TALES OF ZODIAC #1

Toz Krisyul 5

You also should read the 1st Teaser | 2nd Teaser | 3rd Teaser | 4th Teaser

ENJOY READING.

.

.

Ada enam puluh menit satu jam, dua puluh empat jam sehari dan tiga puluh hari sebulan.

Ketika matahari berputar mengitari matahari setiap empat tahun sekali, akan ada Februari yang kemudian hanya memiliki dua puluh sembilan hari dalam satu bulan. Empat tahun sekali, mereka menyebutnya tahun kabisat. Tahun yang angkanya akan habis dibagi empat, tahun genap dan sebagainya.

Ini hukum alam. Ilmuwan menghitungnya dan memastikannya dengan penemuan ilmiah. Hukum kabisat, terpecahkan sudah.

Tapi ada satu yang luput dari kacamata ilmuwan, satu yang paling penting.

Posisi kedua belas rasi bintang utama pada tahun kabisat yang berbaur satu sama lain. Mereka tercampur dan turun ke bumi sebagai the fallen star.

Semua orang berbondong-bondong memanfaatkan momen tersebut untuk memejamkan mata dan mengharapkan satu keinginan terpendamnya, berharap bintang jatuh mengabulkan permohonan mereka.

Banyak yang tahu itu sia-sia, tapi sedikit yang mau berhenti mencoba. The fallen star bagi banyak orang adalah anugerah. Namun bagi segelintir orang di kuil terpencil ujung kota Kyoto, Jepang, the fallen star adalah musibah.

.

.

2012

Seorang pria botak paruh baya baru saja melepas sandal lusuhnya ketika pemuda tinggi menyapanya dari jauh.

“Kali ini jatuh di mana, Pak Pendeta?”

Hashimoto, sang pria botak yang memakai baju putih khas pendeta kini duduk di undakan tertinggi dari tangga di depan kuil. Di balik pintu kayu kuil tersebut, sebuah ceruk menampakkan beberapa orang yang membakar dupa dan melakukan ritual-ritual suci setiap empat tahun sekali.

“Kau harus kembali ke Korea, Kris.” Kata sang pendeta. Hashimoto memainkan tongkatnya di atas tanah. Ia menulis-nuliskan bentuk-bentuk bangun datar. Ada dua belas bentuk seperti bintang dan dua buah lingkaran, besar dan kecil.

“Apa kali ini dua belas bintang itu jatuh di Korea Selatan?” Hashimoto mengangguk atas pertanyaan Kris. Pendeta itu masih menggambar, ia melukiskan sebuah garis-garis penghubung ke setiap bintang. Kemudian satu garis yang paling tebal mengarah pada lingkaran yang paling besar. Sentuhan terakhir, Hashimoto menggambar sebuah garis tipis di antara lingkaran besar dan lingkaran kecil yang bersisian.

“Tapi ada sedikit masalah.” Kata Hashimoto, ketika ia menyelesaikan gambarnya di atas tanah. “Bintang ini tidak bergabung menjadi satu dan turun sebagai satu the fallen star. Tidak ada the fallen star Februari tahun ini. Kau bisa lihat semua rekaman dari seluruh dunia pada malam dua puluh sembilan Februari kemarin.”

Kris, si pria tinggi yang duduk di sebelah pendeta, kini menaikkan salah satu alisnya ke atas. “Apa yang salah?”

“Oh!” Sang pendeta tersenyum, “tidak ada yang salah, Kris. Ini merupakan fenomena langka, bukan berarti tidak pernah terjadi. Pada tahun 1988, hal yang sama pernah terjadi di Jepang. Itu adalah saat dimana Ayahmu meninggal karena sakit keras. Ia tidak dapat menyelesaikan tugasnya sebagai penjaga bintang, akibatnya, Jepang dilanda gempa bumi dahsyat. Meluluh-lantakkan sebagian kota.”

“Setahuku,” kata Kris. “Para ahli berbicara bahwa bencana alam tersebut akibat pergerakan lempeng bumi.”

“Itu hanya bahasa mereka untuk menjelaskan fenomena ini secara ilmiah, tapi kau, aku dan ayahmu adalah penjaga bintang. Ketika bintang yang jatuh ke bumi tidak segera dikembalikan ke langit, penjaga langit akan marah. Dan kau bisa menebak apa yang akan terjadi.”

“Dan siapa itu penjaga langit?”

“Zeus. Salah satu dari tiga dewa besar dalam mitos Yunani. Tapi percayalah, itu bukan mitos. Zeus menguasai daratan dan langit. Saudaranya, Poseidon, menguasai lautan sedangkan Hades menguasai dunia bawah. Tidak perlu kuceritakan bagaimana Zeus akan marah, bukan?”

“Aku mengerti. Jadi bagaimana?” Kata Kris lagi. “Aku satu-satunya penjaga bintang yang tersisa selain kau kan?”

Hashimoto kini menggunakan tongkatnya untuk mengarahkan manik Kris pada gambar di atas tanah miliknya. Ia menunjuk sebuah lingkaran besar. “Ini matahari.” Katanya, kemudian tongkatnya berpindah pada sebuah lingkaran yang lebih kecil. “Ini bulan.”

Hashimoto melirik pada Kris yang dengan acuh tak acuh memerhatikannya. “Bulan itu kau.” Kata si pendeta. Kening Kris berkerut.

“Kau hanya penjaga bintang, muncul bersama para bintang dan mendapatkan sinar dari mereka. Ketika bintang itu jatuh atau hilang, kau akan kehilangan cahayamu. Kau tidak memiliki cahayamu sendiri. Karena bintang-bintang itu sudah benar-benar jatuh, artinya,” Hashimoto menarik napas panjang. “Kekuatanmu sebagai penjaga bintang akan memudar seiring berjalannya waktu.”

Kris melirik aneh pada Hashimoto. “Kau juga penjaga bintang, apa kekuatanmu juga akan memudar?”

“Tentu.” Jawab Hashimoto. “Tapi aku tidak terlalu mengkhawatirkannya, lagipula, aku sudah tua untuk pekerjaan ini. Hanya kau di sini, satu-satunya yang bisa kuandalkan untuk meneruskan pekerjaan hebat ini.”

Kris berdecak.

“Nah, jadi Kris, sekarang pandanglah lingkaran besar ini.” Tongkat Hashimoto teracung ke lingkaran yang paling besar. “Matahari adalah sebuah bintang yang bersinar sendiri. Meskipun dua belas bintang yang lain jatuh, ia masih akan terus bersinar, karena sifatnya yang hangat. Nah, kau perlu ada di sisi matahari ini, untuk mendapatkan kekuatanmu kembali.”

Kris menggeleng sebal. “Jadi aku harus terbang menuju matahari, begitu? Kau yakin aku tidak akan terbakar?”

Hashimoto tertawa. “Bukan seperti itu maksudku, anak bodoh.” Hashimoto memukul punggung Kris hingga pemuda itu tersinggung sebal. “Begini nih, seperti kau yang kuibaratkan seperti bulan, matahari ini juga bentuknya manusia. Ia dipilih oleh para bintang sesaat sebelum mereka jatuh sebagai pelindungnya. Para bintang yang telah jatuh, takut pada tiga dewa besar Yunani seperti kita. Mereka membuat permohonan sebelum tercerai berai dan jatuh ke bumi. Para bintang memohon untuk diberikan pelindung karena mereka tidak ingin tiga dewa—terutama Zeus—marah dan meluluh-lantakkan bumi karena dua belas bintang saja.”

“Dan mataharilah jawabannya, begitu?” Kris menarik kesimpulan. Hashimoto menjentikkan jari. “Persis.”

Kris tersungut-sungut. Ia memandangi gambar lingkaran besar dan kecil di atas tanah kemudian berdecak dan menggeleng. “Lalu pertanyaannya, kenapa para bintang tidak turun ke bumi sebagai satu kesatuan The Fallen Star? Kenapa mereka bercerai-berai?”

Hashimoto tersenyum. “Tidak ada yang tahu, Kris. Bahkan para penjaga bintang. Terkadang, bintang-bintang tersebut lebih senang memiliki rahasia dibanding kita.”

Hashimoto menunjuk satu per satu gambar bintang yang ia torehkan di atas tanah. Tongkatnya mendarat di satu yang paling jauh kemudian berpindah menuju yang paling dekat dengan posisi lingkaran kecil.

“Kita menyebutnya : Aquarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius dan Capricorn. Setiap bintang memiliki bentuk, setiap bintang memiliki sifat unik. Biasanya mereka menjadi satu kesatuan. Turun ke bumi sebagai satu bintang pengabul keinginan. Entah apa yang terjadi pada mereka malam kemarin. Itu misteri.”

Kris melirik tidak peduli. Ia memilih bersandar pada salah satu pilar terdekat sambil melinting celana jeansnya sebatas betis. Hashimoto menyelesaikan kisah malamnya. Ia tertawa.

“Nah, jadi kapan kau akan ke Korea?”

Kris menaikkan salah satu alisnya. “Jika tidak ada lagi yang perlu kau ceritakan, aku bisa berangkat besok pagi.”

Hashimoto tertawa. “Serius kau benar-benar sanggup pergi ke sana? Bukankah kau membenci negara itu karena ibumu?”

Kris berdeham. Ia membiarkan angin malam membelai wajahnya. “Sebenarnya aku membenci semua yang ada di negara itu. Tapi aku terpaksa kembali demi menyelamatkan dunia,” Kris menoleh pada Hashimoto. “Itu kan yang kau harap aku katakan, Pak Pendeta?” Kris tertawa kecil, kemudian ia berdiri. “Tenang saja, aku akan baik-baik saja dengan ibuku di sana. Aku tidak punya tempat tinggal lain lagi kan di sana.”

Kalimat terakhir Kris terdengar seperti ia menguatkan dirinya sendiri. Bukan seperti ia berbicara pada Hashimoto. Pendeta itu tahu benar bahwa sejak kematian Ayahnya, Kris memiliki hubungan yang buruk dengan ibu kandungnya yang merupakan konglomerat di Korea sana. Ibunya menikah lagi dengan seorang yang lebih kaya. Dan itu mengganggu psikis Kris.

Ketika akhirnya Kris memutuskan tinggal di Jepang, dan menjadi penjaga bintang, sang Ibu melepaskannya tanpa sepatah katapun. Selama ini sang Ibu hanya menganggap Kris dan Ayahnya sebagai orang gila yang menyukai ilmu perbintangan. Dan anggapan itu perlahan berubah menjadi lubang besar yang memisahkan ikatan keluarga mereka.

Hashimoto tidak bisa melakukan apapun kecuali berharap. Ada sesuatu yang menunggu Kris dan lebih penting daripada perasaannya terhadap ibu kandungnya sendiri. Hashimoto memandangi bulan yang meredup di kejauhan karena tertutup awan mendung.

“Kalau kau sekarang ditutup awan, maka besok kau akan bersinar karena mentari.” Kata Hashimoto. Kris tetap berjalan. Diam-diam ia mendengarkan namun harga dirinya terlalu tinggi untuk menoleh dan mengucapkan salam perpisahan atau kalimat-kalimat baik untuk pendeta tua itu.

Tapi Kris masih sempat menggeleng dan melembaikan punggung tangannya pada Hashimoto.

Kau tahu Pak Pendeta, di sana yang tidak kusukai bukan hanya Ibu. Gadis-gadis candy di sana sebenarnya lebih merepotkanku.

.

.

“Ah brengsek. Selalu saja pagi yang sial.” Yuri menendang ban mobil merahnya dengan kesal. Sebuah kacamata tersemat di kepalanya, menahan poninya yang terkadang berantakan ditiup angin Maret. Gadis itu baru saja melepas heels kesayangannya dan mulai menendang-nendang ban mobil sejak lima menit yang lalu. Ia terus mengumpat sampai mulutnya terasa pedas.

“Harusnya seseorang memberitahuku kalau ada yang tidak beres dengan mobilnya.” Ucap gadis itu lagi. Make-upnya yang sudah luntur dilelehkan matahari, semakin membuatnya sebal. Ia mendengus layaknya banteng Rodeo, kakinya ia hentakkan di depan mobil merahnya. Tunggu, dia tidak sedang naik ke kap mobil dan menginjak-injak mobilnya, kan?

Wah, dia ternyata masih Kwon Yuri yang angkuh. Kini dengan kesalnya, gadis itu mulai menaiki kap mobil seperti orang gila. Ia menginjak-injak kap depannya kemudian meludahi kaca mobilnya sendiri. “Ini balasan buatmu, mobil bodoh!” Umpatnya.

“UGH!” Kwon Yuri melemparkan sepatunya di atas kap hingga bunyi keras terdengar di area jalanan sepi penduduk tersebut. Sejauh mata memandang, hanya ada pematang sawah yang ilalang yang tumbuh bersisian. Yuri tidak melihat adanya tanda-tanda kehidupan. Ya, kecuali seorang wanita yang kini menggeliat di balik kursi penumpangnya.

“Berhenti berteriak, Kwon Yuri. Aku baru saja bertemu pangeran tampan.”

Barusan yang bersuara adalah Jung Eunji. Seorang sahabat paling setia dari si angkuh Kwon Yuri. Meskipun memiliki sifat yang agak aneh—tidur dua belas jam sehari, tidak tahu tempat dan tidak tahu waktu—gadis itu terhitung yang paling lama bisa bertahan dengan sifat angkuh dan kekanak-kanakan dari Kwon Yuri.

Untuk ukuran normal, biasanya seorang sahabat akan berusaha menghentikkan amukan sahabatnya dan membawanya kembali pada fase tenang. Namun tidak dengan Jung Eunji, ia lebih senang memandangi Kwon Yuri yang mengamuk sampai puas, dan ketika selesai, ia akan kembali tidur.

Sesimple itu.

“Apa kau sudah selesai?” Tanya Eunji. Kwon Yuri sudah turun dari kap mobilnya. Namun kini ia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi dengan klakson yang ia nyalakan setiap lima detik. Eunji mengangguk, “kurasa belum.” Kemudian gadis itu terlelap di jok belakang.

“Eunji!” Yuri berteriak, memanggil nama sang gadis yang mulai mengayuh bahtera di mimpinya. Dengan nada terganggu, Eunji menepis tangan Yuri yang kini menggerayangi wajahnya. “Apa sih!”

“Eunji, kita sudah terlambat ke sekolah.”

“Aku tahu.”

“Bantu aku.”

“Aku sedang membantumu.”

“Apa yang membantu? Yang kau lakukan daritadi hanya tidur, bodoh!”

“Daritadi yang kau lakukan juga hanya mengamuk. Kau juga tidak melakukan apapun pada ban kempes itu.”

Yuri mengatur diafragmanya. Terkadang Eunji menjengkelkan, tapi lebih menjengkelkan lagi jika ia sudah mulai membalik-balikkan semua kalimatnya. “Baiklah. Kita tidak akan ke sekolah hari ini.” Yuri menatap arloji di tangannya. “Bahkan kita tidak akan kemana-mana sampai Rescue Tim Negara ini menyelamatkan kita dan menyiarkannya di media dengan judul, Anak dari pengusaha properti tersukses abad ini ditemukan bersama temannya, membangkai di Kilometer 55 selatan Seoul karena ban mobil yang kempes. Tidak keren sama sekali.”

Yuri memiliki ekspektasi yang tinggi akan sebuah respon, namun dengkuran Eunji adalah yang pertama lewat di telinganya. “Kau ini kerbau, Eunji.” Keluhnya.

Yuri baru saja melandaikan kursinya ke belakang dan meluruskan pinggangnya ketika suara klakson besar muncul di belakang mobilnya. Ada dua perasaan yang berkecamuk padanya ketika Yuri menggoyang-goyangkan tubuh Eunji agar gadis itu bangun.

Pertama, ia senang karena ia ditemukan.

Kedua, ia tidak cukup yakin mobil di belakangnya itu bisa menarik mobil mereka.

“Apa yang kaulakukan? Cepat keluar dari mobil dan minta bantuan!” Kata Eunji. Seperti dimantrai, Yuri segera keluar dari mobil. Namun ia melupakan sepatunya yang sebelah kanan. Jika ia tidak salah ingat, ia menghantamkan sepatu kanannya pada kap mobil dan ia lupa kemana sepatu itu memantul terbang.

“Pinjam sepatumu.” Karena terburu-buru, Yuri memakai sepatu kanan milik Eunji dan mulai berjalan pada pemilik mobil hitam yang berada di balik setir. Kaca mobilnya yang hitam, menghalangi pandangan Yuri dari jauh.

Ketika ia sampai di samping mobil tersebut—ditambah Eunji yang harap-harap cemas memandangnya dari jauh—Yuri akhirnya mengetuk kaca jendela sang pengemudi.

Pria paruh baya berkumis tebal dengan decakan meremehkan.

Impresif. Kesan pertama yang tidak begitu menyenangkan. Dan aroma bapak ini, ugh, aku ingin muntah.

“Ada yang bisa kubantu, Agassi?” Kata pria tua itu. Yuri mengamat-amati selama beberapa detik sebelum akhirnya ia berdeham dan berkata, “apa kau memiliki tali derek? Ban mobilku kempes, aku terjebak di jalanan ini. Aku tidak memiliki ponsel karena lupa membawanya. Kami terisolir.”

Nada bicara Yuri, sengaja ia buat seharu mungkin. Dalam fase normal saja, semua pria—segala usia—bisa jatuh cinta padanya dan rela melakukan apa saja untuknya, apalagi dengan nada haru. Yuri memiliki kepercayaan diri yang tinggi bahwa paman di depannya itu akan membantunya.

“Aku sih punya tali derek,” kata sang pria tua. Yuri hampir memekik hingga ia menyesal pernah berniat memekik. “Tapi tali itu akan memperlambat mobil kami. Untuk itu, aku butuh persetujuan bossku.”

Si pria tua tadi ternyata hanya supir. Kini manik keduanya terpasang pada seorang pemuda dalam balutan tuxedo di siang bolong yang panas. Matanya ditutup dengan sebuah kacamata hitam bergaya gothic sedangkan topi hitam ala pria Charlie Chaplin bertengger di kepalanya, menutup sebagian wajahnya dan menambah kesan misterius sang pemuda tersebut.

“Aku sudah hampir terlambat.” Kata suara berat dari jok belakang. Sang pria paruh baya di balik kemudi menelan ludah. Ia memandang Yuri dengan tatapan maaf. Namun Yuri sudah terlanjur melukai harga dirinya.

Ia mengetuk kaca mobil jok belakang dengan buku-buku jarinya. Si pemuda misterius yang duduk di sana membukanya perlahan. “Apa ada lagi yang bisa kubantu?” Katanya, dengan nada ramah yang dibuat-buat.

“Kami benar-benar butuh tali derek itu.” Kata Yuri, memohon. Maniknya berkaca-kaca.

Whoa, kemampuan akting gadis itu meningkat lima puluh persen.” Eunji berdecak di kejauhan. Sembari menyandarkan tubuhnya pada sisi kiri mobil, ia menatap perkembangan Yuri dari jauh. Dilihatnya Yuri yang mencoba menangis dengan gaya aneh. “Oh, atau mungkin tidak berkembang sama sekali.” Tambahnya sembari menggeleng.

Pemuda tuxedo di balik jendela hitam hanya tersenyum tipis. Saat ia mulai menutup jendela mobilnya perlahan, bibirnya menggumam rendah. “Maaf.”

Dalam beberapa detik, mesin mobil dinyalakan oleh si pria berkumis di balik kemudi. Yuri geram. Bukan geram seperti yang ia lakukan setiap hari di sekolah. Ini lebih seperti geram betulan. Geram yang benar-benar membuatnya ingin meledak.

Jadi sebelum mobilnya benar-benar menjauh, Yuri melepas sepatu kirinya. Menyisakan hanya sepatu milik Jung Eunji yang tersisa di kaki kanannya. Sambil berlari, ia melemparkan sepatu itu tepat sebelum jendela di sisi penumpang jok belakang tertutup. Yang mana, secara teknis, sepatu itu bisa saja mengenai si penumpang jok belakang.

“KAU PEMUDA TUXEDO SIALAN!” Umpat Yuri saat ia melihat sepatunya berhasil masuk ke dalam mobil hitam tersebut. Dengan terengah, ia tersenyum lebar. Maniknya tertanam pada Jung Eunji yang berkali-kali menggeleng di hadapannya.

Yuri berjalan pelan ke arah gadis itu kemudian, bersama-sama keduanya duduk kembali di mobil merah yang membangkai di pinggir jalan. Jung Eunji masih berdecak dengan picingan mata yang menyebalkan.

Telapak tangan Jung Eunji kini menepuk-nepuk pundak Yuri. Senyum Yuri melebar saat ia pikir Jung Eunji mencoba menghiburnya. Namun gadis penyuka tidur dua belas jam sehari ini mengatakan apa yang sama sekali tidak menghibur Yuri dari kekesalannya.

“Untung bukan sepatuku yang kau lempar. Terima kasih ya!”

.

.

“Sepertinya kau terlambat. Tidak seperti kau.” Jaejoong, seorang pemuda berambut blonde dengan perawakan kurus dan tinggi badan yang ideal kini menjejalkan tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil hitam. Sang Supir, baru saja selesai memasukkan koper dan segala barang Jaejoong dalam bagasi. Kini mereka siap berangkat.

“Aku memiliki sedikit gangguan.” Kata Kris, pemuda yang sudah lebih dulu ada di dalam mobil, dalam balutan tuxedo hitam, kacamata dan topi gaya Charlie Chaplin. Di tangan Kris ada sebuah sepatu biru dengan heels yang cukup tinggi. Sekitar tujuh sampai sembilan sentimeter.

“Punya pacarmu?”

“Aku bahkan tidak tahu siapa wanita pemilik sepatu ini.”

“Tapi kau sudah memiliki sepatunya. Bahkan hanya sebelah.” Jaejoong mengangkat bibir kanannya lebih tinggi. Ia menilik jahil pada mata Kris. “Seperti Cinderella saja.”

Kris tertawa. “Yang benar saja. Wanita ini hampir membunuhku dengan sepatunya. Mana ada Cinderella macam gadis itu.”

“Oh?” Jaejoong berkata takjub. Seperti ia baru saja menerima kode rahasia hebat. “Apa dia melemparmu dengan sepatu dan mengumpat?”

Kris yang tadinya memainkan sepatu tersebut—dengan memindah-mindahkannya dari tangan satu ke tangan yang lain—kini mulai tertegun dengan kalimat Jaejoong. “Iya sih. Tapi omong-omong, darimana kau tahu?”

Jaejoong menjentikkan jarinya. “Adegan seperti itu banyak di drama-drama televisi. Kau harus menontonnya sesekali. Biasanya itu adegan pembuka dimana sang pemeran utama pria dan pemeran utama wanita bertemu kemudian jatuh cinta.”

Kris mengatupkan bibirnya. Kemudian udara keluar dari celah-celah kecil bibirnya. Ia berusaha menahan ketawanya namun tawa itu lepas begitu saja perlahan. Hingga perutnya sakit.

Um, Itu lelucon yang cukup lucu Jaejoong hyung.”

“Wah, terima kasih. Tapi sebagai informasi, aku tidak sedang melucu lho.”

“Ya, ya, tapi kau cukup menghibur tadi. Oke cukup.” Kris mengatur napasnya hati-hati. “Nah, jadi sekarang mari kita bicarakan tugas mengumpulkan bintang ini. Apa kau memiliki ide dari mana aku harus memulai?”

Jaejoong membuka i-pad besar miliknya dan mulai menyentuh layar di sana. Ia menunjukkan sebuah pergerakan galaksi yang muncul begitu saja di sana. Tanpa memiliki waktu untuk berdecak kagum pada kejeniusan Jaejoong, Kris serta-merta menatap layar dengan serius.

“Apa ini?” Katanya.

“Grafis posisi langit malam dua puluh sembilan Februari. Bintang sudah tidak ada pada posisi seharusnya dan tidak ada yang tahu kedua belas bintang tersebut jatuh dimana. Setidaknya itu yang para astrolog katakan. Tapi Hashimoto-sensei mengatakan bahwa ia melihat bintang di atas langit Korea. Jatuh satu per satu dan tersebar di sini.”

“Aku sudah mendengarkan itu dari sensei. Langsung saja pada pokok permasalahan, Hyung.”

“Oke, baiklah.” Jaejoong menutup I-Padnya. “Aku tidak menjamin seratus persen bahwa hipotesisku benar. Tapi aku bisa mendiskusikan ini padamu. Secara teori, bintang yang jatuh mungkin secara tak kasat mata ada di beberapa tempat di Korea, tersebar di satu kota dan kota yang lain secara terpisah. Aku dan Sensei meyakini bahwa harusnya demikian. Tapi,”

Jaejoong diam, menunggu reaksi Kris. “Tapi?” Kata Kris akhirnya.

“Tapi, jika memang demikian adanya, aku pasti bisa melacaknya dengan mudah karena spirit force yang mereka miliki. Faktanya, aku tidak bisa menemukan satupun dari mereka dengan kekuatanku yang sekarang. Bagaimanapun, aku hanya asisten penjaga bintang, bukan penjaga bintang. Kekuatanku memiliki batas.”

Kris melipat tangannya di depan dada. “Jadi yang ingin kauceritakan adalah ketidakmampuanmu dalam melacak atau ada sesuatu yang salah dalam sistem penyebaran para bintang?”

Jaejoong tertawa. “Yang kedua tadi itu benar.” Jaejoong menggaruk kepalanya. “Ada kemungkinan besar, para bintang ini menjadi soul di dunia. Ia menempel pada manusia dan perlahan berfusion (melebur jadi satu) dengan mereka. Sehingga spirit forcenya tidak bisa dilacak. Mereka mungkin takut dengan Zeus.”

“Apa berfusion dengan manusia begitu berbahaya?”

“Berbahaya jika mereka terlalu asyik menjadi manusia dan menolak untuk dikembalikan ke langit. Para bintang begitu sensitif. Zeus lebih sensitif lagi. Mungkin ia akan meluluh-lantakkan Korea jika ia tahu para bintangnya tidak ingin kembali ke langit.”

“Lalu saranmu?”

“Tidak ada.”

Um?”

“Aku benar-benar tidak memiliki saran positif untuk kau, Kris. Sebaiknya kau cepat temukan si-matahari, setelah itu kita bisa rencanakan ini lebih lanjut. Sementara ini, kau harus tetap bersekolah. Aku mendaftar sebagai guru di sebuah sekolah elit, kau juga harus ke sana. Penyamaran adalah poin penting.”

Kris mengangguk. Ia menggeser tubuhnya semakin jauh dari Jaejoong. Kris memandangi sepatu biru yang ada di pangkuannya. Kemudian ia bersandar pada kaca mobil tanpa menorehkan ekspresi apapun.

.

.

“Aku tahu kau adalah anak dari seorang pengusaha terpandang Korea. Tapi keterlambatan se seratus delapan puluh dua kalinya bukanlah salah satu hal yang bisa ditolerir, Nona Kwon Yuri.”

Yuri kini berdiri bersisian dengan Eunji. Keduanya tidak bisa duduk melainkan harus melewati inspeksi dadakan dari kepala sekolah. Wanita gempal dengan bentuk tubuh tidak proporsional itu—seperti biasa—mampu membuat peluh seluruh siswa dan siswi yang hadir di sana menetes lebih intens.

Selain karena wajah sang kepala sekolah yang tidak enak dipandang, juga tentang isu kekejaman kepala sekolah baru ini yang merebak bagaikan oksigen.

“Tapi ban mobilku benar-benar—“

“Kau sudah mengatakan itu ketika minggu lalu kau terlambat, Nona Kwon Yuri. Aku mencatatnya.” Wanita gempal itu menunjukkan sebuah buku besar dengan berbagai catatan nama murid-muridnya yang melanggar peraturan. Lengkap! Termasuk alasan, toleransi dan hukuman dari tiap-tiap pelanggaran.

“Impresif sekali.” Eunji mengangguk-angguk. Ini bukan saatnya terkagum-kagum, bodoh! Inginnya Yuri mengatakan itu di telinga Eunji dengan kencang namun saat ini wanita gempal itu memicingkan maniknya pada mereka.

Phew, Ini akan menjadi hari yang buruk. Gumam Yuri.

Mulut si wanita gempal membuka—dari sini, kita bisa menyebutnya Miss Phil—sepertinya, ia bersiap untuk mengucapkan perintah-perintah hukuman untuk keduanya. Dewi Fortuna masih bersama Kwon Yuri hari ini. Suara dehaman kencang dari Yunho, sang pemilik sekolah sekaligus penyandang dana tertinggi sekolah swasta elit tersebut kini mendominasi Phil.

Phil menyingkir, mempersilakan Yunho masuk.

“Maaf mengganggumu Phil Sonsaeng, aku ada perlu dengan kelas ini sebentar.” Katanya. Phil keluar dengan wajah masam dan dendam begitu mendalam pada Kwon Yuri. Sedangkan gadis itu terkekeh pelan kemudian diam-diam duduk di bangku kosong paling depan bersama Jung Eunji.

Keduanya baru saja menaruh tasnya di atas meja, kemudian dengan seksama, mendengarkan pengumuman penting yang disebut-sebut oleh Yunho.

“Tengah semester ini, kalian kedatangan murid pindahan dari Jepang.” Katanya. “Namanya Kris Wu.”

Krek.

Pintu terbuka. Derap langkah seorang pria dalam balutan tuxedo, topi ala Charlie Chaplin dan kacamata hitam kini menjadi pemandangan utama. Yuri tidak berkedip. Bukan karena ia terpana karena gaya busananya. Namun ia takjub.

Dia!

Pria brengsek yang sempat ia lempar sepatu.

Si pemuda tuxedo sialan!

Yuri merapatkan tangannya kemudian membuat suara krek dengan semangat yang berapi-api. Maniknya memicing seolah ia baru saja menemukan mangsa baru untuk dikerjai. Perlu diketahui, meskipun Yuri adalah orang terpandang di sana, namun reputasinya tidak begitu baik. Selain dikenal karena kecantikan dan kekayaannya, ia juga dikenal dengan sifat angkuh dan jahilnya.

Semua pria di sana sudah ia kerjai dengan telak. Beberapa gadis yang mencoba melawannya juga sudah ia taklukan.

Tidak ada yang bisa melawan Kwon Yuri.

Ada satu yang bisa. Bocah ingusan sepuluh tahun yang lalu.

Pemuda dalam balutan tuxedo itu menyapa. “Namaku Kris Wu,” saat ia mencoba melengkapi kalimatnya, ia melepaskan topi hitamnya. Rambut hitam yang menawan, deretan gigi putih yang sempurna, hidung yang begitu mancung ditambah wajah tanpa cela, kini mampu membuat beberapa wanita terpana. Mereka terpedaya atas ketampanan dari seorang Kris Wu.

“Salam kenal.” Katanya ramah. Senyumnya sanggup melelehkan gunung es di antartika dan membuat kelas bergemuruh. Para pria kini memandang sinis pada pemuda tersebut. Sementara kaum wanita tidak hentinya membentuk pujian-pujian pada mulutnya.

“Silakan duduk di mana kau mau, Kris.” Kata Yunho. Kris mengedarkan pandangannya. Pemandangan gadis-gadis Korea yang seperti ini adalah hal yang tidak pernah kusuka dari negara ini. Katanya dalam hati. Lalu matanya berhenti pada sebuah bangku dengan seorang gadis yang terlihat begitu marah.

Pipinya menggembung bagai ikan fugu, ditambah pipinya merona begitu merah. Ralat, bukan merona, tapi pipinya benar-benar merah. Jika adegan itu ada di dalam kartun, maka dari kepala si gadis kini keluar asap yang membumbung tinggi.

Kris mencoba tersenyum pada gadis itu. Namun senyum itu digagalkan sang gadis dengan lompatan tinggi. Kris pikir bahwa gadis ini akan memeluknya atau semacamnya, jadi ia tidak mundur. Namun ketika sebuah sepatu tinggi berwarna biru menghantamnya dari depan, Kris tahu bahwa ia salah.

“Kau,” Seorang wanita kini menjatuhkannya di depan kelas, mempermainkan dirinya di hari pertama ia masuk ke dalam penyamaran sempurna. Darah keluar dari hidungnya dan ia tahu kenapa. “Pemuda tuxedo brengsek!” Lanjut gadis itu.

Kris baru saja akan bangkit, namun kaki telanjang gadis itu menginjak tangannya yang terkulai di atas lantai dengan seenak jidat. Segenap mata wanita yang memandang kini mengumpat keji pada Kwon Yuri, satu-satunya gadis yang berani melempar Kris dengan sandal biru berhak tinggi.

Eunji baru saja bangun dengan air liur yang masih menempel di pipinya. Ia tidak melihat Yuri. Maniknya mengedar, mencari keberadaan sahabatnya itu. Namun ketika ia tidak menemukan apapun selain kegaduhan, ia memilih terlelap kembali.

.

.

.

TBC

.

.

TA-DA. Akhirnya bisa aku post juga chapter pertama dari TOZ. Konfliknya belum muncul sih, aku sedang memperkenalkan karakter dari masing-masing peran utama. Yuri yang semrawut, Kris yang sok cool ditambah Eunji yang tukang molor. Oke ini perpaduan apa banget, tapi aku enjoy banget dengan Fanfiksi ini. Semoga rasa enjoyku ini bisa menular kepada yang baca ya, semoga aku bisa sharing gimana senengnya aku pas buat fanfic ini pada kalian. Oke, HWAITING. Wait for the second Chapter next week *wink*

94 thoughts on “TALES OF ZODIAC #1

  1. BestfriendExoSone berkata:

    Eunji hebat di saat genting masih bisa tidur..
    pantes Eunji bisa bertahan, yang ngerasa jengkel bukan Eunji tapi Yuri, dikacangin terus sama Eunji, di bailk kata-katanya..
    keren ni ff

  2. Naa berkata:

    Uwooohhh! lagi nyari-nyari tentang artikel dua belas roh bintang di anime Fairy Tai, eh tau-tau nyasar kemari😄 humm, yummi nih fanficnya. aku sering baca-baca fanfic, tapi fanfic film, novel, atau anime gitu di Fanfiction.net~
    Penulisannya asik dibaca dan gak ngebosenin.Karakter Eunjinya lucu. Eh saya juga seneng bobo dan gampang PW. Jadi mirip-mirip lah imutnya hihi. Kalo karakter Yurinya manusiawi, gak baiiiikk banget kayak malaikat, tapi masih punya hati. Rada nyebelin, tapi gak sampe tingkat minta di cakar hihihi😄
    Jadi sebenernya tipe-tipe kayak Yuri gini yang saya senengin buat dijadiin tokoh utama😉
    Untuk isi ceritanya belum mau komen ahh~ cap cuss ke chapter duanya dulu~!

    Oh! Aku pendatang baru nihh di website inihh. Salam kenal :3
    Dan ummm saya bukan kpop lovers nihh. gapapa yaa ikutan gabung disini :3

  3. SSY_ELF berkata:

    Pembukaan yang keren eonni! Kris sang penjaga bintang*jd berdebar2
    O.O Yuri hyper(?) bgt ya…
    Jaejoong->”pertemuan Kris sama Yuri kayak drama” betul..betul..
    aku suka karakter Eunji disini.. kkk ‘unik dan lucu’

    KrisYul Jjang! Eonni Jjang!!

  4. minyul generation berkata:

    |̶|̶a=D|̶|̶a=))|̶|̶a=D|̶|̶a=))
    Keren eonnie,, gag ngebayangin kalo yuri asli a kek gitu,,
    |̶|̶a=D|̶|̶a=))|̶|̶a=D|̶|̶a=))
    Aku baca next chapter ya eonnie

  5. Jelita berkata:

    Eonn… Skrg aku bsa lbih teraraah berimajinasinya… Coz, si melli udhh “meracunii” ku dgn EXO hahhaaaaa, over all, thiss FF as always .. Awesome🙂

  6. daphne berkata:

    Mencoba membaca ulang ff ini soalnya pertama baca ngak terlalu tertarik•-•)v Jung Eunji seperti oasis diantara ketegangan KrisYul hehe.. Lanjut~

  7. sinta dewi berkata:

    ff ini di publish bulan desember2013,saya bacanya di bulan desember 2014 berarti dah setahun nih ff… keep writing ya nyun…hwaiting….

  8. Hn_avy berkata:

    Haloooooo!kakak berjumpa lagi bersama sya Hn_avy…kak ini ide cerita bgus bingits…aku sih termasuk reader baru y soalnya cuman beberapa ff aja yang udah aku baca di blog ini
    Izin berpetualang y kak ^^
    Jadi kpengen punya temen kyk Eunji gak ribet,ngiri banget sama Yuri..

  9. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Hallo kak^^ ternyata ff ini keren banget.. Kemaren kemaren sempet baca yang part 10 dan otak ku gak nyambung, mungkin karena gk baca dari awal , sekarang baru ngerti deh.. Hihi.. Ijin baca yang part 2 ya..

  10. wulan berkata:

    ffmu selalu aja keren eonn…
    saat aku membaca ff ini, aku merasa nntn film deh, bukannya membaca…

    ah, yul eonn. dipertemuan pertama aja dia udah kesel sma kris oppa. apalagi nanti klau ketemu setiap hari..??

  11. NIZA berkata:

    ya ampunnnnn pnasaran ama apa yang trjadi ke krisyul couple
    hhhhh next next next
    hwaiting…… !!!!!!

  12. Lulu Kwon Eun G berkata:

    idih kak Nyun… mkan nya apa sh kak? gila ide2 nya keren bgt.. aaah suka bgt, nyesel aq baru baca skrg,,baru part 1 loh udah fall in love lg ama ff.a~
    demi apapun beruntung bgt ada author yg suka Yuleon kya kak Nyun ini,,
    aq suka karakter Yuri disini,, tp apapun yg Yuri peranin aq suka sh hhe, eh ada Eunji nya,,
    aq izin baca TOZ ini ya kak..^^makasih

  13. Hye Bin berkata:

    Bocah ingusan sepuluh tahun lalu. Apa dia Kriss?
    Aduhh masalah nih, pertemuan kedua high heels melayang hahaaha

    Izin lanjut bacaaa kak🙂

  14. Anonym berkata:

    Entah kenapa aku lebih tertarik sama tingkahnya si jung eunji, tidur 12jam sehari? Astagaaaaa😀 hahaha yuri beneran semrawut dahh ah main lempar-lempar aja tuh sepatu xD kris yg sabar ya :3

  15. blackchocolee berkata:

    “Untung bukan sepatuku yang kau
    lempar. Terima kasih ya!”

    Seriusan cengoh di bagian ini, bahahahahahaha xDDD

    Ohiya nyun, aku baru tau kamu punya blog sendiri; kirain kamu cuman nyangkut di IFK #poorme

    Adegan pembuka yang khaaas banget dari dunia drama~ mobil mogok, tempat jauh dari jangkauan, ponsel tertinggal, but your description give us another feel, kkkk~ salute!!!

    Jarang2 ada yg mengangkat mitologi zodiak sebagai bumbu utama sebuah fanfiksi loh :3, two thumbs up, Nyun :3

    Udah ah segitu aja dulu xDD, takut gabisa komen di part selanjutnya, hihihihi~

    Salam sayang~

    Blackchocolee

    #timpuksayadenganmaskyuhyunpliss XDD

    • bapkyr berkata:

      Hehehe aku di IFK temporary doang kalau bosen maen di sini. By the way haluuuw. Terima kasih udah baca! Jangan berekspektasi banyak soal teknik nulis di tales satu ini soalnya aku mulai nulisnya tahun lalu, pas masih transisi dari nulis ‘apa adanya’ ke nulis yang ‘benar adanya’. Hehe. Nanti kalo nemu typo anggap aja ga ada yah hahahahaha.

  16. nurulnijma90 berkata:

    Yuri emg badass nih!!😁adegan ngelempar sepatu apa bgt dah,ga kebayang dah ktmu sm korban lemparannya di sekolah,hahaha..mn cwk kece mcm kris lg.
    Huwoo..udh berasa serunya,wlo bru baca ch.1..go to next chap*wushhh*

  17. lalayuri berkata:

    Wah kak nyun ceritanya lucu gitu ya, tpi karakter yuri disini bener” wow gitu deh kak, sulit untuk dijelaskan, krisnya juga cool bgt. Suka bgt sama pairingnya, walaupun aku paling sukanya sama YulHan *wkwk dan sepertinya jalan ceritanya menarik sekali. Castnya banyak, populer semua pula. Apalagi Yurinya wkwk, cocok bgt jadi anak populer. Aku next ya kak

  18. SorayaYulbba berkata:

    Kenalin kak nyun aku Aya reader baru. Wah ini Ff tahun 2013 tapi baru baca 2016 padahal udah ngebiasin yuri udah dari tahun 2011 T_T soalnya emang dulu aku suka yg romance2 gitu dari pada action. jadi ya gak ketemu dah ni ep ep :3 Keren bgt kak nyun kok bisa ya idenya sekeren ini sih o_o cara penggambaran ceritanya bener2 excelent bgt.

  19. febrynovi berkata:

    uwaa hallo kaknyun xD

    aku suka karakter yuri disini xD kris mah teteup ya cool city guy gitu xD
    eunji……… aduh unexpected hahaha xD

    keren kaknyun!❤

  20. alia_aqilla berkata:

    kak maaf aku baru bisa coment aku bisa minta pw nya the sorcere’ssorcerer’s diary kak and last gomawo kak aku udh kirim ini 7 kali tap i gak si ladenin akirnya aku bikin yang baru dan tolong ya kak bisa dikirim ke email aku putrialia991@gmail.com makasih ya kak

  21. vanny00 berkata:

    annyeong eon.. (uname lama: phannia)
    mampir baca ff disini lagi, kangen baca ff bapkyr. kangen sama ff ini.. pdahal udah sering baca tapi tetep suka.. masih ditunggu lanjutannya eon..
    keep writing.. fighting!!! 😊😉

  22. Choiindah berkata:

    Annyeong authornim aku reader baru.,Waktu awal2 agak gak ngerti sama ceritanya,,tpi kesini2 mulai ngerti aku.Jadi kris dtugasin buat ngumpulin bintang2 demi keselamatan dunia.Pertemuan pertama krisyul kyaknya kurang enak ya,kris yng nggak mau bantuin yuleon waktu mobilnya mogoK.,Ya ampunn si eunji molor muluu pantes dia selalu ketinggalan berita ,

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s