[Vignette] Story Of Us

bapkyr-req-storyofus

BAPKYR

proudly present,

STORY OF US

A Park Chanyeol and Kwon Yuri fluffy-sad story.

Vignette, G, Fluff, HeartBroken-able.

Thanks to banana for the awesome cover.

(This fic is based on story of us Video Clip of Taylor Swift)

***

“Yuri-ah, aku tahu ini terlalu cepat, tapi,”

Aku melihatnya! Aku melihat Chanyeol di hadapanku. Sungguh aku tidak dapat memercayai mataku, tapi benda bulat ini tidak pernah berbohong sebelumnya. “Tapi aku mencintaimu, sungguh.”

Dan, sebentar.

Apa katanya?

Pria yang telah lama kucintai, kini mencintaiku.

PULAU MANA YANG TIDAK BERPENGHUNI SEKARANG YA TUHAN, BAWA AKU KE SANA!

Tapi ini tidak bisa dipercaya. Pemuda tampan idaman seluruh gadis-gadis cantik di sekolah, kini berdiri di hadapanku dengan mata berkaca-kaca dan pipi merona merah, kemudian dengan malu-malu menggenggam tanganku dan mengatakan, dia mencintaiku.

Tolong. Ini bukan mimpi kan?

“Yuri-ah, aku mencintaimu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu.”

Se-ben-tar. Dia mengatakan mencintaiku sejak aku pertama kali bertemu dengannya? Bukankah itu adalah, dua tahun yang lalu? Apakah artinya selama dua tahun belakangan ini dia hanya mencintaiku diam-diam di balik persahabatan kami?

Kok aku merasa seperti peran utama wanita di drama-drama ya?

“Aku adalah seorang pecundang, tapi pecundang ini benar-benar ingin kau menjadi milikku sepenuhnya, mengajariku bagaimana menjadi seorang pemuda sejati. Yuri-ah, maukah kau jadi kekasihku?”

Ini suara guntur betulan atau memang imajinasiku saja. Sesaat tadi aku hanya menerima sebuah pesan singkat dari Chanyeol yang mengatakan ia menungguku di taman belakang sekolah, dan sekarang Chanyeol sudah ada di depanku, memandangku penuh harap dan memintaku jadi kekasihnya.

EH? Ini betulan ya? pokoknya hanya itu yang kemudian terpintas di otakku. Sungguh, aku memang berharap suatu saat akan ada pria yang berdiri di depanku kemudian mengatakan hal-hal romantis seperti ini padaku. Tapi bukan sekarang, dan tidak di belakang sekolah seperti ini.

Ya Tuhan!

Lantas aku berpikir kembali, kalau aku hanya diam dan membiarkan Chanyeol berlutut memintaku—meskipun akan sangat romantis—tapi hubungan kami akan menjadi canggung. Maksudku, kami teman, dan tidak seharusnya aku melihat Chanyeol memohon seperti itu. Aku juga tidak akan menolaknya sih, wong dia kan satu-satunya pria yang mampu menggaet hatiku sejak setahun lalu.

“Yuri-ah,”

“Ya.” Kataku tegas, sesaat sebelum Chanyeol mulai bertekuk lutut. Huh, hampir saja.

Uh?”

“Ya. Aku berkata ya, aku bersedia.”

“Sungguh?”

“Apa ada kata bercanda di dalam wajahku, Chanyeol-ssi?” Kataku dengan nada mengejek. Tentu saja aku menambahkan sebuah senyum tipis menandakan betapa tulusnya aku pada pemuda itu.

“Ti—tidak ada sih. Tapi,” Chanyeol menyerahkan sebuket bunga yang ia gengam kemudian menyerahkannya padaku. Tentu saja aku menerimanya dengan gerakan cepat, aku begitu bahagia hingga aku melihat sebuah kartu ucapan berwarna merah hati di atas bunga-bunganya. Kupikir, wah Chanyeol begitu romantis, di hari pertama kami bersama saja ia sudah memberiku kertas ucapan dengan warna merah hati. Jadi, kubuka saja kartu kecil itu. Saat aku mulai membaca kalimat pertama dalam kartu tersebut, Chanyeol juga mulai berbicara sambil bergerak mundur. “Tapi, aku bercanda, Kwon Yuri-ssi!” Ketika ia berada tiga meter jauhnya dariku, segerombolan teman kelasku datang dengan kue dan topi-topi pesta. Beberapa pria—yang juga teman-temanku—meniup terompet serta menerbangkan confetti di atas kepalaku.

Aku baca ulang kertas itu.

SELAMAT ULANG TAHUN, KWON YURI-SSI.

PS : Kau kena tipu!

SIALAN! Park Chanyeol mengerjaiku.

TIDAK!

Aku malu sekali.

“Yuri-ah, selamat ulang tahun!” Kata Yoona—salah satu yang paling peduli padaku dibanding yang lain. Ia mencubit pipiku gemas, sementara wajahku kini memerah. Ey! Aku benar-benar tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus aku torehkan. Aku lupa ulang tahunku, dan kini di saat hadiah terindah benar-benar datang aku malah begitu bingung.

“Omong-omong, kau benar-benar menyukai Park Chanyeol ya?” Bisik Yoona di telingaku. Aku menggelengkan kepalaku, menjauhi bibirnya yang benar-benar jahil. Gila! Tadi itu benar-benar shock therapy. Bahkan Yoona yang seharusnya menjadi sahabat terbaikku dan paling mengerti perasaanku kini mengolok-olokku seperti temanku yang lain.

Ini gara-gara Park Chanyeol!

Aku melongok ke atas langit. Oke, tidak bagus. Salju mulai turun. Aku mencoba memanjangkan leherku untuk melihat sosok Chanyeol yang sudah menghilang di balik kerumunan. Aku menandai setiap pria dengan mantel abu-abu berbulu yang kulihat, tapi tidak satupun yang memiliki ciri seperti Park Chanyeol.

Nihil.

Park Chanyeol sudah menghilang dan aku,

Aku benar-benar ingin bertanya mengapa ia melakukan hal seperti ini padaku.

.

Copyright © bapkyr

.

“Sudahlah, jangan muram seperti ini, Yuri-ah.” Yoona menepuk-nepuk pundakku. Meski dengan kado yang bertumpuk di depan mejaku, tapi di hari yang sama ini, aku juga merasa begitu kesal. Oke, bagaimana tidak? Kini semua temanku mulai mengolok-olok tentang perasaanku pada Park Chanyeol.

Bayangkan saja, hanya enam jam sampai ulang tahunku berakhir, tapi aku tidak bahagia sama sekali. Apanya yang mereka katakan best day ever.

“Ayolah, teman-teman hanya bercanda. Lagipula Park Chanyeol juga terpaksa tadi. Mereka memaksa Chanyeol untuk drama ini. Kupikir kau tidak apa-apa.” Kata Yoona lagi. Chanyeol sih memang tidak apa-apa, tapi hatiku Yoona! Hatiku!

Rasanya seperti baru saja mendapatkan permen lollipop kemudian seseorang menginjaknya dengan sepatu Loubotin. Ah, ini buruk!

Setelah hari ini berakhir, aku harus memikirkan banyak hal yang merepotkan. Menunggu olok-olok tentangku di kelas mereda, menahan kecaman dari senior wanita yang mencintai Chanyeol juga, memperbaiki hubunganku dengan Chanyeol. Ya Tuhan!

Benar. APA YANG HARUS KULAKUKAN TENTANG HUBUNGAN PERTEMANANKU DENGAN CHANYEOL?

Kami pasti benar-benar menjadi sangat canggung setelah ini. (Rasanya aku ingin menangis saja dan mengunyah batang pohon aren sambil berteriak DUNIA ITU KEJAM.)

“Sudahlah Yuri-ah. Ini bukan sesuatu yang besar kok.” Yoona berusaha meyakinkan—apa yang sebenarnya sia-sia—padaku, namun kalimatnya dipenggal suara bel pulang yang begitu nyaring. Lantas Yoona memasukkan segala buku ke dalam tasnya sementara aku meminta agar dia mengatakan pada orang tuaku kalau ada jam tambahan untukku pribadi di kelas.

Ya, aku perlu pergi ke suatu tempat dan menyendiri dulu.

Sekarang pukul enam malam. Sekolahku memang selalu berakhir di jam-jam seperti ini. Ini pun sudah paling cepat karena biasanya aku bisa pulang larut (sekitar pukul tujuh atau delapan malam.) Karena aku tidak bisa pergi terlalu jauh dari lingkungan sekolah maupun tempat tinggal, aku memutuskan untuk pergi ke taman di sebuah komplek pemukiman di dekat sekolah.

Ada semacam taman bermain untuk anak usia lima tahun sampai tujuh tahun. Di sana ada sliding, ayunan, semacam permainan panjat tebing yang rendah, pasir, dan sisanya permainan-entah-apa—karena aku tidak tahu namanya.

Aku suka duduk di sebuah ayunan dengan dudukan kayu. Biasanya sih ada pedagang eskrim yang lewat, jika saja aku setengah jam lebih cepat. Agaknya aku memang benar-benar harus menyendiri kali ini, tanpa makanan atau minuman, hanya aku dan ayunan.

Aku memandang bintang-bintang, salju masih menghiasi wajahku sejak tadi sore. Aku merapatkan mantelku dan memakai penutup telingaku. Ayunan yang kududuki kini kugerakkan perlahan dengan kakiku. Sesekali aku mendesah kalau ayunan itu berhenti, namun aku akan menggerakkannya kembali dengan malas.

“Kenapa begini sih, Park Chanyeol.” Kataku dalam nada rendah.

Ini tidak baik. Aku tidak tahu apakah aku masih berani memandang wajah Park Chanyeol atau tidak, atau berbicara dengannya, atau menghirup aroma tubuhnya. ARGH! Tak tahulah!

Aku menggelengkan kepalaku kemudian memukul-mukul dahiku beberapa kali sambil menyesali betapa bodohnya aku hari ini. Tapi bukan salahku juga kan, ini salah Park Chanyeol juga.

Aku kesal!

“AH PARK CHANYEOL KAU MENYEBALKAN!” Aku meledak dalam kekesalan sehingga secara tidak sadar aku berteriak begitu saja. Untungnya taman itu sedang sepi, kalau tidak aku pasti sudah dikerumuni anak kecil yang meneriakiku sebagai orang gila.

“Kau memanggilku?”

EH?

Hantu ya?

Aku menoleh ke samping, melihat sumber suara yang tiba-tiba muncul di dekatku. Awalnya aku hanya melihat semak-semak, aku merinding. Namun sejurus kemudian seseorang bermantel abu-abu dengan bulu-bulu tebal muncul di balik semak-semak. Ia membawa dua buah gelas—yang aku tidak tahu isinya kopi atau racun untuk membunuhku.

Ketika wajahnya disinari lampu taman, aku baru mengenalinya. “Park Chanyeol?”

“Ya, itu aku. Ada apa ya kau meneriakiku malam-malam?”

Sial. Dia bertindak seolah semuanya tidak pernah terjadi. Kini pemuda itu menyerahkan salah satu gelas yang ia bawa padaku. “Kopi hangat?” Katanya.

Aku menerimanya dengan ragu-ragu. Meskipun sangat penasaran apa yang membuatnya begitu santai di dekatku—sementara aku begitu gugup hingga ingin mati—tapi aku tidak bisa begitu saja bertanya padanya. Ia terlihat baik-baik saja, setidaknya, tidak seperti aku yang kacau.

“Kau tidak pulang? Ada masalah di rumah?”

Masalah ada padamu, idiot. Inginnya aku mengatakan itu padanya. Tapi dia tidak mungkin peka melihat kondisi pemuda ini yang begitu santai mengobrol denganku. “Ya, ada sedikit masalah dengan kakakku yang baru saja pulang dari Amerika.”

Aku berbohong dengan sukses. Tidak ada masalah yang besar dengan Kwon Jiyong, kecuali tentang keluarga kami yang berantakan. Jiyong sudah dibawa ke Amerika oleh Ayahku sejak ia bayi. Orangtua kami bercerai dan aku selama ini tinggal dengan ibuku. Park Chanyeol tahu betul keadaanku. Jadi kemungkinan ia percaya pada ceritaku adalah delapan puluh persen.

“Kwon Jiyong ya? Apa yang dia lakukan?” Bingo. Dia percaya pada kalimatku.

“Hanya kesalahpahaman kecil sih. Wajar saja, dia masih hidup dengan gaya orang Amerika. Aku tidak begitu kaget.” Kataku. Tidak lupa aku menambahkan kekehan kecil. “Dan kau? Apa yang kaulakukan di sini?”

Chanyeol sedang menyesap kopinya hati-hati di saat aku bertanya. Jadi aku menunggu ia menelan seteguk-dua teguk kopinya hati-hati. “Aku melihatmu berjalan ke sini, jadi aku mengikutimu. Ternyata benar, kau sedang ada masalah.” Katanya.

Cih, pemuda ini, bisa-bisanya ia tersenyum cerah meskipun rasa malu sedang meliputi lawan bicaranya ini. Apa dia tidak tahu apa yang baru terjadi sore tadi? Dia tidak peka atau memang murni idiot?

“Oh iya Yuri-ah, Selamat ulang tahun!”

Aku hampir menyemburkan kopi di mulutku. Chanyeol mengucapkan selamat padaku sambil tersenyum cerah. Dia mengingat ulang tahunku dan harusnya,

“Aku sudah memberikan sebuket bunga kan tadi? Aku tidak perlu memberikanmu hadiah lagi ya?”

Harusnya dia ingat kejadian sebelum penyerahan buket bunga itu!

Harusnya dia minta maaf kan?

Harusnya dia membeberkan penjelasan kan?

“Kenapa kau diam saja? Kau tidak suka dengan hadiahku ya?” Kalimat Chanyeol menyadarkanku. Aku buru-buru berdeham. “Wah, sepertinya kau tidak suka bunga. Baiklah, besok aku akan belikan sesuatu untukmu. Kau tunggu saja ya!” Katanya lagi.

Hey! Biarkan aku bicara!

“Sudah malam begini, aku harus pulang. Kau mau diantar?”

Tentu saja, idiot! Mana bisa kau meninggalkan seorang wanita sendirian di taman?

“Tidak.” Kataku. “Aku bisa pulang sendiri.”

Kwon Yuri, kau ini kenapa!

“Kau yakin?”

Tidak, tahan aku Park Chanyeol! Jangan biarkan aku pulang sendiri.

“Ya.” Kataku.

“Baiklah, sampai jumpa besok, Yuri-ah.”

Idiot! Jangan pergi! Kubilang tahan aku!

“Oke, sampai jumpa besok.”

Andwae. ANDWAE. PARK CHANYEOL, KAU TIDAK BISA MENINGGALKANKU SEPERTI INI!

.

© bapkyr

.

Setelah lima desember hari itu, aku tidak lagi memunyai hubungan yang sama dengan Park Chanyeol. Walaupun Park Chanyeol bertingkah seperti biasa padaku, aku tidak bisa menerimanya seperti sebelumnya. Bahkan aku tidak pernah lagi sekadar mengobrol ringan dengannya di kelas.

Ia mungkin juga sudah tahu bahwa aku berusaha menghindar darinya.

Ketika ia mengajakku makan siang, aku akan pergi dengan Yoona.

Ketika ia memintaku menemaninya ke perpustakaan, aku akan berpura-pura tidur.

Ketika ia berbicara tentang kakaknya yang begitu menyebalkan, aku akan memasang earphoneku.

Kali ini Chanyeol sudah tidak pernah memintaku untuk melakukan apa-apa lagi. Ia tidak pernah meneleponku, memanggil namaku, bahkan memandangiku.

Rasanya begitu sakit di dalam dada, tapi aku bisa apa. Orang yang tidak pernah membalas cintamu meskipun kau mencintainya seluas lautan, adalah kisah cinta klasik. Meskipun aku begitu sakit, pasti ada wanita lain yang merasakan sakit lebih dariku. Kisah wanita semuanya sama, mencintai dan ditelantarkan.

Kini, diam-diam aku hanya bisa memandanginya dari jauh. Aku tidak berharap manik kami bertemu-tatap atau dia setidaknya menyadari kehadiranku. Hanya melihat eksistensinya saja sudah cukup indah bagiku.

Mungkin aku tidak pernah sepuitis ini, tapi aku bahagia hanya memandangnya.

Setiap Park Chanyeol duduk di kursi dengan sebuah ruang tersisa di kursi sebelahnya, aku diam-diam berdoa, semoga tempat itu tidak diduduki oleh siapapun. Aku masih berharap tempat itu untukku.

Setiap Park Chanyeol lewat di depan wajahku, aku akan berakting seolah aku tidak peduli. Tapi diam-diam aku akan memilin rambutku dengan gaya cute, berharap suatu saat Park Chanyeol melihatnya dan peduli padaku.

Setiap Park Chanyeol memandangku secara tidak sengaja, aku akan diam-diam menata rambut dan bajuku. Berharap Park Chanyeol bisa memerhatikanku seperti waktu yang sudah berlalu.

Setiap Park Chanyeol berjalan, diam-diam aku berdoa agar dia memintaku berjalan bersamanya. Bukan hanya memandanginya diam-diam dari belakang, bukan pula berjalan seolah tidak peduli di depannya.

Tapi aku dan Park Chanyeol tidak akan pernah menjadi apa yang aku bayangkan.

Ada tembok besar yang tidak bisa kupecahkan di antara kami. Mungkin tembok ini terlalu kokoh, atau hanya aku sendiri yang berusaha menghancurkannya. Park Chanyeol mungkin tidak pernah berusaha.

Hari ini, ketika sorak sorai kelulusan menggema, aku kembali mendapatkan manik kecokelatan milik Park Chanyeol. Ia tersenyum. Aku membalasnya.

“Permisi, kau menghalangiku.” Seorang gadis tepat di belakangku kini menegur. Aku menggeser tubuhku dan kembali membalas senyuman Chanyeol. Namun manik kecokelatan yang kukira berbinar padaku, kini beralih.

Gadis muda itu. Chanyeol tersenyum pada gadis muda itu sejak awal, bukan padaku.

Idiot! Lagi-lagi aku ditipu oleh Park Chanyeol.

Bahkan sampai akhirpun ia berani menipuku dengan cara menyakitkan seperti ini. Harusnya aku melepaskan jaket almamaterku seperti Yoona dan yang lain, kemudian melemparkannya ke udara. Tapi aku terlalu lelah untuk itu. Aku memilih diam dan memalingkan wajahku ke suatu tempat di mana Chanyeol tidak bisa melihatnya.

Aku menangis. Untuk pertama kalinya demi pria idiot itu, aku menangis.

Mungkin kau mendengar keramaian yang ada di aula besar ini, tapi aku hanya mendengar keheningan yang teramat panjang. Mungkin saja sebagian besar sedang merasakan apa yang mereka sebut sebagai kebahagiaan, tapi aku merasakan pil kepahitan tepat hari ini.

Park Chanyeol, padamu, pemuda pertama dengan cintaku yang kandas, kutitipkan seribu tanda tanya. Mengapa kau tidak menyadari perasaanku? Mengapa kau tidak berusaha mengembalikanku ke sisimu? Mengapa kau membiarkan aku berdiri di keramaian dengan kesunyian mendalam?

Park Chanyeol, padamu, pemuda yang mematahkan rasa cintaku, kutitipkan seribu kata maaf. Aku tidak bisa mempertahankan kepercayaanku padamu. Pelik! Melihatmu dengan gadis lain itu begitu pelik!

Park Chanyeol, padamu, pemuda idiot di bawah salju lima desember, padamu kutitipkan sejuta rasa penasaranku. Penasaran kenapa kau tidak pernah merasa tersiksa sampai mati seperti aku?

.

.

Now I’m standing alone in a crowded room and we’re not speaking,
And I’m dying to know is it killing you like it’s killing me, yeah?
I don’t know what to say, since the twist of fate when it all broke down,
And the story of us looks a lot like a tragedy now.

.

.

Fin

.

.

Ini termasuk Project Ulang Tahun KWON YURI yang sangat telat, aku tahu, aku tahu. Tapi tetap aja, ditunggu ya reviewnya. hehe.

48 thoughts on “[Vignette] Story Of Us

  1. natasyaurelia berkata:

    ini juga ceritanya agak nyeseka T.T
    kanyun hobi banget buat ff yg ceritanya unyu2 bikin gemes/?– ditunggu ff lainnya kanyun~~

  2. hani"thahyun kim berkata:

    Nyesek banget. Deh jadi yuri,, cinta bertepuk sebelah tangan,, kirain pas chanyeol nembak itu beneran ternyata cuma akting buat suprise birthday nya yuri aja..ampuuuunn deh..
    Dan yg paling bikin nyesek,, koq chanyeol G̶̲̅ãK̶̲̅ sadar S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ perasaan yuri,, malah S̤̥̈̊ǎ̜̣̍М̣̣̥̇̊ɑ̤̥̈̊ yeoja lain..aduuuuhhh
    Šɑ̣̇άº°˚˚°ºβǎƦ ‎​​​‎​ yul,,

  3. YulHunHan shipper berkata:

    Sumvehh… Nyesek banget eon, feelnya dapet banget. Duhh… gregetan sma chanyeol gk peka banget sma persaan yuri #pooryuri😥

  4. Ivy berkata:

    Yahhh kembali nysek..
    Eonnie jago amat sih bikin ff sad gitu? :v

    Butuh squel dan mreka harus jadian. *maksa xD*

  5. NiaChoi1126 berkata:

    kanyun please sequel yul-nie masih ngegalau tu gara2 chanyeol,,ish chanie kau gk peka bnget sih greget jdinya,,,daebak kaknyun kedua ffmu hari ini nyesek semua ^^

  6. NiaChoi1126 berkata:

    kanyun please sequel yul-nie masih ngegalau tu gara2 chanyeol,,ish chanie kau gk peka bnget sih greget jdinya,,,keren kaknyun kedua ffmu hari ini nyesek semua ^^

  7. tha_elfsone berkata:

    huua ceritanya nyesek bnget kayur..
    knpa mereka g jadian..
    huua poor for yuri…😦
    tenang yuri suatu saat chaneol tau perasaan eonni koq..🙂

  8. Potterviskey berkata:

    Kaknyun? aku protes.
    Kenapa yg sad ending begini cast nya mesti chanyeol? nyesek nya berkali-kali. huwaaaaaaaa:( itu chanyeol engga peka/ pura-pura engga peka/ atau emang engga cinta yuri/ atau gimnaaaaaaaaa? hiks.

  9. Tetta Andira berkata:

    Dan semoga saja koment kali ini berhasil !!
    mian Nyun-chan , baca’x dr semalem .. Bt koment’x bru skrg😦
    Kgak jd mulu dr tdi malem smpe pagy mau ngomen ..
    jaringan’x lg ikutan galau kali garagara nie crta😄
    Yul-eonn’x kasian bener ,, Channyeol’x jg rada parah tuhh anak ! Ckckk ..
    Nyun-chan jg ikutan aneh . Pdhl msh project dlm rngka ultah Yul-eonn ..
    Bt crta’x malah berakhir menyedihkan smua😦
    ehh Nyun , kka semalem mewek se-ember-an lho ky’x ..
    saking nyesek’x sama 2ff tdi malem . *curcol
    Oyaa ,, kka jg setuju sama komentator lain’x yg nganggep ini menggantung . Bisa/sempat dibuatin sequel’x gak , Nyun ?🙂
    Biar rada jls gtuh ,, Channyeol bisa brklakuan aneh bin ajaib gtuh krna apa ?
    Apa mgqn krna emng gak peka & gak suka sama Yul-eonn ,, atau mgqn cuma purapura gak ngerti , atau bisa jd beneran idiot (?) *bakbuk*dilemparinrecehansamafansChannyeol
    Terakhir , terus semangat Nyun ! Ttap brkarya & jaga selalu kesehatan😉

  10. Sjelfeu berkata:

    Jadi chaenyol ga ada perasaan apapun sma yuri ? Yaampuun kisah ini memang klasik, aku ngerasain ini ! Kaknyuuunn.. yaa Allah :” ngelus dada ..
    Bagus ceritanyaa, nyeees deh ngena

  11. kwon heirin berkata:

    ya ampun…
    kebayang banget dech jadi yuri-ah.
    ini ceritanya sedih, tapi kocak juga unni.
    chanyeolnya sungguh terlalu.
    tapi, aku masih penasaran sm chanyeol,
    dia suka juga atau tidak sama yuri sebenarnya ??

  12. Nadia KrisYul HunYul Shipper berkata:

    Ini sumpah!!! gereget sama Chanyeol! ahh!! anak cowok memang bodoh! gak nyadar kalau dibelakangnya ada sesosok gadis -cantik- yang memandangi punggungnya >_<!! /curhat yaaa Nad??/

    Ah~~ T.T kasihan Yuri eonni😥
    Pasti malu banget kalau aku jadi Yuri /weeww/ :3

  13. babyhaena berkata:

    baca ini jadi keinget love storynya bestie aku, dia juga di phpin gebetannya.
    si chanyeol idiot banget sih, kalo dia ga suka sama yuri gausah dikerjain kaya gitu lah.
    eonnie seriusan sirine sequel? woohoooooooooo!!!
    ditunggu ya ditungguuuuuuu ♥♥♥
    sarangtawwoooonnn ~^^♥

  14. yuri yoona berkata:

    Yulnie kasihan banget.. Chanyeol sebenarnya suka gk sih dengan yuri.. Kok jhat banget buat yulnie putus cinta… Pake acra di kerjain pas ultah lagi.. Bner2 nyebelin. ..

  15. Intan berkata:

    Ya ampuunnn kak Nyun… Knapa endingnya seperti ini?? Ya ampun aku nyesek bacanya ;-(
    Pas Chanyeol oppa senyum ke Yuleon waktu perpisahan iku senyumnya ke Yuleon apa ke gadis yg lainnya?
    Ahh aku bingung..
    Eon, minta tolong buatin sequelnya.. Aku penasaran sama lanjutannya😀

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s