[Oneshot] BACK TO DECEMBER – EXOYUL SERIES

back-to-december_bapkyr_melurmutia.

Takdir pertemuan kita, ada pada warna salju esok hari.

.

A last series of EXOYUL.

Bapkyr presented BACK TO DECEMBER.

.

Angst, AU, Sad, Romance, Action, Tragedy, PG-13

(A fic based on Taylor Swift’s song)

.

Thanks for melurmutia at Cafeposter for the Cover.

***

Melihat.

Sebuah gerakan sederhana untuk membuka mata dan menangkap setiap grafis di bergerak dan non-bergerak untuk disampaikan ke otak sebagai sebuah penglihatan. Dari berpuluh juta penduduk di dunia, beberapa tidak bisa melihat. Beberapa melakukan upaya untuk melihat dan beberapa menyerah pada penglihatannya.

Aku termasuk yang bisa melihat, kemudian aku menyesalinya.

Mendengar.

Sebuah gerakan sederhana untuk membuat gendang telinga—organ dalam—bergetar dan membuat impuls ke otak sehingga otak menerjemahkannya sebagai suara. Beberapa orang di dunia begitu takut mendengar sehingga rasanya gendang telinga mereka akan pecah kapan saja, tapi sisanya begitu gemarnya menyumpal telinga dengan earphone dan mendengarkan lagu dengan volume paling keras sambil mengekspresikan diri dengan berdansa.

Aku termasuk yang bisa mendengar, kemudian aku menyesalinya.

Karena dua kemampuan sederhana itu—mendengar dan melihat—milikku, kini aku duduk di sebuah kursi pesakitan. Dikelilingi orang-orang asing yang sama sekali tidak kukenal. Orang-orang di sebelah kanan menentangku sedangkan yang di sebelah kiri mati-matian menyetujui pernyataanku. Orang-orang yang duduk rapi di belakang kursiku hanya bersorak, protes dan sesekali berteriak haru.

Namaku Kwon Yuri dan kini aku sedang berada di pengadilan sebagai saksi sebuah kasus pembunuhan.

Kukira kasus yang kulihat seminggu yang lalu akan berakhir ketika sidang pertama di dendangkan dua hari yang lalu. Lalu kasus menjadi rumit karena tersangka disinyalir seorang pejabat penting negeri ini. Aku menjadi sosok yang paling fenomenal dan krusial. Setiap huruf dari kalimat yang aku lantunkan sebagai saksi tidak akan luput dari pencatatan apik dan media massa. Aku benar-benar menjadi sorotan.

Kehidupan pribadiku benar-benar berubah. Dari yang tadinya hanya penjual yoghurt yang tinggal di pemukiman sewaan kumuh belasan tahun terakhir, kini dengan sedikit paksaan dan bumbu kebingungan, aku dikurung dalam sebuah rumah mewah, tanpa mengerjakan apapun sambil menerima berbagai kebutuhan hidup secara gratis.

Hidupku dijamin oleh negara.

Kalau aku meminta agar diriku dikembalikan ke tempat asalku dan menjalani kehidupan seperti biasa, “hidupmu dalam bahaya, Yuri-ssi. Beberapa orang mengincar kesaksianmu.” Itu jawaban statis yang selalu kudapatkan dari bibir mereka.

“Permisi.”

Kali ini apa lagi? Apakah belum cukup satu batalyon tentara yang menjaga pintu rumah mewah ini?

“Bukankah sudah kubilang aku tidak butuh pengawal. Aku tidak akan kemana-mana.” Kataku. Bahuku mengedik pelan ketika pemuda yang berdiri di depanku tak kunjung enyah.

“Aku sudah diperintahkan menjadi pengawalmu sampai jadwal sidang minggu depan, Yuri-ssi.”

Demi Tuhan! Satu Batalyon saja aku sudah cukup keheranan, kenapa sekarang mereka mengirimiku seorang pemuda dengan jas perlente yang siap mengawasiku dua puluh empat jam sehari. Apa yang dipikirkan oleh para petinggi meja hijau itu sih?

Aku membuat gerakan sarkasme dengan picingan manik hitam milikku. Tapi pemuda itu tidak kunjung enyah. Sialan! Dia cukup tangguh untuk ukuran orang asing yang pertama kalinya mengenalku.

“Siapa namamu?” Kataku begitu culas.

“Kris Wu.”

“Baiklah, Tuan Kris Wu, apakah kau seorang pemuda yang gemar memandangi tubuh wanita?”

Kris Wu menggeleng tidak mengerti, sementara tubuh tegaknya perlahan mengendur. Ia menatapku tidak berkedip sambil sesekali menggaruk leher belakangnya canggung. Aku sih hanya tersenyum menatapnya.

“Jadi, bisakah kau keluar dan membiarkanku sendirian di kamar ini? Aku baru saja akan mengganti pakaian di sini.”

Kris kemudian tersenyum cerah. Seperti orang bodoh.

“Seharusnya kau langsung saja mengatakan bahwa kau ingin ditinggal sendiri di kamar, Yuri-ssi.”

Ck. Memangnya kenapa? Kau pikir aku akan membuka busanaku untuk pria sepertimu?”

Kris berdeham dan buru-buru meninggalkanku sementara aku terkekeh kecil di antara selimut sutera yang kugenggam. Ini sih hanya prediksiku saja, sepertinya ada yang salah dengan proses rekruitmen bodyguard negara. Kris ini begitu bodoh, mungkin ia termasuk produk negara yang gagal.

.

.

Salju tidak pernah enyah di sepanjang jalanan. Pedagang minuman hangat menjamur begitu saja di setiap lokasi strategis. Kadang mereka harus mau direpotkan oleh petugas-petugas penertiban yang bisa saja datang tiba-tiba tapi tetap saja, mereka akan muncul lagi dua atau tiga hari kemudian. Tanpa jera.

Muda-mudi duduk di bawah tempat duduk kayu dekat pohon-pohon natal buatan di pinggir jalan yang disediakan oleh pemerintah kota demi menyambut natal. Mereka menyesap kopi kemudian bersenda gurau seolah tidak ada orang lain di antaranya.

Kontras hitam-putih terjadi padaku.

Kini aku hanya memandangi salju dan musim dingin tahun ini melalui sebuah kaca jendela tipis. Aku tidak ingat lagi bagaimana merasa menggigil kedinginan dalam balutan mantel lusuh yang sudah kupakai selama lima tahun terakhir.

Aku juga tidak merasakan bagaimana tidur dalam ruangan berongga-rongga yang membuat angin desember siap menembus setiap ceruk yang dibuatnya kapan saja. Ruangan yang kutempati saat ini benar-benar hangat hingga aku lupa ini masih desember.

“Apa kau membutuhkan sesuatu, Nona?”

Aku menoleh pada sosok mematung di ambang pintu kamar. Kakinya masih dilapisi oleh sepatu hitam mewah dan kaus kaki abu-abu yang terlihat tebal. Ia membungkukkan kepalanya sekilas saat mata kami bertemu-tatap. Tubuhnya condong ke depan, namun kakinya berada tepat di balik sebuah alas kain bertuliskan ‘selamat datang’ di depan kamarku. Ia enggan masuk sebelum aku memerintahkannya—setidaknya ia masih ingat apa yang aku katakan padanya kemarin, pikirku.

“Apa kau bisa membuatkanku kopi hangat?” Aku berdiri dengan kemejaku yang longgar. Mungkin pria tinggi itu tidak nyaman dengan bagian bahu dari kemejaku yang terkadang sering melorot hingga lengan atas. Jadi aku menariknya kemudian berdeham dan mengulangi pertanyaanku padanya. “Apa kau bisa membuatkanku kopi?”

Maniknya masih mengawang. Aku tahu bahwa jiwa pemuda itu sedang tidak ada pada tempatnya. Aku melemparkan sebuah permen yang baru saja kukeluarkan dari kantung celana panjangku. Sebuah permen merah cerah dengan glitter seperti gula yang mengkristal di sekelilingnya. Kebetulan, permen itu mengenai kepala dari pemuda bodoh itu dan menyadarkannya dari alam antah berantah.

“Hah? Apa?”

“Kopi, kataku.”

“Oh,” ada jeda begitu panjang di antara kami. Ia memandangiku seperti orang bodoh saat aku berdecak dan menggeleng pelan padanya. Pemuda bodoh itu mulai menggaruk kepalanya kemudian memijit-mijit tengkuknya dengan kikuk. “Oke, kopi. Aku akan mengatakannya pada petugas dapur.” Kata Kris pada akhirnya.

“Eh,” Aku menghentikkan langkahnya yang mulai menjauh dari ambang pintu. Sontak ia memutar tubuhnya menghadapku kembali. “Aku bilang kau yang buatkan kopinya, bukan petugas dapur.”

Otak pemuda itu sepertinya sedang bekerja mengingat aku mendapatkan jeda yang cukup panjang lagi kali ini. “Eh, aku?” Tanyanya tidak percaya.

“Kenapa? Kau tidak pernah membuat kopi sebelumnya?”

“Tidak juga sih, tapi,”

“Buatkan saja dan jangan banyak bicara.” Kataku dengan nada diktator. Aku sebenarnya tidak benar-benar meninggikan nada suaraku padanya, tapi setiap ekspresi bodohnya muncul, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengerjainya. Dari seluruh tempat membosankan di rumah ini, hanya wajah Kris-lah yang—setidaknya—membuatku sedikit lebih tenang.

Kris mengangguk pelan sambil menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar dari jarak ini. Ia menggaruk tengkuknya, masih dengan gaya dingin namun kikuk. Saat ia sudah tiga langkah jauhnya dari ambang pintu, aku masih berniat menjahilinya.

Aku berteriak.

“Buat yang hangat tanpa creamer tapi dengan gula lima sendok. Jangan sampai salah.”

.

.

Aku duduk di balkon depan kamarku. Dengan mantel tebal dan celana panjang berbahan dua kali lebih tebal dari yang kelihatannya, aku memandangi salju yang turun. Saat suara pintu digeser terdengar dari balik bahuku, Kris sudah di sana dengan sebuah cangkir kecil kopi panas.

“Tanpa creamer dengan gula lima sendok makan.” Katanya dengan bangga. Aku baru berniat memujinya, tapi memandang senyum tololnya, ide-ide sinting dalam otakku kini mendominasi.

“Kau mau membuatku gemuk atau apa?”

Kris tertegun. Tidak mengerti.

“Aku kan tidak mengatakan lima sendok makan. Aku minta gula dengan takaran lima sendok teh. Kenapa kau bisa sebodoh ini sih, Tuan Penjaga?” Aku berbicara begitu cepat di hadapannya. Kris terlihat begitu bingung, aku kasian juga. Tapi jika kau memiliki sebuah teropong yang bisa melihat jiwaku, kau sudah pasti tahu betapa meledak-ledaknya perutku saat ini karena ekspresi yang ia torehkan di wajahnya.

“Lupakan. Menjadi gendut kadang-kadang bukan hal yang buruk.” Kataku, kemudian aku menyesap seteguk-dua teguk dari kopi yang diberikan Kris. Karena ia berdiri mematung tanpa suara di belakangku, aku akhirnya memberinya sebuah kursi di sisi kananku. Kupersilakan pemuda itu duduk di sana tanpa suara. Sementara aku disibukan dengan kopi dan sebuah ipod di tanganku.

“Kau sangat suka manis ya?” Kata Kris padaku. Aku menerka-nerka apa yang ia coba tanyakan padaku dibalik pertanyaan sederhana tersebut. Ya, aku telah terpengaruh gaya hidup para pejabat belakangan ini sih. Seperti yang kautahu, kadang sebuah pertanyaan sederhana bisa membuatmu membuka sebuah jalan ke jurang bagi dirimu sendiri. Namun berbeda dengan yang satu ini, aku telah melihat sorot mata kehitaman di depanku dan tidak ada tanda-tanda pemuda ini bahkan menjebakku dengan pertanyaannya.

“Tidak terlalu. Kalau aku tertekan atau aku sedih biasanya aku akan membaik dengan makanan dan minuman manis.” Kataku. Aku menaruh cangkir kopiku di meja yang menjadi pembatas antara aku dan Kris. Bunyi pertemuan permukaan gelas dan tatakannya kemudian menjadi satu-satunya yang bersuara di antara kami.

“Aku tidak suka manis.” Kata Kris. Kupikir ia sudah melupakan topi barusan karena responnya yang terlalu lama. Aku tidak tertarik dengan pernyataannya. Namun aku menghargai pria ini.

“Kenapa?”

“Manis membuatmu berpikir bahwa pahit adalah buruk. Aku tidak suka itu.”

Aku mengerutkan dahi kemudian mengangkat satu alisku ke atas, sama seperti aku mengangkat sudut kiri bibirku lebih tinggi dari yang kanan. “Mereka yang suka asin juga berpikir kalau pahit adalah buruk. Sepertinya semua orang berpikir kalau pahit itu memang tidak terlalu enak.”

Kris menyunggingkan seulas senyum aneh. Aneh karena ia tidak pernah tersenyum seperti ini sebelumnya sejak pertemuan pertama kami. “Obat itu pahit, Nona. Kau membutuhkan obat tapi kau tidak pernah suka rasa pahitnya. Meskipun begitu, kau tetap meminumnya. Pahit tidak selalu buruk kan?” Katanya.

“Benar,” aku mengangguk samar. “Benar juga sih.”

Kris kini menangkap wajah setuju milikku. Ia membuka satu kancing dari jas hitam yang ia pakai. Wajahnya ia tengadahkan maksimal ke atas langit. Kedua kanannya kini ia letakkan di belakang tubuhnya, memeluk sandaran kursi hingga kedua tangan itu bertemu dan bertaut.

“Tapi obat yang pahit itu kasihan juga.” Katanya. “Dia akan terus-menerus diminum oleh mereka yang sakit hingga orang sakit itu tidak membutuhkannya lagi. Kemudian mereka akan melupakannya. Membuangnya.”

Mata pemuda itu memandang langit begitu lekat. Aku tidak tahu apa yang ia pandang karena selain salju yang rajin turun, aku tidak melihat adanya benda langit malam ini. Hanya sebuah hamparan langit yang gelap yang terhampar di atas kami, tapi Kris tidak sedikitpun menghindar dari pemandangan itu.

Aku tahu bahwa awalnya kami hanya membicarakan tentang hal ringan—pahit dan manis. Tapi entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa pria ini mencoba memberitahukanku sesuatu yang lain. Seolah ia berusaha menjelaskan dirinya dalam analogi pahit dan manis yang baru saja ia katakan. Seolah ia ingin aku mengerti bahwa selama ini, dialah obat yang dibuang itu.

“Sudah malam.” Katanya, membuyarkan lamunanku. “Aku akan menutup pintunya dan memastikan keamanan untukmu. Silakan masuk.” Katanya sambil membukakanku pintu. Dengan ragu dan senyuman tipis, aku masuk tanpa perlawanan ke dalam kamarku.

Kris menyusulku.

Ia mengecek kunci pintu kaca itu dengan sangat teliti. Sejurus kemudian, aku menemukan pria itu telah memunggungiku setelah ia mengucapkan selamat malam. Aku berdiri di samping ranjangku, kemudian manikku terpaku pada sebuah cangkir kopi yang isinya masih ada setengahnya. Cangkir itu rupanya tertinggal di meja kecil di balkon tadi. Baik aku maupun Kris tidak ada yang menyadarinya tadi.

“Tapi obat yang pahit itu kasihan juga. Dia akan terus-menerus diminum oleh mereka yang sakit hingga orang sakit itu tidak membutuhkannya lagi. Kemudian mereka akan melupakannya. Membuangnya.”

Entah angin apa yang membawaku kini berteriak memanggil nama Kris. Pemuda itu—yang memang masih belum keluar dari kamar—memandangiku penuh pertanyaan. Ia memiringkan kepalanya kemudian berbalik dan menatapku.

Aku mencari sebuah kalimat yang tepat untuk menjelaskan kenapa aku berteriak memanggil namanya. Tapi sayangnya, aku menemukan jalan buntu.

Sebenarnya bukan karena aku tidak tahu apa yang akan kukatakan padanya, tepatnya, aku perlu mempertanyakan hal ini pada diriku sendiri. Apakah kalimat yang sudah ada di kepalaku ini, sepertinya penting? Atau seberapa pedulikah Kris pada kalimat ini?

Tapi aku dengan cepatnya mengenyahkan segala kemungkinan-kemungkinan negatif. Pun aku sudah terlanjur membawa perhatiannya kini berada di depan wajahku.

“I—itu,” kataku ragu-ragu. Telunjuk tangan kananku perlahan teracung pada pintu kaca yang dapat kami lihat sama-sama dari kamarku. Kris mungkin juga sudah mellihatnya. Sebuah cangkir yang tertinggal di sana. Ia tersenyum dan mengangguk. “Oh itu. Aku akan membereskannya.” Katanya.

Dia salah tafsir.

Ketika langkah kakinya kembali pada pintu kaca penghubung balkon, aku menahannya dengan kata-kataku.

“Bukan itu.” Kataku. Telunjukku masih teracung ke sana. Sial! Aku bahkan tidak tahu apa yang akan kukatakan ini begitu penting.

“Bukankah kau bilang yang pahit akan selalu ditinggalkan dan dilupakan?” Aku memberikan Kris raut ketidakmengertian lagi di wajahnya. Aku tidak perlu menunggu lama. “Tapi sepertinya kau salah, Kris-ssi.”

Telunjukku perlahan turun. Tanganku kini tergantung rapi di bagian pinggir dari jahitan celana panjangku. Aku menatap iris hitam milik mata indah Kris. Kataku, “Bahkan kopi yang terlalu manis dalam cangkir kecil tersebut, bisa saja dilupakan. Seperti saat ini.”

.

.

Sehari menuju hari besar persidangan terakhir.

Artinya sehari lagi menuju kebebasan.

Aku sudah menyusun daftar rencana panjangku setelah aku bebas dari rumah besar ini. Aku akan mulai menjadi wanita yang menjual yoghurt kembali dan mempertimbangkan untuk melanjutkan sekolah tinggiku lagi. Aku begitu bahagia sambil berusaha mengingat-ingat tentang imbalan yang dijanjikan negara setelah aku membantu mereka dalam kasus ini. Aku juga sudah berencana membuka sebuah toko yoghurt kecil-kecilan sehingga ketika aku bosan berjualan keliling, konsumenku bisa menghampiriku di toko itu.

Namun rencana itu tiba-tiba menjadi hujan deras dalam pikiranku.

Sehari menuju kebebasanku sama saja dengan,

Sehari terakhir Kris bersama denganku.

Kuakui, harus kuakui bahwa awalnya Kris tidak pernah menarik perhatianku sama sekali. Tapi sejak kejadian cangkir kopi itu—mungkin kau ingat—aku lebih sering menghabiskan waktuku mengobrol dengannya ketimbang mendengarkan musik lewat ipod atau menonton televisi di siang bolong.

Dia bukan orang yang kaku ternyata. Pun bukan pemuda kelewat idiot yang sebelumnya aku bayangkan.

Sebaliknya, dia sungguh jenius. Aku mendapatkan berbagai macam analogi kehidupan dan implikasinya dalam dunia nyata dari bibirnya. Setelah analogi manis-pahit dahulu, ia menjelaskanku tentang analogi mata dan tangan, angin dan air, dan apapun yang ia ketahui.

Namun dalam setiap kesempatan kami berbicara, aku sangat tersentuh dengan kemampuannya menyampaikan. Bahkan terkadang, aku lupa bahwa yang ada di depanku adalah seorang aparatur negara yang digunakan untuk menjagaku dua puluh empat jam sehari.

Di antara semua analogi jeniusnya. Aku paling tertarik ketika kami berbicara tentang salju. Ia berbicara tentang mengapa salju itu putih dan sebagainya. Namun dalam setiap kesempatan, pembicaran kami dalam topik ini tidak pernah sampai hingga akhir. Aku hanya ditinggalkannya dengan kebingungan.

Ceklek.

Pintu kamarku dibuka dari luar. Oh ya, omong-omong sejak aku menjadi begitu dekat dengan Kris, aku sudah tidak pernah mengunci kamarku. Maksudnya, biar Kris bisa keluar masuk dan mengecekku kapan saja dengan lebih leluasa. Lagipula aku percaya dia pemuda yang baik dan tidak akan macam-macam padaku.

“Belum tidur?” Tanyanya. Rupanya ia masih memerhatikan pergerakan kecilku di bawah selimut. Aku menggeleng pelan.

“Besok akan jadi hari yang berat. Tidurlah.” Katanya lagi.

Entah mengapa saat itu aku merasa seperti aku mendapatkan seseorang yang pertama kalinya memberikan perhatian begitu penuh padaku. Hatiku berdesir, pipiku hangat. Mungkin kalau aku lihat ke dalam cermin, kini pipiku sudah merona merah jambu.

Aku mengintip dari celah kecil di selimutku saat Kris mencoba menutup pintu kamarku.

“Tunggu.” Kataku. “Aku ingin bertanya.”

Kini kusibakkan selimut tebal dari tubuhku. Kutatap Kris yang urung melepaskan knop pintu. Ia mematung di sana, terpatri.

“Apakah setelah hari esok, aku akan melihatmu lagi?”

Ya, tentu saja itu pertanyaan yang cukup tepat sasaran. Pasti saat ini Kris sedang berpikir yang macam-macam tentangku. Ah bodoh sekali aku!

Melihat dari reaksinya yang stagnan dan tidak berubah, aku tahu bahwa aku telah jatuh dalam pertanyaan bodohku sendiri. Ada keheningan panjang di antara kami. Dan aku bagai kepingan uang logam yang di bolak-balik di udara. Dari luar mungkin aku terlihat sangat tangguh dan mencoba tidak membuat ekspresi konyol apapun, tapi di dalam pikiranku kini sedang terjadi peperangan tersendiri.

“Lu—“ Kataku patah-patah. “Lupakan deh. Aku hanya bercanda.” Kini aku menunjukkan satu lagi kebodohanku dengan tersenyum kuda di depannya. Sial!

“Mungkin kita akan bertemu lagi,” Katanya sambil memainkan knop pintu kamarku. Aku tertegun memandangi siluetnya yang begitu berkharisma ditempa sinar oranye dari lampu kamar tidurku. “Atau mungkin juga tidak.”

Saat sinar oranye itu membias di wajahnya, aku bisa melihat mata kesepian di sana. Kepedihan dan sakit hati. Mata itu sama sepertiku sebelum aku dibawa kemari. Mata yang penuh dengan penderitan dan kehampaan. Mata kehilangan dan pengorbanan. Untuk pertama kalinya, aku melihat sisi Kris yang seperti ini di hadapanku. Agak aneh mengetahuinya sebagai orang yang sering kuolok.

Kini Kris menyunggingkan senyum yang benar-benar aneh dan berbeda. Saat-saat matanya menyipit tadi aku membaca sebuah kebohongan besar. Ia memutar knop di tangannya dan memandangku masih dengan mata yang menyipit aneh.

“Takdir pertemuan kita ditentukan oleh warna salju esok hari.”

.

.

Kuakui aku memang sempat tidak bisa tidur ketika melihat tatapan nanar dari Kris semalam. Bahkan kalimat terakhirnya sebelum ia menutup pintu kamarku adalah satu-satunya kalimat teraneh yang tidak pernah ia ucapkan padaku. Apa maksudnya ditentukan warna salju hari ini?

Kupikir Kris yang tadi malam hanya main-main denganku.

Tapi hari ini keadaannya berbeda.

Aku yang seharusnya duduk di kursi pesakitan di depan majelis keadilan kini harus berjibaku dengan senapan dan peluru yang siap menembus kepalaku kapan saja. Aku berada di kursi penumpang dengan gaun longgar selutut dan mantel berbulu yang kusampirkan tidak karuan di atas bahuku.

Di sampingku ada Kris yang beberapa kali membalas tembakan dari mobil-mobil di belakang yang mengejarku. Ada total dua mobil hitam dengan tujuh orang bertopeng yang mengejar kami. Sesaat setelah aku keluar dari rumah mewahku tadi pagi, segerombolan orang ini mengejarku dan Kris dengan tiba-tiba.

Di tengah keadaan genting, aku melihat sirene berdenyar di kejauhan, tepat di belakang mobil-mobil itu.

“Ada bantuan datang.” Kataku pada Kris. Kris masih sibuk mengendarai mobil dan menembakkan pelurunya di saat yang bersamaan. Ia mengintip dari spion kirinya kemudian memandangku baik-baik.

“Kita hanya perlu bertahan beberapa menit lagi.” Katanya.

Aku baru berniat menarik nafas lega ketika suara ledakan besar terjadi begitu saja di belakangku. Aku melihat dari spion bahwa beberapa mobil polisi tadi kini terangkat ke udara dengan asap hitam kecokelatan tebal yang membumbung tinggi, diselingi dengan si jago merah yang meraung di udara. Lantas aku mendengar suara yang camur-aduk di belakangku.

Ada tangisan anak kecil, ada teriakan panik, ada juga teriakan minta tolong yang tidak begitu jelas. Namun yang menarik perhatianku adalah suara tembakan yang kini menghujani kami tanpa berhenti.

“Mereka pantang menyerah.” Kataku pada Kris.

Kris tidak berbicara apapun, keningnya berkerut setiap ia menatapku. Salju yang turun dan menghalangi jarak pandang kami tidak membuat kecepatan yang ia pacu dengan mobilnya menjadi turun. Kris terus saja memacu kencang mobil kami, kadang ia menabrak pembatas jalan, kadang menerobos lampu merah, kadang ia melakukan apa saja demi menyelamatkan hidupku.

Tapi aku merasa iba.

Entah mengapa sorot matanya menjadi begitu menyedihkan.

Ketika aku melamun, Kris sudah memberiku sebuah senjata laras pendek yang ia ambil dari saku celananya. Sementara kini dirinya menggenggam sebuah senjata laras pendek yang lain.

“Yang mereka kejar bukan kau, Yuri-ssi.” Katanya padaku. “Mereka mengejarku. Aku ada di sana saat kau menyaksikan pembunuhan itu. Kau tidak ingat?”

Aku tergagap. Aku sama sekali tidak ingat bahwa ada lebih dari dua orang pada malam itu. Aku hanya melihat satu, pemuda tinggi yang membunuh di bawah salju dalam bayangan hitam. Aku hanya melihat sebuah mobil dengan plat nomor yang sudah aku kemukakan di persidangan yang ternyata adalah milik seorang pejabat. Kukira,

Kukira selama ini pemuda tinggi itu adalah pejabat yang mereka maksudkan.

“Itu aku Yuri. Aku yang membunuhnya. Aku yang membunuh ayahku sendiri.”

.

.

“Itu aku Yuri. Aku yang membunuhnya, aku yang membunuh ayahku sendiri.”

Kalimat tadi cukup tidak masuk akal di telingaku. Aku merasa seperti ditipu lantas diinjak-injak. Perasaanku kini bercampur aduk antara ingin menghempaskan kursi dan keluar dari mobil kemudian tertembak mati oleh pria-pria di belakangku, atau aku diam saja di dalam mobil dan menunggu saat-saat tepat bagi Kris untuk membunuhku karena aku dianggap sebagai saksi yang akan memberatkannya.

Aku sungguh tidak tahu.

Tapi tubuhku sepertinya enggan melakukan keduanya. Karena sekarang, pertama kalinya dalam hidupku aku melihat seorang pria yang menangis dengan mata kepalaku sendiri.

Ia masih menembakkan peluru, terkadang. Tapi isakannya lebih sering daripada loncatnya peluru dari moncong pistolnya sendiri.

“Aku membunuh ayahku sendiri untuk menjebloskan saingan politiknya ke penjara. Aku menggunakan trik-trik kotor dan menjebak pejabat yang kausebut di persidangan—yang mana merupakan saingan politik ayahku. Semuanya sudah direncanakan, Yuri-ssi. Satu-satunya lubang besar adalah keberadaan kau.”

Mobil berdecit saat Kris berusaha membelokkan setir ke kanan dengan kecepatan tinggi. Tubuhku terantuk dashboard karena gerakan Kris terlalu tiba-tiba. Tapi itu tidak terlalu menggangguku, satu-satunya yang menarik perhatianku adalah lelehan air mata pria itu.

“Aku terlalu takut kau mengetahui identitasku. Aku menyamar menjadi pelindungmu, berpura-pura mengabdi sebagai petugas negara demi mencoba mengidentifikasi apakah kau mengenalku atau tidak. Dan aku yakin, jika aku tidak membocorkan sendiri identitasku hari ini, kau masih tidak akan mengenaliku. Seharusnya semuanya baik-baik saja, jika saja,”

Kris memandangiku, tidak lagi jalanan. Aku mendengar suara tulusnya.

“Jika saja aku tidak pernah terlibat hal bodoh seperti cinta.”

Isi kepalaku seperti dikocok oleh mesin yang sangat besar dan berkecepatan tinggi. Aku tidak bisa berpikir jernih. Semuanya terjadi dan terucap begitu saja dari mulut Kris.

Aku merasa begitu bahagia, namun bahagia di saat seperti ini agaknya kurang tepat juga untuk dirasakan mengingat kami sedang diburu oleh peluru.

Tapi Kris seolah tidak peduli. Ia menyunggingkan senyum terbodohnya dengan mata berkaca-kaca padaku. “Aku mencintaimu, Yuri. Kegagalanku adalah aku sudah jatuh cinta padamu.”

.

.

Mobil yang kami tumpangi sudah tidak karuan bentuknya. Peluru-peluru tersebut masih saja menghujaniku dan Kris. Setelah beberapa menit kami dikejar, kadang aku aneh juga. Dari begitu banyaknya peluru, kenapa tidak ada satupun yang mengenai aku maupun Kris. Seolah mereka hanya memperlambat kami, bukan menghentikkan kami.

Aku baru saja berpikir positif tentang itu. Namun suara Kris yang mengaduh keras serta mobil yang kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan…

Kris tertembak tepat di dadanya.

Wajahnya benar-benar kesakitan. Kepalanya terantuk ke atas setir ketika mobil tiba-tiba berhenti dan menabrak keras pada dinding pembatas jalan. Kapnya berasap dan baunya seperti mesiu.

“KRIS!” Kataku berteriak. Mobil-mobil di belakangku kini mulai berhenti. Beberapa orang keluar dari sana dan mengacungkan senjatanya pada kami.

Kris berbisik. “Mereka orang-orang di pihak pejabat itu, Yuri. Mereka tidak akan membunuh kau dan aku, tapi mereka akan membuat kita berdua mengaku di pengadilan. Mereka akan memaksaku untuk mengakui kejadian yang sebenarnya. Mereka akan memaksamu membuka mulut dan menjebloskanku ke penjara. Mereka akan melakukan apa saja demi atasannya.”

Kris terbatuk. Tidak ada darah merembes dari kemejanya. Aku melihat sebuah baju hitam di balik kemeja yang ia pakai. Rompi anti peluru, jika aku tidak salah.

Kris hanya shock, tidak benar-benar tertembak. Dan aku tahu maksud kalimatnya yang mengatakan ‘mereka membutuhkan aku dan Kris hidup-hidup.’

“Aku akan menyia-nyiakan kematian ayahku jika aku mengaku, Yuri. Aku tidak bisa mengaku sama sekali.” Katanya lagi. Ia terengah-engah sementara pria-pria di belakang kami mulai berjalan gesit dan mendekat. Aku meraih tangan Kris dan memperingatkannya untuk melakukan sesuatu.

Namun yang ia katakan padaku selanjutnya benar-benar membuatku limbung.

“Bunuh aku.”

Aku tergagap. Kaget dan benar-benar berharap aku salah dengar. “A—ap—APA?”

“Bunuh aku, Yuri. Aku tidak bisa mengaku.”

“Ba—bagaimana,” Aku tergagap sekali lagi. Tanganku terasa begitu gatal hingga secara tidak sadar, aku mendapati tanganku telah menampar pipi kanan pemuda itu. Aku berteriak. “BAGAIMANA AKU BISA MEMBUNUH PRIA YANG MENGATAKAN DIA MENCINTAIKU!”

Hening.

Suara derap langkah.

Hening lagi.

Suara ketakutan.

Hening lagi.

“Bunuh aku.” Kata Kris. Ia bersikukuh. Bahkan kini ia mengepalkan sebuah senjata api yang sebelumnya ia berikan di pangkuanku. “Dengan ini, bunuh aku.” Katanya.

Hening.

Suara derap langkah mendekat.

“Bunuh ak—“

“TIDAK!” Kataku. Aku mengacungkan senjata laras pendek yang ia kepalkan di tanganku pada batok kepalaku sendiri. Moncong senjata itu ada di dahi kananku. Walaupun peluh menetes, aku tidak bisa mundur. “Jika kau memaksaku untuk membunuhmu, aku akan menekan pelatuk ini!” Ancamku.

Diam-diam, di dalam ketakutan atas pemikiran pendekku ini, aku berharap Kris mengatakan sebaliknya. Berharap ia yang telah dengan terbuka mengatakan bahwa ia mencintaku, berusaha agar aku tidak berakhir dengan cara seperti ini.

“Baiklah.” Katanya. Aku cukup tersentak dengan keteguhan hatinya. Kini ia menodongkan senjata miliknya pada batok kepalanya sendiri. Kami bertatap-tatapan tidak mau mengalah satu sama lain. “Jika kau tidak mau membunuhku, maka aku akan melakukannya untuk diriku sendiri.” Katanya.

Aku mendengar suara ringan dari tarikan pelatuk. Sekali saja ia lepaskan, maka timah panas akan menembus kepalanya.

“BERHENTI!” Kataku. “Aku benar-benar akan menembak diriku sendiri, Kris!”

Kris tidak bergeming, perlahan kulihat jarinya bergerak melepaskan pelatuk. “KRIS AKU BERSUNGGUH-SUNGGUH! JANGAN LAKUKAN ITU!”

Suara derap langkah di belakangku semakin mendekat, bahkan beberapa sudah terdengar mengetuk-ngetukkan buku jarinya di permukaan bagai mobil bagian belakang. Aku tidak punya banyak waktu. Kris benar-benar serius mengendurkan pelatuknya. Dan aku masih duduk dengan keraguan.

Apakah aku harus kehilangan lagi?

Apakah aku harus terus kehilangan orang-orang yang mencintaiku?

DOR!

Aku mendengar suara tembakan. Pelatuk pada senjata laras pendek yang digenggam Kris kini sudah terlepas sepenuhnya. Senjata api itu jatuh ke bawah kakinya. Rasanya aku begitu sakit.

Aku merasakan derap langkah itu terhenti. Ada pemuda-pemuda asing di sekitarku. Kemudian tanganku terasa begitu hangat. Aku tidak pernah sehangat ini di musim dingin.

Aku melirik ke arah tanganku yang terkulai di atas mantel berbuluku. Di sana ada senjata laras pendek, di tanganku. Rasanya senjata itu tidak begitu berat tadinya. Tapi kini bahkan hanya untuk mengangkatnya satu senti saja tanganku sudah gemetar tak mampu.

Kulihat pemuda yang bebaring di atas setir di depan wajahku. Perlahan ia bergerak. Kemudian wajah tampannya kini bertemu wajah denganku. Aku melihat senjata yang sudah jatuh di kakinya kemudian ia pungut kembali. Ia membuka bagian dalam dari senjatanya dan menunjukan ada enam selongsong peluru kosong tanpa mesiu bertengger di sana.

Senjata itu tidak berbahaya.

Kris tidak mati.

“Terima kasih, Yuri.” Katanya.

Aku merasakan pipiku benar-benar basah. Seseorang mengangkat tubuhku dan membaringkanku di atas salju. Cairan kental perlahan turun dari pelipisku. Tadinya kukira itu air mata. Namun setelah melihat salju yang berubah menjadi merah dan rasa sakit yang tidak tertahankan. Aku tahu itu bukan air mata.

Darah.

Aku baru saja menyarangkan sebuah peluru pada kepalaku sendiri.

Demi Kris.

Demi Kris.

Demi Pria yang mengaku mencintaiku.

Demi pria yang memintaku membunuhnya.

Demi pria yang kini tersenyum bahagia dengan darahku.

Demi pria yang kini bersorak dengan pemuda-pemuda di belakangnya.

Demi pria yang menyeringai penuh kelicikan.

Demi Kris.

Aku begini demi Kris.

Dadaku begitu sakit walau tidak ada luka tembak di sana. Saat salju turun siang ini dan membasahi wajahku dengan gumpalan esnya, aku tidak begitu kedinginan. Pori-poriku mati rasa. Aku tersengal-sengal ketika kulihat semakin banyak darah keluar dari kepalaku. Tapi manik mataku, enggan mengalihkan pandangan dari Kris.

Lantas aku mendengar sirene berbunyi di kejauhan. Pemuda-pemuda di belakang Kris buru-buru masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya sendiri bersamaku. Kris kini berjalan ke arahku. Menatap mataku yang sekarat.

Senyumnya begitu licik walaupun matanya begitu kesepian.

Ia sangat berbeda dari seorang pria yang menangis dan mengatakan ia mencintaiku beberapa saat yang lalu. Dia seperti seorang iblis, bibirnya menyeruak jahat seperti iblis.

“Sungguh bodoh kau percaya semua ceritaku, Nona Yuri. Mana mungkin aku membunuh ayahku sendiri.” Katanya berbisik rendah. Ia menjambak rambutku kuat-kuat sambil membuat wajahku menatap padanya. “Aku adalah bagian dari mereka yang kau sudutkan di pengadilan. Dan ya, aku adalah mata-mata mereka yang ditugaskan membunuhmu sejak awal.”

Aku menggeram, tapi aku tidak terlalu banyak memiliki energi. Darahku kerap menetes dan membasahi salju yang menjadi alas tidurku. Kris merenggangkan jambakannya. Ia membiarkanku kembali terbaring.

“Ironis sekali.” Katanya. “Kau begitu mudahnya percaya ketika pria sepertiku mengatakan aku mencintaimu.”

Kris kemudian berbaring di sebelahku. Sirene semakin mendekat dan Kris kini memelukku. Kris menangis di atas helaian rambutku yang sudah berubah menjadi kemerahan.

Ketika Sirene berhenti dan derap langkah menghampiri kami. Aku sudah tersengal-sengal dan membelalakkan mata tidak terkontrol. Orang-orang berseragam polisi mencoba memberikanku pertolongan pertama, sedangkan beberapa yang lain berusaha menenangkan Kris yang meronta dan menyebut namaku.

“YURI! SELAMATKAN DIA, TOLONG!”

Kalimatnya begitu meyakinkan. Airmatanya memperkuat emosinya. Aku tersengal-sengal dan badanku terasa begitu sakit. Namun mataku masih melihat Kris. Telingaku masih mendengar Kris. Kepanikan terjadi di sana. Kepanikan terjadi di antara kami.

“Dia menembakkan senjata pada dirinya sendiri. Aku teledor, maafkan aku!”

Aku mendengar kalimat itu dari Kris. Ia menangis, meraung seperti sangat bersalah kehilanganku. Sedangkan aku tidak bisa melakukan apapun selain melihat aktingnya dan tersadar akan kekejiannya.

Aku menggenggam salju putih tanpa kata apapun di tangan kananku. Kemudian aku mengepalkan salju yang sudah memerah dengan darah di tangan kiriku. Kemudian aku menangis, menangis begitu bodoh.

Aku kembali teringat kata-kata Kris.

Takdir pertemuan kita ditentukan dengan warna salju esok hari.

Sial!

Aku mengerang hebat ketika rasa perih seperti ditusuk sejuta jarum merayapi tubuhku. Aku memuntahkan cairan bening dari mulutku. Mataku, tidak pernah lepas dari Kris. Mataku penuh dendam pada pemuda itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu marah.

Kris kini berjalan ke arahku.

Ia menggendongku dengan tangannya sambil terisak penuh haru. Aku tidak bisa mengelak dari tangannya. Tubuhku sudah diluar kendaliku. Satu lagi, muntahan cairan bening dari mulutku. Kemudian lelehan cairan merah keluar dari hidung dan telingaku. Aku sudah sekarat fatal.

Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi, pandangan mataku perlahan menjadi bias.

Wajah Kris sudah kulihat dengan samar begitupun visual-visual lainnya. Aku mendengar suara juga dengan samar. Ada yang berteriak di hadapanku. Ada banyak sekali suara orang yang aneh. Di antara suara-suara itu, ada satu yang benar-benar kukenal.

Suara isakan tangis palsu dari pria yang mengangkat tubuh kaku milikku.

Sampai akhir, ia tetap licik.

Tapi aku tidak dapat melakukan apapun pada kelicikannya. Aku menghilangkan sendiri kesempatan membalas dendamku di ujung sebuah pistol.

Desember ini salju turun deras.

Darahku menetes-netes ke atas salju.

Mungkin sudah lebih merah dari terakhir kali aku melihatnya. Aku tersengal.

Sudah saatnya.

Sudah saatnya bagiku.

Tapi suara itu.

Suara licik itu,

“Takdir pertemuan kita adalah salju merah. Darah. Kematian. Aku berbohong padamu tentang semuanya, tapi aku tidak pernah berbohong perihal aku mencintaimu. Meskipun sudah pelik, aku masih tetap percaya bahwa salah satu sudut di dalam hatimu masih memercayaiku dengan kejujuranku.

Desember tahun ini akan mencatat kita, mencatat kisahmu dan mencatat kisahku.

Mungkin sekarang aku berdiri dengan kemenangan, bahagia melihatmu pergi. Tapi lentera aneh di hatiku mengatakan bahwa aku harus menangis.

Meski aku mengucapkan kata maaf sekarang, aku tidak akan pernah membawamu kembali. Cinta ini tidak putih seperti salju. Ini merah, seperti darah. Hitam seperti jelaga.

Tapi, jika aku diberikan desember yang sama seperti hari ini, kupastikan akan membuang semua senjata api dari tanganmu.

Aku tidak akan membiarkan salju menjadi merah.

Aku tidak akan membiarkan kau mati dengan dendam.

Aku mencintaimu, dalam kebohongan, dalam diam, dalam penderitaan.

Selamat tinggal, Kopi Manis.

.

.

And then the cold came,

the dark days when fear crept into my mind

You gave me all your love and all I gave you was “Goodbye”.

.

.

FIN.

.

.

A.N

AYE SERIES TERAKHIR EXOYUL. HOHOHO.

Duh maaf ceritanya melenceng jauh dari esensi lirik lagunya ya. Salahkan saja jari-jariku yang berulah gini. LOL.

Kris nya jahat sih lagian /Plak. Abis aku lagi bosen bikin karakter Kris yang baik dan rupawan. Jadilah aku buat begini. Kkk~

Review masih ditunggu. Belakangan aku sedih yang review berkurang hanya karena FF tidak berpassword. /Warning Silent Readers/

Jangan sampe kita kembali ke jaman password mempassword lagi deh ya. As long as you menghargai aku, i do the same to worth it.

Oke. Thanks a lot!

84 thoughts on “[Oneshot] BACK TO DECEMBER – EXOYUL SERIES

  1. Potterviskey berkata:

    Aku belum komen ini yaaa? /lupa/
    pas pertama baca quotes nya, udah nebak. pasti ada blodd-blood begitu. dan /hiks/ kenapa yuri mati?
    kaknyun? ini kan closing exoyul series, kenapa engga happy ending?
    aku pikir, kris juga bakalan mati trus kisah cinta mereka kebawa ke dunia lain /apa ini?/
    tapi, ini keren. beneran. feel nya kerasa bangeettttt. aku tetep suka😀

  2. Linda Aslyah berkata:

    yeee~~ yang ditunggu-tunggu datang juga. wkwkwk:P
    sumapahnya ff yang ini endingnya rada-rada gimana gitu sama si Kris, tapi aku suka banget sama kata-kata yang ini:

    “Mungkin sekarang aku berdiri dengan kemenangan, bahagia melihatmu pergi. Tapi lentera aneh di hatiku mengatakan bahwa aku harus menangis.”

    ahhh project Unnie terselesaikan juga and succes! Congrats!!:))

  3. Silvermist Shimmer (@NissABC) berkata:

    Penutup yang indah untuk series exoyul😄 .
    AAAAAAA!sebel,kesel,suebel sama Kris-jahat bener weh :v /gigitjari//lemparguling/
    Nahan ini mah pengen gigit Kris,euuhh gereget -_-
    Endingnya nyesek pake bgt bgt >.< . Tapi bener-bener unpredictable loh kak😉
    Pas Kris bilang dia yang bunuh bapaknya sndri,aku manggut2 aja-Eh ternyata cuma bo'ong :3 /masih polos/
    Kalo aku Yuleon,bakal gua gentayangin si Kris sambil bawa gayung *nenekgayung
    Always amazing,perfect,marvellous as usual :3

  4. lee haera berkata:

    oke– ini nyesek. yg ga pernah disangka. br*ngs*k si kris–” tabokin. gila aja jahat u,u tapi kata-kata terakhir bikin luluh/? muah sama kris/?apa
    ff nya daebak lagi/? mau lanjut eonnie haha

  5. iflashbaek berkata:

    KRIS ASDFGHJKLFDDSAZZXZAQZX
    rasanya sakit ya yul, aku tau kok kayak apa rasanya /ngomong sama tembok
    KRIS LO NYEBELIN BANGET LO KELAUT AJA SANA
    tadinya nih pas kris bilang dia suka sama yuri aku udah yang ‘oohh…’ gitu keren mana kris ‘melindungi’ yurinya sampe gitu tapi

    /komen terputus

    SEBEL BANGET
    kris tukang tipu ih. alibinya udah bagus banget padahal ‘aku yang membunuh ayahku sendiri’ HA EMANGNYA GUE TERTIPU
    emang tertipu sih.
    terus yang akhirnya dia ngaku dia boong…. tangisan palsu kris….
    im done.

    anyway.. diluar kris nya (masih sebel sama dia) ff ini absolutely amazing!
    surprise plot wiiihhh seneng banget bacanya, tapi begitu krisnya gitu..
    yah bahas kris lagi.
    yaudah.
    end
    walaupun justru kris nya sih yang bikin jadi ceritanya.
    nahkan kris lagi

    aku kayaknya bakal mulai ngubek-ngubek ff-ff kamu nih, suka banget cara nulisnyaa
    aku bakal rajin-rajin nulis komen deh, because i knew how it feels kalo statistik blognya banyak tapi komennya ga sebanding. sakit. wkwk
    tapi serius, ga perlu dibalesin semua kok aku suka ngasih pikiranku ke ff yang aku baca. and yours are totally awesome!

  6. Nikita Tirta berkata:

    Dri awl lg dah curiga dgn kata-kata Kris menerangkan manis dan pahit…Huh…Krana cinta seseorang sanggup brkorban…Yuri mnjadi korban yg sia-sia…Cinta membutakan tpi dendam mnjadi Raja…Nyun bijak brmain dengan emosi…Trbaek…

  7. countessha berkata:

    yaaa tuuuuhhhaaaaannn!! terbohongi juga yang baca FF nya kak nyuuunn,, berpikir sudah dengan akhir cerita cinta mereka dengan bahagia, enggak taunya krissss!! licik sekali karakternya :””( atappilllloooooooohhhh >.< next deh kak nyun^^
    keep and keep writing kak nyun^^

  8. Jia Jung berkata:

    Whaat??
    Aku kira Kris,, ko jd gitu Kris’a??
    Tapi sebener’a Kris beneran suka sm Yul kan?
    Tapi kenapa gitu??
    Hhhuuuwwwaaaa…

    Jia Jung

  9. Luluu berkata:

    Kaknyun~~~ kenapa Kris nya jahat???? ;A; agak ga nyangka aja :” tp trlepas dr itu aku suka ceritanya.. andai yg jahat bukan kris.. hehehe.. tp gpp kok.. kan cuma fiksi :p
    keep writing kaknyun~

  10. seria berkata:

    Ahhhh.. Keren kok nyuuun~ justru suka ending2 yg bgni.. Trus karakter kyk kris gitu.. Gimana yah.. Gk ketebak gitu.. Wkwkwkwkwk.. Blh mau di pw.. Tp aku dikestau yah.. Pasti aku bakal komen semua ff km yg ku baca~ wkwkwkwkwkwk.. *digampar nyun
    Trus semangaaatttt nyun buat ff nya~

  11. Orishimi berkata:

    Err… Aku sempet percaya sama cerita Kris tentang dia yg ngebunuh ayahnya dan tebakanku itu mungkin bakal jadi nyesek ending (?) semacam mereka mati bareng ;-( ternyata di luar dugaan, Kris!!!! Kamu jahat banget!!! ;-> >_< jadi ini ceritanya benci tapi cinta yah, kak nyun ? Kekeke~

  12. gabrielladevina berkata:

    Hoeeee. Ini bias dua2nya ;-; tapi Kris nya jahat ih -_- actingnya bagus pula — Yul unnie nya terlalu percaya sih e-o tapi kalo aku jadi Yul unnie aku juga mungkin percaya ._.

  13. efatzwa berkata:

    Astagfirullah.. sesak bgd rasanya baca ff ini.. hiks hiks.. kenapa my eoni harus mati coba?? duh author!!!
    Hahah tapi lanjut dong buat ff krisyul lagi.. ayoo thor.. i wait your next story.. thankyou thor..

  14. liliknisa berkata:

    Aku pikir bakal happy ending tapi ternyata kris salah satu orang jahatnya. Pahit banget kenyataannya

  15. Hye Bin berkata:

    Kriss kok lu jahat si😥
    Katanya cinta, kok dibunuh😦
    Kasian Yuri pasti dendam banget sama Kris.

    Ceritanya menarik. Sulit ditebak. Dan daebakk!!!
    Bikin ff KrisYul lagi dong kak. OTP paporittt nihh

  16. Lulu Kwon Eun G berkata:

    ah parah lo Kris parah… tega lo tega.. tuh kan ah jd ikutan merasa terkhianati sama si kris… nyesel kan lo kris nyeselkan. ampun ah kak Nyun seperti biasa style kak Nyun bgt.. gk pernah bisa ketebak
    pantes aga bingung pas Kris bilng dia yg bunuh bapak nya,, euh
    ya apalah apalah kak nyun TOP BGT bkin orang cengo..
    karyamu sllu keren

  17. Ckh.Kyr berkata:

    Jangankan Yuri, aku aja percaya sama cerita Kris tadinya (?)
    Hmm, muka Kris emang cocok sih di buat jahat, muka datar nan dinginnya itu mendukung banget gitu :’v

  18. Dhean Kwon berkata:

    ini jg sad ending tpi keren bgt alur critanx , sperti echented q hrp mreka jg bereinkarnasi hehehe ff eon emang daebak q ska bgt…

  19. aloneyworld berkata:

    Yaaah aku kira si kris emang beneran baik ternyata liciknya minta ampun duuhh -_- politik emang kejam ya, mereka bakal lakuin apapun cuma supaya bisa menang bahkan ngorbanin orang yang dia cinta cuma biar karier politiknya cemerlang😄 yaampun ini bener-bener bikin sadar kalo orang baik itu emang kadang ngga sebaik yang kita pikir ya kaya si kris itu -_- aihh beneran deh kecewa banget sama krisnya😦

  20. Tara berkata:

    Kaknyun aku suka Kris disini! Makasih! Aku suka Kris yang jahat, tapi menderita. Suka pokoknya!! haha. Makasih jari-jari kaknyun yang bikin cerita ini beda. dabes lah kaknyuuuuun

  21. Puput berkata:

    Endingnya dan semua jalan cerita nya gak ada yg aku bisa tebak😦 bener bener ga ketebakk kak. Bagus bangetttt

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s