THE STEWARDESS [Part 10]

The stewardess part 10

Last Chapter!

***

Benar, aku mencintamu. Kau puas?

Yoochun tersenyum di depan cermin. Suhunya yang tinggi sudah mereda. Wajahnya juga sudah tidak terlampau pucat seperti kemarin. Mungkin satu-satunya yang perlu dikhawatirkan adalah perutnya yang terasa sedikit sakit. Karena telat makan, mungkin.

Sementara ia berada di depan cermin dalam kamarnya, Yuri sudah berada di ruangan lain di luar kamar. Setelah kejadian barusan, gadis itu permisi keluar untuk membuatkan bubur dan hingga kini tidak kembali lagi. Hal ini tentu saja membuat Yoochun harus ekstra mengeluarkan energi untuk berjalan ke meja makan.

Yoochun menggenggam knop pintu saat ia rasa lambungnya meremas begitu keras. Ia sangat lapar. Dengan energi seadanya, ia berjalan lemas keluar kamar dan menghampiri Yuri yang terbengong-bengong di depan sebuah panci yang sedang dipanaskan dengan api.

“Yuri?” Sapa Yoochun. Gadis itu tidak bergerak. Khawatir sesuatu terjadi, Yoochun kini berdiri di belakang tubuh gadis itu dan menyentuh pundaknya dengan lembut. Reaksi Yuri sungguh dirasa berlebihan. Ia terlonjak dengan teriakan kemudian sebuah sendok sayur yang ada di tangannya terlontar ke langit-langit kemudian mendarat tidak begitu mulus di kepalanya sendiri kemudian terantuk di lantai.

“Yoochun-ssi! Kau hampir membuatku mati.” Yuri menarik napas dan menghembuskannya dengan ritme tidak beraturan. Dadanya kembang kempis sementara Yoochun menjauh dari gadis itu dengan kekehan kecil. Ketika akhirnya Yoochun duduk di balik sebuah meja makan kaca, Yuri datang membawa semangkuk bubur padanya.

“Maaf lama.”

“Sudah kuprediksi.” Kata Yoochun singkat. Ia menarik sebuah sendok besi dari sebelah kiri mangkuk kemudian mengaduk-aduk bubur di mangkuk dengan bersemangat. “Kau sangat lapar ya?” Kata Yuri. Nadanya sedikit menyelidik. Yoochun mengangguk singkat kemudian memasukkan satu sendok penuh bubur ke dalam mulutnya.

Selanjutnya Yuri hanya mendengar kata aduhan kepanasan yang keluar dari mulut pria itu.

“Ini terlalu panas!” Keluh Yoochun saat ia sudah menelan bubur di sendokan pertamanya.

“Wajar, baru saja diangkat dari panci.” Yuri memilin rambutnya dan menariknya ke belakang bersama rambut-rambutnya yang lain. Ia menggulung dan mengikat kuat rambutnya di belakang tengkorak kepalanya.

Yoochun mendelik sedikit. Ia berdeham. “Kau tidak cocok dengan gaya rambut seperti itu.” Pemuda itu kembali menyendokkan bubur ke dalam mulutnya, tapi kali ini dengan sedikit tiupan di atas sendoknya.

“Aku nyaman begini.”

“Oh iya,” Yoochun mendesis sebal. “Kau kan pramugari.” Yuri terkekeh disusul dengan Yoochun yang acuh tak acuh menyeruput buburnya pelan-pelan. Di bayangannya, ia ingat betul ketika pertama kalinya ia bertemu dengan Kwon Yuri. Di dalam toilet pesawat, dengan rambut yang digelung ke belakang.

Yoochun sekarang baru saja menyelesaikan buburnya. Ia meneguk air putih hangat di depannya kemudian menepuk-nepuk perutnya. Senyum hangatnya ia tunjukkan ke wajah Yuri tapi seketika gadis itu memalingkan wajahnya.

Omong-omong, sejak ia keluar dari kamar, Yuri adalah Yuri yang berbeda. Biasanya dia akan mengolok-olok atau sekadar memancing keributan dengan Yoochun ketika keduanya bertemu. Tapi saat ini, Yuri seolah acuh tak acuh padanya.  Bahkan cenderung menghindar.

Saat Yoochun baru saja akan bertanya. Ia ingat sebuah frasa kramat yang baru saja di dengarnya beberapa saat yang lalu dari bibir Yuri.

Aku mencintaimu, kau puas?

Yoochun mengurungkan niatnya. Meskipun tak bersuara, Yoochun tahu bahwa gadis itu mungkin saat ini begitu canggung di hadapannya.

“Aku akan bereskan ini, kau harus istirahat.” Kata Yuri lagi. Tangannya menyentuh mangkuk bubur yang sudah kosong. Ketika ia menyeretnya mendekat, tangan Yoochun menahannya. Yoochun menggenggam jemari Yuri di atas mangkuk tersebut dan sontak membuat Yuri membeku di tempatnya.

“Lihat aku.” Kata Yoochun.

Yuri enggan melakukan apapun.

“Lihat aku.”

Yuri tergoda untuk menuruti kalimat Yoochun, tapi ia enggan menoleh untuk menjaga perasaannya yang cukup kacau. Kalau perlu diurai, kini pikiran dan hatinya sedang berdebat sekarang.

“Yuri, lihat aku.”

Di kalimat ketiganya, Yoochun berhasil membuat manik Yuri memaku padanya. Dengan perasaan yang memuncah di dadanya, Yoochun merangkai kalimat, kata demi kata dengan sempurna di otaknya. Ketika akhirnya ia siap untuk mengatakannya,

Ting tong.

“Aku akan membuka pintunya.” Kata Yuri.

Yoochun gagal.

Tadi itu ia ingin mengatakan perasannya pada Yuri jika saja sebuah bunyi bel tidak berdentang saat-saat itu. Yoochun kini hanya bisa merelakan gadis itu pergi ke ruang tamu dan melihat siapa pengganggu di sana.

Oppa!”

Kabar buruk satu lagi untuk Yoochun. Kim Jaejoong ada di sini.

.

.

“Kau mau air putih atau yang lain?” tawar Yuri. Jaejoong membawa sebuah parsel dengan berbagai buah-buahan di dalamnya, tersusun cantik dan rapi dengan berbagai warna. Ketika Yuri berjalan ke dapur dan menawarinya air minum, Yoochun baru saja ke ruang tamu dan menerima parsel tersebut dengan wajah datar.

“Air putih boleh juga.” Kata Jaejoong, tersenyum hangat pada Yuri. Yoochun berdeham keras.

“Aku mendengarnya dari Yuri. Kau sakit. Jadi, bagaimana kesehatanmu?”

“Cukup baik, tadinya.” Kata Yoochun. Maniknya memicing. Walaupun ia tersenyum, tapi itu bukan senyum keramah-tamahan tuan rumah pada tamunya.

“Oh.” Kata Jaejoong singkat. Yuri sudah kembali dengan sebuah nampan dengan tiga buah gelas berkaki satu dan satu botol penuh air putih. Yuri meletakkannya dan mengaturnya di atas meja tanpa suara apapun. Ia sedikit canggung dengan suasana itu, tapi ia berpura-pura baik-baik saja.

Tepat ketika Yuri akan membawa nampannya kembali ke dapur, Jaejoong rupanya berbicara kembali dengan Yoochun. Yuri mencuri dengar sedikit.

“Kudengar kau bertengkar dengan Eunjung.”

Tangan Yuri mencengkram kuat sisi-sisi dari nampan hingga telapak tangannya mati rasa. Moodnya menjadi buruk, jadi ia memutuskan untuk segera menaruh nampan tersebut di sembarang tempat dan kembali ke ruang tamu. Yoochun dan Jaejoong menatapnya seolah ia adalah hantu. Yuri menggigit bibirnya kemudian duduk di sebuah sofa di samping Yoochun. Keduanya kini berhadap-hadapan dengan Jaejoong.

Dengan segenap keberaniannya dan gemetar yang ditahannya, Yuri akhirnya terlibat percakapan tersebut. “Kau bertengkar dengan Eunjung?”

Baik Yoochun dan Jaejoong kini bagai mendengarkan sebuah halilintar di kepala mereka masing-masing. Maksud Jaejoong tadi agar Yoochun sadar bahwa dirinya bukan suami sebenarnya dari Yuri. Dan juga, ia ingin membuat Yuri sadar bahwa suatu saat hubungan dia dengan Yoochun akan berakhir karena Eunjung. Tapi ia tidak menyangka bahwa reaksi Yuri akan seperti ini.

“Ya.” Kata Yoochun singkat.

“Oh, jadi kau sakit karena ini,” Yuri menggunakan kemampuan aktingnya yang paling hebat. Ia tentu tidak ingin mendengar kata ya dari Yoochun atas kalimatnya ini. Tapi ia harus mengantisipasi perasaanya ketika dugaannya meleset. Jaejoong berdeham. Mungkin ia merasa tidak diundang dalam percakapan ini.

“Eunjung masuk rumah sakit semalam.” Kini Jaejoong membelokkan arah pembicaraan. Diam-diam Yuri bersyukur. Tapi kemudian keningnya berkerut.

“Ya, aku tahu. Aku ada di sana saat ia tiba-tiba pingsan.” Kata Yoochun. Kening Yuri makin berkerut. Manik Jaejoong memicing. “Kau ada di sana dan kau tidak membantunya?”

“Aku yang mengantarnya ke rumah sakit.”

“Tapi kau meninggalkannya kemudian!”

Jaejoong terlihat marah. Tapi Yoochun seratus delapan puluh derajat dari Jaejoong. Alih-alih marah, kecewa mungkin lebih tersirat lengkap di wajahnya. Yuri tidak dapat berkata apapun. Well, wajar buatnya. Meskipun tidak begitu jelas arah pembicaraan ini, tapi salah satunya pasti bermuara padanya. Eunjung dan Yoochun bertengkar boleh jadi karena dirinya. Dan itu membuat perasaanya sedikit tidak tenang. Apalagi ketika ia menginga foto-foto yang kini sudah berada di dalam tong sampah atas perintah Yoochun.

“Ya, aku memang meninggalkannya. Itu lebih baik. Aku lebih baik daripada kau yang meninggalkan seorang gadis yang ketakutan di jalanan tengah malam.”

Jaejoong diam. Yuri sudah menyangka ini akan terjadi. Meskipun ia tidak pernah membicarakan soal malam itu dimana Jaejoong dan dirinya pergi bersama, rupanya Yoochun tahu.

“Bukan Jaejoong Oppa yang salah. Aku yang memintanya untuk meninggalkanku di sana.” Yuri baru saja menelan ludah ketika kalimatnya sampai pada suku kata paling terakhir. Tapi yang ia dapatkan selain keheningan adalah tidak ada. Dan ya, ia hanya dikelilingi dengan kesenyapan.

Berdetik-detik berlalu dan ketiganya hanya bertatapan tanpa sepatah kata apapun keluar dari bibir.

“Aku memiliki sesuatu yang harus kubicarakan empat mata dengan Yuri.” Ujar Jaejoong. Yuri memilin bajunya kuat-kuat seolah ia sudah tahu apa yang akan mereka bicarakan. Yoochun merasa risih.

“Katakan di sini.” Kata Yoochun.

“Tidakkah kau dengar bahwa aku membutuhkan pembicaraan empat mata dengan Yuri?”

“Bicaralah di sini, Kim Jaejoong. Aku suaminya dan aku tidak akan membiarkan istriku berdua dengan pria lain.”

Deg.

Yuri membeku. Mendengar kata istriku keluar dari bibir Yoochun rasanya seperti mimpi. Tapi diam-diam ia merasa sedikit bersalah pada Kim Jaejoong. Tapi masalah yang utamanya adalah, ia sendiri tidak tahu kenapa ia merasa bersalah pada pria itu.

Jaejoong tertawa. Alasannya, tidak begitu jelas.

“Cukup sandiwara ini. Aku akan membawa Yuri jika kau tidak meninggalkan kami berdua sementara waktu.”

Deg.

Yuri merasa suhu udara di sekitarnya bisa mencekiknya kapan saja.

“Tidak. Kau tidak bisa membawanya.”

“Tentu aku bisa, Yuri, ikut sebentar.” Jaejoong membuka telapak tangannya dan menjulurkannya ke arah Yuri. Gadis itu tidak bergeming. Saat akhirnya Jaejoong meraih tangan Yuri, gadis itu tiba-tiba menghempaskannya. Matanya berkaca-kaca dan dengan sangat pelan, ia menggeleng.

“Yuri … “ Jaejoong terbata. Belum pernah dalam hidupnya melihat penolakan dari Yuri. Jaejoong tahu betul perasaan gadis itu padanya dan dia tidak menyangka reaksi Yuri akan seperti ini. Apalagi sekarang tangan Yuri menggenggam erat lengan Yoochun. Gadis itu tertunduk, memalingkan wajahnya dari Jaejoong.

“Maaf.” Kata Yuri singkat. Yoochun berdeham. “Aku tidak ingin bersikap tak sopan, tapi,” Yoochun menjulurkan tangannya untuk menunjukkan arah pintu keluar di depan mata Jaejoong. “Silakan keluar.” Sambungnya.

.

.

“Eunjung pingsan di cafe kemarin. Aku mengantarnya hingga rumah sakit. Saat aku akan memberitahu dirimu, ponselmu tidak aktif. Aku menelepon Jaejoong dan dia mengatakan ia meninggalkanmu di depan taman kota. Aku kacau malam itu dan aku meninggalkan Eunjung untuk mencarimu.”

Yoochun duduk bersandar di depan kasurnya. Ia menatap kosong pada televisi yang menyala-nyala sementara ia berbicara pada Yuri. Yuri berbaring di samping Yoochun dan menggenggam tangannya erat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Yoochun. Namun Yoochun tidak merasa risih sedikitpun. Sesekali ia menarik tangan Yuri dan menciumi punggung tangannya lembut.

“Kenapa kau melakukan itu?” Kata Yuri.

“Kau penasaran meskipun itu sudah begitu jelas?” Yoochun menoleh ke arah Yuri dan mencubit hidung gadis itu. Yuri menepisnya dengan gerakan manja kemudian kembali bersandar di bahu Yoochun. “Aku ingin mendengarnya langsung darimu.” Katanya.

Yoochun menghela napasnya. “Aku tidak bisa menahan diriku malam itu. Aku melihatnya, ketika kau pergi dari cafe dengan Jaejoong. Tadinya aku begitu yakin bahwa hatiku masih tertinggal dalam diri Eunjung. Tapi malam itu, ketika melihatmu pergi, keyakinan itu pupus. Hatiku sudah dibawa pergi oleh gadis lain.”

Yoochun diam, iris matanya kini berhadapan dengan iris mata Yuri. Tangan Yoochun mengelus pipi Yuri dengan gerakan patah-patah nan lembut. Ia menyelipkan helaian rambut Yuri ke belakang telinganya kemudian memandangnya lurus.

“Aku mencintaimu, Yuri.”

.

.

“Cepat, kau hampir mengacaukan antrean, bodoh!”

Barusan itu Yoochun yang berteriak kencang. Pemuda itu baru saja meneriaki seorang gadis yang berjalan kerepotan di belakangnya dengan berbagai macam kembang gula dan makanan kecil lainnya. Ketika ia sampai di samping pemuda di depannya, gadis itu menginjak kaki Yoochun dengan kekuatan penuh.

“ADUH! Kau ini kenapa sih!” Yoochun mengangkat kakinya. Sebuah perahu raksasa berayun beberapa meter di depannya, tapi itu tidak membantunya untuk mengalihkan rasa sakit. Ia menatap Yuri dalam-dalam, sementara gadis itu baru saja menaruh semua barang yang dibawanya di tangan Yoochun.

“Aku ini kekasihmu!” Yuri berteriak hingga beberapa orang di sekelilingnya menoleh ke arah keduanya. Yoochun buru-buru membekap mulut Yuri sebelum semua orang di Universal Studio itu menatap ke arahnya dan mungkin saja sadar siapa mereka.

“Jangan berteriak bodoh!”

“Tuh kan! Kau memanggilku bodoh lagi.” Yuri menggigit tangan Yoochun sehingga ia melepaskan bekapan tangannya dari mulut kekasihnya.

“Oke, maaf, maaf. Itu sudah kebiasaan lama.” Yuri mendengus kesal. Ia melipat tangannya di depan dada. Sudah sekitar satu bulan terakhir hubungannya dengan Yoochun berjalan seperti hari ini. Setidaknya semua yang mereka lakukan di hadapan publik sebagai suami dan istri tidak lagi rekayasa. Kini bahkan keduanya berada di Singapura untuk merayakan tiga bulan pernikahan mereka.

Saat keduanya asyik berdebat, antrean sudah semakin berkurang di depannya dan kini bahkan keduanya sudah bisa menaiki sebuah wahana perahu yang berayun kencang. Yoochun mengernyit. “Kau yakin akan naik yang ini?”

“Kau takut ya, anak mama?” Yuri menyentil jahil jidat lebar milik Yoochun. Tangan gadis itu menarik lengan milik Yoochun dan mengajaknya untuk duduk di salah satu kursi yang kosong. Benda besar itu bergerak pelan ketika semua sabuk sudah terpakai dan bangku sudah terisi penuh. Yoochun memejamkan mata.

“Kau tidak boleh muntah atau pipis di sini. Anak Mama.” Yuri terkekeh kecil dan memeluk pria kesayangannya itu dengan penuh cinta.

.

.

Yuri sedang duduk sambil melahap eskrimnya sementara Yoochun baru saja kembali dari toilet. Matanya yang sipit kini semakin sipit, bahkan beberapa warna putihnya berubah kemerahan. Yuri membuang eskrimnya. “Kau baik-baik saja?”

Yoochun menggeleng. “Sepertinya aku merasa lebih buruk daripada sekadar tidak baik-baik saja.”

“Kita kembali ke hotel.” Yuri menawarkan. Yoochun lagi-lagi menggeleng. “Sedikit beristirahat di sini, akan cukup bagus. Apalagi kau mengatakan akan ada pesta kembang api di sini, malam ini.”

“Memang sih, tapi kalau kau tidak baikan, kita bisa—“

“Tidak. Aku cukup sehat kok.”

Yoochun menggenggam tangan Yuri. Keduanya duduk di sebuah bangku panjang dan menikmati senja bersama. Kebetulan hari itu adalah hari jadi taman hiburan sehingga pihak penyelenggara mengadakan sebuah atraksi kembang api pada malam hari. Yuri menunggu detik-detik kembang api tersebut sambil berbincang ringan dengan Yoochun. Kadang mereka berbicara tentang masa lalu, lebih banya tentang masa depan.

“Aku ingin memunyai seorang anak perempuan dan seorang laki-laki.” Kata Yoochun tiba-tiba. Pipi Yuri merona merah. Meskipun keduanya sudah sah sebagai suami-istri namun mereka sepakat tidak akan melakukan kontak fisik lebih jauh layaknya suami dan istri. Keduanya menunggu sampai mereka benar-benar siap untuk itu.

“Hanya dua?” Kata Yuri. Dia tidak benar-benar serius ketika bertanya akan hal tersebut.

“Kau ingin berapa? Tujuh?” Wajah Yuri merona lagi.

“Kau benar-benar lucu.” Ujar Yoochun. “Kita akan membangun keluarga sendiri, jauh dari publik. Aku akan menyerah dengan karir aktingku yang tidak cukup bagus. Mungkin aku akan menekuni bidang lain. Saat itu, kuharap kau berhenti jadi pramugari.”

Yuri ingin berkata bahwa ia sudah memikirkan tentang hal tersebut. Meskipun ia tidak benar-benar berhenti saat ini, tapi ia sudah dijadwalkan untuk menangani penerbangan domestik yang jadwalnya tidak seketat penerbangan internasionalnya.

“Aku sudah memikirkan itu.” Kata Yuri.

Yoochun tersenyum. Matanya semakin merah. “Kenapa kau mencintaiku?”

Yuri menoleh ke arah Yoochun yang mulai bersandar di bahunya. Kemudian ia memalingkan wajahnya ke atas langit. “Itu rumit.” Ujarnya. Yoochun berdeham sedikit kemudian terbatuk di bahunya. Yuri meneruskan kalimatnya. “Aku membencimu, awalnya. Bersama denganmu di Roma, benar-benar neraka untukku. Tapi saat itu, ketika kau melindungiku dari preman-preman bau di gang sempit, atau ketika kau menjahiliku dengan olokanmu, aku tahu bahwa perasaan benci itu sudah berubah. Semua olokanmu padaku menjadi kebutuhan, dan aku merindukannya ketika kau jauh. Saat akhirnya takdir mempertemukan kita kembali di Seoul, aku membencinya. Tapi diam-diam, aku menyukainya. Ketika kita bertengkar dan tidak tahu harus bersikap apa untuk memulai pertemanan, aku menyukainya. Ketika kau meneriakiku dengan kata-kata kasar, aku menyukainya. Semua hal darimu, aku menyukainya. Saat aku sadar, perasaan benci itu sudah berubah menjadi perasaan lain yang lebih baru.”

Yuri menghela napas, “aku mencintaimu bahkan ketika aku tahu kau masih mencintai Eunjung. Aku bahkan berani mencintaimu ketika aku bahkan yakin aku sudah mencintai Jaejoong terlebih dahulu. Kalau kau bertanya lagi kenapa aku bisa mencintaimu seperti ini, salahkan dirimu sendiri. Kenapa kau membuatku begitu mencintaimu tanpa syarat.”

Yuri melihat kembang api di atas kepalanya yang melesat ke atas langit dan menumpahkan warna-warni di sana. Ia tersenyum. “Lihatlah, kembang apinya sudah—“ Yuri menoleh sekilas ke arah Yoochun dan mendapati pemuda itu memejamkan mata di bahunya. Saat ia pikir Yoochun tertidur, dari sudut bibir pria itu turun darah segar. Kulitnya berubah menjadi sangat dingin, dan denyutan nadinya melemah. Yuri panik. Tangannya gemetar. Saat kembang api lain meluncur begitu cepat dan berdentum di langit dengan kencang, saat itu juga Yuri berteriak.

“PARK YOOCHUN!”

.

.

Kanker lambung. Sudah begitu parah.

Yuri limbung dan terduduk di depan kursi. Orang-orang berlalu-lalang di dekatnya. Semuanya berbicara dalam bahasa inggris dan untung saja Yuri bisa mengerti karena kemampuannya selama menjadi pramugari.

Sudah beberapa jam ia hanya duduk termenung di depan ruang operasi. Tanpa suara bahkan dengan suara napas yang diam-diam ia hembuskan untuk menghadapi kerisauan hatinya. Derap langkah terdengar kemudian, beberapa orang yang ia kenal betul kini berjalan terburu-buru. Kwon Seung Ha dan Park Gi Ja. Di belakang mereka ada Jaejoong dan kedua orang tuanya serta kakak Yoochun, Kwon Sangwoo yang juga menyusul terburu-buru.

Yuri takut. Untuk alasan tidak begitu jelas, Yuri ketakutan. Hanya dengan melihat mata khawatir dari Gija, Yuri sudah cukup gemetar hebat. Namun yang ia dapatkan selanjutnya adalah pelukan hangat dari wanita itu. Ia menangis. Lebih hebat daripada tangisan dirinya sendiri. Saat itu ia sadar akan kekuatan seorang ibu, kesedihan seorang yang ia anggap lebih kejam dari siapapun di dunia ini.

Park Gija saat itu adalah orang yang sangat rapuh.

“Kanker lambung?” Kata Gija terpatah-patah. Yuri mengiyakan meski ia sendiri tidak punya ide darimana infonya menyebar.

Cih, anak itu!” Sangwoo baru saja mengepalkan tinjunya ke tembok terdekat. Tapi kepalannnya itu tidak terlalu keras. Mungkin saja karena jetlag pesawat mengingat ia langsung kemari dari Korea tanpa persiapan atau istirahat.

Melihat dari ekspresi keluarga Park, Yuri bisa mengetahui bahwa penyakit ini bukan pertama kali didengar oleh mereka. Ia berani bertaruh, keluarga Park mungkin sudah lama menyimpan rahasia ini. Entah atas perintah Yoochun atau hanya untuk menjaga agar Yoochun tidak tahu.

Yuri kemudian mengingat kembali saat-saat dimana ia terakhir kali melihat Yoochun terbaring begitu lemah di atas kasur. Ia ingat dokter yang memberinya sebuah resep berlembar-lembar ketika ia mengatakan bahwa Yoochun hanya menderita demam ringan. Saat itu, ia tidak memiliki ide sama sekali kalau Yoochun sebenarnya menyembunyikan penyakit itu darinya. Yuri sama sekali tidak tahu.

Lampu di atas pintu ruang operasi berkedip. Seorang dokter keluar dari ruangan operasi dengan melepaskan masker dan sarung tangannya. “Mana keluarganya?” Tanyanya. Yuri ingin mengangkat tangannya dan berjalan ke depan dokter muda tersebut namun tubuhnya enggan beranjak. Gija adalah orang pertama yang berdiri di susul Sangwoo yang terburu-buru. Ketiganya berbicara serius kemudian sang dokter membawa dua orang itu menjauh. Tidak lama, pintu ruang operasi benar-benar terbuka, satu buah ranjang di dorong begitu cepat ke ruangan lain. Yuri melihat wajah pucat yang terbaring di atas ranjang. Park Yoochun.

Kulitnya memutih, ada darah di sepanjang sprei yang sudah diseka. Ia mengenakan seragam pasien dan didorong begitu cepat ke ruangan lain. Dari raut wajah mereka yang baru keluar dari ruangan tersebut, Yuri tidak bisa membaca ekspresi yang mereka torehkan. Ada raut wajah kelegaan dan ada juga raut wajah kekecewaan, seolah operasi barusan memiliki hasil yang tidak pasti.

Park Gija dan Sangwoo datang. Yuri beranjak dari tempat duduknya. Ia menunggu keduanya bicara, namun sampai beberapa detik, tidak ada satu patah katapun yang keluar.

Gija mendesah panjang, kemudian air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Sangwoo memeluknya erat, tapi dari wajahnya, Yuri bisa membaca air mata yang ia tahan di sana. Kwon Seung Ha memeluk Yuri erat dan membesarkan hati anak gadis semata wayangnya tersebut. Saat Gija melemas dan pingsan di tempat, saat itu juga Yuri tak kuasa menahan tangisannya. Sesaat ia bisa melihat beberapa orang menahan tubuh Gija yang hampir mencium lantai. Tapi kemudian pandangan matanya berat, tubuh Yuri menjadi sangat lemas. Ia melihat wajah Jaejoong meneriakkan namanya di depan wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap.

.

.

Rasanya baru kemarin aku bisa tertawa bersamamu. Rasanya baru kemarin aku bisa mencintaimu dengan bebas. Rasanya baru kemarin garam rasanya seperti gula di lidahku. Park Yoochun, bisakah kau menjelaskan semuanya hari ini.

“UGH!”

“Yuri!”

Saat itu Yuri melihat Jaejoong mendekat padanya. Yuri memegangi kepalanya, tidak sakit. Sudah tidak begitu sakit. Ia baru saja terbangun di atas sebuah ranjang dengan sprei putih. Jaejoong dengan cemas mengambilkan segelas air putih di atas meja kecil di samping ranjang Yuri. “Minumlah.” Katanya.

Tak mau banyak berdebat, Yuri meminum air dalam gelas tersebut dengan terburu-buru. Satu cahaya kecil di dalam hatinya berharap bahwa semua yang baru saja ia rasakan hanyalah mimpi dan kini ia terbangun dari mimpi tersebut.

Tapi Kwon Seung Ha datang. Ia berjalan pelan kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di samping Yuri. Tanpa sepatah kata apapun, Jaejoong seolah mengerti. Ia pamit undur diri dari ruangan tersebut, meninggalkan Seungha dan Yuri berdua.

Melihat Wajah Seungha, Yuri jadi teringat saat-saat Park Gija pingsan di depannya. Tapi yang mengganggunya bukan itu, alasan dibalik pingsannya Park Gija. Itu yang membuatnya juga tak sadarkan diri.

“Park Yoochun?” Yuri menaikkan alisnya dan mengatakan nama Park Yoochun dengan sangat hati-hati dan penuh harapan baik. Meskipun ia tidak cukup siap kalau-kalau dari bibir Seungha keluar kalimat-kalimat yang lebih buruh dari apa yang dia bayangkan.

Seungha mengelus rambut anaknya.

“Dia pria yang baik.” Katanya penuh teka-teki. Yuri diam, tidak ingin sepenggal kalimat pun hilang dari pembicaraan Seungha. Ia ingin ayahnya mengatakan sesuatu yang ia tidak tahu dengan satu kalimat penuh. Jadi ia menunggu.

“Aku mengenal Park Yoochun sudah lama, ia berbeda dengan kakaknya yang terkenal sebagai cassanova dan ia juga berbeda dengan ayahnya yang sudah lama meninggalkan keluarganya. Yoochun juga sama sekali tidak sediktator ibunya. Ia hidup dengan caranya sendiri, tumbuh besar dengan kekuatannya sendiri. Dia benar-benar pria yang baik.”

Seungha berdeham namun tidak mengatakan apapun setelah itu. Air mata Yuri meluncur begitu saja dalam kesunyian dan jeda panjang yang dibuat oleh Seungha.

“Tapi kau tahu Yuri, orang yang baik biasanya lebih cepat dipanggil oleh Tuhan.” Kata Seungha. Air mata Yuri menetes seperti embun yang turun dari atas daun talas. Pikirannya menyahut agar ia berteriak, namun ia terlalu lemah. Seungha menyeka air mata Yuri dengan tangan miliknya. Tapi tangan itu bukan bendungan, dan air mata Yuri bukan danau. Air mata itu sungai yang terus mengalir, sungai yang belum menemukan muaranya.

“Park Yoochun …”

“Hentikan, Ayah!” Yuri berteriak, helaian rambutnya turun begitu kepalanya menunduk. Ia tidak sanggup lagi menatap lurus. Seolah pilarnya sudah hancur. “Jangan mengatakan apapun. Jangan mengatakan apapun lagi.”

Seungha menggenggam tangan putrinya erat. “Tinggalkan aku sendiri, Ayah. Kumohon.” Pinta Yuri. Seungha enggan beranjak. Yuri meringkuk dan berbaring di balik selimut kemudian memunggunginya. “Kumohon, Ayah.”

“Ini ditemukan dalam kantung kemejanya. Ini untukmu.” Seungha meninggalkan secarik kertas di atas meja kecil dekat ranjang Yuri. Pria paruh baya itu kemudian melangkah keluar ruangan, meninggalkan Yuri sendiri. Meninggalkan Yuri yang benar-benar merasa sendiri.

Park Yoochun, siksaan apalagi yang kau berikan padaku.

Segera ketika pintu tertutup, Yuri menarik secarik kertas tersebut dan menggenggamnya penuh harap. Warna kertas dan coraknya berasal dari sobekan buku yang ia kenal : Buku Diarynya. Otaknya memutar ulang pada saat ia menerima kembali buku itu dari Yoochun. Halaman belakangnya yang hilang, adalah secarik kertas yang ia genggam saat ini.

Yuri membuka gumpalan kertas lusuh itu. Ada noda darah tercecer kecil-kecil di sisinya. Ia menahan tangisannya.

aku bernyanyi di antara lapisan atmosfir.

Dan kau ada di atas lapisan kerak bumi.

Bagaimana kita akan bertemu?

Akankah kau terbang? Atau aku yang harus terjatuh?

Yuri membaca bait demi bait dari puisi yang dibuatnya. Ia mengenali tinta hitam yang ia torehkan di sana, tapi ia tidak mengenali sebuah tulisan lain dengan tinta biru setelah kalimat tersebut. Dan lagi, kalimat-kalimat itu tidak terlihat seperti puisi. Tapi cukup melihatnya sekilas, Yuri sudah tahu ekspresi seperti apa yang selayaknya ia tunjukkan. Dan benar, air mata itu sudah meleleh dengan sendirinya.

Aku sudah terbang dan bertemu kau di atas lapisan atmosfer. Tapi kau tidak perlu terjatuh untuk bertemu denganku. Jika harus ada yang terjatuh, itu pastilah aku. Karena tidak ada cacing yang dapat hidup selamanya dengan gagak. Cacing tidak bisa terbang, tapi gagak bisa mendarat. Ketika cacing kembali ke tanah, maka gagak akan mencari cacing yang lain dan sudah selayaknya begitu. Cacing hanya akan terbenam, kemudian sembunyi di bawah tanah sementara gagak akan terbang tinggi, bahkan lupa untuk mendarat.

Yuri, jika kau gagak, kuharap kau sekali-kali akan mendarat. Kau tidak boleh lupa ada tempat terbaik untukmu jikalau kau mendaratkan hatimu. Meskipun di bawah tanah, meskipun tidak kasat mata, tapi landasan ini adalah yang terbaik.

Cintaku.

Air mata Yuri tidak terbendung. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang, kemudian melemparkan bantal dan spreinya ke udara. Yuri tidak dapat menahan dirinya untuk tidak meraung sedih.

Ia kacau.

.

tbc.

a/n

Eh, ternyata masih tbc?

Gak kok. Ini sudah selesai kok. Tapi kalian bisa lihat epilog setelah ini buat tahu persis gimana kelanjutannya. See You Soon at Eplogue!

 

37 thoughts on “THE STEWARDESS [Part 10]

  1. Shin Min Mi berkata:

    what? yoochun, kanker lambung? padahal udah diikhlasin yuri ma yoochun knp jdinnya gini? -_- ini yoochunnya meninggal apa gimana? masih berharap yoochunnya selamat.. kasian mereka baru ngerasain indahnya saling mencintai(?) dan harus dipisahkan oleh maut? huft
    alurnya cepet banget ya, apa emang dicepetin?
    btw bagus ceritanya, ga ketebak😀

  2. YoonYuladdicts berkata:

    yaampun yoochun kok bisa jd kanker lambung sih ?
    baru seneng akhirnya mereka bisa saling mencintai.
    surat dr yoochun itu bikin mewek kak, kasian banget idupnya yuri, baru aja merasakan kbahagiaan bareng yoochun. yoochun jangan mati dong kak..
    alurnya kayaknya kecepetan kak , tapi tetep kerenlah…
    wah tinggal epilog aja nih, jangan lupa update yg TOZ sama ghost slayer ya..

  3. kimikakyuri berkata:

    Yoochun nya gimana ,, dia pergi atau cuma lagi jailin yuri !! Aduh baru aja seneng udahh nangis lagi ,, epilog П̥̥̲̣̥♈ɑ̤̥̈̊ɑ̤̥̈̊ di tunggu ,, secepatn
    ya

  4. arassi berkata:

    Huaaaa yoochun mati ya?
    Unni jahat banget udh bikin yuri sengsara ._.v
    Tapikan gue belom liat epiloguenya yak😀
    Semoga pas di epilog yoochun hidup dah!!

  5. tha_elfsone berkata:

    uhhh ini sedih bnget nyun… -_-
    knpa yoochun bisa sakit separah itu..hiiks hiiks hiiks
    yul kau harus kuat pasti yoochun g mati koq..hiks hiiks hiiks
    ok lah nyun aq mau lanjut k epilog nya dlu yaa…😉

  6. 한늘앟 ~ berkata:

    Wae eon ? wae ? kenapa yoochunnya malah meninggal T^T aku bete hufff..
    Aku bete kenapa ff eonni tuh selalu unpredictable mulu, bete abisnya ffnya keren mulu, bete kenapa perumpamaannya, frasenya, sama majas yg digunakannya keren-keren bgt, aku juga pengen kyk eonni ToT)
    Daripada bete, aku mending baca epilognya aja huff *alay kebangetan-_-*

  7. hani"thahyun kim berkata:

    Iiiihhh sumpah nyebelin banget,, awalnya manis..kenapa tiba” jadi melow gini..
    Yoochun kenapa ??
    Aduuuhh sumpah kasian yuri..masa baru aja dpt kebahagiaan udah diambil lagii..
    Yoochun jangan matii dong..
    Aaaaahhhh

  8. YhyeMin_ berkata:

    alurnya ngebut bgtt kak yg bru bahagia udah dbri petir aja*plakkk maksudnya cobaan ato musibah g2 ato apalah yg penting buat yuri nangis
    Tenang yuleon jgn nangis msih ada jaejoong oppa ato kalo gk mau ma kris d ToZ ato myungsoo d klise ato ghost slayer dengan….aku gk tau! Minho/aries jga boleh kok ato sma gemini tinggal pilih aja yuleon*plakkkk emanknya mreka barang
    Ok kaknyun see you at epilogue!!( ^o^)//

  9. Spakling Pearls berkata:

    Itu endingnya yoochun meninggal atau gmna kalu yoochun meninggal yuri ma spa ya walaupun aku lbh menyukai jaejoong ma yuri tp utk x ini aku ingin yoochun yg ma yuri kasian mereka uda bahagia gtu masa yoochun mau diambil nyawanya

  10. Linda Aslyah berkata:

    Unnie kok sedih banget, yaampun kasian yuri, baru aja mereka bahagai udah ada musibah..
    aaaa Unnie berharap happy ending :))

  11. NiaChoi1126 berkata:

    What kanker darah kok bisa???

    ksian yuri-nya bru aja bhagia malahan sekarang yoochun sakit

    ksian jga ma jaejoong, yuri lebih milih yoochun dripada dia
    semoga di epilog’a gak sad ending

  12. Tansa berkata:

    Huft lega ..
    Kirain part ini adalah endingnya
    Sempet nangis karena liat Yuri yang baru tahu kalau Yoochun menderita kanker darah
    Jadi Yoochun bener-bener udah pergi ?

  13. ratih berkata:

    aku yakin ( pd banget ) pasti unni bikin ff ini yoochunnya kena kanker pas di chapter 9 dia ngerasa sakitkan di lambungnya. wwkwkwkkwkw aku udah nebak2 eh .. bener ternyata tapi akhirnya tetep happy ending kan…

  14. Pangeran sarda berkata:

    hah,yoochun kanker lambung ?
    dia mati atau ngerjain yuri,biar gak penasaran kita cabut ke epilogue-end

  15. minyul generation berkata:

    Eonnie,, sedih bget cerita a,, tpi aq sukak,,
    Terus berkarya ya eonnie,,
    Semua cerita yg eonnie buat aq suka,,
    Cerita a gag bisa d tebak,, buat penasaran

  16. Ersih marlina berkata:

    Aku,, nangis hiks hiks cengeng yah
    salahkan cerita ka nyun di part ini yang berhasil ngbwa aku ke dalam ceritanya ckckck

    baru aja mengutarakan cinta masing2, masa udah mau pisah
    itu yc ga mati kan ? Ahh
    fighting ya ka nyum, daebaak ceritanya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s