[Oneshot] – GONE.

Gone

For Yulyulk’s birthday also Her No Breathing Movie Debut.

bapkyr proudly presents,

GONE.

(based on JIN-GONE MV whiches originally starring Yoojung and Xiumin)

Starring:

Kwon Yuri and Seo Inguk

.

.

Fluff, Sad-Hurt, Romance, Tragedy, Oneshot.

***

Dulu aku berharap bisa melihatmu.

Sekarang aku menyesali permohonan bodoh itu.

.

.

Duduk di antara jerami kering di lapisan tembok yang lembap sudah benar-benar kegiatan yang kulakukan sehari-hari. Aku tidak memunyai teman, kecuali kausebut tikus yang berlalu-lalang di dekat kakiku sebagai teman. Tanganku tidak bisa bebas bergerak semampuku, walaupun aku mau, aku tetap tidak bisa. Mungkin diluar sana seorang gadis sedang sibuk memamerkan gelang terbarunya pada teman-temannya, tapi aku berbeda.

Yang melingkari pergelangan tanganku bukanlah sebuah gelang. Rantai berat yang hampir berkarat serta sebuah gembok yang kuncinya tidak pernah kumiliki. Aku dipasung. Kakiku dikunci oleh sebongkah kayu panjang dengan dua lubang sebagai tempat kakiku bertumpu. Gembok lagi, gembok di mana-mana, aku terkunci.

Meskipun aku diberi makan, rasanya jiwaku ini kelaparan. Meskipun aku diberi minum, namun hatiku ini kehausan. Kau bilang dunia adalah sumber kebahagiaan, lantas kausebut apa aku yang duduk di sini. Bukan tentang keadaanku yang tidak bisa bergerak, bukan juga suasana di sini yang begitu menyeramkan, tapi harapan.

Apakah ada harapan untukku di dalam penjara bawah tanah seperti ini? Apakah ada keadilan untuk seorang gadis yang dijebloskan ke penjara atas alasan tidak masuk akal? Mata-mata Korea Utara katanya?

Bahkan aku tidak pernah melihat Korea itu seperti apa.

Aku tidak pernah tahu bagaimana negeri ini membesarkanku.

Bahkan di penjara ini, aku bahkan tidak tahu seperti apa ruangan lembap ini. Bagaimana rupa mereka yang menangkapku atau bagaimana rupaku sendiri. Apakah aku terlihat seperti penjahat? Apakah aku terlihat seperti pemberontak?

Bagaimana seorang gadis buta sepertiku bahkan bisa terlibat hal-hal seperti ini?

Krit.

Sebuah derit pintu. Tidak jauh kedengarannya, dari sebuah pintu penjara di sebelahku. Rupanya penghuni baru. Aku mengenali bau amis itu, penjaga penjara yang tempo hari menjambak rambutku. Kini ia datang dan melakukan sesuatu pada penjara di sebelahku. Beberapa suara berisik di pintu penjara terdengar. Kemudian disusul suara derap langkah yang semakin menjauh. Aku diam saja, duduk bersandar pada dinding penjara sambil menerka-nerka apa yang terjadi.

“Halo.” Suara berat yang asing. Mungkin itu suara penghuni baru penjara kosong di sebelahku. Aku tidak menjawab apapun meskipun aku penasaran. Aku sudah lupa, sudah lupa bagaimana caranya berbicara dengan baik pada orang asing. Aku sudah terlalu lama menyendiri hingga rasanya begitu aneh menemukan orang baru.

“Namaku Inguk, Seo Inguk.” Katanya lagi. “Kau pasti dituduh sebagai mata-mata Korea Utara juga kan? Siapa namamu?”

Aku memilih diam.

Aku mendengar suara berisik. “Senang berkenalan denganmu.” Katanya lagi, kini dalam jarak yang lebih dekat. Aku sadar bahwa dinding kayu tipis yang membatasi penjara kami adalah penghantar suara yang tepat. Rupanya dia ada di baliknya, sama denganku yang sedang bersandar di balik dinding kayu tersebut.

Tapi aku memilih diam.

Jemariku meraba-raba pada sebuah piring besi dengan beberapa roti yang sudah berjamur di atasnya. Aku meremasnya kuat-kuat. Aku lapar, tapi aku menolak makan tempo hari. Penjaga sudah tidak memberiku makanan dua hari belakangan, aku dibiarkan dengan sepiring roti berjamur.

Tapi aku lapar.

Aku menangis, entah berapa kalinya aku menangis. Aku potong roti tersebut menjadi dua bagian. Salah satunya, kini sudah bersarang di dalam mulutku. Rasanya sangat tidak enak, sungguh. Tapi aku lapar. Aku lapar hingga rasanya aku siap mati kapan saja.

Aku pernah berdoa pada Tuhan agar Dia segera mengambil nyawaku.

Seharusnya aku tidak perlu melakukan hal-hal merepotkan untuk bertahan hidup.

Jadi kenapa aku masih bersedia makan?

Kenapa aku masih merasa takut kelaparan?

.

.

Bruk.

Aku merasa seseorang baru saja dilemparkan ke jerami kosong tepat di dekatku. Aku mendengar suara gembok yang dikunci kemudian rantai-rantai yang bergemerincing setiap suara pemuda mendesah. Ada seseorang di dalam penjaraku dan ia dipasung sama sepertiku.

“Halo.”

Pria yang kemarin.

“Kita berada dalam satu penjara sepertinya.” Katanya lagi. “Mari saling membantu.”

Aku masih memilih diam. Kubiarkan kepalaku menunduk dan menjatuhkan helaian demi helaian rambut hingga separuh wajahku tertutup olehnya. Aku tidak ingin dilihat… bukan, tepatnya, aku tidak ingin ia mellihat wajahku.

Aku tidak tahu, mungkin saja wajahku menyeramkan.

Aku menggerakkan kedua tanganku hingga menimbulkan bunyi gemerincing pada rantai di pergelangan tanganku. Kuraih sebuah roti yang tinggal separuh di sana. Aku raba permukaannya, sudah lebih kasar dari kemarin aku memotongnya. Sudah berjamur, tapi aku lapar.

Aku meremas roti tersebut, kemudian menjadikannya gumpalan-gumpalan dalam beberapa sobekan.

“Jangan dimakan, roti itu berjamur!” Kata pemuda di depanku. Aku mengabaikannya. Dari aromanya saja, aku sudah tahu itu berjamur. Tapi aku tidak ada pilihan, jika aku tidak menghabiskan ini, mereka tidak akan memberiku roti baru. Setidaknya piring ini harus kosong. Aku melahap sebuah gigitan pertama. Rasanya sungguh lebih tidak enak dari kemarin. Aku ingin menangis, sakit sekali di dadaku. Aku ingin menangis. Lagi.

Lantas aku terbatuk, roti yang belum selesai aku kunyah kini keluar dari mulutku dan loncat entah kemana.

“Itu berjamur! Jangan dimakan, biarkan saja!” Kata pemuda itu.

Aku lagi-lagi mengabaikannya. Masih menahan tangis yang siap meledak kapan saja, aku meraba-raba permukaan jerami, mencari satu gumpalan roti yang hilang dari mulutku. Ada suara gemerincing rantai dan itu bukan milikku. Lantas tiba-tiba saja sebuah tangan meraba pipiku.

“Kau tidak bisa melihat, Nona?” Katanya. Kemudian aku merasa hatiku berdesir. Seorang pria baru saja menemukan kelemahanku.

“Aku bisa melihat!” Kataku setengah berteriak. Tapi aku sadar bahwa baru saja suaraku bergetar hebat. Rasanya tanganku ini tidak ingin diikat, rasanya tanganku ini ingin menyentuh dadaku sendiri, merasakan detakan hebat yang muncul di sana. “Tapi aku hanya sedang tidak ingin.” Kataku lirih.

Tangan kasar yang penuh kehangatan itu kini mengusap pipiku. Aku bisa saja menepisnya dengan menggoyangkan kepalaku. Namun tangan itu mengangat daguku pelan, ia mengurai rambut di depan wajahku dan menyelipkannya di belakang telingaku. Aku tersekat. Dia tidak bisa begini!

Dia tidak boleh melihat wajahku yang mungkin menyeramkan!

“Kalau ingin menangis, menangis saja. Militer bisa menahan tubuhmu di dalam sel, tapi mereka tidak bisa menahan tangismu. Jangan pernah menahannya, Nona.”

Apa katanya?

“Aku tidak menangis.” Kataku. “Aku tidak pernah menangis.”

Kemudian aku mendengar suara lembut di telingaku. “Mereka tidak akan pernah bisa membeli tangisanmu, Nona. Jika kau ingin menangis, aku akan merahasiakannya untukmu.”

Hatiku tadinya sakit. Tapi kini lebih sakit. Harusnya aku bahagia ada seseorang yang pada akhirnya bisa kuajak bicara, tapi rasanya begitu sakit di ulu hatiku. Mungkin aku seharusnya sudah mati kemarin. Mungkin seharusnya aku tidak pernah bertemu dengan pemuda ini.

Aku tidak tahu. Mungkin seharusnya aku tidak perlu mengenalkan diri pada Seo Inguk.

.

.

“Kau mau rotiku?”

“Tidak. Terima kasih.” Kataku.

Seo Inguk adalah pria yang baik. Walaupun aku tidak tahu berapa usianya, bagaimana wajahnya dan apa pekerjaannya sebelum ini, dia memiliki tempat yang layak di hatiku. Aku belum pernah tersenyum diam-diam seperti ini.

“Sudah berapa lama kau di sini?” Katanya.

“Aku tidak ingat, mereka membawaku ke sini ketika aku berusia tujuh belas.”

“Sekarang kau, um, maksudku, usiamu?”

“Aku tidak tahu.” Kataku.

Aku tidak berbohong. Aku tidak tahu. Aku sudah tidak paham bagaimana negara ini membesarkanku dalam penjara. Harusnya aku merasa empat musim bergantian mengelilingiku, tapi aku tidak merasakan kedinginan di musim bersalju, kepanasan di musim panas atau kehujanan dan basah kuyup di musim hujan.

Aku bahkan tidak tahu apakah udara yang kuhirup ini masih udara Desember, udara yang kuhirup terakhir kali di alam bebas saat usiaku tujuh belas?

“Kapan kau berulang tahun?” Katanya.

Aku tersenyum, mengingat-ingat salju yang turun di malam hari saat aku berjalan di sebuah jalan setapak dekat rumah. Ingatanku tergambar jelas saat aku tiba di rumah kemudian mendengar suara terompet dan teriakan selamat ulang tahun. Setiap orang—tentah siapa—bergantian memelukku dan mengucapkan doa-doa mereka padaku. Aku meniup lilin di atas sebuah kue lalu semuanya menjadi gelap.

Semuanya menjadi dingin.

Kemudian saat aku tersadar, aku sudah berbaring tidak berdaya di atas sebuah tubuh yang penuh cairan lengket. Baunya sangat amis. Suara tembakan dan teriakan kepedihan kini menggantikan semua terompet dan ucapan selamat. Seseorang membawa tubuhku dengan paksa. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Salju yang putih malam itu, telah berubah menjadi merah dalam ingatanku.

“Lima Desember.” Kataku.

“Wah.” Pemuda itu cukup terkesan, dari nada suaranya. “Itu besok, Yuri-ah. Kau memiliki tiga jam lagi sebelum tengah malam. Ish, bagaimana bisa kebetulan seperti ini.”

“Benarkah?”

“Bagaimana aku bisa berbohong pada gadis cantik sepertimu, Ey. Kau tidak percaya padaku, Huh?”

Aku tersenyum tipis. Gadis cantik seperti aku katanya? Bagaimana sebenarnya rupaku? Aku penasaran. Aku ingin sekali melihatnya.

Oppa,” Kataku ragu-ragu. “Bagaimana rupaku?”

Aku mendengar suara gemerincing rantai, kemudian dehaman mendadak dari pemuda di depanku.

“Kau cantik, Yuri-ah. Hidungmu mancung, pipimu begitu menggemaskan, rambutmu kehitaman dan terurus dengan sangat baik, kulitmu tidak seputih salju, tapi aku yakin bahwa kulitmu semanis cokelat panas. Kau cantik, sangat cantik.” Katanya.

Untuk pertama kalinya aku tersipu malu. Selain ketakutan dan kesedihan, sebelumnya aku tidak pernah mengenal perasaan yang lain. Seo Inguk mengajariku segala hal. Dia tahu bagaimana cara yang tepat membuatku menangis, membuatku bahagia dan membuatku tersipu malu.

“Aku akan berdoa sekarang.” Kataku.

“Tengah malam masih tiga jam lagi.”

“Lebih cepat, lebih baik.” Kataku. Aku mendengar kekehan kecil dari bibir Inguk. Aku menepukkan tanganku sekali kemudian memejamkan mata dan berdoa diam-diam pada Tuhan.

Setelah selesai, Seo Inguk menggeser tubuhnya ke sisiku. Ia berbisik, “apa doamu?”

“Apa perlu aku memberitahukannya padamu?” Kataku jahil. “Nanti Tuhan tidak mengabulkannya.”

“Siapa yang bilang begitu? Justru kalau kau menceritakannya padaku, aku akan berkata amen dan Tuhan akan mengabulkan doamu, tahu!”

Aku terkekeh karena akal cerdas dari Inguk Oppa. Dia memang terkadang menyebalkan, tapi aku tidak bisa menepis bahwa itu menghiburku.

“Baiklah.” Kataku pada akhirnya. “Aku berdoa, agar semua penderitaanku ini selesai.”

Huh?” Inguk meninggikan nada suaranya padaku seolah kecewa. “Itu saja?”

“Ya. Itu saja.”

“Kau tidak berdoa untukku?”

“Untuk apa? Kan aku yang berulang tahun bukan kau.”

“EY!”

Aku terkekeh geli. Kini aku mendengar nada suara Inguk mengecil dan menjauh, sepertinya ia kembali ke tempatnya semula, berada di seberangku. Kudengar ocehan demi ocehan yang keluar dari bibirnya dan itu semakin membuat perutku geli.

Aku juga berdoa, agar Tuhan mengizinkanku melihat wajahmu, walau sekali. Oppa.

.

.

“Seo Inguk-ssi, tuduhanmu ditarik. Kau bebas.”

Mungkin kalimat itu terdengar seperti aroma surga bagi pemuda itu. Dan seharusnya aku sangat bahagia. Tapi aku merasa begitu sedih. Lebih sedih seperti ditinggal sendiri di dalam sebuah ruangan gelap tanpa oksigen.

Aku awalnya sendiri, harusnya aku tidak apa-apa kalau Seo Inguk meninggalkanku. Dia bebas, apa yang salah dari bebas.

“Aku akan sering menemuimu, Yuri-ah.” Katanya.

Lalu kenapa! Lalu kenapa kalau kau menemuiku Seo Inguk-ssi? Apakah aku memintamu? Apakah air mata ini seolah aku menangisimu. Kau bodoh!

Kalau pergi, ya pergi saja! Jangan membuat janji-janji yang membuatku selalu menunggumu seperti gadis putus asa seperti ini. Lalu apa yang membuatmu menemuiku, Seo Inguk-ssi? Apa yang begitu menarik dariku sehingga kau menjanjikanku hal-hal bodoh.

Kau harus sadar, aku gadis buta yang dipenjara. Apa yang begitu menarik dariku?

Hanya karena kau mengatakan aku cantik, tidak berarti aku menyukaimu Seo Inguk-ssi!

Tidak!

Aku tidak pernah!

Aku tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Apakah aku bisa menangis sekali lagi? Apakah aku harus menangis seperti ini ketika aku rindu padamu?

Aku tidak pernah mencintaimu, kataku.

Tapi aku tidak pernah mengatakan jujur.

Kau tahu apa yang harus kaulakukan,

Oppa.

Sembuhkan hatiku.

.

.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku tidak berhalusinasi. Inguk ada di hadapanku, kini bukan berada satu penjara bersamaku. Aku berada di dalam sel, sedangkan dia duduk di seberang jeruji, memberikanku beberapa makanan siap saji dari sebuah piring.

Inguk tidak melupakan janjinya padaku. Ia tidak melupakanku, ia mengunjungiku setiap hari dan selalu bertanya apa aku baik-baik saja.

Aku tidak pernah berbicara padanya. Aku tidak akan pernah.

“Seminggu lagi natal, Yuri-ah.” Katanya.

Aku tidak peduli. Seperti Tuhan yang tidak pernah peduli padaku.

“Ayahku sedang mencari cara untuk membebaskanmu. Ayahku pengacara.” Katanya lagi.

Aku masih diam di pojok penjara. Bebas atau tidak sudah tidak ada artinya untukku. Aku buta. Lalu aku bisa apa di dunia luar sana. Tidak ada tempat yang layak bagi gadis buta yang sebatang kara sepertiku. Apa peduli Seo Inguk? Apa untungnya bagi pemuda itu.

Aku tidak bersuara ataupun bergerak. Namun aku mendengar suara botol kecil yang jatuh ke lantai. Suaranya sama seperti suara obat-obatan yang diberikan ibuku saat ia masih hidup dahulu. Kemudian aku mendengar batuk yang begitu keras dari arah Inguk berdiri.

Aku ingin bertanya apakah dia baik-baik saja, namun Inguk buru-buru berkata ia harus pergi padaku. Lantas aku hanya menemukan suara derap langkah keras yang pergi meninggalkanku.

Esoknya, Inguk tidak datang. Lusanya tidak datang. Esoknya lagi ia tidak datang.

Sudah tiga hari Inguk tidak datang.

Di hari keempat ia akhirnya datang.

“Kau baik-baik saja, Yuri-ah?” Katanya. Aku tidak merasa ada suara yang baik-baik saja di sana. Suara Inguk tidak seperti biasanya. Berubah, suaranya menjadi lebih berat dengan diselingi batuk kecil tiap beberapa menit sekali. Aku tidak berani duduk di dekatnya atau membalas kalimatnya. Aku hanya bisa mendengar setiap batuk kesakitan yang ia lantunkan.

Apa Seo Inguk sedang memainkan drama?

Lalu kenapa ia memilih peran menyakitkan seperti ini?

“Ayahku berhasil.” Katanya. “Administrasi sedang dalam proses. Kau akan dibebaskan besok, namamu akan dibersihkan. Kau bisa bebas dari sini, Yuri­-ah.”

Apa aku harus bahagia?

Apa Inguk harus bahagia?

Lalu kenapa pemuda itu terisak? Lalu kenapa aku merasa iba? Lalu kenapa perasaanku menjadi begitu sesak?

“Aku menitipkan beberapa barang yang bisa kaugunakan besok saat kau bebas, aku meninggalkanmu sebuah alamat. Aku tidak bisa mengantarmu karena aku harus pergi ke luar negeri, harap kau bisa menjaga dirimu, Yuri-ah.”

Jangan!

Aku ingin berteriak jika saja air mata tidak mendahului suaraku. Suara botol yang terjatuh kini bergema di telingaku sementara derap langkah Inguk semakin menjauh.

Tuhan, kenapa hatiku begini sakit?

Kenapa rasanya aku hanya menghirup penderitaan di saat seharusnya aku menangis bahagia?

Kenapa rasanya derap langkah itu tidak akan kembali untukku?

Kenapa rasanya hatiku menjadi gelap?

Kenapa rasanya begitu menyakitkan, Tuhan?

.

.

Aku berada di rumah sakit. Warna gordennya adalah hijau dan tempat tidurku berwarna putih terang. Ada infusan di sebelah kiriku juga ada monitor canggih di sana. Ada bunga-bunga yang tidak pernah kulihat ada di atas meja dekat kasurku. Di seberangnya ada sebuah jendela dengan pemandangan hamparan kota Seoul yang indah.

Seorang perawat wanita kini tersenyum di hadapanku sambil menuliskan sesuatu di atas sebuah kertas dan papan yang ia bawa. Dokter membawakan beberapa obat dan menyentuh dahiku. Kemudian ia mengangguk senang dan pergi dari hadapanku.

Aku bisa menjelaskan semuanya padamu dengan begitu detail karena,

Aku bisa melihat semuanya.

Kaudengar itu?

Aku bisa melihat!

Alamat yang diberikan oleh Inguk adalah sebuah rumah sakit. Aku melakukan serangkaian operasi yang tadinya tidak mungkin berhasil. Sepertinya Tuhan berkehendak lain, aku diberi anugerah begitu hebat.

Aku bisa melihat!

Rasanya sungguh menyenangkan, aku telah melihat segala isi rumah sakit ini. Aku melihat mereka yang tertawa bahagia di Lobby karena kerabatnya sembuh total, atau mereka yang menangis dan meraung di depan sebuah kamar rumah sakit dan di hadapan seonggok tubuh yang ditutup oleh selimut putih.

Aku bisa melihat!

Tuhan mengabulkan doaku.

Tuhan, walau sekali saja, aku ingin melihat wajah pemuda ini.

Doa di malam ulang tahunku, Tuhan mendengarnya. Tapi DIA melupakan satu hal penting, bahwa pemuda yang kuharapkan itu, belum ada di sisiku.

.

.

Kau ingat botol kecil yang Seo Inguk jatuhkan saat aku di penjara?

Aku memilikinya.

Aku menggenggamnya sampai saat ini. Berharap dengan merasakan sentuhan tangannya di sana, Seo Inguk ada di dekatku. Berharap semuanya baik-baik saja hingga Seo Inguk datang dan mengatakan bahwa ia merindukanku.

Sungguh.

Aku begitu merindukannya.

“Kau sepertinya sudah bisa bergerak bebas, Yuri-ssi.” Seorang dokter muda menyapaku. Didampingi oleh beberapa asistennya ia mulai memeriksa denyutan nadiku, degupan jantungku dan juga suhu badanku. “Semuanya normal.” Katanya.

Saat ia akan berbalik dengan rombongannya. Aku menarik jubah putihnya. Kataku, “permisi. Apa kau memiliki sedikt waktu?”

Dokter muda dengan nama Yoon Junhyung di nametagnya itu menoleh ke arahku. Ia membiarkan anak buahnya pergi tanpanya. Sedangkan dokter muda itu duduk di sebuah kursi kosong di sisiku. Tanpa basa-basi, aku menyodorkan botol obat milik Seo Inguk padanya.

“Apa kau bisa tahu obat ini digunakan untuk apa?” Kataku.

Junhyung—dokter muda itu—menyentuh botol di tanganku dengan teliti. Ia membuka tutupnya kemudian memerhatikan dengan teliti sebuah obat kecil yang ia ambil dari dalamnya.

“Darimana kau mendapatkannya?”

“Dari seorang teman,” kataku ragu-ragu. Ekspresi dokter tersebut terlihat begitu serius setelah ia membaca sebuah keterangan yang menempel seperti sticker di permukaan botolnya. “Ada apa?” Kataku.

“Aku tidak yakin, tapi,” Junhyung meletakkan botol itu di meja di dekatku. “Ini obat penahan rasa sakit di lambung.”

“Obat maag?”

“Seperti itu, tapi biasanya orang yang diberi obat ini adalah orang dengan penyakit lambung yang sudah parah dan menolak dirawat. Aku melihat labelnya dan obat ini sepertinya dari rumah sakit ini, kurasa ia adalah salah satu pasien di sini.” Jelasnya.

Aku diam.

“Sebaiknya kau memberitahu temanmu itu agar segera melakukan rawat inap. Jika saja ia menderita penyakit kronis seperti kanker lambung, ia bisa kehilangan nyawanya jika tidak cepat diberi penanganan.”

Aku masih diam.

Bahkan saat dokter muda itu pamit undur diri dari hadapanku aku masih diam.

Bahkan saat angin musim dingin yang baru-baru ini menyelinap ke sudut kamarku dan membuatku menggigil, aku masih diam.

Besok malam adalah natal.

Tapi bisakah aku memohon sebuah permohonan suci pada hari ini?

Bisakah, Seo Inguk datang padaku dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja selama ini?

.

.

“Ada banyak orang dengan penyakit seperti itu di sini, Nona. Bisa kau menyebutkan nama orang yang kaucari?”

Seorang petugas rumah sakit bertanya padaku. Ia berdiri di balik meja dengan sebuah komputer di depannya dan aku berdiri mematung di belakang komputer tersebut.

Nama?

Bagaimana jika aku menyebutkan nama Seo Inguk dan ternyata namanya adalah salah satu yang ada di dalam komputer tersebut? Bagaimana aku bisa menghadapi kenyataan bahwa Seo Inguk sakit parah? Bagaimana aku bisa menghadapi kenyataan bahwa nama Seo Inguk berada dalam daftar Pasien dan dia merahasiakan semuanya padaku selama ini?

“Jika kau tidak bisa mengingat namanya, maka kami tidak bisa membantumu, Nona.” Katanya lagi. “Permisi, masih banyak yang mengantri di belakangmu.”

“Seo,” Kataku ragu. Petugas itu memandangku. “S—seo In—“ Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku masih percaya bahwa nama itu tidak akan ada di dalam database mereka, aku masih percaya bahwa apa yang kupercayai itu tidak benar.

“Seo In Guk.” Kataku pada akhirnya.

Petugas di depanku terlihat mengangguk kemudian mengetikkan sesuatu. Ia memandangi layar komputernya beberapa saat. Kemudian menggeleng. Aku bernafas lega, kugerakkan kakiku pelan-pelan menjauh dari depan meja petugas tersebut. Lalu petugas itu memanggil namaku.

“Kamar VVIP nomor 2, Nona. Ada di lantai tiga. Kau bisa menggunakan lift.”

.

.

“INGUK-AH!”

Aku mendengar suara teriakan dari seorang wanita paruh baya di dalam kamar VVIP nomor dua. Aku bertelanjang kaki, berdiri kaku di lorong yang menuju satu-satunya kamar di depanku. Seorang pria paruh baya dengan jas perlente dan kacamata tebal baru saja keluar dari kamar, ia melepas kacamatanya dan memijit-mijit dahinya. Lantas ia melihatku, berdiri kaku, menahan tangis.

“Yuri-ssi,” katanya terbata. Ia tahu namaku. Aku tidak tahu ia siapa.

Kemudian suara jeritan melengking keluar begitu saja dari ruangan itu. Pria paruh baya itu buru-buru masuk, kemudian keluar dengan satu tubuh pingsan dan beberapa orang yang masih menangis panik di sebelahnya. Mereka berjalan, ke arahku, kemudian melewati tubuh mematungku begitu saja.

Aku ingin berjalan, aku tidak lumpuh! Aku ingin berjalan, tapi rasanya kakiku begitu berat. Aku tidak memakai alas kaki, tapi kenapa rasanya seperti ada sepatu yang begitu berat di kakiku.

Aku mendengar suara lagi, kali ini derap langkah. Begitu cepat dan berasal dari belakang tubuhku. Sejumlah orang yang berpakaian seperti dokter dengan masker yang menutup wajah mereka kini datang terburu-buru, mereka melewati tubuhku begitu saja, seolah aku tidak ada.

Rambutku tergerai saat salah satu meminta maaf karena telah menubrukku tanpa sengaja. “Maaf kami buru-buru.” Katanya.

Aku berjalan di belakang mereka yang lebih dulu berlari di depanku. Perlahan, aku mulai menyesali perbuatanku. Seharusnya aku sudah mati di penjara saat ini, dan tidak perlu tersiksa hingga rasanya sakit seperti ini.

Salahkan saja Seo Inguk!

Kenapa namanya ada di dalam daftar pasien!

Aku menggenggam botol obat pemuda itu di tanganku kuat-kuat. Aku masih berusaha berjalan, meskipun kakiku sekarang benar-benar kedinginan. Ada gadis keluar dari ruangan tersebut, seorang gadis kecil dengan air mata di pipinya. Ia berjalan ke arahku, kemudian memelukku.

Orang-orang ini begitu aneh!

Kenapa mereka semua menganggapku seolah aku adalah orang yang begitu mereka kenal?

Tangan gadis itu kemudian menggenggam tanganku. Ia menuntunku berjalan pada sebuah pintu yang terbuka lebar. Telunjuknya teracung pada seonggok tubuh yang tidak bisa aku lihat. Tubuh itu benar-benar dikelilingi oleh dokter.

Mereka begitu sibuk sementara aku hanya berdiri di balik pintu. Gadis kecil di sebelahku menangis, kemudian pergi dari sisiku begitu saja. Ia berlari, menjauh dariku dan dari kamar sibuk itu.

Aku mendengar bunyi bip bip bip yang semakin melemah. Dokter berteriak satu sama lain, aku melihat seseorang menggunakan alat kejut listrik pada seonggok tubuh di tengah-tengah mereka. Kemudian lagi, dan lagi, dan lagi.

Hingga akhirnya bunyi bip bip bip itu menjadi sangat panjang. Hanya satu nada, dan sangat panjang, tidak berhenti.

Para dokter itu sepertinya kelelahan. Mereka berpencar, melepas jubah dan masker. Kemudian menggeleng satu sama lain. Salah satu yang baru saja menabrakku di lorong tadi, keluar dari ruangan. Ia menatapku baik-baik kemudian menggeleng.

Runtuh.

Dunia seperti runtuh.

Aku melihat apa yang tidak seharusnya kulihat.

Aku mendengar apa yang tidak seharusnya kudengar.

“Pemuda itu tidak dapat bertahan lebih lama, maafkan kami.” Katanya.

Aku mengetahui apa yang tidak seharusnya aku ketahui.

Bibirku bergetar, aku tahu bahwa perasaan ini adalah ketakutan. Aku menatap kedua tanganku kemudian menangkap kerah kemeja dokter yang ada di depanku.

“INI KESALAHAN!” Sepertinya aku berteriak, pita suaraku begitu kencang dan mataku melebar. Ada angin desember yang masuk ke bola mataku. Pedih.

“Nona, tenang Nona.”

“KAU PASTI SALAH! INGUK TIDAK… INGUK TIDAK MUNGKIN…”

Kemudian mataku terpaku pada sosok di atas ranjang yang mulai dibawa keluar dari kamar. Ada selimut putih yang menutupi sosok tersebut. Mereka berhenti di hadapanku sementara aku memandangnya tidak percaya.

Tanganku meraih selimut, menggenggamnya penuh rasa ketidakadilan. Aku bisa saja membukanya sekarang dan memastikan siapa yang ada di dalamnya, tapi aku terlalu takut. Aku terlalu takut melihat wajah asing yang ada di sana. Aku terlalu takut melihat wajah pria yang tidak pernah kulihat sebelumnya kini terbaring tidak bernyawa di atas kasur.

Aku terlalu takut untuk itu.

Aku terlalu takut untuk Seo Inguk.

Aku bahkan terlalu takut untuk menangis di depan sosok yang terbujur kaku tersebut. Aku diam saja, aku diam dan merasakan kelembutan dari selimut putih yang ada di atas wajahnya.

Diam-diam, aku mencoba membuka selimut itu. Aku harus memastikan bahwa Seo Inguk tidak ada di sana, bahwa Seo Inguk tidak meninggalkanku, bahwa aku salah dan Seo Inguk tidak pernah,

“Meninggal.”

Gadis kecil tadi menangis di dekatku entah sejak kapan. “Kakakku telah meninggal, Eonni. Kenapa kau tidak menangis?”

Sekali lagi runtuh.

Duniaku telah runtuh.

Wajah pria itu kutelisik baik-baik. Lalu aku teringat akan suaranya, kekehan lembutnya dan bisikan manjanya di telingaku. Mataku terpaku pada wajah pucatnya. Aku tidak mengenali wajah itu, tapi kenapa rasanya begitu sakit ditinggalkannya.

Tuhan mempermainkan takdirku.

Aku berdoa padaNya agar sekali saja aku bisa melihat wajah pemuda ini.

Aku memang bisa melihat. Aku memang melihat wajahnya.

Tapi ini hanya sekali.

Benar-benar hanya sekali saja.

.

.

Inguk tidak pernah meminta apapun pada kami. Sampai ia mengatakan bahwa ia ingin menyelamatkan seorang gadis setelah ia ditahan beberapa hari di penjara bawah tanah. Mata yang kau miliki sekarang adalah mata miliknya, kau melihat apa yang ingin dilihatnya. Seo Inguk tidak pernah menangis di hadapan kami meskipun penyakitnya begitu merepotkan hidupnya, tapi demi operasi matamu, ia bertekuk lutut dan menangis di hadapanku. Saat itu aku tahu, bahwa saat-saat Seo Inguk sudah tidak lama lagi.

Kwon Yuri-Ssi, Seo Inguk kami sudah jatuh cinta padamu.

.

.

Dulu aku berdoa agar Tuhan mengizinkanku melihatmu.

Sekarang Tuhan membuatku melihat dengan matamu.

Seo Inguk-Ssi, apa yang ingin kau lihat, aku akan melihatnya untukmu.

Jika kau ingin melihat wajahku, aku hanya akan becermin seharian.

Jika kau ingin melihatku menangis, aku akan menangis di depan cermin seharian.

Jika kau ingin melihatku mencintaimu, aku akan melakukannya.

Di depan cermin,

Sambil terpejam dan membayangkan wajahmu

.

.

In the  place we were together

In the moments that i started to resemble you

I was so happy just by walking in the rain with you

But you are not here, you are not here

How can i live as i erase you?

.

.

.FIN.

56 thoughts on “[Oneshot] – GONE.

  1. intan berkata:

    Aku baru pertama kali baca ff yg pairingnya Yuleon sama Seo In Guk, ternyata mereka berdua cocok bangt.
    Kasian bangt Yuleon bisa melihat Inguk oppa hanya satu kali aja, dan itu pas saat Inguk oppa udah nggak ada.😥
    Kenapa harus sad ending?😥
    Huuuaaaaaaaaa…

  2. aloneyworld berkata:

    Ini entah kebetulan atau apa aku tadi baru aja nnton lagi mvnya jin yang gone dan sekarang baca ini?? Omaigat aku mewek pagi-pagi grgr ini😥 feelnya ngena banget apalagi bagian terakhirnya huaaaaaa😥 aku pernah sih baca cerita yang ngasihin matanya buat orang lain kek gini tapi entah kenapa ini nyesek banget pas bayangin jadi yurinya yaampun, dia emang minta buat sekali aja liat inguk tapi ngga beneran sekali gitu dong yaampun😥 selamat kak udah sukses bikin aku mewek X’D

  3. Callysta Hanin berkata:

    Hiks~hiks siapa ini yang naro bawang sembarangan😥😀 ,,keren kak nyun ffnya sukses bikin mewek ><

  4. Ersih marlina berkata:

    Aigoo, ksahnya mengharukan. Entah knpa aku kbwa nangis gra2 crita ini, bru prtma klinya nangis stelah bca ksah2 yg sad kya gni, biasanya cman ngrubah mood doang keke
    dan unni, jatuh cinta sma ff yg stiap unnie buat
    uggh, kalo aku jdi yuri pasti bingung, jka msih buta trus mnghrapkan inguk d ssinya sdangkan inguknya sakit kan yul nya gk bsa nlongin, trus inguk dnorin mata ke yuri ,ahirnya yuri gk bsa ngliat, tpi gk bisa ngliat inguk slmanya kan nysek,
    emm fighthing 4 U ya unni😉

  5. Choiindah berkata:

    Ya ampunn kenapa sad ending eonnii.,Kaasian yuleon dari umur tujuh belas tahun udh dipenjara gara2 disangka mata2 korea utara,trus dia ketemu inguk yng jga sama kasusnya,,ehh setelah dia bebas dan bisa lihat inguknya meninggal

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s