GHOST SLAYER – Step #5

Poster #5 Ghost Slayer

I brought Step 5 into Ghost Slayer World!

***

Krik Krik Krik

Barusan itu suara jangkrik. Karena sudah terlalu malam, Zico menawarkan tempat tinggal semalam untuk Yuri dan Jiyong. Bukan sebuah rumah besar layaknya pensiunan ghost slayer umumnya. Malah cenderung menyerupai sebuah kandang babi yang sudah bertahun-tahun tidak dijamah. Yuri diam saja, baunya lebih sadis daripada hantu toilet yang tempo hari ia pandu ke Kingdom, katanya.

Dinding-dinding gubuk dan pilar-pilar yang hilang sebagian karena rayap menjadi pemandangan yang cukup lazim malam itu. Yuri tidak sedikitpun ingin bersandar pada dinding-dinding tersebut. Sebagai gantinya, ia meminjam punggung Jiyong dan mencoba meluruskan kakinya di atas tatami yang begitu lembab.

“Sampai kapan kau mau menggunakan punggungku?” Jiyong bertanya. Tulang belakangnya sudah seperti retak saja menahan berat badan Yuri. Oke, itu hiperbolis sekali. Di depan Jiyong, ada Zico yang baru saja membasuh wajahnya dengan air. Ia berdeham dan itu membuat Yuri segera melepaskan tubuhnya dari punggung Jiyong.

Yuri memutar tubuhnya dan memandang Zico dengan lebih baik kali ini.

“Zico!” Katanya. Pertama-tama ia hanya berteriak. Kemudian selanjutnya, ia berjalan dan memeluk pria yang lebih muda setahun darinya itu.

“Hei, hei, bukankah kalian sudah melakukan adegan seperti ini tadi?” Jiyong memrotes. Keningnya berkerut dan maniknya entah mengapa berusaha memisahkan Yuri dan Zico dari pelukan ataupun skinship yang lebih parah lagi.

Zico melepaskan Yuri dan menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal sedangkan Yuri—tanpa wajah berdosa sedikitpun—memukul kepala Zico. Sebagai catatan, ia sama sekali tidak mengindahkan mata awas dari Jiyong. Seperti Jiyong tidak ada saja.

“Kau ini kemana saja selama ini?” Kata Yuri. Zico hanya menorehkan senyum simpul yang penuh arti. Ia enggan menjawab, namun cukup menghormati pertanyaan tersebut.

Mansion mencarimu tahu.” Lanjut gadis itu. Yuri membelai beberapa helai rambut yang tergerai di depan telinganya, kemudian buru-buru menyelipkannya di belakang telinga. Kemudian ia kembali duduk di tatami setelah tangan-tangan Jiyong menarik rambutnya ke belakang.

Yuri menatap sebal pada Jiyong yang kini sudah duduk di sebelahnya sedangkan Jiyong tidak peduli sama sekali. Maniknya ia pasang kembali ke Zico.

“Aku tahu mereka mencariku.” Kata Zico. Yuri menunggu beberapa detik sambil berekspektasi bahwa Zico memenggal kalimatnya menjadi dua bagian, dan ia menunggu bagian keduanya. Namun faktanya, Zico benar-benar menggunakan tanda titik di akhir kalimatnya, yang mana ia tidak mungkin melanjutkan kalimatnya menjadi sebuah kalimat putus yang panjang.

“Kenapa kau bersembunyi selama ini?” Ucap Jiyong pada akhirnya. Yuri mengangguk-angguk sambil menggoyang-goyangkan telunjuk tangan kanannya ke kanan dan ke kiri. Ia memajukan bibirnya sedikit kemudian bersidekap. Posisi duduknya yang sembarangan kemudian ia betulkan, kini gadis itu duduk bersila. Seolah ia sudah siap menerima penjelasan panjang dari Zico.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah dagu Yuri yang seolah melorot.

“Aku tersesat, bukan bersembunyi.” Kalimat dari Zico barusan adalah satu-satunya alibi yang paling tidak masuk akal dari seluruh alibi palsu yang pernah ada. Bagaimana bisa seseorang yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jepang menggunakan alasan semacam itu atas pertanyaan yang sebenarnya bisa sangat mudah jawabannya.

“Kau masih belum pandai dalam berbohong ya.” Kata Yuri, ia menggeleng.  Zico memasang wajah tak berdosa level sekiannya. Namun tetap saja, belum cukup untuk mengelabui mata milik Kwon Jiyong dan Kwon Yuri.

Mansion memintamu untuk kembali. Kami diutus untuk mencarimu,” kalimat Jiyong disusul sikutan kencang dari lengan Yuri. Yuri tersenyum pada Zico namun ia menggunakan bahasa bla-bla-bla nya pada Jiyong. Jiyong mengerti dengan apa yang Yuri katakan—meskipun Yuri berbicara seperti orang gagu—namun ia tidak bisa menarik kembali kata-kata yang sudah ia ucapkan kan?

To the point. Gaya bicaramu dan bahasa yang kau gunakan, benar-benar mirip Kwon Shi Woon.”  Bagaikan ditusuk seribu panah, kalimat tadi bisa menghentikan Yuri yang sibuk dengan bahasa gagunya. Ia diam kemudian menatap Jiyong ragu.

Di sisi Jiyong, kini pemuda tersebut tidak menunjukkan perubahan air wajah yang berarti. Hanya diam kemudian tersenyum dirasa cukup elegan untuk menguasai suasana yang taboo malam itu.

Menyebut nama Kwon Shiwoon, berarti menggali masa lalu. Dan menggali masa lalu berarti menggali keterlibatan Zico.

Lagi-lagi, perlu diingatkan kembali bahwa hanya Zicolah yang berada bersama Kwon Shiwoon di detik-detik kematiannya di Jepang.

“Maaf.” Kata Zico pada akhirnya. “Aku tidak seharusnya menyebut namanya.”

“Tidak apa-apa.” Jiyong menjawab. Yuri menggigiti bibirnya, merasa sedikit aneh dengan atmosfer yang ditebarkan kedua pria di sekelilingnya. Saat Yuri memutuskan untuk mencoba menggeser posisinya lebih jauh dari Jiyong, pria itu menarik rambutnya—tidak memperbolehkan Yuri pergi barang satu sentipun.

“Aku tidak bisa pergi ke Mansion. Aku sudah melupakan semuanya, termasuk Ghost Slayer. Jadi lupakanlah rencana itu. Dan katakan pada mereka kau tidak pernah bertemu denganku.”

“Mereka sudah tahu kau ada di suatu tempat di Jepang. Kami diberi misi ini dengan satu pilihan. Berhasil.”

Zico tertawa tipis. Menimbulkan tanda tanya yang tidak cukup tipis untuk berada di kepala Yuri dan berputar-putar. “Logan yang menawarkan misi ini padamu, Jiyong-ssi?”

Whoa! Kau tahu dia?” Yuri berbicara setengah berteriak.

“Pria botak, pendek dan berkumis. Apa jabatannya sekarang?”

“Tidak pernah berubah.” Jawab Yuri.

“Pantas saja kalau dia menginginkanku. Masih legal advisor.”

Jiyong berdeham. Ia meraih lengan Yuri dan menariknya ke sisinya. Sebagai informasi, percakapan Zico dan Yuri barusan berhasil menarik perhatian Yuri hingga tubuhnya bergeser beberapa senti dari sisi Jiyong. Pemuda itu tidak menyukainya dan kini mengembalikan posisi Yuri ke sisinya untuk alasan yang tidak begitu jelas.

“Kenapa Logan menginginkanmu?” Kata Jiyong mengalihkan pembicaraan setelah merasa Zico memperhatikan gerakannya.

“Menurutmu?” Zico cenderung skeptis. Ia tidak menunjukkan wajah bersahaja ketika keduanya terlibat dalam satu pembicaraan.

“Tentang ayahku?”

“Sepertinya begitu.”

“Apa yang kaulakukan sebenarnya?”

“Tidak ada.”

Jiyong mengerutkan kening kemudian tertawa melecehkan setelah membuang wajahnya ke arah lain. “Mansion tidak akan repot-repot mengutus kami untuk membawa pria yang bahkan tidak melakukan apa-apa.”

Zico menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya pada dinding gubuk di belakangnya. Ia terkekeh saat memandang kolong atap gubuk kemudian memejamkan mata.

“Sadarlah, kalian dimanfaatkan oleh mereka.”

“Kami tidak dimanfaatkan siapapun.”

Zico menorehkan—lagi-lagi—senyum tipisnya. Masih dalam keadaan mata yang terpejam, Ia berkata, “Biasanya objek yang dimanfaatkan selalu berkilah sampai saat eksekusi.” Di akhir kaliamt Zico yang tenang, Jiyong kini berdiri begitu saja, meninggalkan angin cukup besar untuk mengibaskan Yuri dengan gerakan cepatnya. Pemuda itu kini berjalan tanpa ba-bi-bu, ia mengambil posisi di seberang Zico, bersandar pada dinding gubuk kemudian menghela napas panjang.

“Wow, wow, wow!” Kata Yuri. “Kenapa jadi begini?” Protesnya. Saat Yuri belum menyelesaikan kalimatnya, lolongan anjing muncul di kejauhan. Ada total dua suara, jantan dan betina dengan lolongan menyedihkan dan bersahut-sahutan satu sama lain. Yuri melirik arlojinya dan jarum pendek sudah berhenti di angka dua belas.

Zico sudah memejamkan mata. Oke, walaupun tidak ada satupun yang mengatakan pemuda itu telah tertidur, tapi suasananya cukup jelas untuk menentukan apa yang akan Yuri lakukan selanjutnya.

Dengan hati-hati, gadis itu berjalan dengan dengkulnya ke sisi Jiyong. Ia tahu bahwa kakaknya itu membutuhkan teman untuk diajak bicara—walaupun tidak saat ini. Yuri duduk di sisi kanan dari Jiyong, tepat di dekat sebuah pintu yang menuju entah kemana.

“Kau baik-baik saja?” Katanya. Jiyong menggeleng. Yuri ikut-ikutan menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Jiyong dan memegangi lengan pemuda itu. Yuri menepuk-nepuk punggung tangan Jiyong di lengannya, seperti yang biasa Kwon Hani lakukan sejak ia kecil.

“Begini lebih baik.” Kata Jiyong. Ia mengusap kepala Yuri lembut dan memberinya kecupan selamat malam yang hangat dari seorang kakak. Yuri memejamkan mata. Berharap ada hari esok yang mampu mencairkan suasana malam ini.

Doaku malam ini padamu, Ayah, biarkan kedua orang ini berteman. Itu sudah cukup baik.

-ccc-

Prang!

Jiyong tersentak. Matanya sontak membelalak dari tidur malam yang cukup tidak menyenangkannya. Jiyong segera berdiri ketika melihat sosok Zico yang telah membawa dua buah Gun-Kit di tangannya.

Tanpa aba-aba, Zico melemparkan Gun-Kit tersebut pada Jiyong.

“ADUH!”

Yuri memekik. Barusan kepalanya mendarat dengan sukses di atas tatami hingga bunyi duk keras terdengar. Beberapa helai dari rambut kehitamannya kini menutupi separuh dari wajahnya. Dengan mata memicing sebal ia memandangi Jiyong. Rupanya pemuda itu lupa bahwa sesaat sebelum ia beranjak, Yuri masih tertidur di bahunya. Sehingga ketika ia berdiri, dengan otomatis Yuri yang masih berkelanan dalam mimpi harus rela terjaga dengan kepala terantuk permukaan kayu dari tatami.

“Maaf. Tadi itu aku lupa.” Jiyong mencoba memberi ekspresi hangat dan maaf yang tulus, namun ia tidak punya cukup waktu untuk itu. Sebuah batu besar terlontar di udara dari arah lain. Sialnya, jika saja Jiyong tidak bergerak cepat dan menggulingkan tubuh Yuri ke samping kanan, kepala gadis itu sudah bocor dengan serangan sebongkah batu.

“Itu permintaan maafku.” Kata Jiyong sesaat setelah Yuri bisa menguasai apa yang terjadi padanya. Dengan terengah karena kekagetan luar biasanya, kini ia mulai berdiri. Zico melemparkan sebuah busur panah yang ujung tombaknya sudah dilapisi perak.

Mansion tidak pernah mempunyai benda seperti ini.” Kata Yuri. Maniknya berbinar, terkagum-kagum dengan benda langka di tangannya. Walaupun ia tidak terhitung baru sekali memegang busur panah, tapi tetap saja sensasi menggenggam benda tersebut dengan menggenggam senjata api tentu sangat berbeda.

“Kau bisa atau tidak bisa?” Aneh dengan ekspresi berbinar Yuri, akhirnya Zico bertanya. Yuri buru-buru kembali ke alam sadarnya. Ia mengangguk dengan cepat seolah kesempatan itu tak pernah ada lagi dalam hidupnya.

Yuri memposisikan tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia dapat mem-backup­ sisi kanan dari Jiyong yang sudah mulai memimpin gerakan. Zico ada di sisi kiri dengan dua buah Gun-Kit di kedua tangannya. Ia siap menembak apa saja, dan kapan saja.

“Apa yang kita hadapi?” Kata Yuri. Merasa aneh dengan sebuah pintu keluar yang membuka lebar dengan pemandangan beberapa pemukiman terabaikan di depannya, ia akhirnya melangkah sedikit ke kanan. Yuri tidak ingin terlalu jauh dari Jiyong.

Nukekubi.” Kata Zico. “Roh yang katanya begitu meresahkan akhir-akhir ini. Ia bermukim di sekitar sini. Biasanya tidak pernah mengganggu, namun hari ini sepertinya tingkahnya sedikit berbeda.”

Yuri membuka mulutnya lebar ketika Zico menjelaskan. Masih berjalan keluar dengan Jiyong sebagai pemimpin, kini Yuri menelan ludah. Ia berada di baris kedua saat mereka melewati ambang pintu yang hanya bisa dilewati satu orang.

Ketika mereka akhirnya melihat hamparan rumah-rumah terbengkalai yang merupakan tetangga Zico, ketiganya bergidik. Ada aura aneh yang kemudian melahap keberanian mereka satu per satu.

“Sebenarnya,” Yuri menggeleng cepat, menampar-nampar wajahnya kemudian kembali siaga dengan busurnya. “Nukekubi ini roh seperti apa sampai-sampai ada tiga Gun-Kit teracung di sini?”

Dor.

Barusan Jiyong menembak sebuah dahan pohon yang sebenarnya baik-baik saja. Maksudnya, Yuri yakin betul bahwa tidak ada apa-apa di sana, namun Jiyong seperti enggan mengalihkan moncong senjata apinya dari dahan besar tersebut.

Ketika Jiyong akhirnya menurunkan senjata apinya, manik pemuda itu bertemu-tatap dengan Yuri. Mata Yuri menginginkan penjelasan dari bibirnya namun Jiyong enggan mengatakan apapun. Ia hanya berlalu sambil bergerak maju dengan Zico.

Dengan ekspresi begitu serius dan kekhawatiran berlebih milik Jiyong saja, Yuri sudah tahu bahwa roh yang mereka hadapi pastilah tidak satu level dengan hantu toilet. Mungkin seperti kejadian poltergeist bahkan bisa lebih berbahaya lagi.

Nukekubi adalah roh setengah manusia. Pada siang hari ia menjadi manusia biasa dan malam hari kepalanya akan terlepas dari badannya kemudian mencari darah untuk melanjutkan hidup. Biasanya manusia yang membuat perjanjian dengan setan biasanya menjadi roh berwujud seperti ini. Mereka abadi dengan cara itu.” Zico menjelaskan. Ketiganya kini berhenti di sebuah area jembatan lapuk dengan lentera remang di kedua sisinya yang berseberangan.

“Dan ia menyukai pria-pria kesepian.” Tambah Zico ketika Jiyong menghunuskan moncong pistolnya pada sisi seberang jembatan dimana mereka berdiri. Yuri memicingkan mata dan melihat sebuah benda dengan bulu-bulu hitam nan panjang kini melayang-layang di udara.

Yuri pikir itu bagian dari lampion yang terlepas atau apalah. Namun saat ia melihat dengan lebih jelas kedua kalinya, Yuri tercengang bukan main.

Di hadapannya, ada seorang wanita. Oh! Bukan seorang wanita, tapi sebuah kepala wanita!

Benar! Hanya kepalanya saja, melayang di udara. Rambutnya panjang hingga menjuntai ke atas tanah, namun badannya, entah dimana. Kengerianna tidak hanya sampai di situ, organ-organ dalam dari sang wanita kini menempel dan menggantung di bawah kepala tersebut. Ada jantung yang masih berdenyut, hati yang kemerahan dan usus yang tidak bekerja dengan warna pucat.

Yuri mundur dua langkah. Ia mungkin akan terjengkang ke belakang jika Zico tidak menahan tubuhnya.

“Jangan pernah mundur dari medan perang.” Kata Zico. “Bertahanlah. Walaupun kau takut hingga celanamu basah. Jangan pernah mundur.”

Yuri butuh waktu untuk mengembalikan kinerja tubuhnya seperti semula. Kakinya gemetaran. Selama ia bekerja sebagai Ghost Slayer, hantu-hantu di Jepang adalah titik lemahnya. Kejadian Poltergeist hingga Doppelgangger dimana ia tidak bisa melakukan apapun, sudah cukup jelas untuk menjelaskan betapa lemahnya Kwon Yuri.

Dor.

Suara tembakan lagi. Jiyong kini mengejar sang hantu yang pergi entah kemana. Zico mendongak dan mengumpat di depan wajah Yuri. “Sial!”

“Kau tunggu di sini, Yuri.” Kata Zico. Ia berlari.

“Kenapa kau meninggalkanku!” Yuri berteriak ketika Zico sudah beberapa meter di depannya.

“Kakakmu dalam bahaya. Ini jebakan Nukekubi.”

Kemudian suara Zico mengecil saat tubuhnya menghilang di balik pepohonan. Angin berhembus di tengkuk Yuri saat ia sendiri di atas sebuah rumput dengan dedaunan kering sebagai aksesori.

“Berhenti bernyanyi atau aku akan mengirimmu ke Kingdom, roh pohon!” Yuri berteriak pada sebuah pohon yang dahannya bergoyang tertiup angin. Sesaat tadi ia bisa mendengar pohon itu menggumamkan nada-nada fals yang tidak mengenakkan. Tapi kini pohon tersebut mematung, sebagaimana seharusnya.

“Bagus.” Kata Yuri lagi.

“Apakah ada hantu di sini yang bisa menceritakan Nukekubi padaku?”

Hening. Yuri bicara pada angin. Jika ada satu saja manusia yang berdiri di sana, mungkin ia sudah mencap Yuri sebagai orang gila.

“Adakah yang ingin membantuku?

Hening.

Bahkan anginpun tidak berputar di sekitar ubun-ubunnya. Yuri berdiri dan berjalan kesal pada sebuah pohon yang baru saja dibentaknya beberapa saat yang lalu. Ia bersidekap dengan angkuh kemudian memajukan bibirnya. “Pilih, kau mau keluar dari pohon ini dan beritahu aku tentang Nukekubi atau kau lebih memilih aku mengaktifkan gate-kit ku dan mengirimmu ke Kingdom?”

Hening.

“Baiklah. Kau lebih menyukai Kingdom sepertinya.” Yuri menekan sebuah tombol di arlojinya. Setelah bunyi bip kecil terdengar, pohon di depannya tiba-tiba bergoyang kencang. Tidak perlu mencari tahu apa tadi, karena kini seorang wanita tanpa bola mata keluar dari sana sambil bernyanyi.

Ia berdiri di depan Yuri dalam bentuk yang menakutkan. Selain bola mata yang tidak ada, ternyata bibirnya telah dijahit dengan benang-benang sol. Ada darah segar menetes-netes dari sana.

Dibanding dengan Nukekubi tadi, hantu wanita dari pohon ini terhitung lebih seram. Tapi Yuri tidak mundur barang satu langkahpun.

Apa efek kalimat Zico bekerja?

“Ayolah. Jangan menakutiku, aku tahu seperti apa rupa asli dari roh pohon. Trikmu itu basi.”

Tidak juga.

Kini Yuri bersidekap sambil menunggu sang roh pohon mengubah wujudnya. Seorang pria bermantel tebal dengan janggut putih panjang kini muncul menggantikan wanita seram tadi. Ia memandang Yuri melalui celah sempit di matanya.

Bagi yang tidak mengetahui apapun, gerak-gerik keduanya mungkin terlihat seperti adegan saling pandang biasa. Namun yang sebenarnya terjadi adalah, Yuri mencoba berinteraksi dengan pria tua tadi. Hantu tidak dapat berbicara dengan mulutnya. Kadang ada yang menggunakan telepati seperti Pak Tua ini, kadang ada juga yang senang menulis. Sebagai timbal-balik, para Ghost Slayerlah yang harus mengerti cara mengajak mereka mengobrol.

Yuri mengerti hal dasar ini dan kemudian menjadi modal baginya untuk berbincang dengan Pak Tua satu ini.

Yuri mengangguk sesekali kemudian menggeleng. Saat ia menemukan percakapan yang cukup sulit ia cerna, keningnya berkerut.

“Jadi Nukekubi akan hilang setelah matahari terbit?”

Pak Tua memandang Yuri baik-baik selama beberapa detik. Kemudian Yuri mengeluarkan kata O yang begitu panjang. Ia mengangguk saat kemudian Pak Tua memandangnya kembali.

Selang beberapa menit kemudian, Pak Tua tersebut menghilang dari hadapan Yuri. Meninggalkan gadis itu dengan beberapa informasi dan rencana yang tersusun di otaknya.

“Sebentar, mari perjelas ini,” Yuri mengerutkan keningnya. “Jadi Nukekubi adalah roh setengah manusia yang meninggalkan tubuhnya di suatu tempat. Dia akan menghilang dan kembali ke tubuhnya sebelum matahari terbit. Jika dia tidak kembali, maka hantu ini akan musnah.”

Yuri memiringkan kepalanya beberapa derajat saat ia dengar beberapa tembakan di kejauhan. Kepala melayang-layang di atas pucuk pepohonan, Yuri melihatnya dengan sangat jelas. Ia juga merasakan bahwa Jiyong dan Zico mungkin ada dalam kesulitan mengingat Nukekubi mengincar darah keduanya sebagai asupan makanan.

Yuri memukul-mukul kepalanya beberapa kali berharap roda gigi di dalam otaknya berputar lebih cepat. Ia melihat daun-daun yang berguguran dari atas pohon. Daun hijau tersebut berjatuhan di antara daun-daun kering yang sudah terlebih dahulu terjatuh sejak lama.

Daun yang sudah jatuh dari induknya akan mengering kemudian mati, sebab mereka tidak bisa kembali walaupun induknya ada di sekitar mereka.

Bingo!”

Yuri menepuk-nepuk pipinya kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri. Otaknya sudah bekerja di atas apa yang ia harapkan. Yuri telah selesai menyusun rencana!

-ccc-

“Kenapa kau kesini, otak kubis!” Jiyong meneriaki Yuri ketika tembakannya hampir mengenai bahu Yuri. Salahkan saja gadis itu yang tiba-tiba muncul dari balik pepohonan seperti hantu. Ditambah, rambutnya yang semrawut, juga napasnya yang terengah-engah kepayahan.

“Dengar Jiyong, dengar,” Yuri mengatur napasnya. Namun Nukekubi kini terbang melewati ubun-ubunnya. Yuri merunduk kemudian berguling. Saat tubuhnya tertelentang, ia menarik sebuah anak panah dan melepaskannya di udara.

Meleset.

Tapi untuk pelesatan pertama, sudah cukup baik.

Nukekubi terbang menjauh. Gelagatnya, kali ini makhluk itu mungkin akan melakukan serangan tiba-tiba dan bergerilya dalam sekali gerakan. Ketiganya harus waspada.

Tapi tidak dengan Yuri. Kini ia mulai bangkit setelah ia memungut panahnya. Ia menatap Jiyong sebal karena pemuda itu menyebutnya otak kubis, demi profesionalitas dalam pekerjaan—dan keselamatan hidup Jiyong dan Zico tentunya—Yuri mengesampingkan hal tersebut.

“Aku memiliki rencana hebat.” Kata Yuri dengan bangga. Ia melihat, dari kejauhan bahwa si kepala-terbang sudah mulai mendekati ketiganya. “Tapi, pertama-tama, mari kita pergi dari sini.”

“Pergi? Maksudmu lari dari makhluk itu? Kata Zico, dengan nada keengganan yang kental. Yuri mengangguk dan telah memasang kuda-kuda untuk lari kapan saja. “Tidak mau. Seorang Ghost Slayer tidak boleh lari dari masalah.” Kata Zico tegas.

Yuri hampir saja menjatuhkan isi kepalanya. Mendadak, pori-porinya merasa seperti teriritasi dengan kalimat Zico tadi. “Kalau kau tidak lari, kau bisa mati tahu!” Kata Yuri.

“Meskipun mati, aku tidak bisa lari.”

Yuri memutar bola matanya dengan ekspresi terserahlah miliknya. Ia meraih tangan Jiyong dan mulai mengajaknya menjauh. Namun lengan itu membatu, Yuri melirik pada Jiyong dan menggerakkan kepalanya sebagai gesture pengganti kata Ayo.

“Pria sejati adalah pria yang menghadapi masalah sampai akhir. Bukan pria yang lari.”

Jiyong melepaskan tangan Yuri.

“Astaga, kalian ini kenapa sih!” Yuri benar-benar marah. Wajahnya sudah tidak bisa menunjukkan ekspresi terbaik dari visualisasi rencana yang ia miliki. Melihat ekspresi bertolak-belakang yang Zico dan Jiyong tunjukkan, Yuri mengangkat tangannya. Jika ada bendera putih di sana, maka ia sudah mengibarkannya. “Oke, terserahlah. Jangan salahkan aku kalau kalian terluka.”

Yuri berlari menjauh.

“Kau pergi kemana?” Kata Jiyong.

“Mencari tubuh Nukekubi, roh pohon mengatakan Nukekubi akan musnah kalau dia tidak menemukan tubuhnya sebelum fajar tiba.”

Jiyong mengerutkan dahi. “Dan?”

“Dan aku akan mencari tubuh itu kemudian menyembunyikannya di suatu tempat hingga pagi menjelang. Daritadi aku ingin mengajakmu melakukan ini bersamaku ketimbang kau menghabiskan pelurumu di sini.”

Jiyong terlihat ragu, ia menatap Zico kemudian menelan ludah.

“Tidak, aku tetap di sini. Yuri, kau pasti bisa melakukannya sendirian. Kami bergantung padamu.” Kata Jiyong. Tubuhnya kini sudah berbalik menatap makhluk kepala-tak-bertuan yang terbang menukik tajam pada mereka. Taring makhluk itu siap merobek leher mereka kapanpun.

Zico berguling dan menembakkan sebuah peluru perak tepat di jantungnya yang masih berdenyut. Namun efeknya tidak ada sama sekali, malah makhluk tersebut semakin ganas.

Yuri melirik arlojinya. Jam tiga pagi. Hanya beberapa jam lagi untuk menemukan tubuh dan menyembunyikannya di suatu tempat yang tidak diketahui sang roh.

Yuri melihat tubuh Jiyong baik-baik. Kakaknya itu memang terlihat keren, tapi tidak untuk saat ini. Yuri masih sebal dan ia tidak henti-hentinya menggerutu ketika ia mulai berlari menjauh, mulai melakukan pencarian pada tubuh sang Nukekubi

Yuri kau pasti bisa melakukannya sendirian apanya! HUH! Apa si hidung kerbau itu tidak tahu betapa menjijikannya mencari tubuh tanpa kepala? Apa dia pikir misi tiga jam ini begitu mudah? Bodoh! Jiyong otak kerbau!”

-ccc-

“LEPASKAN AKU!”

Teriakan serak dari seorang wanita paruh baya kini mengisi setiap pantulan dari ruangan mewah dengan karpet merah yang licin. Wanita paruh baya tersebut terduduk dengan mata yang ditutup kain hitam serta tangan dan kaki yang terikat di sebuah kursi kayu. Di atas kepalanya, ada lampu kuning yang tergantung dan bergoyang-goyang setiap kepalanya menyundul tidak sengaja saat ia meronta minta dilepaskan.

Seperti barusan.

Lampu tergantung tersebut bergoyang-goyang.

Seorang pemuda tinggi kini terduduk di depan sang wanita dalam jarak aman. Ditengahi oleh sebuah jeruji besi, pemuda tersebut menyeruput teh panasnya dengan gaya elegan.

“Jadi,” Kata Seunghyun, si pemuda dengan teh panas. “Kapan kau akan memberitahu kami siapa pembunuh Kwon Shi Woon?”

“Ke—kenapa,” Bibir Hani bergerak. Dari cahaya bias yang dipancarkan lampu kuning itu saja sudah cukup menjelaskan betapa banyak luka lebam di wajahnya. “Kenapa kau malah bertanya padaku. Bukankah kau ada di sana waktu itu?”

BUGH!

Sebuah hantaman keras mendarat di perut Hani. Tidak ada satu sosok manusia pun yang berdiri di sekitarnya pada saat itu. Tapi perasaan linu dan sakit di perutnya barusan benar-benar nyata. Mansion, utamanya, Seunghyun adalah seorang tamer. Dia dapat menjinakkan roh sehingga mereka menuruti kehendaknya.

Sesaat tadi, yang menjadi algojo pendamping Hani adalah salah satu roh miliknya.

“Pertanyaan tidak boleh dijawab dengan pertanyaan, Ahjumma. Tentu kau tahu kan.” Seunghyun mencoba tertawa. Namun kekehan kecilnya terdengar menyayat di telinga Hani.

“Aku menolak.”

BUGH!

Sebuah pukulan telak selanjutnya.

“Kenapa kau menolak?”

“Pukul saja aku.”

BUGH.

BUGH.

“Sudah. Lalu?” Seunghyun menaruh gelas tehnya di atas sebuah nampan yang melayang. Di sana ada satu lagi roh peliharaannya yang bertugas dalam melayani urusan rumah tangga pemuda tersebut.

Di sisi lain, Hani hanya mengerang, menolak memberitahu Seunghyun apapun.

“Kau cukup keras kepala juga.”

BUGH!

Sebuah pukulan yang lebih keras mendarat di punggung Hani hingga ia bisa merasakan tulangnya retak.

“Oke, hentikan main-mainmu.” Seseorang muncul begitu saja di balik pintu masuk. Seorang wanita dengan rambut diikat di belakang. Pakaian hitam ketatnya menjadi ciri khas yang tidak bisa lepas dari seorang Chaerin. Kini gadis itu telah berada di depan Seunghyun. Ia melirik sekilas pada seorang wanita tak berdaya di balik jeruji besi.

“Apa kau perlu melakukan ini?” Kata Chaerin.

Seunghyun tertawa kemudian berdiri sambil mengedikkan bahunya. “Tidak tahu. Mungkin saja berguna.” Katanya.

“Ayo pergi dari sini. Kau membuang-buang waktumu.” Ajak Chaerin. Kemudian Seunghyun tersenyum lebar sembari melirik tajam ke arah Hani.

“Kami akan ke Jepang, menyusul anak-anakmu. Ada yang ingin kausampaikan?”

Hani terbatuk darah. Darahnya bukan merah, melainkan warna kehijauan yang pekat. Chaerin berdecak sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Darah hijau kental adalah darah dari keturunan iblis—roh yang sangat kuat—di dalam Kingdom. Dan itu cukup menjelaskan jati diri wanita tersebut.

Hani terbatuk sekali lagi, meskipun matanya tidak dapat melihat karena ditutup oleh kain hitam, tapi gerakannya cukup meyakinkan Seunghyun tentang kebencian wanita itu pada dirinya.

“Katakan pada mereka,” Hani menggeram. “Jangan pernah percaya pada Mansion!”

-ccc-

“Apakah kau tahu darimana Nukekubi berasal?” Yuri berbicara pada roh tanah yang ia temukan. Telunjuknya mengarah pada sebuah lembah di balik sungai. “Disana? Oke, terima-kasih.”

Yuri bergegas, waktunya begitu sempit. Tinggal dua jam sebelum fajar dan ia masih belum menemukan tubuh Si Kepala Lepas. Suara dentuman dari senjata Ghost Slayer—yang hanya bisa didengar oleh manusia dengan indera keenam, tentunya—kini masih semarak di atas langit. Bagaikan kembang api malam tahun baru.

Tapi itu membuat Yuri sedikit lega, setidaknya Sang Kepala Lepas masih bermain-main dengan kedua pemuda di seberang sana. Mungkin Nukekubi lupa pulang, pikir Yuri.

Yuri menyeberangi sungai ketika ia menemukan seorang gadis yang terduduk dengan wajah muram di atas bebatuan. Hantu sungai!

Yuri tidak menyia-nyiakan waktu tersebut. Beberapa meter di dekat sungai, ada sebuah pemukiman yang cukup sepi. Dari beberapa rumah di sana, hanya ada lima sampai enam lampu yang menyala, menandakan tidak cukup banyak orang di sana. Yuri ingin memastikan bahwa dirinya ada di arah yang benar.

“Apa Nukekubi tinggal di sana?” Kata Yuri. Sang gadis dengan wajah muram mengangguk lesu.

“Sebelah mana?” Kata Yuri lagi. Kini tangan sang gadis teracung pada ke sebuah rumah dengan penerangan paling redup. Kemudian ia menatap Yuri. Yuri mengangguk atas bantuan dari sang gadis, ia tersenyum.

Ketika kaki Yuri melangkah pergi, tangan sang gadis bertautan di jemarinya. Suara riak air tiba-tiba saja terdengar begitu jelas di telinga Yuri. Ia tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan hantu via riak air, tapi kali ini entah mengapa dengan jelas, ia mendengar gadis itu berbisik.

Katanya, badai akan datang padamu, Nee-Chan.

Yuri memandangnya baik- baik. Melihat kesenduan di balik wajah cantik sang gadis. Ia menggenggam erat tangan gadis sungai tersebut, kemudian melepaskannya dengan penuh perhatian. “Terima-kasih.” Kata Yuri.

Kini ia melangkah pergi lebih cepat, meninggalkan si gadis sungai tersebut.

Saat kaki-kakinya melangkah memasuki area desa kecil tersebut, aroma amis menuntun hidungnya pada sebuah rumah yang telah ditunjukkan oleh si gadis sungai. Rumah tersebut terletak paling belakang dari deretan rumah yang lain. Meskipun sama-sama tak terurus, tapi rumah satu ini lebih parah keadaannya dari rumah Zico yang ia sebut sebagai kandang babi tak terjamah.

Mungkin ini seperti rumah induknya kandang babi yang tak terjamah, pikirnya.

Yuri mengetuk pintu. Suara keresek ringan muncul dari beberapa jendela rumah di dekatnya. Beberapa pasang mata mengawasi Yuri, dan Yuri tahu itu. Ada manik ketakutan yang tersirat bersamaan di sana. Mereka hanya bisa diam dan mengamati Yuri.

Yuri menelan ludah.

Ia masuk ke dalam gubuk tersebut dan mendapati hanya ada dua ruangan yang dibuat di sana. Satu ruangan besar dengan perabotan yang berantakan. Satu lagi adalah kamar tidur dengan seorang wanita tertidur di atasnya. Wanita tersebut dibalut sempurna oleh sebuah selimut putih.

Tapi itu tidak menipu Kwon Yuri.

Ada darah merah kental yang merembes di selimut tersebut. Yuri tahu apa yang ada di baliknya, namun ia gentar mendekat. Yuri melirik arlojinya, dan ia telah membuang setengah jam dengan percuma. Tinggal satu setengah jam lagi menuju fajar dan tubuh ini belum ia sembunyikan.

Tanpa melihat apa yang ada di dalam selimut tersebut, Yuri mengikatnya dengan sebuah ikat pinggang miliknya. Ia hendak mengangkat tubuh itu di atas pundaknya namun tenaganya kemudian melemah. Ia tidak tahu kenapa.

Yuri akhirnya hanya bisa menyeret tubuh itu walaupun darah berceceran di atas lantai. Saat ia akhirnya keluar dari gubuk tersebut, pasang-pasang mata yang melihatnya kemudian bersama-sama menutup tirai jendela dengan mimik ketakutan berlebihan.

“Sepertinya kau benar-benar ditakuti di sini ya Nona Kepala Lepas?”

Sing.

Suasana menjadi sangat hening. Yuri menerka-nerka apa yang terjadi.

“Seharusnya suara tembakan itu masih ada—“ Yuri mendongak ke atas dan menemukan seringai seram kini mengarah padanya. Si Kepala Lepas Nukekubi tersebut sudah melayang di depannya. Ia memandangi tubuhnya yang ada di tangan Yuri dengan marah.

Sangat masuk akal kenapa penduduk yang melihatnya tadi malah menutup tirai. “Jadi ini penyebabnya.” Kata Yuri.

Ia segera meraih busur di punggungnya dan melepaskan sebuah anak panah ke jantung dari perempuan Kepala Lepas tersebut. Wanita itu hanya menjerit, bukan kesakitan, lebih seperti kegirangan.

Di kejauhan, Yuri melihat Jiyong datang disusul Zico yang terengah. Zico datang tapi ia membuang senjatanya. Dia kehabisan senjata, pikir Yuri.

Tanpa ba-bi-bu, Yuri mengerahkan semua tenaganya untuk melemparkan tubuh berbalut kain putih tersebut pada Zico yang mulai mendekat. Merasa ada paket melayang tiba-tiba untuknya, Zico membuka tangannya dan menerima tubuh Nukekubi.

Si Kepala Lepas begitu marah. Ia menyeringai seram dan menunjukkan ketajaman taringnya pada Zico. Yuri lebih gesit, ia berguling dan memanah bola mata dari Nukekubi hingga tubuhnya berputar-putar di udara. Jiyong membuka gate-kitnya.

“Tidak, kau tidak bisa menggunakan itu pada setengah manusia seperti wanita ini. Roh kehidupan wanita ini masih ada. Kalau kau menggunakan Gate-Kit, maka ia akan mati.”

“Tapi kalau aku tidak menggunakan ini, kita yang akan mati.” Kata Jiyong.

“Percayalah padaku!” Kata Yuri meyakinkan.

Nukekubi menukik tajam pada Yuri. Yuri memilih berlari. Langkah kakinya begitu kencang hingga Nukekubi menambah kecepatannya. Ketika air liur dari taringnya terasa membasahi kulit kepala Yuri, gadis itu tiba-tiba saja berhenti berlari. Dengan lincah Yuri merunduk dan melakukan gerakan sliding di atas tanah dengan kakinya. Kini ia sukses berada di balik kepala sang nukekubi.

Karena sistem terbang nukekubi yang tidak seperti pesawat—dia roh, bukan pesawat. Roh tidak memiliki rem yang pakem—kini kepalanya melesat begitu saja tak terarah. Sebagai ending yang apik, kepala tersebut menghantam sebuah pohon kemudian perlahan-lahan merendah dan turun ke tanah.

“Oke.” Kata Yuri. Ia menepuk-nepuk tangannya agar bebas dari debu sambil melihat Jiyong dengan pandangan kemenangan.

Grep.

Jiyong sudah membungkus kepala tersebut dengan sebuah kain. Nukekubi masih bergerak-gerak seperti ular di dalam kardus, namun Jiyong mengikatnya lebih kencang, tidak meninggalkan satu pun celah kecil untuk Nukekubi membebaskan diri.

Zico memanggul tubuh Nukekubi di pundaknya dengan mimik kelelahan. Yuri tertawa.

Manik Yuri kini menatap pada orang-orang yang mulai keluar hati-hati dari rumah-rumah mereka. Semuanya adalah ibu-ibu dengan anak-anak gadis mereka. Tidak ada satu pemudapun di sana, atau sekedar kakek-kakek.

Mereka berpandangan kemudian menatap Yuri baik-baik.

Saat Yuri menundukkan kepala dan tersenyum, orang-orang tersebut membalasnya dengan hangat.

-ccc-

“Namanya Tsubasa Mikami, keluarganya pernah memiliki perjanjian dengan iblis. Ia adalah korban. Suami-suami dan anak-anak laki-laki di sini sudah tewas dibunuhnya. Ia memang seorang wanita yang sangat jujur dan baik hati di pagi hari. Namun mengerikan, di malam hari.” Jelas salah seorang penduduk pada Zico. Yuri tidak terlalu paham bahasa Jepang jadi yang ia lakukan hanya makan.

Gadis itu kini duduk di kedai lusuh dengan jamuan alakadarnya dari pedagang kecil di desa tersebut.

“Apakah ia tidak menyadarinya?” Lanjut Zico.

“Kurasa Tsubasa-Chan menyadarinya.” Kata si ibu-ibu. “Syukurlah sekarang ia sudah baik-baik saja. Omong-omong kalian bukan orang Jepang ya?”

Em, Iya. Kami dari Seoul, Korea.”

“Apa kalian bagian Ghost Slayer yang terkenal itu?”

“Mereka iya, aku tidak.” Kata Zico lagi. Yuri tidak mendengarkan, ia sibuk dengan makan paginya. Sedangkan Jiyong berulang kali memukul kepala gadis itu agar ia berhenti makan.

“Terima-kasih sekali lagi. Kurasa Tsubasa-Chan juga akan sangat berterima-kasih pada kalian. Terutama gadis itu.” Wanita itu menatap pada Yuri. “Sifat keduanya begitu mirip ya?”

Zico menoleh pada Yuri. “Maksudmu Tsubasa-Chan dan Yuri?”

Si wanita paruh baya itu menggeleng. “Bukan, tapi ia dengan pria di sebelahnya. Apakah mereka sepasang kekasih?”

Zico menelan ludahnya. Ia tersenyum tipis pada sang ibu. “Bukan,” dengan sangat susah payah ia mengumpulkan napasnya di tenggorokan, kemudian menghelanya sembari menggetarkan pita suaranya. “Mereka kakak dan adik.”

“Oh.” Kata si ibu tadi. Lantas keduanya tersenyum sembari memandangi Jiyong dan Yuri yang sibuk berebutan sebuah nasi kepal. Keduanya saling memukul, kemudian saling menginjak. Sampai akhirnya mereka saling pandang kemudian tertawa bersama.

Harusnya begitu. Harusnya mereka kakak dan adik. Jika saja mereka tidak menemukanku.

-Tbc-

47 thoughts on “GHOST SLAYER – Step #5

  1. arassi berkata:

    Tadi kyknya ada sedikit typo deh unn di bagian atas tapi aku lupa yg mana😀
    Jiyong cemburu sma kedekatan zico sama yuri cieeee ehm ehm
    Next part unn!!

  2. sevy berkata:

    aduh eon… sumpah ceritanya bgs bgt….
    msksud zico bilang “seharus.x mereka(jiyong&yuri) kakak beradik jika saja mereka tak menemukanku”
    maksud.x ap?
    jgn” yuri sm jiyong bkn saudara lg…
    jwa.. penasaran bgt eon.
    next ya… cpt ya eon…

  3. Shin Min Mi berkata:

    sebenernya hubungan zico ma jiyoung ma yuri apaan si? apa meraka ber 3 itu bersaudara?
    kslo iya, trus maksud dari pikirannya zico di bagian akhir apa ya yun?
    ampun deh, baca ini amppppe perut jadi enek sendiri karna ngebayangin penampilan nukekubi u_u

  4. Sjelfeu berkata:

    Sebentar sebentar kwon hani itu keturunan iblis ? Hah ?
    Terus maksud zico itu apa ? Seharusnya mereka kakak adik ? Aahh penasaran -,-
    kyk ny zico deh yg kakak ny yuri *mungkin*

  5. mellinw berkata:

    Kaaak penasaran sm kalimat terakhr deeeeh , kaaak jd yuri sm jiyoung it kakak adik bkanlah ..

    Trus seunghyun sm chaerin ihh , msh bgung nih sm siapa-mereka-sebenarnya-dipihak-mana-mereka .. Fhufhu ..

  6. Mickeymo125 berkata:

    kakak uwoooo~ ini keren bgt sumpah deh. .ini ff bikin nguras dompet aku + telantarin tugas sekolah demi ke warnet cuma buat komen ini.
    kalimat terakhirnya zico bikin penasaran, maksudnya apa?
    dan sebenernya aku lebih ngarep AB siblings itu bukan adek kakak asli ._. //eh

  7. YoonYuladdicts berkata:

    Ghost slayer update juga,, bayangin nukekubi jd ngeri sendiri, hubungannya zico sama kwon sibling apa si ? bagian terakhir itu loh bikin penasaran banget kak.. ff mu emang selalu bikin penasaran kak.. cepet update yaa..

  8. EKHA_LEESUNHI berkata:

    sumpah pas adegan yuri bawa tubuh si hantu kepala terbang trus tiba2 kepalanya udah nongol di atas yuri tu bner2 horror. Astaga. Bcnya tengah malam ini. Habis nntn film horror pula kyaaaaa….

    Penasaran. Kynya yuri-jiyeong bukan saudara kandung. Udah mulai terungkap konfliknya sedikit demi sedikit.

  9. hani"thahyun kim berkata:

    Iiihhh hantunya ♥a̲̅k̲̅u̲̅♡ pernah nnton di film horor thailand,, serem banget hantu kepala yg ada organ” tubuhnya yg ngegantung dibawah kepalanya..eeerrr serem..untunglah yuri bisa pinter juga ngadepin nukekubi itu..dan akhirnya si hantu bisa ditaklukan..hahaha
    Jiyoung kaya yg punya perasaan lebih dr seorang kaka S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ yuri nih,,
    Kata” zico yg terakhir bikin penasaran “harusnya mereka kaka dan adik, jika saja mereka tidak menemukanku ?”
    Jadi ªƿƏ tuh maksudnyaaaaaaaa ??
    Lanjjjuuuttt yaa

  10. Cynthia berkata:

    Apa mksd zico diakhir kalimatx???
    Trs jd ibux yuri itu iblis?? Nikah sm manusia trs pny anak mrk ato salah satu kwon itu bkn anak hani sm papa mrk yg udh mati???
    Aaaaaaaa… Penasaran… Dtgu ya eonni kelanjutanx sm klisex jg.. Thx.. Fighting!!!!

  11. winda eka putri berkata:

    Makin penasaran nih eon ‘_’ maksud zico yang kalimat terakhir itu apa (?) Mungkinkah (?) *apaansih

  12. Tetta Andira berkata:

    Hha~ ituh Jiyong oppa ,, gak mau ade’x pelukan sama namja laen yaa ?? Brothercomplex sx .. :p
    atau , krna dy emng krg suka sama Zico yaa ??
    Aigoo ,, Jiyong oppa seneng banget narik rambut’x Yul-eonn ne ??
    Ituh rambut , oppa ! Bkn tali atau sswtu yg pantas ditarik .. *tepokjidatnyaNyun*
    Ahh ,, so sweet .. Bisa akur & manis jg si duo Kwon ituh🙂
    Errr ,, emng paling keren kllo udh masuk bagian ‘nangkap hantu & sejenis’x’ ! Action’x mament ! Kece badai dahh ..
    Bt syg ,, hantu’x cukup nyeremin😦
    Untung baca’x bkn malem hari .. Hha~
    Wahh ,, si JiCo -Jiyong & Zico- kepala batu banget ! Blom jg dgr pnjelasan Yul-eonn udh lgsg sok keren ..
    Bt , emng bner jg sihh apa kata mereka😀 *labil*plakk
    Aduuuhh ,, ribut’x kumat ! Otak kubis & hidung/otak kerbau ?! Ckckck .. *gelenggeleng*
    Ehh ,, trnyatta di mansion Kwon Hani lg disidang habis”an sama Seunghyun & Chaerin ..
    Waduhh !! Yg terakhir ! Apa maksud’x ituh Nyun ? Mereka seharus’x kakak-adik jika tidak menemukan Zico ??
    Makin penasaraaaaaaaaannn .. Huuuwwwaaaa ..
    Wahh ,, pkok’x sllu smangat buatmu Nyun-chan !!
    Ditunggu kelanjutan kisah mereka .. Hwaiting ^^

  13. DzanisyaKyuri berkata:

    aku kira ff yg ini gk seru karna hantu .. tpi aku salah ternyata semua ff di sini seru2 . hehe

    next part di tunggu

  14. YhyeMin_ berkata:

    typo kaknyun yg diatas mungkin yg nwarin tempat tinggal kyk kndng babi itu zico bukan jiyoung*ato aku yg salah/garukgaruk/
    Jd kwon hani itu iblis nikah ma kwon shi woon berarti slah satu dri kwon sibling itu ada yg stengah iblis donk*itu jga kalo kata” zico bner kwon sibling bukan kakak-adek berarti cuman salah satu yg anak nya dri hani-shiwoon*ato aku salah lagi/gigit bantal/-abaikan permisa-
    Aku sih ngbyangin nukekubi yg ada d kartun jepang kalo gk salah bleach deh jd aku gk mikir keras ngbayngin wujudnya dan pling lucu tuh pas nukekubi gk punya rem jd nabrak pohon,scene itu jga aku prnah liat d kartun
    Seunghyun-Cl sbnernya krakter mreka sperti apa sih?? mreka jahat??*jwabanya ada d part slanjutnya/komenku panjangnya…/

  15. HanY berkata:

    Jiyoung, dri mu menjdi kaka yg overprotect stelah adanya Zico d dkt Yul onn..
    hahahaha

    Hmmm, sbnernha apa yg d ketahui Zico ttng Mansion seeh??
    Ni makin nguat in da yg aneh ma Mansion trutama SeungHyun n CL ketika ko mreka mlah nyiksa ibunya Kwon sibling seeh..
    Apa yg mreka mau lakukan??

    Bner” tuch kta” Zico jngan mundur dlm medan tempur…
    hahahah
    Untung ja Yul onn dpt pencerahan gmn cra untuk ngebwt hantu itu die..
    heheh
    Tp sempet tegang pas Yul onn ketawan lgi ngebwa tbuh hantu itu tpat d ats kpalanya…
    hiiii sremm..

    Ituuuuu mksd Zico knp d akhr?
    Da pa antra Yul onn n Jiyoung selanjut nya stlah da dy??

    #mavOnnQCrewtBner
    heheh

  16. kwon yulsic yurisistable berkata:

    Sama kaya part” sebelumnya menyeramkan udh kaya nonton film hantu bneran
    _wow yuleon keren bsa berkomunikasi sama hantu aq terkesan bgd dech pokok nya,,,,
    ,,,,jdi curiga di part endingnya jngan” kwon jiyong bkn kaka nya yuleon tpi si zico itulah kaka nya di tnggu next part nya

  17. Black virus Chanyul berkata:

    AAWWW kaknyun part ini bikin greget banget deh..
    itu ketahuan banget kalo jiyong gak pengen kalah dari zico..sok-sok an deh..hahaa
    aduh kwon sibling makin romantis aja..suka suka suka..
    kenapa kaya nya jiyong gak pengen yuri deket2 ama zico gitu??
    jangan-jangan..?? #JRENG JRENG

    next part nya di tunggu kak…FIGHTING😀

  18. kwon h-ani berkata:

    wah berarti yuri dan jiyong bkan kk adik dong
    *aku udah ngerasa gitu pas awal2 hha
    perhatian jiyong ke yuri itu beda sm perhatian kk ke adik kkkk

  19. blackpuarl berkata:

    wihh keren yurinya bisa komunikasi sama roh-rohnya
    tapi kasian ya ibunya AB Siblings disiksa sama cl dan top
    serius kak aku ngeri pas scene2 yg ada Nukekubinya….

    pokoknya daebakk deh !

  20. Onlyuri berkata:

    Sumpah itu setan nya bikin ngeri un hahaha untung aja di karungin ya.. eh iya kan di karungin? Au ah wkwk
    WAAH WAAH itu yuri sm jiyoung bukan adik kaka ya???

  21. cho haemi berkata:

    dari gelagatnya sich kayaknya jiyong suka sama yuri. .
    semoga jiyong dan yuri bkn kakak adik.

  22. slmnabil berkata:

    Wah nukekubi nya serem, tapi akhirnya ada juga hantu-hantu baik. Lucu aja ngebayangin yuri yang kaya nyari jalan cuma dia nanya ke hantu, boleh dicoba tuh kali-kali :3
    Dan selalu! Interaksi Jiyong sama yuri ngga berhenti narik perhatian, berantem tapi saling butuh. Suka deh.
    Nabil biasanya suka baca yang fantasy, dark gimana tapi kombinasi sama romance. Tapi ghost slayer ini bikin ketagihan baca ff family kaya gini

  23. Ardelia wynne berkata:

    Omg, aku sebel bgt ama seunghun. Mau na dia itu apa sih??
    Trus kata” terakhir na zico vague gtu bkin penasaran wkwkwk
    Keep writing kak nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s