THE STEWARDESS [Part 8]

The stewardess 4

Sorry for made you waiting too long.

***

Yuri masih berdiri di depan sebuah cermin besar. Ia memandangi wajahnya baik-baik, memastikan bahwa semua luka yang ia dapat kemarin sudah hilang sepenuhnya. Yuri memandangi sebuah paket make-up yang masih terbungkus sempurna di meja riasnya. Dia tidak begitu tertarik dengan benda-benda tersebut mengingat paket tersebut diberikan oleh Yoochun.

Janji yang sudah ia buat memaksanya agar ia segera membuka paket tersebut dan segera mengoleskan beberapa lapis bedak di wajahnya yang kusam. Yuri membuang egonya jauh-jauh—walaupun ia tahu setelah ia membuka paket, Park Yoochun akan tersenyum jahil di hadapannya—Ia mengeluarkan sebuah kotak persegi dengan bentuk pipih dari dalam paket tersebut.

Selapis.

Cukup selapis bedak saja sudah membuat penampilan yang luar biasa di wajah Yuri dibandingkan sebelumnya. Untuk sentuhan terakhir, ia menambahkan blush-on merah muda. Bibirnya dilukis dengan sebuah lipstick merah muda yang berwarna senada dengan bibirnya. Mata Yuri, sebelumnya sudah dibentuk dengan beberapa alat make-up yang ia punya. Sebagai pelengkap, ia hanya menambahkan sedikit glitter di bagian bawah matanya.

“Oke, ini sudah cukup.” Ucap Yuri centil. Ia mengedip-kedipkan matanya di depan cermin besar sambil memajukan bibirnya dengan lucu. Yuri tertawa kemudian berdiri dan memutar tubuhnya tiga ratus enam puluh derajat hanya untuk memastikan tidak ada yang salah dengan baju yang dipakainya.

Setelan blouse berwarna merah muda dengan rok mini berwarna hitam, dirasanya cukup pantas dengan make-up nya yang sudah merona. Yuri tersenyum kembali. Maniknya menangkap benda berwarna hitam yang tergeletak di meja rias. Itu sebuah bandana.

Ada semacam bentuk telinga kucing yang dihias di atas bandana tersebut. Yuri tidak tahan untuk tidak meraih benda itu dan mencobanya. Dan kini ketika rambutnya sudah dihias dengan benda tersebut, ia tertawa kembali. Seperti orang gila saja.

Ck.”

Yuri menoleh dan melihat Park Yoochun dengan kemeja dan celana pendek lewat di depan kamarnya. Di tangan Park Yoochun ada tumpukan kotak hadiah dengan pita-pita dan kartu-kartu merah muda yang tidak beraturan.

“Bukankah terlalu lambat untuk valentine?” Kata Yuri. Ia mengibaskan rok hitam pendeknya kemudian berjalan pelan menyusul Yoochun yang sudah lebih dulu duduk di ruang televisi. Yuri memandangi kotak-kotak hadiah tersebut dengan takjub, kemudian menggelengkan kepalanya. “Kau mendapatkan seperti ini setiap hari?”

Yoochun meletakkan semua kotak-kotak hadiah itu di atas sofa. Ia meraih sebuah kartu kecil yang paling mencolok dan membacanya.

“Kira-kira apa yang dipikirkan para wanita ini saat menulis hal menyedihkan ini padaku?” Yoochun melipat kartu ditangannya menjadi empat bagian. Kemudian meletakannya di tumpukan atas dari hadiah merah-mudanya. Kini tangannya menguasai sofa. Ia duduk sendiri di sofa yang panjang. Matanya menatap Yuri.

Eh? Hal menyedihkan seperti apa maksudmu?”

“Mengatakan ia mencintaiku, memintaku menikahinya dan sebagainya. Menyedihkan sekali.”

Yuri hampir saja melepas sepatu tingginya dan melemparkan benda itu ke kening Yoochun yang lebar, namun ia masih bisa mengontrol dirinya. Tenang, Yuri. make-upmu, bajumu, rambutmu, semuanya sudah sempurna. Jangan melakukan hal konyol. Yuri menarik napas panjang dan mengeluarkannya dalam satu kali hentakkan.

“Tidak tahu.” Balasnya singkat. Yuri memutar tubuhnya ke arah berlawanan dengan posisi Yoochun duduk. Maksud hatinya ingin membawa sebuah tas hitam kecil yang sempat ia lupakan di atas meja rias. Namun Park Yoochun berdeham keras, memindainya dengan curiga.

“Kau, mau kemana?” Katanya.

“Apa itu penting?” Yuri masuk ke dalam kamar dan menyampirkan sebuah tas kecil di bahunya. Dengan elegan dan cara berjalan khas pamugari, Yuri mengayunkan sepatu tingginya melewati Yoochun.

“Bertemu Jaejoong?” Tebak Yoochun. Yuri tidak mengiyakan. Gadis itu hanya berjalan seolah tidak peduli. Di sisi lain, Yoochun merogoh sakunya. Ia tidak mengeluarkan atau memasukkan apapun ke dalam sana. Yoochun hanya menyembunyikan tangannya yang tiba-tiba berkeringat. Apa udara sepanas ini? Rutuknya dalam hati.

Bukan hanya tangannya yang tiba-tiba berkeringat, ketika Yuri melangkah lebih jauh ke ambang pintu, kini perasaannya benar-benar gelisah. Dadanya berdegup kencang seperti akan keluar kapan saja dari tempatnya. Bulu kuduknya meremang padahal ia yakin kalau Yuri bukanlah seorang hantu. Kaki Yoochun tiba-tiba menjadi gatal. Ia kemudian berdiri dengan tiba-tiba sambil menelan ludahnya.

Jakun yang naik-turun miliknya terlihat jelas dari kejauhan. Sayangnya, Yuri sudah memunggunginya.

Ada semacam detik-detik hitung mundur yang terngiang begitu saja di dalam telinga Yoochun. Ketika Yuri meraih kenop pintu dan mulai menyentuh tombol-tombol kombinasi di sana, Yoochun benar-benar sudah di luar kendali.

Tenggorokan, kerongkongan, perut, vena, diafragma dan segenap sistem kehidupan di dalam tubuhnya kini tidak berjalan begitu normal. Yoochun tidak tahu mengapa tapi yang ia pahami selanjutnya adalah ia mulai melangkah.

Ya, kaki Yoochun mulai melangkah cepat.

Saat Yuri berhasil membuat bunyi ting kecil di pintu, tangan kanan Yoochun sudah mendarat di bahu kanan gadis itu. Yuri terlonjak kaget.

“Apa?” Katanya. Mata kecokelatan gadis itu masih tertanam jelas pada manik Yoochun. Yoochun tidak memiliki alasan yang tepat kenapa ia bisa berjalan ke sana dan mendaratkan tangannya di bahu Yuri. Tapi ia tidak bisa terlihat dengan tampang bodoh begitu saja di depan gadis arogan itu, pikirnya.

“Aku ikut.” Kata Yoochun mencari alasan. Batinnya sudah agak tenang dari sebelumnya, peluhnya masih menetes, tapi sudah berhenti berproduksi lebih banyak. Lain lagi dengan Yuri, kini gadis itu semakin ditimpuki oleh tanda tanya besar. Ia tidak yakin kalau Park Yoochun akan menimbulkan sebuah pertanda baik baginya. Namun ia juga tidak yakin apa maksudnya pemuda ini tiba-tiba berkata bahwa ia ingin ikut bersamanya.

“Otakmu tersedak kotak-kotak hadiah?” Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Yuri. Yoochun melepaskan sentuhan tangannya di bahu kanan gadis itu dan mulai mengambil selangkah mundur. Diam-diam, ia mengatur napasnya.

“Oke. Aku akan pulang jam sembilan malam nanti.” Kata Yuri lagi. Matanya tidak lagi menatap Yoochun, ia memutuskan memutar tubuhnya dan membuka pintu apartemen.

“Kau tidak dengar aku?” Langkah Yuri terhenti. Yoochun sudah berbicara kembali. “Aku ikut.”

“Aku tidak minta kau ikut.” Jawab Yuri ketus.

“Tapi aku harus ikut.”

Yuri kembali memutar tubuhnya hingga ia bertatapan kembali dengan Park Yoochun. “Dan kenapa kau harus ikut?”

“Karena aku,” kalimat Yoochun menggantung di ujung lidahnya. Sejujurnya, ia juga tidak tahu kenapa ia ingin ikut. “Memiliki sesuatu yang harus kubicarakan dengan Jaejoong.” Kata Yoochun pada akhirnya.

Yuri terkesan tidak senang. Namun ekspresinya perlahan berubah menjadi menimbang-nimbang. Ia menatap lurus mata Yoochun dengan baik, namun Yuri buru-buru mengalihkan pandangannya pada sebuah pajangan kaca di samping Yoochun.

Jantungnya kemudian bekerja lebih cepat hingga detakannya terasa hingga ke telinga. Tidak biasanya, pikir Yuri. Otaknya memanggil ribuan memori, namun yang membuat jantungnya menjadi begitu aneh adalah memori ia dan Park Yoochun di sebuah mobil beberapa hari yang lalu.

YA!” Yoochun berteriak karena Yuri tidak merespon apapun. Gadis itu kemudian kembali ke alam nyata, wajahnya sempat kebingungan namun ekspresi kesal dari Park Yoochun membangkitkan dirinya pada kenyataan. “Kau bisa bertemu Jaejoong lain kali. Aku ada urusan sangat penting dengannya.” Kata Yuri. Kalimatnya terucap cenderung tidak tenang.

“Kau gugup?” Tanya Yoochun. “Kau pasti berbohong. Wanita akan gugup jika ia berbohong. Apa aku benar?”

“Kau membuang-buang waktuku, Tuan Jidat Lebar.”

Yoochun mengecap-ngecap lidahnya kemudian membuat salah satu sudut bibirnya ditarik ke atas. Yoochun tersenyum meremehkan. “Apa Jaejoong mengajakmu pergi berdua untuk kencan?”

Yuri lagi-lagi merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Seperti gemuruh yang membuat hatinya kacau, namun di sisi lain seperti pelangi yang membuat hatinya berwarna. Yoochun hanya melemparkan sebuah kalimat tanya sederhana dengan jawaban pasti, namun Yuri merasa pertanyaan itu menjadi boomerang terbesarnya.

Ya, ia mengajakku kencan. Hanya itu. Hanya itu saja yang ingin dikatakan Yuri di ujung lidahnya. Namun kalimat itu tidak pernah keluar. Yuri mengkhawatirkan apa yang sebenarnya tidak perlu ia khawatirkan, seperti bagaimana jika Yoochun memarahinya; atau bagaimana jika Yoochun tidak jadi ikut bersamanya dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya dengan Yoochun sebagai subjek utama.

Kwon Yuri tidak bisa menjelaskan kenapa ia menyisipkan nama Park Yoochun bahkan dalam setiap percakapan yang terjadi di dalam otaknya.

Ia tidak mengerti.

“Tidak kok.” Akhirnya dengan susah payah, Yuri mencari jalan keluar dengan sebuah kalimat sederhana. Meski ia berbohong, entah kenapa lagi-lagi hatinya merasa sedikit lega ketika wajah Yoochun terlihat baik-baik saja.

“Tunggu di sini.” Yoochun memerintahkan.

Lagi-lagi.

Seharusnya, dengan karakter uniknya, Yuri bisa saja pergi dan mengabaikan Park Yoochun yang tergesa-gesa berlari ke kamarnya entah untuk apa. Yuri bisa saja membuka pintu dan menghilang dari tempatnya berdiri saat itu demi janji yang ia buat susah payah dengan Jaejoong. Dan ia bisa saja mengunci pintu dari luar serta mengubah password apartemennya untuk sementara agar Park Yoochun berhenti mengikutinya seperti tuyul.

Tapi Yuri tidak melakukan apapun.

Ia benar-benar berdiri di sana sampai Yoochun datang kembali dengan setelan casual khas musim panas.

Hari itu, Yuri merasa ia adalah Yuri yang paling bodoh di dunia.

“Jadi, kemana kita?” Kata Yoochun begitu ia duduk di balik setir mobil hitam mewahnya. Yuri duduk tidak bersemangat di kursi sebelahnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan singkat dengan nama restaurant dan alamat lengkapnya.

“Ini restaurant eropa. Lidahmu tidak mungkin bersahabat dengan makanannya. Apa tidak mau coba tempat lain?” Saran Yoochun. Ia tidak menyalakan mesin mobilnya melainkan menunggu respon dari Yuri.

Yuri sendiri kini duduk menyamping, wajahnya ia hadapkan pada sisi kanan Yoochun. Dengan tangan dilipat di depan dada dan gaya elegan, ia berkata. “Apa kau lupa dimana kita bertemu, Tuan Arogan?”

Yoochun hendak membuka mulutnya lagi, namun memori Roma perlahan meresap ke dalam otaknya.

Ya, ia akui ia bodoh.

Lidahmu tidak bersahabat dengan makanan eropa, katanya?

Padahal keduanya bertemu di Roma.

Oh. Itu hal paling bodoh yang pernah Yoochun katakan untuk meminta seorang wanita membatalkan kencannya dengan pria lain.

EH? Pekik Yoochun dalam hati. Apa yang baru saja kupikirkan tadi? Meminta wanita membatalkan kencan?

Yoochun menggelengkan kepala diikuti pandangan curiga dari Yuri. Ia menyalakan mesin mobilnya dengan gelisah. Percakapan kecil masih terjadi di dalam otaknya.

Kenapa aku begitu khawatir dengan kencan gadis bodoh ini?

-S-

“Jadi,” Jaejoong menyeruput limun melalui sedotan kuningnya dengan hati-hati. Matanya melirik ke sepasang muda-mudi yang duduk di balik mejanya dengan tidak nyaman. “Kalian datang berdua karena Yuri tidak menemukan taksi?”

“Begitulah.” Yuri tersenyum tipis. Park Yoochun bersandar di sofa restaurant dengan acuh tak acuh. Mulutnya membuka hendak menepis pernyataan Jaejoong namun kaki Yuri lebih dahulu mengendus gelagat Yoochun. Sepatu tinggi yang dipakai Yuri tepat mendarat di punggung kaki Yoochun. Pria itu mengaduh kecil.

“Maaf ya,” Yuri tersenyum terpaksa, lirikannya matanya terlihat tidak nyaman ketika Park Yoochun kini mulai bersandar malas kembali di sofa. “Lain kali aku akan pergi sendiri.” Tambahnya lagi. Yoochun mendesis.

“Yah, aku bisa apa. Lagipula kalian adalah suami dan istri. Agak aneh malah kalau kau pergi sendiri dan duduk berdua bersamaku di sini.” Jaejoong menaruh gelas limunnya di atas meja. Tangannya kini mengelus sebuah ponsel yang terletak di dekat benda mudah pecah tersebut. “Ya kan, Yoochun?” Sambungnya lagi.

“Ah. Oh—Ya.”

Yuri memandang sinis wajah Yoochun. Kemudian ia berusaha memalingkan wajahnya jauh-jauh dari manik pria yang kini membalas menatap sinis padanya itu.

“Tapi suasana seperti ini juga tidak begitu nyaman untukku. Kalian tidak keberatan kan kalau aku membawa salah satu temanku kemari?” Tanya Jaejoong. Yang pertama kali ia lihat setelah pria itu melemparkan pertanyaannya adalah wajah Yoochun. Kemudian senyumnya mengembang saat melihat Yuri yang bingung.

“Boleh saja sih.” Kata Yoochun. “Selama temanmu bukan salah satu dari fans-fansku yang mengganggu kenyamanan aku dengan istriku di sini.” Tambahnya ketus. Yuri mengendus aroma permusuhan yang entah dari kapan mulainya. Untuk mencairkan suasana, ia berusaha tersenyum pada keduanya dan meneguk sodanya dengan cepat hingga ia hampir tersedak.

“Sepertinya musim panas kali ini cukup terik ya?” Kata Yuri—mengalihkan perhatian.

“Ya. Cukup panas bahkan di dalam ruangan.” Kata Yoochun. Walaupun jelas-jelas kalimatnya adalah jawaban atas pertanyaan dari Yuri, namun maniknya tidak lepas dari wajah Jaejoong. Seolah kalimatnya tadi ditujukan untuk pemuda itu.

Kontras dengan aura menyeramkan yang dilontarkan Yoochun dalam kalimatnya, Jaejoong cenderung tenang. Ia hanya tertawa dan tersenyum jika pemuda itu tidak menemukan jawaban atau respon yang pas di dalam percakapan ketiganya.

Yuri di sini lebih canggung lagi. Ia tidak paham apa yang terjadi di antara keduanya. Pun tidak ingin terlibat lebih jauh dalam aura tidak enak tersebut.

“Hai!” Di kejauhan, suara gadis tinggi kini terdengar. Restaurant Eropa itu cukup sepi untuk menampung keempat orang itu di dalam. Selain karena standar tinggi dari kualitas, pelayanan dan harganya, Restaurant tersebut juga—secara kebetulan—merupakan salah satu anak perusahaan dari bisnis keluarga Kim Jaejoong, sehingga tidak sulit baginya untuk mengosongkan tempat itu bagi kenyamanan tamu-tamu istimewanya.

Ham Eun Jung.

Yuri mengenali wajah itu sebagai Ham Eunjung, mantan kekasih Park Yoochun dan seorang gadis yang masih mengharapkan Park Yoochun kembali ke sisinya.

“Lama tak bertemu, Yuri-ah.” Katanya ramah. Yuri tersenyum, namun diam-diam bibirnya mengerucut. Lama tak bertemu katanya? Padahal baru kemarin wanita itu mengundang huru-hara di apartemennya, rutuk Yuri.

“Aku tidak menyangka kau akan mengajakku makan siang dengan keluarga baru ini, Oppa.” Tambah Eunjung ketika ia duduk di sebelah Jaejoong dan memesan sesuatu pada seorang waiter pria berdasi kupu-kupu. Yoochun meneguk frozen moccanya dengan tergesa-gesa ketika wanita itu kini tersenyum padanya.

Yuri tahu gerakan kecil itu, tapi Yuri tidak ambil pusing.

Aku tidak apa-apa.

Yuri melirik ke gadis sempurna yang kini mengobrol kecil dengan Jaejoong. Lalu bibirnya bergerak pelan, sesuatu terjadi di dalam kepala Yuri.

Aku benar tidak apa-apa.

Eunjung tertawa bersama Jaejoong kemudian Yoochun terbatuk-batuk. Gadis itu mengambil sesuatu dari tas kecilnya kemudian menyerahkannya pada Yoochun, sebuah sapu tangan dengan bordiran bentuk hati yang tersemat di antara dua inisial nama.

YC dan EJ.

Siapapun tahu apa maksudnya.

Yuri menarik napas.

Aku benar tidak apa-apa kok.

Saat Eunjung tersenyum manis pada Yoochun. Yuri gelisah.

Aku benar tidak apa-apa kan?

“Sepertinya aku harus ke toilet.” Kata Yuri pada akhirnya. Jika saat itu merupakan salah satu adegan di dalam kartun, sudah ada asap yang mengepul di kepala Yuri saat ia beranjak dan meninggalkan meja tersebut. Tas tangan kecilnya secara tidak sengaja menyentuh gelas kosong bekas soda dan membuat benda tersebut terjun bebas ke atas lantai.

Prang.

Suara yang cukup besar untuk ruangan yang sepi.

“Maaf!” Yuri menundukkan kepalanya dan berjongkok. Ia meraih sebuah pecahan beling ketika Yoochun berdiri di sebelahnya dan meraih tangannya. Terakhir kali gadis itu mengurusi pecahan gelas adalah kali ketika kakinya terluka, Yoochun ingat betul. Pemuda itu kini meraih tangan Yuri agar menjauh.

Yuri dengan takut-takut berdiri juga, ia menyembunyikan jempol kanan yang sebenarnya sudah berdarah sejak pertama kali ia memungut pecahan tersebut. Walaupun bukan luka besar, tapi akan cukup merepotkan jika Yoochun tahu apa yang terjadi di sana.

Muka gadis itu memerah, ia menatap Jaejoong yang mulai menguasai kekagetannya. Sedangkan menit ketika ia melihat ekspresi Eunjung adalah menit paling menyiksa hidupnya. Gadis itu tersenyum, tapi bukan kehangatan yang Yuri rasakan. Ada senyum kemenangan yang jahat di sana dan membuat Yuri melepaskan tangan Yoochun kemudian berlari ke toilet.

“Gadis itu sangat kikuk ya?” Eunjung meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan anggun. Ia melirik Yoochun. “Entah sengaja atau memang sangat polos kau pikir?”

“Dia tidak sengaja.” Jaejoong berdiri dari sofanya. “Aku akan mengurusnya.”

Pemuda itu kemudian pergi ke arah lain. Jaejoong terlihat bercakap-cakap dengan seorang pelayan dan seketika, dua orang pelayan lain muncul kemudian membersihkan pecahan kaca dari gelas yang Yuri jatuhkan.

Ditinggalkan hanya berdua dengan Yoochun, Eunjung memekik keras di dalam batinnya.

“Jadi yang seperti itu istrimu ya?” Dengan nada meremehkan, Eunjung bicara.

“…”

“Park Yoochun?”

“Kau bicara denganku?”

Tsk.” Eunjung tersenyum licik. “Kau berpura-pura  atau memang kau tidak mendengarkanku, Park Yoochun?”

“Aku berpura-pura. Aku tidak tuli.” Kata Yoochun. Pemuda itu kemudian duduk kembali di atas sofanya, menghargai Eunjung yang sudah duduk lebih dahulu.

“Kenapa kau berpura-pura tidak mendengarkanku?”

Yoochun mengetuk-ketuk meja kayu dengan buku-buku jarinya. Katanya, “Kau ingin tahu?”

Eunjung tidak menjawab. Tapi seringainya menjelaskan apa yang ia inginkan dari Park Yoochun. “Karena aku tidak ingin diracuni lagi oleh mulut berbisamu, itu satu-satunya alasan aku tidak ingin mendengarmu, Ham-Eun-Jung-ssi.” Kata Yoochun.

Eunjung merapatkan bibirnya sebelum ia kembali bicara. Ia tidak pernah membayangkan barang sekali, Park Yoochun akan mengatakan hal-hal seperti itu padanya. Tidak pernah bahkan di saat hubungan mereka benar-benar buruk. Ini yang pertama.

“Aku tahu.” Kata Eunjung akhirnya, “Kau masih mencintaiku sampai-sampai kau tidak bisa mendengarkanku kembali kan? Kau begitu sakit mendengar suaraku sampai kau tidak peduli aku bicara padamu atau tidak, begitu kan, Park Yoochun?”

Eunjung menatap Yoochun lurus, serius. Maniknya memancarkan harapan bahwa Yoochun setidaknya berkata ya atau mengangguk setuju. Namun ekspresi pria itu tenang, diam bahkan cenderung tidak peduli. Matanya tertanam pada sudut ruangan lain dimana toilet berada.

“Park Yoochun!” Eunjung gerah. Ia naik pitam karena merasa diabaikan.

Cih.” Sebaris kata tadi adalah satu-satunya kata yang Yoochun sampaikan atas kalimat panjang dari Eunjung. Tentu itu tidak membuat amarah Eunjung cenderung menurun. Malah sebaliknya. Di kejauhan, Jaejoong yang merasa tugasnya sudah selesai, urung kembali ke meja dimana Yoochun dan Eunjung berada. Teriakan Eunjung tadi sudah cukup sebagai peringatan bagi Jaejoong agar tidak sekalipun terlibat dalam urusan keduanya.

“Ah kau bodoh, Yuri,” Yuri baru saja keluar toilet sembari menggumam pada dirinya sendiri. Make-up yang sudah susah payah ia poleskan di wajahnya kini luntur sudah karena air. Ia membasuh wajahnya. Yuri menyadari bahwa suara teriakan gadis yang memanggil nama Park Yoochun baru saja bukanlah imajinasinya belaka setelah melihat pemandangan di depan matanya.

Yoochun dan Eunjung sedang terlibat percakapan serius.

Seharusnya aku tidak peduli. Yuri meyakinkan dirinya. Namun saat manik Yoochun menatap Eunjung lekat-lekat, Yuri urung berjalan. Ia hanya mematung. Yuri tidak ingat ia menggunakan baju kesempitan atau apa, karena tiba-tiba saja dadanya sesak.

Yuri memalingkan wajahnya dan menemukan Jaejoong yang sedang mengamat-amatinya. “Oppa,” katanya.

Jaejoong tersenyum kemudian menarik tangan gadis itu. Keduanya kini melangkah ke luar restaurant diam-diam.

-S-

“Kau diet?” Tanya Jaejoong pada Yuri. Keduanya kini tengah duduk di kursi-kursi besi taman kota. Yuri memegangi sebuah cone eskrim namun tidak sekalipun ia menjilatnya. Hal ini sontak membuat Jaejoong terheran-heran.

“Tidak kok.” Kata Yuri. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” Gadis itu menjilat eskrim di tangannya.

“Habisnya kau tidak terlihat menikmatinya,” Kata Jaejoong. “Omong-omong, apa sesuatu yang buruk terjadi padamu? Kau masih terganggu dengan insiden gelas pecah tadi ya?”

Yuri membelalakkan matanya. Kemudian dengan tergagap, ia berhasil juga menggeleng dan menggumamkan kata ‘tidak’.

“Tidak apa, soal gelas pecah tadi adalah hal sepele.” Kata Jaejoong lagi. Yuri hanya mengangguk.

Kening Jaejoong berkerut. Tidak biasanya Yuri bertingkah seperti ini di hadapannya. Minimal, jika Yuri sedang tidak dalam mood yang bagus, ia masih tersenyum singkat atau bermanja-manja dengannya. Namun kali ini, sungguh berbeda.

Jaejoong tidak menggubris perasaan anehnya pada Yuri. Cukup berada di samping gadis itu saat ini saja sudah merupakan kesempatan langka. Ia  tidak akan mengganggu Yuri dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilandaskan karena insting penasarannya.

Yuri dengan malas menjilat eskrimnya. Tanpa kata, tanpa ekspresi. Sesekali kepalanya mendongak menatap teriknya matahari, namun setelah itu matanya hanya terpejam, seolah mendengarkan angin berbisik.

Ketika eskrim di tangannya sudah lenyap, Jaejoong mengajak gadis itu ke sebuah kebun binatang. Pemuda itu memberikan sebuah bandana beruang di kepala Yuri, menggantikan bandana telinga kucing yang sudah bertengger di kepala Yuri sejak siang tadi.

Keduanya berjalan mengelilingi kebun binatang—walau sesekali mereka menunggangi kendaraan yang disediakan di sana—dengan dua perasaan yang sangat kontras. Satu sangat bahagia, sisanya hanya dirundung kecemasan.

Yuri melangkah berat hati ketika Jaejoong mengajaknya berfoto bersama di depan sebuah kandang ular. Tidak ingin momen berharganya sia-sia begitu saja, Jaejoong mendekap tubuh Yuri dari belakang. Ia merangkul pundaknya dan berfoto dengan kamera polaroid miliknya.

“Hasilnya bagus.” Puji Jaejoong. Yuri tersenyum tipis.

Dari kandang ular, mereka hanya berputar-putar ke kandang-kandang lainnya. Kadang Jaejoong mengambil foto para hewan, tapi lebih sering ia mengambil gambar Yuri diam-diam.

Ketika senja tiba dan peringatan kebun binatang akan tutup mulai terdengar, Yuri dan Jaejoong sudah keluar dari gerbang utama. Keduanya kelelahan dan duduk di sebuah undakan kecil dengan air mancur di kejauhan.

“Sangat menyenangkan.” Kata Jaejoong sambil tertawa. Yuri mengiyakan dengan anggukan. Di depannya duduk seorang pria yang sudah ia sukai sejak lama, namun entah mengapa gadis ini malah tidak bisa mengalihkan memorinya dari pemandangan di restaurant siang tadi.

Ia masih memikirkan sapu tangan dengan inisial tersebut.

Ia masih memikirkan pria yang melarangnya memungut pecahan gelas kaca.

Ia masih memikirkan pria arogan yang seharusnya sudah musnah dari pikirannya.

Yuri masih memikirkan Park Yoochun.

Sialnya,

Ia tidak tahu kenapa.

Em,” Yuri menggumam. “Oppa,”

Belum selesai Yuri bicara, sebuah panggilan masuk berdering keras dari sebuah ponsel. Kedua tangan Yuri kini bersesaran di dalam tas kecilnya untuk menemukan benda kecil itu. Ia pikir suara tadi berasal dari ponselnya.

Namun setelah Jaejoong mengeluarkan ponsel hitam yang sama dengan miliknya dan membawanya di telinga kemudian menjauh, Yuri tahu bahwa bukan ponselnyalah yang berbunyi.

Yuri sangat menunggu panggilan masuk dari seseorang. Yuri ingin dikhawatirkan juga. Tapi nyatanya, tidak ada seorang pun yang meneleponnya kendati ia belum tiba di rumah senja begini.

Bahkan Park Yoochun tidak peduli. Rutuknya. Eh? Kenapa Park Yoochun lagi? Aku ini kenapa?

Yuri memukul-mukul kepalanya. Jaejoong datang sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Aku harus pulang. Ayo, Yuri-yah kau akan kuantar sampai apartemen.” Ajak Jaejoong.

Apa katanya tadi? Sampai apartemen? Bagaimana jika Yoochun menemukan ini? Bagaimana jika Yoochun marah padaku dan meninggalkanku?

Eh, tidak Oppa. Tidak apa-apa, kau bisa pulang. Aku pulang sendiri saja, oke?” Yuri terpatah-patah berkata.

“Ini sudah hampir malam, aku harus mengantar kau pulang. Lagipula apartemenmu kan cukup jauh dari sini.” Sergah Jaejoong.

Namun Yuri membatu, ia tidak ingin ada perang ketika dirinya sampai di apartemen hanya karena Yoochun menemukannya diantar pulang oleh Jaejoong.

Tapi kenapa? Kenapa aku begitu peduli pada masalah sepele seperti ini?

“Ayo ke parkiran.” Ajak Jaejoong lagi. Namun Yuri masih menggeleng. “Tidak, Oppa. Aku…,” Yuri menggaruk kepalanya, mencari alasan. “Ah, Aku masih memiliki beberapa barang yang harus kubeli di sekitar sini, mungkin akan lama.” Sahutnya kemudian.

“Memangnya kau ingin beli apa?”

“Se—“ Yuri memutar otaknya, “sesuatu yang besar.” Katanya. “Temanku melahirkan anak pertamanya kemarin dan aku berniat memberinya sesuatu yang besar.”

“Apa tidak sebaiknya kau membelinya besok? Kalau kemalaman kau tidak akan menemukan taksi. Lagipula kebetulan, aku benar-benar harus pulang sekarang.”

“Tidak kok, tidak apa-apa Oppa. Aku kan sudah bilang aku bisa pulang sendiri. Lagipula ini tidak akan lama kok. Aku tidak punya waktu kalau besok, Yoochun akan mengunciku di apartemen. Lebih cepat lebih baik.” Yuri mengedipkan matanya pada Jaejoong. Pemuda itu tersenyum.

“Baiklah, tapi kau benar tidak apa-apa pulang sendirian?”

“Aku Kwon Yuri. Masa kau lupa.” Kata Yuri jahil. Jaejoong mengangguk kemudian melemparkan senyumannya pada Yuri. “Kalau begitu, selamat malam dan sampai jumpa lagi, Yuri.”

Ne!” Jawab Yuri.

Di persimpangan jalan depan taman, adalah perpisahan keduanya. Jaejoong berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir sedangkan Yuri kini berjalan mengayukan tas kecilnya menuju sebuah Mall yang paling dekat dengan taman.

-S-

 

Mall yang Yuri tuju tadi sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun mengatakan bahwa Mall tersebut dapat dengan mudah dilalui dengan berjalan kaki dirasa berlebihan juga. Di depan taman tadi, dimana ia mulai berjalan, tidak satupun taksi yang lewat.

Satu-satunya rencana miliknya adalah berjalan hingga Mall. Setidaknya ada vallet taksi yang berjajar di sana. Dan Yuri bisa cepat sampai di apartemen dengan selamat.

Kini Yuri melepas heelsnya. Kakinya kram.

Beberapa meter di depannya ada sekawanan pemuda yang sepertinya sedang berbincang-bincang. Yuri tiba-tiba teringat pada kejadian di Roma tentang sekelompok orang yang berniat jahat padanya. Ia juga ingat betul bagian dimana Yoochun memukul para bandit tersebut dan menyelamatkan hidup Yuri.

Ew, terdengar berlebihan ya?

Tapi memang itulah yang Yuri rasakan saat itu.

Kali ini, Yuri terjebak. Ia tidak berani melangkah lebih jauh karena segerombolan pemuda tersebut. Ditambah hari sudah gelap dan jalanan cukup sepi. Ia juga sempat menyesal karena memakai rok hitam mini di malam begini.

Yuri bisa berjalan memutar demi menghindari para pemuda itu, tapi resikonya adalah, ia akan semakin jauh dari Mall. Merepotkan!

Yuri merogoh ponsel di tasnya. Layarnya tidak menyala bahkan ketika Yuri membolak-balik dan menekan-tekan tombolnya beberapa kali.

“Sial! Aku kehabisan baterai!” Umpat Yuri.

Demi menghindari hal-hal yang tidak ia inginkan, Yuri kini duduk di sebuah bangku semen yang terletak cukup jauh dari segerombolan pemuda di depannya. Yuri yakin betul bahwa ia tidak terlihat dari arah sana karena semak-semak yang tumbuh di sisi kanannya dan menutupi area pandang sang pemuda-pemuda tadi.

Yuri kini menggigiti bibirnya sambil menyesali ia tidak cukup pintar untuk menolak ajakan pulang dari Jaejoong. Ia dirundung nasib buruk.

Tap. Tap. Tap.

Yuri mendengar beberapa langkah mendekat. Dilihatnya pemuda-pemuda di sisi lain dari bangkunya kini berpencar ke segala arah. Sialnya, ada tiga orang kini berjalan ke arahnya. Tidak ada sorot mata jahat dari ketiga pemuda yang berjalan padanya, tapi tetap saja Yuri tidak boleh menurunkan kewaspadaannya.

Yuri menggenggam sepatu tingginya kuat-kuat. Ia memiliki rencana picisan yang mungkin akan menyelamatkan hidupnya. Jadi ketika pemuda itu sewaktu-waktu menyerang, ia dapat menghantam wajah si pemuda dengan heels dari sepatu miliknya. Cukup mudah kan kedengarannya?

Tap. Tap. Tap.

Yuri duduk dengan siaga. Ia siap kapan saja. Setelah menarik napas panjang dan berdoa, kini Yuri sudah memasang kuda-kuda.

Tap. Tap. Tap.

Suara itu ada di depan wajahnya saat ini! Namun tiga pemuda itu hanya berjalan santai dan melewatinya begitu saja. Padahal keringat dingin milik Yuri kini sudah membasahi bajunya. Pemuda-pemuda tadi melihatnya seperti orang gila dan menyeringai jijik.

Yuri bisa lega sekarang.

Grep!

Sesuatu menangkapnya dari belakang. Yuri tidak bisa melawan karena tubuhnya terkunci oleh tangan. Bulu kuduk di leher gadis itu meremang seketika. Ada tiupan tergesa-gesa dari hidung seseorang yang berhembus dengan memburu di lehernya. Yuri tidak berbicara sepatah kata apapun.

Ia ketakutan.

Seseorang sudah mendapatkan tubuhnya. Seseorang sudah menangkapnya!

-S-

“Park Yoochun?”

Saat Yuri berbalik dan menatap wajah si pemilik tangan yang menangkapnya, ia kaget bukan main. Park Yoochun berdiri di sana, tanpa alas kaki dengan wajah yang berantakan. Keringat pemuda itu lebih banyak dari Yuri tapi seolah tidak merasakan apapun, Park Yoochun memeluk Yuri erat, membiarkan kehangatan dari tubuh gadis itu membuat peluhnya berproduksi semakin banyak.

“Kwon Yuri,” bisik Park Yoochun. Yuri diam, pikirannya masih kalut dan dia tidak tahu harus berbuat apa saat namanya disebut. Kemunculan Yoochun yang mengejutkan di sana, sudah cukup membuatnya terpana. “Kwon Yuri,” ulang Yoochun.

Yuri menelan ludahnya. Tangan Yoochun mendekap tubuh mungil gadis itu lebih erat. “Lain kali,” Lagi-lagi ucapan Yoochun terpatah-patah. Pria itu menarik napas dengan tergesa-gesa.

“Lain kali,” ulangnya. Yoochun menghembuskan napasnya dengan putus-putus. Sepertinya ia sangat kelelahan, Yuri sempat menyentuh leher pria itu dan suhunya cukup tinggi. Yuri berusaha membuka mulut dan berbicara setelah merasa ada yang salah, namun Park Yoochun tidak melepaskannya. Bibirnya masih berusaha mengucapkan sesuatu.

Waktu Yoochun untuk sadar rupanya sudah habis. Sesaat sebelum tubuhnya ambruk di dalam pelukan Yuri, pria itu berhasil menyelesaikan kalimatnya.

“Lain kali, angkat teleponku.”

-tbc-

 

49 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 8]

  1. Tarhy94 berkata:

    OMG…. Steward udh kluarr..
    Aq ninggalin jjakk dlu yah eon.
    ntr bru bca^_^ ntr aq ninggalin komen lgi kok^_^

  2. Imasari berkata:

    Yoochun.a baik bnget.. Di mana2 ada.
    Kenapa jaejoong keliatan suka bngetnya sm yuri bru skrg ya? Awal2 dia msh agak cuek..
    Itu si yoochun abis ngpain, tiba2 ambruk?

  3. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    Aaaaaaa yoochun pas part akhir nya sumpah so sweet bgttttttt, masih pada gengsi ngaku kalau udah saling suka -_- ayolahhh di lanjuttttt><

  4. tha_elfsone berkata:

    yeyey akhirnya publish juga🙂
    yaa ampun yuri ma yoochun dh mulai suka itu… ttu p mereka ja yg g peka ama perasaan masing”…ckckck
    yaah kasian jg siih ma jaejong dia kan suka ma yuri tapi skrang yul dh mulai suka ma yoochun…
    itu yoochun knp kayur ampe berantakan bnget kondisinya pas mluk yul dr belakang..jgn” bis nyariin yul yaah..heheh
    yaa dh aq tnggu next part nya yaa kayur🙂

  5. YoonYuladdicts berkata:

    update juga akhirnya the stewardess..
    yuri-yoochun udah tumbuh benih2 cinta tapi belum berani ngungkapin, jaejoong baru ngerasa suka ma yuri masa..
    endingnya romantis banget kak, seperti biasa ffmu selalu keren.. (y)
    aku tunggu kelanjutanya..

  6. EKHA_LEESUNHI berkata:

    wuah kynya part ini agak pendek #eh
    akakkaka yoochun biz nyari yuri lari2 gt?mpe ngos2an n pingsan. Jadi curiga sama kata2 trakhir yoochun “lain kai angkat telfonku?” lah hp yuri kan mati?apa jangan2?????
    Ommo…lanjutannya deh ditunggu akakaka

  7. hani"thahyun kim berkata:

    Aaaaaaaaaahhhh greget sama yuri dan yoochun,, kenapa sih gak saling jujur sama pean mereka masing”..
    Aku kira yuri ditangkap sama berandalan,, ternyata itu yoochun..kayanya yoochun udah nyari” yuri sampe setengah mati karena khawatir..
    Yuri gak tau itu,,pantes yuri gak angkat telpon dari yoochun, orang hp nya yuri mati..
    Dikirain yoochun gak khawatir yuri pergi, ternyataaaa yoochun khawatir pake banget..hahaha
    Jaejoong sama eunjung itu udah gak ada harapan lagi buat dapetin yuri dan yoochun..
    Jadi berhenti deh kalian gangguin mereka..huuuuuuhhh

  8. NG_YuriGG • Sulleh_ berkata:

    Hwaaaa itu yoochun kenapaaaa._. Yuri udh mulai suka sama yoochun uy~.~ wkwk
    Daebak unn,keep writing^^

  9. Black virus Chanyul berkata:

    AAAAAAA,,,so sweeetttt… akhir nya the stewardess publish…!!
    kayur eonni pintar banget deh bikin perasaan naik turun🙂
    yoochun sama yuri bikin gemes.
    daebakk lanjut eonn. ^_^ d

  10. YhyeMin_ berkata:

    cieee… skrng pasangan yoochun-yuri udah tumbuh benih” cinta,, yaaa meskipun gengsi masih d atas sgalanya tp hati mreka gk bisa d bohongi…rumit kak crita cintanya,,di satu sisi yoori udah saling cinta*meskipun blum sadar.. jaejoong-eunjung berharap yoori pisah karna yg mreka tau yoori gk saling cinta d tambah lagi jaejoong tau yuri cintanya ma dia jd harapannya makin besar, eunjung masih ngotot pengen kembali ma yoochun*eh bener gk sih..
    Itu yoochun knpa sampe pingsan sgala..*jawabannya ada d part 9, jd d tunggu…

  11. mellinw berkata:

    Aku telat bacaa T.T msh keasikan ngulang vibrance niih, hati aku msh terpaut di romantisme petualangan kai-yuri-luhan ..
    Smpe gatau stewardess udh update heheh

    Kankankankan ginilaaah , bnci jd cinta juga kan bedua .
    Saling cemburu tp tetep saling belaga gaktau . Ahahaha . Lucuuuu😀

    Lanjut kaaak ceritanya😉

  12. Liza Nining berkata:

    apa yg terjadi dgn yoochun kok penuh peluh? makin keliatan seksi dong *ups

    jadi gerombolan pemuda itu cm netizen biasa atau…..??

    dituggu kelanjutannya kak~~~
    ohya momen yoochun peluk yuri td soswiiiiiiiiiiit

  13. Mickeymo125 berkata:

    hai kaknyun ._.
    aku udah baca dari part satu, tapi maaf ya cuma komen disini. gapapa kan?🙂
    ini keren. . ff unni selalu ngena banget ;;))
    aku suka scene yuri-yoochun yg kalo berantem nya keliatan manis :p //ahihi
    kurang suka karakter jaejoong disini, apalagi eunjung -_- //eh
    oke, keep writing kak🙂

  14. yuri rahma berkata:

    akhirnya penatian q tidak sia-sia
    Itu yoochun ma yuri kayaknya dah tumbuh perasaan ya diantara mereka,kaya kata pepatah cinta karna terbiasa
    Yoochun pingsan karna kelelaahan mencari yuri ya?
    Lanjutannya jangan lama- lama

  15. soshiyulk berkata:

    Go yuriiii… Go yoochun…. GO YULCHUN!! /?
    Eon coba kasih kesan romantisnya, mereka berdua jangan dibikin kepo sama perasaan masingmasing ‘-‘ kkkk semangat

  16. Cho Yuri berkata:

    Keknya yoochun stress y telpny gk diangkat yuri,klo yoo chun pingsan gmn cara yuri bwk plngny -_- .
    Keren eon yul mulai suka tuh ama yoochun
    Yoochunny udh dri kmren😄.
    Jaejong oppa salah sendiri bru skrng ngebet wks

  17. chohyury berkata:

    wah micky knpa tuh tba” pingsan … cuit cuit tinggal nunggu mreka akui perasaan masing” nih..:D next.a selalu ditunggu

  18. kwon h-ani berkata:

    waaah mulai jatuh cinta nih cerita nya kkkkk
    ini mw end ya? huffff

    unnie pw ny vibrance 16-17 dongs
    penasaran bgt nih
    kirim aja di inbox tweet aku @BL_anny
    thank before
    fighting !!

  19. janemaris berkata:

    Hahahaha unyu banget sih pasangan ini ^^
    Itu si jidat kok bloon banget sih, ketemu aja di roma gimana ceritanya lidah yulnie bisa kagak cocok sama makanannya?? Alesan aja :))
    Hadohhh dari awal aku uda yakin pasti si jaejung ngundang si eunjung -_____-
    Itu si eunjung kok minta di bejek bejek ya??? Ngeselin banget -_______-
    Loh lohhhh itu jidat baru dari mana sampe sesak napas??? Ampun sweet bangetttt :$
    Lanjut nyunnie ^^

  20. Linda Aslyah berkata:

    couple ini kocak bgt lah hahahha… tapi mereak udah mulai pada suka yaa?? huaaa asik dehh😀
    jadi berasa nonton drama korea deh hehehe.. mangat Unn!

  21. yunique eka cahya berkata:

    Knpa jdi gereget bgt ya ma in couple. Udh kerasa sinyal ny klo mereka udh mlai ska. Tpi mrka kya mau tapi malu gtu -_- Tpi tpi tpi mlah seru😀 Mian eon coment ny telat🙂 Fighting dan Gomawo eonni-ya🙂

  22. Spakling Pearls berkata:

    Penasaran bngt ma next partnya itu yoochun sakit ya klu menurut ku mngkn nnti dia di rawat yuri mngkn nnti giliran yuri yg menatap yoochun mirip pas kejadian di mobil tempo hari trus
    sampe pedulinya dia cari yuri sampe lupa pake sepatu kekuatan cinta uda menyerang yoochun ya ku rasa yuri juga uda mulai terkena virus itu aku jd agak kasian juga liat jaejoong karena mngkn suatu hari dia akan patah hati

  23. tyas arin berkata:

    keren , greget ni bcany . maaf bru komen ksluruhan .
    saat mrka brntem geli ndri bcany . romantisny asikk ni . hahah
    yoochun prhtian bgt si .. mau jg dkhawatirin .. ckck

  24. Yue berkata:

    OMG, meleleh sama sikapnya yoo chun. Sampe pingsan nyariin yuri..
    Tapi kadang greget deh sama tingkahnya yuri sama yoo chun.

    Gak sabar nunggu kelanjutanya..
    Di tunggu ya unni..
    Gomawo.

  25. Pangeran sarda berkata:

    apa,ambruk,berarti yoochun pingsan donx,di dalam pelukan yuri,aduh kalo itu bener so sweet donx,next next

  26. liliknisa berkata:

    Kalimat terakhir yoochun buat yuri ampun deh so sweet banget. Dia mulai suka kayanya asik ^^

  27. Anonym berkata:

    Wahahaha ngga nyangka yoochun bakal ngomong gt ke si nona ham xD yoochun nyariin yuri ternyata kkk seru😀

  28. Ersih marlina berkata:

    Kalian berdua udah saling suka tauu, ciee witwiw kapan mulai cintanya ? Kkk

    itu yc lari dari apartmen atau dari rsetoran tadi ? Tapi pkonya kren deh
    dia bela2in ga pke sendal
    gmna dia ga pingsan coba. Untung pingsannya di depan yuri kkk
    lnjt bca, udah mau mnju end inih. Ga sbar
    smngt ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s