GHOST SLAYER – STEP #7

Poster #7 Ghost Slayer

Maaf kelamaan, aku soalnya dihadang proposal Skripsi sama UAS sekaligus. Sebenarnya FF ini mau ku upload tadi malam, tapi aku disibukkan sama nonton drama-nya Kim Soo Hyun-Jun Ji Hyun << lagi suka My Man From The Stars. Jadi waktunya agak terbagi-bagi hahahaha.

Buat yang agak lupa sama cerita ini yuk baca yang PART 6 nya dulu

***

Yuri menggigiti bibirnya. Ia merangkak saat tubuh Zico jatuh tidak jauh dari tubuhnya berada. Inginnya ia menangis tapi air matanya seolah sudah surut. Sesaat tadi sebelum ia merangkak, Yuri bisa melihat seorang gadis kecil menangis di kejauhan, di antara rimbunan pohon. Saat ia mengerjapkan mata, gadis itu sudah menghilang. Yuri hapal betul wajahnya walau itu adalah kali kedua ia melihat wajah sedih tersebut. Hantu air, yang memberinya sebuah nasehat.

Apa yang dikatakannya tentang badai yang akan datang benar-benar terjadi. Jiyong, seorang pemuda yang ia percayai selama ini sebagai kakak kandungnya ternyata hanyalah seorang anak iblis. Dan Yuri sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan pemuda itu. Ironis.

Setelah semua yang terjadi, ia masih tidak bisa percaya. Bahkan ketika mereka menunjukkan kenyataan yang sebenarnya mengenai identitas Zico, Yuri tidak mau percaya.

“Kau baik-baik saja?” Yuri menggoyangkan tubuh Zico. Darah merembes keluar dari setiap pori-pori di daerah pergelangan tangan kanan dan kirinya. Seperti luka akibat infusan yang ditarik paksa. Saat darah membasahi bajunya, Yuri tahu bahwa Zico tidak baik-baik saja meskipun ia berusaha terlihat demikian.

Groaarrr.

Entah setan apa yang sudah masuk ke dalam tubuh Jiyong kali ini. Meskipun ia beberapa kali pernah menjadi media perantara antara kingdom dan dunia nyata, tapi pemandangan ini adalah kali pertama bagi Yuri.

Tidak ada wajah Jiyong yang baik hati dan bijaksana seperti yang ia lihat setiap hari dalam sosok murka di depannya. Mata hijau melambangkan sebuah kebencian yang tidak terlalu jelas. Makhluk itu hanya mengaum dan mengaum tidak tahu lelah. Chaerin melihatnya takjub tapi tidak berusaha menghentikannya.

Well, rumor yang mengatakan kau lebih kuat dariku sepertinya benar. Bahkan kau belum bisa mengendalikan kekuatan ini.” Chaerin bergumam. Ia bersidekap kemudian berjalan mengitari Jiyong. “Tidak bisa bicara, hanya mengaum. Kau tidak banyak berguna untuk saat ini, Jiyong. Sungguh mengecewakan.” Katanya lagi.

Chaerin mendongak dan memicing tajam ke arah Seunghyun dan Victoria yang sudah bersiap dengan gun-kitnya. Meskipun begitu, keduanya tidak memiliki niat sedikitpun untuk menembakan peluru perak pada dua makhluk di depannya. Baik Chaerin maupun Jiyong juga sepertinya tidak peduli. Bagi mereka, keberadaan keduanya hanyalah sampah yang tidak berguna. Entah sampah itu akan pergi atau tidak.

“Kau bisa menonton pertunjukan ini sampai selesai, Seunghyun-ssi.” Chaerin terkekeh puas. “Karena aku baru saja akan mulai.”

Chaerin, dengan kuku-kuku tangannya yang tajam menggores luka pada tubuhnya sendiri hingga lendir hijau menuruni tubuhnya seperti sebuah air terjun. Ia memandangi Yuri dan Zico sekilas kemudian berjongkok. Dengan jari telunjuknya, ia berhasil membuat sebuah pentagram kecil dari lendir hijau miliknya.

“Aku persembahkan pertunjukkan Lee Chaerin pada kalian,” pentagram yang ia gambar kemudian memuai. Ukurannya semakin besar dengan lendir-lendir yang membentuk rusuk-rusuknya. Chaerin tersenyum tipis penuh kemenangan. Ia membentangkan kedua tangannya seraya mempersembahkan mahakarya terbaru di bawah kakinya, “ritual suci membuka gerbang kingdom.”

Seunghyun membelalakkan mata. Victoria malah gemetar dan beberapa kali berusaha untuk berlari saat Chaerin lengah. Tapi ia selalu gagal di langkah keduanya, rasanya ada perasaan yang mengganjal ketika ia akan berlari dan menjauh dari tubuh Seunghyun. Pada akhirnya Victoria akan kembali dan berlindung di balik lengan Seunghyun.

Yuri membuka matanya sedikit. Ia melihat cahaya yang gelap keluar dari bawah kaki Chaerin. Hanya setetes. Tapi tetesan itu kemudian membelah, dan membelah lagi hingga akhirnya ratusan tetes titik hitam kini menjalari kaki-kaki Chaerin. Tidak hanya Chaerin, malah sebagian besar titik jelaga hitam sudah berada di bawah kaki Jiyong, seolah sedang menunggu komando Jiyong dan menenggelamkannya kapanpun.

“Memang menyenangkan berada di rumah, walau hanya pintunya saja. Benar begitu kan Yuri?” Chaerin tertawa. Yuri tidak begitu mendengarkan karena perlahan, kesadarannya seakan terenggut. Sesuatu bergejolak di dalam perutnya dan membuat gadis itu mual. Ia berusaha menekan rasa mualnya dengan memejamkan mata dan terbatuk, tapi kuasa mual akan perutnya tidak begitu saja hilang.

Victoria melihat sendiri keadaan genting. Mereka sudah salah perkiraan. Kini matanya menuntut penjelasan atas apa yang terjadi. Satu-satunya yang bisa ia tanyai adalah Seunghyun.

“Apa yang dia coba lakukan?”

Seunghyun mengerutkan keningnya. Jelas sekali ada yang tidak beres di sana. Ia menarik lengan Victoria untuk mundur beberapa langkah hingga keduanya begitu dekat dengan beberapa pepohonan. Seratus meter dari tempatnya, ada Yuri dan Zico yang mulai kembali kehilangan kesadarannya. Mata Seunghyun sangat awas, bahkan semut yang berjalan di sekitar darah Zico pun ia tahu.

“Chaerin mencoba membuka gerbang kingdom dengan paksa. Mungkin ia bermaksud kembali ke dunia asalnya. Gawat.” Seunghyun berbisik. Ia berbicara serendah mungkin agar telinga tajam Chaerin tidak dapat mendengarkan apapun. Sebenarnya ia tidak perlu melakukan hal tersebut. Ritual yang dilakukan Chaerin menimbulkan suara auman yang berisik, seperti kumpulan suara makhluk astral yang menjerit dan minta dilepaskan. Jadi biarpun Seunghyun bicara keras, ada jaminan Chaerin tidak akan mendengarkan.

“Apa yang gawat? Sungguh sangat bagus jika ia berusaha pulang ke dunianya sendiri tanpa bantuan kita.”

“Victoria-ssi,” Seunghyun mengatur napasnya. Ia menyusun rencana di dalam otaknya. “Apa kau pernah melihat gerbang kingdom pernah terbuka sebesar ini?”

Victoria menatap nanar sebuah lubang hitam besar di bawah kaki Chaerin. Baik Chaerin dan Jiyong mengambang di atasnya. Di bawah mereka ada tangan-tangan dan tubuh-tubuh yang sudah tidak berbentuk mencoba menggapai-gapai daratan. Bahkan beberapa yang menyentuh kaki Chaerin kini sudah ia injak sampai hancur.

“Ini pengalaman pertamaku.” Kata Victoria. “Apa sesuatu yang buruk akan terjadi?”

Seunghyun mengecapkan lidahnya. “Ini adalah kali keduaku, sebenarnya.”

“Hal ini pernah terjadi sebelumnya?”

“Ya.”

“Selalu seburuk ini?”

“Dahulu bahkan lebih buruk. Kwon Shiwoon, sebenarnya meninggal dalam misinya menutup lubang besar ini.”

Victoria mengerutkan keningnya. Sebentar-sebentar ia kadang menggelengkan kepala tak mengerti. “Kaubilang Zico-lah penyebab kematian Shiwoon?”

Seunghyun menatap Victoria. Kemudian maniknya mengedar pada situasi di sekitarnya. “Setiap orang memiliki rahasia. Kadang kau hanya perlu sedikit membohongi orang lain untuk membuktikan dugaanmu.”

“Apa kau coba mengatakan bahwa sejak awal kau tahu identitas mereka berempat?”

Seunghyun mengangguk pasti. Tapi arah matanya masih tidak begitu jelas. “Aku tahu semuanya,” Ia menatap Victoria pada akhirnya. “Termasuk kenapa kau masih mencoba berakting dengan semua pertanyaan yang jawabannya sudah kau ketahui sejak lama, Victoria-ssi.”

Auman mengerikan yang datangnya dari lubang hitam kini semakin membabi-buta. Chaerin menarik Jiyong berdiri di tengah. Saat itu, tubuh monster Jiyong tiba-tiba terangkat ke atas seolah terlontar oleh gaya pegas besar. Ia mengambang lima meter dari atas tanah. Chaerin berada tepat di bawah kakinya.  Ia berteriak, “Kingdom Gate, terbukalah atas perintahku. Terimalah persembahanku!”

Victoria tidak bisa menutup mata mengingat kejadian besar akan segera terjadi dalam beberapa menit ke depan. Tapi perbincangannya dengan Seunghyun belum benar-benar selesai. Ia menarik napas. Yang dikatakan Seunghyun barusan mengganggunya. Meskipun ia tahu beberapa hal soal kebenaran dan identitas empat orang itu, tapi sesungguhnya ia baru saja mengetahuinya ketika ia mencuri dengar perbincangan Chaerin dan Ibunya di sel tanpa seorangpun tahu. Ditambah lagi kenyataan yang ia dapatkan ketika mencoba menekan kekuatan di dalam tubuh Yuri. Kekuatan aneh gadis itu sempat membuatnya yakin bahwa Yuri dan Jiyong memiliki rahasia yang bahkan mereka sendiri tidak tahu.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Kata Victoria akhirnya.

“Aku melihatmu keluar dari sel tempat aku menahan Kwon Hani. Aku juga melihatmu membuka berkas identitas Kwon Jiyong dan Kwon Yuri di pusat data Mansion. Dan asal kau tahu saja, aku tidak akan memberikan tugas ke Jepang padamu jika kau tidak tahu apa-apa. Nantinya akan jadi masalah tentu saja. Kau gadis yang pintar. Aku tahu apa yang kau lakukan dan aku percaya kau sudah melakukannya dengan baik. Apa aku benar?”

Victoria berdeham. Ia memandangi Seunghyun. Sudah lama rasanya ia tidak dipuji oleh mantan kekasihnya itu.

“Kau bukan gadis murahan yang akan menerima uang di atas segalanya. Aku tahu alasan kenapa kau menerimanya dengan mudah. Mungkin saat itu kau sadar, bahwa pembicaraan kita sedang didengarkan oleh Lee Chaerin dan kau memutuskan untuk bersikap seolah kau setuju tugas ini karena uang. Oh, tidak ada yang akan mengenalmu sebaik aku, Vict!”

Duar!

Ledakan besar dan Yuri terpelanting beberapa meter dari tempatnya berbaring. Zico terlepas dari pegangan eratnya dan terpental entah kemana. Rasanya tulang rusuk Yuri hampir patah mengingat ia baru saja terhempas di atas sebuah batu besar. Bunyi krek sudah bukan bunyi asing lagi baginya dan hidungnya kini sudah terbiasa dengan amisnya darah merah dari seluruh tubuhnya.

Meski rasa sakit yang ditimbulkan Chaerin luar biasa parahnya, tapi rasa mual yang dirasakan Yuri adalah dua kali lipat lebih parah. Mualnya seperti mengiris-iris lambungnya kemudian mencacah ususnya hingga berkeping-keping. Sampai-sampai Yuri takut jika ia muntah nanti ia justru akan melontarkan organ-organ tubuhnya.

Hanya membayangkannya saja sudah mengerikan.

“Rencana milikku untuk meringkus Chaerin dan Jiyong sekaligus gagal karena aku kurang cepat.” Seunghyun melirik ke arah Yuri yang meringkuk kesakitan kemudian menjerit. Lengkingannya menyentuh oktaf ke delapan dan membuat beberapa burung hantu beterbangan menjauh. Zico membuka matanya sedikit dan melihat Yuri meronta dan menggigit apapun yang dapat ia gigit. Hanya melihat saja ia sudah tahu seberapa besar rasa sakit yang dirasakan gadis itu.

Sementara itu di sekeliling Chaerin telah terbangun pilar-pilar yang asalnya dari cahaya hitam. Pilar tersebut berjumlah lima dan terpasang di setiap sudut terluar dari bentuk bangun datar pentagon di bawah kakinya. Sebuah pilar lebih besar muncul lagi di tengah-tengah.

Tingginya sekitar delapan meter dari tanah. Pilar paling tengah adalah satu-satunya yang memiliki tinggi lebih rendah, sekitar lima meter.

Pilar tersebut kemudian menjadi pijakan Jiyong. Tubuh yang meraung tidak stabil itu mendarat dengan amukan di sana. Tapi tidak terlalu lama karena tali-tali hitam yang terbuat dari kegelapan mengikatnya di ujung pilar. Tubuh Jiyong terikat di ujung dari pilar dan masih meronta minta dilepaskan meskipun hanya dengan auman.

Pilar itu terlalu kuat. Jiyong hanya membuang-buang waktu.

Chaerin tertawa, memekik keras. Rencananya berjalan sesuai dengan kebutuhan yang ia inginkan. Tidak kurang, tidak lebih. Ia bermaksud membuat Jiyong sebagai persembahan demi membuka gerbang Kingdom dan membebaskan iblis—ayahnya—dari dunia hitam itu.

Atau mungkin Chaerin merencanakan hal-hal hebat lain seperti membuat makhluk astral bisa hidup di dunia nyata atas sejenisnya. Tidak ada yang tahu. Satu yang pasti, kenyataan bahwa Jiyong akan mati jika Chaerin meneruskan semua rencananya.

Hanya darah kingdom yang bisa membuat gerbang sebesar itu. Jiyong dan Chaerin telah melakukannya. Mereka membuka pintu yang seharusnya tidak pernah terbuka.

Victoria menyabet pandangan dari Seunghyun saat pemuda itu mulai memerhatikan enam buah pilar dari kegelapan di hadapannya. Victoria membuat Seunghyun melihat ke arahnya, kemudian ia membuang pandangan Seunghyun agar fokus mereka tertuju pada Yuri yang masih kepayahan.

Victoria tersenyum. “Kau bilang rencanamu gagal.”

Cahaya dan lelehan hijau keluar dari telinga dan hidung Yuri. Ia mengejang hebat. Saat seberkas cahaya gelap menggerayangi tubuhnya, sinar-sinar lebih terang yang lain menghalaunya. Darah hijau yang menetes dari hidung dan telinga Yuri sirna tidak berbekas. Yuri memuntahkan cairan bening kemudian terbatuk keras. Rambutnya menutupi seluruh wajahnya hingga Seunghyun menunjukkan sedikit senyuman tipisnya pada Victoria.

Victoria menarik napas. “Tapi rencanaku sepertinya berhasil tanpa kau ketahui.”

.

.

Tubuh Yuri bermandikan cahaya putih yang sangat terik. Seperti cahaya matahari yang masuk ke dalam celah-celah sempit sebuah rumah tua. Rasanya hangat dan menyenangkan. Mualnya sudah hilang dan dia dapat berdiri tegak. Yuri yang sebelumnya mengira tulang rusuknya sudah hancur lebur menjadi serpihan yang tidak pernah ia inginkan, kini patut bersorak karena pada kenyataannya, ia tidak kehilangan apapun.

Tubuhnya dapat dipakai dengan normal. Meskipun seluruh baju dan celana yang dipakainya sudah tertutup oleh amisnya darah merah dan lendir hijau, kondisi tubuh yang dibalutnya baik-baik saja. Entah apa yang terjadi.

Victoria tersenyum di kejauhan.

“Apa yang terjadi?” Kata Seunghyun.

“Ingat saat kau memerintahkanku untuk menekan kekuatan Yuri?”

“Ya. Apa kau berbohong soal itu?”

“Oh,” Victoria tertawa. “Tidak, tidak sama sekali. Benar bahwa aku memang menekan kekuatannya dari nilai sepuluh persen hingga pada akhirnya ia bisa memakai kekuatan monster yang ada di dalam tubuhnya. Tapi yang kulakukan pada saat itu, lebih kompleks daripada hanya menahan kekuatan Yuri.”

“Lantas? Apa yang kau lakukan pada gadis itu?”

“Ada alasan mengapa kedua bersaudara ini menjadi pembawa kekuatan iblis anak-anak Hani. Aku menemukannya saat aku memeriksa kekuatan Yuri. Ia memiliki kemampuan blending yang kuat.”

Blending?”

“Kekuatan Yin dan Yang, hitam dan putih. Semua ghost slayer memiliki kadar kekuatan Yin dan Yang secara seimbang yang terpisah. Lain halnya dengan Yuri dan Zico, keduanya dikaruniai bakat Kwon Shiwoon. Blending adalah proses penyatuan Yin dan Yang menjadi kekuatan baru tapi tidak menghilangkan komposisi Yin dan Yang yang sudah seimbang tersebut. Singkatnya, bagi Zico dan Yuri, sumber kekuatannya bisa terbentuk kembali bahkan ketika kekuatan Yin dan Yang mereka sudah hancur. Mereka hanya perlu menahan rasa sakit dari proses blendingnya. Seperti yang barusan Yuri lakukan.”

Perlu Seunghyun akui, ia memang tidak pernah meragukan kecerdasan dan cara cepat berpikir Victoria. Mungkin gadis itu memang payah dalam urusan asmara, tapi intelejensinya di luar perkiraan siapapun. Cetusan idenya selalu tepat sasaran dan efisien.

“Yang kulakukan saat aku menekan kekuatan Yuri beberapa hari yang lalu adalah menekan kekuatan putih-nya. Aku membuat kekuatan itu menurun drastis hingga kekuatan hitam milik Yuri yang keluar. Setelah kekuatan hitam itu habis, Yin dan Yang Yuri yang sudah sama-sama terkuras akan melakukan blending dengan sendirinya dan membuat sumber kekuatan baru bagi penggunanya. Dari sini kau bisa menyimpulkan sendiri apa yang terjadi.”

Jiyong mengaum saat Victoria sampai pada kalimat paling akhirnya. Gadis itu sudah tidak gemetar karena sebenarnya, semua rasa takut dan perasaan gentar tadi hanya aktingnya belaka. Victoria tidak mau serta-merta menunjukkan bahwa ia tahu segalanya pada Seunghyun karena ia juga perlu pembuktian di pihak mana Seunghyun berada.

Gadis itu memancing Seunghyun dengan memberikannya pertanyaan soal identitas dan semua informasi yang ia ketahui. Dan saat itu, adalah ketika Victoria tahu apa yang ia lakukan adalah benar. Apa yang ia harusnya percayai adalah benar.

Seunghyun berada di pihak yang sama dengannya.

Yuri menoleh ketika Jiyong memukul-mukul pilar yang cukup keras. Ia memandangi Jiyong yang tidak ia kenali dengan mata nanar. Dari matanya saja, siapapun sudah tahu betapa perihnya perasaan Yuri.

Jiyong mengaum lagi. Kali ini sebuah cahaya yang menyerupai silet raksasa mengiris lengannya perlahan hingga darah hijau kental merembes keluar. Cairan kental itu melesat ke angkasan kemudian terjatuh ke pilar hitam hingga warna hitamnya perlahan memudar dan diselimuti warna hijau pekat.

Tidak berhenti, cahaya gelap seperti silet itu melukai tubuh Jiyong beberapa kali hingga perutnya mengalami pendarahan hebat. Ia meronta dan mengaum, mungkin terdengar seperti amukan tapi yang Yuri dengar adalah teriakan minta tolong. Entah, entahlah.

Yuri mengepalkan tangannya. Setiap cahaya gelap itu mengiris dan melukai tubuh Jiyong di saat itu juga hatinya teriris. Semakin sakit ketika Chaerin tertawa penuh dengan arogansi sambil berteriak menyebut-nyebut kalimat asing yang terdengar seperti kutukan kuno.

Guruh.

Petir.

Tanah bergoyang keras.

Saat itu, pilar tempat Jiyong terikat sudah penuh dengan cairan kental. Warna hitamnya benar-benar sudah ditutup warna hijau. Darah itu merembes ke dalam lingkaran yang dibuat Chaerin dan menggetarkan seluruh dataran yang mereka pijak. Pohon-pohon layu dan tumbang seketika. Udara jadi menyesakkan, seolah oksigen sudah terisap ke dalam lubang hitam tersebut. Zico hampir terlontar lagi jika Seunghyun tidak berlari dan melindungi tubuhnya dari angin kencang yang berbau seperti mesiu.

Victoria mengekori Seunghyun kemudian mereka berdiri beberapa meter di belakang Yuri. Victoria tahu betul apa yang ia lakukan. Tapi ia tidak tahu apa yang akan Yuri lakukan.

Victoria meremas tangannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya sambil berharap-harap cemas.

Maniknya menatap lurus pada punggung Yuri.

“Sekarang, nasib empat orang yang terikat benang merah tersebut, terserah padanya.”

.

.

 

Ada empat orang terikat benang merah.

Tiga akan lari sementara seorang yang paling lemah akan terpuruk.

Salah satu yang terkuat akan membutuhkan yang terlemah.

Seseorang akan mengorbankan dirinya dan bergabung dengan yang terkuat.

Pengkhianatan akan muncul.

Jiyong terbangun begitu saja.

Napasnya tersengal-sengal. Berapa kalipun ia berusaha terlihat normal, tapi diafragma dan paru-parunya tidak bekerja seperti yang ia inginkan. Ia bergulat beberapa lama dengan keadaan aneh tersebut sampai akhirnya ia tahu bahwa lubang hidung dan rongga mulutnya adalah penyebab utama kenahenan pada paru-parunya.

Ada banyak lendir hijau di sana. Jiyong harus mendorong lendir tersebut dengan dengusan napas yang kencang berkali-kali hingga semua lendirnya benar-benar keluar. Ia bahkan harus memuntahkan salivanya bersamaan dengan lendir yang berada di sekitar lidah dan rongga mulutnya.

Entah darimana datangnya lendir tersebut, pikir Jiyong. Setahu dirinya, ia hanya terbaring di atas tanah sambil menyaksikan kejahatan dan kenyataan yang Lee Chaerin paparkan di hadapannya.

Oh!

Mungkin itu!

Jiyong baru saja berpikir apa yang terjadi setelahnya saat ia ingat bahwa sesuatu yang panas menghujani tubuhnya. Ia kesakitan kemudian pingsan. Dan saat ia terbangun, kini ia berada di suatu tempat hampa yang hanya ada dirinya sendiri.

Tubuh Jiyong dibalut perban sebatas leher seperti mumi. Entah pergi kemana semua baju kerennya dari mansion. Meskipun dibalut perban, tangan dan kaki Jiyong luput dari ikatan. Ia bisa bergerak bebas dan berjalan kemanapun ia mau.

Tapi mau kemana?

Ruangan tempat ia berdiri seperti tidak akan pernah ada ujungnya. Sejauh mata memandang hanya hamparan pasir di antara cahaya remang. Jiyong mendengar suara tetesan air yang jatuh dengan ritme teratur, tapi ia tidak tahu darimana datangnya. Seolah ia sudah dibutakan arah oleh ruangan hampa tersebut.

Bahkan sesaat tadi, ia hampir tidak bisa bernapas dengan normal.

Segalanya menjadi asing untuk Kwon Jiyong.

“Halo?” Ia mulai berbicara. Hal yang perlu ia pastikan adalah : semoga ia tidak satu-satunya orang di tempat aneh tersebut. “Halo?” Dua kali. Tapi tidak ada gaung ataupun sesuatu yang membuat Jiyong yakin bahwa ia tidak sendirian. “HALO?” Ia menaikkan nada suaranya tapi tidak ada apapun yang terjadi.

Frustasi, begitulah Jiyong ketika ia melemparkan segumpal pasir di tangannya ke udara. Pasir itu menguar di atas kepalanya dan terurai. Jiyong memejamkan mata untuk menunggu pasir itu menghujani tubuhnya. Lima detik berlalu tapi tidak ada yang menghujaninya.

Jiyong mendongak ke atas dan melihat butiran-butiran pasir seperti dibekukan di udara. Tidak bergerak, tidak jatuh ataupun berhamburan. Posisinya stagnan selama apapun Jiyong mencoba tidak berkedip.

Berbekal penasaran, Jiyong melemparkan segumpal pasir yang lain ke udara. Ia menunggu reaksi pasir tersebut. Kali ini matanya tidak terpejam. Jiyong tidak ingin ketinggalan sepenggal momen yang bisa membuat matanya memercayai apa yang ia lihat.

Tapi hal tersebut terjadi begitu saja, tidak bisa Jiyong jelaskan bahkan setelah melihat. Butiran pasir tersebut seperti berhenti pada ketinggian tertentu dan tidak bergerak. Adegan ini persis seperti sebuah penghentian waktu dan ruang. Ia pernah meliat ini di film-film Hollywood tapi tidak pernah menyangka akan ada di dunia yang ia lihat itu.

Tunggu.

Jiyong berpikir keras.

“Apa aku sedang berada di alam mimpi?”

Jiyong menepuk pipinya beberapa kali. Sempat ada rasa perih ketika ia menampar pipi kirinya terlalu keras. Jiyong mengaduh tapi tidak cukup keras untuk didengar.

“Ini bukan mimpi?” Katanya heran.

“Ini tentu bukan mimpi.” Suara asing hadir di telinga Jiyong. Ia tidak lantas menoleh ke arah sumber suara. Karena hal yang terjadi di sekitarnya sangat tiba-tiba dan hampir menyerupai trik ilusi, Jiyong berjaga-jaga dengan kejutan yang satu ini. Malah ia hampir berpikir suara itu hanyalah suara perutnya yang mencoba berbicara.

Entahlah, di dunia aneh apapun bisa terjadi kan?

Tapi persepsi itu langsung patah ketika Jiyong melirik pada sumber suara. Seorang pria dengan perban yang melilit tubuhnya berjalan pelan. Wajahnya hampir tidak terlihat karena ditutupi perban. Kaki dan tangannya bebas dari lilitan mengikat tapi tetap saja ada perban-perban yang bergelayut manja di tubuh pria tersebut.

Ia berjalan dengan tenang ke arah Jiyong. Sulit bagi Jiyong untuk menjelaskan apa ekspresi dari pria tersebut mengingat wajahnya sudah ditutupi oleh perban.

“Selamat datang.” Katanya hangat. “Tidak banyak anak muda yang datang kemari. Oh, mungkin kau adalah yang pertama.”

Jiyong mengerutkan kening. Ia disambut dengan ramah? Pada lingkungan yang aneh ini?

“Maaf, kau siapa dan ini di mana?”

Sosok pria itu tertawa. Jiyong mendengarkan bagaimana tawa beratnya terputus-putus karena batuk beberapa kali. Mungkin ia perokok, pikir Jiyong. “Tempat ini? Oh, kenapa kau bertanya padaku? Kau yang menciptakan dunia ini. Harusnya kau lebih tahu daripada aku.”

Jiyong memiringkan kepalanya. Ia benar-benar bingung. “Seperti katamu, ini kali pertama aku berada di tempat seperti ini. Bagaimana bisa kau mengatakan tempat ini diciptakan olehku?”

Sosok dalam balutan perban itu terkekeh. “Tidak pernah menginjakkan kaki ke suatu tempat bahkan sekalipun, tidak berarti orang tersebut tidak pernah membuatnya.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Pencipta game bahkan belum tentu bermain game yang ia ciptakan. Pencipta tempat ini belum tentu bisa datang kemari. Ini kali pertamamu sejak kau menciptakan dunia ini. Tadi sudah kukatakan, selamat datang.”

Jiyong tidak suka ucapannya diputar-putar. Apalagi oleh orang asing yang wajahnya tidak terlihat.

“Kapan aku menciptakan ini? Lagipula ini di mana? Apa manfaatnya aku menciptakan tempat hampa seperti ini?”

“Justru itu yang akan aku tanyakan padamu. Kenapa kau membuat tempat seperti ini dan menaruhku di sini? Jujur saja, aku lebih suka tempatku yang dulu. Lebih nyaman.”

“Kau bicara apa? Siapa kau?”

“Kwon Ji Yong…”

“Lihatlah! Kau bahkan tahu namaku! Siapa kau?”

Sosok dalam perban itu terkekeh kecil untuk ke sekian kalinya. Jemarinya meraih ujung perban yang melilit wajahnya. Sosok pria itu terus mengurai perban sedikit demi sedikit hingga kini hidungnya yang mancung terlihat jelas oleh Jiyong. Tidak berhenti sampai di sana, saat perban hampir terlepas dari wajah misterius tersebut, Jiyong hampir menjatuhkan dagunya.

Ia ternganga.

Keningnya berkerut heran tapi lebih ke arah tidak percaya.

Yang dilihatnya adalah yang tidak pernah ia sangka. Dan rasanya… itu sangat nyata.

“Apa kabar—” Sosok misterius itu tersenyum lebar, memamerkan bibirnya yang kemerahan. “—Nak?”

.

.

Kwon Shi Woon kini duduk bersebelahan dengan Jiyong. Di hadapan mereka ada setumpuk perban yang sudah berhasil keduanya lepaskan beberapa jam lamanya. Sebalut kaus tipis ternyata melekat pada tubuh keduanya ditambah sebuah celana pendek sebatas dengkul.

Tidak ada angin, tidak ada udara, tidak ada air.

Tapi Jiyong tidak merasa terganggu. Alasan kenapa ia diam saja beberapa menit terakhir adalah karena ia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan.

Bukan karena ia tidak paham situasi atau tidak pandai bergaul, terlalu banyak yang berkecamuk di kepala Jiyong hingga ia tidak tahu akan menanyakan yang mana terlebih dahulu.

“Hani baik-baik saja?” Tanya Shiwoon, mengawali pembicaraan.

“Itu—“ Jiyong tidak berani menjawab.

“Ditangkap Mansion ya?”

“Begitulah.” Ucap Jiyong lesu.

“Bagaimana Mansion?”

“Kacau, sejak kau tidak ada.”

Shiwoon mengangguk. Ia menggoyang-goyangkan kakinya yang ditekuk. Jiyong memerhatikannya sesaat. Tidak ada raut cemas dalam wajah Shiwoon meskipun yang baru dikatakan Jiyong sebenarnya berita buruk. Jiyong benci basa-basi. Ia biasanya akan mengatakan apa yang ingin dia katakan. Tapi saat ini, entah kenapa lidahnya begitu kelu.

“Bagaimana Yuri? Kau sudah bertemu dengannya?”

“Sudah—“

“Dia cantik kan?” Jiyong mengangguk kecil dan itu mengundang tawa renyah dari Shiwoon. “Anak gadisku memang paling cantik. Dia memiliki wajah ibunya.”

Setelah puas tertawa. Shiwoon dan Jiyong termenung kembali dengan canggung. Keduanya tidak bertukar pandang ataupun suara. Hanya diam saja, hening dan menunggu waktu yang tepat entah sampai kapan.

“Ayah—“ Kata Jiyong. Ia bermaksud memulai pertanyannya. Tapi Shiwoon menyelanya. “Jiyong-ah, kau anak yang baik.” Jiyong langsung terdiam. “Keberadaanmu di tempat ini sudah menjelaskan seberapa banyak yang kau ketahui dan yang terjadi di duniamu. Untuk semuanya, aku ingin meminta maaf.”

Jiyong terdiam. Ia tidak mengiyakan pun tidak menolak permintaan maaf Shiwoon. Hatinya memiliki rasa kesal dan rasa rindu yang imbang.

“Kau membahayakan Yuri dan Zico sebagai anakmu sendiri, Ayah.” Kata Jiyong akhirnya.

“Itu adalah hal terbaik yang bisa kulakukan sebelum aku pergi.”

“Tapi kau membuat keduanya hampir mati karena aku! Mereka berdua kesakitan dan melewati banyak penderitaan hanya karena membawa beban yang seharusnya ditanggung oleh aku dan Chaerin. Dan parahnya, kau merahasiakan hal sepenting ini dariku! KAU BAHKAN MEMBIARKAN KAMI MEMBUNUHMU! ORANG MACAM APA KAU AYAH!”

Jiyong meledak. Emosinya meluap-luap hingga pasir yang sebelumnya mengambang di udara kini berjatuhan dan menghujani rambut Jiyong. Pemuda itu bahkan tidak merasakannya. Seolah ia sudah mendedikasikan dirinya untuk luapan emosi yang sudah ia pendam sejak awal ia bertemu dengan Kwon Shiwoon.

Mata Jiyong memerah, tapi Shiwoon tidak terpengaruh. Alih-alih menghindar, ia menepuk pundak Jiyong. Jiyong mengelak tapi cengkraman Shiwoon menahannya. Meskipun seharusnya Jiyong merasakan sakit, tapi kehangatan yang ia terima lebih besar daripada rasa sakit itu sendiri.

“Sampai hubungan Kau, Chaeri, Yuri dan Zico memang benar. Tapi kau salah untuk bagian terakhir, Nak. Yang membunuhku adalah takdirku sendiri. Seharusnya aku mendengarkan Hani ketika ia bicara bahwa aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Semuanya terlambat saat aku menyadari ia sudah memiliki dua anak dengan kekuatan luar biasa. Dan seharusnya, malam saat Hani mencoba mengirimkan kedua anaknya ke gerbang besar Kingdom, aku tidak boleh ada di sana dan merusak semuanya.”

Jiyong terdiam. Shiwoon masih berbicara.

“Semuanya berawal dari misi berbahaya Mansion padaku. Ia mengatakan bahwa ada ramalan soal kelahiran dua bayi iblis yang akan mendatangkan banyak musibah. Aku ditugaskan untuk membunuh dua bocah ini. Tapi ketika saatnya tiba, aku tidak pernah bisa melakukannya. Aku berbohong pada Mansion dan berbohong pada Hani. Kurasa semuanya berjalan lancar karena kebohongan sempurnaku ini sampai akhirnya aku melihat bakat tidak lazim pada kau dan Chaerin. Kekuatanmu bisa melukai ibumu sendiri dan aku sangat takut saat itu.”

Shiwoon mengatur napasnya. Pikirannya melayang jauh.

“Saat itu aku sadar bahwa anakku, Yuri dan Zico memiliki bakat yang dimiliki oleh mendiang ibu kandungnya. Blending, sebuah bakat langka. Akhirnya aku berpikir untuk menggunakan mereka sebagai wadah mengingat mereka dapat mengaturnya dengan baik. Tapi usia Yuri dan Zico belum cukup stabil untuk menerima kekuatan itu. Untuk keselamatannya, aku memisahkan kalian berempat. Awalnya aku ingin menempatkan Chaerin bersama Hani sementara Yuri akan aku tempatkan dalam panti asuhan. Tapi Chaerin, sempat kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan melukai Hani. Demi keselamatan keduanya, aku memisahkan Chaerin dan Hani. Kukatakan pada Hani bahwa Chaerin telah kabur dan tidak akan kembali hingga ia akhirnya hidup bersama dengan Yuri sebagai anaknya sendiri sementara aku membawa kau ke Amerika sementara Zico tinggal dengan Yuri.”

Jiyong memandangi pasir dengan tatapan kosong. Ia mendengarkan.

“Saat usia Yuri menginjak enam tahun dan Zico lima tahun, aku membawa keduanya ke Jepang. Ekstraksi tidak akan mudah dilaksanakan di Korea mengingat jaringan Ghost Slayer sangat kuat untuk menolak ritual ini. Aku memilih Kyoto sebagai tempatku bersembunyi. Kau sudah berada di sana dengan Chaerin saat Yuri dan Zico datang. Persiapan sudah sangat matang. Aku melakukan ekstraksi malam itu juga. Saat semua sudah selesai, ada sebuah kejadian fatal.”

Dahi Jiyong berkerut. “Apa itu?”

“Hani. Ibumu membuka gerbang kingdom dengan persembahan kau dan Chaerin. Katanya ia tidak ingin Yuri dan Zico terluka karena darah iblis yang ia, kau dan Chaerin miliki. Chaerin bermaksud kembali. Tapi saat itu Seunghyun datang. Mansion mengacaukan segalanya. Aku tidak tahu bagaimana, tapi pada akhirnya, aku menyelamatkan Hani dan menutup gerbangnya.”

“Kau tidak menyelamatkan siapapun, yang kau lakukan malam itu mungkin sia-sia. Seharusnya kau biarkan saja Ibuku, Chaerin dan aku kembali. Rasanya keadaan tidak akan sesulit ini, dan mungkin kau tidak pernah mati.”

Shiwoon tersenyum tipis. “Masalahnya kembali pada aku. Aku sangat mencintai Hani dan anak-anaknya.”

Shiwoon menatap lurus pada Jiyong sembari menepuk pundaknya beberapa kali.

“Tapi di saat terakhirku, aku harus menghapus ingatan anak-anakku tentang apa yang sudah menimpa Ayahnya. Aku menghapus ingatan kau, Yuri, Zico dan Chaerin. Aku hilangkan ingatan Seunghyun dan beberapa orang dari Mansion yang ada di sana. Rasanya semuanya sudah sempurna. Sempurna sampai aku tidak mengira lubang besar itu muncul lagi saat ini dan menelan jiwamu, Nak.”

“Jadi maksudmu, tempat ini adalah isi dari lubang itu?”

Shiwoon menggeleng. “Ini persinggahan. Jiwaku terlalu bercahaya untuk masuk ke dalam kegelapan dan terjebak di sini selama bertahun-tahun. Tadinya tempat ini indah, seperti surga. Sampai kau datang dan merusak semuanya.”

“Aku tidak melakukan apapun. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku ada di sini.”

“Jiwamu, Nak.”

“Apa?”

“Jiwamu menyerah pada keadaan, dan ini yang kau dapatkan. Ruangan yang hampa.”

“Aku tidak pernah menyerah! Zico akan mati jika aku tidak—“

“Zico tahu apa yang ia lakukan. Menurutmu, untuk apa aku melatihnya selama ini? Dia bocah yang unik. Ingatannya yang sempat kuhapus berangsur-angsur kembali dan aku mau tak mau menceritakan semuanya pada bocah itu. Ia memintaku untuk menjadikannya ghost slayer untuk kondisi seperti ini. Sebenarnya dia lah yang paling ingin menyelamatkan Yuri, kau dan Chaerin dari beban berat ini. Ia pasti memiliki rencana dan kukira saat ini kau sudah menghancurkannya.”

Jiyong bersikeras mengelak. “Tapi dia akan mati jika aku tidak menerima kekuatan ini pada tubuhku kembali!”

“Chaerin yang mengatakannya padamu? Tentu saja! Zico memang akan mati jika kau tidak menerima kekuatan itu. Tapi baginya, mati bersama beban itu lebih baik untuk menyelamatkan kalian. Dia mirip seperti aku.”

Shiwoon terkekeh walau Jiyong tidak setuju.

Pria paruh baya itu menepuk pundak Jiyong lagi. “Nak, lakukan apa yang perlu kau lakukan. Kau sudah sebesar ini tentu kau tahu mana yang paling bijak. Dan kurasa, berada di tempat ini bukan pilihan bijak dari seorang Kwon Jiyong. Jadi, pulanglah.”

Shiwoon tersenyum. “Pulanglah, dan lihat apa yang bisa kau lakukan di luar sana. Kau masih terlalu dini untuk tempat seperti ini. Pulanglah, dan perbaiki apa yang bisa kau perbaiki, Nak.”

BAM!

Pasir di sekitar kaki Jiyong bergetar hebat disusul dengan langit-langit yang seakan ingin runtuh. Jiyong kaget sebentar kemudian meminta penjelasan dari tatapan teduh Shiwoon.

“Dia sudah memanggilmu, Nak.”

“Siapa?”

“Bantuan dari gadis paling keras kepala di dunia ini.”

Jiyong melebarkan matanya. Ia yakin bahwa Yuri sudah kepayahan tadi. Tidak mungkin yang Shiwoon maksudkan adalah bantuan dari Yuri, bukan?

“Tapi Yuri—bahkan Zico tadi—“

“Itu memang Yuri kok. Cara bertarungnya yang sembrono, ini khas Yuri.” Shiwoon terkekeh puas pada kinerja anaknya di luar sana. Ia bahkan sekarang berdiri dan merasakan getaran-getaran dengan wajah yang gembira. Kontras sekali dengan Jiyong yang masih kebingungan.

“Tapi bagaimana bisa? Yuri sudah hampir mati tadi!”

“Tentu saja bisa. Kau mau tahu kenapa?”

Jiyong mengangguk. Shiwoon tersenyum lebar kemudian merentangkan tangannya sambil menghirup udara dengan dada yang membusung.

“Karena dia anakku. Anak dari Kwon Shiwoon.”

.

.

TBC

82 thoughts on “GHOST SLAYER – STEP #7

  1. slmnabil berkata:

    Epic banget chapter yang ini, berasa baca novelnya rick riordan waktu nyeritain dunia bawah. Dan kak nyun ini keren banget! Ayahnya juga muncul, penjelasan yin yang kece. Udahlah good!

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s