U-17! – Prologue

 

U-17

Here it comes the prologue. Nantikan Part 1 dan 2 (end) nya awal Februari ya !

***

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!”

Aku bangun dengan wajah tersungkur di atas lantai. Tubuhku yang masih terbungkus selimut tebal sudah berguling lebih jauh dari sisi kasur ketika aku menyadari hal tersebut. Kukerjapkan mataku saat sedikit cahaya yang menyelinap melalui sedikit celah dari tirai di jendela terasa menusuk-nusuk. Kabar baiknya, itu bukan lagi cahaya remang dari bintang malam. Dan kabar buruknya, aku barusan terjatuh dari tempat tidur king sizeku dengan hantaman mendarat luar biasa ke atas lantai.

Rasanya sungguh buruk. Untuk beberapa detik tadi aku bahkan tidak bisa merasakan hidungku sendiri. Kupikir sudah terlepas entah kemana. Untung saja hidungku cepat kembali bekerja dengan normal—meskipun aroma pertama yang kucium adalah bau ketiakku sendiri. Jika tidak, aku pasti sudah akan mencaci maki para pemain drama singkat dalam mimpiku tadi.

Jadi tadi aku bermimpi tentang peristiwa yang paling kutakutkan selama beberapa tahun ini. Kegagalan pada ujian akhir. Ujian akhir yang aku maksudkan di sini sedikit berbeda dari ujian kebanyakan, tepatnya, malah ini mungkin ujian yang hanya dijalankan oleh keluargaku  seorang dari milyaran orang di muka bumi ini.

Kalau kau ingin menuntut sebuah cerita, baiklah, akan kuceritakan. Semuanya bermula dari si botak berkepala besar yang lukisannya terpajang di dinding ruang utama rumah besar ini. Dia itu katanya nenek moyangku yang pertama kali membangun perusahaan rempah-rempah ternama ini—omong-omong, aku kebetulan dibesarkan dalam keluarga yang cukup kaya. Si botak itu yang juga telah dikenal menyiksa para keturunan keluarga Kwon dari waktu ke waktu. Ia yang menciptakan tes kelulusan dasar pada para penerus perusahaan di dalam keluarga kami (ini tes yang baru kuikuti dua hari yang lalu.)

Aku telah dijadwalkan untuk ikut dalam tes ini sejak dua tahun lalu. Meskipun di antara sepupu-sepupuku yang lain, hanya akulah yang paling berpotensi untuk memperoleh sebuah kedudukan di perusahaan dengan mudah—mengingat ayahku adalah satu-satunya anak lelaki bermarga Kwon yang ada saat ini—tapi tetap saja, aku selalu gagal untuk banyak alasan. Lagipula salah mereka sendiri, kenapa membiarkan seseorang yang pernah berkuliah di bidang musik, harus berurusan dengan rempah-rempah (musisi mana yang akan menggunakan rempah-rempah untuk membuat orchestra.)

Aku tidak memiliki kualifikasi, atau sedikitpun niat untuk tes yang menurutku ada di tingkat sepuluh dari kata pichyeoso ini.

Tapi sekali lagi, salahkan pria tua botak itu. Aku harus melakukan tes ini setiap tahun sejak usiaku genap delapan belas hanya karena margaku KWON! Kalau ada jasa tukar marga, lebih baik kutukarkan saja marga ini deh. Aku tidak ingin pusing dengan urusan bisnis keluarga.

Kembali pada mimpiku lagi, diceritakan di sana aku yang telah gagal menempuh ujian ketigaku. Artinya, aku kembali akan menjadi bahan olokan ketika pertemuan besar keluarga Kwon tiba. Ditambah, dipotongnya masa bersenang-senang dengan teman-temanku, berkurangnya uang saku dan pembatasan jaringan Wi-Fi di rumah. Apa namanya kalau bukan mimpi buruk? Bahkan hal-hal yang kusebutkan tadi berhak untuk mendapat julukan yang lebih buruk daripada mimpi buruk itu sendiri.

Eh, Oke, aku berlebihan.

“KWON YURI!”

Nah, kalau yang ini tidak berlebihan. Itu suara Eomma. Kalau ia berteriak tepat jam delapan pagi setiap kali aku mimpi buruk, tandanya, tes ketigaku kemarin…

“KAU GAGAL LAGI, ANAK BODOH!”

.

.

“Kau akan kehilangan semua assetmu kalau kau hanya mengandalkan Yuri, Paman.” Seorang pemuda duduk dengan sopan di atas sofa peach. Di depannya ada pria paruh baya yang duduk termenung memandangi sebuah map cokelat tanpa banyak bereaksi. Keduanya berhadap-hadapan dengan sebuah meja yang terpasang di tengah, membatasi keduanya saat ini. Kwon Yisoo—Ayah kandung Yuri—tidak ingin mengalihkan perhatiannya dari berlembar-lembar kertas putih dengan berbagai foto-foto yang ditempel di setiap bagian tengahnya. Matanya tidak berkedip setiap melewati satu kertas, tapi setelah menemukan apa yang ia cari dalam otaknya, Yisoo akan mengabaikan kertas tadi dan menggantinya dengan kertas selanjutnya.

Kim Tan, yang merupakan sepupu dari Yuri sekaligus tangan kanan Yisoo, tidak memiliki apa yang dapat ia katakan lagi setelah kalimat sebelumnya diabaikan begitu saja oleh Yisoo. Sebagai tangan kanan yang sudah lama mendampingi Yisoo dalam kehidupannya sebagai businessman, Kim Tan tahu persis saat-saat di mana Yisoo butuh beberapa menit untuk berpikir. Kini Kim Tan hanya bisa menunggu.

“Aku harus terus mengandalkan Yuri, karena ini sebuah tradisi.” Ujar Yisoo pada akhirnya. Matanya tidak terangkat untuk menatap Kim Tan. Tapi itu tidak mengurangi rasa hormat Kim Tan pada pamannya. “Salahku karena Yuri dilahirkan dalam keluarga ini. Salahku juga dulu aku membiarkannya bertindak seenaknya. Tapi tradisi keluarga tetap tradisi, meskipun sepupu-sepupuku sudah berhasil membuat anaknya masuk ke dalam perusahaan ini melalui tes tersebut, tapi jika bukan keturunanku, mereka tidak akan dapat duduk di kursi ini sampai kapanpun. Maafkan aku mengatakan ini padamu, Kim Tan… Tapi, bahkan seorang pemuda cerdas sepertimu, tidak akan diperbolehkan untuk duduk di kursi ini meskipun aku yang memintamu secara pribadi pada para tetua perusahaan.”

“Bagian terakhir, aku paham. Aku juga tidak tertalu tertarik pada posisimu. Tapi Paman, aku juga yakin Kwon Yuri berpikir sama sepertiku. Ia bahkan menolak secara terang-terangan saat pertemuan keluarga bulan lalu.”

Yisoo terkekeh. Ia tidak menanggapi apapun selain meneruskan pekerjaannya dalam memilah-milah kertas di dalam amplop cokelat. Kim Tan mendongak saat Yisoo menemukan sebuah kertas yang dipandangnya paling lama di antara tumpukkan kertas lainnya. Tidak bermaksud mengintip, tapi Yisoo terlalu lebar membentangkan kertasnya sehingga Kim Tan bisa melihatnya. Sebuah resume dari seorang anak SMA. Ada sebuah foto ukuran 4R tersemat di depan kertas. Seragam yang dipakai pemuda dalam foto adalah seragam yang tidak asing untuknya. Ia pernah melihat beberapa musisi besar Korea yang pernah lulus dengan seragam tersebut semasa mereka sekolah dulu.

Kim Tan yakin bahwa yang sedang digenggam oleh Yisoo adalah resume dari beberapa siswa di sekolah musik klasik khusus pria paling terkenal di Korea Selatan, Melody High School. Nah pertanyaan bagi Kim Tan sekarang adalah, untuk apa Yisoo peduli pada murid-murid di sana? Bahkan sampai mengoleksi resumenya?

“Kau tahu sekolah ini, Kim Tan?”

“Ini Melody High School, Paman.”

“Menurutmu bagaimana?”

“Maaf?”

“Sekolah ini menurutmu bagaimana?”

Kim Tan menggaruk kepalanya. “Mahal, terkenal dan dipenuhi oleh pria.” Yisoo mengangguk atas jawaban Kim Tan. “Kau berencana akan menggunakan dana pribadimu untuk menyokong sekolah ini lagi, Paman?”

Yisoo tertawa. Kim Tan selalu tepat. “Kau sudah menyumbangkan sebuah teater baru enam bulan yang lalu bagi mereka. Sekarang apalagi? Apa kau melakukan semua ini terus-menerus demi bocah ingusan itu?”

Yisoo mengerutkan dahi saat Kim Tan dengan emosi yang tidak terkendali mengatakan kata bocah ingusan di depan Yisoo. Seperti kalimat tersebut adalah taboo bagi keduanya. Tapi Kim Tan segera meluruskan masalah dengan buru-buru menundukkan kepala dan meminta maaf.

“Namanya Kim Jongin, bukan bocah ingusan.” Yisoo meletakkan resume yang sedari tadi ia pegang pada Kim Tan. “Ia sudah tumbuh sebesar ini sekarang. Anak malang itu…”

“Ayahnya mengkhianatimu bertahun-tahun lalu, Paman. Dia bukan bagian dari keluarga besar ini lagi meskipun kau mencintainya dengan segenap hatimu. Hanya kau yang diakui sebagai anak laki-laki pewaris sah kursi ini. Tidak dengan pria dan keluarganya yang telah dibuang itu.”

Yisoo menatap Kim Tan. “Kau bahkan belum cukup lihai untuk berdiri saat semuanya terjadi, Kim Tan.”

Kim Tan menundukkan kepala. “Maafkan aku.” Saat itu Yisoo menghela napas panjang dan menumpang-tindih kaki-kakinya. “Pria terbuang itu, bagaimanapun adalah adik kandungku. Dan Kim Jongin adalah keponakanku. Dia sepupumu dan Yuri. Aku akan memberikan hak yang sama dengan yang sudah kau dan Yuri terima pada Kim Jongin, meskipun dengan diam-diam, meskipun Jongin sendiri tidak tahu. Aku tidak bisa mengabaikan keluarganya. Kwon Yiwoo memang diusir dari keluarga besar ini. Tapi Kwon Yiwoo tidak pernah kehilangan marganya. Ia masih saudaraku, kembaranku.”

Kim Tan mengusap kuku-kukunya di atas celana bahan yang dikenakannya. Alasan Yisoo sangat rasional, tapi tunggu saja ketika adik-adik wanitanya yang lain—termasuk ibunya—mendengar ini. Bisa jadi ada perang dunia lagi di antara mereka. Dengan total sepuluh bersaudara—delapan wanita dan dua pria yang kembar—menjadikan keluarga Kwon ini adalah sarangnya musuh dalam selimut. Setelah diusirnya Yiwoo, karena dicurigai hampir mencelakai Yisoo demi mendapatkan perusahaan, keluarga ini menjadi lebih rumit lagi. Meskipun percakapan dan komunikasi tidak pernah terputus di antara sembilan yang tersisa, tapi tidak menjamin apa yang dibicarakan adalah kebenaran. Sebagian besar adalah bualan, sisanya pepesan kosong.

Yang Kim Tan sukai dari Yisoo adalah, sifatnya yang tidak tamak dan peduli pada orang lain. Tapi kadang Kim Tan jengkel juga saat Yisoo dengan sifat pedulinya menjadi lemah ketika didesak oleh delapan saudara wanitanya yang tersisa. Sebagai informasi, ibu Kim Tan adalah salah satu pembicara yang ulung. Mungkin lebih seperti provokator.

“Jadi katakan Paman, apa yang akan kau kirimkan pada sekolah itu kali ini?”

Yisoo menggoyang-goyangkan kakinya. Seperti karakternya yang gemar memutar-mutar pembicaraan, Yisoo bertindak misterius lagi kali ini. Bukannya menjawab, ia malah asik dengan kertas lain yang baru saja ia keluarkan dari salah satu map hijau yang sebelumnya dibawakan oleh Kim Tan. Isinya tidak lain adalah nilai buruk dari hasil tes Yuri dua hari yang lalu.

“Aku sudah berbicara dengan para tetua dan meminta saran dari mereka mengenai anak bodoh ini.”

“Apa sesuatu yang penting telah terjadi dalam pembicaraanmu?”

“Ya. Soal Kwon Yuri dan kualitas otaknya. Tetua memiliki saran dan aku setuju dengan mereka. Nah, apa tadi kau bertanya soal apa yang akan kukirimkan ke Melody High School?”

Kim Tan menegakkan tubuhnya dan melirik penuh arti pada kertas hasil ujian milik Yuri. Ia puas memandangi itu ketika Yisoo menumpuknya di tumpukan map cokelat, ditimbun dengan kertas-kertas resume dari para siswa di Melody High School. Kim Tan menangkap manik lega dari Yisoo.

“Dia yang akan kukirimkan.”

.

.

Mungkin ini sangat terlambat. Bahkan aku sudah sangat tidak sopan ketika menulis ini. Tapi apapun, Halo! Aku Kwon Yuri. Tahun ini aku akan menginjak usiaku yang ke dua puluh satu. Yeah, kau bisa mengatakan aku cukup tua untuk masuk ke dalam sekolah tinggi ini karena perlu kuteriakan padamu AKU ADA DI MELODY HIGH SCHOOL SAAT INI!

Ini gila. Ayahku sendiri yang mengirimkan ini saat ia bicara soal hukuman tiga kali gagal dalam tes perusahaan. Kalau aku dikirim ke sini untuk belajar lagi dan mengasah kemampuan musikku lagi sih tidak apa-apa, tapi ini… aku menjadi guru. Kau dengar aku? Menjadi GURU!

Aku yang tidak memiliki kualifikasi bahkan untuk mengajari diriku sendiri kini harus masuk ke dalam sebuah sekolah elit untuk mengajari beberapa bocah ingusan nakal yang gemar menarik perhatian guru-guru cantik dan seksi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap hari ini aku tidak cantik ataupun seksi, bahkan tidak keduanya!

Tadi di gerbang utama, aku bisa melihat bagaimana para pemuda ingusan ini memperlakukan seorang pedagang wanita yang kebetulan melintas di depan sana. Aku jijik sendiri. Semoga tidak ada pemuda semacam itu di kelasku nanti.

Ah iya, bicara tentang ini, aku sudah berada di ruang kepala sekolah. Aku sih tidak terlalu terkesan pada mewahnya ruangan ini. Ayahku memiliki ruangan kantor dua kali lipat lebih bagus daripada ini. Tapi demi pencitraan pertamaku dan pencitraan perusahaan kami, mau tak mau aku harus membuang-buang banyak saliva demi memuji berbagai barang di ruangan ini.

Si Pemilik Ruangan adalah seorang wanita pendek, gemuk dengan rambut yang di bob sebahu. Ada warna-warna keabuan di bagian ubun-ubun kepala dan aku percaya itu tanda bahwa wanita ini sudah lebih tua daripada kelihatannya. Aroma tubuh yang diproduksinya terendus aneh di hidungku. Aku tahu itu adalah parfum Jean Paul Gaultier yang sama dengan yang dipakai Ibuku. Tapi rasanya aneh karena aroma klasik itu tercampur dengan bau badannya yang tidak sedap. Kurasa wanita ini membutuhkan pensiun segera.

“Jadi kau Kwon Yuri benar?”

“Benar.”

Dia juga sepertinya pikun. Tadi itu kali ketiga aku menjawab pertanyaan yang sama darinya. Aku masih menjaga citra diriku meskipun kesal. Kuanggap saja permasalahan teknis dengan wanita gemuk ini bagai soal matematika dasar dalam ujian perusahaanku kemarin. Bisa tidak bisa, aku pasti menghadapinya. Kira-kira seperti itu.

“Kau ditugaskan selama tiga bulan di sini untuk membantu para pelajar-pelajar bermasalah.”

“Ya, benar—eh? Tunggu, tadi apa katamu, Mam?” Satu lagi, Si Gemuk Bau dan Pikun ini tidak suka dipanggil dengan namanya, ia lebih menyukai panggilan Mam yang bagiku terdengar seperti Ham, cocok dengan dagingnya yang melimpah.

“Kau akan menangani beberapa pelajar bermasalah.”

“Maksudmu ada yang…” Aku menyilangkan telunjukku di depan jidat. Tapi Si Gendut Bau menggeleng. “Bukan bermasalah yang seperti itu.” Ia meletakkan resumeku dan menutup mapnya di atas meja. “Setiap sekolah pasti memiliki siswa bermasalah. Kadang ada yang bisa kami kendalikan, kadang ada yang tidak bisa kami apa-apakan sama sekali. Yang susah dikendalikan ini, biasanya akan kami serahkan pada orang tua atau walinya masing-masing. Tapi lain cerita dalam kasus tujuh pemuda ini. Untuk beberapa alasan, kami tidak dapat mengembalikan mereka pada orang tuanya masing-masing.”

Si Gendut menarik sebuah box file yang lebih besar. Warnanya tidak bisa kujelaskan karena berada di antara biru atau hijau pudar, entahlah. Tapi di dalamnya, telah tersusun kertas-kertas dalam balutan plastik transparan yang siap dibaca kapan saja. Si Gendut menarik tujuh kertas di tumpukkan paling bawah kemudian menyerahkannya padaku. Aku melihat sebuah profil singkat dan foto di masing-masing lembar.

“Yang profilnya sedang kaubaca, itu Choi Junhong. Dia adalah anak seorang pejabat pemerintahan. Anak ini tidak mudah bergaul. Kau akan melihat dia duduk sendirian di bawah pohon di dekat kelasmu nanti. Dia tidak suka mengikuti kelas musik apapun selama ia sekolah di sini. Dia tidak suka diganggu siapapun. Satu-satunya yang membuat kami mempertahankan dia di sekolah ini adalah, sokongan dana besar dari ayahnya. Pihak sekolah sudah berusaha mengembalikan Junhong pada orang tuanya, tapi aku tidak tahu kenapa mereka selalu menolak.”

Aku tidak bergeming mendengar penjelasannya. Aku sedikit-banyak tahu seperti apa kehidupan di dalam keluarga yang terlanjur diberi kekayaan. Tapi sungguh, cara hidup Junhong ini menyedihkan. Aku memerhatikan wajahnya yang ada di dalam foto, meskipun itu sebuah foto formal untuk sekolah, kurasa ekspresi datar di wajahnya memang terlalu berlebihan. Seolah ia tidak mampu membuat ekspresi apapun.

Aku meninggalkan Junhong. Kini aku memegangi secarik kertas selanjutnya. Disitu aku mengeja nama seorang pemuda. Jung Ilhoon. Kontras dari Junhong, kurasa pemuda ini syaraf motoriknya agak terganggu. Lihat saja bagaimana aku akan menjelaskan fotonya. Dia tersenyum lebar dalam pas foto formal. Giginya dipamerkan meskipun tidak terlalu putih. Aku tidak tahu ia sengaja atau tidak tapi dalam foto tersebut, ada noda kecokelatan di gigi kelinci depannya.

“Dia adalah orang kaya yang bermasalah lainnya. Dia cukup pintar. Tapi dia tidak menyukai musik klasik. Dia pernah beberapa kali memboyong teman-teman musisi jalanannya ke asrama dan menggelar konser dadakan di aula utama saat ujian berlangsung. Kami kehabisan akal untuk anak ini karena kami terbentur koneksi atas Ayahnya yang merupakan pemilik sekolah.”

Aku kegelian. Setelah Junhong Si Pendiam, kini ada Ilhoon Si Pembuat Onar. Apa yang dilakukan para orang tua selama ini membesarkan anak-anak seperti mereka, Ya Tuhan. Lagipula, bagaimana wanita seperti aku mampu menangani anak-anak spesial seperti ini?

Jika tahu begini, aku tidak akan mengiyakan usulan Ayahku yang katanya untuk memperbaiki nilai ujianmu kemarin. Ini namanya penindasan atas kebebasan anak!

Ya, lupakan. Bukan saatnya aku mengaspirasikan kekesalanku saat ini. Si Gendut Bau rupanya sudah tidak sabar memperkenalkan biang kerok ketiga dalam kelasku. Kali ini dari marga Oh. Namanya Sehun. Yang satu ini, kuakui pemuda ini tipeku. Leher yang jenjang dan dagu yang lancip sudah cukup menjelaskan bagaimana foto ini akan menjadi foto yang akan terpajang di dompetku suatu hari nanti.

“Sehun ini adalah pemuda yang masuk dari program beasiswa yang pernah kami buat dua tahun lalu. Beasiswa itu ditujukan pada pemuda yang benar-benar berbakat dalam musik klasik dan berasal dari kalangan bawah. Sehun memenuhi kualifikasi itu. Tapi pada akhirnya, kami harus menempatkan dia pada kelas bermasalah karena degradasi tata kramanya. Kami pernah beberapa kali memergoki Sehun mencuri barang-barang dari temannya.”

Aku mengangguk-angguk. Jadi inilah yang kita sebut The Handsome Thief. Sayang saja pria ini adalah pencuri kecil. Jika tidak, kupastikan dia akan menjadi kekasihku dengan cepat.

Aku meninggalkan Oh Sehun. Kubaca lembar selanjutnya. Ada sosok pemuda yang tersenyum di dalam foto. Aku tidak bisa melihat matanya karena ia tersenyum begitu lebar hingga matanya menyipit maksimal. Tapi aku merasa familiar ketika profil tersebut menunjukkan sebuah nama padaku. Moon Jongup.

“Pria ini Moon Jongup yang itu?” Kataku. Bingo! Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah ini. Wajah pria ini pernah beberapa minggu menghiasi layar kaca karena prestasinya yang gemilang di ranah olahraga. Dia atlet lari setahuku. Tapi … kenapa dia…

“Ya, dia atlet lari. Sayangnya ia membuang bakat berharganya itu demi mengejar impiannya di bidang seni. Meskipun ia memang pekerja keras dan pemuda riang yang pantang menyerah, tapi kami bisa menilai, ia tidak memiliki bakat di bidang seni. Sekeras apapun ia berusaha, ia tidak akan mampu. Kami tidak melakukan prosedur pengembalian pada orang tua atau wali untuk kasus Jongup.”

“Kenapa? Apa begitu sulit?”

Si Gemuk Bau menggeleng. “Dia hidup sebatang kara selama ini. Dan kami terlalu berat untuk mengusirnya dari asrama. Lagipula, dengan adanya dia di sini, nama kami semakin meroket di masyarakat. Sponsor banyak yang berdatangan. Ia cukup berharga untuk dibuang.”

Aku menganguk lagi sampai rasanya leherku pegal. Si Gendut Bau ini kejam juga. Ia bahkan menggunakan kata dibuang untuk menggantikan kata dikeluarkan. Aku pasti sudah akan mencabiknya jadi daging panggang jika aku jadi Jongup saat ini.

“Bagaimana dengan Yook Sungjae ini? Di sini tertulis dia memiliki vokal kuat dan bakat yang mumpuni. Kenapa kau menaruhnya di kelas bermasalah?”

Si Gemuk melongok pada kertas yang kutaruh di atas paha. Karena aku takut dengan lubang hidung besar Si Gemuk yang seolah ingin menerkamku, jadi kuserahkan saja lembaran profil Yook Sungjae itu padanya.

“Oh ini,” katanya. “Dia anakku. Aku menaruhnya di sana karena aku ingin.”

Aku mellihat picik padanya. “Ey! Kau tidak bisa begitu. Itu tidak adil untuknya.” Kataku mencoba membela pemuda dalam foto. “Apa yang akan orang lain katakan jika tahu kau mengatakan ini pada anakmu sendiri.” Kataku lagi. Aku tidak tahu apa yang mendorongku memanas-manasinya, tapi setelah kulakukan, rasanya seru juga. Aku jadi ketagihan. Mungkin nantinya aku harus menambahkan mengolok-olok kepala sekolah Melody High School, sebagai hobi baru.

“Anak ini susah diatur. Terakhir kali aku menempatkannya di kelas reguler bersama teman-temannya yang lain, aku harus menanggung malu luar biasa karena ia menceritakan semua aibku di rumah pada teman-temannya. Aku memberinya masa tiga bulan di kelas itu sebagai hukuman karena melecehkan kepala sekolah.”

Aku jadi ingin tertawa mendengar Si Gendut ini bercerita. Maniknya seolah telah melihat sesuatu yang tidak manusiawi di dalam memori otaknya. Aku jadi berharap agar aku juga bisa mendengar cerita aib bagaimana yang diceritakan Sungjae pada teman-temannya. Kalau aku boleh menebak, mungkin bau badan adalah salah satunya.

Aku mengangguk dan mencoba larut dalam akting ibaku pada Si Gendut. Kini di tanganku tersisa dua kertas. Aku menarik salah satu yang paling atas dan aku langsung dilanda kebingungan parah. Aku membolak-balik kertasnya dan membaca berulang-ulang. Apalagi di bagian jenis kelamin. Aku membacanya teliti sambil membanding-bandingkannya dengan foto yang kulihat di pojok kiri atas dari kertas tersebut.

“Kau kenapa?” Tanya Si Gendut. Ia rupanya baru menyadari aku yang kebingungan. Ia melongok, dan lagi-lagi aku harus menghadapi lubang hidupnya yang sebesar sumur kediaman Sadako.

“Kau menerima wanita di sekolah khusus pria, Mam?” Kataku. Aku menunjukkan selembar kertas yang daritadi kubaca berulang kali. Si Gendut Bau tersenyum ketika aku menunjukkan itu. Ia menggoyang-goyangkan jarinya seakan aku baru saja kalah taruhan akan sesuatu. “Kau salah, dia itu pria. Lihat profilnya dong.” Katanya. “Namanya Ren, seorang murid transfer dari Chicago. Nama aslinya Choi Minki tapi ia akan marah jika kau menyebutnya dengan nama itu. Wajahnya memang metro-seksual sekali. Dia bukan pemuda tanpa bakat, tanpa keluarga atau tanpa uang. Satu-satunya alasan aku menempatkannya di kelas itu adalah demi keamanannya. Banyak siswa di sini yang terkadang salah sangka dengan gender Ren. Belajar bersama enam siswa lainnya merupakan jalan terbaik daripada ia harus belajar di tengah ratusan pria yang selalu berdebat soal figurnya. Ren juga setuju dengan ini.”

Aku tidak mengedipkan mata meskipun Si Bau sudah selesai dengan celotehnya. Pria bernama Ren ini memang sangat… ehem… Cantik! Aku saja yang wanita rasanya tidak pernah secantik ini walau sudah mandi tujuh puluh kali. Tidak heran sih, keberadaannya di sekolah pria akan berbahaya untuknya. Siapapun akan salah paham jika tidak benar-benar tahu apa jenis kelamin Ren sesungguhnya. Aku tertawa geli membayangkan adegan selanjutnya yang terjadi di otakku begitu saja. Sayang sekali adegan itu harus terputus. Si Gendut Bau sudah sampai pada akhir dari penjelasannya. Kertas terakhir.

Aku sudah membacanya.

Kim Jongin. Pria yang memiliki karakteristik pendiam dan cenderung misterius. Ia memiliki tipikal Junhong ketika bergaul dan tipikal Sehun sebagai latar belakangnya. Tidak memiliki bakat spesial, tapi cukup pintar. Tampan, tidak memiliki keinginan untuk belajar dan ditemukan selalu dalam kondisi terluka karena perkelahian atau kekerasan. Untuk tipe yang terakhir, Si Kim Jongin ini, aku sudah membangun pagar tanda hati-hati awas bahaya dalam otakku kalau-kalau nanti aku bertemu dengannya.

Membaca resumenya seperti aku membaca profil residivis. Sepertinya dari tujuh yang ada, mungkin inilah yang terberat untukku.

Aku harus mengingat namanya.

Kim Jongin.

.

.

 TBC

.

.

Adek-adek dan kakak-kakak yang manis, RCL nya masih dibutuhkan. Kalau punya saran silakan di sampaikan~

107 thoughts on “U-17! – Prologue

  1. Gita berkata:

    awe to the some
    awesome kak !!
    sperti biasa alurnya menarik, bahasanya mudah dipahami dan penuh dengan misteri xD
    castnya juga rata2 biasku kaknyun xD
    ditunggu deh part 1dan 2nya xD

    keep writing kak🙂

  2. Gita berkata:

    sperti biasa alurnya menarik, bahasanya mudah dipahami dan penuh dengan misteri xD
    castnya juga rata2 biasku kaknyun xD
    ditunggu deh part 1dan 2nya xD
    keep writing kak🙂

  3. BestfriendExoSone berkata:

    sehun memang pencuri yang ulung,, hatiku dah dicuri ma sehun 0ppa*dimarahin sehun nyebar fitnah

  4. nana berkata:

    kakak, penasaran sama ff ini..
    Sepertinya yul eon akan terlibt cinlok dengan murid yang dibimbngnya.
    Tapi semga saja tidak karena yul eon disni lebh tua dari mereka.
    Oke ma.ap ea kak kalo akubnyak cincong. Hehe

  5. sinta dewi berkata:

    Ya aku Kwon Yuri..!!hebat bgt kamu bisa bikin orang yg ga pernah aku kenal dan ga tau karakterny…tp bikin aku terdoktrin klo kwon yuri itu karakternya seperti yg kamu buat…pokokny kamu tuh daebak sepanjang masa…

  6. desi.A berkata:

    hahaha koq bisa seungjae ngomongin aib ibu ny sndri ??? Lol~
    Mkin pnsaran sm crita slanjutnya,,, langsung cap to the cus

  7. SSY_ELF berkata:

    DAEBAK! seperti biasa kak nyun!
    aku sih udah baca sebagian ff ini, tp sekarang mau ulang baca dari prolog-akhir….
    aku next~

  8. Anonym berkata:

    Hahaha ini beneran ff kak? Lucu banget xD yuri dijadiin guru anak-anak bermasalah😀 hahaha sungjae anaknya si gendut bau dan menyebarkan aibnya kesetiap temennya dikelas xD lucu banget :3

  9. febrynovi berkata:

    wawawa genre yang sedikit berbeda dari ff yang pernah kubaca di blog ini..

    prologuenya agak sedikit berat tapi bikin penasaran juga..

    lanjut next part~~

  10. windassi berkata:

    Kembali lagi baca ini :3 bayangin Yuri jadi guru lagi xD duhhh jadi keinget yuri jadi goho xD #apahubungannya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s