TALES OF ZODIAC #4

TOZ3

Hadir dengan poster baru! How is it? :p

.

.

Yuri berjalan tidak peduli ketika beberapa pemuda menghampirinya. Dengan rona merah dan malu-malu secara bergantian, mereka menghadiahi Yuri dengan berbagai bunga mawar merah serta kartu-kartu ucapan. Ada pula yang memberinya sekotak hadiah dengan pita-pita bertabur warna merah muda dan putih terang yang senada. Senyum para pemuda tersebut berkembang bagaikan daun-daun pohon sakura yang merekah ketika musim semi. Yuri memandangi satu per satu dari mereka tanpa minat. Dengan sekali senyuman hambar, ia baru saja mencacah rona merah yang diperlihatkan pemuda-pemuda yang ia sebut bodoh di depannya. Dengan satu langkah lagi, ia meninggalkan kotak-kotak hadiah itu tanpa rasa belas kasihan. Eunji yang mengekori Yuri menggantikannya untuk memberikan senyuman permintaan maaf sambil beberapa kali menundukkan kepala.

Entah apa yang kemudian dilakukan pemuda itu setelah Yuri mengabaikannya, Yuri tidak begitu peduli. Kejadian seperti itu tidak ia alami kali ini saja. Sebelum ini, bahkan ia sempat mengabaikan pemberian mobil mewah dari seorang pria necis yang sedang mencari istri kelimanya. Masuk akal juga sih. Wanita mana di dunia ini yang ingin dinikahi sebagai istri kelima dari seorang pria klimis yang seusia dengan ayahnya.

“Apa tidak apa-apa begini?” Eunji berjalan cemas di belakang Yuri. Yuri tidak mengindahkannya. Ia berhenti dan berbalik untuk berhadap-hadapan dengan wajah Eunji. Tapi bukan untuk membahas soal kotak-kotak hadiah tadi. Lengan Yuri mengalung ketat ke leher Eunji dan membawa tubuh gadis itu untuk bersama-sama memandang ke arah lapangan basket yang terhampar lebar di depannya.

“Lihatlah.” Kata Yuri. Ekspresinya begitu jengah. Eunji ikut-ikutan menatap ke arah lapangan bola basket namun tidak mengerti apa yang tengah ditunjukkan oleh Yuri. Di sana berdiri pemuda-pemuda, tertampan dari yang tertampan, sedang berlatih dan bersenda-gurau satu sama lain. Di sisi pinggir lapangan, ada sekelompok gadis-gadis pemandu sorak yang tengah berteriak walaupun pemuda tersebut tidak sedang memainkan bola-bola basketnya. Yang mereka teriaki hanyalah gerakan sekilas dari seorang pemuda yang tengah menenggak air mineral atau pemuda yang tersenyum manis ke kawanannya.

“Kau suruh aku melihat gadis-gadisnya atau pemain basketnya?”

“Keduanya.” Yuri melepaskan kalungan tangan pada leher Eunji. Eunji menggaruk dan mengelus lehernya sebentar kemudian berdeham saat Yuri kembali berbicara padanya. “Gadis di sana adalah yang memukulku kemarin di toilet. Kelihatannya ia menyukai salah satu dari pemain basket. Kau tahu apa yang sedang kupikirkan kan Eunji?”

Manik Eunji memicing pada seorang gadis yang ditunjuk oleh jemari Yuri. Ada gadis berambut panjang yang warna rambutnya secerah pelangi. Tidak berlebihan jika Eunji mengira itu sebagai pelangi buatan karena selain warna merah dan hijau, di ujung-ujung rambutnya terlukis warna jingga, kuning, biru langit, putih bahkan warna keperakan seperti besi yang baru saja di tempa. Gadis itu membawa pompom dan berteriak setengah gila ke arah salah satu pemuda di lapangan. Nama Minho disebut beberapa kali olehnya.

Eunji menatap ngeri pada Yuri. “Kau tidak berpikir seperti yang kupikirkan kan Yuri?”

Yuri menyunggingkan senyum penuh arti pada Eunji. “Satu-satunya cara manusiawi untuk membalas perlakuan gadis itu padaku, adalah seperti ini : rebut pria yang ia sukai sampai gadis itu tidak berani masuk sekolah.”

Eunji berdecak kemudian menggeleng ketika Yuri terkekeh-kekeh sendirian. Mungkin ia akan mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu dari seminggu yang aman di sekolah jika Yuri terus berteguh pada rencananya. Akan ada bencana, pikir Eunji.

.

.

“Oh? Kau Jung Eunji kan?” Jaejoong datang dan menghampiri Eunji yang sedang membersihkan meja bersekatnya di dalam area perpustakaan. Membaca? Tidak, tidak! Tidak ada sejarah bagi Jung Eunji untuk meluangkan waktu istirahatnya hanya untuk membaca. Barusan tadi ia membersihkan meja dari buku agar terdapat area yang cukup untuk kepalanya bersandar. Tentu saja! Ini kan sudah waktunya Eunji tidur siang.

Tapi rencana itu sepertinya harus ditunda—atau barangkali harus dibatalkan. Jaejoong kini mengajaknya ke sebuah ruangan khusus yang disediakan pihak sekolah untuk guru-guru yang penting. Jabatan Jaejoong cukup penting untuk mendapatkan sebuah ruangan luas dengan beberapa fasilitas layaknya rumah kecil sewaan di ujung lorong utama. Ketika Eunji membuka pintunya, Kris adalah orang pertama yang ia lihat.

“Hai.” Katanya sambil mengangkat tangannya. Kris acuh tak acuh. Ia menarik majalahnya kemudian perlahan mengunyah kacang-kacang kulitnya. Eunji mengangkat sebal separuh dari bibirnya sambil mengutuk pria itu.

“Maaf agak berantakan.” Kata Jaejoong ramah. Tubuhnya membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lemari pendinginnya. Saat tubuhnya menegak, Eunji melihat sekaleng cola dan makanan beku yang ada di tangan guru barunya tersebut. Eunji mendekat dan membantunya untuk membawakan makanan tersebut meskipun Jaejoong tidak terlihat terlalu butuh bantuan.

Eunji dan Jaejoong meletakkan semuanya di atas meja yang terletak beberapa meter dari Kris. Sangat melegakan bagi Eunji, setidaknya ia tidak perlu berpandang-pandangan dengan pemuda rakus kacang di ujung sana.

“Kemana Yuri?” Kata Jaejoong. Eunji tersentak, kemudian ingat perbincangan dirinya dan Yuri pagi tadi. Ia hanya berdecak sambil membuka kaleng colanya dengan gerakan malas.

“Dia melakukan apa yang katanya perlu dia lakukan.” Eunji mencoba menjawab meski itu mengganggunya. Biasanya sih setelah kejadian seperti ini, Eunji akan diserang oleh beberapa wanita yang membuat jaringan permusuhan dengan Yuri. Walaupun ia tidak mungkin terluka karena Judo dan Wushu yang ia pelajari sejak kecil, tapi tetap saja merepotkan. Meski begitu, Eunji tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Yuri. Jika bukan karena pertolongan Yuri bertahun-tahun lalu, mungkin ia sudah tinggal di kompleks pemakaman hari ini.

“Contohnya?” Jaejoong membuka sebungkus kue beku yang masih disegel dalam plastik. Eunji tidak tahu apa yang terjadi, namun ketika Jaejoong menyodorkan kue tersebut, permukaannya sudah hangat. Ia sempat memandang ragu namun ketika ia mengingat kembar Gemini dan keseluruhan cerita dari mulut Yuri, ia paham. Yang terjadi di sekitar pemuda ini pastilah tidak ada yang normal, pikirnya.

“Yuri sedang merencanakan sesuatu untuk membalas gadis yang memukulnya tempo hari. Dan caranya ini, sungguh tidak pernah kusukai.”

Kris bangkit hingga buku, majalah dan sampah dari kulit kacang di atas tubuhnya turun ke atas lantai. Eunji sempat kaget dengan gerakan itu dan menghentikan kalimatnya sementara waktu. Namun ketika Kris bangkit dan berjalan ke arah lemari pendingin hanya untuk mengambil sekaleng cola untuk kemudian kembali lagi, barulah Eunji melanjutkan ceritanya.

“Gadis itu, eh siapa ya namanya? Hara. Pokoknya dia, kelihatannya menyukai kapten tim basket sekolah, Choi Minho. Yuri merencanakan sesuatu untuk merebut Choi Minho darinya, kelihatannya.”

Jaejoong sedang asyik menenggak cola ketika Eunji baru saja menyebutkan rencana Yuri tadi. Colanya tersembur bebas ke udara. Jika Eunji tidak mengambil jarak beberapa senti menjauh, sudah pasti ia telah mandi cola siang itu.

Lain dengan Jaejoong, lain dengan Kris. Saat Eunji berpaling jijik dari hadapan Jaejoong, Sialnya ia harus menemukan tatapan curiga dari mata Kris. Eunji mencibir kemudian berkata. “Apa?” Dengan nada tak senang. Kris duduk tegak kemudian menatap Jaejoong penuh arti.

“Apakah Yuri tahu bahwa ia tidak diperbolehkan untuk mendekati pria sementara waktu?” Jaejoong telah terbebas dari luapan cola, sambil sibuk memulas mejanya dengan tisu, ia memandangi Eunji mencari jawaban yang ia inginkan.

Eunji mengernyit. “Eh? Siapa yang bilang begitu?”

Kris berdiri dengan gerakan cepat—Eunji menyebutnya gerakan cepat menyembul dari awan seperti elang—kemudian membuka pintu dan berlari ke luar. Eunji ditinggalkan kebingungan sambil mencari jawaban dari ekspresi cemas yang ditorehkan Jaejoong pada wajahnya.

“Kenapa dia tiba-tiba seperti itu?” Eunji berdiri ketika Jaejoong juga berdiri. “Apa yang terjadi?”

Jaejoong menarik tangan Eunji untuk segera mengikutinya keluar. Eunji masih kebingungan. Tapi ia tidak menolak untuk berjalan mengekor pada tubuh Jaejoong. Saat akhirnya Jaejoong mengatakan alasannya, Eunji mengubah irama langkahnya menjadi lebih cepat dari biasanya.

“Penjaga bintang wanita, dilarang mendekati pria manusia manapun. Konsekuensinya jika melanggar adalah : Jika pemuda itu tidak mati, maka penjaga bintang yang akan mati. Itu satu-satunya alasan kenapa penjaga bintang sebagian besar adalah pria.”

.

.

Kris biasanya tidak mau repot-repot mengejar wanita untuk kemudian menyelamatkannya. Tapi kali ini ia membuat pengecualian. Jika sampai Yuri secara kebetulan terlibat suatu masalah pelik dengan pria manusia, sudah pasti pemuda tersebut dan gadis itu sendiri berada di ambang masalah besar. Masih cukup beruntung jika ternyata pemuda tersebut yang diambil oleh nasib buruk, tapi jika terjadi sebaliknya? Bagaimana jika Yuri yang tersandung masalah dengan nasib buruk? Tentunya, Kris juga tidak akan bertahan lama—mengingat ia dan Yuri tidak dapat terlalu jauh satu sama lain.

Singkatnya, jika kebetulan Yuri ada di ambang maut, maka waktu Kris bertahan juga tidak akan lama.

Koneksi yang tidak terlalu menguntungkan tentunya bagi Kris.

Pemuda itu kini baru saja selesai menyusuri lorong paling besar di sekolah elit tersebut. Ia membuka pintu tiap kelas kosong dan mengintip dari ceruk kecil di jendela pada kelas-kelas yang masih ada penghuninya. Saat ia temukan beberapa gadis yang mirip dengan Yuri, Kris akan menariknya dan menatapnya selama beberapa mili-detik untuk memastikan. Tapi ketika ia salah, Kris akan meninggalkan pada gadis itu dengan ekspresi tersipu dan merah merona dari setiap gadis yang telah dipandanginya.

“Sial!” Kris menggerutu. Ada semacam koneksi yang membuatnya paham betul kalau ada bahaya yang mengancam Yuri. Mulanya Kris menganggap rasa pusing dan mual di tubuhnya adalah gejala alami biasa. Namun tengah malam kemarin, saat diam-diam Kris dan Jaejoong menyelinap keluar dari kamar Yuri, Gemini berpesan :

Koneksimu dengan matahari sudah terbuka lebar. Semakin banyak bintang yang kau kumpulkan semakin kuat koneksi tersebut. Kalian sudah terhubung satu sama lain.

Sepenggal kalimat tersebutlah yang menguatkan kenyataan bahwa rasa sakit di kepalanya ini merupakan respon dari marabahaya yang mengintip untuk menyerang Yuri kapan saja. Meskipun ia tidak suka, ia harus menyelamatkan gadis menyebalkan tersebut. Bukan untuk Yuri saja, tapi untuk keselamatan dirinya sendiri. Lebih umumnya lagi, keselamatan Korea dari amukan si raja langit.

Kris berbelok pada pertigaan pertama yang ia lalui. Insting kuatnya membawanya untuk terus lurus tanpa mengindahkan tembok-tembok tinggi yang diselingi dengan pilar-pilar warna kayu di sepanjang koridor sepinya. Namun langkah Kris terhenti ketika ia memandangi sebuah pintu mahoni yang ukirannya ditulis dalam bahasa Yunani. Ia tidak ingin membacanya, tapi ia sudah terlanjur melihatnya.

Membaca, berarti membuka kutukan.

Untung saja Kris masih ingat peribahasa lama tersebut. Meskipun ia tahu apa artinya tulisan yang terukir di sana, ia tidak ingin membacanya dengan suara keras. Bisa jadi sesuatu akan melahapnya dari dalam.

“Kris!” Suara Jaejoong yang terengah setengah tersengal kini mampir di telinganya. Jaejoong tadinya ingin beristirahat dan menghela napas panjang. Namun niat itu ia urungkan segera ketika melihat pintu misterius dari kayu mahoni yang bertengger megah di depannya. Eunji yang mengekori Jaejoong hampir saja memekik kaget dengan keberadaan pintu tersebut.

“Harusnya tidak ada pintu di sini!” Kata Eunji. Ia ingat sekali bahwa koridor kecil tempatnya berdiri saat ini adalah koridor yang mengarah ke gudang tidak terpakai di ujungnya. Seingat Eunji, pintu gudang tidak semegah seperti yang dilihatnya saat ini. Lagipula, seharusnya koridor tersebut lebih panjang dari tempatnya berdiri, tidak begitu singkat seperti ini.

Jaejoong menahan Eunji untuk mundur beberapa meter dari pintu. Kris mendesah. “Sepertinya ada seseorang di dalam sana.”

Kris tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Di balik pintu kayu tersebut berdiri dua orang yang berhadap-hadapan dengan tak nyaman. Seorang wanita dan seorang pria dengan senyuman penuh arti.

Yuri bisa mendengar suara pekikan kecil dan ribut-ribut di balik pintu kayu tersebut, inginnya sih ia berteriak dan mencoba memberitahu mereka apa yang sedang ia hadapi saat ini. Tapi percuma, semakin ia berteriak akan semakin pekat marabahaya yang dihadapinya.

Kisahnya terjebak di balik pintu bermula dari lapangan bola basket tadi siang. Ia mendekati seseorang dengan wajah paling tampan yang belakangan baru ia tahu sebagai Choi Minho. Yuri memberinya air mineral dan melakukan apa yang seharusnya seorang gadis manis lakukan. Siapapun tidak akan menolak perlakuan gadis seperti Yuri, termasuk Minho tentu saja. Kejadian di lapangan tadi sukses besar. Hara menjejakkan pompomnya di lapangan dan menangis di hadapan teman-temannya.

Saat Yuri pikir dramanya sudah selesai, tiba-tiba saja ia sudah berada di ruangan gelap dengan Choi Minho dan iris abu-abu di matanya.

Yuri mengerjap-ngerjapkan matanya untuk beberapa saat sembari mencerna akal sehatnya. Ada pikiran bahwa tidak mungkin manusia menjadi bintang atau sebaliknya. Iris mata abu-abu dan kulit abu-abu yang dimiliki Minho saat ini sepertinya mematahkan pemikiran Yuri. Sementara, Yuri menganggap Minho sebagai manusia yang sedang kesurupan roh bintang. Jadi ia tidak bisa melukainya.

“Berikan lingkaran sucinya, Noona.”

Yuri tidak ingat kalau dia lebih tua dari pemuda dengan nama Choi Minho tersebut. Agak aneh seorang manusia kesurupan memanggilnya Noona, tapi apa peduli Yuri? toh dipanggil noona atau bukan tidak akan mengembalikannya dari ruangan gelap.

“Aku sudah berikan itu pada Gemini.” Kata Yuri berbohong. Ia mengharapkan setelah ia menyebutkan nama salah satu dari rekan bintangnya, makhluk di dalam tubuh Choi Minho ini setidaknya dapat melunak.

Tapi Yuri tidak pernah salah besar seperti ini. Choi Minho si Abu-Abu tidak mendengarkan apapun selain terobsesi pada lingkaran suci.

“Nanti aku buatkan lingkaran yang lain, asal jangan kau sentuh milikku.” Kata Yuri dengan nada ceria yang dibuat-buat. Ia berharap pemuda abu-abu tersebut dapat dibodohi seperti ketika ia membodohi Gemini dengan Lollipop.

BAM!

Ledakan yang tidak asing bagi Yuri. Sebelumnya Gemini juga pernah menyerangnya seperti ini. Bola-bola api. Rasanya ia baik-baik saja sampai bajunya terbakar hebat di bagian belakang. Blazer mewah yang berkelepak sutera itu lenyap sudah dari keanggunannya. Hangus dan terbakar adalah kata tepat bagi kejadian singkat tersebut.

“TIDAK KEBAL API!” Yuri berteriak. Berharap siapapun di balik pintu kayu mendengarnya. Sementara ia sendiri kini berjibaku untuk menghindar dari serpihan panas. “Duh! Panas!” Yuri mengaduh beberapa kali ketika bagian kecil dari percikan api sempat menyapa pori-pori kulitnya. Rasanya tidak separah ini waktu ia berhadapan dengan Gemini. Padahal, kalau dari jumlah, seharusnya melawan pria Choi Minho ini lebih mudah. Gemini kemarin terdiri dari dua orang sekarang hanya satu. Harusnya ia dapat menyelesaikannya lebih mudah.

Di sisi lain. Kris sedang berusaha mendobrak dengan apapun. Tubuhnya, kayu besar, pedangnya, perisai, semuanya ia pakai untuk membuka paksa pintu kayu tersebut. Namun sia-sia. Kris menggeleng lemah kemudian memandang Jaejoong. “Satu-satunya cara untuk melewati pintu ini adalah membaca kutukannya.” Kata Kris.

“Jangan. Tidak boleh! Kutukan ini bersifat kekal. Yang artinya, sekali kau membacanya, kau tidak akan pernah keluar dari ruangan ini. Tidak bisa!” Kata Jaejoong. Kris tidak melunak, ia memasang ekspresi keberatan kental di wajahnya. Sedangkan Eunji yang tidak paham akan topiknya masih berharap-harap cemas beberapa meter di belakang Jaejoong.

“Lalu bagaimana?” Kris mendesak. Hidupnya juga dipertaruhkan. Jaejoong menaruh salah satu tangannya di pinggang kemudian berjalan mondar-mandir dengan penuh pertimbangan di kepalanya. Ia memiliki beberapa rencana namun semuanya memilki resiko yang serius. Rata-rata memiliki pilihan tentang pengorbanan dari Yuri atau pengorbanan dari Kris. Tidak membantu.

“Apa ada yang memiliki Lollipop lagi?” Suara lembut muncul begitu saja di sebelah Eunji hingga gadis itu hampir pipis karena kaget. Luhan muncul dengan tiba-tiba dari balik kabut, lengkap dengan adiknya yang acuh tak acuh memandang Eunji. Jika dipikir-pikir, selain wajah tampan dan manis, keduanya tidak memiliki kemiripan lagi. Luhan begitu manis sedangkan adiknya, Sehun begitu dingin. Seperti perpaduan eskrim.

Jaejoong juga mendengar sahutan kecil tersebut dan menoleh ke arah Eunji. Luhan tersenyum ke arahnya. “Hoy, apa kau punya sesuatu yang manis yang bisa kumakan, bos?” Kata Luhan. Ia berjalan dan membuang gagang Lollipopnya yang ujungnya sudah gepeng digigiti. Kris mengerling jijik.

BAM.

Suara keras dari tubuh yang terbentur benda keras. Ada teriakan keras dari Yuri yang tentu saja merupakan teriakan kesakitan. Sehun menatap serius (dua kali lebih serius dari biasanya, sungguh) pada permukaan pintu kemudian mengernyit. Sedangkan Luhan yang tadinya tersenyum cerah pada Jaejoong dengan nada suara jahil, kini memudarkan kesan manis di wajahnya. Keduanya memasang fokus pada pintu tersebut.

“Aries.” Kata keduanya serempak.

“Maaf?” Jaejoong tidak benar-benar tuli. Ia hanya memastikan bahwa apa yang dikatakan dua Gemini tadi tidak salah.

“Itu kakak kami, Aries. Tapi kenapa …,” Luhan menghentikkan kalimatnya kemudian saling tukar pandang dengan Sehun. “Kami harus mengurus ini. Kami akan masuk.” Kata Sehun mantap. Keduanya mengangguk satu sama lain dan meminta izin dari Kris.

Kris enggan memerintahkan apapun sampai akhirnya ia mendengar teriakan selanjutnya dari Yuri.

“Apa bos cantik yang memberikan kami lollipop ada di dalam?” Luhan bertanya. Nadanya memang serius, namun tetap saja aura kekanak-kanakkan dari rangkaian bahasanya tidak bisa ia lepaskan begitu saja.

“Iya. Sepertinya Aries menyerangnya.” Jelas Kris. Luhan dan Sehun bertukar pandang sekali lagi kemudian bersama-sama menatap Kris. “Apa kalian yakin yang di dalam adalah Aries?” Jaejoong mencoba meyakinkan dua Gemini sekali lagi. Ia menemukan sesuatu yang salah di sini. Tapi Gemini mengangguk pasti.

“Baunya, pasti Aries.” Kata Luhan.

“Walaupun sedikit tercampur dengan bau aneh yang lain. Sebagian besar aku kenal sebagai Aries.” Sambung Sehun.

“Tapi kan Aries…,” Jaejoong mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kalimat sampai akhir. Kris sudah menyetujui agar Gemini masuk ke dalam area di balik pintu. Tidak akan ada kutukan yang berlaku untuk keduanya karena baik Luhan maupun Sehun adalah spirit force yang artinya mereka tidak benar-benar nyata. Kutukan dibuat oleh Aries, yang tidak akan ada pengaruhnya terhadap sesama bintang seperti Gemini. Tentu mereka akan baik-baik saja.

Tapi bukan itu yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Jaejoong dan Kris.

Saat Eunji membuat suara gaduh di belakang, Jaejoong menoleh untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Eunji memanfaatkan momen tersebut untuk bertanya.

“Memangnya, kenapa kalau Aries? Kau terlihat tidak yakin, Pak Guru?”

Jaejoong memandangnya selang beberapa detik. “Itu,” katanya. Matanya memandang cemas. “Aries tidak pernah bertarung. Ia tidak pernah menyerang siapapun.”

Eunji membuka matanya dengan maksimal. Masuk akal dengan ekspresi cemas yang ditunjukkan Jaejoong ataupun Kris pada wajahnya. Jika Aries tidak pernah melukai siapapun, lalu siapa yang bertarung dengan Yuri di dalam?

.

.

“Setiap bintang memiliki karakter masing-masing. Kalau kau lihat Gemini, mereka mewakili sifat lucu dan kekanak-kanankkan dari anak kecil yang diperankan oleh Luhan. Sekaligus sikap dingin dan acuh tak acuh yang berlindung di balik karakter Sehun. Aries juga sama. Pada dasarnya ia hanya bintang penyembuh dan kebijaksanaan. Sama seperti Libra. Aries tidak pernah terlibat dalam pertarungan, ia juga tidak memiliki kualifikasi untuk bertarung. Simbolnya adalah biri-biri yang artinya ‘yang digembala’. Hewan yang digembala, tidak mungkin menyerang penggembalanya,” Kata Jaejoong. Eunji mengangguk-angguk mengerti. Walaupun ia tidak melihat secara langsung pertarungan di dalam sana, tapi ia bisa merasakan kekuatan hebat yang terbentur-bentur di balik pintu kayunya. Kris menunggu dengan gemas sambil beberapa kali mengepalkan tinju pada tembok-tembok.

“Secara teori, Aries tidak mungkin menyerang Yuri. Lain cerita kalau Yuri bertemu Leo, Scorpio atau bintang-bintang tipe petarung lainnya. Gemini juga termasuk dalam tipe petarung, kelas paling rendah.” Sambung Jaejoong.

“Kau tahu banyak.” Eunji membuka lebar-lebar mulutnya bagaikan orang bodoh.

“Sudah bakat turun-temurun dalam keluargaku.” Jawab Jaejoong. “Tapi, omong-omong, kenapa kau bisa melihat Gemini? Gemini itu bentuknya roh bintang. Manusia biasa seharusnya tidak bisa melihat dua pemuda itu.”

Eunji terkekeh kecil kemudian menggaruk kepalanya. “Yuri melakukan sesuatu sambil memohon-mohon pada Gemini agar aku juga bisa melihat mereka. Menurutnya dua pemuda itu sangat cocok bergaul denganku.” Kata Eunji. Poni tebal di dahinya bergoyang ketika ia menggelengkan kepala sambil bercerita. Jaejoong mengangguk setuju. Dua pemuda kekanak-kanakan dengan seorang gadis yang tidak kalah ‘anak-anak’nya memang sangat cocok.

Tapi tetap saja, memberikan penglihatan pada manusia biasa tentang keberadaan penjaga bintang dan roh-roh bintang, tidak bisa dibenarkan juga. Jaejoong memilih menyimpan masalah kecil ini rapat-rapat sampai keadaan memungkinkan untuk membuatnya membuka mulut.

BRUGH! BRUGH!

Di sisi lain. Luhan baru saja terpelanting ke atas tumpukan kotak-kotak besi yang terlihat begitu unik dengan pita warna merah muda. Karena penerangan remang-remang, Yuri sebelumnya tidak menyadari ada banyak kotak-kotak besar di sekelilingnya.

“Kak, berhenti kak!” Luhan mengeluh. Aries tidak seperti Aries yang ia kenal. Sehun yang mencoba mendekat dengan keramah-tamahan malah dilemparnya ke atas langit-langit hingga membentul beberapa lampu neon yang membuat seluruh ruangan gelap gulita. Satu-satunya sumber penerangan mungkin adalah api yang berkobar di balik jubah abu-abu milik Aries.

Jika Yuri lihat betul-betul ke sekelilingnya. Segalanya sudah berubah menjadi abu-abu.

Cih. Aku jadi membenci abu-abu.” Umpatnya. Ia meludah ke samping, pada kotak-kotak besi yang terbengkalai di sisinya. Yuri memerhatikan pita-pita merah muda yang tersampir rapi di atasnya. Kemudian ia ingat pada kotak-kotak hadiah dari para pemuda tadi siang.

Bentuknya mirip. Tapi yang tadi pagi setidaknya lebih kecil.

Yuri bangkit, tapi sesuatu yang salah  terjadi pada pergelangan kakinya. “ADUH! DUH!” Yuri berteriak kesakitan. Di depannya, Aries sempat mematung dan menatapnya hingga mata abu-abu Aries dan mata kecokelatan milik Yuri bertemu pandang tanpa arti.

“Kak! Dia penjaga bintang! Jangan melukainya!” Sehun berteriak di balik kotak-kotak besi. Lamunan Yuri terbuyar saat ia melihat Luhan menyerang dengan seberkas cahaya perak dengan serbuk bintang. Cahaya tersebut awalnya adalah sinar cahaya biasa seperti mentari pagi yang mengintip dari celah-celah lubang atap rumahmu. Tapi perlahan, cahaya tersebut berubah menjadi sebuah tongkat yang panjang. Yuri tiba-tiba saja teringat pada tongkat sakti yang dimiliki oleh tokoh televisi Sun Go Kong dalam perjalannya ke timur. Teknis tongkat cahaya Luhan, persis seperti itu. Dapat memanjang dan memendek seperti antena televisi.

Satu pukulan serbuk bintang mendarat di kepala Aries. Bukannya limbung, ia malah memukul-mukul dadanya layaknya gorilla. Untuk kali kesekiannya, pikiran Yuri refleks mengaitkan semua kejadian di depannya dengan semua acara televisi dan film yang sudah pernah ditontonnya.

Oke, tadi itu tidak terlalu penting.

Satu-satunya yang menjadi fokus utama kali ini adalah Luhan yang terpelanting (lagi). Sehun berdiri dan menendang wajah berharga dari Aries hingga ia mengerang hebat dan melontarkan pemuda manis itu sekali lagi ke atas neon-neon. Mungkin setelah ini Sehun akan membuat seluruh perusahaan neon bangkrut.

“Hoy Nona, Aries ini dipengaruhi seseorang. Sama seperti kami saat kau menemukan kami. Normalnya, dia tidak menyerang seperti ini.” Luhan menjelaskan dari jauh sambil memerhatikan gerakan Aries—yang bisa saja sudah siap membungkam mulutnya dengan kepalan tinju, misalnya.

“Apa kau menyarankan solusi?” Yuri berlari ketika kepalan tinju Aries hampir saja mencacah wajahnya. “Aku butuh solusi!” Yuri berteriak panik. Luhan menggeleng dari kejauhan sementara Sehun yang baru saja mendarat di atas kotak-kotak besi kini merintih pada tulang punggungnya.

Ternyata roh bintang bisa sakit punggung juga, pikir Yuri. Tapi itu tidak penting. Karena fokusnya tiba-tiba saja tertanam lengkap pada kotak-kotak besar dengan pita-pita merah muda yang tertata rapi. Kalau dilihat-lihat, benda-benda itu adalah satu-satunya yang tidak berwarna abu-abu. Kejadiannya sama seperti ketika Yuri bertarung dengan Gemini yang memakai kaus bunga-bunga. Berbekal informasi yang tidak dapat ditentukan kebenarannya tersebut, Yuri memasang taruhan pada dirinya sendiri.

Kalau kaus bunga-bunga dapat menghentikkan gerakan Gemini, bukan tidak mungkin kotak pita-pita juga dapat menghentikkan gerakan Aries.

Tapi jika Yuri ingat lebih detail lagi kejadian sebelumnya. Sebenarnya ia tidak benar-benar menghancurkan kaus bunga-bunga Gemini seperti yang Jaejoong sarankan padanya. Kalau tidak salah, ia hanya terjatuh dengan bantuan Kris yang menangkapnya, kemudian Gemini kembali pada bentuk normalnya.

Pemuda itu. Harusnya aku memercayainya ketika ia bilang tidak bisa jauh dariku. Idiot.

Yuri menyesali kebodohannya sendiri. Ia menangkap pemahaman bahwa tidak seharusnya ia berada jauh-jauh dari pria menyebalkan itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Meskipun sulit, Yuri harus memikirkan solusi sendirian.

Fokus utamanya masih pada kotak-kotak pita. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan pengap tersebut. Matanya memerhatikan konstruksi kotaknya—yang sebenarnya hanya kubus biasa dengan ukuran yang sebesar tiga kali kotak sepatu. Total setidaknya ada dua puluh kotak-kotak di sana. Terhampar dari ujung ke ujung tidak beraturan. Mengelilingi ruangan persegi.

Yuri mendarat pada kotak terdekat. Ia mengerahkan kekuatannya untuk merobek, membanting, menggigit dan menginjak-injak kotaknya. Tapi tidak ada tanda-tanda kotak akan rusak. Sia-sia.

Aries menyaruk dengan penuh nafsu membunuh pada Yuri. Gadis itu terlontar sembari berlari sementara sekali lagi, tongkat Luhan dan kaki Sehun menyelamatkannya. Aries terjatuh telungkup karena tersandung, sementara Yuri tidak sengaja ikutan terjatuh akibat getaran hebat di kakinya. Sebuah kotak melayang hingga pitanya terlepas dan tutupnya terbuka. Seketika pita tersebut berubah menjadi abu-abu kemudian hangus. Aries berteriak kesakitan, bagian abu-abu kecil dari lengan kanannya kini berubah menjadi warna kecokelatan khas manusia biasa.

“Ini jawabannya.” Yuri segera berdiri. “Luhan, Sehun. Uraikan semua pita di atas semua kotak dan buka tutupnya. Pastikan mereka berubah menjadi abu-abu dan hangus.” Kata Yuri mantap. Menahan kesakitan, Luhan berdiri dan meraih satu kotak terdekat. Ia mengurai pita di atas tutupnya, kemudian melepaskan tutup kotak dari tubuh kotaknya. Aries menjerit, kini iris mata kanannya berubah menjadi warna perak terang seperti warna iris mata Luhan dan Sehun.

“Lakukan seperti itu. Terus!” Yuri menjadi bersemangat. Ia bergerak lincah, melalui kolong-kolong yang dibuat dari celah kedua kaki Aries, ia berseluncur melalui lantai-lantai marmer yang licin karena keringat. Rasa panas kini berkurang karena semakin banyak kotak yang dihancurkan. Sampai akhirnya Sehun sudah sampai pada kotaknya yang kesembilan belas. Tinggal satu lagi, kata Yuri di dalam hati. Kotak terakhir adalah kotak yang kebetulan paling dekat dengan tempatnya berdiri.

Ketika ia hendak mengurai pitanya, Aries menangis tersedu. Tubuhnya sudah kembali seperti seharusnya. Satu-satunya yang masih berwarna abu-abu adalah rambutnya.

Gemini berdiri di pojokkan sambil berpegangan tangan. Yuri menoleh singkat pada punggung Aries.

“Akhirnya kau membuka semuanya.” Kata Aries. Ia terisak pelan. Tanpa melihat pada Yuri, gadis itu tahu bahwa yang sedang dibicarakan oleh Aries adalah dirinya. “Aku hanya ingin memberikan kotak-kotak itu padamu. Tidak ingin menyakitimu. Aku ingin sekali melihat kau senang dengan mengurai pita dan sesekali menyentuh hadiah dariku. Menerima hadiah dengan baik, tidak akan membunuhmu. Aku ingin kau tahu itu. Pemuda-pemuda itu begitu kecewa saat hadiah-hadiahnya kembali. Aku tidak menyukai kekecewaan.”

Gemini—Luhan dan Sehun—saling bertatapan satu sama lain. Yuri mengurai pita di atas kotak di depannya kemudian membuka tutupnya perlahan. Ia masih mendengar Aries tersedu, tapi ketika kotak terakhir hangus dan lenyap dari pandangannya. Suara tersebut menjadi lebih kecil dan lebih lembut. Seperti bayi yang memanggil-manggil ibunya untuk meminta sesuatu.

Ruangan persegi pengap lenyap seketika, meninggalkan sosok Choi Minho dalam bentuk manusia namun dengan tanduk kecil melengkung di sisi kanan dan kiri kepalanya. Luhan mengulurkan tangan dan memintanya berdiri bersama keduanya. Saat ketia Minho menatap Yuri, isakannya sudah terhenti. Ia tersenyum tulus sambil mengulurkan tangan, membantu Yuri untuk berdiri.

“Maaf ya. Emosi hitam membutakanku.” Kata Minho. Nadanya bergetar. Yuri sempat ragu sedikit karena peperangan yang baru saja ia lakukan. Tapi seperti disuntikkan sebuah obat penenang, Yuri menahan dirinya dari gemetar. Ia berdiri dan menyambut uluran tangan Aries dengan ramah.

“Terima kasih.” Kata Yuri. Aries menepuk pundaknya kemudian dengan papahan dari Luhan dan Sehun, mereka berjalan keluar dan memendarkan serbuk bintang di sekitarnya.

“Aries,” Kata Yuri. Tubuh mereka saling membelakangi, tapi Minho tahu bahwa gadis itu sedang bicara padanya. “Aku—aku akan menerima semua kotak hadiah itu. Kau bisa membagi cerita-ceritamu padaku. Dan juga,” Yuri membalikkan tubuhnya. Menatap punggung Minho dengan mata teduh. “Kau tidak perlu menangis lagi.”

Tepat saat Yuri mengendurkan senyumannya, Sang Aries mengangguk pelan. Cahaya membawanya berbinar di tengah kegelapan lorong. Cahaya tersebut sempat begitu menyilaukan diiringi serbuk-serbuk kelap-kelip. Namun setelahnya, cahaya itu memudar, hilang dan meninggalkan Yuri yang berdiri menatap udara kosong.

Punggungnya perih. Tangan Yuri mencoba meraba kulit punggung di balik kemeja yang ia pakai. Sebuah goresan sepertinya baru saja terbentuk di sebelah lingkaran gemini. Gambarnya tidak bisa Yuri tebak, tapi ia yakin kalau itu adalah gambar domba.

.

.

“Aku bisa menjelaskan ini, hanya hipotesa sih,” Jaejoong memboyong tabletnya ketika Kris dan Yuri duduk sebelah-bersebelahan di sofa penuh kulit kacang miliknya. Eunji kini bermain dengan Luhan. Berlari-lari seperti balita. Sehun memilih menggali isi lemari pendingin dan berbagi makanan dengan Minho. Roh-roh bintang tersebut rupanya bisa muncul dan pergi kapan saja. Sebebas yang mereka inginkan, sesering yang mereka mau. Yuri menggeleng sambil mendesah singkat.

“Pada kasus Gemini, rupanya dua bocah itu memiliki suatu kenangan buruk dengan kemeja bunga-bunganya dan itu menjatuhkan emosinya ke dalam kegelapan. Dalam konteks ini, kita anggap abu-abu sebagai simbol kegelapan. Pengalaman buruk itu bisa memengaruhi kondisi mental dan fisik dari roh bintang itu sendiri dan menyebabkan mereka menjadi pemarah, liar dan tidak terkontrol. Dalam kasus Aries, rupanya ia selama ini menempel sebagai benalu dalam tubuh Choi Minho.”

Jaejoong menenguk air mineral langsung dari botolnya. Ia membasahi kerongkongannya yang tercekat kemudian berbicara kembali.

“Aries tadinya benalu dalam tubuh pria-pria lain. Tapi ia memiliki pengalaman buruk yang sama dengan setiap inangnya. Dan sayangnya, itu berkaitan dengan sikapmu pada pria-pria di sekolah ini. Aries mendapatkan pengalaman yang sama seperti para pemuda inangnya : Penolakan kasar atas hadiah tulus. Emosi kekecewaan dari para inangnya membekas pada diri Aries. Ketika kemudian ia menemukan kesempatan saat kau mendekati pemuda bernama Choi Minho tersebut, Aries menjadikannya inang dan menjebakmu. Seperti itu teorinya.”

Jaejoong menyudahi penjelasannya dengan satu helaan napas yang panjang. Ia melirik ke arah Yuri kemudian kepada Kris yang terlihat bosan. Yuri menggigiti bibir bawahnya. “Maaf.” Katanya. Yuri memandangi Aries yang kini tertawa lebar bersama Sehun. Omong-omong, Aries menolak untuk berada dalam tubuh aslinya. Meskipun ia sudah tidak memiliki tubuh Choi Minho, Aries meniru figur dari pemuda tampan itu dan menjadikannya sebagai wajahnya sementara ini. Berbeda dengan bentuk asli Gemini yang menyerupai manusia, Aries memiliki tubuh domba. Dan ia tidak mungkin berkomunikasi dengan para penjaga bintangnya dengan bahasa domba. Lagipula, tidak ada kursus bahasa domba di Korea.

Yuri sih sebenarnya setuju saja dengan wajah menyerupai Minho tersebut. Menatap wajah tampan dari seorang pemuda tentu tidak akan membuatnya mati kan.

“Jadi sejauh ini, kau sudah mengumpulkan dua bintang.” Jaejoong menyimpulkan. Maniknya melirik tajam pada Kris sehingga mengundang sahutan tidak senang dari pemuda itu. “Apa?”

“Kau tidak membantu banyak dari kasus Aries, Kris.” Jaejoong mengingatkan.

“Aku mau membantu, kau sendiri yang melarangku masuk ke balik pintu.”

Jaejoong tersungut-sungut. Kemudian ia mengangguk pelan. Mungkin baru saja ia mengatakan Oh iya ya pada dirinya sendiri. Kris tersenyum melecehkan.

“Omong-omong, Jung Eunji,” Jaejoong menoleh pada Eunji yang tertawa geli setelah kelelahan berlarian dengan Luhan. Kira-kira mereka sudah mengitari sofa selama kurang lebih dua puluh putaran. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini. Bergabung bersama kami akan sangat berbahaya ke depannya bagi manusia sepertimu.”

Berbicara tentang Eunji, Yuri benar-benar lupa. Tentu saja ia tidak ingin menempatkan sahabat terbaiknya dalam bahaya. Contohnya saja seperti tadi. Jika Eunji ada di posisi seperti Luhan dan Sehun tadi, mungkin tubuhnya sudah remuk sekarang. “Eunji akan berhenti sampai di sini, Gemini bisa menghilangkan sebagian memorinya tentang tiga hari belakangan ini.” Ucap Kris. Dingin, seperti biasa.

“Benar.” Untuk pertama kalinya Yuri setuju dengan Kris. Mereka berpandangan dengan rikuh kemudian sama-sama berdeham.

“Baik. Sudah diputuskan.” Kata Jaejoong.

“Tunggu!” Eunji berjalan mendekat pada Jaejoong. “Aku tidak setuju. Aku tidak ingin ingatanku tentang semua ini hilang begitu saja, apalagi, sahabatku terlibat. Aku tidak bisa meninggalkan Yuri. Kau tidak tahu bagaimana keras kepalanya gadis ini. Meskipun aku tidak terlalu berguna, tapi aku tetap akan bersama petualangan menarik ini.”

Cih. Kris hampir tertawa tidak senang mendengarkan kata petualangan menarik yang baru saja keluar dari bibir Eunji. Mempertaruhkan nyawa demi bintang-bintang sungguh tidak ada menarik-menariknya, pikir Kris.

Jaejoong baru saja akan angkat bicara. Omong-omong, di sana ia berfungsi sebagai moderator. Tapi ekspresi Eunji meyakinkannya untuk tidak memperpanjang isu ini. Eunji menunjukkan senyum cerahnya ketika Jaejoong berkata, “baiklah.”

Kris mengoceh tidak setuju sementara Yuri tersenyum tipis. Minho memandangnya dari balik meja. Kemudian keduanya membagi senyuman teduh. Tapi bicara tentang Aries, selain mudah tersentuh dan tidak pandai bertarung, Aries juga gampang jatuh cinta pada gadis lebih tua.

Semoga ketika Yuri tersenyum saat itu, Yuri tidak lebih tua dari pada umur Aries.

TBC

.

.

review please? :p

77 thoughts on “TALES OF ZODIAC #4

  1. Anna Selva berkata:

    Omo!!! gemes liat tingkah Eunji and Luhan. mereka kyeopta!!!! Yul eonni makin deket aja nie sma Kris gege ciee… lanjut terus dong thor😀

  2. Naa berkata:

    Wah ganti poster nih. Aku pribadi sih lebih suka poster sebelumnya, lebih berunsur fantasi dengan warna dan pupil mata si cowok yang kuning emas. dua-duanya juga lebih keliatan berkharisma daripada yang ini. Tapi sekali lagi, itu cuma pandangan pribadi aku aja loh yaaps.

    Dan AAAA itu si duo Gemini manis bangeet. Ariesnya juga. Bakal jadi tipikal cowok manis dan lembut tuh dia. Aih, makmur banget itu jadi si Yuri. bakal dikelilingin cowok-cowok kece

  3. SSY_ELF berkata:

    oke, nggak mau banyak comment kayak biasanya/? ini semakin seru eonni…!
    gemini sama aries udah join nih…*senang bgt><
    KrisYul makin deket cieee…

    aku lanjut~
    Eonni Jjang!!

  4. minyul generation berkata:

    Aq d bilangin setres sama org rumah gara2 senyum2 sendiri
    Hahaha
    Aries juga gampang jatuh cinta pada gadis lebih tua,, |̶|̶a=D|̶|̶a=))|̶|̶a=D|̶|̶a=))
    So sweet banget,, next chapter eonnie,, saranghae

  5. Hn_avy berkata:

    Sperti biasa…makin Seru
    Kyaaa~gak tau knpa yang aku pikirin itu bkn yang terlibat dalam part ini.Tapi…gmana carany yuri bertarung ama Singa,Kalajengking,dan kepiting yang pastinya bau amis itu..geleng-geleng bayanginnya

    Trus itu nasib eunji gmana?next y kak

    Petualangan Menarik!!!Merapat Merapat^.^

  6. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Eyyyy.. Ada minho /jiwa shipper kumat😀 / hehe, tapi semoga minho gk ngeganggu moment yulkris deh, makin menarik , lanjut ya ^^

  7. wulan berkata:

    wah, kayanya nih minho oppa bakalan jatuh cinta sama yul eonn… heeheehe…

    krisyul semakin dekat aja nih..

  8. NIZA berkata:

    kyaaaaaaa minhooooooo
    aduhhh duhhh slah stu otp aku… d chapter dpan mreka pnya moment gk yahhhh, pnasaran next next next
    hwaiting !!!!

  9. Lulu Kwon Eun G berkata:

    haha Yuri,,Yuri… kelakuan.a disini gk nahan bgt…
    ah aq mah bnyak cingcong.. izin lnjut lg ya kak

  10. Hye Bin berkata:

    Udah mulai kelihatan yaa ketergantunganya, KrisYul.
    Kapan nihh moment romantis KrisYul wkwkw
    “Semoga ketika Yuri tersenyum saat itu, Yuri tidak lebih tua dari pada umur Aries.”
    btw, umur Aries brp?

  11. Anonym berkata:

    Hahaha aries noona-killer kaya yang disebutin di teaser😀 iya ya dikorea ngga ada kursus bahasa domba xD

  12. blackchocolee berkata:

    Baru tau kalo Aries penyuka noona noona, wkwkwkwk.

    Apakah karena Lee Jaehwan seorang Aries makanya dia ngotot ngejar-ngejar saya? Buahahahahaha #malahrandom #ditendang

    As usual, Nyun, kamu menyajikan setiap detail cerita dengan cermat, padat, tapi tidak merayap lambat (?), seneng deh bisa mampir kesinii~

    Oh iya, kenapa Gemini manggil Aries ‘kak’? Bukannya Aries itu zodiak paling muda diantara 12 lainnya ya?

    • bapkyr berkata:

      Ceritanya Aries itu kakaknya Gemini. Jadi, zodiak yang aku sajikan di sini campur-baur myth sama fiction, bagian Aries yg jadi first sign dalam klasifikasi zodiak gak aku ikut sertakan. Tapi dalam soal kekuatan, eksistensi dan segala macam, Aries paling bontot. Jadi aku menerjemahkan yang termuda dari Aries bukan soal hitungan usia, tapi hitungan strength. Gitu. Semoga membantu.

  13. lalayuri berkata:

    Ih kak, eunjinya sedikit bijak ya disini, lucu juga, ah aku senyum” sendiri pas yg aries mudah jatuh cinta dengan wanita yg lebih tua. HunHan nya lucu banget kak, sukanya lolipop, walaupun mereka kembar tpi sifatnya beda disini, kerennnnnn. Selanjutnya bintang apa ya kak ? Ok aku next ya

  14. febrynovi berkata:

    Luhan sama Sehun cheerful banget ya disini.. Minho yang biasanya karakternya 11 12 sama Kris bisa jadi mellow gitu..

    kaknyun daebak bisa ganti sifat mereka tapi tetep cocok/?

  15. Choiindah berkata:

    Wahh aries gampang jatuh cinta sama yng lebih tua,,dari tatapan matanya si aries kayaknya jatuh cinta nihh sama yuleon,:Ya ampun eunji emng sahabat terbaiknya yuleon,dia sampai2 gak mau ngilangin ingatannya demi yuleon meskipun dia ktanya gak brguna

  16. Ersih marlina berkata:

    Senyum2 gaje baca part ini, yuri di kelilingi pria tampan

    aries mudah jatuh cinta, ups, jngn sampe dia cinta bneran sma penjga bintangnya, repot kan

    lnjuut, smngat ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s