THE STEWARDESS [EPILOGUE-END]

The stewardess part 10

FINAL CHAPTER!

***

YURI POV

2 Years Later.

 

Aku memandangi jendela kotak kecil di sebelah kiriku. Rasanya dandananku sudah rapi. Pemoles bibirku sudah rata, bedakku sudah terpulas sempurna di wajah, mataku sudah tajam dengan eyeliner dan mascara. Alisku sudah berbentuk lengkungan sempurna dengan pewarna alis kehitaman yang kuoleskan di sana dengan sempurna. Rasanya semua sudah siap.

Hari ini adalah penerbangan pertamaku sejak aku dipindahtugaskan ke dalam divisi penerbangan internasional kembali. Sudah dua tahun belakangan ini aku hanya dipekerjakan di penerbangan domestik. Dari Gimpo ke Incheon. Hanya itu.

Lagipula dua tahun itu aku memang tidak bisa pergi jauh dari Korea. Aku belum siap.

Abstainnya Yoochun dari hidupku seharusnya tidak berdampak banyak mengingat kami hanya bertemu dalam waktu yang begitu singkat. Tapi justru singkatnya waktu pertemuan kami itu yang membuatku menyesal.

Soal kertas lusuh itu, kini kusimpan rapi bersama dengan diariku. Tulisan Yoochun dalam tinta biru masih tergores lusuh di sana. Beberapa hurufnya memudar ketika aku membacanya lagi. Wajar saja, air mataku selalu menetes di atasnya.

Diari itu selalu aku bawa meskipun jarang kubuka. Karena ukurannya yang kecil, buku itu bisa dengan mudahnya masuk ke dalam saku kemeja pramugariku.

“Yuri,” Aku menoleh pada sumber suara. Tiffany. Setelah sekian lama aku tidak bertemu dengannya, kini ia ada di belakangku. Menjadi satu-satunya pilar yang bisa melihatku rapuh. “Kau bisa tukar shift denganku jika kau belum siap.” Katanya.

Aku menggeleng. “Kurasa aku tidak akan pernah siap jika kau terus membantuku seperti ini, Tiffany.” Kataku. Gadis manis itu tersenyum sehingga aku bisa melihat matanya yang melengkung dan sedikit terpejam. “Kau akan bisa melawan rasa takutmu segera.” Kata Tiffany lagi. Ia meremas pundakku dan memberiku sebuah energi positif. Aku mengangguk saja walau aku tidak begitu yakin.

Perjalananku kali ini bukan dari Seoul menuju Roma. Bukan pula dari Seoul menuju Singapura. Negara yang akan menjadi landasan utamaku kali ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pertemuanku dengan Yoochun atau kenang-kenanganku dengan pemuda itu. Tapi hanya dengan terbang lebih dari enam jam saja, aku sudah bisa merasa berbeda. Kalau aku pergi ke kabin penumpang paling mewah, yang kubayangkan adalah sosok Yoochun yang terduduk di sana sambil tersenyum licik dan menimang-nimang buku diariku.

Terlihat sangat biasa bagimu, bagiku? Trauma.

Yoochun seharusnya sudah tidak pernah ada dalam hidupku lagi dan memang kenyataannya begitu. Ia sudah lama meninggalkanku. Karena keinginannya, karena penyakitnya. Seharusnya ia sudah berkalang tanah di bawah sana sementara aku terbang di sini. Kemudian rasa penyesalam terselip.

Andai saja aku mengatakan sesuatu ketika ia dibawa pergi. Andai saja keluarganya memberitahuku dimana pria itu dimakamkan.

Meskipun aku menangis, aku tidak menangis di atas kuburnya. Yang aku bisa bilang adalah, aku dibayangi masa lalu dan kesedihan sementara tidak ada seorangpun yang berani bertanya kenapa. Bahkan ayahku dan Jaejoong seolah peduli dan tidak peduli padaku. Seolah dalam sorot mata mereka, berpisah dari Yoochun adalah hal terbaik yang pantas aku miliki.

Sementara batinku berkata tidak.

“Masuk ke dalam pesawat, Yuri. Jiyeon mencarimu.” Seorang wanita tinggi dengan perawakan khas model kini menepuk pundakku. Ia berjalan menjauh berbarengan dengan Tiffany yang tersenyum tipis. Mengenai Jiyeon, tidak pernah sekalipun gadis itu mengurangi rasa bencinya padaku. Meskipun kuakui kami memiliki hubungan yang lebih baik dari sebelumnya, tapi sorot matanya tidak pernah berubah padaku. Entahlah. Aku tidak menemukan sikapku yang berlebihan padanya, maksudku, aku tidak pernah sekalipun menyulut amarahnya seperti dulu.

“Ada apa?” Kataku begitu aku menyeret koperku masuk ke area kabin pramugari. Ia memandangiku. “Biasanya aku tidak peduli pada musuh-musuhku,” Jiyeon berkata. Ia melepas ikatan rambutku kemudian menggelungnya kembali dan membetulkan syal di leherku. “Tapi kau benar-benar begitu kusut untuk penerbangan pertamamu di divisi ini.”

Aku tersenyum. Saat akan mengucapkan terima kasih, Jiyeon menghentikannya. “Aku tidak biasa mendengar kata itu dari para musuhku. Dan ingat, ini bukan tanda bahwa aku bersedia bekerja sama denganmu.”

Jiyeon pergi. Dan aku tersenyum sendiri.

Semuanya berubah. Tiffany, Jiyeon, Keluargaku, Keluarga Yoochun. Satu-satunya yang tidak pernah berubah adalah aku. Rasa sakitnya masih sama. Ruang kosong yang ditinggalkan Yoochun masih sama. Tidak pernah terisi, atau tersentuh sedikitpun. Bahkan ketika Jaejoong menawarkan obat sakitnya untukku, aku bahkan menolak. Tidak ada ruang sedikitpun bagi pria selain Yoochun. Aku tidak membuatnya begitu, tapi hati ini yang bertindak sedemikian rumit.

“Kabin kelas satu. Kau ditugaskan di sana sementara ini.” Sooyoung datang padaku. Ia tersenyum. “Selamat datang kembali, Yuri.” Katanya. Ia menyalami tanganku kemudian memelukku seolah ia sangat terkesan begitu bertemu kembali denganku. Setelah ia melepaskan pelukannya, satu-satunya yang kuharap adalah semoga mereka semua begitu baik padaku bukan karena merasa iba akan nasib tragis pernikahanku.

Aku berjalan bimbang. Beberapa kali aku menatap wajahku sendiri di depan cermin dan mencoba melatih diri untuk tersenyum lebih cerah. Aku berusaha berbicara dalam bahasa inggris karena aku sudah tidak menggunakannya untuk waktu yang sangat lama.

Setelah siap, seseorang keluar dari kabin. Aku tidak pernah melihat wajahnya, tapi aku tahu bahwa ia pramugari yang juga ditugaskan dalam kabin kelas satu bersama denganku. “Namaku Choi Sulli.” Katanya ramah. Aku mengangguk dan memberitahunya namaku. Tapi gadis itu kemudian berkata. “Aku tahu. Kau terkenal.”

Aku menelan ludah. Entah kenapa kalimat itu terasa menusuk kepalaku.

Kami berjalan kemudian terpisah dalam kedua arah yang berbeda. Sulli mengambil jalanan di kanan dan aku sebelah kiri. Aku melakukan apa yang harusnya aku lakukan pada penumpang. Mengecek sabuk pengaman, memberi senyuman keramah-tamahan dan memberitahu mereka kapan pesawat akan lepas landas. Peragaan keselamatan, bukan aku yang melakukannya. Ada Sooyoung dan pramugara-entah-siapa yang berdiri di sisinya dengan rompi apung berwarna oranye.

Aku tidak tergoda untuk tertawa meskipun Sulli baru saja diganggu oleh seorang anak kecil yang memukul pahanya. Kami sudah diberi pelatihan untuk meredam emosi kami di depan penumpang. Jadi, ya, mungkin setelah ini Sulli akan mengoceh di kabin khusus pramugari. Seperti yang pernah aku lakukan dulu ketika Yoochun mengerjaiku.

Aku menggeleng. Pesawat akan lepas landas dan aku segera kembali ke kabinku dan duduk di sebuah kursi. Ada turbulansi yang tidak begitu kentara ketika akhirnya pesawat melayang. Aku kembali berdiri dan bergabung dengan Sulli dan yang lain. Jiyeon berjalan padaku dengan memijiti kepalanya beberapa kali. Ketika ia berdiri di ambang pintu, tubuhnya ambruk begitu saja. Sooyoung menangkapnya.

“Kau baik-baik saja?” Kataku. Aku begitu cemas. Pertama kalinya aku melihat Jiyeon seperti ini. Warna wajahnya tidak begitu pucat tapi sepertinya ia sangat lemas hingga tidak mampu berdiri. Sooyoung memboyongnya ke salah satu kabin istirahat dan menutup pintunya. Ia menghela napas kemudian bertanya pada Sulli. “Dia harus beristirahat. Dimana kelas mana ia bertugas tadi?”

“Kabin penumpang, VVIP. Bersama dengan Chansung Oppa.” Kata Sulli. Di belakang kami, Seorang pemuda dengan tubuh kekar yang aku kenali sebagai Chansung terlihat panik. “Ada seorang penumpang kejang-kejang!” Katanya.

Sooyoung berkacak pinggang. Sebagai pramugari paling senior ia bertanggung-jawab juga atas kesehatan penumpang. Ia menggigiti jempolnya dan melihat ke arah ruangan dimana Jiyeon tertidur. Maniknya terpaku pada Sulli tapi ia menggeleng. Kemudian ia menatap padaku. Saat itu aku tahu bahwa ia sedang mencari pengganti sementara atas kejadian Jiyeon barusan. Mungkin awalnya ia ingin memerintahkan Sulli. Tapi gadis itu kelihatan masih baru, dibandingkan dia, Sooyoung pikir masih ada aku yang sudah lebih berpengalaman dalam penerbangan jarak jauh ini.

“Sulli kau tangani kabin satu. Yuri kau pergilah dengan Chansung ke VVIP.”

Aku ingin menolak. Tapi keadaan ini benar-benar termasuk urgensi.

Dengan setengah hati, aku berjalan menuju kotak penyimpanan obat. Aku mengambil beberapa perlengkapan dan berjalan dengan Chansung menuju sebuah ruangan yang paling mewah dibanding yang lain. Hanya ada tiga kursi di situ. Ketiganya benar-benar kursi yang nyaman dengan tempat tidur kecil dan bar mini di sampingnya. Aku menelan ludah.

“Apakah dia yang kejang-kejang?” Kataku penasaran. Chansung mengiyakan ketika aku menunjuk pada salah seorang bermantel yang duduk di barisan paling depan di antara tiga yang lain. Aku berjalan ragu-ragu. Sepertinya itu seorang pria. Aku melihat sepatunya yang berukuran besar di bawah kursinya. Ia mengenakan sebuah jaket kulit sebatas leher hingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Ditambah kacamata hitam dan masker.

“Permisi.” Kataku. Ia menoleh, dari penampilannya, aku tidak bisa melihat ia merupakan salah seorang yang pernah kejang-kejang beberapa menit yang lalu. Aku menatap Chansung curiga, tapi ia sudah tidak ada dalam posisi seharusnya. Setelah kulihat dengan jelas lagi, sepetinya dua penumpang lainnya dalam kabin itu juga sudah sirna. Ada sesuatu yang aneh di sini.

“Apakah kau—AAK!”

Oke, barusan aku yang berteriak. Bagaimana tidak? Aku baru saja membungkuk dan ingin bertanya lebih banyak dengan penumpang aneh ini tapi dia tiba-tiba menarikku sehingga aku berada di atas dada bidangnya, dalam posisi terbaring, dan menatap dagunya dari bawah.

Apa aku mengatakan dagu?

Masker pria itu terlepas, tentu saja. Dan aku memang melihat dagunya. Bukan, bukan, bukan hanya dagu, aku kini melihat seluruh wajahnya ketika ia membuka jaket kulit juga kacamatanya. Wajah yang tidak begitu menyenangkan, tapi tidak begitu buruk.

“PARK YOOCHUN?”

Aku berteriak lagi. Ini hantu! Aku sudah berdelusi! Ini pasti hanya khayalanku saja! Aku berdiri dan menepuk-nepuk pipiku. Tapi pria mirip Yoochun itu menarikku lagi ke dalam pelukannya. Aku mendarat di dadanya, tidak sengaja mendengar degupan jantungnya. Sekilas—benar-benar hanya sekilas—aku baru menyadari bahwa dua orang yang duduk di kursi lainnya tadi kini sedang memerhatikanku dari sebuah celah sempit gorden kabin. Aku kenal matanya. Park Gija dan Park Sangwoo.

Aku tidak bermimpi.

“Kau merindukanku?” Katanya. Suaranya bergetar hingga aku yang berada di dalam pelukannya ikut merasakan getaran tersebut. Aku berusaha kembali memejamkan mata dan entah mengapa aku berharap aku masih waras, tapi pemuda ini tidak kunjung hilang. Aku masih ada di dalam pesawat, dengan mereka yang masih mengintip di balik gorden—perlu kukatakan juga ada mata Jiyeon di sana—dan aroma wewangian yang tidak bisa kulupakan dari pria itu.

Aku bisa kembali pada kenyataan dan yang pertama kulakukan adalah melepaskan diri dari pelukan pemuda itu dan menamparnya. Aku menamparnya begitu kuat sehingga telapak tanganku memerah, perih. Tidak tahulah.

Menurutmu, apa yang akan kaulakukan ketika kau menderita selama dua tahun terakhir karena seseorang dan tiba-tiba orang itu datang, masih segar bugar sambil berkata kau merindukanku?

Yoochun memegangi pipinya. Aku baru saja melangkah pergi tapi dia menarik lagi tanganku. Dia tidak ingin aku pergi. “Duduk di sini, dan akan kuceritakan semuanya.” Katanya.

“Tidak.” Kataku culas. “Terima kasih. Kembali saja ke drama kematianmu itu.”

Aku menggoyangkan tanganku agar tangan Yoochun lepas, tapi pria itu gigih seperti biasanya. Ia menarikku lagi untuk terduduk. Kemudian ia memelukku dari belakang. Membuat aku tidak bisa bergerak. “Maafkan aku.” Katanya. Ia tidak menangis tapi isakannya bisa kudengar melalui celah sempit telingaku. “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.” Katanya terbata.

Semakin ia bicara, semakin kuat genggamannya dalam tubuhku. Aku yang tadinya diselimuti salju, kini seperti disinari mentari pagi. Begitu hangat sampai-sampai aku lupa bahwa aku dulunya sedingin salju.

“Kau berbohong tentang semuanya, Park Yoochun! Apa maksudmu!” Aku tidak bisa membalas kalimat lembutnya. Sesuatu di dalam hatiku masih berkecamuk. Marah karena ia meninggalkanku dan memainkan sebuah drama picisan menyedihkan seperti ini. Aku selama ini hanya tahu bahwa ia sudah mati, kini ia muncul di hadapanku, begitu saja bagaikan hantu.

“Aku tidak berbohong. Aku memang sakit, Kwon Yuri. Di saat hidupku di vonis tidak akan lama lagi, aku, orang tua kita, bahkan Kim Jaejoong, sepakat untuk merahasiakan ini. Mereka mengirimku ke Washington untuk menjalani pengobatan yang lebih canggih, dan aku di sana selama dua tahun. Menjalani semua terapinya.”

“Kau bohong.” Kataku. Masih tidak percaya. “Kau hanya mencari alasan agar tindakanmu terlihat benar di mataku, Park Yoochun.”

“Untuk beberapa poin, kau benar. Aku memang ingin terlihat benar. Aku meninggalkanmu saat aku mengira hidupku tidak akan lama lagi. Saat kau katakan, kau mencintaiku pagi itu, aku bimbang. Karena kau akan kehilangan harapanmu jika kau mencintaiku. Aku menghilang selama dua tahun, tidak berharap kau masih mencintaiku meskipun aku tersiksa untuk terus merindukanmu setiap detik. Setiap tetes darah yang keluar, setiap kesakitan setiap terapi yang kujalani, aku hanya memikirkanmu. Berharap kau tidak pernah melupakanku. Aku diam-diam berharap agar hati kecilmu masih menginginkan aku kembali setelah semua kesedihan yang kutinggalkan.”

Aku menggertakkan gigiku. “Sekarang kau sudah kembali, apa yang kau inginkan?”

Yoochun melepaskan pelukannya. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cincin perak yang kukenali. Cincin pernikahan kami. Aku menyembunyikan jari-jariku.

“Aku ingin kau pakai kembali cincin ini.” Katanya. Aku menolak dengan cepat.

“Aku tidak memiliki alasan untuk memakai cincin itu lagi.” Kataku. Meskipun aku sangat ingin, aku terpaksa berbohong. Amarahku lebih besar dari rasa rinduku.

“Bohong.” Katanya. Ia menatapku lurus. “Kau memiliki alasan untuk menerima cincin ini.”

Aku memandangnya. Mengepalkan tanganku agar aku bersikukuh dengan kebohongan besarku ini. Aku ingin agar Yoochun tahu bahwa penderitaannya tidak sebanding dengan penyiksaan dua tahun yang ia berikan belakangan ini.

“Aku tidak memiliki alasan apapun!” Kataku begitu marah. Wajah Yoochun mendekat, jemarinya ia tautkan di sela-sela jemariku. Kening kami bertemu dan aku menutup mata. Selanjutnya, aku merasakan kehangatan itu kembali. Bibir manis dari Yoochun.

Lima detik kemudian ia melepaskannya, kemudian menatapku yang tertunduk. Tangan Yoochun mengangkat daguku dan berusaha membuatku menatapnya lagi. “Sekarang kau memiliki alasan itu. Kau mencintaiku, Yuri. Dan kau tidak bisa berbohong soal itu.”

Aku memandangi matanya. Begitu indah, begitu tampan. Tidak ada sama sekali aura kebohongan yang membuatnya merancang semua penderitaan dua tahunku ini. Semuanya adalah takdir yang sudah dipersiapkan Tuhan untukku.

Aku memeluknya dan menangis dalam diam di bahunya. Park Yoochun sudah kembali. Di belakang kami, Gija keluar bersama Sang Woo. Aku tidak menyangkan Ayahku juga ada di sana di atas kursi roda dengan bantuan dorongan dari Jiyeon. Senyumnya merekah.

Tidak ada Kim Jaejoong di sana, tapi kurasa ia juga akan tersenyum demi hari ini.

Lagi, kukatakan, Park Yoochun sudah kembali.

.

.

Aku pernah menulis :

aku bernyanyi di antara lapisan atmosfir.

Dan kau ada di atas lapisan kerak bumi.

Bagaimana kita akan bertemu?

Akankah kau terbang? Atau aku yang harus terjatuh?

Yoochun pernah menjawabnya dengan menulis :

Aku sudah terbang dan bertemu kau di atas lapisan atmosfer. Tapi kau tidak perlu terjatuh untuk bertemu denganku. Jika harus ada yang terjatuh, itu pastilah aku. Karena tidak ada cacing yang dapat hidup selamanya dengan gagak. Cacing tidak bisa terbang, tapi gagak bisa mendarat. Ketika cacing kembali ke tanah, maka gagak akan mencari cacing yang lain dan sudah selayaknya begitu. Cacing hanya akan terbenam, kemudian sembunyi di bawah tanah sementara gagak akan terbang tinggi, bahkan lupa untuk mendarat.

Kalau kau berikan aku secarik kertas baru dan sebuah tinta, kali ini aku akan menambah sebuah kalimat singkat sebagai kesimpulan dari dua tulisan tadi.

Bahwa kadang, cacing bisa dibawa terbang oleh gagak, dan gagak bisa mendarat di atas tanah untuk menemani cacing sekali lagi.

Park Yoochun, aku bisa menemanimu sekali lagi.

FIN

AUTHOR’S  AREA :

HURRRRRAAAAY. SELESAI!!!

Aku gak tahu kenapa alurnya menjadi sangat cepat. kkk~ Mungkin karena 2013 sudah hampir berakhir /gak nyambung/

Mungkin karena efek samping pengerjaan Klise yang tersendat, jadi aku memutuskan Stewardess aku finising aja sekalian. kkk~ Biar bisa fokus di Sirine sama TOZ. (karena sesungguhnya aku gak berbakat bikin FF romance begini)

ORION-nya ditunggu ya. 25 Desember jam 5 sore! Stay tuned! (ps : ada Kim Jaejoong juga lho di sana :p)

55 thoughts on “THE STEWARDESS [EPILOGUE-END]

  1. Anonym berkata:

    Hahaha udah ngeduga dari awal epilog yoochunnya masih hidup :3 ternyata yoochun juga sama menderitanya ya kasian /pukpuk/ tapi happy ending giniiii kan enak😀

  2. JaenaPark berkata:

    Astaga, aku sempat kegat pas liat yoochun meninggal di part 10. Ngerasa ‘apaa ?? Masa sihh??’ Ga seru banget kalo harus sad ending. Hahahha, iya, emg aneh baca tulisan kakak yg genre utamanya romance. Kakak udh kuat banget karakternya di ff yg fantasy, mistery, atau apalah sejenisnya. Tapi, overall, sukaa banget. Apalgi ternyata akhirnya happy ending..

  3. Ersih marlina berkata:

    Semuanya kerja sama ternyata. Kkk
    jiyeon pura2 sakit gtuh aigoo
    happi end deh. Aku ga bsa kimen apa2 ka nyun, saking serunya bca semua ff kaka
    fighting ya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s