KLISE : UNSTOPPABLE [Part 4]

 

Klise unstoppable

Sorry karena delay yang sangat lama! Aku juga manusia.

.

.

“Kwon Yuri!” Aku mendengar kali ke seribu Yonghwa memanggilku dari belakang. Aku tetap berjalan. Sendirian dan tanpa arah di bandara. Bahkan tadi hampir saja aku melupakan bagian dimana aku harus mengantre untuk mengambil barang-barangku yang berjalan di atas rel barang bandara. Untung ada Kim, manajerku yang mau repot-repot mengurus segala hal-hal kecil seperti itu.

Aku sejujurnya hanya mengambil sebuah tas kecil yang kusampirkan di bahu dan sebuah ponsel yang baru saja kunyalakan. Aku berjalan cepat menghindari kontak mata dengan Yonghwa. Aku sangat malu pada pria itu. Rasanya selama di pesawat, dia hanya membantuku untuk mengambil tissue dan mengusapnya pada pipiku. Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Walaupun Yonghwa memberiku ribuan tissue dan menghapus air mataku ribuan kali, luka yang Myungsoo torehkan tidak akan pernah tertutup.

“Kwon Yuri!” Kali ini Yonghwa sudah benar-benar hampir berdiri di belakangku. Saat aku menoleh, ia sudah memegangi tanganku erat. Matanya berkaca-kaca tapi aku yakin ia tidak sedang ingin memancingku untuk  jatuh dalam dunia gundah-gulananya lagi. Mungkin mata itu seperti rasa iba yang ia coba sampaikan padaku.

Tapi saat ia menatapku saat itu, kuharap ia tahu, bahwa aku benci dikasihani.

“Apa kau berhutang sesuatu padaku dan aku berhutang sesuatu padamu, Oppa?” Aku berbicara ketus padanya. Kami bahkan tidak bertatapan saat aku mengucapkan itu. Seperti yang kubilang tadi, aku tidak bisa menunjukkan mata bengkakku lagi padanya setelah berjam-jam di pesawat tadi. Lagipula, ini tempat umum. Aku tidak bisa menjamin tidak ada media yang menangkapku berduaan dengan seorang pria di sini. Meskipun tubuhku kini terbungkus jaket hampir sempurna.

Tidak merasa Yonghwa akan menjawabku, aku akhirnya melepaskan diri dari genggaman pria itu. Memang terlepas, tapi tidak ada niatan bagi pemuda itu untuk meninggalkanku sendiri. Ia mengikutiku, seperti sasaeng. Ia berjalan ketika aku berjalan, berlari ketika aku berlari dan berhenti ketika aku berhenti. Sampai pada akhirnya, ia ikut masuk ke dalam sebuah taksi yang kutumpangi.

“Apa maumu, Oppa?” Aku tidak tahan lagi. Saat aku mendudukan bokongku di jok belakang, Yonghwa sudah duduk tenang di sebelahku. Aku menyentaknya dan dia tidak bergeming. “Aku memiliki urusan yang tidak pernah melibatkanmu di dalamnya, Oppa.” Kataku lagi. Bisa saja aku lebih kasar dari ini, tapi aku masih menghargainya karena dia sunbae di sekolahku dulu. Aku masih menyebutnya Oppa di situasi seperti ini adalah tanda bagaimana aku memang menyukainya dulu. Walaupun kali ini, rasa cintaku pada Kim Myungsoo adalah lima kali lipatnya.

“Jangan temui Kim Myungsoo, Yuri-yah.” Katanya. Ketika mendengar ini, aku merasa… sedikit… oke, ini seperti ia memasuki areaku dan Myungsoo tanpa diundang. Hey, dia bukan siapa-siapa dalam kehidupan kami dan beraninya ia memberiku saran yang sama sekali tidak masuk akal. Hebatnya lagi, hal ini sudah berulang kali terjadi dan jujur saja, aku sudah mendengar kalimat seperti ini sebanyak lima kali sejak kami turun dari pesawat. Aku tidak habis pikir.

Oppa-ya, yang berkencan itu aku dan Myungsoo. Yang bertengkar itu aku dan Myungsoo. Yang bertunangan itu Myungsoo, dan ini akan menjadi masalahku. Tidak ada satupun masalah kami, yang melibatkan kau, Oppa. Kumohon jangan memberiku saran yang tidak masuk akal seperti ini lagi. Aku menghormatimu, Oppa.” Kataku. Kalimatku terdengar depresi, tapi percayalah. Aku dua kali lipat lebih depresi daripada yang kukatakan. Hidupku ini sudah cukup pelik dengan perubahan mendadak selama setahun terakhir, ditambah lagi, hari ini adalah hari terburuk yang tidak diinginkan pasangan manapun di muka bumi. Dan kabar buruk lainnya lagi, aku harus menghadapi hari ini tepat di depan wajah seorang pemuda yang pernah kusukai dan menyukaiku dulu.

Kalau kau pernah mendengar pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, yang kualami adalah tertimpa tangga dan terbenam di tanah sekaligus.

Aku tidak tahu juga apa kalimatku terlalu bagus atau Yonghwa memang tidak berniat membantah, tapi pemuda itu untuk pertama kalinya sejak kami turun pesawat, tidak mengocehi kalimatku. Ia diam. Ransel di punggungnya ia turunkan sehingga punggungnya lebih leluasa menguasai sandaran jok taksi. Aku menggeser tubuhku beberapa senti agar ia bisa merenggangkan tangannya tanpa mencoba menyentuhku.

Ia menguap beberapa kali. Kemudian tersenyum tanpa sebab seperti orang gila. Aku tidak tahu apa otaknya masih tertinggal di angkasa atau bagaimana. Aku memegangi ponselku erat berharap ada bunyi-bunyi notifikasi datar yang mampu mengubah suasana hatiku. Saat aku memandangi layar ponselku, tanpa kusadari selama itulah Yonghwa memandangi wajahku. Aku memelototinya tapi ia menggeleng kemudian mengecap lidah dengan santai dan membuang pandangan ke arah lain.

“Apa? Kau pikir aku terlihat menyedihkan?” Kataku. Yonghwa menatap jendela di sebelahnya, artinya, ia tidak ingin menatapku sebagai lawan bicaranya. Oke, baiklah, aku juga tidak ingin berbicara dengannya setelah apa yang ia lakukan padaku di Jepang dengan kata-kata kasarnya.

Kami dirundung kesunyian selama beberapa menit. Yonghwa masih dengan jendelanya dan aku masih dengan layar ponselku. Aku tidak mencoba untuk browsing atau mencari berita di internet walaupun aku sebenarnya bisa saja. Aku hanya takut akibat yang ditimbulkannya setelah itu. Bisa jadi, aku akan pingsan di tengah jalan. Jadi aku bertahan dan hanya menunggu notifikasi balasan dari Myungsoo.

“Hubunganmu itu tidak akan berhasil.” Kata Yonghwa. Dia seolah tahu apa yang kukhawatirkan. Tapi  bukan aku namanya jika aku tidak mendebat kalimatnya. “Aku yang menjalaninya, bukan kau.”

“Kenyataannya, hubungan ini memang tidak berhasil, Yuri-yah. Kau akan terluka, tak peduli cara apapun yang kautempuh.”

“Berhenti menceramahiku, Oppa.”

“Aku tidak pernah menceramahimu.”

“Kau membicarakan sesuatu yang sebenarnya ada di luar kendalimu, Oppa. Sadarlah. Bahkan kau tidak pernah benar-benar ada dalam kehidupanku dulu, bagaimana kau bisa memberitahuku hal-hal seperti ini?”

Yonghwa menelan ludah. Saat itu aku bisa melihat hidungnya yang kelewat bangir dan mulutnya yang kelewat merah muda. Dia tidak mengenakan make-up apapun tapi kulit wajahnya sempurna. Meskipun ia mengakui bahwa luka melintang di wajahnya sudah dioperasi dengan cermat, tapi aku masih melihat sayatan tipis di pelipisnya. Aku mengatakannya sayatan Harry Potter karena bentuknya yang meliuk di tengah membagi dua bagian atas dan bawah dengan ukuran sama. Seperti petir.

Tapi mengatakan Oppa, aku suka bekas lukamu di saat seperti ini adalah tindakan terbodoh luar biasa yang hampir saja kuucapkan. Untung Yonghwa berdeham dan mengembalikan kesadaranku dari memuja wajahnya. Aku melihat binar matanya yang meredup, bukan berkaca-kaca, tipe redup yang memang kehilangan cahaya dari luar.

Ia berbicara. Tapi tak sekalipun ia memandangku.

“Seseorang pernah bicara padaku bahwa untuk memahami perasaan seseorang, bahkan kau tidak perlu saling mengenal. Tidak ada alasan bagiku untuk ikut campur dalam kisah cintamu dengan Myungsoo. Tapi aku memiliki lebih dari satu alasan untuk mengenali rasa sakitmu. Tidak perlu menunggu kau menceritakannya, karena hanya dengan melihat wajahmu, aku sudah tahu bagaimana hatimu berbuih.”

Aku termangu. Yonghwa memiliki hal-hal mengejutkan dalam dirinya. Entah aku yang seperti baru mengenalnya atau dia yang memang berubah banyak, kalimat Yonghwa kadang seperti aspirin. Tapi kau tahu, saat itu aku menyadari bahwa terlalu banyak aspirin, akan membuatmu mati. Jadi aku diam.

“Mungkin kisah cintamu dan Myungsoo akan dikenal seperti drama-drama kisah candy-girl dan chaebol. Seperti kisah Geum Jan-di dan Gu Jun-Pyo yang terkenal. Tapi apa kau tahu, bahwa di tengah Jan-Di dan Jun-Pyo ada Yoon Ji-Hoo yang terluka diam-diam?”

Aku tidak paham arah pembicaraan ini. Tepatnya, aku tidak mau dengar.

“Bahkan drama tersebut tidak mau repot-repot menjelaskan cerita hidup Yoon Ji Hoo.” Tutupnya. Ia menyunggingkan senyum kecil saat ia menatapku di akhir kalimatnya. Kini senyumnya melebar ketika ia menarik napas dan menghembuskannya di permukaan jendela samping tubuhnya. Embun membekas di sana kemudian hilang dengan cepat karena cuaca yang panas.

“Jika kau tahu apa maksudku, jangan pernah pergi menemui Myungsoo lagi. Kau tidak boleh menderita terlalu banyak bagai Geum Jan-Di. Tidak ada yang akan menjamin akhir bahagiamu. Tidak ada sutradara dalam kehidupan cintamu. Jangan membuat Yoon Jiho-Yoon Jiho baru dengan kisahmu ini, Yuri-yah.”

Saat Yonghwa bicara, taksiku melintas di depan sebuah kantor megah dengan arsitektur masa kini yang dipadukan dengan taman-taman kecil sebagai bentuk ramah lingkungan di depannya. Tulisan besar dari huruf-huruf yang mengilat di terpa cahaya mentari berkilauan saat aku mulai membacanya KIM GROUP.

Entah apa yang membawa tanganku gatal untuk memberhentikan taksinya di sana. Aku masih dibayangi berita yang kubaca di internet, mengenai pengumuman pertunangan Myungsoo yang disampaikan oleh Jung Kahi, ibu kandung Myungsoo sendiri. Meskipun aku tidak pernah berbicara langsung pada Jung Kahi, tapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang salah antara Myungsoo dan Ibunya itu. Kim Myungsoo tidak pernah sekalipun menyebutkan nama ibunya bahkan ketika aku bertanya tentang keluarganya. Selain ayahnya yang sudah sakit-sakitan, Myungsoo enggan berkata apapun.

Sorot mataku berubah ketika Yonghwa lagi-lagi meyakinkanku agar aku tidak turun dari taksi. Katanya ia memilik firasat buruk. Tapi aku yakin firasat yang katanya buruk itu adalah akal-akalannya saja agar aku tidak bertemu dengan Myungsoo. Satu tempat di dalam hatiku berkata dengan yakin bahwa Yonghwa memiliki maksud terselubung untuk membuatku menjadi miliknya. Terdengar picisan? Tapi itulah yang kurasakan.

Yonghwa lagi-lagi seenaknya menahanku. Ia menggenggam tanganku tanpa menghiraukan tatapan tak sukaku padanya. Aku mencoba menggoyangkan tubuhku agar lepas dari tangan pemuda itu, tapi ia terlalu kuat. Aku geram.

“Berhenti menahanku, Jung Yong Hwa!” Aku cukup kasar kali ini, memanggilnya tanpa Oppa. Mungkin ia kaget, mungkin ia malu, mungkin juga ia merasa risih, entahlah. Tapi yang jelas, genggaman tangannya padaku sudah semakin longgar. Aku lega.

Aku mengusap pergelangan tanganku dan menatapnya tanpa rasa iba. Ia masih memohon kecil agar aku tidak pernah mengunjungi Myungsoo lagi. Hal itu membakar amarahku. Aku memelototinya sebelum aku pergi keluar dari taksi tersebut.

“Dengar Jung Yonghwa,” kataku. Udara panas baru saja bertiup di ubun-ubunku ketika Yonghwa bertukar pandang denganku. “Soal cerita Geum Jan-Di dan Gu Jun-Pyomu, sepertinya kau melupakan sesuatu…,” aku berhasil berdiri di ambang pintu dan bersiap untuk menutup pintu mobil taksinya saat kugumamkan kalimat terakhirku pada Yonghwa. “Jandi, Junpyo atau Jihoo memang menderita, tapi sadarlah, kisah mereka bukan kisahku. Aku tidak sama dengan mereka. Aku…” Aku menutup pintu mobilnya keras-keras. Suaraku makin kecil tapi aku bisa memastikan Yonghwa mendengarnya. “Aku sutradara, aktor dan cerita untuk kehidupanku sendiri.”

.

.

Kim Myungsoo berlari keluar pintu bandara ketika ia tidak menemukan Yuri. Ponselnya tertinggal di kantor dan ia terjebak di kerumunan fans dadakan yang menghalangi jalan keluar bandaranya. Jika bukan karena Kim—Manajer Yuri—yang entah bagaimana masih ada di area bandara, tentu Myungsoo tidak akan keluar hidup-hidup dari sana saat itu.

Lupa bersyukur bahkan lupa berterima kasih, segera setalah ia sampai di van yang seharusnya menjadi tumpangan Yuri menuju rumahnya, Myungsoo mencari-cari keberadaan Yuri. Kim gagal memberikan pemuda itu sebuah air mineral dalam suasana gugup seperti itu. Ia ikut-ikutan panik karena tidak mengerti apa yang Myungsoo inginkan dalam situasi seperti itu.

“K—Kau mencari apa?” Kata Kim gugup. Walau ia sudah beberapa kali diteriaki oleh Myungsoo, tapi diteriaki Myungsoo tanpa sebab adalah pengalamannya yang paling tidak menyenangkan. Kabar buruknya, pengalaman itu harus ia ulangi sekali lagi di sini. Kim sudah mengantisipasi hal-hal yang tidak pernah ia inginkan seperti mendapat hujanan cacian atau sebagainya, ia berjengit ketika Myungsoo menanamkan pandangan padanya dengan teliti.

Tapi Kim akhirnya berani memandang Myungsoo ketika dengan tenang, Myungsoo bertanya, “dimana Yuri?”

“Oh, kau mengagetkanku, Myungsoo-ssi…”

“Dimana Yuri!” Ternyata emosi yang ditahan Myungsoo hanya bertahan sepersekian detik saja. Kim terlonjak kemudian berkata gugup mengenai bagaimana Yuri meminta pergi sendirian untuk mencari pemuda itu dan tak lupa mengenai bagaimana Yonghwa mengikutinya.

Myungsoo tidak terlihat senang meskipun Kim menceritakan bagian Yuri mencari Myungsoo dengan tekanan-tekanan bahagia.

“Kau mau aku antarkan ke rumahmu atau…”

“Kim-ssi,” manik Myungsoo tidak kelihatan bersahaja. Kim menelan ludah. “Bawa aku ke suatu tempat dengan cepat.”

.

.

Aku belum pernah menginjakan kaki di gedung ini. Baik sebagai orang biasa maupun dengan status sebagai kekasih Myungsoo. Entahlah, rasanya aneh begitu aku masuk ke Lobby utamanya. Aku melihat pajangan dan ukiran-ukiran di sepanjang dindingnya. Kurasa itu bukan dari Korea, aliran abstrak kental dalam lukisan-lukisan anehnya adalah pencitraan horor yang kutangkap begitu aku selesai melewati Lobby.

Aku tiba di depan Lift. Dengan berbagai pasang mata yang seolah mengawasiku, aku berjalan masuk. Aku ingat soal Myungso menceritakan tentang lantai tiga puluh yang menjadi kantor utama direktur—dalam konteks ini, tentu Jung Kahi. Aku tidak tahu setan mana yang berhasil menghasutku untuk sampai di sini, tapi kuakui, aku terlalu mudah terhasut.

Ini keputusan yang salah tapi aku baru menyadarinya ketika pintu Lift terbuka di lantai dua puluh lima. Tinggal lima lantai lagi dan aku tidak bisa turun sekarang.

Pemikiran yang kupikir brilian tentang bagaimana aku berhadapan langsung dan meminta penjelasan Jung Kahi tentang isu ini rupanya telah membutakan akal sehatku. Dengan datangnya aku ke tempat ini, kupikir, ini sama artinya dengan aku tidak memercayai Kim Myungsoo dan segala apa yang akan ia katakan nanti begitu ia bertemu denganku.

Aku malah kesini, menjemput aura burukku sendiri.

Tapi aku punya rencana. Sederhana sih. Jadi begitu aku sampai di depan meja sekretaris dan ditolak mentah-mentah karena tidak memiliki janji dengan Jung Kahi, saat itu juga aku akan menghilang dan berjanji tidak akan pernah naik ke lantai tiga puluh kantor horor ini lagi. Kemungkinan rencana ini berhasil adalah sembilan puluh persen mengingat pastilah direktur utama tidak akan mau repot-repot menerima tamu biasa seperti aku.

Aku melenggang pelan. Dua pasang mata memerhatikanku dengan jijik. Mereka berbisik-bisik kemudian salah satunya mengangkat gagang telepon dan kelihatan berbicara di telepon dengan seseorang. Aku menghampiri keduanya saat teleponnya sudah kembali pada tempatnya.

“Kwon Yuri-ssi?” Katanya. Aku tidak kaget dia tahu namaku. Namaku mungkin sudah beberapa kali masuk ke dalam berita artis.

“Ya?” Jawabku.

“Kau sudah ditunggu di dalam oleh Nyonya Jung.”

Kuharap nyawaku sudah hilang sampai di situ saja. Aku tidak mau. Aku tidak mau masuk ke dalam. Aku tidak mau bertemu Jung Kahi walau ini kemauanku sendiri. Bodoh! Aku memang bodoh! Untuk kembali sekarang dan menghindar, rasanya sudah tidak berguna. Rencanaku gagal total dan kurasa… wanita bernama Kahi ini merencanakan sesuatu yang lebih besar padaku ketika aku melangkah masuk ke ruangannya.

Aku tidak menyangka, aku bisa sampai sebodoh ini masuk ke kandang singa.

.

.

Aku menutup pintu dan membalikkan tubuhku. Seorang yang duduk di sofa dengan pakaian kantor mahal menatapku lekat. Aku seperti ditelanjangi dengan mata bulat itu. Ia tidak menyuruhku duduk meskipun saat ini dia terlihat santai di atas sofa sambil menyesap minuman-entah-apa di cangkirnya. Aku juga tidak mau membuka mulutku hanya untuk berkata bolehkah aku duduk di sofamu, Nyonya Mertua dengan bodoh.

Kami hanya diam tanpa suara selama beberapa detik ke depan. Jung Kahi meletakkan cangkirnya di atas meja marmer tebal yang dihiasi oleh piring porselen China. Ia bersidekap sambil terduduk tegak di sofanya. Ia menatapku lagi.

“Baru saja pulang dari Jepang dan menemuiku, tentulah ada hal yang sangat penting. Benar begitu, Kwon Yuri-ssi?”

Ia tersenyum tapi senyumannya bagai racun. Aku hampir pingsan jika saja aku tidak mencoba menguasai diriku dari emosi aneh yang menjalari tubuhku ketika ia berbicara.

“Memang ada.” Kataku.

“Soal?”

“Pertunangan anakmu.”

Saat aku menyebutkan kata pertunangan, Kahi meledak dalam dunia tawanya sendiri. Begitu melengking bagai nenek sihir yang memakai gaun mahal. Ia tertawa dengan menutupi mulutnya sendiri dengan punggung tangannya sesekali, khas putri-putri raja.

“Kau sudah mendengarnya? Berita ini sampai ke Jepang?” Katanya lagi. Aku tidak tahan pada wanita ini. Tidak heran Myungsoo begitu membenci ibunya, aku saja yang baru berdiri di sini selama kurang lebih sepuluh menit sudah sangat terganggu dengan tindak-tanduk wanita paruh baya ini.

“Kau tahu aku sudah berkencan dengan Myungsoo selama setahun belakangan ini, Nyonya. Kupikir kau merestui kami.” Kataku tanpa ragu. Aku tidak suka berbicara berbelit-belit. Apalagi ini tentang Myungsoo.

Jung Kahi tertawa atas pernyataanku. Ia sampai harus repot-repot membuka sarung tangan tipisnya saat ia akan mengambil tissue karena salivanya yang tidak sengaja tercecer karena tawanya. Aku tidak bercanda, tapi ia tetap tertawa. Aku sempat berpikir apakah Ibu Myungsoo memiliki mental yang sehat?

“Merestui katamu?” Ia mengejek nada bicaraku. “Ibu dimana yang akan merestui putra semata wayangnya berhubungan dengan gadis benalu sepertimu, Yuri-ssi?”

Aku disebut sebagai gadis benalu. Wanita ini… sepertinya sangat membenciku untuk alasan yang tidak kuketahui. Aku membiarkannya tetap bicara karena aku butuh jawaban pasti, bukan perdebatan. Meskipun aku sakit mendengar bagaimana ia menyebutku dengan benalu, aku masih sangat kuat untuk menahan rasa sakit itu beberapa jam ke depan, asal aku mendapat apa yang aku inginkan. Sebuah alasan pasti.

“Kisah cintamu hanya bagian dari permainan anak-anak yang Myungsoo buat. Sama seperti Klise bodohnya itu. Dia tidak dilahirkan untuk menjadi pria seperti yang kau temani selama setahun terakhir. Dia chaebol, dia pewaris tunggal. Garis hidupnya sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang kaukenal.”

Wanita tua itu tersenyum padaku. Begitu jahat, auranya begitu jahat. Ia berdiri dan berjalan tepat ke arahku. Sepatunya berderak begitu menginjak lantai marmer. Langkahnya yang berirama membuat jantungku berdegup ketakutan untuk hal tidak pasti.

“Myungsoo kami, tidak pantas untuk berdampingan denganmu, Nona. Bangunlah dari mimpi-mimpi indahmu setahun belakangan ini dan terimalah kenyataan. Myungsoo tidak pernah mencintaimu. Myungsoo tidak akan pernah mencintai gadis sepertimu. Bahkan jika dia memang mencintaimu, aku akan membuatnya tidak pernah melakukannya lagi. Aku tidak akan tinggal diam, Nona Yuri. Satu tahun yang lalu kuanggap hadiahku padamu. Sekarang,” Wanita itu berbisik ketika mulutnya berada di atas pundakku. Ia memelukku, tapi kuartikan itu sebagai ancaman. “Sekarang, sudah saatnya kau memberikan hadiah itu kembali.”

.

.

Myungsoo baru saja ditinggalkan oleh sebuah van hitam yang mengantarnya ke sebuah rumah besar. Tidak terlalu mewah namun cukup besar untuk ditinggali hanya seorang pemuda di sana. Tidak, itu bukan rumahnya atau rumah keluarganya. Itu rumah Jung Yonghwa.

Myungsoo memang tidak pernah lagi bertemu Jung Yonghwa sejak pemuda itu dikabarkan telah meninggal karena kekerasan rumah tangga yang dialaminya. Jung Kahi pernah bercerita tentang kenyataan bahwa ia memiliki anak dari suami yang berbeda, namun saat itu Myungsoo tidak tahu bahwa yang dimaksud adalah Jung Yonghwa yang ini.

Meski begitu, terima kasih pada figura foto yang telah ditunjukkan Kahi tadi. Myungsoo kini tahu kebenarannya. Kebenaran bahwa Yonghwa masih hidup dan telah menjalani operasi plastik hingga wajahnya sama sekali berbeda dengan yang dahulu pernah ia kenali. Dan jika memang Yonghwa yang ini yang Kahi maksudkan, maka rumah besar yang berada di depan wajah Myungsoo saat ini adalah satu-satunya tempat tinggal yang memungkinkan baginya. Jung Yonghwa pasti tinggal di sini, di rumah pemberian Kahi yang ditelantarkannya bertahun-tahun lalu.

Myungsoo tidak memiliki niatan untuk menekan bel dan masuk ke dalamnya dengan segera. Sudah terlalu lama ia tidak singgah di rumah tersebut setelah Jung Kahi dan ayahnya menunjukkan padanya pertama kali lima tahun lalu. Sulit dipercaya, tapi mau tak mau Myungsoo harus mengakui bahwa ia dan Jung Yonghwa adalah saudara tiri seibu.

Hal tersebut adalah masalah pertama yang membuat hubungan ibu dan anak antara dirinya dan Jung Kahi menjadi semakin renggang. Meskipun sama-sama anak kandungnya, Jung Kahi kenyataannya tidak pernah memperlakukan Myungsoo bagai anak kandung. Bagi Myungsoo, di mata Kahi, hanya Yonghwalah anak satu-satunya. Mungkin masa lalu Yonghwa dimana ia pernah mengalami kekerasan rumah tangga oleh ayahnya mampu menarik rasa iba Jung Kahi. Dibanding dengan Myungsoo, masa kecil Jung Yonghwa seribu kali lipat lebih menyedihkan.

Ditinggal Ibu kandungnya yang menikahi pria kaya kemudian menghabiskan hidup bersama ayah miskin yang gemar memukulinya sejak kecil, tentu bukan cerita yang pantas untuk dialami Jung Yonghwa. Meskipun Kim Myungsoo merasa iba, tapi sejujurnya, itu bukan kesalahannya. Masa kelam Jung Yonghwa sama sekali bukan kesalahannya.

“Permisi, apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” Seorang pelayan muda kini berdiri di bagian dalam dari pagar yang berada di hadapan Myungsoo. Myungsoo berhenti melamun dan tersadar akan keberadaannya. Ia sudah membuang waktu beberapa menit hanya untuk berdiri termenung di depan rumah besar tersebut. Pelayan yang dilihatnya saat ini adalah pelayan yang sudah beberapa kali pernah menemuinya, tidak heran ia bersikap begitu sopan pada Myungsoo saat ini. Tanpa ba-bi-bu, pagar dibuka olehnya dan Myungsoo dipersilakan masuk. “Tuan Yonghwa masih belum kembali dari Jepang. Ia akan tiba sebentar lagi.” Kata si pelayan lagi.

Myungsoo dipersilakan duduk di ruang tamu. Pelayan tadi meninggalkannya dengan segelas air jeruk dingin dan beberapa camilan. Tapi Myungsoo sama sekali tidak tertarik pada suguhannya. Ia mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan tamu tersebut. Foto keluarga terpajang dimana-mana. Termasuk foto dirinya. Kenyataan fantastis bahwa Yonghwa masih menyimpan foto mereka meskipun Myungsoo sama sekali tidak pernah peduli padanya sejak tahu kenyataan bahwa mereka bersaudara, menggerakkan rasa penasarannya.

Sebisa mungkin, Myungsoo menolak hidup dengan bayang-bayang Jung Yonghwa. Rasa bencinya terlalu besar dibandingkan ikatan persaudaraan mereka.

Myungsoo berdiri dan meniliki beberapa foto di figura kecil yang terpajang di atas meja-meja kayu. Yonghwa merawatnya dengan baik. Beberapa lembar foto dirinya dengan Jung Kahi semasa wanita itu belum bertemu dengan Ayah Myungsoo. Dan sisanya adalah berlembar-lembar foto Yonghwa yang tumbuh besar sendirian. Sebagian foto kelulusan pemuda itu tidak menghadirkan wajah-wajah yang Myungsoo kenal. Tidak ada wajah Jung Kahi sebagai wali, tidak pula ada wajah ayahnya yang mungkin saat itu sudah tidak ada di dunia.

“Kehidupanmu jauh lebih baik dariku, Kim Myungsoo.” Myungsoo tersentak dan mundur beberapa langkah ke belakang dari foto-foto tersebut. Ia pikir barusan hanya halusinasinya saja. Tapi di sudut kirinya baru saja melintas seorang pemuda dengan ransel besar di punggungnya. Ia tersenyum sembari memberikan ransel tersebut pada seorang pelayan muda yang sebelumnya menemui Myungsoo. “Jadi berhentilah memandangi semua fotoku dengan mata mengiba begitu.” Sahut Yonghwa lagi.

Ia tersenyum tipis ketika Myungsoo terkekeh kecil. Myungsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menunggu saat yang tepat agar ia bisa masuk dalam dialog. Meskipun banyak yang akan ia tanyai dalam kepalanya tapi Myungsoo masih menunggu Yonghwa berbicara.

“Apa yang membawamu ke rumah yang paling kaubenci ini, adikku?” Yonghwa berjalan. Tentu ia berbicara dengan aksen yang membuat Myungsoo kesal sendiri. Ia pribadi tidak suka sebutan adikku dari kalimat Yonghwa. Myungsoo tidak pernah mengakui Yonghwa sebagai kakaknya, bagaimanapun.

“Katakan rencana busuk kau dan ibumu, Yonghwa.” Kata Myungsoo, ia menghilangkan panggilan kehormatan seperti Hyung atau imbuhan akhir ssi pada nama Yonghwa. Cukup menunjukkan bahwa Myungsoo memang tidak menganggap Yonghwa sebagai bagian dari keluarga atau orang yang seharusnya ia hormati.

“Ibuku? Itu ibumu juga, adikku.”

“Hanya di catatan negara. Di antara kau dan aku, dia bukan ibuku. Dan kau bukan saudaraku, berhenti memanggilku seperti itu, Jung Yonghwa!”

Yonghwa tersenyum. Saat itu Myungsoo bisa melihat bekas luka lama di pelipis Yonghwa. Sepertinya ada kegagalan operasi plastik atau semacamnya mengingat hanya bagian itu yang tidak pernah hilang dari wajah Yonghwa sebelumnya. “Apa niatmu mendekati Yuri?” Myungsoo mengalihkan topik saat Yonghwa membalikkan badan.

“Apa itu penting bagimu?”

“Yuri adalah kekasihku.”

“Tapi kau sudah akan bertunangan dengan orang lain.”

“Aku hanya mencintai Yuri!” Myungsoo berteriak. Saat itu Yonghwa sudah memandangnya. Dalam-dalam dan penuh dengan arti. Terlihat emosi yang tidak stabil dari wajah Myungsoo tapi Yonghwa berusaha tidak terpancing. Ia memasukkan tangan ke dalam saku.

“Aku juga,” katanya. Myungsoo membuka matanya lebar-lebar. “Aku juga hanya mencintai Yuri.”

BRUK.

Entah setan apa yang menguasai Myungsoo saat itu, kepalan tinju ringannya sudah menghujani wajah Yonghwa hingga keduanya berguling di atas lantai. Yonghwa tidak membalas melainkan mencoba menerima pukulan ringan dengan telak, sementara pukulan yang mengerikan ia hindari sedikit agar tidak berakibat fatal. Untuk alasan yang tidak diketahui, Yonghwa tersenyum.

Peluh Myungsoo menetes beberapa kali ketika ia menyelesaikan pukulan terakhirnya pada Yonghwa. Darah di sudut bibir Yonghwa meleleh keluar sementara Myungsoo menarik tubuhnya sendiri ke sisi yang lapang. Ia mengatur napasnya.

“Jangan dekati Yuri.” Katanya di sela-sela napasnya yang berat. Yonghwa beranjak bangun, beberapa pelayan memandangi dua saudara itu dari jauh tapi tidak berani melakukan apapun. Mereka hanya berbisik-bisik di balik tembok sambil mengamati yang tengah terjadi.

“Bagaimana caranya,” Yonghwa menggeser tubuhnya bersandar pada bagian belakang sofa terdekat. Ia merebahkan kepalanya di sana. “Berusaha menghindari cinta pertamamu di saat ia terluka karena pria yang dicintainya?”

“Aku tidak akan pernah membuatnya terluka!” Geram Myungsoo.

“Sadar atau tidak, kau akan membuatnya terluka, Kim Myungsoo. Cepat atau lambat. Berita pertunanganmu adalah salah satunya. Entah kau ingin percaya atau tidak, tapi apa yang kaudengar dari ibu, itu tidak ada kaitannya denganku. Aku sudah tidak pernah mendengarkan wanita itu lagi sejak ia berubah banyak di balik baju mahalnya. Aku memang kembali sekarang, tapi bukan untuk ibu atau untuk menghancurkan keluargamu,” Yonghwa mengangkat salah satu sudut bibirnya dan tersenyum hambar pada Myungsoo. “Aku kembali untuk gadis itu. Aku ingin menyelamatkannya dari kehancurannya bersamamu.”

Myungsoo mengepalkan tangannya dan kembali meraih kerah kaus Yonghwa. Saat ia akan memukul pria itu, Yonghwa menghempaskannya. Baru kali itu ia melakukan perlawanan.

“Yuri tidak pantas dengan pria seperti kau, Kim Myungsoo.” Katanya.

“Diam kau brengsek!”

“Kau hanya membuang-buang waktumu di saat Yuri semakin menjauh dari dirimu, bodoh.”

“Apa yang kau maksudkan? Yuri tidak pernah meninggalkanku! Dia mencintaiku!”

Yonghwa melakukan gerakan kotor dalam pukulannya. Ia memelintir tangan Myungsoo ke belakang dan menahannya begitu saja. Kini mulut Yonghwa berada tepat di telinga kiri Myungsoo. Dengan berbisik rendah, Yonghwa mengatakan sesuatu.

“Dia memang mencintaimu, Myungsoo. Tapi Ibu tidak pernah mencintai hubungan kalian.”

“APA MAKSUDMU!” Myungsoo berteriak dan mencoba melepaskan diri. Yonghwa masih menahannya meskipun ia melonggarkan cekikan di tangan Myungsoo. “Gadis itu mungkin masih berada di perusahaan. Dia tengah bertemu dengan Ibu.”

.

.

“Aku tidak serendah itu.” Aku menggeram saat seorang pria meletakkan sebuah koper penuh dengan uang bertumpuk di dalamnya. Ia pergi setelah Kahi menyuruhnya untuk meninggalkan koper itu di meja antara aku dan dirinya. Kahi tertawa. “Memang biasanya mereka akan berbicara seperti ini, tapi pada akhirnya mereka akan menerimanya juga. Itulah para benalu.”

“Aku tidak bersama dengan Myungsoo demi lembaran ini, Nyonya.” Aku geram tapi masih berusaha terdengar sopan. Harga diriku sudah dilukai terlalu banyak tapi aku tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengobati hal tersebut. Aku sudah beberapa kali melihat adegan seperti ini dalam drama-drama yang sudah kutonton di televisi, Aku hanya tidak bisa menyangka saja bahwa hal seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata.

“Terserah. Lagipula ini bukan sogokan agar kau meninggalkan Myungsoo-ku. Aku tahu kau jauh lebih mementingkan harga dirimu ketimbang hubunganmu dengan anakku. Ini hanya… apa ya? ucapan terima kasih karena menjaga anakku setahun belakangan?” Kahi terkikik. Aku meremas jaket yang kupakai.

“Aku tidak akan meninggalkan Myungsoo meskipun kau yang memerintahkanku.” Kataku lantang. Tawa jahat itu berhenti dan digantikan dengan keheningan yang teramat menyiksaku. Kahi melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala lagi dengan tatapan yang lebih menjijikan dari sebelumnya. Ia berdeham ketika ia akan bicara.

“Aku tahu para benalu biasanya akan bersikap demikian. Bukan berarti aku tidak siap untuk itu. Biar kujelaskan padamu, kau hanya punya dua pilihan di sini. Hitam atau putih. Aku tidak memiliki pilihan abu-abu untukmu.”

Kahi mengganti posisi duduknya menjadi lebih santai. “Kau bisa menjadi Yuri yang jahat dengan menerima uangku dan pergi tanpa jejak dari kehidupan Myungsoo selamanya,” Kahi berdeham. “Tapi kau bisa juga menjadi Yuri yang baik dengan bertahan di sisi Myungsoo hingga pemuda itu hancur karena cintanya sendiri.”

Aku membuka telingaku lebar-lebar.

“Myungsoo memang anakku, tapi ia tidak pernah menyebutku Ibu atau menganggapku sebagai ibunya. Aku juga tidak peduli apa yang akan terjadi pada anak itu. Tapi satu yang bisa kulakukan ketika ia memilih cinta bodohnya padamu dibandingkan perusahaan, aku akan menghancurkannya hingga ia tidak bisa menghina takdirnya lagi.”

“K—kau tidak bisa melakukan itu, Nyonya…” Aku terbata. Tidak ada tanda-tanda lelucon di mata wanita itu ketika ia mengatakan ia akan menghancurkan Myungsoo. Aku bergidik.

“Aku tentu saja bisa. Susah payah aku membangun keluarga ini dengan semua yang kubisa, aku tidak akan membiarkan bocah itu menghancurkan nama baik keluarga ini dengan membangun masa depan bodoh dengan gadis sepertimu. Jika itu terjadi, yang kulakukan adalah menghapus namanya dari keluargaku, dengan kata lain, aku harus menghapus nama Myungsoo dari hidupku.” Matanya melirik padaku, begitu angkuh. “Dan kau Nona Yuri, kau adalah yang paling bertanggung-jawab untuk itu.”

.

.

TBC

.

.

Yok yang kangen mana RCL nya.

146 thoughts on “KLISE : UNSTOPPABLE [Part 4]

  1. Disha Yurisistable berkata:

    Aaaaa..!! Ibunya myungsoo + younghwa jahat..!! Jadi kesel sendiri.. Aduhhh.. Yulnnie apa yang akan kau pilih..??!! Ff nya keren..!! Lanjutkan eonnie.. Tapi, aku boleh minta RW ga?? Hehehehe😀

  2. nana berkata:

    Hembb,
    konfliknya tambh pelik aja,
    emang kejam bnget ibu myungso.
    Ieh sumpah bikin greget orang aja.
    Ah buat yul eon kuat ya semangat.
    Pertahanin cntanya sma myungso oppa ne

  3. ybarom17 berkata:

    aku minta pw part 5 dong unn udah minta di cirius itu #? hihihihi tapi belum di kirim hihihihi oh iya unn kapan ghost slayer terbit hihihihi penasaran hihihihi 😀 oh iy hihihi lupa hihihihi ini emailnya hihihihi

    ybarom@gmail.com hihihihi😀

  4. Nikita Tirta berkata:

    Evil Mother…Perusahaan itukan milik Kim MyungSoo knapa Kahi nak sibuk??Membiarkan Myungsoo sejak kecil kini mengatur hidup Myungsoo..Dasar MATERLISTIK…But semua halangan pasti berjaya di lepasi dgn kuasa cinta.

  5. tyas arin berkata:

    ciat ciat ciat ktinggalan ni aq ..
    tuh yong-myung sdra ? aduhh ibuny jahat sx .. knp ap2 harta . hadeuh
    yuri jd sancai cantik+sexy ni dsni . hehehe

  6. Cha.Hyunsik berkata:

    Aqu baru nemu blog ini kemarin.. aku baca sekikas.. ternyta mnarik semua.. bhsa nya terurama yg ga bkin alay.. aku lgi bca klise yg ini.. part 5 di password yaa..?? Aqu boleh mnta password nya..? Email aku ini kak cha.anisa180592@gmail.com
    gomawo ^^

  7. sherlie wijaya berkata:

    Annyeong eonni ceritanya daebak banget tpi kasian myungso oppanya sama yul eonni semoga mereka selalu bersama
    Keep writing eonni
    Fighting

  8. ria monika berkata:

    eon aku reader baru disini, aku baca ff yeon dari awal itu ngebut dan asli sumpah ff nya daebakk banget^^ suka bgt sm ceritanya yg mudah dibayangin berasa kaya nnton dramkor:D oiya aku minta pass yg part 5 dong eon. email aku riamonika69@yahoo.com , Kirimin ne eon ditunggu ^^

  9. Luluu berkata:

    Kahi jahat sekaliiii -.- sebel jadinya.. yonghwa ga jahat kan sebenrnya???? Disini terkesan jahat ._. Huehehe..
    itu myungsoo nya…… nyari yuri ke bandara??? Wah semoga myungsoo keburu masuk ke ruangan jung kahi yaa hehe..
    great story kaknyun~

  10. Riska Dewi berkata:

    Itu Ibu apa nenek sihir sih jahat banget sama anaknya sendiri…trus Yuri ma Myungsoo kasihan banget..tapi Yonghwa juga kasihan sih…
    Ya semoga aja Yonghwa juga ngga jahat…..
    Aku next ke part 5nya ya Kayur ^^

  11. seria berkata:

    jd penasaran masa lalu yuri sm yonghwa.. Kenal dimana? 1 skolah sm yuri? Brrti breng myungso jg?

  12. Putri_KyuYul_130892 berkata:

    Wuaaah uda lama ga ngikutin ff ini jd kangen >.< Seperti biasa dri ff klise sampe sekuel ttp jjang ttp klise ff favorite q (y) ^^

  13. minyul generation berkata:

    Kejem amat mama a myungsoo,,
    Myungsoo a blom tw kan kalo yuri pergi ke jepang, yonghwa a ikutan??
    So sad,,

    Next part a d protect ya eonnie??
    Kirim PW a buat aq yaa,, sekalian yg vibrance
    Lia.wibowo92@gmail.com
    Gomawo eonnieya

  14. ssalmachoi berkata:

    OH MY GOD. aku baru bisa buka wp sekarang dan alhasil baru bisa klise unstoppable sekarangT_____________T MAAF kak, aku baru comment dipart 4 gara gara lemot sekalong iniiiiiiiiiiiiii. yaampun dah keren abis ini ff. btw part 5 di protect? MAMPUS AKU:””””””( aduh aduh cek dm twitter ya kak, mau minta pw. oke sekian.

  15. rensynsr berkata:

    Yuri dan myungsoo berada di masa-masa yang benar-benar sulit T.T aku ga tau kak nyun nyusun cerita gimana tapi aku jadi tambah penasaran aja.

  16. Bintang Virgo berkata:

    kak nyun…
    itu ibu atau iblis…
    masa sama ananknya sendiri gitu…
    myungyul tetap faighting ya……
    aku akan terus mendukung hubungan kalian…..🙂

    eh….
    part 5 di pw ya kak….
    bisa minta pwnya kak?
    kalau boleh di kirim ke bintangvirgo238@gmail.com aja ya kak….

  17. novita berkata:

    thor hehehe maaf yaa kalo baru coment sekarang, ff nya bagus thor mantep deh buat authornya, author kapan mau lanjutin ff yang goigon??? aku mau minta password nya part 5 di kirimnya lewat gmail aja ya author makasih🙂🙂

  18. Lulu Kwon Eun G berkata:

    gak nyangka, Yonghwa oppa suka nonton BoF wkwkwk
    bner itu Jung kahi kek nenek sihir.. kasian Myungyul,,😥
    ceritanya bagus bnget bagus kak, drama deh pokoknya…

    • kimchikai berkata:

      Kak nyun di pw ya part 5nya? aku minta pwnya dong yg chapter2 klise yg diprotek selain chapter 5nya? emailku fanifebriana5@gmail.com

      oh ya kak aku juga minta pw vibrance di page curious tinkerbele , bales ya kak:) aku tunggu pwnya.. Makasih kak:)

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s