TALES OF ZODIAC #5

TOZ3

Prepare yourself for double posts today🙂

***

“Baiklah, sampai besok!” Eunji adalah orang terakhir yang keluar dari kamar Yuri. Sebelumnya, Yuri harus mau repot-repot mengusir Jaejoong dan Kris dari jendela agar Ayahnya tidak mengetahui apa yang sudah terjadi di kamarnya barusan. Belakangan ini, memang kamar Yuri sudah dijadikan semacam markas besar dari dua pemuda itu. Pembicaraan yang terjadi di dalamnya tentu tidak jauh-jauh dari ilmu perbintangan—yang belakangan Yuri lebih senang menyebutnya sebagai ilmu nujum. Bicara tentang bintang, rasanya Yuri merasa sedikit risih malam ini. Terbukti dari beberapa kali ia kerap menoleh ke area kosong dari kasurnya yang empuk. Maniknya menangkap keriuhan yang mungkin sama sekali tidak normal di sana.

“Apa kalian tidak akan kembali menjadi roh?” Yuri mendesis dan memicing sebal ketika ia menatap tiga orang yang sedang berbaring di kasur tepat sebelah bahunya. Sehun adalah yang pertama kali bangun dan menyerah untuk terlibat lebih jauh dalam adegan perebutan selimut dan kasur empuk di sebelah Yuri. Kini pemuda kurus itu memilih sebuah sofa kecil sebagai tempatnya bersandar dan memejamkan mata.

Awalnya Yuri ingin berkata terima-kasih atas kesadaran seorang Sehun baru saja, namun sikap kakaknya, Luhan yang enggan meninggalkan kasurnya tentu menjadi bunga es yang membekukan kata manis itu pada Sehun.

“Kalian sampai kapan akan begini? Kembali ke bentuk yang lebih sederhana dan istirahat dengan tenang.” Kata Yuri lagi. Kalimat itu ia tujukan pada Minho dan Luhan yang hampir merobek selimutnya. Keduanya kini terduduk dan menatap Yuri dengan tatapan aku-tidak-mau.

“Kalian itu roh! Ayolah! Ini baru dua dari kalian, bagaimana kalau akhirnya aku berhasil mengumpulkan dua belas bintang? Apa mereka juga akan menggunakan kamar ini sesuka hati? Yang benar saja!”

Yuri protes tapi tetap tidak mengubah apapun. Luhan dan Minho enggan pergi dari kasurnya. Keduanya bertatap-tatapan selama beberapa menit. Di jeda itu Yuri berharap keduanya akan berpikr jernih tentang aturan-aturan batasan kenyamanan roh dan manusia atau apalah, sampai akhirnya ia menyesal pernah berpikiran demikian.

“Jika kau mengumpulkan dua belas dari kami, aku bahkan tidak yakin kamar ini masih utuh.” Kata Minho. Saat Minho bicara, maniknya menatap Yuri lekat hingga kadang Yuri sedikit merasa risih. Tatapan dari roh Aries itu seolah dapat membuatnya mabuk dan canggung dalam waktu yang bersamaan. Membuatnya tidak bisa menolak bahwa Minho adalah pria yang tampan. Tapi jika Yuri mau berpikir jernih, sesungguhnya ia sedang melihat domba dalam wujud manusia.

“Tunggu! Apa maksudnya itu.” Yuri bangun. Ia menempatkan posisi duduknya sedemikian rupa sehingga saat ini, Baik dirinya dan kedua pemuda roh tersebut duduk melingkar berhadap-hadapan. Seperti sedang melakukan ritual suci.

“Biar kujelaskan,” Luhan mengambil alih dari situ. Minho mengangguk setuju. “Kau termasuk beruntung memiliki kami—Aries dan Gemini—sebagai bintang awal yang kau selamatkan. Kami tidak memiliki masalah pribadi sehingga kami bisa duduk berdampingan seperti hari ini.”

Dahi Yuri berkerut. Sebenarnya menyadari kenyataan bahwa ia sedang berbicara dengan roh saja sudah cukup tidak waras. Nah, sekarang Yuri harus menanggapi ketidakwarasan yang lain lagi. Sejarah Roh Bintang.

“Tunggu dulu. Maksudnya?” Kata Yuri.

“Oh aku tidak percaya kau bahkan tidak tahu sejarah kami, ck.” Minho menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Yuri. Kemudian ia melipat  tangannya di depan dada dan mempersilakan Luhan melanjutkan ceritanya.

“Tidak semua bintang memiliki hubungan baik seperti kami. Beberapa akan menimbulkan masalah jika disatukan. Beberapa kadang tidak bisa terlepas satu dan yang lain. Kami termasuk yang netral.”

“Oke sebentar, Luhan,” Yuri menarik napas panjang, ketika ia menghembuskannya adalah saat dimana ia melanjutkan kalimatnya. “Jadi maksudmu, ada beberapa bintang yang memiliki masalah satu sama lain dan masalah mereka akan menjadi masalah juga untukku, begitu?”

“Persis.”

“Bisa kau beritahu aku tentang karakteristik teman-temanmu. Well, si pemuda tuxedo sialan tidak menceritakan apapun padaku.”

“Tentu, aku kan sudah memulainya dari tadi jika saja kau tidak memotong-motong kalimatku seperti itu.” Luhan meniupkan poni di dahinya yang mulai turun. “Mari kita mulai dengan contoh kasus dari beberapa topik konflik para bintang yang abadi. Dimulai dengan Virgo. Jika suatu hari nanti kau menemukan Virgo, pastikan kau belum memiliki Leo. Ada sesuatu di antara mereka yang membuat mereka tidak bisa terlalu dekat. Jika Leo melihat Virgo atau sebaliknya, itu hanya akan menjadi masalah buatmu. Para bintang tidak pernah ada yang mau ikut campur atas urusan bintang lain.” Jelas Luhan.

Yuri menganggukkan kepala. Dia tidak begitu menyukai pelajaran teoritis seperti ini sebelumnya, tapi Yuri akui bahwa tipe studi seperti ini—di atas kasur sambil memeluk bantal dan ditutori oleh dua pemuda tampan—adalah tipenya.

“Bagaimana mereka bisa seperti itu?” Tanya Yuri. Minho menggeleng, “Tidak ada yang tahu. Kami terlalu sibuk untuk memikirkannya.”

Satu kesimpulan kecil yang Yuri dapat sampai di sini : Bahwa para bintang sebenarnya tidak saling peduli satu sama lain.

“Nah, itu tadi contoh kecil. Selain Virgo dan Leo, selanjutnya adalah hubungan buruk antara Pisces  dan Capricorn. Meskipun tidak sampai menimbulkan masalah besar, hubungan keduanya ini cukup merusak suasana dan kerjasama tim. Tentunya akan merepotkanmu juga.”

“Tapi,” Minho menyela di tengah-tengah cerita Luhan. “Kau bisa mengakalinya dengan menghadirkan Libra di sana. Libra adalah satu-satunya yang ditakuti oleh Capricorn dan Pisces.”

Yuri mengangguk. “Jadi pada intinya aku bisa menggunakan satu bintang demi mendamaikan beberapa bintang yang lain, begitu?”

“Ya. Persis. Itu pun kalau mereka memang ingin mematuhimu.” Kata Luhan.

“Eh? Maksudnya?”

“Bintang memiliki ego juga, Nona Yuri. Ia bisa memilih untuk bergabung bersamamu atau tidak. Sebagian akan melakukan tes untuk menunjukkan bahwa kau layak sebagai penjaga kami. Tidak semua bintang sesederhana kami, Nona Yuri.” Kata Minho. Luhan mengangguk setuju. Manik pemuda itu sekilas menangkap mata Sehun yang terpejam. Kemudian kembali dalam dialog ketika ia menemukan Sehun baik-baik saja.

Yuri mengangguk mengerti. Kesimpulan kedua yang ia dapat hari ini : Bahwa tiga pemuda tengil yang hampir membunuhnya dua hari belakangan ini, masih terkatagorikan sebagai sederhana.

Yuri tidak bisa membayangkan bagaimana level kompleks dalam ukuran para roh ini.

“Oke, mari kita lanjutkan ke kasus lain. Selanjutnya ada Aquarius dan Sagitarius yang mengalami sindrom ketergantungan. Mereka tidak dapat dipisahkan terlalu lama. Meskipun gemar bertengkar, tapi keduanya memiliki kekuatan setara Virgo jika bergabung.” Kata Luhan lagi.

“Bagaimana ukuran kekuatan di dalam perbintangan? Maaf menyela ceritamu, tapi aku penasaran tentang ini. Jika dibuat peringkat, ada di peringkat berapa kalian berdua?”

Luhan berpandang-pandangan dengan Minho. Setelah mendapatkan anggukan kecil, ia berkata, “Aries berada paling akhir. Aku ada di peringkat sepuluh. Di antara kami ada Taurus. Dari peringkat sembilan hingga kesatu berturut-turut adalah : Aquarius, Pisces, Libra, Sagitarius, Capricorn, Cancer, Virgo, Scorpio dan Leo.”

“Leo adalah yang terkuat?” Ada nada tidak percaya dalam kalimat tanya Yuri. Luhan mengedikkan bahu.

“Yang kami yakini selama ini ya begitu.” Balas Minho. Yuri menghela napas. “Baiklah. Lanjutkan cerita kalian lagi. Sepertinya sangat banyak yang masih harus aku pelajari.”

“Benar itu! Aku belum menceritakan tentang perseteruan si kelas atas.” Seru Luhan begitu bersemangat.

“Itu antara Scorpio, Leo dan Cancer. Perseteruan mereka yang kuat.” Jelas Minho ketika dahi Yuri berkerut atas pernyataan Luhan.

“Aku pernah sekali melihat ketiganya berseteru sengit, itu pada malam kami turun ke bumi malam dua puluh sembilan Februari kemarin. Efeknya adalah, kami bercerai-berai. Itu malam yang mengerikan.” Kata Luhan. Disusul dengan respon Minho yang cepat, “Benar-benar mengerikan.”

Minho dan Luhan sama-sama berubah menjadi pucat. Kulitnya yang berpendar kebiruan kini berkedip samar bagaikan lampu yang sudah kehabisan gas neon. Dari melihat keduanya saja, Yuri sudah paham betul kengerian dari si kelas atas yang berseteru malam itu. Ya, meskipun ia tidak benar-benar peduli sih.

“Kalian sangat rumit.” Kata Yuri pada akhirnya. Ia mendesah panjang dan memerhatikan emosi kengerian pada wajah keduanya yang memudar perlahan. Yuri tidak begitu ambil pusing. Ia merosot ke balik selimut dan mematikan lampu kamarnya.

Setelah menguap lebar, ia memeluk gulingnya tanpa mengindahkan dua pemuda yang kembali berebut selimut di sampingnya. “Ceritanya ditunda. Aku harus ke sekolah pagi-pagi besok.”

.

.

“Jangan berjalan di belakangku seperti itu! Aigoo!” Yuri berjalan tergesa-gesa sembari menyampirkan sebuah tas di punggungnya. Di belakangnya Minho, Sehun dan Luhan berjalan beriringan dalam sebuah barisan. Luhan beberapa kali bergelayut di bahu Yuri sambil memohon agar diberikan eskrim sementara dua pemuda yang lain masih dalam barisan yang rapi di belakang Luhan.

“Kau meneriaki siapa?” Ilwoo tiba-tiba saja muncul di hadapan Yuri. Yuri sialnya masih disibukkan dengan menggerakkan bahu demi menghempaskan tangan Luhan. Kejadian itu tidak luput dari penglihatan Ilwoo. “Ada sesuatu yang salah dengan bahumu?” Kata Ilwoo lagi. Yuri tersentak begitu ia melihat Ilwoo berdiri di hadapannya. Pakaiannya begitu rapi. Ketika kata rapi keluar dari otak milik Yuri, saat itu ia memang sedang tidak bercanda.

Walau Ayahnya adalah salah satu pebisnis terkemuka yang memang selalu menetapkan standardisasi tinggi bahkan pada pakaian yang dikenakannya tiap hari, hari ini adalah satu tingkat di atas hari biasanya. Sebuah dasi kupu-kupu tersemat di leher bagian depan. Biasanya ia hanya menggunakan sebuah setelah tuxedo dan kemeja putih sebagai dalaman, kali ini ada corak garis-garis di balik kemeja putih yang ia pakai. Rambut Ilwoo yang biasanya hanya disisir ke belakang sedikit setelah diberi minyak-minyakkan, kini dibiarkan tergerai dengan model baru. Illwo memiliki poni panjang yang ia tata di depan dahinya dengan rapi, sehingga wajahnya terkesan maskulin sekaligus manis.

“Kau… ,” untuk beberapa saat Yuri akui ia memang terpana. “Mau kemana, Ayah?”

Ilwoo bergerak-gerak di tempatnya berdiri. Ia membuka satu kancing dari tuxedonya sehingga Yuri bisa melihat corak kemeja bagian dalamnya dengan lebih jelas. Garis-garis asimetris dengan beberapa warna. Yang menarik bagi Yuri adalah corak merah mudanya. Sangat aneh bagi Yuri ketika Ayahnya memakai warna yang biasanya tidak pernah ia pakai. Ilwoo tidak mengindahkan pandangan aneh dari anaknya. Ia menepuk tangan sekali kemudian salah satu tangannya menggaruk kepala bagian belakangnya. Mulutnya melebar dan membentuk sebuah senyuman canggung.

“Itu…,” Ilwoo berhenti menggaruk kepala. Kini tangannya ia masukkan ke saku celana sambil menarik-narik dan menderapkan langkah di atas lantai bagai anak kecil.

Melihat tingkah laku nyentrik dari Ayahnya. Yuri mengangguk kecil. Luhan, Sehun dan Minho kini mengambil posisi dimana mereka bisa lebih dekat memerhatikan pembicaraan ayah dan anak tersebut. “Kau menemuinya lagi? Wanita serakah itu?”

Ilwoo berhenti bergerak tidak lazim secara mendadak. Tangannya ia keluarkan dari saku celana perlahan. Dengan ragu-ragu maniknya kini ia tanamkan dalam mata Yuri yang mulai terlihat membulat, mengguratkan ekspresi keseriusan dengan nada menyelidik yang terdengar seperti menghakimi Ilwoo.

“Namanya Eunhye.” Kata Ilwoo. Yuri berjalan selangkah hingga wajahnya semakin dekat dengan Ilwoo. “Katakan Ayah, apa di matamu, aku bahkan terlihat peduli untuk mengingat namanya?”

Sarkastik dan tepat sasaran. Kalimat Yuri barusan adalah perwakilan dari amarah dan emosi yang bertumpuk-tumpuk di dalam dadanya selama beberapa bulan belakangan. Gadis bernama Eunhye yang disebut Ilwoo barusan tidak lain adalah seorang janda yang rela meninggalkan suaminya demi karir bisnis. Demi mengejar harta dan demi mengejar Ilwoo, Ayahnya. Poin yang tidak pernah Yuri suka dari wanita ini adalah, kegigihannya untuk mendapat harta Ayah dengan mengatasnamakan cinta.

Kabar buruknya, Ayahnya adalah salah satu yang terpedaya. Ilwoo telah jatuh cinta pada gadis itu. Jika saja Yuri tidak menentangnya, Eunhye tentu sudah menjadi ibu tirinya sejak dua bulan yang lalu.

“Dia lebih tua darimu, hormatlah sedikit!”

“Aku akan menghormati Ahjumma itu, jika dia bisa membuat dirinya layak untuk mendapatkan rasa hormatku. Permisi, aku sudah terlambat ke sekolah.” Yuri tidak menundukkan kepalanya sebagaimana biasanya. Ia hanya mengedipkan matanya cepat kemudian pergi dari hadapan Ilwoo. Sebelum ia menjauh, Yuri bisa mendengar ayahnya mendengus kesal dan berbalik untuk menatap punggungnya.

“Aku akan pergi ke Jejudo selama seminggu.” Ilwoo menarik napas sementara Yuri terus menjauh dari tubuhnya. “Aku akan pergi dengan Eunhye.”

Yuri berhenti melangkah. Ia mengepalkan tangannya sementara urat-urat di lehernya terlihat jelas untuk menggambarkan kekesalannya. Saat itu ia benar-benar tahu bahwa rasa keras kepala yang ada dalam dirinya, berasal murni dari Ilwoo.

“Aku pergi.” Kata Yuri pada akhirnya. Meski ia berusaha terlihat senormal mungkin, tapi getaran dari nada suaranya tidak bisa membohongi perasaan gadis itu.

“Setidaknya makanlah dulu!” Ilwoo berteriak. Tapi Yuri sudah masuk ke dalam mobil. Saat Ilwoo menatap nanar pada mobil merah muda yang terparkir di depan teras rumahnya, mobil itu kemudian mengeluarkan bunyi bising dan pergi dari hadapannya dengan cepat.

Seolah yang mengemudi sangat kesal dengannya.

.

.

“Ayahku tidak dapat melihat kalian?” Yuri bertanya di sela-sela penjelasan Minho. Pemuda itu mengangguk. “Pantas saja.” Kata Yuri lagi. Ia mulai memandangi langit dengan tatapan kosong.

“Kau tidak memiliki hubungan yang baik ya dengan ayahmu?” Sehun—untuk pertama kalinya sejak mereka bersama—kini duduk bersama Yuri di sebuah bangku taman. Yuri tidak tertarik untuk pergi ke sekolah dengan mood hancur seperti itu jadi ia membelokkan setir dan berakhir di taman kompleks.

“Ternyata kau bisa bicara.” Yuri tertawa. Tapi jelas, bukan karena ada sesuatu yang memang patut ditertawakan.

Yeah, aku hanya bicara disaat aku ingin. Tidak seperti Luhan.” Kata Sehun. Matanya memandangi Luhan yang sedang berlarian mengejar beberapa kupu-kupu kecil sembari memegangi dua potong eskrim yang tengah mencair.

“Baguslah. Itu attitude yang baik.” Respon Yuri, tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan dari Sehun. Semakin jauh Sehun bertanya, semakin jauh pula Sehun dari topik awal. Yuri adalah ahlinya untuk memutar-mutar topik. Sehun sepertinya salah pilih kawan bicara.

“Tapi Ayahmu adalah orang yang baik. Sinarnya berbeda.” Sambung Minho. Yuri hampir tersedak ludahnya sendiri. “Apanya yang berbeda?”

“Oh iya benar, benar! Sinarnya benar-benar putih.” Sehun seperti kerasukan setan. Tiba-tiba saja ia berbicara begitu keras sebagai persetujuan pernyataan Minho. Manik Sehun yang berbinar, tidak serta-merta meredakan rasa keingintahuan yang meledak di dalam dada Yuri.

“Kalian ini bicara apa? Sinar apa?”

“Manusia biasa itu memiliki sinar. Biasanya sinar hitam adalah pertanda buruk dan kemalangan sedangkan putih bersinar adalah tanda kebaikan dan keberuntungan. Manusia kebanyakan memiliki warna abu-abu, campuran antara putih dan hitam. Tidak baik, tidak buruk. Tapi Ayahmu adalah salah satu yang memiliki warna putih. Itu bagus. Ia orang baik.”

Yuri tersungut-sungut. “Milikku apakah abu-abu?”

Minho menggigit bibirnya, “sayangnya kau tidak abu-abu.”

“Lalu apakah aku hitam?”

“Kau tidak hitam tidak juga putih.” Sambung Sehun. “Sinarmu oranye. Sinar itu yang menuntun kami untuk mencarimu, meski kami sedang dalam pengaruh sihir orang lain.”

Yuri mengernyitkan dahi. Kemudian ia bertepuk-tangan seolah ia baru saja melihat opera di depannya. “Itu tadi cerita yang keren, sungguh.” Respon Yuri. Dengan itu, ia membubarkan perbincangan kecil dan membawa perhatian Luhan teralih dari kupu-kupu yang dikejarnya.

“Kita ke sekolah sekarang.”

.

.

“Yuri tidak menghubungimu, Jung Eunji?” Jaejoong ada di ruangannya. Di hadapannya duduk Eunji yang memilin-milin rambutnya dengan gerakan was-was. Ia baru saja menggeleng atas pertanyaan dari Jaejoong dan itu membuatnya sedikit takut. Kim Jaejoong bagi Eunji bagaikan malaikat yang bisa menjadi iblis kalau sedang panik. Kini ia sedang panik.

“Kris!” Panggil Jaejoong. Kris tidak peduli. Meskipun sulit dijelaskan, sesungguhnya ia ingin mengatakan bahwa Yuri baik-baik saja dan akan segera muncul di pintu dalam lima menit kemudian. Koneksinya antara dirinya dengan Yuri tentu sangat membantunya dalam hal pelacakan jejak. Tapi Jaejoong rupanya sedikit lupa soal itu. “Kau seharusnya panik, anak bodoh!” Kata Jaejoong. Kris ogah-ogahan di atas kursi. Ia malah memungut sebuah majalah yang sudah berkali-kali ia baca dan membuka halamannya satu demi satu dari awal lagi.

Jaejoong memungut sebuah benda besi kecil berupa kunci mobil dari atas meja. Ia melewati Jung Eunji yang masih terduduk di sofa dengan perasaan bersalah. Langkah kakinya terhenti begitu saja ketika Kris menarik ekor kemejanya. “Kemana?” Katanya.

“Mencari gadis itu.”

“Dia akan datang,” Kris melirik arlojinya. “Dalam lima, empat, tiga, dua, sa—“

“YA!”

“—tu.” Kris berhenti melirik arlojinya. Jaejoong berdiri keheranan melihat Yuri yang terengah-engah. Sekilas, Kris sempat bertatap-tatapan dengan Yuri secara tak sengaja ketika mata mereka mengedar sembarangan. Tapi gadis itu mematahkan pandangan itu dengan decakan sebal.

“Kalian mau membunuhku ya?” Yuri berteriak. Di belakangnya ada domba yang kini berubah menjadi Minho kembali. Mereka terengah-engah. Eunji berlari menghampiri Sehun dan Luhan dan membawakan keduanya air minum setelah mereka duduk bersama di atas sofa. Kris tidak peduli pada apapun. Tapi ia mendengarkan.

“Ada banteng mengejarku, aku hampir mati jika bukan karena bantuan Gemini.” Yuri menarik gelas yang hampir diminum oleh Luhan, kemudian ia menenggak habis air putih yang ada di dalamnya. Luhan meringis.

“Itu Sapi, bukan banteng.” Minho mengoreksi.

“Taurus.” Sahut Sehun kemudian.

Kris tiba-tiba saja menutup majalahnya. “Tidak bagus, Hyung.”

Jaejoong diam selama beberapa detik. Ia membutuhkan waktu untuk menyusun rencana. Jika benar yang dikatakan Yuri adalah Taurus yang hampir membunuhnya, berarti mereka ada dalam bahaya.

Manik Jaejoong mendelik curiga. “A—aku bersumpah melihat banteng itu! Aku ada di mobil saat banteng itu tiba-tiba muncul di tengah jalan dan menyerangku! Dia tidak abu-abu!” Kata Yuri lagi. Kalimatnya tadi ingin meyakinkan Jaejoong bahwa ia memang tidak pernah berbohong. Sehun yang mendengar kata banteng dari bibir Yuri, berkali-kali menggumamkan kata sapi dengan nada rendah yang hampir tidak terdengar.

“Taurus akan merepotkan juga kalau ia emosi.” Kata Jaejoong. Ia berkacak pinggang, kemudian berlari ke belakang dan sibuk membenahi beberapa barang-barangnya di dalam tas ransel. Ia melemparkan sebuah pedang pada Kris yang diterimanya dengan sempurna. “Gemini akan bersamaku, Aries bawa Eunji untuk bersembunyi. Dan kau Nona Yuri,” Jaejoong melihat Yuri sedetik, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Kris. “Pergilah bersama Kris.”

“KENAPA AKU HARUS BERSAMA PEMUDA GILA INI?”

“KENAPA AKU HARUS MEMBAWA GADIS BODOH INI?”

Yuri dan Kris berpandangan setelah sadar bahwa kalimatnya diucapkan dalam waktu yang bersamaan. Jaejoong mengedikkan bahu dan memberikan Yuri sebuah anak panah dan busur pegas otomatis. Pemuda itu tidak mengatakan apapun tentang keputusannya untuk memasangkan Yuri dan Kris dalam sebuah penyelamatan. Jaejoong hanya peduli pada upaya mereka tentang menyelamatkan Yuri dari amukan Taurus. Tidak peduli gadis itu harus bersama siapa.

Ekspresi Yuri mengguratkan kalimat untuk-apa-benda-ini-diberikan-padaku. Seolah Jaejoong menerjemahkan ekspresi itu, ia menjawab,

“Kudengar kau ahlinya dalam olahraga panahan. Bidik ruang kecil di antara kedua mata Taurus, tidak akan membunuhnya tapi akan melumpuhkan gerakannya. Semoga berhasil.”

.

.

Yuri baru saja memasang seatbeltnya ketika ledakan besar yang bersumber dari area di dalam sekolahnya kini memancing suasana panik dari seluruh penghuni sekolah. Bagi manusia biasa, mungkin saja mereka baru melihat sebuah bom yang tiba-tiba saja meledak entah darimana. Sedangkan bagi Yuri, ia yakin bahwa barusaja dirinya melihat satu ekor sapi jantan yang menyeruduk masuk ke ruangan santai milik Jaejoong.

“Apa Gemini dan Jaejoong Oppa akan baik-baik saja?” Kris mengangkat sudut kiri bibirnya. Dengan cekatan, ia menggerakkan perseneling mobil dan menginjak pedal gas. Yuri hampir terantuk dashboard jika saja seatbelt tidak segera dipasangnya.

“Seharusnya aku mengkhawatirkan diriku sendiri.” Umpat Yuri dalam hati. Ia menindai tubuh Kris dari samping dengan tatapan jijik dan ogah-ogahan. Sejurus berlalu dan keduanya dalam keheningan. Kris terlalu fokus pada jalan dan menghindar sehingga ia tidak peduli bahkan pada dengusan napas Yuri yang tegang. Mobilnya terlalu cepat.

“Kita bisa mati.” Kata Yuri.

“Kalau Taurus mengejar, tentu.” Ekspresi Kris cenderung datar dan tidak pernah berubah. Berkali-kali matanya memang mengedarkan pandangan, tapi hanya pada spion dan jalanan di depannya. Tidak sekalipun pada Yuri.

“Maksudku di sini, di mobil, jika kau tidak melambat.” Protes Yuri. Ia sempat melongok ke speedmeter yang baru saja merujuk pada angka delapan puluh kilometer dalam jalanan yang cukup ramai. “Itu gila.” Komentarnya.

“Percayalah,” Kris menambah kecepatan seolah tidak peduli dengan saran Yuri. Yuri harus mau repot-repot memegangi seatbeltnya kuat-kuat dan memejamkan mata sambil berdoa. “Taurus akan menemukanmu lebih cepat kalau aku melambat.”

Kris membelah keramaian dan terus memacu laju mobilnya di siang bolong. Yuri sudah lupa dengan sekolah bahkan guru-guru gempal yang terjadwal dalam kelasnya hari ini. Masa bodoh dengan kehidupan nyatanya ketika ia dihadapkan pada kehidupan delusi yang ternyata adalah kenyataan. Termasuk delusi semi nyatanya ketika sekarang ia bisa terlontar keluar dari mobilnya hingga beberapa meter jauhnya. Yang pertama terantuk adalah bagian pantatnya kemudian disusul punggung hingga akhirnya Yuri terjengkang di atas aspal. Untung saja mereka ada di jalan bebas hambatan yang tidak terlalu ramai kali ini. Hanya ada beberapa orang lewat dan menolongnya, tapi mereka semua terhempas sesuatu yang tidak bisa Yuri jelaskan. Seperti hukum medan magnet, ketika kutub yang sama mendekat, semua orang akan terlontar begitu ia mengulurkan tangan padanya. Yuri keheranan, tapi tidak mau ambil pusing. Ia merintih.

Di depannya, gadis itu bisa melihat mobil milik Kris yang terbalik. Ban-ban hitamnya bergulir kemana-mana. Bahan bakar dari dalam mobilnya menetes-netes. Telinga Yuri berdenging. Dia tidak bisa mendengar orang-orang yang berteriak kepadanya karena di mata Yuri semua orang itu terus saja terpental bagaikan popcorn dalam panci. Yuri tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Yang bisa ia simpulkan sementara adalah : Sesuatu terjadi pada mobilnya dan ia terpental keluar. Yuri mengucek matanya kemudian ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia mencoba ingat kembali apa yang terjadi dalam sepersekian detik sebelum ia terpental.

Yuri yakin betul ia sedang memperingatkan Kris akan bahaya kecepatan tinggi ketika…

“Taurus.” Mulut Yuri menganga lebar. Seekor binatang super besar, dua kali lebih besar daripada ukuran mobil Kris, kini mendengus di dekat mobil yang terbalik. Matanya merah dan kaki bagian depannya melakukan gerakan menggosok aspal—seperti kuda-kuda menyerang.

Yuri tahu bahwa menganalisis hipotesa ini adalah membuang-buang waktu. Tapi ia perlu mengatakan bahwa para manusia itu terpental bukan karenanya, tapi karena kekuatan sang Taurus yang sedang marah. Tidak ada warna abu-abu dalam tubuh Taurus seperti pada kasus Gemini ataupun Aries. Jadi Yuri yakin betul bahwa amarah Taurus sepertinya bukan karena dipengaruhi kenangan buruk atau diperalat orang-orang tidak bertanggungjawab.

Bahan bakar menetes terus dari mobil yang terbalik. Orang-orang mencoba meneriaki Yuri lagi. Tapi kini gadis itu sudah sadar betul. Selain Taurus, bahaya lain kini sudah menantinya.

“Brengsek!” Yuri bergegas bangkit dan berdiri untuk menghindari dua maut di depannya. Tapi Taurus tidak pernah membiarkan itu terjadi. Dengusan Taurus sama efeknya dengan badai Hainan skala kecil. Mobilnya terbang ke atas kepala Yuri dan mendarat beberapa meter di belakang gadis itu, orang-orang di sekitar Yuri terpental sekali lagi bersama mobil-mobil mereka. Semuanya terjerembab dan mengaduh kesakitan. Beberapa bahkan sempat terantuk aspal dan terluka. Yuri sendiri ikut terbang ke belakang, harusnya ia tidak terpental lebih jauh jika saja sebuah pohon terdekat tidak menyapa punggungnya dan membuat beberapa suara retakan di sana.

UGH!” Yuri mengaduh. Retakan tadi membuat punggungnya sakit. Di dekatnya mobil terbalik milik Kris berputar-putar dan meloloskan semakin banyak bahan bakar dari tangkinya. Saat itu pula Yuri melihat benda keperakan disinari matahari. Busur dan anak panahnya tergeletak di sana.

Yuri mengerang ketika ia mencoba berdiri. Taurus masih mencarinya kala itu. Yuri memutuskan bahwa merangkak adalah hal terbaik yang ia miliki saat ini. Dengan sangat hati-hati ia merangkak ke arah dimana busur panahnya tergeletak. Tidak jarang Yuri berhenti ketika rusuknya mengalami rasa sakit yang aneh. Mobil di dekatnya sudah berhenti berputar dan itu kabar buruk. Dengan berhenti berputarnya mobil, artinya ia tidak lagi tercover dari mata Taurus. Banteng (atau sapi?) itu memasang mata merahnya lagi ketika melihat Yuri yang hampir menggapai busurnya. Makhluk itu mendengus hingga udara di sekitarnya berubah menjadi panas.

Yuri tinggal selangkah lagi pada tujuannya. Tapi hempasan dari mobil yang berhenti tersebut mengibaskan busur lebih jauh. Kesempatan menyelamatkan diri sudah pergi jauh darinya. “SIAL!” Yuri menepukkan tangannya di atas aspal. Taurus tidak memunyai sedikitpun belas kasih. Ia berlari kencang dan siap menyeruduk Yuri dengan kepalanya. Yuri merangkak mundur, sesekali ia tak lupa berdoa. “Aku benci banteng.” Gumamnya.

Tidak ada kata waktu yang terbuang sia- sia dalam kamus Taurus. Tidak peduli bahwa lawannya tidak bersenjata dan melemah, ia tetap pada intensinya semula : Menyerang. Masih berlari, ia memperpendek jarak dengan sang target. Hanya menunggu waktu sampai Taurus dapat menaklukan targetnya.

Saat-saat kritis tersebut, Yuri sudah memejamkan mata. Sekilas ia mendengar sebuah dentingan besi yang digesek oleh besi lain. Atau seperti suara pisau yang baru dilepaskan dari sarungnya tapi dalam volume yang lebih besar. Tidak peduli apa itu, Yuri diam saja sambil menahan rasa nyeri di punggungnya.

Ia menghitung setidaknya sampai lima. Yuri memperkirakan bahwa dalam hitungan kelima, riwayat hidupnya sudah akan berakhir.

TBC

A/N.

Hola. Masih ditunggu nih reviewnya, yuk sama-sama meramaikan FF ini🙂 Ditunggu energi positif di penghujung 2013 ini. Love you all~~~

71 thoughts on “TALES OF ZODIAC #5

  1. minyul generation berkata:

    Daebak,, makin tegang aj cerita a,,
    Btw,, poster a keren eonnie,, lupa bilang d part 4,,
    Aq baca ke next chapter ya eonnie

  2. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Taurus datang.. Wah jadi suka ama luhan nih gegara baca ini, hehe.. Yuri dikelilingin pemuda pemuda tampan, wuahh pasti seru tuh..

  3. NIZA berkata:

    ya ampunnn yul onnie gk mati kannn, btw tuhhh taurus kuat jga……
    next next next, maaf yahhh kha’k komen aku mkin sdikit tiap chap soal.y udah pngen cpat slesein bca
    hehhehehe
    hwwaiting!!!!

  4. Lulu Kwon Eun G berkata:

    huwow tegang bgt,, gimana tuh nasib yuri ama kris?…
    ah aq klo udh baca ff.a kak Nyun udahlah gk kenal wktu,, hehe abis penasaran bgt gk mw berenti…
    lanjut…

  5. blackchocolee berkata:

    Bayangin tiga cowok itu ngintilin Yuri di belakang, berurutan, serasa liat anak bebek ngikutin emaknya xDDD

    Dapet satu hipotesis lagi; apakah eunhye itu emak yg dibenci Kris? Semoga tidak yaaaa…

    Dan ngomong2, Nyun, baca fanfik ini aku jadi inget manga 12 Sign of Zodiac yg pernah terbit di Nakayoshi; apakah dikao mengambil referensi dari sono???

    Sama satu lagi; Cardcaptor Sakura :3 kan di part ini dikao bilang kalau bintang juga memiliki ego, aku jadi bayangin Yue yang dulu nolak Sakura mentah2 dan ngetes dia sebelom dia yakin kalo Sakura itu layak jadi pemilik Clow Card :3

    Aduduh maaf-maaf malah jadi ngelantur kemana-mana… Blame it to my weird imagination, please :3

    • bapkyr berkata:

      Aku tahu manga itu! Sering banget ngeliat di tempat rental komik tapi karena aku ga suka shoujou jadilah ga pernah berhasil sampai ke rumah haha ((ketauan masa mudanya abis ngerental manga))
      Dan the cardcaptor Sakura yummy! Aku suka banget animenya hahaha. Apalagi kalau udah ehem Shaoran muncul. Dulu kayanya oppa oppa kipop liwatlah, Shaoran-kun udah paling ganteng HAHAHAHA.
      Etapi kalau bicara inspirasi, sebenernya aku dapat ide angkat perzodiakan setelah nonton Fairy Tail. Lebih tepatnya pas liat Lucy Heartfilia dengan zodiac key-nya. Udah gitu karakter materialisasi zodiaknya seru-seru. Aku suka yang Aquarius sama Virgo. Terus kepikiran buat bikin karakter zodiak versi aku sendiri. Makanya aku buat TOZ.

      • blackchocolee berkata:

        WOH AKU JUGA DULU RAJIN NGERENTAL (ketauan kere ga sanggup beli sendiri), wkwkwkkwkwkw.

        WAAAAAAA KOK SAMA NYUN??? FIRST LOVE-KU DI DUNIA FANGIRLING ITU LI SYAORAN HUHUHUHUHU. TJAKEP BANGETTT BANGETTTTT!!!!

        aku ga ngikutin fairy tail sih, hehehe jadi kurang paham, tapi bolehlah buat referensi bahan tontonan laen, selaen si koplak Gintoki nyehehehehehe~ #lagidemenGintama

  6. lalayuri berkata:

    Hai kak Nyun, part ini ketegangannya bertambah, tambah keren kak, suka bgt, lucu deh pas bagian yg luhan ngejar kupu”, aku sampe ketawa sendiri ngebayanginnya. Juga pas sehun bilang dia tidak seperti luhan wkwk, minhonya kalem ya kak. Tpi aku ngakak juga yg pas minho sama luhan perebut selimut di sebelah yuri sampe selimutnya mau robek (?) Wow taurus itu tao ya kak klo gak salah di teaser, dia gak berwarna abu” tpi kenapa menyerang Yuri, dibagian akhir part ini bener” buat aku tegang. Ok aku next ya kak

  7. Choiindah berkata:

    Wahh ribet juga ya tentang permasalahan di dunia perbintangan,gimana nanti nasib kamarnya yuleon baru dpet 2 bintang aja ngerepotin bnget.Tauruss lgi ngamuk nihhh kira2 siapa yng jdi wujudnya??

  8. Ersih marlina berkata:

    Ow ow, masih permasalahin banteng atau sapi, hihi
    roh bintang bilng sapi yuri kkeuh banteng ktanya, dan itu taurus

    ups ups, kmna kris sma gemini, masa yuri berakhir tragis. Um lanjuut, smngat ka nyun

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s