungkin. Aku tidak bisa menarik kesimpulan sendiri.

“Bukan salahku, seharusnya kau ingat siapa yang pertama kali turun dari van dengan tergesa-gesa dan menyuruhku melemparkan Gate-Kit yang tertinggal di dalam dashboard, otak kubis!”

Yuri membelalakkan matanya. Serta merta, tangannya berayun dan mendarat cukup keras di ubun-ubun Jiyong. Yuri memukulnya. “Jangan memanggilku otak kubis lagi! otakku tidak terbuat dari kubis!”

“Tapi kau begitu bodoh. Tidak mungkin otakmu bukan kubis. Ah, mungkin labu? Ah benar! Otak labu!”

Yuri menginjak kaki Jiyong. “Jangan memanggilku seperti itu Jiyong! Kau menyebalkan!”

Yuri menghentakkan kakinya di atas tanah berulang kali. Maksud hatinya, ia ingin mencoba adegan imut seperti gadis candy yang tengah kesal pada pangeran tampan. Yuri mengharap adegan seperti Jiyong yang mengusap kepalanya untuk meminta maaf atau adegan sejenisnya.

Sayang sekali.

Imajinasinya musnah sudah ketika dengan tidak sengaja, salah satu kakinya menyambar sebuah kerikil.

Yuri oleng, kemudian ambruk dengan bokong mendarat pertama kali di atas jalan setapak. “Aduh!” Ia mengeluh sambil mengusap pantatnya. Yuri cukup terheran-heran juga ketika ia tidak merasakan begitu sakit di bagian belakang tubuhnya.

“Eh? Ini tidak begitu sakit.” Katanya.

Saat Yuri berdiri, dilihatnya seorang pria terkapar di semak-semak dekat tempatnya terjatuh. Yuri bertukar pandang dengan Jiyong kemudian ia berteriak. “OMO!

“Kau tidak apa-apa, tuan?” Jiyong mengabaikan Yuri dan segera berjongkok. Tangan pria itu terulur menawarkan bantuan pada pria yang kepayahan di semak-semak. Zico tidak menunjukkan wajahnya sama sekali, ia juga menolak uluran tangannya.

Namun sebelum ia sempat menolak, tangan kekar Jiyong, mengangkat tubuhnya. “Kau terluka cukup parah. Aku tidak tahu kalau tubuh Yuri seberat itu. Aku akan membawamu ke rumah sakit.”

Yuri membuka pintu van belakangnya dan menyiapkan sebuah kasur darurat untuk pemuda itu di sana. Zico masih enggan menunjukkan wajahnya, wajah pria itu kini masih ditutup oleh rambut panjangnya yang tidak terurus.

“Siapa yang menyetir?” Yuri panik. Jiyong duduk di bagian belakang van dengan Zico yang memilih diam.

“Kau.” Balas Jiyong singkat.

“Oh. Aku ya?” Yuri masuk ke dalam kursi kemudi. Kemudian matanya terbelalak. “EH? AKU MENYETIR?”

.Ghost Slayer.

“Hoeks.”

Suara itu bukan berasal dari penanganan gawat darurat rumah sakit. Barusan adalah Jiyong yang muntah di sebuah pohon di pinggir jalan. Diikuti dengan pemuda asing yang juga ikut-ikutan menyambangi pohon dan memuntahkan seluruh isi perutnya.

Suara dari keduanya bersahut-sahutan di sisi malam yang sunyi. Semantara Yuri berdiri di kejauhan sambil melinting rambutnya dengan perasaan bersalah.

Jiyong mengambil sebuah botol air mineral dan menenggaknya dengan tidak sabaran. Matanya memicing ke arah Yuri.

“Jangan salahkan aku, kau yang menyuruhku menyetir.”

“Kupikir kau sudah lebih baik ketika di Rusia kemarin.”

“Waktu itu karena aku dikejar hantu.”

Jiyong menumpahkan isi botol air mineral pada wajahnya, sehingga kemejanya basah. “Jadi kalau kau tidak dikejar hantu, kau akan tetap mengendarai mobil seperti ini?”

Yuri tidak bisa berkata apapun. Ia hanya menunjukkan senyuman lebarnya dengan perasaan bersalah. Pemuda asing yang keduanya coba untuk bawa ke rumah sakit, sekarang malah terkapar tidak berdaya di dekat pohon. Yuri tidak berani mendekat, jadi Jiyong yang mendekat.

Pria itu memberikan sebotol air mineral baru pada Zico.

“Kau buta?” Kata Jiyong ketika tangan Zico tidak berhasil meraih botol yang ada di tangan Jiyong. Zico hanya mengangguk. Wajah Zico kini sudah terlihat sepenuhnya oleh Jiyong, namun pria itu tidak mengenalinya.

Tidak aneh, karena Jiyong belum pernah sekalipun melihat wajah Zico. Ia hanya mendengar cerita-cerita tentang Kwon Sangwoo dengan murid jeniusnya di Jepang, tapi tidak pernah sekalipun Jiyong bertemu wajah dengannya.

Mungkin di antara Jiyong dan Yuri, ada harapan bahwa Yuri bisa mengenali Zico dalam sekali pertemuan, mengingat keduanya adalah teman masa kecil. Namun kondisi Yuri yang tidak mau mendekat karena perasaan bersalah, sementara ini menyelamatkan penyamaran Zico.

“Luka di wajahmu itu bukan luka karena tertindih tubuh adikku. Kau habis terlibat perkelahian ya?” Tanya Jiyong lagi. Yuri masuk ke dalam van mencoba mengamat-amati keduanya dari spion di kejauhan. Yuri merasakan kuduknya meremang, tapi ia mencoba menghalau perasaan tidak enaknya.

“Seseorang memukuliku. Ini sudah biasa.” Kata Zico singkat.

Wush.

Angin berhembus kencang. Yuri menutup kaca jendela vannya. “Aku tidak ingin masuk angin.” Ujarnya rendah. Yuri menatap D-Kit yang tergeletak di dashboard. “Masih mati. Tidak ada yang aneh.” Katanya lagi.

“Kau harus melaporkannya ke polisi. Ini sudah tindakan kriminal.” Saran Jiyong. Zico tersenyum, namun ia tidak benar-benar mendengarkan. Bagian tengkuknya terasa begitu dingin, perasaan aneh menyergapnya begitu saja di tengah perbincangannya.

Zico bersikap normal, meskipun ia tidak enak hati. Ia tidak boleh membuka kedoknya di depan Jiyong.

Sementara Jiyong sendiri, kini berdiri. Ia bertingkah seolah ia sedang minum air mineral dengan normal. Padahal, matanya kini beredar di sekeliling jalan satu arah yang sepi. Di sekitar van yang terparkir dan tempat mereka berbincang, tidak ada satu pemukiman pun selain hutan lebat dan sawah-sawah.

Tidak aneh, daerah itu masih wilayah pedesaan yang disebut-sebut sebagai desa paling seram di Kyoto.

Wush.

Yuri tersentak. Ia memandangi spion van dan melihat Jiyong mengulurkan tangannya pada pemuda asing di depannya. Keduanya kini berjalan pelan menuju van. Perasaan Yuri benar-benar tidak enak. Ia memastikan rasa gelisahnya dengan sesekali melirik pada lampu-lampu D-Kit. Ketika ia memastikan benda itu tidak menyala, Yuri sekali lagi menghela napas.

Wush.

Zico menoleh ke belakang bahunya ketika ia masih dalam papahan Jiyong. Gelagat aneh Zico membuat Jiyong bertanya. “Ada apa?”

“Oh,” Zico segera memalingkan wajahnya. “Tidak.” Katanya.

Aneh. Ini perasaan mencekam yang aneh. Apakah rumor yang kudengar kemarin memang benar-benar aktual? Gumam Zico dalam hatinya. Kakinya terus melangkah dalam papahan Jiyong. Ketika keduanya hampir sampai di badan van, angin sekali lagi berhembus.

Wush.

Wush.

Wush.

Tidak! Bukan sekali, tadi itu tiga kali. Volume dan kecepatannya bertambah setiap detik. Daun-daun gugur kini bertebaran dan menghujani keduanya dengan gerakan flash. Yuri yang sudah berada di dalam van, ikut panik. Ia membuka pintu dengan tergesa-gesa.

Tanpa berpikir panjang, Zico dan Jiyong menjejalkan diri di bangku kemudi.

Angin berhembus lagi ketika Jiyong membawa tubuh Zico ke bagian belakang van. Ada semacam pintu dari ruang kemudi untuk menuju ke bagian belakang van dan Jiyong menggunakannya untuk mengamankan Zico.

Jiyong sendiri kini sudah duduk diam di balik kemudi.

“Apa itu tadi?” Yuri berpegangan erat pada Gate-Kitnya. Jiyong menggeleng. Zico memilih diam dan memasang telinganya baik-baik. Tanpa diketahui Jiyong dan Yuri, Zico membuka matanya untuk pertama kalinya.

Matanya buram sehingga ia perlu beberapa kali kedipan agar kembali normal. Matanya sungguh lengket sehingga ia harus menggunakan bantuan dari jarinya agar kelopak matanya terlepas dari bagian kantung mata. Dalam hening, Zico bisa melihat jalanan setapak yang sepi di balik kaca depan dari kemudi.

Ia juga bisa melihat sosok gadis yang telah lama menghilang dari hidupnya. Kini ada di hadapannya dengan mimik tegang. Juga Jiyong, seorang pemuda yang sering disebut sebagai jenius amerika oleh Kwon Sangwoo.

Zico bisa melihat keduanya dengan jelas.

“Perasaanku benar-benar tidak enak.” Kata Yuri. “Sebaiknya kau segera menyalakan van dan pergi dari sini sekarang, Jiyong.”

“Aku setuju.” Kata Jiyong. Ia memutar kunci starter dan mesin van pun menyala. Jiyong baru saja akan memasukkan perseneling maju ketika tiba-tiba saja mesin vannya mati. “Sial!”

Wooooussh.

Angin berhembus lebih hebat. Van putih tersebut bergoyang karenanya. Yuri kebingungan mencari sarung tangannya. Ia juga masih begitu panik ketika angin kembali menggoyangkan vannya. “Ini gempa bumi atau apa sih?” Ia berkata ketus.

“Aku meninggalkan sarung tanganku di dalam van. Aku akan kembali.” Yuri melompat masuk ke bagian belakang van. Ia tidak menyalakan lampu yang tersedia di sana, jadi Yuri hanya meraba peralatannya dengan seksama.

“Oh, maaf.” Kata Yuri. Ia lupa bahwa Zico ada di sana. “Sebaiknya aku menyalakan lampu.”

Tangan Yuri terulur pada saklar, namun Zico mencegahnya. Ia membawakan sarung tangan yang Yuri cari di tangannya. “Ini yang kau cari.” Katanya.

Yuri meraba benda yang disuguhkan pemuda asing tersebut. “Terima kasih, tapi aku perlu mencari U-Kit milikku. Aku akan menyalakan lampu.” Katanya. Yuri kembali meraba saklar, namun gerakannya terhenti ketika Zico mengulurkan benda berbentuk seperti tapal kuda padanya. Zico menyembunyikan wajahnya di kegelapan, sementara tangannya menyerahkan benda tersebut.

Yuri menyambarnya dengan bahagia. Ia tersenyum. “Terima kasih.” Katanya. Zico mengucapkan kalimat sama-sama yang hampir tidak terdengar. Saat itu, jantungnya hampir lompat dari tempatnya. Ia tidak mungkin tahu apa yang akan terjadi jika Yuri melihat wajahnya saat itu.

Yuri merangkak pelan ketika van bergerak kembali. D-Kit yang ia tinggalkan di dahsboard menyala-nyala. Peringatan lampu warna merah.

“Yuri! Ini buruk.” Teriak Jiyong. Sebuah hantaman keras mendarat di atas van dan membuat benda itu oleng. Yuri yang sedang merangkak, kemudian ambruk. Menyadari kekuatan besar sedang menyerangnya, Yuri kembali ke dalam bagian belakang van.

“Aku butuh Gun-Kitku. Kemana dia—“ Yuri sedang meraba-raba, tangannya meraba pada dinding van mencari tombol saklar. Namun lagi-lagi, tiba-tiba pemuda asing di depannya menyodorkan sebuah senjata lengkap dengan peluru perak yang sudah di susun di tangannya.

Yuri menunduk. Katanya, “terima kasih.” Gadis itu merangkak kembali ke bagian depan dari van. Jiyong sudah berteriak memperingatkan. “Yuri! Kau harus melihat ini, kali ini benar-benar buruk!”

“Aku segera kesana. Aku sudah mendapatkan barang-barangku berkat bantuan—OMO!”

Yuri berhenti merangkak. Ia diam.

“Yuri! cepat kemari! Roh ini benar-benar menakjubkan!”

Yuri masih diam. Ia terduduk lemas, kemudian perlahan merangkak mundur. Ia mengabaikan kalimat Jiyong. Bibir Yuri bergetar.

“Siapa kau?” Kata Yuri. Matanya memicing tajam pada Zico.

“Yuri?” Jiyong menoleh ke belakang ketika Yuri berkata demikian. Di dalam kegelapan, ia bisa melihat sekilas bayangan seorang wanita dan seorang pemuda asing yang duduk bersandar di dekat saklar.

“Seorang pemuda biasa tidak mungkin bisa tahu apa itu  U-Kit, Gun-Kit bahkan bisa mengenali benda-benda itu dalam sekali lihat. Kau ini… siapa?”

“Yuri!” Jiyong berteriak. Ia panik. Namun Yuri tidak bergeming. “Apakah kau,” tangan Yuri bergerak pelan menyentuh saklar. “Seorang Ghost Slayer?”

Ceklek.

Lampu menyala. Suara teriakan menyedihkan muncul di atas van. Kekuatan besar menghantam van  putih itu dari segala sisi. Jiyong sudah siap dengan Gun-Kitnya dan perlahan ia keluar dari van. Suara tembakan kemudian terdengar. Namun tidak begitu lama, karena selanjutnya teriakan Jiyonglah yang paling mendominasi.

Yuri terpaku di tempatnya.

“Kau,” Bibir Yuri bergetar hebat. Ia menjatuhkan peluru perak dalam genggamannya. Matanya berair.

“Zico?”

.Ghost Slayer.

“Kenapa kau membawa pemuda buta itu keluar van, otak kubis!” Jiyong berteriak. Ini kali ketiga ia memperingatkan Yuri. Kini keduanya berguling, melawan makhluk tak kasat mata yang berkekuatan bagaikan angin topan hainan.

“Pertama, dia tidak buta,” Yuri berguling ke sisi kanan Jiyong dan melemparkan sebuah peluru perak pada pria itu. Jiyong mengganti selongsong peluru di Gun-Kit yang ia pegang, dalam sekali gerakan, pelurunya sudah terisi penuh dengan peluru-peluru perak yang lebih baru. Jiyong menembak ke udara kosong, seketika, sebuah tubuh kecil dari seorang wanita dengan rambut panjang jatuh di atas tanah kosong.

Yuri berguling ke sisi yang lain. Ia membawa U-Kit nya dan menggunakannya dalam jarak aman pada makhluk yang terkapar di sisi depan Jiyong. Yuri membuka Gate-Kit dan seketika cahaya menelan bulat makhluk mengerikan tersebut.

Tidak berhenti sampai di sana, Jiyong kembali berguling ke sisi kiri. Maksud hatinya, ingin menyelamatkan seorang pria buta dari sesosok makhluk besar yang hendak melahapnya. Namun usaha Jiyong tadi sia-sia.

Bukan.

Bukan karena timingnya terlalu lambat atau Jiyong sedang dirundung kesialan. Tapi sebuah pisau perak baru saja meluncur di depannya, menghujam dada makhluk besar itu sehingga ia merintih dan meraung. Yuri kemudian berlari mendekat dan membuka Gate-Kitnya. Cahaya biru berpendar dan menarik monster serupa Hulk raksasa tersebut ke dalam Kingdom.

Jiyong menghela napas. Matanya masih berkedip tidak percaya. Tadi itu monster terakhir, arwah yang paling besar di antara tiga temannya yang lain. Tapi ia tidak percaya bahwa hanya dengan sebuah pisau perak, makhluk itu bisa dikalahkan dengan sempurna.

“Kedua,” Yuri tiba-tiba muncul di depan Jiyong, membantunya berdiri dari atas tanah. “Dia Ghost Slayer.”

Jiyong menatap Yuri, kemudian maniknya menangkap seorang pemuda babak belur yang kini berjalan gagah ke arahnya. Perawakannya pendek, namun rasa percaya dirinya meningkat seratus persen di banding ketika keduanya mengalami fase muntah di sisi dari sebuah pohon.

“Dia Zico. Orang yang kita cari.” Kata Yuri lagi.

.Ghost Slayer-To be continued.

A/N

Senangnya akhirnya aku bisa menyelesaikan Step #4 nya. hoho. Jadi di sini hanya diceritakan pertemuan Zico dengan Yuri dan Jiyong ya. Lalu, apa sih maksud dari Chaerin dan Seunghyun yang selalu merencanakan sesuatu terhadap Kwon Sibling? Apa ada kejahatan yang mereka rencanakan? Atau bantuan dan hal-hal lain yang gak pernah duo Kwon itu tahu?

Lalu apa yang terjadi dengan Ibu dua Kwon? Apa yang akan Zico lakukan? Bagaimana kelanjutan kisah pembasmian hantu di Jepang?

Well, masih banyak pertanyaan yang timbul, menandakan makin panjang cerita ini akan berlanjut. Jadi, kalian jangan kemana-mana yah. Tetap setia sama dua Kwon sampai akhir!

49 thoughts on “GHOST SLAYER – STEP #4

  1. Ivy berkata:

    Daebak! Feelnya makin dapet dan ceritanya makin keren , tp bacanya kok agak tegang gitu ya, hehe.

    Ditunggu part berikutnya🙂

  2. Tetta Andira berkata:

    Wahh ,, makin kereen !!
    si Zico ktmu jg🙂
    Duhh ,, bysa’x komenku pnjng ky’ rel kereta (?) ..
    Bt , skrg bener” abiz kata” dehh ..
    Kmu sllu ngasih yg trbaik , Nyun ..
    aku cuma bisa ngasih keep spirit sama hwaiting’x ajah ..

  3. Cynthia berkata:

    Kwon siblings… Yeee di post jg😀
    dtgu part selnjutx y cz penasaran nihh Sm mrk berdua yg udh ktmu zico akhorx gmn..
    Hwaiting!!!!

  4. hani"thahyun kim berkata:

    Waaaahhh semakin seru nih,, kwon sibling akhirnya bisa ketemu sama zico,,
    Seunghyun sama chaerin itu ngerencanain apa sih,, bener” bikin gereget deh mereka..
    Aduuuhhh,,
    #jambak rambut
    Kenapa tbc sih,,hahahaha
    Makin setres nih klo lanjutannya lama di post…haaaaaaahhhhhhh

  5. YoonYuladdicts berkata:

    makin seru aja ceritanya ini kak..
    penasaran banget sama rencananya top sama cl..
    zico udah muncul juga,,apa rencananya zico ? trus ibunya duo kwon kenapaa ??
    waahhhh penasaraann banged pokoknya sama ff ini kak..
    berharap segera update ya kak..
    ditunggu sangat ini kelanjutannya..

  6. milkybyung berkata:

    ini daebak unn!hehe feelmya makin dapet.

    demi apapun masih penasaran sama yang direncanain chaerin-seunghyun-_-
    cepet diceritain gitu ke unn biar kagak penasaran hehe…

  7. YhyeMin_ berkata:

    hayhayhay eonnie*lambai” aku tlat komen,sbnernya kmarin malam udah baca dan mau komen eh aku nya ktiduran jd gk jd hehe^^V
    Seunhyun-victoria-CL aku pusing mau review yg mna..pisss*Zico too pisss again
    Kwon sibling suka bgttt kak kyknya enak deh kalo punya sodara kyk 2kwon itu mskipun sring bertengkar,saling mengejek tp ikatan kakak-adek nya itu loh pake bgtt saling care n ngelindungi.tpi eon aku lbih suka hantu yg part kmarin yg yuri tp bkan yuri.hehe itu hantu favoritku.di tunggu yg lainnya

  8. araa berkata:

    Jiyong suka sama Yuri ya?
    Film Ringo film yang mana unn? Bukannya the ring yang kata sadako itu?
    Nice!!😀
    Next chapt ya unn ^^

  9. Black virus Chanyul berkata:

    KENAPA TBC????? KENAPAAAA??
    kayur eonn fell kwon sibling itu so sweet banget walaupun kaka adek tapi ikatan nya terlalu kuat.. >.<
    suka sama 2kwon..like like like
    eh ada zico.. member favorit aku di block B (siapa yang tanya??)
    jadi zico sama yuri teman masa kecil ya?? hmm
    LANJUT EONN LANJUT…!!! #gakwoles.

  10. HanY berkata:

    Onnie…
    #tlatcoment
    Nie bner” msh bnyak pertyaan y..
    Ituu TOP ma CL pa seeh mksd nya??
    Trus kitain Zico g bkal an lngsung ktwn ma Kwon sibling, tw nya dy ktemu n akhr nya Yul onn meliht Zico yg mrek cri..

    Kwon sibling selaluu gokil..
    Suk dewh ma pengambaran ma Kwon sibling nie..
    hehe
    lucuuu..

    D tunggu next chap nya onn.. ^^

  11. seora berkata:

    woaah kereen….
    cerita’a makin keren, mereka udh ktemu sm zico, tpi msh penasaran apa yg bkal dlakuin top sm cl

  12. lcr1227 berkata:

    Kaknyun,
    aku gatahan kalo ga lanjut baca
    Soalny sampe part 2 itu ga bisa berenti mikirin Ghost Slayer jadi aku baca sampe sini dulu T T

    kak ayo dong lanjutannya~

  13. liliknisa berkata:

    jadi akhirnya zico ketemu
    terus selanjutnya ada apa lagi?
    penasaran. lanjut baca part selanjutnya ^^

  14. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    Suka banget sama ff yang jiyong nya jadi kakak nya yuri, dapet banget gitu, cocok jadi kakak adik sih, keren dah keren!

  15. slmnabil berkata:

    Nabil cinta jiyong, nabil cinta kak nyun! Gimana sih bikin cerita sampai menarik banget kaya gini? Otak kubis, ejekan mereka emang ngga ada habis-habisnya ya. Tapi itu salah satu yang membuat ini makin seru aja tiap chapternya. Rada kecewa sih karena Yuri yang diikutin beres gitu aja, padahal itu baru jadi bagian favorit nabil. Overall, cinta jiyong deh💜

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s