THE STEWARDESS [Part 9]

The stewardess 4

Not so long. Tapi yang penting dilanjut deh :p

***

Yuri menggigiti bibirnya sejak sejam yang lalu. Sesekali ia memandangi sebuah kamar dengan pintu kecokelatan yang dibalur sempurna dalam cat putih terang. Dalam rentang waktu tak tentu, tubuhnya berjalan maju-mundur. Kadang ia berkacak pinggang dengan gelisah namun lebih sering ia mematung dan dengan ragu-ragu berdiri di depan pintu bercat putih tersebut.

Ceklek.

Suara pintu yang dibuka dari dalam baru saja didengarnya. Gadis itu terlonjak sedikit dari lamunannya, kemudian ia berjalan pelan dan memandangi dua orang yang baru saja keluar dari kamar tersebut. Ada dua orang tengah ditatap Yuri baik-baik. Satu adalah wanita yang mengenakan rok pendek selutut dengan rambut diikat dan digulung di bagian atas tengkuknya. Satu lagi adalah pria kisaran umur tiga puluh tahunan dengan kacamata tebal, kelepak jubah berwarna putih serta stetoskop yang tergantung di lehernya.

Pria itu adalah yang pertama tersenyum ramah di depan Yuri.

“Dia hanya demam. Sedikit beristirahat selama dua atau tiga hari, pola makan yang teratur serta minum obat tepat waktu akan memulihkannya lebih cepat.” Katanya. Yuri menyunggingkan senyum keramah-tamahan dan beribu rasa syukur. Asisten dari dokter yang tengah bicara padanya kini memberikan Yuri beberapa lembar resep obat.

Sejurus kemudian, apartemen Yuri kembali kosong. Dokter muda dan asistennya baru saja pergi. Yuri menatap beberapa lembar resep obat di tangannya. Ia berjengit kemudian menggeleng parah ketika melihat tulisan rumit di atas lembar demi lembar kertas tersebut. Matanya memastikan bahwa kertas di tangannya memang benar-benar ada tiga lembar. Dan itu benar.

“Hanya demam katanya?”

Yuri membolak-balikkan kertas tersebut seolah ia mengira dokter itu salah akan sesuatu. Namun akhirnya gadis itu menyerah. Ia hanya menyimpan kertas dengan banyak tulisan cacing tersebut di sakunya dengan rapi. Sebelum pergi tadi, dokter muda itu telah memberikan beberapa obat yang bisa Yuri gunakan sampai esok pagi menjelang. Sudah terlalu larut bagi Yuri untuk keluar dan membeli obat.

Yuri berjanlan hati-hati agar tidak membangunkan Yoochun ketika ia masuk ke dalam kamar pria tersebut—yang merupakan kamarnya juga. Karena tidak ingin satu suara pun ditimbulkan, Yuri bahkan menahan napasnya dan berjinjit kemudian melenggang kecil-kecil. Seolah ia adalah penyusup.

Saat Yuri belum sampai setengah jalan menuju sebuah kasur besar bersprei putih, Yoochun menggeliat resah. Ia bergumam tidak begitu jelas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya hingga kompres kain di dahinya terjatuh ke atas bantal yang pria itu tiduri. Tidak ada lagi alasan bagi Kwon Yuri untuk berjalan seperti penyusup. Ia malah berlari sekarang. Tangannya dengan gesit memungut kain kompres dan menyelupkannya kembali dengan air hangat untuk kemudian ia letakkan kembali di dahi Yoochun.

“Kau bisa mendengarku, Yoochun?” Kata Yuri ketika ia mendengar namanya disebut oleh pria itu. Yoochun tidak membuka matanya sama sekali, suhu tubuhnya masih tinggi. Ditambah kini pemuda itu menggumam beberapa kalimat terpotong-potong yang tidak begitu jelas. Yuri tidak bisa menahan diri ketika pria itu mulai meraung dan berkeringat lebih parah. Yuri beberapa kali membetulkan posisi kompres kain di dahinya tapi Yoochun terus menggeliat.

Ada perasaan menyerupai rasa sakit yang lebih menyedihkan dari kesendiriannya selama ini. Seperti perasaan sakit yang akan kau rasakan ketika mendapat tekanan udara di telinga saat penerbangan pertamamu, ini tiga kali lipatnya. Kabar buruknya, Yuri bahkan tidak tahu apa yang membuat dadanya begitu sakit.

Gadis itu baru menyadari ketika Yoochun meneteskan beberapa butir air mata ketika ia mengerang dalam alam bawah sadarnya, hatinya juga mencelos. Ada perasaan-perasaan menyebalkan yang membuat gadis itu enggan berkedip. Dadanya terguncang senada dengan otaknya yang membuatnya berpikir hanya tentang pemuda di hadapannya.

Tanpa sadar, tangan Yuri perlahan menyentuh tangan pucat pasi milik Yoochun. Suhu lebih hangat kini dirasakannya.

Yoochun berhenti berguncang. Kepalanya masih menggeleng ke kanan dan ke kiri. Yuri mempererat genggamannya sementara ia duduk di pinggir kasur. Maniknya tidak pernah lepas barang satu detikpun dari pria itu. Yoochun semakin tenang, gerakannya semakin samar. Detik selanjutnya, Yoochun tertidur pulas, dengan Yuri yang menatap cemas ke arahnya.

.

.

Yoochun menggeliat ketika seberkas sinar mengintip di balik tirai setengah tertutup di kamarnya. Ia memayungi wajah dengan membuka telapak tangan kirinya lebar-lebar. Cahaya yang mengintip terik itu tidak juga sirna. Yoochun baru saja memiliki ide untuk menutup jalannya cahaya itu dengan kedua tangan saat ia merasakan tangan kanannya lebih berat dari biasanya. Bahkan cenderung tidak dapat diangkat sama sekali.

Saat ia membuang kepalanya ke sisi kanan, pemuda itu melihatnya. Sosok Yuri yang tertidur sambil terduduk di sebuah kursi kayu di sebelah ranjangnya. Yoochun melihat wajah yang begitu kelelahan. Kepala gadis itu kini ada di punggung tangan Yoochun dan membuat Yoochun kesulitan untuk menggeser tangannya barang sedikit.

Ketika ia berhasil, ditatapnya wajah kelelahan yang tertidur itu baik-baik.

“Kau menjagaku semalaman?” Kata Yoochun berbisik ketika sebuah kain kompres terjatuh dari dahinya saat ia mencoba duduk. Ditatapnya lekat wajah kusam di hadapannya sekali lagi. Yuri tidak bergerak. Hanya bagian dada dan perutnya saja yang menggembung kemudian mengempis kembali. Itu bagus, menandakan gadis itu masih hidup setidaknya.

Yoochun dengan kesadaran penuh, mendaratkan tangannya di kepala Yuri. Ia membuat gerakan ringan mengusap lembut kepala gadis itu, tanpa suara, tanpa niat mengganggu tidurnya. Lalu gerakan Yoochun terhenti dan ia menarik kembali uluran tangannya ketika Yuri tiba-tiba menggelengkan kepala dan terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap. Bibirnya yang basah—abaikan saja bagian dimana Yuri sebenarnya meneteskan air liurnya—kemudian mengerucut. Yuri menggaruk-garuk kepalanya dengan asal kemudian menggeleng.

“Park Yoochun?” Katanya dengan antusias. Rupanya penglihatan gadis itu sudah kembali dalam fase nomal. “Kau sudah baikkan?” Yuri berdiri, kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil membuat ekspresi tidak percaya pada mata bulatnya.

“Tentu saja. Aku Park Yoochun.” Ujar Yoochun, membanggakan diri. Sebenarnya ia tidak berniat berkata seperti itu. Tapi ia terlalu kikuk karena hampir saja tertangkap basah sedang memanjakan gadis ini.

“Kata dokter kau baru akan sembuh dua atau tiga hari. Kukira kau tidak akan terbangun sampai tiga hari.”

“Idiot. Kalau dokter mengisyaratkan aku akan tertidur selama tiga hari, tentu ia sudah menyarankanmu untuk membawaku ke rumah sakit.”

Yuri mengerjapkan matanya dengan bodoh, kemudian mengangguk untuk alasan tak pasti. Tidak biasanya Yuri mengangguk begitu saja dengan pernyataan Yoochun. Yoochun juga merasa aneh jadi ia memandang Yuri dengan seringai jijik. “Kau belum benar-benar bangun ya?” Katanya.

Yuri mengangguk lemah, matanya terlihat begitu lelah. Tapi sedetik kemudian ia menggeleng dengan cepat. “Aku sudah bangun kok.” Yuri menggaruk kepalanya, dengan cekatan ia membuka matanya sendiri selebar yang ia bisa untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah bangun dari tidur. Yoochun tidak bergeming.

“Aku akan buatkan kau bubur. Tunggu sebentar.” Kata Yuri memecah keheningan singkat.

“Tidak, tidak usah. Buburmu tidak enak.” Kata Yoochun. Pemuda itu kini bersandar dengan kedua tangan yang ia lipat di belakang tengkuknya. Senyumnya begitu manis pada Yuri. Tapi dalam senyuman itu, tidak ada keramah-tamahan sama sekali. Yuri mendesis sebal.

“Darimana kau tahu buburku tidak enak? Kau bahkan belum pernah mencicipinya!”

“Tidak perlu mencicipi buburmu untuk tahu rasanya enak atau tidak. Cukup melihat yang memasaknya saja, sudah terlihat rasanya.”

Manik Yoochun menindai tubuh Yuri dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. Yuri ikut-ikutan memandangi tubuhnya sendiri. Bahkan ia memegangi beberapa bagian dari tubuhnya yang benar-benar berantakan saat ini. Wajahnya, rambutnya, kausnya. Ugh. Yuri akui ia kalah saat ini. Tubuhnya berada dalam fase kacau total karena ia semalaman begadang.

“Aku kan begini karena kau! Tadi malam aku menjaga—“ Kalimat ‘menjagamu’ milik Yuri tidak pernah keluar dari lidahnya. Ia buru-buru menutup mulutnya ketika Yoochun mengernyikan dahi.

“Menjaga—apa?” Tanya pemuda itu.

Yuri diam, membiarkan detik demi detik berlalu dan berdoa agar sebuah petir menyambar pria itu saat ini juga. Tapi tidak ada yang terjadi, Yuri lupa bahwa petir tidak akan muncul di antara matahari. Yoochun tidak berkata apapun, tapi matanya tidak pernah lepas dari setiap gerakan kecil yang dilakukan Yuri.

“Menjaga—apa? Kau belum selesai. Ayolah!” Desak Yoochun.

“BABI!” Kata Yuri begitu kencang. Ia menarik napas kemudian melepaskannya dengan terburu-buru. Yuri terengah-engah padahal ia tidak berlari estafet saat ini. Bibirnya ia gigit sesekali saat dahi Yoochun semakin berkerut.

“Babi? Kau mengolok-olokku dengan sebutan babi?”

“OH. Bukan! Tapi babi, eh, maksudku aku menjaga babi tadi malam. Bukan babi yang itu, tapi babi. Pokoknya babi. Kau tahu kan hewan yang hidungnya besar seperti hidungmu itu,” Yuri menghentikkan kalimatnya ketika ia mulai mendapatkan aura membunuh yang begitu besar di depannya. Yoochun tidak kelihatan senang sama sekali dengan kalimatnya. “Ups. Tidak mirip kok. Hidungmu tidak mirip babi. Maaf aku keliru.”

Yoochun tidak melunak, namun melihat keadaannya yang belum pulih benar, ia hanya menghela napas panjang. “Jadi kenapa kau menjaga babi tadi malam? Di sini tidak ada yang menggunakan babi sebagai peliharaan, Otak Labu!”

Yuri hampir meledak ketika Yoochun menyebutnya otak labu. Ia meremas-remas tangannya sendiri yang ia sembunyikan diam-diam di belakang tubuhnya. Level emosi Yuri sudah berada pada fase ketika-kau-melemparkan-bantal-maka-aku-akan-mengunyahnya-sampai-habis. Tapi ia mencoba tenang dan mencari-cari alasan.

“Jadi ada babi lepas semalam. Ya semacam babi hantu begitu.” Yuri menutup kalimatnya begitu saja saat Yoochun tidak menunjukkan ketertarikannya sama sekali. Senyum konyol Yuri dipatahkan begitu saja dengan tatapan bengis dan penuh curiga dari Yoochun. “Aku harus mandi dan membuat bubur, permisi.” Kata Yuri, Ia baru saja mencari alasan sederhana dan telak kemudian menghindar dari tatapan bengis tersebut.

Ditinggal oleh Yuri, kini Yoochun diam-diam menutup wajahnya dengan selimut. Ia meledak dalam tawanya di sana hingga perutnya geli dan kesakitan. Yoochun berguling-guling dan menutup wajahnya dengan bantal. Sesekali ia menarik napas untuk kemudian tertawa kembali.

“Menjaga babi katanya? Cih, gadis itu bahkan tidak mau mengakui ia semalaman memegangi tanganku.”

Yoochun tertawa lagi, perutnya sakit lagi. Ia terbahak-bahak dalam redaman busa yang menyerap gema sehingga Yuri yang ada di kamar mandi tidak bisa mendengar apapun. Yoochun sesekali terbatuk dalam setiap tawa yang ia lontarkan. Batuk itu semakin sering muncul seiring dengan perutnya yang kram. Yoochun berhenti tertawa, ia membiarkan tubuhnya rileks beberapa waktu dan mengatur napasnya untuk kembali normal. Tapi kramnya tidak kunjung mereda, ada rasa sakit di sekitar lambungnya dan itu membuatnya terbatuk berkali-kali. Yoochun tersenyum tipis.

.

.

Yuri hanya dibalut oleh sebuah piyama mandi yang tidak begitu tebal. Ia benar-benar lupa untuk membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi. Saat ia ingat-ingat lagi, setidaknya dari kemarin ia memang tidak menyentuh air dan wajar kalau ia begitu lupa untuk membawa baju ganti ke kamar mandi. Melihat air saja, Yuri sudah seperti melihat oase di padang tandus.

“Jangan lihat! Aku belum selesai.” Perintah Yuri. Yoochun tadi disuruhnya untuk tidur menghadap ke arah jendela kamar. Sehingga, saat ini tubuh Yoochun memunggunginya. Pemuda itu hanya tertawa geli setiap gadis itu berteriak padanya hanya karena sebuah gerakan kecil, hanya garuk-garuk, misalnya.

Yuri menarik beberapa bajunya dengan terburu-buru kemudian membawanya ke dalam kamar mandi. Ia mengganti busananya dengan cepat, lantas keluar dari sana dengan kipasan lima jari yang mengarah pada wajahnya. Yuri baru saja melangkah, tapi langkahnya harus terhenti ketika melihat beberapa lembar kertas foto yang terjatuh di lantai. Ia memungutnya.

Yuri menghitung setidaknya ada tiga lembar foto di sana. Pasti milik si Otak Cacing. Pikir Yuri. Kemeja yang ia pakai sebenarnya belum sepenuhnya terkancing rapi, tapi ia terlalu penasaran dengan foto tersebut dan meninggalkan kancing-kancing kemejanya.

Tubuh Yuri seketika kaku seperti ia sedang terkena kutukan medusa dalam waktu instan. Otaknya sama sekali tidak menyuruh gadis itu untuk membasahi bola-bola matanya. Tapi Yuri seolah tidak paham. Bukan, tepatnya ia tidak ingin memahami sama sekali.

Foto Yoochun dan Eunjung.

Tidak masalah bagi Yuri, harusnya. Yuri sudah sepakat pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan jatuh cinta pada siapapun selain Jaejoong. Seharusnya tidak ada masalah. Tapi bola matanya tidak berpikir demikian. Yuri memegangi kertas itu bergetar sementara tenggorokannya tersekat, entah mengapa.

Menjijikan.

Yuri menatap foto tersebut dengan mata mengerling jijik. Tapi dia tidak pernah bisa berbohong soal bagaimana hatinya teriris saat ini juga. Rasanya Yuri ingin kembali ke kamar mandi diam-diam sambil menangis di sana ketimbang berdiri dan menyakiti dirinya sendiri dengan menahan air mata tersebut.

Tapi tunggu.

Apakah aku menangis?

Yuri merasakan linangan air mata turun dari pelupuk matanya. Saat tangannya menyeka air mata di pipinya, Yuri merasa begitu sakit. Tangannya bergetar dan angin seolah tidak pernah berhembus di sekitarnya. Dunia seakan runtuh dan waktu baginya sudah terhenti total. Yoochun menatapnya, tapi Yuri tidak bisa mendengarkan apapun. Telinganya hanya menerima respon berupa dengingan panjang dalam satu nada. Yuri membaca bibir Yoochun yang bergerak-gerak, matanya yang indah bertemu-tatap begitu lama untuk pertama kalinya dengan Yuri. Tapi Yuri tidak melakukan respon balasan.

Ia ingin tapi air matanyalah yang keluar sebagai bentuk responnya.

Park Yoochun memang sudah baikkan, tapi tetap saja ia tidak bisa keluar dari selimut dan berjalan ke arah Yuri. Inginnya Yuri meneriaki pria bodoh itu bahwa betapa susahnya membuat suhu tubuhnya turun dalam semalam. Yuri ingin meneriaki agar pria itu tidak mencoba berjalan dan menghabiskan energinya hanya untuk bertanya kenapa ia menangis. Yuri ingin berteriak agar pria itu mematung dan berhenti memandanginya sebagai gadis lemah.

Tidak.

Tidak.

Yuri tidak bisa menangis seperti ini

“Yuri? Ada apa?” Tanya pria itu lembut. Yuri tidak bisa menolak kelembutannya. Seolah terobati, nada dengingan dari telinganya perlahan memulih. Ia bisa merasakan angin kembali pada sisinya, meskipun ia gemetar, setidaknya ia tidak merasa begitu aneh seperti tadi.

“Kau menangis?” Kata Yoochun lagi. Yuri menyeka air matanya sambil diam-diam menyembunyikan tiga lembar foto di belakang tubuhnya. “Tidak, hanya kelilipan.” Katanya, berbohong. “Aku akan membeli obat, tunggulah di sini.” Katanya lagi. Dalam kalimat ini, tubuh Yuri bergerak menyamping, ia berusaha menyembunyikan foto dari Yoochun dengan gerakan senatural mungkin.

Yoochun diam saja. Sampai akhirnya ia melihat sesuatu di balik tubuh Yuri, meski sekilas.

“Apa itu?”

“Eh?” Yuri memasang mimik wajah polosnya pada Yoochun. Ia memegangi foto-foto tersebut dengan lebih erat. Tidak ingin siapapun melihat apa yang sudah ia lihat. Yuri hanya tidak ingin, Yoochun menemukan alasan tepat mengapa ia menangis tadi. Yuri sangat malu. Sangat tidak ingin mengakui perasaannya sendiri. “Ini … milikku.” Kata Yuri, ragu.

“Berikan padaku.” Yoochun maju selangkah. Tangannya ia buka lebar sambil berekspektasi bahwa Yuri akan memberikan kertas-kertas itu padanya. “Apa itu yang membuatmu menangis?”

Napas Yuri hampir tersengal kaget. Matanya membuka lebar. Baru saja ia berniat menyangkal, tapi Yoochun sudah terlatih membaca ekspresinya. “Jadi, berikan itu padaku. Aku ingin melihat apa yang sudah kau lihat.”

“Tidak. Tidak.” Yuri mundur beberapa langkah dan mencengkram foto-foto itu hingga kusut.

“Berikan padaku!” Kata Yoochun. Nadanya ia naikkan satu oktaf. Tangannya yang panjang memberikan keuntungan sehingga tubuh Yuri tidak sempat menghindar. Ia jatuh dalam pelukan pemuda itu sementara tangan Yoochun sudah meraih kertas-kertas di belakang tubuh Yuri. Ada adegan tarik-menarik lagi di sana. Yuri tetap bersikukuh tidak ingin menyerahkan foto-foto tersebut pada Yoochun, tapi pemuda keras kepala itu tetap menariknya.

Ketika ketiga foto tersebut sudah berada di tangan Park Yoochun, Yuri menundukkan kepala. Salah satu lengan Park Yoochun masih memeluk lehernya sehingga ia terkunci di depan dada pemuda tersebut. Yuri tidak sanggup untuk menahan linangan air mata yang sebenarnya tidak tahu menangisi apa.

Yoochun tengah melihat lembar terakhir ketika air mata Yuri membasahi dadanya. “Ini foto aku dan Eunjung, saat kami bersama dulu.” Katanya. Yoochun menggigit lidahnya kemudian menarik napas begitu panjang dan mengeluarkannya dalam satu kali hentakkan. “Kau menangis karena ini?”

Yuri tidak menjawab. Jika diberikan pilihan, rasanya ia ingin berlari dan segera meninggalkan Yoochun saat itu juga kalau saja Yoochun tidak mendekapnya ke dalam dadanya. Yuri bisa mendengar detakan tidak beraturan di balik kemeja rajut yang Yoochun pakai.

“Kau menangis karena ini, Yuri?” Tanyanya lagi.

Yuri tidak mau menjawab. Hanya air matalah satu-satunya respon darinya. Yoochun meremas foto-foto itu sekuat tenaga kemudian menghempaskannya ke udara begitu saja. Salah satu foto dengan adegan mesra dirinya sedang berciuman dengan Eunjung adalah foto yang paling kusut di antara tiga fotonya yang lain.

“Kau,” Yoochun menelan ludahnya. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Yuri dan mulai memandangi kedua bola mata memerah milik Yuri baik-baik. “Kau marah padaku?”

Lengan Yuri kini dicengkram pelan oleh Yoochun. Pemuda itu menunggu jawaban sementara Yuri memalingkan wajahnya ke arah lain, air matanya masih berlinangan. Tubuhnya lemas.

“Kau cemburu padaku?” Tanya Yoochun lagi. Saat mengucapkannya, dadanya tidak beraturan. Yoochun seolah bisa kehabisan napas kapan saja pada saat itu juga. Dunianya seperti jungkir-balik. Awan-awan aneh seperti berkumpul di dalam perutnya dan membuat perasaan aneh yang menyenangkan. Tapi Yuri, masih menangis. Yoochun tidak bisa lagi menahan emosinya yang begitu meluap-luap. Emosi jiwa yang meminta jawaban.

“Yuri, apakah kau,” Mata Yoochun berkaca-kaca. Ia merendahkan tubuhnya agar dapat melihat wajah mungil yang dimiliki Yuri. Walau gadis itu enggan menatapnya, tapi sebuah senyuman unik milik Yoochun kini muncul di wajahnya. Maniknya sama berkaca-kacanya dengan milik Yuri, tapi keduanya memiliki alasan kontras di baliknya. “Apakah kau mencintaiku?”

Aku biasanya tidak selemah ini. Yuri berkutat dengan pikirannya. Saat manik Yoochun menunggu jawaban atas tatapannya, Yuri tetap memalingkan wajahnya. Kali ini ke arah yang lain, arah manapun dimana tidak ada manik Yoochun di sana.

“Kau mencintaiku?” Tanyanya lagi. Cengkraman tangan Yoochun pada lengan Yuri sepertinya menguat sedikit. Terbukti dari gerakan tubuh Yuri yang tidak begitu nyaman.

“Kau mencintaiku, kan?” Yoochun hanya butuh jawaban. Hanya butuh jawaban ya dan semuanya akan berakhir bahagia. Yoochun tidak akan menyerah, tidak akan diam saja sebelum gadis di depannya mengucapkan sesuatu.

“Kau mencintaiku. Katakan kau mencintaiku, Yuri!” Yoochun menggoyang-goyangkan tubuh Yuri. Yuri masih diam.

“Aku melihatmu. Kau mencintaiku. Kenapa kau tidak mau mengakuinya!” Nadanya naik lagi satu oktaf. Sehingga kalau dilihat-lihat Yoochun seperti sedang memarahi gadis di depannya. Yuri bertindak bodoh. Ia memilih peran sebagai tuli dan buta. Tidak melihat Yoochun, bahkan mendengarnya.

Yuri tidak ingin Yoochun tahu kelemahannya. Yuri tidak ingin pria brengsek yang seharusnya menjadi musuh baginya itu tahu bagaimana rasa sakit yang ditorehkannya pada hati milik Yuri. Yuri tidak ingin mengakui kenyataan bahwa ia mencintai pria itu.

Ia tidak ingin mengakui kenyataan bahwa ia mencintai Park Yoochun.

Karena ketika semuanya terjadi,

Yuri akan kehilangan Kim Jaejoong. Dan dia tidak mau itu terjadi.

Aku mencintai Kim Jaejoong. Yuri meneguhkan hatinya sendiri. Tapi ketika ia memberanikan diri untuk mengucapkan itu di depan mata berair milik Park Yoochun. Ia urung bicara. Mata keduanya bertemu dan saling pandang selama beberapa menit lamanya. Tidak ada suara apapun selain detakan jantung yang saling sahut-menyahut satu sama lain.

“Kau mencintaiku. Yuri, apakah aku benar?” Suara serak.

Suara serak yang bukan pertama kalinya Yuri dengar dari Park Yoochun. Tapi kali ini, suara ini mampu membuat air matanya tidak pernah akan berhenti. Yuri ingin maju dan memeluk pria itu, tapi wajah Kim Jae Joong…

Plak.

Yuri menampar keras pipi Yoochun tanpa alasan. Ia mundur selangkah. Bibirnya bergetar dan tangannya perlahan turun dari pipi kemerahan milik Park Yoochun. Yuri menangis. Menangis lagi untuk alasan yang tidak pernah ia tahu.

“Untuk kau dan foto-foto menjijikanmu!” Kata Yuri. Sebagian besar dari suaranya tersekat di tenggorokan. Yoochun termangu di tempatnya. Menahan perih, menahan ketidakmengertian.

Yoochun baru saja akan angkat bicara ketika dengan cepat Yuri memeluknya. Untuk kejadian selama lima detik selanjutnya, ia tidak benar-benar bermimpi. Gula kapas dengan asinnya air mata baru saja dirasakan di bibirnya. Rasanya sama seperti ia terakhir kali mencicipinya di mobil beberapa hari yang lalu. Bedanya, kini si pemilik gula kapas sedang dalam keadaan sepenuhnya sadar.

Manik keduanya kini bertatapan ketika bibir mereka terlepas satu sama lain. Air mata seolah sudah menjadi trademark pada wajah Yuri hari ini. Pelukannya mengerat pada Yoochun yang masih tidak bisa menangkap apa yang terjadi.

Ditampar kemudian mendapat kecupan.

Yuri berjinjit sedikit hingga bibir mungilnya sejajar dengan telinga kanan Yoochun. Dengan lirih, akhirnya Yoochun mendengarnya.

“Benar. Aku mencintaimu. Kau puas?”

.

.

TBC

.

.

Dear readers Blackpearl FF, Setelah mengumumkan bahwa Ghost Slayer akan selesai dalam waktu dekat, dengan berat hati, aku umumkan juga bahwa Stewardess mengalami hal serupa. Aku menyiapkan setidaknya dua chapter terakhir untuk FF ini. Sebagai gantinya, aku sudah membocorkan ‘identitas’ si pendatang baru di blog-ku ini. Ada Orion yang siap meramaikan FF di sini. Please Stay Tuned!

46 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 9]

  1. EKHA_LEESUNHI berkata:

    kekeke kirain yuri bakalan tetap keras kepala sampai kapanpun kkk tapi malah dy yg ga bisa sembunyiin perasaannya kece. Udah lama ga liat FF nyun yg romance2 begini khekhekhe

  2. ayana006 berkata:

    kak nyun… akhirnya update juga stewardess nya.. rasanya udah lama banget kak.. hehe
    Yuri udah ngaku cinta. senangnya..🙂
    gak kebayang ekspresi nya Yoochun dapet kiss tapi di tampar dulu.

  3. chohyury berkata:

    fiuh akhir.a yul ngaku.a sempat deg degan kiran yul gk bakal ngaku.. aduh makin penasaran sama next.a berharap bakal ada mickey junior..wkwkwk

  4. Potterviskey berkata:

    pertama login, langsung disuguhin ini cerita –karena udah penasaran bgt, aku ampe rela-relain baca di warnet ._. kkk~
    aku gak nyangka yuri bakal jujur, lho. beneran. kirain bakal keras kepala trus gengsi gituu dehhh~ apalagi pas dia nampar yoochun. /ugh/ rasanya udah pengen teriak -hey, dia suami lo tau!- xixixi
    kaknyun? ini beneran deh. not so long:( aku udah nunggu banget ini ceritaaaa, kenapa pendek? /hiks/ /udah untung dilanjut/
    dan aku udah penasaran banget sama endingnyaaaa ._. ahihi.

  5. Liza Nining berkata:

    KYAAAAKKKKK TBCNYAAAAA GEMESIIIIN ><

    kapan ya ada kabar gembira yuleon mengandung anak yoochun uwuwuwuwuw

    happyend ya kak jebal😐

  6. YhyeMin_ berkata:

    part ini full chunri.,.aseeekkk sih tp gk ada jaejoong oppa..
    Yuri dsni bodoh ya*ooops tpi sukaaa d bnding pinter aku lbih ska yuleon bersikap bodoh kalo d ff..hehehe’^-^’*itu jujur lho
    Cieee oppa-eonnieku udah sling trbuka pntesan mau end bkl ada cinta segitiga nih..lanjut kaknyun!! Klise jgn lupa kak,,

  7. tha_elfsone berkata:

    omo…kece baget part ini kayur🙂
    Akhirnya yuri mengakui klo dia cinta ma yoochun ^^
    Yeyey senangnya ^^
    aku bingung mau comment pha lagi..soalnya keren bnget ceritanya..🙂

  8. Tarhy94 berkata:

    hahaha…aq kookk jdiiiii….
    aaa gakk tauu..d part kalii inn .aq.suka bngett…
    ”D tampar N
    Dpatkan ciumann.”
    ‘Benar aq Mencintaimu .Puas..!!
    co cweaattt…<3<3
    Nyun Unniee Daebakk^^

    aq udh bca prolognya Orion.
    sequelnya Sirine..^^
    klo bsa bkin Moment romantis .yah eon..^^^
    oia Klisee Kpann di lnjutin eon?#Nagih^_^

    anw..tales of zodiack udh d lnjtin.aq kbur bca dluu yah eon..^_^

  9. soshiyulk berkata:

    ㅎㅎ eon akhirnya uri yuri ngaku juga! Greget sama ff ini:3 buat yang lebih menarik eon, jan bikin ego nya yuri sama yoochun balik lagi tapi bikin juga yang bisa bikin kita kepo/?
    Semangat!

  10. hani"thahyun kim berkata:

    Rasanya part ini lebih pendek dari part” sebelumnya deh,, aduuuhh yuri akhirnya ngaku klo dia cinta yoochun..
    Nah yoochun kenapa sih ga ngaku duluan,, malah maksa” yuri biar ngaku..
    Ckckckckck

    Yaaahh udah М̣̣̥̇̊a̶̲̥̅̊ªªʊ̈̇ end ya ff nya,,hmM
    Gpp deh,, pasti gantinya juga ff yg lebih seru,, hahahaha
    Di tunggu lanjutannya yaa

  11. tyas arin berkata:

    ciye ciye akhirnya ngaku jg yuri , hahha tgl nunggu si yoochun ni yg blg .
    scene ny cm dkmar doang ni , hahaha
    romance bgt ni

  12. Mutia Arizka Yuniar berkata:

    Greret unnnnnn;; sedih seneng nyesek nyampurlah pokok nya mahhh, ditunggu next part nya unniiii ff ini dulu lah peulis<3 eh terserah deh, yang penting di lanjut;)

  13. YoonYuladdicts berkata:

    aaaaahhhh….. part ini romance semua antara yoochun-yuri, suka banget yg kayak begini kak, kan jarang2 buat ff yang romance xD
    senangnya akhirnya mereka bersatu, nasibnya jaejoong gimana ? kasian juga, jaejoong sama aku ajah #plak
    2 ff akan segera tamat dan penggantinya sudah ada #yeay
    fighting kak ;D

  14. NiaChoi1126 berkata:

    chukkae buat kalian berdua akhirnya saling mengakui perasaan😀

    ku kira tdi yul-nie gak bkal ngaku tapi ternyata eh ternyata lngsung ngaku hihihi

    keren deh kanyun,,

  15. NiaChoi1126 berkata:

    chukkae buat kalian berdua akhirnya saling mengakui perasaan😀

    ku kira tdi yul-nie gak bkal ngaku tapi ternyata eh ternyata lngsung ngaku hihihi

    Hwaiting kanyun,,

  16. kimikakyuri berkata:

    Wahhh mulai ada cinta !! Kajja ka nyun lanjutin ff П̥̥̲̣̥♈ɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ !! Jangan lma ya !!

  17. salsabila azditama berkata:

    Ini adalah part favorit ku /?
    Romantis bgt kak,kk jago bgt bkin yg romantis gini><
    Orion nya ditunggu,part 10 nya juga yaa
    Semangat!!

  18. BestfriendExoSone berkata:

    eonnie..kangeen banget ma ff eonnie..
    akhirnya bisa internetan juga walau sebentar*ups jadi curhat..
    selalu bikin penasaran..deh

  19. arassi berkata:

    Aaaaakhirnya yuri ngaku juga klo dia suka sma yoochun #tebarbungabangKAI
    Yaah ghost slayer mau tamat ._.
    And Orion aku tuggu kau hahah :))
    Ffnya unni ilysm :* # lebayah -_-

  20. Linda Aslyah berkata:

    akhirnya yuri ngaku jugaaa.. itu scene yang mau tbc nya wow sekali wkwkwkwkwk…
    makin seru makin seru Unn, mangat buat next partnya :))

  21. 한늘앟 ~ berkata:

    hai eon, aku utang komen disini hehe
    maap baru komen kkkk~
    ceilah dah yulnie bisa aja yg g enak duluan baru enak #halahapamaksudnyacoba-_-
    yahh udah mau ke ending ya T^T jadi agak ga rela gini, next aku tunggu eon
    ama sequel klise hehe^_^v

  22. Tansa berkata:

    Huuuh akhirnya Yuri mengakui kalau dia mencintai Yoochun
    sempet sebel sama sikap Yuri yang menampar Yoochun hohooho
    Next ~

  23. wulan berkata:

    ah, benar” so sweet chapter ini…

    akhirnya yuri nyadar dia mencintai siapa..
    dan dia udah nyatain cintanya ke yoochun.
    penasaran sma hubungan mereka setelah ini..

  24. Anonym berkata:

    Yuri udah ngaku tuh😀 kalo aku ditanya “apa kau mencintaiku?” Aku mah bakal balik tanya dulu yul yoochun cinta juga ngga😀

  25. febrynovi berkata:

    AH CIEEE😄

    Yoochun lebih peka dari Yuri nyatanya xD bahkan sampe nanya begitu xD

    keren juga ya mesti dapet tamparan dulu baru dicium xD

    daebak kaknyun xD

  26. Ersih marlina berkata:

    Ooh, ituh ituh ituh. Kkk
    akhirnya yuri jujur, fiuhh melegakan
    aku sampe ikut terharu aigoo

    lnjt bca ah, ga sbr sma kisah cinta mereka huhu
    fighting buat ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s