TALES OF ZODIAC #2

Toz Krisyul 5

Karena aku bosan, jadi aku post TOZ keduanya lebih cepat dari jadwal. Selamat Membaca🙂

Read the Part 1 nya lagi ya.

***

“Namanya Kwon Yuri dan keluarganya merupakan salah satu penyokong sekolah ini.” Kata Jaejoong. Ia baru saja membalut kain kasa pada luka di tangan Kris yang sebenarnya tidak terlalu butuh pertolongan. Kris tidak mengaduh, ia menyimpan umpatan yang tidak bisa ia keluarkan di depan orang yang ia hormati seperti Jaejoong.

“Oke. Tapi Hyung, pertanyaannya adalah,” Kris berdeham. “Sejak kapan kau ada di sekolah ini dan tahu segalanya?”

Jaejoong menjatuhkan perbannya. Ia tertawa. “Apa yang tidak kuketahui, anak bodoh? Aku ini Kim Jae Joong! Aku mendaftar sebagai tutor di kursus online di sekolah ini sebelumnya, baru kali ini aku masuk sebagai guru tetap. Wajar kan aku tahu segalanya?”

Kris berdecak. Ia mengakui kelincahan dan pengetahuan Jaejoong. Tapi ia tidak bisa mengucapkannya begitu saja di depan pria itu. Harga dirinya akan runtuh sementara kepala Jaejoong bisa semakin besar, pikirnya.

“Kwon Yuri itu adalah wanita yang memukul wajahku dengan sepatu birunya sesaat sebelum aku menjemputmu, Hyung.”

Jaejoong melebarkan senyumannya. “Benarkah?” Kris menggedikkan bahu. “Dan barusan kau juga dilempar sepatu lagi olehnya. Dia gadis yang benar-benar unik. Kudengar dia memang pembuat onar di sekolah.”

Kris mengangguk namun ia berdecak kesal bagai anak kecil. “Tapi tetap saja hyung, dia tidak berhak mengatakan aku brengsek di depan semua orang tadi. Hancur sudah imageku.”

“Sabarlah sedikit, Kwon Yuri memang gadis seperti itu. Yunho sebagai pemegang kekuasaan tertinggi saja sudah tidak bisa apa-apa lagi di depan gadis itu. Apalagi kau.”

Kris tidak menunjukkan ekspresi apapun selain decakan kesal. Ruang kesehatan yang menjadi latar belakang perbincangan keduanya kini dijejali oeh beberapa gadis yang merintih kesakitan. Ada total sepuluh ranjang di sana dimana sembilan di antaranya di isi oleh gadis-gadis yang sesekali merintih kemudian melirik ke arah Kris.

Sebagian besar gadis di sana memakai make-up lebih tebal daripada yang Kwon Yuri pakai. Sepatu dengan hak tinggi serta gemerincing perhiasan di setiap anggota gerak dari tubuhnya. Anting, gelang tangan, jam mahal, gelang kaki, cincin, apapun yang dapat memperindah tampilan luar mereka, para gadis itu memakainya.

Bulu mata yang kelewat lentik dan sangat panjang serta alis yang dilukis sedemikian rupa—Kris menyebutnya lukisan pantat bebek, karena bentuknya yang terlalu melengkung bagai kurva—membuat Kris tidak henti-hentinya menggelengkan kepala sembari berharap Jaejong segera menuntaskan perban di tangannya.

Hyung?” Kata Kris.

Um?”

“Apakah sekolah ini memang begini?”

“Maksudmu?”

“Pakaian bebas, dandanan menor dan wanita genit?”

Jaejoong tertawa, sehingga para gadis sibuk mencuri pandang pada keduanya. Kris menutup wajahnya dengan topi yang ia letakkan sedemikian rupa sedangkan Jaejoong baru saja selesai dengan kotak medisnya. Ia menepuk pundak Kris, menyamarkan hubungan keduanya agar terlihat seperti guru dan murid, bukan rekan kerja.

“Begitulah.” Kata Jaejoong. Ia membawa kotak medis itu ke sebuah ranjang dengan salah seorang wanita yang disinyalir pingsan sejak beberapa menit yang lalu. Mata kanan Jaejoong berkedip jahil pada Kris, kemudian ia membiarkan pemuda tinggi itu keluar dengan gelengan berkali-kali di kepalanya.

.

.

Brugh!

Sebuah hantaman keras mendarat di punggung Yuri. Barusan sekelompok wanita yang terdiri dari tiga orang bertubuh layaknya model profesional mendorong tubuhnya pada tembok toilet. Jung Eunji bersembunyi di balik toilet. Bukan karena ia takut, tapi,

“Jangan keluar dari sana Jung Eunji, aku bisa mengurus ini sendirian.”

Lagi-lagi, Kwon Yuri selalu saja mengatakan itu setiap dirinya dilanda dengan masalah. Namun pada akhirnya, Jung Eunji akan keluar sebagai penyelamat—tentunya dengan segulung kain kasa dan obat penghilang luka—Yeah, Kwon Yuri tidak jago dalam perkelahian keroyokan, hanya egonya saja yang terlalu tinggi.

“Mengurus ini sendirian, katamu? CIH!”

BRUGH!

Sebuah pukulan—lebih ringan daripada didorong ke dinding, namun rasa sakit yang Yuri terima sebenarnya sama saja. Mungkin yang patut ia syukuri adalah wajahnya yang berhasil menghindari pukulan tersebut. Akan sangat merepotkan jika dirinya pulang ke rumah dengan rona kebiruan dan kemerahan di wajahnya. Bisa-bisa ayahnya akan mengutus algojo paling mahal untuk membalaskan apa yang teman-teman Yuri lakukan padanya.

Merepotkan kan?

“Apa masalahmu?” Kata Yuri, setengah berteriak.

“Bukan apa masalahku! Tapi apa masalahmu, Nona Besar!” Kata salah seorang wanita paling kiri. Rambutnya dibuat ikal memanjang, warnanya keabuan selaras dengan korneanya yang berwarna abu cerah. Seperti kucing, pikir Yuri.

“Apa yang kulakukan pada kalian?”

Tangan Yuri dipelintir, rambutnya tidak luput dari jambakan. Kini ia berada di posisi begitu lemah. Hingga napasnya terengah-engah. Heran!

Yuri merasa heran. Beberapa kali ia terlibat dalam perkelahian antar-wanita dengan ganknya seperti ini, belum pernah ia selelah ini.

Apa karena…

PLAK.

Kali ini sebuah tamparan pedas di pipi kanannya. “Kau melukai Kris Wu. Itu masalahmu.”

Karena aku melukai Kris Wu katanya? LUCU SEKALI!

“Memangnya kenapa kalau aku melukainya? Asal kau tahu, dia yang terlebih dahulu mencari masalah denganku. Kwon Yuri tidak akan memulai api jika tidak ada asap, catat itu!”

Sebuah tangan hendak menamparnya lagi. Tapi kali ini kaki kanan Yuri yang bebas membuat gerakan ke belakang, melumpuhkan kaki-kaki dari seorang gadis yang menjambak rambutnya. Kwon Yuri melakukan putaran seratus delapan puluh derajat kemudian kaki kanannya yang panjang, sukses mendarat di batok kepala sang gadis yang ada di kanan dan kirinya secara serentak. Kini ketiganya terjatuh dengan sukses di atas lantai toilet yang lembab.

Sambil mengerling jijik, ketiganya menatap Kwon Yuri dengan geram.

“Jangan memulai permusuhan denganku hanya gara-gara pria berotak setengah dengan setelan tuxedo itu. Kalian bukan pembantunya, berpikir jernih dong!”

Tiga gadis itu perlahan berdiri, salah seorang dari mereka membuat kuda-kuda menyerang namun dua temannya yang lain menahannya. “Kita tinggalkan saja dia.” Bisik salah seorang di sebelah kanan. Yuri menyeringai.

Kini ketiganya pergi, meninggalkan Yuri yang sibuk membenahi tatanan rambutnya dan busananya. Eunji baru keluar dari toilet dengan kantung panda di bawah matanya. “Apa mereka sudah pergi?” kata gadis itu.

Yeah. Seperti yang kaulihat?”

“Baiklah, lain kali biarkan aku bersenang-senang juga.”

Not a chance, Jung Eunji. Kwon Yuri bisa menangani hal-hal seperti ini.”

Jung Eunji berdecak atas kekehan luar biasa menyebalkan dari mulut Kwon Yuri. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali kemudian meninggalkan Yuri sendirian di dalam toilet. “Aku ke perpustakaan.” Kata Eunji.

“Aku iku—“

Kwon Yuri membiarkan kalimatnya menggantung di udara ketika punggungnya terasa begitu panas. Ia urungkan niatnya untuk menyusul Eunji keluar dari toilet. Malahan, kini ia mengurung dirinya di sana dengan mengunci pintu utama toilet dengan kencang.

Yuri berdiri di depan cermin besar, di depan lima wastafel yang kering.

Ia membuka kancing kemejanya satu per satu hingga tidak tersisa satu pun yang mengunci. Yuri melepaskan bajunya sembari memutar tubuhnya kira-kira tiga puluh derajat hingga ia bisa melihat punggungnya.

Ada pendar kemerahan di sana.

Bukan.

Itu oranye.

Yuri melihat pendar itu baik-baik. Sebuah lambang hitam muncul di atasnya. Sebuah lambang lingkaran besar dengan dua belas lingkaran kecil yang mengelilinginya. Yuri tidak pernah tertarik untuk membuat tato, jadi jelas lambang tadi bukan sebuah tato.

Ia mengerutkan dahi. Peluhnya menetes. Perkelahian dengan tiga wanita tadi memang melelahkan, tapi biasanya tidak terlalu menguras energi seperti ini. Yuri menatap kosong pada punggungnya. Ia mencoba mengamati gambar dengan lebih teliti di sana. Namun otak Yuri tidak bisa menangkap apapun selain kesakitan dan rasa perih yang luar biasa.

Yuri merasakan tanah yang ia pijak bergetar begitu hebat. Kemudian lambang tersebut bergerak, memutar di atas punggungnya layaknya sebuah jarum jam. Tidak ada darah ataupun cairan bening seperti nanah yang keluar dari pori-pori punggungnya, tapi tetap saja, gadis itu merasakan perasaan seperti disayat dan dikuliti. Begitu panas!

Begitu luar biasa sakit hingga berteriakpun terasa sangat menyulitkan.

Yuri merintih karena ia tidak mampu melakukan ekspresi kesakitan dengan banyak energi—seperti berteriak, contohnya.

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat kemudian duduk begitu saja di atas lantai. Baju Yuri masih tergantung berantakan di atas tubuhnya. Lambang lingkaran besar itu masih berputar di sana, membuat Yuri tidak kuasa menahannya lagi. Ia ambruk dengan posisi telungkup.

Tidak, ia tidak pingsan.

Mata Yuri masih membuka lebar. Fragmen-fragmen malam dua puluh sembilan Februari masih berbayang di otaknya. Sebuah cahaya dengan pendar oranye di gelapnya malam. Ia ingat betul.

Apa ini, efek dari kejadian waktu itu?

.

.

Flashback.

Mungkin butuh kursus bagi seorang Kwon Yuri untuk mencintai dengan tulus. Malam ini, dua puluh delapan februari jam sebelas malam, aku baru saja menghancurkan hati seorang pria. Sudah kali ke delapan belas.

Tidak, dia tidak melakukan kesalahan fatal di mataku. Tapi ketika ia menyebutkan betapa beruntungnya aku, rasanya aku ingin mendorongnya ke dalam Sungai Han. Sungguh. Aku tidak suka untaian kalimat itu. Dia tidak tahu betapa sulitnya menjadi Kwon Yuri!

Tapi itu hanya alasanku saja sih.

Alasan sebenarnya adalah, aku benci pria!

Oh, tidak, tidak. Bukan karena aku menyukai wanita. Tapi aku benar-benar membenci pria. Ya, kautahu benci seperti seorang pria mengatakanmu jelek dan ketinggalan jaman. Pokoknya aku benci pria.

Kenapa aku membenci pria?

Salahkan saja bocah ingusan sepuluh tahun lalu. Bocah laki-laki itu adalah yang pertama kusukai! Aku sampai mau repot-repot memberinya sebuah syal rajut—yang kucuri dari kamar pembantuku, tentunya—demi menyatakan perasaanku.

“Aku tidak menyukaimu, kau jelek.”

Oh aku ingin muntah!

Pria itu adalah pria pertama yang mengatakan itu padaku. Dan Hey? Dia siapa mengatakanku jelek? Memangnya dia lebih baik dari semua pria di dunia ini? Memangnya dia pangeran?

Amarahku selalu meluap jika menceritakan masa laluku yang begitu pahit. Bocah ingusan itu untungnya sudah pindah beberapa hari kemudian. Aku melupakan namanya, ini bagian tersulitnya.

Aku, mungkin saja membalaskan dendamku pada pria itu sambil meludahinya atau semacamnya. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku lupa namanya. Bahkan tampangnya. Semuanya! (Eh, tapi jika dia memakai syal lusuh itu, mungkin aku bisa mengenalinya.)

Jadi itu sebabnya, aku tidak menyukai semua pria.

Bisa saja kan, pria yang baru saja kuputuskan malam ini adalah bocah ingusan itu? Mana aku tahu kan?

Jadi setelah aku memutuskannya, kini aku berjalan di sebuah gang kecil. Di ujung gang tersebut ada sebuah minimarket kecil dengan tampilan bangunan yang tidak begitu menarik. Pemiliknya adalah seorang nenek tua yang ramah. Aku senang berada di sana. Nenek yang kuceritakan tadi itu memiliki masalah dalam pendengaran, jadi aku bisa bercerita padanya tanpa perlu repot-repot memikirkan nenek tadi akan membocorkannya pada orang lain. Toh, ia tidak bisa mendengarnya.

Tapi kemudian terjadi masalah.

Aku tidak tahu bahwa hujan masih turun di bulan Februari. Sebuah petir tiba-tiba menyambar tiang listrik di dekat minimarket tersebut. Aku berlari, bergegas menuju tempat tinggal sang nenek. Ada bunyi-bunyi sengatan listrik di atas kepalaku. Namun suara teriakan dari sang nenek lebih dulu membawa langkahku untuk terus maju. Aku masuk ke dalam minimarket yang sudah gelap, aku mencari di segala sudut hingga aku memberanikan diri menelisik ke setiap ruangan yang ada di sana.

Nihil.

Suara nenek itu terasa begitu dekat di telingaku, namun aku tidak mendengar apapun. Pokoknya nihil.

Karena aku pikir tadi itu hanya ilusi, aku keluar dari minimarket. Tapi aku kaget luar biasa. Karena kini ada satu, dua, tiga, empat… WOW! Tiga belas makhluk aneh ada di depanku. Sebentar, mungkin dua belas sih, karena ada salah satu yang memikili satu badan dengan dua kepala.

Aku pikir ini hanya mimpi jadi kutampar pipiku dua belas kali—jumlah yang sama dengan makhluk yang kulihat—karena kupikir akan berpengaruh terhadap alam bawah sadarku.

Lagi-lagi kukatakan, nihil.

Kedua belas orang aneh itu berjalan mendekat. Salah satu dengan badan singa menyentuh pundakku. Aku berteriak, namun teriakanku ditenggelamkan oleh petir yang menggelegar dan menjatuhkan sebuah tiang listrik di dekatku.

Manusia berbadan singa itu kemudian menghilang, namun aku merasa punggungku begitu panas.

Setelahnya, satu per satu makhluk aneh itu menyentuhku. Pemuda unik yang membawa sebuah guci air, seorang wanita dengan timbangan, seorang pemuda dengan cangkang kepiting, pemuda dengan badan kerbau, pemuda dengan badan domba, pokoknya hal-hal aneh itu menyentuhku. Kemudian, semuanya menghilang.

Dan seperti sebuah keajaiban di negeri dongeng—oke, dalam fase ini aku merasa seperti Alice—tiba-tiba saja hujan berhenti. Petir mereda dan tiang listrik yang jatuh kini berdiri tegak di posisinya kembali.

Eh? Sebentar, apa tadi?

Ya. Aku tidak salah lihat kok! Tiangnya memang berdiri kembali, tegak, dengan posisi yang tidak bergeser satu sentipun. Aku melirik ke belakang dimana pintu minimarket kini membuka lebar. Seorang nenek muncul dari sana dengan kening berkerut penuh tanda tanya. Kurasa ia barusaja mengatakan “Kenapa kau hanya mematung di sana daritadi?”

Kenapa aku mematung katanya?

Tunggu.

Apa dia tidak melihat dua belas makhluk aneh yang bergantian menyentuhku kemudian menghilang?

Apa nenek itu tidak merasakan bahwa, di depan minimarketnya, baru saja sebuah tiang listrik jatuh kemudian berdiri kembali?

Tunggu.

Tunggu.

Apa ini hanya aku dan imajinasiku saja? Tapi kenapa pipiku begitu sakit?

Kalau ini hanya imajinasiku, kenapa perih akibat dua belas kali tamparan ini begitu terasa nyata? Kenapa perih di punggungku terasa sangat menyayat?

“Ingin beberapa yoghurt?” Kata sang nenek tua. Aku bergeser dari ambang pintu. Aku duduk di sebuah balai kayu dengan peluh yang masih menetes-netes. Aku tidak tahu apa itu tadi, tapi perasaan mencekam ini, aku harap segera menghilang.

“Ya, mungkin yoghurt akan membuatku lebih baik, Nek.”

 

End of flashback.

.

.

“Tidak mungkin kan karena hari itu?

Yuri merintih, badannya berusaha untuk berdiri tegak namun rasa sakit di punggung masih tidak mengijinkannya. Yuri mendesah panjang sambil melihat peluh dari dahinya membanjiri lantai toilet. Celana jeans yang ia pakai bagai menyapu lantai lembab tersebut. Yuri menggelinjang.

Tok. Tok. Tok.

Sebuah suara di pintu mengagetkannya. Yuri panik.

Tidak boleh! gumamnya. Tidak boleh ada satu orang pun yang masuk dan melihatku seperti ini!

Dengan rasa sakit yang masih menyulut-nyulut punggungnya, Yuri memakai kemejanya kembali dengan susah payah. Ia mengancingkan satu per satu anak kancing di depan dadanya dengan ekspresi yang begitu menyakitkan.

Saat suara tersebut muncul lebih banyak, ditambah suara-suara berisik dari gadis-gadis di ambang pintu, Yuri semakin panik. Apalagi suara gemerincing kunci didengarnya dari luar. “Tidak bisa, ada kunci yang masih menempel di dalam sana.” Kata seseorang di luar sana.

Yuri menggeser tubuhnya yang masih belum sanggup berdiri pada sebuah tembok paling dekat. Ia bersandar di sana dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Rambutnya benar-benar berantakan dan kemejanya kusut.

Bahaya, mereka tidak boleh melihatku seperti ini.

Yuri menggigiti bibirnya. Ia memekik pelan kemudian memejamkan mata. Pertama kali dalam hidupnya, ia berdoa.

“Mungkin seseorang sedang melakukan sesuatu di dalam, kita dobrak saja.” Seru seorang gadis. Yuri makin panik. Suara-suara yang sama kemudian bermunculan di balik pintu. Yuri menggeleng, berharap semua hanya ilusinya seperti yang pernah terjadi padanya.

Tapi nasib buruk, suara hantaman keras pada pintu kini didengarnya. Yuri tahu bahwa seseorang—bahkan seluruh sekolah—akan tahu ada sesuatu yang salah dalam punggungnya. Yuri takut! Takut seseorang akan mengolok-oloknya sebagai wanita aneh. Jadi ia meringkuk, berharap semua orang itu pergi.

Brak.

Pintu terbuka. Segerombolan gadis muncul di ambang pintu dengan kecurigaan. Yang pertama masuk adalah seorang pria dengan rambut hitam. Ia menggapai tangan Yuri dengan penuh kehangatan. Yuri mengenali pria itu sebagai Kim Jaejoong, guru baru yang belakangan semakin populer di kalangan siswi-siswi seantero sekolahnya.

“Kau akan baik-baik saja, Yuri.” Katanya.

Darimana ia mengetahui namaku? Yuri tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan menjawab apapun. Mungkin, Jaejoong ini adalah salah satu yang mengetahui namanya dari daftar blacklist para guru—seperti guru yang lain. Yuri enggan menerima uluran tangan tersebut sementara para gadis di belakang Jaejoong berbisik gaduh.

Yuri masih merasakan rasa yang begitu sakit di punggungnya, namun ia menunjukkan ekspresi yang baik-baik saja.

“Aku bisa membantumu.” Kata Jaejoong dengan nada suara yang dikecilkan. Yuri masih tidak menerima uluran tangan tersebut. Maniknya kemudian membelalak sejurus kemudian, menatap mata berbinar dari Jaejoong dengan tidak percaya.

Barusan, Jaejoong berkata. “Kau telah melihatnya kan? Dua belas makhluk aneh yang turun di malam itu?”

Jaejoong tentu saja tersenyum, dia tidak mungkin menawarkan bantuan dengan ekspresi misterius seperti kalimatnya. Tangannya masih ia ulurkan pada Yuri sedangkan Yuri memilih membuka mulutnya lebar-lebar, menunjukkan ekspresi bodoh dengan mata yang menyala-nyala.

BAGAIMANA DIA TAHU!

.

.

Oke, guru ini mengesankan. Benar-benar mengesankan. Tapi,

Yuri melirik malas pada seseorang yang berbaring dengan sebuah buku di wajahnya. Ia mendengkur kemudian menggerak-gerakkan kakinya sembarangan. Di atas tubuh pemuda itu, berserakan berbagai sampah; kulit pisang, bungkus snack bahkan kaleng cola. Pemuda itu akan menggaruk kepalanya sekali setiap lima menit, kemudian melemparkan sampah-sampah yang tersisa di tubuhnya ke sembarang arah. Well, malang bagi Yuri karena kepalanya baru saja terantuk sebuah kaleng cola terbang.

TAPI KENAPA PEMUDA TUXEDO SIALAN INI ADA DI SINI JUGA!

Bruk.

“Ouch.” Kris menggelinjang di atas lantai marmer. Baru saja tubuhnya mendarat di sana dengan sukses. Ia mengusap-usap pantatnya kemudian memeriksa persendian tangannya kalau-kalau luka biru meninggalkan jejak di sana.

It’s fine.” Kata Jaejoong kemudian. Ia membawakan Yuri sebotol air putih yang berbuih. Iris matanya yang keabuan menangkap sosok Kris tengah menatap Yuri tidak senang. Yuri membalas, hingga membuat adegan saling pandang yang penuh kebencian selama beberapa detik ke depan. Jaejoong seolah-olah keduanya menatap dengan sengatan listrik yang bisa saling menyerang satu sama lain. Oh, atau mungkin Jaejoong berlebihan.

Jaejoong tahu sih bahwa Kris baru saja jatuh dari kursi. Tapi It’s fine miliknya tadi memang ditujukan untuk Yuri bukan Kris. Jaejoong tahu betul bahwa sahabatnya itu tidak membutuhkan it’s fine darinya untuk saat ini.

Jaejoong berjalan lagi. Yuri memerhatikannya dengan perasaan campur aduk. Selain karena ia begitu canggung di hadapan dua pemuda yang baru saja ia kenal, Yuri juga secara bias sedang menutupi rasa sakit yang masih menghinggapi punggungnya setiap beberapa mili sekon sekali.

Rasanya benar-benar menyakitkan apalagi ketika ia harus berpura-pura baik-baik saja di depan kedua pemuda di depannya.

Yuri ingat, sejak Jaejoong membawanya ke sebuah ruangan pribadi miliknya—yang mana merupakan ruangan Kris juga—Jaejoong tidak mengatakan apapun melainkan membuat sesuatu di atas panci dan mengaduk-aduknya beberapa kali. Namun ketika Yuri ingat lagi, ia yakin bahwa Jaejoong tidak memasak di atas kompor. Jadi, ya, pemuda itu hanya meletakkan panci di atas meja kemudian mengaduk-aduk cairan-entah-apa di dalamnya selama beberapa menit.

Yuri pikir guru tampannya itu sudah gila, jadi ia membiarkannya. Ia memiliki beberapa kesimpulan  yang cukup masuk akal ketika melihat Kris yang tertidur dengan beberapa sampah juga Jaejoong yang gemar memasak tanpa kompor; kedua orang ini sudah gila.

“Jadi, itu apa?” Kata Yuri pada akhirnya. Jaejoong belum meletakkan botol berisi air berbuih itu pada meja kecil di depan Yuri namun Yuri agaknya sudah mengetahui apa yang ingin pemuda itu lakukan padanya. “Kau ingin aku meminum ini?”

Kris mengusap pipinya berkali-kali. Ia benar-benar tertidur untuk beberapa saat setelah Jaejoong membawa Yuri ke ruangan mereka tadi. Sehingga, ia tidak tahu persis apa yang Jaejoong lakukan dengan puring water—cairan berbuihyang sedang ia bawa dalam botol.

“Apa yang kaurencanakan kali ini, Hyungie?”

Yuri melirik penuh tanda tanya pada Kris. Hyungie katanya? Cih, siapa sih dua pemuda ini?

“Namamu Yuri kan?” Jaejoong mengalihkan pembicaraan sehingga Yuri berhenti menatap sinis pada Kris. Yuri tidak lantas mengangguk, maniknya mengedarkan pandangan waspada terhadap pria yang seharusnya menjadi tutor di kelasnya besok.

“Pertanyaanku belum kaujawab ya Pak Guru. Jadi, jangan mengajukan pertanyaan lain padaku.” Kata Yuri. Kris melirik kaget kemudian—seakan tidak mau kalah—dirinya melemparkan pertanyaan juga pada Jaejoong. “Jawab dulu pertanyaanku, Hyungie.”

Jaejoong menindai kedua makhluk di depannya dengan senyuman tanpa arti. Sedetik ia memaku tatapannya pada Yuri, lalu lebih banyak memicing pada manik Kris. Sejurus kemudian Jaejoong tertawa hingga air di dalam botol yang ia genggam bergoyang hebat.

“Kalian ini kenapa?” Katanya.

“Kau yang kenapa, Hyung. Gadis ini, siapa yang bertanggung jawab membawanya masuk ke sini?”

Mulut kecil Yuri membentuk umpatan-umpatan tidak terdengar. Setiap matanya melihat pada sosok malas yang kini berbaring kembali di atas sofa, segumpal kemarahan meluap-luap dari kepalanya.

“Ada sesuatu yang perlu kutunjukkan padamu, Kris.” Kata Jaejoong. Kris mengintip dari celah kecil di matanya yang enggan membuka penuh. Masih dengan beberapa buku yang masih menutupi separuh dari wajahnya, ia melihat Jaejoong bergerak mendekat pada Yuri.

Yuri tersentak. Maksudnya, dari tadi ia hanya memandang kesal sosok Kris tanpa menyadari Jaejoong diam-diam berjalan mendekatinya. Ketika tubuh guru tampan itu berada sangat dekat dengannya, barulah Yuri menggeser tubuhnya mundur dengan waspada.

“Jangan kurang ajar ya padaku, Pak Guru.” Ancam Yuri. Gadis itu kini membawa tubuhnya berdiri sementara kakinya gemetar kecil. Ia terpojokkan hingga tubuhnya bersandar di dinding yang terdekat. Jaejoong hanya tersenyum penuh arti sambil mengocok-ngocok air berbuih di dalam botolnya. Kris tanpa kesan mendalam, hanya melihat.

“A—aku masih gadis! Berhenti di sana!” Kata Yuri lagi. Kalimat itu dengan begitu saja keluar dari bibirnya setelah ia tidak menemukan tanda bahwa Jaejoong akan berhenti mendekat. Yuri mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Yuri bersiap menyerang kapan saja.

Saat langkah ke sekian Jaejoong membawanya hanya berjarak dua meter saja dari Yuri, gadis itu berteriak dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Jaejoong tersenyum.

Yuri berlari dengan tenaga penuh sambil melancarkan tendangan setengah melayang di udara pada Jaejoong. “JANGAN MACAM-MACAM DENGANKU PAK GURU!” Yuri mengatur tubuhnya sedemikian rupa sehingga kedua kaki telanjangnya kini melayang di udara. Telapak kakinya siap dijejalkan kepada dada Jaejoong dalam sepersekian detik.

Yuri tidak memedulikan lagi bahwa dirinya menggunakan rok pendek saat ini. Memang ia memakai celana pendek sehingga gadis itu tidak perlu khawatir akan hal-hal yang lain. Tapi tetap saja, bagi Kris yang tidak sengaja melihatnya, itu sungguh memalukan.

Yuri mengangkat alis ketika dalam gerakan slow motion, Jaejoong tidak menghindar. Lucunya lagi, ketika telapak kaki gadis itu hendak menghantam dadanya, pria itu malah menumpahkan isi botol pada wajah Yuri.

Mwo—Mwoya!” Dengan teriakan super keras, tubuh Yuri terpelanting jatuh dengan pantat mendarat pertama kali di atas lantai. Matanya menjadi sangat perih, lebih seperti melepuh. Jaejoong tidak berhenti sampai di sana. Dengan air berbuih yang masih tersisa di dalam botol plastiknya, ia menumpahkannya di atas kepala Yuri, hingga tubuh gadis itu basah.

“I—ini apa! Kau—kau melakukan apa!” Yuri masih belum bisa berpikir jernih. Matanya masih berkedut, hidungnya perih seperti disumpal berton-ton cabai. Pori-pori wajahnya melepuh. Ditambah lagi kini badannya begitu basah sehingga tubuhnya benar-benar kesakitan.

Walaupun jenis kesakitannya sama seperti yang ia derita sebelumnya, namun ada perasaan yang berbeda ketika rembesan air itu menyentuh punggungnya. Seperti luka sariawan yang ditempel vitamin C. Awalnya begitu perih sampai rasanya Yuri tidak bisa berpikir apapun, hingga syarafnya menegang dan ia tidak dapat berteriak lebih keras. Namun dalam sepersekian detik kemudian, punggungnya kemudian menjadi lebih ringan. Rasa sakit yang sebelumnya menusuk-nusuk kini pudar perlahan. Yuri mungkin tidak menyadarinya tapi Kris dan Jaejoong kini melihat segumpal asap keluar dari punggungnya. Ditambah pendar oranye yang muncul dan hilang sesekali.

Kris menjatuhkan bukunya.

Jaejoong tersenyum penuh arti kemudian merentangkan tangannya pada Kris. “Ini yang ingin aku tunjukkan.” Katanya.

Yuri mendongak dan melihat tatapan kalap di manik Kris. Apa yang Jaejoong barusan katakan, ia juga mendengarnya. Jadi, setelah punggung dan rasa sakitnya perlahan memudar, gadis itu berdiri penuh pertanyaan.

Ia belum membuka mulut, namun Kris berdiri tiba-tiba dan itu membuatnya kaget setengah mati. Kris kini mengangkat kerah kemeja Jaejoong tinggi-tinggi. “Kau bercanda kan?”

Yuri yang melihat ingin sekali berteriak dan mengatakan Hey, dia itu guru lho pada Kris. Namun kalimatnya tidak pernah keluar. Ia membatu sambil perlahan mengambil jalan menyamping begitu pelan ke pintu keluar—tidak ingin diketahui siapapun.

“Tidak. Spirit Forcenya aku kenal betul. Dia bisa membantu.” Kata Jaejoong. Meskipun Kris masih dihantam rasa tidak percaya. Namun kata-kata Jaejoong tidak pernah sekalipun salah. “Barusan puring-water juga membuktikannya kan? Gadis itu adalah pilihan kedua belas bintang.”

BRUGH.

Yuri kini terduduk di atas lantai. Ia menatap Jaejoong dan Kris ragu-ragu. “Ma—maaf. Aku terpeleset.” Kata Yuri terbata. Kris melonggarkan kepalan tangannya di kerah Jaejoong. Kedua pria itu menatap Yuri tanpa berkedip.

Merasa begitu aneh, Yuri segera berdiri. Ia menepuk-nepukkan roknya yang sebenarnya tidak begitu berdebu. Lagipula roknya masih basah. “Se—sepertinya aku harus—“

“Tidak. Kau tetap di sini.” Kata Jaejoong, mengulas senyum tulus. Ia berjalan ke arah pintu kemudian memutar kuncinya dua kali.

Em,” Yuri mencari kalimat dengan pikiran kalut. Ia tidak tahu yang ada di hadapannya ini kawan atau lawan. Pun tidak tahu identitas keduanya setelah ia mendengar hal-hal aneh tentang dua belas bintang dan semacamnya. Satu yang pasti yang dapat gadis itu simpulkan, apapun mereka, target dua pemuda itu adalah dirinya. Dan itu tidak bisa disembunyikan. “Sepertinya akan ada sedikit kekerasan di sini.” Kata Yuri.

Tanpa peringatan, Yuri menjatuhkan tubuhnya dalam posisi telentang. Kedua kakinya yang panjang membawa keberuntungan telak pada gadis itu. Ia menjepit kaki Jaejoong dengan kaki-kakinya, kemudian menjatuhkannya di atas tanah. Yuri tidak begitu memerhatikan bahwa Jaejoong terjatuh dengan posisi telungkup.

“Maaf atas hidungmu, Pak Guru.” Kata Yuri. Ia bergegas berdiri, bersiap menerima serangan balasan dari Kris. Namun tidak sesuai ekspektasinya, Kris hanya terbengong dan mematung di sisi yang lain. Tidak berusaha menyelamatkan Jaejoong ataupun memihak pada siapapun. Jadi Yuri dengan leluasa dapat memukul punggung Jaejoong sekali lagi kemudian menggeser tubuh gurunya ke sisi yang lebih jauh dari pintu.

Yuri memutar kunci pintu sebanyak dua kali kemudian bergegas membukanya. “Maaf atas kekacauan ini, aku akan membereskannya lain kali.”

Bam.

Pintu kemudian tertutup sempurna, meninggalkan Jaejoong yang tertatih berdiri.

“Kenapa kau tidak menghentikan gadis itu?” Kata Jaejoong kesal. “Aduh duh.” Lanjutnya, mengerang kesakitan.

“Aku tidak mau.”

AH WAE! Aku dipukul begini demi membawa gadis itu kemari, anak bodoh!”

“Dia menyebalkan.” Kata Kris. Pemuda itu kemudian duduk kembali di atas sofa. “Dia benar-benar gadis yang menyebalkan. Sama menyebalkannya dengan gadis sepuluh tahun lalu.”

Jaejoong menatap tak percaya kemudian menggulung lidahnya di pipi sebelah kanan. Ia berdecak kemudian berjalan cepat demi menjambak rambut adik sepupunya itu. “Aduh!” Kris mengaduh, kulit kepalanya perih. “Kenapa kau begini sih!” Kata Kris lagi, sembari memukul punggung tangan Jaejoong.

Jaejoong menggeleng. “Haish, aku tak percaya kau masih seperti ini pada para gadis hanya karena gadis kecil sepuluh tahun lalu. Bangun Kris! Kau ini anak bodoh. Tidak heran Yuri memperlakukanmu seperti itu.”

Kris diam saja. Ia memainkan ponselnya kemudian menggeser tubuhnya, memberi ruang agar Jaejoong dapat duduk di sebelahnya.

“Kau tahu tidak,” Kata Jaejoong. Kris niat tidak niat mendengarnya. “Gadis itu baru saja dipukuli oleh gadis-gadis lain.”

“Pantas saja. Gadis itu memang menyebalkan kok.”

Ey,” Jaejoong menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Dia itu dipukuli karena para gadis yang lain tidak terima Yuri melempar kau dengan sepatu siang tadi.”

“…”

“Hey Kris,”

“…”

“Kau berempati?”

No.”

“Kenapa kau diam saja?”

“Apa aku harus mengatakan OMO, Malang sekali gadis itu. Biar aku nikahi saja dia biar tidak ada yang mengganggunya? Seperti itu, apa menghiburmu, Hyung?”

Jaejoong terkekeh sementara Kris beranjak dan melemparkan sebuah bantal pada Jaejoong. Kris berjalan meraih sebuah gelas dan mengisinya penuh dengan air putih. Perlahan, ia meneguk cairan itu hingga gelasnya kosong.

“Tapi Kris,” Jaejoong duduk bersila di atas sofa. Wajahnya tersungut-sungut sementara keningnya berkerut. “Jika kau tidak segera berkooperasi dengannya, aku tidak yakin dia akan baik-baik saja sampai besok. Perlu kuingatkan lagi, selain kita—para penjaga bintang—yang mencarinya, ada beberapa orang yang juga berniat memanfaatkannya. Jika kau terus seperti ini, aku tidak yakin jika esok kita masih bisa bertemu dengan gadis itu.”

Jaejoong melemparkan bantal ke arah Kris yang baru saja menaruh gelas kacanya di atas meja. “Pikirkan baik-baik Kris.”

.TBC.

RCL Masih ditunggu ya. Ayo dong semangatin aku biar FF yang lain juga cepet kelar :p

91 thoughts on “TALES OF ZODIAC #2

  1. Banana Kim berkata:

    Eunji mana ya? Kok ilang ‘-‘)/ padahal dia tokoh paporit, suka tidur~
    curiga manusia manusia yang di kiash 10 taun itu mereka bedua, auuu~ kodenya keras ya^^
    lanjutt!!

  2. yunique eka cahya berkata:

    Hello Kris ada apa dengan korea? Emm,,, sprtiny slain Kwon Yuri yg Hyperactive, Kwon Yuri jga memang sombong haha😀 Tpi eon ehmm,,pas bgian yg 12 makhluk aneh mlai mendekat ke arah kwon yuri, kemudian memegamg pundak ny dan tiba2 menghilang itu, khusus ny buat gemini itu wujud my na ya eon? Memyerupai sosok dua orang kembar kah? atau gambar tongkat atau jga sesuatu yg sma persis? tpi eon ini story bner2 keren, dan sya samgat ska pair ny, Krisyul gitu loh!!! My otp shipper🙂 Pkol ny smua ny sya ska, gomawo ka nyun🙂 ^_^

  3. lee haera berkata:

    eonnie.. mianhae ya u,u baru nongol sekarang buat komen. baru bisa skrang on u,u

    oke, ga bnyak komentar yang pasti ff mu daebak😮 aku lanjut dulu yang lain :* haha

  4. Naa berkata:

    Hoooo? Jadi ujung-ujungnya bakal ada CLBK nih si Yuri sama Kris~ araa pasti lah si cowok kecil cinta pertamanya itu Kris haha
    Suka pas dibagian si Yuri kabur dari ruangannya JaeJoong. Keliatannya enak banget gitu ngebanting cowok haha😄 hmm. Yuri si cewek tangguh!😄
    Terus pas Yuri disamperin satu-satu sama kedua belas zodiac itu.. uuu agak horor juga sih ya kalo ngebayangin bentuk-bentuk anehnya mereka. Horor, tapi aku ketawa juga pas baca haha
    dan cairan berbuih yang kayaknya ramuan itu ngebuat aku ngerasa kalo JaeJong itu alkemis deh. Walaupun aku yakin ini nggak ada hubungannya sama alkemis juga sih haha

    umm kira-kira zodiac apa yaa yang pertama muncul?

    oke-oke! Kabur dulu ke chapter tiga~

  5. SSY_ELF berkata:

    haha image kris hancur… maksudnya image sok cool mu oppa? -_-v
    eitss Yuri gak genit kok oppa!
    wah.. di korea ada Wonder Yuri.. keren!
    hmm clue nih.. pasti Kris namja 10 tahun lalu itu. sekarang mereka bertemu kembali~
    Aigo… uri jaejoong*plakk* kasian…

    oke! lets read next part~
    Eonni Jjang!!

  6. minyul generation berkata:

    Jadi kebawak suasana,,
    Love krisyus
    Hehehe
    Jadi sebenar a mereka ud ketemu 10 ton yg lalu yaaa,,
    Next chapter ya eonnie,,
    Hwaiting,,

  7. priscilla berkata:

    Kereeennnn ffnyaa .. aku reader bru disini hehe ^^ aku suka bgt sma yuri jd aku cri” ffnya yuri .. trus akhirnya ketemu ini ff .. keren thor haha ga salah milih baca ini kkkkkk ~

  8. Hn_avy berkata:

    Makin kesini makin seru!!izin melanjutkan petualangan y kak ^.^
    Eunji ilanggggg!!!…ah pling tidur d perpus smbil pura-pura baca buku..-_-
    Apa bocah ingusan itu Kris,kah?o.O
    Kyaknya nenek itu gak cuman tuli deh…pasti ada sesuatu dengan penglihatannya*MikirKeras
    Yaudah sekian dulu^.^

  9. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Siapa tuh gadis 10 tahun lalu?? Kata kata kris buat yuri selalu aja kocak, si yuri udah berani mukul gurunya , haha.. Okedeh, aku mau lanjut baca ^^

  10. wulan berkata:

    makin seru….
    jangan” bocah laki” 10 tahun lalu itu kris oppa??

    aku mau lanjutin baca dlu yah eonn…

  11. NIZA berkata:

    iiiihhh gk kbayang gmna rsa skit yg d tanggung yul onnie, psti skit bngettt
    btw jaejoong ama kris lucu jga hahahahhaha
    next next next
    hwaiting!!!!!!

  12. Lulu Kwon Eun G berkata:

    hiyaa… ini aq lg baca ff ato komik manga sih? ih mantep bgt..
    dr treaser.a jg udah keren2 tokoh2.a beuh mantep smua, KrisYul somplaq.. haha tp kasian jg Yuri nya
    kaya.a sh yg bocah2 10thn lalu itu krisyul ya kak..
    oww mkin penasaran,, izin lnjut ya kak.

  13. Hye Bin berkata:

    FF nya bener-bener daebak..
    Wahh bener nih ternyata KrisYul udah pernah ketemu sepuluh tahun lalu.
    Yuri gadis strong wkwk abis dipukuli trus kesakitan di tubuhnya masih bisa mukulin Jaejoong.

    Udah deh Kris, buang gengsi nya dulu. Samperin tuh Yuri.
    Semangat nulisnya kaakkk!!!

  14. Rania SonELF berkata:

    Paling senang baca fanfic di blog ini;);):) soalx critax keren” smua & yg psti krna di ada ff KrisYul:):)

  15. Anonym berkata:

    Wahahaha jaejong kasian amat kris ngga nolongin lagi😀 hahaha si eunji jadi penyelamat pake kain kasa xD jadi laki-laki 10 tahun dihidup yuri itu kris sama cewe menyebalkan 10tahun lalu dihidup kris itu yuri? Pasti bakal keren ini :3

  16. blackchocolee berkata:

    Ohohohoho~ dugaanku klo Yuri itu The Chosen Girl langsung terbukti di chapter ini, aku sukaaa~

    Kamu gak bertele-tele dalam merangkai inti cerita, gak njelimet muter-muter dulu kesana kemari kayak sinetron televisi sebelah #malahcurhat

    Dan jangan2 baik Kris ataupun Yuri itu sama2 tokoh ‘sepuluh tahun yang lalu’? Wkwkwkwk

    Anyway I’m still enjoying read this fanfiction~ jangan bosen-bosen ketemu aku di kolom ini yaaa, puahahahhahaa…

    Lots of love,

    Blackchocolee

    #kaliinimintadedekjehwanajah #kedipkedip

  17. lalayuri berkata:

    Kak Nyun, bocah 10 tahun yang Yuri maksud itu kris kah, dan yg dimaksud kris yuri kah ? Kak nyun kapan ada romancenya, dari part sebelumnya krisyulnya berantem truss sii. Tpi keren kok kak. Semangat, aku next dulu

  18. febrynovi berkata:

    uwaaaaaaaaa <33

    kaknyun wah daebak xD maaf kalo commentku agak gimana ya karena sejujurnya aku speechless gatau mau ngomong apa xD

    aku langsung ngakak dibagian kris nyebut eyeliner atau apalah itu dengan 'lukisan pantat bebek' xD lagi baca serius langsung ngakak xD

    good job kaknyun!

  19. Choiindah berkata:

    Wahhhh daebak yuleon noihh klau ngelawan satu orng dia kuat bnget sampai2 jaejoong yng cowok aja terkalahkan,tpi sayangnya klau dia dikeroyok dia kalah.,Pasti gadis 10 tahun yng lalu itu yuleon..

  20. Ersih marlina berkata:

    Kwon yuri. Tingkahmu emang seru abis dsni hihi
    d pkir2 ga ada rsa malu kyanya deh

    umm, jadi gadis sama bocah 10 taun lalu itu kris sma yuri, hati2 jdi jatuh cinta loh

    lanjuut. Smngat ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s