TALES OF ZODIAC #3

Toz Krisyul 5

Here comes trouble~

Warning : Siders dilarang ngintip.

.

.

Geez. Belakangan ini hal-hal aneh terus-terusan mendatangiku.” Yuri menutup pintu mobilnya sambil mengoceh. Ia memerintahkan supirnya untuk menginjak gas agar ia lebih cepat sampai di rumah. Tubuh Yuri ingin hancur saat itu juga jika ia tidak ingat masih banyak jadwal yang menunggunya setibanya di rumah.

“Apakah ayah benar-benar membuat pesta perjamuan makan hari ini?” Tanya Yuri yang diiringi anggukan singkat nan hormat dari supirnya. Yuri mendesah. Bisa tidak sih ayah menghilangkan ‘perjamuan makan’ dari daftar makan malam keluarga? Telah menjadi tradisi dalam keluarga besar Yuri bahwa setiap ayahnya mengadakan acara perjamuan makan dengan kolega dan rekan bisnisnya, di sanalah Yuri versi gadis-gadis bergaun ala dongeng seharusnya berada. Bagian buruk lainnya, Yuri setidaknya harus tersenyum selama kurang lebih tiga jam hingga pestanya benar-benar usai.

Belum cukup buruk, belakangan ayahnya mengadakan acara kencan buta terselubung dalam perjamuan makan tersebut. Terbukti dari koleganya yang membawa lusinan pemuda sebaya dengan Yuri. Sebagian besar adalah pemuda tampan dengan senyuman maut yang ia kenal dalam lingkungan sekolahnya.

“Hari ini tamu dari mana katanya?” Kata Yuri. Kepalanya mendongak, mencoba menatap supirnya dari spion tengah. “Kalau itu saya kurang tahu, Nona.” Jawab sang supir. Yuri mengangguk mengerti. Jauh di dalam hatinya ia berdoa agar Tuhan mengirimkan sesuatu yang membuat jamuan makan malam ini gagal total.

.toz.

“Kenapa kau memanggilku kemari?” Eunji protes setibanya di kamar Yuri. Yuri tidak mendengarkan melainkan mengeluarkan sebuah tali tambang yang cukup besar dari balik lemarinya. Ia uraikan tali tersebut hingga ujungnya jatuh di atas tanah luar jendela. Eunji menatap sahabatnya itu sambil menggeleng. “Biar kutebak, kau ingin meminta bantuanku untuk menggantikanmu di acara perjamuan makan?”

Yuri tidak menoleh namun anggukan singkat dan gumaman persetujuan baru saja keluar dari mulutnya. Yuri mengikat ujung tali yang ada di tangannya pada pilar-pilar ranjangnya. “Menurutmu apa ini aman?” Katanya pada Eunji. Yuri baru saja menguatkan simpul rumit ala boy scout di sana. Eunji memandanginya sekilas kemudian menjatuhkan diri di atas kasur sambil memandangi kelambu yang ada di langit-langit ranjang milik Yuri.

“Tidak aman, kalau ayahmu datang.”

Pintu kamar Yuri berderit terbuka. Yuri buru-buru menutup jendela dengan tirai demi menyembunyikan seutas tali yang sudah repot-repot ia pasang di sana. Di balik pintu berderit tadi, sesosok pria yang tidak terlalu tua dengan dandanan necis muncul. Ia tersenyum sekilas pada Eunji yang buru-buru bangun dari kasur Yuri kemudian mata sang pria necis kini tertanam pada Yuri yang tersenyum hambar.

“Kau belum siap-siap?” Tanyanya. Yuri berkedip ragu, ia menatap Eunji yang tersenyum sama ragunya. “Sedikit lagi, Ayah. Eunji sedang membutuhkan sesuatu. Jadi aku mencarinya dulu untuknya.”

Kening Ilwoo berkerut. “Benarkah? Apa yang kaubutuhkan, Eunji?” Eunji belum sempat mengelak dari pernyataan Yuri dan kini mata Ilwoo sudah tertanam pada tubuhnya. Eunji bisa saja menukasnya sambil berkata Om, Yuri ingin kabur tuh tapi sayangnya, Eunji tidak memiliki bakat sebagai teman yang gemar mengkhianati temannya sendiri. Jadi kini ia memutar otak sambil mencari alasan yang bagus agar Ilwoo memercayai kata-kata Yuri.

“Laporanku. Laporan bilogiku ada pada Yuri.” Kata Eunji. Ia mungkin sudah melakukan sebuah senyuman hambar yang paling profesional yang pernah ia buat. Tapi Ilwoo tidak lantas memercayainya. “Laporan apa? Penelitian?”

Yuri menggigit bibirnya sambil mengutuk Eunji karena mengarang sesuatu yang bahkan tidak bisa dibayangkannya. Belum pernah ada sejarah yang mengatakan bahwa Eunji dan Yuri membuat sebuah laporan bersama. Kalau saja tadi Eunji bilang ia meninggalkan sepatu atau baju di kamarnya, mungkin Ilwoo saat ini sudah pergi dan mereka selamat dari tatapan maut.

“Ya. Penelitian. Itu lho om tentang penelitian pengaruh hubungan sapi terhadap manusia.” Eunji terkekeh-kekeh dengan bodoh. Dan Yuri rasanya ingin menimpuk dirinya sendiri dan jatuh dari atas menara Eiffel sekarang juga. Ilwoo mengangguk-angguk pelan tapi tidak terlihat meyakinkan. “Jadi itu tentang seberapa kuat sapi dapat melukai atau membantu manusia, Om. Persis seperti shaun the sheep.” Eunji terkekeh-kekeh lagi. Sementara Yuri rasanya sudah ingin memuntahkan nasi kepalnya tadi siang. Tidak ada hubungannya sapi dengan Shaun The Sheep, maksud Yuri, ia ingin sekali menenggelamkan tubuh Eunji di danau kemudian berteriak di dalam air kalau tokoh utama Shaun The Sheep adalah biri-biri, bukan sapi.

Tapi di ambang pintu, Ilwoo mengangguk lagi sambil ikut terkekeh bersama Eunji. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian beralih memandang Yuri. Yuri berakting senormal mungkin. Walau tidak terlampau normal, setidaknya ia tidak kelewat idiot seperti Eunji. Senyum tipisnya mengembang tatkala gerak-gerik Ilwoo sudah menunjukkan dia akan pergi dari ambang pintu. Namun tidak lama kemudian senyum itu memudar saat Ilwoo bilang, “Omong-omong, simpul yang kaubuat tidak akan menahan berat badanmu. Kalau kau memaksa turun dari jendela itu, kasurnya akan roboh. Lain kali pasang dengan cermat dan jangan biarkan orang lain tahu. Goodluck.”

Ilwoo menghilang dari ambang pintu. Yuri mengutuk dirinya sendiri. Tubuhnya mondar-mandir berjalan di depan jendela. Sesekali ia melihat ke bawah dari kamarnya yang berada di lantai dua. Kemudian ia berdecak, mengacak-acak rambutnya dan memarahi dirinya sendiri.

“Jadi bagaimana? Kau masih butuh bantuanku?” Eunji memilin rambutnya tanpa wajah berdosa. Sementara Yuri meniupkan poninya ke atas. “Kau urus saja sapi-sapi penelitianmu itu.” Ucapnya kesal.

“Tapi aku tidak benar-benar membuat penelitian tentang sapi. Maksudku, ayolah! Orang bodoh dimana yang membuat penelitian tentang sapi.” Katanya lagi. Yuri kini sedang berjongkok sambil membuka laci-laci paling bawah dari lemari kayunya yang besar. Ia mengambil beberapa underwear miliknya dari sana.

“Itu kau tahu!” Kata Yuri. Ia membawa beberapa potong pakaian di dalam tangannya. “Itu sebabnya ayahku tahu drama kita, idiot. Lagipula, tidak bisakah kau mengarang alasan lebih masuk akal yang lain? Seperti, kau meminjam bukuku atau kau meminjam sepatuku barangkali.”

Eunji tertawa dengan ekspresi bersalah. “Aku tidak kepikiran.”

“Oke. Cukup kalau begitu, kau bisa kembali ke rumahmu.”

Yuri membuka bajunya di sebuah ruangan kecil di balik tirai yang ada dalam kamarnya. Sehingga kini, Eunji hanya melihat bayangannya dari luar. “Aku malas pulang.” Ucapnya dengan nada tak bersemangat. Menemukan diri Eunji dengan gelisah dan muram seperti ini termasuk penglihatan langka. Tapi bagi Yuri, hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Penyebannya pun tidak pernah berubah.

“Apa orangtuamu bertengkar lagi?” Kata Yuri.

“Ya. Masalah sepele, lagi-lagi.”

“Biarkan saja. Para orangtua memang seperti itu. Masih lebih bagus dirimu daripada aku.”

“Kau masih memikirkan ibumu?” Kata Eunji. Yuri keluar dari balik tirai dengan sebuah gaun abu-abu selutut. Rambutnya masih tergerai di belakang punggung. Saat mata mereka bertemu, Yuri mengangguk pelan.

“Tidak memiliki ibu lebih baik daripada memiliki ibu tapi seolah tidak pernah ada.” Kata Eunji lagi. Mata gadis itu tidak fokus. Yuri buru-buru mendekat sebelum sahabat terbaiknya itu menangis dan menambah suasana buruk baginya untuk malam itu. Yuri memeluk Eunji dengan erat. Kemudian ia menepuk-nepuk pundaknya.

“Terima kasih, Yuri-ah. Aku tidak akan menangis kok kali ini.” Kata Eunji dengan suara serak. Yuri melepaskan pelukannya dengan air muka iba. Di sisi lain, ia begitu cemas. Yuri berdiri kemudian melanjutkan dirinya untuk bersiap-siap. Baju yang dipakai Yuri adalah baju cukup seksi. Gaun selutut tersebut membentuk lekuk-lekuk tubuh sempurnanya dari atas hingga bawah, menutup apa yang perlu ditutupi namun membuat garis-garis tubuh Yuri makin kelihatan menggoda.

Yuri menatap ke cermin. Saat ia hendak mengikat rambutnya menjadi satu ikatan di belakang kepala, dilihatnya sebuah luka besar di punggungnya. Gaun tersebut memiliki pola seperti kemben dimana bagian bahunya terbuka lebar. Ada sedikit bagian dari luka di punggung Yuri yang terlihat mencuat di sana. Yuri buru-buru melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkan rambut hitam tersebut tergerai indah di belakang punggungnya.

Eunji mengernyit. “Kenapa dilepas? Tadi sudah bagus kok.” Katanya.

Yuri tidak bisa menjawab. Apalagi saat Eunji berdiri dan menawarkan bantuannya untuk mengikat kembali rambut Yuri. Yuri memejamkan mata dan mencari-cari alasan yang tepat ketika nanti Eunji memekik kaget atas luka di punggungnya dan bertanya kenapa.

Tapi sampaii Eunji selesai mengikat rambut Yuri menjadi satu kesatuan di bagian belakang kepalanya, tidak ada  tanda-tanda keanehan yang terjadi. Eunji tidak berteriak keheranan karena luka itu, tidak pula bertanya penasaran.

“Begini lebih baik.” Katanya tersenyum. Yuri memutar tubuhnya kemudian ia memandangi Eunji. “Kau tidak melihatnya?”

“Apa?” Eunji balik bertanya. Gadis itu pikir Yuri sedang bercanda jadi Eunji juga tidak memasang wajah terlalu serius. Sudah biasa bagi Yuri untuk membodohi Eunji dengan cerita-cerita seramnya berkali-kali. Eunji memang penakut dan itu merupakan celah besar bagi Yuri untuk mengerjainya berkali-kali jika keduanya sedang berada dalam mood yang tidak bagus.

Tapi kali ini Eunji tidak membaca wajah bercanda di ekspresi Yuri. Matanya memancarkan keseriusan akan pertanyaannya. “Apa sih? Kau membuatku takut.” Kata Eunji.

“Luka di punggungku, kau tidak melihatnya?” Kening Eunji berkerut ketika Yuri mengatakan hal tersebut. Yuri berbalik dan menunjukkan punggungnya pada Eunji, bahkan Yuri sampai mau repot-repot membuka kembali gaunnya demi membuktikan perkataannya.

“Kau ini sakit ya?” Kata Eunji bingung. Dibandingkan Eunji, Yuri beribu kali lipat lebih bingung darinya. Dimulai dari kedua belas (atau tiga belas) makhluk aneh februari lalu, kejadian di dalam toilet tadi siang hingga pertemuannya dengan dua orang pria gila yang berbicara tentang ilmu nujum sore tadi. Benar-benar tidak ada satupun yang membuat Yuri bebas dari kebingungannya.

Karena sudah sampai seperti ini, mau tidak mau Yuri menceritakannya pada Eunji. Lengkap. Termasuk ketika ia disiram air berbusa oleh guru barunya atau ketika dua pemuda itu membicarakan tentang penjaga bintang dan sebagainya.

“A—aku bodoh Yuri. Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan.” Kata Eunji. Mata Yuri menyalak pada gadis itu. “Aku tidak berbohong! Aku berani sumpah! Ada luka besar di punggungku.”

Eunji menggeleng pelan. “Aku tidak pernah melihatmu seperti ini, dan ini aneh. Yuri, jangan tersinggung ya, sebaiknya kau coba ke psikiater besok.”

Yuri masih menggeleng penuh dengan kontra. Tapi melihat Eunji yang tidak terlalu bersahaja dengan kenyataan yang ia utarakan, Yuri menyerah. Saat Eunji hendak pergi, Yuri tidak mengizinkannya. “Temani aku dalam perjamuan itu. Perasaanku tidak enak.” Katanya.

Eunji mengangguk setuju. Dalam hatinya, ia berpikir mungkin saja dengan menemaninya, tekanan mental yang diderita Yuri bisa berkurang sedikit.

.Toz.

“Namanya Kris Wu, Ibunya adalah pebisnis andal dan sekutu Ayah. Di sebelahnya itu sepupunya, Kim Jaejoong.”

Yuri hampir memuntahkan ikan salmonnya di atas piring saat itu juga. Di balik meja bundar yang begitu besar, dirinya mau tidak mau harus bertatap muka dengan seorang pria dengan ekspresi dingin dan dongkol di seberang mejanya. Yuri berusaha untuk tidak terlalu terlihat jengah dan ketakutan. Tapi usahanya gagal saat Kim Jaejoong menjabat tangannya seolah keduanya baru pertama kali bertemu.

“Namaku Kim Jaejoong. Senang berkenalan denganmu, Nona Yuri.” Katanya. Tidak seperti Yuri, Eunji—yang atas seizin Ilwoo kini duduk di sebelah Yuri—sangat antusias dengan uluran tangan dari Kim Jaejoong. Saat itu Eunji mungkin belum sadar bahwa orang yang ia jabat tangannya adalah orang yang sama dengan yang membuat bimbingan belajar online di situs sekolahnya.

“Aku Jung Eunji.” Kata Eunji dengan nada cute  yang sedikit dibuat-buat. Yuri mengerling jijik.

Selanjutnya, makan malam berjalan seperti biasa. Obrolan-obrolan bisnis adalah topik utama yang diajukan baik dari pihak Ilwoo maupun dari pihak Jaejoong. Yuri sesekali tersenyum dan menghargai topiknya. Apalagi di saat ayahnya tiba-tiba memandangnya.

Dalam satu jam menyiksa selanjutnya, makan malam telah usai. Ilwoo pamit untuk mengurus sesuatu di kantornya yang berada di lantai dua rumah besar tersebut. Namun begitu, pesta tidak serta-merta usai. Masih ada pesta dansa yang digelar kecil-kecilan di aula yang sebenarnya adalah ruang tamu. Yuri tidak memilih duduk di sofa dan menghabiskan minuman bersodanya bersama yang lain. Ia ingin minum anggur namun ia masih dibawah umur. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kini ia bawa minumannya itu ke bagian belakang dari ruang tamunya. Sebuah taman kecil yang berada di sisi kanan dari keseluruhan bangunan rumahnya. Sebuah air mancur berada di tengah-tengah. Ada bangku taman yang tersedia memanjang di dekatnya. Yuri memilih duduk di sana sambil menikmati kesendirian.

Eunji entah berada di mana. Walaupun Yuri ingin sekali mengajaknya ke taman dan membuat obrolan menarik dengan gadis itu, tapi Eunji tidak akan mau. Eunji mencintai makanan sama seperti ia mencintai tidur. Sepertinya ia masih berada di ­stand-stand kue, pikir Yuri.

Angin menggebrak bangku yang ia duduki. Awalnya Yuri pikir itu adalah hal lain. Hal yang lebih berbahaya, seperti gempa bumi atau tanah longsor. Tapi melihat tidak ada pergerakan di atas tanahnya, Yuri menerka bahwa itu pekerjaan angin maret yang bertiup cukup kencang malam itu. Yuri memeluk lengannya dengan lengan yang lain. Ia berdiri dan mulai merasa rasa sakit kembali di punggungnya.

Bruk

Kursi di depannya kini bergoyang. Gerakan seperti meloncat sedikit kemudian terjatuh kembali ke tempatnya. Yuri tidak ingin memastikan matanya jika yang dilihatnya tadi memang benar. Hari ini sudah cukup buruk baginya dan ia tidak meminta keburukan yang lainnya.

Yuri menghindar dari taman. Tapi ia tidak masuk ke dalam aula yang penuh dengan makanan. Di ujung taman, ada pintu keluar di mana ia bisa keluar dari rumah dan pergi dari sana. Sekali dayung tiga pulau, Yuri bisa menghindar dari keanehan tadi dan bisa langsung pergi dari pesta, pikirnya.

Langsung saja ia bergegas. Sepatu tinggi yang dipakainya buru-buru dilepasnya. Sambil menenteng sepatu dan berjalan mengendap, Yuri membuka pagar kecil di sana. Sesaat ada bunyi deritan panjang khas besi-besi tua namun suara tersebut tidak cukup untuk membuat perhatian ada padanya. Yuri sukses menyelinap keluar dengan telanjang kaki. Kini ia berada di luar rumahnya sendiri dan mengagumi apa yang ia sebut kepintaran dan taktik.

Yuri baru saja akan melangkah menjauh ketika ia mendengar suara bisikan di telinganya. Belum jelas suara apa dan suara siapa itu, tapi mendengarnya sekilas saja, bulu kuduknya sudah meremang.

Yuri berjalan menjauh, tekadnya, setidaknya ia ada di tempat ramai untuk saat ini. Perlu diketahui, rumah besar Yuri adalah satu-satunya penghuni dalam jalanan kompleks rumah elit  tersebut. Perlu kendaraan atau jalan kaki setidaknya lima ratus meter ke depan untuk benar-benar keluar dari kompleks dan menjemput keramaian di jalanan besar Gangnam. Jalan lima ratus meter mungkin bukan pilihan, jadi Yuri hanya berharap ia menemukan keramaian di rumah tetangga-tetangganya yang letaknya paling dekat.

Untuk mencapai area rumah yang lain, Yuri harus berbelok ke kanan dan memutari sebuah area bermain anak-anak dalam kompleks tersebut. Tidak ada jalan lain karena ia tahu bahwa jika ia berbelok ke arah kiri, dirinya akan menemukan sebuah jalanan rusak dengan lubang sedalam seratus meter yang bertuliskan AWAS GALIAN PIPA.

Setengah hati, Yuri mengambil arah kanan. Sebetulnya ia sendiri juga tidak dapat menjelaskan mengapa perasaannya begitu setengah hati dengan jalur tersebut. Anggap saja nasib sial, sekarang Yuri merasakan tubuhnya begitu panas. Ia memegangi jidatnya namun tidak ada perubahan suhu yang seharusnya terjadi di sana. Tubuh Yuri seperti terbakar, tapi tidak ada setetespun peluh yang menggerayangi tubuhnya. Seolah rasa panas itu hanya ada dalam alam bawah sadarnya saja.

Yuri terus berjalan. Rasa sakit yang menyulut-nyulut punggungnya kini ia rasakan kembali. Tangan kanannya tersampir ke belakang bahu dan mencoba menyentuh kulit yang ia bungkus di balik gaun hitamnya. Setiap tangan Yuri menekan-nekan punggungnya, rasa sakit akan semakin bertambah.

Gigi Yuri bergemeretak menahan rasa sakit. Ia tidak bisa begitu saja berteriak di depan taman bermain kecil itu dan membangunkan para tetangganya di sana. Yang bisa ia lakukan adalah hal setipe dengan kondisinya di toilet sekolah tadi siang. Menahan rasa sakit sampai hampir menangis.

Yuri berjalan kembali, wajahnya meringis. Sesaat muncul perasaan ingin kembali ke rumahnya, namun ia sendiri tidak sanggup membayangkan ekspresi apa yang akan ia buat ketika menahan rasa sakit sambil berusaha tersenyum layaknya orang bodoh. Tentu semua orang akan menemukan kejanggalan pada dirinya dan berusaha menjejalinya dengan pertanyaan. Akan lebih buruk, pikir Yuri.

Yuri mulai berjalan beberapa langkah lagi, tapi sesuatu muncul setelah kabut di depannya. Sosok dua orang pria yang tersenyum jahil padanya. Yuri mengerjapkan matanya kemudian termangu selama beberapa detik kemudian. Ia salah, yang ia lihat bukanlah dua orang pria. Tapi,

“Han—hantu—“ Yuri bergumam kecil. Tidak heran Yuri menyebutnya hantu, pemuda-pemuda di depannya memang memiliki wajah tanpa cacat dan tersenyum layaknya manusia lainnya. Tapi berhenti sampai kepala saja. Karena jika kau melihatnya dari batas leher ke bawah, ada fakta mengejutkan yang tidak dapat diterima akal sehat. Bahkan akal yang kurang  begitu sehat seperti milik Yuri atau Eunji sekalipun.

Pemuda tersebut hanya memiliki satu tubuh dengan dua kepala.

Yuri memerintahkan otaknya agar segera menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah atau membuatnya menjerit sekeras mungkin agar terlihat lebih dramatis, tapi tidak ada yang terjadi. Yuri terlalu berani untuk terjatuh karena makhluk astral di depannya.

Yang ia lakukan hanyalah menatap tak percaya sambil beberapa kali menggumamkan kata ‘hantu’ pada bibirnya. Makhluk di depannya berwarna abu-abu. Tapi itu bukan tayangan digital hitam-putih. Makhluk tadi betulan abu-abu. Dari iris mata, rambut, warna kulit sampai pada warna kuku, semuanya abu-abu. Jika perlu diberikan pengecualian, maka baju yang bercorak bunga-bunga adalah satu-satunya yang tidak tertular warna abu-abu.

Makhluk itu tidak memiliki wajah kebengisan layaknya film-film hantu yang selama ini Yuri tonton dengan Eunji. Alih-alih bengis dan menyeramkan, makhluk ini tidak ubahnya manusia. Ia berjalan biasa, tersenyum biasa dan menyeringai dengan biasa. Lebih-kurang sempurna jika saja ia memiliki satu badan lagi bagi pemuda yang ada di kirinya. Pasti akan terlihat lebih manusiawi, pikir Yuri.

Saat pikiran Yuri mengawang, entah sejak kapan makhluk aneh tersebut sudah berdiri begitu dekat dengannya. Hembusan napasnya tidak terasa sama sekali pada pori-pori wajahnya. Meskipun Yuri ingin bulu romanya meremang, tapi itu tidak pernah terjadi. Salahkan saja hantunya kenapa memiliki wajah begitu menarik, pikirnya.

Bruk.

Yuri baru saja menjatuhkan sepatunya ketika mata abu-abu dari sang makhluk kembar tadi mengeluarkan percikan api. Yuri berpikir jernih dan mencoba menjelaskan fenomena tersebut dengan akal setengah sehatnya, namun ia tidak menemukan jawaban. Bagaimana bisa ada api di dalam bola mata?

Lucunya—karena kata menakutkan tidak cocok bagi Yuri saat ini, jadi gunakan saja kata lucu—bola mata tersebut tidak terbakar sama sekali. Yuri yang baru saja terpikir untuk mencari tabung pemadam dan menyemburkan busa-busa pada mata sang makhluk aneh, kini niatnya perlu ia urungkan selagi ia bisa.

Malah lebih bagus lagi  kalau Yuri lari secepat yang ia bisa dari sana.

“Berikan aku lingkaran sucinya.” Kata salah seorang makhluk yang berdiri paling kanan. Makhluk satunya lagi hanya mengangguk kemudian diam dan menunggu. Alih-alih ketakutan, Yuri mengedarkan tatapan bodoh sekaligus penasarannya.

“Lingkaran?” Tanya Yuri.

“Suci.” Sambung makhluk di depannya. Ketika makhluk itu bicara, artinya hanya makhluk yang paling kanan yang berbicara. Yang kiri sepertinya hanya bisa mengangguk, pikir Yuri.

“Apa itu lingkaran suci?”

“Lingkaran. Suci.” Kata sang makhluk lagi.

“Aku tidak bodoh. Aku tahu bagaimana mengeja kalimat itu. Yang aku tanyakan, apa itu lingkaran suci?”

“Lingkaran. Suci.” Respon dari sang makhluk tadi. Yuri menggaruk kepalanya namun ia urungkan segera ketika bara api di mata dua hantu tersebut segera menyebar ke seluruh tubuh satu badannya. Kini Yuri seperti melihat dua Nicolas Cage dengan perannya sebagai Ghost Rider (atau mungkin Yuri terlalu banyak menonton film.)

Makhluk itu tidak membiarkan kekacauan yang ada dalam pikiran linglung Yuri menjadi sia-sia begitu saja. Saat Yuri baru saja membayangkan mereka sebagai Ghost Rider, makhluk itu menyerang. Yuri menjerit refleks. Tidak peduli lagi kalau-kalau ada seorang tetangganya yang mendapati dirinya sedang dikejar oleh makhluk api di dekat taman bermain anak-anak.

Yuri berlari. Tapi tidak begitu mudah. Jalanan yang ia jejak adalah jalanan beraspal dengan sesekali kerikil kecil yang terlepas dari kesatuan aspalnya. Yuri yang bertelanjang kaki tentu merasakan rasa-rasa perih ketika ia berlari dan menapaki bebatuan kecil tersebut. Benar-benar tidak mudah.

Ditambah lagi, makhluk abu-abu terbakar tersebut tidak memiliki sedikitpun rasa iba padanya. Auranya adalah aura membunuh. Akan sangat merepotkan jika Yuri tertangkap tangan oleh makhluk itu.

Tapi, lingkaran suci katanya? Diam-diam sambil berlari, Yuri memikirkannya juga. Jika yang dimaksud adalah lingkaran besar dengan rasa yang menyakitkan di punggungnya, mungkin Yuri bisa menunjukkannya kemudian menyerahkannya. Tidak bagus juga berada di punggungnya, karena hanya sakit yang ia dapat.

Yuri baru saja ingin berhenti berlari dan memutar tubuhnya ke belakang ketika melihat bola api seukuran globe batu dalam patung atlas kini memendar di udara. Bola tersebut terangkat di atas kedua tangan sang makhluk abu-abu terbakar. Posisinya sudah begitu siap untuk melemparkan benda berbahaya itu kapan saja. Berlari pun sudah tidak berguna, karena ketika ia menghindar, benda bulat besar itu mungkin saja bisa menggelinding dan mengejarnya tanpa henti.

Tamat sudah riwayatnya.

.

.

Yuri tidak begitu depresi. “Aku sudah memiliki hidup yang baik. Aku tidak takut mati. Aku sudah memiliki semua yang kumau. Aku tidak takut mati.” Doanya berulang-ulang. Hawa panas menjalar dan menggerayangi seluruh tubuhnya. Yuri memejamkan mata dan mencoba merenung selama beberapa detik sambil menyiapkan mental dan kejiwaannya.

Detik selanjutnya, kalau ia tidak salah memperhitungkan adalah detik dimana bola api seharusnya sudah membakarnya hidup-hidup di depan sebuah taman. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah keheningan luar biasa.

Yuri membuat celah kecil dari matanya dan melihat seseorang berlari dan mengonfrontasi makhluk abu-abu di depannya. Si Abu-abu Terbakar mengamuk luar biasa pada pemuda di depannya dan berkali-kali memuntahkan isi perutnya—yang sepertinya sih lahar.

Ada asap mengepul di kejauhan yang menghalangi jarak pandangnya.

“Baik-baik saja, Yuri-ssi?” Seseorang berkacamata tipis mengagetkannya dari sisi kanan. Jaejoong berdiri sambil memegangi kacamatanya dan sebuah benda elektronik kelewat tipis di tangannya. Yuri melihat sekilas dan mendapatkan sebuah tablet ada di tangan guru barunya tersebut. Jaejoong tersenyum pada Yuri seolah pertandingan Si Abu-abu Terbakar tidak ada apa-apanya.

“Ba—Bagaimana kau?—“ Yuri menghentikan kalimat tanyanya pada Jaejoong ketika ledakan besar hampir merobohkan tiang listrik terdekat. Kabel-kabel yang terjuntai ke bawah, hampir menyabet wajah berharga Yuri jika saja Jaejoong tidak menghalaunya dengan sebuah tombak berpendar emas dengan ujung tembaga dan beberapa tulisan-tulisan Yunani di sepanjang tiangnya. Yuri berjengit kemudian dapat melihat seluruh kejadiannya dengan jelas. Tubuhnya sudah mendarat dalam dekapan Jaejoong karena kejadian barusan.

Yuri, yang semula hendak bertanya tentang bagaimana mereka dapat menemukannya di sini, kini menjadi serbasalah. Dibandingkan makhluk Abu-abu Terbakar, kedua pemuda yang kini bersamanya ini tidak terlalu normal juga. Selain Jaejoong yang memiliki tombak panjang yang muncul entah darimana, Kris yang sedang bertarung di ujung jalan juga kelihatan memegangi sebuah pedang dan perisai yang—menurut Yuri—terlihat begitu berat. Di sepanjang diameter dan keliling perisai tersebut ada pahatan-pahatan berbentuk lingkaran kecil-kecil yang jumlahnya dua belas. Melihat pola pada perisai, Yuri tiba-tiba teringat akan luka besar di punggungnya. Luka berbentuk lingkaran yang memiliki dua belas lingkaran kecil-kecil di sepanjang diameter kelilingnya.

“Lingkaran suci.” Yuri bergumam di susul dengan Huh? Singkat dari Jaejoong.

“Makhluk Abu-Abu Terbakar itu mencari lingkaran suci.” Kata Yuri lagi.

Air wajah Jaejoong yang sebelumnya terlihat begitu tenang, kini perlahan berubah menjadi gelisah. Meskipun ia tidak ingin menunjukannya, Yuri tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan sesuatu bernama ‘Lingkaran Suci’ tersebut.

“Kau tahu apa itu lingkaran suci?” Kata Yuri lagi. Maniknya tidak lepas dari pertarungan sengit pedang lawan api di depannya. Jaejoong menggumam sesuatu yang Yuri artikan sebagai tidak.

Di depannya, Kris baru saja tergelincir oleh lava yang terlihat dingin. Tubuhnya  jatuh ke belakang dengan persendian tangan yang membentur aspal. Jika Yuri yang berada di sana, dia sudah mengerang linu tentunya.

Kris bangkit, dan itu tidak luput dari serangan. Tubuh ringkih nan kurusnya terpelanting ketika makhluk abu-abu menendang persendian kakinya. Ada suara lenguhan kesakitan dan itu menganggu pendengaran Yuri. Jaejoong diam saja.

“Kau tidak membantunya? Dia kepayahan.” Kata Yuri. Jaejoong menggeleng pelan, ia masih berkutat dengan tablet di tangannya sambil mengerutkan dahi. Yuri tidak peduli apa yang Jaejoong lihat, ia memedulikan bagaimana Kris sudah kepayahan di ujung sana.

“Jaejoong-ssi, temanmu butuh bantuanmu!” Bentak Yuri. Begitu keras hingga Jaejoong melipat tabletnya menjadi persegi yang lebih kecil. Lupakan bagaimana cara kerja benda elektronik tersebut, karena Jaejoong kini memandang Yuri dengan penuh aura unik.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, Yuri-ssi. Pergilah pada Kris dan selamatkan dia.”

“EH? Kau gila ya?” Yuri sebisa mungkin mengatur napasnya tapi maniknya tidak pernah lepas dari Kris. “Aku hampir mati melawan makhluk berasap itu! Dan kau menyuruhku kembali ke sana demi pria yang, ugh, pokoknya karena dia, aku hampir dikeroyok para gadis di sekolah?”

“Buang masalah pribadi. Ini antara hidup dan mati.” Kata Jaejoong lagi. Jaejoong mengatakannya dengan penuh kebijakan seorang guru di mata Yuri. Namun Yuri menerjemahkannya sebagai sebuah perintah dari seorang guru yang kalau dilanggar akan mendatangkan kesialan. Demi menunjukkan itikad baiknya, langkah pertama yang Yuri ambil adalah berjalan ke area Kris.

Saat langkahnya dan tubuhnya semakin dekat dengan sang Abu-Abu Terbakar, rasa perih di punggungnya tidak pernah sesakit ini. Yuri bertahan.

“SIAPA YANG MENYURUHMU MENDEKAT, IDIOT!” Kris berteriak kepayahan. Tidak ada nada minta tolong, terima-kasih atau nada bersyukur dari kalimatnya. Keputusan Yuri untuk mendekat dan memberi bantuan rupanya gagal total. Kabar buruknya, ia sudah terlalu dekat dengan api untuk menjauh ke air. Kira-kira peribahasanya seperti itu untuk menjelaskan garis besar posisinya. Si Abu-Abu Terbakar dengan mata yang menyalak kemerahan masih memandangi Kris, namun ketika kedutan kesakitan dirasa oleh punggung Yuri, makhluk itu mengalihkan pandangannya pada Yuri. Ia menatap gadis itu dengan penuh rasa kehausan dan kelaparan.

“Siapapun katakan padaku,” Yuri menelan ludah ketika makhluk tersebut mendekat padanya. “Dia tidak makan gadis belia kan?”

.

.

Yuri mundur dengan kaki gemetar dan pandangan memudar. Ada serpihan-serpihan perak yang muncul ketika rasa sakit di punggungnya bergetar hebat. Serpihan perak yang Yuri lihat menyerupai serbuk yang berkelana di udara, tertiup angin dan menari-nari di depan matanya. Namun pemandangan tersebut segera musnah ketika makhluk di depannya menyemburkan api ke wajah Yuri.

“PANAS!” Yuri sempat panik dan mencari-cari pertolongan pada wajahnya. Namun saat ia sentuh pipinya, tidak ada bekas luka menjijikan di sana. Yuri penasaran dan mengacak-acak wajahnya. Tidak ada luka apapun di sana. Hidup Yuri terselamatkan, setidaknya kali ini.

“Mundur!” Perintah Kris. Tubuh jangkungnya berada di depan Yuri.

“Kenapa kau menolongku?” Kata Yuri. Sebenarnya ia merasa kalimat itu tidak tepat ia lontarkan di sini, tapi sang Abu-Abu Terbakar membuat jeda waktu panjang saat ia menukar pandang dengan Kris.

“Aku tidak pernah menolongmu. Ingat itu!” Kata Kris dengan kasar. Tepat pada saat itu, sebuah semburan lahar panas kembali menghujaninya. Yuri menyingkir, bagian kecil dari baju yang dipakainya terbakar. Tapi kulitnya baik-baik saja.

Hal yang sama terjadi di sisi Kris. Luka besar di tubuhnya sebagian besar didapat dari terpelanting, terseok di tanah, tertubruk badan besar Sang Lawan, dijatuhkan, diinjak dan sebagainya. Yang artinya, serangan lahar bagi Yuri maupun Kris sebenarnya tidak berakibat fatal.

Dari kejauhan, Yuri bisa mendengar Jaejoong menyarankan sesuatu pada keduanya. Namun karena mereka sibuk menghindar, Yuri tidak bisa mendengar begitu jelas.

Barulah saat Jaejoong berteriak dengan lebih jelas dari jarak yang lebih dekat, baik Kris maupun Yuri mendengarnya. Katanya, “Kausnya! Ambil kaus bunga-bunganya dan musnahkan!”

Jika Yuri dan Kris adalah teman, mungkin Yuri sudah menyenggol sikut pemuda itu dan berbisik apakah Jaejoong itu bos atau apa? Tapi sayangnya, mereka adalah musuh. Apa yang dikatakan Jaejoong tidak begitu masuk akal. Sesuka apapun dirimu pada fashion, kau tidak boleh mencuri baju yang dipakai orang lain, setidaknya itu yang pernah Ilwoo katakan pada Yuri ketika ia kecil. Jadi kondisinya, Yuri sedang tidak ingin melawan perintah ayahnya.

“Kau tunggu di sini dan jangan melakukan hal bodoh sementara aku mengambil kaus itu!” Bisik Kris. Yuri mengangguk saja. Dia tidak ingin dipenjara karena kasus pencurian kaus bunga-bunga dari seorang Makhluk Abu-Abu Terbakar. Biarlah Kris saja, pikirnya.

Tapi dipikir-pikir mencuri sesuatu dari makhluk brutal ini rasanya tidak semudah dikatakan Jaejoong juga. Terbukti, Kris beberapa kali terpelanting ke tanah dan menderita memar-memar. Namun pemuda itu akan bangit kembali demi kaus bunga-bunga, kemudian dia akan terpelanting kembali.

Kenapa pemuda itu begitu lemah, pikir Yuri.

Ia gemas sendiri ketika Kris sudah sampai menggenggam kausnya dan harus terpelanting kali kesekiannya. Yuri mengeretakkan giginya.

“Oke, Ayah maafkan aku.” Yuri berdoa kemudian ia menerjang ke depan, membuat kemampuan Judonya selama ini tidak sia-sia. Gerakan kecil seperti menendang dan bersalto di udara sudah dikuasainya cukup baik. Untuk beberapa kali tendangan, makhluk di depannya cukup lemah untuk bertahan.

Saat makhluk tersebut terjengkang, Yuri tidak serta-merta mencabut kaus yang dipakainya. Terlebih dahulu ia mengulurkan tangannya pada Kris yang bangun dengan gerakan terpatah-patah. “Ayo!” Kata Yuri. “Jangan salah paham ya! Jika kau tidak terluka seperti ini, aku tidak akan pernah menolong pria sepertimu.” Ucapnya lagi.

Kris dengan angkuhnya memalingkan wajahnya ke arah lain. Yuri memajukan bibirnya dengan sebal, saat ia ingin berpaling dan kembali pada makhluk abu-abu di belakangnya, sesuatu mengagetkan terjadi.

Makhluk tersebut tiba-tiba saja sudah berdiri sambil menghembuskan napas panas dari hidungnya. Ada percikan-percikan api yang terlontar-lontar dari sana, tapi tidak terlalu berbahaya bagi Yuri yang kebal terhadap panas api tersebut.

Satu-satunya yang berbahaya adalah, kini Abu-Abu Terbakar itu sedang senang-senangnya menatap sangar pada Yuri. Tangannya kini mendarat di leher sang gadis dan mencekiknya dari dua arah putar yang berlawanan. Kris baru saja sadar dengan apa yang terjadi dan segera berdiri dengan susah payah. Pedangnya menusuk tangan dari Abu-Abu Terbakar dengan telak sehingga makhluk tersebut melepaskan cekikannya dari Yuri.

Yuri baru saja akan terjatuh di atas tanah jika saja tangan Kris tidak terlalu siap untuk menangkapnya. Yuri terjatuh di dalam dekapan Kris dalam waktu yang begitu instan. Biasanya dia akan bangun ketika tahu bahwa yang mendekapnya adalah pria, tapi kali ini Yuri tidak melakukannya.

Ketika Kris menangkap tubuhnya, rasa sakit berdenyut-denyut yang tersangkut di punggungnya tiba-tiba saja mereda dengan sendirinya. Matanya yang sebelumnya sayu dan nanar kini pulih seperti sediakala. Yuri tidak percaya dengan keanehan yang diciptakan antara kontak fisik ia dan Kris sampai akhirnya Abu-Abu Terbakar berteriak menyedihkan.

Kris berdiri bersama dengan Yuri yang ada di dekapannya. Kris membopong tubuh Yuri tanpa siapapun minta. Sejujurnya, pemuda itu juga tidak menyadari apa yang dilakukannya. Ia merasa begitu segar ketika tubuhnya berdekatan dengan Yuri. Dan lagi, Kris merasa kekuatannya sebagai penjaga bintang kembali.

Yuri menatap tak berkedip pada si Abu-Abu Terbakar yang kini sudah tidak dikelilingi api. Kau bunga-bunganya terbakar dengan sendirinya dan musnah. Perlahan tubuhnya berubah warna dari abu-abu menjadi warna putih terang layaknya manusia biasa. Tubuh kecilnya membelah menjadi dua bagian, sehingga kini di depan Yuri ada dua pemuda normal yang berdiri mematung dan berpandangan satu sama lain.

Semua serba abu-abu yang sebelumnya Yuri lihat, kini berubah menjadi pemandangan normal yang biasa saja.

“Hah?” Yuri hampir menjatuhkan dagunya ketika melihat dua manusia normal tersebut. Karena ketika ia mengedarkan pandangan ke seluruh tubuh kedua pemuda tersebut, ia tidak melihat kenormalan sesungguhnya. Tubuh mereka dihiasi oleh pendar-pendar perak yang menyerupai serbuk. Seperti dalam kisah tinkerbell. Ada bintang-bintang kecil yang menghiasi tubuh keduanya.

Yuri mengingat-ingat jika dia pernah melihat wajah keduanya di suatu tempat. Sampai akhirnya bayangan malam dua puluh sembilan februari membekas dalam ingatannya.

“AH! KAU YANG MENYENTUHKU DAN MENGHILANG WAKTU ITU!” Yuri berteriak. Hampir kehilangan kendali. Dua pemuda di depannya mengangguk dan tersenyum dengan ramah, seolah mereka tidak pernah menyerangnya. Jaejoong bergabung dengan Kris dan termenung di belakang Yuri sembari memerhatikan keadaan sekitar.

Kemudian dengan gerakan cepat—yang bahkan tidak membiarkan Yuri bereaksi—dua pemuda itu menyentuhnya kembali. Tapi kali ini mereka tidak menghilang. Dua pemuda itu masih berada di depannya. Satu-satunya yang menghilang adalah serbuk kelap-kelip yang berputar di seluruh tubuhnya. Seketika dua pemuda itu menjadi seperti pemuda biasa.

“Akhirnya aku bebas!” Seru pemuda di sebelah kanan. “Ini semua salahmu sih, kenapa kau memercayai manusia!”

Yuri melongo.

“Jangan selalu salahkan aku hanya karena aku lebih muda darimu! Kau sendiri yang mengatakan bahwa pemuda itu adalah penjaga bintang.”

Yuri melongo.

“Mana aku tahu dia menipu kita. Tapi untunglah, kita menemukan penjaga yang sebenarnya.” Kedua pemuda itu melirik ke arah Yuri. Yuri masih saja melongo bodoh.

Pemuda di depannya tersenyum hormat pada Yuri. Menepuk-nepuk pundak gadis itu seolah mereka teman lama yang sudah tidak bertemu, kemudian merengek meminta permen sambil memperkenalkan diri,

“Namaku Luhan. Ini adikku, Sehun.”

.

.

“Dua pemuda itu roh gemini.” Kata Jaejoong kemudian. Kris memandang tak peduli karena ia masih berurusan dengan luka memar di sepanjang tubuh anggota geraknya. Sementara Yuri memandang semua yang ada di kamarnya dengan tak percaya.

Tak percaya pertama karena ia tidak habis pikir identitas Kim Jaejoong dan Kris Wu yang baru saja didengarnya. Tak percaya kedua karena kenapa bisa-bisanya Yuri membawa keempat pemuda tadi ke dalam kamar besarnya.

Tak percaya yang ketiga adalah, ia benar-benar lupa kalau pada saat itu ada Eunji yang sedang beristirahat di kamarnya.

Tapi di balik semua ketidakpercayaan tersebut, kabar baiknya adalah Eunji percaya terhadap cerita Yuri. Kini gadis itu sedang bermain dengan Lollipop yang baru saja Yuri beli dari minimarket terdekat. Kelihatannya dua pemuda manis tersebut sangat menyukai Lollipop yang Yuri belikan.

“Sebelum bertemu denganmu, sepertinya ada orang lain yang menggunakan mereka untuk mendapatkan lingkaran suci tersebut. Mungkin orang ini menggunakan kaus bunga-bunga (satu-satunya yang tidak berwarna abu-abu) sebagai media untuk memperalat gemini. Alasan ini menjelaskan kenapa mereka menyerangmu dan kenapa bentuk fisiknya berubah menjadi abu-abu.” Jelas Jaejoong lagi. Kali ini pada Yuri.

Yuri sudah menunjukkan lingkaran yang ada di punggungnya beberapa saat yang lalu pada Jaejoong. Ada sedikit perubahan, sebuah lambang dua orang anak malaikat kecil kini tergambar di sana, mengisi satu ruang dari dua belas lingkaran kecil-kecil yang kosong. Jaejoong menjelaskan kalau lingkaran tersebut digunakan untuk mengumpulkan bintang yang terjatuh. Setiap Yuri menemukan satu dan bintang tersebut dengan sukarela bergabung bersamanya, maka setiap lingkaran yang kosong akan terisi dari lambang-lambang bintang yang ia ajak bergabung.

Jaejoong juga tidak lupa menjelaskan tentang ketergantungan Kris pada keistimewaan yang dimiliki Yuri. Termasuk tentang bagaimana efeknya ketika Yuri berada terlalu jauh dengannya.

“Apakah ada yang menginginkan lingkaran suci ini untuk tujuan jahat?” Tanya Yuri. Jaejoong berpikir keras kemudian mengangguk. “Mungkin saja.”

Kris menatap Yuri dengan gerakan tidak menyenangkan kemudian pergi ke kasur dan merebahkan tubuhnya bersama Sehun dan Luhan yang bermain dengan Eunji di sana.

“Penjaga bintang selalu memiliki musuh. Rasanya semua kebaikan pasti memiliki musuh.” Kata Jaejoong bijak. Yuri mengernyitkan dahi. Rasanya selama ia hidup, ia telah merasa sangat beruntung. Tapi kurang dari dua puluh empat jam yang lalu, hidupnya mengalami jungkir-balik. Tidak bisa ia katakan sebagai kesialan, tapi keberuntungan kedengarannya tidak bagus juga.

Jadi judul yang Yuri ambil untuk kisah hidupnya yang baru ini adalah ‘Kronik Yuri dan dua belas zodiak serta pengaruhnya pada pemuda tuxedo sialan’.

.

TBC

.

VOILA~

Sudah masuk ke dalam segmen huru-hara konflik nih. Yuri sudah ketemu sama Luhan-Sehun yang ternyata adalah Jelmaan Gemini (Kalau jelmaan gemini begini ganteng, gua juga mau dong jadi kaya Yuri. /Plak)

Nantikan Chapter ke-4 nya minggu depan ya🙂

Sampai ketemu dan masih ditunggu antusiasmenya di kolom komentar🙂

91 thoughts on “TALES OF ZODIAC #3

  1. yunique eka cahya berkata:

    Eunji kau pintar sekali🙂 Ilwoo klo mnurut sya dia itu ayah yg gaul dan bijaksana kekekk~ Dan buat pertarungam ny itu kerrn sekalee eon🙂 Kris hrs ketar-ketir ngelawan makhluk abu2 itu. Tpi mna kita sanggka gtu, klmahan ny ada di kemeja bunga2 yg dipke makhluk abu2 itu, keren🙂 Dan mnrut sya yuri ckup membantu ko😉 Gemini udh join ni yee, gantemg pula jelmaan ny haha🙂 Keep writing eon, dan jga gomawo ka nyun🙂 ^_^

  2. TaemMayga berkata:

    woahhhhh seru eon kkk tapi sebenernya aku rada susah sih ngebayangin gimana bentuk jelmaan gemini itu, untung aslinya itu jelmaan dari luhan sama sehun kkkkk kalo jelmaannya ganteng gitu semua juga mau:DD

  3. Tansa berkata:

    hahaha keren-keren eon aksinyaa
    ga nyangka kalau Yuri bisa jadi karakter yang tangguh dan kuat di cerita ini
    Beda dengan karakter Yuri di cerita yang lain
    Next ~

  4. BestfriendExoSone berkata:

    aduh kalau bintangnya kayak Sehun dan Luhan, aku juga mau jadi matahari..
    kira-kira pisces siapa ya?

  5. liliknisa berkata:

    jadi mahkluk berkepala dua jelmaan sehun sama luhan?
    oh moster yang ganteng🙂
    udah mulai banyak masalah nih
    ayo lanjut ^^

  6. Naa berkata:

    Umm, jadi… tato lingkaran zodiak di punggungnya Yuri bisa dilepas gituuh? uuu
    hmm saya gak kuat kalo ngeliat langsung si Gemini dalam versi abu-abu. Muka cakep tapi badan cuma satu. Aaaa gak mau bayangin:/
    Duh, terus itu kaus bunga-bunganya bikin saya merinding. Penasaran siapa sih dalangnya, si tokoh antagonis itu. sejahat apa dia sampe buat media pengontrolannya aja harus pake kaus bunga-bunga -___- unyuuk sekali…
    Hmm mm jadi zodiac yang muncul perdana itu Gemini. dan tampaknya kepribadiannya mereka ini kekanak-kanakkan nihh.
    Lalu deskripsinya Yuri lucu nih. suka bikin nyengir sama kalimat-kalimatnya. Apalagi pas scene percobaan melarikan dirinya Yuri lewat simpul tali. Ngakak dibagian situ😄
    Eh yaa, ngomong-ngomong masih bingung sama sistem sekolahnya Yuri dkk nih. dia tingkat SMA atau kuliah sih?
    Dan judul ‘Kronik Yuri dan dua belas zodiak serta pengaruhnya pada pemuda tuxedo sialan’nya oke juga😄

    Okee! Chapter empat sekarang~~

  7. SSY_ELF berkata:

    sebelumnya mian ya eonni, soalnya aku cuma baca sekilas.. *efek menjadi sider -_-v
    jadi commentnya apa yang sempat kubaca dan yang masih kuingat sewaktu baca dulu… T.T

    Part ini seru B.G.T!!
    Yang muncul pertama zodiak-ku tuh~ senang bgt si gemininya HunHan>.<
    aku suka bagian Yuri ditangkap Kris dan membuat duo abu-abu(ganteng) Gemini terbakar dengan sendirinya… terus keduanya kembali segar seperti tidak pernah bertarung… seolah mereka memiliki sesuatu jika bersama. mereka harus melupakan perasaan gengsi dan bekerjasama nih…

    Eonni Jjang!!

  8. minyul generation berkata:

    Waaaaaa
    Keren x cerita a,, yuri a lucu,, hehe,, ganteng bget roh gemini a,, jadi gag sabar baca waktu yuri ntar ketemu yoona d roh libra,,
    “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

  9. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Hunhannnn kalian pasti menggemaskan.. Malah salpok ke hunhan nya😀 , sempet tegang waktu baca adegan serang serangan nya, tapi akhirnya satu bintang udah ditaklukin..

  10. wulan berkata:

    Hunhan lucu banget disini….
    hehehe.. aneh banget sih yul eonn, bikin judul kisah hidupnya ‘Kronik
    Yuri dan dua belas zodiak serta
    pengaruhnya pada pemuda tuxedo
    sialan’..😁

  11. NIZA berkata:

    ya ampun gk kebayang sehun ama luhan kmbar dn lbih gk kbayang lgi low sifat mreka kya anak” ya ampun….
    mkin suka dehhhh next next next
    hwaiting!!!!!!

  12. Lulu Kwon Eun G berkata:

    daebak kak nyun!
    jd di chap ini Yuleon ktemu HunHan.. ih kebayang dh luthuna mreka bdua:D
    Eunji eunji.. kocak bgt dah ,ooh klo krisyul gabung mreka jd tambah kuat.. wow!
    seru seru boleh lnjut lg y kaknyun..

  13. Anonym berkata:

    Hahaha ini eunji tukang tidur bodoh pisan ya xD hahaha shaun the SHEEP jeh sapi nanti jadinya Shaun the COW dong eunji xD hahaha kris keren banget :3 jadi kaya kata sipendeta ttng bulan sama matahari yang bikin yuri sama kris ngerasain jadi seger gitu lagi ya? Kaya dapet kekuatan? Pertama keluar si ganteng :3

  14. blackchocolee berkata:

    “Kau bunga-bunganya
    terbakar dengan sendirinya dan
    musnah.”

    Mungkin perlu tambahan huruf ‘s’ yah nyun :3

    Ini yg mau kutambahin dari komen part kemaren; kamu ringkas, simpel, dan ga berbelit-belit.

    Tadinya kupikir bakal mbulet dulu kesana kemari untuk nampilin para roh bintang, ahahaha ternyata dugaanku salaah.

    Dari 12 zodiac, ternyata bintangku yang dikeluarin duluan, wahahaha #gulingulingbahagia

    Keep in contact yaaak~

    Lope lope di udara,

    Blackchocolee

    #sumbanginJungLeodongs #winkeu

  15. nurulnijma90 berkata:

    action scene nya berasa bgt!!!😆😆
    krisnya gengsian bgt sih,yuri kan niatnya nolong,jd geregetan!ntr klo suka beneran br tau rasa..baru ngeh pas jelmaan gemini ngomong soal lingkaran suci ternyata itu tato di punggung yuri.

    Ah..ternyata yuri py kekuatan ampuh buat neken aura jahat yg merasuk ke 2 kembar gemini yg unyu+kece itu,ga sabar bintang apalagi yg bkln dihadapi yuri…😣

    meluncur ke chapter slanjutnya~~

  16. lalayuri berkata:

    Hai kak nyun, aku baru muncul lgi, soalnya kmrn udh malam dan disuruh tidur, wah kak HunHannya udh muncul, kerennn. Aku paling suka bagian yg kris menangkap yuri truss dia ngerasa punya kekuatannya lagi sebagai penjaga bintang. Keren bangetttt. Kapan krisyulnya akur kak ? Ok aku next ya kak

  17. febrynovi berkata:

    Eunji…………

    aku speechless sama perannya dia disini.. wah daebak..
    dan tolong…. shaun the sheep disamain sama sapi…….. xD

    kaknyun paling bisa buat alur dimana lagi serius tapi diselingi sedikit komedi..

    fighting kaknyun!

  18. Choiindah berkata:

    Selain tukang tidur si eunji bloon juga ya,,shaun the sheep disamain sma sapi ya iyalah ayahnya yuleon kagak percaya,malahan ngasih tau kalau tali buat kabur itu gak kuat nampung berat badannya yuleon,.Aigooo trnyata arwah si abu2 itu luhan sama sehunnn.,wahhh kerennn mereka jdu arwah gemini,yng suka lolipop,

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s