KLISE : Unstoppable [Part 3]

untitlaaaed-1-copy

Part Tiga. Maaf atas delaynya

***

Wow. Oke, tidak kusangka Tokyo akan sepanas ini di pertengahan Juni. Aku hanya mengenakan celana pendek sebatas paha dengan paduan tanktop putih yang tidak terlalu tebal. Masa bodoh kalau-kalau balutan braku terlihat atau apalah. Karena aku sedang berada di dalam cottage milikku, sendirian.

Tidak masalah kan?

Jemariku kini hampir keriting karena terus memencet berbagai tombol di remote televisi. Aku hanya mengganti-ganti channel dari satu ke yang lain tanpa ada hasrat menonton acaranya sama sekali. Pikiranku benar-benar tidak ada di Tokyo saat ini.

Aku menggigit bibirku. Mengingat bagaimana aku mengabaikan sekitar sepuluh pesan singkat dari Myungsoo hari ini. Aku berani bertaruh, jika dia tidak memiliki jadwal dengan Klise, dia akan terbang ke Tokyo dan memasang rantai di kaki dan tanganku saat ini.

Seram juga.

“Oh?” Air liurku hampir  melorot ke atas lantai karena kaget oleh suara yang muncul tiba-tiba. Ada dering ponsel dan aku hampir lupa kalau dering itu berasal dari ponsel milikku. Aku ragu sesaat. Bagaimana jika dering tadi berasal dari panggilan Myungsoo? Bagaimana aku menghadapi pria itu karena aku mengabaikan pesannya seharian?

Oh, aku bisa gila.

Daripada aku berspekulasi, aku memilih meraih ponsel di atas kasurku dan mulai melihat siapa yang membuat suara gaduh di sana. Nama Jung Yonghwa Oppa muncul dan berkedip-kedip di layar. Entah setan atau malaikat yang membisikkanku, aku dengan santainya menggeser tombol hijau ke kanan di permukaan layarnya.

Aku menerima teleponnya.

“Apa kau memiliki acara malam ini?” Suara berat di ujung sana kini bicara. Tanpa basa-basi, tanpa sekadar ucapan Hi atau Hello singkat. Biar kutebak, pemuda ini pasti ingin mengajakku makan malam atau sejenisnya. Entah mengapa hatiku berdesir.

Em, harusnya sih tidak.” Kataku. Aku mencoba sebisa mungkin tidak menunjukkan ketertarikanku pada penawarannya. Wanita kan harus menjaga harga dirinya, ya kan? Walaupun aku sangat terkesan sih atas ajakannya.

“Ada festival musim panas di Kota malam ini. Kau mau ke sana?”

Mataku hampir copot. Jadi bukan makan malam?

“Oh? Festival?”

“Ya. Seperti karnaval. Aku sudah membeli Yukata untuk kau dan aku karena festival tersebut adalah festival tradisional Jepang, aku membeli pakaian khas Jepang.”

Aku ragu sesaat. Pertama, karena tebakanku meleset, aku merasa sedikit aneh dengan perasaanku. Kedua, masalahnya ada pada Yukata. Aku tahu bagaimana rasanya memakai baju itu. Aku tidak bisa berjalan lebih dari satu meter tiap langkah. Tentu ini menyulitkan.

“Bagaimana? Kau bisa?”

Aku semakin ragu. Inginnya aku katakan, bisakah kita pergi makan malam biasa saja? Namun kalimat itu tidak pernah keluar dari ujung lidahku. Pada akhirnya aku menyetujuinya.

“Oke. Aku menitipkan Yukatamu pada manajermu. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam nanti. Sampai jumpa.” Katanya.

Wah, aku bodoh.

Sebenarnya untuk apa aku menyetujui ajakan Yonghwa? Aku merasa bahwa diriku mengkhianati Myungsoo. Oke, walaupun ini hanya hubungan pertemanan biasa, tapi seharusnya hatiku tidak begitu berdesir kan ketika pemuda itu bicara. Lagipula, dia masa laluku.

Ingat Yuri, kau memiliki seseorang yang sangat mencintaimu.

Aku menepuk-nepuk pipiku beberapa kali. Berusaha kembali pada kenyataan itu adalah hal yang paling sulit. Tapi aku percaya bahwa desiran aneh tadi, bukan karena aku menyukai Yonghwa atau semacamnya. Mungkin, lebih seperti, detakan aneh karena pangeran dari negeri dongeng mengajakmu keluar pada malam hari.

Anggaplah seperti itu, Yuri.

“Aku hanya mencintai, Myungsoo. Aku hanya mencintai Kim Myungsoo.” Dan pada akhirnya, aku berdoa semoga self-hypnosis itu bekerja padaku. Bahwa aku, memang hanya mencintai pria arogan yang selalu memarahiku itu.

Kim Myungsoo.

-ccc-

“Kim Myungsoo! Kim Myungsoo! Kim Myungsoo!”

Sorak sorai memenuhi seluruh ruangan besar yang diameternya menyerupai stadion sepakbola. Hari ini adalah tur terakhir dari Klise di Korea. Selanjutnya, mereka akan berhenti. Kontrak mereka akan berakhir di penghujung tahun ini.

Luhan, sudah memutuskan bahwa ia ingin lepas dari Klise dan kembali ke negerinya, China. Pemuda itu mengatakan bahwa ia berniat menuntaskan satu tahun lagi kuliahnya dan menggapai gelar master ekonomi tahun depan.

Sedangkan Myungsoo, sudah lama dipersiapkan untuk menjadi penerus dari Kim Grup. Sebuah perusahaan yang dimiliki dan dioperasikan turun-temurun dalam keluarganya. Seperti kisah klasik pangeran kaya yang sering terjadi, Kim Myungsoo sudah ditakdirkan untuk mewarisi semua harta dan assets berharga milik keluarganya. Tahun ini, ayahnya resmi mengundurkan diri karena kesehatannya yang semakin memburuk. Ia masih memiliki perusahaan namun dalam posisi sebagai pemegang saham pasif. Segenap pekerjaan dan proses krusial penting perusahaan, diserahkan sepenuhnya pada ibunya, Jung Kahi.

Dan, masalahnya dimulai dari sini.

Jung Kahi, sebagai wanita, dengan posisi tidak aman—bagaimanapun, dirinya merupakan bagian terluar dari keluarga Kim. Hanya seorang menantu, tidak lebih—yang sewaktu-waktu dapat digulingkan atas dasar marga dan silsilah keluarga. Perlu diketahui, perusahaan Kim Grup adalah perusahaan yang sangat kotor. Di dalamnya, intrik bisnis dan koalisi terselubung sudah menjadi permainan sehari-hari. Meskipun hampir semua pebisnis mengetahuinya, sedikit yang mau keluar dari cengkraman tangan besar Kim Grup. Iming-iming laba yang menjanjikan dan kesejahteraan mumpuni, mereka bertahan dalam rimbanya perusahaan ini.

Hal itu yang menyebabkan Kim Myungsoo, memilih jalannya sendiri sebagai penyanyi. Ia tidak pernah sekalipun berniat menginjakkan kakinya dalam perusahaan tersebut. Meskipun semua orang dalam keluarganya berusaha mati-matian membuatnya berada dalam posisi tinggi di perusahaan, Myungsoo tidak tertarik.

Ia tidak menyukai harta sebagaimana orangtuanya menyukai dunia.

Jung Kahi, tidak bisa selamanya berada di dalam perusahaan. Sebagian pihak merasa perlu untuk meluruskan silsilah keluarga Kim dalam perusahaan. Sebagai gantinya, mereka meminta Kim Myungsoo untuk duduk di bangku teratas dalam perusahaan menggantikan ibunya, Jung Kahi.

Alasannya bervariasi. Tapi yang paling kuat, adalah marga.

Kim Myungsoo terus berkilah. Ia cukup keras kepala untuk menuruti kemauan keluarganya. Keluarganya berhenti membujuk Kim Myungsoo setelah ia sukses dengan Klise dan terlanjur menandatangani perjanjian kerjasama jangka panjang dengan perusahaan rekaman terbesar di Korea.

Mereka lantas tidak bisa melakukan apapun.

Namun setelah tur Korea dan kontrak berakhir. Kim Grup di bawah tangan Jung Kahi, tidak akan pernah membiarkan Kim Myungsoo bertindak sesuai keinginannya lagi. Cepat atau lambat, Kim Myungsoo akan masuk ke dalam perusahaan.

“Kau sepertinya sangat kelelahan.” Suara Luhan di belakang telinga Myungsoo kini didengarnya. Mereka masih berada di atas panggung, dengan sorak sorai sempurna. Namun pikiran Myungsoo sekejap tadi melayang dengan ringannya ke antah-berantah.

“Aku kurang tidur.” Kilah Myungsoo. Luhan hanya mengangguk kemudian pergi dari atas panggung meninggalkan Myungsoo untuk penampilan solonya. Spotlight kebiruan terang menyinari Kim Myungsoo yang tengah duduk di atas sebuah kursi kayu. Di atas pahanya ada sebuah gitar akustik. Telinganya di pasangi earphone kecil. Lantas lantunan melodi piano muncul, menambah sorak-sorai penonton. Kim Myungsoo memejamkan mata, ia mulai melantunkan bait pertama dari lagunya.

Luhan menoleh singkat dari belakang panggung. Bibirnya tersenyum hambar.

Aku tahu kau mencemaskan keluargamu, Myungsoo.

-ccc-

“Aku rasa baju ini agak aneh denganku. Ya kan, Oppa?” Aku berjalan pelan. Sepatu kayu yang aku pakai sedikit mengganguku. Baju ini seperti hanbok namun dengan bagian rok yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk bergerak.

“Kau cantik kok.”

“Kalimatmu seperti terlalu dipaksakan. Aku pasti aneh kan?”

Yonghwa menatapku. Aku tahu. Kemudian ia menggenggam tanganku erat. “Kau cantik.” Katanya padaku.

Halo Yonghwa, aku sudah memiliki Myungsoo lho. Kau harus melepaskan tanganmu dariku. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan itu pada pemuda di sampingku. Namun aku tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Tapi aku tahu ini salah.

Aku sudah berjanji bahwa aku hanya mencintai Myungsoo. Namun kenyataannya, hatiku berdesir hebat ketika gengaman pemuda di sampingku kini mengerat. Ada festival kembang api di atas langit yang mengagetkanku. Refleks, aku terlonjak hingga aku terpeleset dari sandal kayu yang menyiksaku ini.

Tangan Yonghwa rupanya lebih sigap. Ia menarik tubuhku ke dalam dekapannya tepat saat kembang api berbentuk seperti roket meluncur ke udara.

Wah, ini sih seperti drama. Tapi ini benar-benar terjadi.

“Maaf.” Katanya sambil melepaskanku. Wajah Yonghwa memerah.

Eh? Tunggu. Apa tadi wajahnya memerah?

“I—iya—“ Kataku super gugup. Kulihat kembali wajah Yonghwa baik-baik untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan wajahnya. Tapi aku tidak pernah salah, pipi dari Jung Yonghwa memerah.

Deg.

Perasaan apa ini?

Tidak. Tidak. Tidak. Kau hanya mencintai Kim Myungsoo, Yuri. Ingat itu!

Aku mengatur napasku. Kemudian menggenggam tangannya seolah aku tidak pernah merasakan apapun. Ketika Yonghwa memancarkan ekspresi kaget saat aku menggenggam tangannya, dengan tersenyum, aku berkata. “Bukankah teman saling menjaga satu sama lain?” Kataku.

Itu hanya alibi. Tapi sepertinya Yonghwa percaya. Kami berjalan lagi, lebih jauh, mengitari setiap tenda-tenda dengan pernak-pernik dan makanan khas Jepang di kanan dan kiri kami. Aku melihat sebuah tenda yang menjual gurita panggang. Salah satu kesukaanku!

Yonghwa membelikannya untukku. Aku membeli dua tusuk saja, sedangkan Yonghwa, melihatku dengan aneh. Saat akhirnya kami mendapatkan sebuah tempat duduk  kayu di salah satu sudut jalanan, aku menanyakannya.

“Kau tidak suka gurita?” Kataku.

“Itu menjijikan.” Katanya. Ekspresinya benar-benar tidak dibuat-buat. Ia melihatku mengunyah gurita dengan jijik. Seolah ia melihat aku menyantap kaleng rebus. Aku sontak tertawa.

“Kenapa?” Katanya.

“Kau mirip sekali dengan Myungsoo.” Kataku. Yonghwa melemparkan wajah bodoh dengan sebuah tanda tanya besar dalam ekspresi yang ia tunjukkan. Aku memilih mengunyah guritaku sampai habis tertelan, kemudian aku bicara.

“Ia tidak menyukai gurita, cumi-cumi dan binatang laut sejenisnya. Oh iya, dia bahkan tidak menyukai kerang. Aku pernah sekali mengajaknya ke sebuah rumah makan seafood dan dia tidak memesan apapun selain sup ikan. Lucu sekali!” Aku tertawa. Mungkin bagi Jung Yonghwa tidak lucu sama sekali jadi aku tidak heran ia tidak tertawa. Tapi bagiku, benar-benar sangat lucu.

Bagaimana tidak?

Kau harus membayangkan bagaimana pangeran yang dipuja-puja oleh seluruh wanita di Korea Selatan ternyata sangat takut pada gurita mati. Ekspresi bodoh yang ia tunjukkan itu tidak pernah gagal membuatku tertawa. Kim Myungsoo bahkan loncat dari tempat duduknya ketika aku memesan gurita hidup yang dimasak oleh chef rumah makan tersebut di atas meja kami.

Mereka bilang itu hidangan terbaik mereka.

Tapi Kim Myungsoo bilang, itu adalah rumah makan paling buruk.

Itu sangat lucu!

“Sepertinya kau sangat mencintai pria itu.” Aku pikir tadi suara yang berdengung hanya di dalam kepalaku. Tapi ketika aku melihat wajah Jung Yonghwa, aku tahu bahwa baru saja ia berbicara.

Aku menghentikkan gela tawaku seketika. Aku berdeham. “Ya, aku sangat mencintainya.” Manikku memandang langit dengan kembang api. Ketika aku mengatakan itu, entah kenapa kerinduan yang berderu-deru menggerayangi tubuhku. Lantas terselip beribu penyesalan karena mengabaikan setiap pesan Myungsoo seharian ini.

“Tapi,” Jung Yonghwa mengikuti manikku. Ia memandang kembang api yang sama seperti yang sedang kupandangi. “Sepertinya kalian sedang berada dalam hubungan yang tidak baik.” Katanya.

Mungkin sudah rahasia umum bahwa aku dan Myungsoo belakangan ini sedang dilanda oleh kejenuhan super serius. Oke, bukan Myungsoo, tapi aku. Masalah ada padaku. Waktu bertemu kami yang sangat minim adalah penyebab utama. Bukan Myungso yang berubah. Tapi aku.

“Pasangan akan mengalami masa-masa seperti ini.” Aku berkilah. “Kau pasti akan tahu kalau kau memiliki seorang kekasih.”

“Kau jenuh?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Wajahmu memberitahukannya. Kau memiliki wajah yang mudah ditebak.”

Aku tertawa. “Kau pembual ulung.” Kataku. Yonghwa ikut tertawa bersamaku. Aku berhenti memandang langit. Kini kepalaku tertunduk lesu ke jalanan dengan pasir tebal.

“Pada awalnya kami tidak seperti ini.” Kataku lagi. Aku tersenyum hambar pada Yonghwa. “Ia benar-benar pria yang sangat perhatian. Kami pergi bersama setiap ia memiliki waktu luang. Lantas, tanpa sepengetahuanku, ia mendaftarkanku pada sebuah agensi model. Ia bilang bahwa dengan seperti ini, aku bisa dikenal orang. Aku tidak setuju pada awalnya, tapi Myungsoo memaksaku. Aku tahu ada yang ia sembunyikan, tapi aku tidak begitu paham hingga hari ini. Kupikir Myungsoo tidak pernah salah, namun saat ini aku sadar bahwa saat itu, Myungsoo benar-benar salah.”

“Kau tidak pernah menanyakan alasannya?”

“Sudah. Sering. Tapi dia tidak pernah menjawab. Akhir-akhir ini kakakku juga bertingkah aneh. Ia lebih sering terlihat bersama Myungsoo dibandingkan aku. Mereka menyembunyikan sesuatu dariku dan aku tidak tahu apa itu. Sejak saat itu, aku tidak bisa percaya pada Myungsoo. Maksudku, bagaimana aku bisa percaya pada pemuda yang tidak berniat menceritakan rahasianya padaku?”

Yonghwa mengangguk. Aku melihatnya. Tapi ia tidak terlihat paham dengan ceritaku. Aku maklum.

“Pertanyaannya,” kata Yonghwa. Ia menatapku. “Sampai kapan kau akan hidup seperti ini?”

Ditanya seperti itu. Aku bingung juga. Sejujurnya, aku juga tidak pernah menemukan jawabannya dalam diriku sendiri. Serius! Aku mencintai Myungsoo, tapi aku tidak bisa bertahan dengan keinginannya setiap hari. Yang ia lakukan belakangan ini hanya khawatir berlebihan padaku untuk alasan yang tidak kuketahui. Aku terganggu.

“Tidak tahu.” Kataku pada akhirnya. “Mungkin aku akan terus hidup seperti ini selamanya.” Aku tertawa hambar. Yonghwa tahu, sepertinya. Terlihat dari ia yang kemudian mendesis dan mengelus kepalaku lembut. Aku tidak memintanya sungguh! Tapi aku berterima kasih ia peka.

“Aku punya solusi untuk masalahmu. Tapi aku tidak yakin kau akan melakukannya.” Kata Yonghwa. Aku mengunci maniknya di mataku.

“Apa?”

“Aku tidak yakin bahkan kau akan mendengarkanku.” Katanya lagi.

“Aku tidak begitu suka dibuat penasaran.”

Yonghwa memalingkan kepalanya ke kanan dan kiri. Kemudian kembali menatapku. “Berhenti mencintainya.”

Aku yakin tadi aku menelan semua cumi di tenggorokanku sejak lama. Namun tiba-tiba saja aku tersedak sesuatu. Mungkin hanya saliva. Tapi saliva tidak pernah membuatku tersedak sesakit ini. Yonghwa tidak berusaha menepuk pundakku atau apalah. Ia masih memandangku dan menungguku ke ambang normal.

Setelah aku menguasai diriku sendiri. Dengan nada hampir berteriak aku berkata, “Apa?”

“Berhenti mencintainya. Aku bilang.”

“Kau tidak waras, Oppa?”

“Kau yang lebih tidak waras.” Katanya. Ia meningginkan nadanya satu oktaf sehingga beberapa pasangan yang duduk di dekat kami menyingkir dengan tatapan takut. Mungkin mereka mengira kami pasangan yang sedang bertengkar atau semacamnya. “Kau wanita yang tidak waras, bertahan pada seorang pria yang bahkan tidak pernah kaukenali kemauannya.”

Aku memicing tajam pada Yonghwa, untuk pertama kalinya dalam hidupku. “Kau tidak tahu apa-apa tentang Kim Myungsoo, atau aku, atau hubungan kami, Oppa.”

“Memang!” Katanya. Hampir marah. Aku tidak tahu apa yang membuatnya semarah ini. Tapi aku merasa sedikit takut. “Memang aku tidak pernah tahu seperti apa kau, Kim Myungsoo atau hubungan kalian. Tapi ada satu yang kutahu. Perasaan kesepian milikmu. Aku tahu, Kwon Yuri.”

Mungkin kalimat-kalimat kami tidak pernah bisa diartikan oleh para penduduk lokal yang kini memandangi kami dengan aneh. Tapi setidaknya mereka tahu, bahwa kami sedang bertengkar. Aku tidak peduli pada mata-mata awas dari penduduk lokal. Aku masih memiliki hal yang belum kuselesaikan dengan pemuda satu ini.

Dia marah. Tapi aku lebih marah lagi. Jung Yonghwa berbicara seolah ia telah mengenal aku dan Kim Myungsoo sejak lahir. Seolah ia adalah Dewi Cinta yang menentukan hubungan kami. Tidak! Dia bukan apa-apa!

“Aku tidak kesepian.” Kataku. Bibirku bergetar. Sebuah suara dari dalam lubuk hatiku mengatakan agar aku tidak boleh menangis. Otakku merespon sebaliknya. Mataku rupanya berkaca-kaca.

“Kau kesepian.” Ulang Yonghwa. Ia memegangi kedua bahuku dan berusaha menenangkan aku. Tapi sentuhan yang seharusnya hangat itu, terasa begitu menusuk pori-poriku. Aku menghempaskannya sambil berteriak sekali lagi. “Aku tidak kesepian!”

Aku mundur dari tubuh Jung Yonghwa. Bibirku masih bergetar, aku tidak peduli. Meskipun kini beberapa penduduk lokal mengitari kami, aku tidak peduli. Lagipula, mereka tidak termasuk dalam daftar kisah cintaku. Tidak peduli!

Dengan mata belum sembuh benar dari air-air yang menggenang, aku memunggungi Yonghwa. Aku tidak ingin ia melihatku begitu lemah dengan air mata. Aku tidak ingin menarik kembali kata-kataku bahwa aku tidak kesepian, meskipun aku memang merasakannya.

Yonghwa menggali apa yang seharusnya tidak pernah ia sentuh.

Dia hanya outsider, dia tidak berhak menentukan apa yang sedang kurasakan. Bahkan dia tidak berhak memberiku solusi tidak masuk akal.

Berhenti mencintai Myungsoo, katanya? Bagaimana aku bisa. Myungsoo mencintaiku dan aku mencintainya. Seharusnya kami baik-baik saja

“Kau harus meninggalkan Kim Myungsoo.” Kata Yonghwa, sebelum aku menjauh.

“Aku tidak bisa. Aku mencintainya dan Kim Myungsoo mencintaiku.”

“Takdir Myungsoo bukan untuk selamanya mencintaimu, Kwon Yuri. Pada akhirnya kau akan terluka.” Kata Yonghwa. Aku tidak tahu dari mana ia mendapatkan kalimat-kalimat menyedihkan seperti itu.

“Myungsoo mencintaiku. Semua orang tahu.”

“Kau gadis yang keras kepala.”

“Ya.” Aku semakin menjauh setelah melepas sandal kayuku. “Itu aku.”

-ccc-

Myungsoo baru saja membuka pintu utama rumahnya ketika seorang wanita paruh baya menghadangnya di ruang tamu. Dengan kaki kanan yang ia tumpangkan di atas kaki kirinya; gelas wine yang ada di tangan kanannya serta rambut keriting sebahu yang dihias begitu apik di kepalanya, wanita itu kini menyapa Kim Myungsoo dengan suara serak.

“Apa kau sudah memutuskan?” Katanya. Jung Kahi, wanita dengan bibir merah yang pucat serta perhiasan yang mahal di tubuhnya kini berdiri. Ia meletakkan gelas winenya di atas meja kecil. Mantel bulunya yang kecokelatan bergoyang pelan ketika ia bersidekap sambil berjalan pada Myungsoo yang berdiri mematung.

Mata Myungsoo memancarkan amarah.

“Sudah kukatakan. Aku tidak ingin masuk dalam perusahaan.” Kata Myungsoo. Wanita di depannya terbahak. Bukan tertawa jahat, hanya tertawa menghina.

“Aku menawarkanmu masuk perusahaan begitu besar dengan cara yang begitu mudah sementara pemuda seusiamu di luar sana berebutan untuk mendapatkan posisi paling rendah dalam perusahaan ini. Such a waste, Kim Myungsoo-ah.”

Myungsoo berkata dengan percaya diri. “Kurasa para pemuda itu juga akan segera keluar dari perusahaan ketika tahu betapa bobrok manusia di dalamnya.” Ucapnya sarkastik.

Jung Kahi bertepuk tangan. Tidak menyangka perlawanan anaknya semakin hari semakin kencang saja.

“Permisi.” Kata Myungsoo akhirnya. Ia berjalan penuh percaya diri melewati ibu kandungnya sendiri yang menatapnya tak percaya. Gigi dari Jung Kahi bergemeretak. Saat Kim Myungsoo menapaki anak tangga kelima, wanita angkuh tersebut mulai berbicara kembali. “Klise sudah berakhir, Myungsoo. Permainan anak-anak itu sudah berakhir.”

“Sepertinya kau salah perhitungan. Kontrak kami akan berakhir akhir tahun ini.”

“Oh iya?” Jung Kahi berjalan pelan. Setiap langkahnya adalah horor. Suasana mencekam yang begitu kentara kini dirasa Myungsoo bahkan dalam manik mata yang tidak pernah bertemu. Sebuah kertas disodorkan seorang pelayan utama pada Jung Kahi. Kemudian Kahi menyerahkan kertas tersebut pada Kim Myungsoo.

Dengan malas, Myungsoo melirik pada kertas tersebut. Sebuah cap perusahaan rekamannya ada di bait paling bawah beserta tanda tangan yang sangat jelas. Di sebelah tanda tangan itu ada tanda tangan yang sangat ia kenal. Myungsoo melirik nama yang tertera di sana.

Luhan.

Manik Myungsoo menatap bagian teratas dari kertas tersebut.

PENGAKHIRAN KONTRAK KERJASAMA.

Myungsoo merobek kertas tersebut dan membuangnya tepat di depan wajah ibunya. Namun Jung Kahi, tidak menganggap itu sebagai pelecehan. Ia hanya berakting seolah kertas tadi hanya sebuah confetti.

“Kau merencanakan hal-hal busuk.”

“Ya. Tapi jika tidak begini, kau tidak akan pernah masuk ke dalam perusahaan.”

Myungsoo menoleh, tidak sampai menunjukkan maniknya, tapi cukup untuk membuat perhatian Jung Kahi berada pada pemuda itu. “Meskipun kau menghancurkan aku, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke dalam perusahaan.”

“Aku tahu kau akan mengatakannya. Aku tidak cukup pintar untuk menghancurkan hidupmu,” di tengah-tengah kalimatnya sesosok wanita molek dengan busana serba hitam muncul di undakan tangga paling atas. Perlahan wanita itu turun dengan beberapa kembar kertas di tangannya. Ketika ia akhirnya berhadapan dengan Kim Myungsoo, wanita itu tersenyum, lebih seperti menyeringai penuh kemenangan. Hyuna baru saja menyerahkan beberapa lembar surat yang ditulis dengan darah dan lengkap dengan berlembar-lembar foto wanita di atasnya.

Myungsoo memutar tubuhnya untuk kembali melihat Hyuna yang berjalan dan diam di balik punggung Jung Kahi. Keduanya tersenyum licik pada Myungsoo.

“Tapi aku tidak pernah bilang, bahwa aku tidak bisa menghancurkan hidup gadis itu, Kim Myungsoo. Pikirkan baik-baik. Aku menunggu jawabanmu besok, Sayang.”

Suara derap empat derap langkah menjauh dari Kim Myungsoo. Jung Kahi adalah yang pertama memutar tubuhnya untuk pergi dari hadapan Myungsoo. Sementara Hyuna adalah yang terakhir. Sekilas, ia memberian kecupan jarak jauh pada Kim Myungsoo. Matanya mengerling, kemudian bibirnya membentuk seulas senyum.

Myungsoo memerhatikan keduanya berjalan diikuti beberapa pria yang mengawal. Ketika pintu utama rumah itu benar-benar tertutup dan ia hanya sendiri. Kaki Myungsoo benar-benar lemas. Dilihatnya foto-foto Yuri dengan berbagai pose di sana. Seperti yang ia tebak, Hyuna memang dalangnya.

Namun ia lebih kaget lagi ketika mengetahui siapa dinamo utamanya. Jung Kahi. Myungsoo tidak menyangka bahkan ibunya sendiri tega melakukan apapun demi keinginan pribadinya.

Dari awal, Myungsoo tahu wanita itu bukan sosok ibu yang baik. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa kadar kebusukannya bisa semakin tercium amis seperti ini.

Sekarang dirinya dihadapkan pada satu dilema. Haruskah Myungsoo mengabaikan keinginan ibunya walaupun hidup Yuri dipertaruhkan ataukah ia memenuhi keinginan ibunya, tanpa tahu apa yang wanita itu rencanakan pada hidupnya selanjutnya?

-ccc-

Aku bertemu dengan Jung Yonghwa di bandara. Dia melihatku ketika mataku hendak beralih dari punggungnya. Kami tidak berbicara sepatah kata apapun sejak malam itu. Aku masih marah padanya, tapi dia tidak terlihat ingin minta maaf padaku.

Terserahlah.

Saat ini aku ada di pesawat, kabin kelas VIP dengan tak ada seorangpun yang duduk di sebelahku. Aku mengirimi Kim Myungsoo pesan beberapa kali pagi tadi. Namun tidak seperti biasanya, ia sama sekali tidak membalas pesanku. Aku curiga mungkin ia balas dendam atas perlakuanku padanya pada malam-malam sebelum hari ini. Jadi aku memutuskan untuk tidak terlalu curiga.

Pesawat akan take-off dan seorang pemuda duduk di sampingku. Oh Sehun. Pemuda kikuk itu lagi.

“Halo, Noona.” Katanya. Aku membalas dengan senyuman ringan. Kataku, “ada masalah apa lagi kali ini?”

“Tidak, tidak. Tidak ada apa-apa.” Katanya begitu cepat. Pesawat mengalami turbulansi dan kami diminta memakai seat-belt. Sehun menghentikkan percakapan kami sementara. Aku duduk dengan pandangan kosong pada suasana di luar jendela pesawat. Begitu terik.

Ketika pesawat terbang dengan aman. Barulah si pecinta kebisingan itu berbicara kembali padaku.

“Kau terlihat kusut sejak terakhir kali shooting. Sesuatu terjadi, Noona?” Kata Sehun. Aku tidak begitu tertarik dengan pemuda ini. Tapi gelagatnya yang sedikit aneh, membuatku semakin aneh kalau aku tidak meresponnya.

“Aku sedang tidak sehat.” Kataku, singkat. Dalam kalimatku ada jadi karena aku tidak sehat, bisakah kau meninggalkanku untuk beristirahat sebentar yang tidak bisa kukatakan. Kuharap Sehun peka sehingga ia mengerti apa keinginanku.

“Aku punya beberapa obat.”

Atau mungkin dia tidak punya rasa peka.

“Terima kasih.” Kataku, berpura-pura sangat bersyukur padanya.

Setelah aku menerima beberapa obat dan menaruhnya di saku bajuku, ia diam. Aku juga tidak berniat untuk mengajaknya bicara. Sehun memandangi ponselnya dengan ragu kemudian melirik padaku. Ketika aku menangkap maniknya dengan tatapanku, dia akan mengalihkannya ke tempat lain, memandang sesuatu yang lain.

Kejadian itu terus terjadi hingga aku tidak bisa lagi menahan rasa penasaranku.

“Apa yang kaulakukan?”

“Eh?” Katanya. Ia buru-buru menutup ponselnya dan membawanya ke belakang tubuhnya. Aku semakin curiga.

“Kau mencuri ponsel itu?”

“Tidak!”

“Kenapa kau menyembunyikannya?”

“Eh?”

Bibir pemuda itu bergerak patah-patah. Dari apa yang kutahu, Myungsoo biasanya juga melakukan hal seperti ini jika ada sesuatu yang ia sembunyikan. Kurasa adegan seperti ini adalah perilaku pria-pria jika mereka sedang ingin mempertimbangkan sesuatu untuk diberitahu atau tidak pada orang lain.

“Apa ada sesuatu yang secara kebetulan kautemukan dan ingin kauberitahukan padaku, Sehun-ssi?” Kataku pada akhirnya. Sehun tidak bergerak. Katanya, “ti—tidak.”

“Kenapa kau gugup.” Kataku. Sehun dengan ragu menoleh ke belakang. Ia menatap manajerku yang sudah terlelap dengan sumpalan earphone di kedua telinganya. Di sebelah manajerku duduk seorang Jung Yonghwa yang sesekali menatapku.

“Apa secara kebetulan Jung Yonghwa menyuruhmu melakukan sesuatu padaku?” Kataku. Sehun tidak menjawab tapi kurasa ia mencoba berkata ya. Sehun mencoba diam, namun dengan gerakan yang sama sekali tidak normal. Maksudku, ia mencoba tidak menjawab setiap pertanyaanku. Tapi kemudian ia sendiri yang kemudian mencoba membuka suara.

Tidak berlangsung lama, Jung Yonghwa datang dan menggantikan Sehun duduk di sampingku. Sehun menyerahkan ponsel itu pada Jung Yonghwa dan seketika aku menjadi penasaran apa yang mereka berdua sembunyikan dariku.

“Aku membaca berita online di situs media Korea tadi pagi. Aku menyimpannya sebagai gambar.” Kata Jung Yonghwa setelah Sehun pergi. “Aku menggunakan Sehun karena kupikir kau masih marah padaku. Tapi Sehun adalah lubang besar, dia sepertinya tidak enak hati mengatakannya padamu soal berita yang kubaca.”

Tangan Yonghwa menyentuh layar I-Pad milik Sehun. Kemudian jemarinya berhenti bergerak ketika sebuah gambar dari cuplikan salah satu berita di media Korea muncul di layar. Ia menyerahkan I-Padnya padaku. “Lihatlah.”

Aku menerimanya dengan perasaan bercampur-aduk.

Kubaca judulnya.

KLISE bubar. Kim Myungsoo bergabung dengan Kim Grup.

“Ap—apa?” Aku melirik pada Yonghwa. Ia tahu apa yang kurasakan. Tapi ia lebih memilih tidak berusaha melapangkan perasaanku. “Baca berita lainnya, geser ke kanan.” Aku tahu bahwa berita tadi mampu membuatku begitu kaget, tapi sepertinya, Yonghwa masih menyimpan berita yang lebih mengagetkan lagi sebagai kejutan. Aku menelan ludah. Kugeser telunjukku di atas layar tablet tersebut ke arah kanan.

Kubaca judul beritanya baik-baik.

Kim Myungsoo akan melangsungkan pertunangan minggu depan.

Bruk.

Kau pasti bercanda kan Myungsoo?

Baru saja Ipad mahal itu kujatuhkan begitu saja. Tidak terlalu kencang lagipula aku hanya menjatuhkannya ke atas karpet tebal pesawat. Sehun datang tergopoh-gopoh dari belakang. Ia mengambil benda yang kujatuhkan dengan perasaan was-was.

Aku merasa halilintar kini baru saja menyambar otak kanan dan kiriku.

Kulihat Yonghwa. Oke, aku menyerah untuk terlihat baik-baik saja.

“Tadi itu—rumor kan?” kataku. Berharap Jung Yonghwa mengatakan bahwa April Mop! Selamat Yuri, kau adalah korban pertama. Tapi kuingat lagi bahwa awan yang bergumpal terik di sebelah jendelaku adalah awan-awan Juni. Sama sekali bukan April.

“Berita ini sudah tersebar di berbagai surat kabar. Kalau kau membacanya, di sana ada gambar kontrak Klise berakhir dengan tanda tangan Luhan dan Myungsoo di atasnya. Soal pertunangan, kurasa itu juga benar. Aku menyimpan foto-foto konferensi persnya tadi pagi. Jung Kahi, Ibu kandung Myungsoo yang mengatakannya ke media.”

Myungsoo tidak membalas semua pesanku sejak pagi tadi. Semuanya menjadi masuk akal. Kwon Yuri, jangan menangis!

Meskipun aku memiliki beribu kata-kata penyemangat di dalam otakku, tapi air mata itu rupanya tidak pernah sejalan dengan keinginanku. Bulir-bulir bening itu menetes begitu saja. Begitu bodohnya!

Aku menangis.

Lagi.

Kali ini karena Kim Myungsoo.

Pria arogan yang mencintaiku setengah mati, kini membuatku menangis kesekian kalinya. Tapi kali ini rasanya begitu sakit, hingga aku tidak sanggup menarik napas dan tersedu. Jung Yonghwa masih di sampingku dan aku tidak berkata apapun padanya. Dia berusaha memelukku namun aku menepisnya.

Jaket denim yang kupakai kini menjadi sapu tangan untung air mata yang masih meleleh karena rasa sakit luar biasa. Katanya tadi, bertunangan.

Kalimat tadi seharusnya menjadi kalimatku dengan Myungsoo tahun depan. Tapi hari ini, kata singkat itu berasa seperti sayatan melintang pada nadiku yang begitu lemah.

Kenapa kau begitu naif, Yuri?

Aku memegangi ponselku. Tidak ada pesan karena aku mematikannya sesaat sebelum pesawat lepas landas. Aku berharap sekali bahwa aku tiba lebih cepat di Korea. Entah itu bahwa aku harus terjun dan berenang di lautan luas, aku tidak peduli. Aku harus tiba di Korea lebih cepat.

Aku harus menyalakan ponselku dan memeriksa.

Apakah Myungsoo pernah meneleponku. Apakah Myungsoo membalas pesan-pesanku. Apakah Myungsoo mencoba menjelaskan semuanya padaku.

Aku harus tahu.

Aku harus tahu alasan Myungsoo melakukan ini padaku. Karena,

Myungsoo tidak pernah mencintaiku dengan cara seperti ini.

-ccc-

“KAU KETERLALUAN!”

Prang!

Myungsoo baru saja menjatuhkan sebuah vas bunga termahal di ruang kerja Jung Kahi. Pria itu kini ditahan oleh empat tangan besar pria yang berdandan ala bodyguard.

“Bawa ia keluar.” Perintah Kahi.

“Tunggu! TUNGGU!” Kaki Myungsoo menendang kedua bodyguard ibunya. Pria itu kini lepas dari cengkraman pria-pria bertubuh besar tersebut. Myungsoo menatap dengan amarah yang meluap-luap pada kedua bola matanya yang kecil.

“Aku sudah setuju untuk keluar dari Klise dan masuk dalam perusahaan busuk ini,” Ia berbicara dengan terengah-engah. Ibunya duduk di balik meja, di atas sebuah kursi kerja besar nan mewah. Wanita itu memainkan kuku-kukunya tanpa sekalipun melihat pada Kim Myungso. “Tapi pertunangan itu, kau tidak pernah membicarakannya padaku!”

“Kau akan menolak jika aku memberitahumu lebih dulu.” Kata Kahi.

“Meskipun kau memberitahuku atau tidak, Aku pasti akan menolak. Batalkan pertunangan itu! Aku memiliki seseorang yang sangat kucintai!”

Kahi mengetuk-ketukkan jari-jemarinya di atas meja kayu super mahal miliknya. Ia memandangi foto keluarga Kim yang terpampang jelas di mejanya.

“Aku memiliki keluarga sebelum aku menikah dengan ayahmu.”

“Itu tidak ada hubungannya denganku!”

Kahi menyeringai. “Tidak ada hubungannya katamu?” Wanita itu lantas menyandarkan punggungnya di kursi. Ia memutar-mutar kursinya kemudian tangannya mengambil sebuah figura foto dari balik lacinya. Foto yang sudah sangat usang.

“Aku meninggalkan mereka demi perusahaan dan menikah dengan Ayahmu. Aku berjuang keras agar diriku diterima di perusahaan. Namun keluarga Kim ini, tidak pernah sekalipun menghargai usahaku. Mereka bahkan tidak memperbolehkanku bertemu dengan keluarga yang sudah kuabaikan bertahun-tahun. Mereka tidak peduli pada cinta. Yang mereka inginkan hanya harta. Jika kau berkata perusahaan ini busuk, memang. Keluargamu dari awal memang sudah benar-benar busuk.”

Kahi tertawa. Ia berdiri dan berjalan membawa dua figura foto di tangan kanan dan kirinya. Satu adalah figura keluarganya yang ia abaikan. Satu lagi adalah keluarga kecilnya yang baru, dengan Kim Myungsoo sebagai anak tunggal.

“Dua foto ini begitu kontras. Dua-duanya memiliki aku sebagai ibu. Yang satu aku tersenyum bahagia sambil menimang seorang bayi laki-laki kecil. Satu lagi, aku hanya tersenyum demi mendapatkan gambar yang bagus untuk pajangan di ruang tamu. Kau tahu betapa menyakitkannya itu, Nak?”

Myungsoo mendengarkan ketukan sepatu yang melangkah pelan. Ibunya masih berbicara.

“Aku menikahi orang yang tidak kucintai demi perusahaan. Hal yang sama akan terjadi padamu. Aku melahirkanmu tanpa cinta, dan sudah seharusnya rumah ini tidak diisi oleh hal bodoh seperti itu. Kau harus meninggalkan wanita itu demi sesuatu yang lebih besar. Sama seperti yang kulakukan bertahun-tahun lalu.”

Jung Kahi tiba di depan Kim Myungsoo. Ia menyerahkan dua figura di dalam tangannya. Kemudian ia berbisik. “Kau lahir tanpa cinta, Nak. Kau dibesarkan tanpa cinta. Permainanmu sudah kuakhiri sampai di sini. Tinggalkan wanita itu.”

Kahi berbalik. Ia memakai mantel beludrunya dan memerintahkan dua orang bodyguardnya meninggalkan Kim Myungsoo.

Myungsoo ambruk. Tungkai dan persendian kakinya begitu lemah. Ia menatap dua figura foto yang diberikan Kahi. Salah satu di tangan kanannya adalah foto keluarganya dimana dirinya masih begitu lugu.

Mata Myungsoo melirik pada figura yang lain. Dalam figura itu ada dua buah foto.

Foto pertama, foto sebuah keluarga dengan Jung Kahi muda yang tersenyum lepas sambil menggendong bayi. Di sampingnya ada seorang pria yang tersenyum bak malaikat dan merangkul wanita itu.

Foto kedua, berisi sebuah foto dua orang pria. Salah satunya adalah pria bak malaikat dengan kerutan-kerutan di wajahnya. Ia memakai syal dan jaket rajut yang begitu lusuh. Sepertinya foto itu diambil pada masa-masa sulit pria tersebut. Di sebelahnya ada seorang lebih muda dengan senyuman hangat yang memberikan pelukannya pada sang pria tua. Myungsoo membuka matanya lebar, khawatir ia keliru mengenali seseorang.

Keduakalinya ia melihat, Myungsoo begitu yakin.

Sosok pemuda yang tersenyum adalah bayi yang sudah tumbuh besar dalam foto sebelumnya. Masalahnya, bukan itu yang membuat Myungsoo kaget.

Wajah sang pria yang mengingatkannya pada seseorang, itu yang lebih membuatnya begitu kaget.

Myungsoo meletakkan figura foto tersebut di atas lantai begitu saja, ia bangkit dan berjalan dengan pertanyaan-pertanyaan diluar kemampuannya dalam menjawab. Walaupun begitu, kini napasnya bergerak lebih normal daripada sebelumnya. Setelah ini, ia tahu siapa yang akan ia temui.

“Jung Yonghwa.”

-ccc-

AUTHOR’S LOUNGE

Halo.

Sudah lama gak menyapa kalian lewat Klise : Unstoppable. Hoho. Part Tiga ini sudah mulai kerasa ya konfliknya. Myungsoo-Yuri belum banyak adegan fluffy mengingat aku membuat kisah mereka begitu tragis ala drama korea di part ini. Mungkin ke depannya akan banyak kesalah-pahaman, kecurangan, pertunangan paksa, orang ketiga, konflik keluarga dan bumbu-bumbu lain ala drama korea. Stay Tuned! Tetap bersama Yuri dan Klise sampai akhir🙂

107 thoughts on “KLISE : Unstoppable [Part 3]

  1. nana berkata:

    Sedih bnget nerima kenyataan kayak gtu eon,
    semua kebhagian myungyul lenyap gtu aja.
    Cepet bnget ganti dngan mslah yang cukup pelik.
    Yak gag tega.
    Aku juga penasran jung yongwa baik apa gag sih ??
    Oke hwaiting eon

  2. sabrinageani berkata:

    aku bingung mau comment apa lagi nih, udah bagus banget ffnya. posternya bagus banget, aku gk peah bisa gedit sebagus itu soalnya /jadi curcol kan/ hahahaha. pokoknya tetap semangat author bikin ffnya ‘-‘)9

  3. sherlie wijaya berkata:

    Annyeong eonni ceritanya daebak banget eonni tpi bikin sedih kasian sama myungso oppa dan yuri eonni nya
    keep writing eonni
    gomawo

  4. minyul generation berkata:

    I know that,,
    Pasti yonghwa nnti yg nyelamatin yuri,,
    Jadi mama a myungsoo pernah berkeluarga sebelum a, terus punya anak yonghwa,, iya gag sih?? |̶|̶a=D|̶|̶a=))|̶|̶a=D|̶|̶a=)) sok tw,,
    Kejam amat mama a,, harus a kalo dy tw dy tersiksa jaman dlu,, jngan siksa anak a harus sampek punya nasib kyak dy jugag,,
    Sabar ya myungsoo,, buat yuri, jangan salah paham yaa,, minta kejelasan aj dlu sma myungsoo,,
    Hehe eonnie next chapter yaaa

  5. Bintang Virgo berkata:

    yah..
    yuleon jangan menangis lah.,,….
    tenang saja pasti myungsoo akan memperjuangkan cinta kalian…
    dan buat jung yong hwa…
    jangan menyentuh dan masuk ke dalam hubungan percintaan yuleon dan myungsoo..
    arraso?

    ceritanya penuh dengan konflik kak…
    tapi tetap keren dan menegangkan membacanya….

  6. haeri berkata:

    Yah eonni, ceritanya kok jdi gini?? Sediih, mulai berat, konfliknya bnran ala drama korea dah.. tp pastinya ttp seru.. tp kasian myungyul😦 trs masa luhan mau balik ke china T.T andwe

  7. Lulu Kwon Eun G berkata:

    kya kenyataan memang menyakitkan,, tp woles, ini yg bkin skenarionya kan kak Nyun..😀
    hum dsini kebongkar smua ya kak, lengkap konfliknya.. lbih tepat.a penderitan MyungYul dimulai… hiks hiks

  8. kimchikai berkata:

    Kahi jahattt!! myungsu ternyata gk seperti yg terlihat, dia punya hati yg baik*elahh terbukti dia gk mau terlibat sama perusahaan yg dianggap kotor itu… Yonghwa suka yuri, Dia mau rebut yuri dari myungsu kayaknya,. Panas nih konfliknya

  9. Ersih marlina berkata:

    Yuri kayanya mulai suka yonghwaa. Jangan dong yul, myungsoo udah cinta kamu pake banget ituh aheheu
    jung kahi. Kamu jahat yahh
    anak endiri di paksa gitu, keterlaluan
    ah jadi yonghwa anak jung kahi yg pertama. Euhh makin rupeuk ini masalahnya
    pkonya myungyul ampe end.
    Nah lnjut bca ya ka nyuun, fighting

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s