GHOST SLAYER – STEP #6

Poster #6 Ghost Slayer

Sorry for delay.

***

Yuri berjalan mengekori Zico. Walau ia ingin sekali berjalan di sisinya dan mengobrol banyak dengannya, Jiyong tidak pernah mengizinkannya. Yuri hanya bisa berjalan di sisi Jiyong atau sesekali berada di antara kedua pemuda yang berjalan depan-belakang tersebut.

Setelah melalui perdebatan panjang, Zico tampaknya mulai luluh. Ia mengiyakan ketika sekali lagi Yuri mengajaknya kembali ke Korea beberapa saat yang lalu. Zico nampaknya telah mempertimbangkan beberapa hal sebelum ia mengiyakan ajakan Yuri dan Jiyong. Terbukti dari lamanya waktu yang dibuang di area desa Nukekubi tadi.

Kini mereka berjalan menuju van yang mereka parkir begitu saja di pinggir jalan. Zico bersedia menyetir mengingat Jiyong dan Yuri tidak terlalu andal dalam bidang tersebut. Lagipula Zico sudah hapal betul jalanan di Jepang, sehingga mereka bisa menghemat waktu untuk kembali ke Tokyo dan mencapai bandara.

“Kau terlihat gelisah.” Yuri membaca gerakan Zico ketika pemuda itu duduk di balik setir saat mereka sudah mencapai van. Jiyong bahkan tidak memberikan Yuri kesempatan bicara pada Zico, jadi sebelum dia mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dari Zico, Jiyong sudah mendorong tubuh Yuri untuk berada di ruangan belakang dari van.

“Pelan-pelan dong!” Tukas Yuri ketika tubuhnya secara kasar berada di bagian buntut mobil besar tersebut. Jiyong mengayunkan pintu di sisi kirinya, berpura-pura tidak mendengarkan Yuri. Pemuda itu mengutak-atik jamnya tanpa bicara sepatah kata apapun pada Zico yang belum berkenan menyalakan mesin van.

Hal itu mengundang kerutan di dahi Yuri.

“Apa kita kehabisan bahan bakar?” Ucap gadis itu. Maniknya menatap pada layar kecil di dahsboard yang mana tidak menunjukkan kalau mereka kehabisan bahan bakar. Masih ada setengah tank lagi yang berarti mereka bisa jalan sekarang juga. Kerutan di kening Yuri tidak berkurang, malah semakin bertambah ketika Zico hanya memandangi setir tanpa niat untuk menyentuhnya. Jiyong diam saja dengan memandangi gate-kit nya dan kelakuan aneh tersebut membuat Yuri tidak tahan untuk tidak memukul pundak keduanya.

“Kalian kesurupan?” Kata Yuri lagi ketika Jiyong dan Zico bergantian menatap ke arahnya. Keduanya sama-sama memegangi bahunya yang pedas karena pukulan tangan kosong dari Yuri. Sementara gadis itu dengan wajah tak berdosa, memajukan bibirnya mengejek.

Jiyong dan Zico hanya mendesah kecil kemudian keduanya menatap lurus ke depan seolah Yuri tidak pernah ada di sana. Yuri menghela napas panjang, ia membiarkan tubuhnya bersandar di salah satu kursi kecil yang ada di bagian belakang box van. Ia tidak peduli lagi pada jalan atau tidaknya van ini.

Yuri memainkan rambutnya ketika beberapa helai jatuh di depan telinganya. Ia ingat sekali sesaat sebelum mereka meninggalkan desa nukekubi tersebut—saat-saat dimana Jiyong dan Zico sepertinya berbicara sesuatu yang serius di balik balai-balai rumah Tsubasa Mikami.

Yuri bukan penguntit, ia pun tidak berusaha mencuri dengar, namun ia cukup lihai untuk membaca gerakan bibir dari dua orang yang mengobrol tanpa suara jauh di depannya. Ia melihat namanya berkali-kali di sebut untuk perbincangan yang tidak pernah ia tahu itu. Beberapa kalipun Yuri memikirkannya, ia tidak pernah tahu jawabannya. Memang benar bahwa Jiyong baru sekali ini bertemu dengan Zico, jadi pikirnya, tidak mungkin ada yang tidak ia ketahui dari perbincangan tersebut.

Tapi gelagat Jiyong, belakangan menjadi aneh setelah keduanya berada dalam perbincangan misterius tersebut. Seperti seolah Jiyong tidak ingin Yuri lepas dari pandangannya atau Zico yang berusaha membawa Yuri menjauh dari Jiyong. Seperti itulah.

Yuri ingin menghilangkan perasaan-perasaan curiga tidak menyenangkan seperti itu. Namun ia tidak bisa. Selalu saja ada alasan yang membuatnya penasaran. Dan ia tidak ingin mati dengan rasa penasaran tersebut.

“Apa kebetulan, ada sesuatu yang kalian tahu dan aku tidak?” Kata Yuri pada akhirnya. Ia memeluk lututnya sambil memilin rambutnya sendiri di dalam kegelapan bagian belakang van. Yuri tidak mengetahui bagaimana ekspresi Jiyong atau Zico ketika mereka mendengar kalimatnya, tapi dari keheningan yang panjang, Yuri tahu ada yang salah dengan keduanya.

Suara mesin dinyalakan untuk memecah suasana hening. Zico mungkin merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan pertanyaan Yuri barusan, pikir Yuri. Ia menghela napas.

“Dulu sekali,” Yuri akhirnya berbicara ketika Zico mulai menjalankan vannya. Jiyong diam-diam menghentikkan kegiatannya dengan gate-kit miliknya. Ia mendengarkan Yuri. “Ketika pada suatu hari aku dapat melihat wajah ayahku untuk pertama kalinya, ia mengenalkanku pada dua orang bocah lelaki asing yang ia bawa ke rumah.”

Yuri menelan ludahnya, menunggu reaksi dari dua orang yang masih tersungut-sungut di bagian depan van. Zico melirik sekilas pada arah belakang, namun lirikannya itu belum mencapai sudut dimana Yuri duduk dan memeluk lututnya. Jiyong tidak melakukan apapun selain memandang kosong ke depan.

“Malam berikutnya, Ayah dan Ibu bertengkar besar. Aku tidak tahu apa yang keduanya permasalahkan. Namun aku mendengar namaku dan nama kedua bocah lelaki tadi disebut-sebut. Yang aku tahu selanjutnya adalah, ayah pergi membawa bocah yang lebih tinggi ke Amerika. Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih. Aku hidup hanya bersama ibu dan seorang bocah lelaki asing yang ditinggalkannya bersama kami. Ibu melatih kami hidup sebagai seorang ghost slayer. Kehidupan kami datar sampai akhirnya saat usia kami yang menginjak enam, ayah membawa bocah itu ke Jepang. Memisahkan aku dan dia. Kemudian segalanya berubah, ibu, ayah, lingkunganku. Aku sadar saat semuanya bergerak maju. Kehidupan terus berjalan dan ibu tidak pernah lagi membicarakannya. Aku tidak tahu ini anugerah atau karma, karena ketika semuanya bergerak maju, sebenarnya aku tertinggal di belakang. Penuh dengan pertanyaan besar dan rasa kehilangan yang begitu aneh.”

Jiyong bergerak. Ia sadar betul bahwa bocah lelaki asing yang dibawa ke amerika yang tadi disebut-sebut oleh Yuri adalah dirinya. Ia juga tahu betul bahwa bocah lelaki yang di bawa Kwon Shiwoon ke Jepang adalah Zico. Namun begitu, ia tidak begitu ingat apakah Yuri dan dirinya memang pernah bertemu saat keduanya masih berumur kurang dari lima tahun atau bagaimana. Ingatan Jiyong seolah bermula ketika ia berada di Amerika. Ia tidak memiliki ingatan sama sekali sebelum ia berada di sana. Yang artinya, ketika ia dibawa dari Korea, ia tidak bisa mengingat alasan di balik hal tersebut.

“Mungkin aku tidak seharusnya menceritakan ini pada kalian, tapi kurasa aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Aku baru-baru ini memiliki suatu ingatan aneh, aku lupa kapan atau bagaimana detailnya, seolah ingatan ini dihapus dari otakku.” Kata Yuri. Ia berhenti memilin rambutnya kemudian otaknya menuntunnya menggali memori lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Petir menggelegar dalam ingatannya, hujan turun dengan deras. Seorang bocah perempuan yang begitu kurus berada di ambang pintu dan menatapnya dengan lekat. Masih dalam bayangan memorinya, Yuri melihat ibunya menuntun gadis itu masuk ke dalam rumah dan memberinya perlindungan.

“Ibu membawa seorang gadis aneh ke dalam rumah tepat setelah ayah membawa Zico pergi. Gadis itu sepertinya lebih tua beberapa tahun dariku. Ia mengenakan celana jins lusuh dan kaus putih yang dihiasi noda-noda kehijauan. Ibu memberinya makan dan memandikannya. Meski sebentar saja, aku merasa tubuhku terbakar ketika gadis itu berada di rumah. Ketika aku ingat lagi sekarang, ibu tidak pernah mengajakku bertemu dengannya, ia bahkan mengunciku di kamar.”’

Zico menyetir lurus. Ia beberapa kali menelan ludahnya dengan ragu. Maniknya bertemu-tatap dengan Jiyong dan keduanya membagi pandangan cemas.

“Aku melihat ibu melepas kepergian gadis itu dari jendela malam selanjutnya. Pada saat itu, aku bisa melihat jelas wajahnya. Cantik, dengan aura menyeramkan. Ketika ia tersenyum dan melambai ke arah ibu, gigi-gigi panjang menyerupai taring menyobek mulutnya. Cairan hijau menetes dari bibirnya yang sobek lantas mendarat di kausnya yang putih. Saat itu aku mengerti, kenapa ibu mengunciku di kamar atau kenapa gadis itu selalu mengenakan kaus dengan noda kehijauan. Dia bukan manusia.”

Zico tiba-tiba saja menghentikkan vannya. Ia mencengkram setir kuat-kuat kemudian menatap kembali Jiyong. Jiyong mengangguk dan mulai menarik Yuri yang kini duduk di bagian belakang van dengan lemas. Tidak ada air mata yang mengalir di sudut matanya, namun ia melemas dengan sangat hebat. Matanya menjadi cekung dan ada lingkaran hitam di sekitarnya.

Jiyong tidak punya pilihan selain membopong Yuri dengan keduatangannya. Zico membantunya dengan membuka pintu keluar bagi Jiyong dari bagian belakang van. Kemudian keduanya berlari dengan membawa Yuri yang berada dalam genggaman Jiyong.

Tidak ada yang mengejar, tapi Zico dan Jiyong sepakat untuk membawa beberapa perlengkapan Ghost Slayer mereka dan segera menghindari bahaya apapun yang bisa saja terjadi kapanpun. Keduanya sudah tahu bahwa ada yang aneh dengan kekuatan Yuri baru-baru ini. Terutama ketika sebuah roh air mengatakan pada keduanya bahwa ia harus berhati-hati terhadap Yuri dalam dua puluh empat jam selanjutnya. Roh air di desa nukekubi itu juga mengungkapkan ramalan—keahliannya.

Ada empat orang terikat benang merah.

Tiga akan lari sementara seorang yang paling lemah akan terpuruk.

Salah satu yang terkuat akan membutuhkan yang terlemah.

Seseorang akan mengorbankan dirinya dan bergabung dengan yang terkuat.

Pengkhianatan akan muncul.

Sejauh ini, ramalan sudah membuktikan sampai bagian tiga akan lari sementara seorang yang paling lemah akan terpuruk. Zico sudah mengatakan pada Jiyong pada saat keduanya berada di desa nukekubi tadi bahwa ada segel yang berada di tubuh Yuri dan menahan kekuatannya. Ia juga mengatakan Yuri akan melemah ketika mereka tidak bisa membawanya pada si pembuat segel dalam dua puluh empat jam.

Jiyong juga sudah mengatakan bahwa ada kemungkinan Victoria yang menjadi dalangnya karena tidak ada lagi yang bersama dengan Yuri selain Jiyong selama ini.

Jika Victoria, berarti itu Seunghyun. Percaya padaku, Mansion benar-benar merencakan sesuatu terhadap kita. Kalimat Zico masih terbayang-bayang dalam pikiran Jiyong. Ia membawa Yuri menjauh dari van atas bahaya yang dikatakan dalam ramalan hantu air tersebut.

Sejauh ini, mereka tahu bahwa ada seorang lagi yang mungkin ada kaitannya dengan masa lalu ketiganya. Tapi tidak pasti siapa. Jiyong tidak ingin percaya pada ramalan hantu air tersebut, terutama pada tiga bait terakhir.

Seseorang yang terkuat akan membutuhkan yang terlemah terdengar tidak bagus bagi Jiyong. Artinya ada seseorang di antara mereka berempat yang akan membutuhkan Yuri kalau begitu. Tidak pasti siapa. Sejauh yang Jiyong bisa prediksikan adalah, ia tidak boleh memercayai siapapun. Mansion atau Zico. Bisa saja Zico termasuk orang dalam penggalan ramalan pengkhianatan akan muncul.

Tapi ketika ia mulai berpikir kembali, bagian seseorang akan mengorbankan dirinya dan bergabung dengan yang terkuat mungkin saja Jiyong sendiri. Karena tentu saja ketika sesuatu terjadi pada Yuri, ia tentu tidak bisa tinggal diam. Kalau ia tidak bisa menjauhkan Yuri dari bahaya, maka melihat karakteristiknya, Jiyong akan menggantikan Yuri untuk menanti bahaya itu.

Saat ini kepalanya sudah hampir mau pecah ketika mencoba mencacah ramalan tersebut menjadi detail-detail kecil. Jiyong bagai menyusun mozaik yang ditiup-tiup oleh angin di kepalanya. Entahlah.

BRUGH!

Sebuah hantaman keras mendarat di perut Jiyong. Tidak sengaja, ia melontarkan Yuri ke atas aspal. Jalanan begitu sepi sehingga Jiyong ragu yang memukulnya barusan adalah manusia. Maniknya berusaha mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Zico. Ketika ia akhirnya menemukan pemuda tersebut, Yuri sudah hilang dari pandangannya.

Jiyong mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian berusaha berdiri.

Dilihatnya tiga orang yang baru saja datang dari sisi di belakang bahunya. Jiyong berputar untuk menghadapi tiga orang tersebut. Maniknya memicing, dua wanita dan satu pria. Ketiganya memakai jubah yang begitu bersahabat di mata Jiyong, Jubah khas mansion dengan salah seorang pria yang memiliki simbol kebesaran allegra.

Choi Seunghyun di sana.

Victoria dan Lee Chaerin berada bersisian di belakangnya.

Tubuh Yuri digenggam erat oleh Victoria di tangannya. Sedangkan Zico diikat dengan kuat oleh tali-temali yang simpulnya dibuat unik dengan spirit force dari sang pemimpin allegra sendiri. Seunghyun.

Bravo!” Seunghyun bertepuk tangan.  Disusul kekehan jahat yang meluncur dari bibir Chaerin. “Nukekubi bahkan sudah bisa dilumpuhan. Bravo! Tidak ada gunanya mengirim para roh bodoh ini untuk menakutimu rupanya.”

Jiyong berdiri gemetar. “Kau menipu kami. Kau ingin membunuh kami.”

“Menipu? Menipu lebih bagus daripada membunuh. Jikalau memang ada yang harus dibunuh, itu bukan kau. Tapi bocah Jepang sok kuat ini.”

Gigi Jiyong bergemeretak. Saat Seunghyun berjalan menjauh dari dua tahanan di belakangnya, Mata Jiyong berkedut.

“Sudah lama sekali rasanya aku menanti saat-saat seperti ini. Menangkap Zico tidak semudah kelihatannya. Ia lebih licin dari belut dan lebih berbahaya dari singa kelaparan.”

“Kenapa kau menangkapnya?”

Seunghyun tersenyum. “Kenapa katamu? Aku juga bertanya-tanya. Kira-kira apa yang bisa kita dapat dengan menangkapnya?” Seberkas senyum dari wajah Seunghyun lantas menghilang. Ia menatap Zico lekat. “Shiwoon adalah guru yang sangat kuhormati. Kami tidak pernah sejalan tapi dialah satu-satunya yang mau menerima segala perbedaan itu. Memungutku dari panti asuhan, mengajariku kemampuan ghost slayer, menuntunku menjadi allegra adalah bakat-bakat yang ia turunkan padaku. Tapi aku lupa ia memiliki satu bakat yang tidak pernah aku tahu : Menghilang. Shiwoon gemar sekali menghilang. Dari Korea ke Amerika, kembali ke Korea kemudian ke Jepang. Sampai akhirnya bakatnya itu tidak pernah kutemukan lagi dimanapun. Shiwoon menghilang dengan misterius, oh, tidak… dia tidak menghilang, dia… mati.” Manik Seunghyun tertenam telak pada Zico yang baru saja dipasangkan segel kekuatan oleh Victoria.

Zico menahan napasnya ketika rasa panas menjalari tubuhya. Jiyong melihat namun masih ada beberapa hal yang membuatnya membumbungkan tanda tanya besar. Jika Zico adalah pemuda yang diinginkan Seunghyun, kenapa Yuri harus merasakan akibatnya juga? Kenapa Yuri juga ditahan olehya?

Gerakan mata Jiyong bisa terbaca jelas dalam manik Seunghyun. Ia tertawa.

“Aku tidak akan membunuhnya, Jiyong. Tidak, sampai segel itu menghabiskan seluruh kekuatannya untuk bertahan. Sampai kulihat dengan mata kepalaku sendiri, anak-anak dari iblis yang membunuh pria yang membesarkannya.”

Jiyong tertegun ketika akhirnya Yuri berteriak kesakitan. Matanya mengeluarkan cairan hijau kental dengan gigi yang berubah ukurannya. Menjadi lebih besar. Victoria sudah menjatuhkan gadis itu di tanah karena bobotnya semakin berat. Manik Yuri berubah menjadi iris hijau senada dengan lelehan cairan yang keluar dari sana. Bagian putih dari matanya berubah menjadi hitam, sehitam jelaga. Warna kulitnya yang coklat, kini mengelupas. Memendarkan warna putih pucat yang kekeringan. Rambut Yuri tidak luput dari perubahan. Helaian kehitaman tersebut sudah berubah warna senada dengan warna kulitnya. Putih. Seolah Yuri baru saja kejatuhan tepung.

Nada suara gadis yang biasanya terdengar menggemaskan sekaligus mengganggu di telinga Jiyong, kini berubah menjadi auman mengerikan yang bahkan tidak dapat ia mengerti. Ada ekor panjang yang ujungnya terbakar pada bagian belakang dari celana yang dipakai Yuri dan itu semakin menunjukan identitas Yuri yang belum pernah dilihatnya.

Zico tidak dilupakan oleh Seunghyun. Ia memekikkan tawa sebelum akhirnya tubuh Zico mengalami hal serupa seperti Yuri. Tubuhnya memutih dengan pembuluh darah yang bahkan tidak lagi memerah. Semuanya putih kecuali bagian iris mata dan cairan yang berpusat di matanya.

Auman Zico sama mengerikannya dengan Yuri.

Tapi yang dirasa Jiyong bukan gemetar ketakutan. Ia mendengar auman kesakitan yang pedih dari keduanya. Seunghyun masih tertawa walaupun di belakang tubuhnya dua manusia baru saja berubah menjadi iblis yang mengerikan.

Jiyong pernah membaca sebuah buku yang memberitahunya bahwa darah hijau kental adalah warna khas dari darah iblis dan keturunannya. Itu menjelaskan identitas Zico dan Yuri yang sebenarnya. Tidak aneh ketika ia mengingat ayahnya memisahkan ia dengan yuri bertahun-tahun lalu.

Pertanyaan baru kemudian muncul di otak Jiyong. Jika Zico dan Yuri adalah iblis yang berwujud manusia. Lalu siapa dia? Apa hubungan Zico dengan keluarga mereka? dan apa hubungan dirinya sendiri dengan Yuri?

Ketika pertanyaan tersebut bergulat di otaknya. Bayangan wajah ayahnya muncul di dalam alam bawah sadarnya. Kemudian Jiyong memunculkan pertanyaan terbarunya. Siapa yang membunuh ayahnya? Jika Zico, kenapa dia melakukannya?

Pertanyaan tersebut belum sempat dijawab oleh Jiyong saat akhirnya Chaerin menyerangnya terang-terangan dari depan. Gadis itu menghunuskan semacam panah perak padanya. Jiyong menghindar, kilatan dari panah perak membias dalam matanya.

Perak? Kenapa ia menyerangku dengan peralatan yang seharusnya ia gunakan untuk menyerang roh?

Jiyong bersalto di udara saat Chaerin kembali menyerangnya dengan gerakan cepat. Panahnya melesat lurus menembus angin dan menancap pada pohon-pohon yang ada di depannya. Jalanan begitu sepi, selain mereka yang ada di sana, hanya ada beberapa tikus dan binatang malam yang bertengger ketakutan sambil menonton.

Jiyong mendaratkan kakinya di atas aspal. Saat ia menoleh ke belakang, Chaerin sudah hampir menyerangnya lagi. Jiyong ingat betul prestasi Chaerin di dalam mansion. Julukannya adalah wanita tanpa luka. Ada sebuah cerita di balik julukan itu, meskipun Jiyong tidak pernah melakukan misi bersama wanita itu dan ia belum membuktikan kebenaranya, konon Chaerin tidak pernah melakukan misi penangkapan dengan satu goresan lukapun. Ia tidak pernah sedikitpun terluka ketika kembali dari misi. Julukan tersebut membuktikan betapa hebatnya seorang Lee Chaerin. Seharusnya ia sudah menjadi allegra jika ia tidak menyerahkan jabatan tersebut secara Cuma-Cuma pada Choi Seunghyun.

Saat kali ini Chaerin melesatkan anak panahnya kembali, Jiyong tidak berniat menurunkan kewaspadaannya. Meskipun ia terdesak dalam posisi bertahan, ia berjanji akan menyerang gadis itu ketika kesempatan kecil datang padanya.

Kesempatan kecil itu artinya sekarang. Jiyong memperkirakan waktu gerakan yang dilakukan Chaerin dari saat ia menyerang sampai ia menarik panah baru kembali dari belakang punggungnya. Ada jeda sekitar lima detik dimana Chaerin tidak bertahan ataupun menyerang. Jiyong mengincar lima detik jeda tersebut.

Kali ini, ia membiarkan panah Chaerin hampir menembus bahunya. Saat ujung runcing peraknya baru saja menembus kemejanya dan menggorekan sedikit luka di dada kiri, Jiyong menangkap panah tersebut dan merogoh gun-kit dari saku belakang celana jinsnya. Ia menembak tanpa ragu pada Chaerin yang menurunkan tingkat kewaspadaannya karena panah mengenai dada kiri Jiyong.

Dor.

Sebuah tembakan mendarat tepat di dada Chaerin dan membuat tubuhnya ambruk di atas aspal. Tubuhnya telungkup dengan batuk-batuk yang keras dari pita suaranya. Seunghyun mundur beberapa langkah dan bergabung dengan Victoria. Auman dari Yuri semakin melengking, lebih keras daripada yang dibuat oleh Zico. Sementara di sisi lain, panah yang sudah menggores luka di tubuh Jiyong kini mendapatkan kemenangannya. Luka kecil di dada Jiyong berkedut hebat. Seharusnya ia tidak merasa selemah ini—ambruk dan mengerang—hanya karena goresan dari panah.

Tapi seperti Chaerin, Jiyong ambruk di sisi lain.

Darah menetes dari dadanya dan lukanya semakin melebar tanpa alasan. Jiyong memegangi dada kirinya. Kemudian sesuatu yang mengejutkan terjadi, Zico melepaskan ikatannya dan mengaung kesakitan di ujung lain dari Jiyong yang ambruk. Teriakan Zico seolah menjawab luka lebar yang dihasilkan oleh Jiyong.

Darah dari lubang yang dihasilkan peluru perak Jiyong pada tubuh Chaerin, masih menetes. Auman Yuri liar, seliar Chaerin yang tertawa keras. Tubuhnya bangkit dengan gerakan patah-patah. Darah masih menetes lengket dari jubah yang dipakainya.

Seunghyun bergidik kemudian mengambil beberapa langkah lebih jauh untuk mundur. Victoria membekap mulutnya sendiri dan memandang tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Jiyong mencium aroma penasaran pada dirinya sendiri. Ketika ia mendongak dan mencari tahu, sesosok wanita dengan tubuh yang dilumuri cairan hijau kental kini baru saja melepas jubah mansionnya.

Chaerin tertawa, memekik.

“K—KAU!” Seunghyun berteriak. “SIAPA KAU!”

Chaerin masih memekik sementara Yuri berjalan mendekat ke arahnya. Cairan hijau lebih banyak keluar dari setiap pori-porinya dan membasahi jalanan aspal. Ia menyeret kaki kanannya seolah kaki tersebut tidak berfungsi. Taring-taring yang ada pada mulut  Yuri menggigit-gigit bawah bibirnya dan membuat mulut kecilnya sedikit sobek. Yuri mengaum layaknya serigala, kemudian dia terjatuh ketika Chaerin menjambak rambutnya.

“Kau terkejut ya, Seunghyun?” Ketika tubuhnya memiliki kontak fisik dengan Yuri, luka di dadanya menutup lebih cepat. Yuri mengaum kesakitan. Cairan hijau yang keluar dari balik pelupuknya mengisyaratkan pedih yang luar biasa ia alami dari momen singkat tersebut.

“Maaf aku menipu kalian selama ini. Sebagai ucapan terima kasih telah membantuku, kubiarkan kau hidup.” Kata Chaerin. Matanya memicing pada Seunghyun dan Victoria yang sudah tidak bisa menangkap apa yang terjadi. Auman Yuri yang menyakitkan masih terdengar dalam telinga Jiyong. Ia mengedarkan pandangan kemana-mana, barangkali secara kebetulan itu hanya sebuah mimpi.

Tapi Jiyong menerjemahkan rasa sakit di dada kirinya sebagai kenyataan, bukan mimpi.

Mulut Chaerin membuka lebar. Ia menjambak rambut Yuri dan membiarkan mulut Yuri juga menganga. Seketika Yuri menjerit, melengking, mengais aspal dan bergerak brutal. Ada cahaya hijau yang keluar dari mulut Yuri. Cahaya itu seperti membakar kulit putih pucat gadis itu dan membuat Chaerin lebih baik. Setiap penderitaan atau lengkingan yang dilantunkan Yuri menguar ke udara, di saat itulah luka di dada Chaerin tidak terlihat lagi.

Kerutan di wajah Chaerin memudar, dan tubuhnya berkali-kali lipat menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Aura yang dirasakan Jiyong hampir sama seperti aura ketika ia bertemu dengan ibunya. Apa mungkin…

BAM.

Chaerin menjatuhkan tubuh Yuri yang kurus kering di atas aspal. Darah hijau yang mengalir di setiap pori-porinya sudah berubah menjadi merah. Tangisan kuat yang sebelumnya melengking bagaikan monster kini berubah menjadi tangisan lemah dari seorang gadis yang kesakitan. Tubuh Yuri yang ringkih berbaring menatap Chaerin tidak percaya. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan merasakan sisa-sisa dari rasa sakit yang masih dirasanya.

Sesekali matanya menatap ke arah Jiyong. Kemudian Zico yang masih mengaum.

“Kau anak iblis yang sebenarnya! Kau—putri Hani yang hilang! Bukan gadis ini.” Seunghyun berteriak jauh di belakang Chaerin dan meminta penjelasan singkatnya. Yuri masih melemah, namun ia tahu betul apa yang mereka bicarakan. Sosok gadis kecil dengan noda kecokelatan pada kausnya, akhirnya Yuri tahu siapa dia.

“Ya. Memang aku. Sudah lama sekali pria tua bangka itu menyiksaku. Ia membawa seorang gadis dan seorang bocah lelaki saat usiaku empat tahun. Ia menggunakan kekuatannya untuk memisahkan aku dengan bakat alamku dan menanamkan setengahnya pada gadis brengsek ini. Ia menyebutnya ekstraksi untuk menyelamatkan hidupku. Katanya aku anak iblis.”

Chaerin menatap Yuri jengah. “Tapi gadis brengsek ini memiliki nasib yang bahkan lebih baik dari aku. Walaupun ingatannya dihapus, pria tua bangka itu membawanya pada ibu kandungku. Kemudian ia merawatnya. Aku digantikan. Aku dilupakan. Lalu yang aku tahu selanjutnya, pria brengsek itu bukanlah ayah kandungku. Seperti yang kuceritakan, aku anak iblis. Hani, ibuku masih keturunan iblis. Dia kabur dari Kingdom dalam keadaan hamil. Shiwoon adalah yang pertama menemukannya dan iba padanya. Ketika aku lahir, istri Shiwoon meninggal. Ia meninggalkan dua anak. Si Gadis brengsek ini dan saudara kandung lelakinya. Kemudian, seperti yang kaulihat, anak-anak dari Shiwoon adalah pembawa kekuatan dari anak-anak iblis dari Hani.”

Yuri menatap lemah ke arah Jiyong. Mata mereka bertemu-tatap. Jiyong terbatuk keras.

“Anak-anak iblis katamu?” Seunghyun bertanya dengan nada hati-hati. Total ada empat orang yang mencurigakan di depannya. Chaerin yang sebenarnya anak iblis, Yuri yang ternyata hanya pembawa setengah kekuatan Chaerin, Jiyong yang sekarat karena panah dan Zico yang masih mengaum bagaikan orang gila. Dari keempat orang ini, selain Chaerin, ia yakin ada satu orang lagi yang ia sebut sebagai ‘anak-anak iblis’.

“Ya, aku belum mengatakannya ya? Dengan sangat menyesal, kukatakan bahwa Hani melahirkan dua anak pada hari Shiwoon menyelamatkannya. Aku bukan akan tunggalnya.”

Chaerin berdeham. “Sayangnya, nasib aku dan dia begitu berbeda. Kekuatan kami sama-sama diekstraksi ke tubuh manusia lain. Kekuatanku dijaga dalam tubuh gadis brengsek ini, dan kekuatan dia dijaga oleh tubuh yang lain. Shiwoon mengatakan bahwa ia harus melakukan itu pada kami karena kekuatan kami terlalu besar. Nafsu memburu kami lebih kuat dari siapapun. Ia takut kalau suatu hari kami akan melukai orang. Tapi sayangnya, ia tidak tahu bahwa orang yang akan pertama kali kami lukai adalah dirinya sendiri.”

Seunghyun menatap bengis pada Chaerin. “Pada malam kau memerintahkanku dalam misi untuk mencari Shiwoon, adalah malam aku membunuhnya, Seunghyun. Kau kaget?”

Chaerin tertawa. Sementara Zico yang ada di sebelahnya mengaum dan berlari ke arah Jiyong. Ada lelehan hijau di pelupuk matanya hingga bagi siapapun yang melihat, akan segera berpikir bahwa Zico tengah menangis.

“Anggap saja ini setimpal. Kau menyiksa ibuku di dalam sel, dan aku memberimu kenyataan pahit bahwa aku yang membunuh guru yang sangat kau cintai.”

“Kau brengsek!”

“Memang. Dari dulu.” Chaerin tertawa picik. Ia menendang kaki Yuri yang menghalangi jalannya saat ia akan berjalan menyusul Zico.

“J-Jangan lukai mereka.” Kata Yuri lemah. Kalimat patah-patah itu mampu membuat Chaerin berhenti berjalan dan memicingkan manik pada Yuri. “Kau sudah hampir mati, sayang. Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri. Dan omong-omong, terima kasih atas kekuatan ini. Kau sudah menjaganya dengan baik selama ini.”

Wajah Yuri menampilkan ekspresi berjengit ketika pelan-pelan wajah Chaerin mendekati wajahnya. Ia berbisik singkat. “Aku tidak akan melukai keduanya, kalau mereka banyak berguna.”

Yuri terbatuk, mulutnya memuntahkan darah kental yang meleleh keluar dan membasahi bajunya. Celana jinsnya sudah robek karena fase monster yang baru saja dilewatinya tadi. Karena segel yang dipasang Victoria, kekuatan murninya memudar.

“Ada alasan mengapa Shiwoon membagi kekuatanku pada dirimu, gadis manis. Dan ia enggan memberitahukannya padaku. Tapi apapun itu, Victoria sudah membantuku dengan menyegel kekuatanmu. Karena kekuatanmu disegel, maka otomatis kau akan menggunakan kekuatan iblis yang pernah Shiwoon tanam pada dirimu. Itu sungguh memudahkanku untuk mendapatkan kekuatanku kembali. Jadi terima kasih.” Kata Chaerin keras-keras. Victoria menggigit bibirnya dan bersembunyi di balik tubuh Seunghyun ketika Chaerin menundukan kepala padanya sebagai rasa hormat.

Gigi Seunghyun bergemeretak tidak percaya sekaligus jengah.

Pada saat itu Jiyong terbatuk dengan hebat. Ia kepayahan. Konsentrasi Chaerin berubah pada pria malang tersebut. Ia terkekeh. Zico masih mengaum di sebelah Jiyong, tanpa ada niatan menyakitinya sama sekali.

Jiyong menadahi cairan kental yang terus keluar dari lukanya yang semakin melebar. Cairan yang lengket dan amis. Jiyong memejamkan mata untuk menahan rasa sakit seperti ditusuk tombak di dadanya. Namun ia kalah juga karena rasa penasaran akan cairan kental yang ada di dadanya. Saat ia membuka mata, Chaerin sudah tersenyum dan berjalan ke arahnya dengan mantap.

“Halo,” katanya. Jiyong terbatuk, kemudian matanya tertanam pada cairan hijau lengket di kemejanya. Zico mengaum dan menyentuh tubuh Jiyong. Seketika luka di dadanya perlahan tidak terasa begitu menyakitkan seperti sebelumnya. Jiyong mengerjapkan matanya, kemudian memastikannya dengan melihat kembali luka dan cairan kental di kemejanya.

Luka sudah hampir menutup.

Darahnya berwarna hijau kental untuk pertama kalinya.

“Kenapa Shiwoon tidak pernah membiarkan kau dan Zico bertemu, pernahkah kau memikirkannya, Jiyong-ssi?”

Jiyong menatap tak percaya. Tubuhnya gemetaran. Zico tiba-tiba saja berteriak ketika Jiyong bergerak menghempaskannya. “Karena jika kau dan Zico bertemu, kau akan dihadapkan pada dua pilihan sulit: Meringankan penderitaan Zico dan mendapatkan kekuatanmu kembali atau,” Chaerin menatap lekat pada Zico. “Membiarkan pemuda itu mati karena kau tidak mau menarik kekuatan hebatmu dari tubuhnya.”

Jiyong hampir tersengal. Sama kagetnya seperti Yuri yang terbaring lemah atau Seunghyun dan Victoria yang berdiri di kejauhan, mengamat-amati. Chaerin tertawa di dalam gelapnya malam.

“Pilihan ada di tanganmu,” Chaerin mengalihkan pandangannya dari Zico. Dia melihat tubuh Jiyong yang perlahan bangkit dan menghadapinya antarmuka. Jiyong merintih bengis. Ia membuka mulutnya dan menghadapkanna pada mulut Zico yang menganga. Ia melakukan persis seperti yang dilakukan oleh Chaerin pada Yuri. Zico berteriak sementara Chaerin tertawa penuh kemenangan.

Ketika akhirnya Zico terpelanting di tanah dengan penuh peluh, Yuri menangis di kejauhan. Air matanya menetes begitu deras. Zico melemas dengan darah yang menggenang di bawah tubuhnya. Keadaannya lebih parah dari Yuri karena Zico sempat berada dalam tubuh iblis lebih lama darinya.

Tubuh Zico tersengal-sengal dan tepat pada saat itu Yuri menangis lagi. Ketika matanya menatap pada sosok yang berdiri dengan tegap di seberang sana, ia tidak lagi menatap Jiyong. Tidak dengan iris mata kehijauan dan senyum hambar.

“Selamat datang,” Chaerin menundukkan kepala penuh hormat. “Kakak kandungku.”

.

.

 TBC

.

.

Yoohoo~~~ nahloh! Ternyata Yuri sama Jiyong bukan sodara. Malah Zico sodaranya Yuri. Nahloh Kenapa malah Chaerin yang jadi sodara kandungnya Jiyong. Nahloh, Jiyong anaknya iblis.

OAO. Jangan salahkan aku kenapa ceritanya jadi begini. Oh iya, sekadar pemberitahuan. Ghost Slayer akan segera tamat. Jadi stay tuned terus sampai akhir ya🙂

53 thoughts on “GHOST SLAYER – STEP #6

  1. Ardelia wynne berkata:

    Ya ampun ternyata chaerin yg jahat selama ini
    Bener” ga ketebak sama sekali
    Duh jiyong na jangan jadi jahat deh krn ud balik ke asli na

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s